Anda di halaman 1dari 9

Pengukuran Ketebalan serta Posisi Cacat pada Sampel Carbon Steel dan Stainless Steel

dengan Metode Ultrasonic Testing

Fransisca Debora

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Sriwijaya


Email : fransisca.debora91@gmail.com

ABSTRAK
Proses uji tak merusak dengan metode uji ultrasonik digunakan untuk mengukur ketebalan dan posisi cacat dari
sampel Carbon Steel dan Stainless Steel dengan menggunakan probe normal dan probe sudut. Gelombang yang akan
ditranmisikan dari probe ke benda uji sebelumnya harus dilapisi dengan kuplan supaya seluruh gelombang dapat
diterima pada benda uji. Penggunaan probe juga digunakan pada bahan tertentu yaitu untuk bahan yang permukaannya
datar akan menggunakan probe normal dan permukaan yang kasar digunakan probe sudut. Dengan metode ini dapat
dihasilkan tebal bahan dan posisi retak pada bahan. Kesulitan dari penelelitian ini lebih spesifik akan ditemukan saat
mendeteksi posisi retak pada bahan, karena posisi retak bahan harus menghasilkan data yang akan direpresentasikan
dalam bentuk dua dimensi (2D).

Kata Kunci : Uji Ultrasonik, Pesawat Ultrasonik, Probe, Kuplan, Gelombang Ultrasonik

Pendahuluan teknik gema paling sering digunakan terutama


Ultrasonic Testing (UT) menggunakan pada pemeriksaan di lapangan.
media gelombang ultrasonik (gelombang Prinsip dasar dari ketiga teknik tersebut
suara) yang mempunyai frekuensi tinggi adalah :
>20Khz. UT dapat digunakan untuk 1. Teknik Resonansi
mendeteksi cacat, pengukuran dimensi, Tebal bahan dapat diukur dengan cara
karakterisasi material, dan lainnya sesuai mengukur frekuensi atau panjang gelombang
dengan perkembangan alat ultrasonik ke ultrasonik yang dapat menimbulkan resonansi
bentuk yang lebih modern dan multi fungsi. maksimum pada bahan tersebut. Adanya cacat
Sebuah sistem UT terdiri dari beberapa dapat dideteksi dengan terjadinya perubahan
unit fungsional seperti gelombang penerima, resonansi karena jarak bahan yang
transduser, dan perangkat layar. Gelombang beresonansi mengalami perubahan.
penerima adalah perangkat elektronik yang 2. Teknik Transmisi
dapat menghasilkan energi listrik bertegangan Adanya cacat di dalam bahan dapat
tinggi yang membuat transduser berfrekuensi diketahui dari adanya penurunan intensitas
tinggi menghasilkan energi ultrasonik. Energi gelombang ultrasonik yang diterima oleh
suara akan menyebarkan melalui bahan probe penerima sedangkan tebal bahan tidak
berupa gelombang. Ketika ada cacat yang bisa diukur dengan teknik transmisi.
dideteksi oleh gelombang, sebagian energi 3. Teknik Gema
akan dipantulkan kembali dari permukaan Tebal bahan, lokasi dan besarnya cacat
cacat. dapat diketahui dari waktu rambat dan
Gelombang ultrasonik dapat ditimbulkan amplitudo gelombang yang diterima oleh
oleh perubahan energi listrik ke energi probe.
mekanik dari suatu transduser yang disebut
probe, melalui efek piezoelektrik. Efek Perambatan Getaran
piezoelektrik ini merupakan efek reversible Perambatan gelombang ultrasonik dapat
artinya bila dapat terjadi perubahan energi terbagi menjadi beberapa mode perambatan :
listrik ke mekanik, maka perubahan energi 1. Mode Gelombang Longitudinal (Pressure
mekanik ke energi listrikpun terjadi. Wave)
Untuk memeriksa tebal bahan dan adanya Gelombang ini adalah getaran yang arah
cacat di dalam suatu bahan dengan gelombang rambatnya sejajar dengan arah gerakan atom
ultrasonik dapat dilakukan dengan tiga cara yang digetarkan. Kecepatan dan panjang
yaitu teknik resonansi, teknik transmisi, dan gelombangnya tergantung bahan yang
teknik gema. Dari ketiga teknik tersebut, dilaluinya. Gelombang longitudinal dapat
merambat pada semua bahan, baik gas, cair,
maupun padat. Dimana : E = Modulus Elastisitas
2. Mode Gelombang Transversal (Shear Wave) ρ = Massa Jenis
Gelombang ini merupakan getaran yang
arah rambatnya tegak lurus terhadap arah σ = Rasio Poisson
gerakan atom yang digetarkan. Pada getaran Untuk mode pelat, kecepatan rambat
transversal, kecepatan dan panjang tidak hanya tergantung pada jenis bahan,
gelombangnya tergantung pada bahan yang tetapi bergantung juga pada tebal bahan dan
dilaluinya. Gelombang transversal hanya frekuensinya.
dapat merambat pada benda padat.
3. Mode Permukaan Kuplan
Mode permukaan terjadi bila gelombang Kuplan berfungsinya untuk memudahkan
transversal merambat pada permukaan. merambatnya gelombang dari probe ke dalam
Gerakan atom yang bergetar berbentuk elips. benda uji. Karena bila antara probe dan benda
Sesuai dengan namanya, gelombang uji terdapat udara maka hampir 100%
permukaan (surface/releigh wave) hanya gelombang akan dipantulkan kemnbali
merambat pada permukaan bahan padat kedalam probe dan gelombang di pantulkan
dengan kedalaman maksimum satu panjang akan lebih banyak menyebar dibandingkan
gelombang. fokus kepada cacat pada material.
4. Mode Pelat Agar tebal kuplan yang terletak antara
Mode pelat terjadi bila gelombang probe dan benda uji tetap, tekanan yang
transversal merambat pada bahan pelat tipis diberikan pada probe harus konstan sehingga
yang terbalnya kurang dari setengah panjang tidak mempengaruhi amplitudo dari indikasi
gelombang. Gerakan atom yang bergetar yang timbul pada layar.
berbentuk elips. Gelombang pelat (plate/lamb
wave) merambat pada seluruh benda uji tipis Jenis-Jenis Kuplan
tersebut baik dalam bentuk gelombang a. Kuplan untuk test celup (immersion
simetris atau gelombang asimetris. testing) :
Gelombang ultrasonik yang merambat • Pada test celup air bersih dapat
dalam suatu bahan dapat merubah mode dari digunakan
satu mode ke satu mode lainnya. Perubahan b. Kuplan untuk pengujian kontak langsung :
mode ini terjadi misalnya karena pantulan • Permukaan halur mendatar : Gliserin
atau pembiasan. Bila mode berubah maka
• Permukaan agak kasar dan mendatar :
kecepatan rambatnya juga berubah. Begitu
Oli
juga dengan panjang gelombangnya akan ikut
• Permukaan sangat kasar dan tegak :
berubah. Akan tetapi frekuensi gelombang
Grease
tidak ikut berubah.
• Permukaan panas : Grease
Kecepatan Rambat dan Panjang Gelombang
Kecepatan rambat (v) gelombang Pesawat Ultrasonik
ultrasonik dalam suatu bahan tergantung pada Pesawat ultrasonik mempunyai kesamaan
jenis bahan yang dilalui oleh mode dengan osiloskop dimana pengukuran yang
gelombang tersebut seperti yang dirumuskan dilakukan berdasarkan pengukuran waktu dan
pada persamaan 1.1 dan persamaan 1.2 tegangan. Pengukuran waktu dipresentasikan
Mode Longitudinal : pada skala horizontal sebagai pengukuran
jarak tempuh gelombang ultrasonik.

√ E (1−σ)
VL = ρ(1+ σ )(1−2 σ ) ........... (1.1)
Pengukuran tegangan dipresentasikan pada
skala vertikal sebagai pengukuran amplitudo
untuk mengetahui koefisien attenuasi
Mode Transversal :
gelombang yang melalui medium tersebut.
VT = √E(1−σ )
2 ρ(1+σ ) ........... (1.2)
Skala horizontal dan vertikal ini harus linear
agar dan menghasilkan nilai keluaran yang
akurat.
dari cacat tersebut akan dapat ditentukan
sehingga diperoleh dimensinya. Dalam
Jenis-Jenis Probe metode ini juga dilakukan penambahan 6 dB
Jenis-jenis probe ada 3 yaitu : dari gain kalibrasi sebelumnya. Terjadi
1. Probe Normal Tunggal penambahan 6dB dikarenakan untuk
2. Probe Sudut Tunggal (450, 600, 700) mendeteksi cacat harusnya dicari pulsa yang
3. Probe Normal dan Sudut Kembar berada pada posisi 50% amplitudonya. Saat
posisi pulsa awal 100% berubah menjadi 50%
Probe Normal terjadi pengurangan dB sebesar 6dB. Oleh
Probe normal digunakan untuk mengukur karena itu didapatkan amplitudo maksimum
tebal bahan dan menentukan lokasi cacat yang untuk menentukan pinggiran cacat. Untuk
sejajar dengan permukaan benda uji. mendeteksi batas akhir dari pinggir panjang
cacat maka probe harus digerakan kembali
Probe Sudut hingga menemukan pulsa dalam posisi yang
Probe sudut hanya digunakan untuk sama yaitu 50%.
menentukan lokasi dan besar cacat yang • Metode Ekualisasi
memiliki permukaan yang membentuk sudut Metode ini menggunakan prinsip
terhadap permukaan benda uji. Probe sudut penyamaan pulsa cacat dengan pulsa pantulan
tidak biasa digunakan untuk mengukur tebal cacat (back wall) dengan menggeser probe.
benda yang diuji. Hal yang memudahkan Jika suatu material mengasilkan pulsa yang
dalam pengukuran dengan probe sudut adalah sama tinggi dengan pantulannya maka daerah
bahwa dari satu cacat umumnya hanya tersebut adalah daerah pinggiran cacat dan
menghasilkan satu indikasi, sehingga mudah untuk mencari ujung cacat maka harus
dianalisa. ditentukan lagi pulsa yang sama panjang
Penentuan lokasi cacat dengan probe dengan pantulannya. Sehingga dalam metoda
sudut memerlukan ketelitian yang lebih baik ini diperlukan tiga gelombang yang sama
dibandingkan dengan probe normal untuk itu besar.
probe harus digerakkan maju mundur sambil • Distance Amplitudo Correction (DAC)
diputar kekiri dan kekanan agar diperoleh DAC adalah salah satu cara menentukan
amplitudo maksimum dan dapat dibaca pada dimensi cacat relatif, artinya relatif terhadap
layar. suatu cacat tertentu. Untuk itu terlebih dahulu
harus dibuat kurva DAC dari cacat referensi
Probe Normal dan Sudut Kembar berupa lubang bor sisi atau berupa takikan
Pada probe ini bentuk dan ukuran memiliki segiempat (notch) dari blok kalibrasi dasar.
kesamaan dengan probe sudut maupun probe Setelah kurva DAC diperoleh, amplitudo dari
normal tungal. Perbedaannya terletak pada indikasi cacat dibandingkan dengan kurva
bagian alas dimana pada probe kembar bagian DAC dan dapat dihitung berapa persen
pemancar dan penerima dibuat menjadi perbandingan antara amplitudo dari indikasi
bagian yang berbeda. Dimana kegunaan cacat terhadap amplitudo kurva DAC untuk
probe kembar berada pada saat pendeteksian jarak yang sama.
ultrasonik pulsa berada pada daerah dead
zone (daerah mati). Metode
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6
Penentuan Dimensi Cacat Januari 2013 sampai 31 Januari 2013 di
• Metode 6 dB drop Laboratorium Logam dan Non Destructive
Posisi probe di pinggir cacat dapat Test PT. Pupuk Sriwidjaja, Palembang. Alat
ditentukan yakni apabila 50% gelombang yang digunakan dalam pengambilan data
diteruskan sedangkan 50% lagi dipantulkan berupa Pesawat Ultrasonic DM4-DL dan
kembali ke probe. Maka dari itu probe dapat Parametric NDT dan bahan yang terdiri dari
dikatakan tepat berada pada posisi pinggiran Carbon Steel dan Stainless Steel. Hasil yang
cacat. Dengan menggeser probe diseluruh ditampilkan dapat berupa gambaran secara
permukaan benda uji, maka batas pinggiran grafik dalam 2D. Horizontal direpresentasikan
sebagai ketinggian posisi cacat dan vertikal tepat diketahui dari amplitudo indikasi yang
direpresentasikan sebagai penguat gelombang timbul pada layar. Posisi probe yang tepat
(gain). akan menghasilkan indikasi yang
Tahapan dalam pengukuran dikelompokan amplitudonya maksimum. Bila amplitudo
menjadi dua bagian yaitu pengukuran belum maksimum maka posisi probe benda,
ketebalan dan penentuan posisi cacat. Pada hasil kalibrasi dan pengukurannya juga tidak
pengukuran tebal bahan digunakan alat yaitu akurat.
Parametric NDT, sedangkan untuk Titik indeks dan sudutnya juga perlu
menentukan posisi cacat digunakan alat diperiksa karena kesalahan dalam menentukan
Pesawat Ultrasonic DM4-DL. Sebelum titik indeks maupun sudut akan menyebabkan
menggunakan kedua alat ini terlebih dahulu kesalahan hasil pengukuran. Titik indeks
dilakukan pengkalibrasian. perlu diketahui karena titik ini merupakan
Pengkalibrasian Parametric NDT titik nol dari setiap pengukuran jarak.
dilakukan dengan menekan tombol ON, Penentuan titik indeks dapat dilakukan
MEAS kemudian ZERO. Setelah Parametric dengan cara meletakkan probe sudut pada
NDT sudah dikalibrasi pengambilan data blok kalibrasi.
dapat dilakukan dengan melumuri bahan
dengan kuplan dan hasil dan pengamatan Kalibrasi Layar Pengamat
ketebalan dapat terlihat dilayar. Sedangkan Pengkalibrasian layar pengamat dilakukan
untuk pengkalibrasian pada Pesawat pada :
Ultrasonic DM4-DL dilakukan dengan 1. Skala horizontal.
berbagai tahap. Dimulai dari pengkalibrasian Tujuan dari pemeriksaan skala horizontal
probe, layar pengamat dan jarak pengamatan. untuk meyakinkan skala horizontal linear.
Kalibrasi probe dibedakan menjadi dua 2. Skala vertical :a. Linearitas tombol gain
bagian yaitu kalibrasi probe normal dan probe b. Linearitas layer
sudut. a. Linearitas Tombol Gain
Tujuan dari pada pemeriksaan linearitas
Kalibrasi Probe Normal Tunggal tombol gain untuk meyakinkan bahwa step
Tujuannya adalah menyesuaikan skala 0 tombol gain dari pesawat ultrasonik adalah
sampai 50 pada layar dengan jangkauan dari linear. Jika % dari amplitudo terlalu tinggi
gelombang ultrasonik dalam benda uji. Jarak maka gain harus diturunkan.
yang dikalibrasi adalah jarak tempuh yaitu b. Linearitas Layar Skala Vertikal
jarak yang dilalui oleh gelombang-gelombang Pemeriksaan untuk meyakinkan bahwa
dalam benda uji. skala vertikal layar adalah linear.
Caranya adalah : Diupayakan pada layar ditimbulkan dua
Letakkan probe pada standar blok “V1” buah indikasi yang amplitudonya memiliki
pada ketebalan 25 mm dengan range 100 mm perbandingan 2:1. Pada saat amplitudo
dengan demikian indikasi yang timbul pada indikasi pertama mencapai 80% indikasi
layar (n) = R/d = 100/25 = 4 indikasi, dimana tertinggi diatur agar amplitudo mencapai
indikasi pertama berada pada skala 12.5; 25; 100%, kemudian diturunkan dengan step
37.5; 50. Bila seluruh indikasi telah 10% sampai amplitudonya menjadi 20%.
menempati skala tersebut secara tepat, maka Skala vertikal layar disebut linear bila
kalibrasi telah selesai. Untuk memeriksa setiap kali amplitudo indikasi kedua
keakuratan pengkalibrasian sebelum tingginya 50 ± 5% dari amplitudo
digunakan maka diharuskan untuk mengukur
jarak benda uji terhadap standar ketebalan indikasi pertama.
yang sudah ada sebelumnya.
Kalibrasi Jarak Pengamatan
Kalibrasi Probe Sudut Kalibrasi jarak pengamatan dilakukan dengan
Proses kalibrasi probe sudut lebih sukar memungkinkan 3 macam jarak yakni :
dibandingkan dengan kalibrasi probe normal. 1. Jarak Tempuh (s)
Hal ini disebabkan karena posisi probe harus 2. Jarak Proyeksi diukur dari titik indeks (p)
3. Jarak Proyeksi diukur dari ujung probe (a)
Bila salah satu jarak telah diketahui maka
jarak yang lain dapat ditentukan melalui Pada pengambilan data untuk mendeteksi
rumus sebagai berikut : tebal bahan terjadi pengujian pada bahan
a. sin α = p/s = 2d/s b. p = 2d yang berbeda yaitu bahan logam dan Stainless
Steel. Tabel 1 merupakan hasil pada
tg α pendeteksian tebal bahan logam dengan
α = p/sin α menggunakan perbandingan penilaian
b. s = 2d/cos d. tg menggunakan Jangka Sorong. Sedangkan
α = p/d pada Tabel 2 menggunakan metode yang
sama dengan Tabel 1 tetapi dengan bahan
yang berbeda yaitu Stainless Steel.
Hasil dan Pembahasan

Pengukuran ketebalan dengan Ultrasonic Mendeteksi Tinggi dan Lebar Cacat Pada
Testing dapat dihasilkan dengan Bahan Specimen dengan Probe Normal
menggunakan Parametric NDT pada bahan
Logam dan Stainless Steel seperti Gambar 1. Perumusan mencari tinggi cacat (tc) :
l
tc = S x R

tc = tinggi cacat
l = lebar cacat
s = skala pengukuran pada alat
R = range pengukuran pada alat

Pada sampel diketahui tebal bahan uji sebesar


Gambar 1. Parametric NDT (UT NDT) 22 mm, tinggi bahan uji sebesar 70 mm,
skala pada layar 50 dan range yang digunakan
Hasil pengukurannya ditampilkan dalam sebesar 100 mm. Indikasi pulsa cacat yang
bentuk tabel sebagai berikut : terbaca pada ultrasonik berada pada skala 11,
14 dan 15
Tabel 1. Tebal pada Logram
Pengukuran dengan Pengukuran dengan
Jangka Sorong (m) UT NDT (m)
0.64 0.65
0.54 0.54 Gambar 2. Bahan Stainless Steel
0.44 0.44

Tabel 2. Tebal pada Stainless Steel


Pengukuran Pengukuran
dengan Jangka dengan UT NDT
Sorong (m) (m)
Gambar 3. Grafik Kalibrasi pada Bahan
0.71 0.72
Gambar 2 merupakan sebuah specimen
0.61 0.61 yang mempunyai 3 lubang yang dikatakan
daerah 1. Lubang tersebut dideteksi oleh
0.51 0.51
probe normal dan terdeteksi cacat yang
ditampilkan pada Gambar 3. Pulsa grafik
mendeteksi cacat dengan metode ekualisasi
yaitu saat dimana gelombang ultrasonik yang
dipancarkan dan diterima menampilkan
gelombang yang sama panjang pada layar.
Pulsa yang tampil pada layar ada tiga indikasi
pulsa yaitu pada skala 11, 14 dan 15. Gambar 4. Bahan Lasan
Sehingga jika direpresentasikan ke dalam
perumusan menjadi : Sebelum melakukan pengujian dilakukan
l 11 penghitungan range pulsa pada skala
tc1 = S x R = 50 x100=22 Lebar cacat
2 x tebal bahan uji
: 2 mm
• R ≥ cosα (sudut probe )
l 14
tc2 = S xR= 50 x100=28 Lebar cacat
2 x 22
R ≥ maka R = 62,22
: 2 mm cos 45
l 15 ≈ 100
tc3 = S xR= 50 x100=30 Lebar cacat

: 2 mm Ketika range pulsa sudah ditentukan maka


dapat dilakukan proses penghitungan
Mencari Tinggi dan Lebar Lasan dengan selanjutnya yaitu,
Probe Sudut
indikasi pulsa yang terbaca di layar
Perumusan mencari tinggi cacat (tc) : • sc = skalalayar x
tc = sc cos α
leg1
range
tcleg2 = 2t - sc cos α 5
sc = 50 x 100 = 10 mm
pc = sc sin α
sc =
indikasi pulsa yang terbaca di layar t 22
skalalayar Di Leg 1 maka sc < cos α = cos 45 =

x range 30.98 mm
2t 2 x 22
Dimana : Di Leg 2 maka sc < cos α = cos 45 =
pc = titik puncak cacat dengan probe
tc = tinggi cacat 61.97 mm
sc = jarak dari titik cacat ke ujung probe
α = sudut yang terbaca pada probe Pembagian Leg menjadi dua bagian
yaitu Leg 1 dan Leg 2 digunakan untuk
membagi daerah lasan menjadi daerah
Pada sampel diketahui mempunyai sudut terdekat dengan lasan (Leg 1) dan daerah
α sebesar 450 tebal bahan uji sebesar 22 yang jaraknya jauh dari daerah lasan (Leg 2).

mm, indikasi pulsa cacat pada layar sebesar 5 Karena pulsa cacat berada pada Leg 1, maka
mm dan lebar cacat sebesar 2 mm yang tinggi cacat adalah :
digambarkan seperti Gambar 4 sebagai bahan
• tc = sc cos α
leg1
lasan
tcleg1 = 10 cos 45 = 7.1 mm
• pc = sc sin α
pc = 10 sin 45 = 2.1 mm • Pengujian dengan menggunakan probe
sudut lebih sulit dibandingan dengan probe
normal.
• Penggunaan probe sudut tidak digunakan
dalam pendeteksian penentuaan tebal
bahan, sedangkan probe normal tidak
diperuntukkan pada bahan lasan.
• Pengujian dengan menggunakan Pesawat
Ultrasonic DM4-DL tidak memungkinkan
Gambar 5. Grafik Kalibrasi
untuk materi yang sangat besar bahannya
baik dalam panjang, lebar, maupun tinggi.
Dari gambar 5 terlihat bahwa posisi
• Skala yang digunakan saat penelitian
pulsa terletak pada skala layar 5. Maka
adalah skala 0 sampai 50, seharusnya
didapatkan jarak dari titik cacat yang
semakin kecil skala pada layar maka alat
dideteksi ke ujung probe berada pada jarak 10
akan semakin menampilkan hasil yang
mm. Posisi pulsa cacat ini terletak kurang dari
lebih teliti.
30.98 mm yang berarti indikasi pulsa ini
dapat dikatakan cacat pada bahan. Karena jika
indikasi cacat berada pada 30.98 mm maka
bagian tersebut bukan cacat melainkan bagian
bawah permukaan lasan (root) sedangkan
jika indikasi pulsa pada layar berada pada
61.97 mm bagian ini merupakan bagian atas
permukaan dari lasan bukan cacat.
Metode yang digunakan yaitu ekualisasi
yang mencari bentuk gelombang saat
ditransmisikan dan saat diterima sama
panjang amplitudonya. Untuk menentukan
pinggiran cacat maka probe harus di geser ke
kiri dan kanan. Saat mendekati cacat gambar
pulsa dilayar akan menampilkan banyak pulsa
maka pada bagain tersebut harus lebih
hati-hati dalam menggeserkan probe hingga
menemukan bentuk pulsa yang sama panjang
amplitudonya pada bagian transmisi dan
bagian gelombang penerimanya.

SIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat memberikan
beberapa kesimpulan diantaranya :

DAFTAR PUSTAKA

[1] Giancoli, Douglas C, , Fisika Edisi 5, (Prentice-Hall International, Inc, 2005)

[2] Ansyah, Fredi, Menentukan Tebal Bahan Serta Ukuran Cacat Pada Carbon Steel Type 08L-89
Dan Stainless Steel Type 304 L Dengan Uji Ultrasonik, Skripsi, (Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Sriwijaya, Inderalaya, 2006)
[3] Debora, Fransisca, Mendeteksi Kondisi Alat Pabrik Dengan Metode Uji Tak Merusak (Non
Destructive Test) di PT PUSRI PALEMBANG, Laporan Kerja Praktek, (Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Sriwijaya, Inderalaya, 2013)