Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan dalam mengelola suatu organisasi tidak lepas dari faktor kepemimpinan dan
sikap bawahan dalam melaksanakan tugas untuk dapat mencapai tujuan organisasi. Seorang
pemimpin (leader) harus mampu mengarahkan bawaannya untuk memiliki kompetensi dalam
bekerja. Leader atau pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.
Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan
sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Seseorang pemimpin berfungsi sebagai
orang yang mampu menciptakan perubahan secara efektif dan menggerakkan orang lain untuk
mau melakukan yang dikehendaki oleh pemimpin. Dalam menjalankan tugasnya seorang leader
membutuhkan seseorang untuk mengkoordinasikan bawahannya serta menjalankan tugas, orang
tersebut yakni disebut manager.
Manager adalah orang yang mengkoordinasikan kegiatan orang-orang dan bekerja sama
untuk mencapai tujuan dengan menjalankan fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
dan pengawasan. Dalam menjalankan kegiatannya atau tugasnya itu manager memerlukan
bantuan atau kerja sama orang lain. Tanpa bantuan dan kerja sama dari orang lain, tugasnya tidak
akan terlaksana dengan baik. Dengan demikian, untuk adanya bantuan dan kerja sama dari orang
lain diperlukan kemampuan untuk mempengaruhinya serta membangkitkan kehendak dan
semangat mereka. Tanpa memiliki kemahiran atau kecakapan untuk mempengaruhi orang lain,
tidak akan timbul kerja sama.
Sampai saat ini masih sering terjadi kontroversi mengenai perbedaan antara pemimpin
(leader) versus manajer (manager). Seseorang bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi
manajer, contohnya pemimpin informal. Demikian juga, seseorang bisa menjadi manajer tanpa
harus memimpin. Dengan demikian, seorang yang berjuluk manajer tidak harus memiliki
bawahan seperti jabatan manajer akuntansi keuangan. Tidak ada seorangpun yang berpendapat
bahwa pemimpin dan manajer adalah dua perkara yang sama, tapi tingkat saling terkait (overlap)
antara keduanya menimbulkan perbedaan yang mencolok. Oleh karena itu, dalam makalah ini
penulis membahas mengenai definisi pemimpin dan manajer serta perbedaan antara keduanya.

1
1.2 Tujuan
Makalah ini dibuat bertujuan untuk:
- Mengetahui definisi leader dan manager
- Mengetahui perbedaan fungsi/peran dan karakteristik leader dan manager
- Menganalisis manakah yang lebih baik antara leader menjadi manager atau sebaliknya

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Leader


Para pakar manajemen telah banyak memberikan tentang pengertian dan teori
kepemimpinan dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien, hal itu disebabkan
organisasi tidak dapat dipisahkan dengan kepemimpinan. Keberhasilan dan kegagalan suatu
organisasi salah satunya ditentukan oleh kepemimpinan yang memimpin organisasi, bahkan
maju atau mundurnya suatu organisasi sering diidentikkan dengan perilaku kepemimpinan dari
pimpinannya. Dengan demikian, pemimpin bertanggung jawab terhadap pelaksanaan organisasi
yang dipimpin, hal ini menempatkan posisi pemimpin yang sangat penting dalam suatu
organisasi.
Kepemimpinan berasal dari kata "pimpin" yang berarti tuntun, bina atau bimbing, dapat
pula berarti menunjukan jalan yang baik atau benar, tetapi dapat pula berarti mengepalai
pekerjaan atau kegiatan (Anonim, 1990). Kepemimpinan dapat pula didefinisikan sebagai seni
mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan
kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama (Rivai, 2003). Sedangkan menurut
Stephen P. Robbins “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok
untuk pencapaian tujuan” (Stephen, 1993).
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya
kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk
bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan
(Kartini dan Kartono 1994). Pendapat lain menjelaskan pemimpin adalah seorang yang
memimpin dan mengarahkan orang lain sehingga orang yang dipimpin itu mematuhinya dengan
sukarela. Setiap orang yang berfungsi memimpin, membimbing, dan mengarahkan orang lain
adalah seorang pemimpin (Effendy dan Mochtar, 1986).
Dengan demikian pemimpin diharapkan mampu menciptakan perubahan yang signifikan
dalam organisasi dan bukan mempertahankan status quo. Sementara perubahan bukan
merupakan sesuatu yang diinginkan pimpinan, tetapi lebih pada tujuan (purposes) yang
diinginkan dan dimiliki bersama yang diharapkan harus dicapai di masa depan sehingga tujuan
menjadi motivasi utama visi dan misi organisasi. Seseorang pemimpin berfungsi sebagai orang

3
yang mampu menciptakan perubahan secara efektif dan menggerakkan orang lain untuk mau
melakukan yang dikehendaki oleh pemimpin.

2.1.1 Fungsi kepemimpinan


Fungsi kepemimpinan dapat disimak sebagaimana yang dikemukakan oleh Hadari Nawawi
(1996) yaitu:
1. Fungsi Instruktif adalah fungsi kepemimpinan yang bersifat komunikasi satu arah,
kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan menggerakkan dan memotivasi
orang lain agar tergantung pada pemimpin.
2. Fungsi Konsultatif yakni fungsi ini berlangsung dan bersifat dua arah meskipun
pelaksanaan sangat tergantung pada pemimpin.
3. Fungsi Partisipatif yakni fungsi ini tidak sekedar berlangsung atau bersifat dua arah,
tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia efektif, antara pemimpin dengan
orang yang sesama dipimpin.
4. Fungsi Pengendalian yaitu fungsi yang cenderung komunikasi satu arah meskipun
komunikasi tidak dilakukan dengan dengan dua arah.
Selanjutnya Hadari Nawawi (1998), pada buku yang lainnya menambahkan tentang fungsi
kepemimpinan yang dihubungkan dengan pendidikan yaitu:
1. Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik
secara perorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahan dari
anggota kelompok dalam menetapkan keputusan yang mampu memnuhi aspirasi di dalam
kelompoknya.
2. Mengembangkan suasana kerja sama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan
pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehingga timbul
kepercayaan pada dirinya sendiri dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan
kemampuannya masing-masing.
3. Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga
menghargai sehingga timbul perasaan ikut terlibat di dalam kegiatan kelompok dan
tumbuh perasaan tanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan masing-masing sebagai
bagian dari usaha pencapaian tujuan

4
4. Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perorangan
maupun kelompok dengan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya sehingga
berkembang kesediaan untuk memecahkannya dengan kemampuan sendiri.
Di dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, setiap pemimpin akan mempunyai caranya
masing-masing yang dianggapnya paling sesuai dengan tipe kelompok yang dipimpinnya. Hal
demikian akan tercermin dari perilakunya. Perilaku pemimpin dapat dibedakan ke dalam dua
jenis perilaku, yakni pemimpin yang member-oriented dengan yang task-oriented. Seorang
pemimpin yang member-oriented menitikberatkan kepemimpinannya pada usaha-usaha
memotivasi kelompok untuk menerima apa yang telah digariskan sebagai tujuan kelompok dan
memotivasi mereka guna bekerja untuk mencapai tujuan. Pemimpin seperti ini memandang
penting adanya keselarasan antara anggota kelompok, disertai rasa puas pada diri masing-masing
anggota tersebut. Berbeda dengan pemimpin yang member-oriented, pemimpin yang task-
oriented menitikberatkan pada cara dan sarana pencapaian tujuan tertentu; ia juga selalu akan
berusaha keras mengkoordinasikan sebaik mungkin para anggota kelompok.

2.1.2Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan merupakan teori yang berusaha untuk menerangkan cara pemimpin
dan kelompok yang dipimpinnyaberperilaku dalam berbagai struktur kepemimpinan, budaya dan
lingkungannya. Para teoritis (pakar) kepemimpinan, baik secara sosiologis maupun manajerial
telah banyak menawarkan berbagai teori tentang kepemimpinan. Dari berbagai teori yang
dikemukakan para tokoh, dapat diidentifikasikan bahwa pada dasarnya teori kepemimpinan itu
ada tiga macam, yaitu teori sifat (trait theory), teori perilaku (behavior theory) dan teori
lingkungan (environmental theory). Adapun yang lainnya merupakan gabungan dari teori
perilaku, misalnya teori pribadi dan situasi yang merupakan gabungan dari teori sifat, perilaku,
dan lingkungan. Lebih jelasnya, ketiga teori kepemimpinan tersebut adalah:
1. Teori sifat (trait theory). Menurut Sondang P. Siagian, teori ini disebut pula teori genetik
(1977:32). Teori ini menjelaskan bahwa eksistensi seorang pemimpin dapat dilihat dan
dinilai berdasarkan sifat-sifat yang dibawa sejak lahir sebagai sesuatu yang diwariskan.
Teori ini juga sering disebut sebagai teori bakat karena menganggap pemimpin itu
dilahirkan bukan dibentuk.

5
2. Teori perilaku (behavior theory). Teori ini berdasarkan asumsi bahwa kepemimpinan
harus dipandang sebagai hubungan diantara orang-orang.bukan sebagai sifat-sifat atau
cirri-ciri seorang individu. Oleh karena itu, keberhasilan seorang pemimpin sangat di
tentukan oleh kemampuan pemimpin dalam berhubungan dan berinteraksi dengan
segenap anggotanya. Dengan kata lain, teori ini sangat memperhatikan perilaku
pemimpin sebagai aksi dan respons kelompoknya yang dipimpinnya sebagai reaksi.
3. Teori lingkungan (environmental theory). Teori ini beranggapan bahwa munculnya
pemimpin-pemimpin itu adalah hasil dari waktu. Tempat, dan keadaan (Atmosoedirdjo,
1976:59). Dalam teori ini muncul sebuah pernyataan, leader are made not born, yaitu
pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan. Lahirnya seorang pemimpin adalah melalui
evolusi sosial dengan memanfaatkan kemempuannya untuk berkarya dan bertindak
mengatasi masalah-masalah yang timbul pada situasi dan kondisi tertentu.

2.1.3 Tipe-Tipe Kepemimpinan


Tipe-tipe kepemimpinan secara umum, para pemimpin dalam setiap organisasi dapat
diklasifikasikan menjadi lima tipe utama. Yaitu tipe pemimpin otokratis, tipe pemimpin
militeristis, tipe pemimpin paternalistis, dan tipe pemimpin demokratis.
1. Tipe pemimpin otokratis. Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin merupakan
suatu hak. Ciri-ciri pemimpin ini ialah menganggap bahwa organisasi adalah milik
pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi denagn tujuan organisasi, menganggap bahwa
bawahan adalah alat semata, tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang
lain karena dia menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, selalu bergantung pada
keuasaan formal, Dalam menggerakkan bawahan selalu menggunakan pendekatan
(approach) yang mengandung unsur ancaman dan paksaan. Dari berbagai sifat yang
dimiliki oleh tipe pemimipin seperti ini maka dapat diketahui bahwa tipe ini tidak
menghargai hak-hak manusia. Oleh karena itu, tipe ini tidak dapat digunakan dalam
organisasi modern.
2. Tipe pemimpin militeristis adalah penting apabila diperhatikan bahwa seorang pemimpin
tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin pada organisasi militer. Artinya, tidak
semua pemimpin dalam militer bersifat militeristis. Seorang yang mempunyai sifat-sifat
militeristis mempunyai sifat-sifat yakni: Dalam menggerakkan bawahannya, perintah

6
mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama; Sangat suka menggunakan pangkat dan
jabatannya dalam menggerakkan bawahan; Senang pada formalitas yang berlebihan.;
Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan; Tidak mau menerima
kritik dari bawahan; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3. Tipe pemimpin paternalis. Tipe kepemimpinan ini memiliki cirri-ciri tertentu, yaitu
bersifat paternal atau kebapakan. Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalis adalah
sebagai berikut: Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; Bersikap
terlalu melindungi bawahan; Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan. Oleh karena itu, jarang ada pelimpahan wewenang; Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan inisiatif daya
kreasi; Sering menganggap dirinya maha tau.
4. Tipe pemimpin kharismatis. Hingga masa terkini, para pakar manajemen belum berhasil
menemukan sebabsebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma. Tipe pemimpin
seperti ini memiliki daya tarik yang sangat besar, dan karenanya memiliki pengikut yang
sangat besar. Kebanyakan pengikut menjelaskan alasan subjektif mereka menjadi
pengikut pemimpin seperti ini. Karena kurangnya pemimpin kharismatis, sering
dikatakan bahwa pemimpin seperti ini diberkahi dengan kekuatan gaib, kekayaan, umur,
kesehatan, profil pendidikan, dan sebagainya, tidak dapat digunakan sebagai criteria
pemimpin kharismatis.
5. Tipe pemimpin demokratis. Tipe pemimpin demokratis dianggap sebagai tipe
kepemimpinan yang terbaik.tipe kepemimpinan seperti ini selalu mendahulukan
kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan individu. Beberapa cirri dari tipe
kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut: Dalam proses menggerakkan
bawahan, selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk termulia
di dunia; Selalu berusaha menyelaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan
kepentingan organisasi; Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan dari kritik
bawahannya; Mentolelir bawahan yang berbuat kesalahan dan memberikan pendidikan
kepada bawahan agar tidak berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreatifitas,
inisiatif, dan prakarsa dari bawahan; Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai
tujuan; Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya;
Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

7
2.2 Manager
Semua organisasi mempunyai orang yang bertanggung jawab terhadap organisasi dalam
mencapai sasarannya. Orang ini disebut manager. Manager adalah orang yang bertanggung
jawab untuk mengarahkan usaha yang bertujuan membantu organisasi dalam mencapai
sasarannya (James A.F. Stoner, et al, 1996). Definisi paling umum dari manager adalah
seseorang yang bekerja dengan atau melalui orang lain melalui kegiatan mengkoordinasi
berbagai aktifitas pekerjaan dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi. Secara teoritis,
manajer harus menjalankan fungsi management. Jika fungsi-fungsi Management tersebut tidak
dijalankan maka orang tersebut tidak lagi disebut sebagai seorang manajer.

2.2.1 Tingkatan Manajer


Piramida jumlah karyawan pada organisasi dengan struktur tradisional,
berdasarkan tingkatannya.Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan
menjadi manajer puncak, manajer tingkat menengah, dan manajer lini pertama (biasanya
digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan lebih besar di bagian bawah
daripada di puncak). Berikut ini adalah tingkatan manajer mulai dari bawah ke atas:
o Manejemen lini pertama (first-line management), dikenal pula dengan istilah
Management operasional, merupakan Management tingkatan paling rendah yang
bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses
produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area,
manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman).
o Management tingkat menengah (middle management), mencakup semua manajemen
yang berada di antara manajer lini pertama dan manajemen puncak dan bertugas sebagai
penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya
kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi.
o Manajemen puncak (top management), dikenal pula dengan istilah executive officer.
Bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan
jalannya perusahaan. Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO
(Chief Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer).

8
Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan
menggunakan bentuk piramida tradisional ini. Misalnya pada organisasi yang lebih fleksibel dan
sederhana, dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah
dari satu proyek ke proyek lainnya sesuai dengan dengan permintaan pekerjaan.

2.2.2 Peran Manager


Henry Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada sepuluh
peran yang dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh
peran itu ke dalam tiga kelompok, yaitu:
 Peran antarpribadi
Merupakan peran yang melibatkan orang dan kewajiban lain, yang bersifat seremonial dan
simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak buah, pemimpin, dan penghubung.
 Peran informasional
Meliputi peran manajer sebagai pemantau dan penyebar informasi, serta peran sebagai juru
bicara.
 Peran pengambilan keputusan
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah
masalah, pembagi sumber daya, dan perunding.
Mintzberg kemudian menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas yang dilakukan oleh
manajer adalah berinteraksi dengan orang lain.

2.2.3 Keterampilan Manager


Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan
minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah:
 Keterampilan konseptual (conceptional skill)
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide,
dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian
haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya
itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut
sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga
merupakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.

9
 Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan
berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga
keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer
terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan
kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap
terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen
atas, menengah, maupun bawah.
 Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah.
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu,
misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan
lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky dan Ronald (2007), menambahkan dua
keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:
 Keterampilan manajemen waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan
waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Dalam bukunya, ia mengajukan contoh kasus Lew
Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun.
Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu,
maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah $800 per jam ekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita
lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan
manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu
yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-
buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
 Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam
memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang
manager, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Mereka mengajukan tiga langkah
dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan
mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus

10
mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling
baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta
mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.
Etika manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka. Ada
tiga kategori klasifikasi menurut Ricky dan Ronald (2007):
 Perilaku terhadap karyawan
 Perilaku terhadap organisasi
 Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya

2.3 Perbedaan Leader vs Manager


Sampai saat ini masih sering terjadi kontroversi mengenai perbedaan antara pemimpin
(leader) versus manajer (manager). Seorang bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi
manager, contohnya pemimpin informal. Demikian juga, seseorang bisa menjadi manager tanpa
harus memimpin. Dengan demikian, seorang yang berjuluk manager tidak harus memiliki
bawahan seperti jabatan manager akuntansi keuangan. Tidak ada seorangpun yang berpendapat
bahwa pemimpin dan manajer adalah dua perkara yang sama, tapi tingkat saling terkait (overlap)
antara keduanya menimbulkan perbedaan yang mencolok. Menurut Gardner (1990:3) kata
manager biasanya memberi label kepada individu yang memiliki tugas mengarahkan dalam
sebuah organisasi. Manager berperan mengawasi proses agar organisasi berfungsi dengan baik,
membagi sumber daya secara hati-hati, dan menggunakan sebaik mungkin sumber daya
manusia.. Perbedaan antara manajer dan pemimpin dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Perbedaan Manager dan Leader

11
2.4 Leader Menjadi Manager Atau Manager Menjadi Leader?
Pemimpin dan manajer merupakan salah satu intisari, sumber daya pokok, dan titik
sentral dari setiap aktivitas yang terjadi dalam suatu organisasi ataupun perusahaan. Bagaimana
kreativitas dan dinamikanya seorang pemimpin atau manajer dalam menjalankan wewenangnya
akan sangat menentukan apakah tujuan organisasi atau perusahaan tersebut dapat tercapai atau
tidak.
Peran manager dan leader ialah penting. Organisasi yang sukses yang dijalankan oleh
seseorang yang merupakan kombinasi manager dan leader. Ketika seseorang memiliki sejumlah
karakter manager dan leader, masalahnya ialah bukan dalam memutuskan akan menjadi yang
mana atau yang mana lebih baik (leader menjadi manager atau manager menjadi leader), tetapi
lebih dalam mencapai keseimbangan yang tepat antara karakteristk majerial dan kepemimpinan,
sesuatu yang harus dimiliki oleh masing-masing eksekutif. John Kotter (HBR, 1990)
menambahkan bahwa semua organisasi membutuhkan keduanya, manager maupun pemimpin
agar dapat sukses, terutama dalam masa-masa sulit dan krisis. Pemimpin memerlukan manager
dan manager memerlukan pemimpin.

12
BAB III
KESIMPULAN

Leader adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya
kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk
bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Seseorang pemimpin berfungsi sebagai orang yang mampu menciptakan perubahan secara
efektif dan menggerakkan orang lain untuk mau melakukan yang dikehendaki oleh pemimpin.
Manager adalah seseorang yang bekerja dengan atau melalui orang lain melalui kegiatan
mengkoordinasi berbagai aktifitas pekerjaan dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi.
Manager berperan mengawasi proses agar organisasi berfungsi dengan baik, membagi sumber
daya secara hati-hati, dan menggunakan sebaik mungkin sumber daya manusia.
Sampai saat ini masih sering terjadi kontroversi mengenai perbedaan antara leader versus
manager. Seorang bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi manager, contohnya pemimpin
informal. Demikian juga, seseorang bisa menjadi manager tanpa harus memimpin contohnya
manager keuangan. Peran leader dan manager ialah penting. Semua organisasi membutuhkan
keduanya, manager maupun leader agar dapat sukses, terutama dalam masa-masa sulit dan krisis.
Pemimpin memerlukan manager dan manager memerlukan pemimpin.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1990. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. PN
Balai Pustaka. Jakarta.
Effendy dan Mochtar.1986. Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Bhratara
Karya Aksara. Jakarta.
Hadari, N. 1996. Administrasi Pendidikan. PT. Gunung Agung. Jakarta.
Hadari, N. 1988. Manajemen Sumber Daya Manusia: Untuk Bisnis yang Kompetitif. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
James A. F. Stoner, R. Edward Freeman, Daniel R. Gilbert, Manajemen, Jilid Satu, Edisi Bahasa
Indonesia, Penerbit Prenhallindo, Jakarta, 1996
John P. Kotter. 1996. Leading Change. Harvard Business School Press.
https://pdfs.semanticscholar.org/44bf/6e4c69aa58f7256fb0db48d7cf50a6a4d4c3.pdf.
Diakses pada tanggal 22 Maret 2018.
Kartini dan Kartono. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Rivai. 2003. Kepemimpinan Pendidikan. Cahaya Ilmu. Jakarta.
Sondang P. Siagian. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Rinekacipta. Jakarta.
Stephen P. Robbins. 1983. Essentials of Organizational Behavior. Prentice-Hall.

14