Anda di halaman 1dari 14

KERAMIK ABRASIVE

1. Pendahuluan
Pengunaan dari bahan abrasif sudah dimulai sejak zaman prasejarah. Karena itu alat alat
dan senjata dari batu dibuat dengan mengasahnya pada batu yang lebih keras. Dalam sejarah
selanjutnya, para pandai besi menggunakan bebatuan yang dibentuk menjadi gerinda atau
balok untuk mengasah parang, pisau, kapak dan peralatan dari kayu. Bahan abrasiv yang
berupa bubuk juga sudah digunakan oleh orang mesir kuno untuk memperhalus berbagai
barang kerajinan. Beberapa bahan abrasif alami ditambang dari bumi di berbagai penjuru
dunia. Yang paling umum merupakan batu api dan batu pasir. Bahan alami yang juga sering
digunakan adalah batu apung sebgai penghalus logam atau bubuk gosok. Kadang kadang,
intan juga digunakan untuk memperhalus atau memotong kaca. Intan yang digunakan
sebagai abrasif kualitasnya lebih rendah dari intan permata.

Bahan abrasif adalah bahan alami atau sintetik yang relativ keras untuk mengasah dan
menggosok bahan lain yang lebih lunak. Gerinda., kikis , amplas, bubuk dan krem poles
serta balok asah adalah jenis abrasif yang sering ditemukan. Untuk berbagai keperluan,
bahan abrasif digunakan dengan bentuk dan bahan berlainan. Klem poles dapat membuat
bahan menjadi halus dan mengkilap.gerinda dan kikir digunakan untuk menciptakan
komponen mesin yang memerlukan ketelitian yang tinggiuntuk memperhalus bagian yang
kasar. Amplas sering digunakan oleh tukang besi dan tukang kayu untuk menghaluskan
permukaan benda yang akan di cat. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan menggosok atau
menggeserkan bahan abrasiv pada permukaan yang akan dibentuk atau diperhalus, baik
dengan tenaga manusia maupun dengan mesin khusus.sebagian besar pekerjaan rumah
tangga juga memerlukan bahan abrasif ringan selain sabun dan detergen, misalnya abu
gosok. Bubuk dan cairan pencuci juga mengandung bahan abrasif. Setiap bahan abrasif
mempunya tingkat kekerasan tertentu, intan merupakan bahan abrasif yang paling keras.
Kemudian diikuti silikon karbida dan aluminium oksida. Ketiganya biasanya merupakan
bahan abrasif sintetik. Bahan sintetik lainnya antara lain wol baja, butir butir baja dan bubuk
gelas. Bahan abrasif alami yang sering digunakan antara lain batu gosok yang mengandung
aluminium oksida dan besi oksida, pasir, silica amorf, garnet, batu apung, batu api, intan,
korumdum dan lainnya.
Abrasif merupakan material, biasanya mineral, yang digunakan untuk proses
pembentukan atau finishing material kerja dengan cara menggosok, yang mengakibatkan
bagian dari benda menjadi semakin pudar. Material abrasive sangat umum digunakan dalam
berbagai industri, dan teknologi. Variasi komposisi dan sifat kimia maupun fisikanya dapat
diubah sesuai dengan kebutuhan. Secara umum material abrasive digunakan dalam
pekerjaan penggilingan (grinding), pemolesan (polishing), pengkilapan (buffing),
pengasahan, pemotongan, pengeboran, dan pengamplasan.

Beberapa faktor yang akan mempengaruhi dalam pemakaian material abrasive meliputi:
 Perbedaan kekerasan antara material abrasive dan benda kerja, semakin keras abrasive
maka akan semakin cepat proses pengerjaan.
 Grain size, semakin kasar butirannya akan semakin cepat berpengaruh pada benda kerja
 Adhesi (gaya tarik menarik molekul) antara butir
 Penggunaan pelumas / pendingin / pengerjaan logam cairan.

Tabel berikut berisi bahan abrasif alami dan sintetis yang umum digunakan.
2. PEMBUATAN MATERIAL ABRASIF

2.1. Persiapan dan pengukuran


Semua jenis material abrasif, kecuali bubuk halus, harus dihancurkan hingga ukuran
partikel untuk digunakan. Ukuran yang digunakan bervariasi dari 4 grit, dengan diameter
sekitar 6 milimeter (1/4 inci), hingga sehalus 900 grit, yang berukuran sekitar enam mikron
(0,00024 inci) atau sekitar sepersepuluh ketebalan rambut manusia. Dalam beberapa kasus,
bahkan bubuk yang lebih halus diperlukan ketika digunakan untuk memoles permukaan anti
gores pada lensa optik berkualitas tinggi dan cermin untuk teleskop daya tinggi.

Untuk ukuran yang lebih kasar, butiran yang ingin dihancurkan diukur dengan
serangkaian uji screening sebagaimana yang ditetapkan di sebagian besar negara menurut
standar. Untuk ukuran 240 grit dan lebih kecil, ukuran butiran biasanya diukur dengan
tingkat pengendapan atau uji sedimentasi.

Metode penghancuran memiliki efek yang signifikan pada pemotongan dan kekuatan
butiran abrasif. Jika tekanan penghancur yang diberikan sangat besar, maka hasilnya
cenderung berbentuk serpihan, tajam, dan butir yang rapuh. Bahan-bahan ini mudah
meresap dan mengeluarkan material dengan laju yang cepat. Bentuk ini diperlukan dalam
banyak produk abrasif pelapis.

2.2. Pembuatan produk abrasif untuk kebutuhan industri


a. Roda Gerinda
Salah satu produk abrasif utama yang diproduksi adalah roda gerinda. Alat ini terbuat
dari butiran abrasif dan pengikat, atau "ikatan," merupakan alat pemotong yang tajam.
Ketika butiran sudah tumpul, maka butirannya akan terlepas dari permukaan roda
gerinda. Ketajaman bahan ditentukan oleh sifat ikatan yang digunakan dan rasio
abrasif terhadap ikatan, yang diukur berdasarkan volume.

Forming dan firing


Dalam pembuatan roda gerinda, abrasif dengan ukuran dan bahan pengikat
yang tepat ditimbang dan dicampur bersama dalam mesin pencampur. Ketika
dicampur secara menyeluruh, sejumlah material abrasif yang terukur didistribusikan
secara merata dalam cetakan baja. Cetakan ditempatkan dalam pres hidrolik yang
kuat, dan campuran dikompres sehingga membentuk ukuran roda yang diinginkan.

Sebagian besar roda gerinda yang dibuat memiliki ikatan keramik vitreous,
terbuat dari tanah liat dan feldspars. Roda tersebut dibuat dengan vitrifikasi dengan
cara ditembakkan dalam tanur suhu tinggi pada suhu 1.260 ° C (2.300 ° F). Tanur
listrik, minyak, dan gas-bakar dapat digunakan. Lama "pembakaran" bervariasi
dengan ukuran roda dan bisa selama dua minggu.

Truing, Grading dan Testing


Hampir semua proses pembuatan roda gerinda harus diselesaikan setelah
dibakar. Dalam proses yang disebut truing, roda dipotong ke ukuran akhir, dan
lapisan kaca luar yang dihasilkan dari kiln dihilangkan, sisi roda dibuat sejajar dan
ukuran lubang punnjung disamakan; pada saat yang sama permukaan roda yang
sedang bekerja diasah. Roda dilas dengan menggunakan pemotong baja berbentuk
kerucut, dengan menggosok, dan digiling dengan roda gerinda.
Proses grading roda dilakukan untuk memastikan bahwa roda memiliki
ketahanan yang cukup untuk dipakai. Grade atau kekerasan, ditentukan oleh jumlah
ikatan, memungkinkan roda gerinda agar tetap tajam dan bebas pemotongan dalam
berbagai kondisi. Roda gerinda yang digunakan untuk operasi penggilingan berat
“lebih keras” dibuat dengan jumlah ikatan yang lebih besar, mempertahankan
partikel abrasif lebih lama dalam kondisi berat seperti yang ditemukan di pabrik baja
dan pengecoran.
Terakhir, roda gerinda diperiksa keseimbangannya untuk memastikan agar
dapat bergerak tanpa getaran. Roda gerinda berdiameter enam inci dan lebih besar
biasanya diuji kecepatannya. Roda diputar dengan kecepatan setidaknya 50 persen
lebih besar dari kecepatan operasi maksimum yang diijinkan.
3. Aplikasi material abrasif untuk kebutuhan industri
Ada beberapa jenis bahan abrasif yang tersedia tetapi hanya yang umum yang digunakan
dalam kedokteran gigi. Abrasif alamiah mencakup batu Arkansas, kapur, korundum, intan,
akik, pumis dll. Abrasif buatan pabrik adalah bahan disintesa yang umumnya lebih disukai
karena mempunyai sifat fisik yang lebih dapat ditebak (Naibaho, 2004).

3.1. Material Abrasif Alami


Bahan Abrasif Alami menurut Anusavice tahun 2004 yaitu :
1. Batu Arkansas.
Batu Arkansas adalah batu endapan silika yang berwarna abu-abu muda dan
semi transluler yang ditambang di Arkansas.

2. Kapur.
Salah satu bentuk mineral dari calcite disebut kapur. Kapur adalah abrasif putih
yang terdiri atas kalsium karbonat.

3. Korundum.
Bentuk mineral dari oksida aluminium yang biasanya berwarna putih. Sifat
fisiknya lebih rendah daripada oksida alfa-aluminium, yang sudah banyak
menggantikan korundum dalam aplikasi dental.
4. Intan.
Intan adalah mineral tidak berwarna, transparan yang terdiri atas karbon. Ini
adalah senyawa yang paling keras. Intan disebut super abrasif karena
kemampuannya untuk mengasah substansi apapun.

5. Amril.
Abrasif ini berupa korundum berwarna hitam keabuan yang dibuat dalam bentuk
butiran halus. Amril digunakan khususnya dalam bentuk disk abrasif dan
tersedia dalam berbagai ukuran kekasaran.

6. Akik.
Istilah akik mencakup sejumlah bahan yang berbeda yang mempunyai sifat fisik
dan kristalin yang sama. Mineral ini adalah silika dari aluminium, kobalt, besi,
magnesium, dan mangan.

7. Pumis.
Aktivitas gunung berapi menghasilkan bahan silica berwarna abu-abu muda.
Digunakan terutama dalam bentuk pasir tetapi juga dapat ditemukan pada
abrasif karet.
3.2. Material Abrasif Buatan
Bahan Abrasif Buatan menurut Anusavice tahun 2004 yaitu :
1. Silikon karbid
Abrasif yang sangat keras dan merupakan abrasif sintetik yang pertama kali
dibuat. Silikon tersebut sangat keras dan rapuh. Partikel-partikelnya tajam dan
mudah pecah untuk membentuk partikel baru yang tajam. Ini menghasilkan
efesiensi pemotongan yang sangat tinggi untuk berbagai bahan termasuk,
keramik, dan bahan plastik. Silikon karbid tersedia sebagai bahan abrasif pada
disk dan instrumen bonding vitraus serta karet.

2. Oksida Alumunium
Abrasif sintetik kedua yang dikembangkan sesudah silikon karbid. Oksida
aluminium sintetik (alumina) dibuat berupa bubuk berwarna putih. Dapat lebih
keras daripada korundum (alumina alami) karena kemurnianya. Oksida ini
dipakai untuk oksida bonding, abrasif berbentuk lapisan. White stone dibuat
dari oksida aliminium yang disintering untu merapikan email gigi, logam
campur, maupun bahan keramik.
3. Rouge
Oksida besi adalah senyawa abrasif yang halus dan berwarna merah dalam
rouge, bahan ini dipadukan seperti tripoli, dengan berbagai pengikat lunak
menjadi bentuk bedak. Digunakan untuk memoles logam campur mulia yang
berkadar tinggi.

4. Oksida timah
Abrasif yang sangat halus ini digunakan sebagai bahan pemoles untuk gigi dan
restorasi logam di dalam mlut. Bahan ini dicampur dengan air, alkohol, atau
gliserin untuk membentuk pasta abrasif ringan.

5. Abrasif intan sintetik

Intan buatan digunakan khusus sebagai bahan abrasif yang memiliki lima kali
tingkat abrasif dibandingkan intan alami. Digunakan pada gergaji intan, bur
intan(Anusavice, 2004).
3.3. Macam-macam Material Abrasif Berdasarkan Kegunaannya

1. Bahan Abrasif Finishing


Merupakan bahan abrasif yang umumnya keras, kasar yang digunakan pada
permulaan untuk menghasilkan suatu kontur/bentuk dari sebuah restorasi atau
preparasi gigi dan untuk membuang segala komponen permukaan yang tidak
teratur.
Contoh : sand/pasir, carbides, zirconium silikat, emery.

2. Bahan Abrasif Polishing


Mempunyai ukuran partikel yang lebih halus dan bahan abrasi yang digunakan
umumnya kurang kekerasannya daripada bahan abrasi yang digunakan untuk
finishing. Bahan abrasi polishing ini digu nakan untuk permukaan yang lebih
halus yang telah diasah terlebih dahulu oleh bahan abrasi finishing.
Contoh : aluminium oksid, garnet, pumice, kalsit, dll.

3. Bahan Abrasif Cleansing


Merupakan bahan yang halus dengan partikel yang berukuran kecil, dan
diharapkan mampu menghilangkan deposit-deposit halus yang melekat di
enamel atau pada suatu bahan restorasi.
Contoh : kaolin, kieselguhr (Naibaho, 2004).

3.4. Macam-macam Material Abrasif Berdasarkan Kekerasan, dan Ukuran


partikel
a. Bahan Abrasif Keras
1. Diamond
2. Carbides : boron, tungsten, silikon
3. Oxide : aluminium, cornundum

b. Bahan Abrasif Sedang


1. Silikat : magnesium, pumice, tripoli
2. Zircates : zirconium silikat
3. Kieselguhr (Naibaho, 2004).
3.5. Kelebihan dan Kekurangan Material Abrasif

a. Kelebihan material abrasif


 Ekonomis
 Mudah digunakan
 Estetika baik.
 Kesehatan Oral (Vanable dan Lopresti, 2005).

b. Kelemahan material abrasif


 Tekanan yang berlebihan dapat menyebabkan potongan yang lebih dalam
pada area tersebut, menyebabkan kekasaran permukaan yang berisiko
menempelnya plak dan permukaan terlihat kusam
 Menggunakan bahan abrasif yang lebih lunak dari pada permukaan akan
merusak bahan abrasif tersebut
 Luka pada pulpa gigi dikarenakan menggosok material terlalu cepat
 Risiko silikosis pernapasan karena pemajanan kronis terhadap partikel bahan
ini yang ada di udara cukup besar karena itu tindakan pencegahan harus
selalu dilakukan. Misalnya: Kieselguhr, karena bahan yang paling halus
(Vanable dan Lopresti, 2005).

3.6. Aplikasi Material Abrasif dan Polish pada Resin Akrilik dan Resin
Komposit

a. Aplikasi dan Bahan Abrasif dan Polish pada Resin Akrilik


Aplikasi dan Bahan Abrasif dan Polish pada Resin Akrilik menurut Anusavice
tahun 2004 yaitu :

1. Batu Arkansas
Batu endapan silika warna abu-abu muda dan semitranslusen yg ditambang
di Arkansas. Mengandung quartz mikrokristal. Corak padat,keras, seragam.
Potongan kecil dicekatkan pada batang logam lalu ditruin keberbagai
bentuk untuk mengasah email gigi dan logam campur.
2. Pasir
Campuran partikel mineral kecil terutama silika. Berwarna warnisehingga
punya penampilan yg khas. Bentuk bulat atau angular.Diaplikasikan dengan
tekanan udara untuk menghilangkan bahan tanamdari logam campur
pengecoran. Dapat dilapiskan pada disk kertas untuk mengasah logam
campur dan bahan plastik.

3. Pumis
Silika abu-abu muda. Dalam bentuk pasir atau abrasif karet. Untuk bahan
plastik. Bubuknya adalah derivat batu vulkanik yg sangat halus dariitalia
dan digunakan memoles email, lempeng emas, amalgam, dan resin akrilik.

b. Aplikasi Material Abrasif dan Polish pada Resin Akrilik dan Resin Komposit

Aplikasi dan Bahan Abrasif dan Polish pada Resin Komposit menurut
Anusavice 2004 yaitu

1. Intan
Mineral tidak berwarna, transparan yang terdiri atas karbon. Senyawa
paling keras, disebut super abrasif karena dapat mengasah substansi apapun.
Digunakan pada bahan keramik dan resin komposit

2. Abrasif intan sintetik


Digunakan khusus sebagai abrasif dan dibuat 5 kali lebih besar dari tingkat
abrasif intan alami. Digunakan pada gergaji intan, roda, dan bur intan. Blok
yang ditanami partikel intan digunakan untuk mengasah jenis abrasi yang
lain. Pasta pemoles intan juga dibuat dari partikel yang diameternya lebih
kecil dari 5 um dan digunakan untuk memoles bahan keramik. Abrasive
intan sintetik digunakan terutama untuk struktur gigi, bahan keramik, dan
bahan resin komposit.
3. Instrument Poles: abrasif karet, disk dengan partikel halus atau amplas, dan
pasta poles dengan partikel halus.
DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, K,J, 2004, Philips,Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi,


Penerjemah: Lilian J. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Hlm 55-59;227-243.

Naibaho.2004. Ilmu dan teknologi Bahan Edisi ke 5. Jakarta : Erlangga

http://fakeplasticworlds.wordpress.com/2009/12/18/bahan-konstruksi-teknik-kimia-bahan-
konstruksi-korosi-pengantar/

https://www.britannica.com/technology/abrasive#ref76667. Diakses pada 20 Mei 2018

Vanable .Lopresti, 2005: Skinner’s Science of Dental Material, ed.7, Philadelphia,


W.B.Saunders Company, p.42-5.