Anda di halaman 1dari 14

PENGGUNAAN ALAT PERAGA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

MENGHITUNG VOLUME PRISMA SEGI TIGA DAN TABUNG LINGKARAN


(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna,
Kecamatan Cikadu, Cianjur Semester 1 Tahun Pelajaran 2016-2017)

AEP SAEPUDIN, S.Pd.1


e-mail: aeps1961@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas VI
SD Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur dalam menghitung
volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan alat peraga buatan
sendiri melalui pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Lokasi penelitian ini adalah di
SD Negeri Campakawarna, yang beralamat di Kp. Campaka, Desa Cikadu, Kecamatan
Cikadu Kabupaten Cianjur dengan jumlah siswa sebanyak 31 siswa yang terdiri dari 16
siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Metode yang digunakan adalah metode tindakan
(action research) dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan dua siklus tindakan yang
masing-masing siklus terdiri atas tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan,
pengamatan, dan refleksi.
Pada siklus I diperoleh fakta bahwa siswa masih canggung dalam penggunaan alat peraga.
Kegiatan diskusi kelompok selama ini yang dilakukan siswa baru sebatas saling menyalin
hasil pekerjaan jika memperoleh tugas mengerjakan soal. Hasil perolehan nilai rata-rata
pada siklus I penelitian ini adalah 66,94 dengan nilai tertinggi sebesar 87,50 dan nilai
terendah sebesar 37,50. Rata-rata perolehan nilai ini masih berada di bawah kriteria
ketuntasan minimum yang dipersyaratkan, yakni 70, sehingga diperlukan penelitian
tindakan siklus II. Pada penelitian tindakan siklus II dilakukan beberapa perbaikan yang
meliputi perubahan komposisi anggota kelompok, pengarahan atas materi pokok yang
lebih jelas, serta latihan-latihan soal pendahuluan. Nilai rata-rata hasil pembelajaran siklus
II adalah 83,87 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 62,50. Tingkat ketuntasan
pembelajaran pada siklus II ini mencapai 93,55% dan telah memenuhi syarat ketuntasan
klasikal sebesar 85 %. Oleh karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada
siklus berikutnya.
Kata kunci: alat peraga, volume prisma segitiga

PENDAHULUAN

Matematika merupakan mata pelajaran yang melatih anak untuk berpikir rasional,

logis, cermat, jujur dan sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai suatu yang perlu

dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan seharihari. Penerapan matematika dalam

kehidupan sehari-hari akan dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah-

masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan. Karena kondisi yang demikian
1
Guru Kelas pada SD Negeri Campakawarna Kecamatan Cikadu Kabupaten Cianjur

1
pentingnya, maka matematika diberikan sejak anak memasuki bangku sekolah sejak kelas

I sampai kelas XII. Namun demikian matematika masih kurang diminati anak didik baik di

tingkat SD, SMP maupun SMA. Hal yang demikian perlu mendapatkan perhatian bagi

guru untuk memperbaiki metode serta pendekatan dalam belajar mengajar sehingga anak

didik merasa senang dan termotivasi untuk belajar matematika.

Sebagaimana yang terjadi di Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan

Cikadu, Kabupaten Cianjur di mana hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika

merupakan urutan yang terbawah dari semua mata pelajaran yang diajarkan di Kelas VI.

Diketahui bahwa pada kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung

lingkaran” dari ulangan harian yang dilakukan selama dua kali, hasilnya baru mencapai

rata-rata kelas 5,6. Hal tersebut masih sangat perlu diupayakan peningkatannya. Menurut

hasil analisis ulangan harian, diketahui bahwa pada tahun pelajaran 2015/2016 hasil

belajar siswa pada pokok bahasan menentukan volume bangun ruang baru mencapai rata-

rata 56 dan pada tahun 2016/2017 baru mencapai rata-rata kelas 59. Hal tersebut

menunjukkan bahwa ada kesulitan yang cukup berarti bagi siswa Kelas VI dalam

memecahkan dan menyelesaikan soal kompetensi dasar ”menghitung volume prisma

segitiga dan tabung lingkaran”, maka perlu upaya peningkatan kemampuan melalui upaya-

upaya yang dapat dilakukan oleh guru.

Upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan volume bangun

ruang antara lain melalui penggunaan alat peraga. Penggunaan alat peraga dalam kegiatan

pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman siswa terhadap

konsep-konsep matematika yang dipelajarinya dengan mudah. Konsep matematika seperti

bangun ruang akan mudah dimengerti anak didik pada saat pembelajaran berlangsung.

Sifat alat peraga itu sendiri membantu memperjelas konsep-konsep abstrak agar menjadi

konkret.

2
Sejalan dengan fenomena di atas maka penulis melakukan penelitian tindakan

untuk mengkaji lebih mendalam yang dirumuskan dalam judul “Penggunaan Alat Peraga

dalam Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung

Lingkaran (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna,

Kecamatan Cikadu, Cianjur Semester 1 Tahun Pelajaran 2016-2017)”.

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah: ”Apakah penggunaan alat

peraga prisma segi tiga dan tabung lingkaran satuan dapat meningkatkan hasil belajar

menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran pada siswa Kelas VI SD Negeri

Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur?”

KAJIAN TEORETIS

Hakikat Belajar dan Hasil Belajar

Loster D. Crow and Crow menyatakan bahwa belajar adalah perbuatan untuk

memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap (Kasijan, 1984:16). Kasijan

juga menyatakan bahwa kegiatan belajar mencakup tiga hal yaitu: a) membawa

perubahan, b) terjadi karena didapatkan kecakapan baru, dan c) terjadi karena ada upaya.

Belajar pada dasarnya adalah berusaha mendapatkan sesuatu kepandaian

(Poerwadarminta, 1988:108). Sedangkan menurut istilah populer bahwa pengertian belajar

adalah proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai bentuk pengalaman-peng-

alaman atau praktik. Menutrut Winkel bahwa belajar diarti-kan sebagai suatu aktivitas

mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang

menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan

sikap-sikap. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas (WS Winkel, 1998:36). Dengan

demikian belajar adalah perubahan-perubahan yang relatif konstan dan berbekas

menyangkut pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap.

3
Kata belajar menunjuk arti apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek

yang menerima pelajaran, bukan sekedar menghapal, bukan pula se-kedar mengingat

(Sardiman,1998:34). Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses yang ditandai dengan

adanya perubahan pengetahuan, pemahaman, dan sikapnya. Belajar adalah proses yang

aktif, yaitu mereaksi semua situasi yang berada disekitar individu, yang mengarah pada

suatu.

Hasil belajar dari gabungan kata hasil dan kata belajar. Hasil belajar diartikan

sebagai keberhasilan usaha yang dapat dicapai (Winkel, 1998:162). Hasil belajar

merupakan keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan akademik.

Winarno Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai hasil

belajar yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Hal tersebut berarti hasil

belajar merupakan hasil dari proses belajar. Dalam hasil belajar meliputi kemampuan

kognitif, afektif, dan psikomotor.

Prinsip-prinsip Mata Pelajaran Matematika

Mata pelajaran matematika lebih berkaitan dengan kemampuan-kemampuan siswa

mengenai pemahaman struktur dasar sistem bilangan daripada mempelajari keterampilan

dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika sesuai dengan kurikulum SD tahun 2006

(Standar Isi yang dikembangkan menjadi KTSP) menekankan mengapa dan bagaimana

matematika melalui penemuan dan eksplorasi. Mata pelajaran matematika menerapkan

prinsip-prinsip basic skill movement yang mencerminkan beberapa kemampuan dasar

matematika bagi siswa SD yang meliputi hal sebagai berikut.

a. Menyiapkan anak untuk belajar matematika

b. Maju dari konkret ke abstrak

c. Penyediaan kesempatan kepada anak untuk berlatih dan mengulang

d. Generalisasi ke dalam situasi baru

4
e. Bertolak dari kekuatan dan kelemahan siswa

f. Perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep atau keterampilan

matematika

g. Penyediaan program matematika yang seimbang. (Mulyono, 1999:273).

Oleh karena itu ada beberapa pendekatan dalam pengajaran mate-matika di SD,

yaitu sebagai berikut.

1. Urutan belajar yang bersifat perkembangan. Dalam hal ini guru diharapkan

memberikan pelajaran matematika sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Tidak

akan ada manfaatnya mengajarkan anak suatu konsep atau keterampilan matematika

sebelum mencapai tahap perkembangan tersebut karena tidak akan berhasil.

2. Belajar Tuntas. Dalam pembelajaran matematika guru harus menentukan sasaran

atau tujuan pembelajaran khusus. Sasaran tersebut harus dapat diukur dan diamati,

menguraikan langkah-langkah yang sudah dikuasai oleh siswa dari soal mudah, sedang

ke tingkat yang sukar, dan mengurutkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan.

3. Strategi belajar. Strategi belajar matematika memusatkan bagaimana siswa belajar

agar dapat mengembangkan stratgi belajar metakognitif yang mengarah-kan proses

mereka dalam belajar.

4. Pemecahan Masalah. Strategi belajar matematika dengan pemecahan masalah

untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah kaitannya dengan

soal-soal matematika (Mulyono, 1999:255).

Keempat pendekatan dalam pembelajaran matematika di SD tersebut, tentunya

menuntut kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran, juga dituntut lebih aktif

dan cermat melakukan strategi pembelajaran agar siswa yang mengalami kesulitan belajar

5
tidak merasa ditinggalkan tetapi terlayani dengan baik dengan cara kemampuannya sendiri

dan mampu mengikuti setahap demi setahap.

Alat Peraga

Alat peraga disebut juga alat bantu pelajaran. Alat peraga yang digunakan sebagai

alat bantu dalam pembelajaran, maka pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Media

merupakan jamak dari kata medium adalah suatu saluruh untuk komunikasi. Diturunkan

dari bahasa Latin yang berarti “antara”. Istilah ini kepada sesuatu yang membawa

informasi ke penerima tercetak, komputer dan instruktur. Yang demikian ini dipandang

sebagai media ketika mereka membawa pesan dengan suatu maksud pembelajaran.

Alat peraga sebagai media pembelajaran dapat menjadikan materi pelajaran yang

disampaikan lebih konkret sehingga mudah dicerna siswa. Alat peraga menambah

konkretnya materi pelajaran yang disampaikan guru sehingga pembelajaran yang

dilaksanakan akan lebih bermakna bagi kehidupan siswa.

Kerangka Pemikiran

Alat peraga memiliki fungsi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap

materi pel-ajaran yang disampaikan. Alat peraga berperan penting dalam meningkatkan

keberhasilan siswa karena melalui penggunaan alat peraga siswa dapat mengamati,

menaksir, dan meramalkan berbagai hal baik melalui indera peng-lihat, peraba maupun

pendengar. Keterlibatan alat-alat indera menggairahkan siswa dalam belajar sehingga akan

mudah terangsang untuk mencoba melakukan sesuatu hal yang diperlukan.

Penggunaan alat peraga prisma dan tabung buatan sendiri dalam pembelajaran

kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”, dapat

meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Kemudahan yang akan diperoleh siswa melalui penggunaan alat peraga tersebut yaitu

siswa dapat mengukur, mengamati, menaksir dan menangkap apa yang seharusnya

6
kemudian dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi yaitu Menghitung volume prisma

segitiga dan tabung lingkaran secara tepat.

Kecepatan dan ketepatan siswa dalam menyelesaikan masalah tersebut

memungkinkan lebih meningkat hasil belajarnya. Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa dengan penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan maka

kemampuan siswa dalam menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran akan

meningkat. Sebaliknya jika pembelajaran matematika kompetensi dasar “menghitung

volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” dalam pembelajaran di kelas tidak

menggunakan alat peraga, maka hasil belajar siswa kurang dapat diterima siswa yang pada

akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian kelas dengan bentuk penelitian tindakan, karena

permasalahan yang dihadapi dialami oleh guru/peneliti, maka solusi-nya dirancang

berdasarkan kajian teori pembelajaran dan input dari lapangan. Di samping itu,

pelaksanaan tindakan juga dilakukan oleh guru/peneliti. Adapun rancangan solusi yang

dimaksud adalah tindakan penerapan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga

(media pembelajaran) dalam mengajarkan kompetensi dasar ”menghitung volume prisma

segitiga dan tabung lingkaran” di SD.

Dalam menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut digunakan tindakan

berulang/siklus dalam setiap pembelajaran. Artinya, cara menerapkan pembelajaran

dengan alat peraga pada pembelajaran pertama, sama dengan yang diterapkan pada

pembelajaran kedua, hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda, tergantung dari

fakta dan interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi yang dijumpai. Hal ini

dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai cara penggunaan pembelajaran

secara kontekstual.

7
Prosedur penelitian dilaksanakan dalam tahap-tahap sebagai berikut.

1. Penyusunan perencanaan penelitian yang meliputi langkah-langkah:

a. menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan yang

digariskan dalam Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,

Pedoman Pengembangan Silabus (BSNP, 2006)

b. memilih dan menentukan bahan ajar;

c. menyusun perangkat penilaian sesuai dengan indikator dan tujuan

pembelajaran yang dirumuskan.

2. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan langsung oleh peneliti dengan

menyertakan dua orang observer yang terdiri atas kepala sekolah dan guru kelas V.

Fungsi observer terutama adalah mengamati perilaku pembel-ajaran yang berlangsung

dan memberikan catatan-catatan saran yang dapat dikembangkan pada siklus

berikutnya jika hasil pembelajaran belum mencapai kriteria ketuntasan minimum.

3. Penilaian kompetensi siswa dilakukan terhadap proses pembelajaran yang

berlangsung secara kualitatif serta hasil pembelajaran dengan mengacu kepada

indikator dan tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Skala penilai-an yang digunakan

adalah 0 – 10 dengan dua angka desimal sesuai kriteria yang ditetapkan pada rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP).

4. Analisis hasil belajar, yakni proses analisis terhadap hasil belajar siswa pada setiap

indikator yang telah dirumuskan. Angka KKM yang digunakan dalam penelitian ini

adalah angka KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah dalam Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan edisi tahun pelajaran 2016-2017.

8
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan

judul ”Penggunaan Alat Peraga dalam Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume

Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VI

SD Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Cianjur Semester 1 Tahun Pelajaran 2016-

2017)” dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap-tahap

perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Siklus I

Siklus I pembelajaran kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan

tabung lingkaran’ melalui penggunaan alat peraga bangun ruang pada siswa Kelas VI SD

Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur semester 1 tahun pelajaran

2010-2011 ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan pada hari Rabu tanggal 7

September 2016 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5 dan hari Jumat tanggal 9 September

2016. Pada pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus I ini dilakukan pula pengamatan

atas proses pembelajaran dan diperoleh beberapa data temuan sebagai berikut.

1) Pada awal kegiatan diskusi kelompok, pada umumnya siswa

masih merasa canggung dengan situasi pembelajaran. Apalagi siswa harus

mempelajari sendiri materi pembelajaran melalui LKS yang dibagikan. Kegiatan

menemukan sendiri (inkuiri) konsep materi ’volume prisma segitiga’ dan ’volume

tabung lingkaran’ bagi siswa merupakan hal yang relatif cukup sulit karena melibat-

kan beberapa konsep prasyarat seperti penguasaan cara menghitung luas segitiga, luas

segi empat, dan luas lingkaran.

9
2) Hal kedua yang merupakan kegiatan baru bagi para siswa

adalah mempresentasikan konsep yang ditemukannya dalam presentasi kelas.

Penguasaan komunikasi yang relatif masih kurang menjadi hambatan siswa dalam

mengungkapkan gagasannya.

3) Proses diskusi yang berjalan pada setiap kelompok tampak

tidak seimbang. Jalannya proses diskusi banyak didominasi oleh siswa-siswa yang

aktif dan biasa memperoleh prestasi baik. Hal ini menjadi catatan peneliti bagi

perbaikan siklus berikutnya.

4) Alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran ternyata

tidak mencukupi sehingga diperlukan tambahan waktu untuk pelaksana-an kuis atau

tes akhir.

Data hasil pembelajaran yang diperoleh adalah dalam bentuk akumulasi skor dan

nilai perolehan siswa. Penilaian hasil pembelajaran ini dilakukan segera setelah siswa

melaksanakan kuis sehingga siswa mengetahui secara langsung hasilnya serta hal apa saja

yang seharusnya mereka perbaiki.

Hasil belajar siklus I siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan

Cikadu yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 66,94 dengan nilai tertinggi sebesar 87,50

dan nilai terendah sebesar 37,50. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan (> 70)

adalah 15 orang dari jumlah siswa 31 atau sebesar 48,39 %. Sebagaimana diketahui bahwa

batas taraf ketuntasan pembelajaran di tingkat kelas harus mencapai sekurang-kurangnya

85 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran siklus I belum mencapai

keberhasilan yang diharapkan sehingga perlu diperbaiki dalam bentuk tindakan siklus

berikutnya.

Siklus II

10
Pada siklus II ini beberapa hal mengalami perbaikan dan penyesuaian sesuai

dengan data temuan yang diperoleh selama pembelajaran dan hasil pembelajaran siklus I.

Pada pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan sejumlah perbaikan dan penyesuaian

bagi siswa agar siswa dapat menyerap pembelajaran dengan baik.

1) Pembagian kelompok siswa diubah dengan cara menyebar

kembali siswa-siswa berkemampuan tinggi ke dalam 7 kelompok baru, demikian juga

siswa-siswa yang memiliki kemampuan menengah dan rendah. Jumlah kelompok

belajar di dalam kelas tetap tidak berubah, hanya anggotanya komposisinya.

2) Dampak pertama yang dapat dilihat dari perubahan kelompok ini

adalah jalannya proses diskusi menjadi lebih dinamis dan hampir seluruh siswa terlibat

dalam diskusi kelas. Di sisi lain, peneliti dengan dibantu teman sejawat melakukan

layanan individual kepada siswa-siswa tertentu yang sulit memahami konsep materi

yang sedang dipelajari.

3) Alat peraga yang digunakan, yang terdiri atas alat peraga bangun

ruang prisma segitiga dan tabung lingkaran, diperbanyak dengan menggunakan kertas

manila karton dan dibagikan kepada masing-masing kelompok. Dengan bantuan alat

peraga yang dipegang oleh setiap anggota dalam kelompok ini, ternyata siswa lebih

mudah memahami konsep materi pembelajaran jika dibandingkan dengan kegiatan

yang sama pada siklus I.

4) Meskipun proses pembelajaran secara keseluruhan sudah berjalan

lancar dan siswa tidak lagi canggung melaksanakan kegiatan demi kegiatan, waktu

yang tersedia ternyata masih belum cukup juga. Kuis atau tes akhir pembelajaran

terpaksa dilaksanakan di luar jam pembelajaran selama 20 menit.

Berdasarkan hasil peneliian diketahui bahwa rata-rata nilai hasil pembelajaran

siklus II adalah 83,87 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 62,50. Jika nilai

11
tersebut dikomparasikan dengan kriteria ketuntasan minimum (70,00), maka proses

pembelajaran kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung

lingkaran” telah dianggap tuntas. Di samping itu, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan

pada siklus II ini sebanyak 29 orang dengan tingkat ketuntasan pembelajaran mencapai

93,55 % yang ternyata lebih tinggi dari prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 %. Oleh

karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

Pembahasan

Pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning)

merupakan pendekatan pembelajaran yang berusaha mengaitkan ilmu pengetahuan dengan

dunia nyata di sekitar kita. Penggunaan alat peraga pada konsep-konsep abstrak prisma

segitiga dan tabung lingkaran pada faktanya dapat memperjelas konsep pembelajaran

sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Alat peraga pada konteks CTL

merupakan model ideal yang menghubungkan konsep keilmuan matematika yang abstrak

dengan pemikiran siswa yang didominasi oleh kemampuan berpikir secara visual.

Oleh karena itu, penggunaan alat peraga sebagai bentuk pemodelan pembelajaran

kontekstual dalam kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan tabung

lingkaran’ dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa yang berakibat meningkatnya

kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penghitungan volume prisma segitiga

dan tabung lingkaran.

Apabila dikomparasikan hasil pembelajaran siklus I dan siklus II, akan dapat

dilihat terjadinya peningkatan hasil belajar baik secara klasikal maupun secara individual.

Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual dengan memfokuskan

pada penggunaan alat peraga sebagai pemodelan pada kompetensi dasar ’menghitung

volume prisma segitiga dan tabung lingkaran’ dapat berhasil. Hal ini disebabkan karena

dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual disertai dengan penggunaan media

12
mirip aslinya berupa alat peraga bangun ruang prisma segitiga dan selinder yang terbuat

dari bahan karton. Bagi guru media ini dapat memper-mudah dalam penyampaian materi

pembelajaran dan bagi siswa dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam

menelaah materi. Secara tidak langsung siswa akan aktif berpikir dan berupaya mencari

jawaban yang sesuai untuk setiap permasalahan yang muncul, sehingga sistem

pembelajaran yang terjadi dapat menimbulkan ketertarikan atau minat dan motivasi pada

siswa. Dan juga siswa akan menggunakan pengalaman-pengalaman yang ia temui di

lingkungan sebagai media yang dapat mengantarkan siswa agar lebih mudah memahami

suatu permasalahan yang dimaksud. Hal ini sejalan dengan pendapat Heinich, Molenda

dan Russel dalam Prayitno (1998) yang menyata-kan bahwa media pengajaran dalam

membelajarkan dapat mengkonkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual,

sehingga mengurangi kesalah-pahaman siswa dalam mempelajari dan memberikan

pengalaman-pengalaman yang nyata yang merangsang aktifitas diri sendiri untuk belajar.

Dengan keaktifan siswa ini akan meningkatkan motivasi pada siswa untuk belajar, yang

pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian pembelajaran

berjudul ”Penggunaan Alat Peraga dalam Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung

Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa

Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Cianjur Semester 1 Tahun

Pelajaran 2016-2017)” telah berhasil. Dengan demikian, hipotesis penelitian “melalui

penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan maka hasil belajar

siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur dalam

kompetensi dasar menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran dapat

ditingkatkan” dapat diterima.

KESIMPULAN DAN SARAN

13
Pada dasarnya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil

belajar siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur

dalam menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan

alat peraga buatan sendiri berbentuk prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui

pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Maka, berdasarkan hasil analisis dan

pembahasan atas data hasil penelitian diperoleh fakta sebagai berikut.

1. Terjadi peningkatan prestasi pembelajaran dari siklus I yang memperoleh

rata-rata nilai sebesar 66,94 menjadi 83,87 pada siklus II yang berarti terjadi

peningkatan sebesar 16,94.

2. Proses pembelajaran pada siklus I yang berlangsung kaku dan canggung

telah berkembang jauh lebih baik pada siklus II dan siswa menyatakan lebih senang.

Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual

dengan fokus pemodelan melalui penggunaan alat peraga bangun ruang ternyata efektif

meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VI SD Negeri Campakawarna, Kecamatan

Cikadu, Kabupaten Cianjur semester I tahun pelajaran 2016-2017 pada kompetensi dasar

”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”.

DAFTAR PUSTAKA

Kasijan, 1984. Dasar-dasar Proses Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mulyono, 1999. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Maulana.

Prayitno. 1998. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Sardiman, 1998. Motivasi dan Interaksi Belajar. Jakarta: Rajawali Pres.

Surakhmad, Winarno. 1981. Metodologi Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Winkel, W.S. 1998. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

14