Anda di halaman 1dari 9

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9

PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

PENYEBAB SERTA SUMBER HIGH-K PADA BATUAN VOLKANIK DAN


PLUTONIK DI TANA TORAJA, SULAWESI SELATAN BAGIAN UTARA:
TERKAIT KERAK, EVOLUSI MAGMA, DAN REZIM TEKTONIK

Sugeng P. Saputro*
Bambang Priadi
Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandung
*Corresponding author : sugeng.p.saputro@gmail.com

SARI
Tana Toraja secara geografis termasuk ke dalam Provinsi Sulawesi Selatan bagian utara. Batuan
volkanik dan plutonik di daerah tersebut berdasarkan analisis kimia batuan, memiliki kandungan
potasium yang tinggi jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Penyebab dan sumber dari
tingginya kandungan potasium tersebut dapat dikaitkan dengan banyak hal. Proses-proses yang
melibatkan kerak di bawah Tana Toraja diyakini sebagai penyebab dan sumber dari tingginya
kandungan potasium tersebut. Data yang digunakan untuk penelitian ini sebanyak 32 data, berupa
unsur utama dan unsur jejak hasil dari analisis AA (Atomic Absorption), AN (Activation Neutron), EA
(Emission Atomic), ICP (Inductively Coupled Plasma), ICP-MS (Inductively Coupled Plasma-Mass
Spectrometry) dan XRF (X-Ray Fluorescence). Variasi dari unsur utama dan unsur jejak
menunjukkan bahwa magma pembentuk batuan volkanik dan plutonik di Tana Toraja berasal dari
hasil subduksi (TiO2 rendah, korelasi negatif dengan SiO2). Proses asimilasi dan fraksinasi kristal
berperan penting dalam evolusi magma tersebut, dapat terlihat dari hasil korelasi antara SiO2 vs K2O
dan MgO vs CaO. Kerak kontinen lebih berkontribusi dibandingkan oceanic slab (Rb/Ba rendah; Ti/Y,
Rb/Sr, La/Ce, Th/La tinggi), serta adanya karakter peleburan kerak (korelasi negatif Ba dan Sr
dengan SiO2). Data tersebut menunjukkan jika magma terbentuk pada rezim tektonik post-subduksi.

Kata kunci: Sulawesi, selatan, Toraja, high-K, unsur, utama, jejak, kerak, evolusi, post-subduksi.

I. PENDAHULUAN Kehadiran kandungan potasium tinggi di


Tana Toraja bisa menjadi kunci bagaimana
Tana Toraja secara geografis termasuk ke
proses geodinamik yang sebenarnya terjadi
dalam Provinsi Sulawesi Selatan bagian
di daerah tersebut. Penyebab dan sumber
utara (Gambar 1). Hasil analisis kimia Tana
dari tingginya kandungan potasium tersebut
Toraja diketahui memiliki kandungan
secara mendetil dapat digunakan untuk
potasium tinggi (high-K), hal tersebut bisa
mengetahui proses terjadinya evolusi
sebagai hasil dari subduksi aktif atau hasil
magma, yang selanjutnya digunakan untuk
kolisi yang berasosiasi dengan kerak (Pearce
mengetahui proses geodinamik yang
dkk., 1990; Harris dkk., 1990). Priadi dkk.
berperan dalam merekonstruksi lingkungan
(1993; 1994) berpendapat bahwa kandungan
tektonik di Tana Toraja. Adanya penelitian
potasium tinggi di Tana Toraja berkaitan
lebih lanjut diperlukan untuk menjawab
dengan proses post-kolisi, sebagai akibat
permasalahan tersebut.
leburnya (melting) kerak kontinen. Hal lain
dikemukakan oleh Elburg dan Foden (1999)
II. KONDISI GEOLOGI REGIONAL
bahwa berdasarkan analisis isotop Sr-Nd-Pb
pada beberapa percontoh batuan, terlihat Sulawesi
adanya karakter subduksi yang berbeda pada Sulawesi termasuk ke dalam tatanan
pola unsur jejaknya. Subduksi bukan tektonik Indonesia bagian timur yang sangat
menjadi penyebab utama dari pola unsur kompleks, karena dipengaruhi oleh
jejak tersebut, walaupun tetap terlihat tumbukan tiga lempeng aktif. Sulawesi sejak
adanya karakter subduksi. umur Kapur Awal mengalami berbagai

412
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
macam proses geodinamik, seperti atasnya terendapkan sekuen sedimen
pemekaran di Selat Makassar, magmatisme volkanik serta diterobos batuan plutonik.
dan volkanisme di lengan barat Sulawesi, Tana Toraja mengalami pengkayaan pada
serta subduksi dan kolisi di bagian timur unsur alkali (Na dan K) dalam sistem
Sulawesi (Guntoro, 1999). Suture magmatisme dan volkanismenya (Priadi,
merupakan istilah yang digunakan oleh Hall 1993; Priadi dkk., 1993; Priadi dkk., 1994;
dan Wilson (2000) untuk menggambarkan Polvé dkk., 1997). Polvé dkk., 1997
hal tersebut. menyatakan bahwa post-subduksi dan post-
kolisi adalah penyebab dari meningkatnya
Suture Sulawesi terbentuk oleh komponen
unsur alkali tersebut.
hasil kolisi antara Paparan Sunda dan batas
fragmen Kontinen Australia, atau lebih III. SAMPEL DAN METODE
tepatnya termasuk daerah akresi (Hall dan PENELITIAN
Wilson, 2000). Batas Eurasia di Sulawesi
merupakan akresi dari fragmen kontinen yg Data yang digunakan untuk penelitian ini
berasal dari Gondwana (Sclater dan Fisher, sebanyak 32 data, terdiri dari 6 data primer
1974; Johnson dkk., 1976; Metcalfe, 1993). hasil analisis XRF serta 26 data sekunder
Periode akresi dicurigai terjadi pada umur hasil analisis AA, AN, EA, ICP (Priadi,
Kapur Akhir dan Paleosen Awal, dibuktikan 1993) dan XRF, ICP-MS (Elburg dan Foden,
dengan adanya docking blok-blok fragmen 1999).
kontinen yang berasal dari Australia
(Gondwana origin) sepanjang batas Eurasia IV. DATA DAN ANALISIS
di Sulawesi (Hamilton, 1979; Rangin dkk., Magma pembentuk batuan volkanik dan
1989; Daly dkk., 1991). Kolisi dan akresi plutonik di Tana Toraja berasal dari hasil
termuda terjadi selama umur Neogen subduksi. Hal tersebut dibuktikan oleh
(Rangin dkk., 1990a, 1990b; Smith dan konsentrasi antara SiO2 dan TiO2 yang
Silver, 1991), dan mikroblok yang terlibat menunjukkan korelasi negatif dan sebagian
berasal dari hasil perpindahan besar konsentrasi TiO2 < 1,25 (Tabel 1 dan
(emplacement) kepala burung, Irian Jaya Gambar 2a).
(Hall, 1996).
Evolusi magma di Tana Toraja berkaitan
Tana Toraja dengan proses asimilasi dan fraksinasi
Tana Toraja sangat dikontrol oleh proses kristal. Kenaikan konsentrasi SiO2 tidak
geodinamik seperti kolisi dan post-kolisi. diikuti oleh K2O dan MgO (Gambar 3a,b),
Kolisi yang terjadi di timur Tana Toraja sebaliknya penurunan MgO tidak diikuti
berpengaruh terhadap struktur geologi yang oleh K2O (Gambar 3c). Nilai rasio Ti/Y,
berkembang di Tana Toraja. Sisa-sisa Rb/Sr, La/Ce, dan Th/La yang tinggi tidak
magma hasil subduksi banyak muncul ke sebanding dengan rasio Rb/Ba (Tabel 1 dan
permukaan sebagai batuan terobosan yang Gambar 3d). Hal tersebut menunjukkan
terjadi selama post-kolisi (Priadi, 1993; bahwa telah terjadinya kontaminasi dari
Priadi dkk., 1993; Priadi dkk., 1994; Polvé kerak dibandingkan oceanic slab (Turner
dkk., 1997). Tana Toraja berdasarkan dkk., 1993, 1996; Miller dkk., 1999; Hou
litotektonik termasuk Mandala Barat (van dkk., 2004). Korelasi yang bervariasi pada
Leeuwen, 1994) atau Busur Plutonik- konsentrasi MgO dan CaO (Gambar 2b)
Volkanik Sulawesi Barat dan Utara memperlihatkan adanya titik-titik infleksi,
(Sukamto, 1975; Simandjuntak, 1993; Hall menjadi bukti bahwa fraksinasi kristal ikut
dan Wilson, 2000; Surono dan Bachri, 2002; berperan dalam proses evolusi magma
Kadarusman dkk., 2004; Maulana, 2009, (Rollinson, 1993).
2013). Daerah yang memiliki batuan hasil Pengaruh kerak semakin terlihat dengan
magmatisme dan volkanisme dengan batuan adanya bukti berupa penurunan konsentrasi
dasar berupa batuan metamorf yang di Ba dan Sr jika dibandingkan dengan SiO2
413
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
(Gambar 3e,f), yang merupakan karakter Kecepatan naiknya magma ke permukaan
dari peleburan kerak (Chappel dkk., 1992). akan berkurang karena hilangnya tekanan
Unsur Ba dan Sr cenderung berpindah ke akibat subduksi, magma naik ke permukaan
dalam larutan ketika terjadi peleburan, hanya dipengaruhi oleh tekanan normal.
sehingga konsentrasinya dalam padatan Magma akan memiliki banyak waktu dan
berkurang. Data menunjukkan nilai rasio kesempatan untuk saling bersubtitusi unsur
Th/U > 2,5 (Tabel 1) yang merupakan nilai dengan batuan yang di sekitarnya.
rasio untuk kerak dengan afinitas kontinen
(Taylor dan McLennan, 1985). VI. KESIMPULAN
Variasi dari unsur utama dan unsur jejak
V. DISKUSI menunjukkan bahwa magma di Tana Toraja
Batuan beku di Sulawesi bagian tengah merupakan magma sisa dari hasil subduksi
(termasuk Tana Toraja) yang berumur yang belum sempat naik ke permukaan.
Miosen-Pliosen memiliki karakteristik Magma tersebut terbentuk pada rezim
geokimia dan isotop yang sangat menarik tektonik post-subduksi, naik ke permukaan
(Elburg dan Foden, 1999). Batuan tersebut secara perlahan-lahan melewati dan
merupakan hasil erupsi dan intrusi dari berinteraksi dengan kerak.
magma yang berhubungan dengan subduksi
dan memiliki afinitas kontinen (Elburg dkk., VII. ACKNOWLEDGEMENT
2003). Terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Bambang
Batuan volkanik dan plutonik di Tana Toraja Priadi dari ITB selaku pembimbing dan
memiliki konsentrasi K2O yang tinggi, tambahan data yang diberikan, serta Marlina
sebagian besar > 3 wt% (Tabel 1 dan Elburg dan John Foden untuk beberapa data
Gambar 3a). Sumber dari tingginya yang digunakan dalam menunjang penelitian
potasium tersebut akibat dari proses ini.
asimilasi dengan kerak selama post-subduksi.

DAFTAR PUSTAKA
Chappell, B.W., White, A.J.R., 1992. I- and S-type granites in the Lachlan Fold Belt. Transactions of
the Royal Society of Edinburg. Earth Sciences. 83, p. 1-26.
Daly, M.C., Cooper, M.A., Wilson, I., Smith, D.G., Hooper, B.G.D., 1991. Cenozoic plate tectonics
and basin evolution in Indonesia. Marine and Petroleum Geology. 8, p. 2-21.
Elburg, M., Foden, J., 1999. Geochemical response to varying tectonic settings: An example from
southern, Sulawesi (Indonesia). Geochimica et Cosmochimica Acta. 63, p. 1155-1172.
Elburg, M., van Leeuwen, T.M., Foden, J., Muhardjo, 2003. Spatial and temporal isotopic domains of
contrasting igneous suites in Western and Northern Sulawesi, Indonesia. Chemical Geology.
199, p. 243-276.
Guntoro, A., 1999. The formation of the Makassar Strait and the separation between SE Kalimantan
and SW Sulawesi. Journal of Asian Earth Sciences. 17, p. 79-98.
Hall, R., 1996. Reconstructing Cenozoic SE Asia. Geological Society of London Special Publication,
London-England. 106, p. 153-184.
Hall, R., Wilson, M.E.J., 2000. Neogene sutures in eastern Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences.
18, p. 781-808.

414
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
Hamilton, W., 1979. Tectonic of Indonesian region. US Geological Survey Professional Paper. 1078, p.
345.
Harris, N.B.W., Inger, S., Xu, R., 1990. Cretaceous plutonism in Central Tibet: An example of post-
collision magmatism?. Journal of Volcanology and Geothermal Research. 44, p. 21-32.
Hou, Z.Q., Gao, Y.F., Qu, X.M., Rui, Z.Y., Mo, X.X., 2004. Origin of adakitic intrusives generated
during Mid-Miocene east-west extension in southern Tibet. Earth and Planetary Science
Letters. 220, p. 139-155.
Johnson, B.D., Powell, C.McA., Veeves, J.J., 1976. Spreading history of the Eastern Indian Ocean
and Greater India’s northward flight from Antartica and Australia. Geol. Soc. Am. Bull. 87, p.
1560-1566.
Kadarusman, A., Miyashita, S., Maruyama, S., Ishikawa, A., Parkinson, C.D., 2004. Petrology,
geochemistry, and paleogeographic reconstructions of the East Sulawesi Ophiolite, Indonesia.
Special issue on continental margins in the Pacific Rim. 392, p. 55-83.
Maulana, A., 2009. A petrology, geochemistry, and metamorphic evolution of South Sulawesi
basement rock complexes, Indonesia. M. Phil Thesis. Australian National University,
Canberra.
Maulana, A., Watanabe, K., Imai, A., Yonezu, K., 2013. Origin of magnetite- and ilmenite-series
granitic rocks in Sulawesi, Indonesia: Magma genesis and regional metallogenic constraint.
Procedia Earth and Planetary Science. 6, p. 50-57.
Metcalfe, I., 1993. Southeast Asian terranes: Gondwanaland origins and evolution. Gondwana Eight.
Balkema, Rotterdam., p. 181-200.
Miller, C., Schuster, R., Klötzli, U., Frank, W., Putscheller, F., 1999. Post collisional potassic and
ultrapotassic magmatism in SW Tibet: Geochemical and Sr-Nd-Pb-O isotopic constraints for
mantle source characteristics and petrogenesis. Journal of Petrology. 40, p 1399-1424.
Pearce, J.A., Bender, J.F., De Long, S.E., Kidd, W.S.F., 1990. Genesis of collision volcanism in
eastern Anatolia, Turkey. Journal of Volcanology and Geothermal Research. 44, p. 189-229.
Peccerillo, A., Taylor, S.R., 1976. Geochemistry of Eocene calc-alkaline volcanic rocks from the
Kastamonu area, northern Turkey. Contrib. Mineral. Petrol. 58, p 63-81.
Polvé, M., Maury, R.C., Bellon, H., Rangin, C., Priadi, B., Yuwono, Y.S., Joron, J.L., Soeria-Atmadja,
R., 1997. Magmatic evolution of Sulawesi (Indonesia): constrains on the Cenozoic
geodynamic history of the Sundaland active margin. Tectonophysics. 272, p. 69-92.
Priadi, B., 1993. Geochimie du magmatisme de l’ouest et du nord de Sulawesi, Indonesie. Tracage des
sources et implications geodynamiques. These de Doctorat. Univ P. Sabatier, Toulouse.
Priadi, B., Polvé, M., Maury, R.C., Soeria-Atmadja, R., Belon, H., 1993. Geodynamic implications of
Neogene potassic calc-alkaline magmatism in Central Sulawesi: Geochemical and isotopic
constraints, in: Proceedings of the 22nd Annual Convention of the Indonesian Association of
Geologists (IAGI), p. 59-81.
Priadi, B., Polvé, M., Maury, R.C., Belon, H., Soeria-Atmadja, R., Joron, J.L, Cotton, J., 1994.
Tertiary and Quaternary magmatism in Central Sulawesi: Chronological and petrological
constraints. Journal of Southeast Asian Earth Sciences. 9, p. 81-93.
Rangin, C., Pubellier, M., Jolivet, L., 1989. Collision entre les merges de l’Eurasie et de l’Australie:
Un processus de fermeture des bassins marginaux du Sud-Est asiatique. C. R. Acad. Sci. 309,
p. 1223-1229.

415
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
Rangin, C., Jolivet, L., Pubellier, M., the Tethys Pacific Working Group, 1990a. A simple model for
the tectonic evolution of Southeast Asia and Indonesia region for the past 43 M. Y. Bull. Soc.
Géol. Fr. 8, p. 889-905.
Rangin, C., Pubellier, M., Azéma, J., Briais, A., Chotin, P., Fontaine, H., Huchon, P., Jolivet, L.,
Maury, R.C., Müller, C., Rampnoux, J.P., Stephan, J.F., Tournon, J., Cottereau, N., Dercourt,
J., Ricou, L.M., 1990b. The quest for Tethys in Western Pacific: 8 paleogeodynamic maps for
Cenozoic time. Bull. Soc. Géol. Fr. 8, p. 907-913.
Rollinson, H., 1993. Using geochemical data: Evaluation, presentation, interpretation. Pearson
Education Limited, Longman Group UK Limited, London, England.
Sclater, J.G., Fischer, R.L., 1974. Evolution of the east central Indian Ocean with emphasis on the
tectonic setting of the Ninetyeast ridge. Geol. Soc. Am. Bull. 845, p. 683-702.
Simandjuntak, T.O., 1993. Struktur rangkap (duplex), sesar sungkup dan sesar jurus mendatar di
lengan timur Sulawesi. Bulletin Geological Research and Development Centre. 16, p. 27-44.
Smith, R.B., Silver, E.A., 1991. Geology of a Miocene collision complex Buton, Eastern Indonesia.
Geol. Soc. Am. Bull. 103, p. 660-678.
Sukamto, R., 1975. Peta geologi Lembar Ujung Pandang, Skala 1:1.000.000. Direktorat Geologi,
Departemen Pertambangan Republik Indonesia.
Surono, Bachri, S., 2002. Stratigraphy, sedimentation, and paleogeographic significance of the
Triassic Meluhu Formation, southeast arm of Sulawesi, Eastern Indonesia. Journal of Asian
Earth Sciences. 20, p. 177-192.
Taylor, S.R., McLennan, S.M., 1985. The continental crust: Its composition and evolution. Oxford:
Blackwell Scientific.
Turner, S., Hawkesworth, C., Liu, J., Rodgers, N., Kelley, S., van Calsteren, P., 1993. Timing of
Tibetan uplift constrained by analysis of volcanic rocks. Nature. 364, p. 50-53.
Turner, S., Arnaud, N., Liu, J., Rodgers, N., Hawkesworth, C., Harris, N., Kelley, S., van Calsteren, P.,
Deng, W., 1996. Post-collision, shoshonitic volcanism on the Tibetan Plateau: Implications
for convective thinning of the lithosphere and the source of ocean island basalt. Journal of
Petrology. 37, p. 45-71.
van Leeuwen, T., 1994. 25 years of mineral exploration and discovery in Indonesia. Journal of
Geochemical Exploration. 50, p. 13-90.
Peta daerah Tana Toraja Sulawesi Selatan, data diperoleh melalui situs internet:
https://www.google.com/maps/place/Tana+Toraja+Regency,+South+Sulawesi,+Indonesia/.
Diunduh pada tanggal 09 April 2016.

416
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

TABEL
Tabel 1. Data geokimia Tana Toraja.
RT- RT- SD- SD- RT- US-
202C RT-203 202A RT-205 191A 194A 246B US-180 213C
SiO2 67.00 66.00 70.40 69.10 50.20 50.00 58.50 51.75 51.70
TiO2 0.54 0.61 0.36 0.54 1.02 1.16 0.94 0.94 1.05
Al2O3 16.30 16.00 14.04 14.35 15.13 14.90 14.40 15.46 15.00
Fe2O3tot 2.81 3.04 2.07 2.75 10.23 10.25 6.70 8.12 8.20
MnO 0.02 0.05 0.04 0.03 0.19 0.20 0.10 0.14 0.14
MgO 0.45 1.30 0.76 1.05 4.47 6.33 5.10 4.24 3.45
CaO 2.59 2.93 2.41 2.46 8.71 6.73 6.07 8.22 6.60
Na2O 3.90 3.46 3.62 3.27 2.33 3.42 3.00 3.94 4.58
K2O 3.43 4.60 3.71 4.66 4.75 3.02 4.06 3.18 3.63
P2O5 0.10 0.29 0.10 0.20 0.80 0.50 0.40 0.45 0.55
LOI 1.96 1.41 2.56 1.40 1.80 2.41 0.82 2.33 4.90
Total 99.10 99.69 100.07 99.81 99.63 98.92 100.09 98.77 99.80
Ba 740.00 1450.00 640.00 1480.00 2705.00 1320.00 1450.00 2680.00 3600.00
Sr 694.00 729.00 488.00 626.00 820.00 550.00 525.00 902.00 705.00
Ti/Y - - - - - - - - -
Rb/Sr 0.20 0.30 0.38 0.35 0.22 0.13 0.33 0.07 0.12
La/Ce 0.52 - 0.43 0.50 - - - - -
Th/La 0.61 - 0.98 0.62 - - - - -
Rb/Ba 0.19 0.15 0.29 0.15 0.07 0.06 0.12 0.02 0.02
Th/U 2.53 - 2.61 3.97 - - - - -
Tabel 1. (continued).
MK- MK- MR-
09C 207D SD-192 197 MR-237A BT-181 BT-186 BT-185 SS-216
SiO2 53.60 53.20 48.30 50.15 48.15 50.00 47.40 49.20 51.50
TiO2 0.73 0.85 1.02 1.02 0.95 0.85 1.22 1.04 0.81
Al2O3 15.54 16.55 14.09 16.22 11.44 13.34 14.92 15.50 15.36
Fe2O3tot 7.30 7.46 10.68 9.34 10.89 9.86 11.65 9.73 7.21
MnO 0.15 0.16 0.19 0.18 0.19 0.19 0.18 0.18 0.11
MgO 3.97 3.41 5.03 3.25 7.46 5.85 6.08 5.14 4.93
CaO 5.53 6.74 9.74 6.21 11.77 9.11 10.13 8.87 8.13
Na2O 4.83 3.77 2.10 3.00 1.36 1.58 2.12 2.19 3.39
K2O 3.56 4.85 4.39 4.89 3.84 5.63 3.82 4.90 3.35
P2O5 0.50 0.50 0.70 0.75 0.80 0.90 1.10 0.85 0.70
LOI 3.64 1.72 2.06 3.46 2.62 1.64 0.45 1.87 3.50
Total 99.35 99.21 98.30 98.47 99.47 98.95 99.07 99.47 98.99
Ba 2530.00 2800.00 2420.00 2400.00 1345.00 3080.00 2405.00 2410.00 2045.00
Sr 798.00 1100.00 912.00 613.00 654.00 1140.00 1183.00 1135.00 629.00
Ti/Y - - - - - - - - -
Rb/Sr 0.11 0.13 0.19 0.27 0.38 0.20 0.15 0.19 0.15
La/Ce - 0.45 0.51 - - - 0.44 - -
Th/La - 0.64 0.46 - - - 0.38 - -
Rb/Ba 0.04 0.05 0.07 0.07 0.19 0.07 0.07 0.09 0.05
Th/U - 4.27 5.33 - - - 4.86 - -
417
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
Tabel 1. (continued).
SS-217 SS-218 TT-13 TT-17 TT-18 TT-24 TT-01C TT-02 RT-182
SiO2 51.20 50.85 47.81 50.20 45.39 66.78 68.55 66.20 62.17
TiO2 0.88 0.93 1.09 0.83 1.25 0.59 0.39 0.52 0.33
Al2O3 15.20 15.75 11.99 11.97 13.56 15.18 16.23 16.74 16.02
Fe2O3tot 7.64 7.61 11.70 9.12 13.37 3.44 2.23 2.88 5.29
MnO 0.13 0.13 0.19 0.17 0.19 0.06 0.04 0.05 0.06
MgO 5.13 5.07 8.29 9.05 6.76 2.35 1.60 2.16 1.96
CaO 8.46 9.56 11.57 11.28 11.61 3.47 3.42 3.74 2.97
Na2O 3.41 3.11 1.82 1.91 2.06 3.21 3.49 3.27 2.31
K2O 3.66 3.32 4.11 4.44 3.67 4.57 3.87 4.22 3.14
P2O5 0.70 0.80 1.19 0.83 1.84 0.27 0.13 0.17 0.25
LOI 3.08 2.87 0.56 0.26 0.13 0.69 0.37 0.41 2.80
Total 99.49 100.00 100.32 100.06 99.83 100.61 100.32 100.36 97.30
Ba 2200.00 2400.00 3449.00 2930.00 3733.00 924.00 691.00 726.00 720.00
Sr 740.00 800.00 1246.90 1039.80 1313.30 355.40 440.10 441.70 628.00
Ti/Y - - 272.27 266.09 269.56 88.21 157.98 170.35 94.21
Rb/Sr 0.14 0.07 0.16 0.19 0.15 0.64 0.40 0.38 0.29
La/Ce - 0.47 0.49 0.42 0.50 0.54 0.44 0.46 -
Th/La - 0.55 0.37 0.58 0.34 0.56 0.84 0.81 -
Rb/Ba 0.05 0.02 0.06 0.07 0.05 0.24 0.26 0.23 0.26
Th/U - 4.23 5.36 4.86 5.26 3.90 2.64 3.15 -

Tabel 1. (continued).
RP-40B SD-142 GP-1 GP-2 LL-1
SiO2 53.64 41.63 65.03 66.63 49.01
TiO2 0.63 1.75 0.47 0.70 1.40
Al2O3 20.16 15.25 17.27 16.32 17.52
Fe2O3tot 9.42 11.46 5.93 3.71 10.02
MnO 0.08 0.67 0.04 0.06 0.11
MgO 3.70 6.97 1.26 2.01 4.95
CaO 4.96 10.47 2.34 2.20 6.07
Na2O 0.83 2.31 2.78 2.54 2.07
K2O 2.49 3.82 2.54 4.20 3.88
P2O5 0.21 1.12 0.18 2.20 0.61
LOI 2.17 3.58 1.72 0.53 3.59
Total 98.29 99.03 99.56 101.10 99.23
Ba 179.27 1397.00 584.00 781.00 2646.00
Sr 529.00 888.00 436.00 400.00 1325.00
Ti/Y 209.83 388.56 256.15 262.28 381.50
Rb/Sr 0.20 0.11 0.31 0.58 0.20
La/Ce - - - - -
Th/La - - - - -
Rb/Ba 0.60 0.07 0.23 0.30 0.10
Th/U - - - - -

418
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

GAMBAR

Gambar 1. Peta daerah penelitian (Google Maps, 2016).

Gambar 2. [a] Korelasi negatif antara SiO2 dan TiO2, nilai TiO2 < 1,25 menunjukkan bahwa magma
hasil dari subduksi. [b] Variasi konsentrasi MgO dan CaO menunjukkan telah terjadinya
fraksinasi kristal (Rollinson, 1993).

419
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 3. Diagram memperlihatkan kenaikan SiO2 tidak diikuti oleh [a] K2O (Peccerillo dan Taylor,
1976) dan [b] MgO, sebaliknya [c] penurunan MgO tidak diikuti oleh K 2O. Kontaminasi
kerak lebih berperan dibandingkan oceanic slab [d] (Miller dkk., 1999). Korelasi negatif
Ba [e] dan Sr [f] terhadap SiO2, karena berpindah ke dalam larutan saat terjadi peleburan
(Chappel dkk., 1992).

420