Anda di halaman 1dari 2

Sukses Terbesar Dalam Hidupku

It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most
responsive to change. Quote Darwin tentang teori natural selection tersebut dapat memberikan
gambaran besar bagaimana hidup yang saya jalani selama ini. Saya terlahir sebagai yang tertua
dari tiga bersaudara. Ayah saya seorang pegawai di perkebunan sehingga pindah tugas merupakan
hal yang wajar. Sejak kecil sampai umur dua tahun, saya dirawat oleh opung saya (panggilan
kakek/nenek untuk suku Batak) di Medan karena orangtua saya harus bertugas di Poso. Menurut
keluarga saya, sejak kecil saya sudah tertarik mempelajari berbagai hal, mulai dari hal-hal
sederhana seperti kosakata baru, sampai nama pemimpin-pemimpin dunia pada umur dua tahun.

Setelah kembali berkumpul dengan keluarga saya, saya kemudian masuk ke sebuah TK di
kelurahan yang terdekat dengan perkebunan tempat ayah saya bekerja. Kemudian saya
melanjutkan studi ke sebuah SD di daerah yang sama. Belum sampai dua tahun di SD tersebut,
saya harus pindah ke Jambi dikarenakan ayah saya dipindah tugaskan. Saya tinggal bersama ibu
dan saudara saya di Jambi dan bersekolah di sana. Awalnya saya cukup minder, mengingat sekolah
lama saya hanya terletak di desa kecil dan meskipun saya berhasil memperoleh ranking pertama
di SD saya yang sebelumnya, belum membuat saya yakin dapat berprestasi di SD yang baru.
Namun, kedua orangtua saya berperan aktif dalam meningkatkan kemampuan saya. Selama
beberapa tahun ajaran, saya selalu berhasil menjadi ranking pertama di SD saya yang baru.

Prestasi yang sama saya lanjutkan sampai SMP di kota yang sama. Belum genap setahun, saya
harus pindah lagi ke Lubuk Linggau dengan alasan yang serupa. Di tempat yang baru, saya harus
beradaptasi kembali dengan lingkungan yang baru. Di kota ini, saya tinggal di asrama bersama
saudara saya dan 12 anak yang lain. Saat tinggal di asrama saya berhasil memahami bahwa
manusia memiliki broad spectrum of character. Masa adaptasi saya cukup cepat dan saya kembali
dapat menjadi yang terbaik di kelas saya. Saya juga aktif mengikuti perlombaan mata pelajaran
tingkat provinsi, walaupun pada beberapa kesempatan hasil yang didapat tidak selalu baik. Saya
sempat mengikuti program sekolah sepak bola selama satu tahun. Namun, karena alasan tertentu,
saya tidak melanjutkan kegiatan tersebut. Di akhir tahun ketiga, saya berhasil memperoleh ranking
umum.

Kota Medan menjadi pelabuhan selanjutnya bagi saya. Di kota ini, saya mencoba peruntungan
dengan mendaftarkan diri di salah satu SMA negeri, yang menggunakan nilai Ujian Nasional (UN)
sebagai syarat masuk. Namun, nilai UN saya kurang bisa bersaing dengan nilai siswa lain. Dinas
Pendidikan Kota Medan memberikan poin tambahan (+3) bagi siswa yang berasal dari kota
Medan. Saya pun mendaftar ke sekolah yang lain. Tahun pertama di SMA baru merupakan masa
adaptasi bagi saya. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Berasal dari kota kecil tidak
lagi membuat saya minder. Saya berhasil meraih juara pertama di kelas. Di tahun kedua, saya
masuk ke kelas di mana semua juara kelas berkumpul. Meskipun saya sempat mengalami masa-
masa sulit dan terlempar dari 10 besar di kelas ini, namun saya berhasil mengembangkan pola pikir
saya berkat bantuan teman-teman saya. Saya juga aktif dalam kegiatan olahraga di sekolah saya
dan memenangkan lomba futsal tingkat kota Medan. Tahun ketiga, saya berhasil bangkit. Tahun
ini menjadi tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi dan UN.
Persiapan yang matang membuat saya mampu meraih juara umum dan dapat diterima di Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).
Tahun pertama di FK UGM merupakan tahun yang menyenangkan. Saya diterima menjadi anggota
BEM dan AMSA (sebuah organisasi mahasiswa kedokteran). Saya banyak mengurusi masalah-
masalah yang sifatnya administrasi akademik. Saya juga membantu mempersiapkan mahasiswa
dalam penerimaan bantuan dana pendidikan. Memasuki awal tahun kedua, saya sempat kurang
bisa beradaptasi dengan materi yang lebih bersifat klinis. Di tahun ini, saya mendaftar menjadi
asisten dosen di laboratorium anatomi dan berhasil diterima. Tahun-tahun selanjutnya, saya aktif
mengajar practical session dan memberikan pelajaran tambahan kepada mahasiswa yang
membutuhkan. Saya berhasil menamatkan pendidikan S1 dan kemudian melanjutkan pendidikan
saya ke tingkat profesi sebagai co-ass di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Selama menjadi co-ass
saya banyak memahami hal-hal yang sebelumnya terasa sangat abstrak di kepala saya. Bertemu
langsung dengan pasien dan terpapar langsung dengan penyakit, membuat saya sadar bahwa
memanajemen pasien membutuhkan usaha yang holistik, tidak bisa parsial.

Sebagai penutup, sukses menurut saya adalah kesuksesan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya tidak akan bisa kompetitif
dan sukses. Sehingga, kemampuan beradaptasi merupakan kunci yang sangat penting dalam
meraih kesuksesan.