Anda di halaman 1dari 138

HUBUNGAN PENERAPAN 3J (JUMLAH, JENIS, DAN JADWAL)

DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP STATUS KADAR GULA


DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI
POSBINDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPUTAT
TAHUN 2016

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mendapat Gelar


SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH:
CESIL MAGDALENA
1112101000001

PEMINATAN GIZI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/ 2016 M
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan Judul

HUBUNGAN PENERAPAN 3J (JUMLAH, JENIS, DAN JADWAL) DAN


AKTIVITAS FISIK TERHADAP STATUS KADAR GULA DARAH PADA
PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POSBINDU
WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPUTAT TAHUN 2016

Telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi


Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, Desember 2016

Oleh:

CESIL MAGDALENA
1112101000001

Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ratri Ciptaningtyas, MHS Gitalia Budi Utami, SKM, MKM


NIP. 19840404 200912 2 007 NIP. -

PEMINATAN GIZI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/ 2016 M

i
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jakarta, Desember 2016

Penguji I

Febrianti, M.Si
NIP. 19710221 200501 2 004

Penguji II

Dela Aristi, MKM


NIP. -

Penguji III

Fitria, SKM, MKM


NIP. -

ii
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk

memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, November 2016

Cesil Magdalena

iii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN GIZI MASYARAKAT
Skripsi, Desember 2016

CESIL MAGDALENA, NIM: 1112101000001

Hubungan Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, Dan Jadwal) Dan Aktivitas Fisik


Terhadap Status Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe
2 Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016
xviii + 88 halaman, 15 tabel, 2 bagan, 2 gambar, 8 lampiran

ABSTRAK

Terdapat empat pilar penatalaksanaan agar dapat mempertahankan kadar


gula darah dalam keadaan stabil pada penderita DM tipe 2 yaitu penatalaksanaan
diet, aktivitas fisik, edukasi melalui penyuluhan dan intervensi farmakologis.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan non-farmakologis
yaitu perubahan gaya hidup berupa penatalaksanaan diet dan aktivitas fisik.
Dalam melaksanakan diet, penderita DM tipe 2 harus mengikuti anjuran dalam
aturan 3J, yaitu jumlah makanan, jenis makanan, dan jadwal makan. Selain itu,
aktivitas fisik juga berperan dalam pengaturan kadar gula darah karena resistensi
insulin akan berkurang dan sebaliknya sensitivitas insulin akan meningkat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan 3J
(Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah di
Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016. Penelitian ini
menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah penderita
DM Tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat sebanyak 84 sampel
secara Proportional Random Sampling.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan proporsi penderita DM tipe 2 di
Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat yang memiliki status kadar gula darah
terkontrol sebanyak 56,0%. Adapun variabel yang berhubungan dengan status
kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 adalah penerapan jenis makanan (P-
value = 0,002). Sedangkan, variabel yang tidak berhubungan adalah penerapan
jumlah makanan (P-value = 0,082), penerapan jadwal makan (P-value = 0,108)
dan aktivitas fisik (P-value = 0,075).
Saran untuk Puskesmas Ciputat adalah meningkatkan peran Posbindu
dalam memotivasi masyarakat terutama penderita DM tipe 2 agar menerapkan
penatalaksanaan DM tipe 2 dan meningkatkan monitoring dan evaluasi berkala
pada kader posbindu. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah dapat menyertakan
variabel penatalaksanaan yang tidak diteliti pada penelitian ini dan menggunakan
metode eksperimental sehingga dapat melihat 4 pilar penatalaksanaan diabetes
akan berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap kadar gula darah.

Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Penerapan 3J, Aktivitas Fisik, Posbindu,


Puskesmas
Daftar bacaan: 65 (2002-2016)

iv
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA
PROGRAM STUDY OF PUBLIC HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH NUTRITION CONCENTRATION
Undergraduate Thesis, December 2016

CESIL MAGDALENA, NIM: 1112101000001

Relation of 3J Application (Amount, Type, and Schedule) and the Physical


Activity with Status of Blood Sugar Levels in Patients with Type 2 Diabetes
Mellitus In Posbindu Puskesmas Ciputat on 2016
xviii + 88 pages, 15 tables, 2 charts, 2 images, 8 attachments

ABSTRACT

There are four pillars of management in order to maintain blood sugar


levels in a stable condition in patients with type 2 DM, namely the management
of diet, physical activity, education through counseling and pharmacological
interventions. The first step that must be done is non-pharmacological
management is the management of lifestyle changes such as diet and physical
activity. In carrying out the diet, patients with type 2 DM should follow the
advice in the 3J rules, the amount of food, type of food, and eating schedule. In
addition, physical activity also plays a role in the regulation of blood sugar levels
due to insulin resistance decreases and otherwise will increase insulin sensitivity.
This study aims to determine the relation of the application of 3J
(Amount, Type, and Schedule) and physical activity with status of blood sugar
levels in Posbindu Puskesmas Ciputat 2016. This study used a cross-sectional
study design. Samples of this study were patients with Type 2 DM in Posbindu
Puskesmas Ciputat, a total of 84 samples were Proportional Random Sampling.
From this research, the proportion of patients with type 2 DM in Posbindu
Puskesmas Ciputat which has the status of blood sugar levels is controlled as
much as 56,0%. The variables associated with the status of blood sugar levels in
patients with type 2 DM is the application of the type of food (P-value = 0,002).
Meanwhile, unrelated variables is the application of the amount of food (P-value
= 0,082), schedule of meals (P-value = 0,108) and physical activity (P-value =
0,075).
Suggestions for Puskesmas Ciputat is increasing Posbindu role in
motivating people, especially people with type 2 DM in order to implement the
management of type 2 DM and improve the monitoring and periodic evaluation
of the cadres Posbindu. Suggestion for further research is management can
include variables not examined in this study and using experimental methods so
that they can see the four pillars of the management of diabetes will have an
effect or no effect on blood sugar levels.

Keywords : Diabetes Mellitus, Application of 3J, Physical Activity, Posbindu,


Puskesmas
Bibliography : 65 (2002-2016)

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas Pribadi
Nama Lengkap : Cesil Magdalena

Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 25 Mei 1994

Alamat : Jalan Beo No.71 RT 003/007, Sawah, Ciputat

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Email : cesilmagdalena@gmail.com

Telepon : 085782428900

Pendidikan Formal

2000-2001 : TK Salman ITB Ciputat

2001-2006 : MI Pembangunan UIN Jakarta

2006-2009 : MTs Pembangunan UIN Jakarta

2009-2012 : MA Pembangunan UIN Jakarta

2012-Sekarang : S1-Peminatan Gizi, Program Studi Kesehatan Masyarakat, FKIK

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Organisasi

2012-2014 : Anggota LSO Tari Saman FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2014-2015 : Ketua LSO Tari Saman FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Kerja

2015 : Pengalaman Belajar Lapangan di Puskesmas Jombang periode Januari

s.d. Februari 2015

2016 : Magang di Puskesmas Ciputat periode Februari s.d. Maret 2016

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

proposal skripsi yang berjudul “Hubungan Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, Dan

Jadwal) dan Aktivitas Fisik Terhadap Status Kadar Gula Darah Pada Penderita

Diabetes Mellitus Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun

2016” dengan baik.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibuku tercinta Dra. Umu Sadiyah dan adikku Annisa Elyana Dewi yang

senantiasa memberikan doa serta dukungan kepada penulis dalam penyusunan

skripsi ini.

2. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Fajar Ariyanti, S.KM, M.Kes, PhD selaku Kepala Program Studi

Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Ratri Ciptaningtyas, MHS dan Ibu Gitalia Budi Utami, S.KM, M.KM

selaku dosen pembimbing skripsi yang sudah memberikan waktu, ilmu dan

arahan untuk membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Febrianti, M.Si, Ibu Dela Aristi, M.KM, Ibu Fitria, S.KM, M.KM selaku

penguji, terimakasih atas segala kritik dan saran yang membangun sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan dengan lebih baik.

vii
6. Pihak Puskesmas Ciputat yang telah mengizinkan penulis untuk

melaksanakan penelitian di Posbindu dan para kader Posbindu yang banyak

membantu penulis selama proses penelitian.

7. Sahabat-sahabatku terbaik (Arini Mardatika, Ranti Rahmani, Dini Hanifa

Sari, dan Ratu Amiratun) yang senantiasa memberikan doa, dukungan dan

semangatnya hingga laporan skripsi ini selesai.

8. Cibengerss (Ofin, Cory, Silmi, Astrid, Widy, Rico, Agin, Nizar, Novaco, Tyo,

Alviral, dan Tsabit) yang telah memberikan doa, keceriaan, canda, dan tawa

dari awal perkuliahan hingga skripsi ini selesai.

9. Teman-teman Kesmas 2012, Peminatan Gizi 2012 khususnya (Andini, Widya,

Evi, Reiza, Tyas, Nuni dan Arinbe) serta SACIHAS (2012,2013&2014)

terimakasih untuk segala ilmu, kritik, dan pengalaman yang telah diberikan.

10. Seluruh pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dari awal

perkuliahan hingga skripsi ini selesai.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat

keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan

saran dari semua pihak untuk menyempurnakan skripsi ini. Penulis berharap,

semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membacanya.

Jakarta, Desember 2016

Penulis

viii
DAFTAR ISI

PERNYATAAN PERSETUJUAN........................................................................ i

LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................iii

ABSTRAK ............................................................................................................ iv

ABSTRACT ........................................................................................................... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ vi

KATA PENGANTAR .........................................................................................vii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv

DAFTAR BAGAN .............................................................................................. xvi

DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xvii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................xviii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 6

C. Pertanyaan Penelitian ................................................................................... 7

D. Tujuan .......................................................................................................... 8

1. Tujuan Umum........................................................................................... 8

2. Tujuan Khusus .......................................................................................... 8

E. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 9

1. Bagi Puskesmas Ciputat ........................................................................... 9

2. Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ....................................... 9

3. Bagi Peneliti Lain ................................................................................... 10

ix
F. Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI ........................ 10

A. Diabetes Mellitus ....................................................................................... 10

1. Definisi ................................................................................................... 10

2. Klasifikasi ............................................................................................... 10

3. Diagnosis ................................................................................................ 12

B. Gula Darah ................................................................................................. 14

1. Definisi ................................................................................................... 14

2. Pengendalian Kadar Gula Darah ............................................................ 14

C. Diabetes Mellitus Tipe 2 ............................................................................ 15

1. Definisi DM Tipe 2 ................................................................................ 15

2. Gejala DM Tipe 2 ................................................................................... 16

3. Patofisiologi DM Tipe 2 ......................................................................... 17

4. Pengelolaan DM Tipe 2 .......................................................................... 17

D. Penatalaksanaan Diet dengan Kadar Gula Darah ....................................... 20

1. Tujuan ..................................................................................................... 21

2. Standar Diet DM Tipe 2 ......................................................................... 22

3. Jumlah Makanan ..................................................................................... 22

4. Jenis Makanan ........................................................................................ 27

5. Jadwal Makan ......................................................................................... 28

E. Aktivitas Fisik dengan Kadar Gula Darah ................................................. 30

F. Kerangka Teori........................................................................................... 32

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN

HIPOTESIS PENELITIAN ............................................................................... 33

x
A. Kerangka Konsep ....................................................................................... 33

B. Definisi Operasional................................................................................... 35

C. Hipotesis Penelitian.................................................................................... 41

BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................... 41

A. Desain Penelitian ........................................................................................ 41

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................... 41

C. Populasi dan Sampel .................................................................................. 43

1. Populasi .................................................................................................. 43

2. Sampel Penelitian ................................................................................... 43

3. Perhitungan Sampel ................................................................................ 44

4. Teknik Pengambilan Sampel .................................................................. 45

D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 46

1. Sumber Data ........................................................................................... 46

2. Alur Pengumpulan Data ......................................................................... 47

3. Instrumen Penelitian ............................................................................... 49

4. Pengukuran ............................................................................................. 49

E. Pengolahan Data......................................................................................... 52

1. Penyuntingan Data (Editing) .................................................................. 52

2. Pemasukan Data (Entry Data) ................................................................ 52

3. Pemberian Kode (Coding) ...................................................................... 52

4. Pengoreksian Data (Cleaning Data)....................................................... 57

F. Analisis Data .............................................................................................. 57

1. Analisis Univariat ................................................................................... 57

2. Analisis Bivariat ..................................................................................... 57

xi
BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................... 54

A. Gambaran Umum Puskesmas Ciputat........................................................ 54

B. Hasil Analisis Univariat ............................................................................. 61

1. Gambaran Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 ................... 61

2. Gambaran Penerapan Jumlah Makanan Penderita DM Tipe 2 .............. 61

3. Gambaran Penerapan Jenis Makanan Penderita DM Tipe 2 .................. 62

4. Gambaran Penerapan Jadwal Makan Penderita DM Tipe 2 ................... 63

5. Gambaran Aktivitas Fisik Penderita DM Tipe 2 .................................... 63

C. Hasil Analisis Bivariat ............................................................................... 64

1. Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

64

2. Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah65

3. Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah 66

4. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah ................. 67

BAB VI PEMBAHASAN.................................................................................... 68

A. Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 68

B. Gambaran Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 ....................... 69

C. Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah 70

D. Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah ... 72

E. Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah .... 74

F. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah ..................... 76

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 73

A. SIMPULAN ............................................................................................... 73

B. SARAN ...................................................................................................... 80

xii
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 76

LAMPIRAN ......................................................................................................... 75

xiii
DAFTAR TABEL

2.1 Kriteria Diagnosis DM .................................................................................... 13

2.2 Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring ......... 13

2.3 Kriteria Pengendalian Diabetes Mellitus ........................................................ 15

2.4 Jadwal Makan Pasien DM............................................................................... 29

4.1 Pembagian Sampel .......................................................................................... 46

5.1 Nama Posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat ................................... 60

5.2 Distribusi Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016 .................................................... 61

5.3 Distribusi Penerapan Jumlah Makanan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016 .................................................... 62

5.4 Distribusi Penerapan Jenis Makanan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016 .................................................... 62

5.5 Distribusi Penerapan Jadwal Makan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016 .................................................... 63

5.6 Distribusi Aktivitas Fisik Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Ciputat Tahun 2016 ............................................................................ 63

5.7 Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

............................................................................................................................... 64

5.8 Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

............................................................................................................................... 65

xiv
5.9 Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah

Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

............................................................................................................................... 66

6.0 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah Penderita DM

Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016 .................... 67

xv
DAFTAR BAGAN

2.1 Kerangka Teori…………………………………………………….……..…32

3.1 Kerangka Konsep ……………………………………………………….....33

xvi
DAFTAR GAMBAR

4.1 Contoh entry data food recall hari ke-1 dan ke-2

…………………………………………….…………………………………..…54

4.2 Contoh entry & coding data rata-rata dari food recall 2x24 jam

…………………………………………………………………………………...54

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Skrining Variabel Terkontrol Edukasi Dan Terapi

Farmakalogis

Lampiran 2 Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 3 Formulir Informed Consent

Lampiran 4 Kuesioner Penelitian Skripsi

Lampiran 5 Instrumen

Lampiran 6 Data Jumlah Pasien Diabetes Mellitus Di Puskesmas Ciputat Bulan

Januari S/D Desember 2015

Lampiran 7 Dokumentasi Kegiatan

Lampiran 8 Transkrip Hasil Fakta Lapangan di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Ciputat

Lampiran 9 Output Analisis Univariat dan Bivariat

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) atau yang lebih dikenal dengan penyakit kencing

manis merupakan penyakit kelainan metabolik yang dikarakteristikkan dengan

hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein

yang diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin, maupun keduanya

(WHO, 2015). Diabetes Mellitus dikenal sebagai silent killer karena sering tidak

disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi. Hal ini

berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi terus menerus dan pengelolaan

yang tidak baik dalam mencegah komplikasi. (Kemenkes, 2013)

Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) berdasarkan

etiologinya, DM diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu DM tipe 1, DM tipe 2,

DM gestasional, dan DM tipe lain (PERKENI, 2011). Dari berbagai tipe DM

yang ada, DM tipe 2 merupakan jenis yang paling banyak ditemukan kasusnya

dari 90-95% kasus DM yang terdiagnosis secara keseluruhan (CDC, 2014).

Umumnya penderita DM tipe 2 mempunyai latar belakang kelainan

berupa resistensi insulin yang disusul oleh kelelahan Sel β pankreas dan ditandai

dengan kadar gula darah yang meningkat (Waspadji, 2011). Kadar gula darah

yang tetap tinggi pada penderita DM menimbulkan penyakit penyulit pada

berbagai organ tubuh seperti pembuluh darah otak dapat menyebabkan stroke,

pembuluh darah mata menimbulkan kebutaan, pembuluh darah jantung

menimbulkan penyakit jantung koroner dan pembuluh darah ginjal menimbulkan

gagal ginjal kronik (Waspadji, 2011)

1
2

Data WHO (2015) menunjukkan bahwa sekitar 150 juta orang menderita

diabetes mellitus di seluruh dunia, dan jumlah tersebut kemungkinan akan

menjadi dua kali lipat di tahun 2025. Data International Diabetes Federation

(IDF) (2015) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara urutan ke-7

dengan prevalensi diabetes tertinggi sebesar 10 juta kasus.

Pada penelitian PERKENI (2011) dengan responden di masyarakat

umum, didapatkan sebanyak 8,29% memiliki kadar gula darah sewaktu melebihi

200 mg/dL dan 15,63% dengan kadar gula darah 140-199 mg/dL. Dengan

asumsi prevalensi DM sebesar 4% berdasarkan pola pertambahan penduduk

seperti saat ini, diperkirakan pada tahun 2025 nanti akan ada 178 juta penduduk

Indonesia berusia di atas 20 tahun yang berisiko terkena DM.

Berdasarkan data wawancara Riskesdas Tahun 2013 menunjukkan bahwa

prevalensi DM di Indonesia terjadi peningkatan dari 1,1% (2007) menjadi 2,1%

(2013), diketahui Provinsi Banten juga mengalami peningkatan prevalensi DM

sebesar 0,5% pada tahun 2007 menjadi 1,3% (Kemenkes, 2013). Selain itu,

berdasarkan laporan Penyakit Tidak Menular di Kota Tangerang Selatan terdapat

laporan kasus lama DM menurut umur dan jenis kelamin sejumlah 5.599 jiwa

sedangkan kasus baru sejumlah 509 jiwa (Dinkes Tangsel, 2015). Dari seluruh

Puskesmas yang berada di Kota Tangerang Selatan, Puskesmas Ciputat termasuk

ke dalam 3 besar puskesmas yang memiliki prevalensi DM tinggi sebesar 4,7%

(Dinkes Tangsel, 2014).

Terdapat empat pilar penatalaksanaan agar dapat mempertahankan kadar

gula darah dalam keadaan stabil pada penderita DM tipe 2 yaitu penatalaksanaan

diet, aktivitas fisik, edukasi melalui penyuluhan dan intervensi farmakologis

(Waspadji, 2011). Langkah pertama yang harus dilakukan adalah


3

penatalaksanaan non-farmakologis yaitu perubahan gaya hidup berupa

penatalaksanaan diet dan aktivitas fisik (Sukardji, 2011).

Diet merupakan komponen utama keberhasilan pengelolaan DM tipe 2

(Sukardji, 2011). Tujuan dari adanya penatalaksanaan diet adalah membantu

penderita diabetes dalam perbaikan gizi untuk mendapatkan kontrol metabolik

yang lebih baik (Soegondo, 2011). Ketidakpatuhan pasien dalam perencanaan

makan yang disarankan oleh petugas kesehatan merupakan salah satu kendala

dalam keberhasilan penatalaksanaan DM tipe 2 (Sukardji, 2011).

Dalam melaksanakan diet, penderita DM tipe 2 harus mengikuti anjuran

dalam aturan 3J, yaitu jumlah makanan, jenis makanan dan jadwal makan,

(PERKENI, 2011). Jenis dan jumlah makanan yang banyak mengandung gula

serta jadwal makan yang tidak teratur dapat meningkatkan kadar gula darah

sehingga terjadilah DM tipe 2 (Idris, 2014). Tanpa pengaturan jumlah, jenis, dan

jadwal makanan sepanjang hari, akan sulit mengontrol kadar gula darah dalam

batas normal (Waspadji, 2013). Jika aturan diet tersebut tidak diikuti maka kadar

gula darah akan tidak stabil (ADA, 2015). Padahal tujuan dari penatalaksanaan

DM tipe 2 dalam jangka pendek adalah mencapai target pengendalian glukosa

darah (PERKENI, 2011).

Berbagai studi meta-analisis juga sudah menunjukkan pengaruh

signifikan intervensi diet dengan kadar gula darah. Berdasarkan studi meta-

analisis Ajala, et al (2013) terdapat 20 studi penelitian (randomized controlled

trial) dalam melihat intervensi manajemen diet selama lebih dari 6 bulan dapat

memperbaiki dan berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi gula darah,

penurunan berat badan, serta profil lipid (p<0,00001). Selain itu, hasil studi

meta-analisis lainnya yaitu Aguiar (2014) menunjukkan bahwa dari 8 studi


4

penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup termasuk diet

berpengaruh dan efektif terhadap kontrol gula darah serta tujuan dari

dijalankannya aktivitas (p<0,001).

Pada penelitian ini dilihat hubungan penerapan diet 3J dengan status

kadar gula darah. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara

penerapan 3J terhadap status kadar gula darah. Hasil penelitian Verawati, dkk

(2014) di Purworejo menunjukkan adanya hubungan antara penerapan jumlah

makanan dengan kadar gula darah (p=0,001). Pada penelitian Toharin (2015) di

Batang, menunjukkan bahwa ada hubungan antara aturan jenis makanan dengan

status kadar gula darah (p=0,001). Selain itu, penelitian Kurniawati (2007) juga

menunjukkan adanya hubungan antara aturan jadwal makan dengan kadar gula

darah (p=0,003).

Langkah perubahan gaya hidup lainnya yang tidak terpisahkan dengan

diet adalah aktivitas fisik. Pada penderita DM tipe 2, aktivitas fisik juga berperan

utama dalam pengaturan kadar gula darah. Pada saat melakukan aktivitas fisik,

resistensi insulin akan berkurang, sebaliknya sensitivitas insulin meningkat, hal

ini menyebabkan kebutuhan insulin pada DM tipe 2 akan berkurang (Ilyas,

2011).

Berdasarkan studi meta-analisis Norris, et al (2004) terdapat 22 studi

penelitian (randomized controlled trial) dalam melihat intervensi aktivitas fisik

pada 4659 responden menunjukkan adanya pengaruh terhadap kadar gula darah

dan penurunan berat badan. Pada penelitian eksperimental Indriyani (2007) di

Purbalingga menunjukkan adanya pengaruh aktivitas fisik terhadap penurunan

kadar gula darah (p=0,0001).


5

Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan adanya hubungan

aktivitas fisik dengan status kadar gula darah. Hasil penelitian cross-sectional

Teh, et.al (2015) di Malaysia dengan sampel penderita DM yang merupakan

masyarakat urban dan rural menunjukkan adanya hubungan signifikan antara

aktivitas fisik dengan pengontrolan glukosa darah (p <0,05). Hal tersebut serupa

dengan penelitian Anani, et.al (2012) di Cirebon menunjukkan adanya hubungan

antara kebiasaan olahraga atau aktivitas fisik dengan kondisi glukosa darah

penderita DM tipe 2 (p=0,041).

Pemilihan tempat penelitian memiliki beberapa justifikasi diantaranya

berdasarkan data laporan bulanan kasus DM tipe 2 yang dimiliki Puskesmas

Ciputat dari bulan Januari-Desember 2015 mengalami peningkatan jumlah kasus

tiap bulannya. Selain itu, dari data sekunder laporan posbindu di wilayah kerja

Puskesmas Ciputat terdapat 116 penderita DM tipe 2, dimana sejumlah 49

penderita DM tipe 2 (42,2%) masih memiliki kadar gula darah sewaktu ≥ 200

mg/ dL yang belum mencapai target penurunan kadar gula darah.

Pada hasil fakta lapangan yang telah dilakukan peneliti pada bulan

Februari tahun 2016 di posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat dengan

metode observasi dan wawancara terkait pelaksanaan dan pemberian anjuran diet

dan aktivitas fisik di setiap posbindu, didapatkan hasil bahwa penderita DM tipe

2 yang telah diberikan anjuran diet oleh petugas kesehatan menyampaikan bahwa

mereka menganggap anjuran diet tersebut penting akan tetapi sulit menerapkan

sehari-hari karena harus sesuai dengan aturan 3J sehingga status kadar gula darah

mereka buruk. Dalam hal aktivitas fisik, penderita DM tipe 2 lebih banyak

melakukan aktivitas rumah tangga.


6

Selain itu, peran antara petugas kesehatan dengan pasien hanya bertemu

saat adanya kegiatan posbindu yang dilaksanakan satu bulan sekali atau saat

mereka melakukan kunjungan ke puskesmas. Saat berlangsungnya kegiatan

posbindu di meja 5, petugas kesehatan kerap lupa menanyakan perkembangan

diet serta aktivitas fisik dan langsung memberikan obat, padahal penatalaksanaan

diet dan aktivitas fisik merupakan terapi non-farmakologis yang harus dilakukan

terlebih dahulu dalam mengontrol kadar gula darah. Sedikitnya pasien DM tipe 2

yang berhasil dalam menerapkan aturan diet 3J juga disebabkan karena tidak

adanya evaluasi penilaian tujuan kegiatan preventif dari pihak Dinas Kesehatan

Kota Tangerang Selatan.

Penerapan diet dan aktivitas fisik yang belum sesuai akan menghasilkan

tidak terkendalinya kadar gula darah dalam batas normal, timbulnya komplikasi

dan berbagai penyakit menahun dari penderita DM tipe 2. Dari hasil studi

pendahuluan dan hasil fakta lapangan peneliti yang telah didapat mengenai

penerapan diet dan kadar gula darah, membuat peneliti perlu melakukan

penelitian mengenai hubungan penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dan

aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di

posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Penderita DM tipe 2 masih banyak yang belum memahami bagaimana

penatalaksanaan diet yang sesuai sehingga kadar gula darah menjadi buruk.

Tanpa pengaturan jumlah, jenis, dan jadwal makanan sepanjang hari, akan sulit

mengontrol kadar gula darah dalam batas normal. Sama halnya dengan aktivitas

fisik, jika aktivitas fisik tidak dilakukan secara benar dan teratur maka resistensi

insulin akan meningkat dan sensitivitas insulin menurun.


7

Pada hasil fakta lapangan, sebagian besar penderita DM tipe 2

menganggap anjuran diet tersebut penting akan tetapi dalam sehari-hari sulit

diterapkan karena harus sesuai dengan aturan 3J (Jumlah, Jenis, Jadwal) dan

berakibat pada status kadar gula darah yang buruk. Dan dalam hal aktivitas fisik,

penderita DM tipe 2 lebih banyak melakukan aktivitas rumah tangga. Selain itu,

hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan melihat data sekunder laporan

posbindu di wilayah kerja Puskesmas Ciputat terdapat 116 penderita DM tipe 2,

dimana sejumlah 59 penderita DM tipe 2 (50,8%) masih memiliki kadar gula

darah sewaktu ≥ 200 mg/ dL yang belum mencapai target penurunan kadar gula

darah. Maka dari itu, peneliti perlu melakukan penelitian mengenai “Hubungan

Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dan Aktivitas Fisik Terhadap

Status Kadar Gula Darah Pada Penderita DM Tipe 2 Di Posbindu Wilayah

Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016”.

C. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian kali ini adalah:

1. Bagaimanakah gambaran status kadar gula darah pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016?

2. Bagaimanakah gambaran penerapan jumlah makanan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016?

3. Bagaimanakah gambaran penerapan jenis makanan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016?

4. Bagaimanakah gambaran penerapan jadwal makan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016?

5. Bagaimanakah gambaran aktivitas fisik pada penderita Diabetes Mellitus tipe

2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016?


8

6. Apakah terdapat hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status

kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016?

7. Apakah terdapat hubungan antara penerapan jenis makanan terhadap status

kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016?

8. Apakah terdapat hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status

kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016?

9. Apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik terhadap status kadar gula

darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat

tahun 2016?

D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan antara penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal)

dan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran status kadar gula darah pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

b. Diketahuinya gambaran penerapan jumlah makanan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

c. Diketahuinya gambaran penerapan jenis makanan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.


9

d. Diketahuinya gambaran penerapan jadwal makan pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

e. Diketahuinya gambaran aktivitas fisik pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2

di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

f. Diketahuinya hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status

kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

g. Diketahuinya hubungan antara penerapan jenis makanan terhadap status

kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

h. Diketahuinya hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status kadar

gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat tahun 2016.

i. Diketahuinya hubungan antara aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun

2016.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Ciputat

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat digunakan oleh Puskesmas

Ciputat sebagai bahan referensi dalam meningkatkan penerapan 3J (Jumlah,

Jenis, dan Jadwal) dan aktivitas fisik agar status kadar gula darah baik pada

pasien DM tipe 2 melalui kegiatan yang berada di klinik gizi dan posbindu.

2. Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Hasil penelitian dapat memberikan informasi dan masukan terkait

masalah kesehatan serta menjadi tambahan kepustakaan di bidang gizi


10

mengenai penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal), aktivitas fisik dan kadar

gula darah pada penderita DM tipe 2.

3. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain untuk

melakukan penelitian selanjutnya mengenai penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan

Jadwal), aktivitas fisik dan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Peminatan Gizi Program Studi

Kesehatan Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan

antara penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dan aktivitas fisik terhadap kadar

gula darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat tahun 2016. Adapun responden pada penelitian ini adalah penderita DM

Tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Penelitian ini menggunakan

desain studi cross-sectional. Penelitian dimulai sejak bulan Agustus-Oktober

2016. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini menggunakan teknik

wawancara dengan melihat penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dari

Formulir Food recall 2x24 jam dan Global Physically Activity Questionnaire

(GPAQ) untuk aktivitas fisik. Sedangkan, data sekunder dalam penelitian ini

adalah data rekam medik mengenai kadar gula darah penderita DM tipe 2 saat

penelitian berlangsung di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus

1. Definisi
Diabetes Mellitus (DM) atau yang lebih dikenal dengan penyakit

kencing manis merupakan penyakit kelainan metabolik yang

dikarakteristikkan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme

karbohidrat, lemak, dan protein yang diakibatkan oleh kelainan sekresi

insulin, kerja insulin, maupun keduanya (WHO, 2015). Dampak atau

komplikasi akibat Diabetes Mellitus antara lain kebutaan, gagal ginjal,

penyakit jantung, stroke, dan kaki diabetes (gangrene) sehingga harus

diamputasi. (Kemenkes, 2013)

2. Klasifikasi
Menurut ADA (2012), DM diklasifikasikan berdasarkan etiologinya

terdiri dari 4 jenis, yaitu:

a. DM tipe 1

DM tipe 1 adalah penyakit hiperglikemia akibat kegagalan sel beta

pancreas untuk memproduksi insulin dan juga disebut sebagai Insulin

Dependent Diabetes Melitus (IDDM). Penyakit ini biasa dijumpai pada

anak-anak dan akan terus membutuhkan suntikan insulin setiap hari.

Penggunaan yang tidak memadai dari hasil insulin akan menyebabkan

ketoasidosis dan akibatnya sering memerlukan rawat inap. (ADA, 2012)

11
12

b. DM tipe 2

DM tipe 2 adalah penyakit hiperglikemia akibat resistensi insulin

disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi

insulin (PERKENI, 2011). DM tipe 2 biasa dijumpai pada orang dewasa

berusia lebih dari 30 tahun. Penyakit ini disebut juga sebagai Non Insulin

Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) karena pada DM tipe 2, insulin

tetap dihasilkan namun kadar insulin mungkin sedikit menurun atau

berada dalam rentang normal (ADA, 2012).

c. DM gestasional

DM gestasional adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan

peningkatan gula darah tinggi yang menetap sewaktu kehamilan pada

wanita yang sebelumnya tidak menderita diabetes sebelum hamil. Wanita

dengan riwayat DM gestasional harus melakukan skrining untuk melihat

perkembangan DM setidaknya setiap 3 tahun. (ADA, 2012)

d. DM tipe lain

DM tipe ini berhubungan dengan keadaan timbulnya

hiperglikemia pada usia dini (umumnya sebelum usia 25 tahun). Hal

tersebut dikarenakan adanya penyakit lain seperti defek genetik fungsi sel

beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,

endokrinopati, obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang,

dan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM. (PERKENI, 2011)

3. Diagnosis
Berdasarkan PERKENI (2011), diagnosis DM ditegakkan atas dasar

pemeriksaan kadar glukosa darah. Dalam penentuan diagnosis DM,

pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa


13

secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Diagnosis DM dapat

ditegakkan melalui tiga kriteria, yaitu:

Tabel 2.1 Kriteria Diagnosis DM

No Diagnosis DM

1. Gejala klasik DM + Glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/ dL (11,1 mmol/L)

(Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari

tanpa memperhatikan waktu makan terakhir)

Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/ dL (7,0 mmol/L)
2.
(Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam)

Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/ dL (11,1 mmol/L)
3.
(TTGO yang dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa

yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air)

Sumber: PERKENI (2011)

Apabila seseorang tidak menunjukkan adanya gejala DM, maka

dilakukan pemeriksaan penyaring yang dilakukan pada mereka yang

mempunyai risiko DM (PERKENI, 2011). Pemeriksaan penyaring dapat

dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar

glukosa darah puasa yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan
Penyaring
No Jenis Pemeriksaan Bukan DM Belum pasti DM
DM
1 Kadar glukosa Plasma vena < 100 100 – 199 ≥ 200
darah sewaktu Darah kapiler < 90 90 – 199 ≥ 200
(mg/ dL)
14

No Jenis Pemeriksaan Bukan DM Belum pasti DM


DM
2 Kadar glukosa Plasma vena < 100 100 – 125 ≥ 126
darah puasa Darah kapiler < 90 90 - 99 ≥ 100
(mg/ dL)

Sumber: PERKENI (2011)

B. Gula Darah

1. Definisi

Kadar gula darah adalah jumlah atau konsentrasi glukosa yang

terdapat dalam darah (Parker, 2004). Menurut kamus kedokteran Dorlan

(2002) gula darah adalah produk akhir dan merupakan sumber energi utama

organisme hidup yang kegunaannya dikontrol oleh insulin. Umumnya tingkat

gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l

(70-150 mg/ dL). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada

pada level terendah pada pagi hari, sebelum makan.

2. Pengendalian Kadar Gula Darah

Kadar gula darah dapat dikontrol dengan 3 cara yaitu menjaga berat

badan ideal, penatalaksanaan diet, dan melakukan olahraga/latihan fisik.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga cara tersebut sering kali kurang

memadai lagi. Kadar gula darah mungkin tidak terkontrol dengan baik. Pada

keadaan yang seperti inilah baru diperlukan terapi farmakologis dengan obat

anti diabetes (OAD). Jadi, pada dasarnya obat baru diperlukan jika dengan

cara diet dan olahraga, gula darah belum terkontrol dengan baik. (Sukardji,

2011)
15

Pengendalian kadar glukosa darah berarti menjaga kadar gula darah

agar sedapat mungkin mendekati normal. Kriteria pengendalian kadar gula

darah berdasarkan PERKENI (2011) diantaranya adalah:

Tabel 2.3 Kriteria Pengendalian Diabetes Mellitus

Baik Sedang Buruk


Glukosa darah 80-109 110-125 ≥126
puasa (mg/ dL)
Glukosa darah 2 110-144 145-179 ≥180
jam (mg/ dL)
Glukosa darah 80-144 145-199 ≥200
sewaktu
A1C (%) < 6,5 6,5-8 >8
Kolesterol Total <200 200-239 ≥240
(mg/ dL)
Kolesterol LDL <100 100-129 ≥130
(mg/ dL)
Kolesterol HDL >45
(mg/ dL)
Trigliserida (mg/ <150 150-199 ≥200
dL)
IMT (kg/m²) 18,5 – 22,9 23-25 >25
Tekanan darah < 130/80 130-140/80-90 >140/90
(mmHg)

Sumber: PERKENI (2011)

C. Diabetes Mellitus Tipe 2

1. Definisi DM Tipe 2

Diabetes Mellitus (DM) atau yang lebih dikenal dengan penyakit

kencing manis adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak

dapat memproduksi insulin yang cukup dan menyebabkan peningkatan

konsentrasi glukosa dalam darah atau hiperglikemia (WHO, 2015). DM tipe 2

biasa dijumpai pada orang dewasa berusia lebih dari 30 tahun. Penyakit ini

disebut juga sebagai Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)


16

karena pada DM tipe 2, insulin tetap dihasilkan namun kadar insulin mungkin

sedikit menurun atau berada dalam rentang normal (ADA, 2012). Dari

berbagai tipe DM yang ada, DM tipe 2 merupakan jenis yang paling banyak

ditemukan kasusnya yaitu sebesar 90 – 95% dari kasus DM yang terdiagnosis

secara keseluruhan. (CDC, 2014)

2. Gejala DM Tipe 2

Gejala diabetes mellitus tipe 2 dibedakan menjadi gejala akut dan

kronik menurut Subekti (2011). Gejala akut diabetes mellitus yaitu:

a. Poliuria (peningkatan pengeluaran urin)

Kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan penderita DM lebih

banyak mengeluarkan urin, terutama pada malam hari.

b. Polidipsi (peningkatan rasa haus)

Peningkatan rasa haus sering dialami oleh penderita karena banyaknya

cairan yang keluar melalui sekresi urin lalu akan berakibat pada

terjadinya dehidrasi intrasel sehingga merangsang pengeluaran ADH

(Antidiuretik Hormone) dan menimbulkan rasa haus.

c. Polyphagia (peningkatan rasa lapar)

Kalori yang dihasilkan dari makanan setelah dimetabolisasikan menjadi

glukosa dalam darah, tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan sehingga

penderita selalu merasa lapar.

d. Penurunan berat badan (BB) dan rasa lapar

Penurunan berat badan ini disebabkan karena penderita kehilangan

cadangan lemak dan otot digunakan sebagai sumber energi untuk

menghasilkan tenaga akibat dari kekurangan glukosa yang masuk ke

dalam sel.
17

Selain itu terdapat gejala kronik pada penderita DM tipe 2 seperti

gangguan saraf tepi berupa kesemutan, gangguan penglihatan (mata kabur),

gatal, bisul, gangguan ginekologis berupa keputihan, dan gangguan ereksi

(Subekti, 2011).

3. Patofisiologi DM Tipe 2

Pada patofisiologi DM tipe 2 terdapat beberapa keadaan yang

berperan yaitu resistensi insulin dan disfungsi sel β pancreas (Brunner dan

Suddarth, 2002). Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada

permukaan sel. Hasil dari akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut,

terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel.

Resistensi insulin pada DM tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel

ini. Pada akhirnya, insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi

pengambilan glukosa oleh jaringan (Brunner dan Suddarth, 2002). Pada DM

tipe 2, jumlah sel beta berkurang sampai 50 – 60% dari normal, akan tetapi

jumlah sel alfa meningkat dan yang terlihat jelas adalah adanya peningkatan

jumlah jaringan amyloid pada sel beta yang disebut amilin (Suyono, 2011)

Hormon insulin memiliki tiga lokasi kerja yang utama yaitu otot,

hepar, dan jaringan adiposa. Pada ketiga tempat ini terdapat sejumlah besar

aktivitas insulin terhadap kebutuhan zat gizi. Jika terjadi kekurangan hormon

insulin bukan hanya menimbulkan gangguan metabolisme hidratarang tetapi

juga gangguan metabolisme protein dan lemak. (Beck, 2011)

4. Pengelolaan DM Tipe 2

Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat

mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit menahun seperti penyakit


18

serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai,

penyulit pada mata, ginjal, dan syaraf (Waspadji, 2011). Tujuan dari adanya

pengelolaan DM secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup

penyandang diabetes. Adapun tujuan jangka pendek dan jangka panjang dari

penatalaksanaan DM, untuk tujuan jangka pendek adalah menghilangkan

keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman, dan mencapai target

pengendalian glukosa darah. Sedangkan tujuan jangka panjang yaitu

mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati,

makroangiopati, dan neuropati. (PERKENI, 2011)

Tujuan jangka pendek tersebut dapat tercapai jika pasien DM dapat

mengikuti beberapa penatalaksanaan seperti manajemen gaya hidup (diet dan

aktivitas fisik), mengikuti dan memahami adanya edukasi DM, dan

monitoring klinis (farmakologis) (IDF, 2012). Penatalaksanaan tersebut juga

diadaptasi oleh PERKENI (2011) dengan nama lain empat pilar

penatalaksanaan DM. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah

penatalaksanaan non-farmakologis seperti edukasi, penatalaksanaan diet dan

aktivitas fisik (Waspadji, 2011). Lalu, jika langkah tersebut belum maksimal

dalam mencapai tujuan pengelolaan, maka dilanjutkan dengan langkah

intervensi farmakologis (Waspadji, 2011). Berikut penjelasan dari keempat

pilar penatalaksanaan tersebut:

a. Penatalaksanaan Diet

Penatalaksanaan diet merupakan bagian penatalaksanaan

diabetes secara total. Setiap penderita diabetes sebaiknya mendapat

penatalaksanaan diet sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai

sasaran diet. Prinsip penatalaksanaan diet pada penderita DM tipe 2


19

hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu

makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat

gizi masing-masing individu. Tetapi, pada penderita DM tipe 2 perlu

patuh terhadap keteraturan makan dalam hal jenis makanan, jumlah

makanan, dan jadwal makan. (PERKENI, 2011)

Pada studi meta-analisis Morris, et al (2010) terdapat 8 studi

penelitian (randomized controlled trial) dalam melihat keefektifan

tatalaksana diet selama lebih dari 3 bulan sampai 1 tahun didapatkan

hasil bahwa intervensi diet berhasil dalam perbaikan metabolik dan

perubahan perilaku sehat.

b. Aktivitas Fisik

Kegiatan jasmani sehari-hari dan secara teratur (3-4 kali

seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar

dalam pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan

kaki, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan. Latihan

jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat

badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan

memperbaiki kendali glukosa darah. (PERKENI, 2011)

c. Edukasi

DM tipe 2 umumnya terjadi karena perubahan pola gaya hidup

dan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku,

dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan

motivasi. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah secara

mandiri, tanda, dan gejala serta cara mengatasinya harus diberikan

kepada penderita. (PERKENI, 2011)


20

Pada Petunjuk Teknis Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak

Menular (Posbindu PTM) dari Kemenkes (2014) dipaparkan bahwa

edukasi atau penyuluhan di posbindu dilakukan >6 kali dalam setahun

dengan cakupan peserta yang hadir saat jadwal posbindu sebesar

≥75% sasaran, sehingga dapat terlihat seluruh pasien mendapatkan

edukasi atau tidak saat jadwal posbindu berlangsung.

Berdasarkan studi meta-analisis IDF (2012), didapatkan hasil

bahwa bukti dari 8 studi penelitian randomized controlled trial dan 2

studi controlled clinical trial menunjukkan keefektifan edukasi dalam

meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya tatalaksana DM.

d. Intervensi Farmakologis

Menurut Dworatzek (2013) jika sasaran glukosa darah belum

tercapai dengan penatalaksanaan diet dan latihan jasmani, maka

dilanjutkan dengan intervensi farmakologis. Hal tersebut juga sesuai

dengan pernyataan Waspadji (2013). Intervensi farmakologis dapat

berupa obat hipoglikemik oral, suntikan insulin, dan terapi kombinasi

(PERKENI, 2011).

D. Penatalaksanaan Diet dengan Kadar Gula Darah

Setiap pasien DM sebaiknya mendapat penatalaksanaan diet sesuai

dengan kebutuhannya guna mencapai tujuan pengelolaan. Penatalaksanaan diet

merupakan komponen utama keberhasilan pengelolaan DM secara total.

Berdasarkan ADA (2015) dan PERKENI (2011) terdapat kunci keberhasilan

penatalaksanaan diet yang dapat terlihat dengan adanya keterlibatan secara

menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain,

keluarga pasien dan pasien itu sendiri).


21

Makanan atau diet merupakan faktor utama yang berhubungan dengan

peningkatan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe 2 terutama setelah

makan (Holt et al, 2010). Tindakan pengendalian diabetes untuk mencegah

terjadinya komplikasi sangat diperlukan, khususnya dengan menjaga tingkat

gula darah sedekat mungkin dengan normal. Akan tetapi, kadar gula darah

yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Hal ini disebabkan karena

pasien kurang berdisiplin dalam menjalankan diet atau tidak mampu

mengurangi jumlah kalori makanannya (Soegondo, 2007).

Berdasarkan studi meta-analisis Ajala, et al (2013) terdapat 20 studi

penelitian (randomized controlled trial) yang melibatkan 307 penderita DM tipe

2 dalam melakukan intervensi manajemen diet selama lebih dari 6 bulan dapat

memperbaiki dan berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi gula darah,

penurunan berat badan, serta profil lipid (p<0,00001). Selain itu, hasil studi meta-

analisis lainnya yaitu Aguiar (2014) menunjukkan bahwa dari 8 studi penelitian

yang melakukan intervensi selama 4-48 bulan juga menunjukkan bahwa

perubahan gaya hidup termasuk diet berpengaruh dan efektif terhadap kontrol

gula darah serta tujuan dari dijalankannya aktivitas (p<0,001).

Pada penelitian Suhaema (2010) di NTB, hasil uji statistik menunjukkan

bahwa intervensi diet berpengaruh terhadap pengendalian status kadar gula

darah, dimana terdapat perbedaan bermakna antara kadar gula darah awal dan

akhir penelitian pada kelompok perlakuan (p<0,05), sedangkan pada kelompok

kontrol secara statistik tidak berbeda (p>0,05).

1. Tujuan

Menurut ADA (2015) terdapat beberapa tujuan dari adanya

penatalaksanaan diet bagi pasien DM tipe 2, antara lain:


22

a. Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan secara khusus untuk

mempertahankan kadar glukosa darah dan tekanan darah mendekati

normal, mempertahankan berat badan normal, serta mencegah adanya

komplikasi diabetes.

b. Mengatasi kebutuhan gizi pasien DM berdasarkan preferensi, akses

ketersediaan makanan, serta kemauan dan kemampuan untuk merubah

perilaku.

c. Memberikan pesan positif tentang pilihan makanan yang dianjurkan,

dibatasi, dan tidak dianjurkan.

d. Pasien DM dapat praktis menjalankan perencanaan makan untuk

sehari-hari.

2. Standar Diet DM Tipe 2

Standar diet DM yang diberikan pada pasien DM sesuai kebutuhan,

dimana terdapat 8 jenis standar diet menurut kandungan energi yaitu standar

diet 1100 kalori sampai dengan 1500 kalori untuk pasien DM yang gemuk.

Diet 1700 sampai dengan 1900 kalori untuk pasien DM dengan berat badan

normal. Sedangkan diet 2100 sampai dengan 2500 kalori untuk pasien DM

kurus. (Waspadji, 2007)

3. Jumlah Makanan

Menurut PERKENI (2011) terdapat beberapa cara untuk menentukan

jumlah kalori yang dibutuhkan pasien DM saat memulai perencanaan makan,

di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang

besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal, lalu ditambah atau dikurangi bergantung

pada beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur, aktivitas, dan status gizi.
23

Selain itu, komposisi energi terdiri dari karbohidrat 45-65% dari energi total,

protein 10-20% dari energi total, dan lemak 20-25% dari energi total.

a. Kebutuhan Energi

Ada beberapa cara dalam menentukan jumlah kalori yang

dibutuhkan orang dengan diabetes, di antaranya adalah dengan

memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30

kalori/kgBB ideal, lalu ditambah atau dikurangi bergantung pada

beberapa faktor antara lain (PERKENI, 2011):

1) Jenis Kelamin

Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria.

Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria

sebesar 30 kal/kg BB.

2) Umur

Penurunan kebutuhan energi bagi pasien yang berusia > 40 tahun

dengan ketentuan usia 40-59 tahun, kebutuhan energinya

dikurangi 5%. Pada usia 60-69 tahun, kebutuhan energinya

dikurangi 10% dan jika usia > 70 tahun, kebutuhan energinya

dikurangi 20%.

3) Aktivitas Fisik atau Pekerjaan

Kebutuhan energi dapat ditambah sesuai dengan intensitas atau

kategori aktivitas fisik sebagai berikut:

a) Keadaan istirahat: ditambah 10% dari energi basal

b) Ringan: pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum,

ibu rumah tangga, dan lain-lain kebutuhan energi ditambah

20% dari kebutuhan energi basal


24

c) Sedang: pegawai di insdustri ringan, mahasiswa, militer

yang sedang tidak berperang, kebutuhan dinaikkan 30%

dari energi basal.

d) Berat: petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari,

atlet, kebutuhan ditambah 40% dari energi basal.

e) Sangat berat: tukang becak, tukang gali, pandai besi,

kebutuhan harus ditambah 50% dari energi basal.

4) Status Gizi

Bila penderita DM tipe 2 kegemukan maka energi dikurangi

sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan. Bila

penderita DM tipe 2 kurus, maka energi ditambah sekitar 20-30%

sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB. Pada tujuan

penurunan berat badan. Jumlah kalori yang diberikan paling

sedikit 1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal

untuk pria.

b. Kebutuhan Karbohidrat dan Pemanis

Menurut PERKENI (2011), kebutuhan karbohidrat yang

dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi dan makanan. ADA

(2015) memaparkan bahwa harus adanya pembatasan konsumsi

makanan dengan nilai indeks glikemik tinggi karena indeks glikemik

makanan dapat mempengaruhi kadar glukosa darah 2 jam setelah

makan. Makanan dengan indeks glikemik rendah memberikan

manfaat tidak hanya untuk glikemik postprandial tetapi juga untuk

profil lipid (ADA, 2015). Sayuran, kacang-kacangan, buah, dan

gandum merupakan sumber karbohidrat yang kaya akan serat,


25

mikronutrien, dan vitamin. Namun banyak pasien DM tidak

mengkonsumsi makanan tersebut secara teratur (ADA, 2015).

Sejumlah faktor mempengaruhi respon glikemik yang

terkandung dalam makanan antara lain sifat pati (amilosa,

amilopektin, pati), jumlah serat makanan dan jenis gula (ADA, 2015).

Salah satu jenis gula yang tidak boleh digunakan lebih dari 5% total

asupan energi adalah sukrosa (gula murni) (PERKENI, 2011).

Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak

melebihi bata aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake). Dalam

penggunaannya, pemanis berkalori seperti fruktosa dan gula alkohol

perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari

kebutuhan kalori sehari karena dapat memberikan efek samping pada

lemak darah. (PERKENI, 2011)

c. Kebutuhan Protein

Kebutuhan protein yang dianjurkan sekitar 10-20% dari

kebutuhan kalori. Sumber protein yang baik antara lain seafood (ikan,

udang, cumi, dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu

rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan tempe (PERKENI, 2011).

Selain itu pada pasien DM tipe 2, protein yang dicerna dapat

meningkatkan respon insulin tanpa meningkatkan konsentrasi glukosa

(ADA, 2015).

d. Kebutuhan Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% dari kebutuhan

kalori (ADA, 2015). Lemak jenuh yang diperkenankan < 7% dari

kebutuhan kalori sedangkan lemak tidak jenuh ganda < 10%,


26

selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Adapun bahan makanan

yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan

lemak trans seperti daging berlemak dan susu penuh (whole milk) dan

anjuran konsumsi kolesterol sebesar < 200 mg/hari. (PERKENI,

2011)

e. Kebutuhan Serat

Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari. Seperti halnya

masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi

cukup serat dari kacang-kacangan, buah, dan sayuran serta

sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung

vitamin, mineral, serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.

(PERKENI, 2011)

Hasil penelitian Toharin (2015) menunjukkan adanya hubungan

antara anjuran jumlah makanan dengan status kadar gula darah (p=0,018).

Hal tersebut menunjukkan jika penderita mengikuti anjuran jumlah makanan

maka status kadar gula darahnya akan terkontrol. Selain itu, pada penelitian

Muliani (2013) menunjukkan adanya hubungan antara asupan energi,

karbohidrat, protein dan serat dengan status kadar gula darah., tetapi juga

menunjukkan tidak adanya hubungan antara asupan lemak dengan status

kadar gula darah.

Namun, pada penelitian Ardyana (2014) menunjukkan tidak adanya

hubungan antara ketepatan jumlah makanan dengan status kadar gula darah

(p=0,868). Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden

belum dapat memenuhi anjuran asupan serat perhari.


27

4. Jenis Makanan

Penderita DM tipe 2 harus mengetahui dan memahami jenis makanan

apa yang boleh dimakan secara bebas, makanan yang mana harus dibatasi dan

makanan apa yang harus dibatasi secara ketat (Waspadji, 2007).

Menurut Almatsier (2006), jenis makanan yang diperbolehkan dalam

penatalaksanaan diet DM tipe 2 terdiri dari sumber karbohidrat kompleks

tetapi dibatasi seperti nasi, roti, mi, kentang, singkong, ubi, dan sagu; sumber

protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kulit, susu skim, tempe, tahu,

dan kacang-kacangan; sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk

makanan yang mudah dicerna, terutama diolah dengan cara dipanggang,

dikukus, direbus, dan dibakar. Selain itu, Waspadji (2007) juga memaparkan

bahwa makanan yang diperbolehkan adalah makanan tinggi serat larut air,

makanan yang diolah dengan sedikit minyak, serta penggunaan gula murni

diperbolehkan hanya sebatas sebagai bumbu.

Makanan yang mengandung karbohidrat mudah diserap seperti sirup,

gula, dan sari buah harus dihindari. Sayuran dengan karbohidrat tinggi seperti

buncis, kacang panjang, wortel, kacang kapri, daun singkong, dan bayam

harus dibatasi tidak boleh dalam jumlah banyak. Buah-buahan berkalori

tinggi seperti nanas, anggur, mangga, sirsak, pisang, alpukat, dan sawo

sebaiknya dibatasi. Sayuran yang bebas dikonsumsi adalah sayuran dengan

kandungan kalori rendah seperti oyong, ketimun, labu air, labu siam, lobak,

selada air, jamur kuping, dan tomat (Waspadji, 2007). Selain itu, makanan

yang perlu dihindari yaitu makanan yang mengandung banyak kolesterol,

lemak trans, lemak jenuh, dan tinggi natrium (ADA, 2010).


28

PERKENI (2011) menyebutkan bahwa penderita DM tipe 2 sebaiknya

menghindari makanan dari jenis gula sederhana seperti gula pasir, gula jawa,

sirup, es krim, susu kental manis, selai dan lain-lain; minyak; tinggi natrium

(garam) seperti ikan asin, telur asin, dan makanan yang diawetkan.

Pada penelitian Toharin (2015), menunjukkan bahwa ada hubungan

antara aturan jenis makanan dengan status kadar gula darah (p=0,001). Selain

itu, hasil penelitian Verawati, dkk (2014) juga menunjukkan adanya

hubungan antara jenis makanan dengan kadar gula darah (p=0,001). Menurut

Verawati, dkk (2014) adanya hubungan tersebut bisa terjadi karena sebagian

besar responden sudah mengetahui tentang anjuran diet DM, akan tetapi rata-

rata responden tidak mengetahui tentang jenis makanan yang mengandung

karbohidrat kompleks dan sederhana, tidak patuh pada prinsip diet, jadwal

makan yang tidak tepat, dan konsumsi jenis makanan pantangan.

Tetapi, pada penelitian Ardyana (2014) menunjukkan tidak adanya

hubungan ketepatan jenis makanan dengan status kadar glukosa darah

(p=0,063). Dalam penelitian tersebut, responden telah membatasi atau

menghindari jenis makanan apa saja yang dipantang, akan tetapi dalam cara

mengolah masih banyak responden yang mengolah makanan dengan cara

digoreng terus menerus dan berakibat pada konsumsi lemak jenuh melebihi

kebutuhan per hari dan status kadar gula darah.

5. Jadwal Makan

Pasien DM makan sesuai jadwal, yaitu 3 kali makan utama, 3 kali

makan selingan dengan interval waktu 3 jam. Berikut jadwal makan standar

yang digunakan oleh pasien DM (Waspadji, 2007):


29

Tabel 2. 4 Jadwal Makan Pasien DM

Waktu Total Kalori


Makan Pagi 07.00 20%
Selingan 10.00 10%
Makan Siang 13.00 30%
Selingan 16.00 10%
Makan Sore/Malam 19.00 20%
Selingan 21.00 10%
Sumber : Waspadji (2007)

Pada penelitian eksperimen Jakubowicz (2015) untuk melihat apakah

jadwal makan dapat mengurangi kadar glukosa darah maka dilakukakan dua

hari pengujian makan terpisah, masing-masing selama 14 jam. Reponden

mengkonsumsi makanan besar atau utama pada sarapan pagi jam 08.00,

makan siang jam 13.00, dan makan malam jam 19.00. Didapatkan hasil

bahwa asupan energi yang sesuai dengan kebutuhan energi responden pada

sarapan pagi, siang, dan malam maka glukosa plasma akan mengalami

penurunan sebesar 10% (p<0,006, t-test).

Pada penelitian Toharin (2015) menunjukkan bahwa ada hubungan

antara aturan jadwal makan dengan kadar gula darah pada penderita DM tipe

2 (p=0,031). Selain itu, penelitian Kurniawati (2007) juga menunjukkan

adanya hubungan antara aturan jadwal makan dengan kadar gula darah

(p=0,003). Perlu adanya pengaturan jadwal makan bagi penderita DM tipe 2,

karena keterlambatan atau keseringan makan akan mempengaruhi kadar gula

darah (Sukardji, 2011).

Sebaliknya, pada penelitian penelitian Putro (2012) di Kediri Jawa

Timur dengan sampel 60 penderita DM tipe 2 menunjukkan tidak adanya

hubungan diet tepat jadwal makan terhadap status kadar gula darah

(p=0,247). Penelitian Idris (2014) juga menunjukkan tidak ada hubungan


30

antara jadwal makan terhadap status kadar gula darah (p=0,460). Tidak

adanya hubungan tersebut mungkin dpengaruhi oleh banyak faktor seperti

pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan sehingga sulit untuk mengikuti sesuai

jadwal yang dianjurkan (Putro, 2012). Penyebab lainnya bisa terjadi karena

jadwal makan yang tidak diikuti dengan jumlah porsi makanan yang

dianjurkan tidak sesuai dengan kebutuhan (Idris, 2014).

E. Aktivitas Fisik dengan Kadar Gula Darah

Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh yang ditimbulkan oleh otot

rangka dan menghasilkan pengeluaran energi. Berdasarkan tipenya aktivitas fisik

terbagi menjadi empat yaitu aerobik, kekuatan, fleksibilitas dan keseimbangan.

Sedangkan berdasarkan intensitasnya aktivitas fisik terbagi menjadi dua yaitu

aktivitas fisik intensitas sedang dan berat. Aktivitas fisik intensitas sedang adalah

aktivitas yang menggunakan kekuatan fisik sedang dan membuat peningkatan

kecil dalam bernafas atau denyut jantung meliputi kegiatan seperti bersepeda,

jogging, mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu, mengepel), berenang,

bermain voli, dan sebagainya. Sedangkan aktivitas fisik intensitas berat adalah

kegiatan yang membutuhkan tenaga fisik yang kuat dan membuat peningkaan

besar dalam bermafas atau denyut jantung yang meliputi gerakan seperti bermain

sepak bola, bermain basket, mendaki gunung, mencangkul, menggali dan

sebagainya (WHO, 2010).

Pada penderita DM tipe 2, aktivitas fisik juga berperan utama dalam

pengaturan kadar gula darah (Ilyas, 2011). Dalam PERKENI (2011) juga

disebutkan bahwa olahraga teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah,

mempertahankan atau menurunkan berat badan, serta dapat meningkatkan kadar

kolesterol HDL. Masalah utama pada penderita DM tipe 2 adalah kurangnya


31

respon reseptor terhadap insulin (resistensi insulin). Karena adanya gangguan

tersebut, insulin tidak dapat membantu transfer glukosa ke dalam sel (Ilyas,

2011).

Kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin dan permeabilitas membrane

terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi. Pada saat melakukan

aktivitas fisik, resistensi insulin berkurang, sebaliknya sensitivitas insulin

meningkat, hal ini menyebabkan kebutuhan insulin pada DM tipe 2 akan

berkurang. Respon ini hanya terjadi setiap kali melakukan aktivitas fisik tetapi

bukan merupakan efek menetap atau berlangsung lama. Oleh karena itu, aktivitas

fisik harus dilakukan secara teratur. (Ilyas, 2011)

Hasil penelitian cross-sectional Teh, et.al (2015) di Malaysia dengan

sampel penderita DM yang merupakan masyarakat urban dan rural menunjukkan

adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan pengontrolan glukosa

darah (p <0,05). Hal tersebut serupa dengan penelitian Anani, et.al (2012) di

Cirebon menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan olahraga atau aktivitas

fisik dengan kondisi glukosa darah penderita DM tipe 2 (p=0,041).

Sedangkan, pada penelitian Qadrianty,et.al (2006) di Puskesmas Kota

Makassar menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik

dengan kadar gula darah penderita DM tipe 2 (p=0,655). Menurut Qadrianty,et.al

(2006) Hal tersebut terjadi karena sebanyak 76,2% responden yang memiliki

aktivitas fisik tinggi justru memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol.
32

F. Kerangka Teori

Penatalaksanaan DM yang terdiri dari 3 aspek yaitu edukasi, perubahan

gaya hidup (diet dan aktivitas fisik), dan terapi farmakologis merupakan

penatalaksanaan terbaik agar status kadar gula darah yang tinggi dapat terkontrol.

Berikut ini kerangka teori yang didasarkan pada modifikasi teori IDF (2012),

PERKENI (2011), Dworatzek (2013) mengenai penatalaksanaan DM tipe 2:

Bagan 2.1 Kerangka Teori

STATUS KADAR
PENATALAKSANAAN
GULA DARAH
DM TIPE 2

EDUKASI PERUBAHAN TERAPI


GAYA HIDUP: FARMAKOLOGIS

- Diet (3J)
- Aktivitas fisik

Sumber: modifikasi teori IDF (2012), PERKENI (2011), Dworatzek (2013)


BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian disusun berdasarkan kerangka teori yang

telah diuraikan sebelumnya. Pada penelitian ini variabel yang akan diteliti

meliputi variabel independen yaitu penerapan diet (3J) penderita DM tipe 2 dan

aktivitas fisik, sedangkan variabel dependen yaitu kadar gula darah penderita DM

tipe 2. Berikut merupakan kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian kali

ini:

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Independen Dependen

Penerapan diet 3J
- Jumlah makanan Status Kadar gula
- Jenis makanan darah penderita DM
- Jadwal makan tipe 2 di Posbindu
Wilayah Kerja
Puskesmas Ciputat
Aktivitas Fisik

33
34

Alasan memilih penatalaksanaan perubahan gaya hidup yaitu diet dan

aktivitas fisik diantara penatalaksanaan DM tipe 2 lainnya karena diet dan

aktivitas fisik merupakan bagian penatalaksanaan gaya hidup diabetes secara

total dan terapi non-farmakologis yang harus dilakukan agar kadar gula darah

tetap dalam keadaan stabil. Variabel edukasi dan farmakologis tidak menjadi

varibel penelitian tetapi menjadi variabel yang dikontrol untuk mengurangi

tingkat bias dalam melihat aturan anjuran diet dan aktivitas fisik.

Pada hasil yang telah didapat, diketahui bahwa variabel edukasi memiliki

sifat yang homogen karena dilihat dari frekuensi pemberian edukasi di setiap

posbindu sama yaitu dilakukakan setiap 1 bulan sekali saat adanya jadwal

posbindu, konten yang diberikan juga sama yaitu materi pencegahan serta

penanganan DM yang terdapat di leaflet DM tipe 2 dari Dinas Kesehatan Kota

Tangerang Selatan, dan petugas yang memberikan konten atau materi edukasi

juga sama yaitu bidan desa dan kader terlatih yang sudah memiliki keterampilan

dalam memberikan penyuluhan edukasi.

Selain itu, didapatkan hasil bahwa 94 (81,03%) pasien DM mengikuti

edukasi saat jadwal posbindu berlangsung, yang artinya sudah mencapai target

petunjuk teknis posbindu dari Kemenkes (2014) yaitu ≥75% sasaran.

Sedangkan pada variabel terapi farmakologis, di seluruh posbindu

Puskesmas Ciputat tidak dilakukan pemberian suntik insulin tetapi petugas

kesehatan memberikan obat diabetes yang sama dengan obat anti diabetes yaitu

metformin. Alasan lainnya terapi farmakologis tidak diambil karena merupakan

penatalaksanaan yang bersifat kuratif dan peneliti tidak dapat meneliti lebih jauh

mengenai hal farmakologis.


35

B. Definisi Operasional

Pada penelitian ini dipaparkan mengenai definisi operasional guna menghindari kesalahan persepsi mengenai variabel-variabel

yang akan diteliti. Berikut definisi operasional penelitian ini yang diuraikan pada tabel 3.1 berikut:

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

Status Kadar Hasil status pemeriksaan Rekam medik Telaah 0. Baik: Jika hasil pemeriksaan kadar Ordinal

Gula Darah kadar gula darah kadar gula dokumen gula darah sewaktu sebesar 80-144

penderita DM tipe 2 darah pasien mg/ dL.

berupa gula darah yang terdapat 1. Sedang: Jika hasil pemeriksaan kadar

sewaktu. di Posbindu gula darah sewaktu sebesar 145-199

pada bulan mg/ dL.

September 2. Buruk: Jika hasil pemeriksaan kadar

2016 gula darah sewaktu sebesar ≥ 200 mg/

dL.
36

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

PERKENI (2011)

Penerapan 3J

Jumlah makanan Jumlah rata-rata asupan Form food Wawancara 0. Baik: Jika responden mengikuti aturan Ordinal

karbohidrat, protein, recall 2x24 jumlah makanan sesuai standar diet

lemak, gula murni jam. secara rata-rata dalam 2 hari recall

(sukrosa) selama 2x24 yaitu:

jam. - Karbohidrat: 45-65% dari

kebutuhan energi

- Protein: 10-20% dari kebutuhan

energi

- Lemak: 20-25% dari kebutuhan


37

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

energi

- Gula murni (sukrosa) : <5% dari

kebutuhan energi

1. Tidak baik: Jika responden tidak

mengikuti salah satu atau lebih aturan

jumlah makanan sesuai standar diet

secara rata-rata dalam 2 hari recall.

PERKENI (2011); Idris (2014)

Jenis makanan Jenis makanan yang Form food Wawancara 0. Baik: Jika responden menghindari Ordinal

dikonsumsi oleh recall 2x24 untuk mengonsumsi jenis makanan

responden selama 2x24 jam dalam 2 hari recall berikut:

jam. - Sumber karbohidrat sederhana


38

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

- Protein hewani tinggi lemak

- Makanan berkolesterol tinggi,

sumber lemak trans dan lemak

jenuh

1. Tidak baik: Jika responden tidak

menghindari salah satu jenis makanan

tersebut dalam 2 hari recall.

PERKENI (2011); Waspadji (2010);

Almatsier (2006); Lestari (2011)

Jadwal makan Pengaturan waktu Form food Wawancara 0. Baik: Jika jadwal makan responden Ordinal

makan (makan pagi, recall 2x24 sesuai dengan standar diet DM dalam

siang, malam, dan jam 2 hari recall yaitu:


39

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

selingan) selama 2x24 - Makan pagi jam 06.30-07.30 WIB

jam. - Selingan pagi jam 09.30-10.30

WIB

- Makan siang jam 12.30-13.30

WIB

- Selingan siang jam 15.30-16.30

WIB

- Makan malam jam 18.30-19.30

WIB

- Selingan malam jam 20.30-21.30

WIB

1. Tidak baik: Jika responden tidak

mengikuti salah satu atau lebih aturan


40

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

jadwal makan sesuai standar diet DM

dalam 2 hari recall

Waspadji (2007); Amtiria (2016)

Aktivitas Fisik Aktivitas fisik yang Global Wawancara 0. Aktivitas ringan, jika nilai <600 MET- Ordinal

biasa dilakukan sehari- Physical menit/minggu

hari, termasuk saat Activity 1. Aktivitas sedang, jika nilai MET 600-

bekerja, olahraga, pergi Questionnare 1499 MET menit/minggu

dari satu tempat ke (GPAQ) 2. Aktivitas berat, jika nilai ≥1500 MET

tempat lain, maupun menit/minggu

istirahat selama satu


WHO (2006)
minggu terakhir.
41

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pada penelitian ini adalah:

a. Ada hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status kadar gula

darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat.

b. Ada hubungan antara penerapan jenis makanan terhadap status kadar gula

darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat.

c. Ada hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status kadar gula

darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat.

d. Ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah pada

penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik

deskriptif. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain cross-

sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerapan 3J

(Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat yang

diidentifikasi secara bersamaan atau dalam satu waktu.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di 7 posbindu wilayah kerja Puskesmas

Ciputat pada bulan Agustus-Oktober tahun 2016. Pemilihan lokasi penelitian

yaitu di posbindu memiliki beberapa pertimbangan diantaranya pemberian

edukasi mengenai diet dan aktivitas fisik dilakukan di dua tempat yaitu di

posbindu dan klinik gizi Puskesmas Ciputat. Akan tetapi pasien DM tipe 2 yang

berkunjung ke klinik gizi tidak semua berasal dari wilayah kerja Puskesmas

Ciputat dan sangat jarang untuk melakukan kunjungan ulang sehingga peneliti

memilih posbindu dimana penderita DM tipe 2 juga telah diberikan edukasi

mengenai diet dan aktivitas fisik dan memudahkan peneliti dalam menentukan

sampel penelitian.

42
43

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita DM tipe 2 yang

tercatat di posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat Tangerang Selatan

yang terdiri dari Posbindu Salak, Posbindu Kunir Putih, Posbindu Rambutan,

Posbindu Melon, Posbindu Alpukat, Posbindu Melati, dan Posbindu Jeruk

yaitu berjumlah 116 orang.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti dan dianggap

dapat mewakili populasi. Responden yang dijadikan sampel dalam penelitian

ini adalah penderita DM tipe 2 yang tercatat di posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat Tangerang Selatan. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi

pada penelitian ini melihat dari hasil skrining farmakologis.

Kriteria inklusi responden pada penelitian ini adalah penderita DM

tipe 2 yang tercatat di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Sedangkan

kriteria eksklusi responden pada penelitian ini adalah responden yang patuh

dalam meminum obat metformin, dimana terdapat 32 (27,5 %) penderita DM

tipe 2 yang patuh dalam hal jadwal meminum obat, dosis obat, dan habisnya

obat yang diberikan oleh petugas kesehatan. Peneliti menanyakan terlebih

dahulu ke bidan desa obat apa yang diberikan ke penderita DM tipe 2 saat

berlangsungnya jadwal posbindu dan didapatkan bahwa obat metformin yang

diberikan sehingga peneliti menjadikan konsumsi obat metformin sebagai

penentu patuh tidaknya meminum obat.


44

3. Perhitungan Sampel

Besar sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus

jumlah sampel untuk uji hipotesis beda 2 proporsi, yaitu:

n = Jumlah sampel minimal yang diperlukan

Z1-α/2 = Derajat kepercayaan (CI 95% = 1,96; α=5%)

Z1-β = Kekuatan uji 90%  1,28

P = Rata-rata proporsi pada populasi

P₁ = Proporsi populasi status kadar gula darah baik dengan

penderita DM tipe 2 yang baik dalam penerapan jenis makanan

0,526 (Ardyana, 2014)

P₂ = Proporsi populasi status kadar gula darah baik dengan

penderita DM tipe 2 yang tidak baik dalam penerapan jenis

makanan 0,167 (Ardyana, 2014)

Berdasarkan hasil perhitungan besar sampel minimum didapatkan

hasil untuk besar sampel sebanyak 35 orang dan karena uji yang dilakukan

adalah uji beda dua proporsi, maka sampel dikalikan 2 sehingga didapat besar

sampel minimum untuk penelitian ini adalah 70 orang kemudian ditambahkan

15% untuk mengurangi missing data. Namun setelah dilakukan penentuan

eksklusi, dari 116 didapat 32 orang yang patuh mengkonsumsi obat

metformin maka tidak dijadikan sampel penelitian. Sehingga, jumlah sampel

dalam penelitian ini menjadi 84 orang.


45

4. Teknik Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik probability sampling dengan

metode proportionate random sampling, yaitu metode yang digunakan pada

populasi mempunyai kesempatan untuk dijadikan sampel (Notoatmodjo,

2010). Pengambilan sampel dilakukan dengan menghitung jumlah sampel di

masing-masing posbindu yang menjadi populasi penelitian dalam 3 bulan

yaitu April-Mei dan Agustus tahun 2016 diantaranya adalah Posbindu Salak,

Posbindu Kunir Putih, Posbindu Rambutan, Posbindu Melon, Posbindu

Alpukat, Posbindu Melati, dan Posbindu Jeruk dimana total penderita DM

tipe 2 yang tercatat berjumlah 116 penderita DM tipe 2.

Masing-masing jumlah penderita DM tipe 2 di Posbindu Salak

berjumlah 20 orang, Posbindu Kunir Putih berjumlah 13 orang, Posbindu

Rambutan berjumlah 15 orang, Posbindu Melon berjumlah 13 orang,

Posbindu Alpukat berjumlah 18 orang, Posbindu Melati berjumlah 15 orang,

dan Posbindu Jeruk berjumlah 22 orang. Adapun rumus yang digunakan

dalam menentukan proporsi setiap posbindu adalah:

Keterangan:

jumlah anggota sampel tiap posbindu

jumlah anggota populasi tiap posbindu

jumlah anggota populasi seluruh posbindu

jumlah anggota sampel seluruh posbindu

Wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016 mempunyai 7 pos

pembinaan terpadu (posbindu) yang tersebar pada 2 (dua) Kelurahan. Berikut


46

adalah tabel yang menunjukkan penentuan jumlah sampel yang diambil

berdasarkan alokasi dari tiap posbindu.

Tabel 4.1 Pembagian Sampel

No Kelurahan Posbindu Jumlah


Responden
1 Salak 20/116 x 84 = 14
2 Kunir Putih 13/116 x 84 = 9
3 Cipayung Rambutan 15/116 x 84 = 11
4 Melati 15/116 x 84 = 11
5 Jeruk 22/116 x 84 = 16
6 Melon 13/116 x 84 = 9
Ciputat
7 Alpukat 18/116 x 84 = 14
Total 84

Sampel setiap responden diambil secara random sesuai dengan jumlah

responden yang dibutuhkan. Dari 116 penderita DM tipe 2 yang terpilih

berdasarkan kriteria, apabila responden tidak sesuai kriteria akan segera

dilakukan drop out dan dilakukan pemilihan responden dengan pengocokan

hingga menemukan responden yang sesuai kriteria.

D. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswi peminatan Gizi Kesehatan

Masyarakat dan dibantu para kader di 7 Posbindu serta bidan desa Puskesmas

Ciputat. Pengumpulan data dalam penelitian ini, meliputi sumber data, alur

pengumpulan data, instrumen penelitian, dan pengukuran.

1. Sumber Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder:


47

a. Data Primer

Data primer yang langsung diperoleh saat penelitian adalah hasil

wawancara recall 2x24 jam untuk melihat penerapan aturan 3J (Jumlah,

Jenis, dan Jadwal) dan aktivitas fisik dengan kuesioner GPAQ.

b. Data Sekunder

Data sekunder yang diperoleh adalah data mengenai kadar gula

darah penderita DM tipe 2 yang diperoleh dari data rekam medik

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016.

2. Alur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan membagi atas beberapa tahap,

berikut alur pengumpulan data:

a. Tahap pertama adalah pada variabel terkontrol edukasi dengan melihat

frekuensi, konten atau materi, dan siapa yang memberikan edukasi

tersebut. Selain itu, pada variabel terkontrol edukasi juga dilihat daftar

hadir penderita DM tipe 2 saat jadwal posbindu dari bulan Agustus 2015-

Juli 2016 setiap 6 bulan sekali. Didapatkan hasil bahwa 94 (81,03%)

pasien DM mengikuti edukasi saat jadwal posbindu berlangsung, yang

artinya sudah mencapai target petunjuk teknis posbindu dari Kemenkes

(2014) yaitu ≥75% sasaran.

Sedangkan, pada variabel terkontrol terapi farmakologis dilakukan

pengambilan data dengan melihat jenis obat apa yang diberikan kepada

penderita DM tipe 2 dan kepatuhan meminum obat dari segi jadwal, dosis

obat, dan habisnya obat tersebut. Peneliti menanyakan terlebih dahulu ke

bidan desa obat apa yang diberikan ke penderita DM tipe 2 saat

berlangsungnya jadwal posbindu dan didapatkan bahwa obat metformin


48

yang diberikan sehingga peneliti menjadikan konsumsi obat metformin

sebagai penentu patuh tidaknya meminum obat.

b. Tahap kedua adalah penelitian dimulai saat jadwal posbindu masing-

masing berlangsung, kemudian responden diminta kesediaannya untuk

mengisi lembar informed consent.

c. Tahap ketiga adalah tahap pengisian kuesioner karakteristik responden

berupa nomor, nama, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan

pekerjaan responden.

d. Tahap keempat adalah peneliti dan kader menimbang BB dan mengukur

TB responden, lalu data berat dan tinggi badan dicatat ke dalam

kuesioner. Data BB dan TB ini digunakan untuk menghitung kebutuhan

energi masing-masing responden.

e. Tahap kelima adalah pengisian data kadar gula darah yang telah di cek

oleh bidan desa menggunakan Glucometer, Gluco Dr Strip, serta blood

lancets AVICO 28G dari pihak Puskesmas.

f. Tahap keenam adalah melakukan wawancara recall makanan dengan alat

bantu food model dan kuesioner GPAQ dengan alat bantu GPAQ Generic

Show Card.

g. Tahap terakhir adalah pemeriksaan kelengkapan data. Setelah data

seluruh responden tercatat, maka peneliti kembali melakukan pengecekan

data yang telah terisi untuk menghindari kesalahan ataupun kekurangan

dalam pengisian, sekaligus membuat persetujuan dan perjanjian untuk

pertemuan dihari lain terkait recall makanan dalam satu pertemuan

mendatang.
49

3. Instrumen Penelitian

Alat pengumpulan data menggunakan instrumen sebagai berikut:

a. Data register penderita DM tipe 2 di Posbindu.

b. Lembar informed consent, kuesioner karakteristik responden dan hasil

pengukuran anthropometric.

c. Rekam medik kadar gula darah penderita DM tipe 2 di Posbindu.

d. Form Food Recall 2x24 jam.

e. Form aktivitas fisik menggunakan Global Physically Activity

Questionnaire (GPAQ).

f. Alat peraga GPAQ Generic ShowCard

g. Food Model.

h. Timbangan berat badan.

i. Microtoise.

4. Pengukuran

Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Data Anthropometric

Data anthropometric pada penelitian ini berupa data berat badan

(kg) dan tinggi badan (m²) yang digunakan untuk perhitungan total

kebutuhan energi masing-masing responden. Hasil perhitungan total

kebutuhan energi tersebut akan dijadikan pembanding dalam analisis data

recall 2x24 jam.

b. Data Kadar Gula Darah

Data tentang status kadar gula darah penderita DM tipe 2 yang

diperoleh melalui rekam medis di setiap Posbindu. Metode pengambilan

kadar gula darah di Posbindu Puskesmas Ciputat dilakukan oleh bidan


50

desa melalui alat Glucometer dengan keakuratan yang cukup baik yaitu

sensitivitas 70% dan spesivitas 90% (Weitgasser, 2007) serta bahan yaitu

Gluco Dr Strip dan blood lancets AVICO 28G.

c. Data Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal)

Form Food Recall 24 jam digunakan untuk mencatat asupan

makanan dan waktu makan responden selama 2x24 jam dalam waktu

yang berlainan. Alasan pengambilan data recall hanya dilakukan selama 2

hari karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall

24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi

lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake

harian individu (Supariasa, 2012 dan Gibson, 2005).

Metode recall ini berupa wawancara menanyakan makanan yang

responden konsumsi selama 24 jam sebelum wawancara dilakukan. Pada

saat wawancara recall, peneliti menggunakan food model sebagai

panduan dalam menentukan besar porsi makanan yang dikonsumsi

responden. Food model memudahkan responden untuk memperkirakan

besar, bentuk serta jumlah porsi makanan yang mereka makan. Hal

tersebut bertujuan untuk mengurangi bias dari kekuatan ingatan

responden.

Hasil dari Recall 24 jam segera diketik dan diolah dengan

menggunakan software yaitu Nutrisurvey 2007 (versi Indonesia).

Sehingga segera diperoleh jumlah zat gizi yang responden konsumsi lalu

hasil perhitungan asupan makan tersebut dibandingkan dengan kebutuhan

energi dan zat gizi sesuai standar diet DM masing-masing responden.

Selain itu, dilakukan analisis jenis makanan dengan membandingkan


51

standar jenis makanan apa saja yang diperbolehkan, dibatasi, dan

dihindari. Begitu pula jadwal makan dianalisis dengan membandingkan

waktu makan yang ada pada food recall 2x24 jam dengan standar jadwal

makan penderita DM tipe 2.

d. Data Aktivitas Fisik

Data tentang aktivitas fisik diperoleh melalui wawancara dengan

memberikan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ)

versi 2 dari WHO (2006) yang sudah tervalidasi di 9 negara berkembang

termasuk Indonesia dengan karakteristik penduduknya yaitu urban dan

rural dengan tingkat validitas (r = 0,48) (Cleland, et al, 2014) dan

reabilitas yang cukup besar yaitu 0,67-0,81 (Bull, Maslin, & Amstrong,

2009). Oleh sebab itu, kuesioner GPAQ pada penelitian ini sudah dapat

digunakan tanpa melalui tahap uji validitas dan reabilitas kembali.

GPAQ terdiri dari 16 pertanyaan dengan menggunakan kode E1

sampai dengan E16. Pertanyaan GPAQ terbagi dalam tiga domain yaitu

aktivitas saat bekerja, aktivitas dari satu tempat ke tempat lain, dan

aktivitas sedentari. MET digambarkan dengan satuan kg/kkal/jam. Cara

mengolah data ini mengunakan rumus total aktivitas fisik dalam MET

menit/minggu. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Total Aktivitas Fisik MET-menit/minggu = [(E2 x E3 x 8) + (E5 x E6 x 4) +

(E8 x E9 x 4) + (E11 x E12 x 8) + (E14 x E15 x 4)]

Hasil ukur dari variabel aktivitas fisik yaitu aktivitas ringan

(<600METs-menit/minggu), aktivitas sedang (600-1499 METs-

menit/minggu), dan aktivitas berat (≥1500 METs-min/minggu).


52

E. Pengolahan Data

1. Penyuntingan Data (Editing)

Pada tahap ini, dilakukan pemeriksaan akhir apakah masih ada data

yang belum dikode atau salah dalam memberi kode. Pemeriksaan

kelengkapan jawaban responden di akhir tahap wawancara pengambilan data

dalam pelaksanaan penelitian.

2. Pemasukan Data (Entry Data)

Pada tahap ini, data-data dimasukkan dalam program perangkat lunak

komputer. Data dari kuesioner dimasukkan dengan bantuan software

Ms.Excel dan SPSS, sedangkan data dari food recall 2x24 jam dimasukkan

dengan bantuan Nutrisurvey, Ms.Excel dan SPSS.

3. Pemberian Kode (Coding)

Tahap ini dilakukan dengan memberi kode angka pada jawaban

responden di dalam kuesioner untuk memudahkan proses pemasukan dan

pengolahan data. Tahap coding dilakukan pada jawaban kuesioner mengenai

kadar gula darah. Selain itu, penilaian aturan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal)

dan aktivitas fisik responden juga dilakukan coding. Berikut ini langkah

pengodean dari masing-masing variabel yang akan diteliti:

a. Variabel Dependen

1) Status Kadar Gula Darah

Penilaian status kadar gula darah dilihat dari rekam medis

hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu jika kadar gula darah

baik sebesar 80-144 mg/dL diberi kode “0”, jika kadar gula darah

sedang sebesar 145-199 mg/dL dan jika kadar gula darah buruk

sebesar ≥200 mg/ dL diberi kode “2”.


53

b. Variabel Independen

1) Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal)

Penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) dinilai dari hasil

form food recall 2x24 jam yang telah diolah dari Nutrisurvey 2007

dan dibandingkan dengan standar diet DM tipe 2, lalu hasil tersebut

dimasukkan kedalam Ms.Excel untuk melihat data responden secara

keseluruhan. Tahap terakhir adalah pemberian kode di program SPSS .

Masing-masing aspek dinilai dengan ketentuan yaitu jika baik diberi

kode “0” namun jika tidak baik maka diberi kode “1”.

Pada penerapan jumlah makanan, dikatakan baik jika

responden mengikuti aturan jumlah makanan sesuai standar diet

secara rata-rata dalam 2 hari recall yaitu karbohidrat 45-65% dari

kebutuhan energi, protein 10-20% dari kebutuhan energi, lemak 20-

25% dari kebutuhan energi, dan gula murni (sukrosa) <5% dari

kebutuhan energi. Untuk mendapatkan data kategori jumlah makanan,

data recall yang ada perlu diolah lebih lanjut.

Contoh: responden A di recall hari ke-1 kebutuhan yang didapat

adalah karbohidrat 132,9gr (50%), protein 40,3gr (15%), lemak 42gr

(35%), dan sukrosa 6,3gr (3,4%). Sedangkan, di recall hari ke-2

kebutuhan yang didapat adalah karbohidrat 63,9gr (75%), protein

13,9gr (16%), lemak 36gr (9%), dan sukrosa 15,2gr (5,07%).

Nilai antara recall hari ke-1 dan ke-2 kemudian dirata-ratakan,

lalu didapat hasil setiap kebutuhan zat gizi tersebut baik dalam

memenuhi kebutuhan energi dan diberikan kode “0”. Contoh entry


54

data untuk pengolahan jumlah makanan yang disajikan pada gambar

4.1:

Gambar 4.1 Contoh entry data food recall hari ke-1 dan ke-2

Gambar 4.2 Contoh entry & coding data rata-rata dari food recall 2x24 jam
55

Pada penerapan jenis makanan, dikatakan baik jika responden

menghindari untuk mengonsumsi jenis makanan sumber karbohidrat

sederhan, protein hewani tinggi lemak, makanan berkolesterol tinggi,

sumber lemak trans dan lemak jenuh. Untuk mendapatkan data

kategori jenis makanan, data recall yang ada perlu diolah lebih lanjut.

Dengan menggunakan contoh yang sama pada gambar 4.1 di

program nutrisurvey, terlihat beberapa macam makanan tetapi dalam

2 recall tersebut responden A mengkonsumsi minuman coca cola dan

penggunaan gula pasir yang merupakan jenis bahan makanan yang

dihindari yaitu sumber karbohidrat sederhana. Maka, responden A

dikatakan tidak baik dalam menerapkan jenis makanan dan diberikan

kode “1”.

Selain itu, penerapan jadwal makan dikatakan baik jika jadwal

makan responden sesuai dengan standar diet DM yaitu makan pagi

jam 06.30-07.30, selingan pagi jam 09.30-10.30, makan siang jam

12.30-13.30, selingan siang jam 15.30-16.30, makan malam jam

18.30-19.30, dan selingan malam jam 20.30-21.30. Untuk

mendapatkan data kategori jadwal makan, data recall yang ada perlu

diolah lebih lanjut.

Dengan menggunakan contoh yang sama pada gambar 4.1 di

program nutrisurvey, terlihat bahwa responden A tidak

mengkonsumsi makanan pada waktu selingan sore dan malam di

recall hari ke-1. Pada recall hari ke-2 responden A juga tidak

mengkonsumsi makanan pada waktu pagi dan malam. Maka,

responden A dikatakan tidak baik dalam menerapkan jadwal makan


56

dan diberikan kode “1”. Hal tersebut terjadi karena responden A tidak

menerapkan jadwal 3x makan utama dan 3x selingan sesuai standar

diet DM.

2) Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik akan dinilai dari hasil Global Physical Activity

Questionnaire (GPAQ) versi 2 dari rumus total aktivitas fisik. Nilai

tersebut dimasukkan kedalam Ms.Excel untuk melihat data responden

secara keseluruhan. Selanjutnya, dilakukan pemberian kode di

program SPSS. Jika responden memiliki aktivitas fisik ringan diberi

kode “0”, jika responden memiliki aktivitas fisik sedang diberi kode

“1”, dan jika responden memiliki aktivitas fisik berat diberi kode “2”.

Contoh responden A tidak melakukan aktivitas pada

pertanyaan E1 (kerja berat), E10 (olahraga berat seperti sepak bola

dan lari), dan E13 (olahraga sedang seperti bersepeda, berenang, voli)

dalam seminggu terakhir maka pada kolom pertanyaan waktu

dikosongkan. Tetapi responden A melakukan aktivitas pada

pertanyaan E4 yaitu bersih-bersih rumah (mengepel, menyapu,

menyeterika, dan mencuci baju) selama 3 hari dalam seminggu

terakhir dalam waktu 20 menit. Selain itu, responden A juga

melakukan aktivitas perjalanan dari tempat ke tempat pada pertanyaan

E7 yaitu dari rumah ke pasar dengan berjalan kaki selama 5 hari

dalam seminggu terakhir dalam waktu 1 jam 15 menit yang dijadikan

ke total menit menjadi 75 menit.

Setelah itu, hasil yang didapat dimasukkan ke rumus Total

Aktivitas Fisik MET-menit/minggu = [(E2 x E3 x 8) + (E5 x E6 x 4)


57

+ (E8 x E9 x 4) + (E11 x E12 x 8) + (E14 x E15 x 4)]. Karena

responden A hanya melakukan aktivitas pada pertanyaan E4 dan E7,

maka rumus yang dimasukkan adalah

(E5 x E6 x 4) + (E8 x E9 x 4)

(3 hari x 20 menit x 4)+(5 hari x 75 menit x 4)

216 + 1500 = 1716 METs-min/minggu

Nilai METs yang tertera adalah 1716 METs-min/minggu,

artinya responden A aktivitasnya merupakan aktivitas berat dengan

kode “2” karena total aktivitas fisiknya ≥1500 METs-min/minggu.

4. Pengoreksian Data (Cleaning Data)

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan kembali data yang telah

dimasukkan ke dalam software dan dilihat kelengkapan jawaban serta

kesalahan dalam pemberian kode. Tahap ini dilakukan agar tidak

mengganggu proses selanjutnya.

F. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan setiap variabel

yang akan diteliti. Pendeskripsian tersebut dapat dilihat pada gambaran

distribusi frekuensi dari variabel dependen (status kadar gula darah) dan

variabel independen (penerapan 3J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal)) dan aktivitas

fisik, masing-masing variabel ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat kemungkinan adanya

hubungan yang bermakna antara variabel dependen dengan variabel


58

independen. Analisis bivariat ini menggunakan uji chi square. Berikut rumus

chi-square:

X2 = Ʃ df = (b-1) (k-1)

Keterangan:

X2 = nilai chi-square

E = nilai harapan

O = nilai observasi

df = degree of freedom

b = jumlah baris

k = jumlah kolom

Untuk menguji kemaknaan digunakan nilai p-value dengan

menggunakan tingkat kemaknaan 5% dan derajat kepercayaan 95%. Sehingga

jika p-value ≤ 0,05 maka menunjukkan ada hubungan antara variabel

dependen dan variabel independen dan jika p-value > 0,05 maka

menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel dependen dan variabel

independen.
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Puskesmas Ciputat

Puskesmas Ciputat terletak ± 6 km Sebelah Utara Kota Tangerang Selatan.

Luas wilayah kecamatan ciputat kira-kira 13.330 Ha dengan sebagian besar berupa

tanah darat/kering (93,64%) sisanya adalah tanah rawa/danau. Puskesmas Ciputat

merupakan salah satu dari 3 puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Ciputat.

Letaknya berbatasan dengan:

1. Sebelah Utara : Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Sawah

2. Sebelah Selatan : Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang

3. Sebelah Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Benda Baru

4. Sebelah Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur

Puskesmas Ciputat terletak di Jalan Ki Hajar Dewantara No.7 Kelurahan

Ciputat, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten. Dibangun di

atas tanah seluas 693 m2 dengan luas bangunan lebih kurang 1200 m² terdiri dari 2

lantai. Kegiatan pelayanan di pusatkan di lantai 1 sedangkan lantai 2 difungsikan

sebagai ruang pimpinan, staff, data dan ruang rapat. Di lantai 2 juga terdapat ruang

pelayanan pengobatan TB paru, klinik sanitasi, klinik PTRM dan laboratorium.

Wilayah kerja Puskesmas Ciputat terdiri dari 2 kelurahan yaitu Kelurahan Ciputat

dan Kelurahan Cipayung.

Puskesmas Ciputat memiliki 7 pos pembinaan terpadu (Posbindu), dimana 2

posbindu berada di Kelurahan Ciputat dan 5 posbindu berada di Kelurahan

59
60

Cipayung. Posbindu tersebut berada dibawah tanggung jawab bidan desa yang dipilih

oleh kepala Puskesmas Ciputat. Berikut adalah nama-nama posbindu dan jadwal

pelaksanaan posbindu di wilayah kerja Puskesmas Ciputat:

Tabel 5.1

Nama Posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat

No Kelurahan Posbindu Jadwal Pelaksanaan

1 Salak Selasa, minggu ke-3

2 Kunir Putih Rabu, minggu ke-2

3 Cipayung Rambutan Rabu, minggu ke-3

4 Melati Jumat, minggu ke-3

5 Jeruk Kamis, minggu ke-1

6 Melon Kamis, minggu ke -2


Ciputat
7 Alpukat Senin, minggu ke-2

Sumber: Profil Puskesmas Ciputat Tahun 2015

Adapun beberapa kegiatan yang terdapat di setiap posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat yaitu kegiatan pengukuran BB dan TB; pemeriksaan tekanan

darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat; konseling/edukasi; dan pemberian obat.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara kerjasama antara bidan desa dari

Puskesmas Ciputat dan kader di setiap posbindu, dimana kader melakukan kegiatan

pengukuran BB dan TB serta pemberian edukasi.

Bidan desa yang bertugas merupakan lulusan D3 Kebidanan, dan terdiri dari

2 orang yang masing-masingnya ditempatkan di Kelurahan Ciputat dan Cipayung.

Sedangkan, kader yang melakukan kegiatan tersebut telah diberikan pelatihan dari

pihak Puskesmas Ciputat dan dilakukan evaluasi setiap adanya lokakarya mini

(lokmin) di Puskesmas Ciputat.


61

Penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat sebagian

besar bekerja sebagai ibu rumah tangga dan wiraswasta. Selain itu, karakteristik usia

responden beragam mulai dari dewasa, pra-lansia, dan lansia. Terlampir bahwa

responden termuda berumur 38 tahun dan paling tua berumur 78 tahun.

B. Hasil Analisis Univariat

1. Gambaran Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2

Gambaran distribusi status kadar gula darah pada penderita DM tipe 2

seperti yang terlihat pada tabel 5.2 berikut ini:

Tabel 5.2
Distribusi Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah
Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

Status Kadar Gula Darah Jumlah (n) Persen (%)


Baik (80-144 mg/ dL) 16 19,0
Sedang (145-199 mg/ dL) 31 36,9
Buruk (≥200 mg/ dL) 37 44,0
Total 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 37 (44,0%) diantaranya memiliki

status kadar gula darah yang buruk ≥200 mg/ dL.

2. Gambaran Penerapan Jumlah Makanan Penderita DM Tipe 2

Gambaran distribusi penerapan jumlah makanan pada penderita DM

tipe 2 seperti yang terlihat pada tabel 5.3 berikut ini:


62

Tabel 5.3
Distribusi Penerapan Jumlah Makanan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

Jumlah Makanan Jumlah (n) Persen (%)


Baik 34 40,5
Tidak Baik 50 59,5
Total 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 50 (59,5%) diantaranya memiliki

penerapan jumlah makanan yang tidak baik.

3. Gambaran Penerapan Jenis Makanan Penderita DM Tipe 2

Gambaran distribusi penerapan jenis makanan pada penderita DM tipe 2

seperti yang terlihat pada tabel 5.4 berikut ini:

Tabel 5. 4
Distribusi Penerapan Jenis Makanan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016
Jenis Makanan Jumlah (n) Persen (%)
Baik 30 40,5
Tidak Baik 54 64,3
Total 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 54 (64,3%) diantaranya memiliki

penerapan jenis makanan yang tidak baik.


63

4. Gambaran Penerapan Jadwal Makan Penderita DM Tipe 2

Gambaran distribusi penerapan jadwal makan pada penderita DM tipe 2

seperti yang terlihat pada tabel 5.5 berikut ini:

Tabel 5.5
Distribusi Penerapan Jadwal Makan Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah
Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

Jadwal Makan Jumlah (n) Persen (%)


Baik 8 9,5
Tidak Baik 76 90,5
Total 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 76 (90,5%) diantaranya memiliki

penerapan jadwal makan yang tidak baik.

5. Gambaran Aktivitas Fisik Penderita DM Tipe 2

Gambaran distribusi aktivitas fisik pada penderita DM tipe 2 seperti

yang terlihat pada tabel 5.6 berikut ini:

Tabel 5.6
Distribusi Aktivitas Fisik Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja
Puskesmas Ciputat Tahun 2016

Aktivitas Fisik Jumlah (n) Persen (%)


Kurang 10 11,9
Sedang 20 23,8
Berat 54 64,3
Total 84 100,0
64

Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 54 (64,3%) diantaranya memiliki

tingkat aktivitas fisik yang berat.

C. Hasil Analisis Bivariat

Pada penelitian ini, seluruh variabel dependen maupun independennya

marupakan variabel kategorik, sehingga uji hubungan antara masing-masing variabel

independen terhadap variabel dependennya menggunakan metode uji chi-square pada

alfa 5% dengan CI 95%. Berikut hasil analisis masing-masing variabel:

1. Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula

Darah

Hasil analisis antara penerapan jumlah makanan dengan status kadar

gula darah pada pederita DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini:

Tabel 5.7
Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah
Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun
2016

Penerapan Status Kadar Gula Total


Jumlah Darah P value
Makanan
Baik Sedang Buruk n %
n % n % n %
Baik 10 29,4 13 38,2 11 32,4 34 100,0 0,082
Tidak Baik 6 12,0 18 36,0 26 52,0 50 100,0
Total 16 19,0 31 36,9 37 44,0 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.7 di atas, diketahui bahwa dari 50 penderita DM tipe

2 terdapat 26 (52,0%) diantaranya tidak baik dalam menerapkan jumlah


65

makanan dengan status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 34

penderita DM tipe 2 terdapat 13 (38,2%) diantaranya baik dalam menerapkan

jumlah makanan dengan status kadar gula darah yang sedang. Dari hasil uji

statistik diperoleh nilai P-value = 0,082 (p<0,05) yang berarti tidak terdapat

hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.

2. Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Hasil analisis antara penerapan jenis makanan dengan status kadar gula

darah pada pederita DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini:

Tabel 5. 8
Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah
Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun
2016

Penerapan Status Kadar Gula Total P value


Jenis Darah
Makanan
Baik Sedang Buruk n %
n % n % n %
Baik 10 33,3 14 46,7 6 20,0 30 100,0 0,002
Tidak Baik 6 11,1 17 31,5 31 57,4 54 100,0
Total 16 19,0 31 36,9 37 44,0 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.8 di atas, diketahui bahwa dari 54 penderita DM tipe

2 terdapat 31 (57,4%) diantaranya tidak baik dalam menerapkan jenis

makanan dengan status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 30

penderita DM tipe 2 terdapat 14 (46,7%) diantaranya baik dalam menerapkan

jenis makanan dengan status kadar gula darah yang sedang. Dari hasil uji
66

statistik diperoleh nilai P-value = 0,002 (p<0,05) yang berarti terdapat

hubungan antara penerapan jenis makanan terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.

3. Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah

Hasil analisis antara penerapan jadwal makan dengan status kadar gula

darah pada pederita DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel 5.9 berikut ini:

Tabel 5.9
Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah
Penderita DM Tipe 2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun
2016

Penerapan Status Kadar Gula Total P value


Jadwal Darah
Makanan
Baik Sedang Buruk n %
n % n % n %
Baik 4 50,0 2 25,0 2 25,0 8 100,0 0,108
Tidak Baik 12 15,8 29 38,2 35 46,1 76 100,0
Total 16 19,0 31 36,9 37 44,0 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.9 di atas, diketahui bahwa dari 76 penderita DM tipe

2 terdapat 35 (46,1%) diantaranya tidak baik dalam menerapkan jadwal

makan dengan status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 8

penderita DM tipe 2 terdapat 4 (50,0%) diantaranya baik dalam menerapkan

jadwal makan dengan status kadar gula darah yang baik. Dari hasil uji

statistik diperoleh nilai P-value = 0,108 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat

hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.


67

4. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah

Hasil analisis antara aktivitas fisik dengan status kadar gula darah pada

pederita DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel 6.0 berikut ini:

Tabel 6.10
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe
2 di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Tahun 2016

Aktivitas Status Kadar Gula Total P value


Fisik Darah
Baik Sedang Buruk n %
n % n % n %
Ringan 0 0 5 50,0 5 50,0 10 100,0 0,075
Sedang 1 5,0 7 35,0 12 60,0 20 100,0
Berat 15 27,8 19 35,2 20 37,0 54 100,0
Total 16 19,0 31 36,9 37 44,0 84 100,0

Berdasarkan tabel 5.7 di atas, diketahui bahwa dari 54 penderita DM

tipe 2 terdapat 20 (37,0%) diantaranya tingkat aktivitas fisiknya berat dengan

status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 20 penderita DM tipe 2

terdapat 12 (60,0%) diantaranya tingkat aktivitas fisiknya sedang dengan

status kadar gula darah yang buruk. Dan dari 10 penderita DM tipe 2 sama-

sama terdapat 5 (50,0%) diantaranya tingkat aktivitas fisiknya ringan dengan

status kadar gula darah yang sedang dan buruk. Dari hasil uji statistik

diperoleh nilai P-value = 0,075 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan

antara penerapan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah pada

penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.


BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya adalah sebagai

berikut:

1. Penelitian ini berfokus pada penatalaksanaan DM tipe 2 yang terdiri dari diet,

aktivitas fisik, edukasi, dan terapi farmakologis. Tetapi pada penelitian ini,

tatalaksana edukasi dan farmakologis tidak diteliti, hanya dijadikan sebagai

variabel terkontrol dalam menentukan kriteria responden. Hal tersebut

dikarenakan dalam pelaksanaan skrining, variabel edukasi bersifat homogen

dan variabel farmakologis sebagai penentuan kriteria inklusi dan eksklusi

sampel.

2. Terapi farmakologis dijadikan penentu kriteria inklusi dan eksklusi sampel.

Pada variabel terkontrol dilihat siapa saja yang patuh dan tidak patuh dalam

meminum obat metformin yang diberikan bidan desa. Tetapi peneliti hanya

melihat jenis obat yang hanya diberikan bidan desa dari puskesmas tanpa

menanyakan lebih lanjut jenis obat anti diabetes lainnya yang mungkin

responden konsumsi. Pada akhirnya peneliti tidak mendapat persepsi dari

penderita DM tipe 2 mengenai terapi farmakologis lebih luas.

3. Terdapat over reported dari pihak puskesmas mengenai cut off status kadar

gula darah yang digunakan sehingga peneliti melakukan konfirmasi dan

perbaikan dalam menentukan cut off yang digunakan pada penelitian ini.

68
69

B. Gambaran Status Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2

Kadar gula darah adalah jumlah atau konsentrasi glukosa yang terdapat dalam

darah (Parker, 2004). Terkendalinya kadar gula darah yang baik dan optimal

diperlukan untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. Kadar gula darah

pada orang normal biasanya konstan, karena pengaturan metabolisme yang baik.

Akan tetapi pada penderita DM tipe 2 tidak dapat memproduksi insulin yang cukup

sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah atau

hiperglikemia (WHO, 2015).

Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 84 penderita DM tipe 2 di Posbindu

wilayah kerja Puskesmas Ciputat, 44,0% diantaranya memiliki status kadar gula

darah yang buruk ≥200 mg/ dL. Sedangkan 36,9% diantaranya memiliki status kadar

gula darah yang sedang dan hanya 19,0% yang memiliki status kadar gula darah

baik. Dari proporsi status kadar gula darah terlihat bahwa penderita DM tipe 2 yang

memiliki status kadar gula darah buruk (<200 mg/ dL) lebih tinggi, dimana

responden yang memiliki kadar gula darah tertinggi sebesar 337 mg/ dL (terlampir).

Penderita DM harus menyadari bahwa kadar gula darah yang selalu tinggi

dalam jangka panjang akan menimbulkan komplikasi atau penyakit penyulit pada

berbagai organ tubuh dengan risiko 2 kali lebih mudah pembuluh darah otak dapat

menyebabkan stroke dan pembuluh darah jantung menimbulkan penyakit jantung

koroner, 5 kali lebih mudah menderita ulkus/gangrene, 25 kali lebih mudah

pembuluh darah mata menimbulkan kebutaan, dan 7 kali lebih mudah pembuluh

darah ginjal menimbulkan gagal ginjal kronik (Waspadji, 2011).

Dalam mencapai status kadar gula darah yang baik, menurut PERKENI

(2011) penderita DM tipe 2 harus melakukan perubahan gaya hidup seperti diet

dengan menerapkan aturan 3J dan peningkatan aktivitas fisik. Pada penelitian ini,
70

banyaknya responden yang memiliki kadar gula darah sedang dan buruk dipengaruhi

oleh penatalaksanaan pengendalian kadar gula darah seperti diet dan aktivitas fisik

yang belum maksimal tetapi sebaliknya dengan yang memiliki kadar gula darah yang

baik. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi penatalaksanaan pengendalian

kadar gula darah menjadi tidak maksimal.

Menurut Suyono (2011), penderita DM terkadang menghiraukan pesan dari

adanya edukasi atau penyuluhan mengenai diet dan aktivitas fisik. Sehingga hal

tersebut merupakan hambatan bagi para petugas kesehatan karena sulit memotivasi

dan kurang adanya dukungan dari ligkungan sekitar. Pernyataan tersebut juga sejalan

dengan penelitian ini bahwa sebagian besar responden sebenarnya paham akan hal

apa saja yang harus dilakukan dan tidak dilakukan agar kadar gula darah tidak

meningkat, tetapi mereka sulit membiasakan diri melakukan kegiatan yang baru

karena kurangnya motivasi dan dukungan dari lingkungan sekitar.

C. Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 50 penderita DM tipe 2

terdapat 52,0% diantaranya tidak baik dalam menerapkan jumlah makanan dengan

status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 34 penderita DM tipe 2 terdapat

38,2% diantaranya baik dalam menerapkan jumlah makanan dengan status kadar

gula darah yang sedang.

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P-value=0,082 yang berarti tidak

terdapat hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status kadar gula

darah pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ardyana (2014) di Surakarta

dengan sampel 37 pasien penderita DM tipe 2 yang menunjukkan tidak adanya

hubungan antara ketepatan jumlah makanan dengan status kadar gula darah. Tidak
71

adanya hubungan tersebut mungkin disebabkan jumlah asupan makanan yang

dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan serta jenis diet DM masing-masing

subjek.

Menurut PERKENI (2011), jumlah makanan yang didefinisikan sebagai

banyaknya kalori dalam ukuran kkal perlu mempertimbangkan beberapa faktor,

diantaranya jenis kelamin, umur, aktivitas, dan status gizi. Pada akhirnya responden

dapat mengetahui aturan jumlah makanan sesuai standar diet yaitu karbohidrat 45-

65% dari kebutuhan energi, protein 10-20% dari kebutuhan energi, lemak 20-25%

dari kebutuhan energi, dan gula murni <5% dari kebutuhan energi.

Pada penelitian ini, sebagian besar responden belum menerapkan aturan

dalam batasan jumlah asupan karbohidrat, gula, dan lemak jenuh sehingga status

kadar gula darah mereka buruk. Menurut Almatsier (2009), jumlah kalori yang

dikonsumsi secara berlebihan akan meningkatkan kadar gula darah pasien.

Pengaturan jumlah karbohidrat dan gula penting karena merupakan determinan kadar

gula darah. Efek karbohidrat pada kadar gula darah sangatlah kompleks. Sumber-

sumber gula yang dimurnikan (sukrosa) akan diserap lebih cepat dibandingkan

dengan karbohidrat yang berasal dari pati atau makanan berserat seperti sereal atau

buah atau dari jenis karbohidrat kompleks. (Azrimaidaliza, 2009)

Connor et al. (2014) menyatakan bahwa konsumsi minuman manis seperti

minuman ringan susu, teh, kopi, minuman berpemanis, jus buah erat pengaruhnya

dengan peningkatan gula darah DM tipe 2. Hal itu sejalan dengan hasil penelitian ini

bahwa responden masih mengkonsumsi minuman ringan dan manis.

Selain itu, responden juga mengkonsumsi bahan santan, kelapa, minyak

kelapa yang merupakan lemak jenuh dalam jumlah yang melebihi batas < 7%.

Jumlah asupan lemak jenuh perlu dibatasi karena selain berkaitan dengan kadar gula
72

darah, kaitan lainnya adalah dari tujuan utama diet DM yaitu mencegah timbulnya

penyakit komplikasi diabetes seperti kardiovaskular (ADA, 2015). Lemak jenuh

merupakan determinan diet yang juga penting karena dapat menimbulkan risiko

kardiovaskuler. Tingginya risiko menderita penyakit kardiovaskuler pada pasien

diabetes dan kenyataan bahwaasupan lemak jenuh memberikan efek terhadap

metabolisme lemak (meningkatkan kolesterol LDL), resistensi insulin dan tekanan

darah. (Azrimaidaliza, 2009)

Masih banyaknya responden yang tidak baik dalam menerapkan jumlah

makanan dipengaruhi oleh adanya peningkatan rasa lapar atau yang disebut

polyphagia. Polyphagia ini menyebabkan penderita DM tipe 2 akan selalu merasa

lapar karena kalori yang dihasilkan dari makanan akan dimetabolisasikan menjadi

glukosa dalam darah dan tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan dalam tubuh (Subekti,

2011).

Disamping itu, responden yang baik dalam menerapkan jumlah makanan,

banyak yang memiliki status kadar gula darah sedang dan sebagian diantaranya

memiliki kadar gula darah yang baik . Hal ini tidak terlepas dari adanya edukasi yang

diberikan oleh bidan desa dan kader terlatih dalam memberikan anjuran makanan.

Dalam hal jumlah makanan, petugas menerangkan kepada responden terkait porsi

makanan serta URT yang dianjurkan dan tidak dianjurkan, yang berasal dari leaflet

penanganan DM. Hal ini menunjukkan bahwa jika penderita DM tipe 2 menerapkan

dengan baik jumlah makanan, maka status kadar gula darahnya akan terkontrol

dalam keadaan baik maupun sedang yang masih dapat di jaga.

D. Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Pemilihan jenis makanan yang tepat sangat penting bagi penderita DM tipe 2

karena berkaitan dengan kadar gula darah dan pencegahan penyakit komplikasi
73

diabetes (ADA, 2010). Penderita DM tipe 2 harus mengetahui dan memahami jenis

makanan apa yang boleh dimakan secara bebas, makanan yang mana harus dibatasi,

dan makanan apa yang harus dibatasi secara ketat (Waspadji, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 54 penderita DM tipe 2

terdapat 57,4% diantaranya tidak baik dalam menerapkan jenis makanan dengan

status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 30 penderita DM tipe 2 terdapat

46,7% diantaranya baik dalam menerapkan jenis makanan dengan status kadar gula

darah yang sedang.

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P-value=0,002 yang berarti terdapat

hubungan antara penerapan jenis makanan terhadap status kadar gula darah pada

penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Adanya

hubungan tersebut terlihat karena responden belum menghindari jenis makanan yaitu

sumber karbohidrat sederhana (gula pasir, gula jawa, madu, sirup, cake, permen,

minuman ringan, dan selai), makanan berkolesterol tinggi (kuning telur, jeroan,

lemak daging, otak, durian, susu full cream), sumber lemak trans (margarin), dan

asam lemak jenuh (mentega, santan, kelapa, keju krim, minyak kelapa, dan minyak

kelapa sawit).

Hal tersebut terjadi dikarenakan walaupun responden sudah mengetahui jenis

makanan yang harus dihindari, responden tetap mengonsumsi jenis bahan makanan

tersebut salah satunya gula pasir, santan, dan minyak kelapa sawit. Selain itu,

responden juga masih mengkonsumsi makanan yang seharusnya dihindari seperti

kue-kue manis, jeroan, dan minuman ringan seperti big cola.

Penyebab lain masih banyaknya responden yang tidak baik dalam

menerapkan jenis makanan yang akhirnya status kadar gula darah buruk adalah

karena responden tidak mengolah makanan dengan benar seperti menggoreng dengan
74

minyak goreng yang dipakai sampai beberapa kali. Menurut Sukardji (2009),

penderita DM tipe 2 mempunyai risiko tinggi untuk mendapatkan penyakit jantung

dan pembuluh darah, sehingga lemak dan kolesterol dalam makanan perlu dibatasi.

Kolesterol dalam jumlah yang banyak di dalam darah, dapat membentuk endapan

dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan yang dinamakan

aterosklerosis. Pengolahan makanan sebaiknya tidak terlalu banyak digoreng dan

tidak lebih dari satu lauk saja pada tiap kali makan.

Hasil penelitian ini sejalan oleh penelitian Verawati, dkk (2014) di Purworejo

dengan sampel 106 penderita DM tipe 2 yang menunjukkan bahwa ada hubungan

antara jenis makanan dengan status kadar gula darah. Selain itu, penelitian Toharin

(2015) di Batang Semarang dengan sampel 53 penderita DM tipe 2 juga

menunjukkan ada hubungan bermakna antara aturan jenis makanan dengan status

kadar gula darah. Dengan pola makan yang baik diharapkan akan dapat menurunkan

atau membantu menurunkan kadar gula darah dalam batas-batas normal (PERKENI,

2011). Hal tersebut menunjukkan jika penderita DM tipe 2 menerapkan dengan baik

jenis makanan yang akan dimakan, maka status kadar gula darahnya akan baik.

E. Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 76 penderita DM tipe 2

terdapat 46,1% diantaranya tidak baik dalam menerapkan jadwal makan dengan

status kadar gula darah yang buruk. Sedangkan dari 8 penderita DM tipe 2 terdapat 4

50,0% diantaranya baik dalam menerapkan jadwal makan dengan status kadar gula

darah yang baik.

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P-value=0,108 yang berarti tidak

terdapat hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Tidak


75

adanya hubungan tersebut bisa terjadi karena beberapa hal seperti responden belum

terbiasa dengan jadwal makan yang memiliki interval 3 jam dan jam yang sudah

ditentukan dari standar diet DM. Belum terbiasanya responden dengan jadwal makan

standar diet DM dikarenakan responden memiliki kesibukan pekerjaan atau aktivitas

lain seperti mengantar anak ke sekolah, melakukan aktivitas rumah tangga, dan

melakukan persiapan seperti menjual makanan dan pekerjaan lainnya. Selain itu,

mayoritas responden menghindari makan malam dan selingan. Dan pada pelaksanaan

edukasi, petugas tidak terlalu terfokus pada aturan jadwal makan yang sudah tersedia

di leaflet DM tipe 2 karena lebih memberikan edukasi terkait jumlah dan jenis

makanan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Putro (2012) di Kediri Jawa

Timur dengan sampel 60 penderita DM tipe 2 yang menunjukkan tidak adanya

hubungan diet tepat jadwal makan terhadap status kadar gula darah. Selain itu,

penelitian Idris (2014) di Batua Raya Makassar dengan sampel 46 penderita DM tipe

2 juga menunjukkan tidak adanya hubungan antara jadwal makan terhadap status

kadar gula darah.

Menurut Waspadji (2007) pasien DM makan sesuai jadwal, yaitu 3 kali

makan utama, 3 kali makan selingan dengan interval waktu 3 jam yang bertujuan

untuk mempertahankan status kadar gula darah yang baik. Pada penelitian

eksperimen Jakubowicz (2015) di Tel Aviv Israel dengan sampel 22 penderita DM

tipe 2 yang sudah mengidap diabetes selama kurang lebih 10 tahun diikutsertakan

untuk mengkonsumsi makanan besar atau utama pada sarapan pagi jam 08.00, makan

siang jam 13.00, dan makan malam jam 19.00 yang sesuai dengan kebutuhan energi

responden dan hasilnya responden yang mengikuti anjuran pada jam-jam tersebut

maka gula darah akan mengalami penurunan sebesar 10%.


76

Pengaturan jadwal makan sangatlah penting bagi penderita DM tipe 2 karena

dengan membagi waktu makan menjadi porsi kecil tetapi sering, karbohidrat dicerna

dan diserap secara lebih lambat dan stabil. Selain itu, kebutuhan insulin pun menjadi

lebih rendah dan sensitivitas insulin menjadi meningkat sehingga metabolisme tubuh

dapat berjalan dengan lebih baik (Waspadji, 2007).

Menurut PERKENI (2011) dan Waspadji (2011) membagi makanan menjadi

beberapa porsi kecil dengan frekuensi lebih sering pada makan besar dan selingan

lebih efektif untuk menjaga gula darah terus berada dalam batas normal. Jika

semakin jauh jarak antara makan pertama dengan makan kedua atau antara

mengudap selingan, maka semakin besar makan yang diminta (Magee, 2014).

Jadi, dapat dikatakan bahwa pada penelitian ini responden lebih

mengkonsumsi makanan pada waktu makan besar dibandingkan dengan selingan.

Sehingga kemungkinan untuk menerapkan jadwal makan 3 kali makan dan 3 kali

selingan lebih sulit karena kebiasaan dan kesibukan responden.

F. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 54 penderita DM tipe 2

terdapat 37,0% diantaranya tingkat aktivitas fisiknya berat dengan status kadar gula

darah yang buruk. Sedangkan dari 20 penderita DM tipe 2 terdapat 60,0%

diantaranya tingkat aktivitas fisiknya sedang dengan status kadar gula darah yang

buruk. Dan dari 10 penderita DM tipe 2 sama-sama terdapat 50,0% diantaranya

tingkat aktivitas fisiknya ringan dengan status kadar gula darah yang sedang dan

buruk.

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P-value=0,075 yang berarti tidak

terdapat hubungan antara penerapan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah

pada penderita DM tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Tidak


77

adanya hubungan tersebut bisa terjadi karena responden yang memiliki tingkat

aktivitas berat sebagian besar masih memiliki status kadar gula darah yang buruk.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Qadrianty,et.al (2006) yang juga

menggunakan kuesioner GPAQ di Puskesmas Kota Makassar dengan sampel 36

penderita DM tipe 2 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat aktivitas

fisik dengan kadar gula darah penderita DM tipe 2 (p=0,655). Menurut

Qadrianty,et.al (2006) hal tersebut terjadi karena sebanyak 76,2% responden yang

memiliki aktivitas fisik tinggi justru memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Pada penderita DM tipe 2, aktivitas fisik juga berperan utama dalam

pengaturan kadar gula darah (Ilyas, 2011). Pernyataan tersebut sejalan dengan

Mahan dan Stump (2008) yang memaparkan bahwa aktivitas fisik juga dapat

meningkatkan aktivitas termogenesis dan proses metabolisme tubuh dalam

menghasilkan energi, termasuk metabolisme glukosa. Aktivitas fisik secara teratur

pada penderita DM tipe 2 dapat meningkatkan sensitivitas insulin yang

mempengaruhi kadar gula darah menjadi terkontrol (ADA, 2015). Pada akhirnya,

glukosa yang ada di dalam darah akan dimobilisasi ke dalam sel untuk

sintesis energi.

Aktivitas fisik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah aktivitas yang

mencakup semua olahraga, semua gerakan tubuh, semua pekerjaan, rekreasi,

kegiatan sehari-hari, dan kegiatan pada waktu senggang (WHO, 2006). Berdasarkan

hasil pengukuran aktivitas fisik menggunakan GPAQ, diketahui bahwa jenis aktivitas

yang umumnya dilakukan responden adalah berjalan kaki yang merupakan jenis

ketahanan (endurance) yang dapat membantu jantung, paru-paru, otot, dan sirkulasi

darah agar tetap sehat dan bertenaga (Fatmah, 2010).


78

Adapun selain aktivitas berjalan kaki, responden juga melakukan aktivitas

fisik jenis kelenturan (flexibility) yang menurut Fatmah (2010) dapat membantu

pergerakan menjadi lebih mudah, mempertahankan otot tubuh, dan membuat sendi

berfungsi dengan baik yakni dengan melakukan kegiatan sehari-hari seperti mencuci

baju, menyetrika baju, mengepel lantai. Selain itu, aktivitas fisik jenis kekuatan

(strength) yang sering dilakukan responden adalah membawa belanjaan dan sebagian

kecil mengikuti senam. Maka dari itu, lebih dari sebagian responden 54 (64,3%)

memiliki tingkat aktivitas fisik berat.

Menurut Sudarsono (2015) terdapat penelitian di Kanada tentang hal yang

mempengaruhi penderita DM tipe 2 untuk melakukan aktivitas fisik diantaranya

dipengaruhi oleh faktor utama persepsi seseorang terhadap mudah tidaknya

melaksanakan aktivitas fisik secara teratur. Studi tersebut menyatakan bahwa

intervensi harus difokuskan pada upaya mengatasi hambatan dalam melakukan

aktivitas fisik secara teratur seperti masalah keuangan, kesehatan, waktu, akses, dan

jam kerja.

Oleh karena itu, sebaiknya dalam upaya meningkatkan aktivitas fisik perlu

dilakukan peningkatan motivasi, misalnya melalui kegiatan berbagi pengalaman

dengan penderita DM tipe 2 yang melakukan aktivitas fisik teratur dan berhasil

mengendalikan kadar glukosa darah.


BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang penerapan 3J (Jumlah, Jenis,

dan Jadwal) dan aktivitas fisik terhadap status kadar gula darah pada penderita DM

tipe 2 di posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016 didapatkan

kesimpulan sebagai berikut:

1. Gambaran status kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di

Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat tahun 2016 lebih banyak yang buru

(≥200 mg/ dL).

2. Penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat

tahun 2016 lebih banyak yang tidak baik dalam menerapkan jumlah makanan.

3. Penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat

tahun 2016 lebih banyak yang tidak baik dalam menerapkan jenis makanan.

4. Penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat

tahun 2016 paling banyak yang tidak baik dalam menerapkan jadwal makan.

5. Penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ciputat

tahun 2016 lebih banyak yang menerapkan aktivitas fisik dengan kategori berat.

6. Tidak ada hubungan antara penerapan jumlah makanan terhadap status kadar

gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

79
80

7. Ada hubungan bermakna antara penerapan jenis makanan terhadap status kadar

gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

8. Tidak ada hubungan antara penerapan jadwal makan terhadap status kadar gula

darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

9. Tidak ada hubungan antara penerapan aktivitas fisik terhadap status kadar gula

darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Posbindu wilayah kerja

Puskesmas Ciputat tahun 2016.

B. SARAN

1. Bagi Puskesmas Ciputat

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam melakukan

perbaikan sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat

pada program pencegahan penyakit tidak menular di posbindu, klinik gizi dan

pelayanan umum.

b. Meningkatkan peran Posbindu di Kelurahan Ciputat dan Cipayung dalam

memotivasi masyarakat terutama penderita DM tipe 2 agar menerapkan

penatalaksanaan DM tipe 2. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara

penambahan sesi berbagi pengalaman antara pasien yang berhasil

menerapkan diet dan aktivitas fisik kepada pasien yang akan dan sedang

menjalani penatalaksanaan tersebut saat jadwal posbindu berlangsung,

penyebaran pamflet dan poster saat edukasi di posbindu atau saat kegiatan

jalan santai dan senam.


81

c. Meningkatkan monitoring dan evaluasi berkala pada kader posbindu. Upaya

tersebut dapat dilakukan saat adanya kegiatan lokakarya mini (lokmin) di

Puskesmas.

2. Bagi Peneliti Lain

a. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat menyertakan variabel penatalaksanaan

yang tidak diteliti pada penelitian ini, seperti edukasi dan terapi farmakologis.

b. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode eksperimental

sehingga dapat melihat 4 pilar penatalaksanaan diabetes akan berpengaruh

atau tidak berpengaruh terhadap kadar gula darah.


DAFTAR PUSTAKA

Aguiar, E.J. et al., 2014. Efficacy of interventions that include diet , aerobic and

resistance training components for type 2 diabetes prevention : a systematic

review with meta-analysis. International Journal of Behavioral Nutrition and

Physical Activity, vol.11(2), pp.1–10.

Ajala, O., English, P. & Pinkney, J., 2013. Systematic review and meta-analysis of

different dietary approaches to the management of type 2 diabetes. The

American Journal of Clinical Nutrition, vol.97(16), pp.505–516.

Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

American Diabetes Association (ADA). 2010. Diagnosis and Classification of

Diabetes Mellitus. Diabetes Care Journals, vol.35 (1), pp.564-571.

American Diabetes Association (ADA). 2015. Standards of Medical Care in

Diabetes-2015. Diabetes Care: The Journal of Clinical and Applied Research

and Education, vol.38 (1)

Amtiria, HJ. Rahma. 2016. Hubungan Pola Makan dengan Kadar Gula Darah

Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Poli Penyakit Dalam RSUD DR. H. Abdul

Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Skripsi pada Program Studi

Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung.

Anani, S., Udiyono, A. & Ginanjar, P., 2012. Hubungan Antara Perilaku

Pengendalian Diabetes dan Kadar Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan

Diabetes Melitus (Studi Kasus di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon).

Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(2), pp.466–478.

Ardyana , Della. 2014. Hubungan Pola Makan dengan Status Glukosa Darah Puasa

Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan di Rumah Sakit PKU

82
83

Muhammadiyah Surakarta. Skripsi pada Program Studi Diploma III Gizi,

Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Azrimaidaliza, 2009. Asupan Zat Gizi dan Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal

Kesehatan Masyarakat, 6(1), pp.36–41.

Beck, Mary E. 2011. Ilmu Gizi dan Diet: Hubungannya dengan Penyakit-Penyakit

(untuk Perawat dan Dokter). Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica

Brunner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Bull, F.C., Maslin, T.S. & Armstrong, T. 2009. Global Physical Activity

Questionnaire (GPAQ) : Nine Country Reliability and Validity Study.

Journal of Physical Activity and Health, vol.6, pp.790–804.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention). 2014. National Diabetes

Statistics Report 2014 Fact Sheet.

Cleland, C.L. et al., 2014. Validity of the Global Physical Activity Questionnaire

(GPAQ) in assessing levels and change in moderate-vigorous physical

activity and sedentary behaviour. BMC Public Health, vol.14(1225), pp.1–11.

Connor, L.O. et al., 2015. Prospective Associations And Population Impact Of Sweet

Beverage Intake and Type 2 Diabetes, and Effects Of Substitutions With

Alternative Beverages. Diabetologia, 58(7), pp.1474–1483. doi:

10.1007/s00125-015-3572-1

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. 2014. Profil Penyakit Menular dan Tidak

Menular. Kota Tangerang Selatan.

Dorlan, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland: Edisi 29. Jakarta: EGC

Dworatzek, P.D. et al., 2013. Nutrition Therapy Canadian Diabetes Association

Clinical Practice Guidelines Expert Committee. Canadian Journal of


84

Diabetes, 37, pp.S45–S55. Available at:

http://dx.doi.org/10.1016/j.jcjd.2013.01.019.

Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Jakarta: Erlangga Medical Series

Gibson, R.S., 2005. Principles of Nutritional Assessment. Oxford University Press.

Holt, Tim & Kumar, Sudhesh. 2010. ABC Of Diabetes: Sixth Ediiton. West Sussex:

Wiley-Blackwell, A John Wiley & Sons

Idris, Andi Mardhiyah. 2014. Hubungan Pola Makan dengan Kadar Gula Darah

pada Pasien Rawat Jalan DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Kota

Makassar Tahun 2014. Skripsi pada Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas

Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makassar.

Ilyas, Ermita. 2011. Latihan Jasmani bagi Penyandang Diabetes Mellitus dalam:

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FK UI

Indriyani, P., Supriyatno, H. & Santoso, A., 2007. Pengaruh Latihan Fisik ; Senam

Aerobik Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderita Dm Tipe 2.

Media Ners, vol.1(2), pp.89–99.

International Diabetes Federation. 2012. Global Guideline for Type 2 Diabetes,

Belgium: International Diabetes Federation

International Diabetes Federation (IDF). 2015. IDF Diabetes Atlas: Seventh Edition.

Belgium: International Diabetes Federation

Kemenkes RI. 2012. Petunjuk Teknis Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak

Menular (Posbindu PTM). Jakarta: Kemenkes RI

Kemenkes RI. 2013. Diabetes Mellitus Penyebab Kematian Nomor 6 Di Dunia:

Kemenkes Tawarkan Solusi CERDIK Melalui Posbindu. Artikel tersedia pada

http://www.depkes.go.id/article/view/2383/diabetes-melitus-penyebab-kematian-
85

nomor-6-di-dunia-kemenkes-tawarkan-solusi-cerdik-melalui-posbindu.html 22

Januari 2016

Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2013. Jakarta:

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

Kurniawati, D,. 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengontrolan

Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Mellitus Rawat Jalan Rumah Sakit

Bhakti Wira Tamtama Semarang. Skripsi pada Universitas Negeri Semarang

Lestari, Tri Suci. 2012. Hubungan Psikososial dan Penyuluhan Gizi dengan

Kepatuhan Diet Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSUP

Fatmawati Tahun 2012. Skripsi pada Program Studi Gizi, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesia.

Lubis, Heni Sholatya. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kadar Gula Darah

Terkontrol pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Kerja

Puskesmas Kranggan. Skripsi pada Program Studi Kesehatan Masyarakat

FKIK UIN Jakarta

Magee, Elaine. 2014. Nutrisi Sehat Bagi Penderita Diabetes. Solo: Tiga Serangkai

Mahan LK, Stump SE. 2008. Krause's Food & Nutrition Therapy 12 th edition.

United State of America(US) : Saunders Elsevier.

Morris, S.F. et al., 2010. Medical Nutrition Therapy : A Key to Diabetes

Management and Prevention. Clinical Diabetes, vol.28 (1), pp.12–18.

Muliani, Usdeka. 2013. Asupan Zat-zat Gizi dan Kadar Gula Darah Penderita DM

Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi

Lampung. Jurnal Gizi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, vol.4 (2), pp.

325-332
86

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease (NIDDK). 2008.

Prevent Diabetes Problems: Keep Your Diabetes Under Control. Bethesda:

National Institute of Diabetes and Digestive.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka

Cipta

Norris, S.L. et al., 2004. Long-term Effectiveness of Lifestyle and Behavioral Weight

Loss Interventions in Adults with Type 2 Diabetes : A Meta-analysis.

Elsevier, vol.117(8), pp.762–774.

Parker, James N, et al. 2004. Blood Glucose. United States of America: ICON Group

International

PERKENI. 2011. Konsensus Pengendalian Dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe

2 Di Indonesia 2011. Jakarta: PERKENI

Putro, P.J.S. & Suprihatin, 2012. Pola Diit Tepat Jumlah, Jadwal, dan Jenis Terhadap

Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal STIKES, 5(1),

pp.71–81.

Qadrianty, S., Hadju, V. & Jafar, N., 2006. Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dan

Tingkat Kepatuhan Minum Oho (Obat Hipoglikemik Oral) Dengan Kadar

Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Rawat Jalan Di

Puskesmas Kota Makassar. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas

Hasanuddin.

Sarafino, Edward P. & Timothy W.Smith. 2011. Health Psychology:

Biopsychosocial Interactions. United States of America: John Wiley&Sons,

Inc

Smeltzer, et al. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
87

Soegondo, dkk. 2011. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai

Penerbit FK UI

Subekti, Imam. 2011. Apa itu Diabetes: Patofisiologi, Gejala dan Tanda? Dalam

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FK UI

Sudarsono, N.C., 2015. Indikator Keberhasilan Pengelolaan Aktivitas Fisik pada

Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2. eJournal Kedokteran Indonesia, 3(1),

pp.70–76.

Suhaema, dkk,. 2010. Pengendalian Status Gizi, Kadar Glukosa Darah, Tekanan

Darah Melalui Terapi Gizi Medis pada Pasien Diabetes Melitus (DM) tipe 2

Rawat Jalan di RSU Mataram NTB. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, vol.7 (2),

pp.48-57

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

Suparmin, Siskawati. 2010. Beda Kadar Glukosa Darah Pada Pria Perokok dan

Bukan Perokok Tembakau Usia 20-60 Tahun di Salemba Tahun 2009-2010.

Skripsi pada Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

Sukardji, Kartini. 2011. Penatalaksanaan Gizi pada Diabetes Mellitus dalam:

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FK UI

Suyono, Slamet. 2011. Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes

Mellitus dalam: Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai

Penerbit FK UI

Teh, C.H. et al., 2015. Association of physical activity with blood pressure and blood

glucose among Malaysian adults : a population-based study. BMC Public

Health, vol.15(1205), pp.1–7

Toharin, Syamsi, dkk. 2015. Hubungan Modifikasi Gaya Hidup dan Kepatuhan

Konsumsi Obat Antidiabetik dengan Kadar Gula Darah pada Penderita


88

Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Qim Batang Tahun 2013. Unnes Journal of

Public Health, vol.4 (2), pp. 153-161

UPT Puskesmas Ciputat. 2015. Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Puskesmas

Ciputat. Kota Tangerang Selatan

UPT Puskesmas Ciputat. 2015. Profil Puskesmas Ciputat Tahun 2015. Kota

Tangerang Selatan

Verawati, R.R., Hadi, H. & Aprilia, V. 2014. Pola Makan Berhubungan dengan

Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus di Instalasi Rawat Inap RSUD

Saras Husada Purworejo. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia, vol.2 (2), pp.

74-79.

Waspadji, Sarwono. 2011. Diabetes Mellitus: Mekanisme Dasar dan

Pengelolaannya yang Rasional dalam: Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FK UI

Waspadji, Sarwono. 2007. Pedoman Diet Diabetes Mellitus. Jakarta: FK UI

Weitgasser, R. et al., 2007. New , small , fast acting blood glucose meters – an

analytical laboratory evaluation. Swiss Med Weekly, 137, pp.536–540.

WHO. 2003. Adherence to Long Term Therapies: Evidence for Action. Switzerland:

WHO

WHO. 2015. Diabetes Mellitus. Fact sheet pada

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs138/en/ diakses pada 20 Januari

2016

WHO. 2010. Global Recommendation on Physical Activity For Health, Switzerland:

WHO Press.

WHO. 2006. Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) Analysis Guide.

Switzerland: WHO
LAMPIRAN
Lampiran 1

LEMBAR SKRINING VARIABEL TERKONTROL

EDUKASI DAN TERAPI FARMAKALOGIS

A. EDUKASI

Lembar Observasi

Frekuensi/Jadwal

Konten/Materi

Pemberi Edukasi

B. TERAPI FARMAKOLOGIS

No. Pertanyaan Jawaban (diisi oleh


peneliti)
B1 Apakah Bapak/Ibu meminum obat sesuai 0. Ya
anjuran jadwal dari petugas kesehatan? 1. Tidak
B2 Apakah Bapak/Ibu meminum obat sesuai 0. Ya
dengan dosis yang dianjurkan petugas 1. Tidak
kesehatan?
B3 Apakah Bapak/Ibu menghabiskan obat yang 0. Ya
diberikan oleh petugas kesehatan? 1. Tidak
Lampiran 2

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Bapak/Ibu, Saya Cesil Magdalena mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, sedang

melakukan penelitian skripsi saya dengan judul “HUBUNGAN PENERAPAN 3J

(JUMLAH, JENIS, DAN JADWAL) DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP

KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI POSBINDU

WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPUTAT TAHUN 2016”. Berkaitan dengan

judul tersebut, saya sangat mengharapkan Bapak/Ibu untuk dapat menjadi responden

saya dan bersedia dalam pengisian kuesioner, food recall 2x24 jam, dan

memperbolehkan saya untuk melihat kadar gula darah dalam data rekam medis

Posbindu Puskesmas Ciputat.

Kerahasiaan informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya untuk

kepentingan penelitian. Jika Bapak/Ibu tidak bersedia menjadi responden, maka tidak

ada ancaman bagi anda. Dan apabila Bapak/Ibu menyetujui, maka saya mohon

kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Jakarta, 2016

Peneliti

CESIL MAGDALENA
Lampiran 3

FORMULIR INFORMED CONSENT

Dengan ini saya,

Nama :

Jenis Kelamin : P/L

Usia :

Alamat :

No. Telp/HP :

Menyatakan bersedia mengikuti kegiatan penelitian ini dengan ketentuan apabila ada

hal-hal yang tidak berkenan pada Saya, maka Saya berhak mengajukan pengunduran

diri dari kegiatan penelitian ini.

Jakarta, 2016

Responden

(…………………………..)
Lampiran 4

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI:

HUBUNGAN PENERAPAN 3J (JUMLAH, JENIS, DAN JADWAL) DAN

AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA

PENDERITA DM TIPE 2 DI POSBINDU WILAYAH KERJA

PUSKESMAS CIPUTAT TAHUN 2016

A. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Petunjuk: Isilah data di bawah ini pada kolom jawaban dan untuk jawaban

pilihan lingkari pada salah satu nomor jawaban yang sesuai.

No. Identitas Jawaban (diisi oleh


peneliti)
A1 Nomor Responden
A2 Nama Responden
A3 Usia tahun
A4 Jenis Kelamin 0. Laki-laki
1. Perempuan
A5 Pendidikan Terakhir 0. Tidak sekolah
1. Tidak lulus SD/sederajat
2. Lulus SD/sederajat
3. Lulus SMP/sederajat
4. Lulus SMA/sederajat
5. Lulus Diploma/perguruan
tinggi
A6 Pekerjaan

B. KADAR GULA DARAH

No. Kadar Gula Darah (diisi oleh peneliti)

............. mg/ dL
C. FORM FOOD RECALL 2X24 JAM

Petunjuk: Semua jenis makanan yang dikonsumsi Bapak/Ibu berikut waktu


makan dan ukuran jumlahnya (dalam berat/gram atau ukuran rumah tangga)
selama 2x24 jam yang lalu.

Hari/Tanggal yang direcall:

Waktu Makanan Bahan Makanan Ukuran


(deskripsi detail dan URT Berat (gr)
merk jika ada)
PAGI
Pukul:

SELINGAN
PAGI
Pukul:
SIANG
Pukul:

SELINGAN
SORE
Pukul:
SORE/MALAM
Pukul:

SELINGAN
MALAM
Pukul:
TOTAL
D. FORM ANALISIS PENERAPAN 3J (JUMLAH, JENIS, DAN JADWAL)
D1. Jumlah Makanan
Analisis Kode
0. Baik [ ]
1. Tidak baik

D2. Jenis Makanan


Analisis Kode
0. Baik [ ]
1. Tidak baik

D3. Jadwal Makan


Analisis Kode
0. Baik [ ]
1. Tidak baik
E. Global Physically Activity Questionnaire

Aktivitas saat Bekerja Kode


(Aktivitas termasuk kegiatan belajar, latihan, aktivitas rumah tangga,dll) (diisi oleh
peneliti)
E1. Apakah pekerjaan sehari-hari anda memerlukan kerja berat
(seperti membawa atau mengangkat beban berat, menggali atau [ ]
pekerjaan konstruksi lain) minimal 10 menit per hari?
a) Ya,
b) Tidak (lanjut ke pertanyaan no.E4)
E2 Berapa hari dalam seminggu anda melakukan aktivitas berat? [ ]
______ hari
E3. Berapa lama dalam sehari biasanya anda melakukan kerja berat ? [ ]
(a)_____ jam (b)_____ menit
E4. Apakah aktivitas sehari-hari anda termasuk aktivitas sedang [ ]
(seperti membawa atau mengangkat beban yang ringan)?
a) Ya,
b) Tidak (lanjut ke pertanyaan no.E7)
E5. Berapa hari dalam seminggu anda melakukan aktivitas sedang? [ ]
______ hari
E6. Berapa lama dalam sehari biasanya anda melakukan aktivitas [ ]
sedang? (a)_____ jam (b)_____ menit
Aktivitas Perjalanan Dari Tempat Ke Tempat
(Perjalanan ke tempat aktivitas, berbelanja, beribadah, dll)
E7 Apakah anda berjalan kaki atau bersepeda minimal 10 menit [ ]
setiap harinya untuk pergi ke suatu tempat?
a) Ya,
b) Tidak (lanjut ke pertanyaan no.E10)
E8. Berapa hari dalam seminggu anda berjalan kaki atau bersepeda [ ]
(minimal 10 menit) untuk pergi suatu tempat? ______ hari
E9. Berapa lama dalam sehari biasanya anda berjalan kaki atau [ ]
bersepeda untuk pergi ke suatu tempat?
(a)_____ jam (b)_____ menit
Aktivitas Rekreasi
(Olahraga, fitness, dan rekreasi lainnya)
E10. Apakah anda melakukan olahraga, fitness, atau rekreasi yang [ ]
merupakan aktivitas berat (lari atau sepak bola) minimal 10
menit per hari?
a) Ya,
b) Tidak (lanjut ke pertanyaan no.E13)
E11. Berapa hari dalam seminggu anda melakukan olahraga, fitness [ ]
atau rekreasi yang merupakan aktivitas berat? ______ hari
E12. Berapa lama dalam sehari anda melakukan olahraga, fitness atau [ ]
kegiatan rekreasi yang merupakan aktivitas berat? (a)_____ jam
(b)_____ menit
E13. Apakah anda melakukan olahraga, fitness, atau rekreasi yang [ ]
merupakan aktivitas sedang (bersepeda, berenang, voli) minimal
10 menit per hari?
c) Ya,
d) Tidak (lanjut ke pertanyaan no.E16)
E14. Berapa hari dalam seminggu anda melakukan olahraga, fitness [ ]
atau rekreasi yang merupakan aktivitas sedang? _____ hari
E15. Berapa lama dalam sehari anda melakukan olahraga, fitness atau [ ]
rekreasi yang merupakan aktivitas sedang? (a)_____ jam
(b)_____ menit
Perilaku Sedenter
(Aktivitas yang tidak memerlukan banyak gerak seperti duduk saat bekerja,
duduk saat di kendaraan, menonton televisi, atau berbaring, kecuali tidur)
E16. Berapa lama anda duduk atau berbaring dalam sehari? [ ]
(a)….. jam (b)…… menit.
F. ANALISIS Global Physically Activity Questionnaire (GPAQ)

Total Aktivitas Fisik MET-menit/minggu Kode


(diisi oleh
peneliti)
[(E2 x E3 x 8) + (E5 x E6 x 4) + (E8 x E9 x 4) + (E11 x E12 x 8) +
(E14 x E15 x 4)] = ……….
Lampiran 5

GPAQ GENERIC SHOW CARD


STANDAR PENGATURAN JENIS MAKANAN DIET
DIABETES MELLITUS

A. JENIS BAHAN MAKANAN YANG DIANJURKAN


- Sumber protein hewani : daging kurus, ayam tanpa kulit, ikan dan putih telur
- Sumber protein nabati : tempe, tahu, kacang-kacangan (kacang ijo, kacang
merah, kacang kedele)
- Sayuran yang bebas dikonsumsi (sayuran A) : oyong, ketimun, labu air,
lobak, selada air, jamur kuping, dan tomat
- Buah-buahan : jeruk siam, apel, papaya, melon, jambu air, salak, semangka,
belimbing
- Susu rendah lemak atau susu skim
B. JENIS BAHAN MAKANAN YANG DIPERBOLEHKAN TETAPI
DIBATASI
- Sumber karbohidrat kompleks : padi-padian (beras, jagung, gandum), umbi-
umbian (singkong, ubi jalar, kentang), dan sagu
- Sayuran tinggi karbohidrat : buncis, kacang panjang, wortel, kacang kapri,
daun singkong, bayam, daun katuk, daun papaya, melinjo, nangka muda, dan
tauge
- Buah-buahan tinggi kalori: nanas, anggur, manga, sirsak, pisang, alpukat,
sawo
C. JENIS BAHAN MAKANAN YANG HARUS DIHINDARI
- Sumber karbohidrat sederhana : gula pasir, gula jawa, batu, madu, sirup,
cake, permen, minuman ringan, selai
- Makanan mengandung asam lemak jenuh: mentega, santan, kelapa, keju
krim, minyak kelapa, dan minyak kelapa sawit
- Makanan mengandung lemak trans: margarin
- Makanan mengandung kolesterol tinggi: kuning telur, jeroan, lemak daging,
otak, durian, susu full cream
- Makanan mengandung natrium tinggi: makanan berpengawet, ikan asin, telur
asin, abon, kecap
STANDAR PENGATURAN JADWAL MAKAN DALAM SEHARI
DIET DIABETES MELLITUS

Jenis Makan Waktu


Makan Pagi 06.30 – 07.30 WIB
Selingan 09.30 – 10.30 WIB
Makan Siang 12.30 – 13.30 WIB
Selingan 15.30 – 16.30 WIB
Makan Sore/Malam 18.30 – 19.30 WIB
Selingan 20.30 - 21.30 WIB
Lampiran 6

DATA JUMLAH PASIEN DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS


CIPUTAT BULAN JANUARI S/D DESEMBER 2015

1000

100

Jumlah Pasien

10

1
es er
ri

ov e r
et
Fe ri

r
ei
ril

s
ni

Ag l i

be

be
Ju

Se stu
ua
a

Ap

Ju
ar

b
ob
nu

em
em

em
br

kt
Ja

O
pt

Keterangan
Bulan Jumlah Pasien
Januari 100
Februari 112
Maret 113
April 116
Mei 118
Juni 121
Juli 124
Agustus 124
September 126
Oktober 128
November 132
Desember 132
Lampiran 7

DOKUMENTASI KEGIATAN
Lampiran 8

Transkrip Hasil Fakta Lapangan di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat

Aspek Tanggal Tempat Peristiwa Simpulan

Kegiatan-kegiatan 4 Februari 7 posbindu - Kegiatan pengukuran BB dan TB; Seluruh posbindu


posbindu 2016 - 23 pemeriksaan tekanan darah, gula melaksanakan kegiatan-
Februari 2016 darah, kolesterol, dan asam urat; kegiatan tersebut.
konseling/edukasi; dan pemberian
obat.
- Hasil pencatatan dan pelaporan saat
posbindu berlangsung.
- Diluar jadwal posbindu, terdapat
kegiatan senam.
5 meja 4 Februari 7 posbindu - Setelah pemeriksaan kesehatan, bidan Saat berlangsungnya
2016 - 23 desa memberikan obat anti diabetes kegiatan posbindu di meja
Februari 2016 yaitu metformin kepada penderita ke-5, petugas kesehatan
DM tipe 2. kerap lupa menanyakan
- Di meja ke-4, bidan desa terkadang perkembangan diet serta
lupa menanyakan perkembangan diet aktivitas fisik dan langsung
Aspek Tanggal Tempat Peristiwa Simpulan

dan aktivitas fisik. memberikan obat.


- Seluruh kader melakukan kegiatan-
kegiatan yang sudah ditentukan di
setiap meja, pada meja ke-5 salah
satu kader berkoordinasi dengan
bidan desa.
Bidan Desa 4 Februari 5 Posbindu - Bidan desa di posbindu kelurahan Bidan desa masih lupa
2016 - 23 Kelurahan cipayung terkadang telat datang saat menanyakan progress dari
Februari 2016 Cipayung jadwal posbindu. tatalaksana yang dilakukan
- Saat berlangsungnya posbindu, bidan oleh pasien.
desa aktif memberikan cek kesehatan
dan edukasi tetapi di 4 posbindu
yang jumlah pasiennya lebih dari
100, bidan desa terkadang lupa
menanyakan progress dari tatalaksana
yang dilakukan.
2 Posbindu - Bidan desa di posbindu kelurahan
Kelurahan ciputat datang tepat waktu saat
Aspek Tanggal Tempat Peristiwa Simpulan

Ciputat jadwal posbindu.


- Saat berlangsungnya posbindu, bidan
desa aktif memberikan cek kesehatan
dan edukasi dan sudah menanyakan
progress dari tatalaksana yang
dilakukan.
Kader 4 Februari Posbindu - Kader-kader di 2 posbindu tersebut 2 dari 7 posbindu, kinerja
2016 - 23 Kunir Putih yang datang hanya 2-3 orang dari kadernya kurang aktif.
Februari 2016 dan Posbindu total kader yaitu 6-7 orang.
Alpukat - Kader-kader kurang aktif dalam
menggerakkan pasien untuk datang
ke posbindu, karena posbindu
tersebut berada di wilayah
perumahan/komplek.
5 posbindu - Seluruh kader aktif datang saat
jadwal posbindu dan juga aktif dalam
menggerakkan pasien untuk datang
ke posbindu.
Aspek Tanggal Tempat Peristiwa Simpulan

Tatalaksana Diet 4 Februari 7 posbindu - Penderita DM tipe 2 menganggap Penderita DM tipe 2 belum
dan Aktivitas 2016 - 23 anjuran diet penting akan tetapi sulit menerapkan diet dan
Fisik pada Februari 2016 menerapkan sehari-hari karena harus aktivitas fisik dengan baik.
Penderita DM sesuai dengan aturan 3J.
tipe 2 - Penderita DM tipe 2 lebih banyak
melakukan aktivitas rumah tangga
seperti mencuci baju, mengepel,
menyapu, menyetrika, dan
membersihkan halaman.
Lampiran 9

Output Analisis Univariat dan Bivariat

1. Gambaran Status Kadar Gula Darah

STATUS_KGD

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 16 19.0 19.0 19.0

sedang 31 36.9 36.9 56.0

buruk 37 44.0 44.0 100.0

Total 84 100.0 100.0

2. Gambaran Penerapan Jumlah Makanan

Jumlah Makanan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 34 40.5 40.5 40.5

tidak baik 50 59.5 59.5 100.0

Total 84 100.0 100.0

3. Gambaran Penerapan Jenis Makanan

Jenis Makanan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 30 35.7 35.7 35.7

tidak baik 54 64.3 64.3 100.0

Total 84 100.0 100.0


4. Gambaran Penerapan Jadwal Makan

Jadwal Makan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 8 9.5 9.5 9.5

tidak baik 76 90.5 90.5 100.0

Total 84 100.0 100.0

5. Gambaran Aktivitas Fisik

AKTIVITAS_FISIK

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid ringan 10 11.9 11.9 11.9

sedang 20 23.8 23.8 35.7

berat 54 64.3 64.3 100.0

Total 84 100.0 100.0

6. Hubungan Penerapan Jumlah Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Crosstab

STATUS_KGD

baik sedang buruk Total

Jumlah Makanan baik Count 10 13 11 34

% within Jumlah Makanan 29.4% 38.2% 32.4% 100.0%

tidak baik Count 6 18 26 50

% within Jumlah Makanan 12.0% 36.0% 52.0% 100.0%

Total Count 16 31 37 84

% within Jumlah Makanan 19.0% 36.9% 44.0% 100.0%


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 5.022 2 .081

Likelihood Ratio 5.014 2 .082

Linear-by-Linear Association 4.831 1 .028

N of Valid Cases 84

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 6.48.

7. Hubungan Penerapan Jenis Makanan dengan Status Kadar Gula Darah

Crosstab

STATUS_KGD

baik sedang buruk Total

Jenis Makanan baik Count 10 14 6 30

% within Jenis Makanan 33.3% 46.7% 20.0% 100.0%

tidak baik Count 6 17 31 54

% within Jenis Makanan 11.1% 31.5% 57.4% 100.0%

Total Count 16 31 37 84

% within Jenis Makanan 19.0% 36.9% 44.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 12.332 2 .002

Likelihood Ratio 12.841 2 .002

Linear-by-Linear Association 11.920 1 .001

N of Valid Cases 84

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 5.71.
8. Hubungan Penerapan Jadwal Makan dengan Status Kadar Gula Darah

Crosstab

STATUS_KGD

baik sedang buruk Total

Jadwal Makan baik Count 4 2 2 8

% within Jadwal Makan 50.0% 25.0% 25.0% 100.0%

tidak baik Count 12 29 35 76

% within Jadwal Makan 15.8% 38.2% 46.1% 100.0%

Total Count 16 31 37 84

% within Jadwal Makan 19.0% 36.9% 44.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 5.515 2 .063

Likelihood Ratio 4.448 2 .108

Linear-by-Linear Association 3.842 1 .050

N of Valid Cases 84

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1.52.

9. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Kadar Gula Darah

Crosstab

STATUS_KGD

baik sedang buruk Total

AKTIVITAS_FISIK ringan Count 0 5 5 10

% within AKTIVITAS_FISIK .0% 50.0% 50.0% 100.0%

sedang Count 1 7 12 20

% within AKTIVITAS_FISIK 5.0% 35.0% 60.0% 100.0%

berat Count 15 19 20 54

% within AKTIVITAS_FISIK 27.8% 35.2% 37.0% 100.0%

Total Count 16 31 37 84

% within AKTIVITAS_FISIK 19.0% 36.9% 44.0% 100.0%


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 8.504 4 .075

Likelihood Ratio 10.877 4 .028

Linear-by-Linear Association 5.136 1 .023

N of Valid Cases 84

a. 4 cells (44.4%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1.90.
DAFTAR HADIR PENDERITA DM TIPE 2

BULAN AGUSTUS 2015-JULI 2016

POSBINDU ≤6 BULAN 7-12 BULAN TOTAL

Posbindu Melon 12 10 10

Posbindu Salak 20 16 16

Posbindu Kunir 8 7 7
Putih

Posbindu 15 14 14
Rambutan

Posbindu Melati 15 13 13

Posbindu Jeruk 22 21 21

Posbindu Alpukat 18 13 13

TOTAL 94
(81,03%)

Cut Off daftar hadir dari juknis posbindu  ≥75% (Kemenkes, 2014)
HASIL DATA DAN ANALISIS

No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
2.00
1 57 pr lulus sd ibu rumah tangga 253 0 0 1 1,680 2.00
2.00
2 50 pr lulus sd ibu rumah tangga 235 0 0 0 1,402 1.00
0.00
3 49 pr lulus sma ibu rumah tangga 140 0 0 0 1,589 2.00
0.00
4 49 pr lulus smp ibu rumah tangga 121 0 0 1 1,523 2.00
1.00
5 52 pr lulus perguruan tinggi guru ngaji 189 0 1 1 1,590 2.00
2.00
6 56 pr lulus sma ibu rumah tangga 237 0 0 1 1,771 2.00
1.00
7 58 lk lulus smp penjaga warung 190 0 0 1 1,603 2.00
2.00
8 38 pr lulus sma ibu rumah tangga 209 0 1 1 1,353 1.00
1.00
9 44 lk lulus sd montir 177 0 1 1 4,310 2.00
0.00
10 39 pr lulus sma ibu rumah tangga 122 0 0 0 1,507 2.00
2.00
11 56 lk tidak lulus sd marbot 200 1 1 1 1,692 2.00
1.00
12 50 pr lulus sma ibu rumah tangga 177 0 0 0 1,446 1.00
2.00
13 53 lk tidak sekolah pengangguran 225 1 1 1 1,561 2.00
2.00
14 65 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 231 1 1 0 420 0.00
1.00
15 50 pr lulus smp ibu rumah tangga 194 1 0 1 1,677 2.00
No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
1.00
16 47 pr tidak sekolah ibu rumah tangga 148 1 1 1 903 1.00
1.00
16 61 pr lulus sd pensiunan 195 1 1 1 397 0.00
2.00
18 61 lk lulus sma penjual tanaman 243 1 1 1 862 1.00
2.00
19 55 pr lulus sd penjaga loket 211 0 1 1 1,109 1.00
0.00
20 45 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 143 0 0 0 1,803 2.00
1.00
21 45 pr lulus sma ibu rumah tangga 167 1 1 1 1,795 2.00
2.00
22 53 pr lulus perguruan tinggi guru tk 239 1 1 1 1,760 2.00
0.00
23 58 pr lulus sma ibu rumah tangga 112 1 1 1 1,682 2.00
2.00
24 57 pr lulus sd ketua posbindu 219 0 0 1 1,597 2.00
1.00
25 53 pr lulus dmp ibu rumah tangga 197 1 0 1 1,239 1.00
1.00
26 51 pr lulus sd ibu rumah tangga 156 0 0 0 1,804 2.00
2.00
27 50 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 241 1 1 1 1,862 2.00
0.00
28 39 pr tidak sekolah penjual pecel lele 127 0 1 1 2,063 2.00
1.00
29 45 lk lulus smp pengangguran 182 1 1 1 2,303 2.00
2.00
30 59 pr tidak sekolah ibu rumah tangga 208 1 1 1 1,791 2.00
1.00
31 38 pr lulus sma ibu rumah tangga 146 0 0 1 2,821 2.00
No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
2.00
32 60 lk lulus sd pensiunan 234 1 1 1 753 1.00
2.00
33 59 pr lulus sd ibu rumah tangga 258 1 1 1 1,567 2.00
1.00
34 78 lk lulus sma pensiunan 171 1 1 1 302 0.00
0.00
35 55 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 142 1 1 1 1,656 2.00
2.00
36 65 lk lulus sd ibu rumah tangga 210 1 1 1 981 1.00
2.00
37 57 pr lulus sd ibu rumah tangga 331 1 1 1 1,058 1.00
2.00
38 50 pr lulus smp ibu rumah tangga 206 1 1 1 2,044 2.00
1.00
39 65 pr lulus sd ibu rumah tangga 199 1 1 1 1,472 1.00
2.00
40 69 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 201 0 1 1 362 0.00
0.00
41 45 pr lulus perguruan tinggi sales 126 0 0 1 3,011 2.00
2.00
42 49 pr lulus sma ibu rumah tangga 200 1 1 1 2,199 2.00
1.00
43 52 pr lulus sma bu rumah tangga 147 0 0 1 1,604 2.00
1.00
44 62 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 199 1 1 1 438 0.00
1.00
45 59 lk lulus sd wiraswasta 188 1 1 1 1,737 2.00
1.00
46 50 pr lulus smp ibu rumah tangga 168 1 0 1 2,490 2.00
2.00
47 57 lk lulus smp pengangguran 337 1 1 1 591 0.00
No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
2.00
48 52 pr lulus sma ibu rumah tangga 207 0 1 1 1,644 2.00
0.00
49 61 pr tidak sekolah ibu rumah tangga 130 1 0 1 1,327 1.00
1.00
50 63 pr lulus sd penjaga warung 196 1 1 1 1,063 1.00
2.00
51 58 pr lulus smp ibu rumah tangga 227 1 1 1 1,295 1.00
2.00
52 50 lk lulus perguruan tinggi tidak bekerja 253 1 1 1 3,103 2.00
0.00
53 40 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 105 0 0 0 2,761 2.00
2.00
54 63 lk tidak lulus sd tidak bekerja 218 1 1 1 526 0.00
1.00
55 57 lk lulus perguruan tinggi wiraswasta 147 0 0 1 2,026 2.00
0.00
56 40 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 107 0 0 1 2,593 2.00
1.00
57 48 pr lulus smp ibu rumah tangga 177 1 1 1 1,792 2.00
1.00
58 66 lk lulus sma tidak bekerja 199 1 1 1 1,004 1.00
2.00
59 54 pr lulus smp ibu rumah tangga 222 1 1 1 1,699 2.00
1.00
60 64 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 181 0 0 1 378 0.00
1.00
61 60 pr lulus sd ibu rumah tangga 159 1 1 1 1,138 1.00
0.00
62 39 pr lulus sd ibu rumah tangga 123 1 1 1 3,014 2.00
pembantu rumah 0.00
63 39 pr lulus sd tangga 142 0 0 1 4,132 2.00
No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
2.00
64 57 pr lulus sd ibu rumah tangga 215 1 1 1 1,666 2.00
1.00
65 44 pr lulus sma ibu rumah tangga 146 0 0 1 2,214 2.00
2.00
66 50 pr lulus sd ibu rumah tangga 208 1 1 1 1,840 2.00
2.00
67 58 lk lulus perguruan tinggi wiraswasta 210 1 1 1 1,716 2.00
1.00
68 42 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 180 0 0 1 2,973 2.00
2.00
69 53 lk tidak sekolah kuli bangunan 211 1 1 1 7,320 2.00
pembantu rumah 2.00
70 55 pr lulus smp tangga 216 0 1 1 3,957 2.00
1.00
71 45 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 163 0 0 1 2,048 2.00
1.00
72 43 pr lulus sma ibu rumah tangga 150 0 0 1 1,783 2.00
0.00
73 43 lk lulus sd tidak bekerja 124 1 1 1 2,089 2.00
2.00
74 61 pr tidak sekolah ibu rumah tangga 303 0 0 1 825 1.00
1.00
75 47 pr lulus perguruan tinggi ibu rumah tangga 182 1 1 1 1,997 2.00
1.00
76 63 lk lulus sd tidak bekerja 185 1 1 1 450 0.00
0.00
77 46 pr tidak lulus sd ibu rumah tangga 139 0 0 1 2,371 2.00
2.00
78 51 pr lulus sma ibu rumah tangga 215 1 1 1 1,119 1.00
1.00
79 59 lk lulus sma tidak bekerja 148 1 1 1 2,831 2.00
No Usia JK Pendidikan Pekerjaan KGDmgdl Jumlah Jenis Jadwal totalmets AKTIVITAS_FISIK STATUS_KGD
2.00
80 64 lk lulus sma tidak bekerja 201 1 1 1 1,045 1.00
0.00
81 37 lk lulus sma tidak bekerja 113 1 1 1 2,267 2.00
2.00
82 50 pr lulus sma ibu rumah tangga 227 1 1 1 1,642 2.00
2.00
83 55 pr lulus smp ibu rumah tangga 241 1 1 1 306 0.00
2.00
84 45 pr lulus sma ibu rumah tangga 203 0 0 1 1,235 1.00

*Status KGD  0=Baik (80-144 mg/dl) ; 1=Sedang ; 2=Buruk(≥200 mg/dl)

*Jumlah, Jenis, Jadwal Makan  0=Baik ; 1=Tidak Baik

*Aktivitas Fisik  0=Ringan ; 1=Sedang ; 2=Berat