Anda di halaman 1dari 21

BAB I

KONSEP DASAR MEDIK

A. Pengertian

Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan


Mycobacterium tuberculosi yang menyerang paru-paru dan hampir seluruh
organ tubuh lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernapasan
dan saluran pencernaan (GI) dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling
banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang trinfeksi
bakteri tersebut. (NANDA NIC-NOC, 2015)
Tuberkulosis atau TB adalah penyakit infeksius yang terutama
menyerang parenkim paru. Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular
yang disebabkan oleh basil Microbacterium tuberculosis yang merupakan
salah satu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang sebagian besar
basil tuberculosis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection
dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari
ghon. TB dapat menyebar hampir ke setiap bagian tubuh termasuk
meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi
dalam 2 sampai 10 minggu setelah pajanan. Pasien kemudian dapat
membentuk penyakit aktif karena respons system imun menurun atau tidak
adekuat. Proses aktif dapat berlangsung lama dan dikarakteristikkan oleh
periode remisi yang panjang ketika penyakit dihentikan, hanya untuk
dilanjutkan dengan periode aktivitas yang diperbarui. TB ditularkan ketika
seorang penderita penyakit paru aktif mengeluarkan organisme. Individu
yang rentan menghitrup droplet dan menjadi terinfeksi. Bakteria
ditransmisikan ke alveoli dan memperbanyak diri. Reaksi inflamasi
menghasilkan eksudat di alveoli dan bronkopneumonia, granuloma, dan
jaringan fibrosa. Batuk darah adalah dahak berdarah yang dibatukkan
berasal dari saluran pernapasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kea
rah distal, batuh darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuliuh
darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi
B. Proses Terjadinya Masalah

1. Presipitasi Dan Predisposisi

a. Faktor presipitasi
Kuman dapat bertahan hidup pada udara kering maupun
dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun- tahun dalam lemari
es). Hal ini karena kuman bersifat dormant, tertidur selama
bertahun- tahun dan dapat bangkit kembali menjadikan
tuberkulosis aktif kembali. Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai
parasit intra selular yakni dalam sitoplasma makrofag. Menurut
Bahar (2006), Penyebab penyakit tuberkulosis adalah
Myobacterium tuberculosae, sejenis kuman berbentuk batang

dengan ukuran panjang 1- 4/ m dan tebal 0,3- 0,6/ m. Tergolong

dalam kuman Myobacterium tuberculosae complex adalah:


1. M. Tubercolosae
2. Varian Asian
3. Varian African I
4. Varian African II
5. M. Bovis
Cara penularan tuberkulosis menurut Depkes (2006)
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif
2. Pada saat batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk percikan dahak. Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3.000 percikan dahak.
3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana
percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi
dapan mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari dapat langsung membunuh kuman. Percikan dapat
bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap
dan lembab.
4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Semakin tinggi
derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, semakin
menular pasien tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut

b. Faktor predisposisi

1) Akses organisme/lingkungan organisme.

Kontak erat dengan terjadinya infeksi ini. Karena itu infeksi


sering terjadi pada keadaan kerja yang kumuh dan tak higienis
atau pada keadaan kehidupan yang kumuh dan tak higienis.

2) Kerentanan

Sampai tingkat tertentu terdapat variabilitas individu dalam


kerentanan.

3) Faktor-faktor lokal.

Terdapatnya penyakit paru-paru kronik sebelumnya merupakan


predisposisi yang sudah mapan.

4) Faktor-faktor umum.

Fakotr sosial dan ekonomi merupakan hal penting karena hal


ini secara predominan merupakan penyakit pada mereka yang
kekurangan gizi dan kurnag diperhatikan.

5) Terapi kortikosteroid

TBC dapat menular melalui beberapa cara yaitu inhalasi,


ingesti, kontak langsung, peralatan yang terkontaminasi, dan
infeksi silang.

2. Patofisiologi
Penularan TBC paru terjadi karena kuman dibatukkan atau
dibersihkan keluar menjadi droplet nuclei atau droplet infection dalam
udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas
selama 1-2 jam, tergantung pada ada atau tidaknya sinar ultraviolet,
ventilasiyang buruk dan kelembaban. Bila partikel ini terhisap oleh
orang sehat, ia akan menempel pada saluran nafas atau jaringan paru
melalui jalan nafas. Partikel bisa masuk ke alveolar bila ukuran partikel
< 5mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil,
kemudian oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau
dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeo bronkial
bersama gerakan silia dan sekretnya. Bila kuman menetap di jaringan
paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Dari sini akan
terbawa masuk ke organ tubuh lainnya (paru lain, saluran pencernaan,
tulang melalui media {bronchogen, percontinuitum, hematogen,
limfogen}). Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk
sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer
(fokusghon). Sarang primer ini dapat dapat terjadi disetiap jaringan
paru dan bisa juga menuju organ lain diluar paru. Dari sarang primer
akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening (limfadenitis
regional). Sarang primer limfangitis lokal + limfadenitis regional
membentuk kompleks primer. Semua proses ini selanjutnya dapat
menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat dan sembuh
dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik,
kalsifikasi dihilus, dapat terjadi reaktifasi lagi karena kuman yang
dorman kemudian berkomplikasi dan menyebar secara
perkontinuitatum, bronkogen, hematogen, limfogen.
Tuberkulosis paska primer, kuman yang dorman pada
tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudiansebagai
infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (TB Post primer/TB
sekunder). TB sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti
malnutrisi, alkohol, penyakit maligna,diabetes, AIDS, gagal ginjal. TB
paska primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasidi regio atas
paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Invasinya
adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.
Sarang dini ini mula-mula juga terbentuk sarang pneumoni kecil.
Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma
yang terdiri dari sel-sel histiosit dan seldatia langhans (sel besar dengan
banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan
ikat. TB paska primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia
muda menjadi TB usia tua. Tergantung dari jumlah kuman, virulensinya
dan imunitas pasien, sarang ini dapat menjadi direabsorbsi kembali dan
sembuh tanpa meninggalkan cacat. Sarang yang meluas, tapi segera
menyembuh dengan serbukan jaringan fibrosis. Sarang dini yang
meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat
sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek
dan membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar
akan terjadi kavitas. Disini lesi sangat kecil, tetapi bakteri sangat
banyak. Kavitas dapat meluas kembali dan menimbulkan sarang
pneumonia baru. Bila isi kavitas ini masuk kedalam peredaran darah
arteri, maka akan terjadi TB milier. Lesi ini juga dapat memadat dan
membungkus diri sehingga terjadi tuberkuloma, menjadi cair dan
kavitas lagi. Jika terhirup orang sehat maka dapat menyebabkan resiko
infeksi, kemudian droplet infection dapat menyebabkan batuk berat
sehingga terjadi distensi abdomen, bahkan bisa membuat mual dan
muntah sehingga pasien dapat mengalami ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh.

3. Pathway
4. Ma
nifesta
si
Klinik

Tanda

a. Pe
nu
ru
na
n

berat badan
b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum
purulen/hijau,
mukoid/kuning
Gejala
a. Demam
Biasanya
menyerupai
demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman TBC yang
masuk.
b. Batuk
Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari
batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk
produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk
darah karena terdapat pembulih darah yang pecah. Kebanyakan
batuk darah terjadi pada ulkus dinding bronkus.
c. Sesak nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut
dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.
d. Nyeri dada
Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan
pleuritis).
e. Malaise
Dapat berupa : Anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun,
sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

5. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada klien dengan tuberculosis


paru, yaitu
1. Pemeriksaan fisis
Tempat kelainan yang paling dicurigai adalah bagian
apeks/puncak paru. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas,
didapatkan perkusi redup dan auskultasi suara nafas yang
bronchial, suara nafas tambahan ronki basah kasar dan nyaring.
Bila infiltrasi diliputi oleh penebalan bronchial, suara nafasnya
menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat cavitas yang cukup
besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan
auskultasi memberikan suara amforik. Pada TBC paru yang lanjut
dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot
otot interkostal. Bagian paru yang sakit menjadi menciut dan
menarik isi mediastinum atau paru yang lain. Paru yang sehat
menjadi hiperinflasi. Bila jaringan fibrotik lebih dari setengah
jumlah jaringan paru akan terjadi pengecilan daerah aliran darah
paru sehingga meningkatkan tekanan arteri pulmonalis yang
mengakibatkan terjadi cor pulmonal dengan gagal jantung kanan
seperti takipnea. Takikardi, right ventrikuler lift, right atrial gallop,
graham Iteal murmur, bunyi P yang mengeras, kenaikan tekanan
vena jugularis, hepatomegali, asites, edema.
2. Pemeriksaan radiologis
Pada awal penyakit dimana lesi masih merupakan sarang
sarang pneumonia gambaran radiologis adalah berupa bercak
bercak seperti awan dengan bekas yang tidak tegas. Bila lesi sudah
diliputi jaringan ikat dan terlihat bayangan berupa bulatan dengan
bekas yang tegas. Gambaran TBC milier berupa bercak bercak
halus tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Gambaran
radiologis lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan
pleura, efusi pleura atau empisema, pneumothorak (bayangan hitam
radio lusen di pinggir paru atau pleura)

3. Pemeriksaan laboratorium
a. Darah
Pada TBC aktif, jumlah lekosit meningkat dengan diferensiasi
ke kiri, laju endap darah meningkat, jumlah limfosit di bawah
normal. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah lekosit kembali
normal, LED mula mula menurun kemudian normal, jumlah
limfosit tetap meningkat.
b. Sputum
Untuk menemukan kuman BTA, diagnosis dipastikan. Kriteria
sputum BTA positif adalah bila ditemukan ≥3 batang kuman
BTA dalam satu sediaan.
c. Tes tuberculin, Biasanya dipakai cara mantoux yakni dengan
menyuntikkan 0,1 cc tuberculin purified protein derivated
intrakutan berkekuatan 5 T>U
d. Tes PAP (Perioksidase dan Anti peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat
histogen staining untuk menentukan adanya IgG spesifik
terhadap basil TB.
e. Becton Dickinson diagnostic instrument system (BACTEC)
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari
metabolism asam lemak oleh mikrobakterium tuberculosis.
f. MYCODOT
Deteksi antibody memakai antigen liporabinomannan yang
direkatkan pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastic,
kemudian dicelupkan dalam jumlah memadai memakai warna
sisir akan berubah.

6. Komplikasi

TBC pada tingkat selanjtnya dapat menyebabkan

1. Efusi pleura
2. Empiema
3. Pneumothorax
4. Laryngitis
5. Tuberkulosis enteritis
6. Respiratori distress

7. Penatalaksanaan Medis
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan gejala
pulmonal dan sistemik, untuk mengembalikan pasien pada kehidupan
kesehatan, bekerja, dan keluarga secepat mungkin, dan untuk mencegah
penularan infeksi pada orang lain.
a. Pengobatan
Pemakaian obat tunggal banyak terjadi resistensi karena sebagian
besar kuman Tuberkulosis memang dapat dibinasakan tetapi
sebagian kecil tidak, maka terapi Tuberkulosis dilakukan dengan
memakai paduan obat. Dengan paduan 2 obat ini kemungkinan
awal dapat diabaikan karena: jarang ditemukan retensi terhadap 2
macam obat atau lebih dan pola retensi terbanyak adalah terhadap
INH.
Jenis Obat :
a. Obat primer
1) Isoniazid
2) Rifampisin
3) Pita zinamid
4) Streptomisin
5) Etambutol

b. Obat sekunder
1) Etionamid
2) Prorionamid
3) Sikloscren
4) Kanamisin
5) Para amine salicylic acid
6) Tiasetazon
7) Viomycin
b. Pencegahan
a. Kemoprofilaksis
b. Vaksinasi BCG
c. Program Kontrol
c. Kegagalan pengobatan
Sebab sebab kegagalan pengobatan:
a. Obat
1) paduan obat tidak adekuat
2) dosis obat tidak cukup
3) minum obat tidak teratur
4) jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya
5) terjadi resistensi obat
b. Drop out
1) kekurangan biaya pengobatan
2) merasa sudah sembuh
3) malas berobat

c. Penyakit
1) lesi paru yang sakit terlalu luas
2) adanya penyakit lain yang menyertai seperti DM
3) adanya gangguan imunologis

C. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi yang
tertahan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan, dispneu.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi.
4. Ketidakefektivan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi.
D. Intervensi Keperawatan

N Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional


o
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan (3350) Monitor Pernafasan
1. Monitor kecepatan bernafas
bersihan jalan nafas selama 3 x 24 jam klien dapat
2. Monitor suara nafas 1. Untuk
berhubungan dengan mempertahakan jalan nafas paten
tambahan seperti ngorok atau mengetahui
sekresi yang tertahan. dengan bunyi nafas bersih/jelas.
mengi tingkat
(3140) Manajemen Jalan
Kriteria hasil : kecepatan
Nafas
nafas pasien
(0510) Status Pernafasan : Kepatenan 1. Instruksikan bagaimana
2. Untuk
jalan nafas agar bisa melakukan batuk
mengetahui
efektif
1. Frekuensi, irama pernapasan dalam 2. apakah ada
Kelola nebulalizer
batas normal penyakit lain
ultrasonik, sebagaimana
2. kemampuan untuk mengeluarkan 3. Agar dapat
mestinya
secret megeluarkan
3. Dapat melakukan batuk efektif: sekret yang
mengganggu
4. Untuk
melancarkan
dahak dan
mengurangi
sesak

2. Ketidakseimban Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. (1120) Monitoring intake 1. Monitoring


gan nutrisi: selama 3 x 24 jam diharapkan asupan makanan/cairan dan hitung masukan
kurang dari nutrisi pasien meningkat dengan kriteria masukan perhari, sesuai makanan dapat
kebutuhan tubuh hasil : kebutuhan. menentukan
2. (1160) Identifikasi
berhubungan jumlah makanan
Nutritionl status perubahan nafsu makan.
dengan kurang yang masuk ke
3. (1160) Bantu pasien
asupan makanan, 1. Intake nutrisi tercukupi. tubuh pasien,
menentukan makanan
2. Asupan makanan dan cairan
dispneu. sehingga dapat
tercukupi kesukaannya..
4. (1030) Ajarkan dan edukasi menentukkan
Nausea dan vomiting severity
pasien dan keluarga konsep tindakan
1. Penurunan intensitas terjadinya mual nutrisi yang baik untuk keperawatan
muntah
penyakitnya. selanjutnya
2. Penurunan frekuensi terjadinya mual
5. (1030) Kolaborasi dengan 2. Perubahan nafsu
muntah.
tim ahli kesehatan lain makan pasien
Weight : Body mass untuk mengembangkan dapat
1. Pasien mengalami peningkatan rencana tindakan menentukan
berat badan
keperawatan selanjutnya, perubahan
seperti diit pasien bersama intake nutrisi
ahli gizi. pasien.
3. Makanan
kesukaan pasien
dapat
meningkatkan
nafsu makan
pasien
4. Edukasi kepada
pasien dan
keluarga dapat
mempengaruhi
peningkatan
kesembuhan
pasien.
5. Kolaborasi
dengan tim
kesehatan lain
dapat
meningkatkan
pola makan
pasien dengan
tepat sesuai
diitnya.

3. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Management Airway


1. Posisikan pasien untuk Management
gas berhubungan dengan selama 3 x 24 jam Gangguan pertukaran
memaksimalkan ventilasi 1. Melancarka
ketidakseimbangan pasien teratasi dengan kriteria hasi: udara n
2. Keluarkan secret dengan pernapasan
ventilasi-perfusi.
melakukan batuk efektif klien
Respiratory status: Airway patency
atau dengan melakukan 2. Mengeluark
suctioning an secret
1. Klien mampu mengeluarkan
yang
secret 3. Catat dan monitor pelan, menghamba
2. RR klien normal 16-20 x/menit dalamnya pernapasan t jalan
dan batuk pernapasan
3. Irama pernapasan teratur
4. Berikan terapi oksigen, 3. Mengetahui
4. Kedalaman inspirasi normal
sesuai keebutuhan factor
5. Oksigenasi pasien adekuat penyebab
5. Monitor status
respiratory dan batuk dan
Respiratory Status : Gas Exchange gangguan
oksigenasi
1. AGD dalam batas normal skala pernapasan
5 (no deviation from normal Respiratory Monitoring
range). 4. Memenuhi
2. Tanda-tanda sianosis mencapai kebutuhan
1. Monitor frekuensi, ritme,
skala 5 (none) oksigen
kedalaman pernapasan.
dalam tubuh
3. Klien tidak mengalami
Vital Signs Monitoring 5. status
somnolen mencapai skala 5
(none). respirasi
1. Monitor tekanan darah, klien lancar
nadi, temperature, dan ataukah ada
status respirasi, sesuai gangguan
kebutuhan.
Tissue Perfusion : Peripheral
2. Monitor respiration rate Respiratory
dan ritme (kedalaman Monitoring
 Capitary refill pada jari-jari dan simetris)
dalam rentang normal mencapai
1. Untuk
skala 5 (no deviation from 3. Monitor warna kulit,
mendeteksi
normal range) temperature dan
adanya
kelembapan.
gangguan
pernapasan
Managemen Asam-Basa
Vital Signs
1. Pertahankan kepatenan
Monitoring
jalan napas.
2. Pantau gas darah arteri
1. Mendeteksi
(AGD), serum dan
adanya
tingkat elektrolit urine.
gangguan
respirasi
dan
kardiovasku
ler
2. Mengecek
adanya
gangguan
pernapasan
3. Mendeteksi
adanya
keabnormal
an suara
paru

Managemen
Asam-Basa

1. Untuk
membuat
klien agar
bernafas
dengan baik
tanpa
adanya
gangguan.

2. Untuk
mengetahui
tekanan gas
darah (O2
dan CO2)
sehingga
kondisi
pasien tetap
dapat
dipantau.
4. Ketidakefektivan pola Setelah dilakukan tindakan keperawatan (3140) Manajemen jalan nafas 1. Mengetahui
selama 3x24jam masalah
napas berhubungan 1. Monitor status pernapasan dan respirasi pasien
ketidakefektidan pola nafas berkurang,
dengan hiperventilasi. dengan kriteria hasil: oksigenasi 2. agar dapat
(0403) Status Pernafasan
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
1. Frekuensi dan irama pernafasan
klien dalam batas normal memaksimalkan ventilasi pasien dalam
(0410) Status Kepatenan Jalan Nafas
3. Instruksikan agar bisa bernafas
1. Klien mampu mengeluarkan sekret
2. Melakukan batuk efektif melakukan batuk efektif 3. agar sekret yang
TTV dalam batas normal
4. Kelola pemberian nebulizer menghambat
ultrasonik dapat
dikeluarkan
agar dapat
melancarkan
dahak dan dapat
mengurangi
sesak
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M dkk. 2016. Nursing Interventions Classivication. Jakarta :


ELSEIVER.
Herdman, T.Heather. 2010. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan :
Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : EGC
Moorhead, Sue. 2016. Nursing Outcome Classification (NOC). Jakarta :
ELSEIVER.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nand Nic-Noc. Yogyakarta : Mediaction
Jogja.
Smeltzer, C. Susan. 2016. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Wijaya, Andra Saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. KMB 1 Keperawatan
Medikal Bedah. Yogyakarta : Nuha Medika.
Wilkinson, J., & Ahern, n. R. (2013). Buku Saku Diagnosis keperawatan edisi 9
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.