Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat, Taufik,
Hidayah serta Inayah-Nya kepada Kami, sehingga kami memiliki kesempatan
untuk dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurahkan sepenuhnya kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, yang telah
membawa kita dari zaman jahiliah ke zaman islamiah yang modern seperti saat
ini. Dan juga kepada keluarganya, Sahabat, Tabi’in, Tabi’it-tabi’in seta para
pengikut-pengikutnya hingga akhir kiamat nanti.

Ucapkan terimakasih, penulis ucapkan kepada Dosen Pembimbing serta


teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian makalah yang membahas
tentang “Desain Evaluasi dan Remedial”.

Demikian makalah ini disusun, penulis menyadari bahwa di dalam penulis


makalah ini banyak sekali kekurangan, akan tetapi penulis berharap dengan
dibuatnya makalah ini dapat memberikan manfa’at serta pengetahuan untuk
semuanya. Aamiin

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... i


DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 1
C. Tujuan....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran ........................................... 3
B. Fungsi Evaluasi Pembelajaran ................................................. 4
C. Jenis dan Teknik Evaluasi Pembelajaran ................................. 5
D. Merancang Langkah-langkah Evaluasi Pembelajaran ............. 12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan............................................................................... 13
B. Saran ......................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses ataupun program apapun melakukan evaluasi untuk mengukur
maupun mengetahui sejauh mana tingkat ketercapaian proses maupun program
perencanaan tersebut. Tidak ada satu proses atau program yang berjalan tanpa
diiringi kegiatan evaluasi, demikian juga dalam proses pembelajaran. Dalam
desain pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi, evaluasi pembelajaran
dilakukan untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang telah diraih oleh
peserta didik agar dapat diketahui tingkat ketercapaiannya secara komprehensif
maka evaluasi pembelajaran mencakup tiga domain, yaitu kognitif, afektif,
psikomotorik. Seorang guru harus melakukan kegiatan evaluasi.
Pada kurikulum 2013 Musliyar Kasim wakil menteri pendidikan nasional
mengungkapkan bahwa dalam kurikulum 2013 evaluasi pembelajaran dilakukan
berbasis pencapaian kompetensi. Selain itu, guru juga diharapkan mau dan
mampu menggeser paradigma lamanya, yaitu dari evaluasi melalui tes menuju
evaluasi pembelajaran yang otentik.
Evaluasi pada dasarnya sebagai dasar keputusan, menyusun kebijakan,
maupun progam selanjutnya, keputusan apakah akan dilanjutkan, diperbaiki atau
dihentikan. Kegiatan evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu
upaya apapun yang terprogam, tidak terkcuali bagi progam pembelajaran sebagai
bagian dari progam pendidikan. Untuk mengetahui apakah program yang telah
direncanakan dan dilaksanakan dapat tercapai tujuannya.
Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh
keberhasilan evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang
dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan
evaluasi. Sukses atau tidaknya suatu program evaluasi pada hakikatnya turut
menentukan baik tidaknya perencanaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian evaluasi pembelajaran ?

1
2. Apa fungsi evaluasi pembelajaran ?
3. Bagaimana jenis dan teknik evaluasi pembelajaran ?
4. Bagaimana Langkah-langkah dalam merancang evaluasi
pembelajaran?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian evaluasi pembelajaran
2. Untuk mengetahui fungsi evaluasi pembelajaran
3. Untuk mengetahui jenis dan teknik evaluasi pembelajaran
4. Untuk mengetahui Langkah-langkah dalam merancang evaluasi
pembelajaran

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran


Evaluasi berasal dari kata “evaluation” yang kemudian diserap kedalam
bahasa Indonesia menjadi evaluasi yang berarti suatu upaya untuk menentukan
nilai atau jumlah. Evaluasi harus dilakukan secara berhati-hati, bertangung jawab,
menggunakan strategi, dan dapat dipertanggung jawabkan. Sementara itu Anas
Sudjono mengungkapkan bahwa kata evaluasi bersinonim denngan penilaian. Hal
ini dikarenakan evaluation kata dasarnya adalah value yang berarti nilai.
Sementara itu secara istilah mengungkapkan bahwa evaluasi menunjuk pada suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Menurut Guba
dan Lincoln evaluasi pembelajaran adalah suatu proses pertimbangan mengenai
nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluation). Sesuatu yang
dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaaan, atau sesuatu
kesatuan tertentu.
Ada tiga kata kunci yang berkaiatan denagan desain evaluasi, yaitu Tes
(test), pengukuran (Measurment), dan evaluasi (evaluation). Tes adalah suatu
pertanyaan atau tugas yang setiap butirnya memepunyai jawaban yang dianggap
benar untuk memeperoleh informasi tentang kemampuan atau kompetensi.
Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu pertanyaan atau tugas menurut
aturan, atau formula, atau standar, atau kriteria yang jelas. Sedangkan penilaian
adalah proses untuk mengambil suatu keputusan baik atau buruk atas hasil belajar
denagan menggunaka instrumen tes atau nontes setelah mengadakan pengukuran
tertentu.
Dari beberapa pendapat di atas , dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah
kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang
selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang
terlihat dalam mengambil sebuah keputusan. Jadi inti dari evaluasi adalah
penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengambil keputusan.

3
B. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi merupakan proses sangat penting dalam kegiatan pendidikan
formal. Mengapa demikian? Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektivitas
kinerjanya selama ini, sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat
memberikan informasi untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan. Evaluasi
sering dianggap sebagai salah satu hal yang menakutkan bagi siswa. Karena,
memang melalui kegiatan evaluasi dapat ditentukan nasib siswa dalam proses
pembelajaran selanjutnya. Anggapan semacam ini memang harus diluruskan.
Evaluasi mestinya dipandang sebagai sesuatu yang wajar yakni sebagai suatu
bagian integral dari suatu proses kegiatan pembelajaran. Dengan demikian,
mestinya evaluasi dijadikan kebutu han oleh siswa, sebab dengan evaluasi siswa
akan tahu tentang keberhasilan pembelajaran yang dilakukannya. Ada beberapa
fungsi evaluasi, yakini :
1. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi
siswa. Melalui evaluasi siswa akan mendapatkan informasi tentang
efektivitas pembelajaran yang dilakukannya. Dari hasil evaluasi siswa
akan dapat menentukan harus bagaimana proses pembelajaran yang
harus dilakukannya.
2. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahu bagaimana
ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan.
3. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan
program kurikulum. Informasi ini sangat dibutuhkan baik bagi guru
maupun pengembang kurikulum khususnya untuk program perbaikan
selanjutnya.
4. Evluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khusunya daam
menentukan kejelasa tujuan khusus yang ingin di capai.
5. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang
berkepetingan di sekolah.
Selain itu terdapat beberapa fungsi lainnya, diantaranya:
a. Untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik
b. Untuk menilai kemajuan belajar peserta didik
c. Untuk menentukan suatu kebijakan

4
C. Jenis dan Teknik Evaluasi Pembelajaran
Pada tahun 1971, Bloom mengenalkan jenis evaluasi pembelajaran yang
terdiri dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Setelah itu jenis-jenis evaluasi
pembelajaran tersebut mengalami perkembagan. Setidaknya ada empat jenis
evaluasi pembelajaran yang biasanya dilaukan untuk kepentingan pembelajaran
sebagai berikut:
1. Evaluasi Formatif, yaitu evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di
setiap peserta didik selesai mempelajari beberapa Kompetensi Dasar
yang harus dicapai pada mata pelajaran tertentu disatu pokok bahasan
mata pelajaran tersebut. Tujuannya adalah untuk menilai tingkat
ketercapaian KD. Jika ada peserata didik yang belum mencapainya
maka diadakanlah remidial
2. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di
setiap peserta didik selesai mempelajari beberapa Kompetensi Dasar
yang harus dicapai pada mata pelajaran tertentu disatu pokok bahasan
mata pelajaran tersebut. Biasanya evaluasi pembelajaran sumatif ini
dlaksanakan di setiap pertengahan dan akhir pembelajaran. Dengan
demikian, evaluasi sumatif ini bertujua untuk menilai hasil pencapaian
belajar pesrta didik terhadap berbagai komptensi yag harus
dikuasainya dalam suatu periode, seperti akhir semesterdan di kelas
terakhir (Ujian Nasional)
3. Evaluasi Diagnostik, yaitu evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan
sebagai sarana untuk mendiagnosis berbagai kendala dalam proses
pembelajaran. Evaluasi pembelajaran ini sangat bermanfaat untuk
meneliti maupun mencari sebab kegagalan dalam proses pembelajaran
dan untuk mengetahui dimana letak kesulitan belajar peserta didik
4. Evaluasi penempatan, yaitu evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan
untuk menempatkan peseta didik dalam suatu program pendidikan
atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan (baik potensial maupun
aktual) dan minat peserta didik. Evaluasi pembelajaran ini sangat
bermanfaat dalam proses menentukan jurusan sekolah.

5
Ada dua teknik yang dapat dirancang dan digunakan oleh guru sebagai
desainer pembelajaran saat melaksanakan keempat jenis evaluasi pembelajaran,
yaitu sebagai berikut:
1. Teknik Evaluasi Pembelajaran Tes
Tes berasal dari bahasa Prancis, yaitu testum yang berarti piring yang
digunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain seperti pasir,
batu, tanah dan sebagainya. Dalam perkembangannya istilah tes tersebut
diadopsi kedalam psikologi dan pendidikan. Di dunia pendidikan,
khususnya di sekolah tes banyak digunakan untuk mengukur prestasi
belajar peserta didik dalam domain kognitif, seperti pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Penggunaan tes sebagai
salah satu instrumen dalam evaluasi pembelajaran sudah dikenal sejak
dahulu kala.
Adapun tujuan penggunaan evaluasi pembelajaran dengan instrumen
tes ini yaitu untuk mengetahui;
a. Tingkat awal kemampuan peserta didik
b. Kesulitan belajar peserta didik
c. Memotivasi peserta didik untuk giat belajar
d. Hasil belajar peserta didik
e. Pertumbuhan dan perkembangan prestasi peserta didik
f. Keberhasilan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran
g. Memotivasi guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.

Pada umumnya guru di sekolah-sekolah menggunakan tes tertulis, tes lisan


dan tes perbuatan saat melakukan evaluasi pembelajaran.berikut adalah uraian
dari ketiganya tersebut:
1. Tes Tertulis
Tes yang dilakukan secara tertulis, baik pertanyaan maupun
jawabannya. Tes tertulis ini dapat digunakan secara individu maupun
kelompok. Tes tertulis ini dibagi menjadi dua sebagai berikut:

6
a. Uraian
Menurut sejarah yang ada lebih dahulu adalah tes tertulis bentuk
uraian. Namun karena banyak kekurangannya terutama dalam hal
penskoran maka para pakar pendidikan berusaha untuk menyusun tes
dalam bentuk yang lain. Guru dapat merancang instrumen evaluasi
pembelajaran dengan tes tertulis bentuk uraian ke dalam dua model.
Pertama, model uraian terbatas. Dalam menjawab soal bentuk
uraian terbatas ini peserta didik harus mengemukakan hal-hal tertentu
sebagai batas-batasnya. Batas-batas tersebut sebelumnya harus sudah
ditentukan oleh guru. Misalnya untuk soal seperti berikut ini
“Sebutkan 10 nama malaikat beserta tugasnya”
“Jelaskan bagaimana urutan saat melakukan wudhu’”
Ke dua model uraian bebas. Dalam model ini peserta didik bebas
untuk menjawab soal dengan cara dan sistematikanya sendiri. Namun,
guru harus membuat patokan dalam mengoreksi jawaban peserta didik
nantinya. Contohnya:
“Bagaimana perkembangan agama Islam di zaman Dianasti
Abbasiyah?”
“Bagaimana peranan para pedagang Gujarat dalam Islamisasi
masyarakat Jawa?”
b. Objektif
Tes objektif sering disebut dengan tes dikotomi dikarenakan
jawabannya antara benar atau salah. Lebih lanjut, Zainal Arifin
mengungkapakan bahwa tes ini dikatakan sebagai tes objektif karena
penilaiannya objektif. Siapapun yang mengoreksi jawaban tes objektif,
hasilnya akan sama karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes
objektif ini menuntut peseta didik untuk memilih jawaban yang benar
diantara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan
jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan maupun pertanyaan yang
belum sempurna. Tes objektif ini terdiri dari empat bentuk:
1. Benar-Salah (True-False, Yes-No)

7
Bentuk tes ini lebih banyak digunakan untuk mengukur
kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan
yang sederhana. Dalam penyusunan soal benar-salah tidak haya
menggunakan pernyataan atau pertanyaan akan tetapi juga
dalam bentuk gambar atau tabel dan diagram. Contoh:
B-S Shalat Dzuhur dilaksanakan tiga rakaat
B-S Rukun Islam yang kelima adalah zakat
Ya-Tidak Tugas malaikat Ridwan adalah menjaga Surga
Ya-Tidak Puasa wajib dimulai pada tanggal 1
Ramadhan

Kelebihan tes benar-salah, yaitu:


 Relatif dapat menguji banyak bahan ajar yang lebih luas
 Mudah di skor oleh guru/dosen secara langsung atau oleh
orang lain karena sudah ada kunci jawaban
 Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti.
Sedangkan kelemahannya dari tes benar-salah, yaitu:
 Sering membingungkan bagi mereka yang tidak
mengetahui secara pasti
 Lebih mendorong peserta tes untuk menebak jawaban
 Ada kecenderungan terlalu menguji kemampuan aspek
ingatan.
2. Pilihan Ganda
Guru dapat merancang soal tes bentuk pilihan ganda untuk
mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan
aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Soal tes bentuk pilihan ganda terdiri atas pembawa pokok
persoalan dan pilihan jawaban. Contoh:
1) Berikut ini adalah contoh perbuatan Khusnudzan......
a. Berkelahi c. Ramah
b. Mencela d. Beringas

8
Kelebihan dari tes pilihan ganda, yaitu:
a. Cara penilaian dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan
objektif
b. Dapat digunakan berulang-ulang.
Sedangkan untuk kelemahannya dari tes pilihan ganda, yaitu:
a. Penyusunan soal yang benar-benar baik membutuhkan
waktu yag lama
b. Sukar dalam menentukan alternatif jawaban yang benar-
benar homogen dan logis.
3. Menjodohkan
Bentuk tes ini disebut juga dengan matching test. Bentuk tes
ini terdiri atas satu seri pertanyaandan satu seri jawaban. Masing-
masing pertanyaan atau pernyataan mempunyai jawaban yang
tercantum dalam seri jawaban. Tugas pesrta didik adalah mencari
dan menempatkan jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan
pertanyaan atau pernyataannya. Contoh:
Bagian A Jawaban Bagian B
1. Jumlah rakaat Ibrahim
shalat Maghrib
2. Kitab suci ummat Shalat
Islam
3. Malaikat penjaga Tiga
Surga
4. Tiang Agama Al-Qur’an
5. Rasul Ulul Azmi Ridwan
Malik
Puasa
Kelebihan dari tes menjodohkan ini, yaitu:
a. Relatif mudah disusun
b. Penskorannya mudah, objektif dan cepat
c. Dapat istilah dan definisinya
d. Materi tes cukup luas.

9
Sedangkan kelemahannya, yaitu:
a. Ada kecenderungan untuk menekankan ingatan saja
b. Kurang baik untuk menila pengertian guna membuat
tafsiran.
4. Tes Isian
Tes isian ini biasanya disebut Completion test atau tes
melengkapi. Tes ini terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-
bagiannya yag dihilangkan. Contoh:
a. Nabi Muhammad Saw lahir pada tanggal.....................
b. Kaum Muhajirin adalah kaum yang berasal dari kota..........
Kelebihan tes isian ini, yaitu:
a. Relatif mudah disusun
b. Sangat baik untuk menilai kemampuan peserta didik yang
berkenaan dengan fakta, prinsip dan terminologi
c. Menuntut peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya
secara singkat dan jelas.
Kelemahan tes isian, yaitu:
a. Dalam memeriksa lembar jawaban dibutuhkan waktu yang
cukup banyak
b. Pada soal bentuk melengkapi, jika titik-titik kosong yag
harus diisi terlalu banyak maka dapat
mengakibatkanpeserta didik sering terkecoh.
2. Tes Lisan
Tes lisan ini disebut juga dengan oral test karena dalam
pelaksanaannya guru menuntut jawaban peserta didik secara lisan. Tes lisan
ini haya mencakup domain kognitif, Anas Sudijono mengungkapkan bahwa
setidaknya ada sembilan rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh guru
dalam merancang dan melakuka tes lisan, antara lain sebagai berikut:
a. Sebelum melakukan tes lisan sebaiknya guru sudah melakukan
inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada
peseta didik dalam tes lisan tersebut sehingga tes lisan memiliki
validitas yang tinggi, baik dari segi isi maupun konstruksinya

10
b. Guru harus menyiapkan setiap butur soal yang telah ditetapkan
untuk diajukan dalam tes lisan serta membuat pedomannya
c. Guru jangan sekali-kali menentukan skor atau nilai hasil tes
lisan setelah seluruh peserta didik menjalani tes lisan
d. Tes hasil belajar yang dilaksanakan secara lisan hendaknya
jagan sampai menyimpang atau berubah arah dari evaluasi
menjadi diskusi
e. Guru jangan sekali-kali memancing, baik dengan kata-kata
maupun kode kepada peserta didik dengan tujuan untuk
membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaan
f. Tes lisan harus berlangsung secara wajar, jangan sampai
menimbulkan rasa takut, gugup, panik peserta didik
g. Sebaiknya guru menentukan batas waktu yang disediakan bagi
peserta didik untuk menjawab pertanyaan
h. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat okleh guru hendaknya
bervariasi sekalipun inti persoalan yang ditanyakan itu sama,
namun cara pengajuannya dibuat beragam
i. Usahakan tes lisan dilakukan secara individual, agar tidak
memengaruhi mental peserta didik yang lainnya.
3. Tes Perbuatan
Tes perbuatan ini pada umumnya digunakan untuk mengukur domain
psikomotorik peserta didik dimana penilaiannya dilakukan terhadap proses
penyelesaian tugas dan hasil akhir yang dicapai oleh peserta didik setelah
melaksanakan tugas tersebut. Dikarenakan tes ini bertujuan untuk mengukur
keterampilan maka sebaiknya tes ini dilaksanakan secara individual.
Harapannya, masing-masing peserta didik yang di tes akan dapat diamati
dan dinilai secara pasti sejauh mana kompetensi atau keterampilannya
dalam melaksanakan tugas yang diperintahkan pada masing-masing peserta
didik.

11
D. Merancang Langkah-langkah Evaluasi Pembelajaran
Sumiati dan Asra mengungkapkan bahwa langkah-langkah dalam evaluasi
pembelajaran terdiri dari tiga tahapan utama sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini bahan-bahan yang diperlukan untuk menyusun
evaluasi dihimpun, bahan-bahan tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Kompetensi dasar beserta indikator pencapaian kompetensi tersebut
2. Ruang lingkup da sistematika materi pembelajaran
3. Kisi-kisi evaluasi pembelajaran berdasarkan materi pembelajaran
4. Menuliskan butir-butir soal dengan bentuk sebagaimana yang
dirancang dalam kisi-kisi
5. Jika diperlukan, soal perlu diuji terlebih dahulu sebelum diperbanyak
sesuai dengan kebutuhan.
b. Tahap Pelaksanaan
Melaksanakan evaluasi pembelajaran harus disesuaikan dengan maksud
atau tujua tertentu. Evaluasi formatif dapat dilaksanakan setiap kali
selesai dilakukan proses pembelajaran terhadap satu unit pelajaran
tertentu. Sementara itu, evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program,
apakah di akhir semester atau di kelas terakhir (Ujian Nasional).
Sedangkan evaluasi diagnostik dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan peserta didik.
c. Tahap Pemeriksaan
Dalam tahap pemeriksaan ini dilakukan penentuan dan pengolahan
angka atau skor melalui kegiatan koreksi. Dalam mengoreksi hasil
pekerjaan peserta didik, seharusnya guru membuat dan menggunakan
kunci jawaban, baik untuk evaluasi dengan tes objektif maupun tes
uraian. Hal ini disamping untuk mempermudah pemeriksaan juga untuk
menghindari unsur subjektif dalam memberi angka. Angka yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan masih dalam bentuk angka mentah.
Agar angka masak (angka terjabar) dapat diperoleh maka perlu
dilakukan pengolahan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Evaluasi berasal dari kata “evaluation” yang kemudian diserap kedalam
bahasa Indonesia menjadi evaluasi yang berarti suatu upaya untuk menentukan
nilai atau jumlah. Evaluasi harus dilakukan secara berhati-hati, bertangung jawab,
menggunakan strategi, dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun fungsi dari
evaluasi Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa.
Melalui evaluasi siswa akan mendapatkan informasi tentang efektivitas
pembelajaran yang dilakukannya. Dari hasil evaluasi siswa akan dapat
menentukan harus bagaimana proses pembelajaran yang harus dilakukannya.
Jenis-jenis dari evaluasi pembelajaran yaitu: Evaluasi Formatif, Evaluasi
Sumatif, Evaluasi Diagnostik, dan Evaluasi Penempatan. Sedangkan teknik yang
dapat dirancang oleh guru dalam evaluasi pembelajaran yaitu: Teknik Evaluasi
Pembelajaran Tes dan Teknik Evaluasi Pembelajaran Nontes.Dalam merancang
langkah-langkah evaluasi pembelajarn terdir dari tiga tahapan, yaitu: Tahap
Persiapan, Tahap Pelaksanaan, dan Tahap Pemerksaan

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan
dan kekhilafan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Dan supaya kedepannya
bisa membuat makalah yang lebih baik lagi. Kami segenap penulis mengucapkan
terimakasih.

13
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2010.


Mukhid, Abdul. Evaluasi Pembelajaran. Pamekasan: Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri. 2006.
Munthe, Bermawy. Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
2009.
Sanjaya, Wina. Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Prenamedia Group. 2008.
Wiyani, Novan Ardy. Desain Pembelajaran Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media. 2013.
Hamzah, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hlm. 92.
Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana
Prenamedia Group, 2008), hlm. 244.
Ibid, hlm. 246
Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran, hlm. 244
Novan Ardy Wiyani, Desain Pembelajaran Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2013) hlm. 182
Ibid, hlm. 185
Ibid, hlm. 187
Bermawy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani,
2009) hlm. 121
Novan Ardy Wiyani, Desain Pembelajaran Pendidikan, hlm. 194
Abdul Mukhid, Evaluasi Pembelajaran, (Pamekasan: Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri, 2006) hlm. 32
Novan Ardy Wiyani, Desain Pembelajaran Pendidikan, hlm. 200

14