Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem tenaga listrik membutuhkan keseimbangan yang terus menerus, energi pada penggerak
awal dengan beban listriknya agar dapat beroperasi dengan stabil. Beban listrik terus bervariasi
seperti misalnya beban penerangan, peralatan listrik, atau motor-motor listrik. Perubahan
sebuah beban mungkin relative kecil dibandingkan sistem tenaga listrik secara keseluruhan
tetapi setiap kali beban bertambah atau berkurang harus diikuti dengan perubahan daya pada
penggerak awal generator. Jika daya mekanik pada poros penggerak awal tidak dengan segera
menyesuaikan dengan besarnya beban listrik maka frekuensi dan tegangan akan bergeser dari
posisi normal. Keadaan yang lebih buruk dapat terjadi apabila ada pada sistem seperti pada
saluaran transmisi/Sistem Distribusinya, hilangnya pembangkitan atau beban yang besar.

Pada sisi pembangkit, adanya peralatan kontrol seperti governor pada turbin dan regulator
tegangan diharapkan dapat mengembalikan tegangan dan frekuensi ke posisi normal atau masih
dalam batas-batas yang dapat diterimaApabila terjadi ketidakstabilan pada bagian pembangkit
listrik dapat mengakibatkan terganggunya kontinuitas pelayanan daya pada sebagian atau
bahkan ke seluruh konsumen.

Beberapa kondisi yang menyebabkan sistem pembangkit menjadi tidak stabil antara lain
gangguan hubung singkat pada saluran transmisi, pelepasan beban generator, perubahan beban
secara tiba-tiba atau switching saluran. Untuk jenis gangguan ini, terkadang memerlukan
tindakan lebih anjut yang cepat agar tidak terjadi pemadaman total (blackout), dan membuat
sistem kembali stabil serta bekerja secara optimal. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah
melakukan pelepasan beban (load shedding) secara bertahap.

1
GEJALA MEDAN TINGGI

Lingkup studi tegangan tinggi sangat luas, antara lain meliputi fenomena tegangan tinggi,
seperti perhitungan medan elektrik, gejala tembus listrik dielektrik, metode pembangkitan dan
pengukuran tegangan tinggi, teknik isolasi, system isolasi, trafo pembangkit, jaringan SUTET,
prosedur pengujian dll,

1. IOSINASI DAN MEKANISME KEGAGALAN

1.2 Proses Dasar Ionisasi

Udara ideal adalah gas yg hanya terdiri dari molekul-molekul netral,sehinggatidak


dapat mengalirkan arus listrik.Tetapi dalam kenyataannya,udara ygsesungguhnya
tidak hanya terdiri dari molekul-molekul netral saja tetapi adasebagian kecil dari
padanya berupa ion-ion dan electron-elektron bebas,yg akanmengakibatkan udara
dan gas mengalirkan arus walaupun terbatas.Kegagalan listrik yg terjadi di udara atau
gas pertama-tama tergantung dari jumlah electron bebas yg ada di udara atau gas
tersebut.Konsentrasi electron bebasini dalam keadaan normal sangat kecil
dan ditentukan oleh pengaruh radioaktif dariluar.Pengaruh ini dapat berupa radiasi
ultra violet dari sinar matahari,radiasiradioktif dari bumi,radiasi sinar kosmis dari
angkasa luar

dan sebagainya,ygkesemuanya dapat menyebabkan udara terionisasi.Jika diantara


elektroda (gambar 1.10 diterapkan suatu tegangan V,maka akantimbul suatu medan
listrik E yg mempunyai besar dan ara tertentu.Di dalam medanlistrik,electron-
elektron bebas akan mendapat energy yg cukup kuat,sehingga dapatmerangsang
timbulnya proses ionisasi.

2
1.2 IONISASI DAN PROSES KEGAGALAN DI UDARA/GAS
Udara dan gas termasuk bahan isolasi yg banyak digunakan
untuk mengisolasi peralatan listrik tegangan tinggi.Isolasi berfungsi memisahkan dua
atau lebih penghantarlistrk yg beregangan,sehingga antara penghantar-
penghantar tersebuttidak terjadi lompatan listrik (flashover) atau
percikan (sparkover).Bahan isolasi akan mengalami pelepasan muatan yang
merupakan bentukkegagalan listrik apabila tegangan yang diterapkan melampaui
kekuatan isolasinya.Kegagalan yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi
bisa menyebabkankerusakan alat sehingga kontinuitas sistem terganggu.Udara
merupakan bahanisolasi yang banyak digunakan pada peralatan tegangan tinggi
misalnya padaarrester sela batang yang terpasang di saluran transmisi, selain itu
udara jugadigunakan sebagai media peredam busur api pada pemutus tenaga (CB
=CircuitBreaker). Sementara bahan isolasi cair banyak digunakan sebagai isolasi
dan pendingin pada trafo karena memiliki kekuatan isolasi lebih tinggi. Hasil
pengujianmenunjukkan bahwa nilai tegangan tembus yang terjadi pada media isolasi
udaradan minyak cenderung meningkat seiring pertambahan jarak sela. Selain itu
jugadilakukan pengujian pada minyak bekas dan minyak baru.
Hasil pengujianmenunjukkan tegangan tembus pada minyak baru lebih tinggi
daripada minyak bekas dan tegangan tembus isolasi udara lebih kecil
daripada tegangan tembusminyak.Untuk tegangan yg semakin tinggi diperlukan
bahan isolasi yg mempunyai kuatisolasi yg lebih tinggi.Apabila tegangan tegangan yg
diterapkan mencapaiketinggian tertentu,maka bahan isolasi tersebut akan
mengalami pelepasan muatan(lucutan,discharge),yg merupakan suatu bentuk
kegagalan listrik.Kegagalan inimenyebabkan hilangnya tegangan dan mengalirnya
arus dalam bahan
isolasi.Dalam proses pelepasan listrik ada beberapa mekanisme pembangkitan
ataukehilangan ion,baik dalam bentuk tunggal,maupun dalam bentuk
kombinasi.Prosesdasar pelepasan gas meliputi antra lain :

a. Pembangkitan ion dengan cara benturan, (collision)


Elektron,fotoionisasi,ionisasi oleh benturan ion-
positif,ionisasi termal,pelepasan (detachament)
electron kumulatif,dan efek γ sekunder

3
b. Kehilangan ion dengan cara pengabungan (attachement)
electron,rekombinasidan difusi.

2. Partial Discharge dan Kegagalan Bahan Isolasi

Partial discharge (peluahan parsial) adalah peristiwa pelepasan/loncatan bunga api listrik yang
terjadi pada suatu bagian isolasi (pada rongga dalam atau pada permukaan) sebagai akibat
adanya beda potensial yang tinggi dalam isolasi tersebut Partial discharge dapat terjadi pada
bahan isolasi padat, bahan isolasi cair maupun bahan isolasi gas. Mekanisme kegagalan pada
bahan isolasi padat meliputi kegagalan asasi (intrinsik), elektro mekanik, streamer, thermal dan
kegagalan erosi. Kegagalan pada bahan isolasi cair disebabkan oleh adanya kavitasi, adanya
butiran pada zat cair dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi gas mekanisme
townsend dan mekanisme streamer merupakan penyebab kegagalan. Dari uraian di atas
menunjukkan bahwa kegagalan isolasi ini berkaitan dengan adanya partial discharge.

Pengukuran partial discharge pada peralatan tegangan tinggi merupakan hal yang sangat
penting karena dari data data yang diperoleh dan interpretasinya dapat ditentukan reability
suatu peralatan yang disebabkan oleh penuaan (agging) dan resiko kegagalan dapat dianalisa.
Spesifikasi pengujian partial discharge tergantung pada tipe peralatan tes dan bahan isolasi yang
digunakan pada proses konstruksi suatu peralatan.

Adanya partial discharge di dalam bahan isolasi dapat ditentukan dengan tiga metode yaitu :
dengan pengukuran tegangan pada objek, dengan pengukuran arus di dalam rangkain luar dan
mengukur intensitas radiasi gelombang elektromagnetik yang disebabkan karena adanya partial
discharge.

Mekanisme Kegagalan Bahan Isolasi Padat

Mekanisme kegagalan bahan isolasi padat terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsi waktu
penerapan tegangannya. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

Uraian masing masing jenis kegagalan pada bahan isolasi padat adalah :

 Kegagalan asasi (intrinsik) adalah kegagalan yang disebabkan oleh jenis dan suhu bahan (
dengan menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan elektroda,
ketidakmurnian, kantong kantong udara. Kegagalan ini terjadi jika tegangan yang
dikenakan pada bahan dinaikkan sehingga tekanan listriknya mencapai nilai tertentu
yaitu 106 volt/cm dalam waktu yang sangat singkat yaitu 10-8 detik

 Kegagalan elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya perbedaan

4
polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga timbul tekanan listrik
pada bahan tersebut. Tekanan listrik yang terjadi menimbulkan tekanan mekanik yang
menyebabkan timbulnya tarik menarik antara kedua elektroda tersebut. Pada tegangan
106 volt/cm menimbulkan tekanan mekanik 2 s.d 6 kg/cm2. Tekanan atau tarikan
mekanis ini berupa gaya yang bekerja pada zat padat berhubungan dengan Modulus

Young

Dengan rumus Stark dan Garton

Jika kekuatan asasi (intrinsik) tidak tercapai pada , maka zat isolasi akan gagal bila

tegangan V dinaikkan lagi. Jadi kekuatan listrik maksimumnya adalah .


Dimana :

F :gaya yang bekerja pada zat padat, D L: pertambahan panjang zat padat L:panjang zat padat,
A:pertambahan zat yang dikenai gaya, d0:tebal zat padat sebelum dikenai tegangan V, d:tebal
setelah dikenai tegangan V dan e 0e r:permitivitas

 Kegagalan streamer adalah kegagalan yang terjadi sesudah suatu banjiran (avalance).
Sebuah elektron yang memasuki band conduction di katoda akan bergerak menuju
anoda dibawah pengaruh medan memperoleh energi antara benturan dan kehilangan
energi pada waktu membentur. Jika lintasan bebas cukup panjang maka tambahan
energi yang diperoleh melebihi pengionisasi latis (latice). Akibatnya dihasilkan tambahan
elektron pada saat terjadi benturan. Jika suatu tegangan V dikenakan terhadap elektroda
bola, maka pada media yang berdekatan (gas atau udara) timbul tegangan. Karena gas
mempunyai permitivitas lebih rendah dari zat padat sehingga gas akan mengalami
tekanan listrik yang besar. Akibatnya gas tersebut akan mengalami kegagalan sebelum
zat padat mencapai kekuatan asasinya. Karean kegagalan tersebut maka akan jatuh
sebuah muatan pada permukaan zat padat sehingga medan yang tadinya seragam akan
terganggu. Bentuk muatan pada ujung pelepasan ini dalam keadaan tertentu dapat
menimbulkan medan lokal yang cukup tinggi (sekitar 10 MV/cm). Karena medan ini
melebihi kekuatan intrinsik maka akan terjadi kegagalan pada zat padat. Proses
kegagalan ini terjadi sedikit demi sedikit yang dapat menyebabkan kegagalan total.

 Kegagalan termal, adalah kegagalan yang terjadi jika kecepatan pembangkitan panas di
suatu titik dalam bahan melebihi laju kecepatan pembuangan panas keluar. Akibatnya

5
terjadi keadaan tidak stabil sehingga pada suatu saat bahan mengalami kegagalan.
Gambar kegagalan ini ditunjukkan seperti :

Kegagalan Termal

Dalam hukum konversi energi :

U0 = U1+U2, dimana :
U0 :panas yang dibangkitkan
U1 :panas yang disalurkan keluar
U2 :panas yang menaikkan suhu bahan
atau dimana :
Cv : panas spesifik ; k : konduktivitas termal; d : konduktivitas listrik E: tekanan listrik.

Pada arus bolak balik terdapat hubungan langsung antara konduktivitas dengan dengan
frekuensi dan permitivitas yaitu :
s = w 1e 0 e r dan e r = e r' + j e r"
dimana e 0 : konstanta dielektrik dan e r permitivitas relatif.

Karena adanya faktor ini, maka rugi rugi pada medan arus bolak balik lebih besar dari arus
searah. Akibatnya kuat gagal termal pada tegangfan AC lebih kecil daripda kuat gagal termal
medan arus DC. Kuat gagal termal untuk medan bolak balik juga menurun dengan naiknya
frekuensi tegangan.

 Kegagalan Erosi, adalah kegagalan yang disebabkan zat isolasi pada tidak sempurna,
karena adanya lubang lubang atau rongga dalam bahan isolasi padat tersebut.
Lubang/rongga akan terisi oleh gas atau cairan yang kekuatan gagalnya lebih kecil dari
kekuatan zat padat. Gambar kegagalan isolasi dan rangkaian ekivalennya ditunjukkan
oleh gambar dibawah ini:

Bentuk Gelombang rongga isolasi

ekivalen padat

Untuk t <<< d yang mecerminkan keadaan sebenarnya, bila rongga terisi gas, maka tegangan
pada C1 adalah V1= e r. t/dt Va

dimana :

C1 : Kapasitansi rongga yang tebalnya t


C2 :Kapasitansi rongga yang tebalnya d
V1 :Tegangan pada rongga

6
Va :Tegangan terminal
e r :Permitivitas relatif zat isolasi padat

Jika tegangan AC yang dikenakan tidak menghasilkan kegagalan, maka bentuk gelombang yang
terjadi pada rongga adalah V1, tetapi jika V1 cukup besar, maka bisa terjadi kegagalan pada
tegangan V1'. Pada saat terjadi lucutan dengan tegangan V1' maka pada rongga tersebut terjadi
busur api. Busur api yang terjadi diiringi oleh jatuhnya tegangan sampai V 1" dan mengalirnya
arus. Busur api kemudian padam. Tegangan pada rongga naik lagi sampai terjadi kegagalan
berikutnya pada tegangan V1'. Hal ini juga terjadi pada setengah gelombang (negatif)
berikutnya. Rongga akan melucut pada waktu tegangan rongga mencapai -V1'. Pada waktu gas
dala rongga gagal, permukaan zat isolasi padat merupakan katoda - anodadengan bentuk yang
ditunjukkan seperti berikut:

Bentuk Gas dalam rongga saat mengalami kegagalan

Benturan elektron pada anoda mengakibatkan terlepasnya ikatan kimiawi pada isolasi padat
tersebut. Demikian pula pemboman katoda oleh ion ion positif akan mengakibatkan kenaikan
suhu yang menyebabkan ketidakstabilan termal, sehingga dinding zat padat lama kelamaan
menjadi rusak, rongga menjadi semakin besar dan isolasi menjadi tipis. Hubungan antara

tegangan lucutan dan umur dinyatakan dengan dimana : Vi : tegangan dimana


mulai terjadi lucutan, Va : tegangan yang diterapkan n : nilai antara 3 dan 10 dan A adalah
konstanta.

Mekanisme Kegagalan Isolasi Zat Cair

Jika suatu tegangan dikenakan terhadap dua elektroda yang dicelupkan kedalam cairan (isolasi)
maka terlihat adanya konduksi arus yang kecil. Jika tegangan dinaikkan secara kontinyu maka
pada titik kritis tertentu akan terjadi lucutan diantara kedua elektroda. Lucutan dalam zat cair
ini akan terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut :

1. Aliran listrik yang besarnya ditentukan oleh karakteristik rangkaian

2. Lintasan cahaya yang cerah dari elektroda yang satu ke elektroda yang lain.

3. Terjadi gelembung gas dan butir butir zat padat hasil dekomposisi zat cair

4. Terjadi lubang pada elektroda

1. Kegagalan Elektronik pada Zat Cair

7
Jika elektroda memiliki bagian permukaan tidak rata (ada yang runcing) maka kuat medan yang
terbesar terdapat pada bagian yang runcing tersebut. Kuat maksimum ini akan mengeluarkan
elektron e1 yang akan memulai terbentuknya banjiran elektron. Elektron yang dihasilkan e1, e2,
e3 dan en yang kemudian akan menyebabkan timbulnya arus konduksi dalam zat cair pada kuat
medan yang tinggi. Arus yang timbul mempunyai kerapatan (Schottky) :

dimana :

J : kerapatan arus konduksi; J1: kerapatan arus termionik; Ea :kuat medan yang diterapkan; m :
faktor ketidakrataan permukaan (=10 untuk permukaan halus)

Kondisi mulai terjadinya banjiran elektron, dip[eroleh dengan menyamakan perolehsn energi
oleh elektron yang menempuh lintasan rata-rata yaitu U1 = F l = e E l , dengan energi untuk
mengionisasi molekul U2 = C.h dimana E : kuat medan yang diterapkan,
l : lintasan bebas rata rata, h : catu (kuantum) energi yang diperlukan untuk mengionisasikan
molekul dan C : konstanta.

2. Kegagalan gelembung atau Kavitasi pada Zat Zair

Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan isolasi zat cair yang
disebabkan oleh gelembung-gelembung gas didalamnya. Sebab sebab timbulnya gelembung gas
( Kao dan Krasucki) adalah :

o Permukaan elektroda tidak rata, sehingga terjadi kantong kantong udara


dipermukaannya

o Adanya tabrakan elektron sehingga terjadi produk-produk baru berupa gas

o Penguapan cairan karena adanya lucutan pada bagian bagian elektroda yang
tajam dan tidak teratur

o Zat cair mengalami perubahan suhu dan tekanan

Medan listrik dalam gelembung gas yang ada dalam isolasi zat cair
dimana e 1 adalah permitivitas zat cair dan E0 adalah medan listrik dalam zat cair tanpa
gelombung.

8
Bila Eb sama dengan batas medan ionisasi gas, maka akan terjadi lucutan pada gelombung. Hal
ini akan mempercepat pembentukan gas karena dekomposisi zat cair dan dapat mengakibatkan
kegagalan isolasi. Bentuk pengaruh medan terhadap gelembung udara ditunjukkan pada
gambar-6.

Pengaruh Medan terhadap gelembung udara

Karena pengaruh medan yang kuat diantara elekroda maka gelobung gelombung udara dalam
cairan tersebut akan berubah menjadi memanjang searah dengan medan. gelembung
gelembung tersebut akan saling sambung menyambung dan membentuk jembatan yang
akhirnya akan mengawali terjadinya kegagalan seperti dalam gambar:

Kekuatan gagal medan gelombung

Kekuatan gagal medan gelembung adalah :

dimana e 1 dan e 2 adalah permitivitas zat cair dan permitivitas gelembung , r jari jari awal
gelembung (dianggap bola), Vb jatuh tegangan dalam gelembung dan adalah gaya tegang
(tension) permukaan zat cair.

3. Kegagalan Bola Cair dalam Zat Cair

Jika suatu zat isolasi cair mengandung sebuah bola cair atau jenis cairan lain, maka dapat terjadi
kegagalan akibat ketidakstabilan bola cair tersebut dalam medan listrik. Bola cair yang dikenai
medan E akan beruabah bentuk menjadi sferoida seperti ditunjukkan dalam gambar berikut
dengan medan di dalamnya sebesar E2, maka hubungan antara kedua medan adalah

: dan

e 1 permitivitas zat cair isolasi dan e 2 adalah permitivitas zat cair

9
Gambar-8 Medan listrik bentuk sferoida

4. Kegagalan Butiran Padat dalam Zat Cair

Kegagalan ini disebabkan oleh adanya butiran (particle) didalam bahan isolasi yang akan
menyebabkan terjadinya kegagalan seperti yang ditunjukkan dalam gambar di bawah.

Besarnya gaya yang bekerja pada butiran dalam medan tak homogen (Kok) :

dimana : R jari jari butiran dan E gradien tegangan

Kegagalan butiran Padat

Jika e 2 > e 1, maka arah gaya yang bekerja pada butiran searah dengan tekanan listrik maksmum
(FA) sehingga gaya akan mendorong butiran ke arah bagian yang kuat dari medan.
Jika e 2 < e 1, maka arah gaya berlawanan dengan tekanan listrik maksimum (FB). Gaya F ini akan
besar bila e 2 besar. Untuk butiran penghantar e 2 ® ¥ sehingga F=1/2 R3 grad.E2.

Untuk medan yang seragam, medan poaling kuat ditempat yang seragam, disini grad.E 2=0. Oleh
sebab itu butiran akan tertarik ke tempat dimana medannya seragam. Akibatnya butiran akan
sejajar diantara kedua elektroda dan seolah olah membentuk jembatan yang mengawali
terjadinya kegagalan isolasi. Adanya butiran penghantar diantara elektroda akan mengakibatkan
pembesaran medan dalam zat cair didekat permukaan butiran. Pembesaran medan ini
ditentukan oleh bentuk butiran.

5. Kegagalan Campuran Zat Cair-Padat

Kegagalan isolasi cair-padat (isolasi kertas dicelup dalam minyak) biasanya disebabkan oleh
pemburukan. Pemburukan yang dapat menyebabkan kegagalan isolasi cair-padat yaitu :

o Pemburukan karena pelepasan dalam (internal discharge)

o Pemburukan elektro-kimiawi

Jika campuran dielektrik zat cair-padat memiliki kekuatan gagal yang berbeda beda maka jika
tegangan listrik dinaikkan, akan terjadi kegagalan pada zat yang paling lemah. Hal ini dapat

10
mengakibatkan kegagalan parsial (partial discharge). Pelepasan ini mengakibatkan pemburukan
perlahan lahan karena :

1). Disintegrasi dielektrik padat yang diakibatkan pemboman oleh elektron dan ion yang
dihasilkan.
2). Aksi kimiawi pada dielektrik karena ionisasi gas
3). Suhu tinggi di daerah pelepasan.

Pemburukan elektro-kimiawi terjadi karena ion-ion yang dibebaskan oleh arus pada elektroda
bisa menyebabkan kerusakan. Derajat kerusakan yang terjadi tergantung pada sifat ion yang
terbawa dan reaksi kimia dengan ionisasi. Kerusakan bisa terjadi pada tegangan DC maupun AC.

Mekanisme Kegagalan Isolasi Gas

Proses dasar dalam kegagalan isolasi gas adalah ionisasi benturan oleh elektron.
Ada dua jenis proses dasar yaitu :

 Proses primer, yang memungkinkan terjadinya banjiran elektron

 Proses sekunder, yang memungkinkan terjadinya peningkatan banjiran elektron

Saat ini dikenal dua mekanisme kegagalan gas yaitu :

 Mekanisme Townsend

 Mekanisme Streamer

1. Mekanisme Kegagalan Townsend

Pada proses primer, elektron yang dibebaskan bergerak cepat sehingga timbul energi yang
cukup kuat untuk menimbulkan banjiran elektron. Jumlah elektron Ne pada lintasan sejauh dx
akan bertambah dengan dNe, sehingga elektron bebas tambahan yang terjadi dalam lapisan dx
adalah dNe = a Ne.dx . Ternyata jumlah elektron bebas dNe yang bertambah akibat proses
ionisasi sama besarnya dengan jumlah ion positif dN+baru yang dihasilkan, sehingga dNe =
dN+ = a Ne.(t).dt; dimana :

a : koefisien ionisasi Townsend


dN+: junlah ion positif baru yang dihasilkan
Ne : jumlah total elektron
Vd : kecepatan luncur elektron

Pada medan uniform, a konstan, Ne = N0, x = 0 sehingga Ne = N0 e a x


Jum;lah elektron yang menumbuk anoda per detik sejauh d dari katoda sama dengan jumlah ion

11
positif yaitu N+ = N0 e a x

Jumlah elektron yang meninggalkan katoda dan mencapai anoda adalah :

Arus ini akan naik terus sampai terjadi peralihan menjadi pelepasan yang bertahan sendiri.
Peralihan ini adalah percikan dan diikuti oleh perubahan arus dengan cepat
d d
dimana karena e a >> 1 makaÀ 0 e a secara teoritis menjadi tak terhingga, tetapi dalam
praktek hal ini dibatasi oleh impedansi rangkaian yang menunjukkan mulainya percikan.

2. Mekanisme Kegagalan Streamer

Ciri utama kegagalan streamer adalah postulasi sejumlah besar foto ionisasi molekul gas dalam
ruang di depan streamer dan pembesaran medan listrik setempat oleh muatan ruang ion pada
ujung streamer. Muatan ruang ini menimbulkan distorsi medan dalam sela. Ion positif dapat
dianggap stasioner dibandingkan elektron-elektron yang begerak cepat dan banjiran elektron
terjadi dalam sela dalam awan elektron yang membelakangi muatan ruang ion positif. Medan Er
yang dihasilkan oleh muatan ruang ini pada jari jari R adalah :

Pada jarak dx, jumlah pasangan elektron yang dihasilkan adalah a e a x dx sehingga :

R adalah jari jari banjiran setelah menempuh jarak x, dengan rumus diffusi R=Ö (2Dt).

Dimana t = x/V sehiungga dimana :


2
N : kerapatan ion per cm , e : muatan elektron ( C ), e 0 : permitivitas ruang bebas, R: jari jari
(cm), V : kecepatan banjiran, dan D : koefisien diffusi.

Lokasi dan Pengukuran Partial Discharge

Partial discharge yang merupakan peristiwa pelepasan/loncatan bunga api listrik pada suatu
bagian dari bahan isolasi padat kemungkinan terjadinya meliputi pada :

12
o Rongga terhubung langsung pada elektroda

o Rongga dalam isolasi

o Rongga yang dipisahkan oleh elektroda

o Permukaan elektroda

o Titik elektroda yang berbentuk kanal

o Rongga isolasi yang berbentuk kanal

3. BAHAYA ELEKTROSTATIS / LISTRIK STATIS

Kata “listrik” dalam bahasa Inggris electric, berasal dari bahasa Yunani elektron,
yang berarti “amber”. Amber adalah pohon damar yang membatu, dan pengetahuan
kuno membuktikan bahwa jika Anda menggosok batang amber dengan sepotong kain,
maka amber menarik potongan daun kecil-kecil atau debu. Batang karet keras, batang
kaca, atau penggaris plastik, jika digosok dengan sepotong kain juga akan menunjukkan
“efek amber” atau listrik statis sebagaimana yang kita sebut sekarang. Barangkali Anda
telah memiliki pengalaman tentang listrik statis yakni ketika Anda menyisir rambut
kering, atau ketika menyetrika baju nilon. Pada setiap kasus tadi, suatu benda menjadi
“bermuatan” listrik karena proses gosokan dan dikatakan memiliki muatan listrik.
Listrik statis adalah Apakah seluruh muatan listrik sama? Atau mungkinkah terdapat
lebih dari satu jenis?

Arus dapat mengalir melalui seorang individu pada kondisi tertentu, tergantung pada
seberapa baik tubuh dapat menerima listrik.
- Ketika Anda berdiri di atas permukaan yang tidak menghantarkan listrik (non-konduktif),
misalnya tikar karpet maka Anda tidak akan merasa dampak listrik statis. Namun, jika ada yang
berkeringat lalu berdiri di dalam air, hal ini dapat berakibat fatal, listrik statis akan terjadi dalam
tubuh Anda, bahkan bisa meninggal dunia.
- Lamanya waktu arus mengalir melalui tubuh:
Semakin lama kontak listrik, semakin besar arus, dan sengatan pun akan semakin besar.
- Jalan arus ketika mengalir ke seluruh tubuh:
Jalan yang paling berbahaya adalah melalui organ-organ vital.

13
Contoh Bahaya Listrik Statis :
1) Petir
(Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, yaitu tentang pengosongan muatan dan juga disertai
cara menanggulanginya).

2) Percikan Api
Seringkali benda menjadi berbahaya ketika bermuatan listrik. Putaran ban pada saat mobil truk
berjalan menghasilkan muatan negative yang diperoleh dari gesekan ban dengan jalan. Bagian
badan logam mobil yang berdekatan dengan ban menjadi bermuatan positif dengan cara induksi.
Hal ini dapat menimbulkan percikan api. Percikan api ini dapat membakar muatan mobil yang
mudah terbakar seperti bensin. Untuk menghindari peristiwa tersebut, truk pengangkut bensin
atau bahan yang mudah terbakar lainnya dilengkapi dengan sepotong logam di bagian belakang
mobil yang menyentuh tanah. Logam ini menghantarkan electron dari tanah untuk menetralisir
muatan positif yang ada di badan logam mobil sebelum terjadi percikan api.

3) Resiko sengatan listrik

4) Bahaya Listrik Statis di Pesawat


Listrik statis pesawat dibuang ke semua ujung dari struktur badan pesawat yaitu di atap sayap
dan ekor bentuknya seperti penangkal petir berbentuk logam mencuat dan memanjang
instrument pesawat sudah diproteksi sedemikian rupa tetapi bisa juga terjadi walaupun hanya
berupa visual. Visual ini terlihat jika pesawat berada di ketinggian 30000 feet ke atas dan
altimeter set ke 29.92Hg, partikel bebas dan ion2 di udara akan terkena gesekan body pesawat
dan radiasi elektromagnetik dari sinyal HP akan meningkatkan sekian persen radiasi didalam
pesawat, dimana sinyal HP akan dianggap sebagai radiasi dan diserap oleh struktur body dan
dibuang ke setiap ujung badan pesawat, hal ini bisa mengakibatkan ujung-ujung pembuangan
elektrostatis berpendar dan menyala sepeti kilat kecil. Hal ini memang tidak berbahaya, namun
jika frekuensi HP sama dengan pesawat hal ini dapat menyebabkan mesin pesawat mati.

5) Bahaya Listrik Statis di SPBU


Sering terjadi kebakaran di SPBU akibat kecerobohan manusia. Untuk menghindari hal ini
jangan sekali-kali masuk kembali kedalam kendaraan Anda saat pengisian bensin sedang
berlangsung. Jika Anda memang terpaksa harus masuk kembali kedalam kendaraan Anda saat
bensin dipompa, pastikan Anda keluar, menutup pintu sambil menyentuh logam, sebelum Anda
menarik nozzle keluar. Dengan cara ini listrik statis dari tubuh Anda akan dibuang sebelum Anda
menarik keluar nozzle.

14
6) Bahaya Listrik Statis di Rel Kereta Api
Roda KA dari baja berjenis ferritic, mempunyai medan magnet yang sangat kuat. Medan magnet
inilah yang dapat mengakibatkan mesin kendaraan mati di tengah rel kereta api. Biasanya
kendaraan yang mudah mati adalah kendaraan berbahan bakar bensin karena kendaraan berbahan
bakar bensin masih menggunakan platina dan CDI. Jika terkena medan magnet, maka
pengapiannya akan terpengaruh sehingga mesin bisa mati. Sedangkan solar berbeda. Selain
accunya di atas 12 volt juga tidak menggunakan platina.

Daftar Pustaka

Halliday, dkk. 1978. Fisika Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga


Jatmiko, B. 2004. Listrik Statis. [Online].
Tersedia:http://azkamiru.files.wordpress.com/2010/01/fis-20_listrik_statis.pdf
Kanginan, M. 2006. Fisika untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Larson, A. 2006. Static Electricity Hazards. [Online].
Tersedia:http://www.ohiobwc.com/downloads/blankpdf/SafetyTalk-StaticHazards.pdf
Tipler, P.A. (1998). Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL
MODES/KONSEP_DASAR_FISIKA/BBM_10_(Listrik_Statis)_KD_Fisika.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/diktat%20teknik%20pelapisan_0.pdf
http://erabaru.net/iptek/55-iptek/31138-mencegah-listrik-statis-dalam-kehidupan-
sehari-hari
http://indohse.web.id/joomla/joomla-overview/34-kebakaran/47-penanganan-listrik-
statis-pada-area-atmosfir-mudah-terbakar-flammable-area
http://elektronikadasar.info/listrik-statis.htm
http://www.metallux.de/uploads/pics/Electrotstatics-References-Metallux-Resistors-
Control-electrostatic-charges.jpg

15