Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Pitiriasis Rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya yang dimulai
dengan sebuah lesi perimer yang dikarakteristikkan dengan gambaran herald patch berbentuk
eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi sekunder yang mempunyai
gambaran khas.2
Istilah Pitiriasis Rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun 1798
dengan nama Roseola Annulata, kemudian pada tahun 1860, Gilbert memberi nama Pitiriasis
Rosea yang berarti skuama berwarna merah muda ( rosea ).3
Insiden tertinggi pada usia antara 15 – 40 tahun1. Wanita lebih sering terkena
dibandingkan pria dengan perbandingan 1.5 : 1.3
Diagnosis Pitiriasis Rosea dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis apabila sulit
menegakkan diagnosis Pitiriasis Rosea. Biasanya Pitiriasis Rosea didahului dengan gejala
prodromal ( lemas, mual, tidak nafsu akan, demam, nyeri sendi, pembesaran kelenjar limfe ).
Setelah itu muncul gatal dan lesi dikulit.4 Banyak penyakit yang memberikan gambaran seperti
Pitiriasis Rosea seperti dermatitis numularis, sifilis sekunder, dan sebagainya2
Pitiriasis Rosea merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri, oleh karena itu,
pengobatan yang diberikan adalah pengobatan suportif. Obat yang diberikan dapat berupa
kortikosteroid, antivirus, dan obat topikal untuk mengurangi pruritus.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Istilah Pityriasis Rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun
1798 dengan nama Roseola Annulata, kemudian pada tahun 1860, Gilbert memberi nama
Pitiriasis Rosea yang berarti berarti merah muda (rosea) dan bersisik (pityriasis).1
Pityriasis rosea adalah sebuah bentuk peradangan akut, erupsi kulit yang
padaawalnya muncul seperti plak bersisik bentuk oval pada badan (herald
patch),berbentuk eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi sekunder
yang mempunyai gambaran khas, asimtomatik, dan merupakan penyakit kulit yang dapat
sembuh sendiri.Lesi pertama yang muncul akan diikuti kemunculan lesi-lesi berikutnya
dalam hitungan hari hingga beberapa minggu kemudianyang berlokasi sepanjang lipatan
tungkai (Christmas tree pattern).Pityriasis rosea sering menyerang para remaja dan usia
muda dan penyebabnya berhubungan dengan reaksi virus herpes 7 (HHV 7) dan
terkadang HHV 6.2
Menurut Andrew (2006), Pitiriasis Rosea adalah peradangan kulit berupa
eksantema yang ditandai dengan lesi makula-papula berwarna kemerahan ( salmon
colored ) berbentuk oval, circinate tertutup skuama collarette, soliter dan lama kelamaan
menjadi konfluen.3

II. EPIDEMIOLOGI

Pitiriasis Rosea terjadi pada seluruh ras yang ada di dunia. Prevalensi Pitiriasis
Rosea adalah 0,13% pada laki-laki dan 0,14% pada wanita per total penduduk dunia
dengan usia antara 10-34 tahun.1
Penyakit ini lebih banyak terjadi pada anak-anak dan usia dewasa muda dengan
rentang usia antara 15-40 tahun. Jarang terjadi pada bayi dan orang lanjut usia.2

2
III. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya Pityriasis rosea belum diketahui, tetapi diduga berhubungan
dengan virus, karena adanya gejala prodromal yangbiasa muncul pada infeksi virus
bersamaan dengan munculnya bercak kemerahan di kulit.Human herpes virus 7 telah
dikemukakan sebagai penyebabnya, namun beberapa penelitian telah gagal menunjukkan
bukti-bukti yang meyakinkan.4
Penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini terfokus pada peranan HHV-6 dan HHV-
7 pada pitiriasis rosea. Dalam suatupenelitian, partikel HHV telah terdeteksi pada 70%
pasien penderita pitiriasis rosea. Partikel-partikel virus ini ditemukan dalam jumlah
banyak diantara serat-serat kolagen dan pembuluh-pembuluh darah pada lapisan dermis
atas dan bawah. Partikel virus ini juga berada selang-seling diantara keratinosit dekat
dengan perbatasan dermal-epidermal.4
Watanabe et al melakukan penelitian dan mempercayai bahwa Pitiriasis Rosea
disebabkan oleh virus. Mereka melakukan replikasi aktif dari Herpes Virus ( HHV )-6
dan -7 pada sel mononuklear dari kulit yang mengandung lesi, kemudian
mengidentifikasi virus pada sampel serum penderita. Jadi, Pitiriasis Rosea ini merupakan
reaksi sekunder dari reaktivasi virus yang didapatkan pada masa lampau dan menetap
pada fase laten sebagai sel mononuklear. Pitiriasis Rosea juga dapat disebabkan oleh
obat-obatan atau logam, misalnya arsenik, bismut, emas, methopromazine,
metronidazole, barbiturat, klonidin, kaptopril dan ketotifen.3

IV. PATOGENESIS
Patogenesis pityriasis rosea masih belum diketahu. Berdasarkan sejarahnya,
pityriasis rosea diduga disebabkan oleh agen infeksius, dikarenakan kemiripan ruamnya
dengan ruam yang diakibatkan oleh virus, jarang terdapat kasus berulang diduga karena
respon imun yang bertahan lama setelah episode pertama, kejadiannya yang terjadi pada
musim-musim tertentu, terjadinya di beberapa komunitas, dan timbulnya gejala seperti
flu pada beberapa pasien.2
Bukti ilmiah yang didapatkan bahwa Pityriasis rosea adalah kelainan kulit yang
dihubungkan dengan reaktivasi HHV 7 dan HHV 6 (kadang-kadang oleh keduanya).
RNA messenger pada HHV 7 dan sedikit HHV 6, serta protein pada HHV 7 dan sedikit
HHV 6 didapatkan pada leukosit-leukosit yang menyebar pada perivascular pasien
pityriasis rosea dan tidak ditemukan pada orang sehat maupun pasien penyakit
peradangan kulit yang lain. DNA HHV 7 dan HHV 6 ditemukan pada saliva pasien

3
pityriasis rosea yang tidak didapatkan pada infeksi primer HHV 7 dan HHV 6.Diambil
secara bersamaan, data ini menguatkan pernyataan bahwa pityriasis rosea merupakan
sistemik reaktivasi dari HHV 6 dan HHV 7.Pasien-pasien pityriasis rosea viremik, yang
mungkin dapat menjelaskan hubungannya dengan gejala seperti flu pada beberapa pasien
dan mereka secara umum tidak memiliki sel-sel epitel yang terinfeksi pada lesi kulitnya,
yang menjelaskan sulitnya virus-virus ini dideteksi oleh mikroskop electron dan PCR.2

V. GEJALA KLINIS
Tempat predileksi Pitiriasis Rosea adalah badan, lengan atas bagian proksimal dan
paha atas sehingga membentuk seperti gambaran pakaian renang.Sinar matahari
mempengaruhi distribusi lesi sekunder, lesi dapat terjadi pada daerah yang terkena sinar
matahari, tetapi pada beberapa kasus, sinar matahari melindungi kulit dari Pitiriasis
Rosea. Pada 75% penderita biasanya timbul gatal didaerah lesi dan gatal berat pada 25%
penderita.3
Khasnya, lesi berukuran 2-10 cm berbentuk bulat hingga oval, warna merah-
salmon, tampak collarettepada tepinya, lesinya biasa disebut herald patch, muncul secara
tiba-tiba.Collaretteberarti bahwa skuama terdapat pada tepi lesi dan
menghilang/berkurang ditengah lesi.Lesi dapat muncul dimana saja, tetapi lokasi
tersering adalah di tungkai dan paha atas.Pada tingkat ini, banyak pasien mengira bahwa
mereka mengidap penyakit kurap. Lesi yang muncul biasanya asimtomatik tapi gatal.3,5

Herald Patch

Gambar 1.Herald patch.1

4
Skuama

Gambar 2. Plak primer tipikal ( herald patch )


Menunjukkan bentuk lonjong dengan skuama halus di tepi bagian dalam plak.6

Gambar 3. Herald patch pada abdomen kanan.1

Dalam waktu beberapa hari hingga minggu (sekitar 7 hingga 14 hari) penyakit ini
memasuki fase erupsi, lesi-lesi kecil muncul dan mencapai jumlah maksimumnya dalam
1 hingga 2 minggu.Lesi tersebut susunannya sejajar dengan tulang rusuk sehingga
terlihat seperti pohon cemara terbalik (Christmas tree pattern).Ruam tersebut timbul
serentak atau dalam beberapa hari. Tempat predileksi pada badan, lengan atas, dan paha
atas sehingga terlihat seperti pakaian renang wanita jaman dahulu.3,5

5
Gambar 4. distribusi “christmas tree pattern”.7

Lesi terdiri atas eritema dan skuama halus dipinggir, terkadang pityriasis rosea
dapat berbentuk urtika, vesikel, dan papul yang biasa terdapat pada anak-anak.biasa
ditemukan adanya infeksi saluran pernapasan atas pada pasien pityriasis rosea.2
Gejala atipikalterjadi pada 20% penderita Pitiriasis Rosea.Ditemukannya lesi yang
tidak sesuai dengan lesi pada Pitiriasis Rosea pada umunya. Berupa tidak ditemukannya
herald patch atau berjumlah 2 atau multipel. Bentuk lesi lebih bervariasi berupa urtika,
eritema multiformis, purpura, pustul dan vesikuler.Distribusi lesi biasanya menyebar ke
daerah aksila, inguinal, wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Adanya gejala atipikal
membuat diagnosis dari Pitiriasis Rosea menjadi lebih sulit untuk ditegakkan sehingga
diperlukan pemeriksaan lanjutan.1

VI. DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis pada pityriasis rosea, bisa dengan manifestasi klinis
dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang pada pityriasis rosea dapat
menggunakan KOH (untuk membedakan dari tinea corporis) dan biopsi kulit.8
Gambaran histopatologik dari Pitiriasis Rosea tidak spesifik sehingga penderita
dengan Pitiriasis Rosea tidak perlu dilakukan biopsi lesi untuk menengakkan
diagnosis.Pemeriksaan histopatologi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis
Pitiriasis Rosea dengan gejala atipikal.Pada lapisan epidermis ditemukan adanya

6
parakeratosis fokal, hiperplasia, spongiosis fokal, eksositosis limfosit, akantosis ringan
dan menghilang atau menipisnya lapisan granuler. Sedangkan pada dermis ditemukan
adanya ekstravasasi eritrosit serta beberapa monosit.2,6

Gambar 5. Gambaran histologik non spesifik tipikal dari Pitiriasis Rosea,


menunjukkan parakeratosis, hilangnya lapisan granular, akantosis ringan,
spongiosis, dan infiltrat limfohistiosit pada dermis superficial.2

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Sifilis sekunder
Adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan
lanjutan dari sifilis primer yang timbul setelah 6 bulan timbulnya chancre.Gejala
klinisnya berupa lesi kulit dan lesi mukosa. Lesi kulitnya non purpura, makula,
papul, pustul atau kombinasi, walaupun umumnya makulopapular lebih sering
muncul disebut makula sifilitika.2

Gambar 6.Sifilis Sekunder. Dikutip dari kepustakaan 7

7
Perbedaannya dengan Pitiriasis Rosea adalah sifilis memiliki riwayat primary
chancre(makula eritem yang berkembang menjadi papul dan pecah sehingga
mengalami ulserasi di tengah) berupa tidak ada herald patch, limfadenopati, lesi
melibatkan telapak tangan dan telapak kaki, dari tes laboratorium VDRL (+).2

2. Tinea korporis
Adalah lesi kulit yang disebabkan oleh dermatofit Trichophyton rubrum pada
daerah muka, tangan, trunkus atau ekstremitas.Gejala klinisnya adalah gatal, eritema
yang berbentuk cincin dengan pinggir berskuama dan penyembuhan di bagian
tengah2.
Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Tinea korporis, skuamanya
halus berada di tepi, plak tidak berbentuk oval, dari pemeriksaan penunjang
didapatkan hifa panjang pada pemeriksaan KOH 10%.2,10

Gambar 7.Tinea Corporis. Dikutip dari kepustakaan 7

3. Dermatitis numular
Dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak lonjong, berbatas
tegas dengan effloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah pecah sehingga
basah (oozing).Penderita dermatitis numularis umumnya mengeluh sangat gatal.
Lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel (0,3-1,0 cm), kemudian membesar
dengan cara berkonfluensi atau meluas ke samping, membentuk satu lesi
karakteristik seperti uang logam (coin), eritematosa, sedikit edematosa, dan berbatas
tegas.2

8
Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Dermatitis Numuler, lesi
berbentuk bulat, tidak oval, papul berukuran milier dan didominasi vesikel serta
tidak berskuama.2

Gambar 8. Numular dermatitis. Dikutip dari kepustakaan 2

4. Psoriasis gutata
Psoriasis tipe gutata biasanya terlihat pada anak-anak dan dewasa dan mungkin
merupakan tanda pertama dari penyakit, selalu dipicu oleh Streptococcal
tonsillitis.Beberapa makula kecil muncul tiba-tiba pada tungkai dan secara tiba-tiba
menjadi bersisik.Ruamnya biasa bersih dalam beberapa bulan kemudian tetapi
psoriasis tipe plak dapat muncul kemudian.
Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Psoriasis gutata, aksis panjang
lesi tidak sejajar dengan garis kulit, skuama tebal.2

Gambar9. Psoriasis gutata. Dikutip dari kepustakaan 9

9
VIII. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Umum
 Jaga hygiene dan sanitasi
 Jangan menggaruk
 Mencuci dan membersihkan badan dengan bahan yang lembut
 Mandi dengan sabun yang mengandung moistirizer
 Menjemur dibawah sinar matahari
2. Penatalaksanaan Khusus
 Topikal
Untuk mengurangi rasa gatal dapat menggunakan zink oksida, kalamin losion
atau 0,25% mentol. Pada kasus yang lebih berat dengan lesi yang luas dan gatal
yang hebat dapat diberikan glukokortikoid topikal kerja menengah (
bethametasone dipropionate 0,025% ointment2 kali sehari ).2
 Sistemik
- Pemberian antihistamin oral sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa
gatal.Untuk gejala yang berat dengan serangan akut dapat diberikan
kortikosteroid sistemik atau pemberian triamsinolon diasetat atau asetonid
20-40 mg yang diberikan secara intramuskuler.3
- Penggunaan eritromisin masih menjadi kontroversial. eritromisin oral
pernah dilaporkan cukup berhasil pada penderita Pitiriasis Rosea yang
diberikan selama 2 minggu. Dari suatu penelitian menyebutkan bahwa
73% dari 90 penderita pitiriasis rosea yang mendapat eritromisin oral
mengalami kemajuan dalam perbaikan lesi. Eritomisin diduga mempunyai
efek sebagai anti inflamasi.1
- Asiklovir dapat diberikan untuk mempercepat penyembuhan. Dosis yang
dapat diberikan 5x800mg selama 1 minggu.Pemakaian sinar radiasi
ultraviolet B atau sinar matahari alami dapat mengurangi rasa gatal dan
menguranngu lesi.2
- Penggunaan sinar B lebih ditujukan pada penderita dengan lesi yang luas,
karena radiasi sinar ultraviolet B ( UVB ) dapat menimbulkan
hiperpigmentasi post inflamasi.2

10
IX. PROGNOSIS
Pityriasis rosea adalah kondisi yang jinak dan akan membaik dengan sendirinya
dalam waktu 2 hingga 3 bulan. Biasanya pityriasis rosea akan berulang pada 10 % pasien.
Semua pasien denganpityriasis roseaakan mengalami resolusi spontan yang
sempurna.durasipenyakit ini biasanyabervariasi antara4 dan 10minggu, denganawal
minggu pertamadikaitkan denganlesiinflamasi kulit yang paling baru dankemungkinan
terbesargejala mirip flu. baikhipopigmentasipascainflamasi danhiperpigmentasidapat
mengikuti mirip sepertipityriasis rosea. sepertipenyakit kulit lainnya, hal ini terjadi lebih
sering padaorang denganwarna kulitlebih gelap, dengan hiperpigmentasi. pengobatan
denganfototerapisinar ultravioletjugadapat memperburukhiperpigmentasi post inflamasi
danharus digunakan denganhati-hati.sebaliknya,pasien tidak memilikiefeksekunder yang
tersisaterhadap terjadinyapityriasis rosea. penyakitmungkin dapat berulang, tetapisangat
jarang terjadi.2

11
BAB III

KESIMPULAN

Pityriasis rosea adalah sebuah bentuk peradangan akut, erupsi kulit yang
padaawalnya muncul seperti plak bersisik bentuk oval pada badan (herald
patch),berbentuk eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi sekunder
yang mempunyai gambaran khas, asimtomatik, dan merupakan penyakit kulit yang dapat
sembuh sendiri.Lesi pertama yang muncul akan diikuti kemunculan lesi-lesi berikutnya
dalam hitungan hari hingga beberapa minggu kemudianyang berlokasi sepanjang lipatan
tungkai (Christmas tree pattern).Pityriasis rosea sering menyerang para remaja dan usia
muda dan penyebabnya berhubungan dengan reaksi virus herpes 7 (HHV 7) dan
terkadang HHV 6.2
Bukti ilmiah yang didapatkan bahwa Pityriasis rosea adalah kelainan kulit yang
dihubungkan dengan reaktivasi HHV 7 dan HHV 6 (kadang-kadang oleh keduanya).
RNA messenger pada HHV 7 dan sedikit HHV 6, serta protein pada HHV 7 dan sedikit
HHV 6 didapatkan pada leukosit-leukosit yang menyebar pada perivascular pasien
pityriasis rosea dan tidak ditemukan pada orang sehat maupun pasien penyakit
peradangan kulit yang lain.
Biasanya pityriasis rosea akan berulang pada 10 % pasien. Semua pasien
denganpityriasis roseaakan mengalami resolusi spontan yang sempurna.durasipenyakit
ini biasanyabervariasi antara4 dan 10minggu, denganawal minggu pertamadikaitkan
denganlesiinflamasi kulit yang paling baru dankemungkinan terbesargejala mirip flu.
baikhipopigmentasipascainflamasi danhiperpigmentasidapat mengikuti mirip
sepertipityriasis rosea.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Sterling, J.C.Virus Infections. In : Burns T, Breatnach S, Cox N, Griffiths C, Eds.Rook’s


textbook of dermatology8thEdition. United Kingdom : Wiley Blackwell; 2010. P. 33.78-
81
2. Blauvelt, A. Pityriasis Rosea. In : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller
AS, Leffell DJ, Eds.Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 7th Edition. New
York : McGraw Hills Company;2008. p. 362-66
3. James WD, Berger TG, Elston DM, Eds. Pityriasis Rosea, Pityriasis Rubra Pilaris, and
Other Papulosquamous and Hyperkeratotic Diseases.In :Andrew’s Diseases of The Skin:
Clinical Dermatology 10th Edition. USA : Elsevier Saunders; 2006. p. 208-09
4. Henderson David, Usatine Richard P. Pityriasis Rosea. Dalam: Usatine Richard P,Smith Mindy
Ann, Mayeaux Jr. E.J. editor. The Color Atlas of Family Medicine.USA: McGraw Hill. 2009:
630-33
5. Habif TP, Ed. Psoriasis and Other Papulosquamous Diseases. In :Clinical Dermatology:
A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 4th Edition. Philadelphia :Mosby; 2004. p. 246-
49
6. Lichenstein, A. Pityriasis Rosea. Diunduh dari www. Emedicine.com pada tanggal 15
Agustus 2011.
7. Wolff K, Johnson RA, Eds. Miscellanous Inflammatory Disorders, Sexually Transmited
Infections, Fungal Infections of The Skin and The Hair.In :Fitzpatrick’s Color Atlas &
Synopsis of Clinical Dermatology. 6th Edition. New York : Mc Graw Hills Company;
2009. p.122-24, 705 & 925
8. Millikan LE. Pityriasis Rosea.In : Frankel DH, Ed. Field Guide to Clinical Dermatology.
2nd Edition. New York : Lippincot Williams & Wilkins; 2006. Ch. 21
9. Hunter J, Savin J, Dahl M, Eds. Psoriasis, Other Papulosquamous Disorders, Eczema and
Dermatitis.In :Clinical Dermatology 3rd Edition. United Kingdom : Blackwell Science;
2002. p. 52 , 63-4 & 89
10. Hamzah.M. Dermatosis eritroskuamosa. In: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit
Dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2007.

13
14