Anda di halaman 1dari 41

69

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab empat akan dikemukakan mengenai berbagai temuan lapangan

yang dilanjutkan dengan pembahasan dan analisa temuan lapangan. Temuan

lapangan diperoleh melalui proses pengumpulan data dengan observasi,

wawancara mendalam, maupun dokumentasi. Observasi dilakukan untuk melihat

kegiatan yang dilakukan lembaga, dan kegiatan sehari-hari komunitas sasaran

yang menjadi binaan LSM Rumah Impian. Wawancara dilakukan terhadap

beberapa informan yang memiliki kapabilitas dan kompetensi, baik yang berasal

dari pengurus LSM Rumah Impian, tutor, warga belajar, maupun dari tokoh

masyarakat setempat. Sedangkan untuk mendukung dan memperkuat data primer

yang didapat dari field research activities (masyarakat) dan data dari pihak

lembaga atau institusi, maka dilakukan studi dokumentasi.

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Deskripsi Yayasan Rumah Impian

Yayasan Rumah Impian atau Dream house adalah sebuah Lembaga

yang dirintis di Yogyakarta pada tahun 2006 untuk mendampingi anak

jalanan. Lokasi dari Yayasan Rumah Impian terletak di Jl. Kenanga 1

Juwangen, RT 03 RW 01 No. 25-26 Purwomartani Kalasan Sleman

Yogyakarta. Pada awal berkarya, Rumah Impian mengawali dengan

membuka sebuah rumah singgah di daerah Jetisharjo. Adapun kegiatan


70

yang dilakukan pada waktu itu, yakni kunjungan ke jalanan dengan

program-program pendampingan dan pembelajaran/pelatihan.

Selain itu, Rumah Impian juga menyediakan beasiswa bagi anak-

anak beresiko yang ingin kembali bersekolah secara formal maupun non-

formal. Tersedia juga asrama bagi anak-anak yang membutuhkan

lingkungan yang baru untuk memulai kehidupan barunya, yaitu Hope

Shelter yang berlokasi di Kalasan, Sleman Yogyakarta. Walaupun Rumah

Impian telah dirintis sejak tahun 2006, namun baru berdiri resmi sebagai

lembaga pada tanggal 6 Februari 2009. Seiring berjalannya waktu dan

setelah melihat begitu banyak hal yang harus dikerjakan, maka pada tahun

2016 Rumah Impian bertransformasi menjadi Yayasan Rumah Impian

Indonesia dan berbadan hukum sesuai SK Kemenkumham RI serta

mendapat ijin operasional dari Badan Kerjasama dan Penanaman Modal

Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rumah Impian adalah sebuah organisasi yang mendampingi dan

melayani anak jalanan sebagai sahabat serta memberdayakan anak jalanan

untuk melakukan trasformasi menjadi pribadi yang mandiri dan peduli

terhadap sesama. Rumah Impian berkeyakinan bahwa anak jalanan

memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain untuk meraih cita-cita

demih masa depan mereka. Anak-anak tersebut membutukan fasilitas dan

dukungan untuk menjalani hidup secara mandiri dalam meraih cita-cita

mereka.
71

Atas dasar tersebut Rumah impian melakukan kegiatan dalam

menjalin relasi dan menjadi sahabat bagi anak jalanan. Saat ini Rumah

Impian juga mengembangkan pendekatan yang lebih holistik yaitu

mendampingi anak berisiko tinggi yang besar kemungkinannya akan turun

ke jalan. Adapun fokus dari Rumah Impian yaitu pada pengembangan

kepribadian anak, dimana setiap individu ditangani sebagai pribadi yang

unik dan berhak bermimpi serta mewujudkan impiannya dalam komunitas

yang mendukung.

Rumah Impian dikelola dan dijalankan oleh orang-orang muda

dengan penuh semangat kasih dan pelayanan. Rumah Impian juga

membuka keterlibatan sukarelawan yang bekerja secara sukarela dalam

melayani anak beresiko dan anak jalanan. Sebagai sebuah organisasi

Rumah Impian memiliki nilai dan prinsip yang menjadi semangat dalam

menginspirasi semua karya dan pelayanan yang dilakukan, yaitu

solidaritas, kesetaraan, ketulusan, kesukarelaan serta bertanggung jawab

dan dapat dipercaya.

2. Perencanaan:

a. Visi dan Misi LSM Rumah Impian (RI)

Berdasarkan pendapat dari beberapa informan yaitu sebagai berikut:

RI/SL: Visi dari LSM RI ini sendiri,yaitu mentrasformasi kehidupan

anak jalanan dan anak beresiko melalui impian yang berdampak bagi

semua. Sedangkan misi kami adalah mendampingi anak jalanan dan

anak beresiko sebagai sahabat, memfasilitasi anak jalanan dan anak


72

berisiko mewujudkan impian yang berdampak, serta membangun

jaringan peduli impian anak-anak.

RI/YY: Pada dasarnya visi kami adalah trasformasi kehidupan anak

jalanan dan anak beresiko (anak yang rentan hidup di jalanan) melalui

impian yang berdampak bagi sesamanya.

Kalau untuk misinya sendiri, kita mendampingi anak-anak dan

beresiko sebagai sahabat, memfasilitasi mereka dalam mencapai

impian yang berdampak dan membangun jaringan peduli impian anak-

anak.

RI/DP: Visi Rumah Impian adalah transformasi kehidupan anak


jalanan dan anak beresiko melalui impan yang berdampak bagi
sesama. Untuk misinya sih, lebih pada upaya pendampingan terhadap
anak jalanan dan anak beresiko, memfasilitasi mereka untuk mencapai
impian mereka dan juga membangun jaringan peduli impian anak-
anak.
RI/EM: Sebetulnya visi kami adalah mentransformasi kehidupan anak
jalanan dan anak beresiko mewujudkan impian yang berdampak bagi
sesama. Sedangkan misi LSM RI sendiri ; mendampingi anak jalanan
dan anak beresiko sebagai sahabat, memeberikan fasilitasi agar dapat
mencapai impian yang berdampak/bermanfaat bagi mereka dan
membangun jaringan peduli anak-anak.

b. Penyususnan program “Education Center” dalam pemberdayaan anak

jalanan.

RI/SL: Sebenarnya untuk penyusunan program kegiatan “education

center”diserahkan sepenuhnya pada salah satu staf yang telah

diberikan tanggung jawab untuk mengatur keberlangsungan dari


73

kegiatan tersebut (PIC ). Sejauh ini kami memiliki Lima pusat

education center yang tersebar di beberapa wilayah di Yogyakarta.

Walaupun dibebaskan pada PIC masing-masing, namun untuk

penyusunan program kegiatan, kami tetap mengembangkan

pendekatan fun learning yang menekankan pada kecerdasan anak.

Materi materi bisa berupa Bahasa Inggris, Matematika dan seni kreatif

serta ruang perpustakaan. Intinya penyusunan program disesuaikan

dengan tugas inti divisi education center, yakni bertanggung jawab

menyediakan & mengelola pusat kegiatan pengajaran, pelatihan dan

pendampingan bagi masyarakat marginal, khususnya anak jalanan dan

anak yang rentan beresiko turun ke jalanan.

RI/YY: Untuk penyusunan program education center, dibebaskan

kepada PIC masing-masing. Dalam artian PIC yang bertanggung

jawab penuh dalam menentukan program kegiatan yang hendak

dilakukan sesuai dengan lingkungannya. Namun tetap pada prinsip

bahwa program yang dilaksanakan sebisa mungkin dibuat tidak yang

monoton. Lebih berfokus pada fun learning. Contohnya : belajar

menari, mewarnai dan menggambar. Pembelajaran khusus seperti mata

pelajaran Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

juga tetap diajarkan.

RI/DP: Sejauh ini telah ada lima education center yang diadakan di

lima hari yang berbeda. Untuk program kegiatan education center

sendiri berlangsung pukul 15:30-17:00. Sedangkan untuk kegiatan


74

daripada program education center berkonsep fun learning. Setiap

kegiatan ditujukan agar anak-anak senang belajar, sehingga ingin terus

belajar dan tidak memiliki pemikiran untuk turun ke jalan. Kegiatan

meliputi Sains, English, Matematika dan kreatifitas yang juga disertai

dengan berbagai pembelajaran menyenangkan seperti games atau

kegiatan outdoor lainnya. Misalnya : memasak, bercocok tanam serta

olahraga juga terkadang diajarkan. Selain itu juga senantiasa

mendukung bakat anak, seperti mewarnai, melukis dan menari.

RI/EM: Seluruh staf yang ada pada divisi educationcenter terlibat

aktif di dalam perencanaan program. Staf divisi education center dan

sukarelawan yang membuat perencanaan berdasarkan hasil identifikasi

masalah. Selanjutnya kita menentukan tema yang akan diangkat dalam

kegiatan education center tersebut dengan tetap mengutamakan fun

learning. Selain itu juga menetukan waktu dan dana serta pemandu

yang akan menuntun anak-anak dalam melakukan kegiatan.

c. Tujuan dan standar pencapaian pemberdayaan anak jalanan melalui

program education center.

RI/SL: Dari dasar pemikiran bahwa melihat tiap anak sebagai pribadi

yang unik dan berhak untuk bermimpi serta mewujudkan impiannya,

maka tujuan dari pemberdayaan anak jalanan melalui program

education center disini ialah : anak-anak harus keluar dari jalan

(jalanan bukan tempat untuk anak-anak ). Sedangkan untuk standar


75

pencapaiannya, kami menitikberatkan pada perhatian “ bagaimana

supaya membuat anak-anak ini dapat kembali bersekolah.

RI/YY: Sebenarnya tujuan dan standar pencapaian dari program

education center dalam upaya memberdayakan anak jalanan disini

lebih pada usaha agar mereka tidak lagi turun ke jalan dan dapat

kembali bersekolah. “Apalagi untuk education center yang di daerah

Kricak, kan orang tuanya rata-rata pemulung dan pengamen di

jalanan, takutnya nanti anak-anak ini ikut mulung dan ngamen. Jadi

daripada anak-anak ikut dan menjadi peluang yang besar untuk mereka

turun dan bekerja di jalan, maka diajaklah mereka untuk ikut belajar

dan bermain di education center.

RI/DP: Secara garis besar tujuan pemberdayaan anak jalanan melalui

program education center, yah kami berusaha untuk sebisa mungkin

memanusiakan manusia. Semua itu tidaklah mudah dan sudah pasti

membutuhkan waktu yang panjang, namun kami tetap yakin bahwa

dengan tekad dan semangat yang kuat maka tujuan tersebut dapat

terlaksana. Dimana tidak ada lagi anak-anak yang bekerja di jalanan.

Kalau untuk standar pencapaiannya berfokus pada usaha agar anak-

anak tersebut bisa merasakan bangku pendidikan lagi, alias kembali ke

sekolah.

RI/EM: LSM RI sebagai salah satu LSM yang bergerak di bidang anak

jalanan, memiliki tujuan dan standar dalam upaya pencapaian

pemberdayaan anak jalanan melalui sebuah program kegiatan yang


76

disebut education center, dengan memfokuskan agar anak-anak tidak

lagi turun ke jalanan dan dapat kembali mewujudkan impian mereka

untuk dapat kembali bersekolah. Untuk tujuan dan standar pencapaian

tersebut, kami juga berusaha sebisa mungkin mempersuasif orang tua

dari anak-anak tersebut supaya sadar dan mau mendukung kegiatan

kami.

d. Perumusan Kebijakan, Prosedur Standar dan Metode dalam

pencapaian tujuan program.

1) Kebijakan :

RI/SL: LSM RI memiliki beberapa kebijakan penting, antara lain ;

(1) Solidaritas dan kesetaraan, yaitu kesetiakawanan dan kasih

kepada sesama yang membutuhkan dengan tidak membedakan

latar belakang ras, suku, agama dan adat istiadat. (2) Ketulusan dan

kesukarelaan, dimana RI melayani dengan tulus tanpa

agenda/maksud terselubung selain untuk menolong sesama untuk

menjadi lebih baik. (3) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya,

yaitu RI mengelola sumber daya yang dimiliki dengan bertanggung

jawab, transparan dan bersih. Termasuk di dalamnya sumber daya

keuangan yang diperoleh melalui kemitraan dengan pihak lain

(dalam hal ini donator).

2) Prosedur standar :

Kalau untuk prosedur standar lebih berfokus pada : membangun

kawasan (kampung/kota) yang peduli akan impian anak-anak


77

beresiko tinggi, sehingga kampung akan menjadi komunitas yang

ramah anak dan layak mewujudkan impian anak.

3) Metode : Dalam hal pencapaian tujuan program, RI memaknai

metode penguatan karakter dan penguatan keterampilan. Untuk

penguatan karakter meliputi nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi

dan persatuan. Sedangkan penguatan keterampilan meliputi

kegiatan kreatifitas dan pembelajaran fun learning.

RI/YY: Pada dasarnya kebijakan dari RI solidaritas dan kesetaraan,

ketulusan dan kesukarelaan, serta bertanggung jawab dan dapat

dipercaya. Untuk prosedur standar, disini kami membangun kawasan

(kampung/kota) yang peduli terhadap impian anak-anak yang beresiko

tinggi, yang nantinya kampung tersebut bisa menjadi komunitas yang

ramah anak dan layak mewujudkan impian anak-anak beresiko tinggi

tersebut. Sedangkan metode yang kami gunakan disini yakni,

penguatan karakter dan penguatan keterampilan.

e. Antisipasi masalah yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan

program.

RI/SL: Pada dasarnya yang namanya pelaksanaan suatu program pasti

ada saja masalah yang ditemui, nah untuk itu kami dari pihak LSM RI

sebisa mungkin mengantisipasi masalah yang mungkin terjadi dengan

menerapkan cara kerja yang sedikit berbeda yakni, tidak membuat

random program tetapi lebih dahulu menentukan target. Maksudnya

disini, ada subyek yang mau ditolong, lalu kita kenali orangnya dan
78

masalahnya, barulah kemudian dibuat program untuk menolong. Jadi

disini kita tidak membuat random program seperti yang biasa

dilakukan oleh teman-teman dari yayasan lain. Kami terapkan cara

kerja seperti ini, agar program yang dijalankan sesuai dengan apa yang

dibutuhkan target di lapangan. Jadi tidak sia-sia atau

mubazir.Antisipasi masalah yang berikut yakni, dalam menempatkan

PIC. Misalnya, untuk wilayah pelaksanaan program education center

di Tukangan yang cukup sulit bagi warga untuk mau menerima kami,

hanya karena mereka mengetahui nama ketuanya adalah Joshua.

Sehingga mereka berpikir, ini adalah yayasan Kristen. Namun pihak

kami segera mengantisipasi dengan menunjuk mba Agita ( staf RI)

seorang Muslim dan berhijab sebagai PIC disana. Sehingga dari mba

Agita lah mereka memperoleh informasi bahwa pihak LSM RI

bukanlah yayasan rohani Kristen melainkan yayasan yang bergerak

menjalankan program tanpa membedakan agama dan kepercayaan

yang dianut. Dari situlah kemudian warga mulai bisa menerima kami.

RI/YY: Sebenarnya pada awal kita masuk ke wilayah Tukangan

lumayan sulit dan warga bahkan tidak mau menerima kami. Namun

perlahan-lahan setelah diberi penjelasan dan pengertian, akhirnya

mereka pun mau menerima kami melaksanakan program education

center di wilayah mereka. Kalau untuk lainnya kami lebih

mengantisipasi pada keberhasilan program, sehingga dalam

perencanaan kami benar-benar merencanakan dengan sebaik mungkin,


79

agar kegiatan/program yang dijalankan benar-benar bermanfaat.

Contohnya: dalam proses kerja, kami terlebih dulu menentukan target

yang mau ditolong, kemudian mempelajari masalah yang menimpa

target ini, kemudian meninjau apa saja kebutuhan mereka. Nah setelah

tahu apa saja yang mereka butuhkan, baru kami merancang program

yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

RI/DP: Dengan lebih dahulu mengetahui secara detail tentang subjek

atau target yang mau ditolong. Mengenal lebih dekat tentang riwayat

keluarga dan permasalahan yang dialami, kemudian menentukan

program yang sesuai dengan target. Cara ini kami pilih untuk

meminimalisir kegagalan dalam pelaksanaan program. Sebab,

pengalaman sharing dengan teman-teman dari komunitas lain yang

sama-sama peduli dengan anak jalanan, beberapa program yang

diadakan oleh mereka tidak tepat sasaran. Sebab mereka lebih dahulu

membuat random program yang akan diadakan. Makanya dari kami RI

tidak membuat random program.

RI/EM: Agar program kegiatan yang dilaksanakan tidak sia-sia, maka

kami dari pihak RI memiliki trik tersendiri. Yakni, dengan terlebih

dahulu mengenal secara detail sasaran subyek beserta permasalahan

yang dihadapinya. Biasanya beberapa staf dan sukarelawan akan turun

ke jalanan untuk mendampingi anak-anak itu, biar lebih memahami

kebutuhan-kebutuhan mereka dan mencoba memberikan bantuan

sebagai seorang teman. Dengan begitu kami lebih mudah dalam


80

menentukan program apa yang tepat untuk mereka. Selain itu juga,

untuk mengantisipasi masalah yang mungkin bisa muncul yakni,

dengan lebih menjaga sikap dan tutur kata, agar anak-anak ini tidak

tersinggung.

f. Kendala-kendala dalam perencanaan program.

RI/SL: Kendala yang dihadapi lebih ke pendanaan, karena kita

merupakan lembaga non pemerintah, sehingga segala sesuatu

diupayakan sendiri oleh kami. Selain itu ada juga kendala lainnya yang

kami temui, yakni di wilayah Wonocatur yang ternyata sudah ada

pengepulnya. Tidak hanya itu saja yang menjadi kendala kami, ada

juga kendala lainnya yang lebih merujuk pada orang tua, yakni para

orang tua sulit untuk memberikan kesempatan anak-anak mereka untuk

ikut dalam program kami. Karena bagi mereka, lebih baik anak disuruh

kerja di jalanan dan mendapatkan uang.

RI/YY: Sejujurnya untuk kendala, ya lebih dipendanaannya. Selain itu

beberapa orang tua masih ada yang memandang kegiatan education

center bukan suatu kegiatan yang penting, sehingga anak-anak mereka

tidak perlu mengikuti kegiatan ini.

RI/DP: Faktor penghambat/kendala antara lain pendanaan yang

terbatas, waktu dan lokasi yang terbatas, terutama ketika kita membuat

kegiatan yang bersifat outbond untuk anak-anak.

RI/EM: Kendala yang dihadapi biasanya pada pendanaan yang

terbatas dan motivasi orang tua yang kurang. Dimana para orang tua
81

menganggap bahwa dengan menyuruh anak-anak bekerja di jalanan itu

akan jauh lebih penting karena bisa memperoleh uang dibandingkan

dengan mengikuti kegiatan-kegiatan pembelajaran. Kendala lainnya

yang juga selalu kami temui menyangkut waktu dan lokasi yang

terbatas.

g. Cara/proses perekrutan anak jalanan.

RI/SL: Dalam merekrut anak-anak jalanan, kami mengutus beberapa

staf dan volunteer untuk turun ke jalan, memperhatikan lokasi-lokasi

yang biasa menjadi tempat mangkal mereka, seperti di perempatan

lampu merah dan pasar serta area publik lainnya. Memperhatikan

kegiatan yang mereka lakukan dan ikut membaur bersama anak-anak

ini. Setelah itu perlahan-lahan mulai mencari tahu tempat tinggal

mereka. Dari situ, para volunteer akan meninjau langsung dan mulai

melakukan komunikasi dengan orang tua/wali dari anak-anak ini.

Apabila orang tua bersedia dan mengijinkan anak-anak mereka untuk

kami damping dalam proses belajar, maka selanjutnya akan langsung

kami rekrut dengan mendata biodata mereka masing-masing. Selain itu

ada juga yang langsung meminta untuk kami bina.

RI/YY: Proses perekrutan anak-anak jalanan, biasanya dengan melihat

kondisi ekonomi, keadaan orang tua dan lingkungannya. Ada juga

kiriman dari Dinas Sosial. Jadi anak-anak ini langsung meminta sendiri

pada Dinas sosial, lalu kita minta dititipin untuk mengurusnya.


82

RI/DP: Setahu saya, awalnya dari program street contact. Menyusuri

jalan-jalan untuk menemukan anak jalanan. Setelah itu mengamati,

kemudian mencoba membuat kontak. Berkenalan dengan mereka,

bercakap-cakap, juga membawakan mainan ataupun buku-buku untuk

dibaca ataupun diwarnai. Dalam bincang-bincang akan ditanyakan

tinggal dimana dan lain-lain. Setelah mendapatkan info tempat tinggal,

lalu akan dicek ; apakah tempat tinggal mereka memang rawan

menghasilkan anak jalanan. Jika “ya” maka akan diusahakan untuk

melaksanakan program education center di kampung tersebut.

Program education center ditujukan untuk mencegah semakin

banyaknya anak yang turun ke jalan.

RI/EM: Kami dari pihak RI merekrut anak-anak jalanan dengan proses

yang mungkin tidak jauh berbeda dengan LSM lainnya. Biasanya para

volunteer dan beberapa staf RI turun ke jalan, ke titik-titik rawan

tempat anak-anak jalanan itu melakukan kegiatan mereka. Baik

mengamen, menjual Koran atau yang lainnya. Waktu yang ditentukan

untuk turun menjangkau adik-adik di jalan biasanya dilakukan pada

malam hari.Setelah berada di jalanan bersama mereka, kami mencoba

membangun sebuah komunikasi yang sesederhana mungkin, agar

dapat mereka pahami. Harus lebih berhati-hati saat bercerita dengan

mereka, jangan sampai membuat mereka tersinggung. Setelah itu

mencari tahu tempat mereka tinggal dan bertemu dengan orang tuanya

untuk kemudian meninjau kondisi keadaan mereka. Setelah itu, ya


83

menerangkan pada orang tua agar mau mengijinkan anak mereka

supaya dibina agar dapat kembali bersekolah

3. Pengorganisasian :

a. Struktur organisasi LSM RI dan pembagian tugas.

RI/SL: Struktur organisasi LSM RI, saya sendiri selaku Pembina,

saudara Yosua Lapudooh sebagai Ketua, saudari Berlin Tandirerung

sebagai Sekretaris, saudari Yunita Yosepha selaku Bendahara, saudara

Elias Agung Setiawan sebagai Pengawas, dan saudara Barzilay Evans

Masela sebagai Manager Pemberdayaan.

RI/YY: Pak Samuel Lapudooh sabagai Pembina, kak Yosua sebagai

Ketua, kak Berlin sebagai Sekretaris, kak Elias Setiawan selaku

Pengawas dan kak Evans sebagai Manager Pemberdayaan dan saya

sendiri selaku orang yang diberi kepercayaan untuk mengurusi

keuangan. Untuk lebih jelasnya mungkin dapat dilihat di website LSM

RI.

RI/DP: Selaku Pembina dari LSM RI ialah Bapak Samuel Lapudooh,

Ketua kak Yosua Lapudooh, Sekretaris kak Berlin Tandirerung,

Bendahara kak Yunita Yosepha, Pengawas kak Elias Setiawan dan

Manager Pemberdayaan kak Evans Masela.

RI/EM: Struktur organisasi dapat dilihat di website kami. Pada

dasarnya tidak jauh beda dengan yang lainnya. Ada ketua, Pembina,

sekretaris, bendahara dan lainnya. Yang menjabat sebagai Pembina

yaitu pak Samuel Lapudooh, menjabat Ketua kak Yosua Lapudooh,


84

sebagai Bendahara kak Yunita Yosepha, menjabat Sekretaris kak Berlin

Tandirerung, selaku Pengawas kak Elias Setiawan dan saya sendiri

yang dipercayai untuk bidang pemberdayaan

b. Perekrutan Sumber Daya Pelaksana Program.

RI/SL: Untuk perekrutan sumber daya pelaksana program, open

recruitment melalui website RI. Tapi juga diseleksi, karena bukan

hanya merupakan proyek saja tetapi berjalan secara terus menerus dan

makin berkembang. Setiap orang akan diwawancarai. Dalam proses

perekrutan, kembali lagi harus dilihat yang benar-benar serius. Karena

dari beberapa pengalaman yang terjadi, kadang hanya mau ikut ramai

saja. Jadi butuh orang-orang yang benar-benar berdedikasi kerja. Yang

jelas dari relawan nantinya bisa jugamenjadi PIC dan staf tetap atau

pengurus.

RI/YY: Open recruitment biasanya kami umumkan lewat website RI.

Setelah itu yang berminat akan kami berikan formulir untuk pengisian

biodata lengkap dengan pendidikan terakhir. Setelah itu akan diseleksi

dan diwawancarai.

RI/DP: Untuk open recruitment staf biasanya dikirim di website RI.

Setelah itu mengikuti proses seleksi dan wawancara.

RI/EM: Diumumkan melalui website LSM RI, kemudian diseleksi dan

diwawancarai.
85

c. Penempatan sumber daya pelaksana dalam implementasi program.

RI/SL: Untuk penempatan sumber daya pelaksana program, biasanya

dari setiap divisi yang menentukan dan dilihat juga dari formulir yang

diisi ketika wawancara. Di formulir mereka dapat memilih atau ada

juga yang kita sesuaikan seperti recruitment-recruitment yang spesifik.

Jadi kalau dia melamar disitu, kita lihat latar belakang pendidikannya

sesuai atau tidak. Beberapa tahun terakhir juga kerja sama dengan

beberapa universitas dan lembaga-lembaga dari luar negeri. Seperti ;

Belanda, Australia dan Spanyol.

RI/YY: Biasanya dilihat dari spesifikasi pendidikan mereka. Misalnya

dengan latar belakang pendidikan Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa

Indonesia ataupun Sains, maka mereka akan ditempatkan pada

program education center sebagai pengajar. Sedangkan jika latar

belakangnya di bidang lain seperti ; ilmu komunikasi, sosiologi

antropologi, maka kemungkinan besar mereka akan ditempatkan di

divisi lain seperti ; hope shelter, street contact atau parent

empowerment.

RI/DP: Disesuaikan dengan latar belakang bidang pendidikannya

masing-masing, tapi tidak menutup kemungkinan bisa saja berubah

sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kembali lagi ditentukan oleh

divisi masing-masing. Selain itu untuk penempatan sumber daya

pelaksana program, kita juga sering dibantu oleh beberapa volunteer


86

yang merupakan mahasiswa dari Universitas Gajah Mada, Universitas

Negeri Yogyakarta dan Universitas Katolik Sanata Dharma.

RI/EM: Ditentukan oleh divisi masing-masing, dengan melihat latar

belakang pendidikan mereka. Untuk penempatan sumber daya

pelaksana program juga biasanya kami dibantu oleh tenaga-tenaga

relawan teman-teman mahasiswa dari beberapa Universitas yang ada

di Yogyakarta. Selain dari Kampus, pihak LSM RI juga bekerja sama

dengan Lembaga-lembaga dari luar negeri dalam penempatan relawan

atau volunteer. Dari Belanda “Internship Holand”, dari Spanyol

“Senai Spain” dan dari Amerika “Usindo” lembaga-lembaga ini selalu

membantu dalam mempromosikan LSM RI di negaranya masing-

masing. Adapun sumbangsih yang mereka berikan untuk LSM RI,

seperti membantu anak-anak dalam kegiatan-kegiatan yang mengasah

keterampilan. Juga salah satu kegiatan yang paling penting yang selalu

mereka lakukan yaitu pelaksanaan fundraising night atau malam

penggalangan dana.

d. Penyediaan sarana prasarana implementasi program.

RI/SL: Untuk sarana prasarana implementasi program, dari pihak

divisi masing-masing selalu menyiapkan laporan kebutuhan untuk

setiap program kegiatan yang akan dilaksanakan. Contoh : alat-alat

tulis, alat-alat prakarya keterampilan serta bahan acuan untuk materi

yang akan diajarkan. Kemudian dari bagian keuangan akan

memberikan dana sesuai dengan yang dibutuhkan untuk


87

penyelenggaraan program. Namun yah masih saja selalu ada

kekurangan dari segi pendanaan. Selain itu, penyediaan sarana

prasarana juga ada yang menyumbang ke kami, misalnya : untuk buku-

buku bacaan, kami juga mendapat sumbangan dari tempat penyewaan

bukusaat usaha mereka sudah tutup. Ada buku pelajaran , buku cerita

dan komik.Selain itu, pihak LSM RI juga menyediakan asrama untuk

anak-anak yang membutuhkan lingkungan yang baru untuk memulai

kehidupan barunya, yaitu Hope Shelter yang berlokasi di Kalasan,

Sleman.

RI/YY: Sarana prasarana disini, ada yang merupakan sumbangan dan

ada juga yang memang swadaya kami sendiri. Kami juga menyediakan

Hope Shelter yang terletak di Kalasan, Sleman. Ada macam-macam

buku bacaan yang kami sediakan untuk adik-adik ini, agar bisa

menambah wawasan mereka.

RI/DP: Sarana prasarana sudah lumayan mencukupi. Hanya memang

masih ada beberapa kendala, misalnya : tempat kegiatan. Beberapa

education center kesusahan untuk melaksanakan kegiatan indoor

maupun outdoor. Alat tulis sudah lumayan cukup, namun perlu

ditambah lagi agar semakin mendukung berjalannya kegiatan. Jumlah

pendamping dirasakan perlu ditambah agar kegiatan berjalan lebih

maksimal.

RI/EM: Berhubung kami organisasi non pemerintah, otomatis urusan

sarana dan prasarana dapat dibilang benar-benar berjuang sendiri. Tapi


88

ada juga sumbangan dari pihak-pihak luar. Baik dalam bentuk

sumbangan dana, buku-buku bacaan dan peralatan tulis menulis. RI

juga menyediakan sarana berupa Hope Shelter untuk suasana

lingkungan yang lebih kondusif bagi anak-anak ini.

e. Kendala-kendala dalam pengorganisasian

RI/SL: Dalam sebuah organisasi sudah pasti ada beberapa kendala-

kendala yang muncul dan itu tidak dapat dipungkiri. Sama halnya

dengan yang sering kami hadapi, antara lain, misalnya : dalam

perekrutan staf, ada yang awalnya terlihat rajin dan bersemangat, tapi

ternyata kesini-sininya hanya ngikutin ramai saja. Jumlah tenaga

pendamping yang masih kurang, dan juga kami dari pihak RI belum

punya staf ahli untuk tiap desk. Selain itu kurangnya koordinasi juga

sering menjadi kendala yang sangat mempengaruhi.

RI/YY: Kendalanya lebih pada tenaga di lapangan atau pendamping.

Sedikitnya tenaga pendamping sering membuat kami kewalahan dalam

mengatur tingkah laku anak-anak. Tahu sendiri kan, bagaimana

karakter anak-anak ini. Selain itu, kami belum memiliki tenaga ahli

unuk masing-masing divisi. Harapannya semoga kedepan bisa dapetin

tenaga ahli untuk masing-masing divisi.

RI/DP: Jumlah staf pendamping masih kurang. Tidak ada staf ahli

yang menangani tiap-tiap divisi sesuai dengan bidang keahliannya.

RI/EM: Yang namanya urusan pemberdayaan, pasti akan sangat

membutuhkan orang-orang dengan keahlian yang mumpuni sesuai


89

bidang kompetensi masing-masing. Nah, hal inilah yang selalu

menjadi kendala serius bagi kami. Karena di RI ini kami blm memiliki

staf ahli untuk setiap desk yang ada. Selain itu, kendala lainnya yang

sangat penting juga, yaitu masih sangat kekurangan tenaga

pendamping. Sering juga terjadi missed komunikasi.

4. Pelaksanaan :

a. Tingkat partisipasi keseluruhan staf dalam implementasi program.

RI/SL: Untuk tingkat partisipasi staf secara keseluruhan sudah bagus.

Baik staf maupun volunteer sangat aktif. Karena memang kesenangan

mereka untuk bekerja di bidang ini, jadi mereka sangat menikmati

tugas masing-masing, dan lagi usia mereka masih tergolong muda,

sehingga punya semangat kerja yang tinggi.

RI/YY: Partisipasi staf, ya sesuai dengan job desk nya masing-

masing.Namun kadang staf admin yang tugasnya cuma di kantor juga

ikut keluar ke lapangan.

RI/DP: Staf juga seringkali membantu proses kegiatan education

center. Seringkali turut serta mendampingi anak-anak berkegiatan.

RI/EM: Semua staf RI bekerja dengan hati. Sehingga hampir semua

tugas dan pekerjaan selalu dikerjakan dengan prinsip saling tolong-

menolong. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Antara staf dan

volunteer tidak memandang jarak perbedaan apapun. Makanya setiap

pelaksanaan kegiatan program baik staf maupun volunteer selalu

bekerja sama dengan aktif untuk bisa dapat hasil maksimal.


90

b. Aktifitas penggerakan atau pemberian motivasi baik terhadap staf

maupun anak jalanan yang dilakukan oleh pimpinan.

RI/SL: Motivasi yang diberikan sejauh ini dengan terus menanamkan

pada mereka bahwa LSM RI melakukan kerja dengan transparan,

dengan melihat nilai-nilai empati dan peka terhadap sesama. Ketulusan

dan kerja keras, tanpa membedakan suku, agama maupun ras

manapun.Sebagai pimpinan, tidak lupa selalu memberikan ucapan

selamat pada staf maupun volunteer yang sudah melaksanakan

pekerjaannya dengan baik dan meminta masukan dari karyawan serta

melibatkan mereka di dalam pengambilan keputusan yang ada

hubungannya dengan pekerjaan mereka.

RI/YY: Pimpinan selalu berikan motivasi pada sataf maupun volunteer

dan anak-anak. Penghargaan dalam bentuk ucapan selamat selalu

diberikan pimpinan untuk seluruh staf maupun volunteer setelah suatu

project selesai dilaksanakan. Selain itu bentuk motivasi yang

diberikan, yakni mengajarkan kami bahwa bekerja dengan rasa

kekeluargaan antar sesama staf dan volunteer serta anak-anak itu

merupakan hal yang sangat menyentuh.

RI/DP: Ya, pimpinan sering memberikan motivasi. Wlaupun tidak

terus menerus. Dan yang membuat saya secara pribadi sangat senang

dan merasa dihargai, karena pimpinan selalu kasih ucapan selamat

setiap kali saya dan teman-teman menyelesaikan suatu project. Buat

saya pribadi ucapan selamat lebih berarti dari hadiah apapun.


91

RI/EM: Biasanya motivasi yang buat saya lebih bersemangat, yah

salah satunya karakter kepemimpinan yang luar biasa dari pimpinan

kami di RI. Contohnya ; pimpinan selalu memberikan keluasan dalam

hal berkomunikasi. Staf ataupun volunteer selalu dikasih kesempatan

untuk kasih saran atau pendapat apapun dan selalu mendapat umpan

balik langsung dari pimpinan. Aktifitas penggerakan motivasi juga

kami dapat saat volunteer gathering. Selain itu ada juga penguatan

kapasitas lembaga. Dan yang buat hati senang saat berhasil selesaikan

tugas dengan baik dan langsung mendapat ucapan selamat dari

pimpinan. Buat saya itu motivasi yang berharga sekali. Karena saya

merasa pekerjaan saya dihargai sama pimpinan.

c. Kelancaran komunikasi antar staf pimpinan dengan staf pelaksana

program serta peserta didik.

RI/SL: Karena prinsip kami dalam bekerja selalu transparan, sehingga

yang namanya hubungan komunikasi selalu dijaga dengan baik. Tidak

ada yang ditutup-tutupi. Semuanya selalu dikomunikasikan antar

sesama staf.

RI/YY: Kelancaran komunikasi sangat baik. Berlangsung dengan

sangat akrab dan selalu mengutamakan solidaritas kekeluargaan.

RI/DP: Beberapa kali pimpinan selalu memberikan bimbingan pada

kami.Staf dan volunteer selalu dikasih kebebasan sama pimpinan

untuk menyampaiakan pendapat. Jujur saya merasa sangat nyaman


92

bisa bergabung bersama RI, rasa kekeluargaan antar pimpinan, staf dan

volunteer serta anak-anak selaku peserta didik sangat erat.

RI/EM: Komunikasi dari pimpinan untuk para staf dan volunteer

berjalan lancar tanpa bedakan latar belakang apapun. Dalam hal kerja,

kami selalu dibimbing dengan baik

d. Peningkatan kualitas sumber daya pelaksana dari staf oleh pimpinan

LSM RI.

RI/SL: Di RI ini, peningkatan kualitas sumber daya pelaksana

biasanya melalui kegiatan peningkatan kapasitas mentor. Melalui

kegiatan ini para staf dibimbing dengan beberapa aspek, termasuk

kemahiran oleh orang yang berpengalaman yang mencakup pendidikan

dan latihan kepada staf sebagai tujuan pembelajaran.Untuk itu, saya

selaku pimpinan RI memberikan kebebasan sepenuhnya pada PIC

masing-masing divisi untuk pengambilan keputusan tentang program

yang dijalankan dan bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan

program yang sedang dijalankan itu. Setidaknya dengan cara seperti ini

bisa menumbuhkan kepercayaan diri pada mereka bahwa tidak hanya

pemimpin yang mampu tapi mereka pun mampu bekerja dengan

baik.Selain peningkatan kapasitas mentor, ada juga penguatan

kapasitas lembaga.Ini merupakan proses untuk meningkatkan kualitas

pada lembaga RI serta upaya untuk menciptakan kondisi lingkungan

yang dibutuhkan para staf agar dapat berfungsi dengan baik.Pada saat
93

volunteer gathering juga sebenarnya ada hal-hal yang disampaikan

dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya.

RI/YY: Kalau untuk kendala dalam pengendalian program ; pertama,

lebih seringnya kendala pada bagaimana mengatur waktu untuk rapat

evaluasi. Kedua, belum tersedia staf ahli di bidang evaluasi.

RI/DP: Iya ada, melalui peningkatan kapasitas mentor dan juga

penguatan kapasitas lembaga.

RI/EM: Biasanya untuk peningkatan kualitas sumber daya pelaksana,

pimpinan mengadakan kegiatan berupa peningkatan kapasitas mentor.

Tidak hanya itu saja, biasanya juga diadakan kegiatan penguatan

kapasitas lembaga.

e. Lingkungan atau kondisi tempat pelaksanaan program.

RI/SL: Untuk lingkungan sendiri, mereka (warga setempat ) bisa

menerima kami dengan baik dan sangat membantu kelancaran program

kami. Yah, walaupun pada awal kehadiran kami, mereka sempat

dipenuhi dengan rasa kecurigaan. Tapi itu lumrah terjadi.

RI/YY: Pada saat awal beberapa warga ada yang menolak, tapi kesini-

sininya lingkungan sekitar tempat pelaksanaan program sangat

mendukung pelaksanaan kegiatan kami.

RI/DP: Seperti umumnya lingkungan dengan mayoritas kaum yang

terpinggirkan. Contohnya di Kricak. Hampir sebagian besar warganya

bekerja di jalanan. Mulai dari pengamen dan penjual Koran. Meskipun

dengan latar belakang seperti itu, tapi mereka sangat baik dan ramah
94

pada kami. Mereka sangat membantu dan senang seakli melihat anak-

anaknya bisa ikut program kegiatan education center kami.

RI/EM: Kondisi lingkungan mendukung dan selalu membantu kami

dengan baik. Di Tukangan misalnya ; warga memperbolehkan kami

melaksanakan proses belajar dalam program education center di

Musholla. Kondisi lingkungan sangat aman. Walaupun mugkin sering

diramaikan dengan bisingnya suara kereta api, berhubung jarak

Musholla dengan lintasan rel sangatlah dekat.

f. Kendala-kendala dalam pelaksanaan program.

RI/SL: Setiap pelaksanaan suatu kegiatan, sudah pasti ada kendala

yang muncul. Begitu juga yang kami alami. Beberapa kendala yang

sering kami hadapi antara lain : pertama, pendanaan yang masih

terbatas. Kedua, tempat kegiatan untuk pelaksanaan program yang

bersifat outdoor. Ketiga, sikap kelakuan dan mental anak-anak sudah

jelas beda antara satu dengan lainnya, sehingga saat kegiatan sulit

untuk diatur.

RI/YY: Kendala dalam pelaksanaan biasanya pendanaan keuangan

yang terbatas dan kelakuan anak-anak yang masih sulit dikendalikan.

RI/DP: Sudah pasti yang pertama karena karakter perilaku tiap-tiap

anak yang berbeda, sehingga para staf ataupun volunteer mengalami

kesulitan dalam memberi materi pembelajaran. Kendala yang berikut

ialah masalah pendanaan untuk prakarya keterampilan dalam kegiatan.

Selain itu, tempat kegiatan untuk kegiatan-kegiatan atau permainan


95

yang bersifat outdoor juga belum maksimal. Sehingga ketika anak-

anak meminta untuk melakukan aktifitas di luar ruangan agak sulit

untuk terlaksana.

RI/EM: Yang pasti di pendanaan, dan juga tempramen sikap masing-

masing anak yang keras karena lingkungan kehidupannya. Sehingga

perlu perhatian lebih dalam mendampingi merka.

5. Pengendalian :

a. Pelaksanaan monitoring implementasi program.

RI/SL: Ya, di RI selalu ada pelaksanaan monitoring. Monitoring kami

lakukan agar dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan dari kegiatan

yang sedang kami adakan. Supaya bisa mengurangi kesalahan dan

resiko kegagalan kegiatan kami. Selalu ada rapat rutin sekali dalam

seminggu dan 1 – 3 kali seminggu jika memang ada keperluan atau

acara yang membutuhkan banyak persiapan.

RI/YY: Ada, kalau secara anggaran tiap minggu ada pelaksanaan

monitoring.

RI/DP: Monitoring dilakukan setiap minggu (1 kali dalam seminggu).

Jadi setiap ada kegiatan atau program yang dijalankan selalu ada

monitoring. Dilakukan secara kontinu selama program dilaksanakan.

RI/EM: Setiap pelaksanaan kegiatan selalu ada monitoring. Kami

selalu memantau dan meninjau selama pelaksanaan kegiatan

berlangsung. Monitoring kami lakukan untuk sebisa mungkin dapat


96

meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat mengurangi efektifitas

dari kegiatan yang kami laksanakan

b. Pelaksanaan evaluasi program.

RI/SL: Setiap pelaksanaan kegiatan education center kami selalu

melakukan evaluasi. Kalau tidak ada evaluasi, akan sulit untuk bisa

mengetahui kemajuan dari pogram kegiatan yang kami buat. Melalui

evaluasi juga semua kelemahan atau hal-hal yang menghambat

kegiatan dapat diketahui, jadi untuk ke depannya dapat mengambil

langkah atau cara yang lebih baik lgi.

RI/YY: Setiap berakhirnya satu kegiatan dari setiap divisi yang ada di

RI selalu dilaksanakan evaluasi. Itu hal yang wajib di RI.

RI/DP: Ya, evaluasi dilaksanakan secara menyeluruh setiap detail hal

yang ada dalam kegiatan dan menyeluruh di setiap program education

center dan divisi lainnya. Contohnya di education center, salah satu hal

penting yang kami masukan sebagai bahan evaluasi adalah jumlah

kehadiran anak-anak setiap kali mengadakan kegiatan.

RI/EM: Evaluasi selalu diadakan. Pada saat evaluasi biasanya kami

menanyakan ke anak-anak hal-hal yang berhubungan dengan materi

yang telah kami berikan. Apakah mereka puas, senang dan bisa

menikmati dengan gembira atau justru sebaliknya.


97

c. Pelaporan hasil evaluasi program.

RI/SL: Hasil evaluasi biasanya dilaporkan pada saat rapat tiap akhir

bulan oleh masing-masing PIC.Biasanya terdiri dari laporan kegiatan

dan laporan pertanggungjawaban keuangan.

RI/YY: Tiap akhir bulan PIC masing-masing divisi memasukan laporan

hasil evaluasi program kegiatan yang mereka adakan. Ada

laporankegiatan dan ada juga laporan pertanggungjawaban keuangan.

RI/DP: Laporan hasil evaluasi program diketik rapi dan bersifat

periodik. Maksudnya periodik disini, karena dibuat dalam suatu

periode tertentu dan untuk RI biasanya setiap akhir bula.

RI/EM: Masing-masing PIC membuat laporan evaluasi kegiatannya

masing-masing, kemudian diserahkan ke pimpinan RI. Dalam hal ini

diserahkan ke saudara Yosua Lapudooh selaku Ketua.

d. Kendala-kendala dalam pengendalian program.

RI/SL: Untuk kendala dalam pengendalian program, biasanya lebih

tertuju pada masalah waktu. Berhubung banyak dari volunteer yang

masih berprofesi sebagai mahasiswa, sehingga sering terhalang oleh

waktu perkuliahan yang padat. Selain itu juga ada kendala lain yang

juga sangat penting yaitu ; perihal kurangnya pemahaman yang

mendalam tentang metode evaluasi program dari tiap staf dan

volunteer.
98

RI/YY: Kalau untuk kendala dalam pengendalian program ; pertama,

lebih seringnya kendala pada bagaimana mengatur waktu untuk rapat

evaluasi. Kedua, belum tersedia staf ahli di bidang evaluasi.

RI/DP: Kesibukan dari tiap pendamping atau volunteer, sehingga

kadang sulit mencari waktu untuk mengikuti pertemuan evaluasi.

RI/EM: Staf dan volunteer belum maksimal dalam memahami

tahapan-tahapan evaluasi program. Belum ada staf ahli di bidang

pengendalian program khususnya evaluasi. Banyak volunteer yang

masih kuliah, sehingga saat evaluasi sering ada yang tidak bisa hadir.
99

B. Struktur Organisasi dan Susunan Pengurus

PEMBINA

C. Hasil Penelitian

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Impian telah terdaftar di

Pengadilan Negeri Sleman pada tanggal 10 Februari 2009 Nomor

W13U2/29/Kum.07.01.LL.09 dan di dirikan dengan Akta Notaris Tabitha Sri

Jeany, SH, Mkn. Nomor 2 tanggal 6 Februari 2009. Lokasi Lembaga Swadaya

Masyarakat (LSM) Rumah Impian berada pada posisi yang tidak begitu

strategis, karena dibangun ditengah perkampungan warga. Alamat Lembaga


100

Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Impian yaitu di Dukuh Juwangen RT 03

RW 01 no.25-26 Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi ini jauh dari hiruk pikuk jalan raya yang

biasa digunakan anak jalanan berkeliaran.

LSM Rumah Impian dibangun di atas tanah seluas 800 meter dengan luas

bangunan 600 meter. Bangunan LSM Rumah Impian terdiri dari dua bangunan

rumah dalam satu pekarangan. Ruangan-ruangan pada rumah pertama terdiri

dari kantor dibagian depan, 4 kamar tidur untuk wanita, 1 kamar mandi, 1

dapur dan 1 ruang makan. Sedangkan ruangan-ruangan pada rumah kedua

terdiri dari ruang tamu dibagian depan, 4 kamar tidur untuk laki-laki, 1 ruang

santai (menonton televisi), 1 perpustakaan, 1 gudang dan 1 kamar mandi.

Antara rumah 1 dan rumah 2 ada sebuah ruangan untuk parkiran.

Berdasarkan hasil observasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah

Impian memiliki berbagai fasilitas dalam mendukung setiap program anak

jalanan yang diselenggarakan. Fasilitas yang ada antara lain yaitu gedung

sekretariat (kantor), Asrama Hope Shelter di dukuh Juwangen Purwomartani

Kalasan dan Kotak Perpustakaan berisi buku bacaan berbagai jenis. Fasilitas

yang ada di gedung sekretariat (kantor) LSM Rumah Impian terdiri dari ruang

kerja komputer, ruang tamu dan perpustakaan, ruang aula, kamar tidur, dapur,

gudang, dan kamar mandi. Fasilitas pendukung lainnya yaitu komputer,

lemari, meja, kursi, buku-buku, alat tulis, perlengkapan dapur, dan alat

kebersihan. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh LSM Rumah Impian tidak


101

semuanya milik LSM Rumah Impian, namun ada yang menyewa, seperti

rumah yang berfungsi sebagai kantor dan asrama hope selther.

Berdasarkan hasil observasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah

Impian memiliki jumlah tenaga pengurus sebanyak 7 orang yang membantu

dalam mengelola program-program yang ada di LSM Rumah Impian. Untuk

sementara jumlah pengelola LSM Rumah Impian dirasa masih cukup, karena

selain pengurus inti ada staf dan relawan yang membantu. Tenaga pengurus

LSM Rumah Impian tersebut rata-rata pendidikan terakhir yaitu sarjana.

Dalam melaksanaan suatu program kegiatan, terdapat penanggungjawab

dalam setiap divisi program yang sudah ditentukan tugas dan kewajibannya.

Kerjasama yang kompak antara tiap divisi dapat memudahkan proses

pelaksanaan program dan berdampak atas kelancaran program.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan Lembaga Swadaya Masyarakat

(LSM) Rumah Impian memiliki program-program untuk anak jalanan.

Program-program tersebut terus dikembangkan dan ditingkatkan untuk

mencapai visi dan tujuan yang diharapkan. Program-program LSM Rumah

Impian antara lain, yaitu; (1) Program Pemberdayaan Berdasarkan hasil

observasi yang dilaksanakan peneliti, program ini merupakan program

pemberdayaan bagi anak jalanan. Kegiatannya berupa turun langsung ke

jalanan dengan jadwal hari Selasa untuk sasaran anak jalanan di Perempatan

Monjali dan hari Jumat untuk sasaran anak jalanan di Perempatan Sagan-

Mirota Kampus. Kegiatan pemberdayaan dimulai pukul 16.00-18.00 WIB.

Program pemberdayaan ini bertujuan untuk mengeluarkan anak jalanan dari


102

jalanan dan kembali sekolah, mengembalikan anak jalanan kepada orang

tuanya, dan memfasilitasi bekal pengetahuan dan keterampilan bagi anak

jalanan agar dapat hidup mandiri. Program pemberdayaan yang dilakukan

adalah pemberdayaan belajar atau memberikan pengajaran bagi anak-anak

jalanan usia sekolah. Kegiatan pengajaran tersebut mencakup pengetahuan

dasar seperti belajar membaca, menulis, berhitung, permainan, sains, materi

tentang nilai-nilai sosial kemanusiaan dan memberikan pengetahuan umum

untuk menambah wawasan anak jalanan dengan menggunakan cara bermain

sambil belajar agar semangat dan kesadaran anak jalanan akan pentingnya

pendidikan dapat meningkat sehingga anak jalanan dapat kembali sekolah; (2)

Program Penyadaran, program ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran

bagi anak jalanan, orang tua dan keluarga anak jalanan, serta masyarakat.

Kegiatan penyadaran yang diberikan adalah dengan meningkatkan kesadaran

anak jalanan dan orang tua anak jalanan mengenai pentingnya pendidikan.

Program ini setiap 3 bulan sekali membuat Buletin anak jalanan yang bernama

Buletin Jalanan Trotoar untuk memberikan informasi-informasi dan

meningkatkan pengetahuan masyarakat luas serta melihat lebih dekat tentang

kondisi nyata dari kehidupan anak jalanan; (3) Program Pengasuhan atau

Fasilitator, program Pengasuhan atau Fasilitator ini merupakan program yang

menyediakan beasiswa bagi anak-anak jalanan yang memiliki minat yang

tinggi untuk kembali sekolah. Dalam program Pengasuhan atau Fasilitator ini

terdapat Hope Shelter. Hope Shelter adalah semacam asrama untuk anak-anak

jalanan yang telah siap untuk meninggalkan jalanan dan kembali ke sekolah
103

namun keluarga mereka tidak sanggup untuk membiayai. Di tempat ini, anak-

anak jalanan akan diberikan beasiswa penuh yaitu untuk biaya sekolah dan

juga biaya hidup mereka sehari-hari. Ditempat ini ada pengasuh-pengasuh

yang bertanggung jawab atas kehidupan anak jalanan. Hope Shelter ini

dimulai sejak Juli 2008 dan berlokasi di Juwangen, Purwomartani, Kalasan,

Yogyakarta. Saat ini ada 11 orang anak yang diasuh di LSM Rumah Impian.

Kesebelas anak ini melanjutkan sekolah di SDKE (Sekolah Dasar Kanisius

Eksperimen) Mangunan Kalasan dan SMP Kanisius Kalasan.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan Lembaga Swadaya Masyarakat

(LSM) Rumah Impian memiliki jumlah anak jalanan binaan yang terdata

sebanyak 41 (data anak jalanan binaan LSM Rumah Impian terdapat di bagian

Lampiran). Jumlah anak jalanan tersebut bersifat fluktuatif artinya masih

selalu berubah karena mobilitas anak jalanan yang tinggi sehingga jumlahnya

sering berubah. Ada anak jalanan yang datang dan pergi sesuai keinginan

mereka dan ada yang hanya beberapa kali mengikuti kegiatan kemudian pergi

ke tempat atau daerah yang lain. Biasanya anak jalanan yang sering datang

dan pergi tersebut berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta seperti

Jakarta, Purwokerto, Lampung, Magelang, dan lain-lain.

1. Strategi pemberdayaan yang dilaksanakan pengelola dan pendamping dari

LSM Rumah Impian menggunakan strategi pemberdayaan partisipatif

yaitu dengan pemberdayaan langsung turun ke jalan. Alasan turun

langsung ke jalan agar pendamping lebih mengenal dan memahami

kondisi realita anak jalanan, kehidupan keseharian, dan karakteristik


104

kebutuhan anak jalanan secara tepat. Pemberdayaan anak jalanan yang

dilaksanakan langsung di jalan dilakukan agar pendamping bisa lebih

dekat dengan anak jalanan secara personal, sehingga setelah dekat secara

personal strategi pemberdayaan yang digunakan lebih efektif.

2. Tindak lanjut dari strategi yang diterapkan oleh LSM Rumah Impian

berupa pemberian beasiswa sekolah. Anak jalanan yang memiliki

kesadaran diri untuk kembali sekolah diberikan fasilitas dengan mengikuti

program kegiatan Hope Shelter. Hope Shelter merupakan asrama sebagai

tempat tinggal mantan anak jalanan yang kini bersekolah. Segala

kebutuhan sehari-hari mantan anak jalanan ditanggung oleh LSM Rumah

Impian. Sedangkan bagi anak jalanan yang memiliki kemauan bekerja

keras dan mandiri, dari LSM Rumah Impian berusaha memfasilitasi dan

mendampingi anak jalanan dengan program-program keterampilan yang

sesuai dengan potensi dan keinginannya. Pendamping akan mendampingi

anak jalanan untuk mengikuti pelatihan keterampilan, kursus, atau

kegiatan lain yang dapat memberikan bekal untuk anak jalanan agar hidup

mandiri sehingga dapat keluar dari jalanan. Selama ini, pelatihan

keterampilan yang telah diberikan atau difasilitasi untuk anak jalanan

seperti pelatihan bengkel, las listrik, membuat bingkai foto, komputer, dan

tambal ban. Bagi anak jalanan yang ingin kembali kepada orang tuanya,

dari LSM Rumah Impian (pendamping) akan berusaha untuk menjadi

mediator agar hubungan anak jalanan dengan orang tua kembali harmonis.

Hal ini sejalan dengan study sebelumnya oleh Purnama dkk, (2012:8) di
105

Semarang , pemberian keterampilan kepada anak jalanan merupakan salah

satu cara yang dapat diterapkan kepada anak jalanan yang bertujuan agar

anak jalanan memiliki keahlian mandiri, sehingga mampu mendapatkan

pekerjaan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhannya dengan tidak

lagi kembali kejalanan.

3. Pada pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan yang ada di

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Impian pasti terdapat faktor

pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pemberdayaan anak

jalanan. Faktor pendukung dan penghambat tersebut akan berpengaruh

terhadap berlangsungnya kegiatan pemberdayaan. Dari hasil pengamatan

dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pendamping dan

pengelola LSM Rumah Impian bahwa yang menjadi faktor pendukung

dalam pelaksanaan pemberdayaan anak jalanan ini antara lain yaitu respon

yang positif dari anak jalanan dan orang tua anak jalanan terhadap

kegiatan pemberdayaan. Anak jalanan selalu menyambut dengan baik dan

senang kedatangan para pendamping ketika akan mengadakan kegiatan

pemberdayaan, begitu juga dengan orang tua anak jalanan yang

mendukung kegiatan pemberdayaan. Faktor pendukung lainnya yaitu

adanya kemauan anak jalanan untuk mengikuti kegiatan pemberdayaan,

dan semangat yang tinggi dari para pendamping untuk melaksanakan

kegiatan pemberdayaan. Walaupun dari para pendamping ada yang sudah

bekerja di tempat lain dan memiliki kesibukan, tetapi pendamping selalu

meluangkan waktunya dan semangat mengadakan kegiatan pemberdayaan


106

karena komitmennya untuk membantu anak jalanan agar keluar dari

kehidupan jalanan.

Ada banyak faktor penghambat yang dialami pengelola dan pendamping

selama kegiatan pemberdayaan berlangsung seperti fasilitas yang masih

terbatas. Dalam pemberdayaan belajar anak jalanan sering terlihat bergantian

memakai peralatan atau media belajar ketika proses pemberdayaan

berlangsung. Lokasi pemberdayaan kurang kondusif karena berlokasi di

pinggir jalan sehingga menimbulkan kebisingan dan mengganggu konsentrasi

anak jalanan dalam belajar. Hambatan yang paling sering terjadi saat anak

jalanan mengikuti kegiatan pemberdayaan yaitu orang tua anak jalanan yang

terlalu mengeksploitasi. Anak jalanan yang dieksploitasi orang tua menjadi

tidak semangat dan tidak konsentrasi mengikuti kegiatan pemberdayaan,

karena takut dan tidak didukung orang tua.

Keberadaan anak jalanan seperti sudah menjadi bagian dari perkembangan

sebuah kota, tak terkecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di beberapa sudut

kota masih dapat ditemukan anak-anak jalanan yang perlu mendapatkan

perhatian dan penanganan khusus dari pihak-pihak terkait baik pemerintah

pusat maupun pemerintah setempat. Saat ini jumlah anak jalanan di Kota

Yogjakarta cukup banyak dan memprihatinkan. Jumlah anak jalanan di Daerah

Istimewa mencapai 2076 anak jalanan (BPSRI, 2017). Pada tahun yang sama

anak yang tergolong sebagai anak yang rawan menjadi anak jalanan berjumlah

20,3 juta anak atau 27,6 dari populasi anak Indonesia 98,7 juta anak

(Soewignyo, 2017). Anak-anak jalanan di DIY rata-rata justru berasal dari luar
107

Yogyakarta, yang memiliki masalah pribadi dalam keluarga dan lingkungan

mereka, sehingga mereka merasa lebih nyaman dan hidup sebagai anak-anak

jalanan.

Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak tersebut memilih hidup

sebagai anak jalanan, salah satunya masalah keluarga. Padahal sebenarnya

dengan memilih hidup sebagai anak jalanan, justru hak-hak mereka sebagai

anak tidak mereka dapatkan, seperti hak pendidikan dan hak untuk

mendapatkan kasih sayang. Untuk bisa bertahan hidup, anak-anak jalanan juga

harus bekerja, di antaranya sebagai pengamen, penjual asongan, bahkan ada

yang menjadi pengemis. Keberadaan anak-anak jalanan saat ini perlu adanya

koordinasi dari pihak-pihak terkait untuk penanganannya. Fenomena anak

jalanan di Indonesia memerlukan perhatian khusus semua elemen masyarakat.

Jumlah anak jalanan di seluruh Indonesia mencapai 104.497.

Menurut peneliti, minimnya partisipasi masyarakat dalam menyelesaikan

permasalahan anak jalanan, disebabkan karena masih banyaknya masyarakat

yang menganggap pemberian uang kepada para anak jalanan merupakan suatu

yang hal lumrah untuk dilakukan, yang mengakibatkan terbentuknya pola

berfikir dari para anak jalanan untuk terus mendapatkan uang dengan cara

mengamaen maupun mengemis di jalanan.

Di samping itu, masih banyak lagi pelatihan-pelatihan peningkatan

karakter dan kepribadian anak jalanan di LSM Rumah Impian ini, baik yang

sudah diprogramkan oleh yayasan maupun yang dilaksanakan secara

insedental. Dalam program yang sudah terjadwal, pada umumnya


108

menyelenggarakan bagaimana agar anak jalanan memiliki kecakapan hidup

sebagai bekal dalam menajlani kehidupan ke depan yang lebih kompleks. Pada

umumnya program yayasan adalah mengarahkan anak jalanan untuk memilih

pekerjaan di luar anak jalanan. Jadi, yayasan yang ada namanya Rumah

Impian sifatnya hanya sementara. Dengan program-program insedental lain

juga pada hakikatnya sama untuk tujuan jangka panjang anak jalanan

(Priyono, Wawancara 6 September 2013). Dengan demikian, dapat dijelaskan

bahwa peranan LSM Rumah Impian cukup besar dalam menangani anak

jalanan terutama dalam meningkatkan kecakapan hidup dan karakternya

sehingga menjadi bekal kelah dalam menjalani kehidupan mereka yang lebih

kompleks

Banyak program untuk anak jalanan yang langsung difokuskan kepada

anak tetapi tingkat keberhasilannya rendah, dikarenakan bahwa usia anak

adalah usia dimana seseorang belum bisa menggunakan nalarnya secara benar.

Mereka masih mudah terpengaruh dengan teman sebayanya dan belum

memahami arti kehidupan secara utuh. Hal ini terlihat dari banyaknya anak

jalanan yang mengikuti pelatihan keterampilan (vocational training), namun

mudah sekali keluar, atau mereka sudah menyelesaikan pendidikannya namun

kembali ke jalan. Kajian sosial filosofis anak membuktikan bahwa seseorang

di jalan baru kemungkinan sukses mengikuti program pelatihan keterampilan

jika paling tidak berusia 21 tahun. Pada tahapan umur ini sesorang sudah

dihadapkan pada pilihan logis yaitu ingin bekerja dan menjadi orang baik-
109

baik, atau tetap di jalan dan menjadi preman. Intinya tetap sama yaitu

intervensi yang tepat untuk anak adalah dengan kembali ke sekolah.

Berdasarkan uraian dan pembahasan dari bab-bab sebelumnya. Dan dari

beberapa pernyataan informan di atas telah menjelaskan bahwa langkah yang

diambil dalam tahap identifikasi permasalahan dan komunitas sasaran yang

telah dilakukan semoga dapat bermanfaat. Khususnya bagi masyarakat

Yogyakarta, umumnya untuk masyarakat seluruh Indonesia untuk mulai

melakukan tahap selanjutnya, yaitu tahap perencanaan program pembelajaran.