Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Hipertensi

a. Definisi

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya

140 mmHg atau tekanan diastolik sediktnya 90 mmHg. Hipertensi tidak

hanya berisiko tinggi penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit

lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi

tekanan darah, makin besar risikonya (Hudaf, 2015).

Beberapa definisi menurut para ahli yaitu :

1) Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya

diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Pada

populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik

diatas 90 mmHg (Bruner dan Suddarth, 2013).

2) Hipertensi adalah faktor penyebab utama kematian karena stroke dan

faktor yang memperberat infark miokard (serangan jantung). Kondisi

tersebut merupakan gangguan asimptomatik yang sering terjadi

dengan peningkatan tekanan darah secara persisten. Diagnosa

hipertensi pada orang dewasa dibuat saat bacaan diastolik rata-rata

dua atau lebih, paling sedikit dua kunjungan berikut adalah 90 mmHg

atau lebih tinggi atau bila tekanan darah multiple sistolik rata-rata
pada dua atau kunjungan berikutnya secara konsisten lebih tinggi dari

140 mmHg ( Gunawan, 2005 dikutip dalam Rostina, 2016).

3) Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan

diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Tekanan

darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis

hipertensi harus bersifat spesifik usia. Namun secara umum seseorang

dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darah lebih tinggi dari

pada 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik (Indriyani, 2009

dikutip dalam Rostina, 2016).

4) Hipertensi secara umum dapat didefinisikan sebagai tekanan sistolik

lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Tekanan darah manusia secara alami berfluktuasi sepanjang hari.

Tekanan darah tinggi menjadi masalah hanya bila tekanan darah

persisten. Tekanan darah tersebut membuat sirkulasi dan organ yang

mendapat suplai darah (termasuk jantung dan otak ) menjadi tegang

(Sofyan, 2012).

b. Klasifikasi

Menurut (Hudaf, 2015), Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi

menjadi dua jenis yaitu :

1) Hipertensi Primer ( Esensial)

Disebut juga hipertensi diopatik karena tidak diketahui

penyebabnya. Faktor yang mempengaruhinya yaitu : genetik, umur,

hiperaktifitas saraf simpatis sistem rennin. Faktor – faktor yang


meningkatkan resiko : kebiasaan merokok, dan alkohol, aktivitas fisik,

obesitas dan polistemia.

2) Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat

diketahui, sering berhubungan dengan beberapa penyakit misalnya

ginjal, jantung koroner, diabetes, kelainan sistem saraf pusat. Jumlah

kejadian mencapai 10%. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang

disebabkan sebagai akibat dari adanya penyakit lain. Sekitar 5 – 10%

penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.

Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO :
Kategori Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Optimal ≤120 ≤80
Normal ≤130 ≤85
Tingkat 1 (Hipertensi Ringan) 140-159 90-99
Sub group : Perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (Hipertensi Berat) ≥180 ≥110
Hipertensi sistol terisolasi ≥140 ≤90
Sub group : Perbatasan 140-149 ≤90

c. Etiologi

Faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat

dikendalikan.

1) Faktor yang tidak dapat dikendalikan

a) Keturunan/Genetik

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan

menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita

hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai risiko


dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu

yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi (Hudaf,

2015). Hal ini di dukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh

(Fitriani & Nilamsari, 2017). Menunjukan bahwa mayoritas

responden hipertensi memiliki hubungan yang signifikan antara

riwayat keluarga dengan tingkat kejadian hipertensi.

b) Jenis Kelamin

Laki – laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita

hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai risiko yang lebih

besar terhadap morbiditas dan mortilitas kardiovaskuler.Sedangkan

pada umur diatas 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada

perempuan (Hudaf, 2015). Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh (Sapitri, Suyanto & Ristua, 2016).menunjukkan

bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian

hipertensi. Jenis kelamin terbanyak pada laki-laki yaitu 56,4%

sedangkan pada perempuan sebanyak (51,3%).

c) Umur

Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan

usia. Individu yang berumur diatas 60 tahun, 50-60% mempunyai

tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg.

Hipertensi pada pria terjadi pada usia 31 tahun, sedangkan pada

wanita terjadi setelah umur 45 tahun karena berkurangnya hormon

estrogen dan hormone progesteron. Hal itu merupakan pengaruh


degenerasi yang terjadi pada orang bertambah usianya (Hudaf,

2015). Menurut hasil penelitian (Pramana, 2016) menyatakan

bahwa menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara umur

dengan tingakat hipertensi dengan peningkatan usia maka terjadilah

degeneratif pada semua organ terutama organ untuk sistem

sirkulasi yaitu jantung dan pembuluh darah.

2) Faktor Yang Dapat Dikendalikan

a) Obesitas

Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar

20% atau lebih berat badan ideal. Pada obesitas didapatkan

kenaikan volume plasma dan curah jantung yang akan

meningkatkan tekanan darah. Hal ini mungkin berkaitan dengan

perubahan hormonal, metabolik, neurologi, dan hemodinamik yang

terjadi pada obesitas. Bila berat badan menurun, maka volume

darah total juga berkurang, hormon yang berkaitan dengan tekanan

darah berubah dan tekanan darah berkurang. Swedish Obase Study

melaporkan angka kejadian hipertensi pada obesitas adalah 13,6%

dan Framingham Study mendapat peningkatan insiden hipertensi,

diabetes mellitus dan angina pertoris pada orang obesitas (Hudaf,

2015). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Fitriani & Nilamsari,

2017), menyatakan bahwa obesitas memiliki hubungan yang

signifikan berisiko terkena hipertensi dibandingkan orang yang

tidak obesitas.
b) Merokok

Merokok memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dengan

oksigen yang sedikit. Bila orang merokok sigaret, maka arteri akan

menyempit sehingga menghambat suplai darah ke otot-otot

jantung. Merokok dapat meningkatkan tekanan darah secara

tempores yaitu tekanan sistolik meningkat 10 mmHg dan tekanan

darah diastolik meningkat sebesar 8 mmHg. Kenaikan tekanan

darah terjadi pada saat sedang merokok. Asap rokok terdiri dari

karbon monoksida, hydrogen sianida, dan nitrogen sianida. Karbon

monoksida memberi kontribusi untuk timbulnya palk aterosklerosis

melalui penimbunan kolesterol LDL yang meningkat dan

terbentuknya penampungan lemak (Hudaf, 2015). Menurut hasil

penelitian (Pitriani, Yanti & Afni, 2018), menyimpulkan bahwa

kebiasaan merokok memicu faktor terjadinya hipertensi

menyebutkan zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon

monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk dalam aliran

darah yang dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah tinggi.

Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan oksigen untuk

disuplai ke otot-otot jantung.

c) Alkohol

Alkohol dilarang dikonsumsi oleh mereka yang menderita

hipertensi karena alkohol dapat meningkatkan tekanan darah.

Walaupun demikian, ada beberapa dokter yang menyarankan


mengkonsumsi sedikit anggur merah setelah makan untuk

diperoleh manfaat antioksidannya. Mengkonsumsi dalam jumlah

banyak sangat tidak dianjurkan alkohol bagi kesehatan dapat

meningkatkan sintesis ketokholamin. Adanya ketokholamin dalam

jumlah besar akan memicu kenaikan tekanan darah (Hudaf, 2015).

Hal ini sejalan dengan penelitian (Rostina, 2016), menyimpulkan

bahwa mengkonsumsi alkohol merupakan faktor risiko terjadinya

hipertensi.

d) Konsumsi natrium berlebih

Penelitian menyebutkan bahwa ada hubungan antara konsumsi

natrium yang meningkat dapat menyebabkan kenaikan volume

darah. Disamping itu diet tinggi garam dapat memperkecil diameter

dari arteri. Jantung harus memompa darah lebih keras untuk

mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang

sempit, akibatnya terjadi kenaikan tekanan darah. Sebaliknya

apabila asupan natrium berkurang akan menurunkan tekanan darah

rata-rata 2-3 mmHg (Hudaf, 2015). Hal ini didukung hasil

penelitian (Susanti, 2017), menyimpulkan bahwa terdapat

hubungan anatara asupan natrium dengan tekanan darah sistolik

maupun diastolik pada lansia di Kelurahan Pajang.

e) Stres

Stres adalah respon tubuh yang sifatnya tuntutan beban. Stress

dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon


adrenalin dan memicu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih

kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Hubungan antara

stres dengan hipertensi secara langsung, stres akan membangkitkan

saraf simpatis yang akan memicu cara kerja jantung dan akan

berdampak pada peningkatan tekanan darah. (Hudaf, 2015). Hal ini

sejalan dengan penelitian (Sapitri, Suyanto & Ristua, 2016),

menyimpulkan bahwa ada hubungan stress dengan kejadian

hipertensi dibandingkan orang yang tidak stress.

d. Manifestasi Klinis

Menurut Hudaf (2015), tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan

menjadi :

1) Tanda dan gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh

dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan

pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak teratur.

2) Gejala yang lazim

Seiring dikatakan bahwa gejala lazim yang menyertai hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya pasien yang

mencari pertolongan medis.

Beberapa pasien yang mengalami hipertensi yaitu :

a) Mengeluh sakit kepala

b) Lemas, kelelahan
c) Sesak nafas

d) Gelisah

e) Mual

f) Muntah

g) Epistaksis

h) Kecemasan, depresi, dan cepat marah

i) Kesadaran menurun.

e. Patofisologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh

darah yang terletak di pusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat

vasomotor ini bermula saraf simpatis, yang berlanjut kebawah kekorda

spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis keganglia simpatis

ditoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam

bentuk inplus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis

keganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan

asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion

kepembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan

dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang

vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap

norepinefin. (Brunner & Suddarth, 2013).

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang

pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga

terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula


adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks

adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat

respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang

mengakibatkan penurunan aliran darah keginjal, menyebabkan pelepasan

renin. Renin merangsang pembentukan angiotensi I yang kemudian

diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada

gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hal ini

menyebabkan retensi natrium dan air dari tubulus ginjal, menyebabkan

peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut mencetus

keadaan hipertensi ( Brunner & Suddarth, 2013).

f. Komplikasi

Hipertensi dapat berakibat fatal jika tidak dikendalikan apalagi

sering tidak menimbulkan gejala pada penderita sehingga tidak disadari

terjadi kerusakan yang fatal pada tubuh adapun komplikasi yang dapat

terjadi dari hipertensi yaitu :

1) Jantung

Jantung dapat dirusak oleh tekanan darah tinggi yang lama tidak

diobati. Awalnya jantung mengatasi keteganggan karena harus

menghadapi tekanan darah tinggi dengan meningkatnya kerja otot

sehingga membesar agar dapat memompa lebih kuat. Pompa jantung

yang mulai macet, tidak dapat lagi mendorong darah untuk beredar

keseluruh tubuh dan sebagian darah menumpuk pada jaringan.

Persoalan akan timbul bila terdapat halangan atau kelainan dipembuluh


darah, yang berarti kurangnya suplai oksigen dan zat gizi untuk

menggerakan jantung secara normal (Maulana, 2008 dikutip dalam

Munawarah, 2017).

2) Ginjal

Hipertensi yang berkelanjutan menebalkan pembuluh darah pada

ginjal sehingga menganggu mekanisme yang sangat halus yang

menghasilkan urin. Salah satu gejala utama kerusakan ginjal yang

disebabkan oleh tekanan darah tinggi adalah berkurangnya

kemampuan untuk menyaring darah (Smith, 1998 dikutip dalam

Munawarah, 2017).

3) Stroke

Hipertensi dapat menyebabkan tekanan darah yang lebih besar

pada dinding pembuluh darah sehingga dinding pembuluh darah

menjadi lemah dan pembuluh darah akan mudah pecah. Pecahnya

pembuluh darah diotak dapat menyebabkan sel-sel otak yang

seharusnya mendapatkan asupan oksigen dan zat gizi dan akhirnya

mati (Auryn, 2007 dikutip dalam Munawarah, 2017).

g. Penatalaksanaan Hipertensi

Menurut Auryn, (2007) dikutip dalam Munawarah, (2017),

menyatakan bahwa penatalaksanaan dalam pengendalian hipertensi

dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu : promosi, preventif, kuratif dan

rehabilitatif.
1) Promosi kesehatan diharapkan dapat memelihara, meningkatkan

dan melindungi kesehatan diri serta kondisi lingkungan sosial,

dintervensi dengan kebijakan publik, serta dengan meningkatkan

pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai prilaku hidup

sehat dalam pengendalian hipertensi.

2) Preventif dengan cara larangan merokok, peningkatan gizi

seimbang dan aktivitas fisik agar terhindar dari obesitas untuk

mencegah timbulnya faktor risiko menjadi lebih buruk dan

menghindari terjadi rekurensi (kambuh) faktor resiko. Beberapa hal

yang dilakukan adalah:

a) Mengurangi asupan garam didalam tubuh

Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit

dilaksanakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1

sendok teh) per hari pada saat memasak. Makan makanan yang

sehat misalnya dengan banyak mengonsumsi buah-buahan segar

dan sayuran, yang memberikan nutrisi seperti kalium dan serat.

Dan juga makanan yang rendah lemak jenuh dan kolesterol.

b) Melakukan olahraga teratur

Berolahraga seperti jalan cepat selama 20-45 menit

sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menambah

kebuguran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya

dapat mengontrol tekanan darah. Direkomendasikan orang


dewasa terlibat dalam latihan intensitas sedang selama 2 jam dan

30 menit setiap minggu.

c) Berhenti merokok

Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah

sehingga dapat memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun

seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalaui

rokok yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan

endotel pembuluh darah arteri, dan mengakibatkan proses

artereosklerosis, dan tekanan darah tinggi.

Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat anatara kebiasaan

merokok dengan adanya artereoslerosis pada seluruh pembuluh

darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan

kebutuhan oksigen untuk disuplai keotot-otot jantung. Merokok

pada penderita hipertensi semakin meningkatkan resiko

kerusakan pada pembuluh darah arteri. Tidak ada cara yang

benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok.

d) Memeriksa tekanan darah secara teratur karena tekanan darah

darah tinggi sering kali tidak memeliki gejala.

3) Kuratif dilakukan melalui pengobatan farmakologis dan tindakan

yang diperlukan. Keatian mendadak yang menjadi kasus utama

diharapkan berkurang dengan dilakukannya pengembangan

manajemen kasus dan penanganan kegawatdaruratan disemua

tingkat pelayanan dengan melibatkan organisasi profesi, pengelola


program dam pelaksanaan peklayanan yang dibutuhkan dan

pengendalian hipertensi.

Menurut Auryn, (2007) dikutip dalam Munawarah, (2017,

menyatakan ada beberapa prinsip dalam pemberian obat anti

hipertensi ditahap kuratif ialah :

a) Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab

hipertensi

b) Pengobatan hipertensi ensensial ditunjukan untuk menurunkan

tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan

mengurangi timbulnya komplikasi.

c) Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan

obat anti hipertensi

d) Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang,

bahkan pengobatan seumur hidup.

Menurut Prasetyaningrum, (2014) menyatakan jenis-jenis obat

anti hipertensi yang diberi tahap kuratif anatara lain:

1) Diuretik

Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan mengeluarkan

cairan tubuh (lewat kencing), sehingga volume cairan tubuh

berkurang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi ringan

dan efek turunnya tekanan darah. Digunakan sebagai obat

pemilihan pertama pada hipertensi tanpa adanya penyakit lain.

2) Penghambat Simpatis
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas

saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas).

Contoh obat yang yang termasuk dalam golongan obat

penghambat simpatis adalah : metildopa, klonodin dan reseprin.

Efek samping yang dijumpai adalah : anemia hemoletik

(kekurangan sel darah merah karena pecahnya sel drah merah),

menggangu fungsi hati dan kadang dapat menyebabkan

penyakit hati kronis. Saat ini golongan obat ini jarang

digunakan.

3) Betabbloker

Mekanisme kerja obat anti hipertensi ini adalah melalui

penurunan daya pompa jantung. Jenis obat ini tidak dianjurkan

pada penderita yang telah diketahui mengidam penyakit

gangguan pernafasan sperti asma bronkhial. Contoh obat

golongan betabloker adalah metoprolol, propanolol, atenol, dan

bisoprolol. Pemakian pada penderita diabetes harus hati-hati,

karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (dimana kadar gula

darah menurun menjadi sangat rendah senhingga dapat

membahayakan penderitanya). Pada oaring dengan penderita

bronskospasme (penyempiatan saluran pernafasan) sehingga

pemberian obat harus hati-hati.

4) Vasodilator
Obat ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan

relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk

dalam golongan ini adalah prazosin dan hidralazin. Efek

samping yang sering terjadi pada pemberian obat ini adalah

pusing, sakit kepala dan lemas.

5) Penghambat Enzim Konversi Angiotnsin

Kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan

zat angotensin II (zat yang dapat meningkatkan tekanan darah).

Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah kaptopril, efek

samping sering menimbulkan batuk kering, pusing, sakit kepala

dan lemas.

6) Antagonis Kalsium

Golongan ini dapat bekerja menurunkan daya pompa

jantung dengan menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas).

Yang termasuk golongan obat ini yaitu : nifedin, diltezim dan

verapamil. Efek sampingnya yang mungkin timbul adalah

sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.

7) Penghambat Reseptor Angiotensin II

Kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat

angotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya

daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk golongan ini

adalah valsartan. Efek sampingnya yang mungkin timbul adalah

sakit kepala, pusing, lemas dan mual.


e) Rehabilitatif dilakukan agar penderita tidak jatuh pada keadaan

yang lebih buruk dengan melakukan kontrol teratur dan fisoterapi

komplikasi erangan hipertensi yang fatal dapat diturunkan dengan

mengembangankan manajemen rehabilitasi kasus dengan

melibatkan unsur organisasi profesi, pengelola program dan

pelaksanan pelayanan diberbagai tingkat.

2. Tinjauan Umum Tentang Lansia

1. Definisi

Menurut World Health Organitation (WHO), lansia adalah

seseorang yang telah memasuki usia 60 keatas. Lansia merupakan

kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dalam

fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi

suatu proses yang disebut Aging Process atau proses menua.

Proses penuanan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan

tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai

dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit

yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler

dan pembuluh darah, pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain

sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga

terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem

organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemuduran

kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh

pada activity of daily living (Fatmah, 2010).

2. Batasan-Batasan Usia Lanjut

Batasan umur pada usia lanjut dari waktu kewaktu berbeda.

Menurut WHO (World Health Organination) lansia meliputi :

1) Usia Pertengahan (middle age) anatara usia 45 sampai 59 tahun

2) Lanjut Usia (elderly) antara usia 60-74 tahun

3) Lanjut Usia Tua (old) antara usia 74-90 tahun

4) Usia Sangat Tua (very old) diatas usia 90 tahun

Berbeda dengan WHO, menurut Departemen Kesehatan RI (2006)

pengelompokan lansia menjadi :

1) Virilitasi (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang

menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun)

2) Usia Lanjut Dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki

masa usia lanjut dini (usia 60-64 tahun)

3) Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degenertif

(usia >65 tahun).

3. Klasifikasi Lansia

Menurut Depkes RI (2013) klasifikasi lansia terdiri dari :

1) Pra lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

2) Lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

3) Lansia risiko tinggi ialah seseorang berusia 60 tahun atau lebih dengan

masalah kesehatan.
4) Lansia potensial ialah yang masih mampu melakukan pekerjaan dan

kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.

5) Lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,

sehingga kehidupanya tergantung pada bantuan orang lain.

4. Karakteristik Lansia

Lansia memiliki karakteristik yaitu berusia 60 tahun, kebutuhan dan

masalah yang berfariasi dari rentan sehat sampai sakit, kebutuhan

biopsikososial dan spiritual, kondisi adiptif hingga kondisi maladiptif

(Jazmi, 2016).

5. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

Menurut Nugroho (2012) perubahan-perubahan yang terjadi pada

lansia diantaranya adalah :

1) Perubahan pada sistem gastrointestinal

Proses penuaan memberikan pengaruh pada setiap bagian dalam

saluran gastrointestinal (GI) yaitu perubahan pada rongga mulut,

esofagus, lambung, usus halus, usus besar dan rektum, pankreas dan

hati.

2) Perubahan pada sistem muskuloskletal

a) Jaringan penghubung (kolagen dan elastin)

Kolagen sebagai protein pendukung utama pada kulit, tendon,

kartilago, dan jaringan peningkat mengalami perubahan menjadi

tidak teratur dan penurunan hubungan pada jaringan kolagen,

merupakan salah satu alasan penurunan mobilitas pada jaringan


tubuh. Sel kolagen mencapai puncak mekaniknya karena penuaan,

kekakuan dari kolagen mulai menurun. Kolagen dan elastin yang

merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung mengalami

perubahan kualitas dan kuantitasnya.

Perubahan pada kolagen ini merupakan penyebab turunnya

fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa

nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot,

kesulitan bergerak dari duduk keberdiri, jongkok dan berjalan dan

hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Upaya fisioterapi

untuk mengurangi dampak tersebut adalah memberikan latihan

untuk mejaga mobilitas.

b) Kartilago

Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan

mengalami granulasi akhirnya permukaan sendi menjadi rata.

Selanjutnya kemampuan kartilago untuk regenersi berkurang dan

degenarasi yang terjadi cenderung kearah progresif. Proteoglikan

yang merupakan komponen dasar matrik kartilago, berkurang atau

hilang secara bertahap sehingga jaringan fibril pada kolagen

kehilangan kekuatannya dan akhirnya kartilago cenderung

mengalami fibrilasi. Kartilago mengalami klasifikasi dibeberapa

tempat seperti pada tulang rusuk dan tiroid. Fungsinya kartilago

tidak menjadi efektif tidak hanya sebagai peredam kejut, tetapi


senagai permukaan sendi yang berpelumas. Konskuensinya

kartilago pada persendian menjadi rentan terhadap gesekan.

Perubahan tersebut sering terjadi pada perubahan sendi besar

penempu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah

mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak dan

terganggunya aktivitas sehari-hari.

c) Sistem skeletal

Manusia mengalami penuaan jumlah masa otot tubuh

mengalami penurunan yang terjadi pada penurunan produksi tulang

kortikal dan trabelukar yang berfungsi sebagai perlindungan

terhadap beban gerakan rotasi dan lengkungan. Implikasi dari hasil

ini adalah peningkatan terjadinya fraktur.

d) Sitem muskular

Perubahan yang terjadi pada sistem muscular akibat proses

menua yaitu waktu kontraksi dan relaksasi muscular memanjang.

Implikasi dari hal ini adalah perlambatan waktu untuk beraksi,

pergerakan yang kurang aktif. Perubahan kolumna verteblaris,

akilosis tendon dan otot, dan perubahan.

e) Sendi

Perubahan yang terjadi pada sendi akibat proses menua yaitu

pecahnya komponen kapsul sendi dan kolagen. Implikasi dari ini

adalah nyeri, inflamasi, penurunan mobilitas sendi, demorfitas,


kekuatan ligmen dan sendi. Implikasi ini dari hal ini adalah

peningkatan risiko cedera.

3) Perubahan Pada Sistem Pernafasan

Sistem neurologis, terutama otak adalah suatu faktor utama

dalam penuaan. Neurom menjadi semkain komplek dan tumbuh, tetapi

neuron tersebut tidak dapat mengalami regenerasi. Perubahan

struktual yang paling terlihat terjadi pada otak itu sendiri. Perubahan

ukuran otak yang dipengaruhi oleh ortofi girus dan dilatasi dan

ventrikel otak. Korteks serebral adalah daerah otak yang paling besar

dipengaruhi oleh kehilangan neuron. Penurunan aliran darah serebral

dan penggunaan oksigen dapat pula terjadi penuan.

4) Perubahan Pada Sistem Endokrin

Perubahan pada sistem endokrin akibat penuaan antara lain

produksi dari semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan

sekresinya tidak berubah, terjadinya pituitari yaitu pertumbuhan

hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya didalam pembuluh darah.

3. Tinjauan Tentang Senam Jantung Sehat

a. Pengertian Senam Jantung Sehat

Senam jantung sehat termasuk ke dalam olahraga aerobik dengan

intensitas sedang (Fakhrudin, 2013).

Senam jantung sehat terdapat 5 seri, yaitu terdiri dari seri I dimana

gerakannya menggunakan irama musik yang pelan dan tidak rumit, seri II

gerakan yang dilakukan agak cepat namun masih sederhana. Seri III
gerakan yang diiringi dengan musik yang lebih cepat dan gerakan mulai

bervariasi, seri IV dan V gerakan diringi dengan musik yang semakin

cepat dan durasi dari gerakan lebih panjang. Pada usia lanjut dapat

menggunakan seri I, II dan III, sedangkan pada remaja bias dilakukan

seri IV dan V (Lalarni, 2015).

b. Gerakan Senam Jantung Sehat

Gerakan senam jantung sehat dilakukan dalam 20 gerakan inti, 11

gerakan pemanasan dan 4 gerakan perbandingan yaitu (Merianti &

Wijaya, 2015) :

1) Gerakan pemanasan

a) Menundukan kepala, memiringkan kepala ke kanan, memiringkan

kepala kekiri

b) Mengangkatkan bahu kanan, mengangkat bahu kiri, mengangkat

kedua bahu

c) Saling menekan kedua telapak kanan, mengangkat bahu kiri,

mengangkat kedua bahu

d) Memutar badan ke kanan, memutar badan ke kiri

e) Menarik kedua bahu, merentangkan kedua lengan kesamping

f) Memiringkan sisi tubuh ke kanan, memiringkan sisi tubuh ke kiri

g) Memutar badan dan kaki ke kanan, memutar badan dan kaki ke kiri

h) Membungkukkan badan

i) Melangkahkan kaki serong kanan, melangkahkan kaki serong kiri

j) Mengangkat kaki kanan, mengangkat kaki kiri


k) Menekuk kaki kanan ke belakang, menekuk kaki kiri ke belakang.

2) Gerakan inti

a) Jalan di tempat

b) Menundukkan dan menegakkan kepala, memiringkan kepala

kesamping kanan dan kiri

c) Memutar bahu kedepan, memutar bahu kebelakang

d) Jalan ditempat dan direntangkan tangan kedepan, ke atas, lalu

direntangkan

e) Mendorong lengan kedepan, mendorong lengan kesamping

f) Jalan ditempat dan direntangkan tangan ke depan, ke atas, lalu

direntangkan

g) Merenggutkan dan merentangkan tangan, mengangkat kedua

lengan ke atas dan kai kanan/ kiri belakang

h) Jalan ditempat dan direntangkan tangan ke depan, keatas, lalu

rentangkan

i) Mengayun kedua lengan atas kanan dan kiri, mengayun kedua

lengan kesamping kanan dan kiri belakang

j) Jalan ditempat dan rentangkan tangan ke depan, ke atas, lalu

rentangkan

k) Lari ditempat

l) Lari ditempat sambil mengayun kedua kaki kanan dan kiri ke depan

bergantian
m) Lari ditempat sambil menekuk kaki kanan dan kiri ke belakang

bergantian

n) Lari ditempat dan mengangkat lutut ke depan, sambil, mengangkat

kedua lengan lurus sejajar ke depan dan ke atas

o) Lari ditempat mengangkat lutut ke depan, sambil mengangkat ke

dua lengan lurus sejajar ke depan dan ke atas

p) Lari ditempat dan menepuk tangan diatas kepala

q) Lari ditempat dan rentangkan tangan ke depan, ke atas lalu

rentangkan, menarik nafas

3) Gerakan pendingin

a) Membuka kaki kanan selebar bahu dan membungkuk

b) Memutar badan dan kaki ke samping kanan dan ke kiri

c) Memutar badan ke kanan dan ke kiri

d) Meluruskan lengan dan kaki

c. Pengaruh Senam Terhadap Penurunan Tekanan Darah

Faktor utama yang mempengaruhi tekanan darah adalah curang

jantung, tekanan pembuluh darah perifer dan volume/ aliran darah. Rata-

rata tekanan darah arteri ditentukan oleh curah jantung dan resistensi

perifer total. Penurunan tekanan arteri setelah latihan harus dimediasi

oleh penurunan satu atau kedua variabel tersebut. Penurunan resistensi

perifer total tampaknya menjadi mekanisme utama yang menjadikan

mekanisme utama yang menjadikan penurunan tekanan darah setelah

olahraga (Priadi, 2016).


Menurut (Pescestello, 2010), penurunan tahanan perifer dapat

dijelaskan dari mekanisme :

1) Adaptasi Neurohormonal

a) Sistem saraf simpatik

Aktivitas sistem saraf simpatik yang meningkat adalah cirri

penting dari hipertensi. Aktivitas saraf simpatik adanaya pelepasan

norepinefrin (NE) memediasi vasokontriksi dan meningkatkan

resistensi vaskuler. Penurunan aliran saraf simpatis pusat atau

sirkulasi norepinefrin (NE) menepiskan vasokontriksi dan

menyebabkan penurunan tekanan darah. Meskipun bukti ysng

terbatas untun mendukung pengurangan eferen aktivitas saraf

simpatik setelah latihan/olahraga. Pengurangan norepinefrin (NE)

plasma telah dibuktikan setelah latihan/olahraga. Penelitian yang

dilakukan oleh Meredith et al. Menemukan bahwa penurunan NE

plasma setelah latihan berhubungan dengan penurunan spillover

yang menunjukan penurunan aktivitas sistem saraf simpatik.

Berkurangnya NE pada sinapsis akan menjadi salah satu

mekanisme yang memfasilitasi pengurangan resistensi pembuluh

darah setelah olahraga dan menyebabkan penurunan tekanan darah.

b) Hiperinsulinemia dan Risitensi Insulin

Hiperinsulinemia dan resistensi insulin berhubungan dengan

hipertensi dan aktivitas sistem saraf simpatik. Karena latihan

olahraga meningkatkan sensitivitas insulin, ini merupakan


mekanisme penting dalam mediasi penurunan aliran simpatis dan

tekanan darah. Penelitian terbaru terkait dengan hipertensi

menunjukan hubungan erat antara penurunan istrahat tekanan darah

da NE plasma serta meningkatkan sensitivitas insulin setelah

olahraga.

c) Sistem Renin-Angiotensin

Angiotensin II adalah vasokonstiktor kuat dan mengatur

volume darah. Penurunan renin dan angiotensin II dengan latihan

kemungkinan akan menjadi faktor penurunan tekanan darah.

d) Respon Vaskular

Adaptasi vascular yang akan memberikan konstribusi untuk

menurunkan tekanan darah setelah latihan. Latihan mengubah

respon vascular dua vaskonstiktor kuat, NE dan Endotelin-1.

Endotelin 1 mendorong pengeluaran NO (nitrat oxide) dan

memepertahankan keseimbangan antara efek vasodilitas dari NO

dan efek vasokonstriktor dari endotelin 1 itu sendiri. Endotel sangat

bergantung pada vasodilitasi yang berkaitan erat produksioksida

nitrat. Endotel memproduksi NO, yaitu faktor vasorelaksan ampuh

yang memberikan kontribusi danlam pembuluh darah. NO dibentuk

oleh sintesis enzim NO (NOS) yang berbentuk dari asam amino L-

Arginin. NO berdifusi ke sel-sel otot polos pembuluh darah.,

mengaktifkan guanylate cyclase dan menghasilkan vasorelaksasi

(Mancia, 2014). Olahraga diduga dapat mengubah vasokonstriktor


menjadi vasodilator (mengurangi vasokonstriksi dan tekanan pada

tekanan darah). Latihan olahraga juga terbukti meningkatkan

produksi oksida nitrat dan meningkatkan fungsi vasodilitasi yang

akan mengurangi resistensi perifer dan menurunkan tekanan darah

(Pescestello, 2010).