Anda di halaman 1dari 49

BAB III

OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI MINYAK BEKATUL PADI, KAJIAN


KOMPOSISI ASAM LEMAK DAN SIFAT FISIKO KIMIANYA

A. Pendahuluan
Minyak bekatul padi diekstraksi dari bekatul padi sehingga dikenal pula
dengan nama “minyak padi”, merupakan salah satu minyak nabati yang
menyehatkan, karena mengandung komponen bioaktif berupa γ-oryzanol,
vitamin E dan β-karoten yang berperan penting dalam mencegah beberapa
penyakit (Qureshi et al, 2000), juga mengandung asam lemak tidak jenuh berupa
asam oleat dan linoleat, asam linoleat secara luas diakui sebagai asam lemak
esensial (Wang, 2016; Wei et al., 2013).
Minyak padi memiliki aroma dan tampilan yang baik serta nilai titik

asap yang tinggi (254oC). Dengan titik asap yang paling tinggi dibandingkan
dengan minyak nabati lainnya, maka ia merupakan minyak terbaik dibanding
minyak kelapa, minyak sawit maupun minyak jagung (Hadipernata, 2007).
Minyak bekatul padi menunjukkan stabilitas oksidatif yang sangat tinggi
dibandingkan dengan minyak kedelai, kelapa sawit, wijen, lobak, jagung dan
sebagian besar minyak nabati lainnya (Rubalya and Neelamegam, 2012), lebih
lanjut dikatakan bahwa kestabilan minyak bekatul padi setara atau bahkan lebih
baik dari pada minyak kedelai, jagung, kanola, biji kapas, dan minyak safflower
dalam sistem pangan model yang mensimulasikan kondisi penggorengan
terendam. Rubalya et al., (2010) menunjukkan bahwa stabilitas panas minyak
bekatul padi lebih besar daripada minyak kelapa sawit bila mengalami
penggorengan berulang. Stabilitas oksidatif yang tinggi dari minyak bekatul padi
membuatnya cocok digunakan pada proses penggorengan dan pemanggangan
(Frank, 2005). Minyak bekatul padi dinilai sebagai salah satu minyak nabati
berkualitas tinggi dalam hal sensori masakan, umur simpan, komposisi asam
lemak dan stabilitas pada suhu yang lebih tinggi, meningkatkan rasa makanan
dan mengurangi penyerapan minyak selama penggorengan (Frank, 2005;
Rebecca et al., 2005; Shahzad et al., 2006; Arab et al., 2011; Muntana and
Prasong., 2010).
Arab et al., (2011) menyatakan bahwa penggantian bahan shortening
dengan minyak bekatul padi dapat menghasilkan kualitas kue yang superior
untuk membuktikan keefektifan minyak bekatul padi sebagai bahan shortening
pada produk roti. Akiri et al., (2010) mengungkapkan bahwa produk berbasis
minyak bekatul padi memiliki umur simpan yang lebih lama karena sangat stabil
melawan penyebab kerusakan oksidatif. Selanjutnya, Gopala et al., (2005)
melaporkan bahwa minyak bekatul padi membantu memperpanjang umur
simpan makanan ringan. Minyak yang stabil ini bisa berguna sebagai minyak
semprot untuk biskuit, kacang-kacangan, keripik dan makanan ringan lainnya.
Lebih lanjut Wasinee et al., (2008) menyatakan bahwa minyak bekatul padi baik
digunakan dalam produksi mayones dan salad dressings.
Melihat berbagai keunggulan dari minyak bekatul padi tersebut, maka
penelitian diarahkan untuk mengkaji optimasi proses ekstraksinya, guna
memenuhi kebutuhan industri akan tersedianya data kondisi proses ekstraksi
minyak bekatul padi utamanya terkait dengan pengaruh suhu, waktu dan jumlah
pelarut yang digunakan terhadap rendemen minyak dan komponen bioaktifnya
yaitu γ-oryzanol dan vitamin E. Ketiga variabel tersebut sangat berpengaruh
terhadap parameter yang dianalisis.
Semakin tinggi suhu maka laju pelarutan zat terlarut oleh pelarut semakin
tinggi dan laju difusi pelarut ke dalam serta ke luar padatan semakin tinggi pula.
Lamanya waktu ekstraksi mempengaruhi volume ekstrak yang diperoleh,
semakin lama waktu ekstraksi semakin lama juga waktu kontak antara pelarut
dengan padatan, sehingga semakin banyak zat terlarut yang terkandung di
dalam padatan yang terlarut di dalam pelarut. Semakin banyak jumlah pelarut
semakin banyak pula jumlah produk yang akan diperoleh, hal ini dikarenakan
distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga memperluas
permukaan kontak, dan perbedaan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut dan
padatan semakin besar (Subriyer dkk., 2009). Namun, ketiga variabel tersebut
memiliki batas aplikasi pada proses ekstraksi, sebab beberapa komponen dapat
terdegradasi atau rusak bila terpapar dengan suhu tinggi pada waktu yang lama,
disamping itu, pelarut memiliki batas kemampuan untuk melarutkan (batas
kejenuhan). Untuk itulah, kondisi proses yang optimum sangat perlu diketahui.
Selain itu jenis pelarut juga merupakan pertimbangan dalam hal pemilihan
pelarut, sebab hal ini terkait dengan kepolaran pelarut. Pelarut polar umumnya
mampu mengekstraksi secara maksimal komponen yang cenderung polar,
demikian pula pelarut non-polar cenderung mengesktraksi secara maksimal
komponen yang bersifat non-polar pula. Asam lemak dan vitamin E umumnya
larut baik pada pelarut non-polar, sedangkan γ-oryzanol dan polifenol umumnya
larut baik pada pelarut polar dan semi polar seperti etanol. Berdasarkan hal
tersebut dan untuk tujuan penggunaannya pada pangan, maka pelarut n-heksan
dan etanol menjadi pilihan dalam studi ini dimana aplikasinya dilakukan secara
bertingkat. Untuk ekstraksi minyak bekatul komersial, n-hexan adalah pelarut
terpilih (AACC, 1995). N-hexane menempati posisi dominan dan paling umum
digunakan sebagai pelarut untuk mengekstraksi minyak pangan (Eithar et al., 2015).
Beberapa studi telah melaporkan ekstraksi minyak bekatul padi menggunakan
pelarut n-heksan (Anwar et al., 2005; Cho et al., 2012; Naz and Butt, 2011; Kim
et al., 2014; Bopitiya and Madhujith, 2014), dan sepanjang studi literatur yang
telah dilakukan, belum ditemukan adanya penelitian yang melaporkan optimasi
proses ekstraksinya terkait dengan rendemen minyak dan perolehan γ-oryzanol
serta vitamin E yang dikandungnya.
Bertolak pada kepentingan industri yang membutuhkan suatu proses yang
relatif ekonomis, efektif dan efisien, maka penelitian ini mengaplikasikan konsep
optimasi proses metode rancangan Central Composite Design (CCD) model
Response Surface Methodology (RSM). Optimasi mengacu pada peningkatan
kinerja sistem untuk memperoleh produk yang maksimum. RSM mengoptimalkan
proses ketika beberapa faktor mempengaruhi respon yang ditargetkan (Zhen et
al., 2009), menyediakan kondisi proses yang optimal menggunakan teknik
statistik multivariat untuk mendapatkan respon yang diinginkan dari variabel yang
mempengaruhi suatu proses. RSM terdiri atas teknik matematika dan statistik
berdasarkan persamaan polinomial yang paling sesuai dengan data eksperimen
untuk menggambarkan perilaku kumpulan data dengan tujuan memproyeksikan
prediksi statistik (Rafi et al., 2015).
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi proses ekstraksi
minyak bekatul padi untuk memperoleh rendemen minyak, γ-oryzanol, dan
vitamin E yang maksimum dengan melihat pengaruh suhu proses (oC), waktu
proses (jam) dan jumlah pelarut (mL). Analisis komponen dan komposisi asam
lemak serta mineral, sifat fisiko kimia, serta aktifitas antioksidan minyak bekatul
padi juga disajikan.
B. Bahan dan Metode

Bekatul padi varietas Celebes diperoleh dari penggilingan padi rakyat di


Sulawesi Selatan. Semua bahan kimia yang digunakan untuk analisis dan
pereaksi berasal dari Merck, Jerman. Standar metil ester asam lemak berasal
dari Supelco Inc., Bellefonte, PA (Supelco 37 Component FAME Mix, standar
murni γ-oryzanol berasal dari Sigma Chemical Co Ltd, Jepang, standar vitamin E
α-tokoferol dan radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) diperoleh dari
Sigma-Aldrich Co.

1. Persiapan sampel dan proses stabilisasi bekatul padi

Persiapan sampel dan proses stabilisasi bekatul padi untuk menonaktifkan


lipase penyebab ketengikan dilakukan mengikuti metode Juliano (1985). Bekatul
padi segar dikemas dalam kantung plastik polypropylene dan segera distabilisasi
menggunakan autoklaf (Hiclave HV-85, HIRAYAMA) pada suhu 100 oC selama 15
menit. Selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering (Ecocell) pada suhu 40oC
selama 5 jam. Bekatul kering diayak 60 mesh lalu dikemas dalam wadah plastik
tertutup dan disimpan dalam freezer menunggu proses ekstraksi.
Proses ekstraksi minyak bekatul padi dilakukan dengan metode refluks
bertingkat menggunakan pelarut n-heksan (tahap I) dilanjutkan dengan pelarut
etanol (tahap II). Pada tahap I, setiap perlakuan digunakan 75 g bekatul padi
pada reaktor labu leher empat 1.0 L, selanjutnya minyak diekstraksi
menggunakan alat jaket pemanas (heater mantel) yang terhubung dengan
thermometer setting. Pengaduk IKA-WERK RW 20 dipasang dari atas dengan
kecepatan 200 rpm (Lampiran 1).
Suhu, waktu dan jumlah pelarut yang digunakan mengikuti rancangan
perlakuan. Minyak selanjutnya didinginkan pada suhu ruang, ampas dipisahkan
dengan sentrifugasi (refrigerated centrifuge AX-521) yang diatur pada kecepatan
3500 rpm selama 20 menit, bagian cairan ditampung pada labu evaporator untuk
memisahkan minyak dengan pelarut menggunakan rotavapor (Buchi R-215 )
yang dilengkapi pompa vakum (V-650) yang bekerja pada kondisi kecepatan
putaran 60 rpm, suhu pemanasan 35oC dan suhu penguapan 21oC. Minyak
bekatul padi yang diperoleh dikemas pada botol gelas gelap yang telah diketahui
beratnya, ditimbang, dan disimpan dalam refrigerator menunggu proses analisis.
Selanjutnya, dengan cara yang sama, 50 g ampas yang diperoleh diekstraksi
dengan pelarut etanol (tahap II).

2. Desain percobaan untuk optimasi dan analisis statistik

Rancangan percobaan Central Composite Design (CCD) model RSM


digunakan untuk menentukan kondisi optimum proses ekstraksi minyak bekatul
padi. Variabel yang digunakan adalah suhu ekstraksi (°C), waktu (jam) dan
jumlah pelarut (mL). Desain lengkap terdiri atas 14 (empat belas) unit percobaan
dan 6 (enam) pengulangan titik tengah. Rendemen minyak (%), γ-oryzanol
(mg/L) dan vitamin E (mg/L) minyak bekatul padi merupakan variabel respon dan
merupakan kombinasi variabel independen pada ekstraksi tahap I dan rendemen
minyak (%) serta γ-oryzanol (mg/L) merupakan kombinasi variabel independen
pada tahap II. Statistik software Design-Expert Versi 6 digunakan untuk analisis
regresi dari data percobaan yang diperoleh. Signifikansi setiap koefisien secara
umum ditentukan berdasarkan F-test yang diperoleh dari analisis of variance
(ANOVA). Koefisien regresi secara umum kemudian digunakan untuk melihat
bentuk permukaan respon. Profil respon permukaan 3 dimensi untuk
memprediksi nilai variabel diplotkan menggunakan software Design-Expert V.6.
Sebagai langkah untuk memverifikasi hasil guna memvalidasi model-model
statistik yang diperoleh, maka dilakukan percobaan tambahan. Verifikasi kondisi
optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi pada skala laboratorium dilakukan
dengan menggunakan kondisi proses ekstraksi yang diprediksi oleh model
statistik yang diperoleh. Untuk proses verifikasi tersebut, sebanyak 3 kali ulangan
proses ekstraksi minyak bekatul padi dilakukan dengan menggunakan
parameter-parameter yang telah dioptimasi yang merupakan respon. Selanjutnya
dilakukan analisis komponen dan komposisi asam lemak serta mineral, sifat
fisiko kimia, kandungan polifenol total serta aktivitas antioksidan minyak bekatul
padi yang diperoleh.

3. Penelitian pendahuluan

Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui titik tengah


perancangan perlakuan penelitian. Pada ekstraksi tahap I dengan pelarut
n-heksan, suhu yang dicobakan adalah 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, dan 65oC
selama 5 jam dengan jumlah n-heksan 525 mL untuk setiap 75 g sampel bekatul
(1:7). Waktu yang dicobakan yaitu 3, 4, 5, 6, dan 7 jam dengan jumlah n-heksan
525 mL menggunakan suhu terbaik yang diperoleh dari perlakuan sebelumnya.
Selanjutnya jumlah n-heksan yang dicobakan yaitu 225 (1:3), 300 (1:4), 375
(1:5), 450 (1:6), 525 (1:7), 600 (1:8), dan 675 mL (1:9) dengan menggunakan
suhu dan waktu terbaik yang diperoleh dari perlakuan sebelumnya. Indikator
pemilihan perlakuan terbaik adalah rendemen minyak yang terbanyak.
Pada ekstraksi tahap II dengan pelarut etanol, suhu yang dicobakan yaitu
50, 55, 60, dan 65oC selama 5 jam dengan jumlah etanol 300 mL untuk setiap 50
g sampel bekatul (1:6). Waktu yang dicobakan yaitu 3, 4, 5, 6, dan 7 jam dengan
jumlah etanol 300 mL menggunakan suhu terbaik yang diperoleh dari perlakuan
sebelumnya. Selanjutnya jumlah etanol yang dicobakan yaitu 150 (1:3), 200
(1:4), 250 (1:5), 300 (1:6), 350 (1:7), 400 (1:8), dan 450 mL (1:9) dengan
menggunakan suhu dan waktu terbaik yang diperoleh dari perlakuan
sebelumnya. Indikator pemilihan perlakuan terbaik adalah rendemen minyak
yang terbanyak.

4. Penelitian utama

Perlakuan suhu, waktu dan jumlah pelarut terbaik dari penelitian


pendahuluan selanjutnya digunakan sebagai titik tengah perancangan perlakuan
pada penelitian utama. Perlakuan terdiri atas 20 (dua puluh) unit percobaan
termasuk 6 (enam) pengulangan titik tengah (center point). Kode perlakuan dan
perlakuan aktual dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5. Parameter yang diukur dan
dianalisis adalah rendemen minyak, γ-oryzanol, vitamin E, komponen dan
komposisi asam lemak serta mineral, kandungan polifenol total, aktivitas
antioksidan dan sifat fisiko kimia yang meliputi kadar air, indeks bias, berat jenis,
titik leleh, warna, bau, kadar asam lemak bebas, bilangan asam, bilangan iod,
bilangan peroksida dan bilangan penyabunan.
Tabel 4. Perlakuan dan kode perlakuan
Perlakuan Kode perlakuan
-1,682 -1 0 1 1,682
o
Suhu ( C)
Waktu (jam)
Jumlah pelarut (mL)

Tabel 5. Rancangan percobaan CCD


No. Perlakuan Kode Perlakuan
Suhu (oC) Waktu (jam) Jumlah pelarut (mL)
1 -1 -1 -1
2 1 -1 -1
3 1- 1 -1
4 1 1 -1
5 -1 -1 1
6 1 -1 1
7 -1 1 1
8 1 1 1
9 -1,628 0 0
10 1,628 0 0
11 0 -1,628 0
12 0 1,628 0
13 0 0 -1,628
14 0 0 1,628
15 0 0 0
16 0 0 0
17 0 0 0
18 0 0 0
19 0 0 0
20 0 0 0
Gaspersz, 1995.

5. Analisis

a. Rendemen minyak
Rendemen minyak hasil ekstraksi dihitung menggunakan rumus
berat minyak ( g)
% minyak = x 100 (Sani, 2014)
berat sampel ( g)
b. Analisis γ-oryzanol
1). Pembuatan larutan standar γ-oryzanol
0.05 gram standar murni γ-oryzanol dilarutkan dalam etil asetat dalam labu
takar 100 mL, dan dibuat masing-masing 100, 200, 300, 400, dan 500 ppm
dalam labu takar 50 mL, dihomogenkan dengan vortex, dimasukkan dalam botol
vial GC-MS (GC-MS ultra QP2010 Shimadzu). Sampel disuntikkan secara
otomatis.

2). Kuantifikasi γ-oryzanol

0.012 gram minyak bekatul padi dilarutkan dalam 2 mL etil asetat dalam
tabung reaksi, dihomogenkan dengan vortex lalu dimasukkan ke dalam botol vial
GC-MS. Sampel disuntikkan secara otomatis. Instrumen menggunakan kolom
Rxi SH-5Sil MS (panjang 30 m, diameter×ketebalan 0.25mm ID 0:25 um df).
Helium digunakan sebagai gas pembawa pada tekanan 76,9 kps dengan aliran
14,0 mL/menit, rasio split 1:10. Suhu awal oven dimulai pada 110 oC dan ditahan
selama 2 menit hingga suhu oven 200°C dengan kenaikan isotermal 10°C/menit,
suhu akhir 280°C, ditahan selama 9 menit dengan peningkatan isotermal dari
5°C/menit, total waktu analisis 40 menit. Interval scan 45-450 m/z. Suhu ion
200oC, suhu antarmuka 280oC. Konsentrasi γ-oryzanol dalam sampel diketahui
berdasarkan luas area sampel yang dihubungkan dengan kurva standar.

3). Analisis vitamin E

a. Pembuatan larutan standar vitamin E


0.05 gram standar vitamin E dilarutkan dalam larutan campuran metanol-
kloroform (1:1) pada labu ukur 100 mL, dan dibuat larutan standar 100, 200,
300, 400, dan 500 mg/L dalam labu ukur 50 mL, dimasukkan dalam botol vial
GC-MS, sampel disuntikkan secara otomatis.

b. Kuantifkasi vitamin E

0.012 gram minyak bekatul padi dilarutkan dalam 2 mL larutan campuran


metanol-kloroform (1:1), dan dimasukkan dalam botol vial GC-MS. Sampel
disuntikkan secara otomatis. Instrument GC-MS menggunakan kolom Rxi SH-
5Sil MS (panjang 30 m, diameter x ketebalan 0.25mm ID 0:25 um df). Helium
digunakan sebagai gas pembawa pada tekanan 76.9 kps dengan laju 14.0
mL/menit, split ratio 1:10. Suhu awal oven dimulai dari 110oC dan ditahan
selama 2 menit hingga suhu oven 200oC dengan peningkatan isothermal
10oC/menit, suhu akhir 280oC, ditahan selama 9 menit dengan peningkatan
isothermal 5oC/menit sehingga total waktu analisis 40 menit. Interval scan 45-
450 m/z. Temperatur ion 200oC, temperatur interface 280oC. Konsentrasi vitamin
E dalam sampel diketahui berdasarkan luas area sampel yang dihubungkan
dengan kurva standar.

4). Analisis β-karoten

Analisis β-karoten dilakukan mengikuti metode PORIM (2005), sebanyak


20 mg minyak ditimbang pada wadah yang gelap dan ditambahkan asam
askorbat dan dihomogenisasi dengan etanol 750 µL menggunakan vortex.
Larutan ditambahkan 200 µLKOH 76%, dihomogenkan dengan vortex, sampel
disimpan pada suhu ruang selama 30 menit untuk proses penyabunan. Proses
penyabunan dihentikan dengan penambahan 250 µL NaCl (25 mg/mL).
Karotenoid selanjutnya diekstraksi dengan 750 µL campuran heksan : etil asetat
(9:1, v/v) sebanyak 4 kali. Lapisan organik yang diperoleh selanjutnya
dievaporasi pada suhu 40oC. Selanjutnya sebanyak 2 mg sampel dilarutkan
dengan n-heksan dan ditambahkan 0,1% butylated hydroxytoluene (BHT).
Absorbansi diukur pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 446 nm
menggunakan n-heksan + 0,1% BHT sebagai blanko. Konsentrasi β-karoten
dihitung menggunakan rumus:

µg A x volume ( mL ) x 104
β-karoten =
mg E 11 cm x berat sampel ( g)

Keterangan:

A = nilai absorbansi pada panjang gelombang 446 nm


V = volume total larutan sampel

E11 cm = koefisien ekstincsi = 2560 untuk β-karoten dalam n-heksan (Hart


and Scott, 1995)

5). Analisis komponen dan komposisi asam lemak

2 tetes minyak dipipet ke dalam tabung reaksi dan diesterifikasi mengikuti


metode Metcalfe (1961) yang terdiri atas penyabunan minyak dengan KOH 0,5M
dalam methanol, dikatalisasi dengan larutan (reagent) BF 3-MeOH, selanjutnya
pelarut diuapkan. Sampel dilarutkan dengan dikhlorometan dan dimasukkan
dalam botol vias GC-MS, sebanyak 1 µL sampel disuntikkan secara otomatis.
Instrument dilengkapi dengan split/splitless injector, menggunakan kolom RTX®-1
(30 mx0.25 mmIDx0.25 µm) dan flame ionization detector (FID). Helium
digunakan sebagai gas pembawa pada laju alir 1.25 mL/menit. Suhu injektor dan
detektor diatur pada suhu 260oC. Kondisi kromatografi untuk pemisahan adalah
suhu awal kolom 50oC, meningkat menjadi 200oC pada laju alir 6oC/menit,
ditahan selama 4 menit, laju pemanasan 2oC/menit sampai 240oC, dan ditahan
selama 10 menit. Puncak asam lemak diidentifikasi dengan membandingkan
waktu retensi puncak dengan standar masing-masing asam lemak.

6) Analisis sifat fisikokimia minyak

Warna minyak ditentukan dengan alat Chromameter Minolta CR 300,


densitas diukur dengan alat piknometer, indeks bias menggunakan alat abbe
refraktometer, titik leleh menggunakan differential scanning calorimeter (DSC)
mengikuti user manual Shimadzu DSC-60 Plus Series. Kadar ar, kadar asam
lemak bebas, bilangan asam, bilangan peroksida, bilangan penyabunan, dan
bilangan iod ditentukan berdasarkan metode Association of Official Analytical
Chemist (AOAC, 1995).
a. Pengukuran indeks bias (Apriyantono dkk., 1989)
Minyak diteteskan pada prisma Refraktometer Abbe yang sudah distabilkan
pada suhu tertentu, dibiarkan selama 2 menit untuk mencapai suhu
refraktometer, nilai indeks bias minyak terbaca pada alat. Alat refraktometer
dibersihkan dengan toluen atau alkohol sebelum dan setelah digunakan.
b. Pengukuran berat jenis (Apriyantono dkk., 1989)
Pengukuran berat jenis minyak menggunakan alat piknometer. Alat
dibersihkan dan dikeringkan, diisi dengan aquades bersuhu 20-30 oC hingga air
dalam botol meluap dan tidak ada gelembung udara di dalamnya, botol ditutup
dan direndam dalam air bersuhu 25oC selama 30 menit, botol dikeringkan
dengan kertas penghisap dan ditimbang. Minyak disaring untuk memisahkan
kotoran dan kandungan airnya, selanjutnya minyak diperlakukan dengan cara
yang sama dengan aquades.
Perhitungan :
Berat jenis air pada 30oC = 0.9998 g/mL
Berat piknometer kosong = a gram
Berat piknometer + air = b gram
Bj minyak = m/Vpikno----- Vpikno =m/bj-----Vpikno= (b-a) gram/bj gram/mL= c mL
Bj minyak=(m=berat pikno sampel-berat pikno kosong)/c mL

c. Analisis kadar air (Metode Oven, Apriyantono dkk., 1988)

Cawan kosong dengan tutupnya dikeringkan dalam oven selama 15 menit,


didinginkan dalam desikator 10-20 menit, sekitar 2 g sampel ditimbang dalam
cawan dan dimasukkan dalam oven selama 6 jam dalam kondisi terbuka
(penguapan air), cawan ditutup dan didinginkan dalam desikator selama 15
menit, selanjutnya ditimbang. Penguapan air, pendinginan, dan penimbangan
dilakukan hingga berat konstan.
Perhitungan:
kehilangan berat(g)
Kadar air (%) = x 100
berat sampel (g)
d. Analisis kadar asam lemak bebas (AOAC, 1995)
Ditimbang minyak ± 5 g, ditambahkan 50 ml etanol 96 %, ditambahkan 3
tetes indikator PP, dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna merah muda tidak
hilang selama 15 detik.
Perhitungan :
VNaOH × NNaOH ×BM
FFA = ×100 %
m ×1000
Keterangan :
V NaOH = Volume NaOH peniter (mL)
NNaoH = Normalitas NaOH (mgrek/mL)
BM = Berat molekul asam lemak (278 untuk minyak bekatul padi)
(mg/mmol)
m = Berat sampel (g)
e. Penentuan bilangan peroksida (AOAC, 1995)
Ditimbang sampel ± 5 g, dilarutkan dalam 30 mL campuran larutan
asam asetat glasial dan kloroform (2:3), ditambahkan 0.5 mL larutan KI jenuh
sambil dikocok dan 30 mL aquades, dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 0.1
N dengan larutan pati sebagai indikator hingga warna kuning hilang. Blanko
dibuat dengan cara yang sama.
Perhitungan :
(V 1 - V0 )× N Na S O ×1000
Bilangan Peroksida = 2 2 3

m
Keterangan :
V1 = Volume peniter untuk minyak (mL)
V0 = Volume peniter untuk blanko (mL)
Na2S2O3 = Normalitas larutan standar natrium tiosulfat (mgrek/mL)
m = Berat minyak (g)

f. Penentuan bilangan iod (Metode Wijs)

Ditimbang minyak sebanyak 0,5 g dalam erlenmeyer 500 mL, ditambahkan


20 mL larutan CCl4, 25 mL larutan Wijs, kemudian mencampurnya secara merata
dan menyimpannya dalam ruang gelap selama 30 menit pada suhu 250C,
ditambahkan 20 mL larutan KI 15 % dan 100 mL aquades yang sudah mendidih,
dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai larutan berwarna kekuningan,
ditambahkan indikator larutan kanji dan menitrasi kembali sampai warna biru
hilang. Blanko dibuat dengan cara yang sama.
Perhitungan :
Bst Iod × NNa S2 O3 ( V 0 - V1 )
Bilangan Iod = 2

m
Keterangan :
Bstiod = Berat setara iod (12,69 mg/mmol)
Na2S2O3= Normalitas natrium tiosulfat (mgrek/mL)
Vo = Volume peniter blanko (mL)
V1 = Volume peniter sampel (mL)
m = Berat sampel (g)

g. Penentuan bilangan penyabunan (AOAC, 1995)

Dibuat larutan KOH dalam alkohol 70% yaitu dengan melarutkan 10 g KOH
dalam labu takar 250 mL, ditimbang 2 g minyak dalam erlemeyer, lalu
ditambahkan 25 mL KOH, batu didih dimasukkan sebanyak 5 buah. Dibuat
larutan blanko dengan cara memasukkan 25 mL KOH ke dalam erlenmeyer 250
mL dan ditambahkan pula 5 buah batu didih. Masing-masing erlenmeyer
dipanaskan dengan hot plate dan dihubungkan dengan peralatan refluks hingga
mendidih selama 45 menit, setelah itu didinginkan. Ditambahkan masing-masing
3 tetes indikator PP 1% dan dititrasi dengan HCl 0,5 M.
Perhitungan :
( V 0−V 1 ) × M HCl × BM KOH
Bilangan penyabunan =
m
Keterangan :
V0 = Volume peniter blanko (mL)
V1 = Volume peniter sampel (mL)
M HCl = Molaritas HCl (mmol/mL)
BM KOH = Berat Molekul KOH (mg/mmol)
m = Berat sampel (g)

h. Analisis polifenol total

Kandungan polifenol total minyak ditentukan secara kolorimetri dengan


menggunakan metode pereaksi Folin-Ciocalteu mengikuti metode Kriengsak et
al., (2006). 20 μL minyak dicampur dengan 100 μL reagen Folin-Ciocalteu,
dibiarkan selama 3 menit dan selanjutnya ditambahkan 300 μL natrium karbonat
(0,7 M), dihomogenkan dengan vorteks lalu disimpan pada suhu 25 oC selama 30
menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 725 nm menggunakan
spektrofotometer UV visible (UV 1601, Shimadzu, Jepang). Hasilnya dinyatakan
sebagai mg asam gallat equivalent/L minyak. Kurva standar asam gallat dibuat
dari 50-500 mg/L.

i. Kapasitas antioksidan (uji DPPH)

Kapasitas antioksidan dinilai menggunakan radikal bebas 2,2-diphenyl-


1picrylhydrazylhydrate (DPPH). Aktivitas penghambatan radikal DPPH minyak
dihitung berdasarkan metode yang dilakukan oleh Suwanna et al., (2010). Dibuat
konsentrasi 0,1; 0,2; 0,4; 0,8 dan 1,0 mg/mL dari 0,5 mL minyak dicampur
dengan 2,5 mL radikal DPPH methanol (0,1 mM) lalu disimpan dalam ruang
gelap pada suhu kamar selama 20 menit. Absorbansi diukur pada panjang
gelombang 517 nm menggunakan spektrofotometer UV visible (UV 1601,
Shimadzu, Jepang). Aktivitas penghambatan radikal dinyatakan sebagai nilai
IC50 yang menunjukkan konsentrasi sampel yang dibutuhkan untuk
menghambat 50% aktivitas radikal DPPH. Untuk membuat DPPH 0,1 mM
dilakukan dengan melarutkan 34.2 mg dalam 100 mL methanol (buat sesuai
dengan kebutuhan praktikum). Bahan ini disimpan dalam botol berwarna gelap.

C. Hasil dan Pembahasan

1. Penelitian pendahuluan
a. Ekstraksi tahap I dengan pelarut n-heksan
Pada tahap ini diperoleh titik tengah perancangan perlakuan CCD untuk
penelitian utama tahap I (Gambar 2-4). Gambar 2 memperlihatkan rendemen
minyak pada perlakuan suhu ekstraksi 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, dan 65oC
selama 5 jam dengan jumlah n-heksan 525 mL untuk setiap 75 g sampel bekatul.
Tampak bahwa pada suhu ekstraksi 55oC diperoleh rendemen minyak yang
tertinggi. Suhu sangat berpengaruh terhadap perolehan komponen yang
diekstraksi, semakin tinggi suhu maka laju pelarutan zat terlarut oleh pelarut
semakin tinggi dan laju difusi pelarut ke dalam serta ke luar padatan semakin
tinggi (Subriyer dkk., 2009).

Grafik hubungan suhu ekstraksi dengan %minyak


10
8 7.52 8.12 7.8 7.72
7.02 7.11
6
5.25
4 3.62
2
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70
%Minyak

Gambar 2. Hubungan suhu ekstraksi (oC) dengan %minyak pada ekstrak


n-heksan
Pada perlakuan suhu 30 hingga 50oC masih banyak minyak yang
terperangkap dalam jaringan sel. Pada proses ekstraksi, kenaikan suhu
mengakibatkan pori-pori padatan lebih terbuka sehingga difusi minyak
berlangsung lebih cepat karena hambatan difusinya lebih kecil, sehingga
perolehan komponen yang ingin diekstraksi semakin besar. Ekstraksi padat cair
dilakukan pada suhu yang tinggi karena semakin tinggi suhu, semakin besar
konsentrasi zat terlarut dalam pelarut, hal ini disebabkan semakin tinggi suhu
maka viskositas akan semakin rendah, dan difusitas zat terlarut akan semakin
tinggi, sehingga semakin cepat dan semakin banyak zat terlarut yang berpindah
(Tagora et al., 2012). Namun peningkatan suhu di atas 55oC menyebabkan
rendemen yang diperoleh lebih rendah, hal tersebut diduga akibat terjadinya
degradasi beberapa komponen minyak pada suhu di atas 55oC.
Pengaruh suhu terhadap proses ekstraksi dapat ditinjau dari kenaikan
solubilitas pelarut yang akan memudahkan pelarut masuk ke dalam pori-pori
padatan yang akan diekstraksi. Kenaikan suhu menyebabkan terjadinya
kenaikan rendemen, semakin tinggi suhu ekstraksi, maka semakin banyak
minyak yang dapat terlarut. Proses ekstraksi adalah suatu aplikasi dari proses
perpindahan massa, suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kecepatan perpindahan massa. Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan
solubilitas pelarut dan dapat memperbesar pori padatan, sehingga pelarut masuk
melalui pori-pori padatan dan melarutkan komponen padatan yang terjerap,
kemudian zat terlarut berdifusi ke luar permukaan partikel padatan dan bergerak
ke lapisan film sekitar padatan, selanjutnya ke larutan (Jayanudin dkk., 2014).
Gambar 3 memperlihatkan rendemen minyak yang diperoleh pada
perlakuan waktu ekstraksi 3, 4, 5, 6, dan 7 jam pada suhu 55oC dengan 525 mL
n-heksan. Tampak bahwa pada proses ekstraksi selama 5 jam diperoleh
rendemen minyak yang tertinggi. Waktu ekstraksi sangat mempengaruhi
rendemen, hal ini terkait dengan nilai transfer massa. Lamanya waktu ekstraksi
akan mempengaruhi kualitas minyak yang diperoleh (Wiyarno, 2011).
Penambahan waktu ekstraksi mengakibatkan penambahan jumlah minyak yang
dihasilkan. Lamanya waktu akan mempermudah penetrasi pelarut ke dalam
bahan, kelarutan komponen-komponen minyak berjalan dengan perlahan
sebanding dengan lamanya waktu, dan setelah beberapa waktu jumlah minyak
yang terekstrak mengalami penurunan.
Grafik hubungan waktu ekstraksi (jam) dengan %minyak
7
6 6.25 6.13 6.07
5
4 4.35
3 3.12
2
1
0
2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5
%Minyak

Gambar 3. Hubungan waktu (jam) dengan %minyak pada ekstrak n-heksan


Penambahan waktu menyebabkan rendemen minyak menurun, serta
menyebabkan terjadinya dekomposisi komponen-komponen selain minyak,
misalnya impuritas yang menyebabkan perubahan sifat komponen tersebut, titik
didih komponen baru lebih rendah dari titik didih komponen sebelumnya
sehingga menjadi lebih mudah menguap dan akhirnya rendemen yang diperoleh
berkurang (Guenther,1987). Komponen minyak pada bahan jumlahnya terbatas
dan pelarut yang digunakan mempunyai batas kemampuan untuk melarutkan
bahan yang ada, sehingga meskipun waktu ekstraksi diperpanjang namun zat
terlarut yang ada pada bahan sudah habis.
Gambar 4 memperlihatkan rendemen minyak yang diperoleh pada
perlakuan jumlah n-heksan. Tampak bahwa rendemen minyak tertinggi diperoleh
pada jumlah n-heksan 525 mL atau rasio padatan dengan pelarut 1:7. Jumlah
pelarut berpengaruh terhadap rendemen, semakin banyak jumlah pelarut
semakin banyak pula jumlah minyak yang diperoleh, hal ini dikarenakan distribusi
partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga memperluas permukaan
kontak, dan perbedaan konsentrasi minyak dalam pelarut dan padatan semakin
besar (Munawaroh dkk., 2010). Jika jumlah pelarut ditambah maka persentase
perolehan minyak sudah menurun, hal tersebut terkait dengan jumlah pelarut
sudah mencapai titik jenuh untuk mengekestraksi minyak.
Grafik hubungan jumlah pelarut dengan %minyak
8
7.19 7.25 7.39 7.53 7.41 7.32
6 6.27

0
200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700
%Minyak

Gambar 4. Hubungan jumlah n-heksan dengan %minyak

Pada proses ekstraksi minyak dengan pelarut, perpindahan massa minyak


dari dalam padatan ke pelarut dapat diduga melalui tahapan difusi dari dalam
padatan ke permukaan padatan, dan perpindahan massa minyak dari
permukaan padatan ke pelarut. Operasi ekstraksi padat cair dapat dilakukan
dengan cara mengontakkan padatan dan pelarut sehingga diperoleh larutan
yang diinginkan yang kemudian dipisahkan dari padatan sisanya. Pada saat
pengontakkan terjadi, mekanisme yang berlangsung adalah peristiwa pelarutan
dan difusi. Pelarutan merupakan peristiwa penguraian suatu molekul zat
menjadi komponennya, baik berupa molekul-molekul, atom-atom maupun ion-
ion, karena pengaruh pelarut cair yang melingkupinya. Partikel-partikel yang
terlarutkan ini berkumpul dipermukaan antara padatan (interface) dan
terlarut. Bila peristiwa pelarutan masih terus berlangsung, maka terjadi difusi
partikel-partikel zat terlarut dari lapisan antara fase menembus lapisan
permukaan pelarut dan masuk ke dalam badan pelarut dimana zat
terdistribusikan merata. Jadi difusi terjadi dari fase padat diikuti difusi ke fase
cair. Peristiwa ini terus berlangsung hingga keadaan setimbang tercapai.
Menurut Jayanudin dkk., (2014), bahwa distribusi pelarut ke padatan akan
sangat berpengaruh pada perolehan minyak, perbandingan antara
padatan dengan pelarut akan mempengaruhi rendemen yang dihasilkan.
Banyaknya pelarut mempengaruhi luas kontak padatan dengan pelarut,
semakin banyak pelarut maka luas kontak akan semakin besar, sehingga
distribusi pelarut ke padatan akan semakin besar. Meratanya distribusi
pelarut ke padatan akan memperbesar rendemen yang dihasilkan,
banyaknya pelarut akan mengurangi tingkat kejenuhan pelarut, sehingga
komponen yang diinginkan akan terekstrak dengan sempurna.
b. Ekstraksi tahap II dengan pelarut etanol

Hasil ekstraksi bertingkat dengan pelarut etanol pada penelitian


pendahuluan dapat dilihat pada Gambar 5-7. Gambar 5 memperlihatkan
rendemen minyak yang diperoleh pada perlakuan suhu ekstraksi 50, 55, 60, dan
65oC selama 5 jam dengan jumlah etanol 300 mL untuk setiap 50 g sampel
bekatul. Tampak bahwa pada suhu ekstraksi 60oC diperoleh rendemen minyak
yang tertinggi.

Grafik hubungan suhu ekstraksi dengan %minyak


6

5.5

4.5

4
48 50 52 54 56 58 60 62 64 66
%Minyak

Gambar 5. Hubungan suhu ekstraksi dengan %minyak pada ekstrak etanol

Gambar 6 memperlihatkan rendemen minyak yang diperoleh pada


perlakuan waktu ekstraksi 3, 4, 5, 6, dan 7 jam pada suhu 60oC dengan 300 mL
etanol. Tampak bahwa pada proses ekstraksi selama 5 jam diperoleh rendemen
minyak yang tertinggi. Gambar 7 memperlihatkan rendemen minyak yang
diperoleh pada perlakuan jumlah etanol. Tampak bahwa rendemen minyak
tertinggi diperoleh pada jumlah etanol 300 mL atau rasio padatan dengan pelarut
1:6.

Grafik hubungan waktu ekstraksi (jam) dengan %minyak


8
6 5.82 5.59 5.09
4 4.41
2.84
2
0
2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5
%Minyak

Gambar 6. Hubungan waktu (jam) dengan %minyak pada ekstrak etanol


Grafik hubungan jumlah etanol (mL) dengan %minyak
6
5.36 5.04
5 4.8 4.67
4.63
4 3.72
3.36
3
2
1
0
100 150 200 250 300 350 400 450 500
%Minyak

Gambar 7. Hubungan jumlah etanol (mL) dengan %minyak

2. Penelitian utama
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, maka diperoleh titik tengah
perancangan perlakuan pada penelitian utama. Perlakuan dan kode perlakuan
dapat dilihat pada Lampiran 2a. Rancangan percobaan dapat dilihat pada
Lampiran 2b. Setiap faktor mempunyai tiga tingkat kode yaitu - 1, 0 dan l. Kode 0
mewakili level di setiap faktor yang memiliki nilai pengamatan mendekati titik
optimum, sedangkan kode -1 dan 1 mewakili level disetiap faktor yang memiliki
nilai pengamatan di bawah dan di atas titik optimum. Armunanto (2001)
menyatakan bahwa di dalam RSM, penentuan nilai dari kode -1, 0 dan 1 harus
benar-benar diperhatikan untuk rnendapatkan titik optimum, pemilihan data yang
terkode 0, yaitu kode yang mewakili data yang mendekati titik optimum menjadi
sangat penting karena pergeseran yang besar dalam memprediksi data ini dapat
mengakibatkan tidak ditemukannya titik optimum.
a. Ekstraksi tahap I dengan pelarut n-heksan

Peneltian utama pada tahap I mengkaji efek dari perlakuan suhu, waktu
dan jumlah n-heksan terhadap rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E minyak
bekatul padi. Data dari 20 unit percobaan yang terdiri atas 14 unit percobaan
dengan 6 titik pusat yang dianalisis mengikuti rancangan CCD memperlihatkan
bahwa rendemen minyak berkisar antara 7.15-9.47%, γ-oryzanol 96.31-220.1
mg/L dan vitamin E 57.82-64.93 mg/L (Lampiran 3). Pada titik pusat, rendemen,
γ-oryzanol dan vitamin E masing-masing berkisar antara 8.75-9.47%, 143.43-
165.408 mg/L, dan E 63.1-64.93 mg/L.

i.Pendekatan model RSM


Berdasarkan hasil ANOVA untuk rendemen minyak, γ-oryzanol, dan vitamin
E minyak bekatul padi diperoleh hasil bahwa nilai koefisien korelasi (R2) dari
model yang diprediksi berturut-turut adalah 0.95, 0.92, 0.84. Nilai-nilai tersebut
menunjukkan bahwa model prediksi cukup mewakili hubungan antara parameter
perlakuan. Zhao et al., (2011) menjelaskan bahwa nilai R2 mendekati 1
mengindikasikan derajat korelasi yang tinggi antara observasi dan nilai prediksi.
Nilai R2 rendemen sebesar 0.95, nilai ini berarti variabel suhu, waktu dan jumlah
n-heksan berpengaruh terhadap keragaman respon (dalam hal ini rendemen
minyak) sebesar 95% sedangkan sisanya sebesar 5% dipengaruhi faktor lain
yang tidak dijadikan variabel yang diteliti.
Signifikansi antar perlakuan ditentukan dengan menggunakan F-value dan
p-value. F-value yang lebih besar dari 0.005 dan p-value yang lebih kecil dari
0.005 menandakan bahwa model signifikan. Menurut Yolmeh et al., (2014),
F-value yang besar dan p-value yang kecil pada model menjelaskan pengaruh
perlakuan terhadap masing-masing variabel respon yang signifikan. Zhao et al.,
(2011) juga menjelaskan bahwa p-value merupakan alat untuk mengetahui
kesesuaian model, semakin kecil nilai p-value semakin signifikan model tersebut.
Adapun persamaan kuadrat aktual dari rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E
disajikan pada Persamaan 2, 3 dan 4.
Rendemen (%) = 29.029+0.409X1+4.731X2+0.049X3-4.34X10-3X12-0.459X22-
4.01X10-5X32+0.014X1X2+3.875X10-5X1X3-
1.388X103X2X3…………………………………………..….(1)

γ-oryzanol (mg/L) = -1222.996+11.007X1+214.361X2+1.483X3-0.076X12-


11.935X22-4.233X10-4X32-0.106X1X2-2.839X10-4X1X3-
0.139X2X3……………………………………………...(2)

Vitamin E (mg/L)= -18.14+1.238X1+12.4X2+0.047X3-0.011505X12-1.039X22-


4.583x10-5X32-7.125x10-3X1X2+2.573x10-4X1X3-1.94X10-
3
X2X3……………………….……………………………....(3)
Keterangan:
X1 = suhu (oC)
X2 = waktu (jam)
X3 = volume n-heksan (mL)
ii. Interpretasi model permukaan respon

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa model untuk menggambarkan


pengaruh perlakuan terhadap rendemen minyak adalah model kuadratik. Nilai
positif pada koefisien X1, X2, dan X3 pada Persamaan 1 menunjukkan bahwa
perlakuan suhu, waktu dan jumlah n-heksan berpengaruh meningkatkan
rendemen minyak. Koefisien kuadratik bernilai negatif mengindikasikan adanya
titik stationer maksimum dari permukaan respon atau grafik parabola terbuka ke
bawah. Hasil ANOVA rendemen (Lampiran 4) menunjukkan F-value sebesar
20.85 atau lebih besar dari 0.05 dan p-value <0.0001 atau lebih kecil dari 0.05
yang berarti bahwa perlakuan sangat signifikan dalam memberikan kontribusi
positif dalam meningkatkan rendemen minyak. Dalam kasus ini dapat dijelaskan
bahwa kemungkinan hanya terdapat 0.01% kesalahan yang dipengaruhi oleh
parlakuan yang tidak diamati pada studi ini.
Nilai dari "Prob>F" kurang dari 0.05 mengindikasikan bahwa model
signifikan. Dalam kasus ini pengaruh linier dan kuadratik memberikan pengaruh
yang signifikan dalam meningkatkan rendemen minyak, sedangkan interaksi
antara perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam
meningkatkan rendemen minyak. Nilai yang lebih besar dari 0.1000
mengindikasikan bahwa perlakuan tidak signifikan mempengaruhi respon. Data
ketidaktepatan model (lack of fit test) sebesar 0.6532 (>0.05) yang artinya tidak
signifikan. Nilai Lack of Fit yang tidak signifikan merupakan syarat untuk model
yang baik karena menunjukkan adanya kesesuaian data respon dengan model
(Keshani et al., 2010). Menurut Bas and Boyaci (2007), model akan dianggap
tepat jika lack of fit value model tidak signifikan pada taraf α tertentu. The lack of
fit F-value sebesar 0.69 dengan Prob>F sebesar 0.6532 (>0.05) juga
mengimplikasikan bahwa galat percobaan tidak signifikan berpengaruh pada
model prediksi, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa model prediksi sesuai
untuk menggambarkan pengaruh perlakuan terhadap rendemen minyak, dan
bahwa model yang diperoleh cukup valid untuk memprediksi rendemen minyak.
Hasil analisis statistik untuk γ-oryzanol menunjukkan bahwa model untuk
menggambarkan pengaruh perlakuan terhadap perolehan γ-oryzanol adalah
model kuadratik. Nilai positif pada koefisien X1, X2, X3 pada Persamaan 2 juga
menunjukkan bahwa perlakuan suhu, waktu dan jumlah n-heksan berpengaruh
meningkatkan perolehan γ-oryzanol. Nilai F-value 12.61 atau lebih besar dari
0.05 serta Prob>F 0.0002 atau kurang dari 0.05 (Lampiran 4) mengindikasikan
bahwa model signifikan, dan menunjukkan bahwa perlakuan signifikan
memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan rendemen minyak. Pada
kasus ini pengaruh linier suhu, waktu, dan jumlah n-heksan, serta pengaruh
kuadratik waktu dan pengaruh interaksi waktu dan jumlah n-heksan memberikan
kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan perolehan γ-oryzanol, sedangkan
pengaruh kuadratik suhu dan jumlah n-heksan, serta pengaruh interaksi suhu
dan waktu serta suhu dan jumlah n-heksan tidak memberikan pengaruh yang
signifikan dalam meningkatkan perolehan γ-oryzanol.
The lack of fit F-value sebesar 1.72 dan Prob>F sebesar 0.28, kedua nilai
tersebut lebih besar dari 0.05 mengimplikasikan bahwa galat percobaan tidak
signifikan berpengaruh pada model yang diprediksi, hal tersebut juga
mengindikasikan bahwa model yang diprediksi sesuai untuk menggambarkan
efek perlakuan terhadap perolehan γ-oryzanol, dan bahwa model yang
dikembangkan cukup valid untuk memprediksi perolehan γ-oryzanol.
Fenomena yang hampir sama ditemukan pada hasil uji statistik terhadap
perolehan vitamin E yang juga menjelaskan bahwa model yang tepat untuk
menggambarkan pengaruh suhu, waktu dan jumlah n-heksan untuk memperoleh
vitamin E yang maksimum adalah model kuadratik. Nilai positif pada koefisien X1,
X2, X3 pada Persamaan 3 juga menunjukkan bahwa perlakuan suhu, waktu dan
jumlah n-heksan berpengaruh meningkatkan perolehan vitamin E. F-value model
sebesar 6.04 (>0.05) dengan Prob>F kurang dari 0.05 (Lampiran 4)
mengindikasikan bahwa model yang dikembangkan adalah signifikan dalam
memprediksi perolehan vitamin E. Pada kasus ini pengaruh linier suhu dan
waktu, serta pengaruh kuadratik suhu dan waktu memberikan pengaruh yang
signifikan dalam meningkatkan perolehan γ-oryzanol, sedangkan pengaruh
interaksi perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam
meningkatkan perolehan perolehan vitamin E.

iii. Interpretasi plot kurva 3 dimensi

Hubungan antara perlakuan dengan parameter yang diamati diilustrasikan


dalam bentuk kurva 3 dimensi dari permukaan respon yang dihasilkan oleh
model prediksi untuk rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi
(Gambar 8-10). Plot-plot tersebut menggambarkan dua perlakuan dalam rentang
percobaan yang diamati dan membuat variabel ke 3 pada level yang konstan.
Gambar 8 memperlihatkan pengaruh suhu dan jumlah n-heksan dalam
meningkatkan rendemen minyak pada perlakuan waktu yang konstan (5 jam).
Tampak bahwa kondisi optimasi ekstraksi minyak bekatul padi untuk
mendapatkan rendemen minyak yang maksimum menunjukkan peningkatan, hal
ini berarti bahwa kombinasi perlakuan suhu, waktu dan jumlah n-heksan
berpengaruh meningkatkan rendemen minyak.
Gambar 8. Kurva 3 dimensi rendemen minyak
Pengaruh jumlah n-heksan lebih kuat meningkatkan rendemen minyak
dibanding pengaruh perlakuan suhu dan waktu, dan pengaruh suhu lebih kuat
meningkatkan rendemen minyak dibanding pengaruh perlakuan waktu, hal ini
dapat dilihat dari nilai koefisien estimasi ANOVA, dimana nilai perlakuan jumlah
n-heksan lebih besar (0.31) dibandingkan dengan nilai suhu (0.24), sedangkan
nlai koefisien estimasi perlakuan waktu yaitu 0.20.
Gambar 9 memperlihatkan pengaruh suhu dan waktu dalam meningkatkan
perolehan γ-oryzanol pada perlakuan jumlah n-heksan yang konstan (525 mL).
Tampak bahwa kondisi optimasi proses ekstraksi minyak bekatul padi untuk
mendapatkan γ-oryzanol yang maksimum menunjukkan peningkatan, hal ini
berarti bahwa kombinasi perlakuan suhu, waktu dan jumlah n-heksan
berpengaruh meningkatkan rendemen minyak. Pengaruh jumlah n-heksan lebih
kuat meningkatkan rendemen minyak dibanding pengaruh perlakuan suhu dan
waktu ekstraksi, dan pengaruh suhu lebih kuat meningkatkan rendemen minyak
dibanding pengaruh perlakuan waktu ekstraksi, hal ini dijelaskan oleh nilai
koefisien estimasi ANOVA, dimana nilai perlakuan jumlah n-heksan lebih besar
(32.71) dibandingkan dengan nilai suhu (19.39), sedangkan nlai koefisien
estimasi perlakuan waktu lebih kecil yaitu 16.16.
Gambar 9. Kurva 3 dimensi γ-oryzanol
Gambar 10 memperlihatkan pengaruh waktu dan jumlah n-heksan dalam
meningkatkan perolehan vitamn E pada perlakuan waktu ekstraksi yang konstan
(5 jam). Tampak bahwa kondisi optimasi ekstraksi minyak bekatul padi untuk
mendapatkan vitamin E yang maksimum menunjukkan peningkatan, hal ini
berarti bahwa kombinasi perlakuan suhu, waktu dan jumlah n-heksan
berpengaruh meningkatkan perolehan vitamin E. Pengaruh suhu lebih kuat
meningkatkan perolehan vitamin E dibanding pengaruh perlakuan waktu
ekstraksi dan jumlah n-heksan, dan pengaruh waktu ekstraksi lebih kuat
meningkatkan perolehan vitamin E dibanding pengaruh perlakuan jumlah n-
heksan, hal ini dijelaskan oleh nilai koefisien estimasi ANOVA, dimana nilai
perlakuan suhu lebih besar (0.72) dibandingkan dengan nilai waktu ekatraksi
(0.59), sedangkan nlai koefisien estimasi perlakuan jumlah n-heksan lebih kecil
yaitu 0.35.

Gambar 10. Kurva 3 dimensi vitamin E

Hasil optimasi kondisi optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi pada
titik stasioner yang diperoleh adalah pada suhu 59.89oC, selama 5 jam 19 menit
dengan jumlah n-heksan 602.41 mL, pada kondisi tersebut diprediksi akan
diperoleh rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi pada titik
stasioner berturut-turut sebesar 9.3%, 215.15 mg/L dan 63.89 mg/L.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa kenaikan suhu dari
45oC hingga 59.89oC, dan bertambahnya waktu ekstraksi dari 4 jam hingga 5 jam
19 menit pada jumlah n-heksan yang konstan 525 mL mengakibatkan
peningkatan rendemen serta perolehan γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul
padi. Selanjutnya, kenaikan suhu melampaui 59.89oC dan penambahan waktu
ekstraksi melebihi 5 jam 19 menit pada jumlah n-heksan yang konstan 525 mL
menyebabkan penurunan rendemen serta perolehan γ-oryzanol dan vitamin E
minyak bekatul padi. Demikian pula halnya pada peningkatan suhu dari 45 oC
hingga 59.89oC, dan penambahan jumlah n-heksan dari 425 mL hingga 602.41
mL pada waktu ekstraksi yang konstan 5 jam mengakibatkan peningkatan
rendemen serta perolehan γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi.
Selanjutnya peningkatan suhu melebihi 59.89oC dan penambahan jumlah
n-heksan melebihi 602.41 mL menyebabkan penurunan rendemen serta
perolehan γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi.
Fenomena yang sama terjadi pada penambahan waktu ekstraksi dari 4 jam
hingga 5 jam 19 menit dan penambahan jumlah n-heksan dari 425 mL hingga
602.41 mL pada suhu ekstraksi yang konstan 55 oC mengakibatkan peningkatan
rendemen serta perolehan γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi.
Selanjutnya, penambahan waktu ekstraksi melebihi 5 jam 19 menit serta jumlah
n-heksan melebihi 602.41 mL menyebabkan penurunan rendemen serta
perolehan γ-oryzanol dan vitamin E minyak bekatul padi.
Menurut Subrier dkk., (2009) dan Munawaroh dkk., (2010), beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi proses ekstraksi antara lain adalah: 1) temperatur
operasi, semakin tinggi temperatur, laju pelarutan zat terlarut oleh pelarut
semakin tinggi dan laju difusi pelarut ke dalam serta ke luar padatan semakin
tinggi pula; 2) waktu ekstraksi, lamanya waktu ekstraksi mempengaruhi volume
ekstrak yang diperoleh, semakin lama waktu ekstraksi semakin lama juga waktu
kontak antara pelarut dengan bahan sebagai padatan, sehingga semakin banyak
zat terlarut yang terkandung di dalam padatan yang terlarut di dalam pelarut;
3) jenis pelarut, hal ini terkait dengan kepolaran pelarut; komponen polar
cenderung larut pada pelarut polar, demikian pula komponen non-polar
cenderung larut pada komponen non-polar; 4) jumlah pelarut, semakin banyak
jumlah pelarut semakin banyak pula jumlah produk yang akan diperoleh, hal ini
dikarenakan distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga
memperluas permukaan kontak, dan perbedaan konsentrasi zat terlarut dalam
pelarut dan padatan semakin besar.
Sebelumnya, Gamse (2002) telah menjelaskan bahwa beberapa faktor
yang mempengaruhi kesetimbangan konsentrasi dalam ekstraksi yaitu
perbandingan jumlah sel tanaman dan pelarut, proses difusi sel yang utuh, lama
waktu kontak antara bahan dan pelarut dan pengembangan sel tanaman,
kecepatan proses disolusi sel tanaman yang terintegrasi, kecepatan terjadinya
kesetimbangan, suhu dan pH interaksi senyawa terlarut dan tidak larut, serta
tingkat kepolaran pelarut.
Abadi et al., (2014), melakukan ekstraksi minyak hati ikan salmon dan
melaporkan bahwa jumlah rendemen minyak meningkat dengan menaikkan suhu
dari 50°C menjadi 68°C pada setiap waktu yang dipertimbangkan, yang
mengindikasikan bahwa peningkatan suhu ekstraksi berdampak langsung pada
peningkatan persentase ekstraksi minyak, dan hal tersebut sama dengan efek
waktu ekstraksi. Koleva and Simeonov (2014) serta Stroescu et al., (2013)
melaporkan bahwa suhu dan rasio padat-cair pada proses ekstraksi memiliki
pengaruh terbesar terhadap rendemen minyak. Mani et al., (2007) dan Minjares-
Fuentes et al., (2014) melaporkan bahwa dengan meningkatkan suhu ekstraksi,
rendemen minyak dimaksimalkan. Lebih lanjut dikatakan bahwa semakin banyak
waktu yang diberikan pada bahan untuk kontak dengan pelarut, semakin tinggi
persentase hasil ekstraksi (Elkhaleefa and Shigidi, 2015).
Kandungan minyak pada bekatul padi sekitar 15-20% (Anwar et al., 2005).
Pourali et al., (2009) melaporkan bahwa minyak bekatul padi terkandung pada
bekatul padi sekitar 10-26%. Sukanya et al., (2017), melaporkan bahwa γ-
oryzanol pada minyak bekatul padi berkisar antara 119.75-281.95 mg/g minyak.
Xu et al., (2007) melaporkan bahwa fraksi tidak tersabunkan dari minyak bekatul
padi mengandung 3000 mg/kg γ-oryzanol dan vitamin E sekitar 0.37-1.84 mg/g
minyak. Al-Okbi et al., (2014) melaporkan bahwa pada ekstrak n-heksan minyak
bekatul padi terkandung γ-oryzanol sebanyak 3.33 g/100g dan vitamin E (α-
tokoferol) sebanyak 665 µg/g, sedangkan Schramm et al., (2007) melaporkan
vitamin E sekitar 170-218 μg/g. Menurut Grist, (1985) dan Gul et al., (2015),
komposisi bekatul padi berbeda tergantung varietas, kondisi iklim dan metode
prosesing.
Terkait dengan vitamin E, Pascual et al., (2013) melaporkan efek suhu
pada vitamin E, dalam hal ini efek suhu terhadap kandungan tokol pada proses
parboiling beras dan proses memasak, proses parboiling mempengaruhi vitamin
E yang menghasilkan rata-rata kehilangan sekitar 60% bila dibandingkan dengan
konsentrasi vitamin E awal. Khatoon and Gopala (2004) melaporkan kehilangan
tokol yang banyak setelah melakukan parboiling beras. Proses memasak
menyebabkan kehilangan lebih lanjut dari tokol. Kumar et al., (2006) mempelajari
pengaruh kondisi memasak yang berbeda (rasio air-beras yang berbeda)
terhadap retensi tokol dan melaporkan adanya pengaruh perlakuan terhadap
total tokol dari 1 sampai 59% tergantung pada jumlah air yang digunakan. Anwar
et al., (2005) melaporkan kandungan α-tokoferol pada beberapa varietas padi
yang diamati berkisar antara 175 - 300 mg/kg.

iv. Verifikasi kondisi optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi

Eksperimen 3 (tiga) kali ulangan dilakukan dengan menggunakan kondisi


optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi yang diperoleh. Hal ini bertujuan
untuk memvalidasi hasil pendekatan/prediksi model yang diperoleh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E
yang dihasilkan berturut-turut sebanyak 9.2±0.02%, 203.11±0.05 mg/L dan
63.9472±0.01 mg/L. Hasil proses verifikasi menunjukkan bahwa rata-rata
rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E sedikit lebih tinggi dari nilai yang
diperkirakan, namun cukup dapat mendekati hasil aktual, hal ini menunjukkan
bahwa model prediksi cukup valid dan dapat digunakan untuk mengoptimalkan
proses ekstraksi minyak bekatul padi.

b. Tahap II ekstraksi dengan pelarut etanol

Ekstraksi tahap II mengkaji efek dari perlakuan suhu, waktu dan jumlah
etanol terhadap rendemen dan γ-oryzanol minyak bekatul padi. Data dari 20 unit
percobaan yang terdiri atas 14 unit percobaan dengan 6 titik pusat yang
dianalisis mengikuti rancangan CCD memperlihatkan bahwa rendemen minyak
berkisar antara 5.28-7.02% dan γ-oryzanol 608-900 mg/L. Pada titik pusat,
rendemen minyak dan γ-oryzanol masing-masing berkisar antara 6.15-7.02 %
dan 7.38-900 mg/L (Lampiran 5).

i. Pendekatan model RSM

Berdasarkan hasil ANOVA) untuk rendemen dan γ-oryzanol minyak bekatul


padi diperoleh hasil bahwa nilai koefisien korelasi (R2) dari model yang diprediksi
masing-masing sebesar 0.79 dan 0.75. Signifikansi antara perlakuan ditentukan
dengan menggunakan F-value dan p-value (Lampiran 6). Persamaan kuadrat
aktual dari rendemen minyak dan γ-oryzanol disajikan pada Persamaan 4 dan 5.
Rendemen (%) = -48.50936+1.58587X1+1.75210X2+4.55578x10-3X3-0.015095
X12-0.13342X22-8.73095x10-5X32+1.25000x10-3X1X2+9.35000
x10-4X1X3-1.17500x10-3X2X3…………………………………...(4)

γ-oryzanol (mg/L) = -7915.12771+203.74015X1+408.14964X2+8.57555X3-


1.44374X12-12.40543X22-9.98263x10-3X32-3.60000X1X2-
0.021000X1X3- 0.16500X2X3………………..………….…......(5)
Keterangan:
X1 = suhu (oC)
X2 = waktu (jam)
X3 = jumlah etanol (mL)

ii. Interpretasi model permukaan respon

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa model untuk menggambarkan


pengaruh perlakuan terhadap rendemen minyak adalah model kuadratik. Nilai
positif pada koefisien X1, X2, dan X3 pada Persamaan 4 menunjukkan bahwa
perlakuan suhu, waktu dan jumlah etanol berpengaruh meningkatkan rendemen
minyak. Nilai Prob>F kurang dari 0.05 (Lampiran 6) menunjukkan bahwa
perlakuan signifikan dalam memberikan kontribusi positif untuk meningkatkan
rendemen minyak. Pada kasus ini pengaruh linier dan kuadratik perlakuan suhu
serta pengaruh kuadratik perlakuan jumlah etanol memberikan efek yang
signifikan dalam meningkatkan rendemen minyak, sedangkan pengaruh linier
waktu dan jumlah etanol, pengaruh kuadratik waktu, dan pengaruh interaksi
antara perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam
meningkatkan rendemen minyak. The lack of fit F-value sebesar 1.44 (>0.05)
dengan Prob>F sebesar 0.35 (>0.05) mengimplikasikan bahwa galat percobaan
tidak signifikan berpengaruh pada model prediksi, hal tersebut juga
mengindikasikan bahwa model yang dikembangkan cukup memadai untuk
memprediksi rendemen minyak.
Hasil analisis statistik untuk γ-oryzanol menunjukkan bahwa model untuk
menggambarkan pengaruh perlakuan terhadap perolehan γ-oryzanol adalah
model kuadratik. Nilai positif pada koefisien X1, X2, X3 pada Persamaan 5 juga
menunjukkan bahwa perlakuan suhu, waktu dan jumlah etanol berpengaruh
meningkatkan perolehan γ-oryzanol. F value 3.30 (Lampiran 6) menunjukkan
bahwa perlakuan signifikan memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan
perolehan γ-oryzanol minyak. Nilai Prob>F kurang dari 0.05 juga menandakan
bahwa model signifikan, pada kasus ini pengaruh perlakuan linier dan kuadratik
suhu memberikan efek yang signifikan dalam meningkatkan γ-oryzanol minyak.
The lack of fit F-value sebesar 0.32 (>0.05) dengan Prob>F 0.88 (>0.05)
mengimplikasikan bahwa galat percobaan tidak signifikan berpengaruh pada
model yang diprediksi, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa model yang
diprediksi sesuai untuk menggambarkan efek perlakuan terhadap perolehan
γ-oryzanol, dan bahwa model yang dikembangkan cukup memadai untuk
memprediksi perolehan γ-oryzanol.

iii. Interpretasi plot kurva 3 dimensi

Hubungan antara perlakuan dengan parameter yang diamati diilustrasikan


dalam bentuk kurva 3 dimensi dari permukaan respon yang dihasilkan oleh
model prediksi untuk rendemen dan γ-oryzanol minyak bekatul padi (Gambar 11
dan 12). Plot-plot tersebut menggambarkan dua perlakuan dalam rentang
percobaan yang diamati dan variabel ke 3 pada level yang konstan. Gambar 11
memperlihatkan pengaruh suhu dan waktu dalam meningkatkan rendemen
minyak pada jumlah etanol yang konstan (300 mL). Tampak bahwa kondisi
optimasi ekstraksi minyak bekatul padi untuk mendapatkan rendemen minyak
yang maksimum menunjukkan peningkatan, hal ini berarti bahwa kombinasi
perlakuan suhu, waktu, dan jumlah etanol berpengaruh meningkatkan rendemen
minyak. Pengaruh suhu lebih kuat meningkatkan rendemen minyak dibanding
pengaruh perlakuan waktu dan jumlah etanol, dan pengaruh waktu lebih kuat
meningkatkan rendemen minyak dibanding pengaruh perlakuan jumlah etanol,
hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien estimasi ANOVA, dimana nilai perlakuan
suhu lebih besar (0.31) dibandingkan dengan nilai perlakuan waktu (0.14),
sedangkan nlai koefisien estimasi perlakuan jumlah etanol yaitu 0.12.

Gambar 11. Kurva 3 dimensi rendemen minyak

Gambar 12 memperlihatkan pengaruh waktu dan jumlah etanol dalam


meningkatkan perolehan γ-oryzanol pada perlakuan suhu yang konstan (60oC).
Tampak bahwa kondisi optimasi ekstraksi minyak bekatul padi untuk
mendapatkan γ-oryzanol yang maksimum menunjukkan peningkatan, hal ini
berarti bahwa kombinasi perlakuan suhu, waktu dan jumlah etanol berpengaruh
meningkatkan perolehan. Pengaruh jumlah etanol lebih kuat meningkatkan
rendemen minyak dibanding pengaruh perlakuan suhu dan waktu ekstraksi, dan
pengaruh suhu lebih kuat meningkatkan rendemen minyak dibanding pengaruh
perlakuan waktu ekstraksi, hal ini dapat dilihat pada nilai koefisien estimasi
ANOVA, dimana nilai perlakuan jumlah etanol lebih besar (32.71) dibandingkan
dengan nilai suhu (19.39), sedangkan nlai koefisien estimasi perlakuan waktu
lebih kecil yaitu 16.16.

Gambar 12. Kurva 3 dimensi γ-oryzanol


Hasil optimasi kondisi optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi pada
titik stasioner yang diperoleh adalah pada suhu 62.22oC, selama 5 jam 38 menit
dengan jumlah etanol 321.59 mL, pada kondisi tersebut diprediksi akan diperoleh
rendemen minyak bekatul padi pada titik stasioner sebesar 6.82% dan γ-oryzanol
823.83 mg/L.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa kenaikan suhu dari
55oC hingga 62.22oC, dan bertambahnya waktu ekstraksi dari 4 jam hingga 5 jam
38 menit pada jumlah etanol yang konstan 300 mL mengakibatkan peningkatan
rendemen minyak serta perolehan γ-oryzanol minyak bekatul padi. Selanjutnya,
kenaikan suhu melampaui 62.22oC dan penambahan waktu ekstraksi melebihi 5
jam 38 menit pada jumlah etanol yang konstan 300 mL menyebabkan penurunan
rendemen serta perolehan γ-oryzanol minyak bekatul padi. Demikian pula halnya
pada peningkatan suhu dari 55oC hingga 62.22oC, dan penambahan jumlah
etanol dari 250 mL hingga 321.59 mL pada waktu ekstraksi yang konstan 5 jam
mengakibatkan peningkatan rendemen serta perolehan γ-oryzanol minyak
bekatul padi. Selanjutnya peningkatan suhu melebihi 62.22 oC dan penambahan
jumlah etanol melebihi 321.59 mL menyebabkan penurunan rendemen serta
perolehan γ-oryzanol minyak bekatul padi.
Fenomena yang sama terjadi pada penambahan waktu ekstraksi dari 4 jam
hingga 5 jam 38 menit dan penambahan jumlah etanol dari 300 mL hingga
321.59 mL pada suhu ekstraksi yang konstan 60 oC mengakibatkan peningkatan
rendemen serta perolehan γ-oryzanol minyak bekatul padi. Selanjutnya,
penambahan waktu ekstraksi melebihi 5 jam 38 menit serta jumlah etanol
melebihi 321.59 mL menyebabkan penurunan rendemen serta perolehan
γ-oryzanol minyak bekatul padi.

iv. Verifikasi kondisi optimum ekstraksi minyak bekatul padi

Eksperimen 3 (tiga) kali ulangan dilakukan dengan menggunakan kondisi


optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi yang diperoleh. Hal ini bertujuan
untuk memvalidasi hasil pendekatan/prediksi model yang diperoleh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rendemen minyak dan γ-oryzanol yang
dihasilkan sebanyak 6.75±0.02% dan 804.0415±0.05mg/L. Hasil proses verifikasi
menunjukkan bahwa rata-rata rendemen minyak dan γ-oryzanol lebih rendah dari
nilai yang diperkirakan, namun cukup dapat mendekati hasil aktual, hal ini
menunjukkan bahwa model prediksi cukup valid dan dapat digunakan untuk
mengoptimalkan proses ekstraksi minyak bekatul padi.

3. Komposisi asam lemak dan sifat fisiko kimia minyak bekatul padi

Asam lemak berperan penting dalam metabolisme, yang merupakan bahan


bakar utama untuk metabolisme, penyimpanan dan pengangkutan energi,
sebagai komponen penting dari semua membran, dan sebagai pengatur gen
(Rustan, 2005). Keutamaan minyak bekatul padi selain terkenal karena kekayaan
komponen fitokimianya, juga karena profil asam lemaknya (Cheruvanky, 2000).
Menurut Sugano and Hirahara, (2000), bahwa berdasarkan rekomendasi gizi,
25% kebutuhan energi sebaiknya ditutupi oleh lipid. Organisasi Pangan dan
Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO dan Organisasi Kesehatan
Dunia (World Health Organization/WHO) (FAO/WHO, 2010) merekomendasikan
20%-35% energi diperoleh dari asupan harian lemak total.
Analisis asam lemak pada makanan sangat penting karena implikasi nutrisi
dan pengaruhnya terhadap kesehatan (Sahena et al., 2009). Menurut
Senanayake and Shahidi, (2002) serta Vercellotti et al., (1992) bahwa
karakteristik fisik dan kimia minyak dan lemak sangat dipengaruhi oleh jenis dan
proporsi asam lemak pada triasilgliserol. Fraksinasi minyak untuk menentukan
komposisi asam lemak cukup penting untuk menghasilkan produk dengan sifat
sensori atau nutrisi yang menarik bagi industri makanan (Soares et al., 2007).
Kandungan asam lemak dan rasio asam lemak jenuh dan tak jenuh merupakan
parameter penting untuk menentukan nilai gizi minyak, karena kecenderungan
terbaru dalam industri pengolahan makanan yakni menginformasikan komposisi
asam lemak dalam produknya.
Secara umum, asam lemak dalam lipid yang diekstraksi dari tumbuhan
terdiri dari asam lemak tak jenuh dalam persentase tinggi. Asam lemak tak jenuh
umumnya lebih rentan terhadap kerusakan oksidatif (Vercellotti et al., 1992;
Bradley and David., 2009; Zambiazi and Zambiazi, 2000). Oleh karena itu,
penting untuk mengetahui komposisi asam lemak dari minyak atau lemak, untuk
mengidentifikasi karakteristiknya dan untuk menentukan kemungkinan
pemalsuan serta untuk mengetahui sifat stabilitas dan sifat fisikokimia minyak
(Vercellotti et al., 1992; Zambiazi, 1999). Menurut Michalski et al., (2013), untuk
penyerapan dalam tubuh manusia dan fungsi biologisnya, perbedaan struktur
lipid yang dikonsumsi dianggap sangat penting. Komponen utama lipid adalah
asam lemak. Sifat fisik, kimia dan fisiologisnya sangat bergantung pada
komposisi asam lemaknya. Kualitas dan kesegaran minyak nabati ditentukan
oleh asam lemak penyusunnya, karena asam organik rantai panjang bukanlah
senyawa yang sangat mudah menguap (Ichihara and Fukubayashi, 2010;
Gromadzka and Wardencki, 2011). Salah satu metode yang digunakan untuk
menentukan komposisi asam lemak didasarkan pada analisis kromatografi metil
esternya (Casas et al., 2009). Hasil analisis asam lemak minyak bekatul padi
dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi asam lemak minyak bekatul padi varietas Celebes hasil
ekstraksi bertingkat dengan pelarut n-heksan dan etanol
Asam lemak Nomor Grup Ekstrak n-heksan Ekstrak etanol
(mg/L) (mg/L)
Laurat C12:0 SFA 0.002 4.78
Miristat C14:0 SFA 0.002 2.22
Valerat C15:0 SFA 1.73 0.03
Palmitat C16:0 SFA 1021.89 6.34
Palmitoleat C16:1 MUFA 17.03 0.03
Stearat C18:0 SFA 125.81 1.81
Oleat C18:1 MUFA 3716.56 0.55
Linoleat C18:2 PUFA 1630.78 3.52
Arakhidat C20:0 SFA 47.74 0.03
Behenat C22:0 SFA 17.5 0.05
Trikosanoat C23:0 SFA 1.43 0.02
Lignokerat C24:0 SFA 9.97 0.01
Tabel 4 menunjukkan bahwa kelompok asam lemak jenuh (saturated fatty
acid/SFA) lebih dominan meskipun komposisinya lebih kecil. Asam lemak tidak
jenuh (Unsaturated Fatty Acid/UFA) yaitu asam oleat yang merupakan grup
Monounsaturated Fatty Acid (MUFA), dan linoleat yang merupakan grup
Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA), serta palmitat (SFA) ditemukan dalam jumlah
yang besar. N-heksan merupakan pelarut non polar sehingga mampu
mengekstraksi asam lemak yang juga bersifat non polar, hal ini menyebabkan
beberapa asam lemak dapat diekstraksi pada tahap I dengan komposisi yang
lebih besar.
Pada ekstrak n-heksan, minyak bekatul padi terdiri atas 18.6% SFA dan
81.4% asam lemak tak jenuh yang terdiri atas MUFA dan PUFA. Rasio SFA :
MUFA : PUFA sekitar 1: 2.3 : 1.3 yang terdiri atas 18.6% SFA, 56.7% MUFA dan
24.7% PUFA. Asam oleat yang ditemukan paling dominan pada sampel
terkandung sebesar 56.39%; asam palmitat 15.51%, dan dan asam linoleat
sebesar 24.74%. Pada ekstrak etanol, beberapa asam lemak juga masih
diperoleh. Asam linoleat (PUFA) ditemukan sebesar 84.44%. Menurut Schmid et
al., 2016, ekstraksi dengan etanol dapat menghasilkan kadar PUFA tertinggi.
Sebelumnya, Li et al., (2014) melaporkan bahwa etanol menghasilkan ekstrak
food grade yang kaya akan PUFA.
Bekatul padi mengandung rasio asam lemak spesifik yang berbeda-beda
(Rao et al., 2001). Menurut Hui (1999), minyak bekatul padi memiliki rasio
optimal SFA : MUFA : PUFA sekitar 1 : 2.2 : 1.5 yang sangat dekat dengan
rekomendasi WHO. Minyak bekatul padi mengandung sekitar 47% MUFA, 37%
PUFA, dan SFA 20% (Hui, 1999). Minyak bekatul padi terutama mengandung
asam oleat 36-38%, linoleat 35-38% dan α-linolenat 1.8-2.4% yang merupakan
asam lemak tak jenuh, serta asam palmitat 21-25% dan stearat 2.7-3.0% yang
merupakan asam lemak jenuh (Gopala et al., 2005; Bopitiya and Madhujith,
2014). Massarolo (2016), melaporkan bahwa asam lemak utama minyak bekatul
padi terdiri atas 40.2% linolelaidik, 33.6% oleat dan 20.2% asam palmitat.
Menurut Kahlon et al., (1996), Krishna et al., (2005), dan Rubalya et al., (2010),
bahwa minyak bekatul padi mengandung asam lemak tak jenuh sekitar 75%,
yang mana asam lemak utamanya adalah asam oleat, linoleat dan palmitat.
Asam lemak tersebut terutama mengandung oleat (36-38%), linoleat (35-38%)
dan α-linolenat (1.8 sampai 2.4%) yang merupakan UFA, serta asam palmitat
(21-25%) dan stearat (2.7 sampai 3,0%) yang merupakan SFA. Liu et al., (2013)
melaporkan bahwa pada minyak bekatul padi terkonsentrasi MUFA sekitar 19.4
sampai 25.5%, sementara menurut Wang et al., (2016), minyak bekatul padi
mengandung MUFA sekitar 15-25% yang terdiri atas 95% triasilgliserol dan 4%
dari lipida tak jenuh.
Menurut Bopitiya and Madhujith (2014), bahwa minyak nabati yang kaya
akan UFA, terutama MUFA diketahui mampu menurunkan kadar kolesterol total
dan LDL, kadar triasilgliserol, dan meningkatkan kadar kolesterol HDL yang
membantu mengendalikan tekanan darah. UFA memiliki sifat antitrombotik dan
juga meningkatkan sensitivitas insulin (Rubalya and Neelamegam, 2012). Selain
itu, MUFA meningkatkan kestabilan minyak nabati. Cicero and Derosa (2005)
melaporkan bahwa minyak bekatul padi merupakan sumber PUFA yang sangat
baik, yang mampu menurunkan kolesterol darah manusia lebih efektif dari pada
minyak bunga matahari dan minyak jagung.
Pada hasil kromatogram GC-MS terhadap kandungan asam lemak minyak
bekatul padi varietas Celebes yang diekstraksi dengan n-heksan (Gambar 13)
dapat dilihat bahwa asam oleat (9-octadecenoic acid) adalah asam lemak yang
paling dominan (puncak nomor 7). Puncak asam lemak oleat muncul pada waktu
retensi 21.215 dengan luas 36.05%; luas/tinggi (A/H) sebesar 4.99; luas area
157103345. Luas area tersebut menunjukkan jumlah konsentrasi komponen,
semakin besar luas area, semakin besar pula konsentrasi senyawa tersebut.
Dapat dilihat pada skala yang diperbesar bahwa konsentrasi oleat sebesar
3716.56 mg/L. Adapun asam lemak dominan berikutnya adalah linoleat dan
palmitat yang terlihat pada puncak bernomor 6 dan 4 dengan waktu retensi
21.075 dan 18.291.

Asam oleat

Peak# Name Fatty acid


1 Dodecanoic acid, methyl ester Lauric
2 Tetradecanoic acid, methyl ester Myristic
3 9-Hexadecenoic acid, methyl ester, (Z)- Palmitoleic
4 Hexadecenoic acid, methyl ester Palmitic
5 Pentadecanoic acid, methyl ester Valeric
6 9,12-Octadecadienoic acid (Z,Z)-, methyl ester Linoleic
7 9- Octadecadienoic acid, methyl ester Oleic
8 Octadecanoic acid, methyl ester Stearic
9 2-Cyclohexyl-3-isopropyl-pent-4-en-2-ol
10
Methyl (11R,12R,13S)-(Z)-12,13-epoxy-11- -methoxy-9- methoxy-9-octadecenoate

11 Linolensaeuremethylester
12 11-Eicosenoic acid, methyl ester
13 Eicosanoic acid, methyl ester Arachidic
14 Docosanoic acid, methyl ester Behenic
15 Tetracosanoic acid, methyl ester Lignoceric
16 Tricosanoic acid, methyl ester Tricosanoic

Gambar 13. GC-MS kromatogram asam lemak minyak bekatul padi ekstrak
n-heksan
Terkait dengan pelarut minyak, Ketaren (1986) menyatakan bahwa asam
lemak rantai panjang umumnya diekstraksi dengan baik oleh n-heksan, tetapi
juga tergantung pada batas kelarutannya dalam n-heksan, sedangkan asam
lemak rantai pendek hanya sedikit yang dapat diperoleh dari ekstraksi dengan
n-heksan. Asam lemak rantai panjang agak non-polar, polaritasnya akan
menurun seiring dengan bertambahnya panjang rantai. Sebaliknya, asam lemak
rantai pendek lebih dapat diekstraksi dalam etanol, dan kelarutan dalam etanol
bergantung pada panjang rantai, ha ini dapat menjelaskan mengapa asam lemak
rantai panjang sulit diekstrak dengan etanol. Semakin panjang rantai karbon,
semakin sulit untuk larut. UFA lebih mudah larut dalam pelarut non polar
dibanding SFA dengan rantai karbon yang sama. Asam lemak yang memiliki
tingkat kejenuhan yang tinggi akan lebih mudah larut dari pada asam lemak
dengan tingkat kejenuhan yang rendah.
Terkait dengan efek konsumsi asam lemak terhadap kesehatan manusia,
Orsavova et al., (2015), menyatakan bahwa komponen dan komposisi asam
lemak dalam minyak bervariasi tergantung pada sumber minyak, dan proses
teknologi yang digunakan untuk ekstraksi minyak, masing-masing minyak nabati
memiliki distribusi asam lemak tertentu tergantung pada sumber tanaman,
sehingga masing-masing jenis minyak memiliki dampak kesehatan yang berbeda
pada manusia. Kesehatan manusia bisa ditentukan oleh asam lemak yang
dikonsumsinya, karena asam lemak memiliki efek yang berbeda terhadap
kesehatan manusia dan risiko penyakit yang bisa diakibatkannya.
Penelitian menunjukkan dampak yang signifikan dari PUFA terhadap
kesehatan manusia dan pencegahan penyakit, terutama penyakit kardiovaskular,
jantung koroner, kanker, inflamasi, trombotik dan autoimun, hipertensi, diabetes
tipe dua, ginjal, rheumatoid arthritis, kolitis ulserativa, dan penyakit crohn
(Caterina et al., 2000; Abedi and Sahari, 2014). Konsentrasi relatif dan distribusi
asam lemak yang terkandung pada lemak diet telah dilaporkan menurunkan
risiko penyakit kardiovaskular (Cordain et al., 2002). Diet dengan meningkatkan
asupan asam linoleat dan linolenat meningkatkan kolesterol HDL dan menurunan
kolesterol LDL, sementara asupan asam oleat yang lebih tinggi dapat
menurunkan kolesterol LDL, namun tidak mempengaruhi kadar kolesterol HDL
(Lawton et al., 2000).
Sehubungan dengan potensi minyak bekatul padi dikembangkan sebagai
pangan fungsional berdasarkan komposisi asam lemaknya, Wilson et al., (2000)
menyatakan bahwa minyak bekatul padi dapat membantu mengurangi kolesterol
LDL karena profil asam lemaknya dan jumlah senyawa tidak tersabunkan yang
tinggi. Lebih lanjut menurut Law (2000) dan Choe (2008), sejumlah besar asam
lemak tak jenuh dalam sampel minyak bekatul padi dapat meningkatkan manfaat
nutrisi dan kesehatan karena asam lemak tak jenuh dapat mencegah penyakit
yang terkait dengan kolesterol. Luque-Rodríguez et al., (2005) dan Yi et al.,
(2009) menyatakan bahwa kandungan tinggi PUFA dalam minyak menghasilkan
minyak berkualitas gizi yang tinggi. Karena kandungan PUFA yang tinggi, minyak
bekatul padi menunjukkan sifat pencegahan trombosis, pencegahan penyakit
kardiovaskular,pengurangan kolesterol dalam serum, pelebaran pembuluh darah,
pencegahan kanker dan regulasi saraf otonom.
Dzisiak, (2004) menyatakan bahwa asam lemak rantai pendek umumnya
memiliki titik lebur yang lebih rendah dan lebih larut dalam air, asam lemak rantai
panjang memiliki titik lebur yang lebih tinggi. UFA memiliki titik leleh yang lebih
rendah dibandingkan dengan SFA dengan panjang rantai yang sama. Rasio UFA
terhadap SFA dalam minyak nabati dan lemak secara umum sangat penting
untuk nutrisi manusia. Konsentrasi SFA yang tinggi pada minyak bermanfaat
untuk meningkatkan stabilitas minyak. Di sisi lain, keberadaan SFA dalam minyak
tidak diinginkan, karena konsentrasi SFA yang tinggi dapat meningkatkan
konsentrasi LDL, sehingga mempengaruhi rasio LDL terhadap HDL, yang dapat
menginduksi penyempitan pembuluh darah dan proliferasi otot polos. Rubalya
dan Neelamegam, (2012) menyatakan bahwa minyak nabati yang kaya akan
UFA, terutama MUFA memiliki kemampuan untuk menurunkan kolesterol total
dan LDL, kadar triasilgliserol dan meningkatkan kolesterol HDL yang membantu
mengendalikan tekanan darah. Selain itu, MUFA memiliki sifat anti trombotik dan
juga meningkatkan sensitivitas insulin.

4. Sifat fisiko kimia minyak bekatul padi

Sifat fisikokimia minyak akan membantu untuk mengidentifikasi potensi


pemanfaatannya lebih lanjut khususnya pada industri makanan. Sifat fisik minyak
meliputi kadar air, berat jenis (densitas), indeks bias, titik leleh, warna dan bau.
Sifat kimia minyak meliputi bilangan asam, bilangan penyabunan, kadar asam
lemak bebas, bilangan iod dan bilangan peroksida. Sifat fisikokimia minyak
bekatul padi disajikan pada Tabel 5.
Minyak bekatul padi berwarna kuning pucat, hal ini disebabkan oleh
adanya karotenoid dalam konsentrasi yang rendah terkandung pada minyak.
Pada hasil ekstraksi bertingkat dengan n-heksan dan etanol, kadar air minyak
masing-masing adalah 0.172% dan 0.181%. Menurut Ketaren (1986), kriteria
minyak yang baik, kadar airnya kurang dari 0.2%. Kandungan air merupakan
salah satu parameter yang penting bagi sifat kimia minyak karena dikaitkan
dengan reaksi hidrolisis, reaksi ini dapat menyebabkan kemunduran mutu
minyak. Minyak dengan kadar air tinggi bisa memperpendek umur simpan dan
akan memicu pertumbuhan mikroba (Toscano and Maldini, 2007).
Tabel 5. Sifat fisikokimia minyak bekatul padi varietas Celebes
No Parameter Ekstrak n-heksan Ekstrak etanol
1 Kadar air (%) 0,172 0,181
2 Indeks bias, 40oC 1,461 1,463
3 Berat jenis (g/mL) 0,84 0,85
4 Warna Kuning pucat Kuning kecoklatan
5 Bau Normal Normal
6 Kadar asam lemak bebas (%) 3,943 3.94
7 Bilangan asam (mg KOH/g minyak) 7,89 8,84
8 Bilangan peroksida (mg/kg minyak) 7,99 8,95
9 Bilangan iod (g I2/100g minyak) 100,2 68.33
10 Bilangan penyabunan (mg KOH/g 190,61 176.26
minyak)

Indeks bias minyak pada suhu 40oC masing-masing adalah 1.461 dan
1.463. Kaewkool (2011) melaporkan sebesar 1.729. Indeks bias berhubungan
dengan waktu ekstraksi dan rendemen minyak, semakin lama waktu ekstraksi,
semakin banyak rendemen minyak, sehingga indeks bias lebih tinggi. Indeks bias
merupakan indikasi quality assurance selama proses ekstraksi. Densitas/berat
jenis kedua minyak masing-masing adalah 0.84 dan 0.85 g/mL. Densitas adalah
ukuran massa per satuan volume. Semakin besar densitas minyak, semakin
besar massa masing-masing volume. Setiap jenis minyak memiliki kerapatan
yang khas, tergantung komposisi asam lemak dari minyak.
Sehubungan dengan potensi minyak bekatul padi untuk diproses lebih
lanjut sebagai bahan baku pangan berbasis minyak, data mengenai titik leleh
dan kapasitas panas minyak bekatul padi yang dianalisis menggunakan DSC
akan sangat membantu (Gambar 14). Data yang ditunjukkan pada Gambar 14
menjelaskan bahwa minyak bekatul padi varietas Celebes mulai mencair pada
suhu 31.08oC dan puncaknya pada suhu 31.90oC, pada titik ini minyak bekatul
padi membutuhkan energi terbesar untuk dapat meleleh sempurna pada suhu
32.89oC. Data tersebut sesuai dengan kandungan asam lemak minyak bekatul
padi varietas Celebes yang ditunjukkan pada Tabel 4 bahwa asam lemak
dominan yang menyusunnya adalah asam lemak oleat, linoleat dan palmitat.
Oleat, linoleat dan palmitat masing-masing memiliki titik leleh 13oC, -5oC dan
63oC, sehingga campuran ketiganya memiliki titik leleh sekitar 31-32oC. Data juga
menginformasikan bahwa kapasitas panas minyak bekatul padi varietas Celebes
sebesar 0.03 J/g.

Gambar 14. Analisis DSC minyak bekatul padi varietas Celebes

Sifat kimia minyak merupakan sifat penting yang menentukan kondisi


minyak. Sifat kimia meliputi nilai total asam, iod, peroksida, asam lemak bebas
dan bilangan penyabunan. Nilai asam dan asam lemak bebas terbentuk sebagai
hasil reaksi hidrolisis trigliserida terhadap gliserol dengan aktivitas lipase, yang
meningkat dengan cepat setelah proses penggilingan (Pourali, et al., 2009). Nilai
total asam minyak hasil ekstraksi n-heksan dan etanol masing-masing sebesar
7.89 dan 8.84 mg KOH/g minyak, nilai tersebut mengindikasikan bahwa minyak
layak dikonsumsi karena masih berada dalam nilai yang direkomendasikan oleh
kodex yatu 0.6 mg KOH/g untuk virgin oil dan 10 mg KOH/g untuk non-virgin
edible oil (Olajumoke, 2013). Al-Okbi et al., (2005) melaporkan sebesar 3.9 (mL
KOH/g), sedangkan Kaewkool (2011) melaporkan sebesar 1.06 mg KOH/g
minyak. Nilai asam merupakan indikator kelayakannya untuk dikonsumsi,
merupakan mg KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas
dalam 1 g minyak. Nilai asam digunakan untuk mengukur sejauh mana gliserida
dalam minyak didekomposisi oleh lipase dan penyebab lainnya seperti cahaya
dan suhu, yang penentuannya sering digunakan sebagai indikasi umum kondisi
dan kelayakannya untuk dikonsumsi. Secara umum, semakin rendah nilai asam,
daya terima untuk kelayakannya dkonsumsi semakin bagus. Muchiri et al. (2012)
melaporkan bahwa nilai asam yang tinggi berarti bahwa minyak tersebut
mengandung banyak asam lemak bebas yang tinggi.
Nilai asam lemak bebas dan peroksida adalah parameter karakterisasi
utama untuk kualitas minyak (Kittiphoom and Sutasinee, 2013). Nilai asam
lemak bebas kedua minyak bekatul padi diperoleh sebesar 3.943% dan 3.945%.
Tao et al., (1993) melaporkan bahwa kadar asam lemak pada minyak bekatul
padi maksimum 5%, dan Al-Okbi et al., (2005) melaporkan sebesar 1.95%.
Kandungan asam lemak bebas yang rendah menunjukkan hidrolisis enzimatik
pada minyak juga rendah. Minyak dengan asam lemak bebas tinggi dapat
berkembang mempengaruhi rasa selama penyimpanan (Hui, 1999). Nilai asam
lemak bebas yang rendah pada minyak menunjukkan bahwa minyak hampir
bebas dari kerusakan hidrolitik oleh lipase, dan memungkinkan minyak tersebut
digunakan secara langsung di industri tanpa netralisasi terlebih dahulu (Arogba,
1997).
Bilangan peroksida merupakan produk reaksi awal dari oksidasi lipid. Nilai
peroksida kedua minyak masing-masing sebesar 7.99 mg/kg minyak dan 8.95
mg/kg minyak. Nilai ini lebih rendah dari nilai untuk minyak tengik yang berkisar
antara 20.00-40.00 mg/kg minyak (Ishida et al., 2000). Umumnya pada minyak
segar, nilai peroksida harus kurang dari 10 mg/kg minyak (Kittiphoom and
Sutasinee, 2013). Berdasarkan standar CODEX, nilai bilangan peroksida
maksimum 10 mg/kg minyak (Sukanya et al., 2017), dan Al-Okbi et al., (2005)
melaporkan sebesar 4.5 mg/kg, sedangkan Kaewkool (2011) melaporkan
sebesar 3.12 mg/kg. Nilai peroksida adalah indikasi yang baik untuk stabilitas
minyak dan digunakan sebagai indikator kemunduran minyak, merupakan ukuran
konsentrasi peroksida dan hidroperoksida yang terbentuk pada tahap awal
oksidasi lipid. Nilai peroksida juga sebagai ukuran dari tingkat oksidasi atau
oksidatif ketengikan minyak. Ketengikan oksidatif terjadi akibat penambahan
oksigen pada ikatan rangkap UFA minyak dengan adanya enzim atau senyawa
kimia tertentu. Nilai peroksida yang tinggi dikaitkan dengan laju ketengikan
oksidatif yang tinggi (Sani, 2014).
Bilangan iod minyak menunjukkan derajat ketidakjenuhannya. Pada kedua
minyak diperoleh masing-masing sebesar 100.2 dan 68.33 gram I2/kg minyak.
Standar CODEX direkomendasikan antara 90-105 g I2/100 g minyak (Sukanya et
al., 2017), dan Al-Okbi et al., (2005) melaporkan sebesar 98.32 g I2/100g,
Kaewkool (2011) melaporkan 93.02 mg/g, sedangkan Indian Standard Institution
(ISI) sekitar 85-105 (Sengupta and Battaracharya, 1996). Bilangan iod adalah
jumlah iod yang diperlukan untuk menjenuhkan 100 gram minyak. Hal ini
digunakan untuk menilai stabilitas minyak dalam aplikasi industri (Xu et al.,
2007). Minyak yang memiliki nilai iod yang rendah mencerminkan
karakteristiknya seperti ketahanan yang lebih tinggi terhadap oksidasi, umur
simpan lebih lama dan kualitas yang lebih tinggi. Derajat kejenuhan minyak yang
tinggi bermanfaat dalam hal kemampuan penyimpanan bila dibandingkan
dengan minyak tak jenuh. Nilai iod juga merupakan indeks untuk menilai
kemampuan minyak menjadi tengik (Sani, 2014).
Blangan penyabunan adalah mg KOH yang diperlukan untuk menyabunkan
1 g minyak dan menunjukkan kapasitas pembentukan sabun minyak, ini
menunjukkan rata-rata massa rantai panjang molekul atau asam lemak bebas
(Kittiphoom, 2012). Bilangan penyabunan masing-masing sebesar 190.61 dan
176.26 mg KOH/g minyak. Jahurul et al., (2015) melaporkan nilai penyabunan
berkisar antara 185.4 mg KOH/g untuk varietas mangga Kaew Thailand dan
197.0 mg KOH/g untuk varietas mangga Bangladesh Ranipas. Standar ISI
sekitar 175-195 (Sengupta and Battaracharya, 1996)
Kittiphoom and Sutasinee (2013) menjelaskan bahwa bilangan
penyabunan merupakan alat yang berguna untuk evaluasi panjang rantai atau
berat molekul asam lemak yang terdapat pada triasilgliserol, dan merupakan nilai
yang mewakili berat molekul rata-rata, atau panjang rantai semua asam lemak.
Bilangan penyabunan yang lebih rendah menunjukkan kandungan triasilgliserol
berberat molekul rendah yang sangat tinggi. Bilangan penyabunan menunjukkan
ukuran atau sifat rantai asam lemak yang diesterifikasi menjadi gliserol, bIlangan
ini memberi informasi tentang karakteristik asam lemak dan kelarutan sabunnya
dalam air. Semakin tinggi bilangan penyabunan semakin banyak asam lemak
bebasnya, dan semakin tinggi kelarutan sabun yang dihasilkan (Sani, 2014).

5. Kandungan β-karoten

Konsentrasi β-karoten dalam minyak bekatul padi yang dianalisis sebesar


0.249 µg/mg. Menurut Al-Okbi et al., (2014) bahwa minyak bekatul padi yang
diekstraksi dengan n-heksan mengandung β-karoten sebanyak 225 µg/100 g.
Hasil ini menunjukkan rendahnya kandungan β-karoten pada minyak bekatul
padi, namun sebagai antioksidan kuat, β-karoten dapat bekerja secara sinergis
dengan senyawa antioksidan lainnya yang menghasilkan beberapa manfaat
kesehatan. Stoggl et al. (2005) melaporkan bahwa minyak bekatul padi yang
telah dimurnikan mengandung karotenoid sebesar 49,6 μg/100g. Hasil tersebut
dianggap sebagai hasil yang baik karena walaupun telah dimurnikan tetapi masih
mengandung β-karoten yang semula hanya terdapat dalam konsentrasi yang
rendah sebelum pemurnian. Lamberts dan Delcour (2008) melaporkan bahwa
kadar karotenoid pada beras merah mentah lebih rendah daripada serealia non
beras. Karotenoid utama beras merah yang utama adalah β-karoten dan lutein
(keduanya sebesar 100 µg/g).

6. Kandungan total polifenol

Senyawa polifenol adalah salah satu kelompok senyawa yang berperan


sebagai antioksidan utama terutama sebagai terminator radikal bebas (Oviasogie
et al., 1985). Total polifenol minyak bekatul padi varietas Celebes yang dianalisis
masing-masing sebesar 52.3 dan 95.7 mg GAE/g minyak (Lampiran 7). Bopitiya
and Madhujith (2014) melaporkan bahwa ekstrak metanol dari dedak beras
merah, putih, dan hitam mengandung total polifenol tinggi dan ekstrak dedak padi
hitam dan putih menunjukkan total polifenol serupa. Hasilnya berkisar antara
0.8931-1.2239 mg GAE/mg bekatul. Shahzad et al., (2006) melaporkan bahwa
total polifenol dari empat varietas dedak padi asli Pakistan berkisar antara 251-
359 mg/100g.
Keberadaan komponen bioaktif terutama antioksidan fenolik membuat
minyak memiliki stabilitas oksidatif yang lebih baik. Selain itu, komponen bioaktif
yang ada dalam minyak nabati dapat mengurangi stres oksidatif dalam tubuh
manusia (Rubalya and Neelamegam, 2012). Studi telah menunjukkan beberapa
efek fisiologis yang terkait dengan komponen bioaktif polifenol tersebut.
Bioaktifitas meliputi efek penurun kolesterol, efek farmakologis seperti regulasi
siklus oestrous, tindakan mempercepat pertumbuhan, sifat antitumor dan
kemampuan untuk mempromosikan sirkulasi kapiler kulit dan sensitivitas insulin.
Sebagai tambahan, komponen minor yang ada dalam minyak nabati
berkontribusi untuk memperbaiki tekstur dan palatabilitas serta menambahkan
rasa khas pada makanan (Rubalya and Neelamegam, 2012).

7. Aktivitas antioksidan

Aktivitas antioksidan minyak bekatul padi dievaluasi dengan menggunakan


uji DPPH. Nilai DPPH IC50 mewakili konsentrasi yang akan menghambat 50%
proses oksidasi (Sukanya, 2017). Aktivitas penghambatan radikal dinyatakan
sebagai nilai IC50 yang berbanding terbalik dengan aktivitas antioksidan,
semakin rendah nilai IC50 semakin tinggi aktivitas antioksidan komponen
tersebut (Kriengsak et al., 2006 dan Onder et al., 2009). Nilai yang diperoleh
pada ekstrak n-heksan sebesar 4.25 mg/g minyak dan 8.13 mg/g minyak pada
ekstrak etanol (Lampiran 8). Menurut Sukanya et al., (2017), nilai IC50 minyak
bekatul padi sebesar 3.41 mg/g minyak. Berdasarkan nilai IC50, minyak bekatul
padi dapat dikategorikan sebagai minyak dengan potensi antioksidan yang cukup
besar (Bopitiya and Madhujith, 2014). Studi melaporkan bahwa nilai IC50 dari
ekstrak minyak nabati yang dipilih, yaitu kedelai, bunga matahari dan jagung
berkisar antara 29.7 hingga 34.0 μg/mL (Aleksander et al., 2008).
Senyawa fenolik merupakan senyawa antioksidan yang dapat
mendonorkan atom hidrogen kepada radikal bebas. DPPH merupakan radikal
bebas, sehingga metode DPPH digunakan secara luas untuk menguji
kemampuan senyawa yang berperan sebagai pendonor elektron atau hidrogen
(Prakash, 2001).

D. Kesimpulan

Kondisi optimum proses esktraksi minyak bekatul padi yang diekstraksi


dengan metode refluks menggunakan pelarut n-heksan yaitu pada suhu 59.89oC,
selama 5 jam 19 menit dengan jumlah n-heksan 602.41 mL, pada kondisi
tersebut diprediksi akan diperoleh rendemen, γ-oryzanol dan vitamin E minyak
bekatul padi pada titik stasioner berturut-turut sebesar 9.3%, 215.15 mg/L dan
63.89 mg/L. Pada tahap verifikasi diperoleh rendemen, γ-oryzanol, dan vitamin E
minyak bekatul padi berturut-turut sebesar 9.20142%, 203.11mg/L dan 63.9472
mg/L. Selanjutnya, pada tahap II ekstraksi dengan pelarut etanol diperoleh hasil
optimasi kondisi optimum proses ekstraksi minyak bekatul padi pada suhu
62.22oC, selama 5 jam 38 menit dengan jumlah etanol 321.59 mL, pada kondisi
tersebut diprediksi akan diperoleh rendemen minyak bekatul padi pada titik
stasioner sebesar 6.82% dan γ-oryzanol 823.83 mg/L. Pada tahap verifikasi
diperoleh rata-rata rendemen minyak dan γ-oryzanol sebanyak 6.75% dan
804.0415 mg/L. Produk minyak bekatul yang diperoleh mengandung asam lemak
oleat dengan konsentrasi yang tinggi. Adapun sifat fisiko kimia minyak semuanya
berada dalam kisaran yang memenuhi standar.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi FZK, Abolhasan A, Amir H. 2014. Evaluation and Estimation of Mass


Transfer Parameters Influencing Salmon Liver Oil Extraction. Indian J. of
Nat. Sci. Vol 5, Issue 27: 2083-2089.
Abedi, E. and Sahari, MA. 2014. Long-chain polyunsaturated fatty acid sources
and evaluation of their nutritional and functional properties. Food Science
and Nutrition, 2(5): 443-463. DOI:10.1002/fsn3.121.
Akiri SVCR., Sareddy GR., Phanithi PB., Attipalli, RR. 2010. The antioxidant and
antiproliferative activities of methanolic extracts from Njavara rice bran,
BMC Complementary and Alternative Medicine. 10(4), 1 - 9.
Aleksander, S., Malgorzata, N., Elenora, L. 2008. The content and antioxidant
activity of phenoilc compounds in cold pressed plant oils. Journal of Food
Lipids, 15, 137-149. DOI: 10.1111/j.1745-4522.2007.00107.x
Al-Okbi, SY, NM Ammar, DA Mohamed, IM hamed, AH Desoky, HF El bakry, AM
Helal. 2014. egyptian rice bran oil: Chemical analysis of the main
phytochemicals. La rivista Italiana delle sostanze grasse - voL. XCi -
gennaio/Marzo.
AOAC. Association of Official Analytical Chemist. 1995. Official Methods of
Analysis. Washington: Vol IIA. AOAC Inc. 4: 17-19.
Apriyantono A, Dedi F, Ni LP, Sedarnawati, Slamet B, 1989. Analisis Pangan.
Institut Pertanian Bogor (IPB Press), Bogor.
Anwar, F., Tabreez, A., Zahid, M., 2005. Methodical characterization of rice
(Oryza sativa) bran oil from Pakistan. Grasas y Aceites. Vol. 56. Fasc. 2,
125-134.
AACC .American Association of Cereal Chemists. 1995. Approved Method of the
American Association of Cereal Chemists. 9th ed.
Arab, F., I. Alemzadeh, V. Maghsoudi, 2011. Determination of antioxidant
component and activity of rice bran extract Scientia Iranica C, 18 (6),1402-
1406.
Armunanto R. 2001. Analisis RSM. Disarnpaikan pada Kursus singkat RSM tgl.
22 September Z00l di Jurusan PHP Fakultas Teknologi Pertzurian UGM
Yogyakarta.
Arogba SS. 1997. Physical, chemical and functional properties of Nigerian mango
(Mangifera indica) kernel and its processed flour. J sci food agric, 73(3):
321-328.DOI:10.1002/(SICI)1097-0010(199703)73:3<321::AID-
JSFA722>3.0.CO;2-4.
Bas, D., Boyaci I.H. 2007. Modelling and optimization I: Usability of response
surface methodology. J Food Eng. 78: 836-845.
Bopitiya, D., and Madhujith, T. 2014. Antioxidant potential of rice bran oil
prepared from red and white rice. Tropical agricultural research Vol. 26
(1):1-11
Bradley, DG. and David BM. 1992. Singlet oxygen oxidation of foods. Critical
Review Food Science and Nutrition, 31 (3):211-36.
Casas JS., Gordillo C., De M. 2009. Characteristics of virgin olive oils from the
Olive Zone of Extremadura (Spain), and an approximation to their varietal
origin. J. Am. Oil Chem. Soc., 86: 933-940.
Caterina RD, Liao JK., Libby P. 2000. Fatty acid modulation of endothelial
activation 1-3, American Journal of Clinical Nutrition, 71: 213S-223S.
Cheruvanky, R. 2000. Bioactives in rice bran and rice bran oil,” in Phytochemical
s as Bioactive Agents, W. R. Bidlack, S. T. Omaye, M. S. Meskin, D. K. W.
Tophan, Eds. Florida: CRC Press : 213-240.
Cho, JY., Hyoung JK, JaeLee, Gee AK, Gwi DK, You SL, Soo CS, Keun-Hyung PJae-
Hak M. 2012. Quantitative analyses of individual γ-oryzanol (Steryl
Ferulates) in conventional and organic brown rice (Oryza sativa L.).
Journal of Cereal Science 55, 337-343. DOI:
https://doi.org/10.1016/j.jcs.2012.01.005
Choe, E. 2008. Effects and mechanism of minor compounds in oil on lipid
oxidation. CRC Press, Taylor and Francis Group, Boca Raton FL, pp. 449-
474.
Cicero, AFG. and Derosa, G. 2005. Rice bran and its main components, potential
role in the management of coronary risk factors, Current topics in
Nutraceutical research. 3(1), 29 - 46.
CAC (Codex Alimentariuu Commission). 1981. Fats, oils and related products.
Second Edition. Revised 2001. Joint FAO/WHO Food Standard
Programme.
Cordain L, Eaton SB., Miller JB. 2002. The paradoxical nature of hunter-gatherer
diets: Meat-based, yet non-atherogenic. Eur. J. Clin. Nutr., 56: 542- 552.
DOI:10.1038=sj=ejcn=1601353.
Dzisiak D. 2004. New oils reduced saturated and trans fats in processed foods.
Cereal Foods World. 49 (6): 331-333.
Elkhaleefa, A., and Shigidi, I., 2015. Optimization of Sesame Oil Extraction
Process Conditions. Advances in Chemical Engineering and Science, 5,
305-310. http://dx.doi.org/10.4236/aces.2015.53031.
Eithar MB., Hamid MM., Abbelsalam A. 2015. Application of Solvent Extraction
Methods to Extract Edible Oil from Oil Cakes of Peanut, Cottonseed,
Seseame and Sunflower. International Journal of Engineering, Applied and
Management Sciences Paradigms, Vol. 23, Issue 01.
FAO/WHO. 2010. Report of the joint FAO/WHO expert consultation on the risks
and benefits of fish consumption, FAO Fisheries and Acquaculture report.
Frank, T. 2005. Rice bran oil. In F. Shahidi (6th ed.) Bailey’s Industrial oil and fat
products, John Wiley & Sons, Inc. 465 - 489.
Gamse, T., 2002. Liquid-Liquid Extraction and Solid-Liquid Extraction‖, Institute of
Thermal Process and Environmental Engineering, Graz University of
Technology: 2-24.
Gaspersz V. 1995. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Bandung:
Tarsito.
Gopala, KA. G., Khatoon, S., Babylatha, R. 2005. Frying performance of
processed rice bran oils. Journal of Food Lipids. 12, 1-11.
Grist, DH. 1985. Rice (5th ed,), London, UK: Longman
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri. Jilid I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Gul K, Basharat Y, AK. Singh, Preeti S, Ali AW, 2015. Rice bran: Nutritional
values and its emerging potential for development of functional food – a
review. Bioactive Carbohydrates and Dietary Fibre,
http://dx.doi.org/10.1016/j.bcdf.2015.06.002.
Gustone, FD., 2011. Vegetable oils in food technology: Composition, properties
and uses (2nd ed., Willy-Blackwell, CRC Press. pp.291-343.
Gromadzka, J. and Wardencki, W. 2011. Trends in Edible Vegetable Oils
Analysis. Part A. Determination of Different Components of Edible Oils-a
Review, 61(1): 33-43.
Hadipernata M., 2007. Mengolah dedak menjadi minyak (rice bran oil). Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor: Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Pascapanen Pertanian; 29(4):8-10.
Hart DJ. and Scott KJ. 1995. Analysis of carotenoids in foods, and the
measurement of the carotenoid content of vegetables and fruits commonly
consumed in the UK. J. food Chem, 54:101-111.
Hui, YH., 1999. Bailey’s industrial oil and fat products - edible oil and fat products,
Vol. 2, A Wiley- Interscience Publication, New York: 603-75.
Ichihara, K dan Fukubayashi, Y. 2010. Preparation of fatty acid methyl esters for
gas-liquid chromatography. The Journal of Lipid Research, 51(3): 635-640.
DOI: 10.1194/jlr.D001065.
Ishida H, Suzuno H, Sugiyama N, Innami S, Tadokoro T, Maekawa A. 2000.
Nutritive evaluation on chemical components of leaves, stalks and stems of
sweet potatoes (Ipomoea batatas poir). Food Chem, 68(3): 359-367. DOI:
10.1016/S0308-8146(99)00206-X.
Jahurul MHA, Zaidul ISM, Ghafoor K, Al-juhaimi FY, Nyam K, Norulaini NAN,
Sahena F Omar AKM. 2015. Mango (Mangifera indica L.) by-products and
their valuable components : A review. Food Chem, 183: 173-180. DOI:
10.1016/j.foodchem.2015.03.046.
Jayanudin, Ayu ZL, Feni N, 2014. Pengaruh suhu dan rasio pelarut ekstraksi
terhadap rendemen dan viskositas natrium alginate dari rumput laut coklat
(Sargassum sp) . Jurnal Integrasi Proses Vol. 5, No. 1: 51-55.
Juliano, B. 1985. Rice bran. Rice Chemistry and Technology. St. Palu, MN: The
Association of Cereal Chemist, p. 659.
Kahlon TS, Chow EI, Chiu MM. 1996. Cholesterol-lowering by rice bran and rice
bran oil unsaponifiable matter in hamsters. Cereal Chemistry, 73(1): 69-74.
Kaewkool. P. 2011. Characterization of cold pressed organic rice bran oil. As. J.
Food Ag-Ind. 2011, 4(01), 16-21
Keshani, S, Chuah, AL, Nourouzi, MM, Russly, AR, Jamilah, B. 2010.
Optimization of concentration process on pomelo fruit juice using response
surface methodology (RSM). International Food Research Journal 17: 733–
742.
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan, Ed. 1 Jakarta: Universitas
Indonesia press. ISBN: 979-8034-05-8.
Khatoon S. and Gopalakrishna AG. 2004. Fat-soluble nutraceuticals and fatty
acid composition of selected Indian rice varietas. J. of the Am. Oil Chem.
Soc., 81:939-943.
Kim, SM., Hyung, JC., Seung, TL., 2014. Effect of various heat treatments on
rancidity and some bioactive compounds of rice bran. Journal of Cereal
Science 60, 243-248.
Kittiphoom S. 2012. Utilization of Mango Seed. International Food Research
Journal, 19(4): 1325-1335.
Kittiphoom S. and Sutasinee S. 2013. Mango seed kernel oil and its
physicochemical properties. International Food Research Journal, 20(3):
1145-1149.
Koleva, V., and E. Simeonov, 2014. Solid Liquid Extraction of Phenolic and
Flavonoid Compounds from Cotinus coggygria and Concentration by
Nanofiltration. Chem. Biochem. Eng. Q., 28 (4) 545–551. DOI:
10.15255/CABEQ.2014.2006.
Kriengsak, T., Unaroj, B. Kevin, C., Luis, C., David, H.B. 2006. Comparison of
ABTS, DPPH, FRAP, and ORAC assays for estimating antioxidant activity
from guava fruit extracts. Journal of Food Composition and Analysis. 19,
669 - 675.
Krishna, AGG., Khatoon, S, Babylatha, R. 2005. Frying performance of
processed rice bran oils. Journal of Food Lipids, 12(1): 1-11.
DOI:10.1111/j.1745-4522.2005.00001.x.
Kumar HGA, Khatoon S, Prabhakar DS, Krishna AGG. 2006. Effect of cooking of
rice bran on the quality of extracted oil. Journal of Food Lipids, 13: 341-353.
Kaewkool, P., 2011. Characterization of cold pressed organic rice bran oil. As. J.
Food Ag-Ind. 4(01), 16-21
Lamberts L, and JA. Delcour. 2008. Carotenoids in raw and parboiled brown and
milled rice. J. Agric. Food Chem. 24; 56 (24):11914-11919.
Law, M. 2000. Dietary fat and adult diseases and the implications for childhood
nutrition: An Epidemiologic approach. Am. J. Clin. Nutr. 72, 1291-1296.
Lawton CL., Delargy HJ., Brockman J. 2000. The degree of saturation of fatty
acids influences post-ingestive satiety, Br J Nutr, 83(5): 473-482.
DOI:10.1017/S000711450000060X.
Li Y, Ghasemi Naghdi F, Garg S. 2014. A comparative study: the impact of
different lipid extraction methods on current microalgal lipid research,
Microbial cell factories, 13(14): 1-9. DOI:10.1186/1475-2859-13-14.
Liu L., Waters DLE., Rose TJ. 2013. Phospholipids in rice: Significance in grain
quality and health benefits: A review, Food Chemistry, 139(1-4): 1133-1145.
DOI:10.1016/j.foodchem.2012.12.046.
Luque-Rodríguez, J.M, De Castro, M.D.L., Pérez-Juan P. 2005. Extraction of fatty
acids from grape seed by superheated hexane, Talanta, 68(1): 126-130.
DOI:10.1016/j.talanta.2005.04.054
Mani S, Jaya S, Vadivambal R. 2007. Optimization of solvent extraction of
Moringa (Moringa oleifera) seed kernel oil using response surface
methodology. Food and Bioproducts Processing, 85: 328-335.
Massarolo, KC. 2016. Influence of cultivation Rhizopus oryzae on rice bran on
lipid fraction: Fatty acids and phospholipids. Biocatalysis and Agricultural
Biotechnology, 8: 204-208. DOI:10.1016/j.bcab.2016.10.002.
Metcalfe, 1961. The rapid preparation of fatty acid esters for gas
chromatographic analysis. Analytical chemistry, 33(3): 363-364.
DOI:10.1021/ac60171a016.
Michalski MC., Genot C, Gayet C. 2013. Multiscale structures of lipids in foods as
parameters affecting fatty acid bioavailability and lipid metabolism’,
Progress in Lipid Research. Elsevier Ltd, 52(4): 354-373.
DOI:10.1016/j.plipres.2013.04.004.
Minjares-Fuentes R, Femeni A, Garau MC, Meza-Velázquez JA, Simala S,
Rosselló C. 2014. Ultrasound-assisted extraction of pectin from grape
pomace using citric acid: A response surface methodology approach.
Carbohydrate Polymers, 106: 179-189.
Muchiri DR, Mahungu SM, Gituanja SN. 2012. Studies on mango (Mangifera
indica, L.) kernel fat of some Kenyan varieties in Meru. JAOCS, Journal of
the American Oil Chemists’ Society, 89(9): 1567-1575. DOI:
10.1007/s11746-012-2054-6.
Munawaroh, Safaatul, Handayani PS, 2010. Ekstraksi minyak daun jeruk purut
(Citrus hystrix D.C.) dengan Pelarut etanol dan N-Heksana. Jurnal
Kompetensi Teknik, 2 (1): 73-78.
Muntana, N. and Prasong, S., 2010. Study on total phenolic contents and their
antioxidant activity of Thai white, red and black rice bran extracts, Pakistan
Journal of Biological Sciences. 13(4), 170 - 174.
Naz, A., and S. But., 2011. Oxidative stability of wheat germ and rice bran oils in
frying. Internet Journal of Food Safety, Vol. 13, 232-236.
Olajumoke OE. 2013. Extraction and Characterization of Vegetable Oil from
Mango. IOSR Journal of Applied Chemistry, 5(3): 6-8.
Onder, K., Sezai, E., Memnune, S., Celi, T. Sedat, S. 2009.Total phenolics and
antioxidant activity of jujube genotypes selected from Turkey. African
Journal of Biotechnology. 8(2), 303 - 307.
Orsavova J, Misurcova L, Ambrozova JV. 2015. Fatty Acids Composition of
Vegetable Oils and Its Contribution to Dietary Energy Intake and
Dependence of Cardiovascular Mortality on Dietary Intake of Fatty Acids,
International Journal of Molecular Sciences, 16(6): 12871-12890.
DOI:10.3390/ijms160612871.
Oviasogie, P., Okoro, D., Ndiokwere, C. 1985. Determination of total phenolic
amount of some edible fruits and vegetables’, African Journal of
Biotechnology, 8(12), p. 332. doi: 10.4314/ajb.v8i12.60894.
Pascual CSCI, Isabel LM, Fabiana K, Rosa MCB, José AN, Ursula MLM. 2013.
Effects of parboiling, storage and cooking on the levels of tocopherols,
tocotrienols and γ-oryzanol in brown rice (Oryza sativa L.). Food Research
International, 50: 676-681.
Prakash, 2001. Antioxidant Activity. Medallion Laboratories Analytical Progress,
19 (2): 1-4.
PORIM (Palm Oil Research Institute of Malaysia) 2005. PORIM Test Method.
Malaysia: Ministry of Primary Industries: 43-44.
Pourali, O., Feridoun, SA., Hiroyuki, Y., 2009. Simultaneous rice bran oil
stabilization and extraction using sub-critical water medium. Journal of
Food Engineering 95, 510-516. doi : 10.1016/j.jfoodeng.2009.06.014.
Qureshi, AA., Mo, H., Packer, L., Peterson, DM., 2000. Isolation and identification
of novel tocotrienols from rice bran with hypocholesterolemic, antioxidant
and anti tumor properties. Journal of Agricultural and Food Chemistry 48,
3130-3140.
Rafi, NM., Halim, NRA., Amin, AM., Sarbon, NM., 2015. Response surface
optimization of enzymatic hydrolysis conditions of lead tree (Leucaena
leucocephala) seed hydrolyzate. International Food Research Journal
22(3):1015-1023.
Rao, C.V, Hirose Y., Indranie C. 2001. Modulation of Experimental Colon
Tumorigenesis by Types and Amounts of Dietary Fatty Acids 1. Cancer
Research, 61(5): 1927-1933.
Rebecca, K., Gopinath, N., Mario, V. and Anura, V.K., 2005. Use of rice bran oil in
patients with hyperlipidaemia, The National Medical Journal of India. 18(6),
292 - 296.
Rubalya VS., Sahayaraj PA., Prema AA. 2010. Antioxidant stability in palm and
rice bran oil using simple parameters, Rasayan Journal of Chemistry, 3(1):
44-55.
Rubalya, VS and Neelamegam, P. 2012. Antioxidant potential in vegetable oil,
Research Journal of Chemistry and Environment. 2012, 16(2), 87-94.
Rustan AC. and Drevon CA. 2005. Fatty Acids : Structures and Properties,
Encyclopedia of Life Sciences:1-7. DOI:10.1038/npg.els.0003894
Sahena F., Zaidul ISM., Jinap S. 2009. Application of supercritical CO 2 in lipid
extraction - A review, Journal of Food Engineering. Elsevier Ltd, 95(2):
240-253.
Sani I. 2014. Soxhlet extraction and physicochemical characterization of
Mangifera indica L. Seed kernel oil. Research and Reviews: J Food Dairy
Tech. 2(1): 20-24.
Schmid M, Guihéneuf F, Stengel D.B. 2016. Evaluation of food grade solvents for
lipid extraction and impact of storage temperature on fatty acid composition
of edible seaweeds Laminaria digitata (Phaeophyceae) and Palmaria
palmata (Rhodophyta), J. Food Chemistry. 208: 161-168.
DOI:10.1016/j.foodchem.2016.03.123.
Schramm, RC. Alicia M, Na H, Marybeth L, 2007. Fractionation of the rice bran
layer and quantification of vitamin E, oryzanol, protein, and rice bran
saccharide. Journal of Biological Engineering 1(1):9. DOI: 10.1186/1754-
1611-1-9.
Senanayake, SPJN. Shahidi F. 2002. Structured lipids: acydolysis of gamma-
linolenic acid rich-oils with n-3 polyunsaturated fatty acids. Journal of food
lipids. 2002, 4: 309-323. DOI:10.1111/j.1745-4522.2002.tb00228.x.
Sengupta, R and Battaracharya, A. 1996. Enzymatic extraction of mustard seed
and rice bran. JAOCS, 73:687-692.
Shahzad, ASC., Farooq, A. Maleeha, M. Jawad-ur-Rehman, B., 2006. Evaluation
of the antioxidant activity of rice bran extracts using different antioxidant
assays, Grasas Aceites. 57(3), 328 - 335.
Soares BMC., Gamarra FMC., Paviani LC. 2007. Solubility of triacylglycerols in
supercritical carbon dioxide, Journal of Supercritical Fluids, 43(1): 25-31.
DOI:10.1016/j.supflu.2007.03.013.
Subriyer N, Fitriyanti, Hilma K, 2009. Ekstraksi dedak padi menjadi minyak
mentah dedak padi (crude rice bran oil) dengan pelarut n-hexane dan
ethanol. Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16.
Sugano, M. and Hirahara, F. 2000. Polyunsaturated fatty acids in the food chain
in Japan. The American Journal of Clinical Nutrition, 71(1 Suppl): 189S-
193S.
Sukanya M, Aikkarach K, Khongsak S, Riantong S, 2017. Physicochemical and
Antioxidant Properties of Rice Bran Oils Produced from Colored Rice Using
Different Extraction Methods .Journal of Oleo Science. 66, (6) 565-572.
DOI: 10.5650/jos.ess17014.
Suwanna, V, Chittima, M, Lukkhana, I, Wikalda, S, Narisa, K. 2010. Examination
of antioxidant activity and development of rice bran oil and gamma-oryzanol
microemulsion, Journal of Health Research. 24(2), 67 - 72
Stoggl W, C. Huck, S. Wongyai, H. Scherz, G. Bonn. 2005. Simultaneous
determination of carotenoids, tocopherols, and gamma-oryzanol in crude
rice bran oil by liquid chromatography coupled to diode array and mass
spectrometric detection employing silica C30 stationary phases.J. Sep. Sci.
28 (14):1712-1718.
Stroescu M, Stoica-Guzun A, Ghergu S, Chira N, Jipa I. 2013. Optimization of
fatty acids extraction from Portulaca oleracea seed using response surface
methodology. Industrial Crops and Products, 43, 405-411.
Tagora BPS, Rinaldry S, Iriany, 2012. Penentuan Kondisi Keseimbangan Unit
Leaching pada produksi Eugenol dari Daun Cengkeh. Jurnal Teknik Kimia
USU, Vol. 1, No. 1.
Tao J, Rao R, Liuzzo J. 1993. Microwave heating for rice bran stabilization. J.
Microw. Power Electromagn. Energy 28, 156-164
Toscano G, Maldini E. 2007. Analysis of the Physical and Chemical
Characteristics of Vegetable Oils As Fuel. Journal of Ag. Eng., 3: 39-47.
Vercellotti J.R., Stangelo A.J., Spanier A.M. 1992. Lipid Oxidation in Foods - an
Overview, Acs Symposium Series. DOI:10.1021/bk-1992-0500.ch001.
Wang X, Lu J, Liu H. 2016. Improved deacidification of high-acid rice bran oil by
enzymatic esterification with phytosterol, Process Biochemistry. 51(10):
1496-1502. DOI:10.1016/j.procbio.2016.08.013.
Wasinee, K., Ketmanee, W., Artiwan, S. 2008. Value added products from by-
products of rice bran oil processing, Chiang Mai Journal of Science. 35(1),
116 - 122.
Wei-Wen Huang, Wei Wang, Ji-lie Li and Zhong-hai Li, 2013. Study on the
Preparation Process of Rice Bran Oil by the Ultrasonic Enzymatic
Extraction Advance Journal of Food Science and Technology 5(2): 213-216.
Wiyarno, B., RM. Yunus, M. Mel, 2011. Extraction of Algae Oil from
Nannocloropsis sp : Study of Soxhlet and Ultrasonic-assisted Extraction,
Journal of Applied Science, 11 (21): 3607-3612.
Wilson TA., Ausman LM., Lawton CW. 2000. Comparative cholesterol lowering
properties of vegetable oils: beyond fatty acids, Journal of the American
College of Nutrition, 19(5): 601-607.
DOI:10.1080/07315724.2000.10718957.
Xu YX, Hanna MA, Josiah SJ. 2007. Hybrid hazelnut oil characteristics and its
potential oleochemical application. Industrial Crops and Products, 26(1):
69-76. DOI: 10.1016/j.indcrop.2007.01.009.
Yolmeh M, Habibi NM, Farhoosh R. 2014. Optimization of ultrasound-assisted
extraction of natural pigment from annatto seeds by response surface
methodology (RSM). Food Chem, 155: 319-324.
Yi C, Shi J, Kramer J. 2009. Fatty acid composition and phenolic antioxidants of
winemaking pomace powder, Food Chemistry. Elsevier Ltd, 114(2): 570-
576. DOI:10.1016/j.foodchem.2008.09.103.
Zambiazi RZ. 1999. Oxidation reactions of vegetable oils and fats. Revista da
Sociedade Brasiliera de Ciencia Tecnologia de Alimentos, Camphinas, 33
(1): 1-7.
Zambiazi RZ. and Zambiazi MW. 2000. Vegetable oil oxidation: effects of
endogenous components. Revista da Sociedade Brasiliera de Ciencia e
Tecnologia de Alimentos, Camphinas, 34(1): 22-32.
Zhao, Q., JF. Kennedy, X. Wang, 2011. Optimization of Ultrasonic Circulating
Extraction of Polysaccharides from Asparagus Officinalis Using Response
Surface Methodology. International Journal of Biological Macromolecules,
49, 181-187.
Zhen, Licai Z, Shujuan Y, GuoSheng S. 2009. Optimization of extraction of
phenolic compounds from scum using response surface methodology.
International Sugar Journal 111(1321):13-19