Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Periode kehidupan manusia terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya
adalah bayi dan anak. Pada periode tersebut, terjadi perkembangan secara
pesat, sehingga sering disebut periode emas. Perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan dan keterampilan dalam struktur fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil
dari maturasi. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel
tubuh, jaringan tubuh, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian
rupa sehingga amsing-masing memenuhi fungsinya (Nelson, 2014).
Perkembangan adalah suatu perubahan yang bersifat progresif, terarah, dan
koheren. Makna progresif pada perkembangan adalah terdapat hubungan pasti
antara perubahan yang terjadi saat ini, sebelumnya, dan berikutnya.
Dalam proses perkembangan, terdapat beberapa aspek yang mencakup
didalamnya, diantaranya adalah motorik kasar, motorik halus, bahasa,
emosional, dan sosial (Nelson, 2014). Perkembangan mencerminkan maturasi
organ tubuh terutama sistem saraf pusat. Pola perkembangan normal adalah
hasil interaksi banyak faktor, yaitu faktor genetik dan lingkungan, baik
perinatal dan pascanatal. Salah satu bentuk abnormalitas pada pola
perkembangan adalah anak pengalami pola perkembangan terlambat
(developmental delay), dan anak sulit berkembang (developmental disability).
Perkembangan yang terlambat (developmental delay) adalah
ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku,
emosi, atau perkembangan sosial seorang anak bila dibandingkan dengan anak
normal seusianya. Seorang anak dengan developmental delay akan tertunda
dalam mencapai satu atau lebih perkembangan kemampuannya. Apabila
proses perkembangan mencakup lebih dari 2 aspek, maka disebut Global
Developmental Delay (GDD) atau Keterlambatan Perkembangan Global
(KPG). KPG adalah anak yang tertunda dalam mencapai sebagian besar
hingga semua tahapan perkembangan pada usianya. Keterlambatan

1
perkembangan global merupakan keadaan yang terjadi pada masa
perkembangan dalam kehidupan anak. Ciri khas KPG biasanya adalah fungsi
intelektual yang lebih rendah daripada anak seusianya disertai hambatan
dalam berkomunikasi yang cukup berarti, keterbatasan kepedulian terhadap
diri sendiri, keterbatasan kemampuan dalam pekerjaan, akademik, kesehatan
dan keamanan dirinya. Sedangkan developmental disabilities adalah
terganggunya mental maupun fisik anak, bersifat kronis, dan menyebabkan
anak tidak dapat melakukan aktivitasnya sendiri, sehingga memerlukan
pertolongan orang lain. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik membuat
makalah mengenai GDD dan developmental diabilities.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Global Developmental Delay


2.1.1 Definisi
Global developmental delay (GDD) atau Keterlambatan
Perkembangan Global (KPG) adalah keterlambatan yang signifikan pada dua
atau lebih domain perkembangan anak, diantaranya: motorik kasar, halus,
bahasa, bicara, kognitif, personal atau sosial aktivitas hidup sehari-hari. Istilah
KPG dipakai pada anak berumur kurang dari 5 tahun, sedangkan pada anak
berumur lebih dari 5 tahun saat tes IQ sudah dapat dilakukan dengan hasil
yang akurat maka istilah yang dipergunakan adalah retardasi mental (Shavell,
1998). Anak dengan KPG tidak selalu menderita retardasi mental sebab
berbagai kondisi dapat menyebabkan seorang anak mengalami KPG seperti
penyakit neuromuskular, palsi serebral, deprivasi psikososial meskipun aspek
kognitif berfungsi baik. (Vanichell, 2001).

2.1.2 Epidemiologi
Prevalensi KPG sekitar 5-10% pada anak di seluruh dunia, sedangkan
di Amerika Serikat angka kejadian KPG diperkirakan 1%-3% dari anak-anak
berumur<5 tahun (Vanichell, 2001). Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo
Jakarta mendapatkan prevalensi KPG adalah 2,3 %. Etiologi KPG sangat
bervariasi, sekitar 80% akibat sindrom genetik atau abnormalitas kromosom,
asfiksia perinatal, disgenesis serebral dan deprivasi psikososial sedangkan
20% nya belum diketahui (Suwarba dkk, 2008). Sekitar 42% dari etiologi
keterlambatan perkembangan global dapat dicegah seperti paparan toksin,
deprivasi psikososial dan infeksi intra uterin, serta asfiksia perinatal (Shavell,
2003).
Menurut penelitian Deborah M dkk, prevalensi KPG di Poliklinik
Anak RSUP Sanglah adalah 1,8% dan sering ditemukan pada anak berumur
lebih dari 12 bulan (67%). Rasio laki-laki dan perempuan hampir sama 1:1,12.
Keluhan terbanyak adalah belum bisa berbicara pada 16 (24%), belum bisa

3
berbicara dan berjalan pada 14 (21%), serta belum bisa berjalan pada 12
(18%) pasien. Didapatkan 20% BBLR dan BBLSR, ibu berpendidikan
menengah ditemukan pada 68% kasus. Karakteristik klinis didapatkan 30%
gizi kurang, 29% mikrosefali, 20% dicurigai suatu sindrom. Evaluasi
perkembangan menunjukkan 40 (60%) terlambat pada seluruh sektor
perkembangan. Etiologi ditemukan pada 61% dengan penyebab terbanyak
adalah kelainan majemuk, hipotiroid, serebral disgenesis, palsi serebral.

2.1.3 Etiologi
KPG dapat merupakan manifestasi yang muncul dari berbagai kelainan
neurodevelopmental (mulai dari disabilitas belajar hingga kelainan
neuromuskular. Tabel berikut memberikan pendekatan beberapa etiologi KPG:
Tabel 1. Penyebab KPG menurut Forsyth dan Newton, 2007 (dikutip dari Walters AV, 2010)

Kategori Komentar
Genetik atau Sindromik  Sindrom yang mudah diidentifikasi, misalnya
Teridentifikasi dalam 20% dari mereka yang Sindrom Down
tanpa tanda-tanda neurologis, kelainan  Penyebab genetik yang tidak terlalu jelas pada

dismorfik, atau riwayat keluarga awal masa kanak-kanak, misalnya Sindrom


Fragile X, Sindrom Velo-cardio-facial (delesi
22q11),Sindrom Angelman, Sindrom Soto,
Sindrom Rett, fenilketonuria maternal,
mukopolisakaridosis, distrofi muskularis tipe
Duchenne, tuberus sklerosis, neurofibromatosis
tipe 1, dan delesi subtelomerik.
Metabolik  Skrining universal secara nasional neonatus
Teridentifikasi dalam 1% dari mereka yang untuk fenilketonuria (PKU) dan defisiensi acyl-
tanpa tanda-tanda neurologis, kelainan Co A Dehidrogenase rantai sedang.
dismorfik, atau riwayat keluarga  Misalnya, kelainan siklus/daur urea
Endokrin  Terdapat skrining universal neonatus untuk
hipotiroidisme kongenital
Traumatik  Cedera otak yang didapat
Penyebab dari lingkungan  Anak-anak memerlukan kebutuhan dasarnya
seperti makanan, pakaian, kehangatan, cinta,
dan stimulasi untuk dapat berkembang secara
normal
 Anak-anak tanpa perhatian, diasuh dengan
kekerasan, penuh ketakutan, dibawah stimulasi
lingkungan mungkin tidak menunjukkan
perkembangan yang normal
 Ini mungkin merupakan faktor yang
berkontribusi dan ada bersamaan dengan

4
patologi lain dan merupakan kondisi yaitu
ketika kebutuhan anak diluar kapasitas
orangtua untuk dapat
menyediakan/memenuhinya
Malformasi serebral  Misalnya, kelainan migrasi neuron
Palsi Serebral dan Kelainan Perkembangan  Kelainan motorik dapat mengganggu
Koordinasi (Dispraksia) perkembangan secara umum
Infeksi  Perinatal, misalnya Rubella, CMV, HIV
 Meningitis neonatal
Toksin  Fetus: Alkohol maternal atau obat-obatan saat
masa kehamilan
 Anak: Keracunan timbal

2.1.4 Deteksi Dini


Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan
pencapaian perkembangan tiap anak berbeda. Kisaran waktu pencapaian tiap
tahap perkembangan umumnya cukup besar, misalnya seorang anak dikatakan
normal jika ia dapat berjalan mulai usia 10 hingga 18 bulan, sehingga
seringkali terjadi perbedaan perkembangan di antara anak yang seusia. Untuk
itu, orang tua perlu mengenal tanda bahaya (red flag) perkembangan
anak.9 Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami keterlambatan
perkembangan umum, perlu data atau laporan atau keluhan orang tua dan
pemeriksaan deteksi dini atau skrining perkembangan pada anak.
Deteksi dini merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara
komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan
mengetahui serta mengenal faktor resiko pada anak usia dini. Melalui deteksi
dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini,
sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat
diberikan dengan indikasi yang jelas pada masa proses tumbuh kembang.
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu
penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan (Depkes, 2005).
Secara umum, keterlambatan perkembangan umum pada anak dapat
dilihat dari beberapa tanda bahaya (red flags) perkembangan anak sederhana
seperti yang tercantum di bawah (IDAI, 2013).
Tanda bahaya perkembangan motor kasar
1. Gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota
tubuh bagian kiri dan kanan.

5
2. Menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga
lebih dari usia 6 bulan
3. Hiper / hipotonia atau gangguan tonus otot
4. Hiper / hiporefleksia atau gangguan refleks tubuh
5. Adanya gerakan yang tidak terkontrol
Tanda bahaya gangguan motor halus
1. Bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan
2. Adanya dominasi satu tangan (handedness) sebelum usia 1 tahun
3. Eksplorasi oral (seperti memasukkan mainan ke dalam mulut) masih
sangat dominan setelah usia 14 bulan
4. Perhatian penglihatan yang inkonsisten
Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)
1. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan
terhadap suatu benda pada usia 20 bulan
2. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
3. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan
Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)
1. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi,
misalnya saat dipanggil tidak selalu member respons
2. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau
ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan
3. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan
Tanda bahaya gangguan sosio-emosional
1. 6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain
2. 9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
3. 12 bulan: tidak merespon panggilan namanya
4. 15 bulan: belum ada kata
5. 18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura
6. 24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti
7. Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan
bersosialisasi / interaksi
Tanda bahaya gangguan kognitif

6
1. 2 bulan: kurangnya fixation
2. 4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda
3. 6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara
4. 9 bulan: belum babbling seperti ‘mama’, ‘baba’
5. 24 bulan: belum ada kata berarti
6. 36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata

Berbagai metode skrining yang lebih mutakhir dan global untuk deteksi
dini gangguan bicara juga dikembangkan dengan menggunakan alat bantu atau
panduan skala khusus, misalnya: menggunakan DDST (Denver
Developmental Screening Test – II), Child Development Inventory untuk
menilai kemampuan motorik kasar dan motorik halus, Ages and Stages
Questionnaire, Parent’s Evaluations of Developmental Status.Serta dapat
menggunakan alat-alat skrining yang lebih Spesifik dan khusus yaitu ELMS
(Early Language Milestone Scale) dan CLAMS (Clinical Linguistic and
Milestone Scale) yang dipakai untuk menilai kemampuan bahasa ekspresif,
reseptif, dan visual untuk anak di bawah 3 tahun (Stour dkk, 2006).

2.1.5 Gejala Klinis


Mengetahui adanya KPG memerlukan usaha karena memerlukan
perhatian dalam beberapa hal. Padahal beberapa pasien seringkali merasa
tidak nyaman bila di perhatikan. Akhirnya membuat orang tua sekaligus
dokter untuk agar lebih jeli dalam melihat gejala dan hal yang dilakukan oleh
pasien tersebut. Skrining prosedur yang dilakukan dokter, dapat membantu
menggali gejala dan akan berbeda jika skrining dilakukan dalam sekali
kunjungan dengan skrining dengan beberapa kali kunjungan karena data
mengenai panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan berat badan.
Mengacu pada pengertian KPG yang berpatokan pada kegagalan
perkembangan dua atau lebih domain motorik kasar, motorik halus, bicara,
bahasa, kognitif, sosial, personal dan kebiasaan sehari-hari dimana belum
diketahui penyebab dari kegagalan perkembangan ini. Meurut First dan Palrey
(1994) dan Stour dkk (2006), terdapat hal spesifik yang dapat mengarahkan

7
kepada diagnosa klinik KPG terkait ketidakmampuan anak dalam
perkembangan milestones yang seharusnya, yaitu:
1. Anak tidak dapat duduk di lantai tanpa bantuan pada umur 8 bulan
2. Anak tidak dapat merangkak pada 12 bulan
3. Anak memiliki kemampuan bersosial yang buruk
4. Anak tidak dapat berguling pada umur 6 bulan
5. Anak memiliki masalah komunikasi
6. Anak memiliki masalah pada perkembangan motorik kasar dan halus

2.1.6 Diagnosis
A. Anamnesis
Dokter memulai anamnesis dengan mendengarkan penjelasan
orangtua secara seksama tentang perkembangan anaknya. Orang tua
dapat mencatat setiap keterlambatan perkembangan, perubahan tubuh
dan kurang responsifnya anak tersebut, sehingga perlu perhatian khusus.
Tiap orangtua tentunya memiliki daerah perhatian yang berbeda.
Penggalian anamnesis secara sistematis meliputi, resiko biologi akibat
dari gangguan prenatal atau perinatal, perubahan lingkungan akibat salah
asuh, dan akibat dari penyakit primer yang sudah secara jelas
terdiagnosis saat infant.

Tabel 2. Anamnesis Keterlambatan Perkembangan Global menurut First Lewis dan Judith, 1994

8
Contoh, dari pandangan biologi, infant dengan berat badan lahir
rendah seringkali beresiko terhadap angka kejadian perdarahan
intraventrikel, sepsis atau meningitis, gangguan metabolik, dan defisit
nutrisi yang dapat secara langsung memengaruhi perkembangan otak.
Anak dengan resiko lingkungan termasuk didalamnya ibu yang masih
muda dan tidak berpengalaman serta ibu yang tidak sehat secara individu
atau kekurangan finansial. Anak yang hidup dalam keluarga bermasalah
akibat obat-obatan terlarang, minuman keras dan kekerasan sering
menyebabkan hasil buruk. Anak dengan faktor resiko kondisi medis
seperti myelomeningocele, sensorineural deafness, atau trisomy 21
diketahui memiliki hubungan dengan keterlambatan perkembangan
anak. Perhatian saat ini sering pula akibat dari infeksi virus HIV.
Kurangnya motorik milestones, peubahan perilaku, atau kognitif buruk
serta perubahan fungsi serebelum dalam tahun pertama sering
dihubungkan dengan HIV (Srour dkk, 2006).

B. Pemeriksaan Fisik

9
Faktor risiko untuk keterlambatan dapat dideteksi dari
pemeriksaan fisik. Pengukuran lingkar kepala (yang mengindikasikan
mikrosefali atau makrosefali) adalah bagian penting dalam pemeriksaan
fisik. Perubahan bentuk tubuh sering dihubungkan dengan kelainan
kromosom, atau faktor penyakit genetik lain sulit dilihat dalam
pemeriksaan yang cepat (First & Palrey, 1994). Sebagai tambahan,
pemeriksaan secara terstruktur dari mata, yaitu fungsi penglihatan dapat
dilakukan saat infant, dengan menggunakan pemeriksaan sederhana
seperti meminta mengikuti arah cahaya lampu. Saat anak sudah
memasuki usia pre-school, pemeriksaan yang lebih mendalam
diperlukan seperti visus, selain itu pemeriksaan saat mata istirahat
ditemukan adanya strabismus. Pada pendengaran, dapat pula dilakukan
test dengan menggunakan brain-stem evoked potentials pada infant. Saat
umur memasuki 6 bulan, kemampuan pendengaran dapat dites dengan
menggunakan peralatan audiometri. Pada usia 3-4 tahun, pendengaran
dapat diperiksa menggunakan audiometer portable. Pemeriksaan telinga
untuk mencari tanda dari infeksi otitis media menjadi hal yang penting
untuk dilakukan karena bila terjadi secara kontinyu akan menyebabkan
gangguan pendengaran ringan. Pemeriksaan kulit secara menyeluruh
dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit ektodermal seperti
tuberous sklerosis atau neurofibromatosis yang dihubungkan dengan
delay. Pemeriksaan fisik juga harus meliputi pemeriksaan neurologi yang
berhubungan dengan perkembangan seperti adanya primitive reflek,
yaitu moro reflex, hipertonia atau hipotonia, atau adanya gangguan tonus
(Srour dkk, 2006).

C. Pemeriksaan Penunjang
Secara umum, pemeriksaan laboratorium untuk anak dengan
kemungkinan gangguan perkembangan tidak dibedakan dengan tes
skrining yang dilakukan pada anak yang sehat. Hal ini penting dan
dilakukan dengan periodik. Menurut Menkes (1990), beberapa
pemeriksaan penunjangnya antara lain:
a. Skrining metabolik

10
Skrining metabolik meliputi pemeriksaan: serum asam amino,
serum glukosa, bikarbonat, laktat, piruvat, amonia, dan creatinin
kinase. Skrining metabolik rutin untuk bayi baru lahir dengan
gangguan metabolisme tidak dianjurkan sebagai evaluasi inisial
pada KPG. Pemeriksaan metabolik dilakukan hanya bila
didapatkan riwayat dari anamnesis atau temuan pemeriksaan fisik
yang mengarah pada suatu etiologi yang spesifik. Sebagai
contohnya, bila anak-anak dicurigai memiliki masalah dengan
gangguan motorik atau disabilitas kognitif, pemeriksaan asam
amino dan asam organik dapat dilakukan. Anak dengan gangguan
tonus otot harus diskrining dengan menggunakan kreatinin
phospokinase atau aldolase untuk melihat adanya kemungkin
penyakit muscular dystrophy.
b. Tes sitogenetik
Tes sitogenetik rutin dilakukan pada anak dengan KPG meskipun
tidak ditemukan dismorfik atau pada anak dengan gejala klinis
yang menunjukkan suatu sindrom yang spesifik. Uji mutasi Fragile
X, dilakukan bila adanya riwayat keluarga dengan KPG. Meskipun
skrining untuk Fragile X lebih sering dilakukan anak laki-laki
karena insiden yang lebih tinggi dan severitas yang lebih buruk,
skrining pada wanita juga mungkin saja dilakukan bila terdapat
indikasi yang jelas. Diagnosis Rett syndrome perlu
dipertimbangkan pada wanita dengan retardasi mental sedang
hingga berat yang tidak dapat dijelaskan.
c. Skrining tiroid
Pemeriksaan tiroid pada kondisi bayi baru lahir dengan hipotiroid
kongenital perlu dilakukan. Namun, skrining tiroid pada anak
dengan KPG hanya dilakukan bila terdapat klinis yang jelas
mengarahkan pada disfungsi tiroid.
d. EEG
Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada anak dengan KPG yang
memiliki riwayat epilepsia tau sindrom epileptik yang spesifik

11
(Landau-Kleffner). Belum terdapat data yang cukup mengenai
pemeriksaan ini sehingga belum dapat digunakan sebagai
rekomendasi pemeriksaan pada anak dengan KPG tanpa riwayat
epilepsi.
e. Imaging
Pemeriksaan imaging direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin
pada KPG (terlebih bila ada temuan fisik berupa mikrosefali). Bila
tersedia MRI harus lebih dipilih dibandingkan CT scan jika sudah
ditegakkan diagnosis secara klinis sebelumnya.

2.1.7 Penatalaksanaan
Pengobatan bagi anak-anak dengan KPG hingga saat ini masih belum
ditemukan. Hal itu disebabkan oleh karakter anak-anak yang unik, dimana
anak-anak belajar dan berkembang dengan cara mereka sendiri berdasarkan
kemampuan dan kelemahan masing-masing. Sehingga penanganan KPG
dilakukan sebagai suatu intervensi awal disertai penanganan pada faktor-
faktor yang beresiko menyebabkannya. Intervensi yang dilakukan, antara lain:
1. Speech and Language Therapy
Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan
kondisi CP, autism, kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara, berbahasa dan
oral motoric abilities. Metode yang dilakukan bervariasi tergantung
dengan kondisi dari anak tersebut. Salah satunya, metode menggunakan
jari, siulan, sedotan atau barang yang dapat membantu anak-anak untuk
belajar mengendalikan otot pada mulut, lidah dan tenggorokan. Metode
tersebut digunakan pada anak-anak dengan gangguan pengucapan.
Dalam terapi ini, terapis menggunakan alat-alat yang membuat anak-
anak tertarik untuk terus belajar dan mengikuti terapi tersebut.

2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih
mandiri dalam menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak,

12
tugas mereka antara bermain, belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari
seperti mandi, memakai pakaian, makan, dan lain-lain. Sehingga anak-
anak yang mengalami kemunduran pada kemampuan kognitif, terapi ini
dapat membantu mereka meningkatkan kemampuannya untuk
menghadapi permasalahannya.
3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan
halus, keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya.
Kemampuan motorik kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot
yang besar seperti berguling, merangkak, berjalan, berlari, atau
melompat. Kemampuan motorik halus yakni menggunakan otot yang
lebih kecil seperti kemampuan mengambil barang. Dalam terapi, terapis
akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari fungsi, kekuatan,
daya tahan otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya. Pada
pelaksanaannya, terapi ini dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang
berada dekat dengan anak tersebut. Sehingga terapi ini dapat mencapai
tujuan yang diinginkan.
4. Behavioral Therapies
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada
dirinya dan memiliki efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap
agresif atau buruk seperti melempar barang-barang, menggigit, menarik
rambut, dan lain-lain. Behavioral therapy merupakan psikoterapi yang
berfokus untuk mengurangi masalah sikap dan meningkatkan
kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan
terapi yang lain dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini bertolak
belakang dengan terapi kognitif. Hal itu terlihat pada terapi kognitif yang
lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang mempengaruhi sikap
tertentu, sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan mengubah
dan mengurangi sikap-sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis
mengkombinasikan kedua terapi tersebut, yang disebut cognitive-
behavioural therapy.

13
2.1.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak-anak dengan KPG, yakni
kemunduran perkembangan pada anak-anak yang makin memberat. Jika tidak
tertangani dengan baik, dapat mempengaruhi kemampuan yang lain,
khususnya aspek psikologi dari anak itu sendiri. Salah satunya, anak akan
mengalami depresi akibat ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi
permasalahannya. Sehingga anak itu dapat bersikap negatif atau agresif.

2.1.9 Prognosis
Prognosis KPG pada anak-anak dipengaruhi oleh pemberian terapi dan
penegakkan diagnosis lebih dini (early identification and treatment). Dengan
pemberian terapi yang tepat, sebagian besar anak-anak memberikan respon
yang baik terhadap perkembangannya. Walau beberapa anak tetap menjalani
terapi hingga dewasa. Hal tersebut karena kemampuan anak itu sendiri dalam
menanggapi terapinya. Beberapa anak yang mengalami kondisi yang progresif
(faktor-faktor yang dapat merusak sistem saraf seiring berjalannya waktu),
akan menunjukkan perkembangan yang tidak berubah dari sebelumnya atau
mengalami kemunduran. Sehingga terapi yang dilakukan yakni meningkatkan
kemampuan dari anak tersebut untuk menjalani kesehariannya (Depkes,
2006).

2.2 Developmental Disabilities


2.2.1 Definisi
Developmental disabilities adalah sekumpulan gejala yang ditandai
dengan adanya gangguan fisik, belajar, kemampuan berbahasa, dan perilaku.
Keadaan ini sering dikaitkan dengan penyakit genetik.

2.2.2 Etiologi
Etiologi pasti dari terjadinya developmental disabilities belum
diketahui secara pasti pada banyak kasus, namun sering dikaitkan dengan

14
faktor genetik. Pada lebih dari 1000 kasus, anak dengan gangguan genetik
juga menderita developmental disabilities. Contoh peran genetik dan mutasi
kromosom pada developmental disabilities adalah:
1. Fragile X Syndrome (FXS)
Sindrom Fragile X sering menyebabkan developmental disabilities
pada area intelektual dan disertai autisme.
2. Sindroma Down (Trisomi 21)
Pada sindroma down, keadaan dengan tiga buah autosom pada
kromosom 21, ternyata berdampak pada perkembangan tubuh dan
otak, sehingga menyebabkan gangguan pada fisik serta mental
penderitanya.
3. Pervasive Developmental Disorder (PDD)
PDD adalah sekolompok developmental disabilities yang
menyebabkan gangguan pada aspek sosial, komunikasi, dan perilaku.
4. Cerebral Palsy
Cerebral palsy adalah sekelompok gejala yang dapat menyebabkan
gangguan pada postur tubuh dan keseimbangan, menyebabkan
disabilitas pada are motorik.

2.2.3 Diagnosis
Developmental disabilities dapat ditegakkan bila anak tidak dapat mencapai
perkembangan optimal sesuai umurnya (developmental stages). Terdapat
rumus yang dapat menentukan apakah perkembangan anak sudah sesuai atau
belum:
Developmental age
DQ = x 100%
Chronological age

2.2.4 Tatalaksana
Tatalaksana pada developmental disabilies bertujuan supaya anak dapat
memiliki activity daily living (ADL) yang baik, dengan cara:

15
1. Speech and Language Therapy
Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan
kondisi CP, autism, kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara, berbahasa dan
oral motoric abilities. Metode yang dilakukan bervariasi tergantung
dengan kondisi dari anak tersebut. Salah satunya, metode menggunakan
jari, siulan, sedotan atau barang yang dapat membantu anak-anak untuk
belajar mengendalikan otot pada mulut, lidah dan tenggorokan. Metode
tersebut digunakan pada anak-anak dengan gangguan pengucapan.
Dalam terapi ini, terapis menggunakan alat-alat yang membuat anak-
anak tertarik untuk terus belajar dan mengikuti terapi tersebut.
2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih
mandiri dalam menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak,
tugas mereka antara bermain, belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari
seperti mandi, memakai pakaian, makan, dan lain-lain. Sehingga anak-
anak yang mengalami kemunduran pada kemampuan kognitif, terapi ini
dapat membantu mereka meningkatkan kemampuannya untuk
menghadapi permasalahannya.
3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan
halus, keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya.
Kemampuan motorik kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot
yang besar seperti berguling, merangkak, berjalan, berlari, atau
melompat. Kemampuan motorik halus yakni menggunakan otot yang
lebih kecil seperti kemampuan mengambil barang. Dalam terapi, terapis
akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari fungsi, kekuatan,
daya tahan otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya. Pada
pelaksanaannya, terapi ini dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang
berada dekat dengan anak tersebut. Sehingga terapi ini dapat mencapai
tujuan yang diinginkan.
4. Behavioral Therapies

16
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada
dirinya dan memiliki efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap
agresif atau buruk seperti melempar barang-barang, menggigit, menarik
rambut, dan lain-lain. Behavioral therapy merupakan psikoterapi yang
berfokus untuk mengurangi masalah sikap dan meningkatkan
kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan
terapi yang lain dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini bertolak
belakang dengan terapi kognitif. Hal itu terlihat pada terapi kognitif yang
lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang mempengaruhi sikap
tertentu, sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan mengubah
dan mengurangi sikap-sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis
mengkombinasikan kedua terapi tersebut, yang disebut cognitive-
behavioural therapy.

DAFTAR PUSTAKA

17
Fenichel GM. Psychomotor retardation and regression. Dalam: Clinical Pediatric
Neurology: A signs and symptoms approach. Edisi ke-4.Philadelphia: WB
Saunders; 2001.h.117–47.

First LR, Palrey JS. Current Concepts: The Infant or Young Child with
Developmental Delay. The New England Journal of Medicine 1994; 7478-
483.

Melati D, Windiani IGAT, Soetjiningsih. Karakteristik Klinis Keterlambatan


Perkembangan Global Pada Pasien di Poliklinik Anak RSUP Sanglah
Denpasar. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana Bali

Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak. Ikatan Dokter Anak


Indonesia. Indonesia. [Available from]: URL: http //idai.or.id/public-
articles/seputar-kesehatan-anak/mengenal-keterlambatan-perkembangan-
umum-pada-anak.html.

Menkes JH. Textbook of Child Neurology. 4th. ed. Philadelphia: Lea & Febiger
1990; 306-311.

Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang


Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan RI.
2005.

Shevell M, Ashwal S, Donley D, Flint J, Gingold M, Hirzt D, dkk. Practice


parameter: Evaluation of the quality standards subcommittee of the
American Academy of Neurology and the practice committee of the child
neurology society. Neurology 2003;60:67-80.

Shevell MI. The evaluation of the child with a global developmental delay.
Seminar Pediatric Neurology. 1998;5:21–26.

Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Dalam: RanuhIGN, penyunting. Tumbuh


kembang anak. Jakarta: EGC; 1995. h. 1-32.

Srour M, Mazer B, Shevell MI. Analysis of clinical features predicting etiologic


yield in the Assessment of global development delay. Pediatrics
2006;118:139-45.
Suwarba IGN, Widodo DP, Handryastuti RAS. Profil klinis dan etiologi pasien
keterlambatan perkembangan global di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta. Sari Pediatri 2008;10:255-61.

Walters AV. Development Delay: Causes and Identification. ACNR 2010;


10(2);32-4.

18
19