Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH CAIR

Uji Kadar Biological Oxygen Demand (BOD)


Dosen Pembimbing : Ir. Endang Kusumawati, M.T

Kelompok/Kelas : I / 3A-TKPB
Anggota : 1. Abdul Faza M (151424001)
2. Afifah Nur Aiman (151424002)
3. Agus Hermawan (151424003)

Tanggal Praktikum : 21-26 Maret 2018


Tanggal Pengumpulan Praktikum : Maret 2018

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kasus-kasus pencemaran perairan, baik itu laut, sungai, danau maupun
waduk, seringkali diberitakan bahwa nilai BOD dan COD perairan telah melebihi baku
mutu. Atau sebaliknya, pada kasus pencemaran lainnya yang mendapat protes dari
masyarakat sehubungan dengan adanya limbah industri, ditanggapi dengan dalih bahwa
nilai BOD dan COD perairan masih memenuhi baku mutu. Dalam salah satu harian
(Kompas edisi Senin, 12 Desember 1994) juga terdapat suatu berita dengan judul
“Sebaiknya, parameter BOD dan COD tak dipakai penentu baku mutu limbah” yang
kurang lebih merupakan pendapat dari salah satu pakar bioremediasi lingkungan dari
Universitas Sriwijaya, Palembang. Menurut pakar tersebut, dalam banyak kasus
kesimpulan yang hanya didasarkan pada hasil analisis BOD dan COD (juga pH) belum
merupakan jawaban ada tidaknya pencemaran lingkungan oleh suatu industri.
Di sisi lain, BOD dan COD adalah parameter yang menjadi baku mutu berbagai
air limbah industri selain beberapa parameter kunci lainnya. Nampaknya terdapat
persepsi pada sementara kalangan yang menempatkan BOD dan COD agak berlebihan
dari yang seharusnya. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam tulisan ini akan dikaji apa
itu sebenarnya BOD dan COD, bagaimana cara atau prinsip pengukurannya, dan apakah
memang sebaiknya tidak dipakai sebagai penentu baku mutu air limbah.

1.2 Tujuan Praktikum

- Menentukan DO pada sampel limbah baik sebelum maupun sesudah inkubasi


- Menentukan nilai BOD dari suatu sampel
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian BOD


BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang
menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya
bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik
(Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991).
Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi
dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable
organic matter).
Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon
terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertian-pengertian ini
dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk
mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai
(biodegradable organics) yang ada di perairan
.
2.2 Metode Pengukuran BOD

Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur


kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan contoh,
kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi
selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20 oC) yang sering disebut dengan DO5.
Selisih DOi dan DO5 (DOi - DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram
oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara
titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan menggunakan alat yang disebut DO
meter yang dilengkapi dengan probe khusus.
Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang
menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang tetap selama lima hari, diharapkan hanya
terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah
penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Yang penting diperhatikan
dalam hal ini adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari
kelima sehingga DO5 tidak nol. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan.
Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu mengingat
kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga kemungkinan diperlukan
penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau penambahan populasi bakteri. Pengenceran
dan/atau aerasi diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Secara
rinci metode pengukuran BOD diuraikan dalam APHA (1989), Umaly dan Cuvin, 1988;
Metcalf & Eddy, 1991) atau referensi mengenai analisis air lainnya.
Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan organik,
maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Oksidasi biokimia adalah proses
yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik karbon mencapai 95 – 99 %,
dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 % bahan organik telah terdekomposisi (Metcalf
& Eddy, 1991). Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD.
Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda,
asalkan dengan menyebutkan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal
BOD7, BOD10) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur
20 oC dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard. Temperatur 20 oC adalah
nilai rata-rata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang (Metcalf &
Eddy, 1991) dimana teori BOD ini berasal.
Untuk daerah tropik seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah
tepat. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar antara 25 – 30 oC, dengan
temperatur inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga
lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan. Ini adalah salah satu
kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama tersebut.

2.3 Baku Mutu Air Limbah

Dalam rangka konservasi lingkungan, pemerintah telah menetapkan baku mutu


limbah cair yang dihasilkan oleh berbagai industri dan kegiatan lainnya dalam suatu Surat
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dalam suratKEP-51/MENLH/10/1995
(Ekonorma, 1996) ditetapkan baku mutu limbah cair dari 21 jenis kegiatan industri, yang
meliputi:
• Industri Soda Kostik • Tekstil • Industri Bir
• Pelapisan Logam • Pupuk Urea • Sabun, Deterjen & Prod.
• Penyamakan Kulit • Ethanol Minyak Nabati
• Minyak Sawit • Msg • Baterai Kering
• Pulp Dan Kertas • Kayu Lapis • Industri Cat
• Karet • Susu Dan Makanan • Farmasi, Dan
• Gula Dari Susu • Industri Pestisida.
• Tapioka • Minuman Ringan
Selain itu juga telah ditetapkan baku mutu limbah cair atau air limbah kegiatan-
kegiatan lainnya seperti:
- kegiatan perhotelan (KEP-52/MENLH/10/1995),
- kegiatan rumah sakit (KEP-58/MENLH/12/1995),
- kegiatan minyak dan gas serta panas bumi (KEP-42/MENLH/10/1996),
- kegiatan domestik (Kep. MENLH No. 112 Tahun 2003), dan
- baku mutu air limbah kegiatan pertambangan batu bara (Kep. MENLH No. 113
Tahun 2003).
Di antara berbagai kegiatan tersebut hanya kegiatan industri soda kaustik,
pelapisan logam, eksplorasi dan produksi panas bumi, pengilangan LNG dan LPG
terpadu, serta kegiatan penambangan dan pengolahan batu bara yang baku mutu air
limbahnya tidak menggunakan parameter BOD dan COD. Pada industri dan
kegiatan lainnya, baku mutu air limbahnya menggunakan BOD dan COD, di
samping pH, TSS dan parameter kunci lainnya.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat Bahan
- Gelas ukur 1000ml (1 buah) - Aquadest
- Gelas Kimia 100 ml (2 buah), 600 ml (2 - Sample air limbah
buah) - Larutan KmnO4 0.01 N
- Labu Erlenmeyer 250ml (2 buah) - Larutan H2SO4 6N
- Botol BOD (6 buah) - Larutan CaCl2
- Pipet tetes (1 buah) - Larutan FeCl3
- Bola hisap (1 buah) - Larutan MgSO4
- Pipet volume 1 ml, 5ml, 10ml (1 buah) - Larutan asam oksalat 0.01N
- Buret 600 ml (2 buah) - Larutan buffer fosfat
- Batang Pengaduk (1 buah) - Cairan bibit seed/mikroba
- Hot Plate (1 buah) - Larutan MnSO4 0.1N
- Batu didih (3 buah) - Larutan TiSO4
- Botol Semprot (1 buah) - Larutan Kanji
- Corong (1 buah) - Pereaksi O2
- Kertas saring (2 buah)

3.2 Pereaksi
 Air suling yang tidak boleh mengandung Cu lebih dari 0.01 mh/L, khlor, khloramin,
alkali, zat organik atau asam.
 Larutan buffer phosfat
 Larutan garam-garam berikut dan encerkan dengan air suling steril:
 8.5 g KH2PO4
 21.8 g K2HPO4
 33.4 g Na2HPO4
 3.2 g KNO3
 Campurkan larutan –larutan tersebut dan encerkan dengan air suling hingga 1000 ml
 Larutan Magnesium Sulfat : larutkan 22,5 g MgSO4.7H2O dalam air suling hingga 1
liter
 Larutan Ferri Klorida : larutkan 0,25 g FeCl3.6H2O dalam air suling hingga I liter
 Larutan Kalsium Klorida : larutkan 27.5 CaCl2 andhydrous dalam air suling hingga 1
liter
 Larutan Natrium Hidroksida 1 N : larutkan 40 g NaOH dalam air suling hingga 1 liter
 Larutan Asam khlorida 1 N : encerkan 84 ml HCL 35% dengan air suling hingga 1
liter
3.3 Prosedur Kerja

 Pembebasan Reduktor dari Labu Erlenmeyer

3 butir batu didih

100 ml air kran


Pencampuran di
5 mL H2SO4 6 N dalam erlenmeyer

KMnO4 0,01 N

Pemanasan selama 10 menit

Cairan di buang (setelah warna KMnO4 tidak hilang)

 Penetapan Angka KMnO4

10 mL sample
Pemanasan
sampai terjadi gelembung cairan
90 mL aquadest dalam
erlenmeyer tadi
10 mL H2SO4 6 N

Pendidihan selama 10 mL Asam


10 mL KMnO4 0,01 oksalat 0.01 N
10 menit
N

Titrasi dengan KMnO4 0,01 Catat KMnO4 yang


N dibutuhkan
 Penentuan faktor ketelitian KMnO4

10 mL Asam Pencampuran dengan


oksalat 0.01 N cairan bekas pemeriksaan

Titrasi dengan KMnO4 0.01 N sampai merah


muda

Catat KMnO4 yang digunakan

 Pembuatan Pengencer

1 mL larutan CaCl2

1 mL larutan FeCl3
Pencampuran
1 mL larutan MgSO4 dalam 1 L aquadest

1 mL cairan bibit/seed
aquadest

Aerasi selama 30 menit


 Pengenceran

Pengenceran
sample pengencer
(P1, P2, P3)

Botol pertama: Botol kedua :


Ditetapkan langsung Dimasukan ke dalam
oksigen terlarutnya inkubator 200C selama 7
hari

Tetapkan langsung
oksigen terlarutnya pada
hari ketujuh

Penetepan BOD untuk air


pengencernya
 Penetapan Oksigen Terlarut Metode Winkler

1 mL larutan MnSO4 Pencampuran dalam


Botol BOD kocok
1 mL pereaksi O2

Biarkan 10 menit
1 mL H2SO4 pekat 1 mL H2SO4 pekat

Tuangkan ke dalam 2/3 dalam botol


Erlenmeyer sampai 1/3
isi botol

Titrasi dengan thiosulfate 1/80 N samapai


warna cairan menjadi kuning jerami

Penambahan larutan kanji dan titrasi sampai


tepat warna biru hilang

Catat ml thiosulfate yang dibutuhkan


BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


A. Penentuan Angka KMnO4
1) Vol KMnO4 yang terpakai saat titrasi (a) = 16 ml
2) Faktor koreksi (f) = 0,645
𝒎𝒈 𝑚𝑔
3) ⁄𝑳 𝑲𝑴𝒏𝑶𝟒 = 214 ⁄𝐿

B. Penentuan Pengenceran
Tabel 4.1. Tabel Penentuan Volume Larutan yang ditambahkan pada BOD
Volume Botol Volume Sampel Volume Pengencer
Sampel
BOD (ml) (ml) (ml)
BOD0 Blanko 308 - 308
BOD0 sampel 1 250 5,8 244,2
BOD0 sampel 2 250 5,8 244,2
BOD5 Blanko 308 - 308
BOD5 sampel 1 250 5,8 244,2
BOD0 sampel 2 250 5,8 244,2

C. Penentuan Oksigen Terlarut


Tabel 4.2. Tabel Nilai Dissolved Oxygen
Volume Botol Total Volume Rata- Dissolved
No. Sampel
BOD (ml) rata Thiosulfat (ml) Oxygen (ppm)
BOD0 Blanko
1 308 22 5.7516
(C)
BOD0 Sampel
2 250 16.55 5.3387
Duplo (A)
BOD5 Blanko
4 308 11.5 3.0065
(D)
BOD5 Sampel
5 250 9.925 3.2016
Duplo (B)

D. Penentuan BOD
BOD = [P (A-B)] – (C-D)
= [5 (5.3387-3.2016)] – (5.7516 - 3,0065)
= 7.9404 mg/L
4.2 Pembahasan
A. Pembahasan Oleh Abdul Faza

Pada praktikum Analisis Biochemical Oxygen Demand (BOD) ini air baku
yang digunakan berasal dari proses pengolaan lumpur aktif yang ada di
Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung. Praktikum ini bertujuan
untuk menentukan angka KMnO4 dalam praktikum, mengukur banyaknya oksigen
dalam sejumlah sampel limbah tertentu sebelum di inkubasi (BOD0) maupun
sesudah diinkubasi selama 5 hari (BOD5) menggunakan metode Winkler, serta
mengetahui pengaruh waktu inkubasi terhadap nilai BOD.

Pratikum dimulai dengan membuat melakukan pembebasan reduktor pada labu


erlenmeyer dengan tujuan untuk menghilangkan zat-zat pengotor atau zat yang
bersifat reduktor akan ikut bereaksi dengan KMnO4 yang dapat mereduksi
permanganat menjadi mangan oksida. Pembebasan reduktor dilakukan dengan
menambahkan 100 ml air keran dan ditambahkan 10 ml larutan H2SO4 6N.
Bertujuan membuat suasana asam dan panas karena dalam keadaan tersebut,
KMnO4 akan mengoksidasi secara optimal zat reduktor yang menempel pada
Erlenmeyer, sehingga zat reduktor yang menempel pada Erlenmeyer akan
teroksidasi. Reaksi yang terjadi yaitu:

MnO4- + 8H+ + 5e  Mn2+ + 4H2O

Erlenmeyer yang sudah terbebas dari reduktor dilakukan penetapan angka


KMnO4 untuk menentukan jumlah sampel dan jumlah pengencer yang akan
ditambahkan. Angka KMnO4 ini juga menunjukkan jumlah zat organik yang
terkandung dalam sampel air limbah. Dengan mengetahui jumlah zat organik dalam
sampel air limbah maka kebutuhan oksigen yang diperlukan dapat ditentukan
sehingga bisa didapatkan pengenceran yang mendekati. Hal tersebut dilakukan
dengan penambahan 10 ml sampel, 90 ml aquadest dan 10 ml H2SO4 yang bertujuan
untuk mempercepat reaksi dalam erlenmeyer. Kemudian dipanaskan setelah
terbentuk gelembung ditambah 10 ml KmnO4 sebagai oksidator untuk
mengoksidasi zat organik warnanya berubah dari bening menjadi pink. Setelah
dipanaskan selama 10 menit, ditambahkan asam oksalat berlebih, dimana sisa asam
oksalat akan bereaksi dengan KMnO4 pada titrasi. Reaksi yang terjadi yaitu:

Zat organik + KmnO4  CO2 + H2O


2KMnO4 + 5H2C2O4 +3 H2SO4  2MnSO4 + 10 CO2 + K2SO4

Kemudian dilakukan penentuan faktor ketelitian KMnO4 agar hasil yang diperoleh
lebih teliti. Hasil titrasi sebelumnya ditambahkan lagi dengan asam oksalat dan
dititrasi dengan KMnO4. Dari hasil percobaan didapatkan angka KMnO4 yang
dihasilkan dari sampel air limbah adalah sebesar 214 mg/L yang artinya dibutuhkan
sebanyak 214 mg KMnO4 untuk mengoksidasi zat organik dalam 1 L sampel air
limbah. Sedangkan berdasarkan PP. No. 20 tahun 1990, angka KMnO4 tidak boleh
lebih dari 10 mg/L sehingga air sampel limbah ini termasuk air yang tercemar.

Pada penentuan nilai DO dilakukan dengan metode winkler dimana dapat


teramati jumlah oksigen yang terlarut dalam sampel dilakukan titrasi dengan larutan
Thiosulfat (Na2S2O3). Ditambahkan MnSO4 dan pereaksi oksigen sebelum
dilakukan titrasi sampel yang telah dicampurkan dengan pengencer pada tabung
BOD.Penambahan tersebut bertujuan untuk mengikat oksigen terlarut sehingga
menghasilkan endapan MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada keadaan
alkali, sehingga terjadi endapan MnO2. Selanjutnya ditambahkan H2SO4 pekat
sebanyak 1 ml untuk membebaskan kembali molekul iodium yang ekuivalen
dengan jumlah oksigen terlarut. Reaksi yang terjadi yaitu:

MnSO4 + 2NaOH  Mn(OH)2 + Na2SO4


Mn(OH)2 + ½ O2  MnO2 + H2O
Dari hasil percobaan didapatkan nilai DO pada sampel DO0 sebesar 5.7516
mg/L dan blanko0 sebesar 5.3387 mg/L. Setelah 5 hari didapatkan nilai DO pada
sampel DO5 sebesar 3.2016 mg/L dan blanko5 sebesar 3.0065 mg/L. Nilai DO pada
hari ke-5 lebih kecil daripada nilai DO pada hari ke-0. Hal ini dikarenakan
berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam sampel setelah diinkubasi selama 5
hari pada suhu 20 oC. Oksigen terlarut digunakan oleh mikroba untuk mendegradasi
bahan organik yang terkandung di dalam sampel.

Dari data hasil percobaan didapatkan nilai BOD terukur sebesar 7.94 mg/L. Hal
ini berarti 7.94 mg oksigen akan dihabiskan oleh mikroorganisme dalam 1 L sampel
air limbah selama waktu 5 hari pada suhu 20 oC. Nilai ini masih memenuhi nilai
baku standar yang ditetapkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang
menyatakan bahwa nilai BOD minimum yang harus tersedia pada air adalah lebih
dari 2 mg/L.

B. Pembahasan Oleh Afifah Nur Aiman


Pada praktikum ini dilakukan uji kadar BOD pada suatu sampel dengan
menggunakan metode winkler. Kadar BOD perlu untuk diketahui karena nilai BOD
digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat pencemaran air, semakin
tinggi nilai BOD maka semakin tinggi pencemaran air senyawa organic. Sampel
yang digunakan merupakan limbah yang diolah didalam tangki lumpur aktif yang
ada di Lab. Pengolahan Limbah secara aerobik dengan memanfaatkan kerja
mikroba aktif yang menggunakan oksigen bebas untuk medegradasi material
organic menjadi CO2, H2O dan sel biomassa baru. Oksigen bebas diperoleh dari
proses aerasi yaitu udara disalurkan melalui pompa (difusi) ke dalam tangki lumpur
aktif.
Untuk mengetahui oksigen yang diperlukan oleh mikroba maka ditentukan
nilai DO awal dan DO setelah diinkubasi selama 5 hari, Selisih DO yang dihasilkan
adalah oksigen yang diperlukan oleh mikroba. Fungsi penyimpanan dalam
incubator adalah sampel disimpan dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses
fotosintesis yang mampu menghasilka oksigen dalam suhu yang tetap dalam waktu
lima hari, diharapkan hanya terjadi proses degradasi oleh mikroorganime, sehingga
yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa merupakan DO5.
Pada tahap pertama dilakukan pembebasan reduktor oleh KMnO4 di dinding
Erlenmeyer untuk mengurangi atau menghilangkan zat lain yang dapat
mempengaruhi hasil analisa karena partikel yang bersifat reduktor akan ikut
bereaksi dengan KMnO4 pada titrasi sehingga dapat berpengaruh untuk penetapan
angka KMnO4 sehingga volume KMnO4 lebih banyak dari yang seharusnya. Pada
tahap ini diperlukan penambahan H2SO4 pekat dan diberikan pemanasan.
Penambahan H2SO4 bertujuan untuk memberi suasana asam dan juga sebagai
katalis. Suasana asam dan panas yang diberikan tersebut akan mengoptimalkan atau
mempercepat proses oksidasi zat reduktor yang menempel pada dinding erlenmeyer
oleh KMnO4. Apabila setelah pemanasan selama 10 menit atau saat mencapai titik
didih warna KMnO4 tetap maka dapat dipastikan zat reduktor yang menempel pada
dinding erlenmeyer telah teroksidasi. Reaksi yang terjadi yaitu:
MnO4 - + 8H++ 5e → Mn2++ 4H2O
Tahap kedua adalah penetapan angka KMnO4. Angka KMnO4 ini digunakan
untuk menentukan jumlah pengencer dan jumlah sampel yang akan ditambahkan
untuk diuji kadar BOD nya. Dari angka KMnO4 ini, dapat diketahui jumlah zat
organik dalm sampel sehingga kebutuhan oksigen dapat diketahui pula. Agar
analisa lebih teliti maka dilakukan faktor ketelitian KMnO4. Penetapan faktor
ketelitian KMnO4 bertujuan untuk mendapatkan tingkat ketelitian yang baik pada
percobaan dimana hasil titrasi KMnO4 sebelumnya ditambahkan kembali dengan
asam oksalat dan dititrasi dengan KMnO4 Pada tahap ini reaksi yang terjadi adalah:

2KMnO4+ 5H2C2O4 + 3 H2SO4 → 2MnSO4 + 10 CO2 + K2SO4


Dari percobaan yang dilakukan, didapatkan volume KMnO4 sebesar 16 ml
dan faktor ketelitian KMnO4 sebesar 0,645 ml sehingga didapatkan angka KMnO4
dari sampel sebesar 214 mg/L. Nilai ini menunjukkan bahwa untuk mengoksidasi
1 liter sampel zat organic, dibutuhkan 214 mg KMnO4. Dari nilai tersebut dapat
diketahui nilai pengenceran yang dilakukan adalah P2 dengan 5 kali pengenceran.
Dengan perbandingan sampel dan pengencer yang dimasukan dapat dilihat pada
Tabel 4.1. Pengencer berfungsi sebagai nutrisi mikroba untuk mengoksidasi bahan
organik yang ada dalam sampel. Fungsi dari aerasi pada pembuatan pengencer
adalah sebagai pengadukan serta untuk menambahkan oksigen kedalam larutan
pengencer agar kebutuhan oksigen terpenuhi.
Setelah ditentukan jumlah sampel dan pengencer baik pada sampel duplo
maupun blanko, dilakukan tahap ketiga yaitu penetapan DO. Larutan Blanko hanya
berisi pengencer saja, sedangkan sampe 1 dan 2 berisi air baku dan pengencer
sedangkan pada larutan sampel, diisi air baku dari tangka lumpur aktif dan
pengencer. Botol BOD yang berisi larutan tersebut sebagian diuji nilai DO0 nya dan
yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20oC yang nantinya sebagai DO5.
Untuk DO0, larutan sampel yang telah dicampur dengan pengencer serta
blanko ditambahkan 1 mL MnSO4 dan 1 mL pereaksi oksigen. MnSO4 yang
ditambahkan dalam keadaan basa akan membentuk endapan MnO2 yang berwarna
kecoklatan,
MnSO4 + 2NaOH  Mn(OH)2 + Na2SO4
Mn(OH)2 + ½ O2  MnO2 + H2O
Setelah itu larutan ditambahkan H2SO4 sehingga endapan MnO2 yang
terbentuk larut kembali. Kemudian larutan ditirasi dengan Na2S2O3 hingga larutan
berwarna kuning jerami lalu ditambahkan beberapa tetes larutan kanji yang sudah
dipanaskan dan kembali dititrasi dengan Na2S2O3 hingga tidak berwarna (bening).
Dari data percobaan yang didapat, DO0 sampel adalah sebesar 5.7516 mg/L, serta
DO0 pada blanko sebesar 5.3387 mg/L. Pada hari kelima DO larutan blanko adalah
3.0065 mg/L sedangkan 3.2016 mg/L. Nilai DO pada larutan yang telah diinkubasi
selama lima hari (BOD5) lebih rendah dari pada nilai DO larutan BOD0. Hal ini
menunjukkan bahwa selama inkubasi terjadi proses degradasi oleh mikroorganisma
dimana kandungan senyawa organic maupun anorganik yang ada dalam limbah
teroksidasi dengan bantuan oksigen
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat diketahui bahwa nilai BOD sampel
sebesar 7.9404 mg/L. artinya 7.9404 mg oksigen akan dihabiskan oleh mikroba
dalam 1 liter air selama waktu lima hari pada suhu 20oC. Menurut literature, BOD
pada air bersih tidak boleh lebih dari 10 ppm. Sehingga dapat dikatakan bahwa
sampel air limbah ini tidak tercemar.

C. Pembahasan Oleh Agus Hermawan


Pembebasan senyawa reduktor
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan nilai BOD dari suatu
sampel. Tetapi, hal pertama yang harus dilakukan adalah pembebasan zat reduktor
dari wadah yang berupa erlenmeyer. Erlenmeyer yang telah dibebaskan dari zat
reduktornya akan dipakai dalam salah satu proses yang terdapat didalam penentuan
nilai BOD suatu sampel. Adapun fungsi pembebasan zat reduktor agar reduktor
yang terdapat dierlenmeyer tersebut tidak mempengaruhi proses penentuan angka
KMnO4. Adapun angka KMnO4 adalah parameter jumlah zat organik yang
terkandung didalam sampel. Pembebasan zat reduktor ini dengan menambahkan
KMnO4 dan H2SO4 lalu dipanaskan. Proses pemanasan dapat meningkatkan
keoptimalisasian KMnO4 dalam mengoksidasi senyawa reduktor. Jika warna
KMnO4 tersebut masih tetap berwarna merah muda, itu berarti senyawa reduktor
sudah hilang.

Penentuan angka KMnO4

Setelah erlenmeyer tadi sudah bebas dari senyawa reduktor, lalu dilakukan
penentuan nilai KMnO4. Angka KMnO4 ini digunakan untuk menentukan
komposisi volume pengencer dengan volume sampel. Angka KMnO4 ini pun
digunakan untuk menentukan jumlah senyawa organik yang terkandung didalam
sampel, dimana setelah mengetahui jumlah senyawa organic yang terkandung
didalam sampel maka kebutuhan oksigen yang ditentukan dapat ditentukan.
Adapun berdasarkan hasil praktikum, angka KMnO4 yang diperoleh adalah 214
mg/l yang artinya dibutuhkan sebanyak 214 mg KMnO4 untuk mengoksidasi
senyawa organik didalam setiap 1 liter sampel (air limbah). Sedangkan menurut
standar (PP No. 20 Tahun 1990) zat organik (KMnO4) tidak boleh melebihi 10 mg/l,
dapat dikatakan air sampel sangat tercemar zat organic karena angka KMnO4 yang
dihasilkan jauh diatas standar yang telah ditetapkan.

Perbandingan pengender dengan sampel

Angka KMnO4 senilai 214 mg/l adalah diantara 100-300 maka


pengenceran yang dilakukan adalah sebanyak 5 kali. Adapun perbandingan antara
volume pengencer dengan volume sampel adalah 244,3 ml : 5,8 ml. Larutan
pengencer adalah aquadest yang dicampurkan dengan nutrisi lalu diberi oksigen
terlarut. Penambahan pengencer adalah sebagai makan mikroba sehingga mikroba
tersebut mempunyai energi untuk mengoksidasi senyawa organik yang terdapat
didalam sampel.

Proses Analisa (Penentuan DO)

Karena proses penentuan nilai BOD membutuhkan waktu selama 5 hari,


jadi praktikan membuat sampel duplo (DO0 dan DO5), DO0 dianalisa pada hari yang
sama saat melakukan awal praktikum dan DO5 dianalisa setelah 5 hari. Dari kedua
sampel tersebut masing-masing terdapat larutan blanko yang berisi pengencer saja.
Pada DO0, oksigen terlarut pada sampel duplo (5,3387 ppm) lebih rendah
dibandingkan dengan nilai oksigen terlarut pada blanko (5,7516 ppm), hal ini
dikarenakan pada sampel duplo kandungan zat organiknya lebih tinggi sehingga
mikroba lebih oksigen yang digunakan pun jauh lebih banyak dibandingkan pada
blanko. Tetapi pada DO5, oksigen terlarut pada blanko (3,0065 ppm) lebih rendah
dari pada sampel duplo (3,2016 ppm).

Dapat dilihat antara nilai DO pada sampel duplo DO0 sampai DO5
mengalami penurunan, jika dalam bentuk persentase penurunannya sekitar 40%
5,3387−3,2016
( 𝑥 100%). Pada literatur yang ada selisih antara DO0 dan DO5 harus
5,3375
dalam rentang 40%-70% dan nilai DO terakhir (DO5) harus diatas 0,5 mg/l atau 0,5
ppm. Jika dibandingkan dengan literatur, maka hasil praktikum sudah memenuhi
standar yang ada. Artinya kinerja mikroba untuk mengoksidasi senyawa organik
sudah optimal.

BOD (Biological Oxygen Demand)

Hasil praktikum menunjukkan bahwa BOD yang teranalisa adalah 7,9404


mg/l artinya mikroba memerlukan oksigen sebesar 7,9404 mg untuk mengoksidasi
senyawa organik didalam 1 liter air limbah (sampel). Batas maksimal BOD yang
dapat ditoleransi didalam air adalah 10 mg/l (ppm), dapat dikatakan air sampel yang
digunakan sebagai bahan baku analisa BOD ini tidak tercemar karena kadar BOD
yang terkandung masih dibawah batas maksimal.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
1) Nilai DO larutan blanko awal adalah 5.7516 mg/L dan larutan sampel duplo sebesar
5.3387 mg/L. Setelah inkubasi , nilai DO larutan blanko adalah 3.0065 mg/L dan
larutan sampel sebesar 3,2016mg/L
2) Dari hasil analisa BOD ini dihasilkan nilai BOD sebesar 0,4558 mg/L atau 0,4558
ppm , artinya 0,4558 miligram oksigen akan dihabiskan oleh mikroba dalam 1 liter
air

5.2 Saran
Pada praktikum ini disarankan untuk memperhatikan keselamatan kerja karena
menggunakan larutan pekat yang berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004. Tentang
: Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.
Haryadi, Sigit. 2004. BOD DAN COD Sebagai Parameter Pencemaran Air Dan Baku Mutu
Air Limbah (online). Pengantar Filsafat Sains. Sekolah Pascasarjana/S3. Bogor:
Institut Pertanian Bogor. http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/ sigid_ hariyadi.
pdf (Diakses pada 23 Maret 2018)

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (Do) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (Bod) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan (online)
http://oseanografi.lipi.go.id (Diakses pada 23 Maret 2018)
SAWYER, C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental Engineering. 3rd
ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.
LAMPIRAN

A. Penentuan Angka KMnO4


4) Vol KMnO4 yang terpakai saat titrasi (a) = 16 ml
10 10
5) Faktor koreksi (f) = = 15,5 = 0,645
𝑚𝑙 𝐾𝑀𝑛𝑂4
𝑚𝑔 1000
6) ⁄𝐿 𝐾𝑀𝑛𝑂4 = 𝑥 [(10 + 𝑎)𝑓 − 10]𝑥 0,01 𝑥 31,6
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
1000
= 𝑥 [(10 + 16)0,645 − 10]𝑥 0,01 𝑥 31,6
10
𝑚𝑔
= 214 ⁄𝐿
B. Penentuan Pengenceran

𝑚𝑔
Nilai angka KMnO4 214 berada diantara 100-300 ⁄𝐿 => P2 maka dilakukan 5 kali
pengenceran.
214
P2 = = 42,8 ≈ 43
5

Botol BOD sampel 1 1 bagian sampel


dan 2 (250 ml)
Volume sampel : 1⁄43 𝑥 250 𝑚𝑙 = 5,8 𝑚𝑙

42 bagian pengencer

Volume pengencer 42⁄43 𝑥 250 𝑚𝑙 = 244,2𝑚𝑙

Untuk larutan blanko, ukuran botol BOD adalah 308 ml sehingga pengencer yang
ditambahkan sebanyak 308 mL.

Tabel 1. Tabel Penentuan Volume Larutan yang ditambahkan pada BOD

Volume Botol BOD Volume Sampel Volume Pengencer


Sampel
(ml) (ml) (ml)
BOD0 Blanko 308 - 308
BOD0 sampel 1 250 5,8 244,2
BOD0 sampel 2 250 5,8 244,2
BOD5 Blanko 308 - 308
BOD5 sampel 1 250 5,8 244,2
BOD0 sampel 2 250 5,8 244,2
C. Penentuan Oksigen Terlarut

Tabel 2. Data Pengamatan Penentuan BOD

Volume Thiosulfat (mL)


Volume Total
Sebelum Ditambah Setelah Ditambah
Botol Volume
No. Sampel Amilum Amilum
BOD Thiosulfat
Erlen Botol Erlen Botol
(mL) Jumlah Jumlah (ml)
meyer BOD meyer BOD
1 BOD0 Blanko 308 4.5 12.7 17.2 0.7 4.1 4.8 22
2 BOD0 Sampel 1 250 2.5 10.2 12.7 1.2 1.8 3 15.7
3 BOD0 Sampel 2 250 3.6 10.1 13.7 1.2 2.5 3.7 17.4
4 BOD5 Blanko 308 2.55 6.25 8.8 0.8 1.9 2.7 11.5
5 BOD5 Sampel 1 250 2.1 5.9 8 0.5 2.8 3.3 11.3
6 BOD5 Sampel 2 250 2.1 5.1 7.2 0.5 0.85 1.35 8.55

Menentukan Dissolved oxygen dengan menggunakan persamaan


𝟏𝟎𝟎𝟎 𝒙 𝒗𝒐𝒍 𝒕𝒉𝒊𝒐 𝒙 𝑵 𝒕𝒉𝒊𝒐 𝒙 𝟖
𝒑𝒑𝒎 𝑶𝟐
(𝒗𝒐𝒍 𝒃𝒐𝒕𝒐𝒍 − 𝟐𝒎𝒍)
Dimana, Konsentrasi thiosulfat = 0,01 N

Tabel 3. Tabel Nilai Dissolved Oxygen

Total Volume
Volume Botol Dissolved
No. Sampel Rata-rata
BOD (ml) Oxygen (ppm)
Thiosulfat (ml)
1 BOD0 Blanko (C) 308 22 5.7516
2 BOD0 Sampel Duplo (A) 250 16.55 5.3387
4 BOD5 Blanko (D) 308 11.5 3.0065
5 BOD5 Sampel Duplo (B) 250 9.925 3.2016

D. Penentuan BOD
BOD = [P (A-B)] – (C-D)
= [5 (5.3387-3.2016)] – (5.7516 - 3,0065)
= 7.9404 mg/L
II. Gambar Pengamatan

Penentuan Angka KMnO4 Penentuan Angka KMnO4

Penentuan Angka KMnO4 Penambahan MnSO4 dan pereaksi O2

Penambahan H2SO4 Titrasi dengan Thiosulfat

Titrasi dengan Thiosulfat (setelah


Setelah Penambahan Amilum ditambah amilum