Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOKIMIA
PERCOBAAN KE V

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI


DAUN SEREH (Cymbopogon winterianus)

DISUSUN OLEH

Nama : Annisaa Dwinur Hasanah

NIM : 1606067005

Gol/Kel. : A/1

Tanggal : 4 Juni 2018

Dosen : Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FITOKIMIA

AKADEMI FARMASI INDONESIA YOGYAKARTA

2018
HALAMAN PENGESAHAN DAN PERNYATAAN

Laporan Praktikum Fitokimia Percobaan Ke V dengan Judul Isolasi dan Identifikasi


Minyak Atsiri dari Daun Sereh (Cymbopogon winterianus) adalah benar dan sesuai dengan hasil
praktikum yang telah dilaksanakan. Laporan ini saya susun sendiri berdasarkan data hasil
praktikum yang telah dilakukan.

Yogyakarta, 9 Juli 2018

Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt Annisaa Dwinur Hasanah

Data Laporan
Hari, Tanggal Praktikum Hari, Tanggal Pengumpulan Laporan
Senin, 4 Juni 2018 Senin, 9 Juli 2018

Nilai Laporan
No Aspek Penilaian Nilai
1. Ketepatan waktu pengumpulan (10)
2. Kesesuaian laporan dengan format (5)
3. Kelengkapan dasar teori (15)
4. Skematika kerja (10)
5. Penyajian hasil (15)
6. Pembahasan (20)
7. Kesimpulan (10)
8. Penulisan daftar pustaka (5)
9. Uplod data via blog/wordpress/scribd/academia.edu (10)
TOTAL
PERCOBAAN V. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI
DARI DAUN SEREH (Cymbopogon winterianus)

I. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami prinsip isolasi minyak atsiri dan dapat mengerjakan
isolasi beserta identifikasinya.

II. Dasar Teori


A. Destilasi
Distilasi adalah metode yang paling populer, banyak digunakan dan hemat biaya
untuk memproduksi minyak atsiri di seluruh dunia. Penguapan dan isolasi
menggunakan destilasi tanaman aromatik dari membran sel tanaman dengan adanya
kelembaban dilakukan dengan cara pemanasan suhu tinggi, kemudian pendinginan
campuran uap untuk memisahkan minyak dari air atas dasar immiscibility (tidak
campur) dan densitas antara minyak dan air.
Pemilihan proses ekstraksi minyak atsiri pada umumnya mempertimbangkan hal
berikut:
1. Sensitivitas minyak atsiri terhadap panas dan air
2. Volatilitas minyak atsiri
3. Kelarutan minyak atsiri dalam air
Minyak atsiri dengan kelarutan tinggi dalam air dan yang rentan terhadap panas
tidak dapat didestilasi. Selain itu, minyak atsiri harus mudah menguap pada destilasi
uap. Sebagian besar minyak atsiri dalam perdagangan bersifat mudah menguap, cukup
stabil terhadap panas dan praktis tidak larut dalam air;,sehingga cocok untuk diproses
oleh destilasi uap.

B. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah istilah yang digunakan untuk minyak mudah menguap.
Umumnya tidak berwarna akan tetapi bila dibiarkan lebih lama warnanya berubah
menjadi kecoklatan karena terjadi oksidasi. Umumnya larut dalam pelarut organik dan
tidak larut dalam air. Sebagian besar minyak atsiri terdiri dari persenyawaan hidrogen
asiklik dan hidrokarbon isosiklik serta hidrokarbon yang mengikat oksigen seperti
alkohol, fenol dan eter (Miranti,2009).

C. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu.
Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fasa tetap
(stationary) dan fasa gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari
dua fasa tersebut. Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat
dari fasa tetap, yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat
maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal sebagai
kromatografi partisi. Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua
ada empat macam sistem kromatografi yaitu kromatografi serapan yang terdiri
dari kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion, kromatografi padat,
kromatografi partisi dan kromatografi gas-cair serta kromatografi kolom kapiler
(Hostettmann,dkk, 1995).
Kromatografi lapisan tipis digunakan pada pemisahan zat secara cepat, dengan
menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada
lempeng kaca. Lempeng yang dilapisi dapat dianggap sebagai kolom kromatografi
terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan, pembagian atau gabungannya,
tergantung dari jenis zat penyerapnya dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan
jenis pelarut. Kromatografi lapisan tipis dengan menyerap penukar ion dapat digunakan
untuk pemisahan senyawa polar. Harga Rf yang diperoleh pada kromatografi lapisan
tipis tidak tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas.
Karena itu pada lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa
perlu dibuat kromatogram dari zat pembanding kimia, lebih baik dengan kadar yang
berbeda-beda (Depkes RI, 1980)
hRf : adalah pembanding jarak perambatan suatu zat terhadap jarak perambatan
fase gerak dihitung dari titik penutulan (penetesan) larutan, dikalikan
dengan angka 100. hRf yang dinyatakan dengan dua bilangan
menunjukan lebar bercak yang bersangkutan.
hRx : adalah perbandingan jarak perambatan suatu zat dengan jarak perambatan
zat warna dihitung dari titik penutulan (penetesan) larutan, dikalikan
dengan angka 100. hRx yang dinyatakan dengan dua bilangan
menunjukan lebar bercak yang bersangkutan.

D. Daun Sereh
Sereh (Cymbopogon winterianus) merupakan tanaman berupa rumput-rumputan
tegak, dan mempunyai akar yang sangat dalam dan kuat. Tanaman sereh dapat hidup
pada daerah yang udaranya panas maupun dingin. Minyak sereh wangi yang sering
disebut juga sebagai minyak sitronelal, merupakan minyak hasil ekstraksi dengan
metode destilasi uap dari daun dan batang tanaman. Komponen kimia dalam minyak
sereh wangi adalah sitronelal dan geraniol
III. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Seperangkat alat destilasi
2. Timbangan
3. Kertas saring
B. Bahan
1. Daun sereh (Cymbopogon winterianus)
2. Minyak citronella
3. Aquadest
4. Natrium Sulfat

IV. Skematika Kerja


A. Isolasi

Potongan daun sereh


Labu destilasi
Air 500 ml

Proses destilasi
selama 3 jam

Minyak

Natrium sulfat

Minyak atsiri Air

B. Identifikasi
Hasil Ekstrak
diteteskan

Kertas Saring

Noda

Positif mengandung
minyak
V. Hasil Praktikum
Nama simplisia : Cymbopogon winterianus
Berat simplisia : 100 gr
Pelarut : Aquadest
Jumlah pelarut : 500 ml
Metode : destilasi
Suhu : 800C ± 100
Waktu ekstraksi : 2 jam
Warna ekstrak : jernih tidak berwarna

Hasil uji noda

Citronella ekstrak
VI. Pembahasan
Praktikum fitokimia ini bertujuan agar dapat memahami prinsip isolasi minyak
atsiri dan dapat mengerjakan isolasi beserta identifikasinya. Isolasi minyak atsiri dilakukan
dari daun sereh (Cymbopogon winterianus) yang segar.
Minyak atsiri merupakan minyak yang umumnya dihasilkan dari tumbuh-
tumbuhan. Minyak atsiri memiliki ciri-ciri yaitu mudah menguap pada suhu kamar dan
memiliki aroma yang wangi sesuai dengan tumbuhan penghasilnya. Sebagian besar
minyak atsiri berfungsi sebagai antibakteri dan antijamur.
Pada minyak atsiri yang bagian utamanya adalah terpenoid, biasanya terpenoid itu
terdapat pada fraksi minyak atsiri yang tersuling uap. Zat inilah penyebab wangi, harum,
atau bau yang khas pada banyak tumbuhan. Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah
menguap pada suhu kamar tanpa melalui dekomposisi, mempunyai rasa getar.
Pada praktikum ini, minyak atsiri diisolasi dari daun sereh. Sereh merupakan salah
satu jenis rumput-rumputan yang sudah dibudidayakan di Indonesia. Sereh merupakan
jenis tanaman tahunan yang membentuk rumpun tebal dengan tinggi sampai 2 meter.
Tanaman ini tumbuh baik didaerah yang udaranya panas maupun basah. Bahan kimia yang
terpenting dalam minyak sereh adalah persenyawaan aldehid dengan nama sitronelal dan
persenyawaan alkohol yaitu geraniol.
Proses untuk mendapatkan minyak atsiri dari daun sereh pada praktikum ini
digunakan metode isolasi dengan destilasi. Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair
dari campurannya dengan berdasarkan perbedaan titik didih atau titik cair dari masing-
masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua tahap
proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap
menjadi cair atau padatan.
Proses destilasi pada praktikum ini berjalan selama 2 jam. Sebanyak 100 gr daun
sereh yang telah dipotong kasar dimasukkan kedalam labu alat destilasi dan diberi air
sebanyak 500 ml. Minyak atsiri yang didapat dari praktikum ini hanya sedikit dan masih
bercampur dengan air, sehingga sulit dipisahkan.
Cara penyulingan menggunakan uap ini memisahkan minyak atsiri dari daun sereh
dengan jalan memasukannya ke dalam ketel penyulingan, kemudian ditambahkan sejumlah
air dan dididihkan, atau uap air panas dialirkan kedalam alat penyuling tersebut. Campuran
uap yang terdiri dari uap air dan uap minyak selanjutnya akan mengalir menuju kondensor
untuk dicairkan kembali dengan sistem pendinginan dari luar. Kondensat yang keluar dari
kondensor ditampung dalam tabung pemisah (decanter) agar terjadi pemisahan (dekontasi)
antara minyak atsiri dan air suling.
Hasil isolasi diidentifikasi dengan uji noda. Beberapa tetes ekstrak diletakkan di
kertas saring bersama dengan standar citronella, kemudian ditunggu mengering. Hasil dari
kertas saring tersebut menunjukkan bahwa dalam ekstrak mengandung minyak atsiri
walaupun dalam jumlah sedikit.
Sedikitnya minyak atsiri yang dihasilkan kemungkinan disebabkan karena
beberapa hal diantaranya pengaturan suhu destilasi yang kurang tepat. Minyak memiliki
titik didih yang lebih rendah dari pada air, sehingga jika suhu terlalu tinggi maka
kemungkinan air yang akan lebih cepat menguap. Selain itu disebabkan karena proses
destilasi yang kurang maksimal dan kurang lamanya proses destilasi.

VII. Kesimpulan
Praktikum fitokimia ini mahasiswa dapat memahami prinsip isolasi minyak atsiri
dan dapat mengidentifikasinya menggunakan uji noda. Isolasi minyak atsiri dilakukan
dengan metode destilasi. Daun sereh yang diisolasi positif mengandung minyak atsiri.
VIII. Daftar Pustaka
Yunita, Erma dan Wijaya, Andi. 2018. Modul Praktikum Fitokimia. Yogyakarta: Akademi
Farmasi Indonesia Yogyakarta

Miranti, Lisa.2009.Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Kencur (Kaempferia galanga L.)


Dengan Basis Salep Larut Air Terhadap Sifat Fisik Salep Dan Daya Hambat
Bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Ketaren,S.1986.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas press.


Jakarta

Anda mungkin juga menyukai