Anda di halaman 1dari 3

Melihat Dari Sebelah Mata

Judul Cerpen Melihat Dari Sebelah Mata


Cerpen Karangan: Nuha Salsabila
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 October 2016

Melati namanya. Dia sekolah di SDIT Ibnu Sina. Di sekolah dia punya teman, namanya Lala. Lala
baiiik sekali kepada Melati.

Suatu hari di sekolah…


“Anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru. Nah, coba kamu memperkenalkan dirimu!,”
suruh ustadzah Nessa. Anak-anak tediam melihat murid perempuan baru itu.
“Assalamu’alaikum teman-teman.. namaku Zahira Aulia Asya. Bisa dipanggil Aulia. Aku anak
pindahan dari Probolinggo. Semoga kalian senang bermain denganku, wassalamu
‘alakumwarahmatullahiwabarakatuh,” kata anak yang bernama Aulia itu. “Baiklah Aulia, kamu
boleh duduk di sebelah Fiana,” kata ustadzah Nessa. Aulia pun menurut, Aulia segera duduk di
sebelah Fiana. Akhirnya Ustadzah Nessa memulai pelajaran.

Kriiing! kriing!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Melati dan Lala segera menghampiri Aulia. Mereka ingin
berkenalan. “Hai Aulia. Aku Melati,” Melati memperkenalkan diri ketika bertemu di lapangan
sekolah. “Aku Lala si kutu buku, hehehe..,” kata Lala tersenyum. “Hai juga. Aku Aulia. Salam
kenal. Senang bertemu dengan kalian berdua,” Aulia ikut tersenyum. Akhirnya mereka pun
bersahabat. Tapi saat mereka bermain di rumah Aulia ternyata mereka tahu sifat asli Aulia seperti
apa.

“Aulia! aku pinjam buku KKPKmu ya! Hmmm sama buku Pink Berry Club deh,” pinta Melati. “No!
No! No! Jangan sentuh buku itu!,” sanggah Aulia yang sedang bermain game My Little Pony di
tabletnya. Melati kesal dengan sikap Aulia. Melati menoleh kepada Lala. Lala hanya mengangkat
bahunya. Tiba-tiba Aulia ke luar dar kamar. Setelah itu, Aulia berteriak pada mamanya. “Mama!
Belikan HP baru dong! HP ku udah lecet-lecet nih!,” teriak Aulia. Mama Aulia tak menjawab. Aulia
pun kesal pada Mamanya. Rupanya, Mama Aulia sedang sholat dhuha. Melati dan Lala pun kaget.
Mereka segera pamit untuk pulang. Sejak saat itu, Melati dan Lala tak bertegur sapa dengan Aulia
lagi karena takut kalau diceritakan hal yang buruk oleh Aulia. Lala dan Melati hanya bermain
berdua saja.

Hingga pada suatu hari di alun-alun kota..


Aulia tampak ingin membeli kue putri salju dan kue nastar karena 2 hari lagi lebaran akan tiba di
depan mata.
Kebetulan, saat itu Lala dan Melati sedang jalan-jalan bersama. Mereka berdua ingin refreshing
sebentar.
“Eh aku lupa! Ibuku bilang kalau ketemu sama penjual kue lebaran, beli saja. Itu kata Ibu,” Kata
Melati. “Ya sudah aku anterin kamu beli kuenya,” kata Lala. “Makasih, La,” Melati tersenyum. “Ya
begitulah, namanya sahabat harus saling membantu,” jawab Lala, merangkul pundak Melati
sambil mengedipkan sebelah matanya.

Tak lama kemudian Melati melihat toko kue. “Eh itu ada toko kue!,” kata Melati.”Yuk kita kesana!,”
ajak Lala. “Yok,” sahut Melati. Akhirnya mereka berdua menghampiri toko kue itu. Ternyata di
toko itulah tempat Aulia berada! “Pak, Beli kue nastar 1 kotak ya!,” pinta Melati. “Eh sama
pancake mini 1 kotak juga.. Ehmm sama shifon cake rasa pandan 1 kotak!,” lanjut Melati. “Oke
dek. Ada yang mau dipesan lagi?,” tanya bapak itu sambil mencatat pesanan Melati di buku yang
bertuliskan Bakery Shop. “Enggak ada lagi pak,” jawab Melati. “Baik. Silakan menunggu di situ
sebentar!,” ucap apak itu. Melati dan Lala pun duduk di kursi.

“Fauzin! Nastar, pancake mini, shifon cake rasa pandan! Semua satu kotak ya!,” seru bapak tadi.
“Iya, pak!,” jawab petugas yang bekerja di Bakery Shop. Tak lama petugas tadi membawa
beberapa kotak yang berisi pancake mini, shifon cake rasa pandan dan nastar. “Ini pesanannya!,”
kata bapak kasir sambil menyerahkan pesanan melati. “Totalnya berapa pak?,” tanya Melati
sambil menyiapkan uang. “Totalnya Rp. 210.000,-” jawab bapak yang ada di kasir. Mahal bangeet,
batin Lala. “Kredit bisa enggak pak?,” tanya Melati. “Oh bisa kok dek,” jawab bapak kasir. Melati
pun menggesekkan kartu kreditnya. Kemudian Melati segera memasukkan pinnya. “Terimakasih
sudah berbelanja di sini Datang lagi ya!,” kata bapak kasir. Lala dan Melati pun keluar. Namun,
saat mereka akan keluar tiba-tiba mereka melihat sosok yang mereka kenal. Dan itu adalah…
Aulia! Mereka segera keluar dan menunggu Aulia keluar sambil bersembunyi

Tak sampai 10 menit Aulia kelluar sambil membawa beberapa otak kue. Dia juga memegang uang
sebanyak 50 ribu. Melati dan Lala mengintip di balik gerobak kopi dan susu pak Darman dan pak
Darso. Terlihat nenek tua yang sedang memungut sisa keju yang agak kotor. Dan Aulia merasa
iba melihatnya. Setelah itu, Aulia memberikan uang sebanyak 50 ribu dan sebagian kue yang
dibelinya! Subhanallah! Betapa dermawannya Aulia. “Nek ini buat nenek. Jaga kesehatan juga ya
nek!,” kata Aulia. “Makasih ya, cu, semoga Allah membalas kebaikan cucu,” kata nenek tua itu
sambil menangis terharu. Melati dan Lala ikut terharu melihatnya. “Aamiin. Ya udah nek saya mau
pulang dulu. Assalamu’alaikum nek,” kata Aulia. “Wa’alaikumussalam cu. Hati-hati di jalan,” jawab
nenek tua dengan lemah. Aulia tersenyum, kemudian dia pulang.

Esoknya di sekolah..
“Aulia boleh kan kita bersahabat seperti dulu lagi? Aku sudah bosan kalau enggak ada ocehanmu
lagi,” kata Lala dan Melati. Aulia tersenyum. Lala dan Melati tahu, Aulia tersenyum berarti Aulia
mau menerima mereka menjadi sahabat lagi.. dan akhirnya mereka besahabat selamanya.

Sahabat Yang Kurindukan


Judul Cerpen Sahabat Yang Kurindukan
Cerpen Karangan: Khoirotunnisa
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 October 2016

Namaku Vania aku mempunyai seorang sahabat bernama Jihan dia baik, cantik dan juga pintar
aku memang baru mengenalnya tapi dia sosok sahabat yang baik yang pernah aku kenal. Saat
pertama kali aku bertemu dengannya dia membantu masalah yang aku alami waktu itu dia
menolongku untuk keluar dari masalah yang aku alami. Dia satu sekolah denganku dan juga
sekelas tentunya. Setiap jam istirahat kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kadang aku
menjadi sesorang yang gila saat aku bersamanya, tertawa bersama melakukan hal-hal seperti
layaknya anak kecil bermain petak umpet dan lain sebagainya padahal umur kami sudah belasan
tahun tapi kami menjadi kekanak-kanakan saat kami bersama.

Kami jarang bermain gadget seperti remaja pada umumnya kami lebih senang bermain mainan
tradisional dan kekanak-kanakan. Aku sering bermain ke rumahnya menghabiskan waktu di
rumahnya begitupun dengan dia, dia selalu bermain di rumahku. Hingga orangtuaku
menganggapnya sebagai anaknya sendiri begitupun dengan dia.

Sampai tiba saatnya. Di hari pertama kita bertemu pada tanggal 29 januari, saat itu kami sudah 3
tahun bersama, tapi tiba-tiba saja dia berubah dia melupakan kenangan demi kenangan yang
kami bangun bersama. Dia melupakanku layaknya seseorang yang tidak mengenalku sama sekali.

Saat itu pagi-pagi sekali aku sudah ada di sekolah berniat untuk mengucapkan hari jadi
persahabatan kami. Tapi saat aku mengucapkan kata demi kata “selamat hari jadi sahabatku
tersayang” dia hanya meresponku dengan senyuman yang melekat pada bibirnya.

Istirahat pun tiba, aku mengajaknya untuk pergi ke kantin bersamaku tapi dia tidak ingin ke
kantin bersamaku. Aku pun berusaha untuk menenangkan hatiku dan bersabar.
“Mungkin ia lagi banyak masalah jadi ingin menyendiri dulu” Gumamku dalam hati.
Hari berlalu begitu cepat tapi keadaannya masih sama seperti beberapa hari yang lalu dia masih
menyendiri. Hingga aku bulatkan tekadku untuk berbicara dengannya saat pulang sekolah tiba

“TET… TET.. TET…” Bel sekolah pun dibunyikan. Aku pergi ke suatu tempat dan mengobrol
dengannya.
“Jihan, ada apa denganmu akhir-akhir ini kamu sering menyendiri. Lagi ada masalah ya?, cerita
aja siapa tau aku bisa membantumu” Ucapku
“Iya aku emang lagi ada masalah” kata Jihan
“apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah kamu”
“Aku? apa maksudmu?”
“Iya kamu karena orangtuaku selalu saja memujimu saat kau datang ke rumahku PUAS!” JIhan
pergi meninggalkanku dengan memberiku luka yang amat besar kepadaku. Aku menangis
tersedu-sedu aku tidak mengerti kenapa ini semua terjadi padaku. Aku pulang dengan perasaan
yang sanat sedih sepanjang hari aku mengurung di kamar sambil menangis.

“Tuhan, kenapa ini harus terjadi kepadaku? Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang kau
lakukan ini kepadaku. Apakah kau menghukumku? Jangan hukumku seperti ini tuhan…” Ucapku.

Hari berlalu begitu cepat. Dengan cepat dia melupakanku dan sudah mempunyai sahabat yang
baru. Dan aku begitu lemah aku tak berdaya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.

Aku Merindukanmu, Sahabatku