Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama : Tn.Marfudin

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 90 Tahun

Alamat : Kp.Sindang Sari, Jampang Tengah

Diagnosa Pre-Op : Hernia Inguinalis Dextra Irreponible

Jenis Pembedahan : Hernioraphy

Operator : dr. Usman, SpB

Ahli Anestesi : dr.Edwin, SpAn

Anamnesis

Keluhan utama

Os datang dengan keluhan ada benjolan di lipat paha sejak 1 tahun yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Os datang dengan keluhan benjolan di lipat paha sebelah kanan sejak 1 tahun yang lalu. Os
merasakan linu dan pegal disekitar benjolan dan lipat paha. Mual dan muntah disangkal.
Buang air besar tidak ada keluhan. BAB terkahir 1 hari yang lalu. BAB tidak keras. Nyeri
perut disangkal. Demam disangkal. BAK tidak ada keluhan. Os mengaku berat badannya
menurun sejak 2 bulan terakhir. Os sering merasa berkeringat malam hari dengan aktivitas
yang menurut os tidak berat. Batuk lama disangkal. Sesak nafas disangkal. Jantung terasa
berdebar dan nyeri dada disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, asma atupun sesak nafas disangkal
pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga

Di keluarga tidak ada yang menderita seperiti yang pasien alami. Di keluarga os belum
pernah ada yang dilakukan tindakan operasi. Hipertensi, diabetes melitus dan asma disangkal

Riwayat Pengobatan

Os belum pernah berobat. Os baru pertama kali melakukan operasi. Riwayat pengobatan 6
bulan disangkal.

Riwayat Alergi

Os menyangkal adanya riwayat alergi obat, makanan, udara

Riwayat Psikososial

Os merokok sehari 1 bungkus sudah ± 30tahunan

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Komposmentis

Tanda Vital :

TD= 140/80mmHg RR= 20x/menit

HR= 84x/menit T= 36C

Status Gizi

BB : 54kg

TB : 168cm

Kesimpulan : 19.15 (Normoweight)


Status Generalis

Kepala : Normocephal, rambut lurus, tidak mudah dicabut


dan tidak rontok, laserasi (-).
Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil isokor, sklera ikterik
(-/-), konjungtiva anemis (-/-), edema palpebra -/-
Hidung : Normonasi, deviasi septum (-), sekret (-/-), darah
(-/-), massa (-/-)
Telinga : Normotia, serumen (+/+), darah (-/-), Pembesaran
KGB retro/post auricular (-/-)
Mulut : Bibir kering (-), lidah kotor (-), stomatitis (-),
faring hiperemis (-), tonsil membesar (-), gigi goyang (-),
terdapat gigi ompong satu dibagian depan, Mouth opening 3 jari,
Mallampati 3.
Leher : Pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-), TMD ± 9cm

Jantung
I : Ictus Cordis terlihat di linea mid clavicularis

P : Teraba Ictus Cordis di ICS ke 5 line mid clavicularis

P : Batas jantung kanan setiinggi ics 4 linea parasternal dekstra, Batas jantung kiri
setinggi ics 4 linea midclavikularis sinistra.
A : BJ 1 BJ II Irreguler, terdengar adanya ekstrasistol

Paru-Paru

I :Tidak ada dinding torax yang tertinggal

P : Vocal premitus sama di kedua lapang paru

P : Sonor di kedua lapang paru

A : Rhonki halus di basal paru sinistra dan dextra


Abdomen

I : Datar (-)

P : Nyeri tekan (-), Hepatospenomegali (-)

P : Timfani di seluruh lapang abdomen

A : Peristaltik (+)

Ektremitas Atas dan Bawah : Akral hangat ; CRT < 2dt

Punggung : Tidak terdapat kelainan tulang belakang

Status Lokalis :

 Tampak benjolan di regio inguinalis dextra ukuran


±4x5cm. Tanda radang (-). Konsistensi kenyal. Finger test
(+). Benjolan tidak bisa dikembalikan (irreponible)

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hemoglobin 13.1 Gr% 13-16 Gr%
Leukosit 1000 4000-11.000
Trombosit 234.000 150.000-400.000
Hematokrit 42% 40-45%
Ureum 15 mg/dL 10-50 mg/dL
Creatinin 0.3 mg/dL 0,6-1,1 mg/dL
SGOT 18 U/L <25 U/L
SGPT 22 U/L <29 U/L
Waktu Perdarahan 2’ 1-3 menit
Waktu Pembekuan 6’ 3-7 menit
GDS 113mg/dL <180 mg/Dl
Natrium 145 mmol/L 135-155 mmol/L
Kalium 3.8 mmol/L 3,6-5,5 mmol/L
Rontgen Thorax

Cor : Tampak Cardiomegali

Pulmo : TB Paru Aktif

EKG : Aritmia

Diagnosis

Diagnosis Pre-Bedah : Hernia Inguinalis lateralis Dextra

Rencana Tindakan Operasi : Hernioraphy

Diagnosis Anestesi : ASA 3

Rencana Tindakan Anestesi : Regional Anestesi (Spinal Anestesi)

Keadaan Pra Operasi

Laki-laki usia 90 tahun dengan hernia inguinalis lateralis dextra, dijadwalkan operasi
herniotomi pada tanggal 18 November 2015.

Keadaan umum : tampak sakit ringan

TD = 108/59mmHg T = 36C

HR = 88x/menit RR = 20x/menit

Operasi dilaksanakan pada tanggal 18 November 2015 pukul 12.50-14.05

Intraoperatif

- Dilakukan Anestesi regional (spinal) di Lumbal ke-4. Obat anestesi Bupivakaine +


Fentanyl. Dengan kombinasi tersebut pasien masih dapat merasakan nyeri pada saat
disayat, sehingga dilakukan anestesi spinal ulang dengan bupivakaine murni.
- Pasien posisi supine
- Maintenance O2 3 liter via nasal canul
- Cairan yang diberikan Widahes.
- Pada saat diberikan anestesi spinal, tekanan darah pasien meningkat sampai 200/100
sehingga diberikan lidokaine 2amp
- Tanda vital intraoperative
Jam Tekanan Darah Nadi Saturasi
12.50 200/90mmHg 88x/menit 98%
13.05 160/70mmHg 89x/menit 100%
13.20 150/72mmHg 84x/menit 99%
13.35 150/70mmHg 77x/menit 98%
13.50 170/75mmHg 85x/menit 99%
14.05 170/82mmHg 87x/ment 99%

Keadaan Post Operative

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Komposmentis

Keluhan Pasien : Pasien merasa lemas. Mual (-) Muntah (-) Gatal (-) Sesak nafas (-)
Sakit kepala (-)

Nadi : 80x/menit

Tekanan Darah : 160/80mmHg

Pernafasan : 20x/menit
TINJAUAN PUSTAKA

A. Penilaian Pra-Bedah

Persiapan pra bedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang sebab
terjadinya kecelakaan anestesia. Penilaian prabedah seyogyanya dapat dilakukan agar dapat
mengetahui keadaan kebugaran pasien. Penilaian prabedah yang dapat dilakukan :

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Laboratorium
4. Klasifikasi Status Fisik
Kalsifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang adalah
berasal dari The American Society of Anesthesiology (ASA).
ASA 1 : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia
ASA 2 : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
ASA 3 : Pasien degan penyakit sitemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas.
ASA 4 : Pasien dengan penyakit sitemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan
penyakitnya merupakan ancaman kehidupan setiap saat.
ASA 5 : Pasien yang sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan
hidupnya tidk akan leih dari 24 jam
Pada bedah cito atau emergency dicantumkan huruf E
5. Puasa pada masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan risiko utama dalam anestesi..
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8jam, anak kecil 4-6jam dan pada bayi 3-4
jam.
6. Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesia diantaranya :
- Meredakan kecemasan dan ketakutan
- Memperlancar induksi anetesi
- Mengurangi sekresi kelenjar bronkus dn ludah
- Meminimalkan jumalh obat anestetik
- Mengurangi mual muntah paska bedah
- Mencipatakan amnesia
- Mengurangi isi cairan lambung

2. Anestesi Spinal

Anestesia diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan


keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk
menghilangkan nyeri pembedahan. Kelompok obat anestetik dibedakan menjadi

Pembagian Anestesia atau Analgesia Regional


1. Blok sentral (Blok Neuroaksial) yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal.
Tindakan ini sering dikerjakan.
2. Blok Perifer (blok saraf) misalnya blok pleksus brakialis, aksiler, analgesia
regional intravena dan lain-lainnya.

ANATOMI

1. Tulang punggung (kolumna vertebralis)


Terdiri dari : 7 vertebra servikal
12 vertebra torakal
5 vertebra lumbal
5 vertebra sakral menyatu pada dewasa
4-5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa.
Garis lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan memotong
prosesus spinosus vertebra L4 atau antara L4-L5. Untuk mencapai cairan
serebrospinal, amka jarum suntik akan menembus kulit, subkutis, ligamenteum
supraspinosum, ligamentum interspinosum , ligamentum flavum, ruang epidural,
duramater, ruang subarachnoid. Berada dalam kanalis spinalis dikelilingi oleh
cairan serebrospinal, dibungkus meningen (duramater, lemak, dan pleksus
venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3 dan
sakus duralis berakhir setinggi S2.
Analgesia spinal (intratekal, intradural, sudural, subarachnoid) ialah
pemeberian obat anestetik lokal kedalm ruang subarachnoid. AnestesiA spinal
diperoleh dengan cara menyuntikan anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid.
Indikasi :
1. Bedah ekstremitas bawah
2. Bedah panggul
3. Tindakan sekitar rektum dan perineum
4. Bedah urologi
5. Bedah abdomen bawah

Indikasi Kontra absolut:

1. Pasien menolak
2. Infeksi pada tempat suntikan
3. Hipovolemia, syok
4. Kogulapati atau mendapat terapi anti koagulan
5. Tekanan Intrakranial meninggi
6. Fasilitas resusitasi minimum
7. Kurang berpengalaman/ tanpa ditemani konsultasi anestesi

Indikasi Kontra Relatif :

1. Infeksi sistemik (sepsis, bakterimia)


2. Infeksi sekitar tempat suntikan
3. Kelainan neurologis
4. Kelainan psikis
5. Bedah lama
6. Penyakit Jantung
7. Hipovolemia ringan
8. Nyeri punggung kronis

Peralatan Analgesia spinal :

1. Peralatan Monitor : tekanan darah, nadi, pulse oksimetri, dan EKG


2. Peralatan resusitasi/ anestesi umum
3. Jarum spinal : ujung jarum spinal berbentuk tajam quinckebabcock atau
jarum spinal dengan ujung pensil ( pencil point whitecare)
Teknik Analgesia Spinal

Posisis duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis
tengah ialah posisi yang paling sering dikejakan. Peubahan posisi berlebihan
dalam 30 menit pertana akan menyebabkan penyebaran obat.

1. Stelah dimonitor tidurkan pasien mislanya dalam posisi lateral dekubitus


lateral. Beri bantal kepala supaya tulang belakang stabil. Buat tulang
punggung membungkuk maksimal agar prosesus belakang stabil. Atau
buat pasien membungkuk maksimal, supaya tulang belakang pasien stabil
(posisi duduk)
2. Perpotongan garis yang menghubungka antara kedua krista iliaka dengan
tulang punggung ialah L4/L5 dan tentukan tempat tususkan.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan alkohol atau betadine.
4. Berikan anestetik lokal pada tempat suntikan misalnya dengan lidokain 1-
2% 3ml
5. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal 22G, 23G, atau
25G dapat ;angsung digunakan. Lain hal nya dengan jarum 27 dan 29G
dianjurkan menggunakan penutuntun jarum (introducer) yaitu jarum suntik
biasa. Tusukan introducer sedalam kira-kira 2cm agak kearah
sefal.kemudian masukan jarum spinal begitu pula dengan madrinnya ke
lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam irisan jarum harus
sejajar dengan serabut dura yaitu pada posisi miring bevel menghadap ke
atas atau kebawah, untuk menghindari keosoran liquor yang dapat
mengakibatkan nyeri kepala pasca spinal anestesi. Sete;ah resistensi
menghilang madrin jarum spinal dicabut dan keluar liquor, pasang semprit
yang berisi obat dan obat dimasukan perlahan diselingi aspirasi sedikit.
Untuk analgesia spinal kontinyu daoat dimasukan kateter.

Analgesia Lokal untuk analgesia spinal

Berat jenis cairan serebrospinal pada suhu 37C ialah 1.003-1.008. Anestetik
lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik. Anestetik lokal
dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik . Anestetik yang
lebih kecil dari CSS disebut isobarik.

Anestetik lokal Berat Jenis Sifat Dosis


Lidokain
2% plain 1.006 Isobarik 20-100mg
5% dalam 1.033 Hiperbarik 20-50mg
Dextrosa 7.5%
Bupivakain
0.5% dalam air 1.005 Isobarik 5-20mg
0.5% dalam 1.027 Hiperbarik 5-15mg
dextrosa 8.25%

A. Penyebaran Anestetik lokal tergantung pada :


1. Faktor utama :
- Barisitas (berat jenis anestetik lokal)
- Posisi pasien (kecuali isobarik)
- Dosis dan volume anestetik lokal
2. Faktor tambahan :
- Ketinggian suntikan
- Kecepatan suntikan
- Ukuran jarum
- Keadaan fisik pasien
- Tekanan intraabdominal
B. Lama Kerja Anestetik Lokal tergantung pada :
- Jenis anestesi lokal
- Besarnya dosis
- Ada tidaknya vasokonstriktor
- Besarnya penyebaran anestetik lokal
Komplikasi Tindakan :

1. Hipotensi berat
2. Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan
memberikan infusan cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan.
3. Bradikardi
4. Hipoventilasi. Akbat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat pernafasan
5. Trauma pembuluh darah
6. Trauma Saraf
7. Mual-Muntahh
8. Gangguan Pendengaran
9. Blok Spinal tinggi atau spinal total

Komplikasi paska tindakan

1. Nyeri tempat suntikan


2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala karena kebocoran liquor
4. Retensio urin
5. Meningitis