Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PKN

“ ASTAGATRA KABUPATEN CIREBON “

DI SUSUN OLEH :
ARIEF KURNIAWAN (150621007)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON

TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang hingga saat ini masih
melimpahkan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“SISTEM REGULASI MANUSIA”.
Makalah ini mengulas tentang sistem saraf serta susunan sitem saraf pada tubuh manusia,
kemudian sistem hormon, dan alat indra serta juga mengulas kelainan dan penyakit pada masing-
masing sistem. Ketiga sistem tersebut termasuk ke dalam sistem regulasi yang mengatur gerak
tubuh manusia.
Kami sadar bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan atau kesalahan, oleh
karena itu kritik dan saran selalu kami harapkan agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi ke
depannya.
Akhir kata dari kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
semoga Allah SWT senantiasa meridhai semua usaha kami, Amin.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
PEMBAHASAN

Kabupaten Cirebon adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang terletak di
bagian timur, dan berbatasan dengan Jawa Tengah. Dalam sektor pertanian, kabupaten Cirebon
merupakan salah satu daerah produsen beras yang terletak di jalur pantura. Berikut astagatra dari
kabupaten Cirebon:
2.1. TRI GATRA, KEHIDUPAN ALAMIAH
2.1.1. GATRA LETAK DAN KEDUDUKAN GEOGRAFI
Kabupaten Cirebon adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Barat dengan
jumlah penduduk pada tahun 2004 sebanyak 1.958.446 jiwa, dengan luas wilayah
990,36 km2. Disebelah Utara Laut Jawa, di sebelah Barat Laut Kabupaten Indramayu,
di sebelah Selatan Kabupaten Kuningan, di sebelah Timur Kabupaten Brebes, Jawa
Tengah, di sebelah Barat Daya Kabupaten Majalengka dan mengelilingi Kota Cirebon
(terdapat Pelabuhan Laut Besar). Berdasarkan letak geografisnya, wilayah Kabupaten
Cirebon berada pada posisi 6°30’–7°00’ Lintang Selatan dan 108°40’-108°48’ Bujur
Timur. Bagian utara merupakan dataran rendah, sedang bagian barat daya berupa
pegunungan, yakni Lereng Gunung Ciremai. Letak daratannya memanjang dari barat
laut ke tenggara.
Kabupaten Cirebon terdiri atas 40 kecamatan, yang dibagi lagi atas 412 desa
dan 12 kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon di Kecamatan Sumber,
yang berada di sebelah selatan Kota Cirebon. Tiga kecamatan yang baru terbentuk
pada tahun 2007 adalah Kecamatan Jamblang (Pemekaran Kecamatan Klangenan
sebelah timur), Kecamatan Suranenggala (Pemekaran Kecamatan Kapetakan sebelah
selatan), dan Kecamatan Greged (Pemekaran Kecamatan Beber sebelah timur).

2.1.2. GATRA KEADAAN DAN KEKAYAAN ALAM


Kabupaten Cirebon memiliki potensi sumber daya alam yang meliputi sumber
daya mineral yaitu bahan galian golongan C serta sumber daya lahan yang cukup
melimpah seperti lahan pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, perikanan,
peternakan dan kehutanan. Berikut ini data mengenai potensi sumber daya alam di
Kabupaten Cirebon.
a) Pertanian Tanaman Pangan
Tanaman Pangan yang dimaksud meliputi tanaman bahan makanan,
sayuran dan buah-buahan. Sementara tanaman bahan makanan meliputi padi-
padian, jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Jenis data tanaman pangan
disini dirinci menurut luas lahan, luas panen, hasil produksi dan rata-rata
produksi perhektar. Luas panen padi ( sawah dan ladang) pada tahun 2002 turun
sebesar 5.169 ha atau 5,79% dibandingkan tahun 2001 yaitu dari 89.132 ha
menjadi 83.963 ha.
b) Perkebunan
Produksi tanaman perkebunan rakyat dikabupaten Cirebon terdiri dari
produksi tanaman kelapa, cengkeh, kopi, kenanga, tebu rakyat, lada, kapuk dan
melinjo. Tebu rakyat merupakan perkebunan yang paling besar nilai produksi
dan luas lahannya yang tersebar hampir disetiap kecamatan yang ada di
Kabupaten Cirebon. Luas panen tebu rakyat tahun 2002 sebesar 6.164 ha
mengalami penurunan tetapi produksinya mengalami peningkatan.
c) Perikanan
Prospek perikanan di Kabupaten Cirebon cukup menjanjikan. Hal ini
terlihat dari produksi yang cenderung meningkat dari tahun ketahun. Keadaan
ini tentunya didukung oleh letak Kabupaten Cirebon yang terletak di Pantai
Utara Pulau Jawa. Produksi terbesar pada tahun 2002 diperoleh dari ikan laut
yang mencapai 40.168,5 ton yang berarti mengalami kenaikan dari produksi
tahun sebelumnya yang tercatat 39.968,7 ton dengan hasil total nilai produksi
sebesar Rp. 184.540 juta.
d) Peternakan
Populasi ternak besar (kuda sapi, kerbau) selama tahun 2002 didominasi
oleh ternak kerbau hingga mencapai 5.326 ekor. Untuk jenis ternak kecil yaitu
ternak domba merupakan jenis ternak dengan populasi terbesar yaitu mencapai
161.143 ekor yang berarti mengalami kenaikan sebesar 0,2% dari tahun
sebelumnya yang tercatat sebesar 160.829 ekor. Sementara untuk ternak unggas
populasi terbanyak selama tahun 2002 adalah ternak ayam kampung sebanyak
1.756.598 ekor, disusul itik sebanyak 354.274 ekor dan ayam potong sebanyak
225.000 ekor.

2.1.3. GATRA KEADAAN DAN KEMAMPUAN PENDUDUK


Cirebon merupakan salah satu kabupaten terpadat di Jawa Barat. Penduduk
Kabupaten Cirebon terus bertambah, meski demikian dari sensus ke sensus, tren rata-
rata laju pertumbuhan penduduk dari sensus ke sensus semakin melambat. Pada
Tahun 1980 jumlah penduduk Kabupaten Cirebon baru berjumlah 1.331.690 jiwa dan
pada tahun 1990 tercatat 1.648.021 jiwa. Sepuluh tahun kemudian pada tahun 2000
penduduk Kabupaten Cirebon menjadi 1.931.068 jiwa. Hasil sementara dari
pengolahan data SP2010-L1.P212, SP2010-C2, dan SP2010-L2 (kondisi 15 Juli
2010) sebesar 2.065.142 jiwa dengan komposisi 1.057.501 jiwa penduduk laki-laki
dan 1.007.641 jiwa penduduk perempuan.
Menurut angka sementara hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, Kecamatan
Sumber merupakan wilayah dengan jumlah penduduknya paling banyak yaitu sebesar
80.914 jiwa dan berikutnya adalah Kecamatan Gunungjati yaitu sebanyak 77.712
jiwa. Sedangkan wilayah dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten
Cirebon adalah Kecamatan Pasaleman yaitu sebanyak 24.912 jiwa dan Kecamatan
Karangwareng sebanyak 26.554 jiwa.
Sesuai dengan data kependudukan terbaru yang sudah diberikan oleh Dinas
Kependudukan dan catatan Sipil (disdukcapil) Kab.Cirebon, jumlah penduduk
Kab.Cirebon per 30 April 2013 berjumlah 2.957.257 jiwa.
a) Infrastruktur
 Jalan
Kondisi jalan secara umum belum memadai. Akses jalan di
beberapa kecamatan, desa dan pusat-pusat produksi atau lokasi sumber
daya alam yang menghubungkan ke daerah-daerah pemasaran atau
pelabuhan belum dapat dibangun seluruhnya. Status jalan yang terdapat di
Kabupaten Cirebon adalah : 635,09 Km merupakan jalan Kabupaten,
53,25 Km jalan Propinsi dan 83,88 Km jalan Negara. Panjang jalan yang
rusak (rusak dan rusak berat) adalah 90,37 Km atau 15,33%.
 Listrik dan Air Bersih.
Listrik disediakan oleh PLTA Jatiluhur, jumlah pemakaian listrik
pada tahun 2001 sebesar 501.828.528 Kwh, dengan jumlah pelanggan
134.122 pelanggan, dengan nilai pemakaian Rp.149.090.738.885. Jumlah
pelanggan PDAM 19.543 pelanggan, dengan jumlah pemakaian
3.882.696 M³.
 Telekomunikasi.
Fasilitas telekomunikasi dengan Sentral Telepon Otomatis dari yang
terpasang telah mampu melayani kebutuhan dasar komunikasi bisnis dan
komunikasi lainnya.
 Fasilitas Perdagangan.
Kegiatan pasar terkonsentrasi di Kecamatan Arjawinangun dan
Weru/Pleret. Kegiatan industri skala kecil dan menengah sebagian besar
terkonsentrasi di Tegalwangi.

2.2. PANCA GATRA, KEHIDUPAN SOSIAL


2.2.1. GATRA IDEOLOGI
a) Visi
"Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Cirebon Yang Beriman, Sehat, Cerdas DanSejahtera"
b) Misi
 Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Yang BerakhlakulkarimahMelalui
Peningkatan Pendidikan Agama
 Meningkatkan Pembangunan Manusia Melalui Akselerasi DerajatPendidikan,
Kesehatan Dan Pencapaian Standar Hidup Layak BagiMasyarakat Terutama Keluarga
Miskin
 Membangun Pemerintah Yang Baik Melalui Peningkatan KapasitasAparatur
Pemerintah Daerah
 Memantapkan Potensi Daras Perekonomian Rakyat( Perda No. 13 Tahun 2009 tentang
rencana pembangunan jangka menengahdaerah Kabuapten Cirebon tahun 2009-2014 )

2.2.2. GATRA POLITIK


a) Institusi Pemerintahan
Birokrasi pemerintahan yang masih berbelit-belit, menekankan pada
pengendalian input dan proses bukan hasil, dan tidak kompetitif. (-). Kualitas
SDM pemerintahan yang rendah terutama dalam bidang pendidikan dan
pelayanan kesehatan. (-). Kemampuan keuangan Pemerintahan Daerah yang
masih kurang dalam mendukung peningkatan / perkembangan Pendidikan dan
Kesehatan. (-). Pemanfaatan teknologi informasi untuk kesehatan & pendidikan
belum optimal.(-).
b) Institusi publik non Pemerintahan
Peran LSM yang makin meningkat. (+). Peran swasta dalam
pembangunan yang mendukung terselenggaranya Pendidikan. (+). Peran swasta
dalam pembangunan sarana Kesehatan. (+). Meningkatnya peran institusi-
institusi agama dalam bidang pendidikan dalam penyusunan kebijakan
pemerintah dan monitoring aktivitas pemerintah. (+).
c) Institusi Bisnis
Lingkungan bisnis domestik tidak kompetitif, tergantung pada proteksi
pemerintah. Kegiatan Industri Kabupaten Cirebon masih tergantung pada
sumber daya dari daerah lain. Value added, industri hilir belum berkembang.
Perkembangan teknologi komunikasi dan jaringan yang makin meningkat.

2.2.3. GATRA EKONOMI


a) Domestik
Industri daerah potensinya ada pada industri kecil menengah yang
cenderung mengalami peningkatan. Industri besar di Kabupaten Cirebon yaitu
industri rotan cenderung mengalami penurunan akibat dari kebijakan
Pemerintah Pusat memberlakukan larangan ekspor Rotan. Sedangkan Industri
Semen mengalami kenaikan.
b) Nasional
Praktek KKN masih terjadi pada Birokrasi Pemerintah (-). Struktur
perekonomian Indonesia yang masih lemah dimana investasi riil cenderung
masih kecil, kondisi likuiditas perbankan yang masih jelek, dan hutang luar
negeri yang besar. (-)
c) Global
Berkembangnya konsep ekonomi new institusional yang lebih
menekankan pada pembangunan insitusi daripada pertumbuhan ekonomi.
Berkembangnya perdagangan global yang menekankan pada core competence
produsen dimana mengakibatkan terbentuknya jaringan-jaringan bisnis.
Tingkat kompetisi global yang tinggi, sehingga menuntut produk harus
memiliki nilai lebih bagi konsumen. Pasar global yang semakin terbuka dan
bebas serta akan berlakunya AFTA (+)
d) Teknologi
Perkembangan yang pesat pada teknologi dibidang kesehatan. (+).
Perkembangan teknologi komunikasi, dimana peralatan komunikasi makin
interaktif, makin kecil, dan makin multi guna. (+). Perkembangan industri
berbasis pengetahuan. (+). Kondisi infrastruktur teknologi domestik (Kabupaten
Cirebon) yang masih rendah. (-). Kurangnya sumber daya manusia di
Kabupaten Cirebon yang menguasai teknologi maju. (-).
b) Sumber Daya Manusia
Penduduk usia angkatan kerja sebanyak 78,38%. IPM rendah ranking 282
dari 424 Kab/Kota. Daya tarik investasi rangking 115 dari 134 kab/kota
(KPPOD).

2.2.4. GATRA SOSIAL BUDAYA


a) Sosial
Penyebaran Sekolah di Kabupaten Cirebon sudah cukup merata dan
proporsional dengan jumlah penduduk secara umum. (+). Fasilitas kesehatan di
Kabupaten Cirebon sudah cukup memadai. (+). Dominasi agama dalam
kehidupan sosial sangat tinggi. (+). Masuknya pengaruh budaya asing seperti
pergaulan bebas, penggunaan narkoba dan minuman keras dalam kehidupan
masyarakat (-). Tingkat pendidikan rata-rata masih rendah dibandingkan dengan
daerah lain dipropinsi Jawa Barat bahkan sangat jauh dibawah standar
nasional.(-).
b) Budaya
Kebudayaan yang melekat pada masyarakat Cirebon merupakan
perpaduan berbagai budaya yang datang dan membentuk ciri khas tersendiri.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara
lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung, dan
Sandiwara Cirebonan.
Kota ini juga memiliki beberapa kerajinan tangan di antaranya Topeng
Cirebon, Lukisan Kaca, Bunga Rotan, dan Batik. Salah satu ciri khas batik asal
Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu
motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk
bingkai pada gambar utama.
Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479),
yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh
keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya
dikenal di kalangan keraton. Sekarang di Cirebon, batik motif mega mendung
telah banyak digunakan berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga motif-motif
batik yang disesuaikan dengan ciri khas penduduk pesisir.

2.2.5. GATRA PERTAHANAN DAN KEAMANAN