Anda di halaman 1dari 75

TA PENGANTAR

TA PENGANTAR 1
TA PENGANTAR 1

KATA PENGANTAR

Buku ini dibuat untuk mempermudah proses belajar mengenai inversi seismik dan tutorial pengerjaannya menggunakan software Hampson rusell seri CE8/R4.2. Penulis membuat buku ini tidak untuk kepentingan komersil. Penulis membuat tutorial software HRS ini berdasarkan pengalaman dan pemahaman yang didapat saat pengerjaan Tugas Akhir. Dalam buku ini, hanya sedikit teori yang dimasukkan oleh penulis, untuk lebih lengkapnya bisa melihat di Hapson- Rusell Asistant pada help software. Buku ini merupakan edisi pertama penulis, karena penulis akan membuat buku edisi selanjutnya tentunya mengenai seismik inversi yang lebih detail lagi dan memungkinkan software dengan seri yang berbeda. Dalam pembuatan buku ini penulis sangat menyadari banyak kekeliruan dan kekurangan, untuk itu kami menerima kritikan yang bersifat membangun. Jika pembaca ingin berdiskusi, memberi masukan,kritikan,dll bisa menghubungi penulis melalui alamat e-mail yang ada.

Yogyakarta, April 2013 Penyusun
Yogyakarta, April 2013
Penyusun
melalui alamat e-mail yang ada. Yogyakarta, April 2013 Penyusun r0mi_y0hanes@yahoo.com e-mail: choliz_upn@yahoo.com 2

Pengantar

Sebelum masuk ke tahap seismik inversi, kita pahami dulu mengenai seismik

konvensional.

inversi, kita pahami dulu mengenai seismik konvensional. Pengukuran seismik konvensional (data seismik hasil

Pengukuran seismik konvensional (data seismik hasil pengukuran) hanya mendapatkan informasi bawah permukaan berdasarkan nilai kontras akustik impedance, yang disebut dengan koefisien refleksi. Rumusan dari nilai koefisien refleksi dapat ditulis sebagai berikut:

dari nilai koefisien refleksi dapat ditulis sebagai berikut: Karena dalam eksplorasi seismik terdapat juga data wireline
dari nilai koefisien refleksi dapat ditulis sebagai berikut: Karena dalam eksplorasi seismik terdapat juga data wireline

Karena dalam eksplorasi seismik terdapat juga data wireline log, dimana informasi dari wireline log adalah nilai AI tersebut, dengan cara mengalikan nilai Log Vp dengan Log density. Maka dengan menggabungkan kedua data tersebut (log dan seismik), akan didapatkan persebaran nilai Akustik Impedance melalui data seismik, tetapi tetap dikontrol oleh data log.

Seismik inversi adalah proses pemodelan kondisi bawah permukaan yang sebenarnya, berdasarkan data log sebagai kontrolnya dan data seismik sebagai media persebaran horisontal”

Metode seismik inversi dapat dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan data seismik yang digunakan, yaitu : post-stack seismic inversion dan pre-stack seismic inversion. Data seismik post-stack adalah data seismik yang mengasumsikan amplitudo seismik hanya dihasilkan oleh R(0 0 ), sehingga post-stack seismic inversion hanya dapat digunakan untuk menghasilkan tampilan model AI saja. Sementara data seismik pre-stack masih mengandung informasi sudut (R(θ)), sehingga pre-stack seismic inversion dapat digunakan untuk menghasilkan parameter parameter, selain AI, seperti : EI, Vp/Vs, serta lambda-rho dan mu- rho.

digunakan untuk menghasilkan parameter – parameter, selain AI, seperti : EI, Vp/Vs, serta lambda-rho dan mu-
3
3

Inversi AI: Suatu proses pembalikan nilai koeficien refleksi (Rc) menjadi nilai AI, dengan data log sebagai kontrolnya, dan seismik post-stack sebagai media persebaran secara horisontalnya.

Metode inversi AI dibagi menjadi tiga, yaitu model based, sparse spike dan recursive.

menjadi tiga, yaitu model based, sparse spike dan recursive. Sebagai dasar inversi yang berbasis pre-stack, adalah

Sebagai dasar inversi yang berbasis pre-stack, adalah konsep Ampilute Versus Offset (AVO) ataupun Amplitude Versus Angle (AVA)

Versus Offset (AVO) ataupun Amplitude Versus Angle (AVA) Konsep AVO menggambarkan bahwa semakin besar offset/sudut

Konsep AVO menggambarkan bahwa semakin besar offset/sudut datang, seharusnya amplitudo gelombang seismik akan semakin kecil, tetapi pada kondisi adanya reservoar yang terrdapat hidrokarbon, responnya bukan semakin mengecil, tetapi akan membesar (walaupun nilai RC-nya negatif).

Dalam perkembangannya, terdapat beberapa metode inversi berbasis AVO, diantaranya Inversi Elastic Impedance, Simultaneous Inversion, LMR dan Extended Elastic Impedance.

inversi berbasis AVO, diantaranya Inversi Elastic Impedance, Simultaneous Inversion, LMR dan Extended Elastic Impedance.

Inversi EI: Suatu proses pembalikan nilai RC menjadi nilai EI, dengan data log sebagai kontrolnya, dan data seismik pre-stack (near,mid,far) menjadi media persebaran secara horisontal.

Berbeda dengan pengerjaan inversi AI, pengerjaan inversi EI memerlukan data seismik pre-stack, artinya data tersebut belum dijumlahkan berdasarkan CDP/sudutnya. Untuk proses pengerjaannya, data gather seismik dibuat menjadi angle gather.

4
4

Inversi Simultan: Inversi yang dilakukan secara bersama-sama, menggunakan data partial stack (near,mid dan far stack). Dimana hasilnya berupa P-Impedance, S-Impedance dan density, dari hasil tersebut bisa ditransformasi menggunakan rumus menjadi sifat fisika lainnya yaitu lambda mu rho.

Inversi Extended Elastic Impedance: Inversi yang dilakukan pada sudut datang tidak sama dengan 0. Sudut diperlebar pada rentang -90 s/d 90. Dalam pengolahan sudut sudut EEI akan berkorelasi dengan log-log tertentu dari data sumur. Kemudian satuan impedansi yang telah didapat akan diinversi untuk pendapatkan penampang bumi sesungguhnya.

data sumur. Kemudian satuan impedansi yang telah didapat akan diinversi untuk pendapatkan penampang bumi sesungguhnya. 5
5
5

BAB I Import data log dan Crossplot

1. Import data log

Open Geoview pada HRS, kemudian klik New, simpan nama project

Kemudian akan muncul window:

klik New, simpan nama project Kemudian akan muncul window: Kemudian klik Import Data > Logs, Check
klik New, simpan nama project Kemudian akan muncul window: Kemudian klik Import Data > Logs, Check

Kemudian klik Import Data > Logs, Check Shots, Tops

klik New, simpan nama project Kemudian akan muncul window: Kemudian klik Import Data > Logs, Check
Akan ada window seperti disamping, cari data sumur dalam format. LAS, klik Add , kemudian
Akan ada window seperti disamping, cari data sumur dalam format. LAS, klik Add , kemudian
Akan ada window seperti disamping, cari data sumur dalam format. LAS, klik Add , kemudian
Akan ada window seperti disamping, cari data sumur dalam format. LAS, klik Add , kemudian

Akan ada window seperti disamping, cari data sumur dalam format. LAS, klik Add, kemudian Next

yang ditampilkan, misalnya A. Klik Next ganti nama sumur akan
yang
ditampilkan,
misalnya A. Klik
Next
ganti nama sumur
akan

Pada window disamping, klik View File Contents untuk mengetahui informasi koordinat X&Y. Pada KB elev dan surface elev, nilainya dapat dilihat dari report log yang ada. Klik Next

Ada informasi mengenai Latitude dan longitude, oleh karena itu nilainya perlu diconvert terlebih dahulu menjadi UTM.

pada sumur A sudah masuk dalam base. Data log Akan muncul window seperti diatas, klik
pada sumur A sudah masuk dalam base. Data log Akan muncul window seperti diatas, klik

pada

sumur A sudah masuk dalam

base.

Data

log

Akan muncul window seperti diatas, klik pada Import log untuk memunculkan log yang ada dalam sumur A. Kemudian klik OK. Jika sukses, akan muncul kolom seperti berikut:

Klik Ok kemudian akan munculpilihan metric dan imperial. Klik Metric, kemudian ok.pemilihan ini tidak akan mengubah data log yang ada. Klik OK

Klik Metric, kemudian ok.pemilihan ini tidak akan mengubah data log yang ada. Klik OK Dalam well
Klik Metric, kemudian ok.pemilihan ini tidak akan mengubah data log yang ada. Klik OK Dalam well

Dalam well eksplore akan muncul:

Klik Metric, kemudian ok.pemilihan ini tidak akan mengubah data log yang ada. Klik OK Dalam well

Untuk memasukkan data marker, klik pada Tops,kemudian akan muncul window dibawah. Masukkan nama marker, Start Measured Depth dan End Measured Depth. Kemudian klik Update. Perhatikan nilai kedalamannya apakah dari Kelly Bushing atau tidak, tergantung data yang ada. Import data marker ini juga bisa dilakukan seperti pada import data log sebelumnya.

juga bisa dilakukan seperti pada import data log sebelumnya. Jika well-nya deviated, masukkan nilai deviated
juga bisa dilakukan seperti pada import data log sebelumnya. Jika well-nya deviated, masukkan nilai deviated

Jika well-nya deviated, masukkan nilai deviated geometry-nya. Klik Deviated geometry kemudian isi measured depth, X-coord dan Y-coord. Klik Update. Untuk mempermudah, bisa juga data yang ada di import seperti data log sebelumnya.

X-coord dan Y-coord. Klik Update. Untuk mempermudah, bisa juga data yang ada di import seperti data

Membaca data Log melalui menu eLog

Klik eLog, kemudian New Project, kemudian simpan nama project > OK

Akan muncul window seperti dibawah:

nama project > OK Akan muncul window seperti dibawah: Klik Apply > Open Data log akan
nama project > OK Akan muncul window seperti dibawah: Klik Apply > Open Data log akan

Klik Apply > Open

Akan muncul window seperti dibawah: Klik Apply > Open Data log akan terbaca seperti diatas. Untuk

Data log akan terbaca seperti diatas. Untuk mengatur tampilan dan formatnya, klik pada icon mata, kemudian akan muncul:

Pada Layout, digunakan untuk mengatur tampilan log dalam beberapa track/kolom. Log GR, Sp dan Caliper
Pada Layout, digunakan untuk mengatur tampilan log dalam beberapa track/kolom. Log GR, Sp dan Caliper

Pada Layout, digunakan untuk mengatur tampilan log dalam beberapa track/kolom. Log GR, Sp dan Caliper berada pada track 1, track2 terdapat log RHIB dan NPHI, track 3 log resistivytas dan track 4 log P-wave. Klik Ok

Pada Curves, digunakan untuk mengatur satuan dan tampilan. Untuk log resis, dirubah scalenya kedalam Log, yang lainnya teteap Linear. Dalam track 2, terdapat 2 log yaitu NPHI dan RHOB, log ini digunakan secara quick look untuk mengetahui zona target, caranya rubah skala nilai salah satu log tersebut dari besar ke kecil, dan yang satu sebaliknya, kemudian pada fill Option pilih One color, pada Area pilih to other Curve on-Left, dan pada other Curve pilih log NPHI, karena yang diatur dalam log RHOB. Klik Apply > OK.

to other Curve on-Left, dan pada other Curve pilih log NPHI, karena yang diatur dalam log

Hasilnya:

Terlihat pada track 2, antara log RHOB dan NPHI terdapat cross over yang ditandai dengan warna kuning, dan skala warna salah satu log menjadi terbalik.

kuning, dan skala warna salah satu log menjadi terbalik. Membuat log hasil perhitungan/log yang tidak didapat
kuning, dan skala warna salah satu log menjadi terbalik. Membuat log hasil perhitungan/log yang tidak didapat

Membuat log hasil perhitungan/log yang tidak didapat dari akuisisi lapangan

Klik transforms,kemudian akan muncul window:

lapangan Klik transforms ,kemudian akan muncul window: Untuk membuat log P-Impedance (yang akan digunakan untuk

Untuk membuat log P-Impedance (yang akan digunakan untuk proses inversi AI), klik P-Impedance, kemudian muncul:

Pilih well yang akan digunakan, Next Window disamping menunjukkan rumus dari log P-Impedance, Dimana P-Impedance=AI

Pilih well yang akan digunakan, Next

Window disamping menunjukkan rumus dari log P-Impedance,
Window disamping menunjukkan
rumus dari log P-Impedance,

Dimana P-Impedance=AI = Vp*RHOB (density)

Klik OK

Dimana P-Impedance=AI = Vp*RHOB (density) Klik OK Anda dapat merubah nama Output P-Impedance,kemudian Klik

Anda dapat merubah nama Output P-Impedance,kemudian Klik Next

dapat merubah nama Output P-Impedance,kemudian Klik Next Kemudian membuat log S-Impedance, dengan langkah-langkah

Kemudian membuat log S-Impedance, dengan langkah-langkah seperti diatas, tinggal memilih S-Impedance pada transform. Untuk membuat log ini, kita harus punya data log Vs, jika tidak, bisa dibuat syntetic log Vs melalui FRM (Fluid Replacement Modelling) ataupun persamaan Castagna. Tetapi anda harus

mempunyai log Vs yang berada di sumur lainnya sebagai acuannya, misalkan terdapat dua sumur, A dan B, pada sumur A mempunyai log Vs dan sumur B tidak mempunyai log Vs, anda harus membuat terlebih dahulu log Vs melalui FRM atau castagna pada sumur A, kemudian hasilnya bandingkan dengan log Vs hasil lapangan sesungguhnya, jika akurat (hampir sama) maka dapat dibuat log Vs untuk sumur B menggunakan FRM atau Castagna. jika tidak, kita tidak bisa membandingkan hasil FRM dengan data log Vs asli dari lapangan tersebut.

Untuk proses inversi Elastic Impedance, dapat dibuat log hasil perhitungan melalui transform seperti diatas, data yang diperlukan adalah log Vp, Log Vs dan log density. Caranya, pada Transform, pilih Elastic Impedance, kemudian ikuti langkah yang sama dengan pembuatan log P-Impedance.

ikuti langkah yang sama dengan pembuatan log P-Impedance. Untuk membuat log lainnya, misal LMR, ikuti langkah
ikuti langkah yang sama dengan pembuatan log P-Impedance. Untuk membuat log lainnya, misal LMR, ikuti langkah

Untuk membuat log lainnya, misal LMR, ikuti langkah seperti sebelumnya.

yang sama dengan pembuatan log P-Impedance. Untuk membuat log lainnya, misal LMR, ikuti langkah seperti sebelumnya.

2.

CROSSPLOT Analisa crossplot ini untuk mengetahui kesensitifan dari log yang sudah ada maupun dari log turunan, tujuan dari crossplot ini juga untuk menentukan cut-off suatu nilai fisis pada batuan, misalnya nilai Gamma ray (jika belum diketahui dari analisa petrophysic), nilai akustik impedan, dll. Crossplot juga berguna untuk memisahkan anomali keberadaan hidrokarbon maupun pemisahan litologi.

Langkah-langkahnya:

Pada eLog, klik Crossplot > General

Pada eLog, klik Crossplot > General Kemudian pilih log apa saja yang akan dilakukan crossplot.
Pada eLog, klik Crossplot > General Kemudian pilih log apa saja yang akan dilakukan crossplot.
Pada eLog, klik Crossplot > General Kemudian pilih log apa saja yang akan dilakukan crossplot.

Kemudian pilih log apa saja yang akan dilakukan crossplot.

Kemudian pilih well mana yang akan digunakan.

> General Kemudian pilih log apa saja yang akan dilakukan crossplot. Kemudian pilih well mana yang
Pada view selanjutnya hanya mengatur log apa yang menjadi X- axis dan Y-axis, serta judul

Pada view selanjutnya hanya mengatur log apa yang menjadi X- axis dan Y-axis, serta judul crossplot

Kemudian pilih satuan log dan log yang digunakan. Next
Kemudian pilih satuan log dan log
yang digunakan. Next
Atur time/depth berapa sampai berapa yang akan dicrossplot. Jika dilakukan hanya pada zona target, tambahkan
Atur time/depth berapa sampai berapa yang
akan dicrossplot. Jika dilakukan hanya pada
zona target, tambahkan up&down berapa
ms/berapa m tergantung satuan yang kita
gunakan.
berapa ms/berapa m tergantung satuan yang kita gunakan. Untuk melihat sectionnya, klik crosssection Jika ingin
berapa ms/berapa m tergantung satuan yang kita gunakan. Untuk melihat sectionnya, klik crosssection Jika ingin
Untuk melihat sectionnya, klik crosssection Jika ingin menandai zona/ membagi zona. Klik Zones, kemudian muncul
Untuk
melihat
sectionnya,
klik
crosssection
Jika ingin menandai zona/ membagi
zona. Klik Zones, kemudian muncul
window disamping. Pada Current
Zone Selection untuk memberi
nama zona. Hasilnya seperti
dibawah.

cross-

pada

memberi nama zona. Hasilnya seperti dibawah. cross- pada Hasilnya seperti disamping. Atur X, Y dan Color

Hasilnya seperti disamping. Atur X, Y dan Color key jika ingin dirubah-rubah data log apa yang di crossplot.

BAB II LOADING DATA SEISMIK DAN TRANSFORMASI DATA SEISMIK

1. Loading/Input Data seismik

Supaya data seismik dapat ditransformasi dari gather ke yang lainnya, buka

seismik di menu AVO.

Langkah-langkahnya:

Ada 3 pilihan: Start New Project kita pilih jika akan membuat project baru. Open existing
Ada 3 pilihan:
Start New Project kita pilih jika akan
membuat project baru.
Open existing Project berarti
membuka/memilih project yang sudah ada
sebelumnya.
Open previous project berarti menggunakan
project yang telah dibuka sebelumnya

Open AVO

menggunakan project yang telah dibuka sebelumnya Open AVO Kemudian akan muncul tampilan seperti berikut: Klik salah

Kemudian akan muncul tampilan seperti berikut:

Open AVO Kemudian akan muncul tampilan seperti berikut: Klik salah satu item dari 3 pilihan diatas,kemudian

Klik salah satu item dari 3 pilihan diatas,kemudian akan muncul window

seperti dibawah:

pilihan diatas,kemudian akan muncul window seperti dibawah: Pertama-tama kita akan memasukkan/load data seismik

Pertama-tama kita akan memasukkan/load data seismik gathernya.

Caranya, klik Data Manager-Import data-Open seismic-From SEG-Y File

klik Data Manager-Import data-Open seismic-From SEG-Y File Akan muncul view seperti dibawah: Pilih dimana data seismik
klik Data Manager-Import data-Open seismic-From SEG-Y File Akan muncul view seperti dibawah: Pilih dimana data seismik

Akan muncul view seperti dibawah:

seismic-From SEG-Y File Akan muncul view seperti dibawah: Pilih dimana data seismik kita disimpan, kemudian Add

Pilih dimana data seismik kita disimpan, kemudian Add, setelah itu klik Next

kita disimpan, kemudian Add , setelah itu klik Next Pada window diatas, pilih 3D/2D line. Tergantung

Pada window diatas, pilih 3D/2D line. Tergantung dari data yang kita punya, kemudian klik Next.

Setelah itu klik Next Kemudian akan muncul window diatas, untuk mengetahui data kita mempunyai informasi
Setelah itu klik Next
Setelah itu klik Next

Kemudian akan muncul window diatas, untuk mengetahui data kita mempunyai informasi X&Y coordinate, klik di Header Dump, akan muncul informasi seperti dibawah. Dalam kotak merah, terdapat data Inline,Xline,X&Y coordinat. Berarti pada kedua pilihan tersebut kita klik Yes.

Dalam kotak merah, terdapat data Inline,Xline,X&Y coordinat. Berarti pada kedua pilihan tersebut kita klik Yes. 15
Dalam kotak merah, terdapat data Inline,Xline,X&Y coordinat. Berarti pada kedua pilihan tersebut kita klik Yes. 15

Informasi pada kolok-kolom diatas (kotak merah) diisi berdasarkan data

yang ada dalam Trace Header yang ada didalam Header Dump. Klik

Header Dump, kemudian akan muncul window seperti dibawah,

kemudian pada Display, klik Trace Header

seperti dibawah, kemudian pada Display , klik Trace Header Sebagai contoh:Source X coor terletak pada byte
Sebagai contoh:Source X coor terletak pada byte 73- 76, kemudian inline number terletak pada byte
Sebagai contoh:Source X
coor terletak pada byte 73-
76, kemudian inline number
terletak pada byte 173-178
Akan muncul window:
1. 4-byte integer berarti 1 kolom
tersebut berisi nilai1-4, 5-8,dst
2. Byte (161-180)berarti kolom
pertama 161-164, 165-168,169-
172,173-176,177-180.
3. Berdasarkan informasi
diatas,Inline terletak pada byte
173, yang berarti terdapat pada
kolom 4,dengan nilai 1004.

Informasi lainnya diisi dengan cara seperti diatas, kemudian klik Next,

kolom 4,dengan nilai 1004. Informasi lainnya diisi dengan cara seperti diatas, kemudian klik Next, akan muncul

akan muncul window:

Warna biru menunjukkan Inline, dan Merah menunjukkan X-Line. Ini menggambarkan geometri dari data seismik yang
Warna biru menunjukkan Inline, dan Merah menunjukkan X-Line. Ini menggambarkan geometri dari data seismik yang
Warna biru menunjukkan Inline, dan Merah menunjukkan X-Line. Ini
menggambarkan geometri dari data seismik yang ada. Kemudian Klik
OK!
Data seismik akan mucul seperti dibawah:

Merubah data gather menjadi super gather, angle gather, partial stack Attribute volume dan CDP stack Untuk mengerjakan inversi EI,simultan maupun EEI. Data yang diberikan akan berupa gather maupun super gather. Data gather ini akan mempunyai kapasitas yang besar, karena data tersebut merupakan data pre- stack yang belum dijumlahkan per cdp. Untuk mentransformasi data gather ini, bisa dilakukan dalam menu AVO.

2.
2.

a. Mentransformasi data gather menjadi Super gather

Data super gather tersebut merupakan hasil penjumlahan beberapa

CMP yang berdekatan, hal ini akan menyebabkan data super gather

memiliki S/N (signal to noise ratio) yang tinggi dan menghilangkan noise

yang bersifat random (acak).

Langkah-langkahnya:

noise yang bersifat random (acak). Langkah-langkahnya: Pada menu AVO, klik Process - Super Akan muncul window
Pada menu AVO, klik Process - Super Akan muncul window seperti disamping, kemudian klik Next
Pada menu AVO, klik Process - Super
Akan muncul window seperti
disamping, kemudian klik Next

Pada number of offsets biarkan nilainya 10, Kemuadian ganti Size of Rolling Window menjadi 5, ini akan membuat super gather tiap rata-rata 5 cdp. Kemudian klik Next

ganti Size of Rolling Window menjadi 5, ini akan membuat super gather tiap rata-rata 5 cdp.
Klik OK Data super gather akan muncul seperti diatas. Selanjutnya Merubah data super gather menjadi

Klik OK

Klik OK Data super gather akan muncul seperti diatas. Selanjutnya Merubah data super gather menjadi angle
Klik OK Data super gather akan muncul seperti diatas. Selanjutnya Merubah data super gather menjadi angle

Data super gather akan muncul seperti diatas. Selanjutnya Merubah data super gather menjadi angle gather Proses angel gather dilakukan untuk membawa tiap-tiap trace dalam kawasan offset ke kawaan sudut (angle), proses ini dilakukan dengan ray tracing menggunakan fungsi kecepatan (Gambar IV.14). Dalam program Hampson Russel fungsi kecepatan yang digunakan menggunakan staright ray dan ray parameter yang secara sistematis dituliskan dalam bentuk:

b.

digunakan menggunakan staright ray dan ray parameter yang secara sistematis dituliskan dalam bentuk: b. 1. dengan

1.

digunakan menggunakan staright ray dan ray parameter yang secara sistematis dituliskan dalam bentuk: b. 1. dengan

dengan :

x:offset;

x:offset;

2. Ray Parameter

x:offset; 2. Ray Parameter Dengan: Perubahan ini dapat digambarkan: Klik Process kemudian pilih Angle Gather Sumber:

Dengan:

x:offset; 2. Ray Parameter Dengan: Perubahan ini dapat digambarkan: Klik Process kemudian pilih Angle Gather Sumber:

Perubahan ini dapat digambarkan:

Klik Process kemudian pilih Angle Gather
Klik Process kemudian
pilih Angle Gather
dapat digambarkan: Klik Process kemudian pilih Angle Gather Sumber: Hampson - Russell (angle gather teory)

Sumber: Hampson - Russell (angle gather teory)

Langkah-langkahnya di software HRS:

kemudian pilih Angle Gather Sumber: Hampson - Russell (angle gather teory) Langkah-langkahnya di software HRS: 20
Muncul window seperti disamping, klik Next Number of angle 10, berarti akan dibuat 10 trace/bin

Muncul window seperti disamping, klik Next

Number of angle 10, berarti akan dibuat 10 trace/bin dalam rentang sudut 0-45
Number
of
angle
10,
berarti
akan
dibuat
10
trace/bin
dalam
rentang
sudut 0-45
akan dibuat 10 trace/bin dalam rentang sudut 0-45 Klik Open Well Log, kemudian akan muncul window

Klik Open Well Log, kemudian akan muncul window seperti

dibawah.kemudian pilih P-wave yang digunakan.

sudut 0-45 Klik Open Well Log, kemudian akan muncul window seperti dibawah.kemudian pilih P-wave yang digunakan.
Selanjutnya klik OK, kemudian Next. Muncul window seperti disamping, klik Next Misalkan kita pilih rentang

Selanjutnya klik OK, kemudian Next. Muncul window seperti disamping, klik Next

Misalkan kita pilih rentang sudut yang ada 3-30 0
Misalkan kita pilih rentang
sudut yang ada 3-30 0

seismik dalam beberapa rentang sudut (partial stack)

Data Angle Gather akan muncul seperti dibawah,

Lihat diujung kiri atas, akan ada tulisan angle, yang berarti data tersebut

sudah dirubah dari kawasan offset ke kawasan sudut. Setelah itu lihat nilai

rentang sudut yang ada dalam data. Ini berguna untuk membagi data

sudut yang ada dalam data. Ini berguna untuk membagi data c. Merubah data Super gather menjadi

c. Merubah data Super gather menjadi partial stack (near,mid,far).

Dalam pengerjaan Inversi EI dan Inversi Simultan, dibutuhkan data

partial stack (near,mid,far). Karena pada Inversi EI, akan melihat

perubahan amplitudo dari dekat, mengengah dan jauh, logikanya semakin

besar offsetnya, maka tentunya semakin besar sudut datangnya, dan amplitudonya akan mengecil, hal ini dikarenakan jarak yang jauh antara source dengan receiver sehingga amplitudonya akan semakin mengecil (karena semakin banyak partikel batuan yang dilewati). Hal ini terjadi dalam kondisi normal, tetapi jika terdapat suatu batuan reservoar yang terisi gas/minyak, maka kasus diatas dapat berubah. Penampang seismik near angle stack akan hampir sama dengan penampang Akustik Impedan, karena rentang sudut yang diambil pada near angle stack biasanya tidak jauh dari sudut 0 (AI). Pada kasus Inversi Simultan, dimana konsepnya adalah menginversi secara bersama-sama. Dari near,mid dan far ini akan di inversi secara bersamaan untuk mendapatkan penampang P-Impedance, S- Impedance dan Density. (lebih lengkap lihat Bab awal pengantar Inversi)

Density. (lebih lengkap lihat Bab awal pengantar Inversi) Langkah-langkahnya di software HRS: Klik Process –

Langkah-langkahnya di software HRS:

Klik Process Stack Range Limited Stack

Langkah-langkahnya di software HRS: Klik Process – Stack – Range Limited Stack Kemudian akan muncul window:
Langkah-langkahnya di software HRS: Klik Process – Stack – Range Limited Stack Kemudian akan muncul window:

Kemudian akan muncul window:

Klik Next

Klik Next

Klik Next Akan muncul window seperti disamping, ganti Types of ranges menjadi 3, artinya kita memerintahkan
Klik Next Akan muncul window seperti disamping, ganti Types of ranges menjadi 3, artinya kita memerintahkan
Klik Next Akan muncul window seperti disamping, ganti Types of ranges menjadi 3, artinya kita memerintahkan

Akan muncul window seperti disamping, ganti Types of ranges menjadi 3, artinya kita memerintahkan software untuk membagi data super gather menjadi 3 rentang sudut (0 0 -15 0 , 15 0 -30 0 dan 30 0 -45 0 ). Klik Open well log untuk memilih P-wave yang digunakan. Klik OK Kemudian klik Next

-30 0 dan 30 0 -45 0 ). Klik Open well log untuk memilih P-wave yang

Kemudian akan muncul 3 penampang seismik yang biasa disebut near,mid dan far Angle stack:

1.

Near Angle Stack

Mid Angle Stack Far Angle Stack
Mid Angle Stack
Far Angle Stack

2.

3.

seismik yang biasa disebut near,mid dan far Angle stack : 1. Near Angle Stack Mid Angle

d. Merubah data dari super gather ke AVO Attribute volume Perubahan ini dilakukan untuk proses inversi Extended Elastic Impedance (EEI), sebelumnya data gather sudah dirubah terlebih dahulu ke super gather (langkah-langkahnya sudah ada didepan).

Pada menu AVO, pilih AVO Attribute Volume

ada didepan). Pada menu AVO, pilih AVO Attribute Volume Akan mucul window seperti dibawah, pada Output
ada didepan). Pada menu AVO, pilih AVO Attribute Volume Akan mucul window seperti dibawah, pada Output

Akan mucul window seperti dibawah, pada Output Volume File ketik nama file yang akan keluar/akan disimpan. Kemudian Next

nama file yang akan keluar/akan disimpan. Kemudian Next Setelah itu muncul window seperti dibawah. Pada Open
nama file yang akan keluar/akan disimpan. Kemudian Next Setelah itu muncul window seperti dibawah. Pada Open

Setelah itu muncul window seperti dibawah. Pada Open Well Log pilih Log P-wave yang digunakan. Kemudian pada Type of Analysis pilih A/B (Two Term Aki-Richards). Kemudian klik Next.

Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik
Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik

Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik OK.

Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik OK. Data atributte volume akan keluar seperti dibawah:
Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik OK. Data atributte volume akan keluar seperti dibawah:

Data atributte volume akan keluar seperti dibawah:

Attribute A (Intercept)

muncul window disebelah kanan. Klik OK. Data atributte volume akan keluar seperti dibawah: Attribute A (Intercept)

Gradient (B)

Gradient (B) Merubah data dari super gather ke CDP stack Untuk inversi Akustik Impedan, diperlukan data
Gradient (B) Merubah data dari super gather ke CDP stack Untuk inversi Akustik Impedan, diperlukan data

Merubah data dari super gather ke CDP stack Untuk inversi Akustik Impedan, diperlukan data CDP stack yang berbasis zero offset. Jadi data super gather akan dijumlahkan berdasarkan CDP ( Common Depth Point) yang ada

e.

berdasarkan CDP ( Common Depth Point) yang ada e. Sumber: Hampson - Russell (angle gather teory)

Sumber: Hampson - Russell (angle gather teory) CDP terletak dibawah permukaan/ proyeksi dari CMP CMP terletak di permukaan (Common Mid Point)

Langkah-langkahnya:

Pada menu AVO, pilih Process > Stack > CDP Stack

Pada menu AVO, pilih Process > Stack > CDP Stack Muncul window disamping, kemudian output volume
Pada menu AVO, pilih Process > Stack > CDP Stack Muncul window disamping, kemudian output volume
Muncul window disamping, kemudian output volume nya diganti sesuai dengan nama yang ingin kita simpan.
Muncul window disamping,
kemudian output volume nya
diganti sesuai dengan nama
yang ingin kita simpan. Klik
Next
sesuai dengan nama yang ingin kita simpan. Klik Next Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik

Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan

muncul window disebelah kanan. Klik OK.

Next Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik

Hasilnya:

Hasilnya: 30

BAB III

1. Ekstrak Wavelet

Ekstrak wavelet memegang peranan yang sangat penting dalam proses

inversi. Banyak cara menghasilkan wavelet, antara lain, mengambil wavelet dari

lokasi sekitar well (use well), membuat wavelet ricker dengan menentukan

parameternmya sendiri, membuat wavelet bandpass dan Wavelet juga dapat

sendiri, membuat wavelet bandpass dan Wavelet juga dapat Muncul window seperti disamping, pilih well yang akan

Muncul window seperti disamping, pilih well yang akan digunakan. Klik Next

Kemudian pilih volume seismik yang digunakan. Klik Next

dihasilkan dari data seismik itu sendiri (statistik). Hal ini diharapkan akan didapat

wavelet yang terbaik karena memiliki bentuk yang paling mirip dengan

seismiknya.

Langkah-langkahnya:

Pembuatan wavelet ini bisa dilakukan di STRATA maupun eLog

Untuk langkah di bawah, dilakukan dalam menu STRATA.

a.

Ekstrak wavelet dari well.

Open strata > Wavelet > Use well

wavelet dari well. Open strata > Wavelet > Use well Kemudian pada window berikutnya pilih constant
wavelet dari well. Open strata > Wavelet > Use well Kemudian pada window berikutnya pilih constant

Kemudian pada window berikutnya pilih constant time atau dari Horizon, tergantung keperluan pengekstrakan wavelet dan window yang diinterpretasi.

Setelah itu anda memasukkan nama wavelet-nya, kemudian wavelet length dan taper length, pada extraction Type,

Setelah itu anda memasukkan nama wavelet-nya, kemudian wavelet length dan taper length, pada extraction Type, pilih Constant Phase.

Wavelet length adalah panjang gelombang seismik dalam penelitian, kita bisa melihatnya dengan mengekstrak spektrum amplitude data seismiknya terlebih dahulu.

Hasilnya seperti disamping.
Hasilnya seperti disamping.

Setelah itu pilih rentang time data seismik yang akan di ekstrak, kemudian pilih dari Inline berapa sampai Xline berapa, tergantung dari kegunaan. Misal kita akan mengekstrak dari semua cube data seismik (3d) maka inline dan Xline diisi sesuai data seismik. Jika hanya ingin beberapa inline dan Xline disekitar well, isi sesuai data inline dan Xline sesuai data well.

Ekstrak wavelet dari data seismik secara Statistic,

Yang dimaksudkan statistic disini adalah pengambilan wavelet dari data seismik yang ada, kemudian dihitung secara statistik.

Extract Wavelet > Statistical

pengambilan wavelet dari data seismik yang ada, kemudian dihitung secara statistik. Extract Wavelet > Statistical 32
pengambilan wavelet dari data seismik yang ada, kemudian dihitung secara statistik. Extract Wavelet > Statistical 32
Setelah itu pilih Apply to complete seismic time window jika akan diekstrak berdasarkan rentang waktu

Setelah itu pilih Apply to

complete seismic time window jika akan diekstrak berdasarkan rentang waktu sesuai yang diatur sebelumnya. Bisa juga memilih Apply to a target zone, untuk constant time ataupun berdasarkan data horizon.

the

untuk constant time ataupun berdasarkan data horizon. the Kemudian memberi nama wavelet yang akan di ekstrak,
untuk constant time ataupun berdasarkan data horizon. the Kemudian memberi nama wavelet yang akan di ekstrak,

Kemudian memberi nama wavelet yang akan di ekstrak, mengatur window length dan taper length serta memilih phase type (minimum phase dan constant phase), tergantung dari data seismik. Next, kemudian didapat hasil seperti dibawah.

Wavelet bandpass

Membuat wavelet dari bandpass berarti kita akan mengatur sendiri parameter yang ada, seperti low cut, high cut, low pass dan high pass. Untuk membuat wavelet ini, terlebih dahulu kita harus mengekstrak spectrum amplitude dari data seismik yang ada, sehingga kita mengetahui frekuensi yang ada dalam data seismik.

seismik yang ada, sehingga kita mengetahui frekuensi yang ada dalam data seismik. Wavelet > Create Bandpass

Wavelet > Create Bandpass Wavelet

seismik yang ada, sehingga kita mengetahui frekuensi yang ada dalam data seismik. Wavelet > Create Bandpass
Atur low cut, high pass, low pass dan high cut terlebih dahulu. Kemudian wavelet length
Atur low cut, high pass, low pass dan high cut terlebih dahulu. Kemudian wavelet length

Atur low cut, high pass, low pass dan high cut terlebih dahulu. Kemudian wavelet length dan tipe phase-nya.

Ricker Wavelet

Dalam pembuatan melalui ricker wavelet ini, frekuensi yang dimasukkan hanya frekuensi dominan dari data seismik. Kemudian wavelet length dan tipe phase data seismik.

yang dimasukkan hanya frekuensi dominan dari data seismik. Kemudian wavelet length dan tipe phase data seismik.

2.

Koreksi Check shot

Sebelum melakukan well seismic tie, kita harus mengkoreksi checkshot yang ada, pertama kita input terlebih dahulu data checkshot melalui well eksplore seperti di BAB I. Kemudian pada eLog, pilih edit > Check Shot correrction.

Kemudian pada eLog, pilih edit > Check Shot correrction. Setelah itu muncul window seperti dibawah, bisa
Kemudian pada eLog, pilih edit > Check Shot correrction. Setelah itu muncul window seperti dibawah, bisa

Setelah itu muncul window seperti dibawah, bisa diganti tipe interpolasinya antara lain Spline, linear dan polinomial. Hasilnya berbagai tipe tersebut seperti dibawah.

diganti tipe interpolasinya antara lain Spline, linear dan polinomial. Hasilnya berbagai tipe tersebut seperti dibawah. 35
diganti tipe interpolasinya antara lain Spline, linear dan polinomial. Hasilnya berbagai tipe tersebut seperti dibawah. 35
Well seismic tie Proses well seismic tie merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan, well
Well seismic tie Proses well seismic tie merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan, well
Well seismic tie Proses well seismic tie merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan, well

Well seismic tie Proses well seismic tie merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan, well seismic tie berarti menyamakan posisi sumur yang berada dalam domain depth dengan seismik yang mempunyai domain time. Setelah dikoreksi checkshot, klik Correlate > OK.

dalam domain depth dengan seismik yang mempunyai domain time . Setelah dikoreksi checkshot, klik Correlate >

Muncul window seperti dibawah, warna biru menunjukkan trace syntetic, warna hitam merupakan trace seismic real, dan yang merah merupakan data trace yang diambil dari data seismic.

3.

merupakan data trace yang diambil dari data seismic. 3. Klik Snap , pilih peak, trough atau
merupakan data trace yang diambil dari data seismic. 3. Klik Snap , pilih peak, trough atau

Klik Snap, pilih peak, trough atau zero crossing. Kemudian klik pada trace syntetic dan trace real, klik Strech. Lihat current corr, dan time shift. Usahakan nilainya diatas 0,6 dengan time shift 0.

Klik Parameter untuk mensetting start- end zona yang dikorelasi, kemudian apply. Warna merah dan biru

Klik Parameter untuk mensetting start- end zona yang dikorelasi, kemudian apply. Warna merah dan biru pada gelombang, jika belum menyatu berarti masih ada time shift. Jika berhimpit berarti time shiftnya 0.

ada time shift. Jika berhimpit berarti time shiftnya 0. 4. Jika time shift sudah mendekati 0.

4.

Jika time shift sudah mendekati 0. coba dengan klik Apply shift, jika berubah menjadi 0. Klik OK,kemudian nama P-wave bisa diganti, klik OK

0. Klik OK,kemudian nama P-wave bisa diganti, klik OK yes jika ingin melihat peta yang dipicking

yes jika ingin melihat peta yang dipicking secara langsung.

yes jika ingin melihat peta yang dipicking secara langsung. Picking horizon Picking horizon merupakan tahapan setelah

Picking horizon Picking horizon merupakan tahapan setelah well seismic tie. Picking horizon berarti mencari kemenerusan lapisan pada data seismik.picking horizon ini dilakukan pada menu STRATA, setelah input data seismik,kemudian pilih horizon > picking horizons > OK. Kemudian pilih

Kemudian pilih pada snap, peak atau trough atau zero crossing. Kemudian picking, hasilnya seperti disampingnya. Klik OK

pilih pada snap, peak atau trough atau zero crossing. Kemudian picking, hasilnya seperti disampingnya. Klik OK

BAB IV INVERSI AI dan EI

Dalam tahapan pengerjaan inversi AI dan EI, bedanya hanya penampang

seismik dan log yang digunakan (Bab II). Pengerjaan inversi EI membutuhkan

data near,mid dan far (bisa juga near dan far saja), perlu diperhatikan bahwa

penampang seismik tersebut merupakan seismik post-stack, hanya sudutnya saja

yang berbeda-beda. Jadi tahapan pengerjaan dari pembuatan model awal sampai

Pada strata, Input data seismik, kemudian input data horizon. Untuk membuat model awal, klik Model
Pada strata, Input data seismik, kemudian
input data horizon. Untuk membuat
model awal, klik Model > Build/Rebuild

Membuat Model awal

awal, klik Model > Build/Rebuild Membuat Model awal Masukkan nama model, kemudian pilih Typical setup for

Masukkan nama model, kemudian pilih Typical setup for Acoustic Impedance inversion untuk inversi AI, untuk inversi EI pilih Typical setup for Elastic Impedance

dengan inversi prosesnya sama. Sebelum dilakukan inversi, transformasi terlebih

dahulu log P-Impedance, S-Impedance dan Elastic Impedance (BAB I). Sebelum

dilakukannya inversi, perlu dibuat terlebih dahulu model awal, model awal dibuat

untuk mengontrol hasil inversi supaya tidak jauh berbeda dengan model dan untuk

mendapatkan frekuensi rendah yang hilang.

1.

mengontrol hasil inversi supaya tidak jauh berbeda dengan model dan untuk mendapatkan frekuensi rendah yang hilang.
Pilih use well logs from database Jika ingin membuat model awal AI, maka hanya P-wave,densiy

Pilih use well logs from database

Jika ingin membuat model awal AI, maka hanya P-wave,densiy dan P-impedance yang keluar. Jika Ei,
Jika ingin membuat model awal AI, maka
hanya P-wave,densiy dan P-impedance yang
keluar. Jika Ei, maka akan ada tambahan S-
wave dan S-Impedance
Pilih horizon yang
digunakan
Pilih well yang digunakan Pada tahap ini frekuensi yang rendah bisa dimasukkan, pada Highcut frequency
Pilih well yang
digunakan
Pada tahap ini
frekuensi yang rendah
bisa dimasukkan, pada
Highcut frequency
2.
2.

Analysis pre-inversi

Sebelum dilakukan Inversi, sebaiknya dilakukan analisa pre-inversi, untuk melihat kecocokan.

dilakukan analisa pre-inversi, untuk melihat kecocokan. Pada STRATA, pilih Analysis > Post Stack Analysis >

Pada STRATA, pilih Analysis > Post Stack Analysis > Model based.

Jika

based.

yang

kita

gunakan

adalah

mdoel

Pilih Volume data seismic Selanjutnya atur dari time berapa sampai berapa yang akan dianalisa 41
Pilih Volume data seismic Selanjutnya atur dari time berapa sampai berapa yang akan dianalisa 41

Pilih

Volume

data

seismic Selanjutnya atur dari time berapa sampai berapa yang akan dianalisa
seismic
Selanjutnya
atur
dari
time
berapa
sampai
berapa
yang
akan
dianalisa
Pilih Volume data seismic Selanjutnya atur dari time berapa sampai berapa yang akan dianalisa 41
Pilih Volume data seismic Selanjutnya atur dari time berapa sampai berapa yang akan dianalisa 41
Klik OK, kemudian akan muncul view seperti dibawah: Kemudian muncul juga window satu lagi untuk

Klik OK, kemudian akan muncul view seperti dibawah:

Klik OK, kemudian akan muncul view seperti dibawah: Kemudian muncul juga window satu lagi untuk mengatur

Kemudian muncul juga window satu lagi untuk mengatur perubahan parameter

juga window satu lagi untuk mengatur perubahan parameter Atur target zone, berdasarkan Horizon, kemudian tambahlan

Atur target zone, berdasarkan Horizon, kemudian tambahlan plus disini maksudnya dari horizon, berapa ms ke atas dan kebawah.

target zone, berdasarkan Horizon, kemudian tambahlan plus disini maksudnya dari horizon, berapa ms ke atas dan
target zone, berdasarkan Horizon, kemudian tambahlan plus disini maksudnya dari horizon, berapa ms ke atas dan

Selanjutnya kita dapat mengatur parameter hard Constrain dan soft

Constrain. Hard constrain berarti pembatasan secara ketat, dimana kita bisa

mengatur perubahan hasil inversi kita dari model awal pada up dan lower,

artinya perubahan keatas dan kebawah seberapa besar. Jika Soft Constrain,

misalkan kita masukkan 0,2 itu berarti model awal kita yang dipakai hanya

0,2, sisanya 0,8 dari syntetic trace . parameter lainnya yang bisa diatur

adalah iterasi, prewhitening dan ukuran blok rata-rata, nilai ini dicoba secara

log, dengan error yang kecil. Setelah semua kita pilih, klik Apply. Inversi AI dan EI

log, dengan error yang kecil. Setelah semua kita pilih, klik Apply.

error yang kecil. Setelah semua kita pilih, klik Apply. Inversi AI dan EI STRATA > Inversion

Inversi AI dan EI STRATA > Inversion > Post stack inversion > pilih metode yang digunakan (model based, sparse spike maupun recursive)

trial and error sampai mendapatkan nilai inversi yang mendekati original

3.

based, sparse spike maupun recursive) trial and error sampai mendapatkan nilai inversi yang mendekati original 3.
Pada window berikut, atur rentang time seismik yang akan di inversi. Kemudian, atur dari rentang

Pada window berikut, atur rentang time seismik yang akan di inversi.

Kemudian, atur dari rentang horizon, tambahkan ke atas dan kebawah beberapa ms, misal 25 ms.
Kemudian, atur dari
rentang horizon,
tambahkan ke atas dan
kebawah beberapa ms,
misal 25 ms. Hal ini
digunakan jika ada
horizon yang kurang
smooth/melenceng.
ke atas dan kebawah beberapa ms, misal 25 ms. Hal ini digunakan jika ada horizon yang

Kemudian window dibawah, atur seperti pada penjelasan sebelumnya no 2

pada bagian analisa pre-inversi.

Kemudian window dibawah, atur seperti pada penjelasan sebelumnya no 2 pada bagian analisa pre-inversi. 44
Kemudian next dan didapatkan penampang hasil inversi. 45
Kemudian next dan didapatkan penampang hasil inversi. 45
Kemudian next dan didapatkan penampang hasil inversi. 45

Kemudian next dan didapatkan penampang hasil inversi.

Kemudian next dan didapatkan penampang hasil inversi. 45

BAB V EXTENDED ELASTIC IMPEDANCE (EEI)

Extended Elastic Impedance (EEI) merupakan inversi pada sudut datang tidak sama dengan 0. Teorinya mengungkapkan kita dapat memperpanjang rentang sudut dari 90º s/d +90º (Whitcombe, 2002)

EEI cocok digunakan untuk identifikasi litologi dan identifikasi kandungan fluida dalam tubuh reservoar

dan identifikasi kandungan fluida dalam tubuh reservoar (Whitcombe et al, Geophysics, 2002) Nilai sin² θ dalam
dan identifikasi kandungan fluida dalam tubuh reservoar (Whitcombe et al, Geophysics, 2002) Nilai sin² θ dalam

(Whitcombe et al, Geophysics, 2002)

Nilai sin² θ dalam persamaan Zoeprit terbatas untuk nilai reflektivitas ( nilai sinus untuk semua sudut bernilai hanya dari rentang -1 s/d 1)

Log EEI dapat dihitung jika sebuah sumur mempunyai log Vp, log Vs, dan log log densitas.

Log EEI dapat dihitung jika sebuah sumur mempunyai log Vp, log Vs, dan log log densitas.

Log EEI merupakan satuan impedansi dengan input sudut-sudut EEI yang telah berkorelasi tinggi dengan log yang akan diinversi.

Berikut contoh elog dari sebuah sumur yang memiliki syarat untuk diinversi EEI (log Vp, log
Berikut contoh elog dari sebuah sumur yang memiliki syarat untuk diinversi EEI (log Vp, log
Berikut contoh elog dari sebuah sumur yang memiliki syarat untuk diinversi EEI (log Vp, log

Berikut contoh elog dari sebuah sumur yang memiliki syarat untuk diinversi EEI (log Vp, log Vs, dan log densitas)

Berikut contoh elog dari sebuah sumur yang memiliki syarat untuk diinversi EEI (log Vp, log Vs,
Buka software Geoview pada software HRS, kemudian klik AVO. Klik Modelling > 3D Model >
Buka software Geoview pada software HRS, kemudian klik AVO. Klik Modelling > 3D Model >

Buka software Geoview pada software HRS, kemudian klik AVO.

Klik Modelling > 3D Model > build/Rebuild a Depth Model.

software Geoview pada software HRS, kemudian klik AVO. Klik Modelling > 3D Model > build/Rebuild a
Pilih sumur (well) yang telah memenuhi syarat 49

Pilih sumur (well) yang telah memenuhi syarat

50

Bentuk sebuah geometri.

Dalam hal ini, trik pertama adalah mendapatkan sebuah header terhadap sudut EEI. Number of trace dapat diasumsikan sebagai jumlah sudut EEI, yakni dari rentang -90 s/d 90. Jumlahnya = 181. Maka number of inline = 181

Harga nilai X berada pada nilai -90, artinya sudut EEI berada pada koordinat X, dengan letak sudut awal (-90) berada paling kiri dari trace. X= -90

letak sudut awal (-90) berada paling kiri dari trace. X= -90 Pilih log yang dibutuhkan pada
letak sudut awal (-90) berada paling kiri dari trace. X= -90 Pilih log yang dibutuhkan pada

Pilih log yang dibutuhkan pada saat pengolahan log EEI, dalam hal ini log yang dibutuhkan adalah 3 log utama, yaitu log Vp, log Vs, dan log densitas.

adalah 3 log utama, yaitu log Vp, log Vs, dan log densitas. Pilih log yang akan

Pilih log yang akan diinversi EEI, dalam hal ini kita ambil contoh log Gamma Ray untuk litology, log Porositas untuk fluida, Water saturation, Vp/Vs, P- Impedance (AI), dan Poisson ratio.

Pilih awal dan akhir dari kedalaman log yang akan dianalisis. Contoh : 0 s/d 722
Pilih awal dan akhir dari kedalaman log yang akan dianalisis. Contoh : 0 s/d 722

Pilih awal dan akhir dari kedalaman log yang akan dianalisis. Contoh : 0 s/d 722

(m)

Pilih sampling rate. Dalam hal ini nilai sampling rate harus sama dengan sampling rate sumur pada saat melakukan proses logging.

rate. Dalam hal ini nilai sampling rate harus sama dengan sampling rate sumur pada saat melakukan
Terbentuk sebuah Peta bawah permukaan lengkap dengan sumur di dalamnya Setting sumur pada inline 91,
Terbentuk sebuah Peta bawah permukaan lengkap dengan sumur di dalamnya Setting sumur pada inline 91,

Terbentuk sebuah Peta bawah permukaan lengkap dengan sumur di dalamnya

Setting sumur pada inline 91, artinya sumur ini berada pada sudut X = 0. Log yang diinput adalah log AI. Sebagai interpretasi awal log AI akan berkorelasi maksimum dengan log EEI = 0.

X = 0. Log yang diinput adalah log AI. Sebagai interpretasi awal log AI akan berkorelasi
Proses selanjutnya, klik process > utility > trace maths. Dalam pengolahan dibutuhkan ketiga log utama,
Proses selanjutnya, klik process > utility > trace maths. Dalam pengolahan dibutuhkan ketiga log utama,

Proses selanjutnya, klik process > utility > trace maths.

Dalam pengolahan dibutuhkan ketiga log utama, atur usage menjadi used

Ubah nama sesuai dengan perintah di bawah.

maths. Dalam pengolahan dibutuhkan ketiga log utama, atur usage menjadi used Ubah nama sesuai dengan perintah
Ubah nama output volume menjadi EEI-logs 55
Ubah nama output volume menjadi EEI-logs 55
Ubah nama output volume menjadi EEI-logs 55

Ubah nama output volume menjadi EEI-logs

Ubah nama output volume menjadi EEI-logs 55
56

Copy script EEI.prs pada LAMPIRAN, kemudian paste pada menu parser

Copy script EEI.prs pada LAMPIRAN, kemudian paste pada menu parser NB : script dapat dilihat pada
Copy script EEI.prs pada LAMPIRAN, kemudian paste pada menu parser NB : script dapat dilihat pada
Copy script EEI.prs pada LAMPIRAN, kemudian paste pada menu parser NB : script dapat dilihat pada

NB : script dapat dilihat pada LAMPIRAN

Hasil akan menunjukkan spektrum impedansi – 90º to +90º. Sebagai analisis awal, input log P-Impedance
Hasil akan menunjukkan spektrum impedansi – 90º to +90º. Sebagai analisis awal, input log P-Impedance

Hasil akan menunjukkan spektrum impedansi 90º to +90º. Sebagai analisis awal, input log P-Impedance

Kemudian gunakan menu trace math untuk mengkroskorelasikan log EEI terhadap log yang akan diinversi. Sebagai langkah awal akan dilakukan cross corelation antara EEI log vs log porositas

Ubah nama EEI log volum menjadi ref, kemudian log volume porositas menjadi input. Kemudian pada menu usage, setting ke dalam used.

Dalam output volumenya, ubah nama sesuai nama log, misalnya xcor_por

Kemudian pada menu usage, setting ke dalam used. Dalam output volumenya, ubah nama sesuai nama log,
Script dari cross corelation dapat dilihat di lampiran. Atur parameter seperti sampling rate (s int)
Script dari cross corelation dapat dilihat di lampiran. Atur parameter seperti sampling rate (s int)

Script dari cross corelation dapat dilihat di lampiran.

Atur parameter seperti sampling rate (s int) yang sesuai : 0.2

Input start depth : 550 m

Input end depth : 710 m

Output start depth : 160 m

Max Delay : 0

NB : fokuskan pada zona target saja

NB : fokuskan pada zona target saja Hasil yang diperoleh masih acak dan belum terlihat menarik.

Hasil yang diperoleh masih acak dan belum terlihat menarik. Atur parameter (mata) kemudian ke menu scale untuk mengubah plot. Mean : 0 dan Std : 1

Atur juga pewarnaan dari color key.

Sehingga penampang terlihat lebih jelas 61

Sehingga penampang terlihat lebih jelas

Kemudian lakukan kros korelasi EEI log terhadap log lain yang akan diinversi. Misalnya log Gamma
Kemudian lakukan kros korelasi EEI log terhadap log lain yang akan diinversi. Misalnya log Gamma

Kemudian lakukan kros korelasi EEI log terhadap log lain yang akan diinversi. Misalnya log Gamma ray.

Atur sedemikian rupa pada menu trace math seperti petunjuk sebelumnya.

yang akan diinversi. Misalnya log Gamma ray. Atur sedemikian rupa pada menu trace math seperti petunjuk
Kemudian terlihat dalam hasil berupa spektrum reflektivitas kross korelasi EEI log dengan Gamma ray Melalui
Kemudian terlihat dalam hasil berupa spektrum reflektivitas kross korelasi EEI log dengan Gamma ray Melalui

Kemudian terlihat dalam hasil berupa spektrum reflektivitas kross korelasi EEI log dengan Gamma ray

reflektivitas kross korelasi EEI log dengan Gamma ray Melalui langkah di atas berarti telah didapatkan dua

Melalui langkah di atas berarti telah didapatkan dua contoh cross correlation, yakni log porositas untuk fluida dan log gamma ray untuk litologi.

Sekarang akan dilakukan crossplot antara log EEI terhadap log-log tersebut. Kegunaannya untuk mendapatkan nilai sudut yang berkorelasi maksimum terhadap log yang bersangkutan. Menurut Whitcombe (2002) setiap log akan

63

memiliki kemiripan sesuai parameter korelasi dengan log EEI. Untuk membuktikan hal ini dapat dilakukan pada menu crossplot window.

sesuai parameter korelasi dengan log EEI. Untuk membuktikan hal ini dapat dilakukan pada menu crossplot window.
Hasil menunjukkan cross corelation antara porosity log terhadap spektrum EEI log. X : sudut korelasi
Hasil menunjukkan cross corelation antara porosity log terhadap spektrum EEI log. X : sudut korelasi

Hasil menunjukkan cross corelation antara porosity log terhadap spektrum EEI log.

X

: sudut korelasi (ambil nilai maksimum atau minimum)

: korelasi
: korelasi

Y

Jika diperbesar, dapat dilihat log porosity berkorelasi maksimum pada sudut 45 0 dengan nilai korelasi
Jika diperbesar, dapat dilihat log porosity berkorelasi maksimum pada sudut 45 0 dengan nilai korelasi
Jika diperbesar, dapat dilihat log porosity berkorelasi maksimum pada sudut 45 0 dengan nilai korelasi
Jika diperbesar, dapat dilihat log porosity berkorelasi maksimum pada sudut 45 0 dengan nilai korelasi

Jika diperbesar, dapat dilihat log porosity berkorelasi maksimum pada sudut 45 0 dengan nilai korelasi sebesar 0.925

Kemudian lakukan proses yang sama untuk mengetahui cross correlation log Gamma ray terhadap log EEI….

Hasil perbesaran menunjukkan korelasi maksimum pada sudut 65 dengan korelasi sebesar 0.310 Kemudian buktikan bahwa
Hasil perbesaran menunjukkan korelasi maksimum pada sudut 65 dengan korelasi sebesar 0.310 Kemudian buktikan bahwa

Hasil perbesaran menunjukkan korelasi maksimum pada sudut 65 dengan korelasi sebesar 0.310

Kemudian buktikan bahwa log AI akan berkorelasi maksimum dengan log EEI (0)

Parameter yang paling penting diperhatikan adalah Pilih Sudut korelasi yang memiliki korelasi paling maksimum/minimum
Parameter yang paling penting diperhatikan adalah Pilih Sudut korelasi yang memiliki korelasi paling maksimum/minimum

Parameter yang paling penting diperhatikan adalah

Pilih Sudut korelasi yang memiliki korelasi paling maksimum/minimum (mendekati 1 atau mendekati -1)

Kemudian perhatikan nilai korelasinya, nilai korelasi sebaiknya di atas 0.7.

Proses berikutnya adalah menentukan reflektivitas log EEI yang telah diketahui dari proses sebelumnya

log EEI yang telah diketahui dari proses sebelumnya Dari rumus R= A + B tanx, didapatkan

Dari rumus R= A + B tanx, didapatkan nilai reflektifitas log-log EEI yang sensitif. A= Intercept, B= Gradient yang sudah didapatkan pada langkah sebelumnya. X=sudut korelasi. Intercept merupakan penampang pada saat offset 0, sudut datang 0. Gradient merupakan perubahan sudut datang dan amplitudo, seiring dengan bertambahnya offset (AVO).

Sebagai interpretasi awal, pada saat x=0 berarti gradient tidak ada, maka

R = A = Penampang Intercept itu sendiri, yang berarti EEI(0) = AI

Langkah awalnya, pada menu AVO, klik Process > utility > Trace Maths

pada menu AVO, klik Process > utility > Trace Maths Kemudian muncul window berikut: Pada Variable
Kemudian muncul window berikut: Pada Variable Name, ganti dengan A dan B, dan pada Usage,
Kemudian muncul window berikut:
Pada Variable Name,
ganti dengan A dan
B, dan pada Usage,
ganti menjadi used
ganti dengan A dan B, dan pada Usage, ganti menjadi used Akan muncul window seperti di

Akan muncul window seperti di sebelah kiri, kemudian pada Output Volume File, isi dengan nama file yang kita inginkan. Klik Next

muncul window seperti di sebelah kiri, kemudian pada masukkan rumus sesuai yang ada, yaitu A+Btanx.

muncul window seperti di sebelah kiri, kemudian pada masukkan rumus sesuai yang ada, yaitu A+Btanx.

Nilai x sesuai dengan sudut korelasi misal 20. Kemudian dikali dengan pi/180. Yang berarti pi/180=1.jadi hasilnya tetap sudut tan x. Klik Next

berarti pi/180=1.jadi hasilnya tetap sudut tan x. Klik Next Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik

Kemudian akan muncul window disebelah kiri, klik Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik OK.

Next kemudian akan muncul window disebelah kanan. Klik OK. Kemudian akan didapat penampang reflektifitas: Lakukan
Kemudian akan didapat penampang reflektifitas:

Kemudian akan didapat penampang reflektifitas:

Klik OK. Kemudian akan didapat penampang reflektifitas: Lakukan proses trace math ini menurut sudut korelasi yang

Lakukan proses trace math ini menurut sudut korelasi yang dibuat, untuk menghasilkan penampang seismiknya (mu rho, SI, lambda rho, Modulus Bulk) sesuai langkah diatas, hanya tinggal mengganti nilai sudutnya.