Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan


menstruasi. Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan, perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling
sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker
ovarium. Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang
banyak menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa
dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau
kanker1,2.
Perjalanan penyakit yang secara diam-diam menyebabkan banyak wanita
tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista ovarium dan hanya
mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau membesar. Kista
ovarium biasanya berukuran kecil dengan ukuran kurang dari 5 cm, berkapsul
dengan isi cairan. Beberapa kista ovarium ini tidak menimbulkan gejala, dan dapat
mengalami resolusi spontan, tetapi ada yang menyebabkan nyeri dan perasaan tidak
menyenangkan. Ada beberapa yang menjadi ganas, dengan risiko terjadinya
karsinoma terutama pada wanita wanita yang mulai menopause1.
Keganasan ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan
penyebab kematian oleh karena keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas
insidensi keganasan ovarium, rerata tertinggi terdapat di Negara Skandinavia (14,5-
15,3 per 100.000 populasi). Di Amerika insidensi keganasan ovarium semua ras
adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi pada tahun 1988 sampai 19913
Penanganan terhadap kista ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut.
Jadi tidak semua kista ovarium dioperasi, apalagi ternyata kista tersebut dapat
resolusi spontan. Tindakan operatif selain sangat invasif, dapat berdampak terhadap
fertilitas seseorang. Sehingga untuk menentukan apakah kista tersebut harus
diangkat atau tidak, diagnosisnya harus benar-benar jelas3.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan fisiologi ovarium


Organ system reproduksi wanita terdiri dari sepasang ovarium
sepasang tuba uterine, uterus, vagina, organ genitalia eksterna. Fungsi
utama organ-organ ini adalah menghasilkan oosit yang telah dibuahi sperma
selama masa embrionik hingga kelahiran, menyediakan nutrisi utama bagi
bayi yang telah lahir dan mensitesis hormone-hormon seksual yang
mempengaruhi system reproduksi dan system-sistem lainnya di seluruh
tubuh. Fungsi terkait sintesis hormone seksual ini terutama ditandai dengan
terjadinya menstruasi setiap bulannya dari masa menarche hingga 3

Gambar 1 Organ Kelamin Wanita

menopause. Ovarium berbentuk mirip kacang almond yang berukuran


panjang 3cm dan lebar 1,5 cm dan tebal 1cm. Permukaan luarnya hanya

2
dilapisi oleh epitel germinal yang berbentuk squamous atau kuboid
simpleks. Dibawah epitel germinal terdapat lapisan jaringan ikat padat yang
disebut tunika albuginea, struktur ovarum yang memberi kesan warna
putih pada anatomi makroskopisnya. Lapisan eptel germinal dan tunika
albuginea ini membungus struktur internal ovarium yang dibagi menjadi
korteks diluar dan medulla di dalamnya.
Korteks mengandung oosit-oosit dalam berbagai fase pertumbuhan
yang dilingkupi jaringan ikat stroma. Stroma ovarum ini terdiri dari jaringan
fbroblast yang ikut terpengaruhi stimulasi hormone secara berbeda
disbanding fibroblast di organ-organ lainnya. Semakin matur suatu oosit
dan folikel semakin terletak di perifer korteks ovarium.
Medulla ovarium berada di bawah korteks ovarium dan terdiri

Gambar 2 Sistem reproduksi wanita dan gambaran umum ovarium


(a) Diagram memperlihatkan organ internal system reproduksi
wanita, yang mencakup organ-organ utama ovarium, tuba uterine,
uterus dan vagina. (b) Pada gambar potongan lateral ovarium, (c)
Mikrograf potonga ovarium yang memperlihatkan region medulla
dan korteks serta sejumlah folikel dengan berbagai ukuran di korteks

3
jaringan ikat longgar yang kaya vaskuler. Batasan antara daerah medulla
dan korteks ovarium tidak selalu tampak jelas.
Oogenesis dan perkembangan sel folikel
Pembentukan sel gamet perempuan (oogenesis) berlangsung sejak
fase embrionik kehidupan. Pada bulan pertama fase embrionik sel-sel
germinal primordial pada janin perempuan bermigrasi dari membrane
kuning telur ke ovarium. Disini sel germinal primordial berdifferensiasi
menjadi oogonia (2n). Ooogonia-oogonia ini kemudian melakukan
pembelahan secara mitosis dan memperbanyak diri menjadi oogonium.
Pada bulan ketiga sebagian besar oogonium mengalami atresia dan tidak
berkembang, sedangkan sebagian kecil berkembang menjadi sel berukuran
lebih besar (oosit primer) yang memulai memasuki fase pertama
pembelahan secara meiosis (prophase I). Pada akhir bulan ketujug, hamper
semua oogonium telah berdiferensiasi menjadi oosit primer. Namun
demikian, fase meiosis I tidak berlangsung terus hingga akhir, dan
mengalami suatu ‘jeda’ hingga masa pubertas. Pada masa ‘jeda’ ini sel-sel
oosit dikelilingi oleh selapis sel-sel folikulas. Barulah pada masa pubertas
ini oosit-oosit primer yang berjumlah sektar 300.000 menjalani proses akhir
meiosis dan menghasilkan oosit-oosit sekunder dan badan polar yang dapat
membelah atau tidak membelah lagi. Atresia pada sel oosit terus
berlangsung selama masa reproduktif wanita sehinfa saat mencapai usia 40-
45tahun, hanya tertingga; sekitar 8000 sel oosit. Karena biasanya hanya
dilepaskan satu sel oosit di setiap bulannya sedangkan masa reproduktif
wanita berlangsung sekitar 30-40 tahun, kurang lebih ada hanya 450 oosit
yang dilepaskan ke tuba uterine.

4
Gambar 3 Gambar perkembangan dan perubahan folikel di
ovarium

Wanita yang telah memasuki masa pubertas akan mengalami siklus


hormone seksual yang mempengaruhi pertumbuhan setiap oosit besrta sel
folikel yang mengelilinginya. FSH dan LH dari hipofisis memicu sel folikel
primordial untuk tumbuh membelah diri secara mitosis dan berubah menjadi

5
selapis sel kuboid yang mengelilingi oosit. Sel folikel ini disebut sel folikel
unilaminar. Kemudian sel folikel tumbuh lagi dengan membelah diri
menjadi sel-sel folikel berlapis yang disebut lapisan sel granulosa. Sel
folikel pada tahap ini disebut sel folikel multilaminar atau sel folikel pre-
antrum. Sel-sel folikel pre antrum dan oositnya mensekresi zat amorph
glikoprotein tebal yang mengelilingi oosit di sebelah dalam. Lapisan
glikoprotein ini disebut zona pellusida. Filopodia dari sel-sel folikel dan
mikrovili dari oosit bersinggungan langsung dengan zona pellusida dan
berkomunikasi satu sama lain melalui gap junction.

Gambar 4 Tahapan folikel ovarium dari primordial hingga matur

Sel-sel folikel terus berproliferasi dan mensekresi cairan-cairan


yang terakumulasi diantara sel-sel folikel itu sendiri. Akumulasi cairan yang
diebut liquor folliculi ini membentuk suatu kavitas-kavitas kecil yag
disebut antrum. Pada tahapan ini sel folikel disebut sel folikel antrum.
Liquor follikuli berisi glikosaminoglikan, protein-protein dan hormone
steroid dalam kadar tinggi. Dalam perkembangannya akumulasi liquor
folliculi menjadi bertambah banyak sehingga kavitas antrum pun bertambah
lebar dan menjadi sel folikel matur (de graaf).
Sel folikel matur (de graaf) memiliki ciri kavitas antrum yang
sangat lebar dengan oosit dan lapisan granulosa yang mengelilinginya

6
terletak di perifer. Dalam pembentukan antrum, terjadi penyesuaian letak
sel-sel granulosa dan differensiasi stroma ovarium. Sebagian lapisan sel-sel
granulosa yang berubah letaknya akibat pembentukan antrum ini disebut
cumulus oophorus, dengan satu sisi menonjol kebagian dalam antrum
sambil mengelilingi oosit dan sisi lainnya menghadap ke sel-sel granulosa
lainnya. Beberapa sel granulosa terletak berdampingan mengelilingi oosit
disebut korona radiate. Fibroblas pada stroma ovarium juga kemudian
berdifferensiasi di sekitar sel-sel foliekl dan membentuk lapisan yang
disebut theca folliculi. Lapisan theca ini biasanya berdifferensiasi lagi
menjadi theca interna dan theca eksterna. Sel-sel yang membentuk
lapisan theca eksterna hanya berupa fibroblast yang tersusun melapisi theca
interna, sedangkan sel-sel pada theca interna berbentuk kuboid simpleks dan
memiliki banyak droplet lemak yang menjadi bahan dasar dari hormone
steroid androstenedion yang akan dihasilkan. Hormon ini kemudian
dibawa ke lapisan sel granulosa, yang di bawa pengaruh hormone FSH dari
hipofisis akan engubah hormone androstenedione ini menjadi hormone
estrogem yang akan disalurkan ke seluruh tubuh. Proses ovulasi dipicu oleh
kadar LH yang mendadak menjadi sangat tinggi akibat stimulasi kadar
estrogen yang tinggi. LH menyebabkan hpervaskularisasi dan
bocoronyaprotein di vaskuler ovarium sehingga menjadikannya edema.
Edema menyebabkan prostaglandin, histamine, dan kolagenase sehingga
tunika albuginea menjadi rapuh dan mudah rupture.
Pada fase folikel matang, oosit melengkapi proses meiosis I yang
telah dijalaninya sejak masa embrionik dan menghasilkan dua sel haploid
(n) yang memiliki ukuran yang tida sama berdasar sitoplasma yang
dikandungnya, Sel yang berukuran lebih besar disebut oosit sekunder,
sedangkan yang lebih kecil disebut badan polar I. Oosit sekunder segera
memasuki tahapan pertama dari pembelahan meiosis II namun berhenti
pada tahap metaphase II. Oosit yang dilingkupi oleh sel folikel de graaf ini
kemudian dilepaskan melalui proses ovulasi. Pada ovulasi, sel folikel de
graaf mengalami rupture dan membebaskan badan polar I dan oosit
sekunder beserta lapisan korona radiate nya. Sel-sle ini diterima fimbria

7
tuba dan dibawa ke lumen tuba. Bila fertilisasi tidak terjadi oosit sekunder
bedegenerasi. Apabila terdapat sel sperma yang melakukan penetrasi ke
oosit sekunder, fase meiosis II yang sempat terhenti di fase metaphase II
pun berlanjut hingga menghasilkan dua sel yang berbeda ukuran lagi. Sel
yang lebih kecil disebut badan polar II, sedangkan sel yang lebih besar
disebut sel ovum (n). Kemudian nucleus dari sel sperma (n) berfusi dengan
sel ovum (n) sehingga zygote yang bersifar diploid.

2.2 Korelasi siklus haid dan siklus ovarium dan hormone-hormone


pengaturnya

Sistem reproduksi wanita ditandai oleh siklus-siklus kompleks yang


terhenti oleh perubahan yang lebih kompleks yang terhenti oleh perubahan
yang lebih kompleks lagi sewaktu terjadi kehamilan. Ovarium berfungsi
menghasilkan ovum dan mengeluarkan hormone estrogen dan progesteron.
Estrogen pada wanita bertanggungjawab untuk berbagai fungsi yaitu
pematangan dan pemeliharaan seluruh system reproduksi wanita serta
pembentukan karakteristik sekunder wanita. Progesteron penting untuk
mempersiapkan lingkungan yang sesuai untuk janin yang sedang tumbuh
Menstruasi 12
Siklus ovarium terdiri atas folikel dan luteal. Folikel bekerja pada
paruh pertama siklus untuk menghasilkan telur matang pada saat ovulasi.
Corpus luteum mengambil alih peran pada paruh kedua siklus untuk
mempersiapkan saluran reproduksi wanita untuk kehamilan jika terjadi
pembuahan. Folikel terdiri atas sel granulosa dan sel teka, yang berfungsi
sebagai satu kesatuan untuk mensekresikan estrogen yang ditandai oleh
pebentukan antrum yang berisi cairan. Sewaktu sel folikel mulai
menghasilkan estrogen, sebagian dari hormone ini disekresikan kedalam
darah untuk disebarkan ke seluruh tubuh. Pada hari keempat belas , folikel
matang menjadi folikel de graaf dan kemudian terjadi ovulasi. Kemudian
ovarium memasuki fase luteal dimana foliekel yang telah rupture
membentuk korpus luteum (proses luteinisasi) yang menghasilkan

8
progesterone. Jika tidak terjadi kehamilan maka korpus luteum menjadi
korpus alibikans. Siklus menstruasi dipengaruhi oleh FSH dan LH untuk
mendorong maupun menghambat sekresi hormone ovarium. Estrogen
merangsang pertumbuhan myometrium dan endometrium. Hormon ini juga
meningkatkan sintesis reseptor progesterone di endometrium agar dapat
dipertahankan setelah dipersiapkan oleh estrogen. Dibawah pengaruh
progesterone jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan edematosa
akibat penimbunan elektrolit dan air unutk mempermudah implantasi dan
merangsang kelenjar endometrium agar mengeluarkan dan menyimpan
glikogen, menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah endometrium.
Progesteron juga menurunkan kontraktilias uterus agar kondusif untuk
implantasi. Saat menstruasi terjadi penurunan kadar hormone ovarium dan
sehingga merangsang prostaglandin uterus yang menyebabkan
vasokonstriksi pembuluh endometrium, penurunan oksigenasi sehingga
terjadi disintgrasi pembuluh darah yang dikeluarkan. Prostaglandin juga
merangsang kontraksi ritmik ringan myometrium, untuk membantu
mengeluarkan darah dan debris sebagai darah haid 12

9
Gambar 5 Siklus Ovarium dan Siklus Menstruasi 12

2.3 Definisi Kista Ovarium


Kista ovarium adalah suatu benjolan yang berada di ovarium yang
dapat mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah dimana
pada kehamilan yang disertai kista ovarium seolah-olah terjadi perlekatan
ruang bila kehamilan mulai membesar 3
Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang
paling sering dijumpai pada wanita di masa reproduksinya. Kista ovarium
disebabkan oleh ganguan (pembentukan) hormone pada hipotalamus,
hipofisis dan ovarium. Kista ovarium yang bersifat ganas disebut kanker
ovarium. Kista ovarium (kista indung telur) berarti kantung berisi cairan,
normalnya yang berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium)4

10
2.4 Etiologi Kista Ovarium
Menurut Nugroho (2010), kista ovarium disebabkan oleh ganguan
(pembentukan) hormone pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium.
Beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab tumor adalah bahan
karsinogen seperti rokok, bahan kimia, sisa-sisa pembakaran zat arang,
bahanbahan tambang. Seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Intan
Ayu Maulina (2013) dalam penelitiannya dengan judul “Asuhan Kebidanan
Gangguan Reproduksi pada Ny.M Umur 47 Tahun dengan Post Salpingo
Oophorektomi Dextra di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang”
menuliskan bahwa beberapa factor resiko berkembangnya kista ovarium,
adalah wanita yang biasanya memiliki:
 Riwayat kista terdahulu
 Siklus haid tidak teratur
 Perut buncit
 Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)
 Sulit hamil
 Penderita hipotiroid

Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti, kemungkinan


disebabkan oleh beberapa faktor pendukung, yaitu:
1) Ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen
2) Pertumbuhan folikel yang tidak terkontrol
3) Degenerasi ovarium
4) Gaya hidup tidak sehat yakni dengan:
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak, kurang serat dan
makanan berpengawet
b. Penggunaan zat tambahan pada makanan
c. Kurang berolah raga
d. Merokok dan mengkonsumsi alcohol
e. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
f. Sering stress
5) Faktor Genetik

11
Dalam tubuh kita terdapat gen – gen yang berpotensi memicu
kanker yaitu yang disebut protoonkgen, karena suatu sebab tertentu
misalnya karena makan makanan yang bersifat karsinogen, polusi
atauterpapar zat kimia tertentu atau atau karena radiasi, protoonkgen
ini dapat berubah menjadi onkgen yaitu gen pemicu kanker1
2.5 Klasifikasi Kista Ovarium
2.5.1 Sifat Kista
a. Kista Fisiologis
Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan
folikelnya berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya
kista tersebut berukuran dibawah 4 cm, dapat dideteksi dengan
menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan
hilang. Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi,
karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan,
tetapi perlu diamati apakah kista tersebut mengalami
pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat fisiologis ini dialami
oleh orang di usia reproduksi karena masih mengalami
menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri
pada saat haid. Beberapa jenis kista fisiologis diantaranya adalah
kista korpus luteal, kista folikular, kista teka-lutein 4
b. Kista Patologis
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker
ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian
terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang
tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan
tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis,
sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini
disebut juga sebagai silent killer. Angka kematian penyakit ini
di Indonesia belum diketahui dengan pasti.7
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat,
yang kadang tidak disadari penderita. Karena, kista tersebut
sering muncul tanpa gejala seperti penyakit umumnya. Itu

12
sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan. Gejala gejala seperti
perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa
tidak enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup
besar. Jika sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan
pengangkatan melalui proses laparoskopi.7,8
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium. Jenis ini ada
yang bersifat jinak dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot
dan benjolan yang tidak menyebar. Meski jinak kista ini dapat
berubah menjadi ganas. Tetapi sampai saat ini, belum diketahui
dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista ganas
yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding
sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fisiologis yang
hanya berisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran
cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas. 7,8,9

2.5.2 Jenis Kista


Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik
dan non neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan
ganas, dan tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan solid
A. Tumor Non Neoplastik
- Tumor akibat radang
o Abses ovarial
o Abses tubo – ovarial
o Kista tubo – ovarial
- Tumor lain
o Kista folikel
o Kista korpus lutein
o Kista teka-lutein
o Kista inklusi germinal
o Kista endometrium

13
B. Tumor Neoplastik Jinak
- Kistik
o Kistoma ovarii simpleks
o Kistadenoma ovarii musinosum
o Kistadenoma ovarii serosum
o Kista endometroid
o Kista dermoid
- Solid
o Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma,
angioma, limfangioma
o Tumor Brenner
o Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).7

Kista Ovarium Non-Neoplastik

a. Tumor Akibat Radang


Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang
terjadi pada adneksa. Tumor ini cukup jarang. Proses
pembentukan tumor ini didahului oleh masuknya bakteri
kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju ke
adneksa. Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses
imunologis sehingga terbentuk abses.7
b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai
berovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari
beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh di bawah
pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim,
melainkan membesar menjadi kista.bisa di dapati satu kista atau
beberapa dan besarnya biasanya berdiameter 1-1 ½cm. Dalam
menangani tumor ovarium timbul persoalan apakah tumor yang
dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya jika

14
diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu
karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri.7,9
Kista folikular merupakan jenis tumor ovarium jinak yang
paling banyak dijumpai. Kista ini merupakan folikel yang tidak
ruptur. Kista ini menghilang secara spontan dan umumnya
memiliki ukuran bervariasi antara 3 - 8 cm.
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel
yang tidak sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu
banyak mengandung estrogen sebagai respon terhadap
hipersekresi FSH (folikel stimulating hormon) dan LH
(luteinizing hormone) normalnya ditemui saat menopause
berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran limit 2,5 cm);
berasal dari folikel ovarium yang gagal mengalami involusi
atau gagal meresorpsi cairan. Dapat multipel dan bilateral.
Biasanya asimtomatik.7

Gambar 6 : Kista Folikel

c. Kista Korpus Lutein


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil
dan menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum
akan mempertahankan diri (korpus luteum persisten);
perdarahan yang terjadi di dalamnya akan menyebabkan kista,
berisi cairan berwarna merah coklat karena darah tua. Pada
pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi gambaran

15
yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning,
terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka.
Penanganan kista luteum ini menunggu sampai kista hilang
sendiri. Dalam hal ini dilakukan operasi atas dugaan kehamilan
ektopik terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa
mengorbankan ovarium.7,9

Gambar 7 : Kista Korpus Luteal

d. Kista Teka Lutein


Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista
ini ialah akibat pengaruh hormone koriogonadrotropin yang
berlebihan.7,9
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum
indung telur yang fungsional dan membesar bukan karena
tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang berlebihan saat
fase pendarahan dari siklus menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna
seperti jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari
growth indung telur, serta terapi hormone 7

16
Gambar 8 : Kista Teka Lutein

e. Kista Inklusi Germinal


Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil
dari epitel germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya
terjadi pada wanita usia lanjut dan besarnya jarang melebihi 1
cm. Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya
terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan
isinya cairan jernih dan serous.7,9

17
Gambar 9 : Kista Inklusi Germinal

f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat
proliferasi dari sel yang mirip dinding endometrium, umumnya
berisi darah yang merupakan hasil peluruhan dinding saat
menstruasi 7
Neoplasti Jinak
1. Kistik:
i. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus,
biasanya bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi
besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista jernih,
serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak
lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium, akan tetapi jarinngan yang
dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk
mengetahui apakah ada keganasan.7,9
ii. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir
sama dengan kistadenoma musinosum dan dijumpai pada
golongan umur yang sama. Kista ini sering ditemukan
bilateral (10-20%) daripada kistadenoma musinosum.
Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang

18
abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran
kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin,
tetapi dapat juga lobulated karena kista serosum pun dapat
berbentuk multikolur, meskipun lazimnya berongga satu.
Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan
papiler ke dalam rongga kista sebesar 50% dan keluar pada
permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning dan
kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak
jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh
dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma)
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit
membedakan gambaran makroskopis kistadenoma serosum
papileferum yang ganas dari yang jinak, bahkan pemeriksaan
rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista
yang dilapisi epitel kubik atau torak yang rendah, dengan
sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan gelap
warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epithelum), maka bentuk epitel pada
papil dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar terdiri atas
epitel bulu getar seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler
dapat ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya
yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma menunjukkan
bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum
papiliferum, tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa
proliferatif. Kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan rutin
dari pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa
ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan
ditemukan massa abdomen atau pun ascites. Kelainan ekstra

19
abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium kecuali
pada stadium terminal. 7,8,13
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi
dan stratifikasi epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-
sel, kistadenoma serosum secara makroskopik digolongkan
ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari kistadenoma
serosum mengalami perubahan keganasan. Bila terdapat
implantasi pada peritoneum disertai dengan ascites,
prognosis penyakit adalah kurang baik. Meskipun
diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut
mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara
klinis harus dianggap sebagai neoplasma ovarium ganas
(clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor.
Tetapi oleh karena berhubung dengan besarnya
kemungkinan keganasan perlu dilakukan pemeriksaan yang
teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang--
kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen
section) pada saat operasi, untuk menentukan tindakan
selanjutnya pada waktu operasi.7,9

Gambar 10 : Kista Ovarium Serosum

20
iii. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor
ini mungkin muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma
atau sebagai metaplasia mucinosum dari mesothelium.
Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada
penderia yang muda. Paling sering pada wanita berusia
antara 20-50 tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas.
Tumor evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama
dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor ini
merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang
kistadenoma ovarii musinosum nerupakan 40% dari seluruh
kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin,
permukaan berbagala (lobulated) dan umumnya
multitokular dan odematosa; lokular yang mengandung
niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya. Kira-
kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada
tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi.
Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai
yang bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan
terutama apabila terjadi perdarahan atau perubahan
degeneratif di dalam kista. Pada permukaan terdapat cairan
lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan
berwarna kuning sampai coklat tergantung dari
percampurannya dengan darah.
Pemeriksaan mikroskopik : tampak dinding kista
dilapisi oleh epital torak tinggi dan sel-sel goblet yang terisi
lendir. Sel-sel epitel yang terdapat dalam satu lapisan
bersifat odernatus dan mempunyai potensi untuk tumbuh
seperti struktur kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-

21
kista baru, yang menyebabkan kista menjadi multilokuler.
Jika terjadi suatu sobekan pada dinding kista (spontan
ataupun pada saat operasi), maka sel-sel epitel dapat
tersebar pada permukaan peritoneum rongga perut, dan
sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat
pseudorniksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan
musin terus bertambah dan menyebabkan banyak
perlengketan. Akhirnya penderita meninggal karena ileus.
Pada kista kadang-kadang ditemukan daerah padat dan
pertumbuhan papiler.7,9

iv. Kista Endometroid


Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya
terlepas sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan
seperti darah); tidak terletak dalam rahim tetapi melekat
pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini setiap kali
haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid yang akan
terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1
pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit
terutama sewaktu haid/ sexual intercourse.7,9

Gambar 11 :Kista Endometroid

v. Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma
ovarium yang kistik, dan paling sering ditemukan pada

22
wanita yang masih muda. 25% dari semua kista dermoid
bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi
walaupun dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat
mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai
beberapa kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang
sempurna saat pembentukan lapisan embrional. Lapisan
ektoderm yang saat dewasa akan menjadi sel sel folikel
rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna tumbuh di
sekitar ovarium. Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas.
Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis.
Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain
padat. Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi
(ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat
(mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel
saluran kista terdapat produk kelenjer sebasea berupa massa
lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai
dengan gejala nyeri mendadak di perut bagian bawah. Ada
kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan
akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.
Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5%
dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita lewat
menopause.7,9

Gambar 12 : Kista Dermoid

23
2. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma. Akan
tetapi, ini tidak berarti bahwa termasuk suatu neoplasma yang
ganas, meskipun semuanya berpotensi maligna. Potensi menjadi
ganas sangat berbeda pada berbagai jenis, umpamanya sangat
rendah pada fibroma ovarium dan sangat tinggi pada teratoma
embrional yang padat.7,13
i. Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma
ovarium, kurang dari 1%. Fibroma ovarii berasal dari
elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim yang
multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua
neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan pada
penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan
beratnya 20 kg, dengan 90% uniteral. Permukaan tidak rata,
konsistensi keras, warnanya merah jambu keabuan. Apabila
konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan
apabila lunak disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri
atas jaringan ikat dengan sel-sel di tengah jaringan kolagen.
Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut
kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya
mempunyai tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor
ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii,
ascites, hidrotoraks). 7,8,13
ii. Tumor Brenner
Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat
jarang ditemukan, biasanya pada wanita dekat atau sesudah
menopause. Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium.
Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang
beratnya beberapa kilogram. Lazimnya tumor ini unilateral.

24
Pada pembelahan berwarna kuning muda seperti fibroma,
dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini
temukan sindroma Meigs. Gambar mikroskopis tumor ini
sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-sarang yang
terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi jaringan ikat yang
luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-
gejala klinik yang khas, dan jika masih kecil, biasanya
ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
histopatologik ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam
beberapa kasus tumor ini menunjukkan keganasan pada
histopatologi dan klinisnya.7,8,13
iii. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)
Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral
dan besarnya bervariasi antara 0,5-16 cm. Beberapa dari
tumor ini menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri atas
hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan
perubahan suara.

2.6 Etiologi Kista Ovarium


Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri.
Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus
menstruasi.
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.6
a) Riwayat kista ovarium sebelumnya
b) Siklus menstruasi yang tidak teratur
c) Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
d) Menstruasi dini
e) Tingkat kesuburan
f) Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang
g) Terapi tamosifen pada kanker mamma

25
Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga
akibat abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker
yang tercetus oleh radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.

2.7 Gejala dan Tanda


Gejala umum termasuk nyeri panggul bawah sebelah atau nyeri
perut bawah, sering menjalar ke belakang. Kista juga dapat membuat siklus
haid terasa sangat nyeri. Nyeri biasanya meningkat dengan coitus, sehingga
sering dikira pelvic inflammatory disease. Mual bisa juga terjadi. Pada
sebagian besar kasus, nyeri berkurang dalam 3 hari. Pada sebagian kasus
serius, ruptur kista ovarium dapat berakibat perdarahan internal yang pasti,
yang bermanifestasi dengan tanda dan gejala syok, dan/atau perdarahan
vagina yang berat. Kista juga dapat menekan sistem urinarius dan
menyebabkan masalah aliran urine18
Pada sekitar 50% kasus, tumor didapat secara tidak sengaja melalui
pemeriksaan. Bagaimanapun pasien dapat mengalami berbagai macam
gejala, seperti nyeri perut, distensi abdomen, perdarahan abnormal, gejala
urinari, atau infertilitas primer19

26
2.8 Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
fisik. Namun biasanya sangat sulit untuk menemukan kista melalui
pemeriksaan fisik. Maka kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
mendiagnosis kista ovarium. Pemeriksaan yang umum digunakan adalah :
a. Ultrasonografi (USG)
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan
keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan
menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan
cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.
Kista sederhana yang berukuran ≤ 6 cm harus dipantau
dengan USG. Kista yang besar dapat terlihat pada film polos
abdomen sebagai massa jaringan lunak yang berasal dari luar
pelvis. Kista kompleks dapat bersifat hemoragik atau merupakan
suatu endometrioma.20
CT dan MRI keduanya merupakan modalitas pencitraan
yang akurat jika USG memberikan hasil yang kurang jelas atau
jika terdapat kecurigaan adanya keganasan.20
Dari gambaran USG dapat terlihat:
a. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-
kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan
dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista
nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding
depannya.
b. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau
multilokuler (bersepta-septa).
c. Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-
halus (internal echoes) di dalam kista yang berasal dari
elemen-elemen darah di dalam kista.

27
Gambar 2.13 : Gambaran Kista pada USG

USG endovaginal
menunjukkan penarikan
massa echogenik ke lateral
terhadap uterus, dengan
bayangan akustik
posterior yang
menunjukkan “tip-of-the-
iceberg” appearance. Ini
merupakan tanda
patognomonik untuk kista
dermoid. Kadang-kadang,
gambaran ini dapat
Gambar 14 USG endovaginal pada kista
disalahartikan dengan
ovarium(21)
usus yang berisi udara(21).

USG transabdominal
dari kista ovarium
multilokular kanan dengan
diameter 24 cm,
berbatasan dengan tuba
fallopi dan uterus.

28
Ligamen infundibulo-
pelvik membawa arteri dan
vena ovarium telah
terbagi. USG ini
menunjukkan massa kista
yang besar,

Gambar 15 USG transabdominal pada kista


ovarium(21)

kompleks dengan vaskularisasi dalam septa. Warna merah dan biru menunjukkan
darah mengalir masuk dan keluar dari transduser. Indeks resistive rendah(21).

Gambar 2.16 USG ovarium pada kista ovarium(22)


K = kista ovarium, U = uterus, B = buli-buli

Suatu kista memberikan gambaran daerah yang bebas eko, disertai


peninggian densitas eko pada dinding distal

29
Gambar 17 USG ovarium pada kista Gambar 18 USG ovarium pada
ovarium(8) kista ovarium(8)

b. CT Scan
CT scan tidak sebanding USG dan MRI dalam membantu
mengenali kista ovarium dan massa pelvis. CT scan
memungkinkan pemeriksaan isi rongga abdomen dan
retroperitoneum pada kasus penyakit keganasan ovarium.(21)

Gambar 19 CT scan ovarium normal(21) Gambar 20 CT scan ovarium pada kista


ovarium(21)

c. MRI
MRI memungkinkan evaluasi yang lebih jelas dari lesi yang
dianggap tidak jelas setelah melakukan USG. Gambar MRI
mempunyai kontras jaringan lunak yang lebih baik
dibandingkan dengan gambar CT scan, terutama dalam
mengidentifikasi lemak dan produk darah, dan dapat

30
memberikan suatu gambaran yang lebih baik dari asal organ
massa ginekologi. MRI tidak penting pada sebagian besar
kasus.(21)

Gambar 21 MRI pada kista ovarium(21)


B = bladder, C = kista ovarium
Sagittal T2-weighted turbo spin-echo image (3,900/99) menunjukkan
peningkatan inhomogen intensitas sinyal massa (arrowheads). Perhatikan
invasi fokal miometrium yang dalam (arrow)

d. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun
diagnosis apakah tumor tersebut bersifat jinak atau ganas.
Berikut pemeriksaan yang umum dilakukan untuk
mendiagnosis kista ovarium.
 Pemeriksaan Beta-HCG  Pemeriksaan ini
digunakan untuk screening awal apakah wanita
tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan ini dapat
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.
 Pemeriksaan Darah Lengkap  Untuk sebuah
penyakit keganasan, dapat diperkirakan melalui LED.

31
Parameter lain seperti leukosit, HB, HT juga dapat
membantu pemeriksa menilai keadaan pasien.
 Urinalisis  Urinalisis penting untuk mencari apakah
ada kemungkinan lain, baik batu saluran kemih, atau
infeksi dan untuk menyingkirkan diagnosis banding.
 Pemeriksaan Tumor Marker  Tumor marker
spesifik pada keganasan ovarium adalah CA125. CEA
juga dapat diperiksa, namun CEA kurang spesifik
karena marker ini juga mewakili keganasan kolorektal,
uterus dan ovarium.

e. Pemeriksaan Patologi Anatomi


Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat
keganasan dari tumor ovarium. Pemeriksaan ini biasanya
dilakukan bersama dengan proses operasi, kemudian sampel
difiksasi dan diperiksa dibawah mikroskop.6

2.9 Diagnosis Banding


Diagnosis banding kista ovarium, antara lain:
a) Kehamilan ektopik(21)

Kehamilan
ektopik dan kista
korpus luteum
menunjukkan
gambaran yang sama
termasuk dengan
adanya "ring of fire"
atau “ring of vessels”
sekitar lesi (pada
Color Doppler
Gambar 23 USG pada kehamilan imaging). Ovarium
ektopik(23)

32
kiri tidak terlihat
terpisah dari kista ad-

neksa kiri, juga tidak ada tanda penting adanya cairan pada cul de
sac, apalagi, adanya kehamilan ektopik mengarah ke diagnosis kista
korpus luteum ovarium kiri.(14)

2.10 Penatalaksanaan
Terapi kista ovarium bergantung dari beberapa faktor, yaitu
ukuran dan jenis kista, umur dan kondisi kesehatan penderita,
rencana kehamilan di masa depan, demikian juga dengan beratnya
gejala-gejala yang terjadi.
Dua prinsip penting dalam manajemen kista ovarium
yaitu7,10:
1. Sikap wait and see. Oleh karena mayoritas kista adalah
kista fungsional yang akan menyusut dengan sendirinya
dalam 2 – 3 bulan. Semakin dini deteksinya semakin
mudah pengobatannya. Tentu setiap wanita berharap agar
ovariumnya tetap utuh, tidak rusak atau dapat
dipertahankan, jika diputuskan untuk mengangkat kista.
Kemungkinan ini dapat terjadi jika kista ditemukan dalam
stadium dini.
2. Pilihan lainnya ialah terapi bedah. Indikasi bedah ialah
kista yang tidak menghilang dalam beberapa kali siklus
menstruasi atau kista yang memiliki ukuran demikian
besar, kista yang ditemukan pada wanita yang menopause
atau kista yang menimbulkan rasa nyeri luar biasa dan
sampai timbul perdarahan. Tindakan bedah dapat sangat
terbatas berupa pengangkatan kista dengan tetap
mempertahankan ovarium. Tindakan ini kemungkinan
dapat menjadi lebih ekstensif, mulai dari pengangkatan

33
seluruh ovarium atau lebih luas lagi merembet ke
pengangkatan uterus (histerektomi total).
Prinsip penanganan kista ovarium bahwa tumor ovarium
neoplastik memerlukan operasi dan tumor nonneoplastik tidak, jika
menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala/keluhan
pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya,
kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista
korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan
secara spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk
menunggu selama 2 – 3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat
peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, dapat diambil
kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik
dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak
ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada
bagian ovarium yang mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya
besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium,
biasanya disertai pengangkatan tuba (salphyngo-ooforektomi). Jika
terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah histerektomi dan
salphyngo-ooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda
yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat
keganasan tumor yang rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk
mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa
radikal.

34
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. D
Umur : 55 thn
Jenis Kelamin : Wanita
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SD/sederajat
Status Perkawinan : Kawin
Suku Bangsa : Jawa
No. CM : 433***
Tanggal Masuk : 28-03-2018

3.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada pasien pada tanggal 4 april
2018 pukul 15.00 WIB di ruang ICU
1. Keluhan Utama : Sakit perut bagian bawah
2. Keluhan Tambahan : Demam + Mual muntah
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang diantar keluarga ke IGD RSUD K.R.M.T
Wongsonegoro Kota Semarang pada tanggal 28 Maret 2018 pukul 20.00
dengan keluhan penurunan perut kiri atas terasa sangat sakit disertai demam
selama 3 hari, sudah dirasakan sejak satu setengah tahun terakhir dan
semakin memberat sejak 3 bulan terakhir disertai nyeri perut bagian bawah.
Pasien merasakan mual muntah. Pasien juga mengeluhkan sering buang air
kecil kesehariannya. Pasien mengeluhkan apabila menstruasi merasa nyeri
dan sudah menopause satu tahun yang lalu. Pasienmempunyai riwayat minum

35
jamu daun sirih setelah menstruasi. Pasien juga tidak ada riwayat merokok,
minum-minuman beralkohol.

4. Riwayat Penyakit Dahulu :


Keluhan serupa : sejak satu setengah
tahun yang lalu dan belum pernah diobati
Hipertensi : tidak diketahui
Alergi : disangkal
Asma : disangkal
Diabetes Mellitus : tidak diketahui
Penyakit jantung : disangkal
Penyakit paru : disangkal
Penyakit ginjal : disangkal
Riwayat operasi : disangkal
Riwayat trauma : disangkal
Riwayat vertigo : disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga :


Hipertensi : disangkal
Alergi : disangkal
Asma : disangkal
Diabetes Mellitus : disangkal
Penyakit jantung : disangkal
Penyakit ginjal : disangkal
Penyakit stroke : disangkal
6. Riwayat Pengobatan : hanya minum obat pereda nyeri dari apotik
7. Riwayat Kebiasaan :
Riwayat merokok : disangkal
Riwayat konsumsi alkohol : disangkal
Riwayat makan minum : pasien gemar makan nasi padang
hampir setiap hari
8. Riwayat Sosial Ekonomi :

36
Pasien sudah tidak bekerja. Biaya pengobatan pasien pada saat ini
ditanggung oleh BPJS PBI.
Kesan : status sosial ekonomi kurang.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 4 April 2018 pukul 15.30 WIB di Nakula
2
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit
Kesadaran : Compossmentis, GCS15
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 130/80 mmHg (berbaring)
Denyut Nadi : 80 x/menit, reguler
Suhu : 36,9°C
Laju Pernapasan : 20 x/menit
Saturasi Oksigen : 98%
Keadaan Gizi : Baik

Pemeriksaan Sistem
Kepala : Bentuk normosefal, tidak ada benjolan.
Mata : Pupil bulat, isokor, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
injeksi konjungtiva -/-, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung +/+. Reflex kornea +/+
Telinga : Bentuk normal, tidak hiperemis, sekret -/-
Hidung : Bentuk normal, deviasi septum (-), depresi tulang hidung (-),
sekret (-), epistaksis (-).
Mulut : Mukosa merah mudah, sianosis (-)
Leher : Trakea di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,
Paru-paru :

37
Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan dada simetris saat diam
dan bernapas, retraksi sela iga (-), sela iga melebar (-).
Palpasi : Stem Fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler suara tambahan -
Jantung
Inspeksi : Pulsasi iktus kordis tidak tampak.
Palpasi : Pulsasi iktus kordis teraba di MCL sinistra ICS V.
Perkusi : Batas jantung atas pada sternal line sinistra ICS II.
Batas jantung kanan pada parasternal line dextra ICS IV.
Batas jantung kiri pada MCL sinistra ICS V.
Auskultasi : Bunyi jantung I & II reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen
Inspeksi : Tampak perut membesar, tidak ada tanda peradangan
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (+)
Perkusi : Timpani di seluruh kuadran abdomen.
Ekstremitas : Akral hangat, edema -/-, capillary refill time < 2
detik.
Kulit : Turgor kulit baik, ikterik (-).
Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium darah pada 31 Maret 2018
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Hemoglobin 5,7 L g/dL 11,7 – 15,5
Hematokrit 20,60 % 35 – 47
Jumlah leukosit 14,2 H /μL 3,6 – 11,0
Jumlah trombosit 444 H /μL 150 – 400
Kimia Klinik
Ureum 19,4 mg/dL 17,0 – 43,0
Creatinin 0,4 L mg/dL 0,5 – 0,8
SGOT 6 U/L 0-35
SGPT 11 U/L 0-35

38
Natrium 137 mmol/L 135,0 – 147,0
Kalium 3,80 mmol/L 3,50 – 5,0
Calsium 1,19 mmol/L 1,12 – 1,32
Pemeriksaan laboratorium darah pada 2 April 2018
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Hemoglobin 8,1 L g/dL 11,7 – 15,5
Hematokrit 27,10 L % 35 – 47
Jumlah leukosit 10,8 /μL 3,6 – 11,0
Jumlah trombosit 434 H /μL 150 – 400
Asam Urat 3,1 mg/dL 2,4-7,4
Kolesterol total 128 mg/dL <200
Trigliserida 85 mg/dL <=150
Bilirubin Direk 0,34 mg/dL 0-0,35
Bilirubin Indirek 0,61 mg/dL 0 – 0,65
Bilirubiin Total 0,95 mg/dL 0–1
HbsAg -

Pemeriksaan USG abdomen pada 22 Maret 2018


Deskripsi :
HEPAR ukuran dan bentuk normal, parenkim homogen, eksogenitas normal, tepi
rata, sudut tajam, tak tampak nodul, V.Porta dan V.Hepatika tak melebar.
Duktus biliaris intra-ekstrahepatal tak melebar.
VESIKA FELEA tak membesar, dinding tak menebal, batu (-), sludge (-).
LIEN ukuran normal, parenkim homogen, V.Lienalis tak melebar, nodul (-).
PANKREAS ukuran normal, parenkim homogen, duktus pankreatikus tak
melebar.
GINJAL KANAN ukuran dan bentuk normal, batas kortikomeduler jelas, PCS tak
melebar, tak tampak batu, tampak simple cyst dengan diameter 1,82 cm
GINJAL KIRI ukuran dan bentuk normal, batas kortikomeduler jelas, PCS tak
melebar, tak tampak massa
AORTA tak tampak melebar. Tak tampak pembesaran limfanodi paraaorta.

39
VESIKA URINARIA dinding tak menebal, permukaan regular, tak tampak
batu/massa.
ADNEKSA pada adneksa kiri tampak lesi anekoik oval batas egas tepi regular
ukuran sekitar
Pada kavum pelvis di region posterior vesika urinaria, tampak massa anekoik
oval, atas tegas, regular
Kesan:
Simple cyst ginjal kanan diameter 1,82 cm
Lesi kistik oval, tepi regular di adneksa kiri (ukuran sekitar 7,25 x 3,98 x 6,55 cm )
 DD cyst , paraovarian cyst.
Massa kistik oval tepi regular bersepta disertai bagian solid di dalamnya, ukuran
sekitar 11,2 x 8,71 x 13,5 cm pada kavum pelvis posterior vesika urinaria  curgia
masa ovarium

40
.

3.5 DIAGNOSIS
Kista Ovarium
3.6 Rencana Diagnostik
Biopsi

3.7 RENCANA MONITORING


- KU, kesadaran, TTV, diuresis

3.8 TATALAKSANA
Terapi Farmakologis
- Asering 20 g
- Ondansentron 4mg
- Ranitidin 50mg
Terapi Non Farmakologis
- Istirahat
- Operasi

41
3.9 EDEUKASI
- Jelaskan pada pasien tentang diagnosis, dasar diagnosis, komplikasi serta
prognosis.
- Jelaskan pada pasien tentang pentingnya kontrol rutin.
- Motivasi pemgobatan

3.10 PROGNOSTIK
Ad Vitam : Dubia ad bonam
Ad Functionam : Dubia ad bonam
Ad Sanationam : Dubia ad bonam

42
BAB IV

PEMBAHASAN

Seorang wanita berusia 55 tahun datang ke IGD dengan keluhan sakit perut
kanan bawah sudah satu setengah tahun terakhir dan disertai demam, mual dan
muntah 3 hari terakhir. Pasien sudah menopause setahun terakhir. Dulu apabila
menstruasi sering terasa nyeri. Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD 130/80 mmhg
dan pada pemeriksaa status generalisata semua organ dalam batas normal, kecuali
pada pemeriksaan fisik abdomen tampak perut membesar disertai nyeri tekan (+).
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Hb dan Ht yang rendah menandakan
pada psien ini terdapat anemia.

Kista ovarium yaitu suatu benjolan yang berada di ovarium yang dapat
mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah dimana pada kehamilan
yang disertai kista ovarium seolah-olah terjadi perlekatan ruang bila kehamilan
mulai membesar. Disertai dengan gejala nyeri perut, mual muntah, kadang disertai
oerdarahn dan kadang ada disertai massa.

Pada kasus ini diusulkan pemeriksaan penunjang radiologi yatu USG


abdomen karena dicurigai adanya kelainan pada regio abdomen. Pada pemeriksaan
USG didapatkan ada nya kista dan massa ovarium.

43
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba, I.B.G., I.A. Chandranita Manuaba, dan I.B.G. Fajar Manuaba.


Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2007
2. Cunningham F.G., 2012. Obstetri Williams. Cetakan 23, EGC, Jakarta.
3. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
4. Nugroho, Taufan. 2010. Buku Ajar Ginekologi untuk Mahasiswi Kebidanan.
Yogyakarta: Nuha Medika
5. Medscape Reference , Ovarium Anatomy, Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3, Last
Update October 3, 2013. Accessed on 13 april 2018.
6. Medscape Reference , Ovarian Cyst
http://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0101, Last Update
August 19, 2013. Accessed on April 23, 2014.
7. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999: 13-14
8. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta,
1998
9. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
10. F.Paulsen & J.Waschke. 2012. Atlas Anatomi Manusia “Sobotta”, Edisi 23
Jilid 1. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
11. Scanlon, V.C dan Sanders, T. 2007. Essensials of Anatomy and Physiology
(5th ed.). Philadelphia: F.A Davis Company
12. Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta: EGC
13. Schorge et al. William’s Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic Oncology
Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..2008

44
14. Marret H. 2001. Doppler ultrasonography in the diagnosis of ovarian cyst:
indication, pertinence and diagnosis criteria. Dalam: Journal of Obstetry
Gynaecology Biology Reproduction Paris. Hal 20-33.
15. Anurogo D. 2009. Kista ovarium. Available from http://www.netsains.com.
(accessed: August, 13 2011)
16. Laurvick CL, Semmens JB. 2002. Ovarian Cancer in Western Australia, 1982-
1998: a Population-based Review of the Rends and Outcomes. Proceedings
Simposium on Health Data Linkage. Available from
http://www.publichealth.gov.au. (accessed: August, 13 2011)
17. Howe HL. Epidemiology of Ovarian Cancer in Illinois 1988-1991. Available
at http://www.idph.state.il.us
18. Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
19. Addar, Mohammed H. Recurrent Stage I Borderline Serous Ovarian Tumor.
[Online]. 1999. [cited April 20th, 2011]. Available from:
http://kfshrc.edu.sa/anuals/old/193/98-278.pdf
20. Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes Radiologi. Jakarta: Erlangga.
21. Helm, C. William. Ovarian Cyst: Differential Diagnoses and Work Up.
[Online]. 2010. [cited April 14th, 2018]. Available from:
http://emedicine.medscape.com
22. Rasad, Sjahriar. 2006. Radiologi Diagnostik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
23. http://www.radiologyassistant.nl/en/p4d85aa9a92bbb/diagnostic-work-up-of-
ovarian-cysts.html
24. http://www.radiologyassistant.nl/en/p4cdf9b5de7d3b/ovarian-cysts-common-
lesions.html

45