Anda di halaman 1dari 11

STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH PARIA

DI PT. BENIH CITRA ASIA JEMBER JAWA TIMUR

MAGANG KERJA

Oleh :
NOORFAKHRIYAH AHSANTI NABILAH

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL MAGANG KERJA

STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH PARIA


DI PT. BENIH CITRA ASIA JEMBER JAWA TIMUR

Disetujui Oleh:

Pembimbing Utama,

Prof. Dr. Ir. Lita Soetopo


NIP. 195104081979032001
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Paria merupakan tanaman sayuran buah yang tumbuhnya merambat atau


menjalar. Paria dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah dan banyak ditemukan
di daerah tropis. Tanaman ini tidak perlu cahaya matahari yang terlalu banyak
sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang ternaungi. Tanaman ini mudah
dibudidayakan karena tumbuhnya tidak tergantung musim. Dikarenakan rasa
buahnya yang pahit, paria ini kurang disukai oleh masyarakat. Akan tetapi, dibalik
rasanya yang pahit buah pare ini menyimpan kandungan yang bermanfaat bagi
kesehatan manusia. Saat ini telah banyak hasil-hasil penelitian yang membahas
tentang potensi tanaman pare mengenai kandungan zat yang terdapat di dalamnya.
Contoh manfaat dari buah pare ini yaitu sebagai antikanker, antiinfeksi, dan
berkhasiat sebagai anti AIDS (Rita et al., 2008).
Maka dengan banyaknya potensi yang terkandung di dalam buah pare ini
dapat dijadikan peluang pasar bagi petani untuk membudidayakan pare sehingga
dapat dijadikan sumber penghasilan dan peningkatan pendapatan. Salah satu hal
yang harus diperhatikan untuk menghasilkan produksi paria yang tinggi yaitu
penggunaan benih unggul. Benih yang unggul ini harus sudah dilakukan pengujian
benih sehingga terjamin kualitas dan mutunya. Salah satu perusahaan yang telah
melakukan kegiatan produksi yang menghasilkan benih unggul yaitu PT. Benih
Citra Asia di Jember, Jawa Timur. Perusahaan ini telah banyak menghasilkan
benih-benih sayuran yang unggul, salah satunya paria. Adanya berbagai potensi dan
permasalahan dalam produksi benih paria, maka diperlukan suatu studi yang dapat
melatih mahasiswa dalam mengetahui serta memecahkan permalasahan dalam
teknik produksi benih paria secara langsung di lapang melalui kegiatan magang
kerja di PT. Benih Citra Asia Jember, Jawa Timur.
1.2 Tujuan Magang Kerja
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai hubungan antara teori dengan
penerapannya di dunia kerja (lapangan) sebagai bekal bagi mahasiswa setelah
terjun ke masyarakat.
2. Memperoleh ketrampilan dan pengalaman kerja dalam bidang pertanian
khususnya pada teknik produksi benih paria di PT. Benih Citra Asia Jember,
Jawa Timur.
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Paria


Paria atau pare merupakan tanaman sayuran yang tumbuh merambat dengan
sulur berbentuk spiral. Tanaman ini berasal dari wilayah asia tropis, terutama
daerah India bagian barat, yaitu Assam dan Burma. Berdasarkan ilmu taksonomi
atau klasifikasi tanaman, pare dikelompokkan sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Momordica
Spesies : Momordica charantia
Pare memiliki batang yang berambut berwarna hijau dan berusuk lima dan
daunnya berbulu berbentuk bulat telur dan letaknya berseling dengan tangkai
sepanjang 1,5-5,3 cm. Panjang tangkai daun mencapai 7-12 cm yang tumbuh dari
ketiak daun. Bunga pare terdiri dari bunga jantan dan betina yang berduri dan
berambut yang berwarna kuning menyala. Panjang tangkai bunga jantan mencapai
2-5,5 cm sedangkan tangkai bunga betina 1-10 cm. Buahnya bulat memanjang
dengan permukaan berbintil-bintil dan berasa pahit. Daging buahnya tebal dan
terdapat banyak biji di dalamnya. Biji pare berbentuk bulat pipih dan permukaanya
tidak rata. Biji buah pare ini digunakan sebagai alat perbanyakan tanaman secara
generatif (Subahar dan Tim Lentera, 2004).
Rasa pahit pada buah pare memiliki manfaat bagi kesehatan manusia di
antaranya yaitu menurunkan glukosa darah. Kandungan buah pare yang berguna
untuk menurunkan glukosa darah adalah charantin, polypeptide-P insulin dan lektin
(Adnyana et al., 2016). Selain itu buah pare juga dapat bermanfaat sebagai
antikanker, antiinfeksi, dan berkhasiat sebagai anti AIDS (Rita et al., 2008). Buah
pare bila diolah dapat dimanfaatkan sebagai manisan agar rasa pahitnya tidak
terasa. Menurut Riyadi, et al. (2015) bahwa pengolahan buah pare menjadi manisan
lebih disarankan karena dapat menyamarkan rasa pahit, memperpanjang umur
simpan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi buah pare.
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Paria
Paria cocok dibudidayakan di daerah dengan ketinggian 1-1000 m dpl dengan
pH optimal 5-6. Tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada tanah lempung
berpasir dengan drainase baik dan kaya bahan organik. Suhu optimum untuk
pertumbuhan berkisar antara 24 - 27oC (Jumakir, 2012).
2.3 Teknik Budidaya Tanaman Paria
Berikut merupakan teknik budidaya tanaman paria (Susila, 2006):
2.3.1 Persiapan dan Pemilihan Benih/Bibit
Ada dua jenis benih yang dapat dipakai untuk penanaman paria. Jenis pertama
adalah benih/ biji yang langsung ditanam dilapang dan yang kedua adalah benih
yang telah melalui proses persemaian. Pemakaian kedua jenis ini tergantung pada
musim dimana penanaman akan dilakukan. Kalau penanaman dilakukan pada
musim penghujan lebih baik penanaman dilakukan dengan menggunakan benih/biji
langsung, karena daya tumbuh benih pada kondisi tersebut dapat baik. Sedangkan
apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau sebaiknya penanaman
dilakukan dengan menggunakan benih yang telah disemai terlebih dahulu. Benih
sebaiknya ditanam berasal dari tanaman yang sehat, kuat dan mempunyai tingkat
produktifitas yang tinggi. Untuk itu disarankan memakai benih yang telah berlabel
yang telah direkomendasikan oleh Balai Pengendalian Mutu dan Sertifikasi Benih.
2.3.2 Persiapan Lahan
Tanah dicangkul dan dibuat bedengan berukuran 1,5 -2,5 m x 30 m. Tinggi
bedengan 30 cm. Jarak antar bedeng 40 – 60 cm untuk menghindari tanaman saling
membelit. Diatas bedengan ditaburi dengan pupuk kandang 10 – 15 ton, dan
dolomit (kapur) bila tanah terlalu masam 1 – 2 ton sampai pH netral 6 – 6,5
kemudian diaduk dengan tanah sampai rata. Rapihkan kembali bedengan dan
ratakan permukaan tanah.
2.3.3 Penanaman
Tugal guludan sesuai jarak tanam. Jarak tanam yang dipakai adalah dua baris
tanaman perbedeng. Jarak tanaman yaitu 0,75 x 0,75 m atau 1x1m. Tiap lubang
tanam di isi 2 benih perlubang kemudian beri furadan secukupnya. Tutup lubang
dengan tanah kemudian di siram. Sebelum penanaman diberikan pupuk Urea 47
kg/ha, ZA 100 kg/ha, SP-36 311 kg/ha, dan KCl 56 kg/ha.
2.3.4 Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan pada benih yang tidak sehat pertumbuhannya dengan
benih baru. Penyulaman biasa dilakukan pada 1 MST. Pengajiran dilakukan pada 2
atau 3 MST. Ajir terbuat dari bambu berukuran 2 x 200 cm, ditancapkan disisi
pinggir tanaman dengan jarak 5 – 10 cm, dan ditancapkan dalam tanah sedalam 20
– 30 cm. Keempat ujung bambu disambungkan dengan bambu lain, juga tambahkan
bambu lain dalam posisi melintang sehingga membentuk kotak kotak bujur sangkar.
Penyiangan rutin dilakukan satu minggu sekali secara manual dengan mencabuti
ruput dan gulma yang tumbuh atau dengan dikored.
Pemangkasan dilakukan selama 2 kali yaitu pada umur 3 MST dan 6 MST.
Cabang – cabang dipotong dan diarahkan agar tunas tumbuh menyebar sehingga
produksi buah bisa maksimal. Pada saat 6 MST dilakukan pemangkasan pada
cabang tua yang tidak tumbuh lagi. Selain itu daun yang tua dibuang, begitu juga
cabang yang rusak, patah atau terkena serangan penyakit. Pengairan dilakukan
dengan mengiri parit selama beberapa jam sesuai dengan kelembaban tanah dan
curah hujan. Pemupukan susulan dilakukan pada saat 2 MST dan 6 MST dengan
dosis pada 2 MST yaitu Urea 93 kg/ha, ZA 200 kg/ha, dan KCl 112 kg/ha.
Sedangkan pada 6 MST yaitu Urea 47 kg/ha, ZA 100 kg/ha, dan KCl 56 kg/ha.
2.3.5 Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian HPT dilakukan bila terlihat gejala adanya serangga atau
penyakit terlihat. Untuk tindakan preventif dilakukan penyemprotan insektisida
seperti Trichlorphon dan Carbaryl 2cc/L air. Untuk mencegah penyakit embun bulu
disemprotkan fungisida Velimex 80 WP dengan konsentrasi 2-2,5 g/ L air.
2.3.6 Panen dan Pasca panen
Panen pertama biasanya dilakukan 2 bulan setelah tanam atau 8 MST panen
berikut setiap 1-2 minggu sekali. Buah dipanen dengan menggunakan pisau atau
gunting. Pare disortir dan disusun tanpa banyak tumpukan karena mudah lecet.
2.4 Proses Produksi Benih
Proses penanganan pasca panen buah pare untuk mendapatkan produk benih
yang baik yaitu penanganan benih, pengeringan, seleksi benih, uji viabilitas dan
vigor, sertifikasi, pengemasan kemudian pemasaran lalu penyimpanan. Hal-hal
tersebut harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur karena akan
mempengaruhi terhadap hasil produksi. Kandungan air pada benih sangat
menentukan lamanya penyimpanan, agar benih tahan lama untuk disimpan maka
perlu dilakukannya pengeringan. Menurut Apriyani (2014) bahwa pada umumnya
benih tidak dianjurkan disimpan pada kadar air tinggi, karena akan cepat kehilangan
viabilitasnya. Adanya banyak air dalam benih, maka pernafasan akan dipercepat
sehingga benih akan banyak kehilangan energi. Benih berkualitas tinggi memiliki
daya simpan yang lebih lama daripada benih berkualitas rendah.
Benih yang bermutu akan menghasilkan tanaman yang bermutu pula. Mutu
benih mencakup mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisik. Mutu genetis
ditentukan oleh derajat kemurnian genetis sedangkan mutu fisiologis ditentukan
oleh laju kemunduran dan vigor benih. Vigor dicerminkan oleh vigor kekuatan
tumbuh dan daya simpan benih. Kedua nilai fisiologis ini memungkinkan benih
tersebut untuk tumbuh menjadi normal meskipun keadaan biofisik di lapangan
produksi sub optimum. Tingkat vigor tinggi dapat dilihat dari penampilan
kecambah yang tahan terhadap berbagai faktor pembatas yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangannya (Tustiyani et al., 2016).
Pengujian kualitas benih sangat penting karena dengan terujinya kualitas
benih dapat memberikan jaminan kepada petani dan masyarakat untuk
mendapatkan benih dengan kualitas yang baik sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI) dan tentunya dapat menghindari petani dari berbagai kerugian yang
ditimbulkan (Lesilolo et al., 2013).
3. METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat dan Waktu

Kegiatan magang kerja dilaksanakan di PT. Benih Citra Asia yang


beralamatkan di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung Kabupaten Jember. Adapun
waktu pelaksanaan magang kerja yaitu pada bulan Juli hingga September 2018.
3.2 Metode Pelaksanaan
Dalam menunjang penulisan hasil magang kerja dalam bentuk laporan
mingguan dan laporan akhir magang kerja, maka diperlukan beberapa metode
pelaksanaan sebagai berikut :
1. Observasi Lapang
Kegiatan Observasi di PT. Benih Citra Asia ini meliputi observasi keadaan
tentang lokasi, luas area, struktur organisasi, jumlah tenaga kerja, dan
kegiatan produksi yang dilakukan.
2. Partisipasi Aktif
Mengikuti secara aktif serangkaian kegiatan teknik produksi benih yang
diselenggarakan di PT. Benih Citra Asia.
3. Diskusi dan Wawancara
Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab dengan
pembimbing lapangan atau pihak yang terkait menyangkut hal-hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan teknik produksi benih.
4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan cara memanfaatkan data yang tersedia yang
berhubungan dengan kegiatan praktek magang. Data tersebut didapatkan
dari sumber data primer dan sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden.
Dalam pelaksanaan kegiatan magang ini data primer diperoleh dari
wawancara dengan manajer perusahaan, karyawan maupun pihak yang
terlibat dalam kegiatan teknik produksi benih di PT. Benih Citra Asia.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari
sumber. Dalam kegiatan magang ini yang menjadi sumber data sekunder
yaitu diambil dari buku, arsip dan jurnal yang berhubungan dengan
kegiatan magang.
3.3 Jadwal Kegiatan Magang Kerja
Jadwal kegiatan magang kerja mengikuti semua kegiatan yang dilaksanakan
di PT. Benih Citra Asia Jember, khususnya kegiatan teknik produksi benih paria.
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, I.D.P.A., et al. 2016. Efek anti diabetes buah pare (Momordica charantia
Linn.) terhadap kadar glukosa darah, sel penyusun pulau Langerhans dan sel
Leydig pada tikus putih hiperglikemia. Acta Veterinaria Indonesiana. 4 (2): 43
– 50.
Apriyani, S.N. 2014. Pengembangan Metode Uji Kadar Air Benih Pala (Myristica
spp.). Skripsi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Jumakir. 2012. Teknologi Budidaya Paria dalam Pot. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanain (BPTP). Jambi.
Leisolo, M.K., J. Riry dan E.A. Matatula. 2013. Pengujian viabilitas dan vigor benih
beberapa jenis tanaman yang beredar di pasaran kota Ambon. J. Agrologia. 2
(1): 1 – 9.
Rita, W.S., I.W. Suirta dan A. Sabikin. 2008. Isolasi dan identifikasi senyawa yang
berpotensi sebagai antitumor pada daging buah pare (Momordica charantia
L.). J. Kimia. 2 (1): 1 – 6.
Riyadi, N.H., D. Ishartani dan R. Purbasari. 2015. Mengangkat potensi pare
(Momordica charantia) menjadi produk pangan olahan sebagai upaya
diversifikasi. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. 1 (5): 1167 – 1172.
Subahar, T.S.S dan Tim Lentera. 2004. Khasiat dan Manfaat Pare. AgroMedia
Pustaka. Jakarta. pp. 2 – 6.
Susila, A.D. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Departemen Agronomi
dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. pp. 87 – 90.
Tustiyani, I., R.A. Pratama dan D. Nurdiana. 2016. Pengujian viabilitas dan vigor
dari tiga jenis kacang- kacangan yang beredar di pasaran daerah Samarang,
Garut. J. Agroekotek. 8 (1): 16 – 21.