Anda di halaman 1dari 8

Rizky Amalia

Massa Kistik pada Dasar Mulut: Penilaian MRI


untuk Perencanaan Operasi
OBJEKTIF. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai pencitraan MRI

preoperatif untuk merencanakan pendekatan bedah terbaik untuk mengeluarkan massa kistik

di dasar mulut. Selain itu, urutan dan orientasi irisan yang berbeda dibandingkan untuk

mengembangkan teknik pemeriksaan MRI standar untuk tujuan pembedahan.

SUBJEK DAN METODE. Sebelas pasien dengan massa kistik di dasar mulut

diperiksa prospektif dengan pencitraan MR setelah dilakukan palpasi dan sonografi. Protokol

pencitraan termasuk urutan spin-echo T1 dan T2, keduanya tidak disempurnakan dan kontras

ditingkatkan. Hubungan topografi yang tepat dari kista ke otot sekitarnya dan nilai teknik MR

yang berbeda kemudian dianalisis.

HASIL. Otot mylohyoid, yang berfungsi sebagai kunci dalam menentukan posisi

yang tepat dari massa kistik, divisualisasikan dalam semua kasus. Gambar T2 menunjukkan

diagnosis primer lesi kistik, sedangkan gambar T1 memungkinkan visualisasi detail

anatomis. Penggunaan dimeglumine gadopentetat tidak memberikan informasi diagnostik

yang signifikan. Potongan koronal dan aksial menunjukkan visualisasi terbaik dari hubungan

topografi kista dan otot. Irisan sagital sangat membantu hanya untuk lesi garis tengah. Dalam

dua kasus, pilihan antara pendekatan bedah intraoral dan bedah servikal dipilih berdasarkan

pencitraan MR.

KESIMPULAN. Pencitraan MR menunjukkan visualisasi yang tepat dari lokasi dan

jangkauan lesi kistik di dasar mulut dan berguna untuk menentukan hubungannya ke otot di

sekitarnya. Kami menyimpulkan bahwa pencitraan MR merupakan penunjang yang penting

ditujukan untuk palpasi dan sonografi dalam merencanakan pendekatan bedah terbaik.
Rizky Amalia

AJR 1993;161: 183-186

Seringnya kista di lantai mulut merupakan tipe jinak dan muncul dari kelenjar saliva

[1]. Diantaranya termasuk kista jinak yang berasal dari embriologis (kista dermoid dan

epidermoid, kista servikal median dan lateral, kista koloid), limfangioma, atau hemangioma

[2-4].

Lesi kistik pada dasar mulut biasanya tumbuh lambat dan sering menyebabkan tanda

dan gejala hanya setelah ukurannya membesar [5]. Pemeriksaan fisik dan sonografi

digunakan secara rutin untuk membedakan lesi kistik dan lesi padat. Namun, teknik ini tidak

selalu akurat untuk menentukan hubungan kista ke otot sublingual, yang penting untuk

menentukan pendekatan pembedahan terbaik. Lesi di atas otot mylohyoid dioperasikan secara

intraoral, sedangkan yang di bawah otot dikeluarkan melalui sayatan di leher.

Dengan demikian, kami mempelajari nilai pencitraan MR dalam menentukan

diagnosis primer dan pendekatan bedah terbaik pada pasien dengan massa kistik di dasar

mulut.

Subjek dan Metode

Sebelas pasien (empat pria dan tujuh wanita, 23-75 tahun) dengan massa kistik pada

dasar mulut yang didiagnosis secara sonografi diperiksa dengan pencitraan MR sebelum

operasi (Magnetom Siemens, 1, 5 T). Tipe Helmholtz yang mudah disesuaikan dengan

permukaan kumparan digunakan untuk semua rangkaian. Dimulai dengan tampilan sagital,

axial spin echo T2-weighted (3000/25,90[TR/TE]) (SE) gambar MR dan aksial, koronal, dan

sagital spin echo T1-weighted (500/17) gambaran MR diperoleh (ketebalan irisan, 5 mm).

Gadopentetate dimeglumine kemudian diberikan secara intravena dengan dosis 0,1 mmol per

kilogram berat badan (0,2 ml/kg). Tergantung pada lokasi lesi dan kualitas gambar yang tidak
Rizky Amalia

disempurnakan, kami kadang - kadang memperoleh tambahan gambar T1 - weighted yang

ditingkatkan di pesawat pencitraan yang berbeda.

Dalam semua penelitian MR, berbagai kriteria dievaluasi. Pada gambar spin echo T1

dan T2, waktu relaksasi kista dibandingkan dengan waktu relaksasi mylohyoid dan

genioglossus, kelenjar submandibular, dan jaringan lemak dengan menganalisa daerah yang

dominan. Hubungan topografi kista dengan otot sekitarnya dievaluasi untuk mendapatkan

informasi mengenai diagnosis histologis.

Lokasi dan ukuran massa kistik yang ditunjukkan pada gambar MR diverifikasi secara

intnaoperatif. Lesi di bawah otot mylohyoid dieksisi secara total pada delapan pasien melalui

pendekaan servikal eksternal. Tiga kista yang berada di atas otot mylohyoid dieksisi secara

intraoral.

Pemeriksaan spesimen bedah mengungkapkan berbagai histopatologis diagnose. Tiga

kista terletak di arah kranial otot mylohyoid: ranula, kista sublingual, dan kista dermoid. Arah

kaudal dari otot mylohyoid, dua kista submandibular, dua kista servikal lateral, satu

hemangioma kistik, satu limfoma kistik, dan kista epidermoid ditemukan pada posisi lateral.

Satu satunya lesi yang terletak kaudal dan di tengah menunjukkan ke arah lesi kista koloid.
Rizky Amalia

Gambar 1. Diagram hubungan topografi kista dengan otot pada dasar mulut

A. Lokasi kista diatas otot geniohyoid dan mylohyoid

B. Lokasi kista diantara otot geniohyoid dan mylohyoid

C. Lokasi kista dibawah ototo geniohyoid dan mylohyoid

Hasil

Pencitraan

Gambaran aksial memberikan visualisasi terbaik dari perpindahan jaringan lunak dan

penyempitan faring. Kista besar yang menempati ruang menghalangi visualisasi otot-ototnya.

Semua otot pada dasar mulut dapat divisualisasi dengan gambaran koronal, yang

menunjukkan lokalisasi dari massa kistik. Irisan sagital membuat visualisasi pada bagian

anteroposterior dari massa kistik. Karena hilangnya orientasi simetris, irisan sagital kurang

memberikan gambaran informasi.

Gambaran koronal dan aksial terbukti sangat berpengaruh terhadap penentuan lokasi

semua kista. Gambaran sagital dapat sangat membantu hanya apabila kista tersebut berada di

garis tengah.

Protokol Pencitraan

Pada gambaran spin echo T2-weighted, semua lesi memiliki sinyal dengan intensitas

tinggi. Pengetahuan tentang temuan sonografi, yang membuktikan bahwa lesi adalah kista,

memfasilitasi diagnosis MR dari kista berisi cairan. Jumlah infomasi topografi yang dapat

diekstraksi dari gambar MR ini terbatas oleh pergerakan artifak.

Pada gambaran spin echo T1-weighted, kista memiliki sinyal dengan intensitas yang

lebih rendah daripada struktur disekitarnya. Otot ekstrinsik dapat dibedakan dari otot otot

intrinsik dan dari otot otot pada dasar mulut berdasarkan intensitas sinyalnya.
Rizky Amalia

Penggunaan dimeglumine gadopentetat memungkinkan penentuan yang tepat dari

ketebalan dinding kista, yang bervariasi dari 2 sampai 6 mm. Berbeda dengan dinding kista,

isi kista tidak dapat ditingkatkan. Karena itu, gadopentetate dimeglumine tidak berpengaruh

signifikan terhadap diagnosis banding.

Kista tidak dapat didiagnosis secara histopatologis dengan menghubungkan waktu

relaksasi T1 dan T2 dengan struktur morfologinya.

Hubungan Pencitraan MR - Klinis

Berdasarkan temuan pencitraan MR, dua pasien yang memiliki hasil klinis dan

sonografik yang serupa (Gambar 2 dan 3) berhasil dioperasi melalui pendekatan yang

berbeda. Pada kasus kista dermoid (Gambar 2), pendekatan bedah eksternal walnya

direncanakan. Namun, karena posisinya berada di kranial dari otot mylohyoid, seperti yang

ditunjukkan pada gambaran MR, pendekatan intraoral digunakan sebagai gantinya.

Karena hubungan topografinya dengan kelenjar saliva, kista sublingual, ranula, dan

kista submandibular (Gambar 4), dan kista servikalis lateral dapat didiagnosis secara positif.

Kista koloid didiagnosis sebelum operasi karena posisi tengahnya dan pendarahan fokal

(Gambar 5), yang menghasilkan sinyal dengan intensitas tinggi pada gambaran SE T1-

weighted. Pada kasus kista dermoid dan epidermoid, kista hemangioma, dan limfoma,

temuan MR terbatas pada deskripsi yang tepat dari ukuran dan lokasi lesi.

Diskusi

Otot mylohyoid, yang memisahkan ruang sublingual dari ruang submental dan

submandibular, adalah struktur kunci pada dasar mulut. Berdasarkan hubungan topografi

antara lesi dan otot mylohyoid, baik pendekatan bedah intraoral atau servikal dapat

digunakan. Gambaran aksial dan koronal harus digunakan untuk mengoptimalkan visualisasi
Rizky Amalia

hubungan ini [6, 7]. Orientasi sagital sangat membantu hanya apabila kista terletak di garis

tengah.

Gambar 2. Wanita berusia 23 tahun dengan kista dermoid sublingual

A. Gambaran T2-weighted (3000/90) MRI potongan axial menunjukkan lesi kistik (1)

dengan intensitas sinyal yang tinggi. Otot sekitarnya tidak bisa dibedakan.

B. Gambaran T1-weighted (700/15) MRI dengan kontras potongan koronal

menunjukkan kista (1) dengan intensitas sinyal rendah yang homogen. Mylohyoid (2)

dan digastric (3) tervisualisasi pada inferior kista, dan otot geniohyoid (4) dan otot

lidah (5) berubah posisi ke kranial dan lateral. Kista dieksisi dengan pendekatan

intraoral.

C. Gambaran T1-weighted (700/15) MRI dengan kontras potongan sagital menunjukkan

lesi kistik yang besar yang mendorong otot lidah (1) ke kranial dan otot mylohyoid (2)

ke kaudal. Orofaring (tanda panah) menyempit. 3 = lemak pre epiglotis.

Gambaran SE T2-weighted dapat digunakan untuk memverifikasi karakter kistik dari

lesi [8]. Jika sifat kistik dari lesi ada ditentukan secara sonografik, gambaran SE T2-weighted

yang lebih cepat dengan pengurangan matrix sudah cukup. Informasi penting didapat dari

gambaran SE T1-weighted dalam orientasi irisan yang berbeda.


Rizky Amalia

Gambaran MR yang disempurnakan dengan kontras memberikan informasi tentang

ketebalan dan vaskularisasi dinding kista [9]. Namun, untuk diagnosis primer kista dengan

pencitraan MR, kombinasi dari T2-weighted dan penggunaan gadopentetate dimeglumine

sangat penting, karena lesi padat juga bisa memiliki intensitas sinyal yang tinggi pada

gambaran SE T2-weighted.

Gambar 3. Wanita berusia 24 tahun dengan kista epidermoid submandibular.

A. Gambaran T2-weighted (3000/90) MRI potongan axial menunjukkan massa kistik

yang besar, dengan lokasi di lateral dengan intensitas sinyal yang tinggi.

B. Gambaran T1-weighted (500/17) MRI potongan koronal menunjukkan perubahan otot

mylohyoid ke superior (tanda panah). Otot digastrik (1) berada di inferior kista;

septum lingual (2) terdorong ke lateral kanan. Kista dieksisi dengan pendekatan

submandibular kiri.
Rizky Amalia

Gambar 4. Wanita berusia 75 tahun dengan kista submandibular.

A. Gambaran T1-weighted (500/17) MRI potongan axial menunjukkan adanya lesi (1)

dengan intensitas sinyal yang rendah yang tidak dapat dibedakan dengan glandula

submandibular kiri (2). Faring tampak normal sejajar dengan epiglotis (3).

B. Gambaran T1-weighted (500/17) MRI dengan kontras potongan koronal

menunjukkan adanya kista di inferior otot mylohyoid (1). Lesi ini dieksisi dengan

pendekatan submandibular. 2 = otot genioglosus. Tanda panah = platysma.

Gambar 5. Wanita berusia 68 tahun dengan kista koloid.

Gambaran T1-weighted (700/15) MRI potongan sagital menunjukkan lesi kistik (1) dengan

pusat perdarahan pada anterior dan inferior terhadap tulang hyoid dengan sinyal tinggi (2).

Otot pada dasar mulut (otot mylohyoid,3) pada arah kranial terhadap kista. 4 = otot ekstrinsik

lidah (otot genioglosus), 5 = otot intrinsik lidah, tanda panah = epiglotis.

Salah satu dari dua pendekatan tersebut digunakan untuk eksisi extracapsular dari

kista pada dasar mulut: untuk kista yang berada superior dari otot mylohyoid, pendekatan

intmaoral lebih baik karena dapat mempertahankan otot mylohyoid; Lesi inferior dieksisi

melalui pendekatan submandibular eksternal [10-12]. Pendekatan intraoral menghindari

bekas luka yang jelas, dan waktu pemulihannya lebih pendek. Dalam penelitian ini, dua kista

yang memiliki lokasi yang sama menurut palpasi dan sonography adalah terbukti

berada di lokasi yang relatif berbeda terhadap otot mylohyoid pada gambaran MR. Informasi

tambahan ini berpengaruh terhadap keputusan pembedahan lebih lanjut.

Meskipun pencitraan MR tidak berguna untuk membangun diagnosis histologis, pada

kasus massa kistik di dasar mulut, nilainya dalam menentukan hubungan antara kista dan

jaringan sekitarnya membuatnya berguna untuk perencanaan operasi.

Anda mungkin juga menyukai