Anda di halaman 1dari 27

RONDE KEPERAWATAN

RUANG GAMBIR

DIKERJAKAN OLEH TIM PN 1


LAPORAN PENDAHULUAN

TINAJUAN TEORI

1. DEFINISI GIZI
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan
dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu
membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu,
setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang
cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya
makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan
sehat.
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan
yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang
diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa
disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat
pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu
jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan
makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga,
zat pembangun dan zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga
dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah
kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam,
daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk
pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.
Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan
bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
2. DEFINISI KURANG GIZI
Menurut Supariasa (2002:18), malnutrisi adalah keadaan patologis akibat
kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut saat lebih zat gizi.
Menurut Ngastiyah (2005:258), gizi kurang pada keadaan awalnya tidak
ditentukan kelainan biokimia tapi pada keadaan lanjut akan didapatkan kadar albumin
rendah, sedangkan globulin meninggi.
Sedangkan menurut Almatsier(2002: 303), Gizi kurang disebabkan oleh
kekurangan makanan sumber energi secara umum dan kurang sumber protein.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Gizi kurang adalah suatu keadaan
yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang kurang sumber protein, penyerapan yang
buruk atau kehilangan zat gizi secara berlebih.

3. FAKTOR PENYEBAB GIZI KURANG


a. Tidak tersedianya makanan secara adekuat Tidak tersedinya makanan yang adekuat
terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang,
maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan
menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang
adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal
balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau
akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan
pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang
kekurangan gizi.
b. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang makanan alamiah terbaik bagi
bayi yaitu Air Susu Ibu (ASI), dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan
berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup
mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat,
vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat
disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan
yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak
memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
c. Pola makan yang salah Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari
sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk,
padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola
pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya
sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya
ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya
lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak.
Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh
yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan
desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat
menyebabkan anak menderita gizi buruk.
d. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak
benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan
memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini,
berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur,
santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak,
protein maupun kalori yang cukup sehingga anak menjadi sering sakit (frequent
infection)
a. Infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi
dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena
keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan
meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk
pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

4. PATOFISIOLOGI
Sebenarnya malnutrisi (Gizi kurang) merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat
banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitubhost,
agent, environment (Supariasa, 2002). Memang faktor diet makanan memegang peranan
penting tetapi faktor lain ikut menentukan dalam keadaan keluarga makanan, tubuh selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak, merupakan hal
yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh
jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan
karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibat
katabolisme protrein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang
segera di ubah menjadi karbohidrat di hepar dan di ginjal selama puasa jaringan lemak di
pecah jadi asam lemak, gliseraal dan keton bodies, asam lemak dan keton bodies sebagai
sumber energi kalau kekurangan makan ini berjalan menahun. Tubuh akan
mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan
separuh tubuh.
Proses patogenesis terlihat pada faktor lingkungan dan manusia (host dan
environment) yang didukung oleh asupan-asupan zat-zat gizi, akibat kekurangan zat gizi
maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan, apabila keadaan
ini berlangsung lama. Maka simpanan zat gizi ini akan habis ahirnya terjadi pemerosotan
jaringan. Pada saat ini orang sudah dapat digolongkan sebagai malnutrisi , walaupun hanya
baru dengan ditandai dengan penurunan berat badan dan pertumbuhan terhambat.
Patofisiologi menurut Nurcahyono (2007), Pada keadaan ini yang muncul adalah
pertumbuhan yang kurang atau disertai mengecilnya otot dan menghilangnya lemak di
bawah kulit. Kelainan demikian merupakan proses psikologis untuk kelangsungan jaringan
hidup. Tubuh memerlukan energi dan dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan

5. PATHWAYS
6. MANIFESTASI KLINIS
a. Marasmus
1) Definisi
Menurut Anggoro (2007) marasmus adalah kekurangan energi pada makanan
yang menyebabkan cadangan protein lebih terpakai sehingga anak menajdi kurus
dan emosional dan tanda-tanda kurus (simpanan lemak dan protein yang disertai
gangguan fisiologi sampai terjadinya oedem aktivitas metabolik normal/rendah).
Menurut Sugiono (2007) marasmus merupakan akibat dari kelaparan yang
hampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan sangat
sedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan ASI.
Badannya sangat kurus akibat hilangnya otot dan lemak tubuh. Hampir selalu
disertai terjadinya infeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi yang meluas,
prognosanya buruk dan bisa berakibat fatal.
Menurut Purhadi (2007) Marasmus umumnya dialami masyarakat yang
menderita kelaparan. Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di Negara-
negara berkembang. Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yang
terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di Negara berkembang berkaitan
dengan defisiensi energi dan protein sekaligus. Marasmus juga umum terjadi pada
anak-anak miskin perkotaan, anak-anak dengan penyakit kronik dan akan-anak
dipenjara. Tingginya jumlah penderita marasmus tak hanya menimbulkan resiko
kematian tapi juga menyebabkan syaraf otak tidak berkembang optimal.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa marasmus adalah
kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein lebih
terpakai sehingga anak menjadi kurus dan emosional yang diakibatkan oleh
kelaparan secara menyeluruh.
2) Patofisiologi
Malnutrisi terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan
atas tiga faktor penting yaitu: tubuh sendiri (host), kuman penyebab (agent),
lingkungan (environment). Faktor diet (makanan) memegang peranan penting, tetapi
faktor lain ikut menentukan. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan energi.
Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein, dan lemak
merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat
(glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25
jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah
beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat
di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak,
gliserol dan badan keton. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan badan keton
sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan
mempertahankan diri jangan kan asam amino yang normal sehingga hati masih dapat
membentuk cukup albumia.

3) Tanda dan Gejala Menurut Hamzah (2006) tanda-tanda marasmus adalah :


a) Otot akan mengecil / atrofi
b) Apatis
c) Sangat kecil/kurus
d) BB kurang, tidak sesuai umur
e) Kulit kedodoran
f) Muka seperti orang tua dan kulit kering
g) Perut buncit dengan gambaran usus yang nyata
h) Vena superfisialis tampak jelas , ubun-ubun cekung, tulang pipi dan dagu
kelihatan menonjol.
WOC MARASMUS

Prematur; Refleks
Penyapihan dini, kurang
menghisap kurang kuat Infeksi: infeksi enteral
pengetahuan keluarga
misalnya infantil
gastroenteritis,
bronkhopneumonia, dll Penyakit bawaan;

Asupan makanan yang Misalnyapenyakit


inadekuat Hirschprung,

deformitas palatum,
dll.

Gangguan Metabolisme:
Katabolisme karbohidrat:
Misalnya: renal asidosis,
glukosa (inadekuat)
lactose intolerance, dll

Katabolisme lemak: asam lemak, Katabolisme protein: asam amino


gliserol, dan badan keton Kalori

hilangnya lemak subkutan, pada wajah (old man face), Anak menangis. apatis. Kulit kering,
dingin, dan mengendur, Atrofi otot sehingga tulang terlihat lebih jelas. Suhu tubuh bisa MARASMUS
rendah Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya.
Terkadang rambut tampak kering, tipis, dan mudah rontok.
b. Kwashiorkor
1) Definisi
Menurut Ngastiyah (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi disertai dengan
edema. Sebab utama penyakit ini adalah defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor
umunya terjadi pada anak dari keluarga social ekonomi yang rendah karena tidak
mampu membeli makanan yang mengandung protein hewani seperti : daging, hati,
usus, susu, dsb. Sebenarnya selain protein hewani protein nabati terdapat pada
kedelai, kacang-kacangan juga dapat menghindarkan kekurangan protein tersebut
apabila diberikan, tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua anak menderita
defisiensi protein ini. Sering kurangnya pengetahuan juga adanya factor takhayul
turut menjadi penyebab pula. Kwashiorkor biasanya dijumpai pada golongan umur
tertentu yaitu bayi pada masa disapih dan pada anak pra sekolah yang merupakan
golongan umur yang relatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh sebaik-
baiknya.
Menurut Widodo (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi karena
kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul
diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah,
gangguan kulit.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kwashiorkor adalah suatu
keadaan gangguan gizi yang diakibatkan karena kurangnya protein dalam tubuh.
2) Gejala Klinis Menurut Aditya (2006), gejala klinis kwashiorkor adalah :
a) Oedem di seluruh tubuh terutama kaki
b) Wajah membulat dan sembab
c) Otot-otot mengecil lebih nyata apabila diperiksa dalam posisi berdiri dan duduk.
d) Perubahan status mental, cengeng, rewel, kadang apatis.
e) Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia)
f) Pembesaran hati
g) Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut
h) Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas
i) Pandangan mata anak tampak sayu
j) Penatalaksanaan
3) Menurut Hamzah (2006) prinsip pengobatan kwashiorkor adalah:
a) Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologi tinggi,
tinggi kalori, cukup cairan, vitamin, dan mineral.
b) Makanan harus mudah dicerna dan diserap.
c) Makanan yang diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan
sangat rendah
d) Penanganan terhadap penyakit penyerta
e) Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi
tambahan.
WOC KWASHIORKOR

Patogenesis: Faktor resiko dan penyebab:


Defisiensi zat makro (protein)  ↑ Faktor diet (cukup kalori namun Prinsip dasar penanganan 10 langkah
katabolisme jaringan  ↓ protein kurang protein) utama (diutamakan penanganan
dalam diet → ↓menimbulkan Peranan faktor sosial (budaya kegawatan):
kekurangan berbagai asam amino pantangan bahan makanan Penanganan hipoglikemi
esensial→↓ sintesis tubuh. tertentu, tingkat kepadatan Penanganan hipotermi
penduduk yang tinggi, keadaan Penanganan dehidrasi
diet cukup karbohidrat→ ↑ sosial, dan politik tidak stabil) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
produksi insulin dan ↓sebagian Faktor infeksi Pengobatan infeksi
asam amino dari dalam Faktor kemiskinan Pemberian makanan
serum→disalurkan ke otot. Fasilitasi tumbuh kejar
Koreksi defisiensi nutrisi mikro
↓asam amino dalam serum Melakukan stimulasi sensorik dan
→kurangnya pembentukan albumin perbaikan mental
oleh hati, sehingga kemudian Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh
timbul edema. KWASHIORKOR

hati mengalami gangguan Defisiensi zat gizi


pembentukan lipoprotein beta  makro (Protein) Manifestasi klinis:
transport lemak dari hati ke depot Rambut mudah di cabut
lemak juga terganggu  akumulasi Edema
lemak dalam hati. Apatis, letargi, iritability
Kehilangan beberapa berat badan.
Pemeriksaan: Kehilangan beberapa otot, dengan
Klinik : anamnesis (terutama penahanan dari beberapa lemak
anamnesis makanan, tumbuh tubuh (fatty liver)
kembang, serta penyakit yang Infeksi  diare, pneumonia.
pernah diderita) dan pemeriksaan Sulit dalam penyembuhan luka
fisik (tanda-tanda malnutrisi dan Ulkus dekubitus
berbagai defisiensi vitamin) Kerusakan integritas
Laboratorik : terutama Hb, Serum albumin < 2,8 g/dl
albumin, limfosit. Kapasitas total pengikatan besi <
Anthropometrik 200 μg/dl
Analisis diet Limfosit <1500 mm2
7. STATUS GIZI
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok
endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium
dalam tubuh.
Perlunya deteksi dini status gizi mengingat penyebabnya sangat kompleks,
pengelolaan gizi buruk memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua pihak.
Menurut Menkes No. 9201 menkes/SK/VIII/2002 status gizi ditentukan
berdasarkan Z-SCORE berdasarkan berat badan (kg) terhadap umur (bulan) yang
diklasifikasikan sebagai berikut :
 Gizi Lebih: apabila berat badan balita berada > +2 SD (Standar Deviasi)
 Gizi Baik : apabila berat badan balita berada antara <-2 SD
 Gizi Buruk: apabila berat badan balita <-3 SD

a. Penilaian Status Gizi Secara Langsung


Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu
antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
1) Antropometri
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan
proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
a) Indeks Masa Tubuh (IMT) Atau Body Mass Index (BMI)
Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah Indeks Massa
Tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat
atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya
yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan
kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat
badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh
karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat
mencapai usia harapan hidup yang lebih.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan
untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan
hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat. Untuk
memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat badan
dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa
berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu
hamil, dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:
Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus:
IMT = Berat Badan (kg)/(Tinggi Badan (cm)/100)2
Kategori Keterangan IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat <>
Kurus sekali Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4
Normal Normal 18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0
Obes Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Untuk mengukur status gizi anak baru lahir adalah dengan menimbang berat
badannya yaitu : jika ≤ 2500 gram maka dikategorikan BBLR (Berat Badan
Lahir Rendah) jika 2500 – 3900 gram Normal dan jika ≥ 4000 gram dianggap
gizi lebih.

b. Klasifikasi
Klasifikasi internasional menurut WHO 1995, WHO 2000, WHO 2004:
Klasifikasi Indeks Masa Tubuh (kg/m²)

Berat badan rendah < 18,50


Kurus berat < 16,00
Kurus sedang 16,00 – 16,99
Kurus ringan 17,00 – 18,49
Normal 18,50 – 24,99
Berat badan lebih 25,00
Pra obesitas 25,00 – 29,99
Obesitas 30,00
Obesitas kelas I 30,00 – 34,99
Obesitas kelas II 35,00 – 39,99
Obesitas kelas III 40,00
Klasifikasi berat badan untuk orang Asia:
Klasifikasi Indeks Masa Tubuh (kg/m²)
Underweight < 18, 50
Normal 18,50 - 22,90
Overweight 23,90
Overweight dengan risiko 23,00 – 24,90
Obesitas I 25,00 – 29,90
Obesitas II 30,00
BAB 11

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Identitas Klien
a. Identitas Diri
1. Nama/Nama panggilan : An. N
2. Tempat tgl lahir/usia : Tangerang, 30 Januari 2016/ 1 tahun 10 bulan
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. A g a m a : Islam
5. Suku : Sunda
6. Alamat : Jalan Buaran Kandang Besar RT 003/ RW 006

b. Identitas Orang tua


1. Ayah
a. N a m a : Alm. T
b. U s i a : 48 tahun
c. Pendidikan : SMP
d. Pekerjaan : Karyawan Swasta
e. A g a m a : Islam
f. Alamat : Jalan Buaran Kandang Besar RT 003/ RW 006
2. Ibu
a. N a m a : Ny. I
b. U s i a : 45 tahun
c. Pendidikan : SMP
d. Pekerjaan : Pedangang
e. Agama : Islam
f. Alamat : Jalan Buaran Kandang Besar RT 003/ RW 006

c. Identitas Saudara Kandung

No U S IA HUBUNGAN STATUS KESEHATAN


NAMA
1 25 th Kakak Sehat
An. R
2 24 th Kakak Sehat
An. I
3 16 th Kakak Sehat
An. D

2. Keluhan Utama
Klien masuk ruangan gambir pada tanggal 02 November 2017 karena keluhan berat
badan tidak naik-naik, lemas, demam naik turun usia 3 bulan, buang air besar cair
ampas, batuk dan pilek.
3. Riwayat kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal
Klien merupakan anak keempat dari empat bersaudara keluarga Alm. Bapak T.
Selama kehamilan, Ibu rutin memeriksakan kandungannya ke bidan puskesmas.
Namun, vitamin selama kehamilan seperti zat besi dan asam folat tidak diminum
secara rutin oleh ibu I. Nutrisi selama kehamilan kurang terpenuhi secara seimbang
karena Ibu I mengatakan tidak nafsu makan selama kehamilan. Ibu mengatakan
dalam sehari hanya makan 1x/hari bahkan terkadang tidak makan sama sekali. Ibu I
mengatakan jarang mengkonsumsi sayur-sayuran dan lebih sering membeli dan
mengkonsumsi makanan olahan seperti nugget, sosis dan sebagainya. Bapak T
seorang perokok dan seringkali merokok di dekat rumah ibu I yang sedang hamil.
2. Intranatal
Klien lahir premature secara saecar di rumah sakit dengan usia kehamilan 35
minggu
3. Postnatal
Berat badan lahir 2,9 kg dan panjang badan 45 cm. klien tidak langsung menangis
dengan nilai APGAR 7/9

4. Riwayat Masa Lampau


Komponen Pertanyaan Jawaban
Penyakit masa 1. Apakah anak pernah sakit? Ya
kecil 2. Jika pernah, sakit apa? Demam, Diare
3. Berapa lama? Sejak usia 3 bulan dan
berulang

Dirawat di 1. Apakah anak pernah dirawat di rumah sakit? Ya


rumah sakit 2. Jika pernah, Kapan dirawat dan diagnosa
apa? berapa lama perawatannya? Gizi buruk, FTT dan
Diare
12 hari
Obat-obatan 1. Adakah klien menggunakan obat rutin? Tidak
yang 2. Obat apa yang digunakan? Berdasarkan resep
digunakan dokter atau beli sendiri?
Tindakan 1. Apakah anak pernah mengalami tindakan Tidak
operasi operasi?
2. Jika pernah,Kapan dan tindakan operasi apa?
Alergi 1. Apakah anak memiliki riwayat alergi? Tidak
2. Jika ada, alergi apa?

Kecelakaan 1. Apakah anak pernah mengalami kecelakaan? Tidak


2. Jika pernah, kecelakaan apa yang dialami?
Berapa kali?
3. Apakah sampai mengalami perawatan di RS?
Imunisasi 1. Apa saja jenis imunisasi dasar yang sudah Anak belum pernah di
didapatkan klien? imunisasi
2. Apakah anak pernah mendapatkan imunisasi
tambahan?
3. Jika pernah, jenis imunisasi tambahan apa
yang diberikan?
5. Riwayat keluarga

Keterangan:
Perempuan An.R An. I An. An.N
25 24 D 1 thn
thn thn 16th
Laki-laki n

Meninggal

6. Kebutuhan Dasar
Komponen Pertanyaan Jawaban
Makanan yang disukai/ tidak 1. Apa saja jenis makanan kesukaan Klien suka makan bubur
disukai anak? nestle
2. Apa saja jenis makanan yang tidak Sayur dan buah
disukai anak?
3. Apa saja jenis makanan yang biasa ASI dan susu formula ±
dimakan anak selama dirumah? 100 ml dalam sehari
Makan bubur nestle 2-3x
sehari
Selera Bagaimana selera makan anak sehari- Anak kurang nafsu
hari? makan
Alat makan yang dipakai 1. Apa alat makan yang biasa dipakai Sendok dan mangkuk
makan sehari-harinya ?
2. Apakah anak makan secara Dibantu
mandiri/dibantu?

Pola makan/jam Berapa kali anak makan perhari? 2-3 x per hari
Kapan saja waktu-waktu makan anak? Pagi, siang dan malam

Pola tidur Jam berapa waktu-waktu tidur


anak Anak sulit untuk tidur di
(siang dan malam)? malam hari, tidur mulai
pukul 18.00 – 21.00
setelah itu tidak bisa tidur
lagi
Kebiasaan sebelum tidur Adakah kebiasaan tertentu sebelum Tidak ada
(perlu mainan, dibacakan tidur?
cerita, benda yang dibawa
saat tidur, dll)
Mandi Berapa kali anak mandi sehari? 2x sehari
Kebiasaan selama mandi? Tidak ada
Mandiri/Dibantu? Dibantu

Aktifitas 1. Apa aktifitas yang biasa dilakukan Aktifitas sehari-hari


anak saat bermain atau waktu hanya di tempat tidur,
luang? terkadang di gendong
2. Bagaimana pengaturan jadwal ibunya karena anak
aktifitas harian? belum bisa duduk
3. Adakah keterbatasan dalam
aktifitas?
4. Adakah penggunaan alat bantu
dalam beraktifitas?

Eliminasi 1. Berapa kali Anak BAB dan BAK BAB 2x/ hari
sehari? BAK 5-6x/ hari
2. Ada aktifitas atau kebiasaan Tidak
tertentu sebelum BAB/BAK?
3. Mandiri/Dibantu? Dibantu

B. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda- tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Denyut nadi : 122 x / menit
Frekuensi nafas : 24 x / menit
Suhu tubuh : 36,3 ° C
b. Keadaan umum
Bersih :( √ )
Kesadaran : ( CM/letargi/stupor/apatis/koma )
c. Rambut
Kebersihan : bersih/berminyak/berketombe/berkutu/berbau/
Kondisi : bersih, rontok, kemerahan, tipis, rapuh
d. BB/ TB : 3,7 Kg/67,5 Cm (< -3 SD)
e. BB/ U : - 3 SD
Gizi Buruk (√)
Gizi Kurang (-)
Gizi cukup (-)
Gizi Lebih (-)
f. Mata
Bersih :( √ )
Simetris : ( √ ) Asimetris (-)
Sekresi :( - )
Alat bantu penglihatan: ( - ), sebutkan.....................
g. Hidung
Bersih :( √ )
Simetris :( √ ) Asimetris (-)
Sekresi :(slym banyak, kering pada bagian sudut nasal)
h. Mulut
Bersih :( √ )
Kelembaban : (kurang, bibir pecah-pecah dan mukosa tampak kering)
Scar / luka : (-), sebutkan ..............................
i. Telinga
Bersih :(√)
Simetris : ( √ ) Asimetris ( - )
Sekresi :( - )
Penggunaan alat bantu dengar : ya/tidak, sebutkan.............................
j. Dada
Simetris : ( √ ) Asimetris (-)
Retraksi dinding dada : -
Bentuk rongga dada : normal
k. Jantung
Bunyi jantung normal : (S1,S2 )
Abnormal : Ada ( - ) Tidak Ada ( √ )
Irama jantung normal: ( √ ) abnormal (-)
l. Paru- paru
Bunyi normal: ( √ ) abnormal ( crackels, wheezing, ronkhi, friction rub)
m. Abdomen
Bising usus : bising usus terdengar setiap 10 detik dengan durasi 5 detik
Hati : ketika dilakukan palpasi, hati tidak teraba
Limpa : ketika dilakukan palpasi, limpa tidak teraba
Ginjal : ketika dilakukan perkusi, anak tidak merasa nyeri
n. Muskuloskeletal
Kebersihan : baik
Sendi normal : ( √ ) abnormal ( - ), sebutkan......................
Otot normal : ( √ ) abnormal ( - ), sebutkan........................
o. Genitalia
Simetris : ( √ ) asimetris (-)
Kebersihan : anak tidak ada masalah kebersihan pada genitalia.
Ditribusi rambut : belum mengalami perkembangan seksual sekunder
p. Payudara
Kelainan : Ada ( - ) Tidak Ada ( √ )
q. Sistem Limfatik
Pembesaran : tidak ada pembesaran
Nyeri tekan : tidak ada nyeri tekan
Lokasi pembesaran/nyeri:-
r. Ekstrimitas
Turgor : Tidak elastis
Kelembaban : kering
Warna : kuning langsat
s. Kulit
Warna : kuning langsat
Bau :-
Kelembaban : kering, kasar,
Turgor : buruk dan tidak elastis

C. KEADAAN DAN KESEHATAN SAAT INI


1. Diagnosa medis
Gizi buruk tipe marasmik, bronkopneumonia, global delayed development, nystagmus,
retinopati pigmentacy
2. Tindakan operasi
Tidak ada
3. Status nutrisi
Gizi Buruk
4. Status cairan
Kebutuhan cairan klien diberikan KN3B 10 ml/jam dan F75 8x60ml
5. Obat-obatan
- Paracetamol drop 4x0,4 ml
- Cefotaxime 2x200mg
- Lacto B 1x1
- Zinc 1x1ml
- Apyalis 1x0,5 ml
- Nyastatin 3x0,5ml
6. Aktivitas
Selama di rawat klien hanya berbaring di tempat tidur, ibu klien membantu merubah
posisi tidur klien.
7. Tindakan keperawatan
Memasang NGT untuk kebutuhan nutrisi, memasang infus untuk kebutuhan cairan dan
melakukan pemeriksaan laboratorium status klinis klien
8. Hasil laboratorium
Pemeriksaan laboratorium
Jenis Pemeriksaan Waktu Hasil Interpretasi
Hemoglobin 02/11/2017 11,5 g/dL
Hematokrit 33,5%
Leukosit 21,88 ribu/ul
Trombosit 309 ribu/ul
SGOT 34 U/l
SGPT 30 U/l
Protein total 7,7 g/dL
Albumin 3,8 g/dL
GDS 75 mg/dl
Ureum 19 mg/dl
Kreatinin 0,2 mg/dl
AGD
pH 02/11/2017 7,53
pCO2 21,0 mmHg
pO2 119 mmHg
HCO3 17,5 mEq/l
Base excess -4,4 mmol/l
Bicnat 20,7 mEq/l
O2 saturasi 96,1%
B.B 43,6 mEq/l

D. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


1. Kemandirian dan bergaul
Klien masih sangat bergantung dengan ibunya dan keluarganya
2. Motorik halus
Motorik halus klien belum sesuai perkembangan, karena klien sehari-hari hanya
berbaring di tempat tidur
3. Kognitif dan bahasa
Klien hanya bisa menangis, belum dapat mengucapkan satu kata pun
4. Motorik kasar
Motorik kasar klien belum sesuai perkembangan karena klien sehari-hari hanya
berbaring di tempat tidur
5. Sosialisasi
Klien sehari-hari hanya digendong ibunya keluar rumah untuk makan sore

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosis Keperawatan Implementasi Evaluasi

1 Ketidakefektifan  Menjelaskan pada pasien dan S: Ibu pasien mengatakan


bersihan jalan nafas keluarga tentang penggunaan bahwa batuk dan suara
berhubungan dengan peralatan : O2, Suction, grok-grok pada anaknya
peningkatan produksi Inhalasi. mulai berkurang.
mucus /peningkatan  Memposisikan pasien untuk O: TTV: HR: TTV: HR:
sekresi lendir memaksimalkan ventilasi 122 x/m, RR: 24 x/m,
 Mengeluarkan sekret dengan S:36.6 C, nadi kuat, akrall
suction hangat, tampak slem
 Mengauskultasi suara nafas, berkurang di hidung,
catat adanya suara tambahan terdengar suara stridor
 Memberikan Inhalasi NaCl berkurang pada kedua
0,9% dan Ventolin dengan lapang paru, saturasi o2
perbandingan 2:1 94%
 Memonitor status A: Masalah keperawatan
hemodinamik teratasi
 Memberikan pelembab udara P: Intervensi selesai
Kassa basah NaCl Lembab
 Berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian antibiotik
 Memonitor respirasi rate dan
saturasi O2 secara berkala
2 Ketidakseimbangan  Mengkaji adanya alergi S: Ibu mengatakan sudah
nutrisi kurang dari makanan mengerti dan paham
kebutuhan tubuh  Berkolaborasi dengan ahli gizi tentang jadwal nutrisi
untuk menentukan jumlah harian yang sudah
kalori dan nutrisi yang dibuat. Ibu sudah
dibutuhkan pasien mampu memberikan
 Mengajarkan pasien bagaimana susu formula melalui
membuat catatan makanan NGT dan feeding drip.
harian. O: TTV: HR: 122 x/m,
 Memonitor adanya penurunan RR: 24 x/m, S:36.6 C,
BB dan gula darah nadi kuat, akral hangat,
 Menjadwalkan pengobatan dan konjunctiva
tindakan tidak selama jam kemerahan, warna kulit
makan pink, kulit tampak
 Memonitor turgor kulit kering, rambut tampak
 Memonitor kekeringan, rambut tipis dan kemerahan,
kusam, total protein, Hb dan mukosa lembab, intake
kadar Ht per NGT, muntah
 Memonitor mual dan muntah tidak, abdomen supel,
 Memonitor pucat, kemerahan, turgor kulit elastis, BB
dan kekeringan jaringan terakhir: 4.630 gr (naik
konjungtiva 930 gr dari BB
 Memonitor intake nuntrisi sebelumnya 3.700 gr),
 Menginformasikan pada klien Hasil lab: Hb: 11.5
dan keluarga tentang manfaat g/dL (10.8-12.8 g/dL),
nutrisi Ht: 33.5 % (35.0-
 Berkolaborasi dengan dokter 43.0%) Protein Total:
tentang intake nutrisi melalui 7.70 g/dL (6.6-8.7
NGT sehingga adekuat dan g/dL), Albumin: 3.80
dapat dipertahankan. g/dL (3.4-5.0 g/dL),
 Mengatur posisi semi fowler GDS 75 mg/dL (<110
atau fowler tinggi selama mg/dL), SGOT (AST)
makan 34 U/L (<56 U/L),
 Kolaborasi pemberian terapi SGPT (ALT) 30 U/L
farmakologi sesuai program (<39 U/L).
 Mempertahankan terapi IV line A: Masalah teratasi
sebagian
P: Lanjutkan intervensi

3 Aktual infeksi  Mempertahankan teknik S: Ibu mengatakan sudah


aseptif paham dan bisa
 Membatasi pengunjung bila mempraktikan hand
perlu hygiene sesuai prosedur
 Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah
sebelum dan sesudah tindakan menyentuh pasien
keperawatan O: TTV: HR: TTV: HR:
 Menggunakan baju, sarung 122 x/m, RR: 24 x/m,
tangan sebagai alat pelindung S:36.6 C, nadi kuat, akral
 Mengganti letak IV perifer hangat, kulit tampak tidak
dan dressing sesuai dengan ada kemerahan atau luka,
petunjuk umum hasil lab kultur darah:
 Meningkatkan intake nutrisi steril.
 Memberikan terapi antibiotik A: Masalah keperawatan
sesuai program teratasi
 Memonitor tanda dan gejala P: Intervensi selesai
infeksi sistemik dan lokal
 Menginspeksi kulit dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
 Memonitor adanya luka
 Mendorong masukan cairan
 Mendorong istirahat
 Mengobservasi suhu badan
pada pasien setiap 8 jam
DAFTAR PUSTAKA

Basuki, U. 2003, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Baduta (6-23 bulan) pada
Keluarga Miskin & Tidak Miskin di Kota Bandar Lampung, FKMUI

FK UI. 2007, Ilmu Kesehatan Anak, Cetakan kesebelas, Bagian Ilmukesehatan Anak, Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia

Hidayati, 2000. Status Gizi Balita Berdasarkan Karakteristik Balita dan Keluarga di Provinsi
Sumatera Barat Tahun 1998, Skripsi, FKM-UI, Depok

Hadi, I. 2005, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Neglasari
dan Kedaung Wetan, Skripsi, FKM-UI, Depok

Hermann, W. 2003, ‘USDA Nutrient Database’, American Journal of Clinical Nutr.

Hermansyah, 2002, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian KEP Anak Umur 6-59
Bulan Pada Keluarga Miskin di Kota Sawah Lunto, Tesis, FKMUI

Supriatna, N. 2004. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Usia 24-60 Bulan di
Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka, FKM-UI

Susanto,MKM. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan IMT/U pada Balita Vegetarian
Lakto Ovo dan Non Vegetarian di DKI Jakarta, 2008

http://berbagi.net/databerbagi/gizi-buruk,-ancaman-generasi-yang-hilang-2.html

http://astaqauliyah.com/2006/12/20/pola-asuh-dalam-hubungannya-dengan-status-gizi-anak-balita-
di-tinjau-dari-pekerjaan-pendapatan-dan-pengeluaran-orang-tua-di-daerah-sulawesi-
selatan/