Anda di halaman 1dari 29

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

A. Penetapan Kadar Lengas Tanah


Tanah merupakan bahan alam yang memiliki wujud tersendiri. Dalam kehidupan sehari –
hari tanah sangat dibutuhkan. Selain sebagai tempat berpijak, tanah merupakan media tanam bagi
tumbuhan. Tanah terdiri dari empat komponen utama yaitu bahan mineral, bahan organik, udara,
dan air tanah.
Tanah sering dikatakan memiliki fungski yang multidimensional. Oleh sebab itu sering timbul
masalah yang berkaitan dengan tanah yaitu ketersediaan tanah terbatas sedangkan penggunaan
semakin luas sehingga terjadi penurunan kualitas air tanah. Analisis tanah dapat berupa
pengukuran kimiawi,fisika, dan biologi yang bertujuan untuk memahami sifat tanah dan
kesesuaiannya untuk pertumbuhan tanaman,
Tanah dipengaruhi oleh proses gabungan anasir alami yaitu bahan induk, iklim, topografi, dan
organisme yang bekerja pada waktu tertentu. Pengaruh tersebut mengakibatkan kenampakan dan
sifat-sifat tanah didaerah tertentu berbeda dengan daerah lain. Dengan kata lain oleh karena
intensitas faktor – faktor pembentukan tanah antar daerah satu dengan yang lain berbeda, makan
tanah yang terbentuk juga berbeda.
Dalam suatu pandang tanah sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman, Lengas tanah yang
merupakan salah satu sifat fisik tanah sangat berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah.
Lengas menyusun dua per tiga bagian dari pori – pori tanah pada suhu kamar dan menjadi satu
pertiga baguan jika suhu meningkat. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai kadar lengas
sangatlah penting.

B. Tekstur Tanah

Tanah merupakan suatu sistem yang sangat kompleks yang dapat ditinjau dari beberapa segi,
yaitu fisik, kimiawi dan biologis. Tanah yang dengan istilah lain disebut pedosfera yang berada
di atas permukaan bumi ini merupakan hasil perpaduan dari beberapa bagian penyusun kerak
bumi, yaitu litosfera, biosfera, hidrosfera dan atmosfera. Apabila diperhatikan lebih seksama,
tanah bukanlah terdiri dari benda padat yang pejal melainkan ternyata tersusun dari empat bagian
penyusun tanah, yaitu bahan mineral (anorganik), bahan-bahan organik atau sisa tanaman dan
hewan, air tanah dan udara tanah. Keempat bagian penyusun tanah tersebut bergabung satu sama
lain membentuk suatu sistem yang kompleks, yaitu tanah, yang merupakan media yang baik bagi
perakaran tanaman, sebagai gudang unsur hara dan sanggup menyediakan air serta udara bagi
keperluan tanaman. Jumlah dan macam bahan penyusun tanah tersebut dapat bervariasi dari satu
tempat ketempat lain di permukaan bumi ini sehingga dapat dibedakan satu jenis tanah dengan
jenis tanah lainnya. Hal inilah yang merupakan dasar dari klasifikasi tanah.Membedakan sifat
tanah yang berbeda-beda, misalnya ada yang berwarna merah, hitam, kelabu, ada yang bertekstur
pasir, debu, liat dan sebagainya merupakan cara yang sangat sederhana untuk melakukan
klasifikasi tanah. Dengan cara ini maka tanah-tanah dengan sifat yang sama dimasukkan ke
dalam satu kelas yang sama. Pengklasifikasian tanah secara sederhana pun dapat dilakukan
dengan memilah-milah tanah subur, dan tanah kurang subur (tanah marginal). Tanah yang subur,
umumnya adalah tanah-tanah yang berasal dari gunung berapi atau bahan alluvial baru
sedangkan tanah marginal adalah tanah-tanah yang kurang baik dan belum diusahakan.
Tanaman pada umumnya mempunyai batas-batas toleransi terhadap masalah-masalah
kesuburan tanah secara spesifik. Hal ini dikarenakan ketersediaan unsur hara yang dapat diserap
oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi suatu
tanaman. Macam dan jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah bagi pertumbuhan tanaman
pada dasarnya harus berada dalam keadaan yang cukup dan seimbang agar tingkat produksi yang
diharapkan dapat tercapai dengan baik. Dengan demikian maka pengertian kesuburan tanah
disini adalah suatu keadaan tanah di mana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup,
seimbang dan tersedia sesuai dengan tuntutan tanaman. Pengolahan tanah yang baik dan teratur
dapat meningkatkan kesuburan fisik tanah tersebut sedangkan pemupukan yang sesuai dengan
unsur hara tanah dapat meningkatkan kesuburan kimiawi tanah sehingga sesuai dengan
kebutuhan tanaman.
Pertumbuhan tanaman tidak hanya dikontrol oleh faktor dalam (internal), tetapi juga
ditentukan oleh faktor luar (eksternal). Salah satu faktor eksternal tersebut adalah unsur hara
esensial. Unsur hara esensial adalah unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
Apabila unsur tersebut tidak tersedia bagi tanaman, maka tanaman akan menunjukkan gejala
kekurangan unsur tersebut dan pertumbuhan tanaman akan merana. Berdasarkan jumlah yang
diperlukan kita mengenal adanya unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro
diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang lebih besar, sedangkan unsur hara mikro diperlukan
oleh tanaman dalam jumlah yang relatif kecil.

C. Struktur Tanah

Tanah memiliki beberapa sifat-sifat fisik. Salah satunya adalah struktur tanah. Struktur
tanah merupakan salah satu sifat morfologi tanah yang dapat diamati secara langsung. Morfologi
tanah adalah deskripsi tubuh tanah yang menunjukkan kenampakan-kenampakan, ciri-ciri dan
sifat-sifat umum dalam suatu profil tanah.
Ciri-ciri morfologi tanah merupakan petunjuk dari proses-proses yang pernah dialami sesuatu
jenis tanah selama pelapukan, pembentukan dan perkembangannya. Perbedaan faktor-faktor
pembentuk tanah, akan meninggalkan ciri dan sifat tanah yang berbeda pula pada suatu profil
tanah.
Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer tanah dan agregat-agregat primer tanah secara
alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat. Struktur
tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah
yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.
Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu
sama lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukanlah praktikum struktur tanah yang akan menganalisis
bentuk, ukuran, perkembangan struktur tanah dan juga kemantapan tanah.

D. Warna Tanah Dan Kemasaman Tanah

Beberapa sifat tanah juda dapat di identifikasi melalu berbagai klasifikasi warna. Dimana
warna tanah merupakan merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna
tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan
permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali
dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik
menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah,. Warna humus, besi oksida dan besi
hidroksida menentukan warna tanah. Besi oksida berwarna merah, agak kecoklatan atau kuning
yang tergantung derajat hidrasinya. Warna tanah sangat dipengaruhi oleh kadar kelembaban di
dalamnya. Perubahan warna sehubungan dengan kelembaban itu terjadi karena koloid-koloid
kehilangan air oleh pengaruh drainase, penguapan (evaporasi) dan oleh isapan akar tumbuhan.
Perbedaan warna tanah pada dasarnya dipengaruhi oleh empat bahan penting yaitu persenyawaan
besi, kandungan bahan organik, persenyawaan kuarsa, dan persenyawaan mangan. Bahan-bahan
organik menyebabkan warna tanah berlainan dengan warna yang disebabkan oleh kuarsa.
Pengukuran warna tanah didasarkan pada tiga sifat, yaitu sifat warna cahaya (colour of light);
yaitu hue, value, dan chroma. Hue ialah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang
gelombangnya. Value disebut juga kecemerlangan cahaya, ialah jumlah berkas cahaya. Value
menunjukkan gelap terangnya warna yang sesuai dengan banyak sinar yang dipantulkannya
Chroma ialah kemurnian atau kekuatan dari warna spectrum (hue). Didasarkan pada sifat yang
tiga tersebut, “Munsell” telah membuat notasi warna yang disebut notasi warna dalam bukunya
“Munsell Soil Coulor Chart” Notasi tersebut secara sistematik dilambangkan dengan
alphanumeric (huruf dan angka), untuk hue, value dan chroma. Untuk menentukan warna tanah
sampel, warna tanah tersebut dicocokkan dengan warna yang ada dalam buku tersebut
Kemasaman tanah menunjukkan keadaan pH tanah. pH larutan tanah sangat penting karena
larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen, Potassium/kalium, dan Pospor. Dimana
tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap
penyakit. Tanah dengan pH netral merupakan jenis tanah yang mempunyai lapisan solum yang
cukup tebal, teksturnya agak bervariasi lempung sampai liat, dengan struktur gumpal bersudut,
sedang konsistensinya adalah gempur sampai teguh. Kandungan bahan organik umumnya rendah
sampai sangat renda Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P,
K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam kandungan bahan organik sangat
rendah menyebabkan daya simpan air pada tanah ini sangat rendah dan tanaman mempunyai
kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena
keracunan tersebut.

E.Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan
tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya
gayakohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antar partikel dan air)
dengan berbagai kelembaban tanah.Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga
kondisi, yaitu: basah, lembab, dankering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi
tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang ( field capacity)
. Konsistensi lembab merupakan penetapankonsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar
kapasitas lapang. Konsistensi keringmerupakan penetan konsistensi tanah pada kondisi kadar air
tanah kering udaraDalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat
atau tidak melekat) atau mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya
mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Dalam keadan lembab, tanah
dibedakan kedalamkonsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul).
Dalam keadaankering , tanah dibedakan ke dalam konsistensi lunak sampai keras

1.2.Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari parktikum ini adalah menetapkan kadar lengas pada tanah kering
udara, menetapkan kadar lengas kapasitas lapang, menetpkan kapasitas lengas maksimum,
menetapkan potensial lengas tanah, menetapkan klas tekstur tanah secara kuantitatif,menetapkan
kerapatan butir tanah (BJ), menetapkan kerapatan masa tanah (BV) menghitung prositas tanah
(n), untuk mengetahui cara menentukan warna tanah, mengukur pH tanah actual dan potensial,
menetukan muatan tanah melalui pengukuran pH, menetapkan batas air tanah (BC),mentapkan
batas lekat tanah (BL), mentapkan batas gulung tanah (BG), menetapkan batas berubah warna
(BBW), menghitung jangka olah tanah, menghitung indeks plastisitas tanah(lp), dan menghitung
persediaan air maksimum dalam tanah (PAM).
BAB II.TNJAUAN PUSTAKA

A.Penetapan Kadar Lengas Tanah

Lengas tanah adalah air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas
(matrik,osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejalan dengan peningkatan permukaan jenis
zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zarah tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan
beberapa banyak air yang dapat diserap tumbuhan. Bagian lengas tanah yang tumbuhan mampu
menyerap dinamakan air ketersediaan (Notohadiprabowo,2006).
Keberadaan lengas tanah dipengaruhi oleh energi pengikat spesifik yang berhubungan dengan
tekanan air. Status energi bebas (tekanan) lengas tanah dipengaruhi oleh perilaku dan
keberadaannya oleh tanaman. Lengas tanah dipengaruhi oleh keberadaan gravitasi dan tekanan
osmosis apabila tanah dilakukan pemupukan dengan konsentrasi tinggi (Bridges, 1979).
Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan
jenuh air, semua ruang pori tanah terisi air. Dalam keadaan ini jumlah tanah yang disimpan
didalam tanah merupakan jumlah air maksimum disebut kapasitas penyimpanan air maksimum.
Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara
dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh (Hillel,1983).
Di dalam tanah air dapat bertahan tetap berada di dalam ruang pori karena adanya berbagai gaya
yang yang bekerja pada air tersebut. Untuk dapat mengambil air dari rongga pori tanah
diperlukan gaya atau energi yang diperlukan untuk melawan energi yang menahan air. Gaya –
gaya yang menahan air hingga bertahan dalam rongga pori berasal dari absorbsi molekul air oleh
padatan tanah, gaya tarik menarik antara molekul air, adanya larutan garam dan gaya kapiler
(Yong et al.,1975).
Jumlah air tanah yang bermanfaat untuk tanaman mempunyai batas – bata tertentu. Seperti pada
kekurangan air, kelebihan air dapat merupakan kesukaran. Air yang kelebihan itu tidaklah
beracun, akan tetapi kekurangan udara pada tanah – tanah yang tergenanglah yang menyebabkan
kerusakan. Tanaman dapat ditanam dengan memuaskan dalam larutan air bila aerasi diberikan
dengan baik (Kelly,2002).
Dalam kaitanya dengan daya penyimpanan air, tanah pasiran mempunyai daya pengikat terhadap
lengas tanah yang relative rendah karena permukaan kontak antara tanah pasiran ini didominasi
oleh pori – pori mikro satu. Oleh karena itu, air yang jatuh ketanah pasiran akan segera
mengalami perkolasi dan air kapiler akan mudah lepas karena evaporasi (Mukhid,2010).

B.Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya
perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah. dari
ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 - 0.05
mm, debu dengan ukuran 0.05 - 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan
berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat
tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain (dedy, 2012).
Tekstur tanah diartikan sebagai proporsi pasir, debu dan liat. Partikel ukuran lebih dari 2
mm, bahan organik dan agen perekat seperti kalsium karbonate harus dihilangkan sebelum
menentukan tekstur. Tanah bertekstur sama misal geluh berdebu mempunyai sifat fisika dan
kimia yang hampir sama dengan syarat mineralogi liat. Tekstur tanah ditentukan di lapangan
dengan cara melihat gejala konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium
dengan metode pipet atau metode hydrometer. Tekstur tanah menentukan tata air, tata udara,
kemudahan pengolahan dan struktur tanah Sifat kimia, fisika dan mineralogi partikel tanah
tergantung pada ukuran partikelnya. Semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaannya
semakin besar. Jadi, luas permukaan fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir ( Anonim, 2009 ).
Tanah memiliki beberapa ukuran fraksi tanah Menurut Sistem Departemen Pertanian
Amerika Serikat (USDA), yaitu :
 Pasir sangat kasar (Very coarse sand) dengan diameter 2,00 – 1,00 mm
 Pasir kasar (Coarse sand), diameter fraksi 1,00 – 0,50 mm
 Pasir sedang (medium sand), diameter fraksi 0,50 – 0,25 mm
 Pasir halus (fine sand),diameter fraksi 0,25 – 0,10 mm
 Pasir sangat halus (very fine sand),diameter fraksi 0,10 – 0,05 mm
 Debu (silt), diameter fraksi 0,05 – 0,002 mm
 Liat (Clay), diameter fraksi Kurang dari 0,002 mm
Untuk menentukan rentang ukuran partikel tanah yang biasanya dinyatakan dalam
prosentase dari berat kering total dilakukan analisis secara mekanis (mechanical analysis). Ada
dua metode yang umum digunakan untuk memberikan informasi ukuran partikel tanah, yaitu :
(1) analisis saringan (sieving analysis), dan (2) analisis pengendapan (sedimentation atau
hydrometer analysis). Analisis saringan biasanya digunakan untuk tanah berbutir kasar,
sedangkan prosedur pengendapan digunakan untuk analisis tanah berbutir halus. Segitiga Tekstur
Menurut USDA dapat dikelompokkan menjadi 12 kelas tekstur tanah yaitu:
- Pasir (sandy): Pasir mempunyai ukuran >2mm dan bersifat kasar dan tidak lekat. Pasir
mengikat sedikit air karena pori-porinya besar sehingga banyak air yang keluar dari tanah
akibat gaya gravitasi.
- Pasir berlempung (loam sandy): Tanah pasir berlempung ini memiliki terkstur yang kasar.
Pasir berlempung ini akan membentuk bola yang mudah hancur karena daya ikat pada
partikel-partikel di pasir berlempung tidak kuat. Dan juga akan sedikit sekali lengket karena
memang kandungan lempungnya yang sedikit.
- Lempung berpasir (Sandy loam) : Rsa kasar pada tanah lempung berpasir akan terasa agak
jelas dan juga akan membentuk bola yang agak keras tetapi akan mudah hancur.
- Lempung (Loam) : Lempung tidak terasa kasar dan juga tidak terasa licin. Dapat
membentuk bola yang agak teguh dan dapat sedikit digulung dengan permukaan yang
mengkilat. Selain itu, lempung juga dapat melekat.
- Lempung liat berpasir (Sandy-clay-loam) : Lempung liat berpasir terasa agak jelas. Dapat
membentuk bola agak teguh bila kering dan juga dapat membentuk gulungan jika dipilin dan
gulungan akan mudah hancur serta dapat melekat.
- Lempung liat berdebu (sandy-silt-loam) : Lempung liat berdebu memiliki rasa licin yang
jelas. Dapat membentuk bola teguh dan gulungan yang mengkilat serta dapat melekat.
- Lempung berliat (clay loam) : Lempung berliat akan terasa agak kasar. Dapat membentuk
bola agak teguh bila kering dan membentuk gumpalan bila dipilin tetapi pilinan mudah
hancur. Daya lekatnya sedang.
- Lempung berdebu (Silty Loam): Lempung berdebu akan terasa agak licin. Dapat
membentuk bola yang agak teguh dan dapat melekat.
- Debu (Silt): Debu akan terasa licin sekali. Dapt membentuk bola yang teguh dan dapat
sedikit digulung dengan permukaan yang mengkilap serta terasa agak lekat.
- Liat berpasir (Sandy-clay): Liat berpasir akan terasa licin tetapi agak kasar. Dapat
membentuk bola dalam keadaan kering. Akan sukar untuk dipijit tetapi mudah digulung
serta memilliki daya lekat yang tinggi (melekat sekali).
- Liat berdebu (Silty-clay): Liat berdebu akan terasa agak licin. Dapat membentuk bola dalam
keadaan kering. Akan sukar dipijit tetapi mudah digulung serta memiliki daya lekat yang
tinggi (melekat sekali).
- Liat (clay): Liat akan terasa berat, dapat membentuk bola yang baik. Serta memiliki daya
lekat yang tinggi (Aisyah, 2012).

C.Struktur Tanah
Struktur tanah dapat dibagi dalam struktur makro dan mikro. Struktur makro/struktur
lapisan bawah tanah adalah penyusunan agregat-agregat tanah satu dengan yang lainnya
sedangkan struktur mikro adalah penyusunan butir-butir primer tanah ke dalam butir-butir
majemuk/agregat-agregat yang satu sama lain dibatasi oleh bidang-bidang belah alami.
Struktur tanah menggambarkan cara bersatunya partikel-partikel primer tanah (pasir, debu
dan liat) menjadi butir-butir (agregat) tanah. Agregat yang terbentuk secara alami dinamakan
ped. Struktur tanah dijelaskan dalam bentuk ukuran dan tingkatan perkembangan ped (Tim
Asisten, 2010).
Menurut bentuk ped, struktur tanah dapat digolongkan dalam bentuk lempeng (platy),
prismatik, kolumnar, kubus menyudut, kubus membulat (subangular blocky), kersay (granular),
dan remah (crumb). Tanah yang tidak membentuk struktur dapat berupa butiran tunggal (single
grain) atau massif (massa tanah tidak tidak menunjukkan bidang-bidang pemisah) (Tim Asisten,
2010).
Klasifikasi struktur tanah (bukan klasifikasi tanah yang cocok untuk usaha pertanian)
sangat berkaitan dengan klasifikasi lapangan yang digunakan bagi peelaahan morfologi tanah.
Secara umum komponen pengklasifikasian tanah meliputi (Kartaspoetra dan Mulyani, 1987):
1. Tipe struktur meliputi bentuk dan susunan agregat.
2. Kelas struktur meliputi ukuran
3. Derajat struktur yaitu kemantapan atau kekuatan agregat. Struktur lempeng mempunyai
ketebalan kurang dari 1 mm sampai lebih dari 10 mm. Prisma dan tiang antara kurang dari 10
mm sampai lebih dari 100 mm. Gumpal antara kurang dari 100 mm sampai lebih dari 50 mm.
Granuler kurang dari 5 mm sampai lebih dari 50 mm. Granuler kurang dari 1 mm sampai lebih
dari 10 mm. Remah kurang dari 1 mm sampai lebih dari 5 mm (Hardjowigeno, 1987).
Tingkat perkembangan struktur ditentukan berdasar atas kemantapan atau ketahanan
bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan. Ketahanan struktur tanah dibedakan menjadi
tingkat perkembangan lemah (butir-butir struktur tanah mudah hancur), tingkat perkembangan
sedang (butir-butir struktur tanah agak sukar hancur), dan tingkat perkembangan kuat (butir-butir
struktur tanah sukar hancur). Hal ini sesuai dengan jenis tanah dan tingkat kelembaban tanah.
Tanah-tanah permukaan yang banyak mengandung humus biasanya mempunyai tingkat
perkembangan yang kuat. Tanah yang kering umumnya mempunyai kemantapan yang lebih
tinggi daripada tanah basah. Jika dalam mennetukan kemantapan struktur tidak disebutkan
kelembabannya, biasanya dianggap tanah dianggap dalam keadaan mendekati kering atau sedikit
lembab, karena dalam keadaan tersebut struktur tanah dalam keadaan yang paling baik
(Hardjowigeno, 1987).
Derajat struktur tanah dapat dibedakan menjadi (Kartaspoetra dan Mulyani, 1987) :
1. Yang tidak beragregat, yaitu pejal (jika berkoherensi dan butir tunggal) lepas-lepas (jika
tidak berkoherensi).
2. Yang derajat strukturnya lemah, jika tersentuh akan mudah hancur, derajatnya dapat
dibedakan lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah.
3. Yang derajat strukturnya cukup, dalam hal ini agregatnya sudah jelas terbentuk dan
masih dapat dipecah-pecah
4. Yang derajat strukturnya kokoh, agregatnya mantap dan jika dipecahkan (dipecah-pecah)
agak liat (terasa ada ketahanannya), derajatnya dapat dibedakan lagi menjadi yang sangat kokoh
dan yang cukup kokoh.
Tanah dikatakan tidak berstruktur bila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain
(disebut lepas, misalnya tanah pasir) atau saling melekat menjadi satu satuan yang padu
(kompak) dan disebut massive atau pejal (Hardjowigeno, 1987).
Tanah dengan struktur baik (granuler dan remah) mempunyai tata udara yang baik, unsur-
unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik adalah yang
bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling betsinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-
pori tanah banyak yang terbentuk. Di samping itu, struktur tanah harus tidak mudah rusak
(mantap) sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan (Hardjowigeno, 1987).
Terdapat beberapa bentuk struktur tanah diantaranya adalah (Tim Asisten, 2010):
• Granular
• PlatyTanah harus stabil, yakni agregat-agregatnya harus cukup tahan terhadap benturan
tetesan hujan dan air, kalau tidak demikan tanah akan menjadi hancur dan kompak, kurang dapat
melalukan air, menyebabkan tanah cepat jenuh air (Tim Asisten, 2010).
Komponen-komponen tanah yang mengikat fraksi pasir dan debu membentuk struktur
yang tersusun adalah liat, bahan organik, dan seskuioksida. Bila ikatan antara partikel-partikel
tanah lemah, tenaga mekanik akan mudah menceraiberaikan partikel-partikel tanah dan
akibatnya pori-pori tanah tertutup dan kontinuitas pori-pori tanah terganggu (Tim Asisten, 2010).
Tanah yang hancur menutupi pori-pori pada lapisan atas tanah akan mengurangi kapasitas
infiltrasi air pada tanah tersebut. Tanah yang kompak pada lapisan paling atas tanah
menyebabkan aerasi memburuk dan menimbulakan aliran permukaan yang lebih besar sehingga
resiko aerasi tanah menjadi lebih serius (Tim Asisten, 2010).

D.Warna Tanah Dan Kemasaman Tanah


Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk
pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman
tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan
kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam,
kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang
tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam
bentuk spot-spot, disebut karatan (Tan Kim, 1995).
Efek komponen-komponen terhadap warna campuran secara langsung proporsional
terhadap permukaan tanah yang setara dengan luas permukaan spesifik dikali proporsi
volumetrik masing-masing terhadap tanah, yang bermakna materi kolodial mempunyai dampak
terbesar terhadap warna tanah, misalnya humus dan besi-hidroksida secara jelas menentukan
wana tanah. Besi-oksida berwarna merah, coklat-karatan atau kuning tergantung derajat
jidrasinya, besi- tereduksi berwarna biru-hijau, kuarsa umumnya berwarna putih. Batu kapur
berwarna putih, kelabu, atau kadang kala olive-hijau, dan feldspar mempunyai banyak warna
tetapi dominan merah. Liat berwarna kelabu, putih atau merah. Tanah basah atau lembab
terlihat lebih gelap daripada tanah kering, karena terkait dengan perbedaan nyata dari sifat
refraktif (aksi pembiasan cahaya) komponen padatan tanah dan udara, sehingga warna tanah
kering akan banyak direfleksikan (Notohadiprawiro, 2000).
Warna merupakan indikator kondisi iklim tempat tanah berkembang atau asal bahan
induknya, tetapi pada kondisi tertentu warna sering pula digunakan sebagai indikator kesuburan
atau kapasitas produksi lahan, secara umum dikatakan bahwa makin gelap tanah berarti makin
tinggi produktivitasnya. Yang merupakan resultante dari hal-hal berikut: kadar bahan organik
uang berwarna gelap, makin tinggi makin gelap, intensitas plindian unsur-unsur hara pada tanah
tersebut, makin intensif makin terang, dan warna terang mencerminkan dominan kuarsa, yaitu
mineral yang tanpa nilai nutrisional sama sekali, sehingga makin dominan makin terang dan
makin miskin. Pada tanah-tanah muda, warna merupakan indikator jenis bahan induknya,
sedangkan pada tanah-tanah tua merupakan indikator iklim tempat perkembangannya, baik
iklim makro maupun iklim tanah. Warna juga memepengaruhi kondisi tanah lainnya melalui
efeknya terhadap energi radiant (Hillel, 1998).
Suatu profil tanah terdiri dari horizon-horizon dengan warna beragam antara horizon dan
dalam satu horizon. Pada pemerian profil tanah, warna setiap horizon itu haruslah diperi secara
lengkap. Pemerian warna tanah juga perlu memperhatikan hubungan antara pola warna dengan
struktu tanah kesarangan tanah. Agregat tanah yang disidik perlu di hancurkan untuk memastikan
apakah warna tanah tampak itu seragam diseluruh agregat. Buku Munsell Soil Color Chart
merupakan buku pedoman pemerian warna tanah yang dipublikasikan oleh Badan Pertanian
Amerika Serikat (USDA). Buku edisi tahun 1971 ini terdiri dari tujuh halaman warna
mempunyai sejumlah potongan warna dan jumlah potongan warna pada tujuh halaman ini adalah
196 potong. Potongan-potongan warna merupakan versi modifikasi dari kumpulan warna yang
terdapat dalam buku induk Munsell dan hanya mencakup 1/5 dari seluruh kisaran warna edisi
lengkapnya (Poerwidodo, 1991)
pH tanah atau kemasaman tanah atau reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau
alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya
konsentrasi ion hidrogen (H +) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah,
semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain ion H+ dan ion-ion lain terdapat juga ion
hidroksida (OH-), yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah-
tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dibandingakan dengan jumlah ion OH-, sedangkan pada
tanah alkalis kandungan ion OH- lebih banyak dari ion H+. Jika ion H+ dan ion OH- sama
banyak di dalam tanah atau seimbang, maka tanah bereaksi netral.
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung
unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman
membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap
penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat)
menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0
hingga 7,0. Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di
atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam
nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana
tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Tingkat pH tanah yang merugikan pertumbuhan tanaman dapat terjadi secara alami di
beberapa wilayah, dan secara non alami terjadi dengan adanya hujan asam dan kontaminasi
tanah. Peran pH tanah adalah untuk mengendalikan ketersedian nutrisi bagi vegetasi yang
tumbuh di atasnya. Makronutrien (kalsium, fosfor, nitrogen, kalium, magnesium, sulfur) tersedia
cukup bagi tanaman jika berada pada tanah dengan pH netral atau sedikit beralkalin. Kalsium,
magnesium, dan kalium biasanya tersedia bagi tanaman dengan cara pertukaran kation dengan
material organik tanah dan partikel tanah liat. Ketika keasaman tanah meningkat, ketersediaan
kation untuk material organik tanah dan partikel tanah liat segera tercukupi sehingga tidak ada
pertukaran kation dan nutrisi bagi tanaman berkurang. Namun semua itu tidak dapat
disimplifikasi karena banyak faktor yang memengaruhi hubungan pH dengan ketersediaan
nutrisi, diantaranya tipe tanah (tanah asam sulfat, tanah basa, dsb), kelembaban tanah, dan faktor
meteorologika.
Ada 2 metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran pH tanah yaitu kertas
lakmus dan pH meter. Kertas lakmus sering di gunakan di lapangan untuk mempercepat
pengukuran pH. Penggunaan metode ini di perlukan keahlian pengalaman untuk menghindari
kesalahan. Lebih akurat dan secara luas di gunakan adalah penggunaan pH meter, yang sangat
banyak di gunakan di laboratorium. Walaupun pH tanah merupakan indikator tunggal yang
sangat baik untuk kemasaman tanah, tetapi nilai pH tidak bisa menunjukkan berapa kebutuhan
kapur. Kebutuhan kapur merupakan jumlah kapur pertanian yang dibutuhkan untuk
mempertahankan variasi pH yang di inginkan untuk sistem pertanian yang digunakan.
Kebutuhan kapur tanah tidak hanya berhubungan dengan pH tanah saja, tetapi juga berhubungan
dengan kemampuan menyangga tanah atau kapasitas tukar kation (dewati, 2012).
E.Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah ialah istilah yang berkaitan sangat erat dengan kandungan air yang
menunjukkan manifestasi gaya-gaya fisika yakni kohesi dan adhisi yang berada di dalam tanah
pada kandungan air yang berbeda-beda. Setiap materi tanah mempunyai konsistensi yang baik
bila massa tanah itu besar atau kecil, dalam keadaan ilmiah ataupun sangat terganggu. Terbentuk
agregat atau tanpa struktur maupun dalam keadaan lembab atau kering. Sekalipun konsistensi
tanah dan struktur berhubungan erat satu sama lain, struktur tanah mengangkut bentuk ukuran
dan pendefinisian alamiah yang merupakan hasil dari keragaman gaya tarikan di dalam massa
tanah. Sebaliknya, konsistensi meliputi corak dan kekuatan dari gaya-gaya tersebut (Hakim, et
al., 1986).

Konsistensi tanah berarti sebagai penjelasan atas macam dan derajat kohesi dan adhesi
antara partikel-partikel tanah yang berhubungandengan ketahanan tanahakan kerusakan ataupun
kehancuran. Konsistensi dapat didiskripsikan sebagai konsistensi kering, konsistensi lembab, dan
konsistensi basah. Konsistensi yang dinilai termasuk sebagai ketahanan akan kehancuran
(retakan) dan kelekatan. Ketahanan tanah dapat dinilai melalui ketegaran tanah akan tekanan
yang dapat dipraktikkan menggunakan penekanan antara ibu jari dan jari telunjuk (Oram, 2009).

Tanah-tanah yang memiliki konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat
pada alat pengolahan tanah, oleh karena itu dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah, atau
kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah
tersebut.dalam keadaan lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam konsistensi gembur
(mudah diolah) sampai tegas (agak sulit dicangkul). Dalam keadaan basah dibedakan
plastisitasnya yaitu dari tidak lekat sampai lekat (Hardjowigeno, 1989).

Batas-batas Attenberg atau batas-batas konsistensi tanah adalh persen berat kadar lengas
tanah yang menandai terjadinya perubahan konsistensi secara nyata dan ditakrifkan jelas. Nilai-
nilai ini terutama digunakan dalam pekerjaan rekayasa teknik maupun secara terbatas juga
digunakan dalam bidang pertanian (Euroconsult, 1989).

Konsistensi berhubungan secara langsung dengan plastisitas. Plastisita adalah derajat


dimana memungkinkan tanah untuk kembali terbentuk secara permanen tanpa adanya keretakan
(Gerassimov, 2007).

Kemantapan agregat tanah umumnya menurun karena penggenangan sebagai akibat


pengembunan, pengidratan, dan peningkatan kelarutan beberapa bahan perekat. Perubahan
kekuatan tanah di dalam tanah agregat dan diantara agregat dapat dilihat dari kohesi di dalam
agregat tanah dimana menurun bila kadar lengas yang rendah, meningkat dengan cepat bila
kelengasan meningkat mencapai puncak kira-kira pada kapasita lapang dan menurun tajam bila
kadar kelengasan mendekati kejenuhan (Anonim, 2008).

BAB III.METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.Waktu Dan Tempat Praktikum

3.1.1.Penetapan Kadar Lengas Tanah


Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 20 November 2014 dilab.ilmu tanah
fakultas pertanian universitas mataram.
3.1.2.Tekstur Tanah
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 27 November 2014 dilab.ilmu tanah
fakultas pertanian universitas mataram.
3.1.3.Sturktur Tanah
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 4 Desember 2014 dilab.ilmu tanah
fakultas pertanian universitas mataram.
3.1.4.Warna Tanah dan Kemasaman Tanah
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 11 Desember 2014 dilab.ilmu tanah
fakultas pertanian universitas mataram.
3.1.5.Konsistensi Tanah
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 18 Desember 2014 dilab.ilmu tanah
fakultas pertanian universitas mataram.

3.2.Alat dan Bahan Praktikum

3.2.1.Penetapan Kadar Lenas Tanah


a. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tiga buah tempat penimbang
( botol timbang,sebuah timbangan analtik,open,eksikator,tanah inseptisol dan cawan).
b. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah kering udara
gumpalan,contoh tanah halus ( 0.2 mm dan 0.5 mm ), dan contoh tanah asli.
3.2.2. Tekstur Tanah
a. Alat-alat Praktikum
Adapun alalt-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas arloji,timbangan
anlitik,gelas piala 500 ml,gelas ukur 25 ml dan 10 ml,penangas air,lampu spritus,sebuah
penumpu berkaki tiga,dua buah corong gelas,dan dua buah erlenmayer,botol pemancar
air,pengaduk kaca,kuas,tabung sedimentasi 1000 ml,pipet 25 ml,stopwatch,thermometer,dua
buah caawan penguat,piring kayu seng,open,eksikator,kertas saring,wattman,kertas lakmus
biru secukupnya dan khemikalia ( 30 % H2O2,2 NHCL,0,2 NHCL,1 NaOH).
b.Bahan-bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah kring udara
berdiameter 2 mm.
3.2.3. Sturktur Tanah
a.Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah piknometer,kawat pengaduk
halus,thermometer,botol pemancaar air,corong gas kecil,timbangan anlitik,potongan kertas
untuk lap,cawan pemanas lilin,lilin,dua tuas benang halus,open,eksikator,pipet ukur 10 ml,
dan gelas ukur.
b.Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah halus
( diameter 2 cm) kring udara.
3.2.4. Warna Tanah dan Kemasaman Tanah
a.Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah munsell soil colour
chacrt,aquades,botol semprot,botol kocok,pengaduk gelas,timbangan, Ph meter,0,1 N
KCL,0,1NH2SO 4+.
b.Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah entisol yang
memiliki warna yang berbeda.
3.2.5. Konsistensi Tanah
a.Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah satu set alat casagrande,cawan
penguat 12 cm,botol pemancar,empat buah timbangan,timbngan analitik,gelas beaker 500
ml,oven,eksikator,sehelai kertas grafik semiliog.
b.Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunkan dalam praktikum ini adalah contoh tanah kring udara
0,42 mm (0,5 ml).

3.3.Prosedur Kerja
3.3.1. Penetapan Kadar Lenas Tanah
a.Kadar Lengas Contoh Tanah Kering Angin
 Ditimbang cawan kosong bersih dan bertutup (a gr)
 Dimasukkan contoh tanah ke dalam cawan kira-kira separuh penuh dan ditimbang (b
gr).
 Dimasukkan cawan yang berisi tanah tersebut kedalam oven dalam keadaan tutup
terbuka pada suhu yang temperaturnya 105 C- 110 C dan dibiarkan selama 24 jam.
 Dikeluarkan dan didinginkan kira-kira 15 menit, kemudian ditimbang (c gr).
 Langkah 1-4 dilakukan untuk contoh tanah lainnya.
b.Kadar Lengas Contoh Tanah Kapasitas Lapang
 Disiapkan bejana seng yang telah dilapisi dengan kawat kasar di bagian
bawahnya,dan masukan kedalam papan penungku.
 Diisi dengan conto tanah sampai lebih kurang ¾ tinggi bejana seng.
 Ditetesi dengan air sampai tanah dalam bejana penuh dengan air.Air yang menetes
ditampung dengan gelas piala.
 Dibiarkan selama kurang lebih 48 jam.
 Diambil contoh tanah dari dalam bejana .
3.3.2. . Tekstur Tanah
 Disiapkan contoh tanah 2 mm dan letakkan tabung sedimentasi secara tegaklurus pada
sebuah rak.
 Dimasukkan tanah itu kedalam tabung I sampai pada garis 15 dan ditambahkan 1 ml
NAOH 1N.
 Ditambahkan aquades hingga berada pada garis 45 dan tutup rapat, kemudian dikocok
selama 2 menit.
 Dibuka tutupnya, dibiarkan mengendap selama 30 detik pada rak.
 Dituangkan larutan pada tabung I ke dalam tabung II dan biarkan mengendap selama
30 detik
 Setelah itu, dituangkan larutan tabung II ke dalam tabung III dan dihitung persentase
fraksinya.
3.3.3. Sturktur Tanah
a.Kerapatan butir tanah (BJ)
 Ditimbang piknometer kosong (a gram).
 Diisi piknometer dengan air sampai lehernya, dan disumbat dengan penutupnya.
 Piknometer tersebut ditimbang sebagai nilai (b gram) dan diukur temperature airnya
(T1 ) dan lihat BJ1 nya pada daftar yang tersedia.
 Air dalam piknometer dibuang dan dibersihkan dengan lap kemudian diberikan sedikit
alcohol, goyangkan sampai rata. Dan dibuang lagi, dibiarkan tegak terbuka beberapa
menit untuk menguapkan eter yang tersisa
 Disikan piknometer dengan tanah menggunakan corong gelas kecil kira-kira ¾ bagian,
pasang sumbatnya dan ditimbang (c gr).
 Piknometer tersebut ditanbahkan air sampai lehernya dan di goyang-goyangkan.
 Ditimbang piknometer tersebut (d gr), dan ukur temperature airnya (T2) kemudian
lihatlah BJ2 dalam temperature itu pada daftar yang tersedia.
b.Kerapatan masa
 Diambil sebongkah tanah dan ditimbang (a gr), lalu diikat dengan benang sehingga
dapat digantung.
 Dicairkan lilin dalam cawan pemanas sampai encer, api dimatikan dan dituggu sampai
temperaturnya turun, kemudian bongkah tanah dicelupkan sebentar, dan diangkat,
dibiarkan tergantung sampai lapisan lilin membeku.
 setelah selaput lilin cukup keras, bongkah tanah tersebut ditimbang (b gr)
 Diisi tabung dengan air kemudian bongkah tanah itu ditenggelamkan ke dalam air
tersebut
3.3.4. Warna Tanah dan Kemasaman Tanah
a.Warna Tanah
 Diambil bongkah tanah dengan permukaan asli, bila kering dibasahkan terlebih dahulu
 Dibandingkan warna tanah dengan warna pada buku Munsell.
 Dicatat Hue, Value,dan Kroma, jika ada bercak dan konkresi tentukan juga warnannya.
 Dilankutan pengamatan serupa untuk tanah dalam keadaan basah.
b.Kemasaman Tanah
 Ditimbang tanah sebanyak 10 gr dan masukkan ke dalam tabung kocok.
 Ditambahkan aquades 20 ml untuk pH H2O, dan 20 ml 0,1 N KCl untuk pH KCl.
 Diaduk dengan pengaduk gelas selama 10 menit sehingga tanah benar-benar larut dan
diamkan selama 15 menit.
 Diukur pHnya dengan pH meter.
3.3.5.Konsistensi Tanah
a. Batas cair tanah
 Disiapkan 100 g tanah, dimasukkan ke dalam gelas beaker, diberikan air secukupnya
dan diaduk sampai membentuk pasta.
 Dipindahkan pasta tanah itu ke cawan casagrande dan diratakan dengan tebalan 1 cm.
 Dibelah pasta tanah menjadi dua bagian yang dimulai dari bagian atas.
 Diputar engkol pemutar cawan pada casagrande dengan keepatan dua putaran
perdetik.
 Dicatat jumlah ketukan yang terjadi sampai belahan pada tanah tersebut menyatu.
 Penetapan kadar lengas tanah dilakukan pada ketukan 15-40.
 Batas cair diperoleh dengan menggunakan rumus.
b. Batas lekat tanah
 Disiapkan 100 g tanah, dimasukkan ke dalam gelas beaker, diberikan air secukupnya
dan diaduk sampai membentuk pasta.
 Diambil pasta tersebut dan digumpalkan pada tangan,kemudian tusukkan spatula.
 Di periksa permukaan spatula; bila bersih berarti batas lekat belum tercapai dan bila
seluruh tusukan dilengketi tanah berarti batas lekat sudah tercapai
 Diambil contoh tanah tersebut untuk ditetapakan kadar lengasnya menggunakan
oven.
c. Batas gulung tanah
 Disiapkan 100 g tanah, dimasukkan ke dalam gelas beaker, diberikan air secukupnya
dan diaduk sampai membentuk bola.
 Bola tanah tersebut diuli atau digulung pada permukaan rata sampai terbentuk pita-
pita.
 Jika pita tanah tersebut menunjukkan keretakan maka batas plastisitasnya tercapai
dan jika tidak, berarti kelengasannya terlalu tinggidan harus ditambahkan tanah lagi.
 Diambil contoh tanah taersebut untuk ditetakan kadar lengasnya menggunakan oven.
d. Batas berubah warna
 Disiapkan 100 g tanah, dimasukkan ke dalam gelas beaker, diberikan air secukupnya
dan diaduk sampai membentuk pasta.
 Diratakan tanah tersebut pada papan denagan ketebalan >3 mm.
 Disimpan di temapat yang bebas dari sinar matahari dan kering anginkan. Warna
tanah akan berubah akibat penguapan.
 Setelah perubahan warna mencapai lebar 0,5 cm, bagian tanah ini diambil untuk
ditetapkan kadar lengasnya sebagai BBW pada oven.
BAB IV.HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Pengamatan

4.1.1.Kadar Lengas Tanah

Tabel 1. Kadar Lengas Kering Angin


Kelompok A B C KL (%)
1 15,89 30,59 29,90 4,49
2 12,68 26,74 25,14 12,82
3.a 15,94 22,90 22,68 3,26
B 14,62 22,09 21,37 10,66
4.a 15,08 23,46 22,08 19,71
b 17,62 26,13 25,22 11,97

Tabel 2. Kadar lengas kapasitas lapang


Kelompok A B C L (%)
1 16,29 28,07 22,97 76,34
2 16,82 28,45 22,91 90,96
3 18,12 30,18 24,61 85,82
4 14,50 24,95 20,06 87,94

4.1.2.Tekstur tanah

Tabel 1. Hasil Pengamatan tekstru tanah sercara kualitatif


Jenis Tanah Debu (%) Pasir (%) Liat (%) Keterangan
klas tanah
Inseptisol 25 45 30 Liat berdebu
Entisol 40 40 30 Lempung liat
berdebu
Veptisol 55 35 10 Lempung liat
berdebu

Tabel 2. Hasil Pengamatan tekstur tanah secara kuantitatif


Tabung I Tabung II Tabung III
(Pasir) (Debu) (Liat)
86, 67 26,67 39,99
4.1.3.Struktur tanah

Tabel 1. Uji berat jenis tanah (BJ)


Kelompok A B C D
1 36,52 76,18 41,8 78,35
2 27,71 77,80 32,85 80,21
3 26,72 76,22 31,74 79,23
4 27,27 77,01 32,32 80,35

Tabel 2. Uji berat Volume tanah (BV)


Kelompok A B R
1 36,90 38,26 5
2 36,90 38,25 5
3 7,12 7,74 1
4 9,25 9,82 1

4.1.4.Warna tanah dan kemasaman tanah

Tabel 1. Warna Tanah


Kelompok Heu Valeu Croma Warna Tanah
1. I 2,5 4 3 Coklat kemerahan
II 7,5 4 2 Coklat
III 10 7 2 Abu terang
2. I 5 4 4 Coklat kemerahan
II 2,5 6 2 Pink Keabu-abuan
III 7,5 3 2 Merah gelap

Tabel 2. PH Tanah actual


Kelompok Drajak ke asaman tanah (Actual)
I 6
II 6
III 6
IV 6

Tabel 3. PH Tanah Potensial


Kelompok Drajak ke asaman tanah (Potensial)
I 6,7
II 6,7
III 6,81
IV 6,81
4.1.5.Konsistensi tanah

Tabel 1.Hasil Konsistensi Tanah


Ketetapan Nilai
BC 28,42
BL 44,1
BG 4,59
BBW 12,02
JO 39,51
IP 23,92
PAM 16,4
4.2.Analisis data
4.2.1.Kadar lengas tanah
a.Kadar lengas kering angin
Dik : a = 12,68
b = 26,74
c = 25,14
Dit KL (%)?
KL = (b – c) : (c – a) x 100
= (26,74 – 25,14) : (25,14 – 12,68) x 100
= (1,6) : (12,46) x 100
= 12,84%

b.Kadar lengas kapasitas lapang


Dik : a = 16, 28
b = 28,45
c = 22,91
Dit KL (%)?
KL = (b – c) : (c – a) x 100
= (28, 45 – 22,91) : (22,91 – 16, 82) x 100
= (5,54) : (6,09) x 100
= 90,96%

4.2.2.Tekstur tanah
a. Persentase fraksi tanah
% Pasir =

=
= 86,67
% Debu =

=
= 26,67
% Liat = 100 – (%I + %II)
= 100 86,67 + 26,67
= 39,9

4.2.3.Struktur Tanah
a.Kerapatan butir tanah (BJ)
Kerapatan Butir Tanah = 100 (c – a) BJ1 . BJ2
(100 + KL) : BJ2 (b – a) – BJ1 (d – c)
= 100 (41,8 – 36,52). 0,0082 . 0,0082
100+4,49 : 0,0082 (76,18-36,52) – 0,0082 (78,35-
41,8)
= 100(5,28). 0,0007
104.49 : 0,32521 – 0,29971
= 0,3696
104,44 : 0,0255
= 0,369 6
4,097
= 0,09 g/cm3
Kelompok 2
BJ = 100 (c – a) . BJ1 . BJ2
(100 + KL) : BJ2 (b – a) – BJ1 (d – c)
= 100 (32,87-27,71) . 0,0082 . 0,0082
(100+12,82): 0,0082 (77,80 – 27,71) – 0,0082 (80,21 – 32,85)
= 100.5,14 . 0,0007
112,82 : 0,0082 (50,09) – 0,0082 (47,36)
= 0,3598
112,87 : 0,41074 – 0,388
= 0,3598
112,82 : 0,022
= 0,3598
5,036
= 0,0714 g/cm3

Kelompok 3
BJ = 100 (c –a). BJ1 . BJ2
(100+KL) : BJ2 (b – a) – BJ1 (d – c)
= 100 (31,74 – 26,72 . 0,0082 . 0,0082
(100+10,66) : 0,0082 (76,22 – 26,72) – 0,0082 (79,23 – 31,74)
= 100. 5,02 . 0,0007
110,66 : 0,0082 (49,5) – 0,0082 (47,49)
= 0,3514
110,66 : 0,4059 – 0,389
= 0,3514
4,630
= 0,759 g/cm3
Kelompok 4
BJ = 100 (c – a) . BJ1 . BJ2
(100 + KL) : BJ2 (b – a) . BJ1 (d – c)
= 100 (32,32 – 27,27) . 0,0082 . 0,0082
100 + 11,97 : 0,0082 (77,01 – 27,27) . 0,0082 (80,35 – 32,32)
= 100. 5,05 . 0,0007
111,97 : 0,4076 – 0,393
= 0,3535
11,97 : 0,146
= 0,353
766,91
= 0,00046 g/cm3

b.Berat Volume tanah (BV)


BV = 87.a
(100+KL) (0,87 (q – r – p) – (b – a))
= 87. 36,90
(100+3,26) . (0,87(455 – 5 – 450) – (38,26 – 36,90))
= 3, 471
103,26 . (0,87 0 – 1,36)
= 3,471
103,26 (- 0,49)
= 3,471
-50,59
= 0,068 g/cm3

Kelompok 2
BV = 87.a
(100+KL) (0,87 (q – r – p) – (b – a))
= 87. 36,90
(100+3,26) . (0,87(455 – 5 – 450) – (38,26 – 36,90))
= 87. 36,90
103,26 . (0,87 0 – 1,36)
= 3, 471
103,26 . (0,87 0 – 1,36)
= 3,471
103,26 (- 0,49)
= 3,471
-50,59
= 0,068 g/cm3

Kelompok 3
BV = 87.a
(100+KL) (0,87 (q – r – p) – (b – a))
= 87. 7,12
(100+3,26) . (0,87(455 – 5 – 450) – (7,74 – 7,12))
= 61, 944
103,26 . (0,87 0. 4 – 0,62)
= 61, 944
103,26 . 0,87 0. 3,38
= 61, 944
103,26 . 2,94
= 61, 944
303,58
= 0,204 g/cm3
Kelompok 4
BV = 87.a
(100+KL) (0,87 (q – r – p) – (b – a))
= 87. 9,29
100 + 10,66 . (0,87(455 – 5 – 450) – (9,82 – 9,25))
= 804,74
110,66 . 0,87 0. 4 – 0,57
= 804, 74
110,66 . 0,87. 3,43
= 804, 74
330, 22
= 2,43 g/cm3

4.3.PEMBAHASAN
Kadar lengas merupakan kandungan uap air yang terdapat pada pori tanah yang
dipengaruhi oleh analisis iklim, kandungan bahan organik, dan bahan penutup tanah (organik
maupun anorganik). Kadar lengas juga dapat diketahui dengan menggunakan metode
gravimetris, Metode gravimetris yaitu menghitung selisih berat lengas antara sebelum dan
setelah dikeringkan,. Untuk itulah, diperlukan timbangan yang sama untuk ;a,b, dan c dalam
menimbang berat. Pada pengamatan lengas ini di gunakan tanah vertisol. Dari hasil pengamatan
dan perhitungan pada uji kadar lengas kerig angin, berat cawan 1 (cawan kosong) A sebesar
15,89 mg, setelah cawan diisi tanah (B) jadi 30,59 mg, kemudian cawan setelah dioven
mengasilkan 29,90 mg, dan didapat perhitungan kadar lengas sebsesar 6,89 %. Pada cawan 2
(cawan kosong) A sebesar 12,68 mg, setelah diisi tanah (B) 27,64 mg, kemudian cawan setelah
di oven menjadi 25,14 mg, dan dihasilkan kadar lengas sebesar 12,68 %. Kemudian cawan 4
dengan berat kosong masing-masing cawan 1 sebesar 15,94 mg, cawan 2, 26,13 mg, cawan 3,
15,08 mg, cawan 2, 22,09 mg, cawan 3, 22,90 mg, cawan 4, 26,13 mg. kemudia berat setelah di
oven cawan 1, 22,68 mg, cawan 2, 21,37 mg. cawan 3, 22,98 mg, dan cawan 4, 25,22 mg. dari
hasil perhitungan kadar lengas pada cawan 1 dapat 11,57 %, cawan 2, 10,67 %, cawan 3, 11,71
%, dan cawan 4, 11.97 %.
Uji kadar lengas kapasitas lapang, didapatkan berat kosong cawan 1, 16,29 mg, cawan 2,
16,82 mg, cawan 3, 18,82 mg, cawan 4, 14,50 mg. kemudian berat cawan setelah diisi tanah
basah, cawan 1, 28, 07 mg, cawan 2, 28,45 mg,cawan 3, 24,61 mg, dan cawan 4, 20,06 mg.
kemudian cawan tersebut di oven dengan suhu 100-110 o C didapat cawan 1, 22,97 mg, cawan 2,
22,91 mg, cawan 3, 24,61 mg, cawan 4, 20,06 mg. dari hasil perhitungan diperoeh kadar lengas
pada cawan 1, 76,34%, cawan 2, 0,90%, cawan 3, 85,82%, dan cawan 4, 87,94%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lengas adalha pengaruh temperature terhadap
sifat-sifat tanah lebih kecil dibandingkan curah hujan (lengas), karena sebagaian energidigunakan
untuk evaporasi dan transfirasi, jadi pengaruh temperature terhadap perobakan bahan organic
serta laju reaksi pelapukan kimia. Factor iklim, curah hujan dan temperatur merupakan anasir
iklim yang berpengaruh pada kandungan kadar lengas tanah. Factor topografi berpengaruh pada
kandungan kadar lengas tana dalam mempercepat kehilangan lengas atau sebaliknya.
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya
perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah. dari
ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05
mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm. (penggolongan
berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat
tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lainnya. Berdasarka
grafik segitiga tekstur, tekstur tanah dapat dikelaskan menjadi 12 kelas seperti pada ( gambar.1).
Tekstur dapat menentukan tata air dalam tanah berupa mangkat air. Tekstur tanah sangat
berpengaruh terhadap kemampuan daya setiap air. Ketersediaan air dalam tanah, terhadap
kemampuan daya serap air. Ketersediaan air di dalam tanah besar aerasi, infiltrasi dan laju
pergerakan air (perlokasi). Dengan demikian maka secar tidak langsung tekstur tanah juga dapat
mempengaruhi perkmbanagn perakaran dan pertumbuhan tanaman serta efesiensi dalam
pemupukan. Tekstur dapat ditentukan dengan metode pipet dan metode hydrometer, kedua
metode tersebut ditentukan berdasarkan perbedaan kecepatan air partikel kecepatan air partikel
di dalam air (Hakim,2005).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan pada uji metode la[ang
(kualitataif) , dengan cara pengulian, dimana masing-masing fraksi akan menunjukan cirri-ciri
tersendiri, dengan menggunakan tiga jenis tanah, pertama tanah vertisol didapatkan liat 30%,
debu 60%, dan pasir 10%, yang termasuk klas tekstur lempung liat berdebu (sicl). Tanaman yang
baik untuk ditanam di tanah klas lempung liat berbeda, contoh tanaman jagung yang memiliki
tingkat keasaman tanah erat hubunganya dengan ketersediaan unsure hara yang dibutuhkan
tanaman jagung. Untuk jenis tanah kedua inseptisol merupakan tanah mineral yang usianya
masih muda, didapatkan liat 20%, debu 30%, dan pasir 50%. Untuk jenis tanah entisol
merupakan tanah yang terbentuk dari sedimen vulkanik serta batuan kapur, diperoleh liat 30%,
debu 20%, dan pasir 50%. Dari jenis tanah ke 2 dan 3 termasuk klas tekstur lempung berapsir
(sl). Tanaman yang baik dan cocok ditanam, contoh tanaham jahe karena cocok ditama di tanah
yang subur, gambar dan banyak megandung humus dengan ph 4,3 – 7,4.
Uji metode sedimentasi (kuantitatif) merupakan pemisahan fraksi pasir, debu, dan liatang
kemudian dihitung persentase perbandingan relatifnya. Pada jenis tana pasir didapat frekuensi
9%, debu 3%,. Kemudian dilkaukan perhitungan dan siperoleh pasir sebedar 60%, debu 20%,
dan liat 20%. Sehingga disimpulkan tanah jenis ini termasuk klas tekstur lempung berpasir (sl).
Tanaman yang baik dan cocok untuk ditanam pada jenis tanah ini, contoh tanaman jahe karena
banyak humus dengan ph optimum untuk jahe, kemudian tanaman jambu mete untuk jenis tanah
berpasir (lempung berpasir), karena mudah mengikat air.
Oleh sebab itu, berdasarkan hasil pengamatan pada tanah entisol di dapatkan persentase
tekstur yaitu pasir 73,33%, debu 22,67%, dan liat 4 %. Sesuai dengan ukuran pada segitiga
tekstur maka tanah entisol tersebut dapat dikelasifikaikan kedalam tekstur tanah lempung
berpasir (Sandy Loum). Pada jenis tanah kurang menguntungkan untuk betanaman karena sifat
tanahya untuk mengikat partikel air rendah, artinya mudh terserap.
Struktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain. Ikatan tanah
berbentuk sebagai agregat tanah yang tersusun atas pasir, liat, dan debu. Ikatan tersebut dapat
dibentuk oleh suatu perekat seperti bahan organik. Struktur tanah dapat berupa gumpalan yang
sudah terbentuk akibat penggarapan tanah. Gumpalan ini mempunyai bentuk, ukuran, dan
kemantapan yang berbeda. Tanah dengan struktur yang baik mempunyai tata udara yang baik,
unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Kerapatan butir tanah sangat
berpengaruh terhadap kondisi tanah yaitu kepadatan tanah makin padat suatu tanah makin tinggi
kerapatan butirnya.
Pada dasarnya warna tanah dapat menentukan karakteristik dari suatu tanah baik dari
segi kandungan organik tanah, keadaan draenase dan aerase dari suatu jenis tanah serta dapat
mengklasifikasikan tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon dalam tanah. Karena warna
tanah merupakan merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah
berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan
permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali
dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik
menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah
(koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas,
sehingga sangat mempengaruhi warna tanah. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna
tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya
rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah.
Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna
abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase
baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+)
misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit)
yang berwarna kuning cokelat.
Warna tanah dapat ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan
warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga
variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma. Hue adalah warna spektrum yang dominan
sesuai dengan panjang gelombangnya. Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan
banyaknya sinar yang dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna
spektrum. Oleh sebab itu dapat dijelaskan berdasarkan hadil pengamatan bahwa pada tanah
kering didapatkan notasi warna 7,5YR 6/1 dimana hue : 7,5YR, value : 6, chroma: 1 dan di
daptkan nama warna Pinkish White. Sedangkan pada tanah lembab didapatkan notasi warna 5YR
3/1 dimana 5YR: hule, 3 : value , 1: chroma dan nama warna yaitu Very Dark Gray. Tanah ini
banyak ditemukan di daerah-daerah kering, karena memiliki kandungan liat yang tinggi maka
tanah ini sangat sesuai untuk lahan persawahan pada musim hujan dan keadaan kering.
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman tanah yang dinyatakan dengan nilai pH.
Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi
kadar ion H+ didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-
ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+
Apabila tanah mengadung PH tanah lebih dari 7 di sebut Basa dan sebaliknya jika kurang dari 7
di sebut tanah mengadung masam. kemasaman tanah (pH) sangat mempengaruhi ketersediaan
dan kesetimbangan unsure hara yang diperlukan tanaman pada dasarnya setiap jenis tanaman
menghendaki h tanah yang tertentu untuk dapat berproduksi secara maksimal tetapi keanyakan
tanaman menghendaki pH sekitar netral.
Pada umumnya pengukuran pH tanah dilakukan dengan dua cara yaitu pegnukuran pH
actual merupakan penggambaran dari aktivitas ion hydrogen yang ada dalam laruta tanah
biasanya menggunakan pelarut H2O. kemudian pengukuran pH potensial digunakan pelarut KCL
0,1 N atau K2 SO4 0,1 N. umumnya niali pH H2O lebih tinggi dari pH KCL, akan tetapi pada
tanah yang sudah tua pH KCL lebih tinggi dari pH H 2O. dan nilai pH juga dapat di guanak untuk
menilai kesuburan suatu tanah, apabila nilai pH suatu tanah negative maka tanah tersebut
dikatakan tanah yang subur namun sebaliknya apabila nilai pH dari suatu tanah positif berarti
tanah tersebut tergolong tidak subur. Oleh sebab itu berdasarkan dari hasil pengamatan di atas
didapat nilai pH suatu tanah yaitu (-3,08) artinya pada tanah tersebut termasuk tanah yang masih
subur karena bermuatan negative maka tanah tersebut masih mampu untuk mengikat kation
kation yang bermuatan positif yang dapat metapkan tanah menjadi subur.
Konsistensi tanh merupakan bagian rheolgi , yang merupakan ilmu yang mempelajari
perubahan-perubahan bentuk dan aliran suatu benda. Pada konsistensi tanah ini yang di ujikan
yaitu batas kelekatan tanah, batas cair tanah, dan batad gulung tanah. Batas lekat tanah
merupakan kadar air suatu tanah dimana mulai tidak dapat melekar pada benda lain. Bila kadar
air air lebih rendah dari batas melekat , maka tanah tidak dapat melekat pada benda. Akan tetapi
bila kadar air lebih tinggi dari batas melekat, maka tanah akan mudah melekat pada benda lain.
Batas cair tanah merupakan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah. Kalau air lebih
banyak maka tanah akan mengalir bersama air. Batas gulung tanah , tanah akan dapat
membentuk gulungan atau membentuk pita apabila tanah sudah mencapai batas mengalir atau
batas melekat maka tanah tidak akan mudah patah dan apabila di golek-golekkan tanha akan
tersa plastis. Apabila tanah tidak dapat menbentuk gulungan atau pita maka tanah tersbut
dikatakan tidak plastis.
BAB V.PENUTUP

5.1.Kesimpulan
1. Kadar lengas merupakan air yang tedapat pada pori-pori yang ditahan oleh tanah.
2. Tanah Entisol merupak kalasifikasi tekstur tanah lempung berpasir (sandy loum).
3. Warna tanah juga dapat menentukan suatu karakteristik dari berbagi jenis tanah
4. Nilai Ph yang dihsilkan bermuatan negative beratikan tanah tesebut merupakan tanah
yang yang subur.
5. Tanah bisadikatakan plastis bila tanah dapat membentuk gulungan atau pita.
6. Tanaha yang mudah diolah , memiliki banyaj 28nsure hara merupakan kararteristik
28nsure tanah yang baik.
5.2.SARAN
 Sebelum praktikul terlebih dahulu mahasiswa diharapkan terlebih dahulu untuk
mempelajari materi yang sudah diberi guna untuk menunjang lancarnya proses
praktikum baik dari segi respoon maunpun pengujian bahan
 Dalam melakukan acara praktikum dalam proses pengukuran atau pengujian dari setiap
bahan haruslah dilakukan dengan teliti.
 Setelah praktikum selesai diharapkan kepada mahasiswa untuk membersih masing –
masing bahan yang sudah di gunakan dan merapikan tempat masing.
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, 2012. Tekstur tanah. http://lilinkecil1610.blogspot.com. Diakses 10/12/2014/07.45


WITA

Madjid, 2010. Dasar-asar ilmu tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com

Rosita Dewati, 2012. Ilmu tanah. http://rositadewati.blog.uns.ac.id


Darmawijaya, 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Dedy, 2012. Tekstur tanah. http://dydear.multiply.com/journal/item/8/Tekstur Tanah.Di akses


10/12/2014/08.15 WITA.

Hairil, 2010. Struktur tanah. http://taeki29.blogspot.com. Diakses 10/12/2014/08.30 WITA.

Handayani, S. 2009. Panduan Praktikum dan Bahan Asistensi Dasar-dasar Ilmu Tanah.
Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

Handiri, 2010. Lengas tanah. http:// handiri.files.wordpress.com. Di askses

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Ressindo, Jakarta.