Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

NARKOTIKA

Disusun Oleh: KELOMPOK 1

AGRILITA PRATMA PO.71.34.0.16.040


ANA NURJANAH PO.71.34.0.16.041
ANISYA SRI WAHYUNI PO.71.34.0.16.042
APRIANI PO.71.34.0.16.043
ASTINING TYAS PO.71.34.0.16.044
AYU PURNAMA ASIH PO.71.34.0.16.045
BADRI ZAMZAMI PO.71.34.0.16.046
BELIA ARSIKA PO.71.34.0.16.047
DESTY MUTIARA REZKY PO.71.34.0.16.048
DWI OKTA FITRIYANI PO.71.34.0.16.049
EGA F PO.71.34.0.16.050
ELLANG MULYA P PO.71.34.0.16.051
ERA INDAH NURVIKA PO.71.34.0.16.052

Kelas : Tk II Reguler B

Dosen Pengampu : DIAH NAVIANTI ,

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kehadirana Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya dan karunia-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang ‘’Narkotika”

Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang apa saja
materi yang diajarkan oleh dosen pembimbing. Dalam proses pendalaman materi ini,
tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa
terima kasih sampaikan kepada

Diah Navianti ,SPd , M.Kes selaku dosen mata kuliah “Toksikologi” serta rekan
mahasiswa yang telah memberikan masukan untuk makalah ini.

Mohon maaf jika penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan maka dari
itu penyusun mengharapkan kritik, tegur sapa, serta saran demi perbaikan yang akan
datang.

Demikianlah makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, 4 Juli 2018

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

UMUM

Penggunaan ganja dan opium sudah dikenal sejak abad ke-17 semasa
penjajahan Belanda yang kemudian berkembang menjadi penggunaan heroin.
Sejak tahun 1960 telah terjadi penyalahgunaan obat di Indonesia dimana para
remaja Indonesia mulai terlibat dalam penyalahgunaan narkoba seperti heroin,
morfin, barbiturat, amfetamin dan kokain. Tahun 1990 permasalahan narkoba
berkembang dengan terjadinya peningkatan peredaran ATS (Amfetamin Tipe
Stimulan) seperti shabu dan ekstasi.

Masalah narkoba kini merupakan fenomena yang terjadi di dunia, tidak hanya
negara berkembang yang mengalami masalah tersebut, namun juga negara
maju. Negara maju sudah lebih dahulu serius dalam penanganan
penyalahgunaan narkoba sedangkan Indonesia sendiri baru serius menangani
narkoba pada 19 September 1999 mengganti Keputusan Presiden No. 116
tahun 1966 dengan dibentuknya BKNN (Badan Koordinasi Narkotika Nasional),
yaitu badan pemerintah yang menangani masalah narkoba dan dampaknya
terhadap sosial, ekonomi, politik dan keamanan. Badan tersebut kemudian
beralih nama menjadi BNN (Badan Narkotika Nasional) pada tahun 2002
berdasarkan Keputusan Presiden No. 17/2002 dan Instruksi Presiden No.
3/2002 tentang P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan,
Peredaran Gelap Narkoba) sebagai tugas pokok BNN. Adapun visi BNN adalah
mewujudkan masyarakat Indonesia bebas narkoba pada tahun 2015.

Permasalahan narkoba di Indonesia menunjukkan gejala yang


mengkhawatirkan bila ditinjau dari berbagai segi, antara lain:
Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba meningkat dari tahun ke tahun,
tahun 2002 sejumlah 3.751 kasus sedangkan pada tahun 2006 sejumlah
17.355 kasus meningkat rata-rata 42,3 % per tahun atau 26 kasus per hari.

Biaya ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang terjadi


diperkirakan sebesar Rp 23,6 triliun
Angka kematian pecandu 1,5% per tahun (15.000 orang mati/tahun)

Jenis narkoba yang dikonsumsi sangat beragam dan banyak variannya


dengan adanya designer drugs yang mengandung berbagai macam jenis
zat aktif, hal mana mempersulit proses identifikasi.
Selain sebagai target pasar (demand) Indonesia merupakan pusat produksi
(supply) narkoba.
Secara geografis letak Indonesia sangat rentan terhadap penyelundupan
narkoba.

Situasi sosial, ekonomi, politik dan kemanan yang kurang stabil.

Adanya korelasi yang signifikan antara meningkatnya jumlah IDU


(InjectionDrug Abuser) dengan jumlah pengidap HIV/AIDS.
Meningkatnya gejala keterkaitan antara tindak kejahatan dengan

penyalahgunaan narkoba dengan tindak kejahatan dan terorisme.

BNN melalui Laboratorium Uji Narkoba Pusat Terapi dan Rehabilitasi


menjalankan pemeriksaan laboratorium narkoba dalam rangka mendukung
P4GN. Kegiatan ini terkait dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan
No. 1351/MENKES/SK/XII/2004 yang menyatakan bahwa di Indonesia terdapat
laboratorium yang ditunjuk dalam pemeriksaan narkoba diantaranya Pusat
Laboratorium Forensik, Laboratorium Forensik cabang, Badan Pengawas Obat
dan Makanan, Laboratorium Kesehatan dan Laboratorium Uji Narkoba Pusat
Terapi dan Rehabilitasi BNN.

Laboratorium pemeriksa narkoba membutuhkan acuan dalam melaksanakan


kegiatannya agar dapat memberikan hasil pemeriksaan yang terpercaya, tepat,
teliti dan cepat. Untuk mencapai tujuan tersebut Badan Narkotika Nasional
bekerja sama dengan Departemen Kesehatan menyusun Pedoman
Pemeriksaan Laboratorium Narkotika, Psikotropika Dan Obat Berbahaya.
DASAR

Undang-Undang RI Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-


undang Hukum Acara Pidana
Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika

Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika

Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

6. Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian


Republik Indonesia

Keputusan Presiden No. 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika


Nasional

Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2002 tentang P4GN (tugas pokok BNN)

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


943/Menkes/SK/VIII/2002 tentang Akreditasi Laboratorium
Kesehatan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
364/Menkes/SK/III/2003 tentang Laboratorium Kesehatan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1575/Menkes/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Kesehatan.
BAB II
NARKOTIKA

Penyalahgunaan narkotika selalu membawa persoalan serius karena di


samping merusak kesehatan juga berdampak, hancurnya generasi muda,
kerugian ekonomi serta menimbulkan masalah sosial dan moral. Berikut ini
uraian tentang jenis-jenis zat narkotika, psikotropika, dan zat adiktif; struktur
kimia, ciri-ciri, asal, metabolisme dan ekskresi di tubuh manusia.

A. NARKOTIKA

Gambar Opiat/Candu

Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :

Alamiah (opiat) : ganja, morfin, opium, kodein

Semi sintetik : heroin/putaw, hidromorfin

Sintetik : meperidin, propoksifen, metadon


1. Ganja/Kanabinoid

Gambar

Nama dan sinonim produk kanabis:

Bhang, Cannabis Indica, Chanvre, Charas, Dagga, Ganja, Guaza,


Hashish, Mariyuana dll.

CAS-8063-14-7

Marijuana biasanya mengarah pada campuran daun dan bagian atas bunga
begitu juga dengan bhang, dagga, kif, maconha. Hashish dan charas
biasanya berupa resin. Sinonim lain dapat dicari di The Multilingual
Dictionaryof Narcotic Drugs dan Psychotropic Substances under
International Control.

Kanabis mengandung lebih dari 60 derivat dari 2-[2-isopropyl-


methylphenyl]-5-pentylresorcinol yang disebut kanabinoid.

Kanabis mengandung campuran bervariasi zat kimia yang disebut


kanabinoid. Empat kandungan mayor adalah :

∆-9-tetrahydrocannabinol (THC)
Cannabinol (CBN)

Cannabidiol (CBD)

Cannabichromene(CBCh)

THC adalah kanabinoid yang paling menyebabkan efek psikologik dari


produk kanabis sehingga merupakan kandungan yang paling perlu
diperhatikan.

6
Cannabidiol/CBD

2-[3-Methyl-6-(1-methylethenyl)-2-cyclohexen-1-yl]-5-pentyl-1,3-1-
zenediol

C21H30O2=314,5

CAS 13956-29-1

Gambar struktur kimia

Resin/kristal kuning muda, titik lebur 66-67 OC, tidak larut dalam air /
NaOH 10 %, larut dalam etanol, metanol, eter, benzene, kloroform dan
minyak (lightpetroleum) .

Cannabinol/CBN 6,6,9-trimethyl-3-pentyl-6H-

dibenzo[b,d]pyran-1-ol C21H26O2=310,4

CAS 521-35-7

Gambar struktur

kimia
Titik lebur 76-77 OC, tidak larut dalam air, larut dalam metanol, etanol
dan larutan basa lemah.

∆9-Tetrahydrocannabinol/(-)- trans-∆9- Tetrahydrocannabinol; ∆1-THC;

∆9-THC Gambar struktur kimia

7
Nama Sistematik (IUPAC) ∆1-THC;∆9-THC

∆9-Tetrahydrocannabinol/(-)- trans-∆9- Tetrahydrocannabinol

Identifikasi

No. CAS 1972-08-3

Data Fisika

Menyerupai minyak kental, tidak larut dalam air, larut dalam etanol

atau aseton dengan perbandingan 1:1, larut dalam kloroform dan

minyak (light petroleum), konstanta disosiasi : pKa 10,6.

Tes warna: p-Dimethylaminobenzaldehid: merah/ungu

(kanabinol), Tes Duquenois : ungu-biru/ungu

Data kimia

Formula C21H30O2

Massa Molekul 314,5 g/mol

Data Farmakokinetik

Bioavaibilitas 6-20 % (oral), dengan

cara merokok : 18-50%

Protein binding dalam plasma: ∆9-THC dan

11-hydroxy-∆9-THC: 94-99%

Metabolisme Hepatik 90%


Waktu paruh pengguna sering, ∆9-THC : 2 jam,

asam ∆9-THC-11-oik : 120 jam,

sedangkan pada pengguna jarang

berturut-turut 1,5 jam dan 144 jam.

Ekskresi Urin (25%), feses 65%

Pertimbangan terapetik

Status Legal Golongan I Narkotika

Cara pemakaian Inhalasi, rokok, oral

8
∆8-Tetrahydrocannabinol/(-)- trans-∆8- Tetrahydrocannabinol; ∆1-6-THC;
∆8-THC

C21H30O2=314,5

CAS 5975-75-5

Gambar struktur

kimia

tidak larut dalam air, larut dalam kloroform dan minyak (light
petroleum) Asam ∆9-Tetrahydrocannabinolik

C22H30O4=358,5

CAS 23978-85-0

Gambar struktur

kimia
Kandungan THC yang biasa terdapat
dalam : Kanabis herbal : 0,5-5 %

Kanabis resin : 2-

10 % Kanabis cair :

10-30 %

Jumlah ini hanya panduan, pada kenyataannya produk yang ditemukan


mengandung jumlah yang jauh lebih tinggi. ∆9-THC mempunyai efek
psikomimetik 20 kali lebih kuat dari ∆8-THC. ∆9-THC mudah terikat dengan
gelas dan plastik, mengurangi perolehan kembali (recovery) pada proses
analisis, hal ini dapat

9
diminimalisasi dengan penggunaan peralatan gelas amber dan penyimpanan
senyawa dalam larutan standar (basic) atau pelarut organik.

Bentuk-bentuk kanabis :

a) Marijuana (produk herbal)

Kanabis tumbuh di daerah 4 musim Eropa: Amerika Utara, Afrika


Utara, Afrika Barat dan Karibea, Afrika Tengah, Afrika Selatan,
Amerika Selatan, Dataran India,Asia Tenggara. Tanaman berwarna
hijau terang, setelah dipanen menjadi kekuningan tapi jarang
berwarna coklat, bagian bunga dan buah sebelah atas kurang
mengandung resin, jadi tidak begitu lengket, terkadang mengandung
biji, kanabis dari Eropa mengandung lebih banyak daun dari kanabis
Amerika Utara. Karakteristik kimia bervariasi biasa dengan atau tanpa
CBD dan THV.

Produk Resin Kanabis

Berasal dari Afrika Utara, Mediterania Timur, Mediterania Timur Laut,


India.

Afrika Utara :Potongan (slab) berwarna kuning coklat, terbungkus


selofan terkadang ada cetakan bentuk koin. Karakteristik kimia :
kandungan CBC lebih rendah dibanding THC, THV sangat rendah.
Jumlah asam kanabinoid bervariasi antar produk.

Mediterania Timur : Bubuk berwarna coklat kemerahan. Karakteristik


kimia : Kandungan CBD paling besar dibanding produk kanabis resin
lain. THV sangat rendah. Asam sebagian besar merupakan CBDA.

Mediterania Timur Laut : Bubuk coklat kehijauan atau terkadang


bentuk mirip wafer kecil tipis terbungkus selofan. Karakteristik kimia :
THC lebih banyak dari CBD. Terdapat kandungan asam dalam
jumlah besar.
Dataran India : Bentuk dapat berupa slab/batangan berwarna coklat
gelap/hitam dan hijau gelap atau coklat tua. Karakteristik kimia :
bervariasi.

Kanabis Cair (hashish oil)

Kanabis cair adalah minyak berwarna gelap dengan bau khas.


Ketika diencerkan dengan pelarut organik menjadi larutan
berwarna hijau atau coklat. Karakteristik kimia : profil
kanabinoid mirip dengan kanabis atau resin kanabis tetapi
punya satu

1
0
perbedaan penting yaitu kanabis cair tidak mengandung asam
kanabinoid.

Biasanya barang bukti yang ditemukan adalah dalam bentuk :

Potongan pucuk tanaman

Biji

Makanan ternak

Rokok

Biji ganja yang dicampur kecap, kacang kedelai

Bubuk warna hijau

Hashish (damar ganja yang berbentuk padat berwarna coklat hitam)

Metabolik THC

Absorbsi ∆9-THC di saluran pencernaan lambat, namun lewat


inhalasi, dapat segera dideteksi dalam plasma. ∆9-THC dioksidasi
menjadi metabolitnya yaitu 11-hydroxy-∆9-THC dan 8 β hydroxy-∆9-
THC oleh enzim sitokrom hepatik P450. Metabolit asam mayor, 11-
nor- ∆-9-tetrahydrocannabinol-9-carboxylic acid (9-carboxy-THC)
diubah menjadi konjugat mono dan di glukoronida yang merupakan
bentuk terbanyak yang dikeluarkan dalam urin. Sehingga identifikasi
9-carboxy-THC dalam urin merupakan indikator terbaik untuk
mendeteksi konsumsi kanabis.

Waktu paruhnya panjang dapat lebih dari 20 jam sehingga THC


terdapat dalam tubuh dalam waktu lama sampai 12 hari setelah
konsumsi terakhir. Pada pengguna yang jarang, metabolit dapat
terdeteksi dalam urin dalam 1-3 hari tergantung dari metode
pemeriksaan, pada pengguna kronis, metabolit dapat terdeteksi 1
minggu atau lebih.
JALUR METABOLIK
THC
2. Morfin/ Heroin/ Opiat

Morfin :

Nama Sistematik (IUPAC) Morfin

7,8-didehydro-4,5-epoxy-17-methylmorphinan-3,6-diol

Identifikasi

No. CAS 57-27-2

Data kimia

Formula C17H19NO3

Massa Molekul 285.4 g/mol

Data Farmakokinetik

Bioavaibilitas 25 % (oral); 100%(IV)

Protein binding 30-40 %

Metabolisme Hepatik 90%


Waktu paruh 2-3 jam

Ekskresi Urin (90%), bilier 10 %

Pertimbangan terapetik

Status Legal Golongan II Narkotika

Cara pemakaian Inhalasi, rokok, oral,

Injeksi

Bentuk Morfin-O-glukoronida yang bervariasi sangat penting untuk


pemeriksaan karena heroin sebagian besar diekskresikan dalam bentuk ini ke
dalam urin. Variasinya adalah :

Morfin-3-O-glukoronida (M-3-G)

Morfin-6-O-glukoronida (M-6-G)

Morfin-3,6-O-diglukoronida
Antidotum :
pada overdosis atau intoksikasi dengan Morfin digunakan antidotum /antagonisnya, yaitu Nalorfin
atau Nalokson.
Dosis : Oral : Sehari 3 kali @ 10- 30 mg
i.m. : 10 – 20 mg , maksimal 100 mg per hari
Efek Samping : Depresi pernapasan, konstipasi, gangguan SSP, hipotensi, mual, muntah.

13
Heroin

Gambar:

Nama Sistematik (IUPAC) Heroin/Diamorfin

(5α,6α)-7,8-didehydro-4,5-epoxy-17-
methylmorphinan-3,6-diol diacetate (ester)

Identifikasi

No. CAS 561-27-3

Data fisika

Heroin murni : bubuk putih ; tidak murni berwarna


putih keabuan

Mudah dihidrolisis dengan basa, larut dalam air 1


:1700, 1: 31 dalam etanol, 1:1,5 dalam kloroform
dan dalam 100 bagian eter

Data kimia

Formula C21H23NO5

Massa Molekul 369.41 g/mol

Data Farmakokinetik

Bioavaibilitas <35%

Protein binding 0 % (morfin metabolit 20-

35%)

Metabolisme Hepatik
Waktu paruh Diamorfin 3 menit,

6-monoasetilmorfin 6-25

menit

Ekskresi Urin 90 % sebagai

glukoronida, sisanya bilier.

Pertimbangan terapetik

Status Legal Golongan I Narkotika

Cara pemakaian Inhalasi,intranasal,rektal,

transmukosal,oral,

intravena, intramuskular

1
4
Bentuk lain dari heroin : Diamorphin Hidroklorida/ C21H23NO5,HCl,H20, CAS
1502-95-0 (hidrat), massa molekul =423,9 g/mol, larut dalam air 1 : 2, dalam
etanol 1 :11 dan 1:1,6 kloroform, tidak larut dalam eter.

Nama lain heroin : putauw, ptw, black heroin, brown sugar.

Dihasilkan dari cairan getah opium poppy yang diolah menjadi morfin kemudian
dengan proses tertentu menghasilkan putauw dimana putauw mempunyai
kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik yang mempunyai kekuatan 400
kali lebih kuat dari morfin. Melalui proses kimia dan transformasi dalam
perdagangan gelap, heroin ada dalam berbagai bentuk. Berikut ini adalah sebagian
contohnya:

a. Dua tipe Heroin Asia Barat Daya

Tipe 1 : warna dari coklat muda sampai coklat tua, bentuk bubuk, dengan
bau opium, kemurnian mencapai 60 %. Kandungan yang biasa didapat :

Asetilkodein …………………………..5
% O- monoasetilmorfin
………………...3 % Narkotin
………………………………10 %
Papaverin……………………………4
% Tipe 2

Bubuk kering sangat halus, putih sampai krem, kemurniannya 80-90 %,


heroin berada dalam bentuk garam hidroklorida. Kandungan di dalamnya
adalah : Asetilkodein……………………………3 %

O-monoasetilmorfin…………………..2 %
Narkotin………………………………..tak
terdeteksi
Papaverin……………………………...tak
terdeteksi

Dua tipe Heroin Timur Tengah

Tipe 1
Bubuk halus berwarna coklat/beige, kemurnian rata-rata adalah 50 %.
Kandungan biasa terdapat adalah :

Asetilkodein……………………………3 % O-
monoasetilmorfin…………………..2 %
Narkotin………………………………..tak
terdeteksi
Papaverin……………………………...tak
terdeteksi

Tipe ini sering terdapat zat lain (adulterant), terkadang zat obat seperti
prokain.

1
5
Tipe 2

Bubuk halus berwarna putih/off white. Sebagian mengandung heroin 70-80


%, sebagian lagi kemurniannya hanya 30-40%. Alkaloid dan derivat ada
dalam bentuk hidroklorida. Kandungan alkaloid dan derivat yang biasa
terdapat di dalam heroin dengan kemurnian tinggi adalah :

Asetilkodein…………………………. 2-3 %

O-monoasetilmorfin………………….2 %

Sedangkan yang sudah diencerkan hanya mengandung asetilkodein, o-


monoasetilmorfin, narkotin, papaverin dalam jumlah sangat kecil (trace).

c. Dua tipe Heroin Asia Tenggara

Tipe 1 : Heroin yang dihisap (Smoking Heroin) ‘ Chinese No. 3’.

Bahan bergranul keras, warna biasanya abu-abu, terkadang coklat kotor,


beberapa variasi warna granulnya adalah merah/merah muda. Kandungan
bahan berwarna abu-abu atau coklat kotor adalah

Kafein....................................... 40%,

Heroin...................................... 20 %

O-monoasetilmorfin................. 5%.

Alkaloid.................................. sedikit

Tipe 2 : Heroin yang diinjeksi ‘ Chinese No. 4’

Bubuk putih halus mengandung heroin dengan kemurnian tinggi.

Monoasetilmorfin................................... <3 %,

Asetil kodein............................................ 5%

Narkotin....................................................tak terdeteksi
Papaverin.................................................tak terdeteksi

Dalam analisis laboratorium perlu diperhatikan struktur kimia heroin dan opiat
yang berkaitan seperti morfin dan kodein.

1
6
Jalur Metabolik Opiat
Metabolisme dan ekskresi

Metabolit heroin utama yang terdapat di urin sampai 20-40 jam adalah
M-3-G (38,2% dari dosis), morfin bebas (4,2%) , MAM (1,3 %) dan
heroin dalam bentuk aslinya (0,1 %), juga bentuk morfin glukoronida lain
seperti normorfin dalam jumlah sangat kecil. Kodein sering ditemukan
dalam urin pemakai heroin ilegal, tetapi kodein bukanlah metabolit dari
heroin melainkan hasil deasetilasi dari asetil kodein yang ditemukan
sebagai bahan campuran heroin ilegal.

Biasanya pemeriksaan yang dilakukan adalah untuk mendeteksi morfin


dalam urin. Untuk mengkonfirmasi pemakaian heroin dapat dilakukan
pemeriksaan MAM (waktu deteksi 2-8 jam).

Konsentrasi morfin dalam urin penderita yang diobati menggunakan


morfin adalah di bawah 10 µg/mL dan dalam urin pecandu yang
meninggal karena overdosis heroin, ditemukan sampai 86 µg/mL.
3. Kokain

Struktur kimia

Nama Sistematik (IUPAC)

Methyl (1R,2R,3S,5S) -3- (benzoyloxy) -8- methyl -8-


azabicyclo [3.2.1] octane-2-carboxylate

Identifikasi

No. CAS 50-36-2

Data kimia

Formula C17H21NO4
Massa Molekul 303.353 g/mol

Data Fisik

bubuk halus berwarna putih atau off white, krem, kemurnian


80-90 % ( sebagai kokain hidroklorida), dapat dicampur
dengan anestetik lokal atau karbohidrat, di negara
berkembang biasanya kemurnian kokain 30 %

Titik lebur 195 º C (383 º F)

Kelarutan dalam air 1800 mg/mL (20 º C)

1
9
Data Farmakokinetik

Bioavaibilitas Oral:33 %, Nasal 19%(11%-26 %)

Metabolisme Hepatik

Waktu paruh 1 jam

Ekskresi Urin (benzoylecgonine,

ecgonine methyl ester) )

Pertimbangan terapetik

Status Legal Golongan I Narkotika

Cara pemakaian oral, injeksi, dioles di kulit, inhalasi

A. Tipe Produk Kokain

1). Daun Koka

Kekhasan daun koka adalah 2 garis paralel terhadap tulang


daun (tengah).

2). Kokain

Komponen kokain yang sering ditemukan dalam analisis :

Kokain

Benzoylecgonin

Ecgonin metil ester


Ecgonin

Mempunyai 2 bentuk yakni bentuk asam (kokain hidroklorida) dan


bentuk basa (free base). Kokain asam berupa kristal putih, rasa
sedikit pahit dan lebih mudah larut dibanding bentuk basa bebas
yang tidak berbau dan rasanya pahit. Nama jalanan kadang
disebut koka, coke, happy dust, snow, charlie, srepet, salju, putih.

2
0
Jalur metabolik kokain :
Tabel : kandungan kokain dalam tubuh menurut cara
pemakaian

Cara Kadar dalam tubuh (%)

pemakaian

Oral 20-30

Intranasal 20-30

Merokok 6-32

Intravena 100

2
1
Metabolisme dan ekskresi

Kokain didalam tubuh diubah menjadi 2 mayor metabolit yaitu


Benzoylecgonin dan ecgonin metil ester. Metabolit minor antara
lain norkokain, teridentifikasi dalam urin. Kokain dikeluarkan dalam
urin dalam bentuk asli (1-9 %), benzoylecgonin (35-54 %) dan
ecgonin metil ester (32-49 %). Target utama pemeriksaan adalah
kokain serta metabolitnya benzoylecgonin dan ecgonin metil ester.

Puncak kadar kokain dalam plasma dicapai dalam waktu singkat


setelah penghirupan atau injeksi.

Antidotum Kokain :

Beri Diazepam 10-30 mg oral atau pareteral,atau Klordiazepoksid


10-25 mg oral atau Clobazam 3x10 mg. Dapat diulang setelah 30
menit sampai 60 menit.

Untuk mengatasi palpitasi beri propanolol 3x10-40 mg oral


4. Metadon (digunakan untuk pengobatan)

Metadon mempunyai khasiat sebagai suatu analgetik dan


euforian karena bekerja pada reseptor opioid mu (µ) , mirip
dengan agonis opioid mu lain misalnya morfin. Metadon adalah
suatu agonis opioid sintetik yang kuat dan secara oral diserap
dengan baik. Metadon juga dapat dipakai melalui parenteral dan
rektal.

Nama Sistematik (IUPAC)

6 –(Dimethylamino)-4,4-diphenylheptan-3-one

Identifikasi

No. CAS 76-99-3

Data Fisika

Kristal/ bubuk putih/tidak berwarna, titik lebur 235 O C,


kelarutan (g/100 mL), air 12, alkohol 8, kloroform 3,
isopropanol 2,4, tidak larut dalam eter dan gliserol.
Konstanta disosiasi: pKa 8,3 (20 O), 8,94 (25 O), reaksi
warna Liebermann : coklat-oranye, Mandelin : hijau-biru

Data kimia
Formula C21H27NO

Massa Molekul 309.445 g/mol

Data Farmakokinetik

Bioavaibilitas 40-80(-92)

Protein binding 96 %

Metabolisme Hepatik

Waktu paruh Pada sekali konsumsi :10-25

jam, pada pemakai rutin : 13-

55 jam.

Ekskresi Urin (20-60%) dalam 24 jam


Pertimbangan terapetik

Status Legal Golongan II Narkotika

Cara pemakaian oral, intravena. Untuk dosis

pengobatan : 10-20 mg/hari

(awal), dosis pemeliharaan :

40-60 mg/hari

Metabolisme dan ekskresi

Reaksi metabolik utama adalah N-demetilasi yang menghasilkan


metabolit mayor : 2-etil-5-metil-3,3-difenil-1-pirolin (EMDP) dan 2-
etiliden-1,5-dimetil-3,3-difenilpirolidin (EDDP), keduanya tidak aktif.
Hidroksilasi menjadi metadol diikuti N-demetilasi menjadi normetadol
juga terjadi, selain pembentukan minimal 8 metabolit lain. Diekskresikan
dalam urin : bentuk zat induknya 33 %, EDDP 43%, EMDP 5-10%.
Rasio EDDP dibandingkan zat induk sangat tinggi pada pasien yang
sedang diterapi metadon dibandingkan dengan kasus overdosis biasa.
Ekskresi lewat urin meningkat pada urin asam. 75% total material yang
diekskresikan adalah dalam bentuk tidak terkonjugasi
PEMERIKSAAN

Persiapan Sampel

Sampel berbentuk serbuk atau tablet

Satu tablet sampel (50 mg serbuk) larutkan dalam 10 mL metanol, bila


perlu saring.

1. Sampel Ganja

Tanaman ganja (Cannabis plant, Cannabis herba)


Ȁ⸀ĀĀȀĀ⸀Ā 400 mg cuplikan yang telah diserbuk haluskan, masukkan ke
dalam Erlenmeyer bertutup, tambah 10 ml petroleum eter atau toluen, dan
kocok selama 1 jam, kemudian saring. Bila perlu tambahkan lagi pelarut
hingga diperoleh volume 10 ml
Damar ganja (Cannabis resin)
Ȁ⸀ĀĀȀĀ⸀Ā 100 mg damar ganja dalam mortir, gerus dengan ± 2 ml
toluen sampai terbentuk pasta. Dengan bantuan 8 ml toluen masukkan ke
dalam
Erlenmeyer bertutup, kocok selama 1 jam dan saring.
Hasis (Hasis oil, Cannabis oil)
Ȁ⸀ĀĀȀĀ⸀Ā 50 mg hasis larutkan dalam 10 ml toluen.

Sampel cuplikan berbentuk cairan

Ambil minimal 10 mL cairan, tanpa penambahan zat lain.

Spesimen darah/serum/plasma

Persiapan spesimen dengan cara ekstraksi adalah sebagai berikut :

Prinsip

Pemisahan/isolasi spesimen dengan pelarut organik pada pH tertentu


dari zat-zat yang mengganggu berdasarkan dengan kelarutannya.
Hasil ekstraksi disaring dan dikeringkan sehingga didapat residu yang
dapat dianalisis.

Peralatan
Vortex mixer

Shaker
Sentrifus
Tapered tube
Corong pisah
Corong
Batang pengaduk
Penangas air
Sonikator

60
Reagen

Pelarut organik (CHCl3)

Natrium sulfat anhidrat


Natrium hidroksida
Asam sulfat pekat
Buffer fosfat
Amonia
Natrium bikarbonat (NaHCO3)

Cara kerja

Ke dalam 4 mL spesimen tambahkan 2 mL buffer fosfat (pH 7,4)

dan 40 mL kloroform (CHCl3) kocok, kemudian tambahkan 2g


Na2SO4 anhidrat kocok kembali untuk menghasilkan masa yang
padat.
Tuangkan CHCl3 melalui saringan.
Ekstraksi kembali masa padat tersebut dalam 20 mL CHCl 3 campur
kedua hasil ekstraksi fraksi CHCl3.
Simpan masa padat yang ada.
Apabila terdapat salisilat, fraksi CHCl3 (fraksi A) ekstraksi dengan

NaHCO3 untuk menghilangkan salisilat yang dapat menghambat


penentuan selanjutnya.

Pada fraksi CHCl3 tambahkan 8 mL NaOH 0,45 M (setara dengan 2


kali volume spesimen yang diambil).
Kocok selama 2 menit kemudian sentrifus. Larutan NaOH
kemungkinan mengandung barbiturat dan senyawa asam lemah
lainnya (fraksi B).
Cuci fraksi CHCl3 dengan sedikit air, buang air cucian, keringkan fraksi
CHCl3 dengan Na2SO4 anhidrat, uapkan sampai kering.
Residu kemungkingan mengandung obat-obat netral dan beberapa
obat yang bersifat basa (fraksi C) seperti klordiazepoksid,
diazepam dan nitrazepam.
Apabila spesimen masih ada, basakan dengan larutan ammonia, lalu
ekstraksi 2 kali, masing-masing dengan 10 mL CHCl3

kemudian keringkan dengan Na2SO4 anhidrat. Uapkan larutan


sampai kering.
Residu kemungkingan mengandung obat golongan basa
(fraksi D).
10) Jika tidak tersedia sisa spesimen awal maka fraksi C yang telah
diperiksa larutkan dengan CHCl3 dan ekstraksi dengan H2SO4

0,5 M.

Tambahkan ekstrak ke masa padat H2SO4 pada butir 3 di atas.


Basakan dengan larutan ammonia, ekstraksi 2 kali dengan 10 mL
CHCl3.

Keringkan dengan Na2SO4 anhidrat, kemudian uapkan sampai


kering
Residu kemungkinan mengandung obat golongan basa

(fraksi D).

Ekstraksi tersebut di atas dapat dilihat pada skema IV.I di bawah ini
:

Skema IV.1

Ekstraksi Darah/Serum/Plasma

Spesimen

Spesimen (pH 7,4)

Ekstraksi dengan CHCl3

CHCl3 (bila ada salisilat (Fraksi A)

Ekstraksi dengan NaHCO3


Ekstraksi Masa padat Basakan dengan

Ekstraksi dengan NaOH


Dengan Sulfat ammonia

H2SO4 0,5 M Ekstraksi dengan

CHCl3

Fraksi NaOH Fraksi CHCl3 Fraksi CHCl3

Asam lemah Obat netral Obat Gol Basa


(Fraksi B) (Fraksi C) (fraksi D)