Anda di halaman 1dari 20

REFLEKSI KASUS Januari, 2018

“Demam Tifoid”

Nama : Muhammad Iqbal


No. Stambuk : N111 17 062
Pembimbing : dr. Kartin Akune, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman
Salmonella Typhi, dengan gejala utama demam, gangguan saluran pencernaan, serta
gangguan susunan saraf pusat / kesadaran. Demam tifoid pada anak umumnya
bersifat ringan dan mempunyai potensial sembuh spontan, namun demam tifoid yang
berat / dengan komplikasi harus di tangani secara adekuat.1
Angka kejadian demam tifoid di seluruh dunia tidak diketahui dan sukar
untuk diperkirakan dengan tepat oleh karena gambaran klinis seringkali di kaburkan
oleh gejala demam penyakit lain. Di Indonesia demam tifoid merupakan penyakit
endemik yang berkaitan dengan lingkungan dan sanitasi yang buruk dengan angka
kejadian yang masih sangat tinggi.1,2
Diagnosis dini adalah suatu hal yang penting disamping tindakan
pencegahannya. Diagnosis demam tifoid dibuat berdasarkan gejala dan tanda klinis,
pemeriksaan darah lengkap dan uji serologis widal. Diagnosis pasti ditegakkan
dengan biakan untuk menemukan kuman penyebab.
Penatalaksanaan dari demam tifoid yaitu dapat berupa medika mentosa dan
non-medika mentosa. Pemberian antibiotik perlu dilakukan untuk membunuh kuman
dan mencegah pasien menjadi karier. Tirah baring juga direkomendasikan selama 3-5
hari setelah bebas demam.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain peritonitis, perdarahan, perforasi,
gangguan kesadaran, dan lain sebagainya. Berikut ini kasus demam tifoid yang terjadi
di RSUD Undata Palu pada tanggal 12 Januari 2018.
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : An. A

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal lahir/Usia : 5 Januari 2012/6 tahun

Alamat : Jl. Lagarutu

Agama : Islam

Tanggal pemeriksaan : 15 Januari 2018

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama
Demam

Riwayat perjalanan penyakit


Demam dirasakan sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit, demam

sebelumnya dirasakan meningkat saat sore hari dan malam hari, namun 3 hari

terakhir demam dirasakan terus menerus. Demam turun bila diberikan obat

penurun demam namun setelah itu demam timbul kembali. Didapatkan juga

nyeri kepala (+), sakit menelan (+), sakit perut (+), mual (+), muntah (+) lebih

dari 2 kali, berisi sisa makanan berwarna putih, pasien menjadi kurang nafsu
makan dan menjadi tampak lemas. Pasien sudah 2 hari tidak BAB dan BAK

lancar. Sesak (-), mimisan (-), perdarahan gusi (-), maupun riwayat kejang (-).

Riwayat penyakit sebelumnya

Pasien belum pernah mengalami hal serupa

Riwayat penyakit dalam keluarga

Pada keluarga tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan pasien. Asma (-

), DM (-), hipertensi (-).

Riwayat sosial dan ekonomi

Menengah

Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan:

Pasien suka jajan jajanan di pinggir jalan dan kurang memperhatikan

kebersihan tangan sebelum makan.

Riwayat kehamilan dan persalinan


Pasien lahir spontan, cukup bulan langusng menangis dengan berat badan
lahir 2500 gram, panjang badan 45 cm, proses persalinan dibantu oleh bidan
dipuskesmas.
Riwayat makanan
Pasien mendapat ASI ekslusif sampai usia 2 tahun. Pasien mendapatkan bubur
halus sejak usia 6 bulan. Pasien sudah makan nasi sejak 1 tahun sampai sekarang.
Riwayat imunisasi
Imunisasi dasar lengkap.
III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Sakit Sedang


Kesadaran : Apatis
Status Gizi : CDC 104 %, Gizi Baik
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan : 117 cm

Tanda Vital

Tekanan Darah : 90/60 mmHg Suhu : 38 °C


Denyut Nadi : 72 x/menit Respirasi : 30 x/menit

Kepala : Normocepal

Mata : Anemis -/-, Ikterik -/-

Lidah Kotor dengan tepi tampak hiperemis (+)

Tonsil T1-T1 Tidak hiperemis

Otorhea -/-

Rinorhea -/-

Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening -/-

Pembesaran Kelenjar Tiroid (-)

Thorax

Paru :

Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral kanan=kiri, Retraksi -/-

Palpasi : Vocal Fremitus simetris kanan=kiri


Perkusi : Sonor diseluruh lapang paru

Auskultasi : Bronkovesikuler +/+ Rhonki -/-, Wheezing -/-

Jantung :

Inspeksi : Denyut iktus kordis tidak tampak

Palpasi : Denyut iktus kordis teraba pada SIC V midclavicula sinistra

Perkusi : Batas Jantung :

 Atas : Parasternal sinistra SIC 2

 Kanan : Parasternal dextra SIC 4

 Kiri : Midclavicula sinistra SIC 5

Auskultasi : Bunyi Jantung I&II murni regular, Bunyi tambahan (-)

Abdomen :

Inspeksi : Kesan cembung

Auskultasi : Peristaltik (+) Kesan Menurun

Perkusi : Timpani

Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+), organomegali (-)

Genitalia : Tidak ada kelainan.

Ekstremitas Atas : Akral hangat +/+, Udem -/-

Ekstermitas Bawah : Akral hangat +/+, Udem -/-


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil Rujukan Satuan


Hematologi Rutin
Hemoglobin 12,4 11,7 – 15,5 g/dl
Leukosit 3,5 4,0 – 12 103/uL
Eritrosit 5,03 4,0 – 6,20 106/uL
Trombosit 133 150 – 440 103/uL
Hematokrit 37,6% 35 – 55 %

Hitung Jenis Leukosit:


Basofil 0,1 0-1 %
Eosinofil 1,2 2-4 %
Neutrofil Batang 0 3-5 %
Neutrofil Segmen 76 50-70 %
Limfosit 33 30-45 %
Monosit 7,3 2-8 %

MCV 86,3 80-100 Fl


MCH 30,1 26-34 Pg
MCHC 33,0 31-35 %

Serologi – Widal
S. typhi O 1/320 Titer < 1/160
S. typhi H 1/320 Titer < 1/160
S. par. A-H 1/40 Titer < 1/160
S. par. B-H 1/80 Titer < 1/160

V. RESUME

Pasien anak laki-laki usia 6 tahun masuk RS dengan keluhan febris naik

turun yang di alami selama 10 hari yang lalu. Febris sebelumnya dirasakan

meningkat pada sore hari dan malam hari, namun 3 hari terakhir febris

dirasakan terus menerus. Didapatkan cephalgia(+), sakit menelan(+), sakit

perut(+), nausea(+), vomiting(+) lebih dari 2 kali, berisi sisa makanan berwarna
putih, pasien menjadi kurang nafsu makan dan menjadi tampak lemas, BAB

tidak lancar.

Tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah : 90/60 mmHg, suhu : 38 °C,

denyut nadi : 72 x/menit, dan respirasi : 30 x/menit. Pemeriksaan fisik

didapatkan lidah kotor dengan pinggiran hiperemis, nyeri tekan epigastrium dan

didapatkan auskultasi kesan peristaltik menurun. Hasil pemeriksaan

laboratorium darah rutin menunjukan leukosit 3,5 103/uL, Trombosit 133

103/uL. Hasil serologis – tes widal S. typhi O = 1/360, S. typhi H = 1/360.

MANAJEMEN

 Diagnosis kerja : Demam tifoid

 Terapi :

Non-Medikamentosa
- Tirah baring
- Diet makanan lunak serta terjaga higienitasnya
- Menjaga higienitas personal
Medikamentosa
- IVFD Ringer Lactat 24 tpm
- Chloramphenicol 4× 2 (250 mg)
- Inj. Ranitidine 1amp/ 8 jam/iv
- Paracetamol Syr 4 x 2 cth
VI. FOLLOW UP

Hari/Tanggal: Selasa, 16 Januari 2018


S Demam hari ke-11
Muntah (+), Sakit perut (+), sakit menelan (-), batuk (-),
flu (-)
BAB (-) 3 hari
BAK lancar
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Denyut Nadi : 88 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 20 x/menit
Suhu Tubuh : 37,9 0C
TD : 100/70 mmHg
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan: 117 cm
Status Gizi : CDC 104 %,gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Bronchovesicular +/+, Ronkhi -/-,
Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V
arah medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung normal, Cardiomegali (-)
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan menurun
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (+) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+) ,
meteorismus (-). Hepatomegaly (-)
Pemeriksaan Lain
- Lidah kotor : (+), pinggir lidah hiperemis
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera
A Demam Tifoid
P Non-Medikamentosa
- Tirah baring
- Diet makanan lunak serta terjaga
higienitasnya
- Menjaga higienitas personal
Medikamentosa
- IVFD Ringer Lactat 24 tpm
- Paracetamol Syr 4 x 2 cth
- Chloramphenicol 4 × 2 (250mg)
- Inj. Ranitidine 1 amp / 8 jam / iv
Hari/Tanggal: Rabu, 17 Januari 2018
S Bebas Demam hari ke-1
Muntah (-), Sakit perut (-), sakit kepala (-), batuk (-), flu
(-)
BAB biasa
BAK lancar
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Denyut Nadi : 96x/menit, kuat angkat
Respirasi : 24 x/menit
Suhu Tubuh : 37,3 C
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan : 117 cm
Status Gizi : CDC 104%, gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Bronchovesicular +/+, Ronkhi -/-,
Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V
arah medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung normal, cardiomegaly (-)
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (-), kesan normal
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (-) pada area hepar & lie
- Palpasi : Nyeri tekan (-), meteorismus (-).
Organomegaly (-)
Pemeriksaan Lain
- Lidah kotor : (+)
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera
A Demam Tifoid
P Non-Medikamentosa
- Tirah baring
- Diet makanan lunak
Medikamentosa
- IVFD Ringer Lactat 24 tpm
- Paracetamol Syr 4 x 2 cth
- Chloramphenicol 4 × 2 (250mg)
- Inj. Ranitidine 1 amp / 8 jam / iv
Hari/Tanggal: Rabu, 18 Januari 2018
S Bebas demam hari ke-2
mual (-), sakit kepala (-), Muntah (-), Sakit perut (-), sakit
kepala (-), batuk (-), flu (-)
BAB biasa
BAK lancar
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Denyut Nadi : 80 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 20 x/menit
Suhu Tubuh : 37 C
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan : 117 cm
Status Gizi : CDC 104%, gizi baik

Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Bronchovesicular +/+, Ronkhi -/-,
Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V
arah medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung normal, cardiomegaly (-)
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).

Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (-) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan (-), meteorismus (-).
Organomegaly (-)
Pemeriksaan Lain
- Lidah Kotor: -
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera
A Demam Tifoid
P Non-Medikamentosa
- Tirah baring
- Diet makanan biasa
Medikamentosa
- Aff infus
- Chloramphenicol 4× 2 (250mg)
- Paracetamol(kalau perlu)
BAB III
DISKUSI KASUS

Berdasarkan hasil anamnesis, ditemukan febris, dirasakan sejak 10 hari sebelum


masuk RS, febris, memberat pada sore hingga malam hari, namun 3 hari terakhir
febris dirasakan terus menerus. Febris turun dengan antipiretik. Disertai cephalgia,
sakit menelan, nyeri epigstrik, penurunan nafsu makan, nausea dan vommiting. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan, kesadaran apatis, tekanan darah 90/60 mHg, denyut
nadi 72 ×/menit kuat angkat, respirasi 30 ×/menit, suhu axilla 38 0C, tepi lidah
tampak hiperemis, thorax: dbn, abdomen:nyeri tekan epigastrium (+).Temuan-temuan
ini telah sesuai dengan teori menyangkut gambaran klinis demam tifoid yang telah
diuraikan sebelumnya.
Pada kasus ini, hasil pemeriksaan laboratorium hematologi rutin menunjukkan
leukosit 3,5 ×103/uL, trombosit 133 ×103/uL. Hasil serologi – tes Widal S. typhi O =
1/320, S Thyphi. H = 1/320.
Diagnosis demam tifoid didasarkan pada gejala klinis (anamnesis), pemeriksaan
fisik, serta pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang maka pasien pada kasus ini didiagnosis demam tifoid.
Demam tifoid ( enteric fever, Eberth disease) adalah penyakit infeksi akut pada
usus halus yang ditandai dengan demam selama 7 hari atau lebih yang disertai
gangguan saluran pencernaan. [1]
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonellatyphi, SalmonellaparatyphiA,
Salmonellaparatyphi B, dan SalmonellaparatyphiC. Bakteri ini termasuk bakteri
Gram negatif yang memiliki flagel, tidak berspora, motil, berbentuk batang,
berkapsul, dan bersifat fakultatif anaerob dengan karakteristik antigen O, H, dan Vi.
Antigen O (somatic), yaitu komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang stabil
pada panas,Antigen H (flagellum), yaitu protein yang labil terhadap panas, Antigen
Vi yaitu polisakarida kapsul. [5,10]
Pada beberapa Negara berkembang yang masih menjadi daerah endemik
demam tifoid, kasus yang terjadi umumnya disebabkan oleh pencemaran air minum
dan sanitasi yang buruk. Salmonellatyphi masuk ke dalam tubuh manusia melalui
mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh tinja atau
urin penderita demam tifoid dan mereka yang diketahui sebagai carrier (pembawa)
demam tifoid. Setelah bakteri sampai ke lambung, maka mula-mula timbul usaha
pertahanan non spesifik yang bersifat kimiawi yaitu, adanya suasana asam oleh asam
lambung dan enzim yang dihasilkannya. Ada beberapa faktor yang menentukan
apakah bakteri dapat melewati barier asam lambung, yaitu (1) jumlah bakteri yang
masuk dan (2) kondisi asam lambung.[5,6]
Masa inkubasi demam tifoid bervariasi tergantung pada besarnya jumlah
bakteri yang menginfeksi dan kekebalan/daya tahan tubuh penderita. Menurut J. Chin
masa inkubasi berlangsung antara 3 hari sampai 1 bulan, dengan rata-rata 8-14 hari.
Sedangkan menurut Jenkins dan Gillespie menyebutkan sejak masuknya S. typhi
sampai menunjukkan gejala penyakit antara 3 sampai 56 hari dengan rata-rata 10
sampai 20 hari. Cammie F Laser menyebutkan masa inkubasi berlangsung antara 3
sampai dengan 21 hari. Sedangkan pada anak periode inkubasi demam tifoid antara 5-
40 hari dengan rata-rata antara 10-14 hari.[2,10]
Untuk menimbulkan infeksi, diperlukan Salmonella typhi sebanyak 103-109
yang tertelan melalui makanan atau minuman. Keadaan asam lambung (pH <2) dapat
menghambat multiplikasi Salmonella. Sebagian bakteri yang tidak mati akan
mencapai usus halus tepatnya di ileum dan jejenum yang memiliki mekanisme
pertahanan lokal berupa motilitas dan flora normal usus. Pada dasarnya, apabila
respon imunitas (Imunoglobulin A) usus kurang baik, maka bakteri akan menembus
sel-sel epitel (terutama sel M), selanjutnya ke lamina propria. Di lamina propria
bakteri berkembang biak dan ditelan oleh sel-sel fagosit terutama makrofag.[2,5]
Tahapan selanjutnya, bakteri akan menuju kelenjar getah bening mesenterika.
Melalui ductus torasikus, bakteri yang terdapat di dalam makrofag masuk ke dalam
sirkulasi darah mengakibatkan bakteremia pertama yang tidak menimbulkan
gejala.Dari sini bakteri akan masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga terjadi
bakteremia kedua yang simptomatis (menimbulkan gejala klinis). Disamping itu
bakteri yang ada didalam hepar akan masuk ke dalam kandung empedu dan
berkembang biak disana, lalu bakteri tersebut bersama dengan asam empedu
dikeluarkan dan masuk ke dalam usus halus. Sebagian bakteri ini akan dikeluarkan
melalui feses dan sebagian lagi bakteri akan menginvasi epitel usus kembali dan
menimbulkan tukak pada mukosa diatas plaque peyeri yang dapat mengakibatkan
terjadinya perdarahan dan perforasi usus yang menimbulkan gejala peritonitis.[1]
Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit.
Penampilan demam pada kasus demam tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step-
ladder temperature chart yang ditandai dengan demam timbul insidious, kemudian
naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu
pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada minggu ke-4 demam terus
turun secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus infeksi seperti kolesistitis, abses
jaringan lunak, maka demam akan menetap. Pada kasus demam sudah tinggi, demam
tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat, seperti kesadaran berkabut atau delirum
atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai apatis sampai koma.[2]
Gejala-gejala klinis yang biasa ditemukan pada demam tifoid, yaitu :[5]
1. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat
febris remittent dan tidak terlalu tinggi. Pada minggu I, suhu tubuh cenderung
meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada
sore hari dan malam hari. Dalam minggu II, penderita terus berada dalam
keadaan demam. Dalam minggu III suhu berangsur-angsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu III.[5]
2. Gangguan saluran cerna
Pada mulut; nafas berbau tidak sedap, bibir kering, dan pecah-pecah
(rhagaden), lidah ditutupi oleh selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan
tepinya kemerahan. Pada abdomen dapat dijumpai adanya kembung
(meteorismus). Hepar dan lien yang membesar disertai nyeri pada perabaan.
Biasanya terdapat juga konstipasi pada anak yang lebih tua dan remaja, akan
tetapi dapat juga normal bahkan terjadi diare pada anak yang lebih muda.[5]
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walau tidak berapa dalam, dapat
berupa apatis sampai somnolen.[5]
Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala,
malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang tenggorokan, gejala
gastrointestinal bervariasi, pasien dapat mengeluhkan diare, obstipasi, atau obstipasi
kemudian disusul episode diare. Pada sebagian pasien, lidah tampak kotor dengan
putih ditengah sedangkan tepi dan ujungnya tampak kemerahan. Adapun, bradikardi
relatif jarang dijumpai pada anak.[2]
Diagnosis demam tifoid pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Teorinya, pada penderita demam tifoid dapat dijumpai anemia, jumlah leukosit
normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan
hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan
aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut.Penelitian oleh
beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju
endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang
cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau
bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat
diagnosis demam tifoid.[11]
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose
spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah
ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada
stadium berikutnya di dalam urine dan feses. [11]
Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid
dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada
demam tifoid ini meliputi : (1) uji Widal; (2) tes TUBEX ®; (3) metode enzyme
immunoassay (EIA); (4) metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA); dan
(5) pemeriksaan dipstik.[8]
Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak
tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin
dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap
antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama
sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan
aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Penelitian pada anak oleh Choo
dkk (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 89%
pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34.2% dan nilai
prediksi negatif sebesar 99.2%.Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak
dengan hasil biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar
64-74% dan spesifisitas sebesar 76-83%.Interpretasi dari uji Widal ini harus
memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit;
faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi
pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah
endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.[13]
Penatalaksaan penderita dengan demam tifoid yang secara garis besar ada 3
bagian yaitu:[5]
a) Perawatan
b) Diet
c) Medikamentosa
Penderita demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi
serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5-7 hari bebas panas, tetapi tidak harus
tirah baring sempurna. Mobilisasi dilakukan sewajarnya, sesuai dengan situasi dan
kondisi penderita. Pada penderita dengan kesadaran yang menurun harus diobservasi
agar tidak terjadi aspirasi serta tanda-tanda komplikasi demam tifoid yang lain
termasuk buang air kecil dan buang air besar perlu mendapat perhatian.[1,4]
Dahulu penderita diberi makan diet yang terdiri dari bubur saring, kemudian
bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kekambuhan penderita. Banyak
penderita tidak senang diet demikian, karena tidak sesuai dengan selera dan ini
mengakibatkan keadaan umum dan gizi penderita semakin mundur dan masa
penyembuhan ini menjadi makin lama.[1,5]
Obat-obat antimikroba yang sering digunakan antara lain, Kloramfenikol,
Tiamfenikol, Cotrimoxazol, Ampisilin, Amoksisilin, Seftriakson, Sefiksim. Berikut
pilihan terapi antibiotic yang diberikan untuk demam tifoid: [1,8]

- Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kgBB/hari, oral atau IV, dibagi


dalam 4 dosis selama 10-14 hari
- Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, oral atau intravena, selama 10 hari
- Kotrimoksasol 6 mg/kgBB/hari, oral, selama 10 hari
- Seftriakson 80 mg/kgBB/hari, intravena atau intramuscular, sekali sehari,
selama 5 hari
- Sefiksim 10 mg/kgBB/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari

Komplikasi demam tifoid dikelompokkan adalah komplikasi neuropsikiatrik;


gastrointestinal (perdarahan dan perforasi usus); sepsis dan syok sepsis; kelainan
hematologik seperti anemia hemolitik dan koagulopati intravaskular diseminata
(KID); kelainan jantung seperti miokarditis dan endokarditis; serta infeksi lain seperti
meningitis, pneumonia, hepatitis, nefritis, kolesistitis, artritis septik dan sebagainya.
Komplikasi yang secara nyata ditimbulkan oleh sebab lain seperti alergi obat dan
akibat prosedur tindakan yang diberikan tidak dicatat sebagai komplikasi demam
tifoid.[9]
Penyulit pada demam tifoid, dapat dibagi menjadi:[9]
- Intraintestinal: perforasi usus atau perdarahan saluran cerna: suhu menurun,
nyeri abdomen, muntah, nyeri tekan pada palpasi, bising usus menurun sampai
menghilang, defance musculaire positif, dan pekak hati menghilang.
- Ekstraintestinal: tifoid ensefalopati, hepatitis tifosa, meningitis, pneumonia,
syok septik, pielonefritis, endocarditis, osteomyelitis, dll.
Pemantauan terapi dapat dilakukan dengan mengevaluasi demam melalui
monitor suhu, apabila pada hari ke 4-5 setelah pengobatan demam tidak reda, maka
harus segera kembali dievaluasi adakah komplikasi, sumber infeksi lain, resistensi S.
typhi terhadap antibiotik, atau kemungkinan salah menegakkan diagnosis. Pasien
dapat dipulangkan apabila tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik, nafsu makan
membaik, klinis perbaikan, dan tidak dijumpai komplikasi. Pengobatan dapat
dilanjutkan di rumah.[11]
Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan
kesehatan sebelumnya, dan ada atau tidaknya komplikasi. Di negara maju, dengan
terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Di negara berkembang, angka
mortalitasnya >10%, mortalitas pada penderita yang dirawat 6%, biasanya karena
keterlambatan diagnosis, perawatan, dan pengobatan yang meningkatkan
kemungkinan komplikasi dan waktu pemulihan.[1,5]
DAFTAR PUSTAKA

1. Sidabutar S, Satari HI. Pilihan Terapi Empiris Demam Tifoid pada Anak:
Kloramfenikol atau Seftriakson?. Sari Pediatri. 2010; 11 (6): 434-439.
2. Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak
Infeksi Dan Penyakit Tropis. Edisi 1. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Hal 367-75.
3. Rampengan TH. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi 2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2008. Hal 46-62.
4. Pusponegoro HD, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi 1.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2004. Hal91-4.
5. Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of
Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: 2007. Hal. 1186-1190.
6. Bambang WT. Kajian Faktor Pengaruh Terhadap Penyakit Demam Tifoid pada
Balita Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2009; 12 (4).
7. Syamsul A. Hubungan Tingkat Demam dengan Hasil Pemeriksaan Hematologi
pada Penderita Demam Tifoid. Lecturer of Histology Departement Medical
Faculty Lambung MangkuratUniversity.
8. Hadinegoro SR, Kadim M, Devaera Y, Idris NS, Ambarsari CG. Update
Management of Infectious Diseases and Gastrointestinal Disorders. Jakarta:
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM; 2012.
9. Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Demam. Jakarta:
Sagung Seto; 2011.
10. Lubis R. Faktor Resiko Kejadian Penyakit Demam Tifoid Penderita yang
Dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Tesis; 2008.
11. Tumbelaka AR. Typhoid Fever in Children. Division of Infectious Diseases &
Tropical Pediatrics, Department of Child HealthFMUI – Cipto Mangunkusumo
General Hospital. Jakarta: 2010.