Anda di halaman 1dari 10

Patofisiologi

Genetik Lingkungan

Mutasi gen

Pertumbuhan sel tidak


terkendali pada jaringan lunak

RABDOMIOSARKOM

Pembengkakan

Kepala Anggota
gerak
Mata Nasofaring
Terdapat
benjolan
Mata Sel mudah Terjadi
menonjol rapuh obstruksi Sulit
pernafasan bergerak
Paralisis otot- Mudah terjadi
otot mata pendarahan Sulit
Bersihan Gangguan
bernafas mobilitas fisik
jalan nafas
Gangguan Epitaksis tidak
penglihatan Pola nafas efektif
tidak
Resiko
Resiko cidera kekuranga Traktus
ISK Genitourinaria
n cairan Resiko
penyebaran
infeksi
kemoterapi Mual, muntah Obstruksi Pendarahan
uretra pd vagina
Sel darah
Rambut Nafsu makan Resiko HB
mati
rontok kurang penyebaran
eliminasi
Anemia Anemia
Gangguan Nutrisi
citra tubuh kurang dari
kelemahan kebutuhan Gangguan
perfusi jaringan
serebral
Keletihan Gangguan
integritas kulit
Operasi
Eksisi Terjadi Barier Pothe
tubuh Resiko
jaringan luka entri
rusak infeksi
tumor kuman
A. Pengkajian
Pemeriksaan Fisik
1. Kepala dan leher
a. Kepala :
 Inspeksi: terdapat bengkak, penyebaran rambut tidak merata,
mudah rontok.
 Palpasi: terdapat benjolan, adanya nyeri tekan pada bagian
luka.
b. Muka :
 Inspeksi: Tidak simetris, warna kulit kemerahan karena adanya
inflamasi.
 Palpasi: ada nodul, dan nyeri pada muka.
c. Mata:
 Inspeksi: tidak simetris, pada muka tampak mata menonjol,
bengkak pada palpebra, bulu mata rontok.
 Palpasi: adanya nyeri tekan pada bola mata.
d. Hidung :
 Inspeksi: tidak simetris, hidung tersumbat, sekret hidung
berupa darah atau nanah.
 Palpasi: ada nodul yang lebih dari 1 cm yang berisi pust.
e. Leher:
 Inspeksi: tidak simetris, ada bengkak pada daerah kanker,
pemebsaran pada daerah kelenjar tiroid.
 Palpasi: Ada massa pada sekitar kelenjar tiroid. Tekstur kasar
pada kulit.

2. Dada dan thorax


 Inspeksi: Bengkak, adanya lesi kulit.
 Palpasi: ada massa pada dada.
(pada dada dan thorax jarang di temukannya penyakit kanker
Rabdomiosarkoma)
3. Ekstremitas
 Inspeksi:Lesi, dan berwarna kemerahan.
 Palpasi: Berupa benjolan dengan tanpa rasa sakit, lunak
4. Genetalia
 Inspeksi: Terdapat lesi pada vagina, sekret vagina yang
mengandung darah (pada wanita), pembesaran di salah satu
scrotum (pada laki-laki).
 Palpasi: ada benjolan pada sekitar kemaluan/pubis yg lunak.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tak efektif b.d terjadinya obstruksi
2. Pola nafas tidak efektif b.d sulit benafas
3. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d pendaran pada vagina
4. Resiko kekurangan cairan b.d epitaksis
5. Gangguan mobilitas fisik b.d sulit bergerak
C. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria hasil
1. Bersihan jalan Tujan :
1. Auskultasi 1. Penurunan aliran
nafas tak Setelah dilakukan
area paru, udara terjadi pada
efektif b.d tindakan
catat area area konsolidasi
terjadinya keperawatan
penurunan/tak dengan cairan, bunyi
obstruksi selama 1x5 menit,
ada aliran nafas bronchial
masalah
udara dan ( normal pada
ketidakefektifan
bunyi nafas, bronchus ) dapat
jalan napas baik
misalnya : juga terjadi pada
dan kembali
krekels, area konsolidasi.
normal
mengi. Krekels dan ronchi
Kriteria hasil :
dan mengi terdengar
 Tidak ada suara
2. Bantu pasien
pada inspirasi
nafas tambahan
latihan nafas
(rhonki,
sering. 2. Nafas dalam
wheezing)
Tunjukkan / memudahkan
 Ekspansi dada Bantu pasien ekspansi maksimum
maksimal mempelajari paru-paru/jalan
(pernafasan melakukan nafas lebih kecil.
dalam) dan batuk, missal Batuk adalah
simetris menekan dada mekanisme
 RR=12x20x/ dan batuk pembersihan jalan
menit efektif nafas alami,
sementara membantu silia
posisi duduk untuk
tinggi. mempertahankan
jalan nafas paten.
3. Pengisapan
sesuai 3. Merangsang batuk
indikasi
4. Bantu atau pembersihan
mengawasi jalan nafas secara
efek mekanik pada
pengobatan pasien yang tak
mampu melakukan
karena batuk tak
efektif atau
penurunan tingkat
kesadaran.

4. Memudahkan
pengenceran dan
pembuangan sekret.
2. Pola nafas Tujuan :
1. Auskultrasi 1. Bunyi nafas
tidak efektif Setelah dilakukan
bunyi napas menurun bila jalan
b.d sulit tindakan
dan catat nafas obstruksi
benafas keperawatan
adanya bunyi sekunder terhadap
selama 1x15
nafas perdarahan dan
menit, pasien
adventisius bekuan
menunjukkan
keefektifan pola
2. Observasi 2. Kongesti alveolar
nafas
pola batuk mengakibatkan
Kriteria hasil :
dan karakter batuk kering
 Ekspansi dada
sekret
maksimal 3. Dapat
 Tidak ada 3. Dorong pasien meningkatkan
perubahan dalam nafas sputum dimana
ekskursi dada dalam dan gangguan ventilasi
 RR=12- latihan batuk dan ditambah
20x/menit ketidak nyamanan
4. Berikan
upaya bernafas
oksigen
tambahan 4. Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
nafas
3. Gangguan Tujuan : 1. Letakkan 1. Menurunkan
perfusi Setelah dilakukan kepala dengan tekanan arteri
jaringan tindakan posisi agak dengan
cerebral b.d keperawatan ditinggikan meningkatkan
pendaran pada selama 1x15 drainasedan
2. Pertahankan
vagina menit, meningkatkan
tirah baring
ketidakefektifan sirkulasi/perfusi
perfusi jaringan cerebral
3. Pantau tanda-
2. aktivitas/stimuli
cerebral teratasi
tanda vital
yang kontinyu
Kriteria hasil :
dapat
 Adanya 4. Kolaborasi
meningkatkan TIK
peningkatan dalam
3. hipertensi atau
kesadaran pemberian
hipotensi dapat
biasanya oksigen
menjadi faktor
/membaik dan pencetus.Hipotensi
fungsi motorik/ dapat terjadi karena
sensorik syok (kolaps
 Tidak adanya/ sirkulasi vaskuler).
menurunnya 4. Menurunkan
sakit kepala hipoksia yang dapat
 Mendemonstrasi menyebabakanvaso
kan TTV stabil dilatasicerebral
TD:100/60 dantekanan
mmHg sd meningkat/terbentu
120/80 mmHg, knya edema
N:60/90
x/menit, RR:12-
20x/menit.
T:36/37,5°C

4. Resiko Tujuan : 1. Kaji 1. Peningkatan suhu


kekurangan Setelah dilakukan perubahan demam
cairan b.d tindakan TTV meningkatkan laju
2. Kaji turgor
epitaksis keperawatan metabolic
kulit, 2. Indikator langsung
selama 3x24 jam,
kelembaban keadekuatan volume
pasien
membra cairan
menunjukkan
3. Adanya gejala ini
mukosa
perbaikan
3. Catat laporan menurunkan
keseimbangan
mual/muntah masukan oral
cairan 4. Timbang berat 4. Perubahan cepat
Kriteria hasil : badan tiap menunjukkan
 Perubaha status hari gangguan dalam air
mental (-) tubuh total
 TTV dalam
batas normal
 Kelemahan (-)
5. Gangguan Tujuan : 1. Kaji tingkat 1. mengidentifikasi
mobilitas fisik Setelah dilakukan kemampuan kekuatan/kelemahan
b.d sulit keperawatan pasien. dan dapat
2. Ubah posisi
bergerak selama 3x24 jam, memberikan
minimal 2 jam
pasien mampu informasi mengenai
3. Latih rentang
melakukan pemulihan
gerak aktif
2. Menurunkan resiko
mobilitas fisik
dan pasif.
terjadinya
secara mandiri 4. Tempatkan
trauma/iskemik
dengan bantuan bantal
jaringan.Daerah
minimal dibawah
yang terkena
Kriteria hasil : aksila untuk
mengalami
 Penurunan abduksi pada
perburukan/sirkulasi
waktu reaksi tangan.
 Kesulitan yang lebih jelek dan
membolak balik menurunkan sensasi
posisi dan lebih besar
 Melakukan menimbulkankerusa
aktivitas lain kan pada
sebagai kulit/dekubitus
pengganti meminimalkan atrofi
pergerakan otot, meningkatkan
sirkulasi,
3. membantu
mencegah
kontraktur.
4. mencegah abduksi
bahu dan fleksi siku

D. Implementasi Keperawatan
N Diagnosa Implementasi
o Keperawatan
1 Bersihan jalan nafas
1. BHSP
tak efektif b.d
terjadinya obstruksi
2. Posisikan pasien dengan nyaman

3. Mengajarkan tehnik relaksasi

4. Melakukan Auskultasi area paru, catat area


penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi nafas,
misalnya : krekels, mengi.

5. Membantu pasien latihan nafas sering. Tunjukkan


/ Bantu pasien mempelajari melakukan batuk,
missal menekan dada dan batuk efektif sementara
posisi duduk tinggi.
6. Membantu Pengisapan sesuai indikasi

7. Membantu mengawasi efek pengobatan


2 Pola nafas tidak 1. BHSP
efektif b.d sulit
2. Melakukan Auskultrasi bunyi napas dan catat
benafas
adanya bunyi nafas adventisius

3. Melakukan Observasi pola batuk dan karakter


sekret

4. Mengarahkan pasien dalam nafas dalam dan


latihan batuk

5. Memberikan oksigen tambahan


3 Gangguan perfusi 1. BHSP
2. Meletakkankepala dengan posisi agak ditinggikan
jaringan cerebral b.d
3. Mempertahankan tirah baring
pendaran pada 4. Memantau tanda-tanda vital
5. Mengkolaborasikan dengan tenaga medis lain
vagina
dalam pemberian oksigen

4 Resiko kekurangan 1. BHSP


2. Mengkaji perubahan TTV
cairan b.d epitaksis
3. Mengkaji turgor kulit, kelembaban membra
mukosa
4. Mencatat laporan mual/muntah
5. Menimbang berat badan tiap hari
5 Gangguan mobilitas 1. BHSP
2. Mengkaji tingkat kemampuan pasien.
fisik b.d sulit
3. Mengubah posisi minimal 2 jam
bergerak 4. Melatih rentang gerak aktif dan pasif.
5. Menempatkan bantal dibawah aksila untuk
abduksi pada tangan.
DAFTAR FUSTAKA

1. Carola A.S. Arndt. 2001. Rhabdomyosarcama. In: Kliegman.R.M.,


Behrman.R.E., Jenson.H.B., Stanton.B.F., ed. Nelson Textbook of Pediatrics.
Philadelphia: Elsevier Saunders. p. 2144-2145.
2. Couturier J . Soft tissue tumors: Rhabdomyosarcoma. Atlas Genet
Cytogenet Oncol Haematol. March 1998 .
3. Crist WM. Sarkoma Jaringan Lunak. Dalam: Nelson WE(eds). Ilmu
Kesehatan Anak. Edisi ke-15. Jakarta: EGC, 2004.1786-1789.
4. Djajadiman Gatot dan Bulan G.M. 2005. Rabdomiosarkoma. Dalam: Buku
Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Editor: Bambdang Permono, d.k.k.Jakarta :
Badan Penerbit IDAI. Halaman 270-272.
5. Harry Raspati, Lalani Reniarati, Susi Susanah. 2005. Bab 9. Hemato-
Onkologi. Rabdomiosarkoma. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu
Kesehatan Anak. edisi ke 3. Editor: Herry Garna dan Heda
Melinda.Bandung : Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran. RS. Dr. Hasan Sadikin. Halaman 504-506.
6. Robbins, Cotran, Kumar. Dasar Patologi Penyakit. Jakarta: EGC, 1999.761-
762.
7. William.W.H., Levin.M.J., Sondhimer.J.M., Deterding.R.R., 2005.
Rahbdomyosarcoma. In: Lange Current Pediatric Diagnosis and Treatment.
17nd edition. USA: McGraw Hill Companies. p.934-935.
8. (http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/04/28/rabdomiosarkoma
/patofisiologi)Diakses pada 26-maret-2014. Jam 14.24 WIB

Anda mungkin juga menyukai