Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam bidang industri farmasi, perkembangan teknologi farmasi sangat berperan aktif
dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Kemampuan seorang tenaga ahli di bidang
farmasi yang bisa membuat sediaan obat secara aman, efektif, stabil dan akseptabel juga tidak
terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang berkembang
dengan pesat. Berbagai industri yang bergerak di bidang farmasi bersaing untuk membuat
sediaan obat dalam bentuk yang bermacam-macam. Bentuk sediaan tersebut terdiri dari
sediaan solid (padat), semisolid (setengah padat) dan liquid (cair). Sediaan yang akan dibuat
disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif yang digunakan ataupun dengan
meminimalkan efek samping dari obat yang digunakan tanpa mempengaruhi efek
farmakologisnya (Lacman, 2008). Obat yang di produksi juga harus sesuai dengan kegunaan,
manfaat dan tujuan penggunaan nya.
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk
halus yang terdispersi ke dalam fase cair. Sedangkan yang dimaksud dengan Suspensi oral
adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi
dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral
(Syamsuni, 2006).
Pada praktikum ini, akan dibuat sediaan suspensi dengan bahan aktif kloramfenikol.
Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces Venezuela, organisme
yang pertama kali diisolasi tahun 1947 dari sampel tanah yang dikumpulkan di Venezuela
(Goodman and Gilman, ed. 10). Dibuat sediaan suspensi karena bahan aktifnya tidak larut
dalam air (Depkes, 2014). Dan karena bahan aktifnya tidak stabil dalam air (Sweetman,
2009), maka sediaan dibuat suspensi untuk mengurangi penguraian dari zat aktif (RPS, ed.
18). Kloramfenikol digunakan sebagai obat luar dan jika dijadikan sediaan oral akan terasa
pahit. Maka dari itu kloramfenikol yang digunakan diubah kedalam bentuk kloramfenikol
palmitat. Kloramfenikol palmitat merupakan serbuk hablur halus seperti lemak; putih; bau
lemah; hampir tidak berasa (Depkes, 2014). Untuk meningkatkan akseptabilitas (penerimaan)
pasien maka ditambahkan pemanis sirupus simplex. pH sediaan bahan aktif sebesar 6,7
(Lund,1994). Karena bahan aktif harus terlindung dari cahaya (Sweetman, 2009) maka
pemakaian botol coklat diperlukan sebagai wadah sediaan.

1
Kloramfenikol memiliki efek farmakologi untuk mengobati demam tifoid dan
memiliki efek samping seperti hipersensitivitas, mual, muntah, glositis, diare dan
enterekolitis. Dan dapat menimbulkan syndrome grey pada bayi premature yang mendapat
dosis tinggi (Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2007). Sediaan diajukan untuk orang dewasa dengan dosis 4 x sehari 5mL sesudah
makan.

I.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu sediaan suspensi?


2. Apa saja persyaratan sediaan suspensi?
3. Apa saja jenis – jenis sediaan suspensi?
4. Apa saja metode pembuatan dalam sediaan suspensi?
5. Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas suspensi?

I.3 Tujuan Praktikum


A. Tujuan Umum
 Mahasiswa dapat memahami pelaksanaan praktikum suspensi.
 Mahasiswa dapat memanfaatkan dan melaksanakan pengkajian praformulasi
untuk sediaan .
 Mahasiswa mampu melaksanakan desain sediaan suspensi.
 Mahasiswa mampu menyusun pembuatan suspensi.
 Mahasiswa mampu menyiapkan dan mengoperasikan alat – alat untuk
pelaksanaan praktikum.
 Mahasiswa mampu menyusun laporan pembuatan sediaan suspensi.

B. Tujuan Khusus
 Mahasiswa dapat mengikuti dan melaksanakan ketentuan praktikum.
 Mahasiswa dapat menyusun hasil pengkajian praformulasi bahan aktif untuk
sediaan suspensi.
 Mahasiswa dapat membuat rekomendasi untuk desain komponen, mutu dan proses
pembuatan sediaan suspensi.

2
 Mahasiswa dapat menyusun Prosedur Tetap untuk setiap bahan, pembuatan dan
evaluasi sediaan suspensi.
 Mahasiswa dapat menjalankan alat untuk setiap tahap pembuatan dan evaluasi
sediaan suspensi.
 Mahasiswa dapat menyusun laporan praktikum mengenai pembuatan sediaan
suspensi.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Suspensi


Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi adalah sediaan seperti
tersebut di atas, dan tidak termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, seperti suspensi
oral, suspensi topikal, dan lain-lain. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan
yang lain beruapa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan
pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. Sediaan seperti ini disebut “…….untuk
Suspensi Oral”.
Suspensi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau yang
dikonstitusikan dengan jumlah air untuk injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum
digunakan.

 Secara fisik formula suspensi yang baik :

 Suspensi harus homogen pada suatu perioda


 Endapan yang terbenuk harus mudah didespersikan kembali
 Suspensi harus kental agar mencegah pengendapan
 Partikel suspensi harus kecil dan seragam
 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam suspensi :

 Ukuran partikel
 Pengunaan pembasah
 Sistem flokulasi dan deflokulasi dari partikel
 Sifat aliran partikel
 Zat pengental
 Bahan tambahan
 Stabilitas suspensi
 Cara pembuatan suspense
 Bioavailabilitas

4
Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut dalam
cairan pembawa adalah langkah penting. Kadang-kadang sukar mendispersi serbuk karena
adanya udara-lemak & kontaminan lain. Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi walaupun
BJ-nya besar, mereka mengambang pada permukaan cairan. Pada serbuk halus mudah
kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan dibawah permukaan dari suspensi
medium.

Mudah / sukarnya serbuk dibasahi dapat dilihat dari serbuk kontak yang dibentuk
serbuk dengan permukaan cairan. Serbuk dengan sudut  900 menghasilkan serbuk terapung
keluar dari cairan. Bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan suspensi :

 Suspending agent
 Pemanis
 Pewangi, pengaroma
 Pengawet
 Dapar
Beberapa suspensi resmi diperdagangan dalam bentuk siap pakai telah disebarkan
dalam cairan pembawa dengan / tanpa penstabil dan bahan tambahan parmasetik. Preparat
lain yang tersedia adalah serbuk kering yang dimaksudkan untuk disuspensikan dalam cairan
pembawa. Jenis produk ini, umumnya campuran serbuk mengandung obat dan bahan
pensuspensi maupun pendispensi, yaitu dengan melarutkan dan pengocokan dengan sejumlah
tertera cairan pembawa (biasanya air murni), menghasilkan bentuk suspensi yang cocok
untuk diberikan obat seperti itu tidak stabil untuk disimpan dalam periodik tertentu dengan
adanya pembawa air.

Contoh : saat obat antibiotik sering diberikan sebagai campuran serbuk kering untuk
dibuat suspensi pada waktu akan diberikan.

 Alasan pembuatan suspensi oral :

a. Ketidakstabilan obat tertentu bila dalam larutan


b. Bentuk cair lebih disukai daripada bentuk padat, karena lebih mudah ditelan
& aman.
c. Mudah untuk diberikan anak-anak, mudah diatur penyesuaian dengan
dosisnya untuk anak-anak.
d. Rasa obat yang tidak enak akan tidak terasa bila diberikan dalam bentuk
larutan sebagai partikel yang tidak larut dalam suspensi.

5
 Cara pembuatan suspensi :

1. Metode Dispensi
Serbuk yang terbagi halus didispensi didalam cairan pembawa, umumnya
cairan pembawa adalah air, dimana partikel harus terdispensi betul dalam fase
cair.

2. Metode Presipitasi

- Presipitasi dengan pelarut organik.

- Presipitasi dengan perubahan pH dari media.

- Presipitasi dengan dekompresi rangkap.

Menurut Farmakope Indonesia III suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan
obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang
terdispersi harus halus dan tidak cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan, endapan
harus segera terdispersi kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas
suspensi. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan
dituang.
Menurut Farmakope Indonesia IV suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Beberapa suspensi dapat langsung
digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih
dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.

 Tujuan pembuatan suspensi antara lain:


1. Menjamin stabilitas kimia
2. Lebih disukai dari bentuk padat
3. Mengurangi rasa yang tidak enak
4. Meningkatkan luas permukaan
5. Mengurangi kontak zat padat dan zat cair

6
II.2 Kriteria dan Persyaratan Suspensi
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase yaitu fase kontinue
(fase dalam) dan fase luar. Fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau
semi padat, dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel-pertikel kecil yang pada
dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinue; zat yang tidak larut
bias dimaksudkan untuk absorbsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar. Fase
terdispersi bisa terdiri dari partikel-partikel diskrit atau bisa merupakan suatu jaringan
partikel yang dihasilkan dari interaksi partikel-partikel. Hampir semua system suspensi
memisah pada pendiaman. Oleh karena itu, perhatian utama pembuat formulasi bukanlah
untuk mencoba mengeliminasi pemisahan tetapi untuk mengurangi laju pemindahan dan
memberikan kemampuan tersuspensi kembali dengan mudah dari tiap partikel kecil yang
diendapkan.
Suspensi yang baik harus tetap homogen secukupnya, paling tidak selama waktu yang
dibutuhkan untuk penuangan dan pemberian dosis setelah wadahnya dikocok.
Suatu suspensi Farmasi mempunyai sifat-sifat seperti dibawah ini :
1. Suatu suspensi Farmasi yang dibuat dengan cepat mengendap secara lambat
dan harus rata kembali bila dikocok.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensoid tetap agar konstan untuk waktu yang lama pada penyimpanan.
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.

II.3 Jenis-Jenis Suspensi


Adapun jenis / tipe dari suspensi yaitu:

1. Suspensi basah
Suspensi basah adalah suspensi yang tersedia dalam bentuk siap pakai, telah
terdispersi didalam cairan pembawa dengan atau tanpa bahan penstabil dan bahan
tambahan Farmasi lainnya.

2. Suspensi kering
Suspensi kering adalah campuran serbuk kering yang dimaksudkan untuk
disuspensikan didalam cairan pembawa. Jenis produk ini umumnya campuran
serbuk yang mengandung obat dan bahan pensuspensi maupun pendispersi, yang

7
dengan melarutkan dan pengocokkan dengan sejumlah tertera cairan pembawa
(biasanya aquadest) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok untuk diberikan.

II.4 Metode Pembuatan Suspensi


Teknologi pembuatan suspensi dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:

1. Penghalusan fase terdispersi


a. Mikropulverisasi
Untuk menghasilkan bubuk obat yang halus dengan ukuran ± 10 – 50 μ.
b. Energi cair / Jet Milling / Micronizing
Untuk memperoleh partikel dengan ukuran kurang dari 10 μ. Metode ini dapat
digunakan bagi partikel-pertikel yang dimaksudkan untuk suspensi parenteral
atau obat mata.
c. Spray drying
d. Secara mekanik, yaitu dengan menggunakan lumpang dan alu

2. Pencampuran fase terdispersi dalam medium dispers.


a. Metode pengendapan
- Penambahan pelarut organik (yang larut dalam air)
- Perubahan pH medium (untuk obat yang kelarutannya dipengaruhi oleh
pH)
- Reaksi kimia

b. Metode dispersi
Hanya dilakukan jika pertikel obat / padat bersifat hidrofil.Serbuk yang
terbagi harus didispersi didalam cairan pembawa.

3. Stabilisasi
a. Meningkatkan viskositas
b. Pembentukan partikel terflokulasi

4. Homogenisasi

8
II.5 Evaluasi Sediaan Suspensi
Untuk memenuhi kriteria sediaan suspensi, maka dilakukan beberapa evaluasi antara
lain:

1. Uji organoleptis, meliputi:


Warna : menggunakan mata

Bau : menggunakan hidung

Rasa : menggunakan lidah

2. Pemeriksaan pH
Pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan kertas indikator yang
dicelupkan kedalam larutan suspensi kemudian dibandingkan dengan pH pada
monografi.

3. Berat jenis
Pemerikaan berat jenis dengan menggunakan piknometer, caranya:

a. Timbang piknometer kosong, kemudian isi dengan air dan timbang lagi. Hitunh
selisih maka didapat berat air.
Wair = Wpiknometer + air - Wpiknometer

b. Timbang lagi piknometer kosong dan kering, kemudian isi dengan susupensi
obat dan timbang kembali. Hitung selisih antara piknometer kosong dengan
piknometer + suspensi, maka didapat berat suspensi:

W suspensi = Wpiknometer + suspensi - Wpiknometer

Bj suspensi = M = Wsuspensi

V Wair

9
4. Kekentalan (viscositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari
cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil).
Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya
partikel yang terdapat didalamnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas
cairan gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tetapi perlu
diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang.

5. Uji Volume Terpindahkan


Tujuannya adalah sebagai jaminan bahwa larutan oral yang dikemas dalam
wadah dosis ganda, dengan volume yang tertera di etiket tidak lebih dari 250 ml, jika
dipindahkan dari wadah asli akan memberikan volume sediaan seperti tertera di etiket.
Prinsip : mengukur kesesuaian volume sediaan dengan yang tertulis pada etiket jika
dipindahkan dari wadah asli.

6. Volume Sedimentasi
Tujuannya adalah untuk melihat kestabilan suspensi yang dihasilkan. Prinsip :
Perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan volume asal (Vo) sebelum
terjadi pengendapan. Semakin besar nilai Vu atau nilai F=1 atau mendekati 1, semakin
baik suspendibilitasnya dan kurva yang terbentuk antara F terhadap waktu
membentuk garis yang horisontal atau sedikit curam. Bila F>1 terjadi flok sangat
longgar dan halus maka perlu zat tambahan.

10
BAB III

METODOLOGI

Tujuan praktikum :

Mahasiswa dapat menjalankan alat untuk setiap tahap pembuatan dan pengujian
sediaan suspensi.

Alat :

1. Timbangan Digital
2. Mortar & stamfer
3. Sendok tanduk
4. Gelas ukur
5. Botol coklat
6. Viscometer Brockfield
7. Indikator pH

Bahan :

1. Kloramphenicol palmitat
2. CMC- Na
3. Sorbitol
4. Na Benzoat
5. Glukosa
6. Pasta Melon
7. Aquadestilata

11
PERUMUSAN KARAKTER SEDIAAN
Kelompok :5

Nama Produk : Kloraf®

Jenis Sediaan : Suspensi

No. Parameter Satuan Spesifikasi Sediaan Syarat Farmakope Syarat Lain


Yang Akan Dibuat

1 Warna Kuning Tidak berwarna

2 Rasa Manis Tidak berasa

3 Bau Jeruk Tidak berbau

4 Homogenitas Homogen, sediaan Homogen


berwarna kuning
kental karena ada
bahan yang terdispersi

5 pH 6,5 Antara 4,5-7,0

6 Viskositas Cp 2000 cp 1000 cp – 3000 cp

7 Bentuk Sediaan Suspensi Suspensi

8 Laju pengendapan ≈0 ≈0

9 Sifat alir Pseudoplastis, Pseudoplastis, Plastis,


Tiksotropik Tiksotropik.

10 Ukuran Partikel µm 1-100 µm 1-100 µm

11 Kestabilan

- Kimia - Zat aktif yang - Zat aktif yang


terkandung masih terkandung masih
sama keadaannya sama keadaannya
seperti yang seperti yang
diformulasikan. diformulasikan.

- Tidak terbentuk cake - Tidak terbentuk cake


- Fisik dan penampilan baik. dan penampilan baik.

- Tidak ditumbuhi - Tidak ditumbuhi

12
- Mikroorganisme mikroorganisme mikroorganisme

12 Kadar Bahan Obat mg 125 mg/5 ml (2,5%) Sekali : 250 mg-500


dalam Sediaan mg

Sehari : 1 g-2 g

13 Indikasi Pengobatan infeksi Pengobatan infeksi


mikroba mikroba

14 Cara Pemakaian Oral Oral

15 Volume ml 100 ml

16 Wadah Botol kaca coklat Wadah tertutup rapat

17 Aturan Pakai Dewasa : Anak 1-5 tahun : 30ml


3 - 4 kali sehari 1 – 60ml/hari
sendok makan
Anak 6-12 tahun : 60
Anak - anak : ml – 120 ml
4 kali sehari satu
sendok makan

18 Penandaan Brosur - Nama sediaan Pada Etiket tertera


- Kadar bahan aktif sesuai monografi

dalam volume 100 ml


- Cara Pemakaian
- Tanggal Kadaluarsa
- Nama Pabrik
- No Batch
- Indikasi
- Cara Penyimpanan
- Kocok Dahulu
- Logo lingkaran
merah

13
FORMULIR PEMECAHAN MASALAH

Alternatif pemecahan Masalah

No. Rumusan Komponen Proses Pengawasan Mutu Keputusan


Masalah

1. Mengubah
1 Memilih bahan Metode dispersi Uji Homogenitas Penggunaan
bahan
. padat pembawa yang aquadest sebagai zat
menjadi sediaan sesuai dengan pembawa yang
cair kelarutan : sesuai
aquadestillata

2. Bahan bersifat Sorbitol Digunakan sorbitol


hidrofob, dimana untuk menurunkan
akan tegangan antarmuka
mengambang
pada permukaan
air. Sehingga
diperlukan zat
pembasah untuk
menurunkan
tegangan
antarmuka

3. Dapat
3 terbentuk - Meningkatkan Memperkecil Uji Bj - Meningkatkan
caking
. atau viskositas ukuran partikel viskositas
sedimentasi dengan dengan cara Uji Viskositas dengan
penggerusan
penambahan penambahan
bahan
suspending suspending agent
agent yaitu CMC Na
- Memperkecil - Memperkecil
selisih berat ukuran partikel
jenis dengan dengan cara
penambahan penggerusan atau
bahan yang di haluskan
larut dalam air - Pengecilan BJ
seperti dengan
suspending penambahan
agent suspending agent
yaitu CMC Na
4. Sifat
4 Alir yang Penggunaan Uji Homogenitas Digunakan CMC Na
diinginkan
. polimer hidrofilik sebagai polimer

14
pseudoplastis hidofilik
dan tiksotropik

5. Mikroba
5 dapat  Na Penambahan Digunakan Na
tumbuh
. karena Benzoat bahan pengawet Benzoat
pembawanya
adalah air

6. Kloramfenikol  Sukrosa Penambahan Uji Homogenitas Ditambahkan


memiliki rasa  Glukosa corigen saporis Glukosa untuk
pahit  Perisa buah menutupi rasa pahit ,
dan ditambah pasta
jeruk untuk
menambah rasa pada
suspensi.

7. Stabilitas zat Wadah Penyimpanan Penyimpanan


aktif kurang baik terlindung dari
terhadap cahaya cahaya dan
menggunakan botol
coklat.

8. Penandaan  Komposisi Penulisan pada Penandaan yang


Brosur sediaan kemasan, Etiket tertera pada brosur
suspensi dan Brosur mencakup dari
 Indikasi monografi yang ada,
 Kontra logo penandaan
Indikasi berdasarkan jenis zat
 Efek Samping bahan aktif.
 Dosis Kloramfenikol
 Cara Palmitat termasuk
Penyimpanan golongan antibiotik
 No. Produksi yang merupakan
 Tanggal obat keras atau
Kadaluarsa diperoleh dengan
 Nama Pabrik menggunakan resep
Produksi dokter.
 Logo
Penandaan
jenis obat

15
FORMULIR PENCATATAN PENGAMATAN BAHAN
Bahan Aktif : Kloramfenikol Palmitat

No Parameter Data Literatur


1. Pemerian Serbuk hablur halus, licin;putih;bau FI III hal, 145
lemah;rasa tawar
2. Kelarutan  PTL dalam air FI III hal, 145
 L dalam 45% bagian etanol 95%
 1 : 14 dalam eter
 1 : 6 dalam kloroform
3. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik, terlindung FI III hal, 145
dari cahaya
4. Kegunaan Antibiotik FI III hal, 145
5. Stabilitas Kloramfenikol palmitat harus terlindung Martindale 36 hal
dari cahaya 239

6. Farmakologi FI III hal. 145 dan


 Indikasi Antibiotik Martindale ed. 28 hal
 Dosis lazim anak Anak 1-5 tahun : 30ml – 60ml/hari 1141
Anak 6-12 tahun : 60ml – 120ml

7. Inkompatibilitas Inkompatibel dengan senyawa berikut:


aminophylline,ampicillin, asam askorbat,
kalsium klorida, sediumkarbesilin,
klorpromazin HCl, garam
erythromycin,gentamicin sulfat,
hydrocortisone, sodium sukinat,
TPC 1994 hal 789
hydroxyzine HCl, methicillin sodium,
oxytetraphate, garam prochlorperazin,
promazine HCl, promethazine
HCl,sulphafurazole diethanolamine,
tetracycline HCl,tripelennamine HCl,
vitamin B complex

Suspending Agent : CMC Na. ( Carboxy Methyl Cellulosum Natrium )

No Parameter Data Literatur


1. Pemerian Serbuk granul, putih, krem, higroskopik FI IV hal 175
2. Kelarutan Mudah terdispersi dalam air, PTL dalam FI IV hal 175
aseton, eter dan toluene
3. pH Larutan 7–9 FI IV hal 175
4. Stabilitas Higroskopik dan dapat menyerap air pada FI IV hal 175
kelembapan tinggi
5. Inkompatibilitas Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan FI IV hal 175

16
dengan larutan garam dari beberapa logam,
pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat
pencampuran
6. Kegunaan Suspending agent; stabilizing agent;water FI IV hal 175
absorbing agent

Bahan Pengawet : Natrium Benzoat ( FI IV hal.584, Excipient hal.433)


No. Parameter Data
1. Pemerian Granul atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau
praktis tidak berbau, stabil di udara
2. Kelarutan Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol,
lebih mudah larut dalam etanol 90 %.
4. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
6. Konsentrasi 0,02 – 0,5 %.
7. Indikasi Sebagai pengawet/ antimikroba.
8. Stabilitas -
9 OTT : Tidak bercampur dengan komponen kuarterner,
gelatin, garam Ferri, garam kalsium, dan garam logam
berat termasuk perak, timah dan merkuri, aktivitas
pengawer dapat berkurang dengan adanya interaksi
dengan kaolin atau surfaktan non-ionik.

Pemanis : Glukosa

No Parameter Data Literatur


1. Pemerian Hablur tidak berwarna, serbuk hablur, FI III hal 268
atau putih; tidak berbau; rasa manis.
2. Kelarutan Mudah larut dalam air dan sangat mudah FI III hal 268
larut dalam air mendidih; agak sukar larut
dalam etanol 95% mendidih; tidak larut
dalam kloroform dan dalam eter.
3. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik FI III hal 268
4. Kegunaan Bahan pemanis FI III hal 268
5. Stabilitas - Terhadap cahaya : Tidak stabil terhadap
sinar γ pada proses sterilisasi.
Martindale,28th ed,
- Terhadap suhu : tidak stabil pada
1982
pemanasan suhu tinggi dan lama
(terjadi penurunan pH dan

17
karamelisasi); Penyimpanan pada suhu
< 25oC.
- Terhadap pH : tidak stabil (terurai
menjadi 5-hidroksi metil furfural pada
pH basa).Injeksi glukosa stabil pada
PH 3.5 – 6.5
- Terhadap oksigen : Tidak stabil.

Bahan Pembasah : Sorbitol

No Parameter Data Literatur


1. Pemerian Serbuk, butiran atau kepingan ; putih ; FI IV hal 567
rasa manis ; higroskopik
2. Kelarutan Sangat mudah larut dalam air; sukar larut FI IV hal 567
dalam etanol (95%) P; dalam asam asetat
p dan metanol P .
3. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat FI IV hal 567
4. Kegunaan Bahan pembasah dan anti caplocking FI IV hal 567
5. Stabilitas Dapat bercampur dengan kebanyakan Handbook of
bahan tambahan, stabil di udara, keadaan Pharmaceutical
dingin dan asam basa encer. Excipient Edisi 6 hal.
679
6. Inkompatibilitas Ion logam divalent dan trivalent dalam Handbook of
asam kuat dan suasana basa. Pharmaceutical
Excipient Edisi 6 hal.
679

Bahan Pembawa : Aquadestillata ( Air Suling )

No Parameter Data Literatur


1. Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak FI III, hal.96
berbau, tidak berasa
2. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik FI III, hal.96
3. Kegunaan Bahan pembawa FI III, hal.96
4. Stabilitas Air secara kimia stabil di semua keadaan Handbook of
fisiknya (cair, es dan uap). Pharmaceutical
Excipients, Ed 6 hal
766
5. Inkompatibilitas Dalam formulasi farmasetika, air dapat
bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien
lain yang rentan terhadap hidrolisis
terdekomposisi dengan adanya logam Handbook of
alkali dan bereaksi cepat dengan alkali Pharmaceutical
tanah dan oksidasinya seperti kalsium Excipients, Ed 6 hal
oksida dan magnesium oksida. Air juga 766
bereaksi dengan garam-garam anhidrat
menjadi garam-garam hidrat dengan
komposisi yang bervariasi dan dengan

18
beberapa bahan organik dan kalsium
karbida.

19
KOMPONEN UMUM SEDIAAN

Volume Suspensi yang akan dibuat : 500 ml

Zat aktif : Kloramfenikol palmitat

Fungsi Pemakaian Penimbangan


(farmakologis/ Lazim (%) Bahan
Nama Bahan
farmasetik) (500 ml)
No.

1 Kloramfenikol Antibiotik 125 mg/ 5 ml


Palmitat

Perhitungan : 12,5 gram


125mg/5 ml x 500
ml = 12500mg

2 CMC Na Suspending 0,5 – 2,5 %


Agent

Perhitungan : 10 gram
2/100 x 500 ml =
10 gram

3 Glukosa Pemanis 15 %

Perhitungan : 2,5 gram


15/100 x 500 ml =
75gram

4 Na benzoat pengawet 0.02 – 0.5 %

Perhitungan :
0,1/100 x 500ml = 0,5 gram
0,5 gram
4 Pasta Melon Perasa 15 tetes 15 tetes

20
5 Sorbitol Bahan 3 – 5%
pembasah
Perhitungan :
4/100 x 500 ml =
20 gram 2,5 gram

6. Aquadestillata Pembawa Ad 500 ml Ad 500 ml

21
PROSEDUR TETAP PEMBUATAN SEDIAAN

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Penanggung
Prosedur Tetap
jawab

I. Persiapan
1.1 Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
1.2 Timbang bahan.

II. Kegiatan produksi


1. Pengecilan ukuran partikel bahan obat
2. Pembasahan (wetting agent) bahan obat
3. Pelarutan bahan tambahan
4. Pembuatan suspending agent
5. Pendispersian bahan aktif dan larutan suspending agent
6. Pengukuran volume akhir sediaan
7. Pengisian ke dalam botol
8. Pengemasan
9. End proses control

22
IK PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disetujui oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat-alat yang akan digunakan dan bersihkan terlebih dahulu


alat-alat yang akan digunakan
2. Siapkan bahan-bahan yang akan digunakan
3. Kalibrasi botol yang akan digunakan sebagai wadah sediaan

23
IK PENIMBANGAN BAHAN

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disetujui oleh : Hari .............dari ..........hal


.........

Tanggal : Tanggal : Tanggal :


No. / /

Instruksi kerja Operator Spv

Cara kerja

1. Timbang masing-masing bahan

Nama bahan Fungsi bahan Jumlah Yang


seharusnya ditimbang
+ 0,05
1. Kloramfenikol Zat aktif 12,5 g
Palmitat
2. CMC Na Suspending 10 g
agent

3. Glukosa Corigen 2,5 g


saporis

4. Na benzoat pengawet 0,5 g

5. Pasta jeruk Perasa 15 tetes

6. Sorbitol Wetting agent 2,5 g

7. Aquadestillata Pembawa Ad 500 ml Ad 500 ml

2. Masukkan bahan pada masing-masing wadah

24
IK PENGECILAN UKURAN PARTIKEL BAHAN OBAT

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan.


2. Masukkan kloramfenikol palmitat yang telah ditimbang ke dalam
mortir
3. Gerus hingga halus dan homogen
4. Ayak dengan ayakan mesh 100
5. Jika ada serbuk yang belum lolos, gerus kembali
6. Timbang serbuk yang sudah dihaluskan
7. Jika serbuk kurang dari bobot yang seharusnya, ulangi langkah dari
penimbangan

25
IK PEMBASAHAN BAHAN OBAT

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Tambahkan sorbitol pada kloramfenikol yang telah dihaluskan
3. Gerus hingga homogen

26
IK PELARUTAN BAHAN TAMBAHAN

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Masukkan glukosa yang telah ditimbang ke dalam beaker glass
3. Tambahkan 10ml air, aduk hingga homogen (M1)
4. Masukkan Na Benzoat yang telah ditimbang ke dalam beaker glass
5. Tambahkan 10ml air, aduk hingga homogen (M2)

27
IK PEMBUATAN SUSPENDING AGENT

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Kembangkan CMC Na di dalam 200ml air panas, tunggu hingga
mengembang.
3. Setelah mengembang gerus hingga halus dan homogen.

28
IK PENDISPERSIAN LARUTAN SUSPENDING AGENT

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Masukkan larutan suspending agent ke dalam bahan aktif yang telah
dilakukan pembasahan sedikit demi sedikit, gerus sampai homogen
3. Tambahkan M1, gerus samapai homogen
4. Tambahkan M2, gerus sampai homogen
5. Tambahkan pasta jeruk 15 tetes, gerus samapi homogen (M3)

29
IK PENGUKURAN VOLUME AKHIR SEDIAAN

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Masukkan M3 ke dalam beaker glass
3. Tambahkan air ke dalam beaker glass ad 500ml

IK PENGISIAN KE DALAM BOTOL DAN PENGEMASAN


Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh : Hal .....dari.....hal..........

Tanggal : Tanggal : Tanggal : No : / /

Instruksi Kerja Operator SPV

Cara kerja

1. Masukkan Suspensi kedalam wadah botol yang sudah di kalibrasi


sampai tanda batas.
2. Tutup botol.
3. Botol diberi penandaan.
4. Masukkan botol, dan brosur kedalam kemasan dus.

30
IK EVALUASI SEDIAAN SUSPENSI
( End Process Control )
Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disusun Hari
oleh : .............dari
..........hal
Tanggal : Tanggal : .........
Tanggal :

No. /
/
Instruksi kerja Operator SPV

31
1) UJI ORGANOLEPTIK
Tujuan: Memeriksa kesesuaian warna, bau, rasa dan melihat
pemisahan fase pada suspensi di mana sedapat mungkin mendekati
dengan spesifikasi sediaan yang telah ditentukan selama formulasi.
Prinsip: pemeriksaan bau, rasa, warna dan pemisahan fase
menggunakan panca indera.
Cara kerja :
1. Ambil sejumlah Suspensi, cium bau yang ada
2. Ambil sejumlah Suspensi, rasakan Suspensi yang ada
3. Ambil sejumlah Suspensi, amati warna Suspensi yang ada

Hasil:
Bau Berbau
Warna Hijau Muda
Rasa Manis

2). PENETAPAN PH (FI IV hal 1039-1040)


Alat : pH meter
Tujuan : mengetahui pH sediaan sesuai dengan persyaratan yang
telah ditentukan
Prinsip : pengukuran pH cairan uji menggunakan pH Universal
Cara kerja :
1. Uji Suspensi dengan pH Universal
2. Catat Hasil Pengamatan pH Suspensi
Hasil:
pH = 6

3). PENETAPAN BOBOT JENIS CAIRAN ( FI IV hal 1030)


Tujuan : menjamin sediaan memiliki bobot jenis untuk spesifikasi
produk yang akan dibuat
Prinsip : Membandingkan bobot zat uji di udara terhadap bobot air
dengan volume dan suhu yang sama
Cara kerja :
1. Gunakan piknometer yang bersih dan kering
2. Timbang piknometer kosong (w1)
3. Isi dengan air suling dan timbang (w2)
4. Buang air suling tersebut

32
5. Keringkan piknometer lalu isi dengan cairan yang akan diukur BJ
nya dan timbang.
6. Hitung dengan rumus:
𝑤3−𝑤1
Dt= 𝑤2−𝑤1

Penafsiran Hasil :
Hitung bobot jenis cairan dengan rumus :
dt = w3 – w1
w2 – w1
Keterangan : dt = bobot jenis pada suhu t
w1 = bobot piknometer kosong
w2 = bobot piknometer + air suling
w3 = bobot piknometer + cairan
20,46 𝑔−10,3 𝑔
Dt = 20,15 𝑔−10,35 𝑔 = 1, 032 g

4). UJI VOLUME TERPINDAHKAN (FI IV hal 1089)


Tujuan: Sebagai jaminan bahwa larutan oral yang dikemas dalam
wadah dosis ganda, dengan volume yang tertera di etiket tidak lebih dari
250 ml, jika dipindahkan dari wadah asli akan memberikan volume
sediaan seperti tertera di etiket.
Prinsip : mengukur kesesuaian volume sediaan dengan yang tertulis
pada etiket jika dipindahkan dari wadah asli
Cara kerja :
1. Tuang kembali Suspensi kedalam gelas ukur, lihat hasilnya
apakah sesuai dengan Volume sebelumnya / Volume yang
ditentukan
2. Tulis hasil pengamatan pada Tabel

Penafsiran hasil:
a. Volume rata-rata campuran larutan atau sirup yang diperoleh
dari 10 wadah tidak kurang dari 100%, dan
b. Tidak satupun volume wadah kurang dari 95% dari volume pada
etiket.
c. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100% dari yang
tertera pada etiket akan tetapi tidak satu wadah pun volumenya
kurang dari 95% atau B adalah tidak lebih dari 1 wadah, volume
kurang dari 95% tetapi tidak kurang dari 90% volume

33
tertera pada etiket  dilakukan uji tambahan terhadap 20 wadah
tambahan.
Persyaratan: Volume rata-rata larutan atau sirup yang diperoleh dari
30 wadah tidak kurang dari 100% dari yang tertera di etiket, dan
tidak lebih dari 1 dari 30 wadah volume kurang dari 95% tetapi
tidak kurang dari 90% dari yang tertera di etiket
Volume Sediaan Kriteria Hasil Pengamatan

100 ml - 100ml

100ml 100ml

5). PENETAPAN VISKOSITAS DAN SIFAT ALIR DENGAN


VISKOMETER BROOKFIELD (Modul Praktikum Farmasi Fisika
2002, hal 17-18 )
Tujuan : menentukan viskositas dan rheologi cairan newton maupun
non newton
Prinsip : pengukuran dilakukan menggunakan viskosimeter Brookfield
pada beberapa harga kecepatan geser.
Cara kerja penetapan viskositas dan uji sifat alir :
1. Dilakukan dengan menggunakan Viskositas Brook Field Kriteria :
Viskositas Suspensi (1000 – 3000 cps)
2. Alat dan Bahan : Vislositas Brook Field dan suspense
3. Menentukan harga dengan Viskometer Brook Field
4. Rumus : Dial Reading x Faktor = Viscosty in centripoise
5. Pasang Spindel dengan Logam Spindel
6. Turunkan Spindel sedemikian rupa sehingga bataas spindle
tercelup kedalam cairan yang akan siukur viskositasnya
7. Pasang stop kontak
8. Nyalakan motor sambil menekan tombol
9. Biarkan spindle berputar dan lihatlah merah pada skala
10. Bacalah angka yang ditunjukkan oleh jarum tersebut
11. Untuk menghitung Viskositas maka angka pembacaan di X
factor
12. Dengan mengubah rpm maka didapat viskositas pada berbagai
ukuran

34
Penafsiran hasil :
Dibuat kurva antara kecepatan geser (rpm) dan usaha (dyne cm) yang
dibutuhkan untuk memutar spindel.Usaha dihitung dengan mengalikan
angka yang terbaca pada skala dengan 7,187 dyne cm (untuk viskometer
Brookfield tipe RV)

Spindel= 2
RPM = 3
Faktor = 100
DR = 6,5

Viskositas : 6,5 x 100 = 650 cp

Rpm Dial Reading Faktor Viskositas F = DR x 7,187

0,3 0,5 1000 500 3,5935


0,6 1 500 500 7,187
1,5 2 200 400 14,374
3 3 100 300 21,561
6 3 50 150 21,561
12 3 25 75 21,561
6 3 50 150 21,561
3 2,5 100 250 17,9675
1,5 2 200 400 14,374
0,6 1 500 500 7,187
0,3 0,5 1000 500 3,5935

Gambar Kurva

KURVA SIFAT ALIR


25

20
F (GAYA)

15

10

0
0.3 0.6 1.5 3 6 12
RPM

35
6). VOLUME SEDIMENTASI ( Disperse System vol II 1989, hal.303)
Tujuan : Melihat kestabilan suspensi yang dihasilkan
Prinsip : Perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan
volume asal (Vo) sebelum terjadi pengendapan
Cara kerja :
1. Ambil Suspensi 200 ml
2. Masukkan kedalam gelas ukur
3. Catat tinggi awal Volume endapan, volume endapan pada waktu
tertentu
4. Laju sedimentasi : Hu (Volume endapan waktu tertentu)
Ho (Volume endapan awal)

Hasil : Semakin besar nilai Vu atau nilai F=1 atau mendekati 1, semakin
baik suspendibilitasnya dan kurva yang terbentuk antara F terhadap
waktu membentuk garis yang horisontal atau sedikit curam. Bila F>1
terjadi flok sangat longgar dan halus maka perlu zat tambahan
Volume Awal Volume Waktu Laju Sedimentasi
Tertentu
1. 100ml 100ml
2. 100 ml -
3. 100 ml 80 ml

𝑉𝑢 80 𝑚𝑙
Pengujian selama 3 hari F = 𝑉𝑜 = 100 𝑚𝑙 = 0,8

36
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1 Hasil Pembuatan Sediaan Suspensi Kloramfenikol Palmitat

Praktikum ini bertujuan agar praktikan mampu menentukan formulasi yang tepat
dengan bahan aktif Kloramfenikol Palmitat serta mampu mengevaluasi hasil sediaan yang
telah dibuat. Pada praktikum ini, sediaan yang dibuat adalah sediaan dalam bentuk suspensi.
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang
terdispersi ke dalam fase cair (Syamsuni, 2006). Penggunaan sediaan suspensi ini dibuat
untuk oral. Yang dimaksud dengan suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma
yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral (Syamsuni, 2006). Sediaan suspensi
mempunyai keuntungan (RPS ed. 18 vol. 3 hlm. 1538-1539) seperti:
1. Baik digunakan untuk pasien yang sukar menerima tablet atau kapsul, terutama anak-
anak
2. Homogenitas tinggi
3. Lebih mudah diabsorbsi daripada tablet atau kapsul (karena luas permukaan kontak
antara zat aktif dan saluran cerna meningkat)
4. Dapat menutupi rasa tidak enak atau pahit obat
5. Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.

Masalah yang dihadapi dalam pembuatan suspensi salah satunya yaitu cara untuk
memperlambat pengendapan partikel dan menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi stabilitas suspensi (Syamsuni, 2006) adalah:

1. Ukuran partikel,
2. Kekentalan (viskositas),
3. Jumlah partikel (konsentrasi),
4. Sifat atau muatan partikel dan
5. Bahan pensuspensi dari alam.

Sediaan ini dibuat suspensi karena bahan aktifnya tidak larut dalam air (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Kloramfenikol merupakan zat/bahan aktif yang

37
digunakan untuk pemakaian luar dan rasanya pahit (Depkes, 1995) maka kloramfenikol
diambil yang bentuk kloramfenikol palmitat dimana pemerian dari bahan aktifnya itu tidak
berasa (Depkes, 2014). Karena kloramfenikol palmitat tidak berasa dan dapat mengurangi
akseptabilitas (penerimaan) pasien, maka ditambahkan pemanis glukosa pada sediaan agar
rasa pahit hilang juga dapat meningkatkan akseptabilitas pasien. Sediaan suspensi ini
disimpan dalam jangka waktu lama sebagai multiple dose, maka dari itu dalam proses
pembuatannya harus ditambahkan pengawet. Pengawet yang digunakan adalah Na benzoate.

Selain itu, perlu adanya eksipien (zat tambahan) seperti suspending agent (CMC Na)
untuk memperlambat sediaan, mencegah penurunan pengendapan partikel dan mencegah
penggumpalan resin serta bahan berlemak. Kemudian untuk menurunkan tegangan
permukaan bahan dengan air (sudut kontak) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak
larut, maka ditambahkan eksipien berupa wetting agent (sorbitol) untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Warna dari sediaan harus dibuat lebih menarik agar dapat
meningkatkan akseptabilitas pasien, maka ditambahkan colouring agent (pasta melon) untuk
mengatasi permasalahan tersebut. Bahan aktif pada sediaan ini harus terlindung dari cahaya,
maka dari itu perlu adanya penggunaan botol coklat.

Pada pembuatan sediaan suspensi ini, terdapat eksipien-eksipien yang ditambahkan


seperti glukosa sebagai pemanis. Glukosa digunakan dalam formula ini karena tidak
inkompatibel dengan kloramfenikol. Kemudian Na benzoat digunakan sebagai pengawet
untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme. Sorbitol sebagai wetting agent ditambahkan
karena kerja dari eksipien ini dapat menurunkan tegangan permukaan dari larutan sehingga
partikel kloramfenikol lebih mudah di dispersikan dalam larutan. CMC Na digunakan sebagai
suspending agent karena sangat umum digunakan pada pembuatan suspensI.

Sebelum pembuatan suspensi, botol dan beaker glass yang digunakan dikalibrasi
terlebih dahulu selanjutnya suspensi di buat. Setelah pembuatan suspensi selesai, dilakukan
evaluasi apakah sediaan yang dibuat memenuhi syarat suspensi atau tidak. Evaluasi pertama
yaitu organoleptik. Dimana sediaan memiliki rasa yang manis dengan bau melon dan warna
hijau. Evalusi kedua yaitu pengukuran pH, pH yang didapat saat sediaan sudah jadi adalah 6.
pH ini sesuia dengan persyaratan Farmakope yaitu antara 4,5-7. Evalusi ketiga yaitu volume
terpindahkan dari satu botol sediaan. Volume terpindahkan dari sediaan sebesar 100mL,
dimana volume yang didapat ini tidak kurang dari 100%. Dari uji keseragaman volume
didapatkan hasil yang memenuhi syarat. Bobot jenis sebagai evaluasi ke empat di dapat

38
sebesar 1,032g/ml. Selanjutnya evaluasi viskositas dengan menggunakan Viscosmeter
Brookfield. Uji ini dilakukan untuk mengetahui kekentalan dari sediaan larutan yang dibuat
mengunakan viskmeter Brookfield dengan spindel 2 dan rpm 3.Dan didapatkan skala sebesar
6,5. Untuk menentukan viskositasnya maka skala dikalikan dengan faktor (100) sehingga
didapatkan hasil viskositas sebesar 650 cP. Kemudian evaluasi sifat alir dari sediaan
dilakukan menggunakan viskometer brookfield dengan cara menaikkan rpm lalu
menurunkannya kembali, yaitu sebagai berikut 0.3, 0.6, 1.5, 3, 6, 12, 6, 3, 1.5, 0.6, 0.3 lalu
dari hasilnya tersebut dicarilah F (gaya) dihitung dengan mengalikan skala yang terbaca
dengan 7,187 dyne cm. Setelah didapatkan hasilnya dbuatlah kurva/grafik antara kecepatan
geser (rpm) dengan gaya, dari grafik yang telah dibuat dan disimpulkan bahwa sifat alir yang
didapatkan adalah psseudoplastis dan tiksotropik. Dikatakan tiksotropik karena grafik yang
terbentuk aling berhimpitan. Untuk homogenitasnya dilakukan dengan mengoleskan sediaan
diatas lalu diamati persebaran dari ukuran partikelnya dan hasilnya adalah distribusi partikel
terlihat merata di setiap bagiaan. Selanjutnya adalah evaluasi untu volume sedimentasi,
dilakukan dengan memasukkan sediaan ke dalam gelas ukur sebanyak100 mL lalu diamati
volume endapan yang terbentuk selama 3 hari. Setelah pengamatan selama 3 hari didapatkan
volume sedimentasi sebesar 80 mL lalu dihitung nilai F dan didappatkan hasil sebesar F = 0,8
hasil ini mendekati 1, yang dapat disimpulkan bahwa uspensi merupakan suspensi yang baik
karena jika F > 1 maka akan terjadi flok yang sangat longgar dan halus. Dari pengamatan
volume sedimentasi selama 3 hari sedimentasi yang terbentuk terjadi secara lambat hal ini
memungkinkan terjadinya peristiwa deflokulasi akan tetapi bukan berarti deflokulasi
seluruhnya memungkinkan hanya sebagiannya saja.

39
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

Diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami tentang sediaan suspensi, penggunaan


zat tambahan beserta teknik cara pembuatannya, agar dapat dihasilkan suspensi dengan hasil
yang lebih baik.

40

Anda mungkin juga menyukai