Anda di halaman 1dari 6

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor : P.65/Menhut-II/2014
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR
P.11/MENHUT-II/2009 TENTANG SISTEM SILVIKULTUR DALAM
AREAL IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU
PADA HUTAN PRODUKSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 34 ayat (2) dan Pasal 38 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta
Pemanfaatan Hutan sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 telah
ditetapkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikultur Dalam
Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada
Hutan Produksi;
b. bahwa berdasarkan hasil evaluasi dan untuk lebih
menjamin kepastian berusaha, terhadap ketentuan huruf
a perlu dilakukan perubahan;
c. bahwa b e r d a s a r k a n p e r t i m b a n g a n sebagaimana
dimaksud huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Kehutanan T e n t a n g P e r u b a h a n
Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.11/Menhut-II/2009 Tentang Sistem Silvikultur dalam
Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada
Hutan Produksi;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49;
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3419);
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-
Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 No. 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412);

/3. Undang-Undang….
-2-

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059);
6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 Tentang
Perencanaan Kehutanan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 146, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4452);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta
Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4696) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4814);
9. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 Tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014;
10. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 Tentang
Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan
Presiden Nomor 50/P Tahun 2014;
11. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-
II/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kehutanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 405) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2012 (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 779);
12. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.54/Menhut-
II/2014 Tentang Kompetensi dan Sertifikasi Tenaga Teknis
Dan Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi
Lestari (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 1227);
/MEMUTUSKAN…

-3-

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERUBAHAN
ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR
P.11/MENHUT-II/2009 TENTANG SISTEM SILVIKULTUR
DALAM AREAL IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN
KAYU PADA HUTAN PRODUKSI.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor


P.11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikuktur Dalam Areal Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Produksi, diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 diubah dan ditambah 5 (lima) angka baru yakni angka
10, angka 11, angka 12, angka 13 dan angka 14, sehingga keseluruhan
Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1
Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan :
1. Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
2. Hutan Alam Primer (Virgin Forest) adalah Hutan Alam yang masih utuh
yang belum dilakukan kegiatan pengusahaan hutan atau pemanfaatan
hutan.
3. Hutan Bekas Tebangan (Logged Over Area) adalah Hutan Alam yang
telah mengalami perubahan komposisi dan struktur vegetasi aslinya
akibat kegiatan pengusahaan hutan atau pemanfaatan hutan.
4. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam yang
selanjutnya disingkat IUPHHK-HA adalah izin usaha yang diberikan
untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dalam hutan alam
pada hutan produksi melalui kegiatan pemanenan atau penebangan,
pengayaan, pemeliharaan, dan pemasaran.
5. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman
Industri yang selanjutnya disingkat IUPHHK-HTI adalah izin usaha
yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu pada
hutan produksi melalui kegiatan penyiapan lahan, pembibitan,
penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran.
6. Silvikultur adalah ilmu dan seni memanipulasi faktor klimatis dan
edafis untuk mengontrol pembentukan tegakan, pertumbuhan,
komposisi, struktur dan kualitas hutan sesuai dengan tujuan
pengelolaannya.
7. Sistem Silvikultur adalah rangkaian kegiatan sejak tahap permudaan,
pemeliharaan dan pemungutan hasil yang dirancang secara sistematis
dan dipraktekkan secara langsung pada suatu tegakan sepanjang
siklus hidupnya guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil
hutan lainnya.

/8. Teknik …..


-4-

8. Teknik Silvikultur adalah suatu metode atau cara dalam memberikan


perlakuan terhadap tegakan hutan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan, yaitu untuk mempertahankan atau meningkatkan
produktivitas hutan. Perlakuan diberikan baik pada tahap permudaan,
pemeliharaan maupun pemungutan hasil.
9. Multi Sistem Silvikultur (MSS) adalah penerapan lebih dari satu sistem
silvikultur dalam satu periode rencana kerja usaha pemanfaatan hasil
hutan kayu (RKUPHHK) dalam rangka meningkatkan produktivitas
hasil hutan serta meningkatkan nilai finansial dan ekonomi
pemanfaatan/pengusahaan hutan.
10. Menteri adalah menteri yang diserahi tugas dan tangung jawab di
bidang kehutanan.
11. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang diserahi tugas dan
tanggung jawab di bidang Bina Produksi Kehutanan.
12. Dinas Provinsi adalah Dinas yang diserahi tugas dan tanggung jawab di
bidang kehutanan di Provinsi.
13. Dinas Kabupaten/Kota adalah Dinas yang diserahi tugas dan
tanggung jawab di bidang kehutanan di Kabupaten/Kota.
14. Balai adalah Balai yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang
pemantauan pemanfaatan hutan produksi.
2. Ketentuan Pasal 4 ayat (4) diubah dan setelah ayat (4) ditambahkan 1
(satu) ayat baru, yakni ayat (5), sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi
sebagai berikut :
Pasal 4
(1) Sistem silvikultur tegakan tidak seumur sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b, dilakukan melalui tebang pilih :
a. Individu;
b. Kelompok;
c. Jalur.
(2) Sistem silvikultur tebang pilih individu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, dilaksanakan dengan Tebang Pilih Tanam
Indonesia (TPTI).
(3) Sistem silvikultur tebang pilih kelompok sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b, dilaksanakan dengan Tebang Rumpang (TR).
(4) Sistem silvikultur tebang pilih jalur sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c, dilaksanakan dengan Tebang Pilih Tanam Jalur
(TPTJ) dan Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI).
(5) Sistem silvikultur dapat diterapkan secara bersama-sama dengan
Multi Sistem Silvikultur.
3. Ketentuan Pasal 6 Ayat (2) diubah sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi
sebagai berikut :
Pasal 6
(1) Penerapan sistem silvikultur TPTI dan atau Tebang Rumpang (TR)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3), diterapkan
pada hutan alam perawan (virgin forest) atau hutan bekas tebangan
(logged over area) di areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
pada hutan produksi berdasarkan Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu (RKUPHHK).
/(2). Penerapan…..
-5-

(2) Penerapan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dan
atau Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (4), diterapkan pada hutan bekas tebangan (logged
over area) di areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada
hutan produksi berdasarkan Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu (RKUPHHK).
4. Diantara Pasal 6 dan Pasal 7, disisipkan 1 Pasal baru yakni Pasal 6A yang
berbunyi :
Pasal 6A
Penerapan Multi Sistem Silvikultur dilakukan pada hutan alam primer
(virgin forest) dan atau hutan bekas tebangan (logged over area) dan atau
tanah kosong/alang-alang di areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu pada hutan produksi berdasarkan Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu (RKUPHHK).

5. Ketentuan Pasal 8 Ayat (3) huruf a diubah, sehingga keseluruhan Pasal 8


berbunyi sebagai berikut :
Pasal 8
(1) Pada tegakan seumur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2)
huruf a, daur ditetapkan berdasarkan umur masak tebang ekonomis
dan atau berdasarkan umur pada hasil yang maksimal .
(2) Pada tegakan tidak seumur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(2) huruf b, ditetapkan siklus tebang tegakan hutan alam berdasarkan
diameter tebangan .
(3) Siklus tebang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di hutan daratan
tanah kering/hutan rawa dilaksanakan berdasarkan diameter :
a. Pada hutan daratan tanah kering TPTI, TPTJ dan TJTI :
1. 30 (tiga puluh) tahun untuk diameter ≥ 40 cm (empat puluh
centimeter) pada hutan produksi biasa dan atau hutan produksi
yang dapat dikonversi dan ≥50 cm (lima puluh centimeter) pada
hutan produksi terbatas dengan sistem silvikultur TPTI atau TR.
2. 25 (dua puluh lima) tahun untuk sistem TPTJ pada jalur tanam
selebar 3 (tiga) meter dilakukan tebang habis, dan di jalur
antara, ditebang pohon berdiameter ≥ 40 cm (empat puluh
centimeter).
3. Untuk TJTI pada jalur tanam dengan lebar maksimal 140 m
(seratus empat puluh meter) dilakukan tebang habis (land
clearing) dan pada jalur antara, dengan lebar maksimal 35 m
(tiga puluh lima meter) dilakukan penebangan setelah
penjarangan pertama pada jalur tanam selesai dilaksanakan.
b. 40 (empat puluh) tahun untuk diameter ≥ 30 cm (tiga puluh
centimeter) pada hutan rawa.
c. 20 (dua puluh) tahun untuk bahan baku chip, dan 30 (tiga puluh)
tahun untuk kayu arang untuk diameter ≥ 10 cm (sepuluh
centimeter) pada hutan payau/mangrove.

/6. Ketentuan…
-6-

6. Ketentuan Pasal 9 diubah sehingga keseluruhan Pasal 9 berbunyi sebagai


berikut :
Pasal 9
(1) Teknik silvilkultur antara lain Bina Pilih atau Tebang Pilih Tanam
Indonesia Intensif (TPTII) atau Silvikultur Intensif (SILIN) atau
Restorasi Sistem Silvikultur Indonesia (RSSI) untuk sistem silvikultur
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan oleh Direktur
Jenderal.
(2) Teknik silvikultur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain
berupa pemilihan jenis, pemuliaan pohon, penyediaan bibit,
manipulasi lingkungan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan.
7. Ketentuan Pasal 10 Ayat (2) diubah sehingga keseluruhan Pasal 10
berbunyi sebagai berikut :
Pasal 10
(1) Direktorat Jenderal melakukan pembinaan pelaksanaan s istem
silvikultur dan teknik silvikultur kepada para pemegang IUPHHK dan
atau pada KPHP .
(2) Kepala Dinas Kehutanan Provinsi dan Kepala Balai melakukan
pengendalian pelaksanaan sistem silvikultur dan teknik silvikultur
melalui Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi
Lestari Pembinaan Hutan (WASGANISPHPL-BINHUT).
(3) Kompetensi dan sertifikasi WASGANISPHPL-BINHUT sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan
yang mengatur tentang Kompetensi Dan Sertifikasi Tenaga Teknis Dan
Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari.
Pasal II

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 12 September 2014
MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ZULKIFLI HASAN

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 15 September 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1311
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI,

ttd.

KRISNA RYA