Anda di halaman 1dari 17

METODE PELAKSANAAN

REHABILITASI DAERAH IRIGASI SAUSU

I. U mum
Besarnya pekerjaan untuk Rehabilitasi Daerah Irigasi Sausu, mengharuskan
kita untuk mempertimbangkan persyaratan-persyaratan yang diperlukan
selama pelaksanaan. Metode pelaksanaan yang akan diterapkan harus
diperikan (dideskripsikan) dengan jelas agar tidak menimbulkan masalah
selama pelaksanaan. Metode pelaksanaan Rehabilitasi Daerah Irigasi Sausu
dapat dikelompokkan menjadi beberapa kegiatan sebagai berikut :
1. Pekerjaan Persiapan :
 Pekerjaan pengukuran dan pasang bouwplank.
 Sewa gudang dan base camp.
 Jalan kerja.
 Administrasi dan Dokumentasi.
 Penyiapan gambar kerja
 Papan informasi proyek.
 Mobilisasi dan demobilisasi.
2. Pekerjaan Rehabilitasi Saluran
 Pekerjaan Galian
 Pekerjaan Timbunan
 Pembuatan beton pre cast
 Pemasangan Linning Saluran Pre cast
 Linning saluran (pasangan batu)
3. Pekerjaan Normalisasi Saluran Pembuang/sungai
 Pekerjaan Galian
 Pekerjaan Timbunan
4. Pekerjaan Rehabilitasi Bangunan.
 Pekerjaan Galian
 Pekerjaan Timbunan

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” ii
 Pasangan Batu
 Plesteran
 Siaran Beton bertulang

II. P ekerja a n P ersi a pa n


Untuk memperlancar kegiatan Kontraktor terlebih dahulu harus melakukan
persiapan-persiapan Antara lain :
a. Pembersihan dan pembuatan jalan masuk
Sebelum pekerjaan dimulai lapangan kerja harus dibersihkan dari
berbagai tanaman. Pada pekerjaan timbunan untuk tanggul, tapak
tanah pondasi harus dikupas setebal minimum 20 cm.
b. Uitzet, pemasangan profil dan bouwplank
dimensi saluran atau bangunan harus sesuai dengan gambar desain,
sehingga sebelum pelaksanaan harus dilakukan Uitzet, pemasangan
profil dan bouwplank. Pada pekerjaan ini harus disediakan alat ukur
yang diperlukan
c. Barak kerja dan gudang
Digunakan untuk menyimpan material atau bahan bangunan yang
perlu dilindungi dari cuaca.
d. Mobilisasi
Mobilisasi yang dimaksudkan adalah mobilisasi personil dan mobilisasi
peralatan.

I II . P ekerja a n Reha bi li t a si Sa lu ra n
3.1. G a li an/P enga ngka ta n sed i m en
Keseluruhan penampang saluran irigasi dan Drainasi di daerah irigasi Sausu
memiliki bentuk dan ukuran yang tidak sesuai dengan kapasitas yang
diperlukan. Sehingga perlu ada penggalian yang disesuaikan dengan
gambar rencana yaitu berbentuk trapesium dengan lebar dasar yang
bervariasi. Material hasil galian dibuang le bagian luar dari tanggul/jalan
inspeksi yang berada di sebelah kiri dan kanan.
a. Material yang digunakan
Papan dan kayu untuk bouwplank

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” iii
b. Peralatan yang digunakan
 Peralatan Ukur (theodholit, waterpass dan bak ukur). Untuk
menentukan as dan lebar saluran serta elevasi dasar saluran
serta elevasi dasar saluran.
 Back hoe (excavator) untuk menggali tanah saluran sekaligus
memuat ke atas dump truck.
 Dump truck untuk mengangkut tanah galian ke disposal area.
 Bulldozer untuk meratakan tanah di disposal area dan dilokasi
tanggul.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank untuk menentukan as dan elevasi dasar
saluran.
 Penggalian tanah menggunakan alat back hoe (excavator).
 Membuang hasil galian ke sebelah sisi luar tanggul atau jalan
inspeksi.
 Dilakukan perapihan oleh back hoe.
d. Metode Pelaksanaan
 posisi back hoe baerada pada tanggul kiri dan atau kanan
Saluran.
 hasil buangan dibuang di sisi luar tanggul/jalan inspeksi.
 Hasil buangan dirapihkan oleh alat back hoe

3.2. Ta nggul Sa lura n


Pada daerah irigasi Sausu, umumnya elevasi tanggul pada setiap
salurannya sudah mencukupi. Namun demikian berdasarkan kriteria
Perencanaan Irigasi, masih terdapat beberapa ruas saluran yang

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” iv
jagaannya masih belum sesuai dengan kriteria. Sehingga pekerjaan
tanggul pada kegiatan rehabilitasi saluran ini hanya untuk memenuhi
kriteria seperti yang disyaratkan dalam KP yakni hanya dengan ketebalan
lebih kecil dari 50 cm saja. Urutan Pelaksanaan tanggul saluran adalah
sebagai berikut :
 Pemasangan bouwplank
 Penyeberan dan perataan material urugan setempat yang berasal dari
galian saluran/sedimen dengan menggunakan back hoe.
 Pemadatan timbunan tanggul dengan menggunakan back hoe

3.3. P ekerja a n J a la n I nspeksi


Pada Daerah Irigasi Sausu secara garis besar sudah memiliki jalan inspeksi.
Akan tetapi kondisi jalannya sebagian besar masih berupa tanah, sehingga
pada saat musim hujan jalan tersebut agak sulit dilalui untuk kegiatan
inspeksi ataupun sebagai jalan produksi. Pekerjaan inspeksi dalam
kegiatan ini berupa penaburan lapisan perkerasan tanpa aspal.
a. Material yang diperlukan
 Papan dan Kayu untuk bouwplank
 Material Urugan (sand gravel/sirtu/base course)
b. Peralatan yang diperlukan
 Peralatan ukur (theodholit dan waterpass).
 Back hoe untuk mengambil material urugan
 Dump truck untuk mengangkut material urugan.
 Bulldozer untuk menebar (spreading) material dan meratakan.
 Vibrator Roller untuk memadatkan timbunan tanggul.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank
 Pengambilan material urugan (sand gravel/sirtu/base course)
dari Borrow Area menggunakan Back hoe.
 Pengangkutan material urugan (sand gravel/sirtu/base course)
dari Borrow area ke lokasi tanggul dengan menggunakan Dump
truck.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” v
 Penyeberan dan perataan material urugan dengan menggunakan
Bulldozer.
 Pemadatan jalan inspeksi dengan menggunakan vibrator Roller
dengan system basah menggunakan water tank truck.
d. Metode Pelaksanaan
 Material urugan mulai disebarkan dengan bantuan alat bulldozer.

 Setelah disebarkan dan diratakan maka diikuti dengan


pemadatan menggunakan Vibrator Roller dengan system basah
menggunakan water tank truck.
 Elevasi jalan inspeksi dikontrol dengan alat ukur waterpass dan
kepadatan dilakukan uji kepadatan di lapangan. Tebal lapisan
jalan inspeksi 20 cm dal lebar 3.00 meter.
3.4. P ekerja a n L i ni ng Sa lura n (P re- ca st )
Pekerjaan lining saluran dengan menggunakan beton pre cast dipilih pada
saluran yang kondisi eksistingnya berbentuk trapezium. Hampir semua
saluran di daerah irigasi sausu atas ini akan direhab dengan menggunakan
beton pre cast
a. Material yang diperlukan
 Papan dan Kayu untuk bouwplank
 Material Urugan (sand gravel/sirtu) untuk levelling dasar saluran
 Benton pre cast dengan dimensi 40 cm x 40 cm dengan tebal 10
cm
b. Peralatan yang diperlukan
 Peralatan ukur (theodholit dan waterpass).
 Back hoe untuk mengambil material
 Dump truck untuk mengangkut material.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” vi
 Stamper untuk levelling dasar saluran.
 Alat bantu lainnya.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank
 Penyebaran dan perataan material sirtu sampai level yang
ditentukan.
 Pemadatan sirtu dengan stamper.
 Pengecoran saluran bagian bawah secara in situ
 Pemasangan beton per cast bagian talud saluran.
d. Metode Pelaksanaan
 Material sirtu disebarkan pada permukaan galian saluran sampai
dengan level tertentu dan dipadatkan.
 Setelah sirtu mencapai level tertentu, pemasangan lining
dilakukan mulai dari bagian bawah dengan cara pengecoran lang
sung di tempat.
 Untuk bagian talud saluran pemasangan lining menggunakan
beton pre cast.
 Selanjutnya pada bagian atas dari beton pre cast yang sudah
terpasang dilakukan pengecoran beton di tempat sebagai beton
penutup.

3.5. P ekerja a n L i ni ng Sa lura n (Pa sa n ga n Ba t u )


Pekerjaan lining saluran dengan menggunakan pasangan batu dilakukan
pada lokasi pengembangan (semula saluran muka menjadi saluran

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” vii
sekunder) yakni di saluran sekunder Gitgit, saluran sekunder Sibang jati,
saluran sekunder Tehjun.
a. Material yang diperlukan
 Papan dan Kayu untuk bouwplank
 Material pasangan batu (semen, pasir dan Batu)
b. Peralatan yang diperlukan
 Peralatan ukur (theodholit dan waterpass).
 Molen
 Alat bantu lainnya.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank
 Galian sampai level yang diperlukan.
 Pekerjaan Pasangan batu
 Plesteran
 Siaran
 Urugan kembali
d. Metode Pelaksanaan
 Dengan alat back hoe dilakukan penggalian sampai level
tertentu, sedangkan untuk mencapai level dengan space yang
kecil/levelling misalnya pada bagian pondasi dilakukan secara
manual.
 Saluran dibuat dengan material pasangan batu kali. Adukan
dibuat dengan menggunakan alat bantu beton mixer dengan
perbandingan 1 semen : 4 pasir.
 Selanjutnya apabila saluran pasangan batu sudah diselesaikan,
untuk bagian permukaan yang berhubungan dengan air, dilakukan
pekerjaan siaran. Sedangkan pada bagian paling atas dilakukan
pekerjaan plesteran.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” viii
I V. P ekerja a n Sa lura n D ra i n a se/ Su n ga i
Pada Daerah Irigasi Sausu Atas mengalir beberapa sungai yang mengalir
dan dimanfaatkan sebagai pembuang utama. Pada musim hujan kapasitas
dari sungai-sungai ini tidak mampu mengalirkan debit yang lewat,
sehingga sungai-sungai tersebut harus dinormalisasi dan diperkuat dengan
tanggul

4.1. G a li an
Penampang saluran Drainasi/sungai memiliki bentuk dan ukuran yang
tidak sesuai dengan kapasitas yang diperlukan. Sehingga perlu ada
penggalian yang disesuaikan dengan gambar rencana. Material hasil galian
dibuang ke disposal area.
a. Material yang digunakan
Papan dan kayu untuk bouwplank
b. Peralatan yang digunakan
 Peralatan Ukur (theodholit, waterpass dan bak ukur). Untuk
menentukan dimensi saluran drainase serta elevasi desain.
 Back hoe (excavator) untuk menggali tanah saluran
drainase/sungai sekaligus memuat ke atas dump truck.
 Dump truck untuk mengangkut tanah galian ke disposal area.
 Bulldozer untuk meratakan tanah di disposal area dan dilokasi
tanggul.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” ix
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank untuk menentukan as dan elevasi dasar
saluran drainase yang akan diukur.
 Penggalian tanah menggunakan alat back hoe (excavator).
 Membuang hasil galian ke disposal area
 Dilakukan perapihan oleh back hoe.
d. Metode Pelaksanaan
 Posisi backhoe masuk ke badan sungai, kemudian hasil galiannya
dibuang mendekati posisi tanggul untuk selanjutnya dengan
menggunakan backhoe ke dua dimasukkan ke dalam Dumptruk.

 Pengangkutan tanah hasil galian dengan menggunakan Dump


truck untuk dibuang ke lokasi Disposal Area (rata-rata 2.00 km).

 Tanah galian yang memenuhi syarat digunakan sebagai timbunan


tanggul, sedangkan tanah yang tidak memenuhi syarat di buang
ke disposal area.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” x
4.2. Ti m buna n
Hampir sebagian besar pekerjaan drainasi/normalisasi sungai
memerlukan tanggul. Tanggul direncanakan berbentuk trapesium
dengan lebar puncak : 3,0 m dengan ketinggian bervariasi.
a. Material yang diperlukan
 Papan dan Kayu untuk bouwplank
 Material Urugan
b. Peralatan yang diperlukan
 Peralatan ukur (theodholit dan waterpass).
 Back hoe /loader untuk mengambil material urugan
 Dump truck untuk mengangkut material urugan.
 Bulldozer untuk menebar (spreading) material dan meratakan.
 Vibrator Roller untuk memadatkan timbunan tanggul.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank
 Pengambilan material urugan dari Borrow Area menggunakan
Back hoe.
 Pengangkutan material urugan dari Borrow area ke lokasi tanggul
dengan menggunakan Dump truck.
 Penyeberan dan perataan material urugan dengan menggunakan
Bulldozer.
 Pemadatan timbunan tanggul dengan menggunakan vibrator
Roller.
 Penimbunan dilakukan lapis demi lapis.
d. Metode Pelaksanaan
 Material urugan mulai disebarkan dengan bantuan alat bulldozer.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xi
 Setelah disebarkan dan diratakan maka diikuti dengan
pemadatan lapis demi lapis dengan menggunakan Vibrator Roller

 Elevasi tanggul dikontrol dengan alat ukur waterpass dan


kepadatan dilakukan uji kepadatan di lapangan dan
laboratorium.
 Dilakukan perapihan pada bagian talud sungai menggunakan back
hoe atau secara manual.

V. P ekerja a n Ba nguna n
Pekerjaan Bangunan sebagian besar menggunakan pasangan batu,
sedangkan pekerjaan beton bertulang hanya digunakan untuk bagian plat
jembatan pelayanan
a. Material yang diperlukan
 Papan dan Kayu untuk bouwplank
 Material pasangan batu (semen, pasir dan Batu)
b. Peralatan yang diperlukan
 Peralatan ukur (theodholit dan waterpass).
 Molen
 Alat bantu lainnya.
c. Urutan Pelaksanaan
 Pemasangan bouwplank

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xii
 Galian sampai level yang diperlukan.
 Pekerjaan Pasangan batu
 Plesteran
 Siaran
 Urugan kembali
d. Metode Pelaksanaan
 Dengan alat back hoe dilakukan penggalian sampai level
tertentu, sedangkan untuk mencapai level dengan space yang
kecil/levelling misalnya pada bagian pondasi dilakukan secara
manual.
 Bangunan dibuat dengan material pasangan batu kali. Adukan
dibuat dengan menggunakan alat bantu beton mixer dengan
perbandingan 1 semen : 4 pasir.
 Selanjutnya apabila saluran pasangan batu sudah diselesaikan,
untuk bagian permukaan yang berhubungan dengan air, dilakukan
pekerjaan siaran. Sedangkan pada bagian paling atas dilakukan
pekerjaan plesteran.

VI . Bet on P re Ca st
Hampir semua saluran di daerah irigasi sausu atas ini akan direhab dengan
menggunakan beton pre cast. Sebelum dipasang beton precast diproduksi
terlebih dahulu dengan material utama berupa beton K 175. Dimensi dari
beton precast tersebut harus mempunyai ukuran yang presisi sehingga
akan memudahkan dalam pemasangan.
a. Material yang diperlukan
 Bekisting yang kuat, untuk pabrikasi beton pri cast
 Material beton (semen, pasir dan kerikil)
b. Peralatan yang diperlukan
 Molen
 Alat bantu lainnya.
c. Urutan Pelaksanaan
 Bekisting yang kuat disiapkan dalam jumlah yang cukup banyak
untuk pabrikasi beton pre cast

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xiii
 Beton K 175 dituang kedalam bekisting ukuran 40 cm x 40 cm
dengan tebal 10 cm
 Dipadarkan dengan cara digetar atau cara lainnya.
 Pada umur usia beton 2 hari, bekisting dibuka
 Pengangkatan beton bias dilakukan setelah usia beton lebih dari
7 hari
d. Metode Pelaksanaan
 Bekisting dalam jumlah yang banyak disiapkan di tempat yang
rata/di atas bidang rata.
 Pengadukan beton dengan perbandingan material seperti design
mix yang diusulkan sehingga dapat menghasilkan karakteristik
beton K 175
 Beton yang sudah jadi kemudian dituang ke dalam bekisting yang
sudah disiapkan, kemudian dipadatkan dengan cara diberi
getaran atau cara lainnya.
 Setelah usia beton telah mencapai 2 hari bekisting bias dilepas
untuk digunakan membuat beton pre cast lainnya.
 Pemsangan beton pre cast hanya bias dilakukan setelah usia
beton mencapai lebih dari 7 hari.

VI I . Spesi f i ka si

7.1. P ekerja a n Bet on


Pengawas lapangan berhak memerintahkan diadakan pengujian pada
setiap material yang digunakan pada pelaksanaan konstruksi beton untuk
menentukan apakah material tersebut mempunyai mutu sesuai dengan
mutu yang telah ditetepkan. Pengujian material dan pengujian beton
harus dibuat sesuai dengan standar. Laporan legkap pengujian material
dan beton harus disimpan oleh pemeriksa selama paling lambat 2 tahun
setelah selesainya proyek dan harus tersedia untuk pemeriksaaan selama
Pekerjaan berlangsung. SNI 2847:2013.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xiv
7.1. 1. Sem en
Material semen harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut :
a. Semen Portland : ASTM C150M;
b. Semen hidrolis blended : ASTM C595M kecuali Tipe IS (≥ 70), yang tidak
diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama beton structural;
c. Semen hidrois ekspansif : ASTM C845;
d. Semen hidrolis : ASTM C1157M;
e. Abu terbang (fly ash) dan pozzolan alami : ASTM C618;
f. Semen Slag : ASTM C989;
g. Silica fume : ASTM C1240;

Material semen yang digunaka pada pekerjaan harus sesuai dengan


material semen yang digunakan pada untuk pemilihan proporsi campuran
beton. SNI 2847:2013.

7.1. 2. A grega t
Agregat untuk beton harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut :
a. Agregat normal : ASTM C33M
b. Agregat ringan : ASTM C330M.
Perkecualian : Agregat yang telah terbukti melalui pengujian atau
penggunaan nyata dapat menghasilkan beton dengan kekuatan dan
keawetan yang baik dan disetujui oleh instansi tata bangunan.

Ukuran maksimum nominal agregat kasar harus tidak melebihi :


a. 1/5 jarak terkecil antara sisi cetakan, ataupun
b. 1/3 ketebalan slab, ataupun
c. 3/5 jarak bersih minimum antara tulangan atau kawat, bundle
tulangan, atau tendon prategang, atau selongsong
Batasan ini tidak berlaku bila dalam pertimbangan insinyur professional
bersertifikat, kelecakan (workability) dan metode pemadatan adalah agar
beton dapat dicor tanpa keropos atau rongga udara. SNI 2847:2013.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xv
7.1. 3. Ai r
Air yang digunakan pada campuran beton ahrus memenuhi ASTM C1602M.
Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton
yang di dalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang
terkandung dalam agregat, tidak boleh mangandung ion klorida dalam
jumlah yang membahayakan. SNI 2847:2013.

7.1. 4. Tula nga n U li r


Tulangan ulir harus memenuhi persyaratan untuk batang tulangan ulir
dalam salah satu ketentuan berikut :
a. Baja karbon : ASTM A615M;
b. Baja low-alloy : ASTM A706M;
c. Baja stainless : ASTM A955M;
d. Baja rel dan baja gandar : ASTM A996M. Batang tulangan dari baja rel
menggunakan Tipe R
Baja tulangan ulir harus memenuhi salah satu spesifikasi ASTM yang
disebutkan diatas, kecuali yang untuk batang tulangan dengan f y kurang
dari 420 MPa, kekuatan lelehnya harus diambil sebesar tegangan yang
berhubungan dengan renggangan sebesar 0,5 persen, dan untuk batang
tlangan dengan fy paling sedikit 420 MPa, kekuatan lelehnya harus diambil
sebesar tegangan yang berhubungan dengan regangan sebesar 0,35
persen. Anyaman batang baja untuk penulangan beton harus memenuhi
ASTM A184M. Baja tulangan yang digunakan dalam anyaman harus
memenuhi ASTM A615 atau ASTM A706M. SNI 2847:2013.

7.1. 5. Tula nga n P olos


Batang tulangan polos untuk tulangan spiral harus memenuhi ASTM A^15M,
A706M, A955M, atau A1035M. SNI 2847:2013.

7.2. P ekerja a n P a sa nga n Ba t u Ka li


Sebelum dipasang batu dibasahi sampai jenuh air agar tidak menyerap air pada
spesi pada saat pemasangan. Batu disusun dengan rapid dan rapat, ruang yang
ada diantara batu diisi dengan spesi sehingga masuk ke dalam celah – celah

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xvi
dengan sempurna. Untuk mengaduk spesi digunakan concrete mixer sedang untuk
pasangan batu dilakukan secara manual. Pasangan batu ini dilakukan dengan
menggunakan campuran 1 semen : 4 pasir pasang, pekerjaan akan dilaksanakan
setelah pekerjaan galian tanah selesai dilaksanakan.

7.3. P ekerja a n P lest era n


Pekerjaan plesteran akan dilaksanakan setelah pasangan batu selesai dan atau
sedang berlangsung dimana telah memasuki pertengahan atau akhir dari
pekerjaan pasangan batu, adukan yang digunakan adalah campuran 1 : 3 dimana
terdiri dari komposisi 1 semen dan 3 pasir pasangan, sebelum pelaksanaan
dimulai maka permukaan yang akan diplester dibersihkan terlebih dahulu baik
dari kotoran lumpur maupun kotoran non organic lainnya. Karena bila dikotori
oleh kotoran maka akan mengurangi daya rekat dari pasangan plesteran
tersebut. Pekerjaan ini akan dikerjakan oleh tukang – tukang yang telah
berpengalaman dan akan dikerjakan sesuai dengan gambar rencana atau
petunjuk dari direksi.

7.4. P ekerja a n Si a ra n
a. Material dan alat disiapkan di lokasi pekerjaan.
b. Material yang dipakai adalah : pasir, semen, dan air. Pasir dibersihkan dari
semua kotoran, air yang dipakai adalah air dari sumber air tanah.
c. Pekerja menyiapkan spesi dengan perbandingan 1 semen : 3 pasir, spesi
diaduk dengan molen untuk mendapatkan hasil yang homogen.
d. Pasir dimasukkan ke dalam gentong molen terlebih dahulu kemudian semen
dengan perbandingan tersebut di atas dan diaduk sampai pasir dan semen
bercampur. Setelah dirasa sudah campur baru diberi air bersih secukupnya
sesuai kebutuhan spesi dengan posisi molen masih mengaduk. Setelah spesi
sudah matang/ campuran semen, pasir dan air merata, adukan spesi dituang
ke kotak tempat spesi.
e. Spesi dibawa ke tempat pasang plesteran dimana tukang dan pembantu
tukang sudah siap ditempat.
f. Sebelum plesteran dipasang terlebih dahulu semua permukaan yang akan
diplester dibersihkan. Apabila bidang yang akan diplester terlalu kering
maka terlebih dahulu permukaan dibasahi menggunakan air bersih untuk
mendapatkan ikatan yang kuat antara spesi lama dengan spesi baru.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xvii
g. Pekerjaan Plesteran dikerjakan 1 lapis sampai jumlah ketebalan 1,5 cm
dan dihaluskan dengan air semen.
h. Untuk menghindari retak-retak rambut pada permukaan plesteran yang
sudah selesai karena sust pengerasan, maka permukaan plesteran yang
sudah selesai harus dibasahi dengan air selama 7 hari berturut-turut.
i. Plesteran dibentuk sesuai gambar kerja atau sesuai petunjuk Direksi
pekerjaan dan dirapikan sehingga terlihat bagus.
j. Semua spesi yang jatuh atau tidak menempel dibersihkan dan dibuang.

“SID Rehabilitasi D.I. Sausu Kiri Tahap II (3.800 Ha) Kabupaten Parigi Moutong” xviii