Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

Ca Serviks

Penyusun :

Tristi Lukita Wening ( 11.2016.238)

Pembimbing :

dr. Intan R Silitonga, Sp.OG

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA – RS RAJAWALI

BANDUNG, 2018

1
Kata Pengantar

Puji Syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
karuniaNya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Saya juga ingin mengucapkan terima
kasih kepada dr. Intan R Silitonga, Sp.OG sebagai pembimbing yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi Referat ini disusun sebagai
sarana diskusi dan pembelajaran mengenai kanker serviks , serta diajukan guna
memenuhitugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit Rajawali,
Bandung. Dalam makalah ini membahas mengenai kanker serviks. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca sehingga dapat memberi informasi kepada para pembaca.

Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
sehingga lebih baik pada penyusunan makalah berikutnya. Terima kasih.

Bandung, Febuari 2018

Penyusun

2
Pendahuluan

Sampai saat ini kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan perempuan di
indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka kematiannya yang tinggi.
Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial
ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis
histopatologi dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.

Di negara maju, angka kejadian dan angka kematian kanker mulut rahim telah
menurun karena suksesnya program deteksi dini. Akan tetapi, secara umum kanker mulut
rahim menempati posisi kedua terbanyak pada keganasan wanita (setelah kanker payudara)
diperkirakan diderita oleh 500.000 wanita tiap tahunnya.

Di indonesia, diperkirakan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahin ditemukan setiap
tahunnya. Di rumah sakit Dr. Cipto mangunkusumo, frekuensi kanker serviks 76,2% di antara
kanker ginekologik. Dari data 17 rumah sakit di jakarta tahun 1977 kanker serviks
menduduki urutan pertama yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan. 1

3
Pembahasan

Pengertian

Pengertian Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks
merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan berhubungan
dengan vagina melalui ostium uteri eksternum.2

Etiologi

HPV adalah infeksi menular seksual yang paling umum.Dari lebih dari 100 jenis HPV,
kebanyakan dari mereka tidak terkait dengan kanker serviks. Tujuh dari 10 (70%) dari semua
kasus kanker serviks yang dilaporkan di seluruh dunia disebabkan oleh hanya dua jenis HPV:
16 dan 18. Empat jenis HPV berisiko tinggi lainnya, 31, 33, 45 dan 58 kurang umum
ditemukan. terkait dengan kanker serviks, dengan tipe tertentu yang lebih menonjol daripada
yang lain di wilayah geografis tertentu. Dua tipe HPV berisiko rendah (6 dan 11) tidak
menyebabkan kanker serviks namun merupakan penyebab kutil kelamin atau condyloma
paling banyak. Hampir semua wanita dan pria terinfeksi HPV sesaat setelah memulai
aktivitas seksual. Penetrasi vagina oleh penis tidak harus terjadi karena Virus dapat ditularkan
melalui kontak kulit-ke-kulit dari daerah genital dekat penis dan vagina. 3

Faktor Resiko

Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai
hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik diantaranya yang penting adalah jarang
ditemukan pada perawan, insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada yang tidak
kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama (ciotarche) dialami pada usia amat muda
(kurang dari 16 tahun) insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak
persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah, higine seksual
yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang
dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat, Dan akhirnya kebiasaan merokok.4

4
1. KLASIFIKASI
Menurut ( Novel S Sinta,dkk,2010), klasifikasi kanker dapat di bagi menjadi tiga,
yaitu (1) klasifikasi berdasarkan histopatologi, (2) klasifikasi berdasarkan terminologi dari
sitologi serviks, dan (3) klasifikasi berdasarkan stadium stadium klinis menurut FIGO
(The International Federation of Gynekology and Obstetrics) :
a. Klasifikasi berdasarkan histopatologi :
- CIN 1 (Cervical Intraepithelial Neoplasia), perubahan sel-sel abnormal lebih
kurang setengahnya. berdasarkan pada kehadiran dari dysplasia yang dibatasi pada
dasar ketiga dari lapisan cervix, atau epithelium (dahulu disebut dysplasia ringan).
Ini dipertimbangkan sebagai low-grade lesion (luka derajat rendah).
- CIN 2, perubahan sel-sel abnormal lebih kurang tiga perempatnya,
dipertimbangkan sebagai luka derajat tinggi (high-grade lesion). Ia merujuk pada
perubahan-perubahan sel dysplastic yang dibatasi pada dasar duapertiga dari
jaringan pelapis (dahulu disebut dysplasia sedang atau moderat).
- CIN 3, perubahan sel-sel abnormal hampir seluruh sel. adalah luka derajat tinggi
(high grade lesion). Ia merujuk pada perubahan-perubahan prakanker pada sel-sel
yang mencakup lebih besar dari duapertiga dari ketebalan pelapis cervix, termasuk
luka-luka ketebalan penuh yang dahulunya dirujuk sebagai dysplasia dan
carcinoma yang parah ditempat asal.
b. Klasifikasi berdasarkan terminologi dari sitologi serviks :
- ASCUS (Atypical Squamous Cell Changes of Undetermined Significance) Kata
"squamous" menggambarkan sel-sel yang tipis dan rata yang terletak pada
permukaan dari cervix. Satu dari dua pilihan-pilihan ditambahkan pada akhir dari
ASC: ASC-US, yang berarti undetermined significance, atau ASC-H, yang berarti
tidak dapat meniadakan HSIL (lihat bawah).
- LSIL (Low-grade Squamous Intraepithelial Lesion) berarti perubahan-perubahan
karakteristik dari dysplasia ringan diamati pada sel-sel cervical.
- HSIL (High Grade Squamous Intraepithelial Lesion) merujuk pada fakta bahwa
sel-sel dengan derajat yang parah dari dysplasia terlihat.
c. Klasifikasi berdasarkan stadium klinis :
- FIGO, 1978 mengklasifikasi Ca Cervix menurut tingkat keganasan klinik:
Tingkat Kriteria
0 KIS (Karsinoma in Situ) atau karsinoma intra epitel, membrana basalis

5
masih utuh.
I Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
Ia Karsinoma mikro invasif: bila membrana basalis sudah rusak dan
tumor sudah memasuki stroma tdk> 3mm dan sel tumor tidak terdapat
dalam pembuluh limfe/pembuluh darah. Kedalaman invasi 3mm
sebaiknya diganti dengan tdk> 1mm.
Ib occ Ib occult = Ib yang tersembunyi, secara klinis tumor belum tampak
sebagai Ca, tetapi pada pemeriksaan histologik, ternyata sel tumor telah
mengadakan invasi stroma melebihi Ia.
Ib Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukkan
invasi ke dalam stroma serviks uteri.
II Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke2/3 bagian
atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul.
IIa Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat
tumor.
IIb Penyebaran ke parametrium uni/bilateral tetapi belum sampai ke
dinding panggul
III Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina / ke parametrium
sampai dinding panggul.
IIIa Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina, sedang ke
parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
IIIb Penyebaran sudah sampai ke dinding panggul, tidak ditemukan daerah
bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen pelvic)/
proses pada tk klinik I/II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.

IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan


mukosa rektum dan atau kandung kemih.
IVa Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi
mukosa rektum dan atau kandung kemih.
Ivb Telah terjadi penyebaran jauh.

6
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan atas atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinik.
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pada umumnya, lesi prakanker belum memberikan gejala. Bila telah menjadi kanker invasif,
gejalan yang paling umum adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat
berhubungan intim) dan keputihan. Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang mejladi
nyeri pinggang atau perut bagian bawah karena desakan tumor di daerah pelvik ke arah
lateral sampai obstruksi ureter, bahkan sampai oligo atau anuria. Gejala lanjutan bisa terjadi
sesuai dengan infiltrasi tumor ke organ yang terkena, misalnya: fistula vesikovaginal, fistula
rektovaginal, edema tungkai.
PENCEGAHAN
a. Pencegahan primer: kurangi risiko infeksi HPV
Tujuan kesehatan masyarakat adalah untuk mengurangi infeksi HPV, karena infeksi HPV
yang terus-menerus Bisa menyebabkan kanker serviks. Intervensi meliputi:
1. vaksinasi untuk anak perempuan yang berusia 9-13 tahun (atau rentang usia yang
disebut di nasional pedoman) sebelum mereka memulai aktivitas seksual;
2. Pendidikan seksualitas yang sehat untuk anak laki-laki dan perempuan, disesuaikan
dengan usia dan budaya, dengan tujuan untuk mengurangi risiko penularan HPV
(bersama dengan infeksi menular seksual lainnya, termasuk HIV) - pesan penting
harus mencakup penundaan inisiasi seksual, dan pengurangan perilaku seksual
berisiko tinggi;
3. promosi atau penyediaan kondom bagi orang-orang yang aktif secara seksual;
4. sunat laki-laki bila relevan dan sesuai.

b. Pencegahan sekunder: skrining dan penanganan pra-kanker


Tujuan kesehatan masyarakat adalah untuk mengurangi kejadian dan prevalensi kanker
serviks dan kematian terkait, dengan mencegat kemajuan dari pra-kanker ke kanker
invasif. Intervensi meliputi:
1. penyuluhan dan berbagi informasi;
2. skrining untuk semua wanita berusia 30-49 tahun (atau usia yang ditentukan oleh
nasional standar) untuk mengidentifikasi lesi prakanker, yang biasanya
asimtomatik;

7
3. Pengobatan lesi prakanker yang teridentifikasi sebelum mereka berkembang
menjadi kanker invasif. Bahkan bagi wanita yang telah menerima vaksinasi HPV,
penting untuk melanjutkan skrining dan pengobatan saat mencapai usia target.

c. Pencegahan tersier: pengobatan kanker serviks invasif


Tujuan kesehatan masyarakat adalah mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks.
Intervensi meliputi:
1. mekanisme rujukan dari penyedia perawatan primer ke fasilitas yang menawarkan
diagnosis dan pengobatan kanker; diagnosis kanker yang akurat dan tepat waktu,
dengan mengeksplorasi tingkat invasi;
2. pengobatan yang sesuai untuk setiap tahap, berdasarkan diagnosis:
 Kanker dini: Jika kanker terbatas pada serviks dan area disekitarnya (daerah pelvis),
pengobatan bisa mengakibatkan penyembuhan; berikan perawatan yang paling sesuai
dan berikan bantuan dengan gejala yang berhubungan dengan kanker atau
penyakitnya pengobatan.
 Kanker lanjut: Jika kanker melibatkan jaringan di luar serviks dan daerah panggul dan
/ atau metastasis, pengobatan dapat meningkatkan kualitas hidup, mengendalikan
gejala dan meminimalkan penderitaan; menyediakan perawatan dan perawatan paliatif
yang paling efektif di fasilitas tersier dan di tingkat masyarakat, termasuk akses
terhadap opioid.
3. Perawatan paliatif untuk menghilangkan rasa sakit dan penderitaan.

Rekomendasi WHO kunci tentang vaksin HPV


1. Negara harus mempertimbangkan untuk memperkenalkan vaksinasi HPV bila: (i)
kanker serviks atau penyakit terkait HPV lainnya, atau keduanya, merupakan prioritas
kesehatan masyarakat; (ii) Pengenalan vaksin secara programal layak; (iii)
pembiayaan berkelanjutan dapat diamankan; dan (iv) efektivitas biaya strategi
vaksinasi di negara atau wilayah telah dipertimbangkan.
2. Vaksinasi HPV harus diperkenalkan sebagai bagian dari strategi komprehensif
terkoordinasi untuk mencegah kanker serviks dan penyakit terkait HPV lainnya.
Pengenalan vaksinasi HPV seharusnya tidak mengurangi atau mengalihkan
pendanaan dari pengembangan atau pemeliharaan program skrining yang efektif
untuk kanker serviks.

8
3. WHO merekomendasikan vaksin HPV untuk anak perempuan dalam kelompok usia
9-13 tahun. Anak perempuan yang menerima vaksin HPV dosis pertama sebelum usia
15 tahun dapat menggunakan dosis dua kali susunan acara. Interval antara dua dosis
harus enam bulan. Tidak ada interval maksimum antara dua dosis; Namun, selang
waktu tidak lebih dari 12-15 bulan disarankan. Jika interval antara dosis lebih pendek
dari lima bulan, maka dosis ketiga harus diberikan paling sedikit enam bulan setelah
dosis pertama. Individu yang tidak mengenal imunosupompresi, termasuk mereka
yang hidup dengan HIV, dan wanita berusia 15 tahun ke atas juga harus menerima
vaksin dan membutuhkan tiga dosis (pada jadwal 0, 1-2 dan 6 bulan) untuk dilindungi
sepenuhnya.

Vaksin HPV
Saat ini, dua vaksin HPV yang memberikan perlindungan terhadap jenis HPV berisiko tinggi
16 dan 18 telah dilisensikan, dan satu atau keduanya tersedia di sebagian besar negara:
1. vaksin bivalen (perlindungan terhadap tipe 16 dan 18 saja)
2. vaksin quadrivalent (mengandung perlindungan tambahan terhadap tipe 6 dan 11,
yang bertanggung jawab atas 90% kutil anogenital jinak atau kondiloma). Kedua
vaksin tersebut mengandung partikel mirip virus (VLPs), yang berbentuk potongan
seperti di luar human papillomavirus. Karena vaksin VLP ini tidak mengandung virus,
mereka TIDAK BISA menyebabkan infeksi HPV. Vaksin merangsang pengembangan
antibodi terhadap VLPs ini, yang karena kesamaan dengan virus HPV, akan
mencegah infeksi HPV jika terjadi paparan selanjutnya.
Vaksin harus diberikan SEBELUM seorang gadis terinfeksi HPV. Seorang gadis dapat
terinfeksi HPV segera setelah dia menjadi aktif secara seksual, jadi, sebagai intervensi
pencegahan primer yang penting terhadap kanker serviks, vaksinasi HPV pada anak
perempuan harus terjadi sebelum timbulnya aktivitas seksual. Vaksin tidak mengobati infeksi
HPV yang ada atau penyakit terkait HPV, juga tidak berpengaruh pada perkembangan
penyakit (pra-kanker dan kanker) jika diberikan kepada wanita yang sudah terinfeksi HPV
pada saat vaksinasi.

Kontraindikasi terhadap vaksin HPV:


1. Vaksin HPV tidak boleh diberikan kepada siapa saja yang pernah mengalami alergi
parahreaksi setelah dosis vaksin sebelumnya atau setelah terpapar salah satu
komponen (misalnya ragi). Gejala reaksi alergi bisa meliputi: gatal, ruam, urtikaria

9
atau lecet. Jika ada gejala ini terjadi vaksinasi pasca HPV, tidak lebih dosis harus
diberikan, dan vaksin lain yang mungkin memiliki komponen yang sama termasuk di
dalamnya harus dihindari.
2. Anak perempuan dengan penyakit demam parah seharusnya tidak divaksinasi.
3. Vaksin HPV saat ini tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang
hamil.Mengingat vaksin HPV direkomendasikan untuk anak perempuan yang berusia
9-13 tahun, kemungkinannya Seorang gadis sedang hamil atau menyusui pada saat
vaksinasi rendah. Jika seorang gadis menjadi hamil setelah memulai seri vaksinasi,
sisa rezim tersebut harus ditunda sampai setelah kehamilan. Dalam hal vaksin HPV
tersebutSecara tidak sengaja diberikan kepada seorang gadis atau wanita yang sedang
hamil, tidak ada intervensi perlu. Dia harus diyakinkan bahwa vaksin TIDAK
mengandung virus hidup, dan bahwa tidak ada masalah kesehatan pada ibu atau anak
yang telah diamati sampai saat ini Vaksinasi HPV yang tidak disengaja selama
kehamilan. Dosis vaksin yang tersisa seharusnya ditunda sampai setelah kehamilan,
pada saat mana seri vaksin HPV bisa terjadi lengkap. Hal ini TIDAK diperlukan
untuk me-restart seri vaksin setelah kehamilan. Di Kasus vaksin HPV diberikan
kepada seseorang yang sedang menyusui, data yang tersedia tidak menunjukkan
adanya masalah keamanan.

Karakteristik dan jadwal vaksin


Populasi target yang disarankan untuk vaksinasi HPV adalah anak perempuan yang berusia 9-
13 tahun, sebelum memulai aktivitas seksual.

Atribut Bivalent Quadrivalent


Nama komersil Gardasil®, silgard® (Merck) Cervarix®
(GlaxoSmithKline)
Jenis HPV dalam vaksin 6, 11, 16, 18 16, 18
Perlindungan penyakit Ca cervic, kutil genital Ca cervic
Jumlah dosis 2 dosis, dosis kedua 2 dosis, dosis kedua
6 bulan setelah dosis yang 6 bulan setelah dosis yang
pertama pertama

Durasi perlindungan tidak ada penurunan proteksi tidak ada penurunan proteksi

10
yang tercatat selama periode yang tercatat selama periode
pengamatan pengamatan
Presentasi 1 dosis vial 1- dan 2-dosis vial
Metode administrasi injeksi intramuskular: 0,5 ml injeksi intramuskular: 0,5 ml
cairan suspensi cairan suspensi
Kontraindikasi • Reaksi alergi parah • Reaksi alergi parah
terhadap komponen vaksin terhadap komponen vaksin
atau setelah menerima vaksin atau setelah menerima vaksin
• Penyakit demam parah • Penyakit demam parah
• tidak direkomendasikan • tidak direkomendasikan
selama kehamilan selama kehamilan
Pemberian bersama dengan hepatitis B diphtheri/tetanus/
pertussis poliomyelitis
vaksin lainnya dipelajari dan difteri / tetanus / pertusis
terbukti efektif polio
umur simpan 36bulan di suhu 2–8°C 1-dosis vial: 48 bulan
Di suhu 2–8°C
2-dosis vial: 36 bulan
Di suhu 2–8°C

Catatan penting tentang karakteristik dan jadwal vaksin:


1. Sesuai dengan Posisi Kertas WHO (Oktober 2014), populasi sasaran yang disarankan
adalah anak perempuan yang berusia 9-13 tahun, sebelum memulai aktivitas seksual.
Jadwal dua dosis dengan selang waktu enam bulan antara dosis untuk anak
perempuan berusia <15 tahun (termasuk anak perempuan berusia ≥ 15 tahun pada saat
dosis kedua). Tidak ada interval maksimum antara dua dosis; Namun, selang waktu
tidak lebih dari 12-15 bulan disarankan. Jika karena alasan apapun, selang antara dua
dosis lebih pendek dari lima bulan, dosis ketiga harus diberikan paling sedikit enam
bulan setelah dosis pertama. Jadwal tiga dosis (0, 1-2, 6 bulan) tetap
direkomendasikan untuk anak perempuan yang berusia 15 tahun ke atas dan untuk
orang dengan immunocompromised, termasuk yang diketahui positif HIV (terlepas
dari apakah mereka menerima terapi antiretroviral). Tidak perlu memindai infeksi
HPV atau infeksi HIV sebelum vaksinasi HPV. Rekomendasi jadwal ini berlaku
untuk kedua bivalen dan vaksin quadrivalent.

11
2. Semua formulasi vaksin HPV harus tetap dingin pada suhu 2-8˚C. Vaksin HPV
bersifat beku-sensitif dan kehilangan khasiatnya jika dibekukan. Oleh karena itu,
vaksin HPV tidak dapat ditempatkan di dalam atau di dekat bagian freezer kulkas atau
langsung pada kemasan es beku. Jika ada indikasi bahwa vaksin HPV mungkin telah
terpengaruh oleh suhu di bawah nol, uji goyang harus dilakukan untuk menentukan
apakah vaksin masih dapat dilakukan.bekas Botol yang menunjukkan bukti
pembekuan isi sebagian atau total harus selalu dibuang.

Screening Ca Cervic
Tes skrining yang baik harus: Akurat: hasil tes sudah benar, Reproducible:
mengulang tes yang sama akan memberikan hasil yang sama, Murah: terjangkau oleh sistem
kesehatan baik dari sisi finansial maupun sumber daya manusia, dan kepada semua pasien
dan keluarga mereka dalam hal akses terhadap layanan yang diperlukan, Relatif mudah: tidak
rumit untuk melakukan dan memberikan perawatan lanjutan untuk wanita dengan hasil
abnormal Dapat diterima: ditoleransi dengan baik oleh pasien dan penyedia layanan, Aman:
prosedur uji dan pengelolaan subyek positif layar tidak memiliki atau sedikit efek samping
yang merugikan, Tersedia: dapat diakses oleh seluruh populasi sasaran.
Infeksi HPV berisiko tinggi sangat umum terjadi pada wanita muda, namun sebagian
besar infeksi ini bersifat sementara: mereka dieliminasi secara spontan oleh tubuh wanita
tersebut. Hanya sebagian kecil dari semua infeksi HPV yang bertahan selama bertahun-tahun
dapat menyebabkan kanker invasif. Kanker serviks biasanya berkembang perlahan, memakan
waktu 10-20 tahun dari awal kanker pre-invasif, sehingga kanker serviks jarang terjadi
sebelum usia 30 tahun. Pemeriksaan skrining Wanita muda akan mendeteksi banyak lesi
yang tidak akan pernah berkembang menjadi kanker, yang akan menyebabkan overtreatment
yang cukup besar, dan dengan demikian tidak efektif biaya. Skrining kanker serviks
seharusnya tidak dimulai sebelum usia 30 tahun. Pemutaran wanita berusia antara 30 dan 49
tahun, bahkan sekali saja, akan mengurangi kematian akibat kanker serviks.

12
HPV testing
Deskripsi
Metode pengujian HPV molekuler didasarkan pada deteksi DNA dari tipe HPV berisiko
tinggi pada sampel vagina dan / atau serviks. Menguji wanita berusia di bawah 30 tahun
untuk virus ini tidak disarankan karena banyak wanita muda yang terinfeksi dengan mereka,
namun kebanyakan infeksi HPV akan hilang secara spontan dari tubuh mereka sebelum
mencapai usia 30 tahun. Dengan demikian, pengujian HPV pada wanita lebih muda dari pada
ini. akan mendeteksi banyak wanita dengan infeksi HPV sementara dan mungkin
menyebabkan prosedur dan perawatan yang tidak perlu yang dapat menyebabkan kerusakan,
kegelisahan, ketidaknyamanan dan biaya. Namun, seiring bertambahnya usia seorang wanita,
jika HPV berisiko tinggi terdeteksi, kemungkinan infeksi HPVnya terus berlanjut. Karena
infeksi HPV yang terus-menerus merupakan penyebab hampir semua kasus kanker serviks,
hasil tes positif pada wanita berusia di atas 30 mengindikasikan bahwa dia mungkin memiliki
lesi yang ada atau berisiko mengalami kanker dan kanker di masa depan. Mengobati wanita
positif ini dapat mengurangi risiko kanker serviks di masa depan. Tes HPV dimasukkan ke
dalam program pencegahan kanker serviks.
Cara Pemeriksaan
Tes HPV tidak memerlukan pemeriksaan pelvis atau visualisasi serviks. Penyedia layanan
kesehatan dapat mengumpulkan sampel sel dengan memasukkan sikat kecil atau perangkat
lain yang sesuai ke dalam vagina, dan kemudian memasukkannya ke dalam wadah kecil
dengan larutan pengawet yang sesuai. Ini mungkin juga dikumpulkan pada saat pemeriksaan
spekulum. Sampel juga bisa dikumpulkan sendiri oleh wanita; Dia bisa diberi sikat dan
wadah khusus dan menginstruksikan cara menggunakannya. Strategi ini dapat
diimplementasikan secara substansial

VIA screening
Deskripsi
Pemeriksaan visual dengan asam asetat (VIA) adalah metode untuk mendeteksi perubahan sel
awal yang terlihat saat menggunakan spekulum untuk memeriksa serviks dengan mata
telanjang setelah mengoleskan asam asetat encer (3-5%) ke dalamnya. Hal ini membutuhkan
pelatihan dan pengawasan penyedia perawatan primer, serta pengendalian kualitas dan
penjaminan mutu yang berkelanjutan. VIA sesuai untuk digunakan pada wanita yang
squamocolumnar junction (SCJ) terlihat, biasanya pada mereka yang berusia lebih muda dari
50 tahun. Ini karena SCJ berangsur-angsur turun ke kanal endoserviks saat menopause

13
terjadi, sehingga memungkinkan untuk melewatkan lesi saat mengandalkan pemeriksaan
visual. VIA membutuhkan penggunaan spekulum dan sumber cahaya, dan penyedia layanan
kesehatan terlatih. Penyedia melakukan pemeriksaan spekulum, mengidentifikasi SCJ dan
dengan hati-hati memeriksa serviks untuk tanda-tanda visual yang mencurigakan untuk
kanker atau pra-kanker. Larutan asam asetat 3-5% secara bebas dioleskan ke serviks dengan
kapas besar. Setelah melepaskan kapas, penyedia menunggu paling sedikit satu menit, selama
itu. daerah yang menjadi samar-samar putih hanya karena peradangan atau perubahan sel
fisiologis (metaplasia) akan surut. Perubahan asetil pada serviks yang tidak surut setelah satu
menit lebih mungkin dikaitkan dengan pra kanker serviks atau kanker. Jika perubahan ini
terlihat di zona transformasi dan memiliki batas yang jelas, hal itu dianggap sebagai hasil
yang positif.
rekomendasi untuk penggunaan optimal
Sebagian besar program skrining VIA berfokus pada wanita berusia antara 30-45 tahun. Ini
adalah periode dimana lesi pra-kanker serviks mulai terwujud. Ini juga merupakan periode
waktu yang sama ketika lesi pra kanker masih dapat diobati dan merespon dengan baik
terhadap krioterapi
1. interval penyaringan tiga sampai lima tahun harus dipertimbangkan untuk wanita
negatif VIA antara usia 25-45 tahun
2. Wanita di bawah usia 25 tahun harus diskrining hanya jika mereka berisiko tinggi
terkena penyakit. Wanita berisiko tinggi mengalami kelainan serviks adalah mereka
yang memiliki keterpaparan seksual dini, beberapa pasangan, hasil skrining abnormal
sebelumnya atau CIN, atau HIV positif.
3. VIA tidak sesuai untuk wanita berusia di atas 50 tahun, wanita ini harus diskrining
pada interval lima tahun dengan menggunakan uji sitologi atau HPV.
4. Untuk perempuan HIV-positif, skrining tahunan dianjurkan
5. skrining tahunan tidak disarankan pada usia berapapun untuk populasi umum
6. Dalam pendekatan kunjungan tunggal, VIA positif ditawarkan cryotherapy pada saat
pemutaran film untuk memaksimalkan keefektifan program pencegahan kanker
serviks, pasca krioterapi, wanita-wanita ini terlihat dalam 12 bulan untuk pemeriksaan
berulang.

14
Metode skrining berbasis sitologi
Deskripsi
Skrining berbasis sitologi melibatkan pengambilan sampel sel dari keseluruhan zona
transformasi Sel-sel itu tetap pada slide di fasilitas (Pap smear) atau ditempatkan dalam
media transportasi (sitologi berbasis cairan) dan kemudian dikirim ke laboratorium dimana
ahli cytotechnologists memeriksa sel-sel di bawah mikroskop. Jika sel abnormal terlihat pada
mikroskopis Pemeriksaan, tingkat kelainannya diklasifikasikan menggunakan Sistem
Bethesda

15