Anda di halaman 1dari 15

ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996

~126~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
EFEKTIFITAS MODEL PENGAJARAN BERDASARKAN-MASALAH
(PROBLEM-BASED INSTRUCTION) DALAM
MENGAJARKAN FISIKA DI SMU

Oleh: Bajongga Silaban


(Dosen Kopertis Wilayah I dpk STKIP Teladan Medan)

ABSTRAK

P enelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pengajaran
berdasarkan masalah yang mengacu dan memanfaatkan komponen-komponen perangkat
pembelajaran efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran produk (kognitif) siswa. Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (action research) berbentuk
kolaboratif. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas I5 caturwulan 2 tahun pelajaran
1998/1999 sebanyak 44 orang yang ditentukan dengan cara random
Hasil penelitian berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa model pengajaran
berdasarkan masalah ini cocok dan efektif digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran Fisika
khususnya pada bahan kajian gelombang, namun memerlukan waktu yang cukup lama dan
fasilitas yang memadai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data tentang sensitivitas dan
ketuntasan TPK tes hasil belajar.
Dari hasil analisis tersebut diperoleh bahwa rata-rata sensitivitas butir soal tes hasil
belajar produk, 0.01 hingga 0.10, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian tes yang diujikan
kurang sensitif untuk mengukur efek pengajaran sesuai dengan ketentuan menurut Aiken di
mana soal dikatakan sensitif bila S0.30. Sedangkan rata-rata ketuntasan TPK untuk tes hasil
belajar (produk 1 dan produk 2) secara umum dapat dikatakan telah tuntas dengan rata-rata
proporsi sekitar 0.69. Namun jika ditinjau per setiap tes hasil belajar, maka yang sudah dapat
dikatakan tuntas adalah TPK tes hasil belajar psikomotor dengan rata-rata proporsi 0.83, TPK tes
hasil belajar produk 1 sebesar 0.69. Sedangkan untuk TPK tes hasil belajar produk 2 belum
tuntas sebab rata-rata proporsinya hanyalah 0.52. Ketuntasan ini di dasarkan pada kurikulum
SMU1994 di mana TPK dikatakan tuntas bila proporsinya (p) 0.65.
Dengan demikian bahwa model pengajaran berdasarkan masalah ini cocok dan efektif
digunakan dalam pencapaian tujuan pembelajaran kognitif (produk) siswa khususnya pada
bahan kajian gelombang

PENDAHULUA N rasa ingin tahu, kemampuan mempertimbangkan


1. Latar Belakang Masalah data baru, rendah hati, dll).
Dalam perkembangannya, Fisika tidak
Menurut Nur (1996:10) rata-rata Nilai
hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta atau
Ebtanas Murni (NEM) menunjukkan pola yang
produk saja, melainkan juga ditandai munculnya
sama dari tahun 1989/1990 sampai dengan tahun
metode ilmiah (mengamati, mengidentifikasi,
1993/1994. Selanjutnya pada tahun 1995 telah
merumuskan hipotesis, menganalisis, meramalkan,
diadakan suatu studi kasus untuk meneliti nilai
merancang serta melaksanakan eksperimen) dan
rata-rata nasional siswa SMU di seluruh
sikap ilmiah (jujur, terbuka, tenang, teliti, objektif,

~127~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
Indonesia dalam mata pelajaran Fisika adalah payah dengan ide-ide. Salah satu model
11,3; mata pelajaran Kimia 22,0 dan mata pembelajaran yang menganut pendekatan
pelajaran Biologi 16,8 dari nilai tertinggi 100 konstruktivis ini ialah model pengajaran
(Nur, 1996: 11).Selanjutnya di daerah provinsi berdasarkan masalah (problem-based instruction).
jawa timur nilai rata-rata NEM SMU dari tahun Dalam pembelajaran ini para siswa harus mampu
pelajaran 1996/1997 hingga tahun pelajaran menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan
1998/1999 selalu mengalami penurunan. seperti memecahkan masalah, belajar bertindak secara
yang ditampilkan pada Tabel 1. dewasa dan menjadikan siswa yang benar-benar
Tabel 1. Daftar Perkembangan Nilai Rata-rata mandiri (Arends, 1997 : 158) dalam upaya
NEM SMA Program IPATahun Pelajaran
1996/1997-1997/1998-1998/1999 Jawa Timur membantu para guru IPA khususnya guru Fisika
N Tahun Pelajaran
Mata Pelajaran SMU dalam menyampaikan materi pelajaran,
o. 1996/1997 1997/1998 1998/1999
1 PPKn 6.92 7.22 5.57
2 Bahasa Indonesia 7.07 6.49 5.83 peneliti termotivasi untuk mengembangkan suatu
3 Matematika 4.60 4.67 3.64
4 Biologi 5.34 5.26 4.40 model pengajaran berdasarkan-masalah (problem-
5 Fisika 4.22 4.04 3.75
6 Kimia 5.52 5.34 5.01 based instruction).
7 Bahasa Inggris 5.15 5.24 4.91
2. Pertanyaan Penelitian
(Sumber: Depdikbud Propinsi Jawa Timur, 1999)
Berdasarkan latar belakang yang telah
Salah satu faktor yang mungkin sebagai penyebab
dikemukakan di atas, maka pertanyaan penelitian
rendahnya nilai NEM tersebut dapat ditimbulkan
yang perlu dijawab dalam penelitian ini
karena kurang tepatnya model pembelajaran yang
adalah“Bagaimanakah hasil belajar produk Fisika
digunakan guru dalam menyampaikan materi
siswa dengan menerapkan pengajaran berdasarkan
pelajaran itu. Untuk memecahkan pembelajaran
masalah (problem-based instruction)?”.
yang demikian maka perlu dilakukan upaya
3. Tujuan Penelitian
penerapan pembelajaran berdasarkan teori kognitif
Sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan
sebagaimana ditekankan pada pengajaran
penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini
berdasarkan masalah yang di dalamnya termasuk
adalah untuk mengetahui seberapa jauh ketuntasan
teori belajar konstruktivis.
tujuan pembelajaran produk dengan menerapkan
Menurut Slavin, (1994 : 225) bahwa agar
pengajaran berdasarkan masalah.
siswa benar-benar memahami dan dapat
4. Batasan Masalah dan Asumsi Penelitian
menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja
a. Batasan Masalah
memecahkan masalah, menemukan segala
Mengingat adanya keterbatasan dan
sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah
kemampuan pada diri peneliti, maka cakupan

~128~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
masalah yang akan dikaji lebih lanjut dibatasi pembelajaran kooperatif (cooperative learning),
sebagai berikut. pengajaran berdasarkan masalah (problem-based
1) Penelitian ini dilakukan pada siswa SMU instruction), diskusi (discussion) dan strategi
Negeri 4 Surabaya kelas 15 Caturwulan 2 tahun pembelajaran (learning strategies). Arends (1997:
pelajaran 1998/1999. 11)
2. Pengertian, Sasaran dan Acuan Pengajaran
2) Penelitian ini dilaksanakan pada mata pelajaran Berdasarkan-Masalah
fisika khususnya bahan kajian gelombang. Pengajaran berdasarkan masalah adalah
b. Asumsi Penelitian suatu pendekatan pengajaran di mana siswa
Siswa dalam mengerjakan tes hasil belajar produk mengerjakan permasalahan otentik dengan maksud
adalah sungguh-sungguh dan murni merupakan untuk membangun pengetahuan mereka sendiri,
usahanya sendiri”. mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir
TINJAUAN PUSTAKA tingkat lebih tinggi, memandirikan, dan percaya
1. Model Pembelajaran diri (Arends, 1997: 288).
Menurut Arends (1997: 7) model Model pengajaran berdasarkan masalah

pembelajaran adalah gambaran suatu pendekatan digunakan untuk menyajikan tingkat berpikir yang

secara menyeluruh atau rencana pengajaran yang lebih tinggi yang berorientasi pada suatu
permasalahan, termasuk pembelajaran bagaimana
meliputi tujuan, langkah-langkah, lingkungan
belajar. Model pengajaran ini juga mengacu
pembelajaran dan sistem pengaturan.
kepada model pembelajaran yang lain seperti
Hal ini senada dengan yang dikemukakan
pengajaran berdasarkan proyek (project-based
oleh Saripuddin (1996: 78) bahwa model
instruction), pengajaran berdasarkan pengalaman
pembelajaran adalah sebagai kerangka konseptual
(experience-based instruction), pembelajaran
yang menggambarkan prosedur yang sistematis
otentik (authentic learning) dan pengajaran
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
bermakna (anchored instruction). Pada
untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan pembelajaran ini guru berperan untuk mengajukan
berfungsi sebagai pedoman bagi perancang dan permasalahan, pertanyaan dan menyediakan
para pengajar dalam merencanakandan fasilitas yang diperlukan siswa. Selain itu guru
melaksanakan kegiatan aktivitas belajar mengajar. berkewajiban memberi scaffolding berupa
Terdapat beberapa model pembelajaran dukungan dalam upaya meningkatkan inkuiri dan
yang dapat digunakan dalam pengelolaan perkembangan intelektual siswa (Arends, 1997:
pembelajaran yang bersifat konstruktivis yaitu: 156).

pengajaran langsung (direct instruction),

~129~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
3. Ciri-ciri Khusus Pengajaran Berdasarkan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen
Masalah. (jika diperlukan), membuat inferensi dan
Menurut Krajcik et al. dalam Arends menyimpulkan. Metode penyelidikan khusus
(1997: 157) mencirikan pengajaran berdasarkan yang digunakan, tentu saja tergantung pada sifat-
masalah sebagai berikut: sifat masalah yang diselidiki.
a. Pengajuan Pertanyaan atauPermasalahan. d. Menghasilkan hasil karya dan
memamerkannya (production of artifacts
Selain pengorganisasian pelajaran tentang
and exhibits)
prinsip atau keterampilan-keterampilan akademik Pengajaran berdasarkan masalah mengajak
tertentu, pengajaran berdasarkan masalah siswa menyusun dan memamerkan hasil
mengorganisasikan pengajaran tentang pertanyaan keterampilan sesuai dengan kemampuannya.
dan permasalahan, yang keduanya sangat e. Kolaborasi (Collaboration).
diperlukan siswa. Guru menujukan kepada yang
Seperti halnya dengan model pembelajaran
otentik, situasi kehidupan nyata yang secara
kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah
khusus menghindarkan jawaban-jawaban
dicirikan dengan kerjasama antar siswa dalam satu
sederhana dan untuk menyelesaikan kompetitif
kelompok kecil. Kerjasama memberikan motivasi
(for which competing solutions exists).
untuk mendukung peliputan dalam tugas-tugas
b. Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain
(interdisciplinary focus) kompleksdan meningkatkan inkuiri dan dialog
Walaupun pengajaran berdasarkan masalah
pengembangan keterampilan berpikir dan
ditujukan pada suatu bidang ilmu tertentu (sains,
keterampilan sosial (Arends, 1997: 158).
matematika, penelitian sosial), namun masalah-
masalah aktual dalam mencari solusinya dapat 4. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar
mengarahkan siswa dalam penyelidikan di Siswa pada Pengajaran Berdasarkan
Masalah
berbagai bidang ilmu. Pengajaran berdasarkan masalah dirancang
Contoh: masalah peningkatan polusi di pantai bukan untuk membantu guru menyampaikan
berkaitkan dengan pelajaran biologi, ekonomi, sejumlah informasi kepada siswa. Untuk
sosiologi, pariwisata dan pemerintahan. menyampaikan informasi cukup dengan
c. Penyelidikan Otentik (Authentic menggunakan model pengajaran langsung (direct
Investigation)
Pengajaran berdasarkan masalah instruction) dan metode ceramah. Pengajaran
mengharuskan siswa melakukan penyelidikan- berdasarkan masalah dikembangkan terutama
penyelidikan otentik mencari solusi nyata dari untuk membantu siswa mengembangkan proses
suatu permasalahan. Siswa menganalisis dan berpikir, belajar secara dewasa melalui
mendefinisikan masalah, mengembangkan pengalaman yang menjadikan siswa mandiri.
hipotesis dan meramalkan, mengumpulkan dan
~130~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
Menurut Arends (1997: 158-160) terdapat 6. Keunggulan dan Kelemahan Pengajaran
Berdasarkan Masalah
3 tujuan pengajaran utama yang ingin dicapai pada
a. Keunggulan
pengajaran berdasarkan masalah yaitu: (a)
1) Para siswa memperoleh pengalaman praktis,
menjadikan siswa yang terampil berpikir dan
baik di laboratorium maupun di lapangan.
memecahkan masalah (b) menjadikan siswa yang
2) Kegiatan pembelajaran lebih menarik sebab
dewasa melalui peniruan (c) menjadikan siswa
tidak terikat di dalam kelas, tetapi juga di luar
yang mandiri.
kelas sehingga tidak membosankan.
5. Langkah-langkah Pengajaran Berdasarkan
Masalah 3) Bahan pengajaran lebih dihayati dan dipahami

Pengajaran berdasarkan masalah terdiri oleh para siswa, sebab teori disertai praktek.

dari 5 langkah utama yang diawali dengan 4) Siswa dapat belajar dari berbagai sumber, baik

orientasi guru dengan siswa kepada suatu tertulis maupun tidak tertulis sehingga
permasalahan dan diakhiri dengan penyajian dan memperoleh pengalaman yang lebih luas.
analisa kerja siswa dan alat-alat (Arends, 1997 : 5) Interaksi sosial antar siswa lebih banyak
161). Kelima langkah tersebut dijelaskan pada dikembangkan sebab hamper setiap langkah
Tabel 2. dalam pengajaran ini ada dalam situasi
Tabel 2 Langkah-langkah Pengajaran kelompok.
Berdasarkan Masalah
Langkah Perilaku Guru 6) Siswa belajar melakukan analisis dan sintesis
1.Orientasi siswa Menjelaskan tujuan pembelajaran secara simultan, baik dalam rangka
pada masalah hal-hal yang dianggap perlu dan
memotivasi siswa dalam melakukan memperoleh data maupun dalam menguji
kegiatan pemecahan masalah.
2.Mengorganisasi- Membantu siswa mendefinisikan hipotesis berdasarkan data dan informasi yang
kan siswa dalam dan meng-organisasikan tugas-tugas
belajar yang berkaitan dengan masalah. diperolehnya.
Mendorong siswa mengumpulkan
3.Bantuan bebas informasi yang diperlukan, 7) Membiasakan siswa berpikir secara logis
dan kelompok melaksanakan eksperimen dan
penyelidik penyelidikan untuk menjelaskan dan sistematis dalam pemecahan masalah.
dan menye-lesaikan. b. Kelemahan
Membantu siswa dalam
4.Mengembangkan perencanaan dan mempersiapkan 1) Menuntut sumber-sumber dan sarana belajar
dan menyedia- alat-alat yang diperlukan seperti
kan alat–alat diktat, video, model dan membantu yang cukup termasuk waktu untuk kegiatan
memasang alat-alat.
Membantu siswa untuk belajar siswa.
5.Menganalisis dan merefleksikan pada penyelidikan
mengevaluasi dan proses yang digunakan. 2) Jika kegiatan belajar tidak dikontrol dan
proses pemeca-
han masalah dikendalikan oleh guru pembelajaran dapat

Arends (1997: 161) membawa resiko yang merugikan. Misalnya


keselamatan kerja di laboratorium, keselamatan
pada waktu pengumpulan data di lapangan,
~131~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
atau kegiatan belajar siswa tidak optimal observer dan pemonitor untuk mengamati proses
disebabkan oleh sikap ketidak pedulian para berlangsungnya pembelajaran.
siswa. Setelah proses pembelajaran berakhir,
3) Apabila masalah tidak berbobot, maka usaha pengamat, pemonitor, peneliti, dan guru mitra
para siswa asal-asalan saja sehingga cenderung melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
untuk menerima hipotesis (Sudjana, 1989: 93- yang telah usai dilaksanakan. Hasil refleksi ini
94). merupakan bahan masukan untuk penyusunan
Rencana Pembelajaran 2 berikutnya. Selanjutnya
METODE PENELITIAN
penelitian ini memasuki siklus penelitian tindakan
1. Jenis Penelitian
yang kedua dan yang ketiga, dengan melakukan
Penelitian yang berjudul Penerapan
cara yang sama seperti pada siklus yang pertama.
Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem-Based
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat
Instruction) dalam Mengajarkan Fisika di SMU
disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas
termasuk jenis penelitian tindakan kelas (action
(action research) bertujuan untuk memperbaiki
research) berbentuk kolaboratif dengan siklus
kualitas pembelajaran sehingga diharapkan hasil
penelitian tindakan sebagai berikut.
belajar siswa meningkat. Hal ini konsisten dengan
RENCANATINDAKANOBSERVASI
pernyatan Natawidjaja (1997: 7) bahwa penelitian
REFLEKSI
tindakan di sekolah terarah kepada perbaikan atau
Siklus penelitian tindakan ini terjadi pada
peningkatan mutu kerja, dalam arti bahwa karena
setiap kali melakukan kegiatan KBM yang
hasil atau temuan penelitian tindakan itu pada diri
dilaksanakan oleh guru. Siklus pertama dalam
guru terdapat perubahan, perbaikan atau
penelitian tindakan ini, guru terlebih dahulu
peningkatan sikap dan perbuatannya.
menyusun Rencana Pembelajaran 1 untuk b. Subjek Penelitian
persiapan penyajian materi pada pertemuan Penelitian ini dilakukan di SMU Negeri
pertama dan tahap ini disebut rencana. Setelah 4 Surabaya dengan subjek penelitian siswa kelas
itu dilakukan tindakan berupa kegiatan belajar I5 caturwulan 2 tahun pelajaran 1998/1999

mengajar dengan menerapkan model pengajaran sebanyak 44 orang yang ditentukan dengan cara
berdasarkan masalah. Selama pembelajaran random.
c. Instrumen Penelitian
berlangsung dilakukan observasi dan pemonitoran 1) Tes Hasil Belajar Produk
terhadap siswa dan guru oleh beberapa orang Penyusunan tes hasil belajar beracuan
patokan yang disusun berdasarkan pada hasil

~132~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
perumusan tujuan pembelajaran khusus sebanyak Pertimbangan lain pemilihan PAP adalah karena
45 butir tes yang dibagi atas tes hasil belajar tes hasil belajar yang dilakukan dimaksudkan
produk 1 (Instrumen 1) memuat 20 butir soal dan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan-
tes hasil belajar produk 2 (instrumen 2) memuat 25 tujuan pembelajaran khusus. Selain itu PAP juga
butir soal masing-masing berbentuk pilihan mengacu pada pengukuran yang ditafsirkan dari
berganda. Instrumen 1 digunakan untuk mengukur sudut kriteria tingkah laku yang ditunjukkan oleh
tingkat penguasaan kognitif siswa sebelum dan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan
sesudah RP 1 hingga RP 3 disajikan. Sedangkan pembelajaran dan tidak mempersoalkan apakah
Instrumen 2 digunakan untuk mengukur tingkat pertanyaan-pertanyaan tersebut mudah atau sukar
penguasaan kognitif siswa sebelum dan sesudah bagi siswa (Gronlund, 1982: 105).
RP 4 dan RP 5 disajikan. Seluruh butir soal Berbeda dengan jenis tes beracuan norma,
diadopsi dari buku Fisika Merrill Physics tingkat prestasi siswa dengan menggunakan tes
berstandard Internasional yang relevan dengan beracuan patokan ini tidak bergantung pada
materi yang akan disajikan. prestasi siswa yang lain. Apabila siswa berhasil
Instrumen ini dipergunakan untuk memenuhi patokan yang telah diterapkan, konsep
mengukur kemampuan subjek penelitian dalam belajar tuntas akan terwujud.
menguasai kumpulan pengetahuan tentang Sedangkan sensitivitas digunakan untuk
gelombang sebagai produk. Tes hasil belajar mengetahui pengaruh/efektifitas pembelajaran.
produk ini disusun oleh peneliti berdasarkan pada Sensitivitas butir soal (S) dihitung dengan
rumusan tujuan pembelajaran khusus (TPK). menggunakan rumus yang disarankan oleh
Karena tes ini disusun berdasarkan pada Norman E. Gronlund.yaitu:
R  RB
rumusan TPK dan tidak memperhatikan dan S= A  PA  PB
T
mempersoalkan tingkat kesukarannya bagi siswa,
dengan :
maka jenis tes ini tergolong tes beracuan Patokan.
S = sensitivitas butir soal
Menurut Kemp, Gary R Morrison (1994: 171) tes RA = jumlah siswa yang menjawab benar pada
beracuan patokan diterapkan untuk mengukur ujiakhir
RB = jumlah siswa yang menjawab benar pada
sampai seberapa jauh setiap siswa dapat mencapai ujiawal
tujuan pembelajaran khusus yang telah T = jumlah semua siswa yang menjawab butir-
butir soal pada waktu tes.
dirumuskan.
PA = proporsi jawaban benar ujiakhir
Penelitian ini menggunakan tes hasil
PB = proporsi jawaban benar ujiawal
belajar tipe penilaian Acuan Patokan (PAP).
(Gronlund, 1982: 105)
~133~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
Nilai sensitivitas menunjukkan kepekaaan 2) Pencapaian Tujuan Pembelajaran
suatu butir soal mengukur efek pengajaran Pencapaian tujuan pembelajaran adalah
(Gronlund, 1982: 105). Menurut Gronlund, indeks proporsi siswa yang menjawab benar (p) terhadap
sensitivitas (kepekaan) butir soal berada diantara suatu tujuan pembelajaran khusus (TPK). Tingkat
0.00 dan 1.00. Semakin besar positif nilai S untuk ketercapaian TPK didasarkan pada dua referensi,
suatu butir tes, maka semakin sensitif butir tes yaitu berdasarkan kurikulum SMU 1994, dan
tersebut terhadap pengajaran (Gronlund, 1982: Kemp, Gary R. Morrison (1994: 171).
105). Butir soal yang memiliki sensitivitas  Berdasarkan Kurikulum SMU 1994, TPK
0,30 memiliki kepekaan yang cukup terhadap dikatakan telah tercapai apabila proporsi siswa
efek-efek pembelajaran (Aiken, 1997: 69). yang menjawab benar lebih besar dan sama
Di samping mencari kesensitivitasannya, dengan 65 % atau (p0.65) dari seluruh tes yang
sebagai analisis penunjang dapat juga menghitung diujikan. Sedangkan menurut Kemp, Gary R.
validitas butir, reliabilitas tes, daya pembeda butir, Morrison TPK dikatakan telah tercapai apabila
dan taraf kesukaran butir. Namun di dalam proporsi siswa yang menjawab benar lebih besar
penelitian ini penulis tidak melakukan analisis dan sama dengan 0.80 atau (p0.80) dari seluruh
penunjang karena analisis penunjang itu tes yang diujikan.
Tingkat ketercapaian TPK tersebut dapat
diberlakukan untuk Penilaian Acuan Norma
dilihat pada tes hasil belajar siswa, yang meliputi
(PAN). Hal ini mengacu pada pendapat Gronlund
THB Produk 1 (Instrumen 1) dan THB produk 2
(1982: 104).
"Karena PAP direncanakan untuk (Instrumen 2).
menguraikan tugas mana yang sudah dapat dan d.Teknik Analisis Data
tidak dapat ditampilkan seorang siswa dan
bukan untuk membedakannya menurut Tes Hasil Belajar (THB) Fisika siswa
kemampuannya, maka indeks taraf kesukaran
butir dan daya pembeda butir yang tradisional subjek dalam penelitian di SMUN 4 Surabaya,
sifatnya sedikit saja artinya."
meliputi tes hasil belajar produk 1 dan produk 2
Dalam penskoran dilakukan sesuai dengan
yang masing-masing diukur dengan menggunakan
pendapat Nur (1987: 155), bahwa dalam
Instrumen 1 dan 2 konsep tentang Gelombang.
pengetesan di kelas, hampir semua ahli yang
Masing-masing tes dianalisis dengan cara sendiri-
memiliki kewenangan, merekomendasikan agar
sendiri dengan menggunakan bantuan program
data analisis butir harusnya dipakai sebagai dasar
komputer Microsoft Excel Versi 5.0a. Analisis ini
untuk perevisian tes di masa datang, tetapi tidak
dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan
menganjurkan membuang yang jelek dalam
penelitian tentang ketuntasan tujuan pembelajaran
perhitungan skor untuk kelas yang sekarang ini.
~134~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
dengan menerapkan pengajaran berdasarkan HASIL PENELITIAN
masalah dan perangkat pembelajaran yang Adapun ringkasan hasil analisis data tes
dikembangkan oleh peneliti. hasil belajar siswa tentang sensitivitas butir-butir
Untuk mengetahui peningkatan skor siswa, tes hasil belajar dan dengan tingkat ketuntasan
dan ketuntasan dalam belajar maka perlu belajar siswa serta ketuntasan TPK pada penelitian
dilakukan dua kali tes, yaitu ujiawal dan ujiakhir berdasarkan hasil print out program komputer
dengan menggunakan soal yang sama. Tes ini Microsoft Excel Versi 5.0a untuk masing-masing
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kepekaan jenis tes dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
butir-butir tes terhadap efek-efek pengajaran. Butir soal THB produk 1 yang dianggap
Dasar untuk menentukan tingkat ketuntasan suatu tuntas berdasarkan kurikulum SMU 1994 dengan p
butir tes, digunakan proporsi siswa yang 0.65 sebanyak 13 butir tes. Sedangkan jika
menjawab benar untuk setiap butir tes. Sedangkan ditinjau menurut Kemp, Gary R. Morrison (p 
ketuntasan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK), 0.80) maka butir soal yang sudah dianggap tuntas
diukur berdasarkan butir-butir soal di dalam Tes sebanyak 11 butir tes seperti tertera pada Tabel 3.
Hasil Belajar melalui proporsi siswa yang Pada Tabel 3 juga ditunjukkan ketuntasan TPK di
menjawab benar semua butir tes yang mana dari 13 TPK yang diberikan ternyata hanya 8
dikembangkan atau diturunkan dari TPK tersebut TPK yang sudah mencapai ketuntasan jika ditinjau
(p TPK) tersebut. berdasarkan Kurikulum SMU 1994 (p 0.65) dan
Kriteria pencapaian ketuntasan dalam
jika ditinjau menurut Kemp, Gary R. Morrison (p
belajar ditinjau dari dua acuan, yaitu menurut
0.80) hanya 6 TPK.
Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Fisika Kurikulum Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 24
SMU 1994 (Depdikbud, 1995: 48), menyebutkan TPK yang diberikan hanya 11 TPK yang sudah
bahwa angka ketuntasan tes hasil belajar produk mencapai ketuntasan jika ditinjau berdasarkan
jika proporsi jawaban benar lebih besar atau sama Kurikulum SMU 1994 (p0.65) sedangkan jika
dengan 0.65 (p 0.65). Sedangkan menurut ditinjau menurut Kemp, Gary R. Morrison (p 
Kemp, Gary R. Morrison (1994: 286) angka 0.80) hanya 10 TPK yang sudah mencapai
ketuntasan tes hasil belajar produk jika proporsi ketuntasan tersebut yakni TPK.
jawaban benar lebih besar atau sama dengan 0.80 Dengan demikian apabila ditinjau berdasarkan
(p0.80) dan angka ketuntasan tes hasil belajar Kurikulum SMU 1994 (p0.65) dan jika
psikomotor jika proporsi jawaban benar lebih didasarkan pada ketentuan Kemp, Gary R.
besar atau sama dengan 0.90 (p 0.90). Morrison (p0.80), siswa dikatakan telah
mencapai ketuntasan belajar apabila mereka dapat
~135~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
menjawab dengan benar minimal sebanyak 13
dengan kriteria yang digunakan, di mana menurut
hingga 16 butir soal dari 25 butir soal yang
Aiken (1997: 69) mengatakan bahwa butir soal
diujikan.
dikatakan sensitif terhadap pembelajaran bila S 
Pada Tabel 4 dari 24 TPK yang disajikan 0,30. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada butir-
ternyata hanya 11 TPK yang sudah mencapai butir soal yang diujikan kurang sensitif atau proses
ketuntasan jika ditinjau berdasarkan Kurikulum belajar mengajarnya kurang efektif.
SMU 1994 (p0.65), sedangkan jika ditinjau PENUTUP
menurut Kemp, Gary R. Morrison (p0.80) hanya 1. Simpulan
10 TPK yang sudah mencapai ketuntasan tersebut a. Dari hasil analisis tersebut diperoleh bahwa
yakni TPK. rata-rata sensitivitas butir soal tes hasil belajar
Butir soal THB produk 2 yang sudah produk, 0.01 hingga 0.10, sehingga dapat
dianggap tuntas apabila ditinjau berdasarkan dikatakan bahwa sebagian tes yang diujikan
kurikulum SMU 1994 dengan p0.65 adalah kurang sensitif untuk mengukur efek
sebanyak 12 butir soal. Sedangkan jika ditinjau pengajaran sesuai dengan ketentuan menurut
menurut Kemp, Gary R. Morrison (p 0.80) maka Aiken di mana soal dikatakan sensitif bila
hanya 11 butir soal yang sudah dianggap tuntas. S0.30. Sedangkan rata-rata ketuntasan TPK
Dengan demikian apabila ditinjau untuk tes hasil belajar (produk 1 dan produk 2)
berdasarkan Kurikulum SMU 1994 (Depdikbud, secara umum dapat dikatakan telah tuntas
1995: 48) siswa dikatakan telah mencapai dengan rata-rata proporsi sekitar 0.69. Ketidak
ketuntasan apabila p  0.65 dan dengan ketentuan tuntasan secara mutlak barangkali dapat
Kemp, Gary R. Morrison (1994: 286) apabila p  disebakan karena model pembelajaran yang
0.80. Siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan diterapkan oleh guru merupakan model
belajar apabila mereka dapat menjawab dengan pembelajaran yang baru dibanding dengan
benar minimal sebanyak 16 hingga 20 butir soal pembelajaran yang digunakan pada periode
dari 25 butir soal yang diujikan. sebelumnya.
Tabel 3 dan Tabel 4 juga menunjukkan b. Dengan demikian berdasarkan hasil analisis
bahwa koefisien sensitivitas (S) THB produk 1 dan data, maka model pengajaran berdasarkan
THB produk 2 berkisar antara –0.13 dan 0,67. masalah ini cocok dan efektif digunakan dalam
Dari nilai sensitivitas ini menunjukkan bahwa pencapaian tujuan pembelajaran Fisika
masih ada butir soal yang kurang sensitif terhadap khususnya pada bahan kajian Gelombang,
efek-efek pembelajaran. Hal tersebut sesuai namun memerlukan waktu yang cukup lama

~136~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
Arends, Richard I. 1997. Classroom Instruction
dan fasilitas yang serba lengkap. Hal ini dapat
and Management. New York : Mc Graw-Hill
dilihat dari hasil analisis data tentang Companies, Inc.
Depdikbud, 1995. Kurikulum Sekolah
sensitivitas dan ketuntasan TPK tes hasil Menengah Umum dan GBPP Mata
belajar. Pelajaran Fisika. Jakarta: Depdikbud.
2. Saran-saran Depdikbud. 1999. Daftar Perkembangan Nilai
Rata-rata NEM SMU Tahun Pelajaran
a. Mengingat penelitian ini masih sangat terbatas 1996/1997-1997/1998-1998/1999 Jawa Timur.
yang hanya mengambil subjek penelitian (Hasil Print Out Kepala Bidang Dikmenum
Propinsi Jawa Timur.
sebanyak 44 orang dan dilakukan hanya di satu Gronlund, E., Norman. 1982. Constructing
sekolah, maka diharapkan bagi yang berminat Achievement Tests. Third Edition. London:
Prentice Hall
untuk melakukan penelitian dengan Saripuddin W., Udin dan Soekamto , T. 1996.
menerapkan model pengajaran berdasarkan Teori-teori Belajar dan Model-model
Pembelajaran. Puasat antar Universitas Untuk
masalah ini pada berbagai situasi dan kondisi Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas
dan variabel-variabel yang lebih banyak. Hal Instruksional. Dirjen DIKTI . Jakarta:
Depdikbud.
ini konsisten dengan tujuan penelitian tindakan Kemp. Jerrold E., Morrison G., Ross, SM. 1994.
kelas yaitu untuk memperbaiki dan Designing Effective Instruction. New York:
Macmillan College Publishing Company.
meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih Slavin, Robert E. 1994. Educational
baik dan dilakukan secara berkesinambungan. Psychology:Theories and Practice. Fourth
Edition Massachusetts: Allyn and Bacon
b. Pemerintah, pengelola sekolah, guru dan orang Publishers.
Soedarsono, FX. 1997. Pedoman Pelaksanaan
tua perlu menjalin kerjasama yang baik dalam
Tindakan Kelas (PTK), Rencana Desain dan
memikirkan kebutuhan yang diperlukan oleh Implementasi. Bagian kedua Dirjen Dikti
Jakarta. Jakarta : Depdikbud.
sekolah agar pengajaran berdasarkan masalah
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif
dapat diterapkan secara maksimal. dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Bar:
Bandung.
DAFTAR PUSTAKA Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian
Aiken, Lewis. R. 1997. Psychological Testing Tindakan Kelas (PTK), Pengenalan Penelitian
and Assessment. Ninth Edition USA: Allyn Tindakan Kelas (PTK). Bagian kesatu Dirjen
and Bacon. Dikti Jakarta. Jakarta : Depdikbud.
—-

~137~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
TABEL 3
KETUNTASAN DAN SENSITIVITAS BUTIR SOAL THB PRODUK 1
(INSTRUMEN 1)
p Butir Soal p TPK Ketuntasan
Tujuan Pembelajaran No. Soal &
No S
Khusus Klasifikasi p1 p2 p1 p2 p0.6 p0.80
5
1 Siswa dapat menjelaskan
bahwa gelombang memin-
1(O), C1 0.25 0.25 0.25 0.25 0.00 Belum Belum
dahkan energi tanpa
memindahkan bahan.
2 Siswa dapat menyebutkan 2(O),C1 0.32 0.50 0.23 0.32 0.18
jenis-jenis gelombang Belum Belum
3(O),C1 0.14 0.14 0.00
3 Siswa dapat membedakan 4(O),C1 0.75 0.89 0.75 0.89 0.14
antara pulsa dengan Tuntas Belum
gelombang
4 Siswa dapat menjelaskan 5(O),C1 0.98 0.98 0.98 0.98 0.00
Tuntas Tuntas
pengertian amplitudo
5 Siswa dapat menjelaskan 6(O),C1 0.86 0.93 0.86 0.93 0.07
Tuntas Tuntas
pengetian panjang
6 Siswa dapat menjelaskan 7(O),C1 0.48 0.70 0.48 0.70 0.22
pengertian frekuensi Tuntas Tuntas
gelombang
7 Siswa dapat menyebutkan 8(O),C1 0.23 0.48 0.23 0.48 0.25
Belum Belum
persamaan energi gelombang
8 Siswa dapat menghitung 9(O),C3 0.82 0.91 0.85 0.95 0.09
periode getaran gelombang Tuntas Tuntas
13(O),C3 0.89 1.00 0.11
9 Siswa dapat menghitung 10(O),C3 0.98 0.95 0.82 0.90 -0.03
frekuensi gelombang
12(O),C3 0.84 0.89 0.05
Tuntas Belum
16(O),C3 0.80 0.95 0.15
17(O),C3 0.66 0.80 0.14
10 Siswa dapat menyebutkan 11(O),C1 0.82 1.00 0.82 1.00 0.08
hubungan antara frekuensi,
Tuntas Tuntas
panjang gelombang, dan
kecepatan
11 Siswa dapat menjelaskan 14(O),C2 0.23 0.05 -0.18 0.23 0.18
Belum Belum
gerak gelombang
12 Siswa dapat menghitung 15(O),C2 0.36 0.39 0.24 0.49 0.03
panjang gelombang
19(O),C2 0.75 0.98 0.23 Belum Belum
20(O),C2 0.66 0.75 0.09
13 Siswa dapat menyebutkan
satuan panjang gelombang 18(O),C1 0.43 0.41 0.43 0.41 -0.02 Belum Belum
dalam SI
Rata-rata Proporsi 0.65 0.72 0.63 0.69 0.10 Tuntas Tuntas

~138~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
TABEL 4
KETUNTASAN DAN SENTIVITAS BUTIR SOAL THB PRODUK 2
(INSTRUMEN 2)
Tujuan Pembelajaran No. Soal & pButir Soal pTPK Ketuntasan
No. p1 p2 p1 p2 p≥0.65 p≥0.80
Khusus Klasifikasi S
Siswa dapat menyebutkan
1 6(O),C1 0.95 0.86 0.95 0.86 -0.09 Tuntas Tuntas
prinsip superposisi
Siswa dapat menjelaskan
2 7(O),C2 0.98 0.95 0.98 0.95 -0.03 Tuntas Tuntas
interferensi
Siswa dapat menjelaskan
3 terjadinya interferensi 22(O),C2 0.80 0.52 0.80 0.52 -0.28 Belum Belum
konstruktif
Siswa dapat menyebutkan
4 keadaan pulsa di saat terjadi 23(O),C1 0.27 0.70 0.27 0.70 0.43 Tuntas Belum
interferensi konstruktif
Siswa dapat menjelaskan
5 terjadinya interferensi 24(O),C2 0.32 0.11 0.32 0.11 -0.21 Belum Belum
destruktif
Siswa dapat menjelaskan
6 sifat-sifat suatu medium 1(O),C2 0.30 0.18 0.30 0.18 -0.12 Belum Belum
gelombang
Siswa dapat menjelaskan
rambatan pusatan gelombang
7 bila dating dari medium yang 2(O),C2 0.75 0.86 0.75 0.86 0.11 Tuntas Tuntas
lebih rapat ke medium yang
kurang rapat
Siswa dapat menjelaskan
rambatan pulsa gelombang
8 bila datang dari medium 4(O),C2 0.00 0.09 0.00 0.09 0.09 Belum Belum
yang kurang rapat ke
medium yang lebih rapat
Siswa dapat menghitung
9 5(O),C2 0.82 0.95 0.82 0.95 0.07 Tuntas Tuntas
periode getaran gelombang
Siswa dapat menentukan
10 12(O),C2 0.32 0.18 0.32 0.18 -0.14 Belum Belum
letak perut suatu gelombang
Siswa dapat menyebutkan
11 pengertian simpul dari suatu 8(O),C2 0.86 0.80 0.86 0.80 -0.06 Tuntas Tuntas
gelombang
Siswa dapat menyebutkan
12 pengertian perut dari suatu 9(O),C2 0.45 0.34 0.45 0.34 -0.11 Belum Belum
gelombang
Siswa dapat menentukan
besarnya gaya yang
13 10(O),C2 0.23 0.34 0.23 0.34 0.11 Belum Belum
diperlukan untuk mempeoleh
panjang gelombang tertentu
Siswa dapat menghitung
14 11(O),C2 0.45 0.27 0.45 0.27 -0.18 Belum Belum
frekuensi gelombang
Siswa dapat menghitung
15 13(O),C2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Belum Belum
kelajuan gelombang

~139~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005
ISSN: 0852-3916 STT:2237/SK/DITJEN PPG/STT/1996
TABEL 4 (Lanjutan)
KETUNTASAN DAN SENTIVITAS BUTIR SOAL THB PRODUK 2
(INSTRUMEN 2)
Tujuan Pembelajaran No. Soal & p Butir Soal p TPK Ketuntasan
No. S
Khusus Klasifikasi p1 p2 p1 p2 p≥0.65 p≥0.80
Siswa dapat menghitung
waktu yang diperlukan
16 gelombang senar gitar 3(O),C2 0.80 0.86 0.80 0.80 0.06 Tuntas Tuntas
bergerak ke ujung tali dan
kembali ke tengah-tengah
Siswa dapat membedakan
antara gelombang AM dan 21(O),C2 0.05 0.00 0.05 0.00 -0.05 Belum Belum
17
gelombang FM
Siswa dapat menyebutkan 14(O),C2
18 0.93 0.98 0.93 0.98 0.05 Tuntas Tuntas
hukum pemantulan 18(O),C2
Siswa dapat menjelaskan
19 15(O),C2 0.86 0.93 0.80 0.86 0.07 Tuntas Tuntas
pengertian sudut pandang
Siswa dapat menjelaskan
20 16(O),C2 0.89 0.98 0.89 0.98 0.09 Tuntas Tuntas
pengertian sudut pantul
Siswa dapat menjelaskan
21 17(O),C2 0.98 1.00 0.98 1.00 0.02 Tuntas Tuntas
pengertian normal
Siswa dapat menjelaskan
22 19(O),C2 0.27 0.25 0.27 0.25 -0.02 Belum Belum
pembiasaan
Siswa dapat menjelaskan
23 20(O),C2 0.27 0.25 0.27 0.25 -0.02 Belum Belum
difraksi
Siswa dapat menghitung
24 25(O),C2 0.16 0.16 0.16 0.16 0.00 Belum Belum
kedalaman laut
Rata-rata Proporsi 0.19 0.20 0.52 0.52 0.01 Belum Belum

Keterangan :
p1 = proporsi jawaban benar ujiawal
p2 = proporsi jawaban benar ujiakhir

O = objektif
S = sensitivitas butir soal
pTPK = proporsi ketuntasan TPK
pButir Soal = proporsi ketuntasan butir soal
C1 = pengetahuan
C2 = pemahaman

~140~
Warta Universitaria Edisi 20 & 21, UMA Tahun 2005