Anda di halaman 1dari 26

BAB I

STATUS MEDIS PASIEN

1.1 IDENTITAS PASIEN


 Nama : An. KJ
 Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 19 September 2014
 Usia : 9 bulan
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : Islam
 Alamat :Jl. Tipar Cakung RT/RW 005/ 001, NO.
56. Kel. Sukapura. Kec. Cilincing
Jakarta Utara.
 Anak ke : 1 dari 1 bersaudara
 Nama ayah : Tn. J
 Tanggal MRS : 21 Juni 2015
 Nomor RM : 208861
 Dokter yang merawat : dr. Kartini, Sp.A

1.2 ANAMNESIS

Alloanamnesis, minggu, 21 juni 2015

• Keluhan utama :

Kejang yang berlangsung sekitar 5 menit jam 08.30 WIB SMRS

• Riwayat penyakit sekarang :

Sebelum Masuk RS

Pasien mengalami kejang yang berlangsung kurang lebih 5 menit,


kejang ini menurut orang tua pasien diseluruh tubuh. Saat kejang pasien
tidak sadar, dan setelah kejang pasien langsung menangis dan tampak

1
gelisah. Kejang hanya terjadi 1 kali dan tidak berulang kembali. Tidak mual
dan muntah (sebelum dan setelah kejang).

3 Hari SMRS
Pasien mengeluh demam yang tinggi mendadak, demam terus
menerus. Selama demam pasien tidak mengigau. suhu tubuh saat dirumah
adalah 39,9O Hari kedua dan ketiga demam masih tinggi, tidak turun. Pasien
juga mengatakan bahwa pasien berdahak, dahak berwarna kuning, orang tua
mengatakan bahwa saat batuk anaknya bisa sampai sesak. Namun sesak tidak
terlalu sering. Keluhan pilek, bersin disangkal.
Semenjak lahir ibu tidak menjumpai adanya warna kebiruan pada
wajah, kulit, bibir, jari-jari tangan dan jari-jari kaki. Baik pada saat pasien
menangis maupun menyusu. Pada saat kejang dan sakit juga tidak tampak warna
kebiruan di wajah, kulit, bibir, jari-jari tangan dan jari-jari kaki. Ibu juga tidak
pernah mengamati apakah semenjak pasien lahir hingga sekarang mata atau
kulit pasien berwarna kuning.

Pasien tidak pernah mengalami mimisan. Tidak terdapat bitnik


kemerahan pada badan. Tidak ada sariawan.

Pasien tidak mencret, BAB normal, 2 kali dalam sehari, konsistensi


padat. BAK normal, warna kuning jernih, pasien tidak menangis saat buang air
kecil, dan setiap kali BAK pampers selalu penuh.

Pasien tidak rewel, nafsu makan baik, masih mau minum susu seperti
biasanya.

Berat badan sebelum sakit tidak diketahui.

 Riwayat penyakit dahulu :


Pasien belum pernah mengalami kejang seperti ini sebelumnya, ibu mengatakan
semenjak lahir pasien biasanya sakit seperti demam, batuk, pilek dan biasanya
sembuh jika diberi obat dari puskesmas. Sebelumnya pasien tidak pernah di rawat
kerena penyakit berat. TB paru (-), Campak (-).

2
 Riwayat penyakit keluarga :
Ibu pasien mempunyai riwayat kejang demam saat masih kecil. Tidak ada riwayat
epilepsi, dan asma di keluarga. Saudara sepupu (anak saudara kandung ibu pasien)
juga mengalami hal serupa dengan pasien saat berumur 10 bulan.

 Riwayat Alergi :
Pasien tidak ada riwayat alergi obat, makanan, susu sapi, cuaca dan debu.

 Riwayat Pengobatan :
Pasien tidak pernah konsumsi obat – obatan jangka panjang, dan sebelum di bawa
ke RS pasien minum obat dari puskesmas dan klinik, yaitu parasetamol, panas turun
beberapa saat dan kemudian naik kembali.

 Riwayat Kehamilan Ibu :


Pasien lahir dengan usia kehamilan 40 minggu. Selama hamil ibu mengaku tidak
pernah sakit. Tidak ada riwayat darah tinggi selama masa kehamilan. Ibu tidak
mengonsumsi obat-obatan dan jamu, tidak merokok, tidak minum minuman keras
selama kehamilan. Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di bidan praktek
swasta. Ibu juga mendapatkan vaksin toksoid tetanus 2x selama kehamilan.

Kesan: Tidak terdapat penyulit selama kehamilan.

 Riwayat persalinan :
Pasien lahir spontan, di tolong bidan, lahir pada usia kehamilan 40 minggu (cukup
bulan), menangis spontan, tidak ada cacat, warna kulit bayi tidak kuning dan tidak
biru. BBL: 3500, PBL: 50 cm, LK: 43cm.

Kesan: Berdasarkan kurva lubchenko, berat lahir anak ini termasuk kategori
sesuai untuk masa kehamilan (SMK).

Riwayat pemberian makan :

 Pasien mendapatkan ASI Ekslusif 0 – 6 bulan, menurut ibu, pasien diberikan


ASI setiap 3 jam.

 Pasien mendapatkan susu formula dan makanan pendamping ASI di berikan


pada usia 7 bulan sampai sekarang.

3
 Pasien mengkonsumsi makanan pendamping yang diberikan berupa bubur,
konsumsi buah dan sayur. pasien diberikan makan 4x dalam sehari. Makanan
berupa nasi + lauk seperti ayam/ikan/telur + sayuran seperti wortel, kentang,
bayam yang dihalukan dengan blander.

Kesan : makan sesuai usia

 Riwayat Imunisasi :
 BCG : 1x, umur 2 bulan
 Polio : 4x, umur Lahir,2, 4, 6 bulan
 Hepatitis B : 3x, umur Lahir, 1, 6 bulan
 DPT : 3x, umur 2, 4, 6 bulan
 Campak: Belum
Kesan : Imunisasi dasar yang belum diberikan adalah campak,
pemberiannya ditunda karena anak dalam kondisi sakit.

• Riwayat Perkembangan

a. Motorik kasar : Anak sudah bisa bangki sendiri terus duduk kembali.
b. Bahasa : Anak sudah memanggil papa mama dengan jelas, sudah bisa
mengoceh.
c. Motorik halus : Anak sudah bisa menggenggam mainan dengan ibu jari dan
jari.
d. Personal Sosial : Anak sudah bisa dada dengan tangan, bertepuk tangan
apabila mendengarkan lagu dan sudah bisa menyatakan
keinginan.
Kesan : Perkembangan normal.

4
5
1.3 PEMERIKSAAN FISIK

Status pasien

- Keadaan umum : Tampak sakit sedang


- Kesadaran : Compos mentis
- Nadi : 128 x/menit, reguler, isi cukup.
- Pernapasan : 38 x/menit, regular, normal.
- Suhu axila : 39,9o C

Antropometri dan Status Gizi

• Berat Badan : 7 kg (P 5 NCHS)


• Tinggi Badan : 70 cm (P 50 NCHS)
• Lingkar Kepala : 45 cm (P 75 NCHS)
Status Gizi
• BB/U : 7/8,4 x 100 % = 83 % (Gizi Baik)
• TB/U : 70/70 x 100 % = 100 % (Normal)
• BB/TB : 7/8,4 x 100 % = 83 % (Gizi Kurang)
Kesan : Gizi Kurang

6
7
Status Generalis
1. Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh
- Pucat : (+)
- Sianosis : (-)
- Ikterus : (-)
- Perdarahan : (-)
- Oedem umum : (-)
- Turgor : < 2 detik

KEPALA

- Bentuk : Normocephal
- UUB : Normal
- Rambut : Hitam, tipis, lurus, tidak mudah dicabut
- Kulit : Pigmentasi kulit normal, sianosis (-), ikterus (-), hemangioma
(-), ekzema (-), pucat (-), purpura (-), eritema (-), turgor kulit
normal.
- Wajah : Simetris
- Mata : Kelopak mata cekung (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sclera
ikterik (-/-), kornea jernih, refleks cahaya (+/+), air mata (+),
pergerakan bola mata ke segala arah baik.
- Telinga : Bentuk normal (normotia), simetris, serumen (-/-)
- Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), pernafasan cuping hidung
(-), sekret (-)
- Mulut : Mulut simetris, lidah simetris, Mukosa bibir tidak kering,
sianosis (-), faring tidak hiperemis.

LEHER

- Bentuk : Simetris
- KGB : Tidak membesar
- Kaku kuduk : (-)

8
THORAKS
- Inspeksi : Bentuk simetris, retraksi sela iga (-)

PARU
- Inspeksi : Simetris dextra-sinistra, tidak ada bagian dada yang tertinggal
saat bernapas, retraksi dinding dada (-), scar (-), otot bantu
pernapasan (-)
- Palpasi : Simetris, vocal fremitus sama dextra-sinistra, tidak ada bagian
dada yang tertinggal saat bernapas, nyeri tekan (-)
- Perkusi : Tidak dilakukan
- Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing(-/-)

JANTUNG
- Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
- Palpasi : Iktus kordis teraba sela iga V garis midklavikula sinistra
- Perkusi : Tidak dilakukan
- Auskultasi : Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
- Inspeksi : Perut datar.
- Palpasi : Supel, turgor baik.
- Perkusi : Timpani.
- Auskultasi : Bising usus (+).

INGUINAL DAN PERIANAL

- Anus : Tidak ada cacat bawaan.


- Pembesaran KGB inguinal : -/-

EKSTREMITAS

- Superior : Akral hangat, udem (-/-), Sianosis (-)


- Inferior : Akral hangat, udem (-/-), Sianosis (-)

9
1.4 PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

 Tanda rangsang meningeal


 Kaku kuduk (nuchal rigidity) : negatif
 Brudzinski I : negatif
 Brudzinski II : negatif
 Kernig sign : negatif
 Paralisis 12 nervus cranial : Tidak Ada
 Refleks fisiologis : Biseps (+), triceps (+), patella (+), Achilles (+).
 Refleks Patologis : Babinski (-)
 Kekuatan otot normal
 Gerakan motorik normal pada ke empat esktremitas

1.5 PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal

Hemoglobin 9,90 g/dl L = 13,8 – 17,0 P = 11,3 – 15,5

Leukosit 14.800 /ul L = 4,5 – 10,8 P =4,3 – 10,4

Hematokrit 26,7 % L = 42,0 – 5,0 P = 36,0 – 46,0

Trombosit 161.000 /ul L = 185.000 – 402.000 P = 132.000

10
RESUME

1. Anamnesis
 An. perempuan, 9 bulan, BB 7 kg, datang dengan keluhan kejang pada jam
08.30 WIB SMRS.
 Kejang diseluruh tubuh, kejang berlangsung 5 menit dan merupakan kejang
yang pertama kali. Kejang tidak berulang.
 Keluhan kejang diawali demam tinggi mendadak dengan suhu 39,9 o C
 Keluhan lain: batuk berdahak sejak 3 hari SMRS, dahak berwarna kuning.

2. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : Tampak sakit dan tampak mengantuk
 Kesadaran : Composmentis
 Nadi : 128 x/menit, reguler, isi cukup.
 Respirasi : 38 x/menit, reguler, normal
 Suhu axila : 39,9 ºC
 BB : 7 kg
 Status gizi : Baik
 UUB : normal
 Mata : Konjungtiva anemis(-/-), sklera ikterik(-)

 Abdomen : Perut datar, Turgor normal, Bising usus (+).

 Genitalia : Anus tidak kemerahan


 Ekstremitas : Akral dingin

3. Pemeriksaan Laboratorium
 Leukosit meningkat
 Hematokrit menurun
 Trombosit menurun

4. Diagnosis
Diagnosa berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik :
• Kejang demam sederhana
• ISPA

11
Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium :
• Anemia

5. Anjuran pemeriksaan
o Pemeriksaan cairan otak : LCS
o Gula darah dan Elektrolit

6. Penatalaksanaan
Langkah pertama
A. Airway : Bebaskan jalan napas
B. Breathing : berikan O2 100%
C. Circulation: monitor nadi & tekanan darah
D. Cek gula darah segera, koreksi dg dextrose bila hipoglikemi
E. Establish : akses vena
Investigasi : menentukan etiologi
Anamnesis dan pemeriksaan neurologi
Glukosa,Na,K,Ca,Mg,DPL (jika ada indikasi)

1. Ringer Laktat
o Kebutuhan Cairan 100cc x 7 = 700 cc
o Peningkatan suhu tubuh 20 C : 2 x 12% (700) = 168 cc
o Total kebutuhan cairan : 700 + 168 = 868 cc
Diberikan secara parenteral sebanyak 10 tetes/menit dalam 24 jam.

2. Medikamentosa
o Paracetamol Drip 7 kg x 15 mg = 105 mg
3 x 100mg  3x 10cc, jika suhu > 290C

Paracetamol Drop 7 kg x 10 mg = 70 mg
@100mg/ml  0,7 ml diberikan 3 kali/hari
Apabila suhu >38O C

12
o Diazepam rectal
BB < 10 mg  5 mg/kali
BB > 10 mg  10 mg/kali
Diazepam oral 7 kg x 0,5 mg = 3,5 mg/hari

o Amoxicilin sirup 7 kg x 15 ml = 105 mg


Syr 125 mg/5ml = 2 x 2/3 cth

o Ambroxol sirup 7 kg x 1,5 mg = 10,5 mg


Syr. 15 mg/5 ml  3x 2/3 cth

Menjadwalkan imunisasi campak sesegera mungkin sebelum umur 12


bulan, apabila sudah lewat 12 bulan, imunisasi yang diberikan adalah
MMR.

Resep Obat

R/ Ringer Lactat fl. No. I


∫ i.m.m
R/ Infus set No. I
∫ i.m.m
R/ Abbocath 26 No. I
∫ i.mm

Pro : An. KJ
Umur : 9 bulan

13
Resep Obat

R/ Parasetamol drip mg 10 No. I


∫ i.m.m
R/ Diazepam supp. mg.5 No. I
∫ i.m.m
R/ Diazepam tab. mg.2 No. V
m.fla. pulv. dtd No.IX
∫ 2 dd 1 pulv p.r.n

Pro : An. KJ
Umur : 9 bulan

Resep Obat

R/ Amoxicilin syr. mg. 125 No. I


∫ 3 dd 2/3 cth p.c.
R/ Paracetamol drop mg.100 No. I
∫ 2 dd 0,7 ml p.c. p.r.n.
R/ Ambroxol syr. mg.15 No. I
∫ 2 dd ½ cth p.c.

Pro : An. KJ
Umur : 9 bulan

7. Prognosis
o Quo ad Vitam : Bonam
o Quo ad Functionam : Bonam
o Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam

14
8. Kebutuhan Kalori
Kebutuhan kalori : BB ideal (Kg) x RDA
RDA : Recommended Daily Allowance
Usia ( Tahun ) Energi ( kkal/kg)
0-1 110-120

1-3 100

4-6 90

Laki-laki Perempuan

7-9 80-90 60-80

10-14 50-70 40-65

14-18 40-50 40

9. FOLLOW UP
Tanggal S O A P

- Kejang (+) jam T : 38,7 oC Kejang demam - Infus RA 12 tetes/


08.30 WIB, 5 sederhana menit dalam 24 jam
21-6-15 HR :120x/ menit
menit, kejang - Diazepam 2mg supp
seluruh tubuh. RR : 36x/menit - Diazepam inj 3x1
- Setelah kejang, - Sanmol drip 3x0,8
mata mendelik, cc
tubuh kaku. - Puyer batuk 2x1
- Batuk (+), sejak 1 - Fentolin 3x/hari
minggu
- Mual , muntah (-)
- Kejang (-) T : 37,8o C Kejang demam - Infus RA 12 tetes/
- Lemas, gelisah. sederhana menit dalam 24 jam
22-6-15 HR : 120x/menit
- Muntah (-) - Diazepam 2mg supp
- BAB 1x, RR : 38x/ menit - Diazepam inj 3x1
Konsistensi - Sanmol drip 3x0,8
semisolid. cc
- Puyer batuk 2x1
- Fentolin 3x/hari

15
- Kejang (-) T : 37,4o C Kejang demam - Infus RA 12 tetes/
- Muntah (-) sederhana menit dalam 24 jam
23-6-15 HR : 110x/menit
- Batuk, kadang – - Diazepam 2mg supp
kadang RR : 32x/ menit - Diazepam inj 3x1
- Sesak (-) - Sanmol drip 3x0,8
- BAB belum hari cc
ini - Puyer batuk 2x1
Fentolin 3x/hari

- Kejang (-) T : 37,1 o C Kejang demam - Pasien meminta


- Muntah (-) sederhana pulang atas kemauan
24-6-15 HR :100x/ menit
- Batuk (-) sendiri.
- Sesak (-) RR : 35x/ menit

Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Hasil Hasil Hasil


Pemeriksaan Satuan Nilai Normal
22-06-15 23-06-15 24-06-15

Hemoglobin 10,3 10,4 10,7 g/dl L = 13,8 – 17,0 P = 11,3 – 15,5

Leukosit 13.100 9.500 8.100 /ul L = 4,5 – 10,8 P =4,3 – 10,4

Hematokrit 26,8 28,9 30,7 % L = 42,0 – 5,0 P = 36,0 – 46,0

Trombosit 128.000 156.000 152.000 /ul L = 185.000 – 402.000 P = 132.000

Tanggal. 24 Juni 2015

Pasien pulang atas permintaan sendiri.

16
10. Edukasi untuk orang tua

Prognosis kejang demam umumnya Baik jika ditangani dengan cepat dan tepat.

Edukasi ke orangtua, cara penanganan kejang :


1. Tidak panik tetap tenang
2. Kendorkan pakaian
3. Posisikan pasien
4. Ukur suhu, observasi lama kejang, jenis kejang
5. Diazepam rektal
6. Bawa ke rumah sakit bila kejang > 5 menit

17
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

KEJANG DEMAM

2.1 KEJANG DEMAM

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal diatas 38o C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat,
gangguan elektrolit atau metabolik lain. Kejang disertai demam pada bayi
berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam.

Kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15


menit, bersifat umum serta tidak berulang dalam 24 jam. Kejang demam
sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.

Kejang demam disebut kompleks jika kejang berlangsung lebih dari 15 menit,
bersifat fokal atau parsial 1 sisi kejang umum didahului kejang fokal dan
berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

2.2 ETIOLOGI

 Infeksi dengan demam (52%) seperti kejang demam, ensefalitis, meningitis.

 Kelainan susunan saraf pusat (SSP) kronik (39%) seperti ensefalopati hipoksik
iskemik dan serebral palsi.

 Penghentian obat anti kejang (21%)

 Lain-lain (<10%).

2.3 PATOFISIOLOGI

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan


suatu energi, yang di dapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak
yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen
disediakan dengan perantara fungsi paru – paru dan diteruskan ke otak melalui sistem

18
kardiovaskular. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
dipecah menjadi CO2 dan air.

Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah
limpoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel
neuron dapat dilalui dengan mudah oleh kalium ( K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion
Natrium ( Na+) dan elektrolit lainnya. Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka
terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk
menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim
Na– K – ATPase yang terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya :

1. Perubahan ion diruang ekstraseluler


2. Ragsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau
aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme


basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak
berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi,
dengan akibat terjadi lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan
bantuan bahan yang disebut neurotrasmitter dan terjadilah kejang.

19
2.5 FAKTOR RISIKO BERULANGNYA KEJANG

• Riwayat kejang demam dalam keluarga

• Usia kurang dari 12 bulan

• Temperatur yang rendah saat kejang

• Cepatnya kejang setelah demam

2.6 FAKTOR RISIKO TERJADINYA EPILEPSI

• Kelainan neurologis atau perkembangan yang abnormal sebelum kejang


demam pertama

• Kejang demam kompleks

• Riwayat keluarga dengan epilepsi.

Masing – masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai


4%- 6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi
menjadi 10% - 49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat pada kejang demam.

2.7 ANAMNESIS

 Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, frekuensi dalam 24 jam,
interval, keadaan anak pasca kejang.

 Suhu sebelum dan saat kejang

 Penyebab demam di luar infeksi SSP ( gejala infeksi saluran napas akut/ ISPA,
infeksi saluran kemih/ ISK, otitis media akut/ OMA, dll.)

 Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsi dalam keluarga

 Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare/ muntah yang


mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia,
asupan kurang yang dapat menyebabkan hipoglikemia.

20
2.8 PEMERIKSAAN FISIK

 Kesadaran : Apakah terdapat penurunan kesadaran, suhu tubuh : apakah


terdapat demam.
 Tanda rangsang meningeal : Kaku kuduk, brudzinki I dan II, kernig,
 Tanda peningkatan tekanan intrakranial : ubun – ubun besar (UUB)
membonjol, papil edema.
 Tanda infeksi di luar SSP : ISPA, OMA, ISK, dll.
 Pemeriksaan neurologis : tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex patologis.

2.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan Laboratorium

 Tidak rutin dilakukan

 Untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam

 Darah perifer, elektrolit, gula darah, dll.

b. Pemeriksaan Pungsi Lumbal


Untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosa meningitis
Dilakukan pada:
 Usia < 12 bulan  sangat dianjurkan
 Usia antara 12-18 bulan  dianjurkan
 Usia > 18 bulan yang dicurigai meningitis.

c. Pencitraan ( CT- Scan atau MRI )


 Tidak dapat memprediksi berulangnya kejang
 Tidak dapat memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi di kemudian hari
pada pasien kejang demam
 Dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas seperti kejang
demam kompleks pada anak usia > 6 tahun
 EEG pada kejang demam  gambaran berupa perlambatan di posterior, akan
menghilang dalam 7-10 hari.

21
2.10 PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan Fase Akut :
o Semua pakaian yang ketat dibuka
o Penderita dimiringkan untuk cegah aspirasi
o Jalan napas harus bebas, isap lendir, beri O2, jika perlu intubasi
o Awasi keadaan vital: kesadaran, tensi, pernapasan, jantung
o Jika suhu tinggi: kompres, beri antipiretika
o Penghentian kejang tercepat: diazepam (IV atau Intra Rektal).

22
ICU
Tambahkan fenobarbital
10-15 mg/kg IV
atau
Midazolam bolus 0.15 mg/kg
dilanjutkan
2 mg/kg/menit infus drip

Masih kejang:
Kejang (-) dalam 24 jam: Naikkan dosis 2 mg/kg/menit
selama 5 menit sampai dosis
turunkan midazolam 1 mg/kg/ max 24 mg/kg/menit
menit ap 15 menit
Bolus midazolam 0.15 mg/kg
bila perlu

2. Pengobatan Profilaksis :
o Profilaksis intermitten jika suhu > 38,5 oC berikan :
Diazepam oral 0,5 mg/ KgBB bagi 3 dosis
Rektal : BB < 10 kg : 5 mg
BB > 10 kg : 10 mg
o Profilaksis terus menerus :
Indikasi : kelainan neurologis (+) sebelum kejang, riwayat
kejang demam pada orang tua/ saudara kandung, kejang > 15 menit,
fokal atau diikuti kelainan neurologis, usia < 12 bulan atau kejang
multiple dalam 1 episode demam.
Berikan :
 Fenobarbita 4-5 mg/ kgBB/ hari
 Asam Valproat 15- 40 mg/ kgBB/hari.

23
2.11 PROGNOSIS
Baik jika ditangani dengan cepat dan tepat. Jika tidak, KD dapat berkembang
menjadi:
o KD berulang
o Epilepsi
o Kelainan motoric
o Gangguan mental dan belajar.

2.12 Edukasi ke orangtua, cara penanganan kejang :


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat
kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal.
Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya:
 Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.
 Memberitahukan cara penanganan kejang.
 Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
 Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat
adanya efek samping obat.
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kejang :
1. Tidak panik tetap tenang

2. Kendorkan pakaian

3. Posisikan pasien

4. Ukur suhu, observasi lama kejang, jenis kejang

5. Diazepam rektal

6. Bawa ke rumah sakit bila kejang > 5 menit

24
BAB III

KESIMPULAN

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal diatas 38 o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang
demam ini terjadi pada anak yang berumur 6 bulan - 5 tahun. Faktor resiko kejang
demam pertama yang penting adalah demam. Ada riwayat kejang demam keluarga
yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan kecenderungan genetik.
Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) berlangsung singkat, kurang dari 15
menit dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau
klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang
demam sederhana merupakan 80 % diantara seluruh kejang demam. Kejang demam
kompleks (complex febrile seizure) adalah kejang dengan salah satu ciri berikut :

a. Kejang lama lebih dari 15 menit.

b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.

c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi
dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis.

25
DAFTAR PUSTAKA

 Widodo, Dwi Putro. Kejang Demam: Apa yang Perlu Diwaspadai?.


Penanganan Demam pada Anak Secara Profesional. Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universita Indonesia RS. DR. Cipto
Mangunkusumo. Jakarta. 2005. Hal: 58-66.
 Hirtz GH. Febrile Seizure. Pediatric Rev 1997; 1 (180): 5-8.
 Holmes GL. Epilepsy and Other Seizure Disorders. In: Bruce O. Berg,
penyunting Principles of Child Neurology; edisi ke-1. New York: McGraw-
Hill, 1996. Hal: 221-33.
 Gonzales Del Rey JA. Febrile Seizure. In: Barkin RM, penyunting Pediatric
Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice; edisi ke-2 St Louis:
Mosby, 1997. Hal: 1017-19.
 Camfield RP and Camfield SC. Management and Treatment of Febrile
Seizure. Curr Prob Pediatri 1997; 27:6-13.
 Hara M, Seki T. Clinical Aspect of Febrile Convulsion. Asian Med. J 1995; 36
(10): 553-43.
 Aicardi J. Febrile Convulsion. In: Aicardi J, penyunting Epilepsy in Children;
edisi ke-2 New York: Raven Press 1994. Hal: 253-75.
 Nelson. K, Ellenberg JH. Predictors of Epilepsy in Children Who Have
Experience Febrile Seizure. N Eng J. Med 1976; 259: 1029-33.
 Kuteree M, Emoto SE, Sofijanov N, dkk. Febrile Seizure, is the EEG a useful
predictor of recurrences? Clin Pediatric 1997; 31-6.

26