Anda di halaman 1dari 7

Rasulullah SAW menegaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan

apa yang tidak jelas diantara keduanya adalah termasuk haram. Dalam literatur Islam menunjukkan
bahwa Al-Quran dan hadits nabi telah memberikan data yang lengkap dan jelas mengenai apa yang
haram. Jika kita telusuri lebih jauh, asal keharaman zat berdasarkan pada firman Allah dalam surat
al-Maidah ayat 3;
‫ير َو َما أ ُ ِّه َّل ِّلغَي ِّْر ّللاِّ بِّ ِّه َو ْال ُم ْن َخنِّقَةُ َو ْال َم ْوقُوذَة ُ َو ْال ُمت ََر ِّديَةُ َوالنَّ ِّطي َحةُ َو َما أَ َك َل‬ ِّ ‫ت َعلَ ْي ُك ُم ْال َم ْيتَةُ َو ْالدَّ ُم َولَحْ ُم ْال ِّخ ْن ِّز‬ ْ ‫ُح ِّر َم‬
َ‫س الذِّينَ َكفَ ُرواْ ِّمن دِّينِّ ُك ْم فَال‬ َّ ْ
َ ِّ‫ْق اليَ ْو َم يَئ‬ َ
ٌ ‫ب َوأن ت َ ْست َ ْق ِّس ُمواْ بِّاأل ْزالَ ِّم ذَ ِّل ُك ْم فِّس‬ َ ِّ ‫ص‬ ُ ُّ‫سبُ ُع ِّإالَّ َما ذَ َّك ْيت ُ ْم َو َما ذُبِّ َح َعلَى الن‬ َّ ‫ال‬
‫ط َّر ِّفي‬ ُ ‫ِض‬ ‫ا‬
ْ ِّ َ‫ن‬ ‫م‬ َ ‫ف‬ ‫ا‬ ‫ِّين‬
‫د‬ ‫م‬ َ ‫ال‬‫ْس‬
َ ْ ِّ ُ ‫اِإل‬ ‫م‬ ‫ك‬ُ َ ‫ل‬ ُ‫يت‬ ‫ِض‬ ‫َر‬ ‫و‬ ‫ي‬ ‫ت‬
ِّ َ َ ِّ َ ْ ِّ ْ َ‫م‬‫ْع‬ ‫ن‬ ‫م‬ ُ
‫ك‬ ‫ي‬
ْ َ ‫ل‬ ‫ع‬ ُ‫ت‬ ‫م‬ ‫م‬
َْ َ ْ ْ ‫ت‬َ ‫أ‬ ‫و‬ ‫م‬ ُ
‫ك‬ ‫ن‬
َ ‫ِّي‬
‫د‬ ‫م‬
ْ ُ
‫ك‬ َ ‫ل‬ ُ‫ت‬ ْ
‫ل‬ ‫م‬‫ك‬ْ َ ‫أ‬ ‫م‬
َ َ ْ َ ِّ ْ‫و‬ ‫ي‬ ْ
‫ال‬ ‫ن‬ ‫َو‬ ‫ش‬ ‫اخ‬ْ ‫و‬ َ ْ ْ ‫ت َْخ‬
‫م‬ ُ
‫ه‬ ‫َو‬ ‫ش‬
‫وَر ََّر ِّحي ٌم‬ ْ
ٌ ُ‫ص ٍة َغي َْر ُمت َ َجانِّفٍ ِّ ِِّإلث ٍم فَإ ِّ َّن ّللاَ َغف‬ َ ‫َم ْخ َم‬
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang
disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan
anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa
untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat
dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5: al-
Maidah; 3).

1. Bangkai
Bangkai (al-maitah) dalam definisi para ulama, sebagaimana yang dikatakan Abdurrahman
Bin Nashir bin Abdullah As-Sa’dy adalah hewan yang mati tanpa proses penyembelihan yang
sesuai dengaan syariat1. Di dalam ayat di atas juga dijelaskan bentuk-bentuk bangkai, yaitu “yang
tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang
sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala”. Semua
jenis bangkai ini adalah haram.
Di dalam ayat di atas terdapat kata-kata, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai” (al-
Maitah). Diantara yang diharamkan oleh Allah sesuai dengan ayat di atas adalah bangkai (‫)الميتة‬.
Dalam ayat ini kata al-maitah termasuk kata yang umum, karena menggunaka “al” atta’rif.
Dengan demikian, sesuai arti ayat di atas semua jenis bangkai itu hukumnya haram.
Kata al-maitah pada ayat di atas berlaku umum, mencakup semua jenis hewan yang
kematiannya tanpa melalui proses penyembelihan secara syar’i, baik itu hewan yang dimakan
dagingnya maupun hewan yang tidak biasa dimakan dagingnya.
Dalam kaedah ushul terkait amm-khas, terdapat pula kaedah, bahwa setiap kata umum bisa
ditakhsis. Ini juga berlaku pada ayat di atas. Kata al-maitah yang memiliki makna umum kemudian
ditakhsis dengan hadits nabi yang datang kemudian.

1
. Abdurrahman Bin Nashir bin Abdullah As-Sa’dy, Taysir al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Al-Kalam Ar-
Rahman, (Beirut; Muassasah Ar-Risalah, 2000), juz. 1, h. 277
،‫"أح َّل لنا ميتتان ودمان‬
ِّ ‫ قال َرْسول هللا صلى هللا عليه وْسلم‬:‫عن ابن عمر قال‬
‫فأما الميتتان فالحوت والجراد‬
Dari ibnu Umar ra, berkata, “rasulullah SAW bersabda, “Telah dihalalkan bagi
kita dua bangkai dan dua darah, adapun dua bangkai itu adalah ikan dan
belalang...” (HR. Ahmad, Al-Baihaqy, Asy-Syafi’i dan Ad-Daruquthny)
Dengan demikian makna ayat di atas kemudian terbatasi oleh keterangan hadits sehingga
tidak semua bangkai itu haram.
Makna haram sendiri juga memiliki keumuman makna, apakah yang dimaksud haram
dalam ayat itu haram secara muthlak; baik memakannya atau memanfaatkan dan
menggunakannya, atau bahkan haram menjualnya dan haram mengambil harganya. Inilah yang
kemudian dipahami sebagian sahabat nabi, dengan memahami bahwa keharaman bangkai tersebut
secara muthlak. Hingga ketika ada peristiwa nabi menjumpai kambing mati dan para sahabat tidak
mau memanfaatkannya.
- ِّ‫ّللا‬َّ ‫ْسو ُل‬ ُ ‫ت فَ َم َّر ِّب ََها ََر‬ ْ َ ‫علَى َم ْوالَةٍ ِّل َم ْي ُمونَةَ ِّبشَاةٍ فَ َمات‬ َ َ‫صدِّق‬ ُ ُ ‫َّاس قَا َل ت‬ ٍ ‫عب‬
َ ‫ع ِّن اب ِّْن‬ َ
ُ ْ َ َّ
‫ فَقَالوا ِّإنَّ ََها‬.»‫ فَقَا َل « َهال أ َخذت ُ ْم ِّإهَابَ ََها فَدَبَ ْغت ُ ُموُهُ فَا ْنت َ َف ْْعت ُ ْم ِّب ِّه‬-‫صلى هللا عليه وْسلم‬
» ‫ فَقَا َل « ِّإنَّ َما َح ُر َم أَ ْكلُ ََها‬.ٌ‫َم ْيتَة‬
Dari ibnu Abbas RA, berkata, “Telah disedekahkan seekor kambing kepada sahaya
Maimunah. Tiba-tiba kambing itu mati. Kebetulan Rasulullah SAW lewat dan
bersabda, "Tidakkah kalian mengambil kulitnya, lalu kalian mensamaknya, dan
kalian memanfaatkannya?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya itu adalah
bangkai?" Nabi SAW bersabda, "Yang diharamkan adalah memakannya saja."
(HR. Jama'ah kecuali Ibnu Majah)
Hadits ini datang memberikan penjelasan bahwa keharaman bangkai yang dimaksud dalam
ayat di atas hanya apabila bangkai itu dikonsumsi. Kulit bangkai, bulu, tulang, dan giginya masih
boleh dimanfaatkan sebagai perabot atau peralatan. Ini pula yang dijelaskan dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra.
‫ أنه قرأ هذُه اآلية {قل ال أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم‬،‫عن ابن عباس‬
‫ إنما حرم من الميتة ما يؤكل منَها‬:‫ وقال‬،‫يطْعمه إال أن يكون ميتة} إلى آخر اآلية‬
.‫وهو اللحم فإما الجلد والقد والسن والْعظم والشْعر والصوف فَهو حالل‬
Dari ibnu Abbas ra, ia membaca ayat ini, “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh
dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang
yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai...” dan Ibnu Abbas
mengatakan, “sesungguhnya yang diharamkan dari bangkai itu adalah
memakannya, yaitu daging, adapun kulit,...gigi, tulang, rambut, bulu adalah halal.2
(Riwayat Ibnu Mundzir dan Ibnu Hatim).
Dalam kaedah ushul fiqh, jenis takhsis semacam ini dikenal dengan istilah takhsis
munfashil. Yaitu takhsis yang penjelasannya terpisah.
Berkaitan dengan makna “bangkai” dalam ayat adalah termasuk bangkai ikan dan belalang.
Secara khusus nabi mengecualikan kedua bangkai ini. Sebagaimana dalam hadits nabi saat ditanya
sahabat soal air laut. Beliau menjelaskan bahwa air laut itu suci dan halal bangkainya.

2
. Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi, Ad-Durar Al-Mantsur Fii At-Tafsir bil Ma’tsur, (Mesir, Dar
Hijr, 2003), juz 6, hal. 237.
‫ِضأ ُ ِّم ْنهُ؟‬
َّ ‫ أَنَت َ َو‬:‫اِء ْالبَ ْح ِّر‬ َ ‫ْسلَّ َم‬
ِّ ‫ع ْن َم‬ َ ‫علَ ْي ِّه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫ّللا‬ َ ‫ي‬ ُ :‫ قَا َل‬،َ ‫ع ْن أ َ ِّبي ُه َري َْرة‬
ُّ ‫ْسئِّ َل النَّ ِّب‬ َ
ُ ْ
.ُ‫ َوال ِّح ُّل َم ْيتَته‬،ُ‫وَر َما ُؤُه‬ َّ
ُ ‫ الط َُه‬:‫فَقَا َل‬
Diriwayatkan dari Abi Hurairah, RA, berkata, Nabi SAW, ditanya tentang air laut,
apakah kita boleh menggunakannya untuk berwudhu? Maka beliau menjawab, “Air
laut itu suci mensucikan dan halal bangkainya”.3 (HR. Al-Hakim)
Pengertian halal bangkainya dalam hadits juga bisa menimbulkan kesalahfahaman. Apakah
semua bangkai yang ada dilaut termasuk hewan amfibi yang hidup di dua alam, ataukah hewan
yang hanya bisa hidup di air. Atau bagaimana halnya dengan hewan darat yang mati di air?
Para ulama berbeda pendapat terkait hewan yang hidup di dua alam, yaitu di darat dan air.
Ulama Malikiah berpendapat bahwa hewan barmaiyah disamakan dengan hewan darat. Tidak
boleh di makan kecuali disembelih. Menurut imam Ahmad bin Hanbal bahwa semua hewan laut
hukumnya halal selain katak dan buaya.4 Sedangkan anjing laut harus disembelih. Al-Laits bin
Sa’d pernah ditanya mengenai hewan laut, ia menjawab bahwa manusia laut (duyung) dan Babi
laut tidak boleh dimakan.5 Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa semua hewan laut selain ikan
hukumnya haram.6 Menurut ulama Syafiiyah, hewan laut yang ada padanannya di darat, jika
padannya halal, maka hukumnya halal, jika padanannya haram maka hukumnya haram. 7
Sedangkan untuk hewan darat yang mati di dalam air menurut Syeikh Muhammad bin
Ismail al-Amir dalam kitab “As-Subul, “yang dimaksud “maitah” dalam hadits adalah hewan yang
mati dilaut yang hidup di laut, yaitu hewan yang tidak bisa hidup kecuali di air, bukan hewan darat
yang mati di air.8

2. Darah
Darah termasuk zat yang haram dikonsumsi. Darah berasal dari zat halal, yaitu berupa
makanan. Setelah melalui proses kimiawi pencernaan, zat-zat makanan diserap dalam darah untuk
dialirkan keseluruh tubuh. Kata “ad-dam” dalam ayat di atas termasuk dalam kategori umum.
Sesuai dengan maknanya menunjukkan bahwa semua jenis darah adalah haram. “Al” ta’rif juga
memiliki makna “istighraq” yang artinya mencakup keseluruhan. Sehingga maknanya “Seluruh
jenis darah adalah haram”.
Hal juga yang menimbulkan pertanyaan dikalangan sahabat nabi SAW. Ikrimah
mengatakan, “Seseorang bertanya kepada ibnu Abbas ra, “Apakah aku boleh makan limpa? Ibnu
Abbas menjawab, “Iya”. Laki-laki itu menjawab, “Sesungguhnya keseluruhan limpa itu darah”.
Ibnu Abbas menjawab, “Sesungguhnya yang diharamkan adalah darah yang mengalir”.9
Qatadah mengatakan, “Darah itu diharamkan selagi mengalir, adapun darah yang
bercampur daging maka itu tidak apa-apa”. Inilah sebabnya darah yang bercampur dengan daging
dan air saat dimasak, tidak menjadikan daging itu najis dan haram. Dan inilah yang dilakukan
Aisyah ra, bahwa ia masak daging dan masih nampak bekas-bekas darah pada rebusan dagingnya.

3
. Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustadrak ala ash-Shahihaini, (Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002) juz 1,
142
4
. Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury, Tahfat al-Ahwadzi, Juz 1, hal, 80
5
. al-husain bin mas'ud al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, (Beirut Damaskus; Al-maktab al-Islamiy, 1983), Juz
11, hal. 250
6
. al-husain bin mas'ud al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, (Beirut Damaskus; Al-maktab al-Islamiy, 1983), Juz
11, hal. 250
7
. Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury, Tahfat al-Ahwadzi, Juz 1, hal, 80
8
. Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury, Tahfat al-Ahwadzi, Juz 1, hal, 80
9
. Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqy, As-Sunan Al-Kubra, (India; 1344 H, Cet. I), Juz.
10, hal. 7.
Aisyah berkata, “‫“ ”إنما نَهى عن الدم السافح‬Sesungguhnya Allah hanya melarang dari darah yang
mengalir”.10
Yang dimaksud dengan darah yang mengalir adalah darah yang keluar dari hewan yang
disembelih. Itulah darah yang berbahaya bagi kesehatan jika ditahan dalam tubuh. Ketika darah
itu telah dikeluarkan dari dalam tubuh hewan ternak yang disembelih maka hilanglah bahayanya
dan dagingnya baik untuk dikonsumsi. Dengan demikian sisa-sisa darah yang tertinggal dalam
daging setelah hewan itu disembelih maka darah tersebut halal dan suci.11
Secara khusus Allah juga telah mentakhsis makna “ad-dam” dalam surat al-Maidah ayat
3 di atas dengan surat al-An’am ayat 145. “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang
diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali
kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi...”. Qatadah mengatakan,
“Kalau Allah tidak menurunkan ayat ini, niscaya manusia akan terus menelusuri darah sampai
yang ada di dalam alirannya, sebagaimana orang Yahudi yang terus bertanya dan menelisik” 12
Asalnya darah tergolong zat yang baik dan suci, selama masih berada dalam tubuh. Ketika
darah telah ditumpahkan hukumnya berubah menjadi haram. Hal ini karena ketika darah
ditumpahkan akan proses kimiawi, darah yang tertumpahkan diruang terbuka akan terkontaminasi
oleh udara dan panas, sehingga bentuknya akan berubah menjadi merah kehitaman, perubahan
tersebut disifati dalam al-Quran “sesungguhnya itu kotor”. Hal ini juga termasuk darah haid,
setelah mengalami proses kimiawi dalam tubuh ia keluar sebagai darah kotor sehingga haram
dikonsumsi. Adapun darah yang ditransfusikan dari satu orang keorang lain karena faktor tertentu
maka itu diperbolehkan, karena selama proses transfusi dan donor, darah tidak mengalami
perubahan. Sehingga hukumnya tidak berubah menjadi buruk dan tetap aman.

3. Daging Babi
Bagaimana dengan kata “‫ير‬ ِّ ‫?”ولَحْ ُم ْال ِّخ ْن ِّز‬
َ Berbeda dengan kata “al-maitah” dan “Ad-Dam”
untuk kata khinzir secara khusus Allah menyebutkan kata “lahm” artinya daging. Apakah ini
berarti yang haram dari babi itu hanya dagingnya saja? Inilah yang dipahami oleh Ahmad Subhi
Manshur. Ia berpendapat bahwa keharaman babi itu terletak pada pengkonsumsiannya saja, tidak
pada pemakaiannya yang lain. Artinya bisa saja babi itu digunakan untuk yang lain bukan untuk
dimakan misalnya untuk pasta gigi, industri kulit dan lainnya.13
Sementara para ulama klasik memahami bahwa yang haram dari babi itu bukan hanya
memakannya saja, tapi haram secara muthlak. Haram memakannya, haram menggunakannya, dan
haram seluruh bagian tubuhnya; termasuk bulu, tulang dan lainnya. Terkait dengan hal ini imam
Fakhruddin Ar-Razi mengatakan, “Umat telah sepakat mengenai keharaman babi dan seluruh
bagian tubuhnya. Allah SWT menyebutkan daging babi karena dagingnya banyak terpakai.14 Imam
Al-Qurthubi juga berpendapat bahwa umat sepakat mengenai haramnya lemak babi.15 Demikian
juga yang dikatakan imam An-Nawawi dan lainnya. Pendapat yang datang dari Imam Ibnu Hazm,
ia mengatakan bahwa, “tidak halal mengkonsumsi sedikitpun unsur babi; baik dagingnya,

10
. Abu Al-Fida’ Ismail bin Amr bin Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Dar Thayyibah, 1999), Juz 3, hal. 15
11
. Abdurrahman Bin Nashir bin Abdullah As-Sa’dy, Taysir al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Al-Kalam Ar-
Rahman, (Beirut, Muassasah Ar-Risalah, 2000), juz. 1, hal. 277.
12
. Adil Abdul Qadir Hamidah, Ensiklopedia Makanan dalam Islam dan Hukumnya Antara Ilmu dan Iman,
(Alexandria Mesir; Penerbit Alamia, 2009), hal. 37
13
. Dr. Ahmad Subhi Manshur, Apakah Lemak Babi itu Halal, (http://www.ahl-alquran.com) 2007
14
. Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, (Berut; Dar El-Kutub Al-Ilmiah, 2000/1421H), juz. 5, hal. 18
15
. Imam Abu Abdullah bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Qurthuby, Al-jami’ li Ahkamil Quran (Tafsir
Al-Qurthubi), (Kairo; Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, 1964 M), Juz.2, hal. 222
lemaknya, kulitnya, syarafnya, tulang rawannya, sumsumnya, otaknya, tulangnya, kepalanya,
kukunya, susunya, rambutnya, jantan maupun betina, besar atau kecil semuanya sama.”16
Lalu mengapa Allah tidak menyebut “wal Khinzir” artinya “dan babi”? Jika Allah
menginginkan keharaman babi itu secara muthlak, dagingnya, bulunya, susunya, tulangnya, tentu
Allah seharusnya menyebutkan kata “Khinzir” bukan “lahmul Khinzir”. Hal ini dalam Al-Qawaid
al-Ushuliyah Al-Lughawiyah dikenal dengan istilah majaz mursal. Majaz mursal adalah kata yang
dipakai bukan untuk makna aslinya, tapi karena adanya hubungan yang tidak mirip, yang disertai
dengan isyarat atau qarinah yang menghalanginya dari digunakan pada makna aslinya. Diantara
bagian dari alaqatul majaz (hubungan majaz) ada al-juziyah, yaitu “dzikrul juz wa uriida bihil
kull” menyebutkan bagiannya sementara yang dimaksud adalah keseluruhan bagiannya. 17
Babi termasuk hewan yang diharamkan tanpa sebab atau keterangan, mengapa babi itu
diharamkan? Tidak ada alasan spesisfik mengenai sebab keharaman daging babi. Hampir semua
yang diharamkan disebutkan alasan keharamannya. Namun daging babi tidak disebutkan
alasannya. Ini yang menjadikan babi itu haram muthlak, bukan haram dengan alasan. Berbeda
dengan bangkai, yang diharamkan karena alasan kematian hewan tanpa proses penyembelihan.
Darah diharamkan karena tertumpahkan (masfuh) sehingga berubah menjadi bersifat buruk. Di
dalam surat al-An’am ayat 145 ketiganya; bangkai, darah, dan babi disifati “kotor” (fainnahu
rijsun). Inilah sebabnya bangkai, darah yang tertumpah dan babi hukumnya najis. Sedangkan
dalam kaedah fiqh, disebutkan bahwa setiap yang najis pasti haram, dan tidak semua yang haram
najis.

4. Hewan ber

ْ ‫طا ِع ٍم َي‬
‫ط َع ُمهُ ِإالَّ أَن َي ُكونَ َم ْيتَةً أ َ ْو َد ًما َّم ْسفُو ًحا أ َ ْو لَ ْح َم‬ ُ
َ ‫ع َلى‬ َ ‫ي ُم َح َّر ًما‬ َ ‫قُل الَّ أ َ ِج ُد فِي َما أ ْو ِح‬
َّ ‫ي ِإ َل‬
‫ور َّر ِحي ٌم‬ ٌ ُ ‫غف‬ َ َ‫غي َْر بَاغٍ َوال‬
َ ‫عا ٍد فَإ ِ َّن َربَّ َك‬ َ ‫ط َّر‬ ُ ‫ض‬ ِ ‫س أَ ْو فِ ْسقًا أ ُ ِه َّل ِلغَي ِْر ه‬
ْ ‫ّللا بِ ِه فَ َم ِن ا‬ ٌ ‫ير فَإِنَّهُ ِر ْج‬
ٍ ‫نز‬ِ ‫ِخ‬
6:145. Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku,
sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau
makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena
sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan
tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang."

Berdasarkan Ayat ini, yang haram dimakan. Adapun jika selain


dimakan maka dijelaskan oleh hadits nabi.

16
. Imam Ibnu Hazm Azh-Zhahiri, Al-Muhalla bil Atsar, (Beirut; Dar El-Fikr), Juz 66, hal. 55
17
. Ali Al-Jarim dan Mushthafa Amin, Al-Balaghah Al-Wadhihah, (Jakarta; Penerbit Raudhah Faris, 2007),
hal. 119.
: ‫ مر بشاة لموالة لَها أعطيتَها من الصدقة فقال‬- ‫ صلى هللا عليه و ْسلم‬- ‫ أن النبي‬: ‫عن ميمونة‬
‫ إنما حرم أكلَها‬: ‫ يا َرْسول هللا إنما هي ميتة ؟ قال‬: ‫أال أخذوا إهابَها فدبغوُه وانتفْعوا به قالوا‬
‫ { قل ال أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم‬: ‫ وبرع ْسفيان بَهذُه اآلية‬: ‫قال أبو يْعقوب‬
.‫ ] قال ْسفيان فلو لم يكن إال هذُه اآلية اْستدللت بَها [على فاْسد] األكل‬145 : ‫يطْعمه } [ األنْعام‬
‫ إْسنادُه صحيح‬: ‫قال حسين ْسليم أْسد‬
Sesungguhnya yang diharamkan adalah memakannya. Bangkai itu
haram dimakan, jika tidak untuk dimakan maka boleh digunakan.
‫ ( قل ال أجد فيما أوحي إلي محرما‬:‫ وعن ابن عباس َرِضي هللا عنَهما أنه قرأ هذُه االية‬
‫ إنما حرم ما يؤكل‬:‫ وقال‬، ‫ ) ) إلى آخر االية‬1 ( ‫على طاعم يطعمه إال أن يكون ميتة‬
،) ‫ ) والسن والعظم والشعر والصوف فهو حالل‬2 ( ‫ فأما الجلد والقد‬،‫منها وهو اللحم‬
.‫َرواُه ابن المنذَر وابن حاتم‬
Dari Ibnu Abbas ra., ia pernah membaca ayat berikut ini,
“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai.” (Al-An’âm [6] :
145)
Lebih lanjut, Ibnu Abbas menjelaskan, “Yang diharamkan hanya
bagian-bagian yang dapat dimakan, yaitu daging. Sedangkan kulit,
minyak kulit, gigi, tulang, rambut dan bulu binatang tersebut tetap
dihalalkan.”[28] HR Ibnu Mundzir dan Ibnu Hatim.

 2. Darah
 Semua jenis darah hukumnya haram, baik darah yang mengalir
maupun tidak. Contoh darah yang mengalir adalah darah dari
hewan yang disembelih dan darah haid. Namun, darah yang sedikit
jumlahnya masih dimaafkan.
 Allah berfirman, “…atau darah yang mengalir,…” (Al-An’am [6]
: 145)
 Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Juraij berkata, “Kata Al-Masfuh
dalam ayat di atas maksudnya adalah darah yang mengalir.”

 Sementara darah yang berada dalam urat dan rongga tulang daging
hewan yang dapat dimakan dagingnya masih dimaafkan.
 Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Abu Mijlaz, ia pernah ditanya
tentang darah yang terdapat pada bekas sembelihan kambing atau
darah yang ada pada saat dagingnya dimasak dalam periuk. Ia
menjawab, “Tidak mengapa, sebab yang dilarang hanyalah darah
yang mengalir.” HR Abdul Hamid dan Abu Asy-Syeikh.