Anda di halaman 1dari 13

Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

Studi Komparasi Media Kultur Coco Blood Malachite Green (CBM) dengan Lowenstein
Jensen (LJ) untuk Diagnosis Cepat, Spesifik, dan Sensitif pada Sputum Pasien Suspek
Tuberkulosis

Anisful Lailil Munawaroh*, Dwi Yuni Nur Hidayati**, Yulian Wiji Utami*

ABSTRAK

Di Indonesia, TB merupakan permasalahan kesehatan utama, bahkan masuk ke dalam 10 negara


dengan beban TB terbanyak di dunia. Diagnosis laboratorium penyakit TB masih menjadi permasalahan
yang penting di Indonesia. Media biakan yang menjadi gold standard untuk menegakkan diagnosis TB
adalah media lowensten-jensen (LJ). Akan tetapi, metode ini memerlukan inkubasi yang lama yaitu sekitar 8
minggu setelah waktu inokulasi. Untuk meminimalkan risiko penularan lebih luas dan perjalanan penyakit
yang lebih berat, diagnostik TB memerlukan medium biakan yang lebih cepat. Coco blood malachite green
(CBM) merupakan inovasi media kultur yang memiliki komposisi air kelapa muda, malachite green, darah
domba, agar darah, dan gliserol. Air kelapa merupakan cairan yang kaya nutrisi dan steril, malachite green
memiliki sifat bakteriostatik, hal ini memiliki efek positif dalam mencegah adanya kontaminan dalam media
kultur CBM. Agar darah mengandung protein, lemak, karbohidrat serta elemen nutrisi penting yang dapat
mempercepat pertumbuhan dari beberapa jenis bakteri termasuk Mycobacterium. Darah domba
mengandung protein hematin sebagai sumber nutrisi bakteri. Gliserol sebagai sumber karbon. Penelitian ini
merupakan eksperimental murni post test only control group design dengan 31 sampel sputum penderita
suspek tuberkulosis yang di inokulasi pada 31 media CBM dan 31 media LJ sebagai kontrol positif.
Pengamatan makroskopis dilakukan maksimal 8 minggu, pertumbuhan koloni dikonfirmasi dengan
pengecatan BTA. Hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05). Nilai spesifitas 96,6 %
dan sensitivitas 100 %. Dapat disimpulkan bahwa CBM lebih cepat dan sensitif daripada LJ, namun LJ lebih
spesifik daripada CBM.

Kata kunci : Media kultur, Mycobacterium tuberculosis, Sputum suspek TB.

Comparative Study of Coco Blood Malachite Green Culture Media with Lowenstein Jensen
(LJ) for Rapid Diagnostic, Specific, and Sensitive on Sputum of Tuberculosis Suspect
Patient

ABSTRACT
In Indonesia, TB remains as one of the major health problems, even belonging to the most 10 countries
with the highest TB burden in the world. Laboratory diagnosis of tuberculosis remains an important problem.
Culture medium which is gold standard to diagnose TB is lowensteen jensen media (LJ). However, this
method requires long time incubation that is approximately 8 weeks. To minimize the spreading risk and the
worse prognosis, TB diagnostic requires a faster culture media. Coco blood malachite green (CBM) is an
innovative modification media for culturing TB bacteria which consists of coconut water, malachite green,
blood sheep, blood agar and glycerol. Coconut water is sterile liquid that rich of nutrition. Malachite green
plays as bacteriostatic to prevent contamination. Blood agar contains protein, fat, carbohydrates and
essential nutritional elements which can accelerate the growth of several types of bacteria including
Mycobacterium. Blood sheep consist of hematin protein as nutritional source for bacteria. Glycerol as source
of carbon. This research was pure experimental post test only control group design with 31 sputum samples
from tuberculosis suspect patient which inoculated in 31 CBM and 31 LJ as a positive control. Macroscopic
observation was done maximum in 8 weeks. Bacteria growth was confirmed with Ziehl-Neelsen staining.
Mann Whitney value was 0,000 (p < 0,05), specifity value was 96,6 % and sensitivity was 100 %. To
conclude, CBM media was faster and more sensitive than LJ, but LJ more specific than CBM media.

Keywords : Culture media, Mycobacterium tuberculosis, Sputum suspect TB.

* Program Studi Ilmu Keperawatan, FKUB


** Laboratorium Mkrobiologi, FKUB

79
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

PENDAHULUAN masih menjadi kendala adalah pada saat


penemuan penderita. Angka penemuan
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit penderita TB paru dengan bakteri tahan asap
menular yang disebabkan oleh bakteri positif di Kabupaten Malang mengalami
Mycobacterium tuberculosis.1 Hingga saat ini peningkatan dari 36,42 % pada tahun 2010
TB masih menjadi masalah kesehatan dunia 44,4 % pada tahun 2011, namun masih
yang belum dapat terselesaikan. Bahkan, dibawah target nasional. Pada tahun 2012
WHO memperkirakan antara tahun 2002 sampai September 2012 ditemukan
sampai 2020 secara total sepertiga populasi penderita TB paru positif sebanyak 827
di dunia pernah terinfeksi TB dan 8,7 juta orang sedangkan target penderita dengan
merupakan kasus baru (penderita TB aktif) BTA positif yang harus ditemukan sebanyak
dan tiap tahunnya 1,7 juta meninggal karena 2627 orang.5
TB.2 Indonesia memiliki prevalensi TB tinggi Sifat Mycobacterium tuberculosis yang
dan masih menjadi permasalahan kesehatan lambat pada waktu pembelahan sekitar 20
utama. Indonesia termasuk dalam 10 negara jam, sehingga di kultur pertumbuhan baru
dengan beban TB terbanyak di dunia. tampak setelah 4 sampai dengan 8 minggu.
Seperti dilaporkan oleh Organisasi Untuk dapat tumbuh di media kultur
Kesehatan Dunia (WHO) dalam Global diperlukan 50 sampai 100 bakteri/ml
Report tahun 2011 menyatakan bahwa sputum.6 Media perbenihan bertujuan untuk
Indonesia memiliki total kasus tuberkulosis memperbanyak bakteri Mycobacterium
baru sebanyak 450 ribu per tahun dan tuberculosis dalam spesimen sputum,
prevalensi sekitar 690 ribu per tahun.3 Pada sehingga dapat meningkatkan deteksi
tahun 2010 Indonesia mempunyai angka tuberkulosis. Sekarang ini banyak media
insiden TB sebanyak 450.000 kasus atau yang dapat digunakan sebagai kultur dari
189 kasus per 100.000 penduduk, angka Mycobacterium tuberculosis seperti
prevalensi TB sebanyak 690.000 kasus atau lowenstein-jensen, Mycobacteria growth
289 kasus per 100.000 penduduk. indicator tube (MGIT). Tetapi semua
Sedangkan angka kematian karena kasus pemeriksaan di atas memakan biaya yang
TB sebesar 64.000 atau 27 kematian per tidak murah. Dengan demikian masih
100.000.4 berkembang teknik lain dalam penelitian
Angka penjaringan suspek terhadap TB kultur guna mendeteksi Mycobacterium
di Indonesia dari tahun 2007 hingga 2011 tuberculosis guna mendapatkan metode
cenderung mengalami peningkatan. kultur yang murah dan tingkat sensitifitas dan
Peningkatan berarti terjadi pada tahun 2010 spesitifitasnya tinggi.7
dan 2011, dari 687 suspek per 100.000 Kultur Mycobacterium tuberculosis dari
penduduk pada tahun 2009 menjadi 744 dahak penderita merupakan gold standard
suspek per 100 penduduk pada tahun 2010 untuk penegakan diagnosa TB saat ini.
dan pada tahun 2011 angka penjaringan Media yang umum digunakan adalah media
suspek menjadi 807 per 100.000 penduduk. lowenstein jensen (LJ) yaitu media berbasis
Angka proporsi persentase pasien baru telur yang digabungkan dengan penggunaan
dengan BTA positif yang ditemukan pada elektrolit dan malachite green
suspek yang diperiksa dahaknya, di direkomendasikan sebagai isolasi, kultur dan
Indonesia sekitar 5 % hingga 15 %.3 Di studi kerentanan terhadap obat.8 Koloni
Kabupaten Malang berbagai upaya makroskopis Mycobacterium tuberculosis
pengendalian TB sudah dilakukan namun pada media LJ timbul antara minggu ke 2
masih jauh dari sempurna. Terutama yang sampai minggu ke 6 dan hasil kultur negatif

80
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

baru bisa dinyatakan setelah 8 minggu waktu perawat, seperti halnya permasalah
kultur.9 Pada kasus kronik atau gagal tuberkulosis dan diagnosisnya yang masih
pengobatan maka dilakukan pemeriksaan menjadi permasalahan di negara
kultur atau biakan yang merupakan berkembang. Melihat pemeriksaan diagnosis
pemeriksaan baku emas dan berperan pada yang mahal tersebut maka perawat peneliti
pemeriksaan uji kepekaan Mycobacterium memiliki peran untuk menemukan inovasi
tuberculosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis dan alternatif bagi pasien, sehingga perawat
(OAT).9 juga berperan sebagai advokat untuk
Pada penelitian sebelumnya modifikasi memberikan pilihan diagnosis yang efektif
media kultur coco blood malachite green bagi pasien.
(CBM) memiliki komposisi bahan dasar Oleh karena itu, dengan adanya
coconut atau air kelapa muda, darah domba, penelitian lanjutan modifikasi media kultur
agar darah (blood agar), dan malachite bakteri coco blood malachite green (CBM)
green. Keunggulan penelitian coco blood diharapkan menjadi salah satu inovasi yang
malachite green (CBM) antara lain komposisi dapat diinformasikan kepada interprofesional
yang sederhana dapat diaplikasikan pada tim medis untuk dapat dijadikan kolaborasi
laboratorium dengan fasilitas yang terbatas, dalam strategi sarana diagnostik tuberkulosis
berhasil menumbuhkan kuman kontrol yang cepat, spesifik dan sensitif, sehingga
standar WHO yaitu H37RV yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.
menunjukkan bahwa media coco blood Penelitian ini bertujuan untuk
malachite green (CBM) termasuk bagus dan mengetahui perbedaan kecepatan
berpotensi untuk menjadi alternatif media pertumbuhan koloni, tingkat spesifisitas dan
kultur. Hasil penelitian menunjukkan sensitivitas antara media LJ dan CBM pada
pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis sputum pasien suspek tuberkulosis.
lebih cepat dibandingkan LJ dan bermakna Manfaat teoritis penelitian ini adalah
secara statistik (p < 0,001). Kekurangan dapat dijadikan sebagai dasar teori untuk
pada penelitian coco blood malachite green menambah wawasan ilmu pengetahuan
(CBM) terletak pada tingkat sensitivitas dan sekaligus sebagai dasar untuk
spesifikasi yang hasilnya tidak valid. Hal ini pengembangan penelitian selanjutnya dalam
dikarenakan jumlah sampel yang sedikit. bidang kesehatan, khususnya tentang media
Selain itu, koloni Mycobacterium tuberculosis kultur untuk pertumbuhan bakteri
yang dilihat dengan pewarnaan Ziehl Mycobacterium. Sementara manfaat praktis
Neelsen diketahui struktur bakteri lebih kurus penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai
dibandingkan dengan yang tumbuh di media alternatif media kultur bakteri Mycobacterium
LJ, hal ini diduga bakteri kekurangan nutrisi. yang lebih cepat, spesifik, dan sensitif yang
Sampel yang digunakan adalah bakteri hasil mudah diaplikasikan pada masyarakat, dapat
subkultur, sehingga pada penelitian lanjutan diinformasikan dan diaplikasikan
akan dilakukan modifikasi sampel yaitu interprofesional tim medis untuk kolaborasi
menggunakan sampel sputum dan pada screening tuberkulosis, dan dijadikan
komposisi media ditambahkan gliserol. alternatif bagi pasien.
Perawat memiliki berbagai peran seperti
pemberi perawatan, pengambil keputusan
klinik, advokat, peneliti, dan pendidik.10 BAHAN DAN METODE
Perawat memiliki peran juga dalam respon
biologis manusia, sehingga permasalahan Desain Penelitian
biologis manusia juga dapat diteliti oleh

81
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

Desain penelitian ini adalah true artinya pengelompokan kelompok kontrol


experiment post test only control group dan kelompok eksperimen dilakukan
design dengan melakukan uji diagnostik berdasarkan acak atau random. Jumlah
media kultur coco blood malachite green sampel sputum pasien suspek tuberkulosis
(CBM) dibandingkan dengan media yang sudah melakukan informed consent
lowenstein jensen (LJ) sebagai gold standar. adalah 31. Sputum suspek tuberkulosis di
Dalam rancangan ini dilakukan randomisasi, tanam pada 31 media CBM dan 31 media LJ.

Alur Kerja Penelitian

Pembuatan Media Kultur


CBM dan LJ

Persiapan
inokulasi
Sputum direct
smear
(-, +1, +2, +3)
Kontrol (+) Media CBM
Media LJ

Observasi hasil pertumbuhan makroskopis koloni Mycobacterium pada


masing-masing media kultur maksimal selama 8 minggu

Membuat hapusan dari koloni yang tumbuh di media kultur


dengan menggunakan pewarnaan Ziehl-Neelsen dan
dilakukan pembacaan mikroskopis perbesaran 100x

Proses Pembuatan CBM steril dengan tetap menjaga sterilisitas


1. Masukkan 4 g serbuk agar darah dan dari air kelapa muda.
1,25 ml gliserol ke dalam 20 ml air 5. Sebagian kecil air kelapa diambil untuk
distilasi dan ratakan. Setelah rata lakukan pengukuran pH.
tuangkan 0,4 g malachite green ke 6. 80 ml air kelapa muda dimasukkan
dalam campuran agar darah dan menggunakan teknik aseptik ke dalam
gliserol. conical flask steril.
2. Sterilisasi campuran tersebut dengan 7. Tetap menjaga sterilisitas, air kelapa
menggunakan autoklaf pada suhu 121 muda tadi ditambahkan kedalam agar
oC selama 15 menit. dengan tetap mengaduk perlahan agar
3. Agar yang telah disterilisasi dibiarkan secara terus menerus. Sehingga
dingin hingga mencapai suhu 50 oC. didapatkan coconut nutrient agar.
4. Air kelapa yang digunakan adalah 8. Siapkan darah yang diambil dari vena
kelapa jenis Cocos nucifera yang di jugularis domba sebanyak 25 ml dan
petik maksimal 48 jam dari pohon. dicampurkan dengan 5 ml sodium sitrat
Kelapa muda dilubangi secara aseptis (3,8 %).
menggunakan spuit filter dan air kelapa 9. 7 ml dari campuran darah domba dan
dikumpulkan ke dalam conical flasks sodium citrate kemudian dimasukkan ke
dalam coconut nutrient agar.

82
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

10. Campuran ini lalu diaduk hingga rata 2. Beri etiket dan lingkari objek glass
dan 6-8 ml campuran ini dimasukkan ke dengan spidol permanen kira - kira 1 - 2
dalam botol anulir. cm dibelakang objek glass
11. Diamkan hingga media siap digunakan. 3. Oleskan koloni diatas objek glass dan
12. Media yang sudah siap harus di keringkan pada suhu kamar
inkubasi pada suhu 37 °C selama 2x24 4. Fiksasi diatas api selama 3 kali
jam untuk uji sterilisitas. Media yang 5. Teteskan karbol fukhsin kuat pada
menunjukan pertumbuhan koloni sediaan sambil diuapkan selama 5
apapun harus dibuang. menit. Lalu bilas menggunakan air
13. Setelah uji sterilisitas, media kultur CBM mengalir.
(Coconut Blood Malachite) dapat 6. Kemudian teteskan alkohol asam pada
langsung digunakan untuk inokulasi sediaan. Lalu tunggu selama 30 detik
Mycobacterium tuberculosis atau kemudian bilas dengan air mengalir.
disimpan pada suhu 2-8 °C 7. Setelah itu teteskan methyien blue pada
sediaan dan biarkan selama 2 menit lalu
Dekontaminasi Sputum bilas menggunakan air mengalir.
1. Tuang contoh uji ke dalam tabung
8. Tunggu sampai kering dan periksa
sentrifus 50 ml
dibawah mikroskop dengan
2. Ditambahkan NaOH
menggunakan imersi dan pembesaran
3. Kocok sampai homogen, tidak lebih dari
100 x.
30 detik dan diamkan selama 15 menit
pada suhu kamar.
HASIL
4. Tambah PBS sampai volume 45 ml.
Bolak-balik tabung beberapa kali
Hasil kecepatan pertumbuhan
5. Timbang agar posisi pada waktu
didapatkan dari pengamatan secara
sentrifus seimbang.
makroskopis koloni yang tumbuh pada
6. Centrifuge selama 20 menit, 4oC
masing-masing media. Perbedaan
7. Buang supernatant kemudian ditambah
karakteristik koloni dapat dilihat pada gambar
1 ml PBS
di bawah ini :
8. Inokulasi pada media sebanyak 100 μl
(4 tetes pipet plastik vol 1 ml)
9. Inkubasi pada suhu 37oC

Pewarnaan Ziehl-Neelsen
1. Ambil objek glass

83
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

A B

Gambar 1. Morfologi koloni TB pada media CBM dan LJ. Keterangan: A. Karakteristik koloni yang
tumbuh pada media CBM adalah berwarna putih, tampak tipis dan menyebar; B. Karakteristik koloni pada
media LJ adalah berwarna kekuningan seperti bunga kol.

Kecepatan Pertumbuhan Koloni pengamatan pada 31 sampel. Jika koloni


Dari hasil pengamatan makroskopis tidak tumbuh dalam pengamatan selama 8
maka dilakukan perbandingan kecepatan minggu, dapat disimpukan hasil pelaporan
pertumbuhan antara media LJ dan media pengamatan mikroskopis adalah BTA
CBM selama maksimal 8 minggu negative. 9

1369
1272
1269
1287
1274
1286
1256
1250
LJ
1182
1179 CBM
1188
1206
1207
1178
1181
1199
1120
1050
1098
1148
1070
1133
1134
1107
1005
1007
1011
1041
986
997
1000

0 20 40 60
Hari
Gambar 2. Perbandingan kecepatan pertumbuhan koloni TB pada media CBM dan media LJ

Pada media CBM 100 % terdapat 1005 dan terlama adalah 49 hari dari sampel
pertumbuhan koloni, jumlah durasi kultur kode 1272.
tercepat adalah 2 hari dan terlama adalah 6
hari, sedangkan koloni yang tumbuh pada Tingkat Spesifisitas dan Sensitivitas
media LJ sebesar 22,5 %, jumlah durasi Dari hasil pengamatan 31 media kultur
kultur tercepat adalah 6 hari dari sampel kode CBM yang terdapat pertumbuhan didapatkan
hasil kode 1005 dan 1007 terdapat BTA

84
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

positif dan 29 media CBM lainnya BTA positif. Media LJ selain kode tersebut tidak
negatif. Pada media LJ hanya media kode terjadi pertumbuhan koloni, sampa dengan
1005, 1007, 1050, 1269, 1286, 1272 batas maksimal 8 minggu, sehingga dapat
menunjukkan pertumbuhan koloni, namun disimpulkan pada hasil pelaporan
dari hasil pengamatan mikroskopis hanya pengamatan ditulis BTA negatif.
kode 1007 yang menunjukkan hasil BTA

BTA
+

BTA
+

BTA
+
C

Gambar 3. Morfologi sel bakteri TB yang merupakan bakteri tahan asam dengan pengecatan Ziehl-
Neelsen. Keterangan: A. Bakteri tahan asam yang dikultur pada media CBM kode 1005; B. Bakteri tahan asam
yang dikultur pada media CBM kode 1007; C. Bakteri tahan asam yang dikultur pada media LJ kode 1007.

Setelah hasil pembacaan mikroskopik, maka Analisis Data


dilakukan uji 2x2 untuk mengetahui nilai Data-data yang didapatkan dari dianalisis
sensitifitas dan spesifisitas. dengan software SPSS 21 for windows.
Metode analisis menggunakan uji normalitas
data dengan uji Kolmogorov-Smirnov (p >

85
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

0,05). untuk melihat perbedaan kecepatan menggunakan Mann Whitney test (p < 0,05).
pertumbuhan koloni Mycobacterium Analisis spesifisitas dan sensitivitas dilakukan
tuberculosis pada media CBM dengan media dengan menggunakan tabel uji diagnostik
LJ menggunakan uji independent t-test. yang disajikan dalam tabel 2x2.
Apabila distribusi data tidak normal

Tabel 1. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov


Hasil Uji Media LJ
Hasil Positif Negatif Total
Uji Positif a=1 b=1 2
Media Negatif c=0 d = 29 29
CBM
Total 1 30 31

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig Statisti d Sig
. c f .
Kecepatan .485 31 .00 .425 3 .00
Pertumbuhan 0 1 0
LJ
Kecepatan .437 31 .00 .497 3 .00
Pertumbuhan 0 1 0
CBM

Hasil uji normalitas menggunakan uji Dengan demikian, dapat disimpulkan


Kologorov-Smirnov, didapatkan angka bahwa data berdistribusi tidak normal. Maka
signifikansi p < 0,05 yaitu 0.00 untuk langkah selanjutnya tidak dapat melakukan
kecepatan pertumuhan koloni. uji parametric t-test independent, namun
dilakukan uji non parametrik Mann Whitney.

Tabel 2. Hasil uji Mann Whitney


Test Statistics
Kecepatan Pertumbuhan
Mann-Whitney U 216.000
Wilcoxon W 712.000
Z -3.996
Asymp. Sig. (2- .000
tailed)

86
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

Dari hasil uji perbedaan kecepatan dapat tumbuh di media kultur diperlukan 50
pertumbuhan koloni pada kedua kelompok sampai 100 bakteri/ml sputum.6 Pada
didapatkan nilai p sebesar 0,000. Dengan penelitian ini dilakukan pengamatan
demikian dapat disimpulkan bahwa media makroskopis kecepatan pertumbuhan koloni
CBM memiliki pertumbuhna koloni lebih cepat dan pengamatan mikroskopis BTA untuk
dibandingkan media LJ. konfirmasi koloni yang tumbuh untuk
Uji 2x2 digunakan untuk mengetahui mengetahui nilai spesifisitas dan sensitivitas
tingkat spesifisitas dan sensitivitas media antara media LJ dan CBM.
CBM dibandingkan dengan media LJ. Berikut
hasil perhitungan uji 2x2 : Kecepatan Pertumbuhan Koloni
Kecepatan pertumbuhan pada penelitian
 Uji 2x2 ini dilihat dari hasil jumlah hari yang
a. Spesifisitas dibutuhkan media LJ dan CBM untuk
menumbuhkan koloni. Media LJ dijadikan
d x 100% = 29 x 100% = 96,6 % acuan untuk mengetahui perbedaan
b +d 29+1 kecepatan pertumbuhan koloni karena LJ
b. Sensitivitas merupakan media gold standard untuk
a x 100% = 1 x 100% = 100 diagnosis tuberkulosis.
% Dari hasil pengamatan secara
a+c 1+0 maskroskopis didapatkan data pertumbuhan
pada media LJ pertumbuhan tercepat yaitu 6
Dari hasil perhitungan komparasi spesifisitas
hari dan waktu terlama adalah 49 hari. Pada
dan sensitivitas media CBM dibandingkan LJ
media CB pertumbuhan tercepat yaitu 2 hari
didapatkan nilai spesifisitas 96,6 % dan
dan waktu terlama adalah 6 hari. Bedasarkan
sensitivitas 100 %.
data uji Mann Whitney terdapat perbedaan
kecepatan pertumbuhan yang signifikan dan
PEMBAHASAN
dapat disimpulkan media CBM memiliki
pertumbuhan koloni yang lebih cepat
Penelitian ini merupakan lanjutan dari
dibandingkan media LJ.
penelitian sebelumnya yaitu hanya
Hal ini disebabkan oleh komposisi
menggunakan sampel sub kultur dan M.
modifikasi media kultur CBM yang terdiri dari
tuberculosis H37RV. Didapatkan data hasil
air kelapa muda, agar darah, darah domba,
pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis
malachite green, dan gliserol yang kaya
pada media CBM lebih cepat dibandingkan
nutrisi untuk mempercepat pertumbuhan
LJ dan bermakna secara statistik (p < 0,001).
koloni. Air kelapa merupakan cairan yang
Seperti yang telah dijelaskan pada bab
steril, mengandung protein, lemak dan kaya
sebelumnya perbedaan dengan bakteri
akan karbohidrat. Selain itu, air kelapa juga
lainnya yaitu M. tuberculosis resisten
mengandung banyak elemen nutrisi
terhadap agen antibakterial seperti penisilin
penting.12 Penelitian oleh Sevilla et al (2001)
dan mampu bertahan dalam kondisi
juga berhasil mengisolasi M. tuberculosis
kekeringan dalam waktu yang lama.11 Sifat M.
pada media coconut water egg malachite
tuberculosis yang lambat pada waktu
green media.13
pembelahan sekitar 20 jam, sehingga pada
Berdasarkan penelitian Mathur (2009)
media kultur, pertumbuhan baru tampak
yang membandingkan antara media
setelah 4 sampai dengan 8 minggu. Untuk
lowenstein jensen dengan agar darah

87
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

didapatkan hasil deteksi koloni M. timbul antara minggu ke-2 sampai minggu ke-
tuberculosis makroskopik lebih cepat (13,6 ± 6 dan hasil kultur negatif baru bisa dinyatakan
5,2 hari) pada media agar darah setelah 8 minggu waktu kultur.9 Dari hasil
dibandingkan media LJ (20,4 ± 5,1 hari).14 penelitian didapatkan sampel 1005 tumbuh
Darah domba memiliki nutrisi berupa protein tercepat pada media LJ yaitu dalam waktu 6
hematin yang berfungsi sebagai sumber hari. Berdasarkan alur petunjuk teknis
nutrisi bagi bakteri.15 Jadi darah domba pemeriksaan biakan, identifikasi, dan uji
berpotensi sebagai pengganti telur bebek. kepekaan Mycobacterium tuberculosis pada
Syarat penggunaan telur ayam/bebek pada media padat.16 Jika koloni pada media LJ
poses pembuatan media LJ harus segar yang tumbuh kurang dari 7 hari diduga
berumur tidak lebih 7 hari dan pakan ternak Mycobacterium sp. selain M. tuberculosis.
tidak boleh yang memakai antibiotik .16 Berdasarkan alur kerja di Laboratorium
Malachite green memiliki sifat Mikrobiologi Klinik RS Saiful Anwar jika
bakteriostatik terhadap bakteri lain, dapat terdapat pertumbuhan koloni harus dilakukan
diinkorporasikan ke dalam media tanpa pembacaan secara mikroskopis.
menghambat pertumbuhan basil tuberkel. Hasil pengamatan selama 8 minggu
Basil tuberkel masih dapat hidup dalam asam terdapat 24 media LJ yang tidak
dan alkali sehingga dapat membantu menunjukkan pertumbuhan koloni, hal ini
mengeliminasi/menghilangkan organisme dikarenakan positif pada salah satu, dua atau
terkontaminasi sekaligus meningkatkan tiga pewarnaan tetapi tidak menunjukkan
pertumbuhan dini dari Mycobacteria.13 adanya pertumbuhan M. tuberculosis atau
Penambahan gliserol bertujuan untuk Mycobacterium sp. lain pada medium
dijadikan sumber karbon dan energi untuk kemungkinan terjadi karena bakteri dalam
metabolisme dan mempercepat pertumbuhan sputum sudah mati atau pertumbuhan
M. tuberculosis.17 Jadi pada penelitian ini beberapa Mycobacterium sp. lain seperti
terdapat 31 sampel yang menumbuhkan Mycobacterium bovis dapat dihambat oleh
koloni lebih cepat secara makroskopis. kandungan gliserol dapat menjadi penyebab
Selain itu, keunggulan dari media CBM tidak tumbuhnya koloni.18 Pada penelitian ini
ini adalah risiko kontaminasi media lebih kecil kandungan dari media adalah gliserol,
dibandingkan media LJ. Hal ini dibuktikan dari sehingga diduga jika bakteri tersebut adalah
hasil uji sterilitas media LJ lebih banyak Mycobacterium bovis maka tidak terjadi
terjadi kontaminasi, sedangkan pada media pertumbuhan koloni.
CBM tidak terjadi kontaminasi. Setelah
dilakukan inokulasi dari 36 sampel Uji Diagnostik Tingkat Spesifisitas dan
didapatkan 5 sampel yang ditanam di media Sensitivitas
LJ terjadi kontaminasi. Berdasarkan studi Uji diagnostik merupakan suatu uji
literatur diketahui bahwa air kelapa ini penelitian yang bertujuan untuk menegakkan
merupakan cairan kaya nutrisi yang steril dan diagnosis atau menyingkirkan penyakit,
ditambahkan malachite green yang berfungsi screening, pengobatan pasien dan studi
sebagai bakteriostatik tanpa menghambat epidemiologi. Uji diagnostik baru harus
pertumbuhan basil tuberkel, sehingga memberi manfaat yang lebih dibanding uji
berpotensi mencegah terjadinya kontaminasi. yang sudah ada, meliputi beberapa hal yaitu:
Dari hasil data kecepatan pertumbuhan  Nilai diagnostik tidak jauh berbeda
yang diamati selama 8 minggu hanya 7 dengan uji diagnostik standar
sampel yang tumbuh pada media LJ. Koloni  Memberi kenyamanan bagi pasien (tidak
makroskopis M. tuberculosis pada media LJ invasif)

88
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

 Lebih mudah atau sederhana mikroskopis dari koloni yang tumbuh hasilnya
 Lebih murah atau dapat mendiagnosis adalah BTA negatif, sedangkan kode 1005
pada fase lebih dini dan 1007 hasilnya adalah BTA positif.
Hasil pengamatan mikroskopis pada
Sensitivitas adalah kemampuan suatu media LJ 7 koloni yang tumbuh yaitu kode
tes untuk mengidentifikasi atau mendiagnosa 1005, 1007, 1269, 1272, 1286, dan 1250.
individu dengan tepat, hasil tes positif dan Hanya pasien sampel kode 1005 yang
benar sakit. Semakin tinggi nilai sensitivitas sebelumnya direct smear +2 hasil mikrosopis
sebuah tes maka semakin baik kemampuan dari koloni yang tumbuh adalah BTA negatif
mendeteksi seseorang menderita penyakit dan kode pasien 1007 memiliki direct smear
tertentu sehingga dapat memperoleh +3 hasil pembacaan mikrosopis dari koloni
penanganan dini. Tujuan pengukuran yang tumbuh adalah BTA positif. Sementara
sensitivitas untuk menghitung jumlah orang pada media CBM pasien dengan kode 1005
yang memang dinyatakan terkena penyakit didapatkan BTA positif dan BTA negatif pada
dengan hasil tes positif. Spesifisitas adalah media LJ, walaupun direct smear pada kode
kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi 1005 adalah +2. Pasien kode 1005 ini adalah
atau mendiagnosa dengan tepat dengan hasil tersangka penderita TB MDR dikarenakan
tes negatif dan benar tidak sakit. Semakin manajemen terapi OAT yang tidak sesuai
tinggi nilai spesifisitas sebuah tes screening prosedur. Hal ini ditunjang oleh studi literatur
maka semakin baik kemampuan mendeteksi hasil kultur yang negatif dikarenakan pada
seseorang tidak menderita penyakit tertentu. penderita yang mendapat terapi OAT, kuman
Tujuan pengukuran spesifisitas untuk M. tuberculosis dapat kehilangan
menghitung banyaknya orang yang tidak kemampuan untuk tumbuh pada media kultur
mengidap suatu penyakit dengan hasil tes atau kuman telah mati.20 Hasil kultur yang
negatif. Penilaian dari hasil uji sensitifitas dan negatif juga diduga disebabkan oleh kurang
spesifisitas untuk menggetahui dari beberapa tepatnya penanganan sampel dahak dan atau
kelemahan seperti, tidak semua hasil dari prosedur pembuatan kultur. Penanganan
pemeriksaan dapat dinyatakan dengan tegas sampel dahak kurang tepat bila sampel
atau tidak terkenanya penyakit. Untuk dahak terpapar dengan sinar matahari atau
mengatasi kelemahan ini dilakukan temperatur yang tinggi, disimpan terlalu lama,
perhitungan nilai kecermatan dengan tujuan mengering, atau terkontaminasi. Prosedur
untuk menaksir banyaknya orang yang benar- dekontaminasi yang berlebihan sebelum
benar menderita dari semua hasil tes yang dilakukan inokulasi, pemanasan yang
positif.19 Untuk menguji nilai spesifisitas dan berlebihan selama sentrifugasi, media kultur
sensitivitas didapatkan dari hasil pengamatan yang tidak adekuat, dan kurangnya masa
mikroskopis dengan ditemukannya BTA pada inkubasi merupakan beberapa keadaan yang
koloni yang tumbuh pada media. dapat menyebabkan hasil kultur negative.20
Sampel pada penelitian ini didapatkan 29 Selain kode pasien kode 1005, pasien
pasien tersangka penderita tuberkulosis dengan kode 1007 ditemukan BTA positif
dengan direct smear negatif dan 2 sampel pada media LJ dan media CBM. Namun,
dengan direct smear kode pasien 1005 perbedaan karakteristik saat dilakukan
adalah +2, kode pasien 1007 adalah +3. Dari pengamatan pada mikroskop pembesaran
hasil pengamatan mikroskopis 29 sampel 100x ditemukan BTA pada media LJ lebih
dengan direct smear negatif dapat subur, banyak ditemukan di setiap lapang
menumbuhkan koloni pada media CBM. pandang, dan morfologinya tidak tampak
Namun setelah dilakukan pembacaan kurus dibandingkan pada media CBM.

89
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

Diduga dengan penambahan gliserol dapat


memberikan nutrisi sehingga pada media SARAN
CBM sehingga akan memberikan hasil
mikroskopis yang lebih baik dibandingkan Mengingat masih banyaknya kelemahan
dengan media LJ. Hal ini diduga telor pada dan keterbatasan yang penulis hadapi dalam
media LJ lebih memberikan nutrisi yang melakukan penelitian ini, maka dari hasil
banyak pada bakteri dibandingkan protein penelitian ini dapat disarankan sebagai
hematin yang terdapat pada darah domba, berikut :
sehingga untuk penelitian selanjutnya bisa 1. Modifikasi komposisi media coco blood
digunakan altternatif lain selain darah domba. malachite green (CBM) dengan
Setelah mendapatkan data mikroskopis menggunakan alternatif sumber protein
maka dilakukan uji 2x2 untuk mengetahui lain selain darah domba atau komposisi
nilai sensitivitas dan spesifisitas dari media LJ lainnya untuk menemukan komposisi
dan CBM. Dari hasil uji 2x2 didapatkan hasil yang lebih bernutrisi pada bakteri.
nilai spesfisitas 96,6 % dan sensitivitas 100 2. Dapat dilakukan tes niasin, DNA probe
%. Berdasarkan Levinson (2008) media LJ atau sequencing untuk konfirmasi pasti
memiliki sensitivitas dan spesifisitas masing- Mycobacterium yang tampak pada hasil
masing 99 % dan 100%.21 Dari hasil pengamatan mikroskopis.
perbandingan studi literatur dapat 3. Pemilihan sampel yang lebih banyak dan
disimpulkan bahwa media CBM lebih sensitif kriteria yang lebih mendukung untuk
daripada media LJ, namun media LJ lebih membuktikan tuberkulosis.
spesifik dibandingkan media CBM.

Keterbatasan Penelitian DAFTAR PUSTAKA


Koloni yang dikonfirmasi dengan
pewarnaan Ziehl Neelsen menghasilkan BTA 1. Price SA dan Lorraine MW. Patofisiologi
positif belum tentu hasil tersebut adalah Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Mycobacterium tuberculosis. Pengamatan Jakarta: EGC. 2006.
secara mikroskopis antara media LJ dan 2. Notoatmodjo S. Metode Penelitian
CBM masih lebih subur dan lebih banyak Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
ditemukan BTA dari media LJ. Hal ini diduga 3. Ditjen P2PL. Laporan Situasi Terkini
protein media LJ yang berasal dari telor Perkembangan Tuberkulosis di
bebek lebih banyak menutrisi dibandingan Indonesia Januari-Desember 2012.
protein hematin yang berasal dari darah (Online). 2012. Diakses 19 September
domba. 2013.http://www.tbindonesia.or.id/pdf/20
12/profil-tb_th2011.pdf.
KESIMPULAN 4. [WHO] World Health Organization. New
TB Cases 2011. (Online). 2011. Diakses
Berdasarkan hasil dan pembahasan 11 September 2013.
penelitian, maka dapat diambil kesimpulan http://www.globalhealthfacts.org/data/topi
bahwa Media coco blood malachite green c/map.aspx?ind=12&gclid=CL2N5bW97L
(CBM) terbukti dapat menumbuhkan koloni YCFcyF6wod5DcAPw.
lebih cepat, sehingga dapat menyingkat 5. Malik A. Seminar Kesehatan sebagai
durasi kultur, lebih sensitif, namun kurang Rangkaian Hari Kesehatan Nasional ke
spesifik dibandingkan media Lowenstein 48 dan Hari Jadi Kabupaten Malang ke
Jensen (LJ). 1252. (Online). 2012. Diakses 19

90
Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 2, Juni 2015

September 2013. 15. Drancourt M, Carrieri P, Gévaudan MJ et


http://www.malangkab.go.id/?page=91&i al. Blood Agar and Mycobacterium
d=1204. tuberculosis: the End of a Dogma. J Clin
6. Frida E, Ibrahim dan Hardjoeno. Analysis
Microbiol. 2003; 41:1710–1711.
of Acid Fast Bacilli (AFB) Findings and
Concentrated Slides in Suspected 16. Kemenkes RI. Petunjuk Teknis
Tuberculosis. Clinical Pathology and Medical Pemeriksaan Biakan, Identifikasi, dan Uji
Laboratory . 2006. 12(2). Kepekaan Mycobacterium tuberculosis
7. Forbes BA et al. Bailey & Scott's pada Media Padat. Jakarta: Kemenkes.
2011.
Diagnostic Microbiology. 12th Edition. St
17. Kennedy A D . Biochemical Profile of
Louis: Elsevier Mosby. 2007. Mycobacterium tuberculosis Grown
8. Coban AY, Cihan CC, Bilgin K et al. Under Hypoxic Conditions (Snow Globe
Blood Agar for Susceptibility Testing of Model, SG7). 2 0 1 1 . (Online). Diakses
Mycobacterium tuberculosis Against 19 September 2013.
First-Line Drugs. Int J Tuberc Lung Dis. www.metabolon.com.
2006.10:450–453. 18. Karuniawati A, Risdiyani E, Nilawati S,
9. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi Prawoto, Rosana Y, Alisyahbana B,
Kedokteran. (H Hartanto, C Rachman, A
Parwati I, Melia W, Sudiro TM.
Dimanti, A Diani). Jakarta: EGC. 2007.
10. Potter PA, Perry GA. Buku Ajar Comparison Tan Thiam Hok, Ziehl
Fundamental Keperawatan Konsep, Neelsen and Fluorochrom Staining
Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC. 2002. Method for Detect of Acid Fast Bacil in
11. PDPI. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis Sputum Samples. Makara Kesehatan.
dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2005. 9:29-33.
Jakarta: PDPI. 2006. 19. Steven YK, Bogia IM, I Made S, Ketut
ES. Perbandingan Sensitivitas dan
12. Supadi dan Nurmanaf RA.
Spesifisitas Uji Pewarnaan Sellers’ dan
Pemberdayaan Petani Kelapa dalam Fluorescent Antibody Technique (FAT)
Upaya Peningkatan Pendapatan. Litbang dalam Mendiagnosa Penyakit Rabies
Pertanian. 2006; 25(1). pada Anjing di Bali. Indonesia Medicus
13. Sevilla VB. The Utilization of he Coconut Veterinus 2012; 1(1):12-21.
Water Egg Malachite Green Media 20. Toman K. What is the Probability of
(CEM) for the Isolation of Mycobacterium Obtaining a Negative Culture from a
Sputum Specimen Found Positive by
tuberculosis and Corynebacterium Smear Microscopy?. In: Frieden T,
diphtheriae. Phil J Microbiol Infect Dis. Editor. Toman’s Tuberculosis Case
2001;10(2):93–7). detection, treatment, and monitoring –
14. Mathur ML, Jyoti G, Ruchika S. Rapid questions and answers. 2nd Edition.
Culture of Mycobacterium tuberculosis Geneva: World Health Organization.
on Blood Agar in Resource Limited 2004. p 44-45.
21. Levinson W. Review of Medical
Setting. Dan Med Bull. 2009; (56):208-
Microbiology and Immunology. United
10.
States: The McGraw-Hill Companies Inc.
2008.

91