Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Persalinan adalah proses pengeluaran produk konsepsi yang viabel melalui jalan lahir
dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor
utama yaitu kekuatan ibu (Power), keadaan jalan lahir (Passage), dan keadaan janin
(Passanger). Dengan adanya keseimbangan atau kesesuaian antara faktor tersebut, persalinan
normal diharapkan dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor, dapat
terjadi gangguan pada jalannya persalinan yang disebut distosia. 1,2
Distosia berasal dari bahasa Yunani, Dys yang berarti buruk atau jelek dan tosia berasal
dari tocos yang berarti persalinan. Sehingga distosia merupakan persalinan yang sulit, tidak
ada kemajuan atau merupakan persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi janin maupun
ibu. Kasus distosia amat bervariasi tergantung kriteria diagnosis yang digunakan. Sebagai
contoh, suatu penelitian berhasil mengidentifikasi 0,9 persen dari hampir 11.000 persalinan
pervaginam yang dikategorikan sebagai mengalami distosia di Toronto General Hospital.
Meski demikian, distosia sejati —yang baru didiagnosis ketika diperlukan manuver lain selain
traksi ke bawah dan episiotomi— hanya ditemukan pada 24 kelahiran (0,2 persen). 2,3
Data dari Reproductive Health Library menyatakan terdapat 180 sampai 200 juta
kehamilan setiap tahun. Dari angka tersebut terjadi 585.000 kematian maternal akibat
komplikasi kehamilan dan persalinan. Sebab kematian tersebut adalah perdarahan 24,8%,
infeksi dan sepsis 14,9%, hipertensi dan preeklampsi/eklampsi 12,9%, distosia 6,9%, abortus
12,9%, dan sebab langsung yang lain 7,9%.4
Distosia sering merupakan indikasi seksio sesar karena komplikasinya. Pada tahun 2002
terdapat 27,6 % seksio sesarea dari seluruh proses kelahiran. Dari angka tersebut, 19,1%
merupakan seksio sesarea primer. Laporan American College of Obstretician and
Gynaecologist (ACOG) menyatakan bahwa seksio sesarea primer terbanyak pada primigravida
dengan fetus tunggal, presentasi vertex, tanpa komplikasi. Indikasi primigravida tersebut untuk
seksio sesarea adalah presentasi bokong, preeklampsi, distosia, fetal distress, dan elektif.
Distosia merupakan indikasi terbanyak untuk seksio sesarea pada primigravida sebesar 66,7%.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan penelitian sebelumnya tahun 1985 dan
1994 yang menyatakan distosia menyebabkan seksio sesarea masing-masing 49,7% dan
51,4%.5

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi
Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang, ligamentum dan otot. Cavitas
pelvis yang berbentuk seperti corong, memberi tempat kepada vesica urinaria, alat kelamin
pelvik, rectum, pembuluh darah dan limfe serta saraf.
Tulang-tulang panggul terdiri atas 3 buah tulang yaitu : Os coxae (disebut juga tulang
innominata) 2 buah kiri dan kanan, os sakrum dan os coccygis. 1,2
Os coxae merupakan fusi dari os ilium, os iskium dan os pubis.
1) Artikulasio pada Tulang Pelvis
Tulang-tulang pelvis dihubungkan oleh empat artikulasio: 1,6
a. Dua sendi kartilago-sendi sacro-coccygis dan simfisis pubis
Sendi-sendi ini dikelilingi oleh ligamentum-ligamentum yang kuat di anterior dan
posteriornya, yang berespons terhadap efek relaxin dan memfasilitasi partus.
b. Dua sendi-sendi sinovial – sendi-sendi sacro-iliaca
Sendi-sendi ini distabilisasi oleh ligamentum sacro-iliaca, ligamentum iliolumbar,
ligamentum lumbosacral lateralis, ligamentum sacrotuberous dan ligamentum
sacrospinosus.
2) Pelvis Mayor (false pelvis) dan Pelvis Minor (true pelvis)
Pelvis dibagi menjadi pelvis mayor dan pelvis minor dan dipisahkan oleh bidang
datar yang oblik, yaitu: 6
a. Apertura pelvis superior (pintu atas panggul) yang dibatasi oleh:
 Tepi kranial symphysis pubica (upper margin of the symphysis pubis)
 Tepi dorsal crista pubica (pubic crest)
 Pecten os. pubis (pectineal line of the pubis)
 Linea arcuata os. ilium (arcuate line of the ilium/linea terminalis)
 Promontorium os. sacrum (sacral promontory)
 Tepi ventral ala sacralis
b. Apertura pelvis inferior (pintu bawah panggul) dibatasi oleh:
 Ke arah ventral oleh tepi kaudal symphysis pubis

2
 Ke arah ventrolateral pada masing-masing sisi oleh ramus inferior ossis pubis dan
tuber ishiadicum
 Ke arah dorsolateral pada masing-masing sisi oleh ligamentum sacrotuberale
 Ke arah dorsal oleh hujung os coccygis
Bentuk pelvis minor menyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu
melengkung ke depan (Sumbu Crus). Sumbu ini adalah garis yang menghubungkan titik
persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera pada pintu atas panggul
dengan titik-titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus,
sejajar dengan sacrum, untuk seterusnya melengkung ke depan, sesuai dengan
lengkungan sacrum. 2
3) Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul (pelvic inlet) merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh sacral
promontory, linea innominata(terminalis), dan pinggir atas simfisis (upper margin of the
symphysis pubis). Terdapat 4 diameter pada pintu atas panggul, yaitu diameter
anteroposterior, diameter transversa dan 2 diameter oblikus. 1,2,6
a. Diameter anteroposterior
 Konjugata vera dan konjugata diagonal 2
Ialah panjang jarak dari pinggir atas simpfisis ke promontorium. Cara
mengukur konjugata vera ialah dengan jari tengah dan telunjuk dimasukkan ke
dalam vagina untuk meraba promontorium.
Jarak bagian bawah dari simfisis sampai ke promontorium dikenal sebagai
konjugata diagonalis (diagonal conjugate).Konjugata vera sama dengan konjugata
diagonalis dikurangi 1,5 cm. Apabila promontorium dapat diraba, maka konjugata
diagonalis dapat diukur, yaitu sepanjang jarak antara hujung jari kita yang meraba
sampai ke batas pinggir bawah simfisis.
Kalau jarak antara hujung jari kita sampai ke batas pinggir bawah simfisis
adalah 13 cm , maka konjugata vera lebih dari 11,5 cm ( 13cm – 1,5 cm). Biasanya
konjugata vera berukuran 11,5 cm atau lebih (moore).
 True (obstetric) conjugate 6, 7
Jarak minimum anteroposterior (AP) bagi pintu atas panggul. Jaraknya ialah
dari tengah simfisis bagian dalam (posterosuperior margin) ke tengah sacral
promontorium. Konjugata obstetrika ini adalah jarak tetap paling sempit
(narrowest fixed distance) yang masih membolehkan kepala janin melewatinya

3
untuk memastikan kelahiran pervaginam (moore). Namun, jarak ini tidak dapat
diukur secara pemeriksaan dalam karena adanya vesica urinaria.
b. Diameter Transversa
Diameter transversa ialah jarak terjauh garis melintang pada pintu-atas panggul.
Jaraknya lebih kurang 12,5 – 13 cm. 2
c. Diameter Oblikus
Garis dari artikulasia sacro-ilica ke titik persekutuan antara diameter transversa
dan konjugata obstetrik dan diteruskan ke linea innominata (terminalis). Diameter ini
sepanjang lebih kurang 13 cm. 2

Gambar 1. Diameter Rongga Pelvis


4) Ruang Panggul (Pelvic Cavity)
a. Distansia Interspinarum (interspinous distance)
Distansia interspinarum adalah jarak penyempitan ( narrowest part of pelvic
canal ) di panggul tengah setinggi spina ishiadica. Bagian paling sempit dari jalan
lahir ini juga menentukan apakah kepala janin bisa melewatinya atau tidak. Namun,
ia bukanlah jarak yang tetap ( fixed distance ), karena terjadi relaksasi dari
ligamentum-ligamentum pelvis dan peningkatan mobilitas dari persendian pelvis saat
kehamilan. 6, 7
b. Penilaian tulang sacrum
4
Sacrum yang kurang melengkung dan kurang cekung akan mempersempit ruang
panggul dan mempersulit putaran paksi dalam, sehingga dapat terjadi malposisi janin.
c. Penilaian dinding samping panggul
Dinding samping panggul dinilai dari atas ke bawah. Dinding samping panggul
yang baik adalah seperti pada panggul ginekoid yaitu lurus dari atas ke bawah. Yang
kurang baik adalah dinding samping yang lebar di atas dan menyempit ke arah
bawah.2
d. Inklinasi
Kepala janin dapat lebih mudah masuk ke dalam ruang panggul jika sudut antara
sakrum dan lumbal lebih besar, disebut inklinasi. Sudut inklinasi ini adalah antara 50-
600, biasanya 550. 2

Gambar 2. Inclination of pelvic


5) Jenis Panggul
Walaupun secara anatomi perbedaan antara pelvis wanita dan laki-laki begitu jelas,
namun pelvis dari mana-mana individu bisa mempunyai ciri yang tertentu. Dikenal
empat tipe panggul/pelvis, dan yang kelima merupakan tipe kombinasi atau intermediate-
type pelvis dari empat yang klasik tadi. 1,6
Klasifikasi Caldwell-Moloy 4
a. Pelvis Ginekoid : panggul paling baik untuk perempuan. Bentuk pintu-atas panggul
hampir bulat (transverse ellips). Panjang diameter anteroposterior kira-kira sama
dengan diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada 45% perempuan.
b. Pelvis Android : bentuk pintu atas panggul hampir segi tiga. Umumnya pada pria.
Panjang antero-posterior hampir sama dengan diameter transversa. Diameter
transversal mendekati sacrum. Bagian belakang pendek dan gepeng, sedangkan
bagian depannya menyempit ke depan. Jenis ini ditemukan pada 15% perempuan.

5
Pada wanita dengan panggul seperti ini akan mengalami kesulitan untuk melahirkan
janin secara pervaginam.
c. Pelvis Antropoid : bentuk pintu atas panggul agak lonjong, seperti telur
(Anteroposterior ellips). Seperti panggul ginekoid yang diputar 900. Panjang diameter
antero-posterior lebih besar daripada diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada
35% perempuan.
d. Pelvis Platipelloid : sebenarnya merupakan jenis ginekoid yang menyempit pada arah
antero-posterior. Ukuran transversa jauh lebih besar daripada ukuran antero-posterior.
Jenis ini ditemukan pada 5% perempuan.
e. Tipe Kombinasi atau Intermediate-type pelvis.

Gambar 3. Jenis Panggul


6) Bidang Hodge
Bidang-bidang Hodge digunakan untuk menentukan sampai di manakah bagian
terendah janin turun dalam panggul saat persalinan. 1
a. Hodge I : Bidang datar yang melalui bagian atas simfisis dan promontorium. Dibentuk
pada lingkaran pintu atas panggul.
b. Hodge II : Bidang yang sejajar dengan bidang Hodge I terletak setinggi bagian bawah
simfisis.
c. Hodge III : Bidang yang sejajar dengan Hodge I dan Hodge II, terletak setinggi spina
ischiadica kanan dan kiri. Disebut juga bidang O. Kepala yang berada di atas 1 cm
disebut ( -1) atau sebaliknya.

6
d. Hodge IV : Bidang yang sejajar dengan bidang Hodge I,II, dan III, terletak setinggi
os coccygis.

Gambar 4. Bidang Hodge


7) Pintu Bawah Panggul (Pelvic Outlet)
Pintu bawah panggul bukan merupakan suatu bidang datar, tetapi tersusun atas 2
bidang datar yang masing – masing berbentuk segitiga, yaitu bidang yang dibentuk oleh
garis antara kedua buah tuber os iskii dengan ujung os sacrum dan segitga lainnya yang
alasnya juga garis antara kedua tuber os iskii dengan bagian bawah simfisis. Pinggir
bawah simfisis berbentuk lengkuk ke bawah dan merupakan sudut disebut arkus pubis.
Dalam keadaan normal besar sudutnya ± 90º atau lebih sedikit. Bila kurang dari 90º maka
kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karena memerlukan tempat lebih banyak ke aral
dorsal ( ke arah anus ). Jarak antara kedua tuber os iskii ( distansia tuberum ) juga
merupakan ukuran pintu bawah panggul yang penting. 2
8) Dinding Pelvis
Dinding pelvis dapat dibedakan atas dinding anteroposterior, dua dinding lateral,
dinding dorsal, dan sebuah dasar pelvis: 6, 7
a. Dinding pelvis Anteroposterior.
Dibentuk oleh dua corpus ossis pubis dan ramus ossis pubis serta serta
symphysis pubis. Lebih berfungsi sebagai penahan beban ( weight-bearing) dari
dinding anterior dalam posisi anatomi.
b. Dinding-dinding Pelvis Lateral.
Memiliki kerangka tulang yang dibentuk oleh bagian-bagian os coxae.
Musculus obturator internus menutupi hampir seluruh dinding-dinding ini. Medial
terhadap musculus obturator internus terdapat nervus obturatorius dan pembuluh

7
darah obturatoria, dan cabang-cabang lain dari pembuluh dari iliaca interna. Masing-
masing musculus obturatorius internus meninggalkan pelvis melalui foramen
ishiadicum minus dan membentuk tendinous ke arah posterior dan kembali ke lateral
dan melekat pada trochanter mayor os femur. Permukaan medial dari otot ini ditutupi
oleh fascia obturatorius yang menebal ke arah tengah membentuk arcus tendon yang
memberikan pelekatan pada diafragma pelvis. Diafragma ini menjadi batas antara
pelvis dan perineum, membentuk dasar dari ruang panggul (pelvic cavity) dan atap
dari perineum.
c. Dinding Posterior (Dinding posterolateral dan atap)
Pada posisi anatomi, dinding posterior pelvis terdiri dari dinding tulang dan atap
pada midline (dibentuk dari os sacrum dan os coccyx ) dan dinding
musculoligamentous posterolateral, dibentuk oleh ligamentum-ligamentum dan
articulasio sacro-iliaca serta musculus piriformis. Medial dari musculus piriformis
terdapat saraf-saraf dari plexus sacralis dan pembuluh iliaca interna serta cabangnya.
d. Dasar Pelvis/Pelvic Diaphragm
Dasar pelvis dibentuk oleh diafragma pelvis yang berbentuk seperti mangkok
(bowl-shaped) atau corong (funnel-shaped) dan terdiri dari musculus levator ani dan
musculus coccygeus serta fascia-fascia yang menutupi permukaan superior dan
inferior dari muskulus-muskulus ini. Dasar pelvis memisahkan ruang panggul dari
perineum diantara pelvis minor.

2. Definisi dan Etiologi


Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal yang
timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan 5 faktor persalinan (Persalinan
yang berlangsung > 24 jam primi dan > 18 jam pada multi). Setiap keadaan berikut dapat
menyebabkan distosia: 1, 2, 3
1) Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang tidak efektif atau upaya mengedan
ibu (Power).
2) Perubahan struktur pelvis (Passage)
3) Sebab-sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi maupun kelainan posisi, bayi besar
dan jumlah bayi (Passanger)
4) Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan.
5) Respon psikologis ibu selama persalinan yang berhubungan dengan pengalaman,
persiapan, budaya dan warisannya, serta sistem pendukung.
8
Kelima faktor ini bersifat interdependen.
3. Klasifikasi
Berdasarkan penyebab dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu: 1, 2
1) Distosia Disfungsional
Distosia karenan kekuatan-kekuatan yang mendorong anak tidak memadai:
a. Distosia Karenan Kelainan His
Merupakan perlambatan persalinan yang diakibatkan kontraksi uterus abnormal. Baik
tidaknya kontraksi uterus atau his dapat dinilai dari beberapa kriteria, yaitu:
 Kemajuan persalinan
 Sifat-sifat his: frekuensi, kekuatan dan lamanya his. Kekuatan his dinilai dari cara
menekan dinding rahim pada puncak kontraksi (Acme)
 Besarnya caput succedaneum.
Kemajuan persalinan dinilai dari kemajuan pembukaan serviks, kemajuan
turunnya bagian terendah janin, dan bila janin sudah sampai di bidang Hodge III atau
lebih rendah dinilai dari ada atau tidak adanya putaran paksi dalam.
Penilaian kekuatan his dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, yakni menilai
secara manual sifat-sifat his dengan palpasi atau bantuan CTG (Cardio tocography).
Kekuatan his tidak boleh dinilai dari perasaan nyeri penderita. His dikatakan kurang
kuat jika:
 Terlalu lemah yang dinilai dengan dengan palpasi pada puncak his.
 Terlalu pendek yang dinilai dari lamanya kontraksi.
 Terlalu jarang yang dipantau dari waktu sela antara 2 his.
Dalam pemantauan kemajuan persalinan, ketiga sifat di atas perlu dinilai secara
objektif dengan melakukan penilaian secara manual, yaitu dengan melakukan palpasi
abdomen sekurang-kurangnya 10 menit.
Menurut WHO, his dinyatakan memadai bila terdapat his yang kuat sekurang-
kurangnya 3 kali dalam kurun waktu 10 menit dan masing-masing lamanya > 40 detik.
Interval his yang terlampau pendek dan atau lamanya > 50 detik dapat membahayakan
kesejahteraan janin.
Distosia karena kelainan his dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a) Disfungsi hipotonis
Kontraksi his yang terlalu lemah. Dengan CTG, terlihat tekanan yang < 15 mmHg.
Tekanan tersebut tidak mencukupi untuk kemajuan penipisan serviks dan dilatasi.

9
Dengan palpasi, his jarang dan pada puncak kontraksi dinding rahim masih dapat
ditekan ke dalam.
b) Disfungsi hipertonis
Kontraksi his yang berlebihan dan tidak terkoordinasi. Ibu yang mengalami
disfungsi hipertonis akan sangat merasakan kesakitan. Kontraksi ini biasa terjadi
pada tahap laten, yaitu dilatasi servikal < 4 cm dan tidak terkoordinasi. Kekuatan
kontraksi pada bagian tengah uterus lebih kuat dari pada di fundus, karena uterus
tidak mampu menekan ke bawah untuk mendorong sampai ke serviks. Uterus
mungkin mengalami kekuatan diantara kontraksi.
Tabel 1. Perbedaan Disfungsi Hipotonis dan Hipertonis

b. Distosia Karena Kekuatan Mengejan Kurang Kuat


Distosia yang disebabkan kekuatan abdomen untuk mendorong janin kurang kuat.
Kekuatan ini normalnya berfungsi untuk membantu kontraksi uterus/his. Kelainan ini
disebabkan karena kelainan pada dinding perut seperti luka parut baru pada sinsing
perut, dilatase m.rectus abdominis atau kelainan keadaan umum ibu seperti sesak
nafas atau adanya kelelahan ibu.
2) Distosia Karena Kelainan Pada Jalan Lahir
Distosia karena kelainan ukuran panggul (Cephalopelvic disproportion) dapat
disebabkan karena berkurangnya ukuran panggul, ukuran janin yang terlalu besar, atau
kombinasi diantara keduanya. Setiap penyempitan pada diameter panggul baik pintu atas
panggul, pintu tengah panggul, maupun pintu bawah panggul dapat menyebabkan
terjadinya distosia pada persalinan.
a. Penyempitan pintu atas panggul
Pintu masuk panggul dianggap menyempit apabila diameter anteroposterior
terpendeknya kurang dari 10 cm atau diameter transversa terbesarnya < 12 cm.
b. Penyempitan pintu tengah panggul

10
Pintu tengah panggul dikatakan menyempit apabila jumlah diameter
intraspinarum ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah ≤ 13,5 cm.
c. Penyempitan pintu bawah panggul
Pintu bawah panggul menyempit didefinisikan sebagai pemendekan diameter
intertuberosum hingga ≤ 8 cm.
Perbandingan antara kepala janin dan panggul yang tidak serasi dapat
menyebabkan distosia. Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan
maupun persalinan.
a. Pengaruh pada kehamilan:
 Dapat menimbulkan retrofexio uteri gravidii incarcerata.
 Karena kepala tidak dapat turun, terutama pada primigravida fundus lebih tinggi
daripada biasa dan menimbulkan sesak nafas atau gangguan peredaran darah.
 Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung.
 Perut yang menggantung pada primigravida merupakan tanda panggul sempit
(abdomen pendulum).
 Kepala tidak turun ke dalam rongga panggul pada bulan terakhir.
 Dapat menimbulkan letak muka, sungsang, dan lintang.
 Biasanya bayi seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil daripada ukuran bayi
rata-rata.
b. Pengaruh pada persalinan:
Persalinan lebih lama dari biasa yang disebabkan karena gangguan pembukaan
dan karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak. Kelainan
pembukaan dapat terjadi karena ketuban pecah sebelum waktunya karena bagian
depan kurang menutup pintu atas panggul, selanjutnya setelah ketuban pecah kepala
tidak dapat menekan pada serviks karena tertahan pada pintu atas panggul.
c. Pengaruh pada anak:
 Kematian perinatal meningkat pada partus yang lama, misalnya yang lebih lama
dari 24 jam atau kala II yang > 1 jam apalagi jika ketuban pecah sebelum waktunya.
 Prolapsus funikuli dapat menimbulkan kematian anak.
 Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak, terutama jika diameter
biparietal berkurang > ½ cm. Selain itu, mungkin pada tengkorak terdapat tanda-
tanda tekanan, terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal)
bahkan dapat terjadi fraktur impresi.

11
3) Distosia Karena Kelainan Presentasi/Posisi
a. Kelainan Posisi (Positio Occipito Posterior Persistens)
Pada kebanyakan persalinan dengan posisi oksipito posterior, kepala akan
mengalami putaran paksi sehingga anak lahir dengan oksiput di bawah simfisis,
namun karena sudut pemutaran besar (umumnya 1350), kala II biasanya sedikit lebih
lama. Putaran paksi ini baru terjadi pada Hodge III dan bahkan kadang-kadang baru
terjadi pada Hodge IV. Jika pada posisi oksipito posterior ubun-ubun kecil berputar
ke belakang, disebut positio oksipito posterior persisten.
Penyebab tidak terjadinya putaran paksi ialah panggul antropoid, android,
kesimpitan bidang tengah panggul, ketuban pecah sebelum waktunya, fleksi kepala
kurang, dan inersia uteri.
b. Kelainan Presentasi
Pada letak sungsang, dimana letak janin memanjang dengan kepala di bagian
fundus uteri dan bokong di bagian cavum uteri. Hal ini merupakan penyulit dalam
persalinan. Selain letak sungsang, letak lintang cukup sering terjadi dan tidak mungkin
dilahirkan pervaginam kecuali keadaan janin yang sangat kecil atau telah mati dalam
waktu cukup lama.
4) Distosia Karena Kelainan Janin
a. Pertumbuhan janin yang berlebihan
Yang dinamakan bayi besar ialah bila berat badannya > 4000 gram. Kepala dan
bahu tidak mampu menyesuaikan ke pelvis, selain itu distensi uterus oleh janin yang
besar mengurangi kekuatan kontraksi selama persalinan dan kelahirannya. Pada
panggul normal, janin dengan berat badan 4000-5000 gram pada umumnya tidak
mengalami kesulitan dalam melahirkannya.
b. Hidrosefalus
Sering menimbulkan distosia bahkan ruptura uteri dan anak lahir dalam keadaan
sungsang karena kepala terlalu besar untuk masuk ke dalam pintu atas panggul.
c. Kelainan bentuk janin yang lain
 Janin kembar melekat (double master)
Torakopagus (perlekatan pada dada) merupakan janin kembar melekat yang paling
sering menimbulkan kesukaran persalinan.
 Janin dengan perut besar

12
Pembesaran perut yang menyebabkan distosia, akibat dari asites atau tumor hati,
limpa, ginjal dan ovarium yang jarang dijumpai.
d. Prolapsus funikuli
Keadaan dimana tali pusat berada di samping atau melewati bagian terendah
janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah. Pada presentasi kepala, prolapsus
funikuli sangat berbahaya bagi janin, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit antara
bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat gangguan oksigenasi.
5) Distosia Karena Kelainan Traktus Genitalia
a. Vulva
Kelainan pada vulva yang menyebabkan distosia adalah edema, stenosis, dan
tumor. Edema biasanya timbul sebagai gejala preeklampsia dan terkadang karena
gangguan gizi. Pada persalinan jika ibu dibiarkan mengejan terus jika dibiarkan dapat
juga mengakibatkan edema. Stenosis pada vulva terjadi akibat perlukaan dan
peradangan yang menyebabkan ulkus dan sembuh dengan parut-parut yang
menimbulkan kesulitan. Tumor dalam neoplasma jarang ditemukan. Yang sering
ditemukan kondilomata akuminata, kista, atau abses glandula bartholin.
b. Vagina
Yang sering ditemukan pada vagina adalah septum vagina, dimana septum ini
memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian
kiri. Septum lengkap biasanya tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang
satu umumnya cukup lebar, baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. Septum
tidak lengkap kadang-kadang menahan turunnya kepala janin pada persalinan dan
harus dipotong terlebih dahulu.
Stenosis vagina yang tetap kaku dalam kehamilan merupakan halangan untuk
lahirnya bayi, perlu dipertimbangkan seksio sesaria. Tumor vagina dapat menjadi
rintangan pada lahirnya janin per vaginam.
c. Serviks uteri
Konglutinasio orivisii externi merupakan keadaan dimana pada kala I servik
uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. Karsinoma servisis uteri,
merupakan keadaan yang menyebabkan distosia.
d. Uterus
Mioma uteri merupakan tumor pada uterus yang dapat menyebabkan distosia
apabila mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginam, adanya kelainan letak

13
janin yang berhubungan dengan mioma uteri dan inersia uteri yang berhubungan
dengan mioma uteri.
e. Ovarium
Distosia karena tumor ovarium terjadi apabila menghalangi lahirnya janin
pervaginam. Dimana tumor ini terletak pada cavum douglas. Membiarkan persalinan
berlangsung lama mengandung bahaya pecahnya tumor atau ruptura uteri atau infeksi
intrapartum.
6) Distosia Karena Respon Psikologis
a. Stress yang diakibatkan oleh hormon dan neurotransmitter (catecholamines) dapat
menyebabkan distosia. Sumber stress pada setiap wanita bervariasi, tetapi nyeri dan
tidak adanya dukungan dari seseorang merupakan faktor penyebab stress.
b. Cemas yang berlebihan dapat menghambat dilatasi servik secara normal, persalinan
berlangsung lama, dan nyeri meningkat. Cemas juga menyebabkan peningkatan level
strees yang berkaitan dengan hormon (β-endorphin, adrenokortikotropik, kortisol, dan
epinephrine). Hormon ini dapat menyebabkan distosia karena penurunan kontraksi
uterus.
4. Faktor Risiko
Faktor Ibu: 2, 5
a. Umur
Pada umur kurang dari 20 tahun, organ-organ reproduksi belum berfungsi
dengan sempurna, sehingga bila terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah
mengalami komplikasi. Selain itu, kekuatan otot-otot perineum dan otot -otot perut
belum bekerja secara optimal, sehingga sering terjadi persalinan lama atau macet yang
memerlukan tindakan. Faktor risiko untuk persalinan sulit pada ibu yang belum
pernah melahirkan pada kelompok umur ibu dibawah 20 tahun dan pada kelompok
umur diatas 35 tahun adalah 3 kali lebih tinggi dari kelompok umur reproduksi sehat
(20-35 tahun).
Supriyati, Doeljachman dan Susilowati mendapatkan temuan bahwa umur ibu
hamil merupakan faktor risiko distosia (penyulit persalinan) yang memerlukan
tindakan. Ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
berisiko 4 kali untuk terjadi distosia, dibandingkan ibu hamil yang berumur antara 20
hingga 35 tahun.
b. Paritas

14
Paritas menunjukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang wanita.
Paritas merupakan faktor penting dalam menentukan nasib ibu dan janin baik selama
kehamilan maupun selama persalinan. Pada ibu dengan primipara (wanita yang
melahirkan bayi hidup) pertama kali, karena pengalaman melahirkan belum pernah,
maka kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup besar baik pada
kekuatan his (power), jalan lahir (passage) dan kondisi janin (passager). Informasi
yang kurang tentang persalinan dapat pula mempengaruhi proses persalinan. Hasil
penelitian Supriyati dkk, menyimpulkan bahwa parit as juga berhubungan secara
bermakna dengan kejadian distosia persalinan. Ibu hamil dengan paritas 1 atau lebih
dari 5 memiliki risiko untuk terjadi distosia 3,86 kali lebih besar dibandingkan ibu
hamil dengan paritas 2 sampai 5.
c. Jarak kehamilan atau persalinan sebelumnya
Seorang wanita yang hamil dan melahirkan kembali dengan jarak yang pendek
dari kehamilan sebelumnya, akan memberikan dampak yang buruk terhadap kondisi
kesehatan ibu dan bayi. Hal ini disebabkan, karena bentuk dan fungsi organ reproduksi
belum kembali dengan sempurna. Sehingga fungsinya akan terganggu apabila terjadi
kehamilan dan persalinan kembali. Jarak kehamilan minimal agar organ reproduksi
dapat berfungsi kembali dengan baik adalah 24 bulan. Jarak antara dua persalinan
yang terlalu dekat menyebabkan meningkatnya anemia yang dapat menyebabkan
BBLR, kelahiran preterm, dan lahir mati, yang mempengaruhi proses persalinan dari
faktor bayi (passager).
Jarak kehamilan yang terlalu jauh berhubungan dengan bertambahnya umur ibu.
Hal ini akan terjadi proses degeneratif melemahnya kekuatan fungsi-fungsi otot uterus
dan otot panggul yang sangat berpengaruh pada proses persalinan apabila terjadi
kehamilan lagi. Konstraksi otot-otot uterus dan panggul yang lemah menyebabkan
kekuatan his (power) pada proses persalinan tidak adekuat, sehingga banyak terjadi
partus lama/tak maju. Hal ini berarti ibu hamil yang memiliki jarak kurang dari 2 tahun
atau lebih dari 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya memiliki risiko 8,17 kali untuk
terjadi distosia dibandingkan ibu hamil dengan jarak 2 tahun hingga 10 tahun dengan
kehamilan sebelumnya.
d. Sosial ekonomi
Sosial ekonomi masyarakat yang sering dinyatakan dengan pendapatan
keluarga, mencerminkan kemampuan masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan kesehatan dan pemenuhan zat gizi. Hal ini
15
pada akhirnya berpengaruh pada kondisi kehamilan dan pada faktor kekuatan (power)
dalam proses persalinan. Selain itu pendapatan juga mempengaruhi kemampuan
dalam mengakses pelayanan kesehatan, sehingga adanya kemungkinan komplikasi
terutama dari faktor janin (passager) dan jalan lahir (passage) dapat terdeteksi.
e. Riwayat distosia bahu
Ibu yang memiliki riwayat melahirkan dengan distosia bahu terbukti sebagai
prediktor untuk kembali terjadinya distosia bahu. Hal ini dikarenakan beberapa hal
antara lain anatomi pelvis seorang wanita tidak akan berubah selama hamil, sedangkan
kecenderungan bayi kedua akan lebih besar dibandingkan bayi sebelumnya. Beberapa
penulis menyebutkan bahwa persalinan distosia bahu akan kembali terjadi pada
wanita dengan riwaya tdistosia bahu sebesar 11,9%. Risiko akan meningkat sampai
20 kali lipat, sehingga beberapa dokter kandungan mengusulkan, sekali terjadi distosia
bahu, maka berikutnya harus menggunakan sesar.
f. Etnisitas
Wanita afrika-amerika memiliki peningkatan resiko terjadinya distosia bahu. Ini
dimungkinkan karena kecenderungan memiliki panggul tipe android.
g. Faktor gizi
Selain faktor ibu secara umum, faktor yang cukup penting mempengaruhi
kondisi kehamilan hingga proses persalinan adalah faktor gizi yang meliputi:
 Tinggi badan:
Merupakan faktor biologis namun dapat menunjukkan pula status gizi
seorang ibu. Karena tinggi badan pendek menunjukkan pertumbuhan badan yang
kurang optimal sehingga akan berpengaruh pada bentuk atau postur tubuh. Tinggi
badan yang pendek biasanya mempunyai bentuk panggul yang sempit, sehingga
tidak proporsional untuk jalan lahir kepala (disproporsi panggul kepala). Hal ini
merupakan indikasi utama untuk persalinan seksio sesarea.
 Status gizi/IMT
Wanita muda juga meningkat risikonya bila mempunyai berat badan yang
kurang (umur gestasi yang kecil) atau kurang dalam memberi makan bayi. Di
Indonesia status gizi ibu hamil, sering dinyatakan dalam ukuran lingkar lengan atas
(LLA). Apabila ibu mempunyai LLA < 23,5 cm atau berat badan kurang dari 38
kg sebelum hamil, maka termasuk Kekurangan Energi Kalori (KEK). Hal ini

16
menunjukkan status gizi yang buruk bagi ibu dan merupakan faktor risiko yang
sangat mempengaruhi kehamilan, persalinan dan hasil kehamilan.
 Obesitas
Berat badan ibu berkorelasi dengan kejadian distosia bahu. Pada penelitian
tahun 1962, menunjukkan bahwa kejadian distosia bahu pada wanita obesitas dua
kali lebih sering dibandingkan dengan wanita berat badan normal yaitu sebesar
1,78% : 0,81%. Penelitian tahun 1988 juga memperkirakan risiko relatif pada
wanita sebelum hamil dengan berat bedan 82 kg adalah 2,3. Akan tetapi belum
jelas apakah distosia bahu merupakan efek primer dari wanita obesitas ataupun
sebagai cerminan bahwa ibu obesitas cenderung memiliki bayi yang besar pula.
Oleh karena itu, masih perlu dilakukan penelitian mengenai kejadian distosia bahu
dikaitkan dengan berat badan ibu dan bayi.
 Diabetes
Dalam studi tahun 1989, tingkat distosia bahu pada bayi dengan berat lebih
dari 4000 gram yang lahir dari ibu diabetes adalah 15,7%. Sedangkan bayi lahir
dari ibu nondiabetes memiliki tingkat distosia bahu 1,6%. Dalam sebuah penelitian
tahun 1997, lebih dari 62.000 pasien menemukan tingkat distosia bahu di populasi
ibu yang bersalin 0,9% sedangkan pada pasien dengan diabetes gestasional 3%.
5. Mekanisme Distosia
Pada akhir kehamilan, agar dapat melewati jalan lahir kepala harus dapat mengatasi
tebalnya segmen bawah rahim dan servik yang masih belum mengalami dilatasi.
Perkembangan otot uterus di daerah fundus uteri dan daya dorong terhadap bagian terendah
janin adalah faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan kala I. 1
Setelah dilatasi servik lengkap (gambar B), hubungan mekanis antara ukuran dan
posisi kepala janin serta kapasitas panggul (fetopelvic proportion) dikatakan baik bila
desensus janin sudah terjadi. Fetopelvic disproportion (FDP) menjadi jelas bila persalinan
sudah masuk kala II. 1
Gangguan fungsi otot uterus dapat terjadi akibat regangan uterus berlebihan dan atau
partus macet (obstructed labor). Dengan demikian, maka persalinan yang tidak
berlangsung secara efektif merupakan tanda akan adanya fetopelvic disproportion. 1
Membedakan gangguan persalinan menjadi disfungsi uterus dan fetopelvic
disproportion secara tegas adalah tindakan yang tidak tepat oleh karena kedua hal tersebut
sebenarnya memiliki hubungan yang erat. 1

17
Kondisi tulang panggul bukan satu-satunya penentu keberhasilan berlangsungnya
proses persalinan pervaginam. Bila tidak ada data objektif untuk mendukung adanya
disfungsi uterus dan FPD, harus dilakukan TRIAL of LABOR untuk menentukan apakah
persalinan pervaginam dapat berhasil pada sebuah persalinan yang berdasarkan pengamatan
nampaknya berlangsung secara tidak efektif. 1

Gambar 5. Diagrams of the birth canal. A. Akhir kehamilan. B. Kala II. C.R = contraction
ring; Int = internal; Ext = external
6. Manifestasi Klinis
1) Persalinan Disfungsional 1
a. Disfungsi hipotonik
 Waktu persalinan memanjang
 Kontraksi uterus kurang dari normal, lemah atau dalam jangka waktu pendek
 Dilatasi serviks lambat
 Membran biasanya masih utuh
 Lebih rentan terdapatanya plasenta yang tertinggal
b. Disfungsi hipertonik 1
 Persalinan menjadi lebih singkat (partus presipitatus)
 Gelisah akibat nyeri terus menerus sebelum dan selama kontraksi
 Ketuban pecah dini
 Distres fetal dan maternal
 Regangan segmen bawah uterus melampaui kekuatan jaringan sehingga dapat
terjadi rupture
2) Distosia karena Kelainan Struktur Pelvis 9
a. Bagian terbawah anak goyang dan tes osborn (+)

18
b. Dijumpai kesalahan-kesalahan letak presentasi dan posisi
c. Fleksi kepala tidak ada, bahkan setelah persalinan dimulai
d. Sering dijumpai tali pusat terkemuka dan menumbung
3) Distosia karena Kelainan Letak dan Bentuk Janin 1
a. Kelainan letak, presentasi atau posisi
 Posisi oksipitalis posterior persistens (presentasi belakang kepala, UUK dekat
sakrum)
i. Posisi oksiput posterior berada di arah posterior dari panggul ibu.
ii. Pada pemeriksaan abdomen, bagian bawah perut mendatar, ekstremitas janin
teraba anterior, DJJ terdengar di samping.
iii. Pada pemeriksaan vagina, frontanela anterior dekat sakrum, frontanela anterior
dengan mudah teraba jika kepala dalam keadaan defleksi.
 Letak sungsang
i. Pergerakan anak terasa oleh ibu di bagian bawah pusat perut dan ibu sering
merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.
ii. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri.
iii. Punggung anak dapat teraba pada salah satu sisi perut dan bagian-bagian kecil
pada pihak yang berlawanan. Di atas simfisis teraba bagian yang kurang
bundar dan lunak.
iv. Bunyi jantung janin terdengar pada punggung anak setinggi pusat.
 Letak lintang
i. Dengan inspeksi biasanya abdomen melebar ke samping dan fundus uteri
membentang sedikit di atas umbilikus.
ii. Ukuran tinggi uterus lebih rendah tidak sesuai dengan umur kehamilan.
iii. Punggung mudah diketahui dengan palpasi.
iv. Bunyi jantung janin terdengar di sekitar umbilikus.
 Presentasi ganda
i. Keluhan kehamilan lebih sering terjadi dan lebih berat.
ii. Ukuran uterus lebih besar dari kehamilan normal
iii. Distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransinya dan
seringkali terjadi partus prematurus. Usia kehamilan makin pendek dan makin
banyaknya janin pada kehamilan kembar.
iv. Kenaikan berat badan ibu berlebihan.

19
v. Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah
sehingga dapat menyebabkan anemia dan penyakit defisiensi lain
vi. Polihidramnion.
vii. Palpasi yang meraba banyak bagian kecil janin.
viii. Detak Jantung Janin lebih dari 1 tempat dengan perbedaan frekuensi sebesar >
8 detik per menit.
7. Pemeriksaan Diagnostik
3, 8
1) Intrauterine Pressure Cathether Placement
Pemeriksaan dengan cara menempatkan perangkat yakni kateter ke dalam ruang
amnion selama persalinan untuk mengukur kekuatan kontraksi uterus. Ujung kateter
yang ditempatkan dalam ruang amnion tersebut kemudian terkoneksi oleh kabel.
Kontraksi diukur dalam mmHg dan ditampilkan pada monitor dalam mode grafis yang
disebut dengan Montevideo Unit (MVU).

Gambar 6. Montevideo Units


MVU dihitung dengan mengukur intensitas atau amplitudo puncak (dalam mmHg)
untuk masing-masing kontraksi yang terjadi dalam sepuluh menit dan kemudian
menjumlahkannya. Amplitudo kontraksi adalah perbedaan antara nada istirahat dan
puncak kontraksi (dalam mmHg). Misalnya, jika ada 3 kontraksi dalam 10 menit,
memuncak 70, 80, dan 75 mmHg dari tekanan intrauterine, dan nada uterus dasar dari 10
mmHg, ini akan dihitung sebagai (70-10) + (80-10) + (75-10) = 60 + 70 + 65 = 195

20
MVUs. Kontraksi dinilai adekuat jika dinyatakan sebesar 200 MVUs per 10 menit.
Sebuah persalinan spontan yang normal umumnya kurang dari 280 MVUs .
2) Kardiotokografi (CTG) 3, 8
Disebut juga Fetal Monitor merupakan salah satu alat elektronik yang digunakan
untuk tujuan melakukan pemantauan kesejahteraan dan kondisi kesehatan janin.
Pemeriksaan umumnya dapat dilakukan pada usia kehamilan 7-9 bulan dan pada saat
persalinan. Pemeriksaan CTG diperoleh informasi berupa signal irama denyut jantung
janin (DJJ), gerakan janin dan kontraksi rahim.
Pemeriksaan dengan kardiotokografi merupakan salah satu upaya untuk
menurunkan angka kematian perinatal yang disebabkan oleh penyakit penyulit hipoksi
janin dalam rahim. Pada dasarnya pemantauan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya
gangguan yang berkaitan hipoksi janin dalam rahim, seberapa jauh gangguan tersebut
dan akhirnya menentukan tindak lanjut dari hasil pemantauan tersebut. Pada saat bersalin
kondisi janin dikatakan normal apabila denyut jantung janin dalam keadaan reaktif,
gerakan janin aktif dan dibarengi dengan kontraksi rahim yang adekuat. Kontraksi uterus
dinyatakan adekuat jika mencapai 50-60 mmHg. Tekanan intrauterin <15 mmHg dapat
dinyatakan sebagai inersia uteri hipotonis.

Gambar 7. Kardiotokografi
3) Palpasi Abdomen3, 8
Palpasi abdomen bertujuan untuk mendapatkan data dasar yang diperlukan untuk
menentukan presentasi janin dengan pemeriksaan Leopold. Selain itu, palpasi abdomen
ini juga berguna untuk mengkaji kemajuan persalinan melalui pengkajian kontraksi
uterus. Kontraksi uterus dapat dirasakan sebagai pengerasan di bawah dinding abdomen.

21
Kontraksi diawali di daerah fundus kemudian menjalar ke bawah dan ke seluruh uterus
seperti gelombang. Kontraksi terkeras terjadi di fundus dan melemah pada bagian uterus
yang lain (dominan fundus). Oleh karena itu, kontraksi lebih mudah dipalpasi dengan
meletakkan telapak tangan di bagian fundus. Pemeriksa dapat mengkaji frekuensi
kontraksi dengan menetapkan lamanya jarak antara awitan kontraksi yang satu dengan
yang lainnya. Tonus istirahat uterus juga harus diobservasi dengan mengkaji tonus di
antara dua kontraksi. Dengan cara ini pemeriksa dapat menetapkan apakah kontraksi
mengalami peningkatan lama, kuat dan frekuensinya, yang biasa terjadi pada persalinan
normal. Kontraksi uterus dinyatakan baik jika terdapat his yang kuat sekurang-kurangnya
3 kali dalam 10 menit dan masing-masing lamanya > 40 detik.
4) Pelvimeter Klinis3, 8
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk
mendapatkan keterangan tentang keadaan panggul. Pada wanita dengan tinggi badan
kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Pelvimetri dengan
pemeriksaan dalam (manual) mempunyai arti yang penting untuk menilai secara agak
kasar pintu atas panggul serta panggul tengah, dan untuk memberi gambaran yang jelas
mengenai pintu bawah panggul.
Dengan pelvimetri rontgenologik diperoleh gambaran yang jelas tentang bentuk
panggul dan ukuran-ukuran dalam ketiga bidang panggul. Akan tetapi pemeriksaan ini
dalam masa kehamilan beresiko, khususnya bagi janin. Menurut English James, CT
pelvimetri tingkat radiasinya terhadap janin lebih kurang sepertiga dari tingkat radiasi
secara X-ray pelvimetri sehingga lebih aman penggunaannya, namun tetap saja
membahayakan janin. Oleh sebab itu tidak dapat dipertanggung jawabkan untuk
menjalankan pelvimetri rontgenologik secara rutin pada masa kehamilan, kecuali atas
indikasi yang kuat.
5) USG 3, 8
USG (Ultrasonography) adalah alat bantu diagnostik yang sangat berguna untuk
memantau keadaan janin selama masa kehamilan. USG bekerja dengan cara
menghantarkan gelombang suara yang memiliki frekuensi antara 3,5-7,0 MegaHrtz
(MHz) ke janin atau pembulu darah dan akan dipantulkan kembali dalam bentuk gambar
yang dapat kita lihat di monitor USG.
Dengan USG dapat diketahui struktur jaringan janin dengan baik. Instrumen ini
berbeda dengan sarana diagnostik lain, seperti X-Ray dan CT-Scan yang memiliki
tingkat radiasi yang tinggi. USG tidak memberikan efek reaksi ionisasi terhadap tubuh,
22
sehingga tidak merusak jaringan. Hingga saat ini belum ada laporan adanya efek biologis
merugikan yang ditimbulkan oleh pemeriksaan USG pada kehamilan.
USG dalam kehamilan memiliki fungsi utama yaitu untuk mengetahui lokasi
kehamilan/ janin, jumlah janin, serta keadaan organ kelamin ibu bagian dalam, seperti
bentuk rahim dan kedua indung telur. Selain itu USG juga dapat digunakan untuk
memeriksa konfirmasi kehamilan, usia kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan bayi
dalam kandungan, adanya ancaman keguguran, masalah pada plasenta, kemungkinan
kehamilan kembar, volume cairan ketuban, kelainan letak janin dan jenis kelamin bayi.
8. Tatalaksana 1, 3, 8
1) Distosia Karena Kelainan His
a. Inersia uteri
Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunnya bagian terbawah
janin dan keadaan panggul. Kemudian buat rencana untuk menentukan sikap dan janin
yang akan dikerjakan, misalnya pada letak kepala:
 Berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dekstrosa 5%, dimulai dengan 12
tetes permenit, dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes/menit. Maksud
dari pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka.
 Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus, sebab bila tidak memperkuat his
setelah pemberian lama, hentikan dulu dan ibu dianjurkan beristirahat. Pada malam
hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya dapat diulang lagi
pemberian oksitosin drips.
 Bila inersia disertai dengan disproporsi sefalopelvis, maka sebaiknya dilakukan
seksio sesarea.
 Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah, dan
partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi, tidak
ada gunanya memberikan oksitosin drips: sebaiknya partus segera diselesaikan
sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetrik lainnya (ekstraksi vakum
atau forsep, atau seksio sesarea).
b. Tetania uteri
 Berikan obat seperti morfin, luminal, dan sebagainya, asal janin tidak akan lahir
dalam waktu dekat (4-6 jam) kemudian.
 Bila ada tanda-tanda obstruksi, persalinan harus segera diselesaikan dengan seksio
sesarea

23
 Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan karena janin lahir tiba-
tiba dan cepat.
c. Incoodinate uterine action
 Untuk mengurangi rasa takut, cemas, dan tonus otot, berikan obat-obat anti sakit
dan penenang (sedativa dan analgetika) seperti morfin, petidin, dan valium.
 Apabila persalinan sudah berlangsung lama dan berlarut-larut, selesaikanlah partus
menggunakan hasil pemeriksaan dan evaluasi, dengan ekstraksi vakum, forsep,
atau seksio sesarea.
2) Distosia Kelainan Bentuk Panggul
Sebenarnya panggul hanya merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah
anak dapat lahir spontan atau tidak, disamping banyak faktor lain yang memegang
peranan dalam prognosa persalinan.
Bila conjugata vera 11 cm dapat dipastikan partus biasa, dan bila ada kesulitan
persalinan, pasti tidak disebabkan faktor panggul. Untuk C.V < 8,5 cm dan anak cukup
bulan tidak mungkin melewati panggul tersebut.
a. C.V = 8,5-10 cm, dilakukan partus percobaan yang kemungkinan berakhir dengan
partus spontan atau dengan ekstraksi vakum-ekstraksi forsep, atau ditolong dengan
seksio sesarea sekunder atas indikasi obstetrik lainnya.
b. C.V = 6-8,5 cm dilakukan S.C primer
c. C.V = 6 cm dilakukan S.C primer induk
Disamping hal-hal tersebut di atas juga tergantung pada:
 His atau tenaga yang mendorong anak
 Besarnya janin, preentasi, dan proporsi janin
 Bentuk panggul
 Umur ibu dan pentingnya anak
 Penyakit ibu
3) Distosia Karena Sebab-Sebab Janin
a. Pertumbuhan janin yang berlebihan
 Pada disproporsi sefalo dan feto pelvis yang sudah diketahui dianjurkan seksio
cesarean
 Pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan episiotomy yang cukup
lebar dan janin diusahakan lahir, atau bahu diperkecil dengan melakukan

24
kleidotomi unilateral atau bilateral. Setelah dilahirkan dijahit kembali dengan baik
dan untuk cedera post kleidotominya konsulkan pada bagian bedah.
 Apabila janin meninggal lakukan embriotomi.
b. Hidrosefalus
 Kepala janin yang besar dikecilkan dengan jalan melakukan pungsi sisterna pada
pembukaan 3-4 cm. Caranya adalah dengan menggunakan jarum pungsi spinal
yang besar, cairan dikeluarkan sebanyak mungkin dari dalam ventrikel. Jarum
dimasukkan dengan tuntunan tentang supaya tidak salah jalan atau melukai jalan
lahir.
 Kalau pembukaan lengkap kerjakan perforasi atau kranioklasi. Pada letak sungsang
akan terjadi after coming head, dilakukan perforasi dari foramen ovale untuk
mengeluarkan cairan. Biasanya sesudah kepala jadi kecil janin akan mudah
dilahirkan.
c. Kelainan bentuk janin
Kadang-kadang masih dapat diusahakan kelahiran pervaginan baik secara biasa
ataupun dengan vaginal operatif, tetapi bila usaha ini tidak berhasil atau ada indikasi
obstetric lainnya dapat dilakukan sectio cesarea.
4) Kelainan Letak dan Posisi Janin
a. Letak sungsang
Keputusan untuk menentukan cara kelahiran bayi harus dibuat secara hati-hati sesuai
dengan kondisi individu.
Tabel 2. Kriteria persalinan pervaginam atau seksio sesaria pada letak sungsang.
Persalinan Pervaginam Seksio Sesaria
Letak sungsang bokong murni Berat janin >3500 gr atau <1500 gr
Ukuran pelvis yang sempit atau
Umur kehamilan ≥ 34 minggu
Perbatasan
Taksiran berat badan janin 2000-3500 Kepala janin yang defleksi atau
gr Hiperekstensi
Kepala janin fleksi - Pecah ketuban yang lama
Bagian bawah janin yang tidak
Ukuran pelvis yang memadai
Engaged
Tidak ada indikasi ibu maupun anak
Primi tua
untuk seksio sesaria
Janin yang preamatur (umur kehamilan
25-34 minggu)
Presentasi kaki

25
b. Letak lintang
Presentasi lintang pada awal persalinan adalah indikasi untuk melakukan SC.
Pada minggu ke 39 sebelum persalinan atau pada awal persalinan, bila selaput ketuban
masih utuh dapat dilakukan tindakan versi luar pada presentasi lintang tanpa disertai
komplikasi lain. Pada saat melakukan SC, akibat terperangkapnya tubuh janin dalam
SBR maka insisi uterus lebih baik dilakukan secara vertikal.
c. Presentasi muka
Pada janin aterm dengan presentasi muka mento-posterior, proses persalinan
pervaginam terganggu akibat bregma (dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis
pubis. Dalam keadaan ini, gerakan fleksi kepala agar persalinan pervaginam dapat
berlangsung terhalang, maka persalinan muka spontan per vaginam tidak mungkin
terjadi.

Gambar 8. Presentasi Muka. Mentoposterior


(dagu berada di bagian posterior)
Bila ukuran panggul normal dan kemajuan proses persalinan berlangsung secara
normal, persalinan pervaginam pada presentasi muka dapat berlangsung dengan
wajar. Observasi DJJ dilakukan dengan monitor eksternal. Presentasi muka sering
terjadi pada panggul sempit, maka terminasi kehamilan dengan SC sering terpaksa
harus dilakukan.
Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala,
pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan
cunam, serta dengan versi ekstraksi tidak boleh dikerjakan pada masa obstetri modern.

26
BAB III
KESIMPULAN

1. Distosia merupakan persalinan yang sulit, tidak ada kemajuan dalam persalinan atau
merupakan persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi janin maupun ibu.
2. Distosia terjadi karena beberapa faktor, yaitu :
a. Kelainan Power
b. Kelainan Passage
c. Kelainan Passanger
3. Penanganan distosia tergantung dari jenis distosianya, dapat dilakukan manuver obsteterik
tambahan agar dapat dilahirkan secara pervaginam atau melakukan persalinan
perabdominam.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Cuningham F G, Norman F, Kenneth J, Larry C, John C, Katharine D, et al. Williams


Obstetrics 23rd Edition. New York: Thw Mc Graw-Hill Companies.2010.
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan Edisi ke-4. Jakarta: Yayaan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2009.
3. The American College of Obstetrician and Gynecologists. ACOG practice bulletin clinical
management guidelines for obstetrician-gynecologists. Number 40, November 2002. Obstet
Gynecol 2002; 100:1045.
4. The WHO Reproductive Health Library. Jul 01, 2015. Acessed March 19, 2016.
http://apps.who.int/rhl/pregnancy_childbirth/complications/en/
5. The American College of Obstetrician and Gynecologists and Society for Maternal-Fetal
Medicine. Obstetric Care Consensus Safe prevention of the primary cesarean delivery.
Obstet Gynecol 2014;123:693-711.
6. Moore KL, Dalley AF. Pelvis and Perineum in Clinical Oriented Anatomy 5th ed. Lippincot
Williams and Wilkins.US 2006: 357-471.
7. Berek, Jonathan S. Anatomy of pelvis. Berek & Noval’s Gynecology 14th ed.Lippincot
William and Wilkins. USA 2006. page 76-100
8. DeCherney,A. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology Ed 10. McGraw-
Hill Companies. 2007.
9. Muchtar R. Bentuk dan Kelainan Panggul. Dalam. Sinopsis obstetri. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta: 2002: 315-330.

28