Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara demokrasi. Demokrasi adalah prinsip bangsa atau negara
ini dalam menjalankan pemerintahannya. Semenjak awal bergulirnya era reformasi,
demokrasi kian marak menjadi perbincangan seluruh lapisan bangsa ini. Demokrasi menjadi
kosa kata umum yang digunakan masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya. Hal ini
didasarkan pada pengertian demokrasi menurut Abraham Lincoln. Demokrasi menurut
Abraham Lincoln adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Salah satu perwujudan dari sistem demokrasi di Indonesia adalah otonomi daerah.
Otonomi daerah adalah hal, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Dalam hal ini otonomi daerah diatur menurut UU No. 32 Tahun 2004, peraturan ini
merupakan revisi dari peraturan sebelumnya tentang otonomi daerah. Dengan demikian,
masyarakat suatu daerah memperoleh kebebasan dalam mengatur dan membangun
daerahnya. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintahan indonesia di era reformasi ini
berbanding terbalik dengan orde baru. Jika orde baru menerapkan sistem pemerintahannya
secara sentralisasi kepada pemerintah pusat, maka pada era reformasi ini dengan adanya
otonomi daerah, sistem pemerintahannya menjadi desentralisasi. Tujuan diberlakukannya
otonomi daerah secara umum yakni agar pembangunan dan pembagian kekayaan alam di
setiap daerah merata,kesenjangan sosial antar daerah tidak mencolok, dan tidak adanya
ketimpangan sosial.

Otonomi daerah dipandang perlu dalam menghadapi perkembangan keadaan, baik


dalam dan luar negeri, serta tantangan persaingan global. Otonomi daerah memberikan
kewenangan yang luas dan nyata, bertanggung jawab kepada daerah secara proposional, yang
diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan kemanfaatan sumber daya nasional, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah. Itu semua harus dilakukan sesuai dengan prinsip-
prinsip demokrasi, peran masyarakat, pemerataan, keadilan, serta potensi dan

1
keanekaragaman daerah yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Penyelenggaraan Otonomi di daerah didasarkan pada isi dan jiwa yang terkandung
dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya. Menurut Hukum Tata
Pemerintahan Negara atau Hukum Administrasi Negara Otonomi Daerah merupakan suatu
kewenangan daerah untuk menjalankan pengaturan, penetapan, penyelenggaraan,
pengawasan, pertanggungjawaban Hukum dan Moral dan Penegakan Hukum Administrasi di
daerah untuk terciptanya pemerintahan yang taat hukum, jujur, bersih, dan berwibawa
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Otonomi daerah sebagai suatu
kebijakan Desentralisasi ini diberlakukan dikarenakan Otonomi Daerah diharapkan dapat
menjadi solusi terhadap problema ketimpangan pusat dan daerah, disintegrasi nasional, serta
minimnya penyaluran aspirasi masyarakat local. Otonomi merupakan solusi terpenting untuk
menepis disintegrasi.

Otonomi untuk daerah propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan
lintas kabupaten dan kota, dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh daerah
kabupaten dan daerah kota, serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya.Mengapa
propinsi mendapat kedudukan sebagai daerah otonom dan sekaligus sebagai wilayah
administrasi ? Ada beberapa pertimbangan yang mendasarinya, yaitu:Pertama;Untuk
memelihara hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.Kedua;Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas
daerah kabupaten dan daerah kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang
belum dapat dilaksanakan untuk daerah kabupaten dan daerah kota.Ketiga;Untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka
pelaksanaan Asas Dekonsentrasi.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini, meliputi beberapa hal:

1.21 Apa pelanggaran otonomi daerah itu?

1.22 Apa contoh pelanggaran otonomi daerah di Indonesia?

1.23 Apa factor yang menyebabkan pejabat daerah di Indonesia korupsi?

2
1.24 Bagaimana cara menanggulangi korupsi pejabat daerah di Indonesia?

1.3 Tujuan

Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:

1.31 Untuk mengetahui tentangpelanngaran otonomi daerah

1.32 Untuk mengetahui contoh pelanggaran otonomi daerah di Indonesia

1.33 Untuk mengetahui factor yang menyebabkan pejabat daerah di Indonesia korupsi

1.34 Untuk mengetahui cara menanggulangi korupsi pejabat daerah di Indonesia

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Otonomi Daerah

Menurut Simanjuntak, (2010:102) dalam bahasa Yunani, auto berarti “sendiri” dan
namous berartikan “hokum” atau “peraturan” Dalam Bahasa Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), “otonomi” adalah sebagai hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur
dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undang yang
berlaku, sedangkan menurut Suryaningrat, (1985) istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani
auto yang berarti sendiri dan namous yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan
demikian otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah
tangga sendiri.

Menurut Oppenhein, (dalam Ibrahim, 1991:50) mendefiniskan otonomi daerah adalah


bagian organisasi dari Negara, maka daerah otonom mempunyai kehidupan sendiri yang
besifat mendiri dengan kata lain tetap terikat dengan Negara kesatuan.daerah otonomi ini
merupakan masyarakat hukum yaitu berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri, sedang menurut Isworo, (2007) otonomi daerah adalah merupakan pancaran
kedaulatan rakyat. Otonomi diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dan sama sekali
bukan kepada daerah atau punpemerintah daerah. Dengan demikian, pernyataan bahwa
otonomi merupakan milik masyarakat berarti masyarakat tersebut sebagai subjek dan
bukannya objek.

Menurut Undang-undang No 32 Tahun 2004:66, otonomi daerah adalah mengatur dan


mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonom, dan tugas pembantuan
diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan,
pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta meningkatkan daya saing daerah
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan
kekhususan suatu daerah dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan
menurutAbdullah dalam Tri Puja Kesuma (2002:11) berpendapat bahwa Otonomi daerah
sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut riwayat, adat dan sifat-sifat
dalam kerangka negara kesatuan. Tiap daerah mempunyai historis dan sifat khusus yang

4
berlainan dari riwayat dan sifat daerah lain. Karena itu, pemerintah harus menjauhkan segala
urusan yang bermaksudkan akan menginformasikan seluruh daerah menurut suatu model.

Menurut pasal 1Undang-Undang No 32 Tahun 2004:69 yang dimaksud dengan daerah


otonomi adalah kesatuan masyarakat huhkum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam Sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Menurut simanjuntak (2013:70) mendefinisikan otonomi daerah adalah hak,


kewenangan dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-
undang. Hakikat otomi daerah adalah upaya memperdaya daerah dalam pengambilan
keputusan daerah secara lebih leluasa dan bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya
yang dimiliki sesuai dengan kepentingan, prioritas dan potensi daerah sendiri. Sedangkan
menurutSimanjuntak (2013:66) mendefinisikan otonomi daerah adalah bagaimana
pemerintah daerah dapat mengelola daerah dengan baik, tidak ada kesenjangan antara
masyarakat dengan pemerintah, dengan masyarakat sendiri guna mencapai tujuan yang tidak
menyimpang dari peraturan perundang-undang.

Menurut Manan, (2002:24-25) mendefinisikan otonomi adalah sebuah tatanan


ketatanegaraan bukan hanya tatanan administrasi Negara Sebagaimana tatanan
ketatanegaraan otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan sususnan organisasi
Negara. Paling tidak ada dua arahan dasar susunan ketatanegaraan dalam perumusan
Indonesia merdeka yaitu demokrasi dan penyelenggaraan negara berdasarkan atas
hukum.Otonomi bukan sekedar pemekaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai
efesiensi dan efektivitas pemerintahan.

Menurut Kaho, (1997)mendefinisikan otonomi daerah adalah “mula-mula otonomi


atau berotonom berarti mempunyai peraturan sendiri atau mempunyai hak, kekuasaan,
kwenangan untuk membuat peratuan sendiri. Kemudian istilah otonomi itu berkembang
menjadi pemerintahn sendiri” sedangkan menurut Logeman, (dalam Abdullah 2003:10)
menyatakan bahwa “Otonomi adalah kebebasan untuk memelihara dan memajukan
kepentingan khusus daerah, dengan keuangan sendiri, menentukan hukum sendiri dan
pemerintahan sendiri.”

5
Menurut Syaukani, (2000:147) mendefinisikan otonomi daerah adalah daerah yang
memiliki legal self sufficiency yang bersifat selfgovernment yang diatur dan diurus oleh
pemerintah setempat. Karena itu, otonomi lebihmenitik beratkan aspirasi masyarakat
setempat dari pada kondisi. Sedangkan menurut,

Koesoemahatmaja, (1971:9) mendefinisikan otonomi daerah adalah kewenangan


daerah otonom untuk mengatur dan mengurusi kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan warga Kesatuan Republik
Indonesia.

Menurut Wayong, (1975:5) mendefinisakan otonomi Daerah adalah kebebasan untuk


memelihara dan menunjukkan kepentingan khusus suatu daerah dengan keuangan, hukum
dan pemerintahan sendiri. Pembagian kekuasaan yang adil antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah merupakan pilihan yang tepat.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa daerah otonomi merupakan


daerah kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengurus
permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dengan kebebasan dalam menyelesaikan
permasalahan dengan mandiri tanpa bantuan dari pemerintah pusat, sehingga dapat bekerja
dengan bebas dan fleksibel dalam menyelesaikan permasalahanyang ada di masyarakat. Serta
bagaimana pemerintah daerah dapat mengelola dan mengatur daerah dengan baik tidak ada
kesenjangan antara masyarakat dan pemerintah.

2.2 Latar Belakang Otonomi Daerah di Indonesia

Otonomi daerah muncul sebagai bentuk veta comply terhadap sentralisasi yang sangat
kuat di masa orde baru. Berpuluh tahun sentralisasi pada era orde baru tidak membawa
perubahan dalam pengembangan kreativitas daerah, baik pemerintah maupun masyarakat
daerah. Ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat sangat tinggi sehingga
sama sekali tidak ada kemandirian perencanaan pemerintah daerah saat itu. Di masa orde
baru semuanya bergantung ke Jakarta dan diharuskan semua meminta uang ke Jakarta. Tidak
ada perencanaan murni dari daerah karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak mencukupi.

Ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997 dan tidak bisa cepat bangkit,
menunjukan sistem pemerintahan nasional Indonesia gagal dalam mengatasi berbagai
persoalan yang ada. Ini dikarenakan aparat pemerintah pusat semua sibuk mengurusi daerah

6
secara berlebih-lebihan. Semua pejabat Jakarta sibuk melakukan perjalanan dan mengurusi
proyek di daerah. Dari proyek yang ada ketika itu, ada arus balik antara 10 sampai 20 persen
uang kembali ke Jakarta dalam bentuk komisi, sogokan, penanganan proyek yang keuntungan
itu dinikmati ke Jakarta lagi. Terjadi penggerogotan uang ke dalam dan diikuti dengan
kebijakan untuk mengambil hutang secara terus menerus. Akibat perilaku buruk aparat
pemerintah pusat ini, disinyalir terjadi kebocoran 20 sampai 30 persen dari APBN.

Akibat lebih lanjut, adalah adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat
yang sangat besar. Dan otonomi daerah adalah jawaban terhadap persoalan sentralisasi yang
terlalu kuat di masa orde baru. Caranya adalah mengalihkan kewenangan ke daerah. Ini
berdasarkan paradigma, hakikatnya daerah sudah ada sebelum Republik Indonesia (RI)
berdiri.Prinsipnya, daerah itu bukan bentukan pemerintah pusat, tapi sudah ada sebelum RI
berdiri. Karena itu, pada dasarnya kewenangan pemerintahan itu ada pada daerah, kecuali
yang dikuatkan oleh UUD menjadi kewenangan nasional. Semua yang bukan kewenangan
pemerintah pusat, asumsinya menjadi kewenangan pemerintah daerah.Maka, tidak ada
penyerahan kewenangan dalam konteks pemberlakuan kebijakan otonomi daerah. Tapi,
pengakuan kewenangan.

Tahun 1999 menjadi titik awal terpenting dari sejarah desentralisasi di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Habibie melalui kesepakatan para anggota Dewan
Perwakilan Rakyat hasil Pemilu 1999 ditetapkan Undang-Undang Nomor 22/1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan
Pusat Daerah untuk mengoreksi UU No.5/1974 yang dianggap sudah tidak sesuai dengan
prinsip penyelenggaraan pemerintahan dan perkembangan keadaan.

Kedua Undang-Undang tersebut merupakan skema otonomi daerah yang diterapkan


mulai tahun 2001. Undang-undang ini diciptakan untuk menciptakan pola hubungan yang
demokratis antara pusat dan daerah,Secara khusus, pemerintahan daerah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. Namun, karena dianggap
tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan
penyelenggaraan otonomi daerah, maka aturan baru pun dibentuk untuk menggantikannya.
Pada 15 Oktober 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri mengesahkan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Diharapkan dengan adanya
kewenangan di pemerintah daerah maka akan membuat proses pembangunan, pemberdayaan
dan pelayanan yang signifikan. Prakarsa dan kreativitasnya terpacu karena telah diberikan

7
kewenangan untuk mengurusi daerahnya. Sementara di sisi lain, pemerintah pusat tidak lagi
terlalu sibuk dengan urusan-urusan domestik. Ini agar pusat bisa lebih berkonsentrasi pada
perumusan kebijakan makro strategis serta lebih punya waktu untuk mempelajari,
memahami, merespons, berbagai kecenderungan global dan mengambil manfaat darinya.

2.3 Permasalahan-Permasalahan yang Timbul Setelah Pemberlakuan Otonomi Daerah

Implementasi Otonomi daerah bukan tanpa masalah. Ia melahirkan banyak


persoalan ketika diterjemahkan di lapangan. Banyaknya permasalahan yang muncul
menunjukan implementasi kebijakan ini menemui kendala-kendala yang harus selalu
dievakuasi dan selanjutnya disempurnakan agar tujuannya tercapai. Beberapa persoalan itu
adalah:

1. Kewenangan yang tumpang tindih

Pelaksanaan otonomi daerah masih kental diwarnai oleh kewenangan yang tumpang
tindih antar institusi pemerintahan dan aturan yang berlaku, baik antara aturan yang
lebih tinggi atau aturan yang lebih rendah. Peletakan kewenangan juga masih menjadi
pekerjaan rumah dalam kebijakan ini. Apakah kewenangan itu ada di kabupaten kota
atau provinsi. Dengan pemberlakuan otonomi daerah yang mendadak mengejutkan
pihak-pihak daerah yang tidak memiliki sumber daya manusia kualitatif.Terjadilah
artikulasi otonomi daerah kepada aspek-aspek finansial tanpa pemahaman substatife
yang cukup terhadap hakekat otonomi itu sendiri.

2. Anggaran
Banyak terjadi keuangan daerah tidak mencukupi sehingga menghambat
pembangunan. Sementara pemerintah daerah lemah dalam kebijakan menarik
investasi di daerah. Di sisi yang lain juga banyak terjadi persoalan kurangnya
transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan APBD yang merugikan rakyat.
Dalam otonomi daerah, paradigma anggaran telah bergeser ke arah apa yang disebut
dengan anggaran partisipatif. Tapi dalam prakteknya, keinginan masyarakat akan
selalu bertabrakan dengan kepentingan elit sehingga dalam penetapan anggaran
belanja daerah, lebih cenderung mencerminkan kepentingan elit daripada kepentingan
masyarakat. yang cukup terhadap hakekat otonomi itu sendiri.
3. Pelayanan Publik

8
Masih rendahnya pelayanan publik kepada masyarakat. Ini disebabkan rendahnya
kompetensi PNS daerah dan tidak jelasnya standar pelayanan yang diberikan. Belum
lagi rendahnya akuntabilitas pelayanan yang membuat pelayanan tidak prima. Banyak
terjadi juga Pemerintah daerah mengalami kelebihan PNS dengan kompetensi tidak
memadai dan kekurangan PNS dengan kualifikasi terbaik. Di sisi yang lain tidak
sedikit juga gejala mengedepankan ”Putra Asli Daerah” untuk menduduki jabatan
strategis dan mengabaikan profesionalitas jabatan.
4. Politik Identitas Diri

Menguatnya politik identitas diri selama pelaksanaan otonomi daerah yang


mendorong satu daerah berusaha melepaskan diri dari induknya yang sebelumnya
menyatu. Otonomi daerah dibayang-bayangi oleh potensi konflik horizontal yang
bernuansa etnis. Atau dapat dikatakan Bangkitnya egiosemtrisme ditiap daerah.
5. Orientasi Kekuasaan
Otonomi daerah masih menjadi isu pergeseran kekuasaan di kalangan elit daripada isu
untuk melayani masyarakat secara lebih efektif. Otonomi daerah diwarnai oleh
kepentingan elit lokal yang mencoba memanfaatkan otonomi daerah sebagai
momentum untuk mencapai kepentingan politiknya dengan cara memobilisasi massa
dan mengembangkan sentimen kedaerahan seperti ”putra daerah” dalam pemilihan
kepala daerah.
6. Lembaga Perwakilan

Meningkatnya kewenangan DPRD ternyata tidak diikuti dengan terserapnya aspirasi


masyarakat oleh lembaga perwakilan rakyat. Ini disebabkan oleh kurangnya
kompetensi anggota DPRD, termasuk kurangnya pemahaman terhadap peraturan
perundangan. Akibatnya meski kewenangan itu ada, tidak berefek terhadap kebijakan
yang hadir untuk menguntungkan publik. Persoalan lain juga adalah banyak terjadi
campur tangan DPRD dalam penentuan karir pegawai di daerah.
7. Pemekaran Wilayah

Pemekaran wilayah menjadi masalah sebab ternyata ini tidak dilakukan dengan grand
desain dari pemerintah pusat. Semestinya desain itu dengan pertimbangan utama guna
menjamin kepentingan nasional secara keseluruhan. Jadi prakarsa pemekaran itu
harus muncul dari pusat. Tapi yang terjadi adalah prakarsa dan inisiatif pemekaran itu
berasal dari masyarakat di daerah. Ini menimbulkan problem sebab pemekaran lebih

9
didominasi oleh kepentingan elit daerah dan tidak mempertimbangkan kepentingan
nasional secara keseluruhan.
8. Pilkada Langsung
Pemilihan kepala daerah secara langsung di daerah ternyata menimbulkan banyak
persoalan. Pilkada langsung sebenarnya tidak diatur di UUD, sebab yang diatur untuk
pemilihan langsung hanyalah presiden. Pilkada langsung menimbulkan besarnya
biaya yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan suksesi kepemimpinan ini. Padahal
kondisi sosial masyarakat masih terjebak kemiskinan. Disamping itu, pilkada
langsung juga telah menimbulkan moral hazard yang luas di masyarakat akibat politik
uang yang beredar. Tidak hanya itu pilkada langsung juga tidak menjamin hadirnya
kepala daerah yang lebih bagus dari sebelumnya.

2.4 Antisipasi Terhadap Problem yang Terjadi Akibat Pemberlakuan Otonomi Daerah

Yang sebaiknya dilakukan agar otonomi daerah dapat berhasil mencapai tujuannya.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan adalah:

1. Memperkuat fungsi kontrol terhadap pemda yang dilakukan oleh masyarakat dan
lembaga legislatif daerah.
2. Pemberdayaan politik warga masyarakat.
3. Pemahaman terhadap asas-asas umum pemerintahan yang baik meliputi:
 Asas persamaan
 Asas Kepercayaan
 Asas Kepastian Hukum
 Asas Kecermatan
 Asas Pemberian Alasan
 Asas Larangan bertindak kesewenang-wenangan, dll.
4. meningkatkan mutu pendidikan sehingga memunculkan sumber daya manusia yang
berkualitas.

10
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Korupsi Pejabat Daerah di Indonesia

Otonomi daerah dibuat dengan tujuan agar daerah-daerah dapat mengelola


secara mandiri segala sumberdaya, keuangan, maupun sumber-sumber lain sebagai
pendapatan bagi daerah. Antusias yang tinggi “untuk meningkatkan kemajuan daerah”
terlihat dari banyaknya daerah-daerah yang meminta dimekarkan sehingga terjadi
pemekaran daerah besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia. Yang menarik dari
“proses mekarnya suatu daerah” ini adalah menjamurnya praktik korupsi yang
dilakukan oleh oknum yang bernama pemimpin/petinggi di daerah. Contoh kasus
yang dapat memperlihatkan hal ini adalah contoh kasus korupsi yang dilakukan
pemimpin daerah dari Provinsi Sumatra Barat.

Kasus dugaan koruspi bagi-bagi bunga deposito yang dilakukan terdakwa


mantan Bupati Tanah Datar Masriadi Martunus dan mantan Asisten III Sekdakab
Editiawarman, S.E. Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) M. Hanafi,
S.H., Nauli Rahim Siregar, S.H., M.H., dan Veri Setiawan, S.H., menyatakan
terdakawa terbukti bersalah merugikan kekayaan negara.

Terdakwa Masriadi Martunus selaku Bupati Tanah Datar periode tahun 2000-
2005 antara tahun 2001 2003 secara bersama-sama dengan Editiawarman selaku
Asisten Administrasi (Asisten III) Masriadi Martunus dan Editiawarman didakwa
dengan dakwaan primair melanggar pasal 2 ayat 1 yo pasal 18 ayat 1 huruf b
UU No.31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan UU No.20 tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
Keduanya juga didakwa dengan dakwaan subsidair melanggar pasal 3 yo pasal 18
ayat 1 huruf b UU No.31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan
UU No.20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yo pasal 55 ayat
1 ke-1 KUHP. Perbuatan itu dilakukan terdakwa pada pertengahan tahun 2001. Selaku
bupati ia menyampaikan gagasan untuk mendepositokan dana kas daerah ke bank.
Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

11
Pada 10 Desembar 2001 dalam rapat yang dipimpin Masriadi Martunus yang
juga dihadiri Ketua DPRD Tanah Datar H. Amora Lubis, peserta rapat setuju untuk
merekayasa keuangan daerah dengan cara mendepositokan sebagian dana kas daerah.
Pada 24 Desember 2001 didepositokan dana sebesar Rp10 miliar ke BPD Cabang
Batusangkar dan 26 Desember 2001 didepositokan lagi dana sebesar Rp10 miliar ke
BRI Cabang Batusangkar. Pada 27 Desember 2001 Bupati menetapkan 14 orang Tim
Pengelola dan Verifikasi Rekayasa Keuangan Daerah dan kepada Tim diberikan uang
perangsang lima persen dari hasil penerimaan rekayasa keuangan daerah tersebut.
Salah satu konsiderannya adalah Kepmendagri Nomor 126 tahun 1979 tentang
Pemberian Uang Perangsang kepada Dinas Pendapatan Daerah. Ke-14 pejabat yang
masuk dalam tim adalah Masriadi Martunus sebagai penanggung jawab Masnefi
(Wakil Bupati) sebagai wakil penanggung jawab, Sultani Wirman sebagai
koordinator, Editiawarman sebagai ketua pengelola, Amril KS sebagai sekretaris
pengelola, Syafruddin (Asisten Ekonomi) sebagai Koordinator Verifikasi, Zulfahmi
(Asisten Tata Pemerintahan) sebagai wakil koordinator verifikasi, Syamsul Bahri
sebagai pengawas likuiditas keuangan, Arfia Indra (Kepala Bappeda), Yong Namar
(Kabag Pengendalian Pembangunan), Khairuddin (Kabag Hukum), Yusafril May
(Kasubag Anggaran) sebagai anggota verifikasi, Syafrizalnura (Kabag Pembukuan)
dan Hendri (Kasubag Verifikasi) sebagai bidang pembukuan.

Pada Desember 2002, penerima upah bertambah menjadi 30 pejabat Pemkab


Tanah Datar. Selain 14 nama yang disebutkan di atas minus Sultani Wirman dan
digantikan H. Nafriadi Hamda (Sekda), mereka adalah H. Djamilis, H. Syafwardi, H.
Faurizal, Ali Asmar, Akmam KS, Yanuar, Azwar Nazar, Elwizar Barus, Hardiman,
Supadria, D. Yonasri, Darisman, Marwen dan staf sekretariat. Pada tanggal 16
September 2003 dikeluarkan kembali upah pungut untuk 30 pejabat Pemkab Tanah
Datar. Namun tanggal 31 Desember 2003, bupati menerbinkan SK pemberian upah
pungut untuk 40 pejabat Pemkab Tanah Datar. Nama baru yang muncul adalah Alfian
Jamrah, Zainar, Houtias Zamri, Adrian Nurdal, Andi Maqbul, Syahrias Ahmad,
Novizar, Elizar, Attrisuandi, Imran, Irsal Veri Idrus, Edisusanto dan Dasrul. Upah
pungut tanggal 31 Desember 2003 atas perintah Bupati Masriadi Martunus tidak
dibagikan kepada pejabat Pemkab Tanah Datar karena adanya suasana yang tidak
kondusif yang mempermasalahkan pemberian upah pungut tersebut. Akibat perbuatan
terdakwa, kata JPU, telah terjadi kerugian keuangan negara sebesar Rp416.662.334

12
sesuai hasil audit investigatif BPKP Perwakilan Sumbar Nomor: LAP-
120/PW.03/5/2006 tanggal 19 April 2006.

3.2 Faktor dan Dampak yang Menyebabkan Korupsi Pejabat Daerah di Indonesia

1). Kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri dibandingkan dengan


kebutuhan yang makin meningkat.
Pada umumnya orang menghubung-hubungkan tumbuh suburnya korupsi sebab yang
paling gambang dihubungkan misalnya kurangnya gaji pejabat-pejabat, buruknya
ekonomi, mental pejabat yang kurang baik, administrasi dan manajemen yang kacau
yang menghasilkan adanya prodesur yang berliku-liku dan sebagainya.

Tetapi banyak faktor yang bekerja dan saling mempengaruhi satu sama lain sampai
menghasilkan keadaan yang kita hadapi. Yang dapat dilakukan hanyalah
mengemukakan faktor-faktor yang paling berpengaruh. Buruknya ekonomi belum
tentu dengan sendirinya menghasilkan suatu wabah korupsi dikalangan pejabat kalau
tidak ada faktor-faktor lain yang bekerja. Kurangnya gaji bukanlah faktor yang
menentukan.

Orang-orang yang berkecukupan banyak yang melakukan korupsi. Prosedur yang


berbelit-belit bukanlah pula hal yang perlu ditonjolkan karena korupsi juga meluas di
bagian-bagian yang produsennya sederhana.

2). Latar belakang kebudayaan kultur Indonesia yang merupakan sumber atau
sebab meluasnya korupsi.
Dalam hubungan meluasnya korupsi di Indonesia, apabila hal itu ditinjau lebih lanjut
yang perlu diselidiki tentunya bukan kekhususan hal itu orang satu per satu,
melainkan yang secara umum meliputi, dirasakan dan mempengaruhi kita semua
orang Indonesia.

Dengan demikian, mungkin kita bisa menemukan sebab- sebab masyarakat kita dapat
menelurkan korupsi sebagai way of life dari banyak orang, mengapa korupsi itu secara
diam-diam ditoleransi, bukan oleh penguasa, tetapi oleh masyarakat sendiri. Kalau

13
masyaraat umum mempunyai semangat anti korupsi seperti para mahasiswa pada
waktu melakukan demontrasi anti korupsi, maka korupsi sungguh-sungguh tidak akan
dikenal.

3). Faktor modernisasi sebagai penyebab korupsi


Menulis sebagai berikut bahwa korupsi terdapat dalam masyarakat, tetapi korupsi
lebih umum dalam masyarakat yang satu dari pada masyarakat yang lain dan dalam
masyarakat yang sedang tumbuh korupsi lebih umum dalam suatu periode yang satu
dari yang lain.

Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa luas perkembangan korupsi berkaitan


dengan modernisasi sosial dan ekonomi yang cepat. Penyebab modernisasi
mengembangbiakkan korupsi dapat disingkat dari jawaban Huntington berikut ini :

a). Modernisasi membawa perubahan-perubahan pada nilai dasar atas masyarakat.

b). Modernisasi juga ikut mengembangkan korupsi karena modernisasi membuka


sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan baru. Hubungan sumber-sumber ini dengan
kehidupan politik tidak diatur oleh norma-norma tradisional yang terpenting dalam
masyarakat, sedangkan norma-norma yang baru dalam hal ini belum dapat diterima
oleh golongan- golongan berpengaruh dalam masyarakat.

c). Modernisasi merangsang korupsi karena perubahan- perubahan yang


diakibatkannya dalam bidang kegiatan sistem politik. Modernisasi di negara-negara
yang memulai modernisasi lebih kemudian, memperbesar kekuasaan pemerintah dan
melipatgandakan kegiatan-kegiatan yang diatur oleh peraturan-peraturan pemerintah.
(Andi hamzah. 2007:25)

Dampak Korupsi
Dalam penjelasan peraturan pemerintah pengganti Undang- Undang no 24 tahun 1960
yang dimksud dengan perbuatan korupsi pidana bahwa apabila terjalin unsure-unsur
kejahatan atau pelnggaran berdasarkan hal tersebut dapat dipidana dengan hukuman
badan dan/atau denda yang cukup berat disamping perampasan harta benda hasil
korupsinya sedangkan perbuatan korupsi bukan pidana.

14
Apabila terdapat unsur perbutan melawan hukum perbuatan korupsi ini tidak dapat
diancam dengan hukuman pidana melainkan pengadilan tinggi yang mengadilinya atas
gugatan badan koordinasi sipemilik harta dapat merampas harta benda hasil korupsi
(K.Wantjik Saleh. 1983:29).

Gunnar Mudral menyatakan akibat dari korupsi sebagai berikut:

1). Korupsi memantapkan dan memperbesar masalah-masalah yang menyangkut


kurangnya hasrat untuk terjun dibidang usaha dan mengenai kurang tumbuhnya pasaran
nasional.

2). Korupsi mempertajam permasalahan masyarakat plural sedang bersamaan dengan itu
kesatuan negara bertambah lemah Juga karenaturunnya martabat pemerintah tendensi-
tendensi itu membahayakan stabilitas politik.

3). Korupsi mengakibatkan turunnya disiplin sosial. Uang suap itu tidak hanya dapat
memperlancar prosedur administrasi, tetapi biasanya juga berakibat adanya kesengajaan
untuk memperlambat proses administrasi agar dengan demikian dapat menerima uang
suap Disamping itu, rancana-rencana pembangunan yang sudah diputuskan, dipersulit
atau diperlambat karena alasan-alasan yang sama. Dalam hal itu Mydral bertentangan
dengan pendapat yang lazim, bahwa korupsi itu harus dianggap sebagai semir pelicin
(Robet Klitgaard 2001:51).

3.3 Upaya Untuk Menanggulangi Korupsi Pejabat Daerah di Indonesia

a.Preventif

1. Membangun etos pejabat dan pegawai baik di instansi pemerintah maupun swasta
tentang pemisahan yang jelas dan tajam antara milik pribadi dan milik perusahaan
atau milik negara.

2. Memulai dari diri sendiri, dari sekarang dan dari yang kecil untuk menghindari
korupsi. Karena ini adalah cara yang sederhana tapi sulit untuk dilakukan.

3. Mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai
dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta, agar pejabat dan pegawai saling
menegakkan wibawa dan integritas jabatannya dan tidak terbawa oleh godaan dan
kesempatan yang diberikan oleh wewenangnya.

15
4. Menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan
dan pekerjaan. Kebijakan pejabat dan pegawai bukanlah bahwa mereka kaya dan
melimpah, akan tetapi mereka terhormat karena jasa pelayanannya kepada masyarakat
dan negara.

5. Pimpinan harus memberi teladan. Karena kewajiban seorang pemimpin adalah


memberi teladan yang baik bagi yang di pimpin. Seorang pemimpin harus berupaya
memikirkan solusi korupsi yang sudah menjadi tradisi klasik di tanah air. Contoh
yang bersih ini otomatis akan memberi kekuatan bagi seorang pemimpin untuk
menegakkan hukum bagi para pelaku korupsi secara tegas, dan atasan lebih efektif
dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan.

6. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menumbuhkan “sense of


belongingness” dikalangan pejabat dan pegawai, sehingga mereka merasa perusahaan
tersebut adalah milik sendiri dan tidak perlu korupsi, dan selalu berusaha berbuat
yang terbaik.

7. Memberi pelajaran pendidikan anti korupsi sejak dini. Bagi kalangan pendidik, peran
mereka sangat penting dalam menanamkan prinsip untuk tidak melakukan korupsi
dari sekolah. Relevansi antara pendidikan karakter sejak dini untuk membentengi
generasi masa depan bebas korupsi sangat jelas. Sebagai individu yang akan
melanjutkan estafet kepemimpinan di masa depan, seorang anak tentunya harus
ditanamkan nilai-nilai positif dalam dirinya. Sikap, prilaku, mental dan karakternya
harus dibangun dan dikembangkan dari awal agar tidak terjadi penyimpangan.
Dengan karakter yang kuat dan mentalitas yang sarat dengan nilai moral religius akan
tumbuh tunas harapan generasi masa depan yang bersih dari praktek-praktek korupsi

b.Represif

1. Perlu penayangan wajah koruptor di televisi, Dengan adanya penayangan ini maka
secara langsung koruptor tersebut akan dilihat oleh masyarakat luas sehingga muncul
rasa malu baik dari dirinya atau keluarganya. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi
koruptor-koruptor yang lain.

16
2. Pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat, Kekayaan pejabat harus dipantau oleh
lembaga khusus, setiap beberapa periode. Proses pencatatan terhadap kekayaan
pejabat ini bisa berupa uang tunai, harta benda atau investasi berupa perhiasan, tanah
dan lain lain. Ini bertujuan agar jika ada kepemilikan yang mencurigakan harus segera
ditelusuri.

3. Penegakan hukum, Para koruptor perlu diberi hukuman seberat beratnya yang
membuat mereka jera. Sistem penegakan hukum di Indonesia kerap terhambat dengan
sikap para penegak hkum itu sendiri yang tidak serius menegakkan hukum dan
undang undang. Para pelaku hukum malah memanfaatkan hukum itu sendiri untuk
mencari keuntungan pribadi, ujungnya juga pada tindakan korupsi . Alih alih
muncullah istilah mafia hukum, yakni mereka yng diharapkan mampu menegakkan
mampu menegakkan masalah hukum malah mencari hidup dari penegakan hukum

Terkait berbagai problematika otonomi daerah tersebut, menjadi sangat urgen bagi
pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dan strategis. Beberapa upaya yang
dapat dilakukan adalah:

1. Segera merevisi UU 32/ 2004 tentang Pemerintahan Daerah, terutama masalah


pembagian wewenang pemerintah pusat dan daerah dan terkait pasal 126 yang
memuat status kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Selama ini, dasar hukum
tersebut memberi ketentuan bahwa sejauh belum menjadi terdakwa dan
tuntutannya kurang dari lima tahun penjara, mereka bisa bebas dan tetap
menempati jabatannya. Status sebagai pejabat negara juga kerap menyulitkan
aparat penegak hukum ketika akan menahan dan memeriksa mereka. Undang-
undang mengharuskan pemeriksaan terhadap kepala daerah atas izin presiden.
Sedangkan izin tersebut juga harus melalui birokrasi yang panjang dan rumit.
Dengan merevisi undang-undang tersebut, diharapkan gubernur, bupati/walikota
yang tersangkut kasus korupsi akan dinon-aktifkan begitu menjadi tersangka.
Jabatan dan hak mereka akan diberikan kembali jika penyidikan kasusnya
dihentikan.

2. Pemerintah juga dapat mengefektifkan peran Komisi Pemberantasan Korupsi


(KPK) dalam upaya memerangi korupsi di daerah yang semakin menggurita.

17
Argumentasi ini didasarkan pada kapasitas legal yang dimiliki KPK untuk untuk
masuk ke semua lembaga negara dan melakukan evaluasi untuk pencegahan
korupsi. Sebelum itu ditempuh, tentu langkah yang harus diambil adalah penguatan
posisi KPK di daerah, yakni dengan pembentukan KPK di daerah.
3. Penting untuk menerapkan asas pembuktian terbalik. Asas pembuktian terbalik
merupakan aturan hukum yang mengharuskan seseorang untuk membuktikan
kekayaan yang dimilikinya, sebelum menjabat dibandingkan setelah menjabat.
Serta darimana sumber kekayaan itu berasal. Jika kekayaan melonjak drastis dan
bersumber dari kas Negara atau sumber lain yang ilegal, tentu merupakan tindak
pidana korupsi. Korupsi memang merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary
crime), maka harus ditangani secara luar biasa pula dan tentu dengan melibatkan
semua pihak. Karena, langkah-langkah strategis tersebut tidak akan berarti tanpa
kerja sama dari semua pihak, terutama aparat penegak hukum untuk menjunjung
hukum seadil-adilnya. Ini diperlukan agar otonomi daerah benar-benar bernilai
serta menjadi berkah bagi rakyat di daerah.

18
BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Terjadinya pemekaran daerah besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia salah


satunya dapat memberika kesempatan pemimpin / petinggi daerah melakuak praktik
korupsi.
2. Faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi pada otonomi daerah adalah Aspek
Perilaku individu, Faktor odernsasi, dan Faktor latar belakang kebudayaan kultur di
Indonesia
3. Upaya Penanggulangan Korupsi Pada Otonomi Daerah adalah Preventif Membangun
etos pejabat dan pegawai baik di instansi pemerintah maupun swasta, Memulai dari
diri sendiri, dari sekarang dan dari yang kecil untuk menghindari korupsi,
Mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai
dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta, Pimpinan harus memberi teladan,
menumbuhkan “sense of belongingness” dikalangan pejabat dan pegawai, Memberi
pelajaran pendidikan anti korupsi sejak dini. Dan uapaya represif yaitu penayangan
wajah koruptor di televisi, Pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat, Kekayaan
pejabat harus dipantau oleh lembaga khusus dan Penegakan hukum

3.2 Saran

Otonomi daerah sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah


melalui optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia bisa
terwujud dengan baik, maka perlu selalu dalam pengawasan, baik secara internal dari
pemerintah melalui Kementrian Dalam Negeri juga partisipasi masyarakat di daerah.
Dengan demikian sangat diharapkan peran masyarakat sipil di daerah seperti lembaga
swadaya masyarakat, organisasi sosial keagamaan di daerah.

Daftar Pustaka

19
 Yendra Tamin, Boy. 2013. Upaya Penanggulangan Korupsi Pada Otonomi Daerah.
www.boyyendratamin.com. Diakses pada 2 Mei 2018
 Eriandi. 2007. Mantan Bupati dan Asisten Sekda Jadi Terdakwa. eriandi.wordpress.com. Diakses
pada 2 Mei 2018
 NN. 2013. Faktor- Faktor Penyebab Korupsi di Indonesia. www. idtesis.com. Diakses pada 5 Mei
2018

20

Anda mungkin juga menyukai