Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan mengemukakan kesenjangan yang ditemukan antara

konsep yang ada pada kasus yang ditemukan selama asuhan keperawatan yang

dimulai tanggal 21 mei sampai 2 juni kemudian dimulai kembali pada tanggal 25

juni 2018. Kesenjangan tersebut dilihat dengan memperlihatkan aspek-aspek

tahapan keperawatan dimulai dari tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan

sampai tahap evaluasi keperawatan pada asuhan keperawatan gerontik pada Tn.K

dengan stroke di Yayasan Pondok Lansia Tulus Kasih.

1. Pengkajian

Saat dilakukan pengkajian tanggal 21 mei 2018 pukul 10.00 WIB didapatkan data

subjektif: Tn.K Pasien mengeluh tidak dapat menggerakan anggota tubuh sebelah

kiri, pasien mengeluh nyeri lengan kiri dan kaki kiri apabila digerakkan, pasien

mengatakan beberapa aktivitas dibantu oleh pendamping pondok, pendamping juga

mengatakan semua aktivitas mobilisasi pasien dibantu. Pasien tampak hanya

mampu duduk di kursi roda dan di tempat tidur, skala nyeri 3, kekuatan otot

ekstremitas atas 4/1, ekstremitas bawah sulit digerakan, kakikiri tidak dapat

digerakan dan kekuatan otot 3/0, beberapa aktivitas terlihat dibantu oranglain.

Pasien mengalami Keterbaatasan gerak. Sedangkan yang di dapatkan dari

pemeriksaan TTV yaitu: TD: 110/70 mmHg, Nadi: 92x /menit, Respirasi: 17x

menit, Suhu: 36,8 C

62
63

2. Diagnosa Keperawatan, Tindakan Keperawatan dan Evaluasi

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.

Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu

atau lebih ekstermitas secara mandiri dan terarah (Herdman 2012, h. 304). Data

yang diperoleh dari hasil pengkajian pada PM.S tanggal 21 Mei 2018 didapatkan

data subjektif : Pasien mengeluh tidak dapat menggerakan anggota tubuh sebelah

kiri, pasien mengeluh nyeri lengan kiri dan kaki kiri apabila digerakkan, pasien

mengatakan beberapa aktivitas dibantu oleh pendamping pondok, pendamping juga

mengatakan semua aktivitas mobilisasi pasien dibantu. Data objektif : Pasien

tampak hanya mampududuk di kursi roda dan di tempat tidur, skala nyeri, kekuatan

otot ekstremitas atas 4/1, ekstermitas bawah sulit digerakan kaki kiri tidak dapat

digerakan dan kekuatam otot 3/0 Beberapa aktivitas terlihat dibantu oranglain,

pasien mengalami Keterbaatasan gerak.

Hambatan mobilitas fi sik menjadi diagnosa pertama karena melihat kondisi

pasien saat pengkajian, pasien Tn.K tidak segera ditangani akan menyebabkan

kelumpuhan. Terganggunya aktifitas pasien karena tangan kanan dan kaki kanan

mengalami kelemahan akan berlangsung terus menerus dan ditandai spasme yang

mengakibatkan otot-otot sekitar tegang, mengganggu kemampuan seseorang untuk

beristirahat, konsentrasi dan kegiatan-kegiatan atau aktivitas yang biasa dilakukan

serta dapat menyebabkan perasaan tak berdaya atau depresi.

Maka untuk mengatasi masalah hamabatan mobilitas fisik dibuatlah

rencana keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien dengan tujuan dan

kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x7 jam selama 4
64

hari diharapakan pasien akan memiliki mobilitas fisik maksimal dengan kriteria

hasil : dapat meningkat dalam aktifitas fisiknya, mengerti tujuan dan peningkatan

mobilitas fisiknya, mendemonstrasikan tehnik mobilisasi, melakukan latihan sesuai

jadwal secara teratur.

Intervensi menurut Batticaca (2008 hh.74-76) pada diagnosa hambatan

mobilitas fisik yaitu : Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi

setiap ekstremitas secara terpisah terhadap kekuatan dan gerakan normal, respons

terhadap rangsang. Ubah posisi klien setiap 2 jam. Lakukan latihan secara teratur

dan letakkan telapak kaki klien di lantai saat duduk di kursi atau papan penyangga

saat tidur di tempat tidur. Topang kaki saat mengubah posisi dengan meletakkan

bantal di satu sisi saat membalikkan klien. Pada saat klien di tempat tidur letakkan

bantal di ketiak di antara lengan atas dan dinding dada untuk mencegah abduksi

bahu dan letakkan lengan posisi berhubungan dengan abduksi sekitar 60°. Jaga

lengan dalam posisi sedikit fleksi. Letakkan tangan dalam posisi berfungsi dengan

jari-jari sedikit fleksi dan ibu jari dalam posisi berhubungan dengan abduksi.

Lakukan latihan di tempat tidur. Lakukan latihan pergerakan sendi (ROM). Bantu

klien duduk atau turun dari tempat tidur. Gunakan kursi roda bagi klien hemiplegia.

Tindakan keperawatan hambatan mobilitas fisik yang diberikan pada pasien

selama 4 hari dimulai tanggal 25 Juni 2018 adalah sebagai berikut: Kaji fungsi

motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap ekstremitas secara terpisah

terhadap kekuatan dan gerakan normal, respons terhadap rangsang. Ubah posisi

pasien setiap 2 jam. Lakukan latihan pergerakan sendi (ROM). Bantu pasien duduk

atau turun dari tempat tidur.


65

Kekuatan : dengan bahasa sederhana dan penyampaian yang menyesuaikan kondisi

PM sehingga tindakan keperawatan bisa dipahami dan dimengerti pasien .

Kelemahan : dilihat dari kondisi pasien yang telah lanjut usia sulit untuk memahami

tindakan keperawatan yang diberikan oleh penulis dan keterbatasan waktu dalam

melakukan tindakan, untuk itu dilakukan secara mandiri karena membutuhkan

pengawasan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama empat hari hasil evaluasi

pada hari terakhir tanggal 28 Juni 2018 pukul 11:00 WIB kondisi pasien belum

mengalami perubahan untuk diagnosa hambatan mobilitas fisik dikarenakan untuk

mengatasi masalah hambatan mobilitas fisik tidak bisa berubah dalam waktu cepat.

Data objektif : kekuatan otot tangan kanan 2 kekuatan otot kaki kanan 0. Dari data

tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah hamabatan mobilitas fisik pasien Tn.K

belum teratasi dan dianjurkan untuk petugas unit pelayanan sosial lanjut usia untuk

mengawasi latihan ROM.

2. Defisit perawatan diri

Defisit perawatan diri adalah hambatan kemampuan untuk melakukan dan

memenuhi aktifitas hygiene (NANDA, 2012-2014). Alasan diagnosa ditegakan

Penulis menengakan diagnosa ini karena pada klien ditemukan data subjektif:

keluarga klien mengatakan, klien tidak bisa bangun dan semua aktivitas dibantu

oleh keluarganya. Data objektif: klien tampak lemas dan aktivitas dibantu

keluarganya.Cara memprioritaskan masalah

Penulis memprioritaskan diagnosa ini menjadi prioritas ke dua karena pada saat

pengkajian tanggal 28 Mei 2018 didapatkan data klien tidak bisa merawat diri
66

dengan baik apabila jika tidak diatasi akan mengganggu harga diri klien, kerusakan

integritas kulit dan gatal gatal.

Intervensi yang penulis rencanakan untuk mengatasi diagnosa yang kedua dengan

tujuan terjadi peningkatan perilaku dalam perawatan diri setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 4x7 jam klien dapat menunjukan gaya hidup untuk kebutuhan

merawat diri. Intervensi keperawatan yang dilakukan: Kaji kemampuan dan tingkat

kekurangan untuk melakukan kebutuhan sehari-hari. Rasionalnya : Untuk

mengetahui sejauh mana klien mampu dan mau melakukan aktivitas mandiri, bantu

klien dalam melakukan perawatan diri secara minimal bila klien mampu

melakukannya. Rasionalnyanya : Bantuan yang minimal akan membiasakan diri

klien untuk melakukan latihan aktivitas secara mandiri, beri klien waktu yang

cukup untuk mengerjakan tugas. Rasionalnya : Waktu yang luang dapat

memberikan keluangan klien dalam mengerjakan tugas atau melakukan latihan,

berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan. Rasionalnya :

Umpan balik positif dapat meningkatkan dan membangkitkan motivasi semangat

klien untuk melakukan aktivitas secara mandiri, komunikasikan dengan

pendamping pondok untuk menjaga kebersihan personal hygiene. Rasionalnya :

Kebersihan dapat meminimalkan kerusakan jaringan kulit dan mempertahankan

keutuhan kulit.

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 25, 26, 27, 28 juni 2018 untuk

mengatasi diagnosa ke-4 implementasinya adalah sebagai berikut: Menganjurkan

klien untuk melakukan sendiri perawatanya jika mampu untuk menimbulkan rasa

kemandirian dan untuk meningkatkan harga diri klien. Membantu klien untuk
67

melakukan ADL jika di perlukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Libatkan pengurus pasie klien di panti dalam melakukan pemenuhan kebutuhan

perawatan diri klien, untuk membantu pemenuhan kebutuhan klien. Kekuatan dari

implementasi ini adalah pengurus klien kooperatif dan bersedia membantu pasien

untuk melakukan perawatan diri. Kelemahan dari diagnosa ini adalah klien kurang

bisa mencoba melakukan aktifitas secara mandiri.

Evaluasi yang dilakukan penulis selama 4 hari melakukan tindakan keperawatan

sesuai proses keperawatan dengan tujuan defisit perawatan diri dapat berkurang

sedikit demi sedikit setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 4x7 jam dengan

kriteria hasil: Klien dapat melakukan aktifitas ringan di tempat tidur, kekuatan otot

meningkat. Pada hari keempat penulis menemukan data: S: pengurus klien

mengatakan, klien tidak bisa bangun dan semua aktivitas dibantu oleh pengurus

karena tangan dan kaki kirinya masih tidak bisa digerakan. O: klien tampak lemas

dan terlihat aktivitas di bantu pengurusnya. A: masalah belum teratasi. P: lanjut

inervensi: bantu klien dan libatkan pengurus klien untuk melakukan ADL jika di

perlukan, motivasi klien untuk tetap melakukan aktivitas.

Sedangakan diagnosa yang tidak muncul yaitu : Hambatan komunikasi

verbal. Alasan diagnosa ini tidak ditegakan karena diagnosa keperawatan ini tidak

ada data yang sesuai dengan melihat batasan karakteristik tidak dapat bicara,

kesulitan mengekspresikan pikiran secara verbal (misal afasia, disfasia, apraksia,

disleksia), kesulitan menyusun kalimat, pelo, sulit bicara, gagap, bicara dengan

kesulitan, menolak bicara (Herdman 2012, h. 366). Sedangkan pada kasus yang
68

dikaji pada tanggal 21 Mei 2018 tidak ditemukan data pasien yang sesuai batasan

karakteristik pada diagnosa hambatan komunikasi verbal.

Ketidakseimbangan nutrisi, alasan diagnosa ini tidak ditegakan karena

diagnosa keperawatan ini tidak ada data yang sesuai dengan melihat batasan

karakteristik berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi

badan dan rangka tubuh, asupan makanan kurang dari RDA (recommended daily

allowance), penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat (Herdman

2012, h. 251). Sedangkan pada kasus yang dikaji pada tanggal 21 Mei 2018 tidak

ditemukan data pasien yang sesuai batasan karakteristik pada diagnosa

ketidakseimbangan nutrisi.