Anda di halaman 1dari 67

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

R DENGAN BIPOLAR
TIPE MANIK / GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI
PENGLIHATAN DAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
DI RUANG GARUDA RS JIWA PROVINSI JAWA BARAT
Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Jiwa

Disusun oleh :
Ade Kurnianto
Ahmad Harun
Fany Dwi Fajarini
Rizal Mochamad Fajar
Shelly Fatimah Nurfarida

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT., yang telah memberikan Rahmat dan
karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan tugas ini. Makalah dengan judul
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. R DENGAN BIPOLAR TIPE
MANIK / GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENGLIHATAN
DAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN DI RUANG GARUDA RS JIWA
PROVINSI JAWA BARAT” disusun untuk memenuhi tugas kelompok stase
Keperawatan Gawat Darurat pada Program Studi Profesi Ners Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan 'Aisyiyah Bandung.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik berupa moril maupun materil.
Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Popy Siti Aisyah., S.Kep.,Ners.,M.Kep. Selaku koordinator stase keperawatan


jiwa
2. Rahmat., S.Kep.,Ners.,M.Kep selaku preceptor akademik yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan semangat kepada penulis
3. Agus K., S.Kep.,Ns selaku preceptor lapangan ruang garuda yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan semangat kepada penulis
4. Kedua orangtua yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil
5. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini masih
terdapat beberapa kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, hal ini tidak lepas dari
terbatasnya pengetahuan dan wawasan yang penulis miliki, serta sarana dan
prasarana lain yang menunjang terselesaikannya laporan ini. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan
membangun sebagai perbaikan di masa yang akan datang.

i
Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca dalam mengembangkan profesi keperawatan guna
menciptakan perawat profesional yang berakhlakul karimah.

Nasrun minallahi wa fathun qoriib

Bandung, Juni 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI


A. Bipolar ............................................................................................... 3
B. Halusinasi ........................................................................................ 19
C. Resiko Perilaku Kekerasan ............................................................. 28

BAB III GAMBARAN KASUS


A. Pengkajian ........................................................................................ 37
B. Analisa Data ..................................................................................... 43
C. Diagnosa Keperawatan..................................................................... 44
D. Intervensi Keperawatan .................................................................... 44
E. Implementasi dan Evaluasi .............................................................. 51

BAB IV PEMBAHASAN .......................................................................... 55


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...................................................................................... 60
B. Saran ................................................................................................ 61

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyebab suatu penyakit tidak hanya dikarenakan kelainan pada fisiologi
tubuh seseorang namun juga karena adanya gangguan psikologis. Gangguan
psikologi atau gangguan kejiwaan banyak ditemui di tengah masyarakat,
mulai ringan hingga berat. Berbagai penelitian pun dilakukan untuk mencari
penanganan yang tepat. Salah satu masalah kejiwaan yang masih kurang
dipahami masyarakat adalah gangguan bipolar. Selain itu penelitian maupun
jurnal masih jarang mengangkat tentang penyakit gangguan bipolar.
Gangguan bipolar adalah salah satu penyakit mental yang paling umum,
parah, dan persisten (Ikawati, 2011). Gangguan Bipolar atau juga dikenal
sebagai mania-depresif merupakan gangguan otak yang menyebabkan
perubahan yang tidak normal dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas,
dan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari (NIMH, 2008).
Angka kejadian gangunan jiwa mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2016
terdapat 143,5 juta orang menderita gangguan jiwa (Kemenkes RI, 2016).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) menunjukkan prevalensi
gambaran masalah kesehatan jiwa berat/psikosis di Indonesia sebanyak 14
juta orang. Sedangkan prevalensi penderita gangguan jiwa di Jawa Barat
mencapai 1,6% atau sebanyak 465.973 orang (Pusdalisbang Jabar, 2014).
Prevalensi gangguan bipolar I (satu atau lebih episode mania atau campuran)
adalah 0,4% sampai 1,6%, dan untuk bipolar II disorder (episode depresi
berulang besar dengan episode hypomania) adalah sekitar 0,5%. Gangguan
bipolar I terjadi sama pada pria dan wanita, sedangkan bipolar II gangguan ini
lebih sering terjadi pada wanita. Perbandingan pria dan wanita adalah sekitar
3:2 (Drayton&Weinstein, 2008). Episode mania lebih terjadi terutama pada
orang muda, sedangkan episode depresi mendominasi dalam kelompok usia
yang lebih tua. Usia onset gangguan bipolar sangat bervariasi. Rentang usia
baik untuk bipolar I dan bipolar II adalah dari masa kanak-kanak sampai 50

1
2

tahun, dengan usia rata-rata sekitar 21 tahun. Kebanyakan kasus dimulai


ketika mereka berusia 15-19 tahun (Ikawati, 2011).
Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk membahas kasus dengan
bipolar tipe manik gangguan sensori persepsi halusinasi penglihatan dan
risiko perilaku kekerasan di ruang Garuda Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa
Barat.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan bipolar tipe
manik gangguan sensori persepsi halusinasi penglihatan dan risiko
perilaku kekerasan di ruang Garuda Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa
Barat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep asuhan keperawatan dengan gangguan sensori
persepsi halusinasi penglihatan dan risiko perilaku kekerasan
berdasarkan teori
b. Mengetahui asuhan keperawatan dengan gangguan sensori persepsi
penglihatan dan risiko perilaku kekerasan :
1) Pengkajian
2) Merumuskan diagnosa keperawatan
3) Merencanakan intervensi keperawatan (SP)
4) Mendokumentasi implementasi keperawatan
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. BIPOLAR
1. Definisi
Menurut PPGDJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu gangguan
suasana perasaan yang ditandai oleh adanya episode berulang (sekurang-
kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitas jelas
terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai
penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu
lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas
(depresi) (Maslim, 2013).
Gangguan bipolar menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental
Disorders-Text Revision edisi ke empat ialah gangguan mood yang terdiri
dari paling sedikit satu episode manik, hipomanik atau campuran yang
biasanya disertai dengan adanya riwayat episode depresi mayor (Amalina,
2011).
2. Etiologi
Penyebab gangguan bipolar sampai saat ini belum dapat diketahui
dengan pasti. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam gangguan bipolar
yaitu faktor genetik, faktor biokimia, faktor neurofisiologi, faktor
psikodinamik, dan faktor lingkungan.
Beberapa penyakit mempunyai penyebab yang jelas dan spesifik
sehingga pengobatannya juga bisa khusus atau spesifik untuk mengatasi
penyakit tersebut. Bila seseorang menderita kencing manis maka obatannya
adalah dengan mendapat insulin. Bila seseorang terserang usus buntu, maka
obatnya adalah dengan operasi. Namun tidak demikian halnya dengan
gangguan bipolar.
Sepertinya penyebab gangguan bipolar bersifat komplek atau multi
faktor. Gangguan bipolar bukan hanya disebabkan oleh adanya gangguan
keseimbangan kimia didalam otak yang cukup disembuhkan dengan minum

3
4

obat obatan. Para ahli berpendapat bahwa gangguan bipolar disebabkan oleh
kombinasi faktor biologis, psikologis dan sosial.
Menurut teori stress-vulnerability model, ada beberapa resiko atau factor
penyebab gangguan jiwa bipolar, yaitu :
a. Genetika dan riwayat keluarga
Penderita bipolar lebih sering dijumpai pada penderita yang mempunyai
saudara atau orang tua dengan gangguan bipolar. Riwayat pada keluarga
dengan penyakit bipolar bukan berarti anak atau saudara akan pasti
menderita gangguan bipolar. Penelitian menunjukkan bahwa pada orang
orang dengan riwayat keluarga penderita bipolar maka kemungkinannya
terkena bipolar akan sedikit lebih besar dibandingkan masyarakat pada
umumnya. Artinya ada factor predisposisi terhadap gangguan bipolar.
Hanya saja, tanpa adanya factor pemicu, maka yang bersangkutan tidak
akan terkena gangguan bipolar. Faktor predisposisi gangguan bipolar bisa
terjadi juga karena anak meniru cara bereaksi yang salah dari orang
tuanya yang menderita gangguan bipolar.
b. Kerentanan psikologis (psychological vulnerability)
Kepribadian dan cara seseorang menghadapi masalah hidup
kemungkinan juga berperanan dalam mendorong munculnya gangguan
bipolar
c. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live
events)
Riwayat pelecehan, pengalaman hidup yang menekan
d. Gangguan neurotransmitter di otak
e. Gangguan keseimbangan hormonal
f. Factor biologis
Ada beberapa perubahan kimia di otak yang diduga terkait dengan
gangguan bipolar. Hal ini menunjukkan adanya factor biologis dalam
masalah gangguan bipolar.
5

3. Klasifikasi
Tabel 2.1 Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan

Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3
menurut derajat keparahannya yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik,
dan manik dengan gejala psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan dengan
seorang perempuan yang sedang dalam masa ovulasi (estrus) atau seorang
laki-laki yang dimabuk cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk
beraktivitas, dan dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh
gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena
gejala-gejala tersebut tidak mengakibatkan disfungsi social (Amalina, 2011).
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan
hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial.Harga diri membumbung tinggi
dan terlalu optimis. Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak
daripada elasi (suasana perasaan yang meningkat). Bila gejala tersebut sudah
berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik
perlu ditegakkan.Bertolak belakang dengan hipomanik/manik, gejala pada
depresi terjadi sebaliknya.Suasana hati diliputi perasaan depresif, tiada minat
dan semangat, aktivitas berkurang, pesimis, dan timbul perasaan bersalah dan
tidak berguna. Episode depresi tersebut harus berlangsung minimal selama 2
minggu baru diagnosis dapat ditegakkan. Bila perasaan depresi sudah
6

menimbulkan keinginan untuk bunuh diri berarti sudah masuk dalam depresif
derajat berat (Amalina, 2011).
a. Kriteria episode mania
Episode mania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan
secara terus menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan
naik (elevated), meluas (expansive), suasana hati yang mudah marah
(irritable mood) yang berlangsung selama minimal 1 minggu (atau
kurang dari 1 minggu bila dipondokkan di rumah sakit). Dalam masa
dimana terjadi gangguan suasana hati tersebut, setidaknya ada 3 atau
lebih gejala harus ada (4 gejala harus ada bila hanya irritable mood):
1) Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or
grandiosity)
2) Menurunnya kebutuhan untuk tidur (misalnya hanya perlu tidur 3 jam
sehari)
3) Terlalu banyak bicara
4) Pikiran yang berkejaran
5) Distractibility (mudah terganggu)
6) Meningkatnya kegiatan untuk mencapai suatu tujuan (bisa di sekolah,
kerja, social atau seksual)
7) Melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi yang
menyakitkan, misalnya menghamburkan uang, hubungan seksual atau
investasi bisnis yang bodoh
b. Kriteria episode hipomania
Episode hipomania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan
secara terus menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan
naik (elevated), meluas (expansive), suasana hati yang mudah marah
(irritable mood) yang berlangsung selama minimal 4 hari, dan berbeda
dengan kondisi biasa ketika tidak depresi (non-depressed mood). Episode
hipomania harus mempunyai 3 gejala atau lebih ( 4 gejala bila hanya
irritable mood):
7

1) Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or


grandiosity)
2) Menurunnya kebutuhan untuk tidur (misalnya hanya perlu tidur 3 jam
sehari)
3) Terlalu banyak bicara
4) Pikiran yang berkejaran
5) Distractibility (mudah terganggu)
6) Meningkatnya kegiatan untuk mencapai suatu tujuan (bisa di sekolah,
kerja, social atau seksual)
7) Melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi yang
menyakitkan, misalnya menghamburkan uang, hubungan seksual atau
investasi bisnis yang bodoh
c. Kriteria untuk depresi berat (major depression)
Agar bisa didiagnosa sebagai major depression, maka pasien harus
mempunyai lima atau lebih gejala selama kurun waktu minimal 2 minggu
atau lebih. Salah satu gejala yang ada haruslah berupa suasana hati yang
tertekan atau rendah (depressed mood) atau berupa adanya gejala
kehilangan minat atau keinginan. Gejala yang ada bisa seperti yang
dirasakan pasien atau seperti yang terlihat oleh orang lain yang
mengamati. Beberapa gejala depresi untuk penegakkan diagnosa adalah :
1) Perasaan hati yang tertekan atau rendah (depressed mood) sepanjang
hari, hampir setiap hari, seperti perasaan sedih, hampa, menangis
(Pada anak anak atau remaja, depressed mood bisa terlihat sebagai
gejala mudah tersinggung secara terus menerus—constant iritability).
2) Berkurangnya minat terhadap hampir semua kegiatan atau tidak ada
gairah terhadap sesuatu yang menyenangkan selama sepanjang hari,
hampir setiap hari.
3) Berkurangnya berat badan secara bermakna ketika tidak sedang diet
atau puasa, atau bertambah berat badan, berkurangnya atau
meningkatnya nafsu makan hamper setiap hari (pada anak anak, bila
8

berat badan anak tidak naik sesuai perkembangan umur, bisa


merupakan salah satu gejala depresi).
4) Susah tidur atau mengantuk/ ingin tidur sepanjang hari, hampir setiap
hari.
5) Terlihat gelisah (restless) atau berperilaku lambat sehingga bisa
terlihat oleh orang lain.
6) Kecapean atau kehilangan kekuatan/ energi yang dirasakan hampir
setiap hari
7) Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang tidak pada tempatnya
yang terjadi hampir setiap hari
8) Kesulitan dalam mengambil keputusan, atau kesulitan berpikir atau
berkonsentrasi yang terjadi hampir setiap hari
9) Berulang kali timbul keinginan untuk mati atau bunuh diri, atau
berniat/ mencoba bunuh diri
American Psychiatric Association telah mengeluarkan kriteria untuk
menegakkan diagnose depresi yang tertuang dalam Diagnostic and Statistical
manual of Mental Disorders (DSM), yaitu:
a. Gangguan bipolar tipe I
Setidaknya mempunyai satu fase (episode) mania atau satu episode
campuran. Penderita bipolar mungkin mengalami depresi berat (major
depression) namun mungkin juga tidak karena gejala gangguan bipolar
bervariasi antara satu orang dengan lainnya. Ada beberapa sub-kategori
tergantung tanda dan gejalanya.
b. Gangguan bipolar tipe II
Setidaknya mempunyai satu fase (episode) depresi dan satu episode
hipomania (namun tidak mania penuh atau campuran/ mixed episode).
Ada beberapa sub-kategori tergantung tanda dan gejalanya. Gangguan
jiwa bipolar tipe II mempunyai gejala yang mengganggu atau membuat
sipenderita mengalami kesulitan dalam beberapa area kehidupannya,
seperti dalam hal kerja dan hubungan sosial.
9

c. Gangguan cyclothymic
Penderita mengalami beberapa episode hipomania dan episode depresi,
namun tidak pernah mengalami episode mania (full manic) atau depresi
berat (major depression) atau episode campuran. Diagnosa cyclothymic
disorder ditegakkan bila penyakit berlangsung selama 2 tahun atau lebih
(setahun pada anak anak dan remaja). Selama masa itu, gejala tidak
pernah hilang setidaknya selama 2 bulan. Gejala menimbulkan kesulitan
atau gangguan dalam kehidupan yang bersangkutan, misalnya dalam
masalah sekolah atau hubungan sosial.
4. Patofisiologi
Neurotransmitter yang paling berpengaruh pada patofisiologi gangguan
afektif bipolar ini adalah norepinefrin, dopamine, serotonin, dan histamine
(Ikawati, 2011).
a. Norepinefrin
Teori ini merujuk pada penurunan regulasi dan penurunan sensitivitas
dari reseptor Beta adrenergic dan dalam klinik hal ini di buktikan oleh
respon pada penggunaaan anti depresan yang cukup baik sehingga
mendukung adanya peran langsung dari sistem noradrenergic pada
depresi. Bukti lainnya melibatkan reseptor Beta-2 presinaps pada depresi
karena aktivitasi pada reseptor ini menghasilkan penurunan dari
pelepasan norepinefrin. Reseptor Beta-2 juga terletak pada neuron
serotoninergic dan berperan dalam regulasi pelepasan serotonin.
b. Serotonin
Teori ini di dukung oleh respon pengobatan SSRI dalam mengatasi
depresi. Rendahnya kadar serotonin dapat menjadi faktor resipitas
depresi, beberapa pasien dengan dorongan bunuh diri memiliki
konsentrasi serotonin yang rendah dalam cairan cerebrospinal nya dan
memiliki kadar konsentrasi rendah uptake pada platelet.
c. Dopamine
Selain dari norepinefrin dan serotonin, dopamine juga di duga memiliki
peran. Data memperkirakan nahwa aktivitas dopamine dapat mengurangi
10

depresi dan meningkat pada mania. Dua teori mengenai dopamine dan
depresi adalah jalur mesolimbic dopamine tidak berfungsi terjadi pada
depresi dan dopamine reseptor D1 hipoaktif pada keadaan depresi.
5. Manifestasi Klinis
Gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II.
Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu
mania dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomania
dan depresi (Lubis, 2009).
Episode mania yaitu pada kelompok ini terdapat efek yang meningkat,
disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik mental,
dalam berbagai derajat keparahan. Sedangkan episode depresi ditandai
dengan gejala utama yaitu: afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan,
serta kekurangan energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan
menurunnya aktivitas. Hipomania yaitu derajat gangguan yang lebih ringan
dari mania, afek meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas
menetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari berturur-turut, pada suatu
derajat intensitas dan bertahan melebihi siklotimia serta tidak ada halusinasi
atau waham (Mansjoer, 1999).
Pasien dengan gangguan bipolar juga bisa mendapat episode campuran
yang didefinisikan sebagai terjadinya simultan gejala mania dan depresi.
Episode campuran terjadi hingga 40% dari semua episode dan lebih umum
pada pasien lebih muda dan tua serta wanita (Drayton & Weinstein, 2008).
Serta dapat juga mengalami siklus cepat ; yaitu bila terjadi paling sedikit
empat episode – depresi hipomania atau mania – dalam satu tahun. Seseorang
dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat
adanya kesulitan dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan. Siklus ultra
ceoar yaitu episode mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan
sangat cepat dalam beberapa hari. Gejala dan hendaknya lebih berat bila
dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi. Symptom psikotik
kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang
11

paling sering yaitu: halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)
dan waham (APA, 2011).
Tabel 2.2 Kriteria Diagnostik dari Episode Depresi
1. Lima (atau lebih) gejala berikut telah ada hampir setiap hari selama periode
2-minggu yang sama dan mewakili perubahan dari fungsi sebelumnya;
setidaknya salah satu gejala adalah perasaan depresi atau kehilangan minat
atau kesenangan :
a. Perasaan tertekan atau sedih hampir sepanjang hari
b. Kurang bersemangat atau kesenangan dalam kegiatan semua, atau hampir
semua, sepanjang hari
c. Penurunan berat badan yang signifikan ketika tidak diet, peningkatan
berat badan (misalnya, perubahan lebih dari 5% dari berat badan dalam
sebulan), atau penurunan atau peningkatan nafsu makan
d. Insomnia atau hypersomnia
e. Agitasi psikomotorik atau keterbelakangan mental (diamati oleh orang
lain, tidak hanya subjektif perasaan kegelisahan atau sedang melambat)
f. Kelelahan atau kehilangan energi g. Perasaan tidak berharga atau
perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak pantas selayaknya (yang
mungkin delusi)
g. Penurunan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi (baik subjektif
atau diamati oleh orang lain)
h. Terus berpikiran tentang kematian (tidak hanya rasa takut mati), berulang
keinginan bunuh diri tanpa rencana tertentu, atau usaha bunuh diri
sebelumnya atau rencana tertentu untuk melakukan bunuh diri
2. Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran
3. Gejala menyebabkan tekanan klinis secara signifikan atau dalam sosial,
pekerjaan, atau fungsi dari bidang-bidang penting lainnya
4. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya,
penyalahgunaan obat, pengobatan lainnya) atau kondisi medis umum
(misalnya, hipotiroidisme)
5. Gejala yang tidak bisa diperhitungkan dalam keadaan berkabung (yaitu,
12

setelah kehilangan orang yang dicintai) dan tetap bertahan selama lebih dari 2
bulan atau ditandai dengan gangguan fungsional, berkeinginan bunuh diri,
gejala psikotik, atau psikomotorik keterbelakangan.

Tabel 2.3 Kriteria Diagnostik dari Episode Mania


1. Periode yang berbeda dari normal dan terus-menerus meningkat, expansive
dan mudah tersinggung . Berlangsung setidaknya 1 minggu
2. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut telah bertahan
dan telah pada tingkat yang signifikan:
a. Meningkat diri atau kebesarannya
b. Menurun kebutuhan untuk tidur (misalnya, merasa cukup istirahat setelah
3 jam tidur)
c. Lebih banyak bicara daripada biasa atau ada tekanan untuk terus
berbicara.
d. Pikirann yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
e. Distractibility (yaitu perhatian terlalu mudah tertarik pada hal yang tidak
penting atau ada rangsangan dari luar yang tidak relevan).
f. Peningkatan dalam berbagai macam kegiatan (misal, aktivitas sosial,
aktivitas di tempat kerja atau sekolah, atau seksual) atau agitasi
psikomotorik.
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang
memiliki potensi tinggi untuk mendapatkan konsekuensi yang
menyakitkan (misalnya berfoya-foya, ketidakbijaksanaan dalam seksual,
atau tidak bisa menjalankan investasi bisnis dengan benar).
3. Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
4. Gangguan mood dapat ;
a. terjadi hingga cukup parah yang menyebabkan penurunan fungsi kerja,
kegiatan sosial atau hubungan dengan orang lain.
b. memerlukan rawat inap untuk mencegah kerugian atas diri sendiri atau
orang lain, atau
13

c. memiliki gejala-gejala psikotik.


5. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya,
penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau kondisi medis
umum (misalnya, hipertiroidisme)

Tabel 2.4 Kriteria Diagnostik dari Episode Hipomania


1. Periode berbeda dari normal dan terus-menerus meningkat, expansive atau
mudah tersinggung, berlangsung setidaknya 4 hari.
2. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut telah ada dan
telah hadir ke tingkat yang signifikan:
a. Meningkat diri atau kebesarannya
b. Menurun kebutuhan untuk tidur (misalnya, merasa cukup beristirahat
hanya dengan tidur 3 jam)
c. Lebih banyak bicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus
berbicara
d. Pikiran yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
e. Distractibility (yaitu, perhatian terlalu mudah tertarik penting atau tidak
relevan rangsangan eksternal)
f. Peningkatan dari berbagai macam kegiatan (baik sosial, di tempat kerja,
sekolah, atau seksual) atau agitasi psikomotorik
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang
memiliki potensi tinggi untuk mendapatkan konsekuensi yang
menyakitkan (misalnya berfoya-foya, ketidakbijaksanaan dalam seksual,
atau tidak bisa menjalankan investasi bisnis dengan benar).
3. Episode dikaitkan dengan tegas perubahan dalam fungsi yang seperti
biasanya orang ketika tidak gejala.
4. Gangguan dalam suasana hati dan perubahan dalam fungsi yang diamati oleh
orang lain.
5. Episode yang penyebabnya tidak cukup parah ditandai penurunan dalam
hubungan sosial atau fungsi pekerjaani, tidak memerlukan rawat inap, dan
14

tidak memiliki gejala psikotik.


6. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya,
penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau kondisi medis
umum (misalnya, Hipertiroidisme).

Tabel 2.5 Kriteria Diagnostik dari Episode Campuran


1. Kriteria terpenuhi dari episode mania maupun untuk episode depresi berat
hampir setiap hari selama setidaknya 1 minggu periode.
2. Gangguan mood yang cukup parah ditandai dengan adanya gangguan dalam
fungsi pekerjaan, biasa kegiatan sosial, atau hubungan dengan orang lain;
memerlukan rawat inap untuk mencegah kerugian untuk diri sendiri atau
orang lain; atau memiliki fitur psikotik.
3. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat (misalnya,
penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau kondisi medis
umum (misalnya, hipertiroidisme)

Tabel 2.6 Kriteria Diagnostik Siklus Cepat


Siklus cepat yaitu apabila terjadi paling sedikit empat episodedepresi, hipomania
atau mania-dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami
bebas gejala dan baisanya terdapat kendala berat dalam hubungan interpersonal
atau pekerjaan.

Tabel 2.7 Kriteria Diagnostik Siklus Ultra Cepat


Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam
beberapa hari. Gejala dan kendala lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia
dan sangat sulit diatasi
15

Tabel 2.8 Kriteria Diagnostik Simtom Psikotik


Pada kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang
paling sering yaitu:
- Halusinasi (auditonik, visual, atau bentuk sensasi lainnya
- Waham Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania
sedangkan waham nihilistik terjadi pada episode depresi. Ada kalanya
simtom psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien dengan gangguan bipolar
sering didiagnosis sebagai skizofrenia.

6. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
1) Deskriksi Umum atau kesan umum
a) Penampilan : umumnya pasien dalam episode manik
penampilannya rapi, menggunakan pakaian yang berwarna cerah,
terkadang tidak tampak sakit jiwa.
b) Tatapan mata: bias berbinar atau hidup, dan sering mengarah pada
orang yang mengajak bicara, misalnya pemeriksa.
2) Sikap : pasien episode manik biasanya kooperatif atau mau bekerja
sama dengan pemeriksa, tetapi sedikit agresif.
3) Tingkah laku : biasanya hiperaktif (aktivitas motorik meningkat),
bersemangat, dan terkadang seperti menantang.
4) Orientasi
a) Waktu : bisa baik, bisa buruk
b) Orang : bisa baik, bisa buruk
c) Tempat: bisa baik, bisa buruk
d) Situasi : bisa baik, bisa buruk
5) Kesadaran :compos mentis
6) Proses pikiran
a) Bentuk pikir : bisa realistis atau nonrealistsc, pada hipomanik,
manik tanpa psikosis umumnya realitis atau sesuai kenyataan.
Sedangkan pada manik dengan gejala psikosis bentuk pikirnya
16

nonrealistik karena pasien dengan psikosis mempunyai waham


dan atau halusinasi.
b) Isi pikir: terdapat waham atau tidak. Isi pikirannya termasuk tema
kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali perhatiannya mudah
dialihkan
c) Progresi pikir: fligh of idea atau penuturan pikiran dan
pembicaraan yang meloncat-loncat, logorrhea atau intonasi bicara
keras dan cepat alurnya banyak bicara tidak dapat disela,
sirkumtangensial atau bicara memutar-mutar.
7) Roman muka: biasanya banyak mimik
8) Afek: terkadang afek inappropriate atau afek tidak sesuai , selain itu
pasien manik biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki
toleransi frustasi yang rendah, yang dapat menyebabkan perasaan
kemarahan dan permusuhan. Secara emosional adalah labil, beralih
dari tertawa menjadi lekas marah .
9) Gangguan Persepsi : jika nonpsikosis tidak ada halusinasi, tetapi jika
psikosis ada halusinasi.
10) Hubungan jiwa: jika non psikosis hubungan jiwa bias masih baik,
tetapi jika psikosis umumnya hubungan jiwa cenderung buruk.
11) Perhatian : bias mudah ditarik atau sukar ditarik, dan mudah dicantum
atau sukar dicantum.
12) Insight/ tilikan berbeda-beda setiap pasien:
Jenis - jenis tilikan:
a) Tilikan derajat 1: penyangkalan total terhadap penyakitnya
b) Tilikan derajat 2: ambivalensi terhadap penyakitnya
c) Tilikan derajat 3: menyalahkan faktor lain sebagai penyebab
penyakitnya
d) Tilikan derajat 4: menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan
namum tidak memahami penyebab sakitnya
17

e) Tilikan derajat 5: menyadari penyakitnya dan faktor - faktor


yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak
menerapkan dalam perilaku praktisnya
f) Tilikan derajat 6 (sehat): menyadari sepenuhnya tentang situasi
dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan.
7. Penatalaksanaan
Tujuan terapi untuk gangguan bipolar adalah untuk mencegah terjadinya
kekambuhan episode mania, hypomania, atau depresif, mempertahankan
berfungsi-fungsi normal, dan untuk mencegah episode lebih lanjut mania atau
depresi (Drayton&Weinstein, 2008).
a. Farmakoterapi pada fase akut
1) Farmakoterapi pada mania akut
Pada mania akut, risiko perilaku agresif dan kekerasan harus dinilai
pada semua pasien. Selanjutnya, keamanan pasien dan tim medis
harus pula diperhatikan. Pada fase akut, perlu dipertimbangkan
pengikatan dan penempatan pasien di tempat yang tenang (Amir
2012).
Tabel 2.9 Rekomendasi Farmakologi untuk Gangguan Bipolar, Episode manik, Akut
Pilihan Jenis Obat
Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, Quetiapin, Quetiapin XR,
Aripiprazol, Ziprasidon, Litium atau Divalproat + Risperidon,
Litium atau Divalproat + Quetiapin, Litium atau Divalproat +
olanzapin, Litium atau Divalproat + aripiprazol
Lini II Karbamazepin, ECT, Litium + divalproat, asenapin, litium atau
divalproat + asenapin, paliperidon monoterapi
Lini III Haloperidol, chlorpromazine, Litium atau Divalproat + haloperidol,
litium + Karbamazepin, Clozapin, Oksakarbazepin, tamoksifen
Tidak direkomendasikan Monoterapi gabapentin, topiramat, lamotrigin, verapamil, tiagabin,
risperidon + Karbamazepin, olanzapin + karbamazepin
18

b. Farmakoterapi pada fase rumatan


Penatalaksanaan gangguan bipolar jangka panjang merupakan
tantangan bagi klinisi karena keberagaman gejala, tolerabilitas, dan riwayat
respon terhadap pengobatan tiap individu berbeda-beda. Berikut ini adalah
terapi rumatan yang dianjurkan oleh seksi bipolar PDSKJI.
Rekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar I:
1) Lini I: Litium, Lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin,
litium atau divalproat+ quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang,
aripiprazol
2) Lini II: karbamazepin, litium+divaproat, litium+karbamazepin, litium
atau divalproat+olanzapin, litium+risperidon, litium+lamotrigin,
olanzapin+fluoksetin
3) Lini III: penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan
Electroconvulsive therapy, penambahan topiramat, penambahan asam
lemak omega3, penambahan okskarbazepin (Soetjipto, 2012).
c. Pemilihan stabilisator mood
Tabel Pilihan Terapi Stabilisator Mood untuk Mania (The Expert
Consensus Guideline Series, Medication Treatment of Bipolar Disorder
2000).
Tabel 2.10 Pilihan Terapi Stabilisator Mood untuk Mania
Stabilisator mood yang Stabilisator mood Pilihan
Presentasi Klinis
Dianjurkan Lain
Mania dengan gejala Divalproat
psikotik Litium
Mania tipe disforik atau Divalproat
mania campuran murni Litium
Karbamazepin
Mania tipe eforik Litium
Divalproat
Hipomania Litium
Divalproat
19

B. HALUSINASI
1. Definisi
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu
persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren/ persepsi palsu (Maramis,
2005).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart,
2007).
2. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah :
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini
ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut :
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang
lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal,
temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang
berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi
otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil
(cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh
otopsi (post-mortem).
20

2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan
kekerasan dalam rentang hidup klien.
3) Sosial budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah :
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.
3. Tanda Gejala
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau
berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah,
melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari
pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar
atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi
(Budi Anna Keliat, 1999) :
21

a. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan


Gejala klinis :
1) Menyeriangai/tertawa tidak sesuai
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara
3) Gerakan mata cepat
4) Bicara lambat
5) Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
b. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
c. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
1) Cenderung mengikuti halusinasi
2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
4) Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti
petunjuk)
d. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mamapu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

4. Pohon Masalah
Menurut Trimelia ( 2012 ), pohon masalah pada klien dengan gangguan
sensori persepsi : halusinasi pendengaran dan perabaan sebagai berikut :
22

Risiko Perilaku Kekerasan

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi

Isolasi Sosial

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan
pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di
lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata,
kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi
baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau
mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan
meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu
tindakan yang akan di lakukan.
Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat
merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan
dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding,
majalah dan permainan.
b. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan
dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan
sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati
agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di
berikan.
23

c. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah


yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya
halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan
data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain
yang dekat dengan pasien.
d. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun
jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang
data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam
proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui
bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek.
Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar
jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan
menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada.
6. Masalah Keperawatan yang Perlu Dikaji
a. Masalah keperawatan
1) Risiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
2) Perubahan sensori persepsi : halusinasi
3) Isolasi sosial : menarik diri
b. Data yang perlu dikaji
1) Risiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
24

Data subjektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
Data objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,
menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang
2) Perubahan sensori persepsi : halusinasi
Data subjektif :
- Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan
dengan stimulus nyata
- Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang
nyata
- Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
- Klien merasa makan sesuatu
- Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
- Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
- Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data objektif :
- Klien berbicara dan tertawa sendiri
- Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
- Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
- Disorientasi
25

3) Isolasi sosial : menarik diri


Data subjektif :
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-
apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan
malu terhadap diri sendiri.
Data objektif :
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup,
apatis, ekspresi sedih, komunikasi verbal kurang, aktivitas
menurun, menolak berhubungan, kurang memperhatikan
kebersihan.
7. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa Perencanaan
Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Gangguan Klien mampu : Setelah .... pertemuan SP 1 (Tanggal .......................)


Sensori Persepsi 1. Mengenal klien mampu 1. Bantu klien mengenal
: Halusinasi halusinasi yang menyebutkan isi, waktu, halusinasi
dialaminya frekuensi, siatuasi 1) Isi
2. Mengontrol pencetus, perasaan dan 2) Waktu terjadinya
halusinasinya mampu memperagakan 3) Frekuensi
3. Mengikuti cara dalam mengontrol 4) Situasi pencetus
program secara halusinasi 5) Perasaan saat terjadi
optimal halusinasi
2. Latih mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik.
Tahapan tindakannya
meliputi :
1) Jelaskan cara
menghardik halusinasi
2) Peragakan cara
menghardik
3) Minta klien
memperagakan ulang
4) Pantau penerapan cara
ini beri penguatan
perilaku klien
5) Masukan dalam jadwal
kegiatan klien
26

Setelah .... pertemuan SP 2 (Tanggal .......................)


klien mampu 1. Evaluasi kegiatan yang lalu
menyebutkan kegiatan (SP1)
yang sudah dilakukan 2. Latih berbicara/bercakap
dan mampu dengan orang lain saat
memperagakan cara halusinasi muncul
bercakap-cakap dengan 3. Masukan dalam jadwal
orang lain kegiatan klien
Setelah .... pertemuan SP 3 (Tanggal .......................)
klien mampu 1. Evaluasi kegiatan yang lalu
menyebutkan kegiatan (SP 1 dan SP 2)
yang sudah dilakukan 2. Latih kegiatan agar
dan mampu membuat halusinasi tidak muncul,
jadwal kegiatan sehari- tahapannya :
hari dan mampu 1) Jelaskan pentingnya
memperagakannya aktivitas yang teratur
untuk mengatasi
halusinasi
2) Diskusikan aktivitas
yang biasa dilakukan
oleh klien
3) Latih klien melakukan
aktivitas
4) Susun jadwal aktivitas
sehari-hari sesuai
dengan aktivitas yang
telah dilatih (dari
bangun tidur sampai
tidur malam)
5) Pantau pelaksanaan
jdwal kegiatan berikan
penguatan terhadap
perilaku klien yang
positif.
Setelah .... pertemuan SP 4 (Tanggal .......................)
klien mampu 1. Evaluasi kegiatan yang lalu
menyebutkan kegiatan (SP 1, SP 2, SP 3)
yang sudah dilakukan 2. Tanyakan program
dan mampu pengobatan
menyebutkan manfaat 3. Jelaskan pentingnya
program pengobatan pengunan obat pada
gangguan jiwa
4. Jelaskan akibat bila tidak
digunakan sesuai program
5. Jelaskan akibat putus obat
6. Jelaskan cara mendapatkan
obat/berobat
7. Jelaskan pengobatan (5B)
27

8. Latih klien minum obat


9. Masukan dalam jadwal
harian klien
Keluarga mampu : Setelah ... pertemuan SP 1 (Tanggal .......................)
Merawat klien keluarga mampu 1. Identifikasi masalah
dirumah dan menjelaskan tentang keluarga dalam merawat
menjadi sistem halusinasi klien
pendukung yang 2. Jelaskan tentang halusinasi :
efektif untuk klien 1) Pengertian halusinasi
2) Jenis halusinasi yang
dialami klien
3) Tanda dan gejala
halusinasi
4) Cara merawat klien
halusinasi (cara
berkomunikasi
pemberian obat dan
pemberian aktivitas
kepada klien)
3. Sumber-sumber pelayanan
kesehatan yang bisa
dijangkau
4. Bermain peran cara
merawat
5. Rencana tindak lanjut
keluarga, jadwal keluarga
untuk merawat klien
Setelah ... pertemuan SP 2 (Tanggal .......................)
keluarga mampu 1. Evaluasi kemampuan
menyelesaikan kegiatan keluarga (SP 1)
yang sudah dilakukan 2. Latih keluarga merawat
dan mampu klien
memeragakan cara 3. Rencana tindak lanjut
merawat klien keluarga/jadwal keluarga
untuk merawat klien
Setelah ... pertemuan SP 3 (Tanggal .......................)
keluarga mampu 1. Evaluasi kemampuan
menyelesaikan kegiatan keluarga (SP 2)
yang sudah dilakukan 2. Latih kelurga merawat klien
dan mampu 3. Rencana tindak lanjut
memeragakan cara keluarga/jadwal keluarga
merawat klien serta untuk merawat klien
mampu membuat
rencana tindak lanjut
Setelah ... pertemuan SP 4 (Tanggal .......................)
keluarga mampu 1. Evaluasi kemampuan
menyelesaikan kegiatan keluarga
yang sudah dilakukan 2. Evaluasi kemampuan klien
28

dan mampu 3. Rencana tindak lanjut :


memeragakan cara 1) Follow up
merawat klien serta 2) Rujukan
mampu melaksanakan
follow up rujukan

C. RISIKO PERILAKU KEKERASAN


1. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan hilangnya kendali perilaku seseorang
yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Hal tersebut
dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak
konstruktif. Perilaku kekerasan pada diri sendiri dapat berbentuk melukai diri
untuk bunuh diri atau membiarkan diri dalam bentuk penelantaran diri. Perilaku
kekerasan pada orang adalah tindakan agresif yang ditujukan untuk melukai atau
membunuh orang lain. Perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku
merusak lingkungan, melempar kaca, genting, dan semua yang ada di lingkungan.
Pasien yang dibawa ke rumah sakit jiwa sebagian besar akibat melakukan
kekerasan di rumah. Perawat harus jeli dalam melakukan pengkajian untuk
menggali penyebab perilaku kekerasan yang dilakukan selama di rumah (Yusuf,
2015).
Tabel 2.11 Perbedaan Isi Pembicaraan Pasif, Asertif dan Agresif
Pasif Asertif Agresif

Isi Negatif dan merendahkan Positif dan Menyombongkan diri.


Pembicaraan diri, contohnya perkataan : menawarkan diri, Merendahkan orang lain,
“Dapatkah saya?” contohnya perkataan : contohnya perkataan :
“Dapatkah kamu?” “Saya dapat…” “Kamu selalu…”
“Saya akan….” “Kamu tidak pernah…”

Tekanan suara Cepat lambat, mengeluh Sedang Keras dan ngotot

Posisi badan Menundukan kepala Tegap dan santai Kaku, condong kedepan

Jarak Menjaga jarak dengan sikap Mempertahankan jarak Siap dengan jarak akan
acuh/ mengabaikan yang nyaman menyerang orang lain

Penampilan Loyo, tidak dapat tenang Sikap tenang Mengancam, posisi menyerang
29

Kontak mata Sedikit/sama sekali tidak Mempertahankan Mata melotot dan dipertahankan
kontak mata sesuai
dengan hubungan

2. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
1) Psikologis
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian
dapat timbul agresif atau perilaku kekerasan,contohnya : pada masa anak-
anak yang mendapat perilaku kekerasan cenderung saat dewasa menjadi
pelaku perilaku kekerasan.
2) Perilaku
Kekerasan didapat pada saat setiap melakukan sesuatu maka kekerasan
yang diterima sehingga secara tidak langsung hal tersebut akan diadopsi
dan dijadikan perilaku yang wajar.
3) Sosial budaya
Budaya yang pasif – agresif dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap
pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah kekerasan adalah hal yang
wajar.
4) Bioneurologis
Beberapa berpendapat bahwa kerusaka pada sistem limbik, lobus
frontal, lobus temporal, dan ketidakseimbangan neurotransmitter ikut
menyumbang terjadi perilaku kekerasan.
b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali
berkaitan dengan (Yosep, 2009) :
1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas
seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah,
perkelahian masal dan sebagainya.
2) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
30

3) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak


membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan
dirinya sebagai seorang yang dewasa.
5) Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi
rasa frustasi.
6) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.
3. Tanda Gejala
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan
adalah sebagai berikut :
a. Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/ pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Postur tubuh kaku
b. Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
c. Perilaku
a. Melempar atau memukul benda/orang lain
b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/orang lain
d. Merusak lingkungan
31

e. Amuk/agresif
d. Emosi
1) Tidak adekuat
2) Tidak aman dan nyaman
3) Rasa terganggu, dendam dan jengkel
4) Tidak berdaya
5) Bermusuhan
e. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
f. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang
lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
g. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.
h. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.
4. Pohon Masalah

Risiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

Defisit Perawatan Diri Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi

Malas Beraktivitas Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis

Inefektif Koping Individu Inefektif Koping Keluarga

5. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
1) Obat anti psikosis : Phenotizin
2) Obat anti depresi : Amitriptyline
3) Obat anti ansietas : Diazepam, Bromozepam, Clobozam
32

4) Obat anti insomnia : Phneobarbital


b. Terapi Modalitas
1) Terapi keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalah
klien dengan memberikan perhatian :
a) BHSP
b) Jangan memancing emosi klien
c) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga
d) Beri kesempatan pasien mengemukakan pendapat
e) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan masalah
yang dialami
2) Terapi kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, keterampilan social atau
aktivitas lain dengan berdiskusi dan bermain untuk mengembalikan
kesadaran klien karena masalah sebagian orang merupakan perasaan dan
tingkah laku pada orang lain.
3) Terapi musik
Dengan musik klien terhibur, rilek dan bermain untuk mengembalikan
kesadaran klien.
6. Masalah Keperawatan yang Perlu Dikaji
a. Masalah keperawatan
1) Resiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
2) Perilaku kekerasan / amuk
3) Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
4) Koping Individu Tidak Efektif
b. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan perilaku kekerasan
1) Resiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
Data subjektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
33

- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya


Data objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,
menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang
2) Perilaku kekerasan / amuk
Data subjektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang
3) Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
Data subjektif :
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
Data objektif :
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
34

7. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa Perencanaan
Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Resiko Perilaku Klien mampu : Setelah ..... pertemuan, 1. Membina hubungan saling
klien dapat membina percaya
Kekerasan 1. Mengidentifika hubungan percaya 1.1 salam terapeutik,
si penyebab dan memperkenalkan diri dan
dengan perawat,
tanda perilaku menjelaskan tujuan
menyebutkan penyebab,
kekerasan interaksi
2. Menyebutkan tanda dan gejala serta
1.2 panggil klien dengan
jenis perilaku akibat perilaku kekerasan
nama yang disukai
kekerasan yang serta mampu
1.3 Bicara dengan sikap
pernah memperagakan secara tenang dan tidak
dilakukan fisik 1 untuk mengontrol menantang
3. Menyebutkan perilaku kekerasan. SP 1 (tanggal ..........)
akibat dari
perilaku 2. Mengidentifikasi penyebab,
kekerasan yang tanda dan gejala serta
pernah akibat perilaku kekerasan
dilakukan 2.1 Beri kesempatan klien
4. Menyebutkan untuk mengungkapkan
cara perasaan penyebab
mengontrol kesal/marah
perilaku 2.2 Anjurkan klien untuk
kekerasan mengungkapkan tanda dan
5. Mengontrol gejal apada tubuh saat
perilaku kesal/marah
kekerasan 2.3 Anjurkan klien
secara : mengungkapkan perilaku
a. Fisik kekerasan yang dilakukan
b. Sosial/verb sert akibat yang dirasakan
al klien
c. Spiritual 2.4 Beri kesimpulan bersama
d. Terapi tentang identifikasi
psikofarma penyebab, tanda dan
ko gejala sert aakibat dari
perilaku kekerasan
3. Latihan Fisik
3.1 ajarkan tarik nafas
dalam
3.2 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
3.3 masukan ke dalam
rencana harian
Setelah ....... pertemuan, SP 2 (tanggal ..........)
klien mampu
menyebtukan kegiatan 4. latihan fisik 2
4.1 evaluasi kegiatan yang
yang sudah dilakukan
dilakukan di SP 1
dan mampu
4.2 latih cara fisik 2 :
memperagakan cara fisik memukulk bantal / kasur
2 untuk mengontrol
35

perilaku kekerasan 4.3 beri apresiasi jika klien


mengikuti rencana
tindakan
4.4 Masukkan ke dalam
kegiatan harian
Setelah ....... pertemuan, SP 3 (tanggal ..........)
klien mampu
menyebtukan kegiatan 5. Latih sosial / verbal
5.1 evaluasi kegiatan SP 1
yang sudah dilakukan
dan SP 2
dan mampu
5.2 latih secara sosial /
memperagakan cara verbal :
sosial/verbal untuk a. menolak dengan
mengontrol perilaku baik
kekerasan b. meminta dengan
baik
c. mengungkapkan
dengan baik
5.3 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
5.4 masukkan ke dalam
rencana kegiatan harian
Setelah ....... pertemuan, SP 4 (tanggal ..........)
klien mampu
menyebtukan kegiatan 6. latih secara spiritual
6.1 evaluasi kegiatan SP 1 , 2,
yang sudah dilakukan
dan 3
dan mampu
6.2 latih spiritual : berdoa,
memperagakan cara berwudhu dan shalat
spiritual untuk 6.3 beri apresiasi jika klien
mengontrol perilaku mengikuti rencana
kekerasan tindakan
6.4 masukkan ke dalam
jadwal kegiatan harian
Setelah ....... pertemuan, SP 5 (tanggal ..........)
klien mampu
menyebtukan kegiatan 7. latih patuh obat
7.1 evaluasi kegiatan SP 1,2,3
yang sudah dilakukan
dan 4
dan mampu
7.2 latih meminum obat
memperagakan cara secara teratur
patuh obat 7.3 susun jadwal obat secara
teratur
7.4 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
7.5 masukkan ke dalam
jadwal kegiatan harian
Keluarga mampu : Setelah ...... pertemuan, SP 1 (tanggal ..........)
keluarga mampu
1. memahami menjelaskan penyebab, 1. identifikasi mengenai
mengenai masalah yang dirasakan
tanda gejala, akibat dan
identifikasi keluarga dalam merawat
cara merawat klien serta
perilaku klien
kekerasan mampu memperagakan 1.1 berikan kesmepatan
36

2. merawat klien cara merawat keluarga untuk


dirumah mengungkapkan masalah
keluarga dalam merawat
klien
1.2 jelaskan tentang
penyebab, tanda gejala
dan akibat dari perilaku
kekerasan
1.3 latih cara merawat
berdasarkan SP 1 klien
1.4 Masukkan ke RTL
Setelah ...... pertemuan, SP 2 (tanggal .........)
keluarga mampu
menjelaskan kegiatan 2. Latih stimulasi berdasarkan
SP 2 klien
yang sudah dilkakukan
2.1 evaluasi SP 1
dan mampu
2.2 latih dalam merawat
memperagakan cara berdasarkan SP klien
merawat dan membuat 2.3 latih langsung pada klien
RTL 2.4 Masukkan ke RTL
Setelah ...... pertemuan, SP 3 (tanggal............)
keluarga mampu
menjelaskan kegiatan 3. Latih keluarga dalam
merawat klien berdasarkan
yang sudah dilkakukan
SP 3 klian
dan mampu
3.1 evaluasi SP 1 dan 2
memperagakan cara 3.2 latih langung pada klien
merawat dan membuat 3.3 Masukkan ke RTL
RTL
Setelah ...... pertemuan, SP 4 (tanggal..........)
keluarga mampu
melaksanakan Follow Up 4. Follow up keluarga
4.1 evaluasi SP 1, 2 dan 3
dan rujukan , serta
4.2 latih langsung pada klien
mampu menyebutkan
4.3 Masukkan ke RTL
kegiatan yang sudah 4.4 Follow up
dilakukan. 4.5 Rujukan
BAB III
TINJAUAN KASUS

RUANG RAWAT : GARUDA

A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
a. Nama : Tn. D
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Umur : 23 tahun
d. Alamat : Kp. Cikatomas
e. Agama : Islam
f. Pendidikan : SMP
g. Bangsa : Sunda
h. No. Med. Rec : 070671
i. Informan : Klien dan rekam medis
j. Tanggal Pengkajian: Selasa, 29 Mei 2018

2. ALASAN MASUK

Klien mengatakan dibawa ke RSJ oleh ayahnya tetapi tidak tahu


penyebabnya. Sering mendengar bisikan-bisikan sejak SMP yang ingin
mencelakakan dirinya seperti menyuruh mukul orang, mencuri, dan sampai
saat ini masih sering muncul.
Klien mengatakan pernah mukul temannya karena mengikuti bisikan-
bisikan itu. Klien juga pernah memukul tetangganya karena mengira
tetangganya mencuri ayamnya.
Masalah Keperawatan: Halusinasi Pendegaran

3. FAKTOR PREDISPOSISI
a. Pernah mengalami gangguan jwa dimasa lalu

37
Klien mengatakan tidak pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu
dan belum pernah dirawat di RSJ Provinsi Jawa Barat sebelumnya.
b. Pengobatan sebelumnya

Klien mengatakan tidak memiliki riwayat pengobatan

38
38

c. Trauma
Klien mengatakan pernah ditinggal cerai oleh istrinya, namun klien tidak
ingat dengan baik waktunya.
Masalah Keperawatan: -
d. Anggota keluarga yang gangguan jiwa
Klien mengatakan bahwa di keluarganya tidak ada yang mempunyai
gangguan jiwa sebelumnya.
Masalah Keperawatan: -
e. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan bahwa klien pernah kecewa oleh istrinya karena
dengan sengaja menggugurkan anak yang sedang dikandungnya dan pergi
meninggalkan klien
Masalah Keperawatan: -
f. Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda vital: TD: 130/80 mmHg, N: 82x/menit, S: 37,3°C,
R: 20x/menit
b. Atopometrik : BB: 66 Kg, TB: 167 cm
c. Keluhan fisik
Klien mengatakan tidak mempunyai keluhan fisik apapun.
Masalah Keperawatan: -
g. Psikososial
1) Genogram
39

Ket:
= Laki-laki

= Perempuan

= Meninggal
= Tinggal 1 rumah
= Klien

2) Konsep diri
a) Gambaran diri
Klien mengatakan bagian tubuh yang paling disukainya adalah
mata, dan bagian tubuh yang tidak disukai adalah giginya.
b) Identitas diri
Klien mengatakan puas dengan dirinya sebagai seorang laki-laki.
c) Peran
Klien mengatatakan klien adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara dan
sehari-harinya membantu ibunya berjualan di warung.
d) Ideal diri
Klien mengatakan ingin mencari pekerjaan yang layak dan halal
ketika sudah boleh dipersilahkan pulang oleh rumah sakit.
Masalah Keperawatan: -
3) Hubungan sosial
a) Orang yang berarti
Klien mengatakan orang tuanya adalah orang yang sangat berarti
bagi klien.
b) Peran serta kegiatan kelompok/masyarakat
Klien mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan masyarakat
apapun selama di rumah.
40

c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain


Klien terlihat dapat berinteraksi dengan klien dari kamar lain dan
sangat terbuka untuk berkomunikasi dengan perawat maupun
klien lain.
Masalah Keperawatan: -
4) Spiritual
a) Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan dan meyakini islam sebagai agama yang
dianutnya.
b) Kegiatan ibadah
Klien mengatakan saat masih di rumah klien kadang-kadang
melaksanakan sholat. Sholat yang paling sering dikerjakan adalah
sholat magrib.
Masalah Keperawatan: -
h. Status mental
1) Penampilan
Klien berpenampilan dan berpakaian seperti sebagimana mestinya.
Memakai baju dan celana sesuai dengan tempatnya.
Masalah Keperawatan: -
2) Pembicaraan
Saat berbicara dengan klien, nada suara klien terdengar keras.
Masalah Keperawatan: Risiko perilaku kekerasan
3) Aktivitas motorik
Klien terlihat sesekali menundukan kepala saat berbicara. Namun
beberapa saat kemudian klien terlihat percaya diri dan melipat kedua
tangannya di depan dada.
Masalah Keperawatan: Risiko perilaku kekerasan
4) Alam perasaan
Dari hasi wawancara dengan klien, dapat disimpulkan bahwa klien
merasa sedih. Klien mengatakan rindu suasana rumah dan ingin
41

pulang. Juga ketika membahas soal istrinya klien merasa sedih dan
marah.
Masalah Keperawatan: -
5) Afek
Afek klien labil. Saat berbicara dengan perawat klien terlihat sangat
senang, tetapi saat membahas istri dan teman-temannya klien terlihat
tidak berekspresi dan melipat kedua tangannya di dada.
Masalah Keperawatan: -
6) Interaksi selama wawancara
Saat wawancara dengan klien, klien terlihat gembira. Tetapi saat
disinggung tentang istri dan teman-temannya ekspresi klien berubah
menjadi datar dan melipat kedua tangannya di dada
Masalah Keperawatan: -
7) Persepsi
Klien mengatakan pernah melihat seorang perempuan yang meledek
klien.
Masalah Keperawatan: Gangguan sensori persepsi: halusinasi
penglihatan
8) Proses berfikir
Pembicaraan klien melompat-lompat dari topik mengenai amarah ke
topik mengenai kehidupan percintaan klien. Klien juga membicarakan
mengenai keagamaannya
Masalah Keperawatan: -
9) Isi pikir
Klien mengatakan pernah melihat sosok perempuan yang mengejek
klien.
Masalah Keperawatan: Gangguan sensori persepsi: Halusinasi
penglihatan
10) Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien pada saat dikaji yaitu composmentis. Klien
dapat berbincang-bincang dan menjawab pertanyaan dengan jelas.
42

Masalah Keperawatan: -
11) Memori
Klien masih mengingat kejadian-kejadian yang sudah lama seperti
kejadian perceraian dengan istrinya. Tetapi klien tidak mengingat
bagaimana kronologi klien dibawa ke rumah sakit jiwa.
Masalah Keperawatan: Risiko perilaku kekerasan
12) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien mampu berhitung hitungan sederhana seperti dapat menghitung
berapa lama klien dirawat di rumah sakit dan menghitung umur
sendiri
Masalah Keperawatan: -
13) Kemampuan penilaian
Klien dapat memutuskan keputusan sederhana yang ditawarkan oleh
perawat. Seperti memutuskan kontrak waktu pembicaraan.
Masalah Keperawatan: Risiko perilaku kekerasan
14) Daya tilik diri
Klien tidak membantah gangguan jiwa yang dideritanya ataupun
menyalahkan hal-hal lain di luar dirinya.
Masalah Keperawatan: -
i. Kebutuhan persiapan pulang
Klien dapat memakan makanan yang disediakan 3x/hari. Klien juga selalu
menghabiskan makanannya.
Klien dapat mandi, BAK dan BAB secara mandiri ke kamar mandi. Juga
mencuci tangan dengan sabun setelah dari kamar mandi
Masalah Keperawatan: -
j. Mekanisme koping
Mekanisme koping klien berlebihan, ditandai dengan klien tertawa
kencang saat menceritakan hal yang tidak terlalu lucu untuk ditertawakan.
Masalah Keperawatan: -
43

k. Masalah psikososial dan lingkungan


Klien memiliki masalah sosial dengan mantan istrinya yang
meninggalkannya.
Masalah Keperawatan: -
l. Pengetahuan kurang tentang
Klien kurang mengetahui tentang kefektifan obat untuk mengontrol
gangguan jiwa
Masalah Keperawatan: -
m. Aspek medik
Diagnosis Medik : Gangguan Afektif Bipolar Tipe Manik
Terapi Medik :
1) Lodomer (injek) 2x1
2) Diaz 5 (0-0-1)
3) Carba 200 2x½
4) Rd 2 2x1

Analisa Data

DATA SENJANG MASALAH KEPERAWATAN


DS : Risiko perilaku kekerasan
Klien mengatakan marah-marah dan
mengamuk di terminal Subang saat berkunjung
kepada temannya
DO :
- Saat berbicara dengan klien, nada suara klien
terdengar keras.
- Ketika membahas soal istrinya klien merasa
sedih dan marah.
- Afek klien labil. Saat berbicara dengan
perawat klien terlihat sangat senang, tetapi
saat membahas istri dan teman-temannya
klien terlihat tidak berekspresi dan melipat
kedua tangannya di dada.
- Klien kurang mengetahui tentang kefektifan
obat untuk mengontrol gangguan jiwa
44

DS : Gangguan persepsi sensori: halusinasi


Klien mengatakan melihat sosok wanita yang penglihatan
mengejeknya
DO :
Klien kurang mengetahui tentang kefektifan
obat untuk mengontrol gangguan jiwa

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan
2. Risiko perilaku kekerasan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Perencanaan
Diagnosa
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional

Gangguan Klien mampu : Setelah 7 kali 1. Observasi TTV klien 1. Memantau kondisi
Sensori 1. Mengenal dan pertemuan klien 2. Berikan terapi komunikasi fisik klien
Persepsi : mengontrol mampu : (SP) sesuai kebutuhan klien 2. Komunikasi yang
Halusinasi halusinasinnya 1. Mengontrol 3. Selenggarakan Terapi terencana dapat
2. Mengenal dan halusinasi Aktivitas Kelompok (TAK) memudahkan
Risiko hingga dengan dengan klien yang memiliki perawat untuk
Perilaku mengontrol rasa menghardik, diagnosa yang sama berkomunikasi
Kekerasan kesal/marahnya bercakap-cakap, 4. Berikan terapi modalitas: dengan klien dan
membuat murotal Al-Qur’an menentukan evaluasi
jadwal aktivitas akhirnya
harian dan 3. TAK merupakan
patuh minum salah satu alternatif
obat terapi modalitas bagi
2. Mengontrol klien dengan
rasa gangguan jiwa dan
kesal/marah bermanfaat
dengan tarik menambah
napas dalam, pengalaman sosial
memukul klien
bantal/kasur, 4. Terapi
meminta atau mendengarkan ayat
menolak suci Al-Qur’an
dengan baik, memiliki pengaruh
beribadah/berdz yang signifikan
45

ikir dan patuh terhadap kemampuan


minum obat mengontrol emosi
klien dengan
diagnosa risiko
perilaku kekerasan
dengan menurunkan
hormon-hormon stres
dan memperbaiki
sistem kimia tubuh,
termasuk
memperbaiki
gelombang otak.

Gangguan Klien mampu : Setelah .... SP 1 (Tanggal .......................) Mengenal perilaku saat
Sensori 1. Mengenal pertemuan klien 1. Bantu klien mengenal halusinasi timbul
Persepsi : halusinasi yang mampu halusinasi mempermudah perawat
Halusinasi dialaminya menyebutkan isi, a. Isi dalam melakukan
2. Mengontrol waktu, frekuensi, b. Waktu terjadinya intervensi, mengenal
halusinasinya siatuasi pencetus, c. Frekuensi halusinasi
3. Mengikuti perasaan dan d. Situasi pencetus memungkinkan klien
program secara mampu e. Perasaan saat terjadi untuk menghindari faktor
optimal memperagakan cara halusinasi timbulnya halusinasi.
dalam mengontrol 2. Latih mengontrol halusinasi
halusinasi dengan cara menghardik.
Tahapan tindakannya
meliputi :
a. Jelaskan cara
menghardik halusinasi
b. Peragakan cara
menghardik
c. Minta klien
memperagakan ulang
d. Pantau penerapan cara
ini beri penguatan
perilaku klien
e. Masukan dalam jadwal
kegiatan klien.
Setelah .... SP 2 (Tanggal .......................) Upaya untuk memutus
pertemuan klien 1. Evaluasi kegiatan yang lalu siklus halusinasi
mampu (SP1) sehingga halusinasi tidak
menyebutkan 2. Latih berbicara/bercakap berlanjut.
kegiatan yang dengan orang lain saat
sudah dilakukan halusinasi muncul
dan mampu 3. Masukan dalam jadwal
memperagakan cara kegiatan klien
bercakap-cakap
dengan orang lain
46

Setelah .... SP 3 (Tanggal .......................) Upaya untuk memutus


pertemuan klien 1. Evaluasi kegiatan yang lalu siklus halusinasi
mampu (SP 1 dan SP 2) sehingga halusinasi tidak
menyebutkan 2. Latih kegiatan agar berlanjut, membantu
kegiatan yang halusinasi tidak muncul, alternative pilihan untuk
sudah dilakukan tahapannya : mengontrol halusinasi
dan mampu 1) Jelaskan pentingnya
membuat jadwal aktivitas yang teratur
kegiatan sehari-hari untuk mengatasi
dan mampu halusinasi
memperagakannya 2) Diskusikan aktivitas
yang biasa dilakukan
oleh klien
3) Latih klien melakukan
aktivitas
4) Susun jadwal aktivitas
sehari-hari sesuai
dengan aktivitas yang
telah dilatih (dari
bangun tidur sampai
tidur malam)
5) Pantau pelaksanaan
jdwal kegiatan berikan
penguatan terhadap
perilaku klien yang
positif.
Setelah .... SP 4 (Tanggal .......................) Upaya untuk memutus
pertemuan klien 1. Evaluasi kegiatan yang lalu siklus halusinasi
mampu (SP 1, SP 2, SP 3) sehingga halusinasi tidak
menyebutkan 2. Tanyakan program berlanjut
kegiatan yang pengobatan
sudah dilakukan 3. Jelaskan pentingnya
dan mampu pengunan obat pada
menyebutkan gangguan jiwa
manfaat program 4. Jelaskan akibat bila tidak
pengobatan digunakan sesuai program
5. Jelaskan akibat putus obat
6. Jelaskan cara mendapatkan
obat/berobat
7. Jelaskan pengobatan (5B)
8. Latih klien minum obat
9. Masukan dalam jadwal
harian klien
Keluarga mampu : Setelah ... SP 1 (Tanggal .......................) Untuk mengetahui
Merawat klien pertemuan keluarga 1. Identifikasi masalah keluarga pengetahuan keluarga
dirumah dan menjadi mampu dalam merawat klien tengtang halusinasi dan
sistem pendukung menjelaskan 2. Jelaskan tentang halusinasi : menambah pengetahuan
yang efektif untuk tentang halusinasi a. Pengertian halusinasi keluarga cara merawat
47

klien b. Jenis halusinasi yang anggota keluarga yang


dialami klien mempunyai masalah
c. Tanda dan gejala halusinasi
halusinasi
d. Cara merawat klien
halusinasi (cara
berkomunikasi
pemberian obat dan
pemberian aktivitas
kepada klien)
3. Sumber-sumber pelayanan
kesehatan yang bisa
dijangkau
4. Bermain peran cara
merawat
5. Rencana tindak lanjut
keluarga, jadwal keluarga
untuk merawat klien
Setelah ... SP 2 (Tanggal .......................)
pertemuan keluarga 1. Evaluasi kemampuan
mampu keluarga (SP 1)
menyelesaikan 2. Latih keluarga merawat
kegiatan yang klien
sudah dilakukan 3. Rencana tindak lanjut
dan mampu keluarga/jadwal keluarga
memeragakan cara untuk merawat klien
merawat klien
Setelah ... SP 3 (Tanggal .......................)
pertemuan keluarga 1. Evaluasi kemampuan
mampu keluarga (SP 2)
menyelesaikan 2. Latih kelurga merawat klien
kegiatan yang 3. Rencana tindak lanjut
sudah dilakukan keluarga/jadwal keluarga
dan mampu untuk merawat klien
memeragakan cara
merawat klien serta
mampu membuat
rencana tindak
lanjut
Setelah ... SP 4 (Tanggal .......................)
pertemuan keluarga 1) Evaluasi kemampuan
mampu keluarga
menyelesaikan 2) Evaluasi kemampuan klien
kegiatan yang 3) Rencana tindak lanjut :
sudah dilakukan a) Follow up
dan mampu b) Rujukan
memeragakan cara
merawat klien serta
48

mampu
melaksanakan
follow up rujukan
Risiko Klien mampu : Setelah ..... 1. Membina hubungan saling Mengetahui prilaku yang
perilaku pertemuan, klien percaya dilakukan oleh klien
1. Mengidentifikasi dapat membina 1.1 salam terapeutik, sehingga memudahkan
kekerasan
penyebab dan memperkenalkan diri dan untuk intervensi, dengan
hubungan percaya
tanda perilaku menjelaskan tujuan cara sehat dapat dengan
dengan perawat,
kekerasan interaksi mudah mengontrol
2. Menyebutkan menyebutkan
1.2 panggil klien dengan kemarahan klien.
jenis perilaku penyebab, tanda
nama yang disukai
kekerasan yang dan gejala serta
1.3 Bicara dengan sikap
pernah dilakukan akibat perilaku tenang dan tidak
3. Menyebutkan kekerasan serta menantang
akibat dari mampu SP 1 (tanggal ..........)
perilaku memperagakan
kekerasan yang secara fisik 1 untuk 2. Mengidentifikasi penyebab,
pernah dilakukan mengontrol tanda dan gejala serta
4. Menyebutkan perilaku kekerasan. akibat perilaku kekerasan
cara mengontrol 2.1 Beri kesempatan klien
perilaku untuk mengungkapkan
kekerasan perasaan penyebab
5. Mengontrol kesal/marah
perilaku 2.2 Anjurkan klien untuk
kekerasan secara: mengungkapkan tanda dan
a. Fisik gejal apada tubuh saat
b. Sosial/verbal kesal/marah
c. Spiritual 2.3 Anjurkan klien
d. Terapi mengungkapkan perilaku
psikofarmako kekerasan yang dilakukan
sert akibat yang dirasakan
klien
2.4 Beri kesimpulan bersama
tentang identifikasi
penyebab, tanda dan
gejala sert aakibat dari
perilaku kekerasan
3. Latihan Fisik
3.1 ajarkan tarik nafas
dalam
3.2 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
3.3 masukan ke dalam
rencana harian
Setelah ....... SP 2 (tanggal ..........) Dengan cara sehat dapat
pertemuan, klien dengan mudah
mampu 4. latihan fisik 2 mengontrol kemarahan
4.1 evaluasi kegiatan yang
menyebtukan klien.
dilakukan di SP 1
kegiatan yang
4.2 latih cara fisik 2 :
sudah dilakukan memukulk bantal / kasur
dan mampu 4.3 beri apresiasi jika klien
memperagakan cara mengikuti rencana
fisik 2 untuk tindakan
49

mengontrol 4.4 Masukkan ke dalam


perilaku kekerasan kegiatan harian
Setelah ....... SP 3 (tanggal ..........) Dengan cara sehat dapat
pertemuan, klien dengan mudah
mampu 5. Latih sosial / verbal mengontrol kemarahan
5.1 evaluasi kegiatan SP 1
menyebtukan klien.
dan SP 2
kegiatan yang
5.2 latih secara sosial /
sudah dilakukan verbal :
dan mampu a. menolak dengan
memperagakan cara baik
sosial/verbal untuk b. meminta dengan
mengontrol baik
perilaku kekerasan c. mengungkapkan
dengan baik
5.3 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
5.4 masukkan ke dalam
rencana kegiatan harian
Setelah ....... SP 4 (tanggal ..........) Dengan cara sehat dapat
pertemuan, klien dengan mudah
mampu 6. latih secara spiritual mengontrol kemarahan
6.1 evaluasi kegiatan SP 1 , 2,
menyebtukan klien
dan 3
kegiatan yang
6.2 latih spiritual : berdoa,
sudah dilakukan berwudhu dan shalat
dan mampu 6.3 beri apresiasi jika klien
memperagakan cara mengikuti rencana
spiritual untuk tindakan
mengontrol 6.4 masukkan ke dalam
perilaku kekerasan jadwal kegiatan harian
Setelah ....... SP 5 (tanggal ..........)
pertemuan, klien
mampu 7. latih patuh obat
7.1 evaluasi kegiatan SP 1,2,3
menyebtukan
dan 4
kegiatan yang
7.2 latih meminum obat
sudah dilakukan secara teratur
dan mampu 7.3 susun jadwal obat secara
memperagakan cara teratur
patuh obat 7.4 beri apresiasi jika klien
mengikuti rencana
tindakan
7.5 masukkan ke dalam
jadwal kegiatan harian
Keluarga mampu : Setelah ...... SP 1 (tanggal ..........) Memotivasi keluarga
pertemuan, dalam memberikan
1. memahami keluarga mampu 1. identifikasi mengenai perawatan pada klien
mengenai masalah yang dirasakan
menjelaskan
identifikasi keluarga dalam merawat
penyebab, tanda
perilaku klien
kekerasan gejala, akibat dan 1.1 berikan kesmepatan
2. merawat klien cara merawat klien keluarga untuk
dirumah serta mampu mengungkapkan masalah
memperagakan cara keluarga dalam merawat
50

merawat klien
1.2 jelaskan tentang
penyebab, tanda gejala
dan akibat dari perilaku
kekerasan
1.3 latih cara merawat
berdasarkan SP 1 klien
1.4 Masukkan ke RTL
Setelah ...... SP 2 (tanggal .........) Meningkatkan
pertemuan, pengetahuan keluarga
keluarga mampu 2. Latih stimulasi berdasarkan dalam merawat pasien
SP 2 klien
menjelaskan secara bersama-sama.
2.1 evaluasi SP 1
kegiatan yang
2.2 latih dalam merawat
sudah dilkakukan berdasarkan SP klien
dan mampu 2.3 latih langsung pada klien
memperagakan cara 2.4 Masukkan ke RTL
merawat dan
membuat RTL
Setelah ...... SP 3 (tanggal............) Meningkatkan
pertemuan, pengetahuan keluarga
keluarga mampu 3. Latih keluarga dalam dalam merawat pasien
merawat klien berdasarkan
menjelaskan secara bersama-sama
SP 3 klian
kegiatan yang
3.1 evaluasi SP 1 dan 2
sudah dilkakukan 3.2 latih langung pada klien
dan mampu 3.3 Masukkan ke RTL
memperagakan cara
merawat dan
membuat RTL
Setelah ...... SP 4 (tanggal..........)
pertemuan,
keluarga mampu 4. Follow up keluarga
4.1 evaluasi SP 1, 2 dan 3
melaksanakan
4.2 latih langsung pada klien
Follow Up dan
4.3 Masukkan ke RTL
rujukan , serta 4.4 Follow up
mampu 4.5 Rujukan
menyebutkan
kegiatan yang
sudah dilakukan.
Kalaborasi dengan dokter
pemberian terapi medis
Lodomer 2x1
51

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI TTD


Gangguan TGL 30/05/2018 TGL 30/05/2018
persepsi JAM 10.30 WIB JAM 10.45 WIB
sensori:
- Mendiskusikan S: Klien mengatakan “saya suka
halusinasi
halusinasi yang lihat perempuan di atas kaya lagi
dialami klien ngejek”
- Mengevaluasi klien
cara menghardik
- Melatih cara
O: klien bersedia untuk bercakap-
bercakap-cakap
cakap dengan perawat ruangan
dengan orang lain atau
perawat saat apabila halusinasi muncul
halusinasi muncul Ekspresi wajah klien labil,
terkadang sangat gembira dan
murung seketika

A: klien masih mengingat dan


dapat mempraktekan cara
menghardik dengan benar

P. prw; evaluasi kegiatan ketika


halusinasi klien muncul

Ps; memanggil teman atau


perawat dan ajak untuk bercakap-
cakap ketika halusinasi muncul
Gangguan TGL 31/05/2018 TGL 31/05/2018 JAM
persepsi JAM 13.00 WIB 13.16 WIB
sensori:
1. Melakukan senam pagi S : Klien mengatakan “moal ah,
halusinasi
2. Melakukan TAK hand malu bade ngobrol-ngobrolna gé”
hygine
O : Klien dipindahkan ke ruangan
3. Melakukan TAK
Perkutut
halusinasi sesi 1 tentang
mengenal halusinasi Klien terlihat asing dengan
4. SP 2 Halusinasi lingkungan baru
- Mengevaluasi klien
52

mengenai cara A : Klien belum bisa bercakap-


menghardik dan cakap dengan orang lain atau
bercakap-cakap saat perawat karena lingkungan yang
halusinasi muncul baru
- Melatih kembali klien
untuk bercakap-cakap P. prw; follow-up klien ke ruang
dengan teman atau Perkutut dan melanjutkan terapi
perawat yang sedang komunikasi terapeutik
berjaga saat halusinasi
muncul
5. Memfasilitasi Diit Ps; berkenalan dan bercakap-
6. Melakukan terapi murotal
cakap dengan 1 teman baru di
Al-Qur’an
kamar yang baru
7. Memfasilitasi kebutuhan
spiritual: mengingatkan
klien untuk ibadah sholat
Risiko TGL 02/06/2018 TGL 02/06/2018 JAM
perilaku JAM 11.00 WIB 11.20 WIB
kekerasan
- Mendiskusikan S : Klien mengatakan
penyebab klien
memukul atap kamar - “Hidup mah harus ada
- Mengevaluasi klien tantangannya.”
cara menarik napas - “Di kamar mah ga ada
dalam ketika sedang bantal”
marah - “Kalau mukul-mukul mah
- Melatih cara fisik 2 harus ada lawan atuh”
yaitu pukul kasur/
selimut yang sudah O :
digulung-gulung - Jari-jari klien lecet akibat
memukul atap kamar
- Klien mau mencoba
memukul gulungan selimut
- Klien terlihat sesekali
melipat kedua tangan di
atas dadanya
- Suara klien sesekali
mengeras, tetapi klien
tertawa keras setelahnya
A : Klien belum bisa
melampiaskan amarahnya ke
media yang aman bagi diri klien
P. prw; follow-up klien ke ruang
53

Perkutut dan melanjutkan terapi


komunikasi terapeutik
Ps; mencoba menggulung-gulung
selimut dan memukulnya sebagai
pengganti bantal
Risiko TGL 05/06/2018 TGL 05/06/2018 JAM
perilaku JAM 14.13 WIB 14.25 WIB
kekerasan
- Mengevaluasi klien S : Klien mengatakan
cara menarik napas
dalam ketika sedang - “Lebih enak bicara pake
marah dan pukul bahasa lemes, Neng.”
kasur/selimut yang O :
digulung-gulung
- Melatih cara meminta - Klien terlihat antusias
dan menolak dengan ketika diminta
baik mendemonstrasikan cara
meminta dan menolak
dengan cara halus
A : Klien sudah bisa
mempraktekan cara meminta dan
menolak dengan cara yang halus
P. prw; follow-up klien ke ruang
Perkutut dan melanjutkan terapi
komunikasi terapeutik
Ps; mencoba meminta dan
menolak kepada teman
sekamarnya dan kepada perawat
ruangan
Risiko TGL 06/06/2018 TGL 06/06/2018 JAM
perilaku JAM 14.12 WIB 14.30 WIB
kekerasan
- Mengevaluasi klien S : Klien mengatakan
cara menarik napas
dalam ketika sedang - “Sudah bisa berdzikir saya
marah, pukul mah neng.”
kasur/selimut yang O :
digulung-gulung dan
meminta serta - Klien terlihat antusias
menolak dengan cara mendemonstrasikan dzikir
yang baik yang sering digunakan klien
54

- Melatih cara A : Klien sudah bisa


mengontrol rasa mempraktekan cara mengontrol
marah dengan rasa marah dengan berdzikir
berdzikir
P. prw; follow-up klien ke ruang
Perkutut dan melanjutkan terapi
komunikasi terapeutik
Ps; mencoba berdzikir disaat klien
tidak melakukan kegiatan
BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesenjangan yang penulis dapatkan
antara konsep dasar teori dan kasus nyata Tn. R dengan Bipolar Tipe Mekanik/
Gngguan Persepsi Sensori: Halusinasi Penglihatan dan Risiko Perilaku Kekerasan
diruang Garuda RS Jiwa Cisarua Provinsi Jawa Barat. Pembahasan yang penulis
lakukan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi
keperawatan dan evaluasi.
A. PENGKAJIAN
Menurut Craven & Hirnle (dalam Keliat, 2009) pengkajian merupakan
pengumpulan data subyektif dan obyektif secara sistematis untuk menentukan
tindakan keperawatan bagi individu, keluarga, dan komunitas. Pengumpulan data
pengkajian meliputi aspek identitas klien, alasan masuk, faktor predisposisi, fisik,
psikososisal dan lingkungan, pengetahuan, dan aspek medik. Dalam pengumpulan
data penulis menggunakan metode wawancara dengan Tn. R, observasi secara
langsung terhadap kemampuan dan perilaku Tn. R serta dari status Tn. R. Selain
itu status rekam medik juga berperan sebagai sumber data yang mendukung dalam
memberikan asuhan keperawatan pada Tn. R. Namun, disaat pengkajian tidak ada
anggota keluarga Tn. R yang menjenguknya sehingga, penulis tidak memperoleh
informasi dari pihak keluarga. Episode manik biasanya diawali secara tak terduga
berlangsung sekitar dua minggu sammpai dengan lima bulan. Episode ini sangat
sering terjadi setelah kehidupan yang penuh beban pikiran (stres) atau trauma
(Rusdi M, 2003) hal ini sesuai dengan apa yang diutarakan oleh klien yaitu klien
mengalami stress dan trauma setelah ditinggalkan oleh istrinya.
Menurut Stuart & Laraia (dalam Ngadiran, 2010) faktor presipitasi pada
klien dengan gangguan halusinasi dapat muncul setelah adanya hubungan yang
bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa, dan tidak
berdaya. Menurut Sunardi (2005) faktor predisposisi gangguan halusinasi dapat
muncul sebagai proses panjang yang berhubungan dengan kepribadian seseorang,
karena itu halusinasi dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman psikologis

55
56

seseorang. Hal ini juga di alami Tn. R yang memiliki masa lalu yang tidak
menyenangkan yaitu klien mengatakan bahwa klien pernah kecewa oleh istrinya
karena istrinya dengan sengaja menggugurkan anak yang sedang dikandungnya
dan pergi meninggalkan klien.
Tanda dan gejala halusinasi menurut Depkes (dalam Ngadiran, 2010) adalah
sebagai berikut : bicara, senyum, dan tertawa sendiri; tidak mampu mandiri dalam
mandi, berpakaian dan berhias dengan rapi; beicara kacau kadang-kadang tidak
masuk akal; sikap curiga dan bermusuhan, ketakutan; tampak bingung; mondar
mandir; konsentrasi kurang; perubahan kemampuan memecahkan masalah, dan
menarik diri. Gejala-gejala tersebut juga dialami oleh Tn. R seperti Tn. R sering
mondar mandir, Tn. R mampu mandi secara mandiri, Tn. R berbicara dengan nada
suara klien terdengar keras dan jelas. Tn. R merasa sedih, klien mengatakan rindu
suasana rumah dan ingin pulang. Juga ketika membahas soal istrinya klien merasa
sedih.
Menurut Keliat (2009) didalam pengkajian harus dijelaskan jenis dan isi
halusinasi, waktu, frekuensi, dan situasi yang menyebabkan halusinasi, serta
respon klien terhadap halusinasinya. Dalam pengkajian pola fungsional
difokuskan pada pola persepsi pada Tn. R , didapatkan data bahwa Tn. R
mengalami halusinasi penglihatan. Tn. R kadang mengatakan melihat sosok
wanita yang mengejeknya.
Tn. R mengalami episode halusinasi penglihatan dimana Tn. R melihat
sosok perempuan yang mengejeknya. Pada bipolar tipe manik, gejala-gejalanya
sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas
sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis. Perasaan mudah
tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi (suasana perasaan yang
meningkat), hal tersebut sesuai yang diutarakan oleh Yusuf, Fitryasari, & Nihatati
(2014) respons marah dapat diutarakan melalui tiga cara yaitu (1) mengungkapkan
secara verbal, (2) menekan, dan (3) menantang dan sesuai juga dengan penelitian
Yoesuf (2009) tentang faktor presipitasi dari risiko perilaku kekerasan, yaitu; (1)
Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti
57

dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan
sebagainya. (2) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi
sosial ekonomi. (3) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga
serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik. (4) Ketidaksiapan seorang ibu dalam
merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa. (5)
Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa
frustasi. (6) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.
Episode mania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan secara terus
menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan naik (elevated), meluas
(expansive), suasana hati yang mudah marah (irritable mood) yang berlangsung
selama minimal 1 minggu (atau kurang dari 1 minggu bila dipondokkan di rumah
sakit) (Amalina, 2011).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut NANDA (2009-2011) pada diagnosa gangguan persepsi halusinasi
memiliki batasan karakteristik: perubahan dalam perilaku, perubahan dalam
menejemen koping, disorientasi, konsentrasi buruk, gelisah, dan distorsi sensori
seperti bicara sendiri, tertawa sendiri mendengar suara yang tidak nyata, dan
mondar mandir. Data yang memperkuat penulis mengangkat diagnosa gangguan
persepsi sensori: Halusinasi penglihatan yaitu data subyektif yang diperoleh dari
Tn. R yaitu Tn. R klien mengatakan sering melihat sosok wanita yang
mengejeknya.
Menurut Yosep (2009), terdapat ciri-ciri dari seseorang yang berisiko
perilaku kekerasan, yaitu :
1. Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/ pandangan tajam
c. Tangan mengepal
58

d. Rahang mengatup
e. Postur tubuh kaku
2. Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
3. Perilaku
a. Melempar atau memukul benda/orang lain
b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/orang lain
d. Merusak lingkungan
e. Amuk/agresif
Ciri-ciri tersebut didapatkan pada klien, seperti nada suara yang tinggi dan
melipat kedua tangan didepan dada, maka perawat menegakan diagnosa risiko
perilaku kekerasan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut Ali (dalam Nurjanah, 2005) rencana tindakan keperawatan
merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai setiap tujuan khusus.
Perencanaan keperawatan meliputi perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian
asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah
kesehatan dan keperawatan klien dapat diatasi. Rencana keperawatan yang penulis
lakukan sama dengan landasan teori, karena rencana tindakan keperawatan
tersebut telah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedure) yang telah
ditetapkan. Dalam kasus penulis juga mencantumkan alasan ilmiah atau rasional
disetiap tindakan keperawatan.yaitu Menurut Kusumawati & Yudi (2010) tujuan
umum berfokus pada penyelesaian penyebab dari diagnosis keperawatan. Tujuan
khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu di capai atau dimiliki.
59

Kemampuan ini dapat berfariasi sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien.
Kemampuan pada tujuan khusus terdiri atas tiga aspek yaitu: kemampuan
kognitif, psikomotorik, afektif yang perlu dimiliki klien untuk menyelesaikan
masalahnya. Pada kasus gangguan jiwa, intervensi yang diberikan berupa strategi
pelaksanaan (SP). SP yang diberikan adalah SP yang sesuai dengan diagnose
klien. Pada Tn. R didapatkan diagnosa resiko perilaku kekerasan dan gangguan
persepsi sensori : halusinasi penglihatan dengan tujuan klien mampu
mengidentifikasi penyebab dan tanda perilaku kekerasan menyebutkan jenis
perilaku kekerasan yang pernah dilakukan, menyebutkan akibat dari perilaku
kekerasan yang pernah dilakukan, menyebutkan cara mengontrol perilaku
kekerasan, mengontrol perilaku kekerasan secara: fisik Sosial/verbal spiritual
terapi psikofarmako. Adapun tujuan dari diagnosa keperawatan gangguan persepsi
sensori : halusinasi penglihatan adalah mengenal halusinasi yang dialaminya,
mengontrol halusinasinya, dan mengikuti program secara optimal.

D. EVALUASI
Menurut Kurniawati (dalam Nurjanah,2005) evaluasi adalah proses
berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi
dibagi dua,yaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap seslesai
melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan
membandingkan antara respon klien dan tujuan khusus serta umum yang telah
ditentukan. Pada kasus ini penulis hanya menggunakan evaluasi formatif. Pada
tanggal 5 Juni 2018, Tn. R masih mengingat perawat, klien dapat mengikuti SP 1
sampai SP 4 dan dapat mempraktekan dengan baik tetapi observasi kurang efektif
dikarenakan adanya hambatan yaitu klien dipindahkan ke ruangan perkutut dan
harus tetap difollow up tetapi tidak setiap waktu dikarenakan penulis berdinas di
ruang garuda.
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Menurut PPGDJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu gangguan suasana
perasaan yang ditandai oleh adanya episode berulang (sekurang-kurangnya dua
episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitas jelas terganggu, pada waktu
tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas
(mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai
pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Pada klien Tn. R terdapat masalah
halusinasi penglihatan dan risiko perilaku kekerasan.
Pada bab ini akan dibahas kesimpulan pada asuhan keperawatan Tn. R
sebagai barikut :
1. Pada pengkajian, diperoleh data bahwa Tn. R mengalami halusinasi
penglihatan. Tn. R mengatakan melihat seorang perempuan yang sedang
meledeknya dan membuat Tn. R kesal sehingga klien memukul atap kamar
hingga ambruk, dari data tersebut di dapatkan diagnosa perilaku kekerasan.
Klien juga memiliki afek labil, dimana aaat berbicara dengan perawat klien
terlihat sangat senang, tetapi saat membahas istri dan teman-temannya klien
terlihat tidak berekspresi dan melipat kedua tangannya di dada.
2. Masalah keperawatan yang muncul adalah gangguan sensori persepsi :
halusinasi penglihatan dan risiko perilaku kekerasan.
3. Diagnosa keperawatan yang diangkat berdasarkan prioritas adalah :
a. Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
b. Risiko bunuh diri
c. Gangguan konsep diri : harga iri rendah
d. Risiko perilaku kekerasan
4. Penyusunan rencana keperawatan melibatkan klien dengan menggunakan
Strategi Pelaksanaan (SP) dan tambahan terapi lainnya seperti Terapi
Aktifitas Kelompok (TAK) dan terapi modalitas mendengarkan murotal Al-
Qur’an.

60
61

5. Implementasi keperawatan dilakukan sesuai dengan intervensi yaitu


diagnosa keperawatan halusinasi sudah sampai SP 2 dan diagnosa
keperawatan risiko perilaku kekerasan sudah sampai SP 4.
6. Evaluasi yang dilakukan tercapai sebagian, klien dapat melakukan dan
mengevaluasi dengan benar implementasi yang telah dilakukan oleh
perawat tetapi observasi kurang efektif dikarenakan adanya hambatan yaitu
klien dipindahkan ke ruangan perkutut dan harus tetap difollow up tetapi
tidak setiap waktu dikarenakan penulis berdinas di ruang garuda.

B. SARAN
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, sebagai perawat sebaiknya selalu
melakukan pendekatan secara bertahap kepada klien diagnosa medis bipolar
dengan masalah halusinasi penglihatan dan risiko perilaku kekerasan. Perawat
sebaiknya sering melakukan interaksi agar pencetus halusinasi tidak mudah terjadi
pada klien dan tidak merugikan diri klien, orang lain dan lingkungan di
sekitarnya. Pengawasan dan dorongan positif perlu selalu dilakukan oleh perawat
ruangan maupun mahasiswa keperawatan agar dapat memotivasi klien untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengontrol halusinasi dan pencetus
perilaku kekerasan klien.
Serta semoga semakin banyak penelitian-penelitian lain mengenai
penanganan bipolar yang efektif di rumah sakit, agar pemberi asuhan keperawatan
semakin terpapar ilmu-ilmu baru dan dapat mengaplikasikannya kepada klien
dengan gangguan bipolar.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.


Keliat, B.A. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas : CMHN (basic
course). Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012.
Maslim, Rusdi dr. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkasan dari PPDGJ III Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya, Jakarta.
Maramis, W.f. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. 9 Surabaya: Airlangga
University Press.
Pusat Data dan Analisa Pembangunan Jawa Barat 2014
www.pusdalisbang.jabar.go.id/pusdalisbang/infojabar/-51.html
Riset Kesehatan Dasar. 2013.
Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2007. Buku Saku Keperawatan
Jiwa (Terjemahan). Jakarta:EGC.
Yulianti, Yuyun. 2015. Cetak Biru Pelayanan Pasien di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Jawa Barat Tahun 2014. Jurnal ARSI/Januari 2015.
Yosep, Iyus. 2014. Buku Ajar Keperwatan Jiwa. Bandung : Reflika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai