Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN VALIDASI DATA BULAN JANUARI 2018

Judul Indikator INFEKSI ALIRAN DARAH PERIFER ( PHLEBITIS )


Numerator Jumlah pasien yang terpasang kateter Intra vena
Denominator Jumlah Hari Rawat Inap pasien yang terpasang kateter intra
Vena
Sumber Data Surveilans dan Rekam Medis
Capaian Indikator 57,1 % pada bulan Januari 2018
Jumlah hari Rawat Januari 175 hari
2018
Justifikasi Perlu Validasi Data Baru pertama kali dikumpulkan
Metode Validasi  Melakukan telaah rekam medis
 Analisa kelengkapan pengisian form surveilans
Hasil Validasi Jumlah pasien phlebitis dalam bulan januari 2018 ditemukan
12 kasus
Hasil Analisa 12/175 x 1000 = 68,5 permil
Capaian Indikator 10/175 x 1000 = 57,1 permil ( Valid )
Kesimpulan Data akurat ( Valid )
Rencana Tindak Lanjut  Validasi akan dilakukan kembali bila ada pergantian
PIC pengumpul data, sumber data Numerator,
Denumerator, sistem Rekam medis menjadi E-RM
 Melakukan edukasi kepada kepala unit ranap untuk
memperhatikan pencatatan form surveilans sesuai
dengan data rekam medis
 Melakukan koreksi sebelum data diserahkan ke PIC
PELAKSANAAN PROGRAM PELATIHAN PENINGKATAN
MUTU
DAN KESELAMATAN PASIEN
No. Dokumen
......
/PS/PM/....../.....
No. Revisi
0
Halaman
1.2.
Standar Prosedur
Operasional
Peningkatan Mutu
Tanggal Terbit
...............
............
Ditetapkan,
dr.
...............................
Direktur Utama
Pengertian
Langkah – langkah pelaksanaan pelatihan peningkatan mutu dan keselamatan
pasien bagi
karyawan RSUD XXX Provinsi Jawa Tengah
Tujuan
Sebagai acuan Tim Quality Assurance dalam melaksanakan pelatihan
peningkatan mutu dan
keselamatan pasien bagi karyawan RSUD XXX Provinsi Jawa Tengah
Kebijakan
1.
Pelaksanaan program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
membutuhkan
partisipasi semua karyawan rumah sakit, sehingga dibutuhkan Program
Pelatihan tentang
peningkatan mutu dan keselamatan pasien
2.
Program pelatihan peningkatan mutu dan keselamatan pasien dibuat oleh Komite
mutu
bersama pimpinan rumah sakit, semua unit kerja berpartisipasi dalam
pelaksanaannya
3.
Pendidikan dan pelatihan peningkatan mutu dan keselamatan pasien ( PMKP )
dapat
diselenggarakan baik di internal maupun eksternal rumah sakit
4.
Instruktur pelatihan internal dapat dilakukan oleh komite mutu/ SDM/
Keperawatan/ PPI
RS/ K3 atau narasumber berkompeten dari luar RS sesuai kebutuhan pelatihan
Prosedur
1.
Komite Mutu tiap akhir tahun menyusun program pelatihan PMKP berkoordinasi
dengan
bagian SDM untuk periode satu tahun berikutnya dengan menyesuaikan
kebutuhan
karyawan RSUD XXX dalam partisipasinya pelaksanaan program PMKP
2.
Memasukkan program pelatihan yang sudah disusun ke dalam program kerja
dan
anggaran untuk dimintakan persetujuan oleh pimpinan RSUD XXX
3.
Setelah mendapat persetujuan dari pimpnan rumah sakit, program
diinformasikan ke unit
terkait melalui pertemuan rutin Manager
4.
Pada pelaksanaan kegiatan inhouse training komite mutu dapat berkoordinasi
dengan
bagian SDM atau unit terkait
5.
Setelah kegiatan dilaksanakan, dibuat laporan pelaksanaan kegiatan
6.
Pada akhir tahun komite mutu membuat laporan pelaksanaan program
Pendidikan dan
pelatihan PMKP dan dilaporkan kepada pimpinan rumah sakit
Unit Terkait
Seluruh unit
Infeksi saluran pernafasan akut dibedakan menjadi 2, yaitu infeksi saluran pernafasan atas
(ISPA) dan infeksi saluran pernafasan bawah (ISPB). Infeksi saluran pernafasan atas
disebabkan oleh virus dan bakteri termasuk nasofaringitis atau common cold, faringitis akut,
uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis kronis dan sinusitis. Sedangkan infeksi saluran nafas
bawah merupakan infeksi yang didahului oleh infeksi saluran nafas atas yang disebabkan
oleh infeksi sekunder antara lain oleh bakteri, virus, jamur dan protozoa yang menyerang
saluran nafas bagian bawah seperti bronkus, bronkiolus dan parenkim paru

Infeksi saluran nafas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan,
baik di negara berkembang maupun di negara maju. Diseluruh dunia terdapat lebih dari 5 juta
orang per tahun, 10 – 15 kematian per hari.

Infeksi saluran nafas bawah menggambarkan berbagai gejala dan tanda-tanda yang bervariasi
sesuai tingkat keparahan. Gejala yang paling umum adalah batuk, apakah sebagai gejala baru
atau perubahan gejala kronis, gejala lain meliputi produksi sputum, sesak nafas, mengi, nyeri
dada dan demam

BRONKITIS AKUT

Meskipun bronkitis akut salah satu diagnosa yang umum dibuat pada pratek sehari-hari,
namun belum ada definisi yang tepat. Diagnosis banding antara bronkitis akut dan pneumonia
tidak selalu mudah ditegakkan dalam praktek sehari-hari. Diagnosa biasanya ditegakkan
secara klinis. Infeksi trakeobronkial tanpa pneumonia terdiri dari spektum dengan klinis
yang berbeda antara bronkitis akut, bronkitis kronis dan bronkiektasis. Infeksi pada mukosa
trakeobronkial menyebabkan keradangan lokal, peningkatan sekresi lendir dan kerusakan sel-
sel bersilia. Kebanyakan kasus bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus (95%). Semua
virus yang mempengaruhi saluran nafas atas seperti rhinovirus, coronavirus, respiratory
syntitial virus, adenovirus, coxachivirus, virus influenza A dan B serta virus parainfluenza.
Dalam dua studi untuk menegakkan diagnosa yang tepat, etiologi hanya 16% dan 29%
ditemukan virus sebagai penyebab paling umum. Mycoplasma pneumonia dan chlamydia
pneumonia mempunyai peran kecil pada penyakit ini. Namun M. pneumoniae mungkin
menyebabkan lebih banyak kasus bronkitis dari pneumonia, dan C. pneumoniae mungkin
merupakan penyebab penting dari bronkitis akut.

AKUT EKSASERBASI BRONKITIS KRONIS

Mendefinisikan akut eksaserbasi bronkitis kronis (AEBK) tidaklah mudah oleh karena tidak
ada ciri khas pada pemeriksaan laboratorium, foto toraks maupun pemeriksaan fisik.
Bronkitis kronis didefinisikan sebagai batuk kronis dan produksi sputum selama minimal tiga
bulan selama dua tahun berturut-turut dan eksaserbasi dikaitkan dengan memburuknya batuk,
peningkatan produksi sputum dan purulensi sputum. Menurut Anthonisen et al, ada tiga
kriteria klinis untuk menegakkan eksaserbasi bronkitis kronis yaitu peningkatan volume
sputum, sputum purulen dan sesak yang bertambah. Seemungal et al, menggunakan kriteria
mayor dan minor untuk mendefinisikan AEBK, kriteria mayor berdasarkan kriteria
Anthonisen sedangkan kriteria minor meliputi sesak, sakit tenggorokan atau gejala flu seperti
hidung tersumbat atau berair. Kriteria eksaserbasi bronkitis kronis meliputi 2 kriteria mayor,
1 mayor dan 1 minor sedikitnya dalam dua hari berturut-turut. Bronkitis kronis disebabkan
terutama oleh merokok. Polusi udara, cuaca dingin dan basah, keturunan, infeksi saluran
pernapasan bawah berulang, dan gangguan immunodeficiency (seperti
hypogammaglobulinemia variabel umum atau kekurangan IgA terisolasi) memainkan peran
pada beberapa pasien.

Dalam keadaan normal, trakeobronkial tree steril. Namun pada pasien dengan bronkitis
kronis, saluran nafas bawah terkolonisasi oleh bakteri, terutama H. influenza, M. catarrhalis
dan streptococcus pneumonia. Sekitar 50% terjadinya eksaserbasi berdasarkan kriteria
Anthonisen, diyakini sebagian kecil disebabkan oleh virus dan sisanya akibat infeksi bakteri.
Adanya paparan terhadap polutan atau bahan iritan (asap rokok atau debu) dan alergi dapat
menimbulkan eksaserbasi. Eksaserbasi dapat menyebabkan rawat inap yang disertai dengan
angka kematian rata-rata 4% pada pasien dengan penyakit ringan-sedang. Tetapi angka ini
dapat lebih tinggi sekitar 24% jika terdapat komplikasi gagal nafas. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa infeksi saluran nafas berulang pada masa anak-anak dapat mempertinggi
risiko terjadinya bronkitis kronis.

DIAGNOSA

 Anamnesa

Gejala utama dari infeksi saluran nafas bawah adalah batuk. Pada bronkitis, batuk kering
menandakan adanya keradangan awal pada saluran udara bagian atas, sering berkembang
menjadi batuk yang produktif dalam jumlah sedang dengan sputum mukopurulen dimana
onset biasanya didahului oleh prodormal minimal 24 jam dengan gejala coryza dan faringitis.

 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas lesi di paru. Tidak ada tanda yang khas pada
pemeriksaan fisik pada bronkitis akut maupun kronis dan biasanya pasien jarang terlihat sakit
kecuali terdapat komplikasi pneumonia. Pada bronkitis, auskultasi dapat terdengar ronkhi
dengan mengi tetapi tidak didapatkan konsolidasi.

 Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan jumlah lekosit dan pada hitung jenis
lekosit didapatkan pergeseran kekiri serta terjadi peningkatan LED. Pemeriksaan C-reaktif
Protein (CRP) adalah tes terbaik untuk membedakan antara pneumonia dan infeksi saluran
nafas bawah-non pneumonia.
b. Foto Toraks

Foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosa serta juga
dapat untuk membedakan infeksi saluran nafas bawah yang lain. Pada bronkitis tidak
terdapat tanda-tanda konsolidasi dan tidak ada gambaran infiltrat pada foto toraks.

X-ray : Chronic bronchitis

c. Spesimen dahak

Spesimen yang dapat digunakan untuk mendiagnosa etiologi dari infeksi saluran nafas bawah
antara lain berasal dari sputum (dahak), aspirasi trakeobronkial, bilasan bronkus dan bilasan
trakea. Sputum purulen bukan suatu nilai prediktif untuk membedakan penyebab infeksi oleh
karena virus atau bakteri. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan kultur tidak membantu
dalam membedakan penyebab infeksi yang berasal dari saluran nafas atas atau saluran nafas
bawah. Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa tes tersebut harus dilakukan untuk
identifikasi organisme penyebab.

PENATALAKSANAAN

 Bronkitis Akut

Pemberian antibiotik belum menunjukkan manfaat yang konsisten pada kasus bronkitis akut.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa 65-80% pasien dengan bronkitis akut mendapatkan
antibiotik meskipun ada bukti yang menunjukkan tidak efektif kecuali pada kasus bronkitis
akut yang dicurigai suatu pertusis. Pemberian antibiotik pada bronkitis akut
direkomendasikan pada pasien dengan risiko komplikasi serius dan adanya penyakit
komorbid (diabetes mellitus, gagal jantung kongestif)

 Infeksi Akut Eksaserbasi Bronkitis Kronis

Pemberian antibiotik digunakan untuk memperbaiki AEBK, mencegah eksaserbasi dan


mencegah perburukan fungsi paru jangka panjang. Sejumlah percobaan telah dilakukan
dengan hasil yang cukup konsisten bahwa antibiotik tidak mengurangi angka kejadian AEBK
tetapi mengurangi jumlah hari yang hilang dari pekerjaan. Terapi bronkodilator dapat
diberikan untuk mengurangi sesak nafas. Pemberian steroid secara sistemik selain
mempercepat pemulihan juga menurunkan kekambuhan dan memperlama terjadinya
eksaserbasi

PENATALAKSANAAN SECARA UMUM

 Obat batuk
 Berhenti merokok (smoking cessation)
 Imunisas

Pneumonia nosokomial adalah penyakit yang cukup sering ditemui dalam praktik klinik di
Rumah Sakit. Jumlah kejadian setiap tahun diperkirakan mencapai 5-10 pasien/1000 kasus
rawat inap. Di Amerika Serikat, pneumonia nosokomial menempati urutan kedua penyakit
nosokomial dengan jumlah kejadian terbanyak.

Belum ada data pasti angka kejadian pneumonia nosokomial di Indonesia. Namun, angka
mortalitas yang masih sangat tinggi (33-50%) membuat pneumonia nosokomial masih harus
menjadi perhatian besar dokter di Indonesia. Panduan praktik klinik dan Clinical Pathway
dibutuhkan untuk memberikan gambaran penatalaksanaan yang tepat.

Panduan Praktik Klinik Pneumonia


Nosokomial
Definisi Pneumonia Nosokomial
Pneumonia noskomial adalah pneumonia yang didapat di rumah sakit (Hospital acquired
Pneumonia). Pneumonia nosokomial muncul setelah 48 jam menjalani perawatan di Rumah
Sakit (tanpa intubasi saat admision). Pneumonia nosokomial dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu onset dini dan onset lambat.

Pneumonia nosokomial dikategorikan sebagai onset dini bila sudah muncul 4-5 hari setelah
masuk Rumah Sakit. Bila pasien menderita pneumonia nosokomial >5 hari setelah dirawat di
Rumah Sakit maka dikategorikan sebagai onset lambat.

Diagnosis Pneumonia Nosokomial


Anamnesis
Anamnesis yang mengarah pada dugaan pneumonia nosokomial kurang begitu spesifik.
Gambaran klinik pneumonia nosokomial tidak begitu jelas dan tidak bisa dijadikan kriteria
diagnosis pneumonia nosokomial. Pada anamnesis sering ditemukan pasien dalam kondisi
demam atau sputum (dahak) yang purulen.

Pemeriksaan Fisik Pneumonia Nosokomial


Dalam pemeriksaan fisik pasien pneumonia nosokomial dapat ditemukan peningkatan suhu
tubuh mencapai > 38,3 C. Pemeriksaan paru dapat ditemukan tanda-tanda konsolidasi paru
seperti perkusi yang pekak.

Pemeriksaan Penunjang Pneumonia Nosokomial


Beberapa pemeriksaan penunjang direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis
pneumonia nosokomial:

1. Pemeriksaan Darah Lengkap: Leukositosis sering ditemukan > 10.000/mm3. Namun,


kondisi leukopenia juga tidak jarang ditemukan.
2. Pemeriksaan rontgen thorax dianjurkan untuk mencari tanda infiltrat alveolar
3. Brobnchoalveolar lavage dilakukan dengan salah satu tujuannya untuk mengambil
spesimen yang akan dilakukan pemeriksaan mikrobiologis.
4. Kultur Darah dilakukan selain untuk menegakkan diagnosis juga bermanfaat dalam
memberikan panduan pemberian antibiotik definitif sebagai terapi.

Diagnosis Banding Pneumonia Nosokomial


Beberapa diagnosis banding pneumonia nosokomial yang perlu dipertimbangkan adalah
PPOK eksaserbasi, tromboemboli paru, perdarahan paru dan acute respiratory distress
syndrome (ARDS).

Tatalaksana Pneumonia Nosokomial


Pneumonia nosokomial memiliki angka mortalitas yang cukup tinggi (33-50%) sehingga
sering membutuhkan perawatan intensif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penatalaksanaan pneumonia nosokomial adalah:

1. Suplementasi Oksigen jika perlu


2. Terapi cairan yang adekuat
3. Jika didapatkan nyeri pleuritik dapat diberikan analgetik: diklofenak 3 x 80 mg
4. Terapi antibiotik spektrum luas yang diberikan selama 8 hari atau sampai diketahui
antibiotik spesifik dari hasil kultur darah.
5. Tidak ada kriteria khusus untuk mengubah terapi antibiotik intravena menjadi terapi
per oral. Keputusan cara pemberian antibiotik disesuaikan dengan kondisi perbaikan
pasien yang diobservasi setiap hari.
6. Pada pasien yang imunokompromais, terutama yang neutropenia, disarankan untuk
diberikan profilaksis anti-jamur.
Pada pasien onset dini dan tidak ada faktor resiko Multidrug Resistant (MDR) maka
antibiotik yang direkomendasikan adalah

Kombinasi antibiotic pilihan pneumonia nosokomial onset dini:

1.levofloxacin 1x70 mg iv

2.movifloxacin 1 x 400 mg iv

3. ciprofloxacin 3 x 400 mg iv

4.