Anda di halaman 1dari 14

Kaitan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Dalam Ilmu Akuntansi

M. Adi Satrio (8335132494)

I. Latar Belakang

Sejarah dari filsafat ilmu tidak selamanya berjalan lurus, terkadang berbelok kembali
ke belakang, sedangkan sejarah dari ilmu selalu berjalan maju. Dalam sejarah pengetahuan
manusia, filsafat dan ilmu adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan antara
satu dan lainnya. Filsafat dan ilmu bersinggungan dalam mengungkap kebenaran. Kebenaran
filsafat terletak pada pemikiran, sedangkan kebenaran ilmu terletak pada pengalaman. Tujuan
dari filsafat sendiri ialah untuk menemukan kebenaran.

Ilmu pengetahuan merupakan hasil akhir dari kegiatan berpikir yang merupakan kunci
dari perkembangan peradaban dimana manusia melakukan pencarian dan berkembang.
Masalah bermunculan di sepanjang jalan sehingga mendorong manusia untuk berfikir,
bertanya, lalu mencari jawaban dari permasalahan, yang pada akhirnya mendorong manusia
menjadi makhluk pencari kebenaran.

Pada hakikatnya, aktifitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan yang didasarkan pada tiga
masalah pokok, yaitu: Apa yang ingin diketahui, bagaimana memperoleh pengetahuan dan
apa nilai dari pengetahuan tersebut. Pertanyaan tersebut terlihat sangat sederhana, namun
mencakup hal yang sangat asasi. Maka untuk menjawabnya diperlukan sistem berpikir yang
sistematis, radikal dan universal sebagai kebenaran ilmu yang dibahas dalam filsafat ilmu.

Oleh karena itu, ilmu tidak terlepas dari landasan ontologi, epistemologi dan
aksiologi. Ontologi membahas apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ada”,
dengan kata lain bagaimana hakikat objek yang ditelaah sehingga menghasilkan pengetahuan.
Epistemologi membahas tentang bagaimana proses memperoleh pengetahuan. Dan Aksiologi
membahas tentang nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Dengan membahas ketiga unsur ini manusia dapat memahami apa hakikat ilmu itu.

Akuntansi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari mengenai pengukuran,


penjabaran, atau pemberi kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer,
investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain yang biasanya erat kaitannya dalam hal
keuangan. Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan
kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan
uang.

II. Pembahasan

A. Pengertian

Kata Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa
Yunani. Kata Ontologi berasal dari kata “Ontos” yang berarti “berada (yang ada)”. Kata
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti knowledge yaitu pengetahuan. Kata
tersebut berasal dari dua suku kata, yaitu logia artinya pengetahuan dan episteme artinya
tentang pengetahuan. Jadi dari pengertian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa epistemologi
merupakan pengetahuan tentang pengetahuan. Kata Aksiologi berasal dari kata “Axios” yang
berarti “bermanfaat”. Ketiga kata tersebut ditambah dengan kata “logos” yang berarti “ilmu
pengetahuan, ajaran dan teori.”

Secara istilah, Ontologi adalah ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata ini dan
bagaimana keadaan yang sebenarnya. Epistemologi adalah ilmu yang membahas secara
mendalam segenap proses penyusunan pengetahuan yang benar. Sedangkan Aksiologi adalah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan.

Dengan demikian, Ontologi adalah ilmu pengetahuan yang meneliti segala sesuatu
yang ada. Epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang teori, sedangkan Aksiologi
adalah kajian tentang nilai dari suatu ilmu pengetahuan.

Akuntansi berasal dari kata asing “Accounting” yang artinya “menghitung” atau
mempertanggungjawabkan. Akuntansi erat kaitannya dengan proses mencatat,
mengklarifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data transaksi serta kejadian yang
berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya
untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

a. Ontologi

Ontologi merupakan bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari
metafisika, dan metafisika merupakan salah satu bab dari filsafat.
Objek telaah Ontologi ialah yang tidak terikat pada satu perwujudan tertentu,
Ontologi membahas hal yang ada secara universal, yaitu bertujuan untuk menemukan inti
yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.

Uraian Ontologi disusun setelah menjelajahi segala bidang ilmu utama filsafat, seperti
filsafat manusia, alam dunia, pengetahuan, ketuhanan, moral dan sosial. Maka Ontologi
sangat sulit dipahami jika terlepas dari bagian-bagian dan bidang filsafat lainnya.

Metafisika membicarakan segala sesuatu yang dianggap ada, mempersoalkan hakikat.


Hakikat ini tidak dapat dijangkau dengan panca indera karena tidak berbentuk, berupa,
berwaktu dan bertempat. Dengan mempelajari hakikat kita dapat memperoleh pengetahuan
dan dapat menjawab pertanyaan tentang apa hakikat ilmu itu.

Dilihat dari segi Ontologi, ilmu membatasi diri pada kajian yang bersifat empiris.
Objek penelaah ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera
manusia. Sederhananya seperti ini, “hal-hal yang sudah berada diluar jangkauan manusia
tidak dibahas oleh ilmu karena tidak dapat dibuktikan secara metodologis dan empiris,
sedangkan ilmu itu mempunyai ciri tersendiri yakni berorientasi pada dunia empiris.

Berdasarkan objek yang dikaji, objek dalam ilmu pengetahuan ada 2 macam, yaitu:

1. Objek material (obiectum materiale, material object) ialah seluruh lapangan atau
bahan yang dijadikan objek penyelidikan suatu ilmu.

2. Objek formal (obiectum formale, formal object) ialah penentuan titik pandang
terhadap objek material.

Untuk mengkaji lebih jauh hakikat objek empiris, maka ilmu membuat beberapa
asumsi mengenai objek itu. Asumsi yang sudah dianggap benar dan tidak diragukan lagi
adalah asumsi yang merupakan dasar dan titik tolak segala pandangan kegiatan. Asumsi itu
memerlukan sebab pernyataan asumtif, itulah yang memberikan arah dan landasan bagi
kegiatan penelaahan.

Ada beberapa asumsi mengenai objek empiris yang dibuat oleh ilmu, yaitu: Pertama,
menganggap objek-objek tertentu mempunyai kesamaan antara yang satu dengan lainnya,
misalnya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Kedua, menganggap bahwa suatu
benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, determinisme, yaitu
menganggap segala gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tujuan
dari asumsi yang dibuat oleh ilmu adalah agar mendapatkan pengetahuan yang bersifat
analitis dan mampu menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang tertangguk dalam
pengalaman manusia.

Asumsi tersebut dapat dikembangkan dengan pengalaman manusia yang melakukan


analisis dengan berbagai disiplin keilmuan dengan memperhatikan beberapa hal; Pertama,
asumsi harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Kedua, asumsi
harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya” bukan “bagaimana keadaan
seharusnya”.

Asumsi pertama adalah asumsi yang mendasari telaah ilmiah, sedangkan asumsi
kedua adalah asumsi yang mendasari moral. Oleh karena itu, seorang ilmuan harus benar-
benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya, sebab
mempergunakan asumsi yang berbeda maka berbeda pula konsep pemikiran yang
dipergunakan. Sebuah kajian ilmiah harus dilandasi dengan asumsi yang tegas, yaitu tersurat
karena yang belum tersurat dianggap belum diketahui atau belum mendapat kesamaan
pendapat.

Pertanyaan mendasar yang muncul dalam tataran Ontologi adalah untuk apa
penggunaan dari pengetahuan tersebut. Artinya untuk apa orang mempunyai ilmu apabila
kecerdasannya digunakan untuk menghancurkan orang lain, misalnya seorang ahli ekonomi
yang memakmurkan saudaranya tetapi menyengsarakan orang lain. Begitu juga seperti
seorang ahli hukum yang memakai ilmu hukum yang dimilikinya untuk kepentingannya
sendiri dengan melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.

b. Epistemologi

Dalam filsafat modern, terjadi perdebatan filosofis yang sengit di sekitar perdebatan
manusia yang menduduki pusat permasalahan di dalam filsafat. Titik tolak dari kemajuan
filsafat sendiri adalah pengetahuan manusia, untuk membina filsafat yang kukuh tentang
semesta (universe) dan dunia. Maka sumber-sumber pemikiran manusia, kriteria-kriteria, dan
nilai-nilainya tidak ditetapkan, tidaklah mungkin melakukan studi apapun, bagaimanapun
bentuknya.

Salah satu perdebatan besar itu adalah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber
dan asal-usul pengetahuan dengan meneliti, mempelajari dan mencoba mengungkapkan
prinsip-prinsip primer kekuatan struktur pikiran yang dianugerahkan kepada manusia. Maka
dengan demikian ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana pengetahuan
itu muncul dari dalam diri manusia? Bagaimana kehidupan intelektualnya tercipta, termasuk
setiap pemikiran dan konsep-konsep yang muncul sejak dini? Dan apa sumber yang
memberikan kepada manusia arus pemikiran dan pengetahuan ini?

Sebelum menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas, maka harus diketahui


bahwa pengetahuan (persepsi) itu terbagi, secara garis besar menjadi dua. Pertama, konsepsi
atau pengetahuan sederhana. Kedua, tashdiq (assent atau pembenaran), pengetahuan yang
mengandung suatu penilaian. Contoh dari konsepsi adalah penilaian kita terhadap pengertian
panas, cahaya atau suara. Sedangkan contoh dari tashdiq adalah penilaian bahwa panas
adalah energi yang datang dari matahari dan bahwa matahari lebih bercahaya dari bulan,
karena dalam hal tersebut pengetahuan memiliki sifat penilaian yang tidak sederhana.
Walaupun konsepsi dan tashdiq merupakan hal yang berbeda, namun kedua hal tersebut
sangat erat kaitannya, karena konsepsi merupakan penangkapan suatu objek pengetahuan
tanpa menilai objek itu, sedangkan tashdiq, memberikan pembenaran terhadap objek.

Pengetahuan yang telah didapatkan dari aspek Ontologi, selanjutnya dibawa ke aspek
Epistemologi untuk diuji kebenarannya dalam kegiatan ilmiah. Menurut Ritchie Calder,
proses kegiatan ilmiah dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Dengan demikian dapat
dipahami bahwa adanya kontak manusia dengan dunia empiris menjadikan ia berpikir tentang
kenyataan-kenyataan alam.

Setiap jenis pengetahuan memiliki ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana dan
untuk apa, yang terstruktur secara sistematis dalam Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.
Epistemologi sendiri selalu dikaitkan dengan Ontologi dan Aksiologi ilmu. Persoalan utama
yang dihadapi oleh setiap Epistemologi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana
cara mendapatkan pengetahuan yang benar dengan mempertimbangkan aspek Ontologi dan
Aksiologi masing-masing ilmu.

Hal yang dikaji dari Epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan
ilmu pengetahuan, hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan
yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya.

Objek telaah Epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang,


bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan
dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai suatu hal.
Landasan dalam tataran Epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan
untuk memperoleh pengetahuan logika, etika, estetika serta bagaimana cara dan langkah-
langkah untuk memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta
memahami apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni.

Dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan tidak cukup dengan
berpikir secara rasional ataupun sebaliknya berpikir secara empirik saja dikarenakan
keduanya memiliki keterbatasan dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. Jadi
pencapaian kebenaran menurut ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah yang
merupakan gabungan atau kombinasi antara rasionalisme dengan empirisme sebagai sebuah
kesatuan yang saling melengkapi.

Metode Ilmiah adalah suatu rangkaian prosedur tertentu yang diikuti untuk
mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu. Epistemologi dari metode keilmuan
akan lebih mudah dibahas apabila mengarahkan perhatian kita kepada sebuah rumus yang
mengatur langkah-langkah proses berfikir yang diatur dalam suatu urutan tertentu.

Kerangka dasar prosedur ilmu pengetahuan dapat diuraikan dalam enam langkah
sebagai berikut:

1. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah

2. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan

3. Penyusunan atau klarifikasi data

4. Perumusan hipotesis

5. Deduksi dari hipotesis

6. Tes pengujian kebenaran (Verifikasi)

Keenam langkah yang terdapat dalam metode keilmuan tersebut masing-masing


memiliki unsur-unsur rasional dan empiris.

Menurut AM. Saefuddin bahwa untuk menjadikan pengetahuan sebagai ilmu (teori)
maka hendaklah melalui metode ilmiah yang terdiri atas dua pendekatan: Pendekatan Induktif
dan Pendekatan Deduktif. Kedua pendekatan ini tidak dapat dipisahkan dengan menggunakan
salah satunya saja, sebab deduksi tanpa induksi dapat dimisalkan seperti sayur yang akan
dimakan tetapi belum dimasak. Beberapa sayur dapat dimakan tanpa dimasak, namun rasanya
berbeda dengan sayur yang sudah dimasak. Sebaliknya, induksi tanpa deduksi menghasilkan
sebuah pemikiran yang tidak begitu mendalam karena hal-hal khusus dikesampingkan.

Proses metode keilmuan pada akhirnya berhenti sejenak ketika sampai pada titik
“pengujian kebenaran” untuk mendiskusikan benar atau tidaknya suatu ilmu. Ada tiga ukuran
kebenaran yang tampil dalam gelanggang diskusi mengenai teori kebenaran, yaitu teori
korespondensi, koherensi dan pragmatis. Penilaian ini nantinya akan mempengaruhi untuk
menerima, menolak, menambah atau mengubah hipotesa, untuk selanjutnya diadakan teori
ilmu pengetahuan.

c. Aksiologi

Sampailah pembahasan ini kepada sebuah pertanyaan: Apakah kegunaan ilmu bagi
kita? Tak terbantahkan lagi bahwa ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas
berbagai hal seperti penyakit, kelaparan, kemiskinan dan memberikan kehidupan yang lebih
terstruktur dan memiliki peradaban yang lebih maju. Namun hal ini juga seperti pedang
bermata dua. Seperti dalam mempelajari atom, manusia dapat memanfaatkan hal tersebut
sebagai sumber energi bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, hasil buah pikiran dari
mempelajari atom tersebut juga dapat menyebabkan petaka yang dapat menghilangkan nyawa
banyak manusia dengan terciptanya bom atom yang digunakan terhadap manusia lain.

Jadi yang menjadi dasar dalam tatanan ilmu Aksiologi ini adalah untuk apa
pengetahuan itu digunakan? Bagaimanakah hubungan penggunaan ilmiah dengan moral
etika? Bagaimana penentuan objek yang diteliti secara moral? Bagaimana kaitan prosedur
ilmiah dan metode ilmiah dengan kaidah moral?

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penemuan nuklir dapat


menimbulkan bencana perang, penemuan detektor dapat mengembangkan alat pengintai yang
mengganggu kenyamanan orang lain, penemuan ilmu kedokteran yang disalahgunakan dapat
menyebabkan timbulnya malpraktik dunia kedokteran yang dapat merugikan pasien yang
mengunjungi dokter serta penemuan bayi tabung dapat menimbulkan bencana bagi
terancamnya peradaban perkawinan.
Berkaitan dengan etika, moral dan estetika maka ilmu dapat dibagi menjadi dua
kelompok:

1. Ilmu Bebas Nilai

Berbicara soal ilmu, erat kaitannya dengan etika karena sesungguhnya etika sangat
diperlukan agar ilmu berjalan lurus sebagaimana seharusnya tanpa merugikan orang lain.
Bebas nilai atau tidaknya sebuah ilmu merupakan masalah yang rumit, jawabannya bukan
sekedar ya atau tidak.

Sejak pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun


dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543M) mengajukan teorinya
tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi
matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang diajarkan oleh agama (gereja) maka timbul
reaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotsi metafisik.
Secara metafisik, ilmu ingin mempelajari alam, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan
agar ilmu mendasarkan pada pernyataan-pernyataan nilai yang berasal dari agama sehingga
timbul konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berakumulasi pada pengadilan
inkuisisi Galileo pada tahun 1663M.

Vonis inkuisisi Galileo mempengaruhi perkembangan berpikir di Eropa, yang pada


dasarnya mencerminkan pertentangan antara ilmu yang ingin bebas dari nilai-nilai di luar
bidang keilmuan dan ajaran-ajaran (agama). Pada kurun waktu itu, para ilmuan berjuang
untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam dengan semboyan “ilmu yang
bebas nilai”. Latar belakang otonomi ilmu bebas dari ajaran agama (gereja) dan leluasa ilmu
dapat mengembangkan dirinya. Pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif
kemudian disusul dengan penerapan konsep-konsep ilmiah kepada masalah-masalah praktis.
Sehingga Berthand Russell menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap
kontemplasi ke manipulasi.

Dengan tahap perkembangan ilmu ini berada pada ambang kemajuan karena pikiran
manusia tak tertundukkan pada akhirnya ilmu menjadi suatu kekuatan sehingga terjadilah
dehumanisasi terhadap seluruh tatanan hidup manusia.

Menghadapi fakta seperti ini, ilmu pada hakikatnya mempelajari alam dengan
mempertanyakan yang bersifat seharusnya, untuk apa sebenarnya ilmu itu dipergunakan,
dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan dan ke arah mana perkembangan keilmuan
ini diarahkan. Pertanyaan ini jelas bukan hal yang mendesak bagi ilmuan seperti Copernicus,
Galileo dan ilmuan seangkatannya, namun ilmuan yang hidup dalam abad ke-20 yang telah
dua kali mengalami perang dunia dan dihantui dengan perang dunia ke-tiga, pernyataan ini
tidak dapat dielakkan dan untuk menjawab pertanyaan ini. Maka ilmu berpaling kepada
hakikat moral.

Masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersifat destruktif
para ilmuan terbagi dalam dua pendapat. Golongan pertama menginginkan ilmu netral dari
nilai-nilai baik secara Ontologis, Epistemologis maupun Aksiologis. Golongan kedua
berpendapat bahwa netralitas ilmu hanya terbatas pada metafisik keilmuan, namun dalam
penggunaannya harus berlandaskan pada moral.

Einstein pada akhir hayatnya tak dapat menemukan agama mana yang sanggup
menyembuhkan ilmu dari kelumpuhannya dan begitu pula moral universal manakah yang
dapat mengendalikan ilmu, namun Einstein ketika sampai pada puncak pemikirannya dan
penelaahannya terhadap alam semesta ia berkesimpulan bahwa keutuhan ilmu merupakan
integrasi rasionalisme, empirisme dan mistis intuitif.

Perlunya penyatuan ideologi tentang ketidak netralan ilmu ada beberapa alasan,
namun ada pesan Einstein yang penting untuk dicamkan pada akhir hayatnya, “mengapa
ilmu yang begitu indah, yang menghemat kerja, membuat hidup lebih mudah, hanya
membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?”. Adapun permasalahan dari ucapan
Einstein adalah pemahaman dari pemikiran Francis Bacon yang telah berabad-abad
mengekang dan mereduksi nilai kemanusiaan dengan ide “pengetahuan adalah kekuasaan”.

Dari pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa, ilmu yang dibangun atas dasar
Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi haruslah berlandaskan etika sehingga ilmu itu tidak
bebas nilai.

2. Teori Tentang Nilai

Pembahasan tentang nilai yang akan dibicarakan yaitu tentang nilai sesuatu, nilai
perbuatan, nilai situasi dan nilai kondisi. Segala sesuatu kita beri nilai. Pemandangan yang
indah, perlakuan anak kepada orang tuanya, suasana lingkungan yang menyenangkan dan
kondisi badan yang sehat.
Terdapat perbedaan antara pertimbangan nilai dengan pertimbangan fakta. Fakta
berbentuk kenyataan, ia dapat ditangkap dengan panca indera, sedangkan nilai hanya dapat
dihayati. Walaupun para filsuf berbeda pandangan tentang definisi nilai, namun pada
umumnya mereka menganggap bahwa nilai adalah pertimbangan tentang penghargaan.

Pertimbangan fakta dan pertimbangan nilai merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan karena keduanya saling mempengaruhi. Sifat-sifat benda yang dapat diamati juga
termasuk dalam penilaian. Jika fakta berubah, maka penilaian kita berubah, ini berarti
pertimbangan nilai dipengaruhi oleh fakta.

Fakta itu sebenarnya netral, tetapi manusia lah yang memberikan nilai kedalamannya
sehingga ia mengandung nilai. Karena nilai itu maka benda itu mempunyai nilai. Namun
bagaimanakah kriteria benda atau fakta yang mempunyai nilai?

Teori tentang nilai dapat dibagi menjadi dua, yaitu nilai etika dan nilai estetika. Etika
termasuk cabang filsafat yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan memandangnya dari
sudut baik dan buruk. Adapun cakupan dari nilai etika adalah: Adakah ukuran perbuatan yang
baik yang berlaku secara universal bagi seluruh manusia, apakah dasar yang dipakai untuk
menentukan adanya norma-norma universal tersebut, apakah yang dimaksud dengan
pengertian baik dan buruk dalam perbuatan manusia, apakah yang dimaksud dengan
kewajiban dan apakah implikasi suatu perbuatan baik dan buruk.

Nilai etika diperuntukkan pada manusia saja, selain manusia (binatang, benda, alam)
tidak mengandung nilai etika, karena itu tidak mungkin dihukum baik atau buruk, salah atau
benar. Contohnya mencuri, nilai etika yang terkandung dalam perbuatan mencuri itu jahat.
Dan orang yang melakukannya dihukum bersalah. Tetapi jika seekor kucing yang mencuri
ikan tanpa izin, tidak dihukum bersalah. Yang bersalah adalah manusianya yang tidak
berhati-hati tidak menaruh makanan di tempat yang tertutup.

Adapun estetika, yang merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan kreasi seni,
dan pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan seni atau kesenian. Kadang estetika
diartikan sebagai filsafat seni dan kadang-kadang prinsip yang berhubungan dengan estetika
dinyatakan dengan keindahan.

Syarat estetika terbatas pada lingkungannya, disamping juga terikat dengan ukuran-
ukuran etika. Etika menuntut supaya bagus itu baik. Lukisan porno dapat mengandung nilai
estetika, tetapi akal sehat menolaknya, karena tidak etika. Sehingga kadang orang
mementingkan panca indera dan mengesampingkan nilai rohani. Orang hanya mencari nilai
nikmat tanpa memperdulikan soal apakah itu baik atau buruk. Nilai estetika tanpa etika dapat
menyebabkan mudarat kepada estetika dan dapat merusak.

Menurut Randal, ada tiga interpretasi tentang hakikat seni, yaitu:

i. Seni sebagai penembusan (penetrasi) terhadap realisasi disamping pengalaman

ii. Seni sebagai alat kesenangan, seni tidak berhubungan dengan pengetahuan tentang
alam dan memprediksinya, tetapi manipulasi alam untuk kepentingan kesenangan

iii. Seni sebagai ekspresi sungguh-sungguh tentang pengalaman

Dari interpretasi tentang hakikat seni tersebut dapat disimpulkan bahwa estetika
sangatlah erat kaitannya dengan seni. Karena sama-sama hanya memikirkan tentang
kesenangan tanpa keharusan adanya nilai etika yang terkandung.

d. Ilmu Akuntansi

Secara umum, Ilmu Akuntansi merupakan ilmu yang mempelajari aktivitas atau
proses dalam mengidentifikasi, mencatat, mengklasifikasi, mengolah dan menyajikan data
yang berhubungan dengan keuangan atau transaksi agar mudah dimengerti dalam
pengambilan keputusan yang tepat.

Berikut beberapa pengertian Akuntansi menurut para ahli:

“Secara umum, akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang


menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi
dan kondisi perusahaan yang berguna dalam pengambilan keputusan” (Warren, 2005:10).

“Suatu sistem atau kemampuan untuk mengukur dan mengelola transaksi keuangan
serta memberikan hasil pengelolaan tersebut dalam bentuk informasi kepada pihak-pihak
intern dan ekstern perusahaan. Pihak ekstern ini terdiri dari investor, kreditur pemerintah,
serikat buruh, lembaga perpajakan, masyarakat umum dan lain-lain” (Suparwoto L, 1990:2).

Dapat disimpulkan bahwa Akuntansi adalah sebuah aktivitas yang terdapat proses
mengidentifikasi, mencatat, mengklasifikasi, mengolah dan menyajikan data untuk pihak-
pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi, baik pihak intern maupun ekstern
perusahaan yang nantinya akan digunakan untuk pengambilan keputusan.
e. Kaitan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Ilmu Akuntansi

Ilmu Akuntansi merupakan penggabungan antara rasionalisme dan empirisme karena


akuntansi merupakan ilmu yang menggunakan pemikiran untuk menganalisis data transaksi
dalam membuat laporan keuangan dimana data transaksi merupakan hal yang kongkrit dapat
direspon oleh panca indera manusia.

Ilmu Akuntansi sendiri terlahir dikarenakan adanya rasa untuk mengetahui bentuk
dari sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan panca indera. Untuk dapat melihat nilai dari
suatu perusahaan, seseorang harus melihat dari laporan keuangan perusahaan tersebut
sehingga panca inderanya dapat bekerja dengan baik. Jika seseorang hanya melihat sebuah
perusahaan dari luarnya saja tanpa melihat laporan keuangan dari perusahaan tersebut, sulit
rasanya untuk orang tersebut mengetahui seperti apa sebenarnya perusahaan tersebut,
bagaimana kinerjanya dan sebaik apa pengendalian dalam perusahaan tersebut.

Dari segi Ontologi dapat disimpulkan bahwa sejarah dari akuntansi sendiri, keinginan
seseorang untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari suatu perusahaan, merupakan sesuatu
yang berkaitan dengan Ontologi. Dari segi keilmuannya sendiri, keinginan manusia untuk
menggunakan Ilmu Akuntansi dalam mencari kebenaran soal sesuatu (rasa ingin tahu tentang
transaksi masa lalu, nilai dari suatu perusahaan) merupakan kaitan dari aspek Ontologi
terhadap Ilmu Akuntansi.

Definisi akuntansi sendiri dari segi Ontologi juga sempat menuai perdebatan antara
Sterling (1975) dengan Stamp (1981). Stamp tidak setuju dengan tulisan Sterling yang
menyatakan bahwa akuntansi merupakan sebuah science. Stamp menyatakan bahwa ada
perbedaan mendasar antara pengukuran nilai dengan jarak. Dalam akuntansi yang diukur
adalah nilai, bukan jarak. Sehingga mengkomparasikan science dengan akuntansi adalah
sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan Sterling. Akuntansi adalah ilmu yang diciptakan,
sedangkan science sudah ada dan menunggu untuk ditemukan.

Dari segi Epistemologi, Ilmu Akuntansi menggunakan berbagai metode sesuai dengan
kebutuhannya. Contohnya seperti metode induktif digunakan pada saat pengambilan
keputusan dengan melihat laporan keuangan. Tidak hanya sampai disitu, metode deduksi,
dengan memperhatikan hal-hal khusus, dan melakukan asumsi untuk melakukan pengambilan
keputusan juga terjadi. Proses mendapatkan logika berpikir dengan memperhatikan laporan
keuangan juga hal yang bersinggungan antara akuntansi dengan Epistemologi. Adapun objek
telaah dari Epistemologi itu sendiri adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang,
bagaimana kita membedakan dengan lainnya dan situasi serta kondisi ruang dan waktu
mengenai suatu hal. Dalam hal pengambilan keputusan dengan melakukan pengamatan
terhadap laporan keuangan, kita dapat mengetahui bagaimana sesuatu itu datang, lalu dapat
membedakan satu dengan lainnya.

Sedangkan kaitan Ilmu Akuntansi sendiri dengan aspek Aksiologi merupakan hal
yang cukup rumit. Seperti yang kita ketahui, Aksiologi adalah pembahasan dari filsafat yang
membahas kegunaan dari sebuah ilmu, sejauh apa ilmu dapat digunakan dan erat kaitannya
dengan etika dan estetika dalam penggunaan ilmu tersebut.

Ilmu Akuntansi sendiri sangat berguna dalam perkembangan peradaban manusia.


Kemajuan teknologi yang terjadi pada peradaban manusia sendiri sangat erat kaitannya
dengan penggunaan Ilmu Akuntansi. Ilmu Akuntansi sendiri juga dapat dipergunakan dengan
cara yang salah, contohnya ketika seorang akuntan dengan pengetahuan tentang akuntansi
yang luas melakukan fraud. Di zaman yang modern ini, penggunaan dari Ilmu Akuntansi
sendiri semakin berkembang. Banyak cabang profesi yang dilahirkan dari Ilmu Akuntansi itu
sendiri. Namun begitu, tidak sedikit juga orang yang melakukan kecurangan dengan
pengetahuan akuntansi yang dimilikinya.

Beberapa hal yang diciptakan dari penggunaan Ilmu Akuntansi sendiri juga
membantu perkembangan peradaban manusia, seperti terciptanya kebijakan pajak dan
kebijakan ekonomi sehingga peradaban manusia semakin maju.

III. Kesimpulan dan Saran

Dari uraian mengenai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi diatas serta kaitannya
dengan Ilmu Akuntansi, dapat disimpulkan bahwa:

1. Akuntansi bersinggungan dengan aspek Ontologi dikarenakan keinginan manusia


mendorong terciptanya Ilmu Akuntansi dari yang tidak ada (karena Ilmu Akuntansi
merupakan hal yang diciptakan) menjadi ada.

2. Akuntansi juga bersinggungan dengan aspek Epistemologi dikarenakan metode dari


Epistemologi (yaitu metode induksi dan deduksi) sangat digunakan dalam
penggunaan Ilmu Akuntansi itu sendiri.
3. Terakhir dalam aspek Aksiologi, Ilmu Akuntansi dapat dikatakan bersinggungan
karena dikatakan bahwa Aksiologi mempertanyakan sejauh mana suatu ilmu dapat
dipergunakan, dan terbukti perkembangan peradaban masih dapat menerima Ilmu
Akuntansi itu sendiri.

Adapun saran yang dapat disampaikan ialah bahwa ilmu itu seperti pedang bermata
dua. Sebesar apapun ilmu yang dimiliki jika penggunaannya tidak dipergunakan seperti
sebagaimana seharusnya, maka nilai etika dari penggunaan ilmu tersebut menjadi tidak baik.
Namun hal ini, tergantung dari manusianya masing-masing. Maka penggunaan ilmu itu
sendiri harus disandingi dengan norma-norma yang terdapat pada agama karena sebagian
besar norma agama mengandung nilai etika yang tinggi. Maka benar adanya perkataan yang
menyatakan bahwa, “Ilmu lumpuh tanpa agama, sedangkan agama buta tanpa ilmu.”

Daftar Referensi

Ash-Shadr, Muhammad Baqir. Falsafatuna terhadap Belbagai Aliran Filsafat Dunia, Cet.
VII; Bandung: Mizan , 1999.

Bakker, Anton. Ontologi dan Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-Dasar
Kenyataan, Cet. VII: Yogyakarta: kanisius, 1997.

Firth, Rodric. Encyclopedia Internasional, Phippines: Gloria Incorperation, 1972.

Gazalba, Sidi. Sistematika Filsafat Buku: IV, Jakarta: Bulan Bintang, t.th.

Hamersma, Harry. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998.

Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat, Cet. V; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.

Salam, Burhanuddin. Logika Material Filsafat Materi, Cet: I; Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat
Ilmu, Cet. XIII; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997.

Syafii, Inu Kencana. Pengantar Filsafat, Cet. I; Bandung: Refika Aditama, 2004.

Tim Penulis Rosdakarya, Kamus Filsafat, Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.