Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TERMODINAMIKA

KESETIMBANGAN UAP-CAIR

Kelompok : 3

Dhika Artasya P. (1731410061)

Fariha Afidati (1731410004)

Fitatul Wahyu Q. (1731410056)

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2018
Kesetimbangan Uap-Cair

Tanggal Percobaan : 10 Mei 2018

1. Tujuan
a. Mahasiswa dapat menunjukkan hubungan antara konsentrasi larutan, komposisi uap
dengan suhu pada kondisi kesetimbangan uap-cair sistem biner.
b. Mahasiswa dapat mempraktekkan percobaan distilasi sederhana.
c. Mahasiswa dapat menghitung komposisi larutan berdasarkan indeks bias.

2. Variabel
1. Variable bebas : Volume
2. Variable control : Larutan etanol-air
3. Variable terikat : Suhu dan Indeks bias larutan

3. PROSEDUR KERJA
a. Daftar Alat
1. Tabung reaksi 10 buah
2. Pipet ukur 25 mL
3. Boulp Pipet
4. Corong kaca
5. Gelas Ukur 100 mL 1 buah
6. Pipet tetes 1 buah
7. Refraktometer.
8. Alat destilasi 1 set
b. Daftar Bahan
1. Etanol Teknis 200 mL
2. Aquadest
c. Skema Kerja

Mengalirkan air dingin pada


Mengisi tabung boiler dengan
kondensor dan memastikan
etanol (200 mL).
semua valve tertutup.

Menghubungkan power source


Menutup tabung boiler dengan
ke daya AC dan mengatur pada
plug termokopel.
75 V.

Mengambil sampel pada


Mencatat suhu konstan saat masing-masing valve (Destilat
tabung sampel mulai terisi. dan Residu) dan menganalisa
indeks bias dengan
refraktometer.

Menambahkan 50 mL akuadest Menambahkan 50 mL akuadest


ke dalam boiler. ke dalam boiler.

Mengulangi langkah
Mengambil sampel baru dan
sebelumnya (penambahan air
menganalisis sampel
dan analisa sampel) hingga
menggunakan refraktometer.
volume air total 20 mL
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Data Pengamatan

Tabel 4.1 : Indeks bias destilat dan residu

Indeks bias
No. Suhu ( ºC)
Destilat residu

1 65,5 1,329 1,329


2 72,6 1,338 1,332
3 70 1,334 1,34
4 80,1 1,336 1,339
5 83,7 1,336 1,337

b. Data Perhitungan

Tabel 4.2 : Hasil perhitungan konsentrasi dan fraksi mol destilat dan residu

Konsentrasi Etanol (%v/v) Fraksi mol


No. Suhu ( ºC)
Destilat Residu Destilat Residu

1 65,5 3,17% 3,17% 0,010027 0,010027

2 72,6 12,07% 1,63% 0,040697 0,005088

3 70 4,97% 15,85% 0,015913 0,055049

4 80,1 8,44% 13,94% 0,027712 0,047684

5 83,7 8,44% 10% 0,027712 0,034054


90
Destilat/Vapor
80 y = -20286x2 + 1314,7x + 61,175
70 R² = 0,612
Residu/Liquid
60 y = -51049x2 + 2892,4x + 39,972
R² = 0,9055 Destilat
50
Residu
40
Poly. (Destilat)
30 Poly. (Residu)
20

10

0
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06

Kurva 4.1 : Kesetimbangan uap cair larutan air-etanol


PEMBAHASAN (Dhika Artasya Pratama)

Pada percobaan ini dilakukan pengukuran kesetimbangan uap-cair. Kesetimbangan uap-


cair adalah kondisi dimana liquid dan gasnya berada pada kesetimbangan satu sama lain, kondisi
dimana kecepatan evaporasi sama dengan kecepatan kondensasipada level molekuler.
Kesetimbangan dari proses tersebut digambarkan dalam bentuk grafik kurva yang menunjukkan
perubahan fraksi mol dari cairan dan uap terhadap temperatur. Kurva ini didasarkan pada teori
fasa gibbs dimana derajat kebebasan berupa variabel ubahan dapat diubah bergantung pada
komposisi serta fasa pada proses.

Grafik menunjukkan temperatur saat kesetimbangan sesuai dengan fraksi mol yang
terkandung pada campuran, baik dalam cairan maupun uap. Dalam kesetimbangan fraksi mol
yang menguap dan yang teruapkan akan berbeda hingga mencapai suatu titik yang disebut
azeotrop. Titik ini merupakan campuran 2 atau lebih cairan dimana komponennya tidak dapat
dipisahkan dan ditandai dengan fraksi mol baik dalam kondisi cair maupun kondsi uap bernilai
sama.

Percobaan dilakukan dalam satu rangkaian ebulliometer yaitu suatu rangkaian yang
berfungsi mencatat titik didih dari suatu cairan yang berada dalam kesetimbangan uap-cair.
Rangkaian ini terdiri atas boiler yang disertai elemen pemanas dan terhubung power supply DC
serta rangkaian destilasi dengan kondensor refluks yang berfungsi mengubah uap kembali
menjadi bentuk cair. Larutan awal etanol dimasukkan ke boiler lalu ditentukan titik didih (saat
terlah setimbang) dan dilakukan penambahan air untuk mendapatkan beragam konsentrasi. Dari
rangkaian ini dapat diambil sampel dari cairan dan uap yang kemudian dianalisis.

Sampel yang diperoleh dari hasil destilasi adalah berupa sampel campuran saat berfasa
cair dan saat berfasa uap (yang telah dikondensasi menjadi cair). Sampel ini kemudian dianalisis
menggunakan refraktometer. Refraktometer adalah sebuah alat yang berfungsi mengukur indeks
bias suatu larutan. Data indeks bias memiliki relasi dengan kadar zat terlarut dalam suatu larutan
dan dari hubungan tersebut dapat diperoleh suatu fungsi yang menunukkan hubungan antara
konsentrasi dengan indeks bias suatu larutan. Pada percobaan larutan yang digunakan adalah
campuran dari etanol dan air. Sebelum menganalisa sampel, harus dtentukan dulu suatu fungsi
yang menunjukkan hubungan indeks bias dengan konsentrasi menggunakan larutan etanol
standar. Pada percobaan sudah terdapat kurva larutan standar etanol sehingga tidak perlu
dilakukan pembuatan kurva lagi. Dari kurva tersebut sampel dapat dianalisa dan dicari nilai
konsentrasi serta fraksi mol larutan.

Hasil yang didapat adalah berupa kurva yang menunjukkan perubahan fraksi mol
terhadap suhu dalam bentuk kurva kesetimbangan uap-cair berikut :
90
Destilat/Vapor
80 y = -20286x2 + 1314,7x + 61,175
70 Residu/Liquid R² = 0,612
60 y = -51049x2 + 2892,4x + 39,972 Destilat
50 R² = 0,9055
Residu
40
Poly. (Destilat)
30
20 Poly. (Residu)
10
0
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06

Dari kurva tersebut terlihat bahwa lengkungan menunjukkan deviasi postif terhadap hukum roult
karena terdapat suatu titik azeotrop di tengah kedua kurva. Titik azeotrop terdapat sekitar suhu
80ºC dengan fraksi mol di sekitar 0,023. Deviasi positif yang terjadi pada larutan ini disebabkan
oleh gaya tarik antarmolekul heterogen lebih kuat daripada molekul homogen sehingga tidak
dapat dipisahkan melalui pemanasan. Kurva ini memiliki bentuk deviasi tidak sesuai dengan
terori dalam literatur yang mengatakan bahwa campuran etanol dengan air memiliki deviasi
positif. Hal ini bisa disebabkan oleh berberapa faktor kesalahan seperti kesalahan pengukuran
suhu, larutan yang tidak persis tercampur, ataupun kesalahan dalam pengukuran indeks bias.
Selain itu data yang diperoleh tidak didapatkan hasil yang maksimal yaitu berupa kurva lengkap
dikarenakan hanya dilakukan pada berberapa tingkat konsentrasi saja. Diharapkan pada
praktikum selanjutnya lebih memperhatikan ketelitian dalam pengamatan maupun perhitungan.
5. DAFTAR PUSTAKA

Balzhiser, dkk. 1972. Chemical Engineering Thermodynamics


D.S., Syahidin. Kesetimbangan Uap-Cair
Smith, J., Van Ness, H. C. 2005. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics
Suhartim Profiyanti H., dkk. 2017. Praktikum Thermodinamika Teknik Kimia
Yunus, A. Cengel, dkk. Thermodynamics: An Engineering Approach

6. LAMPIRAN
a. Contoh Perhitungan

I. Perhitungan konsentrasi larutan etanol


Fungsi grafik kurva standar indeks bias terhadap konsentrasi :
𝑦 = −0,033𝑥 2 + 0,062𝑥 + 1,331

Data 1 :
Indeks bias = y = 1,332
1,332 = −0,033𝑥 2 + 0,062𝑥 + 1,331
0 = −0,033𝑥 2 + 0,062𝑥 − 0,001
𝒙 = 𝟎, 𝟎𝟏𝟐𝟕 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑥 = 1,86252

Konsentrasi larutan : 1,627%

II. Perhitungan fraksi mol etanol dalam larutan

Misal volume larutan : 100 mL Volume air dalam larutan :


Volume etanol dalam larutan : Vair = Vtotal - Vetanol
Vetanol = Vtotal x Konsentrasi Vair = 100 mL - 1,627 mL
Vetanol = 100 mL x 1, 627% Vair = 98,373 mL
Vetanol = 1,627 mL
Massa etanol dalam larutan : Massa air dalam larutan :
metanol = Vetanol x ρetanol mair = Vair x ρair
metanol = 1,627 mL x 0,789 g/mL mair = 98,373 mL x 0,997 g/mL
metanol = 1,283703 g mair = 98,077881 g

Mol etanol dalam larutan : Mol air dalam larutan :


netanol = metanol/BM etanol nair = mair/BM air
netanol = 1,283703/46,07 nair = 98,077881/18
netanol = 0,027864185 mol nair =5,448771167 mol

Fraksi mol etanol dalam larutan :


Xetanol = netanol/ netanol + nair
Xetanol = 0,027864185 mol / 0,027864185 mol + 5,448771167 mol
Xetanol = 0,027864185 mol / 5,476635352 mol
Xetanol = 0,005087829

b. Gambar

Gambar 6.1 : Kurva standar etanol-air Gambar 6.2 : Ebulliometer


Gambar 6.3 : Refraktometer

Gambar 6.4 : Pengamatan indeks bias