Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

EKOLOGI HEWAN
KERAGAMAN JENIS HERPETOFAUNA NOKTURNAL DI KAWASAN
HUTAN ERIA
KECAMATAN SINGKAWANG TIMUR

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman jenis herpetofauna di Indonesia boleh jadi merupakan
yang terbesar di dunia, tetapi yang patut dipertimbangkan ialah penelitian
herpetofauna di Indonesia masih lambat dibandingkan dengan negara tetangga.
Jumlah jenis herpetofauna di Indonesia apabila dibandingkan dengan jumlah jenis
di seluruh Asia Tenggara dalam kurun 70 tahun telah merosot dari 60% menjadi
50%.2 Jenis reptil dari tahun 2000 hingga 2004 tercatat 271 spesies baru yang
ditemukan.5 Keberadaan hutan yang semakin memprihatinkan, menyebabkan
habitat herpetofauna semakin berkurang. Kerusakan habitat yang disebabkan oleh
hilangnya vegetasi telah banyak meyebabkan dampak terhadap herpetofauna.
Jumlah herpetofauna terancam menurut International Union for Conservation of
Nature (IUCN) Red List of Threatened Species meningkat dramatis dari tahun ke
tahun (Iskandar dan Erdelen, 2006).
Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang memiliki kawasan
hutan hujan tropis dengan tingkat keanekaragaman jenis tergolong tinggi di dunia
(Tahan Uji 2004). Keanekaragaman flora dan fauna di hutan hujan tropis di
Kalimantan tercermin dari kekayaan jenis tumbuh-tumbuhannya, yang berupa
pohonan, semak belukar, perdu, tanaman merambat, epifit (jenis tanaman anggrek
yang hidup menempel pada tanaman lain), lumut, jasad renik, ganggang dan jamur,
serta jenis-jenis faunanya (Kustiwi, 2015).
Jenis-jenis fauna yang sangat menarik untuk dipelajari ialah herpetofauna,
yakni untuk kelompok amfibi dan reptil. Hal ini dikarenakan keduanya merupakan
hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti suhu dan
kelembaban maupun faktor lainnya. Selain itu hewan tersebut memiliki habitat dan
cara hidup yang hampir sama. Contoh umum dari reptil yaitu ular, kadal dan buaya,
sedangkan hewan diklasifikasikan sebagai amfibi misalnya, katak dan salamander
(BAPPENAS, 2003). Herpetofauna juga memiliki peranan penting dalam menjaga
keseimbangan ekosistem, karena sebagian besar herpetofauna berperan sebagai
predator pada tingkatan rantai makanan di suatu ekosistem. Amfibi dan Reptil dapat
dijumpai hampir di semua tipe habitat, dari hutan ke gurun sampai padang rumput
tetapi beberapa jenis Amfibi maupun Reptil yang hanya dijumpai pada tipe habitat
spesifik tertentu sehingga baik dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan
lingkungan (NRCS 2006).
Jenis herpetofauna hidup di habitat yang lembab dan dekat dengan sumber
air tawar seperti sungai maupun danau. Riam Eria merupakan salah satu obyek
wisata yang memiliki suhu yang cocok untuk area kehidupan jenis herpetofauna
karena memiliki air yang jernis, kelembaban yang tinggi. Menurut Micacchion
(2004) curah hujan dan kelembaban yang tinggi serta kondisi danau yang selalu
tergenang air merupakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan herpetofauna. Objek
wisata Riam Eria memiliki hutan tembawang berupa perkebunan karet, durian
maupun tanaman lainnya. Pembukaan lahan untuk perkebunan ini akan
mnyebabkan penyempitan Kawasan di wilayah tersebut. Hal ini dapat
mempengaruhi keberadaan herpetofauna yang ada di sekitarnya. Sehingga sangat
penting untuk mengetahui informasi keberadaan herpetofauna ini dengan cara
melihat keanekaragamannya.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada praktikum lapangan ini yaitu bagaimana
keanekaragaman spesies herpetofauna dan jumlah individu yang ditemukan di
Riam Eria Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kalimantan
Barat.

1.3 Tujuan
Tujuan dilakukan praktikum ini ialah untuk mengetahui tingkat
keanekaragaman spesies herpetofauna dan jumlah individu yang ditemukan di
Riam Eria Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kalimantan
Barat.

1.4 Manfaat
Manfaat yang didapatkan dari praktikum ini ialah memberikan informasi
mengenai keanekaragaman spesies dan jumlah individu herpetofauna yang terdapat
di Riam Eria Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kalimantan
Barat sehingga dapat digunakan dalam usaha pelestarian atau konservasi,
pengelolaan, pemanfaatan serta perlindungan herpetofauna dimasa mendatang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keanekaragaman Herpetofauna


Keanekaragaman hayati merupakan variabilitas antar makhluk hidup dari
semua sumber daya, termasuk di daratan, ekosistem perairan dan kompleks
ekologis termasuk juga keanekaragaman dalam spesies di antara spesies dan
ekosistemnya. Sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka marga
satwa, taman nasional, hutan lindung, dan sebagian lagi untuk kepentingan
budidaya plasma nutfah yang dialokasikan sebagai kawasan yang dapat memberi
perlindungan bagi keanekaragaman hayati (Arief, 2001).
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi setelah Brazil.
Keanekaragaman hayati yang dimiliki karena variasi ekosistem dan daerah vegetasi
yang dimiliki oleh alam Indonesia (Gautama et al. 2000). Berdasarkan data
BAPPENAS (2003) dokumen Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan
(IBSAP) tingginya keanekaragaman flora dan fauna yang ada di Indonesia disebut
juga dengan istilah megadiversity dengan total kurang lebih 38.000 spesies dengan
55% dari spesies tersebut adalah jenis yang endemik. Contoh fauna yang memiliki
keragaman yang cukup tinggi ialah herpetofauna. Spesies reptil secara keseluruhan
adalah urutan keempat didunia yaitu sebanyak 7,3% (511 spesies, 150 endemik),
sementara amfibi (270 spesies, 100 endemik) diurutan keenam. Berdasarkan data-
data yang ada, terdapat tiga pulau besar yang menyimpan biodiversitas dan
endemisitas yang tinggi, yakni Papua, Kalimantan dan Sumatera.

2.2 Herpetofauna
Herpetofauna berasal dari kata “herpeton” yaitu kelompok binatang melata
dengan anggota amfibi dan reptil. Berdasarkan habitatnya yang serupa, sama-sama
vertebrata ektotermal, dan metode pengamatan yang serupa, pada saat ini amfibi
dan reptil dimasukkan ke dalam satu bidang ilmu herpetologi (Kusrini, 2008).
Meskipun amfibi dan reptil dimasukkan ke dalam satu bidang kajian, mereka tetap
organisme yang berbeda. Reptil memiliki kulit bagian luar (integumen) yang
ditutupi oleh sisik kedap air, dimana memungkinkannya untuk tidak bergantung
sepenuhnya terhadap air. Sebaliknya amfibi memiliki kulit yang sangat permeabel
sehingga mereka harus bergantung sepenuhnya pada air (Paul and Hogan, 2008).
Herpetofauna merupakan kelompok hewan melata, anggota dari kelompok
ini adalah Amfibi dan reptil. Amfibi dan reptil merupakan hewan yang sering
disebut berdarah dingin. Istilah ini kurang tepat karena suhu bagian dalam yang
diatur menggunakan perilaku mereka seringkali lebih panas daripada burung dan
mamalia terutama pada saat mereka aktif. Amfibi maupun reptil bersifat ektoterm
dan poikiloterm yang berarti mereka menggunakan sumber panas dari lingkungan
untuk memperoleh energi (Kusrini et al. 2008).
Herpetofauna sendiri memiliki peranan penting dalam ekosistem, yaitu
secara ekologi maupun ekonomi antaralain yaitu peran penting dalam ekosistem
dan merupakan bioindikator lingkungan, merupakan predator hama dan serangga
yang merugikan manusia (Duelman dan Trueb, 1976), merupakan salah satu hewan
eksotik dan komoditas ekspor (Kusrini dan Alford, 2006).

2.3 Amfibi
Amfibi merupakan satwa poikilotherm atau ektotermik yang berarti amfibi
tidak dapat menggunakan proses metabolisme di dalam tubuhnya untuk dijadikan
sebagai sumber panas, tetapi amfibi memperoleh sumber panas dari lingkungan
untuk mendapatkan energi. Oleh karena itu amfibi mempunyai ketergantungan
yang tinggi terhadap kondisi lingkungan (Mistar 2003).
Amfibi memiliki kulit berglandula yang halus tanpa sisik dan dua pasang
tungkai atau berkaki empat Pada saat dewasa ekor yang ada pada Ordo Anura hilang
dan kepala langsung bersambung dengan tubuh tanpa leher yang bisa mengerut
seperti penyu, serta tungkainya berkembang dengan kaki belakang lebih panjang
(Goin, Goin & Zug 1978).
Amfibi terbagi dalam 3 (tiga) ordo yaitu Urodela (Salamander),
Gymnophiona (Sesilia) dan Anura (katak dan kodok). Ordo Urodela (Salamander)
merupakan kelompok Amfibi yang berekor. Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh
memanjang, mempunyai anggota gerak dan ekor serta tidak memiliki tympanium.
Urodela memiliki 3 sub ordo dan 9 famili dengan terdapat kurang lebih 400 jenis
di seluruh dunia, tetapi tidak terdapat anggota jenis yang ditemukan di indonesia.
Daerah persebaran terdekat adalah Vietnam, Laos dan Thailand.
Ordo Gymnophiona atau dikenal dengan nama Sesilia, terdiri dari 34 genus
dan 5 (lima) famili, terdapat 163 jenis atau 3,5 % dari seluruh jenis Amfibi. Jenis
ini sulit dijumpai karena hidup di sungai-sungai kecil maupun besar, pada
perkembangannya saat stadium larva terdapat sirip pada bagian ekor dan kemudian
akan mereduksi setelah dewasa kemudian hidup dalam liang-liang tanah (Mistar
2008). Satwa ini dianggap langka, empat dari tujuh suku dikenal secara luas, hanya
salah satunya, yaitu Ichtyophiidae, yang telah tercatat di Asia Tenggara (Iskandar
1998).
Ordo Anura (katak dan kodok), merupakan Amfibi yang terbesar dan sangat
beragam, terdiri lebih dari 4.100 jenis katak dan kodok. Katak dan kodok berbeda
dari ciri katak yang memiliki kulit tipis dan halus, tubuh ramping, kaki yang lebih
kurus dan panjang. Kodok memiliki tubuh yang lebih pendek dan gemuk dengan
kulit kasar dan tertutup bintil-bintil. Warna katak bervariasi, dari hijau, coklat,
hitam, merah, oranye, kuning dan putih. Ukuran SVL (Snout Vent Length) Anura
berkisar dari 1-35 cm, tetapi kebanyakan berkisar antara 2-12 cm (Kusrini et al.
2008).

2.4 Reptil
Reptil berbeda dengan Amfibi yang tidak bersisik, seluruh Reptil
merupakan hewan bersisik dan telurnya mempunyai cangkang (Calcareous)
(Mistar 2008). Warna kulit pada reptil beragam dari warna yang menyerupai
lingkungannya sampai warna yang membuat reptil mudah terlihat. Terdapat
perbedaan ukuran dan bentuk maupun warna tubuh antara reptil jantan dan betina
dan sebagian reptil tidak tergantung pada air sehingga dapat bebas beraktifitas di
daratan. Reptil terbagi dalam 4 ordo yaitu ordo Rhyncocephalia (Tuatara),
Crocodylia (Buaya), Testudinata (Kura-kura dan penyu), Squamata (Ular dan
kadal).
Reptil bernapas dengan paru-patu. Paru-parunya ada dua buah, kiri dan
kanan. Pada ular, paru-paru sebelah kiri umumnya rudimeter, sehingga tampak
hanya ada satu paru-paru yang sangat panjang (Van Hoeve 2003). Reptil
mempunyai peredaran darah ganda. Dalam sekali beredar, darah dua kali melewati
jantung. Pertama-tama paru-paru, disebut peredaran darah kecil, yang ke seluruh
tubuh disebut peredaran darah besar (Mahardono 1980).
Indonesia memiliki tiga dari keempat ordo, yaitu ordo Testudinata,
Squamata dan Crocodylia sedangkan ordo Rhyncocephalia merupakan Reptil
primitif yang terdiri dari satu jenis dan hanya terdapat di Selandia Baru. Ordo
Squamata, dapat ditemukan di tipe habitat terrestrial, arboreal dan juga aquatik.
Ordo ini dibagi lebih lanjut menjadi tiga sub-ordo, yaitu Sauria yang mencakup
Kadal (Lacertilia), Amphisbaenia, dan Serpentes (Ophidia) yang mencakup Ular.
Kadal merupakan kelompok terbesar dalam reptil. Kadal terdiri dari 3,751 jenis
dalam 383 genus dan 16 famili, atau 51% dari seluruh jenis reptil. Amphisbaenia
terdiri dari empat famili yang kemudian dibagi menjadi 21 genus dan 140 jenis,
atau sekitar 2% dari seluruh reptil. Ular atau Serpentes, terdiri dari 2,389 jenis
dalam 471 genus dan 11 famili, atau sekitar 42% dari seluruh jenis Reptil (Kusrini
et al. 2008).

2.5 Habitat Herpetofauna


Habitat adalah kawasan yang terdiri dari komponen fisik (antara lain : air,
udara, garam mineral, tempat berlindung dan berkembang biak), maupun biologi
(antara lain : sumber pakan. jenis satwaliar lainnya) yang merupakan suatu kesatuan
dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiak satwalia terscbut
(Alikodra 1990). Iskandar (1998) membagi amfibi berdasarkan habitatnya, yaitu
habitat yang berkaitan dengan kegiatan manusia, di atas pepohonan, habitat yang
terganggu, sepanjang sungai atau air mengalir dan hutan primer serta hutan
sekunder.
Amfibi dan reptil tidak hanya tergantung pada faktor fisik dari
lingkungannya, tetapi juga dari interaksi dengan faktor biologinya yaitu pakan,
pesaing, predator dan parasit (Goin dkk 1978). Reptilia hidup diberbagai tipe
habitat yakni terestrial (pada semak belukar dan tanah), akuatik (rawa, sungai,
danau bahkan laut), semi akuatik dan arboreal (di atas pohon) (Jenkins 2002).
Penyu merupakan satwa semi akuatik, dia hidup dilaut dan hanya naik kepantai
untuk bertelur (Iskandar 2000). Amfibi merupakan satwa yang hidupnya selalu
berasosiasi dengan air, walaupun demikian, amfibi mendiami habitat yang sangat
bervariasi, dan tergenang di bawah permukaan air, di lumpur dan kolam sampai
yang hidup di puncak pohon yang tinggi (Ommaney 1974 dan Iskandar 1998).
Paling tidak tercatat satu spesies yang diketahui mampu hidup di air payau, yaitu
F. cancrivora (Iskandar 1998).
Amfibi termasuk binatang berdarah dingin yang suhu tubuhnya mengikuti
suhu lingkungannya, namun untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum suhu
yang dibutuhkan antara 26°C-33° C (Berry 1975). Reptilia hidup aktif pada suhu
diantara 20°C-40° C (Van Hoeve 2003). Reptil termasuk satwa ektotermal karena
memerlukan sumber panas eksternal untuk melakukan kegiatan metabolismenya.
Pada daerah yang terkena sinar matahari, reptil sering dijumpai berjemur pada pagi
hari untuk mencapai suhu badan yang dibutuhkan (Halliday dan Adler 2000).
Mistar (2008) menyatakan penggolongan untuk Amfibi dan Reptil dapat
berdasar pada tempat yang umum ditemukannya yaitu : 1) Akuatik, kelompok
hewan yang sepanjang hidupnya terdapat di perairan. 2) Arboreal, hewan yang
hidup di atas pohon dan berkembang biak di genangan air pada lubang-lubang
pohon atau cekungan lubang pohon, kolam-kolam, danau, sungai, pada beberapa
jenis Amfibi arboreal sering membungkus telur dengan busa untuk menjaga
kelembaban, menempel pada daun atau ranting yang dibawahnya terdapat air. 3)
Terrestrial, kelompok hewan yang sepanjang hidupnya di atas permukaan tanah,
jarang sekali di jumpai di tepi sungai, memanfaatkan genangan air dan kolam di
lantai hutan untuk meletakkan telur atau meletakkan telur diantara serasah yang
tidak berair tetapi mempunyai kelembaban tinggi dan stabil. 4) Fossorial, hewan
yang hidup dalam lubang-lubang tanah.
2.6 Manfaat dan Peranan Herpetofauna
Herpetofauna memiliki berbagai peranan bagi manusia. Peranan tersebut
tidak terbatas secara ekologis tetapi juga secara ekonomi. Fungsi ekonomi katak
terutama sebagai sumber pangan/protein hewani. Terdapat beberapa jenis katak
lokal yang telah diperdagangkan baik untuk keperluan domestik maupun ekspor,
antara lain katak sawah (F. cancrivora), katak batu (L. macrodon) dan katak rawa
(F. limnocharis). (Kusrini & Alford 2006) Amfibi juga bisa diperdagangkan
sebagai hewan peliharaan (Iskandar 1998 ).
Amfibi dari segi ilmiah juga berguna bagi manusia sebagai bahan percobaan
di bidang medis dan kimia (Iskandar 1998). Keberadaaan spesies amfibi dapat
dijadikan bioindikator untuk mengetahui tingkat pencemaran lingkungan
(Mulyaniati 1997 dan Iskandar 1998). Begitu juga dengan reptilia, banyak jenis
reptil diperdagangkan untuk dijadikan hewan peliharaan. Beberapa jenis ular dan
buaya diambil kulitnya untuk dijadikan sebuah produk seperti tas, ikat pinggang
bahkan topi. Di China, ular dan labi-labi biasa diperdagangkan untuk dikonsumsi
(Mardiastuti & Soehartono 2003).
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Ekologi Hewan tentang keanekaragaman jenis
herpetofauna nokturnal dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 April 2018 yang berlokasi
di Riam Eria, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Singkawang.
Pelaksanaan Praktikum Lapangan dimulai pada pukul 19.50-23.50 WIB kemudian
dilanjutkan dengan mengidentifikasi jenis-jenis herpetofauna di Laboratorium
Zoologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Tanjungpura.
3.2 Deskripsi lokasi
Riam Eria secara administratif terletak di Desa Nyarumkop, Kecamatan
Singkawang Timur, Kota Singkawang, Propinsi Kalimantan Barat. Daerah ini
terletak di sisi barat Kalimantan Barat dan terletak 145 km ke arah utara dari Kota
Pontianak. Bagian timurnya berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang. Bagian
barat dan utara berbatasan dengan Laut Natuna, sedang bagian selatan berbatasan
dengan Kabupaten Mempawah.
Riam Eria merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki air yang
jernih dan besih, air riam ini berasal dari pegunungan di sekitar bukit Poteng. Secara
geografis Riam Eria tersusun atas hutan sekunder yang telah dimanfaatkan warga
sekitar untuk perkebunan
Air sungai Eria sangat jernih, segar, dan bersih. Cocok untuk mandi. Anda
dapat menikmati kesegaran air Eria dengan berendam di sungai tersebut. Badan
Anda yang penak, akan terasa segar saat berendam di sungai tersebut. Air sungai
tersebut berasal dari pegunungan di sekitar gunung Poteng.

Gambar 3.2.1 Peta Lokasi


3.3 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah stick grab,
thermohygrometer, thermometer raksa, head lamp (senter) dan spuit. Sedangkan
bahan yang digunakan ialah alkohol 70% dan formalin 40%.
3.4 Metode
3.4.1 Pengambilan Sampel
Metode pengumpulan data menggunakan metode survey perjumpaan
visual/VES (Visual Encounter Survey) (Heyer, 1994). Dikombinasikan dengan
sistem jalur (transek sampling) yang peletakkannya dilakukan secara purposive
berdasarkan dua tipe habitat yaitu aquatik dan terestrial (Kusrini, 2008).
Sebelum penangkapan, dilakukan penentuan jalur habitat terestrial dan
akuatik, jumlah jalur yang dibuat sebanyak 3 jalur, untuk tipe habitat akuatik dibuat
1 jalur yaitu menyusuri riam. Sedangkan untuk tipe habitat teresterial dibuat 2 jalur
dengan pengamatan disepanjang badan sungai dan lebar dari badan sungai dengan
luar badan sungai berjarak 5 meter dari kanan badan sungai dan jalur kedua dibuat
pada habitat terestrial dengan panjang jalur sepanjang stasiun dan lebar ±10 meter,
peletakan jalur terestrial ini sejajar dengan jalur akuatik, pengamatan dilakukan
disepanjang jalur dengan melihat obyek yang tampak baik diserasah dan pohon.
Pengamatan dilakukan pada malam hari (pukul 19.50 – 23.50 WIB) tanpa
pengulangan. Individu yang ditemukan sebagian ditangkap dan dimasukkan dalam
kantong plastik untuk kepentingan identifikasi dan untuk organisme yang lain
hanya dihitung jumlahnya.
3.4.2 Pengukuran Faktor Lingkungan
Pengukuran parameter lingkungan dilakukan dengan cara mengukur
kelembaban dengan thermohigrometer, suhu udara dan air dengan thermometer dan
dicatat suhunya. Setelah itu dilakukan pengukuran pH pada sungai dengan
mencelupkan pH-meter ke dalam air
3.4.3 Identifikasi
Proses identifikasi dilakukan dengan cara melihat langsung karakter
morfologi dari sampel lalu mencocokannya dengan literatur seperti jurnal dan buku
The Field Guide of Frog of Borneo, The Amphibians of Java and Bali (Iskandar,
1998), The Amphibian Fauna of Peninsular Malaysia (Berry, 1975). Menurut
Iskandar (1998) untuk mengidentifikasi amfibi dapat dilihat dari beberapa ciri
morfologi seperti: bentuk tubuh, corak, lipatan dorsolateral, tympanum, moncong,
tonjolan kawin, selaput dan tonjolan antar ruas pada jari, ujung jari, alur
supraorbital, serta kelenjar paratoid dan Identifikasi jenis-jenis reptil yang
ditemukan diidentifikasi dengan menggunakan buku A phothographic Guide of
Snakes and Other Reptiles of Peninsular Malaysia, Singaphore, and Thailand,
Venomoues Snakes of Asia, dan 107+ Ular Indonesia. Menurut Yanuarefa et. al.,
(2012) untuk mengidentifikasi reptil dapat dilihat dari bentuk kepala (buaya),
bentuk cangkang/karapaks (kura-kura dan penyu), bentuk jari, corak, dan warna
tubuh (kadal), serta bentuk sisik, corak, dan ada tidaknya taring (ular) serta di
tambah dengan Journal of Herpetology.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil Praktikum Lapangan Ekologi Hewan yang dilaksanakan di kawasan
Riam Eria, data yang didapatkan adalah sebagai berikut:
4.1.1 Tabel Hasil Keanekaragaman Herpetofauna di Kawasan Riam Eria
No. Spesies Jumlah Pi Ln.Pi Pi.LnPi H' ID IE
1 Oligodon purpurascens 1 0,011111 -4,49981 -0,05 2,0722 0,000123 0,731396
2 Tropidophorus beccari 5 0,055556 -2,89037 -0,16058 0,003086
3 Cnemaspis kendalli 7 0,077778 -2,5539 -0,19864 0,006049
Cyrtodactylus
4 1
consobrinus 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
5 Gonocephalus grandis 3 0,033333 -3,4012 -0,11337 0,001111
7 Rhapdophis sp. 1 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
8 Hylarana megalonesa 36 0,4 -0,91629 -0,36652 0,16
9 Leptolalax gracillis 11 0,122222 -2,10191 -0,2569 0,014938
10 Leptolalax gracillis 6 0,066667 -2,70805 -0,18054 0,004444
11 Megophrys nasuta 1 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
12 Phrynoidis asper 1 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
13 Polypedates colleti 1 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
Polypedates
14 1
leucomystax 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
15 Ansonia spinolifer 8 0,088889 -2,42037 -0,21514 0,007901
16 Staurois natator 6 0,066667 -2,70805 -0,18054 0,004444
Cyrtodactylus
17 1
malayanus 0,011111 -4,49981 -0,05 0,000123
Jumlah 90 1 -55,6986 -2,0722 1

Keterangan: H’: Keanekaragaman


ID: Indeks Dominan
IE: Indeks Evenness

Anda mungkin juga menyukai