Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktek


Salah satu tujuan pendidikan program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Riau adalah mencetak tenaga kerja yang profesional. Untuk mencapai
tujuan tersebut tidaklah cukup jika mahasiswa hanya menerima pendidikan di
bangku kuliah yang berupa teori saja, untuk itu dalam upaya untuk memperluas
pengetahuan pada mahasiswa dan menambah pengalaman, diadakan suatu
program yaitu Kerja Praktek.
Hal ini sangat diperlukan untuk memperkenalkan dunia kerja yang
sebenarnya kepada mahasiswa, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan
memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja kepada mahasiswa. Dengan
demikian mahasiswa mempunyai bekal dan wawasan untuk terjun ke masyarakat.
Namun tidak mudah untuk mencapai hal tersebut, karena tidak terlepas dari
kesungguhan dan kreatifitas mahasiswa.
Latar belakang pemilihan proyek pekerjaan pondasi tiang bor ini karena
sesuai dengan ketentuan – ketentuan yang dibuat oleh Prodi Teknik Sipil, yaitu :
1. Harus merupakan grade 6
2. Nilai Proyek minimal sebesar 5 Milyar
3. Pembangunan Proyek minimal 3 lantai
Proyek ini juga menjadi salah satu penambah koleksi gedung pencakar
langit di kota Pekanbaru. Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa teknik sipil
sangat tertarik untuk mengetahui proses pekerjaan konstruksi gedung tersebut
khususnya tahapan pekerjaan pondasi tiang bor.

1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Adapun maksud dari Kerja Praktek yang kami laksanakan adalah untuk
memenuhi tugas studi sebagai mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Riau.

1
Tujuan dari Kerja Praktek ini adalah :
1. Memberikan pengalaman visual dan pengenalan tentang segala
sesuatu yang menyangkut kegiatan pembangunan fisik dengan
segala aspeknya sehingga mahasiswa mempunyai pengetahuan dan
pemahaman atas masalah – masalah tersebut.
2. Agar dapat membina kemampuan dan keterampilan mahasiswa
secara optimal dalam aspek pembahasan, kesimpulan, saran serta
kemampuan untuk menyampaikan dalam bentuk tulisan.
3. Mampu menerapkan teori – teori dan praktek yang pernah di dapat
sebelumnya serta membandingkan dengan lapangan.
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan menguasai jalannya pelaksanaan
suatu proyek baik secara teknis maupun non teknis.
5. Sebagai bekal mahasiswa untuk terjun dalam dunia kerja dan
membuka komunikasi dengan baik antara masyarakat yang
berkecimpung dalam dunia konstruksi.
6. Mendidik sikap mental dan disiplin kerja yang siap di bidang
konstruksi.

1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktek


Ruang Lingkup kerja praktek yang ditinjau oleh penulis pada pembangunan
Hotel Tangram berupa tinjauan pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang bor.
Kegiatan pengamatan ini dilakukan sejak tanggal 18 Februari 2014 sampai
dengan proses pembuatan laporan ini selesai.

1.4 Metode Pengumpulan Data


Menurut ahli metode pengumpulan data berupa suatu pernyataan tentang,
sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan seterusnya. Pengumpulan dilakukan untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian
(Gulo, 2002 ).
Metode pengumpulan data tersebut yaitu :
1. Studi Literatur

2
Yaitu studi perpustakaan dengan memaparkan dan menelaah buku-
buku teori dasar dan rumus-rumus serta tabel yang berkaitan dari
berbagai literatur.
2. Observasi
Yaitu dengan meninjau langsung dilapangan untuk mengetahui
kondisi pelaksanaan dan tata cara pengoperasian untuk
mendapatkan data-data yang lebih akurat dalam penyusunan
laporan.
3. Wawancara
Yaitu dengan melakukan konsultasi, berdiskusi dengan pelaksana
proyek di lapangan serta referensi pihak-pihak lain yang terlibat
dalam pelaksanaan proyek ini.

1.5 Sistematika Penulisan


Agar laporan ini lebih jelas dan mudah dimengerti, maka laporan ini harus
disusun dengan sistematika penulisan tertentu. Sistematika penulisan tersebut
adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi materi tentang latar belakang kerja praktek, tujuan dan manfaat
kerja praktek, ruang lingkup kerja praktek, metode pengumpulan data
dan sistematika laporan kerja praktek.
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK
Berisi materi tentang data umum proyek dan pelaksanaan proyek,
dimana tahap pelaksanaan proyek meliputi tahap perencanaan,
administrasi proyek, dan jenis pekerjaan.
BAB III TINJAUAN KHUSUS PROYEK
Pada bab ini berisi tentang laporan pelaksanaan dan pembahasan
pekerjaan dari tinjauan khusus kerja praktek yang dipilih, yaitu
pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang bor pada Proyek pembangunan
Hotel Tangram Pekanbaru.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

3
Berupa kesimpulan dan saran-saran penulis terhadap pelaksanaan
proyek secara umum.

4
BAB II
TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1 Latar Belakang Proyek


Sebagai Ibu Kota Provinsi, Pekanbaru mempunyai peranan utama sebagai
pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, dan sebagai pusat pelayanan
bagi kawasan di sekitarnya. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi
di Kota Pekanbaru membuat banyaknya para investor tertarik menanam modal di
Pekanbaru. Terlebih lagi dari pihak swasta juga terus ikut berpartisipasi dalam
pembangunan di Kota Pekanbaru. Salah satunya adalah pembangunan Hotel
Tangram yang berlokasi di Jalan Riau, Pekanbaru. Pembangunan hotel ini juga
dilatarbelakangi oleh aktivitas masyarakat di luar Pekanbaru yang tertarik
mengunjungi Pekanbaru untuk berwisata maupun berbisnis.
Proyek pembangunan Hotel Tangram yang terletak di Jalan Riau,
Pekanbaru terdiri dari pembangunan Hotel Tangram yang direncanakan 15 lantai.
Proyek Hotel ini akan diselesaikan mulai Januari 2014 sampai September 2015,
dana yang digunakan untuk pembangunan berasal dari dana pribadi. Pada proses
pembuatan pondasi ( bored pile ) menghabiskan dana sebesar Rp. 32.000.000.000
,- ( Tiga Puluh Dua Miliar Rupiah )
Pemilik (owner) berharap dengan dibangunnya Hotel Tangram ini akan
mendapatkan keuntungan yang besar dan mampu bersaing dengan Hotel-hotel
lainnya yang ada di Kota Pekanbaru.

2.2 Maksud dan Tujuan Proyek


Adapun tujuan proyek secara detail tidak dapat di identifikasi dari dokumen
– dokumen yang ada maka penulis mengasumsikan tujuan dari proyek ini adalah
sebagai berikut:
1. Mendapatkan keuntungan yang besar dan mampu bersaing dalam dunia
bisnis perhotelan di Kota Pekanbaru.
2. Menyediakan tempat atau memfasilitasi masyarakat untuk mengadakan
event dan kegiatan lainnya

5
3. Menyediakan fasilitas penginapan berbintang lima.
2.3 Lokasi dan Situasi Proyek
Situasi proyek adalah lahan kosong yang strategis dengan profil tanah yang
lumayan datar dan dikelilingi oleh perumahan warga. Lokasi proyek
Pembangunan Hotel Tangram hanya dapat diakses melalui satu jalan yaitu Jalan
Riau, Pekanbaru. Lokasi dan situasi ini dapat dilihat pada Gambar 2.3 di bawah
ini.

Lokasi Hotel
dan Area
Bagian Utara : Jalan Retail Jln
Bagian Barat : Riau
Riau No. 147
ruko dan jln Lili
Pekanbaru

Bagian Timur :
Ruko
Bagian Selatan :
Pemukiman
Warga

Gambar 2.1. Lokasi proyek


Sumber: Google Earth

2.4 Data Administrasi Proyek


Data Administrasi dari proyek pekerjaan pondasi tiang bor pada
Pembangunan Hotel Tangram sebagai berikut :
1. Nama Pekerjaan : Pekerjaan Pondasi Tiang Bor
2. Sumber Dana : Pribadi
3. Lokasi Pekerjaan : Jalan Riau no 147, Pekanbaru
4. Pemberi Pekerjaan (owner) : PT. HALLA MOHANA
5. Konsultan Perencana : PT. DAYA CREASI MITRAYASA
6. Konsultan Manajemen : PT. STADIN

6
7. Kontraktor Utama : PT. BAUER PRATAMA
(Pekerjaan Pondasi bor) INDONESIA
8. Nomor Kontrak : -
(Pekerjaan Pondasi bor)
9. Nilai Kontrak
(Pekerjaan Pondasi bor ) : Rp. 32.000.000.000 ,- (Tiga Puluh
Dua Milyar Rupiah)
10. Tanggal Mulai Kerja : Januari 2014 (Pekerjaan Pondasi
Bor)
11. Tanggal Akhir Kerja : Juli 2014 (Pekerjaan Pondasi Bor)
12. Mata Uang : Rupiah
13. Jenis Kontak : Unit Price (Harga Satuan)

2.5 Sistem Kontrak


Kontrak adalah perjanjian secara tertulis antara pemberi tugas dan
kontraktor dimana kewajiban masing-masing pihak diatur dalam pasal-pasal surat
perjanjian. Suatu kontrak mulai berfungsi pada waktu kontrak tersebut
ditandatangani. Kontraktor baru boleh bekerja secara fisik setelah ada SPMK
(Surat Perintah Mulai Kerja).
Sebelum penandatanganan kontrak, pembuatan kontrak pengadaan
barang/jasa melalui beberapa tahapan atau proses,.Dalam Keputusan Presiden
Nomor 80 Tahun 2003, terdapat 5 (lima) jenis Sistem Kontrak Pengadaan
Barang/Jasa, yaitu:
1. Kontrak LumpSum,
2. Kontrak Harga Satuan,
3. Kontrak gabungan LumpSum dan Harga Satuan,
4. Kontrak Persentase dan Kontrak Terima Jadi (Turn Key).
Sistem kontrak yang digunakan pada proyek pekerjaan pondasi tiang bor
adalah Harga satuan (Unit Price). Pemilik akan membayar sejumlah uang yang
telah disetujui kepada pihak kontraktor untuk unit pekerjaan yang telah
diselesaikan dalam satu proyek. Pembayaran biasanya dilakukan oleh pemilik

7
kepada kontraktor pada selang waktu yang telah ditentukan selama konstruksi
proyek tergantung pada pekerjaan yang telah diselesaikan berdasarkan bobot
pekerjaan.
Menurut Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah :
a. Pelelangan umum adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan
konstruksi/jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh
semua penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang
memenuhi syarat.
b. Pelelangan terbatas adalah metode pemilihan penyedia
barang/pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu
melaksanakan diyakini terbatas untuk pekerjaan yang kompleks.
c. Pelelangan sederhana adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa
lainnya untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,-
(lima miliar rupiah)
d. Pemilihan langsung adalah metode pemilihan penyedia pekerjaan
konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp.
5.000.000.000,- (lima miliar rupiah)
e. Seleksi Umum adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi
untuk pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Jasa
Konsultansi yang memenuhi syarat.
f. Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa
dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa.
Pelelangan yang dilaksanakan pada proyek pekerjaan pondasi tiang bor ini
adalah Pelelangan terbatas. Dalam pengerjaan pondasi tiang bor ini sebagai
kontraktor dilakukan dengan cara pelelangan terbatas yang diikuti oleh beberapa
perusahaan.

8
2.6 Manajemen Proyek
Manajemen proyek dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari
perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek oleh
para anggotanya dengan memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan.

2.6.1 Site plan rencana proyek


Pada proyek pekerjaan pondasi tiang bor pada pembangunan Hotel
Tangram sesuai dengan yang direncanakan pada site plan proyek pekerjaan
pondasi tiang bor Hotel Tangram seperti pada bab 3 (Gambar 3.4).

2.6.2 Pengendalian waktu pelaksanaan


Pengendalian waktu pelaksanaan proyek dilakukan dengan menggunakan
alat bantu jadwal pelaksanaan (time schedule). Pekerjaan apa yang harus
dikerjakan lebih dulu dan kapan harus dimulai dapat terlihat dengan jelas pada
time schedule, sehingga keterlambatan pekerjaan sebisa mungkin dihindari.
Manfaat dari time schedule adalah:
a) sebagai pedoman kerja bagi pelaksana terutama menyangkut batasan-
batasan untuk masing-masing pekerjaan;
b) sebagai alat koordinasi bagi pemimpin;
c) sebagai tolak ukur untuk kemajuan pekerjaan yang dapat dipantau
setiap saat dengan bantuan time schedule ini; dan
d) sebagai evaluasi tahap akhir dari setiap kegiatan pekerjaan yang
dilaksanakan.
Terjadinya keterlambatan pada saat pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang
bor ini terjadi dikarenakan oleh:
1. Adanya komplain dari masyarakat karena kebisingan
2. Kerusakan pada alat
3. Kasus Asap Riau
Upaya yang dilakukan oleh pihak kontraktor dalam menanggulangi
keterlambatan yang telah terjadi yaitu dengan menambahkan jam kerja pada

9
pekerjaan bored pile, jam kerja yang berlaku pada proyek ini dimulai dari jam
08:00 s/d 17:00, namun setelah adanya keterlambatan dari yang sudah
direncanakan,pekerja diwajibkan lembur hingga pukul 23:00 pada hari Jum’at dan
Sabtu.

2.6.3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


Pencegahan kecelakaan perlu diperhatikan di dalam menejemen konstrusi.
Tidak hanya keselamatan manusia tetapi juga terhadap kondisi kerja yang
mempengaruhi prestasi kerja dan pada akhirnya terhadap biaya proyek.
Secara umum ada beberapa prinsip dasar yang dapat dipergunakan pada
setiap lokasi pekerjaan, misalnya (sumber : dokumen Tim K3, 2014).
1. memakai mesin dan peralatan yang baik,
2. mempergunakan mesin/peralatan yang sesuai dengan instruksi
pembuatnya/pabriknya dan tidak membebani lebih dari kapasitasnya,
3. bekerja dengan teratur, hati-hati dan tidak simpangsiur,
4. meyakinkan diri bahwa semua instruksi harus diberikan secara singkat,
jelas dan mudah dimengerti,
5. tidak memperkenankan pekerja melakukan kegiatannya di tempat yang
berbahaya tanpa alat pelindung/pengaman yang tepat,
6. memakai pertimbangan yang logis sebelum menugaskan suatu aktivitas
kepada bawahan,
7. mengadakan check dan recheck, apakah semua instruksi yang diberikan
sudah ditaati,
8. Selalu memakai peralatan standar K3 di proyek seperti pakaian kerja,
sepatu kerja, kacamata kerja, penutup telinga, sarung tangan, helm,
masker, dan lain-lain.
Pada proyek ini aspek keselamatan kerja berjalan dengan baik. Hal ini
kami simpulkan dari pengamatan di lapangan dimana pekerja menggunakan helm
proyek, sepatu boot dan sarung tangan. Ditemukannya sepanduk tentang
pentingnya kesehatan dan kelamatan kerja (K3) dan rambu-rambu peringatan
tentang pentingnya K3.

10
2.7 Unsur-Unsur Pelaksana Proyek
Dalam suatu proyek pasti memerlukan sistem koordinasi yang efektif dan
efisien, yang bertujuan untuk mewujudkan kelancaran dan lebih terjaminnya
pelaksanaan suatu proyek.
Hubungan antar unsur-unsur dalam proyek pekerjaan pondasi tiang bor
dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini.

Owner
PT. HALLA MOHANA

Konsultan Perencana Konsultan MK Konsultan Pelaksana


PT. DAYA CREASI PT. STADIN PT. BAUER
MITRAYASA PRATAMA
Keterangan : Garis Perintah
Garis Koordinasi
Gambar 2.2. Hubungan Kerja Antara Unsur-Unsur Pelaksana Proyek

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa Owner hanya memberi


perintah kepada Konsultan Perencana, Konsultan Pelaksana dan Konsultan MK.
Konsultan pelaksana (Kontraktor) berkoordinasi dengan Konsultan MK.
Konsultan MK berkoordinasi dengan Konsultan perencana.
Sistem hubungan kerja antara unsur - unsur pelaksana proyek dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Antara Pemilik Proyek dengan Konsultan Pengawas
Hubungan antara Pemilik Proyek dengan Konsultan Pengawas mempunyai
ikatan kontrak. Konsultan Pengawas bertanggung jawab wajib melaporkan
kemajuan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas. Pemberi tugas memberi
imbalan berupa fee atas jasa pengawasan yang dilakukan oleh Konsultan
Pengawas.

11
2. Antara Pemilik Proyek dengan Kontraktor Pelaksana
Hubungan antara Pemilik Proyek dengan Kontraktor Pelaksana mempunyai
ikatan kerja kontrak. Untuk melaksanakan pekerjaan sebagaimana yang
disarankan oleh Pemilik Proyek, kontraktor memerlukan biaya sesuai
dengan perjanjian dalam kontrak yang telah disetujui oleh kedua belah
pihak. Biaya dapat diberikan oleh Pemberi Tugas dengan sistem
pembayaran sesuai dengan ketentuan yang termuat di dalam kontrak yang
telah ditandatangani.
3. Antara Pemilik Proyek dengan Konsultan Perencana
Hubungan antara Pemilik Proyek dengan Konsultan Perencana mempunyai
ikatan kontrak. Konsultan Perencana bertanggung jawab wajib
merencanakan pekerjaan kepada pemberi tugas. Pemberi tugas memberi
imbalan atas jasa pengawasan yang dilakukan oleh Konsultan Perencana.
4. Antara Konsultan Pengawas dan Kontraktor Pelaksana
Hubungan antara kedua belah pihak mempunyai ikatan kerja peraturan
pelaksanaan pekerjaan. Konsultan Pengawas mempunyai tugas untuk
mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan oleh Kontraktor,
sedangkan Kontraktor dapat mengkonsultasikan masalah-masalah yang
timbul di lapangan dengan Konsultan Pengawas.

Adapun tugas dan kewajiban pelaksana proyek dapat dijelaskan sebagai


berikut:
1. Pemilik Proyek (Owner)
Pemilik proyek adalah perorangan atau badan usaha baik swasta maupun
pemerintah yang memiliki sumber dana untuk membuat suatu bangunan
dan menyampaikan keinginannya kepada ahli bangunan agar dapat
dibuatkannya rancangan struktur dan rencana anggaran biayanya.
Adapun tugas-tugas dari owner atau pemilik adalah:
1. Menyediakan dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek,
2. Mengeluarkan surat perintah kerja kepada kontraktor mengenai
pembangunan proyek sesuai dengan dokumen kontrak,

12
3. Memerintahkan penambahan atau pengurangan pekerjaan suatu
proyek,
4. Menyetujui atau menolak perubahan suatu pekerjaan,
5. Menerima suatu pekerjaan apabila telah memenuhi persyaratan.

2. Konsultan Perencana
Sebagaimana telah disebutkan di atas, ahli-ahli bangunan yang menerima
pekerjaan dari pemilik proyek pada umumnya adalah tenaga-tenaga yang
dipimpin oleh arsitek atau insinyur yang dalam hal ini disebut sebagai
penasehat (konsultan) perencana.
Adapun tugas-tugas dari konsultan perencana secara umum adalah:
1. Membuat gambar kerja (bestek),
2. Membuat program kerja agar mudah dalam pelaksanaan pekerjaan,
3. Membuat semua persyaratan, administrasi, dan spesifikasi teknis,
4. Menganalisis semua permintaan owner untuk disesuaikan dengan
skema rancangan yang dibuat,
5. Menyediakan solusi untuk masalah yang terjadi dalam pelaksanaan
proyek.

3. Konsultan Pengawas
Konsultan pengawas adalah perusahaan/badan hukum yang ditunjuk oleh
owner untuk melaksanakan pengawasan pekerjaan di lapangan, selama
kegiatan pelaksanaan proyek berlangsung. Tujuannya adalah agar
pelaksanaan pekerjaan tidak menyimpang dari gambar kerja/bestek yang
telah ditetapkan.
Adapun tugas-tugas dari konsultan pengawas adalah:
1. Mengawasi dan memeriksa mutu pekerjaan kontraktor agar memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan,
2. Mengawasi dan menguji kualitas atau mutu bahan bangunan,
3. Menyiapkan dan menghitung kemungkinan terjadinya adanya
pekerjaan tambahan atau pekerjaan yang kurang,

13
4. Memberi teguran kepada kontraktor jika pelaksanaan pekerjaan di luar
dari spesifikasi gambar-gambar revisi,
5. Memeriksa gambar-gambar revisi,
6. Menyusun laporan harian, mingguan, dan bulanan terhadap hasil
pekerjaan yang dilakukan selama pengawasan.
4. Kontraktor
Kontraktor adalah rekanan peserta pelelangan yang berdasarkan hasil
penelitian panitia pelelangan dan pimpinan bagian proyek dianggap paling
sesuai untuk melaksanakan pekerjaan berdasarkan surat penunjukan dari
pimpinan bagian proyek.
Secara umum tugas-tugas dari kontraktor adalah:
1. Membuat metode kerja,
2. Menyiapkan tenaga kerja, peralatan bahan-bahan, dan segala sesuatu
yang digunakan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pekerjaan,
3. Melaksanakan pekerjaan berdasarkan keahlian dan pengalaman yang
dimiliki sesuai dengan gambar rencana yang dibuat oleh konsultan
perencana dan tidak keluar dari spesifikasi kerja yang telah disetujui,
4. Berkewajiban melaksanakan pekerjaan seperti yang telah
diinstruksikan oleh owner,
5. Menyerahkan pekerjaan apabila pekerjaan telah selesai secara
keseluruhan kepada owner.

2.8 Kontraktor Pelaksana


Kontraktor pelaksana adalah pihak yang ditunjuk berdasarkan pelelangan
untuk melaksanakan pembangunan proyek sesuai rencana dan persyaratan yang
telah dibuat. PT. BAUER PRATAMA INDONESIA adalah kontraktor yang
melaksanakan pekerjaan pondasi bor.
Penggolongan kualifikasi usaha jasa perencana konstruksi dan usaha jasa
pengawas konstruksi didasarkan pada kriteria tingkat / kedalaman kompetensi dan
potensi kemampuan usaha, serta kemampuan melakukan perencanaan dan

14
pengawasan pekerjaan berdasarkan kriteria resiko dan/atau kriteria penggunaan
teknologi dan/atau kriteria besaran biaya (nilai proyek/nilai pekerjaan).
Tabel 2.1 Kriteria Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi (Kontraktor)
NO GOLONGAN KUALIFIKASI KEKAYAAN BERSIH
1 Perorangan Gred 1 Tidak dipersyaratkan
Rp. 50.000.000 s.d Rp.
Gred 2
60.000.000
Rp. 100.000.000 s.d Rp.
2 Kecil Gred 3
800.000.000
Rp. 400.000.000 s.d Rp.
Gred 4
1.000.000.000
Rp. 1.000.000.000 s.d Rp.
3 Menengah Gred 5
10.000.000.000
Rp. 3.000.000.000 s.d Rp.
Gred 6
10.000.000.000
4 Besar
Rp. 10.000.000.000 s.d tidak
Gred 7
terbatas
Sumber : http://www.lawindo.biz/kriteriausahakontraktor.html

Khusus untuk perusahaan baru berdiri dalam bentuk Perseroan Terbatas


(PT) nilai kekayaan bersih mengacu kepada jumlah modal disetor yang tercantum
didalam akta pendirian perusahaan.
Untuk kualifikasi Gred 5, Gred 6 dan gGred 7, perusahaan harus berbentuk
Perseroan Terbatas (PT).Untuk pendirian PT baru dengan modal disetor didalam
akta pendirian minimal 1 milyar bisa mengajukan kualifikasi tertinggi pada Gred
5 dengan jumlah maksimum 4 sub bidang.Untuk pendirian PT baru dengan modal
disetor didalam akta pendirian dibawah Rp.1.000.000.000 (satu milyar) hanya
bisa diberikan kualifikasi Gred 2 , dengan jumlah maksimum 4 sub bagian.

15