Anda di halaman 1dari 15

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

(STIKes PERTAMEDIKA)
INKATRI ASTUTI/21117102
Program Profesi/Ners S1 Keperawatan

LAPORAN PENDAHULUAN
DERMATITIS

Konsep Teori
A. Pengertian
Eksim atau sering disebut eksema, atau dermatitis adalah peradangan hebat
yang menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel)
pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan. Istilah eksim juga
digunakan untuk sekelompok kondisi yang menyebabkan perubahan pola
pada kulit dan menimbulkan perubahan spesifik di bagian permukaan. Istilah
ini diambil dari Bahasa Yunani yang berarti 'mendidih atau mengalir keluar
(Mitchell dan Hepplewhite, 2005)

Dermatitis adalah reaksi inflamasi (peradangan) yang disebabkan oleh


sesuatu dari luar tubuh (dermatitis kontak). Contohnya, radang karena anting-
anting di telinga, gelang di pergelangan tangan, cincin di jemari, atau karena
detergen yang tidak cocok di kulit (Kerthyasa, 2013).

Dermatitis adalah peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respon


terhadap pengaruh faktor eksogen atau faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berubah eflo-resensi polimorfik (eritema, edema,papul,
vesikel, skuama, dan keluhan gatal) (Djuanda,2005).

Dermatitis atau lebih dikenal sebagai eksim merupakan penyakit kulit yang
mengalami peradangan kerena bermacam sebab dan timbul dalam berbagai
jenis, terutama kulit yang kering, umumnya berupa pembengkakan, memerah,
dan gatal pada kulit (Widhya, 2011).
B. Klasifikasi
Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki
indikasi dan gejala berbeda:
1. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi
yang menempel pada kulit. (Djuanda,2005). Dermatitis yang muncul
dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada
tanaman merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah
dan gatal. Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang
meradang. Disebabkan kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi
pada kulit atau alergi. Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau
pembersih lantai. Alergennya bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum,
kosmetik atau rumput.
2. Neurodermatitis
Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumstrip, ditandai dengan kulit tebal dan
garis kulit tampak lebih menonjol(likenifikasi) menyerupai kulit batang
kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai
ransangan pruritogenik. (Djuanda,2005). Timbul karena goresan pada kulit
secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar
2,5 sampai 25 cm. Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang
kita kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk
menggaruk bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan
kaki, pergelangan tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
3. Seborrheich Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara
kedua alis, belakang telinga serta dada bagian atas. Dermatitis ini
seringkali diakibatkan faktor keturunan, muncul saat kondisi mental dalam
keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf seperti Parkinson.
4. Statis Dermatitis
Merupakan dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena(atau
hipertensi vena) tungkai bawah. (Djuanda,2005). Yang muncul dengan
adanya varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering berubah
warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis
muncul ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan kulit. Varises
dan kondisi kronis lain pada kaki juga menjadi penyebab.
5. Atopic Dermatitis
Merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan resitif, disertai gatal yang
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anaka, sering
berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat
atopi pada keluarga atau penderita (D.A, rinitis alergik, atau asma
bronkial).kelainan kulit berupa papul gatal yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya dilipatan(fleksural)
(Djuanda,2005). Dengan indikasi dan gejala antara lain gatal-gatal, kulit
menebal, dan pecah-pecah. Seringkali muncul di lipatan siku atau
belakang lutut. Dermatitis biasanya muncul saat alergi dan seringkali
muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki asma.
Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang
tingkat keparahannya selama masa kecil dan dewasa.

C. Etiologi
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar(eksogen), misalnya bahan kimia
(contoh : detergen,asam, basa, oli, semen), fisik (sinar dan suhu),
mikroorganisme (contohnya : bakteri, jamur) dapat pula dari dalam(endogen),
misalnya dermatitis atopik (Djuanda,2005).

Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi
dapat menjadi penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya
memiliki penyebab berbeda pula. Seringkali, kulit yang pecah-pecah dan
meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika kulit tangan ada strip
merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit infeksi bakteri yang
terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit
yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas saat
disentuh dan .Selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya
tidak bagus. Segera periksa ke dokter jika kita mengalami selulit dan eksim.
D. Patofisiologi
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan
melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk,
denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk dan mengubah daya
ikat air kulit. Kebanyak bahan iritan (toksin) merusak membran lemak
keratinosit tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan merusak
lisosom, mitokondria atau komplemen inti.

Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat


terjadinya kontak di kulit tergantung pada bahan iritannya. Ada dua jenis
bahan iritan, yaitu: iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan
kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang dan
menimbulkan gejala berupa eritema, edema, panas, dan nyeri. Sedangkan
iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak
berulang-ulang, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena
delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawar, sehingga
mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan. Faktor kontribusi,
misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan, dan oklusi, mempunyai andil
pada terjadinya kerusakan tersebut (Djuanda, 2003).

Penyebab utama kontak alergen di Amerika Serikat yaitu dari tumbuh-


tumbuhan.Sembilan puluh persen dari populasi mengalami sensitisasi
terhadap tanaman dari genus Toxicodendron, misalnya poison ivy, poison oak
dan poison sumac. Toxicodendron mengandung urushiol yaitu suatu
campuran dari highly antigenic 3- enta decyl cathecols.Bahan lainnya adalah
nikel sulfat (bahan-bahan logam), potassium dichromat (semen, pembersih
alat -alat rumah tangga), formaldehid, etilendiamin (cat rambut, obat-obatan),
mercaptobenzotiazol (karet), tiuram (fungisida) dan parafenilendiamin (cat
rambut, bahan kimia fotografi) (Djuanda, 2003).
E. Pathway

Sabun, detergen, zat alergen


kimia

Iritan primer Reaksi hipersensitive

Kerusakan integritas
Mengiritasi kulit Terpajang ulang
kulit

Peradangan kulit Gejala klinis : gatal,


panas, kemerahan

Resiko nyeri Gangguan citra Gangguan Raya


infeksi tubuh Nyaman : Priuritis

F. Tanda dan Gejala


Subyektif ada tanda–tanda radang akut terutama priritus ( sebagai pengganti
dolor). Selain itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor),
edema atau pembengkakan dan gangguan fungsi kulit (function
laisa).Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi
yang dapat timbul scara serentak atau beturut-turut. Pada permulaan eritema
dan edema.Edema sangat jelas pada klit yang longgar misalya muka
(terutama palpebra dan bibir) dan genetelia eksterna .Infiltrasi biasanya terdiri
atas papul.

Dermatitis madidans (basah) bearti terdapat eksudasi.Disana-sini terdapat


sumber dermatitis, artinya terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang
berkelompok yang kemudian membesar. Kelainan tersebut dapat disertai bula
atau pustule, jika disertai infeksi.Dermatitis sika (kering) berarti tiak
madidans bila gelembung-gelumbung mongering maka akan terlihat erosi
atau ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering
disebut ematiti sika.Pada stadium tersebut terjadi deskuamasi, artinya timbul
sisik. Bila proses menjadi kronis tapak likenifikasi dan sebagai sekuele telihat
hiperpigmentai tau hipopigmentasi.

G. Komplikasi
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
2. Infeksi sekunder khususnya oleh Stafilokokus aureus
3. Hiperpigmentasi atau hipopigmentasi post inflamasi
4. Jaringan parut muncul pada paparan bahan korosif atau ekskoriasi

H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
Darah: Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total,
albumin, globulin
Urin: pemeriksaan histopatologi
2. Pemeriksaan penunjang
Percobaan asetilkolin
Percobaan histamin hostat, disuntikkan pada lesi
3. Penunjang (pemeriksaan Histopatologi)
Pemeriksaan ini tidak memberi gambaran khas untuk diagnostik karena
gambaran histopatologiknya dapat juga terlihat pada dermatitis oleh sebab
lain.

I. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik
yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk
menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan
perlindungan pada kulit.
1. Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis
kontak iritan dan kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal
dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet di ganti
dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang
panjang, penggunaan deterjen.
2. Pengobatan
Pengobatan yang diberikan dapat berupa pengobatan topikal dan sistemik.
a. Pengobatan topical
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum
pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres
terbuka), bila kering berikan terapi kering.Makin akut penyakit, makin
rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila
subakut diberi pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila
kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering
superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di
dalam, diberi salep.Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada
kasus-kasus ringan.
b. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan atau
edema, juga pada kasus-kasus sedang dan berat pada keadaan akut
atau kronik.Jenis-jenisnya adalah antihistamin, kortikosteroid,
siklospori, pentoksifilin.
3. Diet
Tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP), contoh: daging, susu, ikan,
kacang-kacangan, jeruk, pisang, dan lain-lain (Djuanda, 2010).

Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas Klien
2. Keluhan Utama : Biasanya pasien mengeluh gatal
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada
pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien
untuk menanggulanginya.
b. Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau
penyakit kulit lainnya.
c. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau
penyakit kulit lainnya.
d. Riwayat psikososial
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah
sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
e. Riwayat pemakaian obat
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada
kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Ringan, sedang, berat.
2. Tingkat Kesadaran
a. Compos mentis.
b. Apatis.
c. Samnolen, letergi/hypersomnia.
d. Delirium.
e. Stupor atau semi koma.
f. Koma
Tingkat Kesadaran dermatitis kontak biasanya tidak terganggu Dermatitis
kontak termasuk tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup
dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan
rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.
3. Tanda-tanda vital
a. Tekanan darah
b. Denyut nadi
c. Suhu tubuh
d. Pernafasan
4. Berat Badan
5. Tinggi Badan
6. Kulit.
a. Inspeksi
1) Radang akut terutama priritus (sebagai pengganti dolor).
2) Kemerahan (rubor),
3) Gangguan fungsi kulit (function laisa).
4) Biasanya batas kelainan tidak tegas an terdapat lesi polimorfi yang
dapat timbul secara serentak atau beturut-turut.
5) Terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang berkelompok yang
kemudian membesar.
6) Terdapat bula atau pustule,
7) Ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering
disebut ematiti sika.
8) Terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses menjadi kronis
tapak likenifikasi dan sebagai sekuele telihat
9) Hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
b. Palpasi
1) Nyeri tekan
2) edema atau pembengkakan
3) Kulit bersisik
7. Keadaan Kepala
a. Inspeksi
Tekstur rambut klien halus dan jarang, kulit kepala nampak kotor.
b. Palpasi
Periksa apakah ada pembengkakan/ benjolan nyeri tekan atau adanya
massa.
8. Keadaan mata
a. Inspeksi
1) Palpebrae : Tidak edema, tidak radang
2) Sclera : Tidak ictertus
3) Conjuctiva : Tidak terjadi peradangan
4) Pupil : Isokor
b. Palpasi
1) Tidak ada nyeri tekan
2) Tekanan Intra Okuler ( TIO ) tidak ada
9. Keadaan hidung.
a. Inspeksi
1) Simetris kiri dan kanan
2) Tidak ada pembengkakan dan sekresi
3) Tidak ada kemerahan pada selaput lendir
b. Palpasi
1) Tidak ada nyeri tekan
2) Tidak ada benjolan/tumor
10. Keadaan telinga
a. Inspeksi
1) Telinga bagian luar simetris
2) Tidak ada serumen/cairan, nanah

C. Diagnosa
a. Nyeri akut berhubungan dengan adanya lesi
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit kering
c. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit

D. Intervensi
Diagnosa NOC NIC
NYERI AKUT Setelah dilakukan MANAJEMEN NYERI
Definisi : tindakan keperawatan Definisi : mengurangi
sensori yang tidak selama nyeri dan menurunkan
menyenangkan dan … x24 jam pasien dapat tingkat
pengalaman mengontrol nyeri nyeri yang dirasakan
emosional yang muncul dengan indikator: pasien.
secara aktual 1. Mengenali faktor Intervensi :
atau potensial, kerusakan penyebab 1. Lakukan pengkajian
jaringan atau 2. Mengenali onset nyeri secara
menggambarkan adanya (lamanya sakit) komprehensif termasuk
kerusakan.. 3. Menggunakan lokasi, karakteristik,
metode pencegahan durasi, frekuensi,
Batasan karakteristik : 4. Menggunakan kualitas dan faktor
1. Laporan secara verbal metode nonanalgetik presipitasi
atau non verbal untuk mengurangi 2. Observasi reaksi non
2. Fakta dan observasi nyeri verbal dari
3. Gerakan melindungi 5. Menggunakan ketidaknyamanan
4. Tingkah laku berhati- analgetik sesuai 3. Gunakan teknik
hati kebutuhan komunikasi terapeutik
5. Gangguan tidur (mata 6. Mencari bantuan untuk mengetahui
sayu, tenaga kesehatan pengalaman nyeri
tampak capek, sulit atau 7. Melaporkan gejala pasien
gerakan pada tenaga 4. Kaji kultur yang
kacau, menyeringai) kesehatan mempengaruhi respon
6. Tingkah laku distraksi 8. Menggunakan nyeri
(jalan-jalan, sumber-sumber yang 5. Evaluasi pengalaman
menemui orang lain, tersedia nyeri masa lampau
aktivitas 9. Mengenali gejala- 6. Evaluasi bersama
berulang-ulang) gejala nyeri pasien dan tim
7. Respon autonom 10. Mencatat pengalaman kesehatan lain tentang
(diaphoresis, nyeri ketidakefektifan
perubahan tekanan sebelumnya kontrol nyeri masa
darah, 11. Melaporkan nyeri lampau
perubahan pola nafas, sudah terkontrol 7. Bantu pasien dan
nadi dan keluarga untuk mencari
dilatasi pupil) dan menemukan
8. Tingkah laku ekspresif dukungan
(gelisah, 8. Kontrol lingkungan
marah, menangis, yang dapat
merintih, mempengaruhi nyeri
waspada, napas panjang, seperti suhu ruangan,
iritabel) pencahayaan dan
9. Berfokus pada diri kebisingan
sendiri 9. Kurangi faktor
10. Muka topeng presipitasi
11. Fokus menyempit 10. Pilih dan lakukan
(penurunan penanganan nyeri
persepsi pada waktu, (farmakologi, non
kerusakan farmakologi dan inter
proses berfikir, personal)
penurunan interaksi 11. Kaji tipe dan sumber
dengan orang dan nyeri untuk
lingkungan) menentukan intervensi
12. Perubahan nafsu makan 12. Ajarkan tentang teknik
dan minum non farmakologi
13. Berikan analgetik
Faktor yang berhubungan : untuk mengurangi
Agen injury (fisik, biologis, nyeri
psikologis) 14. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
15. Tingkatkan istirahat
KERUSAKAN Setelah dilakukan PENGAWASAN KULIT
INTEGRITAS tindakan keperawatan 1. Inspeksi kondisi luka
KULIT selama operasi
Definisi: perubahan pada .......x24 jam integritas 2. Observasi ekstremitas
epidermis da dermis jaringan: kulit dan untuk warna, panas,
mukosa normal dengan 3. keringat, nadi, tekstur,
Batasan karakteristik : indikator: edema, dan luka
1. Gangguan pada bagian 1. Temperatur jaringan 4. Inspeksi kulit dan
tubuh dalam rentang yang membran mukosa
2. Kerusakan pada lapisan diharapkan untuk kemerahan,
kulit 2. Elastisitas dalam panas, drainase
3. Gangguan permukaan rentang yang 5. Monitor kulit pada
kulit diharapkan area kemerahan
4. Faktor yang 3. Hidrasi dalam rentang 6. Monitor penyebab
berhubungan yang diharapkan tekanan
4. Pigmentasi dalam 7. Monitor adanya
Eksternal : rentang yang infeksi
1. Hipertermia atau diharapkan 8. Monitor kulit adanya
hipotermia 5. Warna dalam rentang rashes dan abrasi
2. Substansi kimia yang diharapkan 9. Monitor warna kulit
3. Kelembaban udara 6. Tektur dalam rentang 10. Monitor temperatur
4. Faktor mekanik (alat yang diharapkan kulit
yang dapat 7. Bebas dari lesi 11. Catat perubahan kulit
5. menimbulkan luka, 8. Kulit utuh dan membran mukosa
tekanan, 12. Monitor kulit di area
6. restrain) kemerahan
7. Immobilitas fisik
8. Radiasi MANAJEMEN
9. Usia yang ekstrim TEKANAN
10. Kelembaban kulit 1. Tempatkan pasien
11. Obat-obatan pada terapeutic bed
2. Elevasi ekstremitas
Internal : yang terluka
1. Perubahan status 3. Monitor status nutrisi
metabolik pasien
2. Tulang menonjol 4. Monitor sumber
3. Defisit imunologi tekanan
4. Faktor yang 5. Monitor mobilitas dan
berhubungan aktivitas pasien
5. dengan perkembangan 6. Mobilisasi pasien
6. Perubahan sensasi minimal setiap 2 jam
Perubahan status nutrisi sekali
7. Perubahan status cairan 7. Back rup
8. Perubahan pigmentasi 8. Ajarkan pasien untuk
9. perubahan sirkulasi menggunakan pakaian
10. Perubahan turgor 9. yang longgar
RESIKO INFEKSI Setelah dilakukan KONTROL INFEKSI
Definisi : peningkatan tindakan keperawatan Definisi: meminimalkan
resiko masuknya selama mendapatkan infeksi dan
orgaanisme patogen. .....x24 jam status transmisi agen infeksi
kekebalan pasien Intervensi :
Faktor resiko : meningkat 1. Bersihkan lingkungan
1. Prosedur infasif dengan indilaktor: setelah dipakai pasien
2. Ketidakcukupan 1. Tidak didapatkan lain
pengetahuan untuk infeksi berulang 2. Pertahankan teknik
3. Menghindari paparan 2. Tidak didapatkan isolasi
patogen tumor 3. Batasi pengunjung bila
4. Trauma 3. Status respirasi sesuai perlu
5. Kerusakan jaringan dan yang diharapkan 4. Instruksikan
6. Peningkatan paparan Temperatur badan pengunjung untuk
lingkungan sesuai yang mencuci tangan saat
7. Ruptur membran diharapkan berkunjung dan setelah
amnion 4. Integritas kulit berkunjung
8. Agen farmasi 5. Integritas mukosa 5. Gunakan sabun anti
9. Malnutrisi 6. Tidak didapatkan mikroba untuk cuci
10. Peningkatan paparan fatigue kronis tangan
lingkungan 7. Reaksi skintes sesuai 6. Cuci tangan sebelum
11. Patogen paparan dan sesudah tindakan
12. Imunosupresi 8. Wbc absolut dbn keperawatan
13. Ketidakadekuatan imun 7. Gunakan universal
buatan precaution dan
14. Tidak adekuat gunakan sarung tangan
pertahanan sekunder selma kontak dengan
15. (penurunan hb, kulit yang tidak utuh
leukopenia, 8. Tingkatkan intake
16. Penekanan respon nutrisi dan cairan
inflamasi) 9. Berikan terapi
17. Tidak adekuat antibiotik bila perlu
pertahanan tubuh 10. Observasi dan
18. Primer (kulit tidak utuh, laporkan tanda dan
trauma gejal infeksi seperti
19. Jaringan, penurunan kemerahan, panas,
kerja silia, nyeri, tumor
20. Cairan tubuh statis, 11. Kaji temperatur tiap 4
perubahan jam
21. Sekresi ph, perubahan 12. Catat dan laporkan
peristaltik) hasil laboratorium,
22. Penyakit kronis WBC
13. Gunakan strategi untuk
mencegah infeksi
nosokomial
14. Istirahat yang adekuat
15. Kaji warna kulit,
turgor dan tekstur, cuci
kulit dengan hati-hati
16. Ganti IV line sesuai
aturan yang berlaku
17. Pastikan perawatan
aseptik pada IV line
18. Pastikan teknik
perawatan luka yang
tepat
19. Berikan antibiotik
sesuai autran
20. Ajari pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi dan
kalau terjadi
melaporkan pada
perawat
21. Ajarkan klien dan
anggota keluarga
bagaimana mencegah
infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, S., dan Sri A. S. (2003). Dermatitis, ed. 3.Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

______________________. (2010). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kerthyasa, Tjok Gde. (2013). Sehat Holistik Secara Alami. Bandung: Qanita.

Djuanda S, Sularsito. (2005). Dermatitis In: Djuanda A, ed Ilmu penyakit kulit


dan kelamin. Edisi III. Jakarta: FKUI.

Widhya. (2011). Askep Dermatitis. Diaskes pada tanggal 29 Mei 2018


http:///D:/LAPORAN%20POROFESI%20NERS%202012/MEDICAL
%20BEDAH/SUMBER%20DERMATITIS/askep-dermatitis.html