Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Taksonomi tumbuhan sebagai cabang ilmu botani merupakan suatu ilmu yang
mempelajari tentang identifikasi (penamaan), klasifikasi (pengelompokan) suatu
tumbuhan ke dalam takson atau taksa tertentu dan deskripsi dari tumbuhan tersebut
berdasarkan nomenklatur botani atau kode Internasional tata nama tumbuhan yang
berlaku secara universal.
Taksonomi tidak hanya mengenalkan suatu taksa dengan teori-teori yang ada,
tetapi taksonomi mengenalkan suatu tingkatan taksa dengan aplikasi dilapangan
dengan cara mengumpulkan jenis - jenis yang ada disuatu tempat dan mampu
menentukan klasifikasi dari jenis yang didapatkan yang didahului dengan
mengidentifikasi jenis tersebut disertai dengan referensi yang ada.
Spermatophyta merupakan tumbuhan yang dominan. Spermatophyta
berkormus sejati yaitu tubuhnya telah jelas dapat dibedakan antara akar, batang dan
daun. Selain itu tumbuh- tumbuhan biji mempunyai bagian-bagian lain dengan
berbagai macam organ-organ tambahan seperti bunga dan biji (Tjitrosoepomo,
2008).
Pohon adalah tumbuhan yang mempunyai batang dan cabang terbentuk dari
kayu. Pohon memiliki batang utama yang tumbuh tegak. Semak adalah tumbuhan
berumpun dengan batang pendek, merayap, tinggi beberapa cm sampai kurang lebih
1,5 m (Yatim, 1999). Terna adalah tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak
membentuk kayu. Tumbuhan semacam ini dapat merupakan tumbuhan semusim,
tumbuhan dwimusim, ataupun tumbuhan tahunan. Yang dapat disebut terna
umumnya adalah semua tumbuhan berpembuluh (tracheophyta). Biasanya sebutan
ini hanya dikenakan bagi tumbuhan yang berukuran kecil (kurang dari dua meter)
dan tidak dikenakan pada tumbuhan nonkayu yang merambat (digolongkan
tumbuhan merambat).
Jenis-jenis tumbuhan spermatophyta banyak dijumpai di lingkungan kampus
juga, baik berupa pohon, semak, maupun terna. Maka dari itu pada praktikum kali
ini, dilakukan inventarisasi jenis-jenis spermatophyta baik berupa pohon, semak,
maupun terna yang terdapat di Fakultas Sains dan Teknik – Undana.
1
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah jenis-jenis spermatophyta (pohon,
semak dan terna) apa saja yang terdapat pada area Fakultas Sains dan Teknik –
Undana.

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisannya adalah untuk mengetahui adalah jenis-jenis
spermatophyta (pohon, semak dan terna) yang terdapat pada area Fakultas Sains dan
Teknik – Undana.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Spermatophyta

2.2. Inventarisasi

2.3. Klasifikasi

2.4. Identifikasi

2.5. Herbarium

3
BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu Dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan di Fakultas Sains dan Teknik – Universitas Nusa
Cendana - Kupang, pada tanggal:
a. Observasi : Kamis, 24 mei 2018 ( 14.00 - selesai)
b. Eksplorasi : Jumat, 01 juni 2018 (10.00 - selsesai)
c. Pembuatan herbarium : Jumat, 01 Juni 2018 – selesai
d. Identiikasi tumbuhan : Minggu, 03 Juni 2018 – selesai

3.2. Alat Dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah etiket gantung,
amplop, koran, plastik besar, benang kasur, gunting, pisau, silet, alat tulis dan
kamera.

3.3. Prosedur Kerja


a. Observasi
• Penentuan jalur untuk eksplorasi.
• Penentuan titik-titik pengambilan sampel (5 titik: biologi dan fisika; kimia;
teknik sipil dan teknik elektro; arsitek dan teknik pertambangan; serta teknik
mesin).
b. Eksplorasi
• Persiapan alat dan bahan.
• Pengambilan sampel (pohon, terna dan semak) di titik-titik yang telah
ditentukan. Proses pengambilan sampelnya adalah sbb:
- Pengamatan ciri-ciri dari sampel yang akan diambil lalu dicatat dalam buku.
- Untuk tumbuhan kecil, sampel langsung dicabut dengan akarnya. Kemudian
dipasang etiket gantung, lalu di bungkus dengan koran.
- Untuk tumbuhan besar, diambil bagian-bagiannya (daun dan kulit batang).
Kemudian dipasang etiket gantung, lalu di bungkus dengan koran.
- Bila terdapat bunga dan buah, diambil dan dimasukkan ke dalam amplop.

4
• Setelah pengambilan sampel, semuanya di bawa ke lopo.
• Seluruh sampel yang telah dibungkus dengan koran, dirapikan kembali. Diatur
posisi tanamannya, baik posisi daun, batang, akar dan dirapikan juga kulit
batangnya. Kemudian dibungkus kembali dengan koran.
c. Pembuatan Herbarium
• Sampel yang ada dibersihkan menggunakan air, terlebih untuk bagian akarnya.
• Sampel dikering anginkan kemudian dibungkus menggunakan koran dan
ditindih dengan barang berat selama 1 hari.
• Sampel dipindahkan ke koran yang baru lalu disemprot dengan alkohol 70%
dan dibungkus kembali. Kemudian ditindih dengan barang berat kembali
selama 2 hari.
• Sampel dipindahkan lagi ke koran yang baru lalu disemprot dengan alkohol
70% dan dibungkus kembali. Kemudian ditindih dengan barang berat hingga
sampel mengering.
• Untuk bagian bunga, langsung disimpan dalam buku yang tebal dengan posisi
yang rapi hingga sampel mengering.
• Setelah sampel mengering, sampel yang telah dipasang etiket gantung
diletakan diatas papan berukuran 28 x 40 cm.
• Ditempel label hasil identiikasi ddi sudut kanan bawah papan. Kemudian
papan tersebut dbungkus dengan plastik bening.
d. Identifikasi Tumbuhan
• Metode yang digunakan untuk identifikasi adalah dengan bantuan internet.
• Gambar sampel yang diambil dimasukkan dalam aplikasi PLANLET untuk
dilihat kemungkinan nama jenis-jenis tumbuhan yang sesuai dengan sampel.
• Nama jenis-jenis yang ada tersebut kemudian dicari gambar dan deskripsinya
di internet dan dicocokan dengan sampel yang ada serta dicocokan pula
deskripsinya dengan ciri-ciri yang telah dicatat.
• Jika cocok, maka dicari klasifikasinya dan diambil data tersebut untuk
dimasukan kedalam laporan.

5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi

4.2. Deskripsi Suku (Familia)


a. Suku Arecaceae
Suku Arecaceae atau suku pinang-pinangan (palem) adalah kelompok tumbuhan
yang biasa disebut palma atau palem. Secara umum suku Arecaceae mempunyai ciri-
ciri:
 Batangnya tumbuh tegak ke atas dan jarang bercabang
 Batangnya beruas-ruas dan tidak memiliki kambium sejati
 Akarnya tumbuh dari pangkal batang dan berbentuk akar serabut
 Berdaun majemuk
 Tangkai daun memiliki pelepah daun yang membungkus batang
 Bunga tersusun dalam karangan bunga (mayang)
 Buahnya ditutupi lapisan luar yang relatif tebal (biasa disebut sabut)
 Biji buah relatif cair pada saat masih muda dan semakin mengeras ketika tua

b. Suku Casuarinaceae
Suku Casuarinaceae atau suku cemara-cemaraan berupa pohon atau perdu,
langsing, ranting-ranting hijau; akar basanya bersiombiosis dengan bakteri pengikat
nitrogen. Daun tereduksi menjadi seperti selaput kecil atau berupa sisik, duduk
dalam lingkaran, 4 – 16, bersatu pada dasar. Penyerbukaan secara anemogami, bunga
unisexual, tanpa perianthium; bunga jantan tersusun dalam lingkaran atau karangan,
dan keseluruhan karangan-karangan itu berupa spica pada ujung cabang-
cabangpaling muda; stamen 1, dilindungi oleh 1 bractea dan 2 bracteolus; bunga
betina dalam pembungaan capitalium pada cabang pendek, pistillum dengan 2 carpel
yang dilindungi oleh 1 bractea dan 2 bracteolus, 2 ruang (1 steril), 2 stylus. Buah nux
berkelompok seperti kerucut, bersayap, biji 1, tanpa endosperm.

c. Suku Fabaceae

6
Suku Fabaceae atau suku Papilionaceae berupa pohon, semak, atau herba.
Daun majemuk pinnatus atau palmatus, jarang tunggal. Bunga bisexual, zigomorf,
sepal 5, biasanya satu membentuk tabung; petal 5. Papilionaceous (bunga kupu-
kupu), 1 petal paling atas, besar disebut bendera (vexilum), 2 petal lateral, bebas,
sama besar disebut sayap (alae), dan 2 petal paling bawah, sempit berlekatan disebut
lunas (carina); stamen 10, monodelphus atau diadelphus; pistillum dengan 1 carpel,
ovarium superior. Buah legume.

d. Suku Asclepiadaceae
Suku Asclepiadaceae berupa terna atau tumbuhan berkayu yang kadang-kadang
membelit. Daun tunggal, kebanyakan sukulen. Duduknya berhadapan atau
berkarang, kadang-kadang tersebar, tanpa daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf,
berbilangan 5. Kelopak dengan daun-daun kelopak bebas, mahkota dengan taju-taju
dalam kuncup terpuntir ke satu arah. Tangkai sari pendek, kepala sari besar. Serbuk
sari bergandeng-gandengan membentuk polinia, mempunyai alat-alat pelekat. Bakal
buah 2, bebas, menumpang. Dalam bunga tidak terdapat cakram. Buahnya kurung
berganda, mempunyai endosperm, lembaga lurus, daun lembaga pipih.

e. Suku Verbenaceae
Suku Verbenaceae berhabitus terna atau perdu, kadang berupa pohon-pohonan,
batang muda segi empat, batang tua bulat. Daun tunggal, tanpa stipula, bersilang /
berhadapan, kadang-kadang berkarang atau tersebar. Buah buah batu / buah kendaga.
Biji kebanyakan tanpa endosperm. Bunga majemuk, biasanya bersifat “racemeus”.
Kalyx berlekatan berjumlah 3 -6, kebanyakan 5, aktinomorf,

f. Suku Acanthaceae
Suku Acanthaceae kebanyakan adalah tumbuhan herba tropis, dengan habit
semak belukar, atau merambat; beberapa ada yang membelit.
Daun dari famili ini memiliki bentuk yang sederhana, daun berhadapan silang
(berseberangan), dengan garis tepi yang seluruhnya rata atau kadang-kadang
berlekuk atau bergerigi. Daun kadang terisi sistolisis, terlihat seperti memiliki
lapisan dipermukaannya. dengan daun penumpu yang melekat. Bunga sempurna,
merupakan bunga banci, pada umumnya memiliki warna yang menarik perhatian,
7
zigomorf (dapat dibagi membujur 2 bagian) hingga actinomorphic (dapat dibagi
membujur berkali-kali), ini diatur oleh suatu susunan bunga di tangkai yang dapat
berupa bunga tunggal, rangkaian, atau cyme. Secara khas ada suatu daun kecil
berwarna pada bunga yang hampir melekat pada masing-masing bunga; dalam
beberapa jenis Acanthaceae daun kecil pada bunga tersebut berukuran besar
sehingga jelas tampak.
Kelopak bunga pada umumnya berlekuk 4-5 atau terkadang hanya sekedar
bergerigi; mahkota bunga berbentuk pipa yang sympetalous (berlekatan), pada
umumnya 5 helai, kebanyakan zygomorphic, dan biasanya dengan 2 bibir; Alat
kelamin jantan pada umumnya terdiri dari 4 benang sari atau hanya 2 benang sari di
tabung mahkota bunga atau epigynous zone; dan diatas indung telur, dengan 2-daun
buah. Gynoecium terdiri dari putik campuran tunggal 2 carpel, gaya tunggal, dan
suatu indung telur utama dengan 2 locules, masing-masing terdiri dari 2-10 axile
ovules dalam satu atau dua strata vertikal. Suatu lempeng nectar berbentuk gelang
pada umumnya ditemukan di sekitar dasar indung telur.
Buah biasanya berbentuk kapsul dengan 2 sel yang akan pecah ketika masak.
Tangkai benih atau funiculus dari tiap benih dimodifikasi ke dalam suatu sangkutan
yang disebut jaculator yang tajam atau retinaculum yang berfungsi merentangkan
benih selama dehiscence (buah menjadi kering kemudian pecah).

g. Suku Lamiaceae
Suku Lamiaceae berhabitus terna yang mempunyai geragih yang dapat meluas
kemana-mana dan berakar pada buku-bukunya, dapat berupa semak atau pohon.
Batang segi empat, jarang sekali silindris. Daun Tepi daun hampir selalu bergerigi,
bergigi atau beringgit. Baik batang maupun daun-daunnya mempunyai rambut
kelenjar yang mengandung minyak atsiri. Rambut kelenjarnya tipe Labiatae. Buah
terdiri atas 4 buah keras yang setelah buah masak terpisah-pisah, adakalanya berupa
buah batu. Bunga majemuk berupa tandan atau bulir yang bagian-bagiannya berupa
suatu karangan semu (“vertisilaster”). Tiap bunganya bersifat zigomorf, kelopak
berbilangan 5 atau 4, seringkali berbibir 2, Co berbilangan 4 - 6, biasanya 5, nyata
berbibir 2

h. Suku Passifloraceae
8
Suku Passifloraceae atau suku markisa-markisaan merupakan tumbuhan basah
atau berkayu, sering pula memanjat dengan sulur pada ketiak daun, batang kadang
bersayap. Daun tunggal, letak tersebar, ada nectarium. Bunga tunggal actinomorf
bisexualis, dengan receptaculum yang khas dan sering mempunyai ”penghubung”.
Calyx 3-8 berlepasan, kadang ada epicalyx, corolla 3-8 berlepasan kadang ada
corolla tambahan berupa rambut. Stamen 4-5-8, atau banyak sekali terletak pada
andrigynophor. Ovarium superum, carpellum 3-5 dengan 1 ruang dan banyak
ovulum, placenta parietalis. Stylus dan stigma 1. Buah bacca atau capsula, biji
dengan arillus

i. Suku Rhamnaceae
Suku Rhamnaceae atau suku-bidara-bidaraan termasuk dalam pohon atau perdu
tegak, terkadang memanjat, kadang-kadang dengan alat pembelit. Daun tunggal,
berbaris 2, kadang-kadang dengan daun penumpu yang kecil atau seperti duri. Bunga
beraturan, kebanyakan berkelamin 2 atau bunga banci, berwarna hijau, kecil tersusun
dalam rangkaian yang bersifat simos. Kelopak berbentuk buluh, berlekuk 4-5 dengan
susunan seperti katup. Daun mahkota juga 4-5, kecil, cekung (Tjitrosoepomo, 2010).
Benang sari dibawah tepi tonjolan dasar bunga dan tertancap di depan daun mahkota.
Tonjolan dasar bunga tumbuh baik sekali, bersatu dengan tabung kelopak. Bakal
buah menumpang atau setengah tenggelam, beruang 1-3. Bakal biji satu, jarang 2 per
ruang. Tangkai putik atau cabang tangkai putik2-3, atau tangkai putik pendek,
bergigi 2-3, atau berlekuk 2-3. Buah keras atau buah batu (Steenis, 2008).

j. Suku Anacardiaceae
Suku Anacardiaceae merupakan tumbuhan yang memiliki ciri-ciri habitus
perdu, pohon. Daun tunggalatau mejemuk, tersebar. Bunga mejemuk; biseksual atau
uniseksual; pentamer; stamen 5-10, seringterdapat staminodium; terdapat diskus
bentuk cincin dekat stamen; ovarium superum atau semiinferumdengan 1-5 karpel,
ruang sejumlah karpel, 1-2 ovul tiap ruang. Buah tunggal; drupa.

k. Suku Meliaceae
Suku Meliaceae atau suku duku-dukuan merupakan tumbuhan yang berhabitus
pohon atau semak, jarang yang berwujud terna, mempunyai kelenjar minyak.
9
Daunnya majemuk menyirip dengan duduk dauntersebar dan tidak mempunyai daun
penumpu. Bunga aktinomorf dan kebanyakan bunga banci. Kerapkali kelopaknya
kecil, terdiri dari 4-5 daun kelopak, biasanya 5 dan berlekatan satu dengan yang lain.
Mahkota banyaknya sama dengan jumlahnya daun kelopak. Mahkota lepas atau
saling berlekatan. Benang sari banyaknya sama dengan daun mahkota atau 2 kali
lipar yang pada umumnya saling berlekatan membentuk pembuluh. Bakal buahnya
menumpang, jarang setengah tenggelam, beruang 3-5 dan tiap ruang berisi 1-2 bakal
biji, jarang lebih. Tangkai putik 1 dengan kepala putik yang berbentuk cakram atau
bongkol. Buahnya buah buni, buah kendaga atau buah batu.

l. Suku Musaceae
Biasanya terna yang besar, sering dengan batang semu yang terdiri atas upih
daun yang balut membalut, dengan daun yang lebar, bangun jorong atau memanjang,
ibu tulang tebal, beralur di sisi atasnya, jelas berbeda dari tulang-tulang cabangnya
yang menyirip. Bunga banci atau berkelamin tunggal, zigomorf, tersusun dalam
sinsiunus yang terdapat dalam ketiak daun pelindung yang besar dan berwarna
menarik. Keseluruhan rangkaian bunga merupkan tenda dengan bunga ♀ di bagian
pangkal dan bunga ♂ di bagian ujung perbungaanya. Hiasan bunga jelas dapat
dibedakan dalam kelopak dan mahkotanya. Kelopak berbentuk tabung, memenjang,
berbagi 2 dengan tepi bergigi yang berbeda-beda. Mahkota berbibir 2, seringkali
rompang dan bagian atasnya berigi-rigi. Benang sari 5 dengan 1 lagi yang tereduksi .
Tangkai berbentuk benang, kepala sari bangun garis, beruang 2. Bakal buah
tenggelam, beruang 3, tiap ruang berisi banyak bakal biji dengan tembuni di sudut-
sudtnya. Tangkai sari berbentuk benang, kepala sari berlekuk. Buah berdaging, tidak
membuka, merupakn buah buni atau buah kendaga. Biji dengan kulit biji keras,
kadang-kadang bersalut, lembaga lurus terdapat dalam endosperm dan perisperm.

m. Suku Mimosaceae
Suku Mimosaceae atau suku petai-petaian berupa herba, semak atau pohon, akar
umumnya bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen.Daun umumnya mejemuk
bipinnatus, jarang majemuk pinnatus. Pembungaan spica, racemosa, atau capitulum,
bunga bisexual, aktinomorf, sepal 5, valvate, bersatu memebentuk tabung; petal 5,

10
valvate, bebas atau bersatu pada dasar membentuk tabung; stamen 5 sampai banyak,
filament panjang sering berwarna; pistillum dengan 1 carpel, ovarium superior. Buah
legume.Biji umumnya tanpa endosperm.

4.3. Deskripsi Marga (Genus)

4.4. Deskripsi Jenis (Species)

11
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

12
DAFTAR PUSTAKA

13