Anda di halaman 1dari 5

TUGAS ESSAY

KEPERAWATAN SISTEM KEGAWATDARURATAN 2

Dosen Mata Kuliah:

Merina Widyastuti, S.Kep., Ns., M.Kep

Oleh:

Rossyana Viviningtyas Nim. 141.0088

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA

2018
GUILLAIN-BARRE SYNDROME

Guillain-Barre syndrome (GBS) adalah kondisi langka yang disebabkan oleh

sistem imun yang menyerang sebagian sistem saraf periferal. Kondisi ini mungkin

membuat saraf meradang yang mengakibatkan kelumpuhan atau kelemahan otot

jika tidak terobati secepatnya (Samiadi, 2016). Depkes (2011) Menjelaskan bahwa

GBS merupakan kumpulan gejala kelemahan pada anggota gerak dan kadang-

kadang dengan sedikit kesemutan pada lengan atau tungkai, disertai menurunnya

refleks. Selain itu kelumpuhan dapat juga terjadi di otot-otot penggerak bola mata

sehingga penderita melihat satu objek menjadi dua yang dapat disertai gangguan

koordinasi anggota gerak. Penyakit GBS, sudah ada sejak 1859. Nama Guillain

Barre diambil dari dua Ilmuwan Perancis, Guillain dan Barr yang menemukan dua

orang prajurit perang di tahun 1916 yang mengidap kelumpuhan kemudian

sembuh setelah menerima perawatan medis.

GBS termasuk penyakit langka dan terjadi hanya 1 atau 2 kasus per 100.000

di dunia tiap tahunnya (Depkes, 2011). Pithadia & Kakadia (2010) menyebutkan

bahwa kejadian GBS di Eropa adalah 1,2 - 1,9 kasus per 100.000, sedangkan di

seluruh dunia, kejadiannya adalah 0,6 - 4 kasus per 100.000. Kasus ini cenderung

lebih banyak pada pria dibandingkan wanita. Laki-laki memiliki kemungkinan

1,5 kali lebih besar terkena dampaknya dibandingkan perempuan, dan

insidensinya meningkat dengan usia dari 1 per 100.000 pada mereka yang berusia

lanjut di bawah 30 tahun menjadi sekitar 4 kasus per 100.000 pada mereka yang

lebih tua dari 75 tahun. Data RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta

menunjukkan pada periode tahun 2010-2011 tercatat 48 kasus GBS dalam satu

tahun dengan berbagai varian (Dexa medica, 2012).


Resiko terberat dari GBS dapat mengancam jiwa karena menyebabkan

kelumpuhan otot pernapasan sehingga penderita harus menggunakan ventilator,

terkena infeksi paru dan sepsis akibat imobilisasi lama (Dexa medica, 2012).

Penyebab GBS awalnya tidak diketahui sehingga penyakit ini mempunyai nama

lain Acute idiophatic polineuritis atau polineuritis idiopatik akut. Idiopatik

berasal dari kata “idiot” atau “tidak tahu”. Bersama jalannya waktu diketahui

bahwa GBS dapat disebabkan oleh kerusakan sistem kekebalan. Kerusakan

sistem kekebalan tersebut menimbulkan pembengkakan syaraf peripheral,

sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan

gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang. Apabila banyak syaraf

yang terserang, di mana salah satunya adalah syaraf sistem kekebalan, sehingga

system kekebalan tubuh kita pun akan kacau, dengan tidak diperintah dia akan

mengeluarkan cairan sistem kekebalan tubuh di tempat-tempat yang tidak

diinginkan (Rahayu, 2012). GBS ini tadinya dianggap sebagai neuroalergi yang

menghasilkan berbagai bahan berbahaya. Terdapat perkiraan bahwa kumpulan

gejala ini terjadi karena menurunnya daya kekebalan tubuh sendiri (auto imun),

yang biasanya didahului oleh infeksi virus atau kuman-kuman yang menyebabkan

infeksi saluran pernafasan atas dan diare yang melemahkan daya tahan tubuh

(kekebalan) sehingga mengalami keluhan seperti kasus-kasus di atas. Sel sistem

kekebalan menyerang sarung saraf (mielin) yang mengelilingi serabut saraf di

seluruh saraf tepi (Depkes, 2011).

Beberapa penelitian dilakukan untuk menemukan pengobatan yang tepat pada

GBS salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hughes (2004) tentang

penggunaan kortikosteroid pada pasien GBS dinilai kurang bermanfaat hal ini
mungkin terkait dengan efek buruknya pada otot denervasi atau penghambatan

fungsi makrofag. Lukito et al, (2010) menjelaskan bahwa Pengobatan lain yang

dilakukan yaitu Penggunaan plasmaferesis sebagai terapi pada GBS pertama

kali dilaporkan pada tahun 1978 yang kemudian mengarah kepada enam uji klinis

acak yang membandingkan antara plasmaferesis dengan terapi suportif. Hasil

yang didapat adalah terapi plasmaferesis terbukti efektif, sehingga pada tahun

1986 terapi plasma feresis direkomendasikan pada kasus GBS berat.

Plasmaferesis dilakukan 3-5 kali dalam kurun waktu 5-10 hari, dengan dosis 40-

55 ml/kg/kali. Bahan pengganti plasma yang digunakan adalah albumin atau fresh

frozen plasma (FFP). Lukito et al, (2010) juga menyebutkan bahwa Pemberian

IVIg diduga dapat menetralisasi antibodi mielin yang beredar dengan

berperan sebagai antibodi anti–idiotipik, menurunkan sitokin proinflammatory dan

menghadang kaskade komplemen serta mempercepat proses mielinisasi. Dosis

yang diberikan 0,4-0,5 gram/kg/kali selama 4-5 hari berturut-turut dengan

total dosis 2 gram/kg. Bila dibandingkan dengan plasmaferesis, IVIg memiliki

beberapa kelebihan yaitu sediaan lebih mudah didapat dan pemberiannya tidak

memerlukan alat khusus. Tidak ada obat untuk gangguan ini, tetapi beberapa

perawatan dapat meringankan gejala dan mengurangi durasi penyakit.

Kebanyakan orang pulih sepenuhnya bahkan dari kasus GBS yang paling parah

sekalipun (Pithadia & Kakadia, 2010).


DAFTAR PUSTAKA

Depkes. (2011). GUILLAIN BARRE SINDROM. disitasi tanggal 29 juni 2018


pukul 10.00 Retrieved from
http://www.depkes.go.id/article/print/1628/guillain-barre-sindrom.html

Dexa medica. (2012). Guillain Barre Syndrome (GBS) dan Myasthenia Gravis
(MG) Sama Berbahaya. disitasi tanggal 29 juni 2018 pukul 10.00. Retrieved
from http://www.dexa-medica.com/id/news-media/news-
update/0%2B618/Guillain Barre Syndrome %28GBS%29 dan Myasthenia
Gravis %28MG%29 Sama Berbahaya?language=id

Hughes, R. A. C. (2004). Treatment of Guillain-Barré syndrome with


corticosteroids: Lack of benefit? Lancet, 363(9404), 181–182.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(03)15367-6

Lukito, V., Mangunatmadja, I., Pudjiadi, A. H., & Puspandjono, T. M. (2010).


Plasmaferesis Sebagai Terapi Sindrom Guillain-Barre Berat pada Anak. Sari
Pediatri, 11(6).

Pithadia, A. B., & Kakadia, N. (2010). Guillain-Barré syndrome (GBS).


Pharmacological Reports, 62(2), 220–232. https://doi.org/10.1016/S1734-
1140(10)70261-9

Rahayu, T. (2012). MENGENAL GUILLAIN BARRE SYNDROME) (GBS).


disitasi tanggal 29 juni 2018 pukul 10.00

Samiadi, L. A. (2016). Apa itu sindrom guillain-barre? Retrieved from


https://hellosehat.com/penyakit/guillain-barre-syndrome-gbs/