Anda di halaman 1dari 65

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan terutama kesehatan gigi dan mulut semakin kompleks

seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor

yang saling berinteraksi di masyarakat yang memicu timbulnya penyakit gigi

dan mulut tersebut. Penyakit periodontal merupakan suatu keadaan

peradangan dan degenerasi dari jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Salah

satu penyakit gigi dan mulut yang merupakan penyebab utama hilangnya gigi di

dalam rongga mulut dan merupakan penyakit yang banyak ditemui di klinik.1

Gingivitis dan periodontitis adalah dua bentuk utama dari penyakit

peradangan yang mempengaruhi periodontium. Etiologiutama mereka adalah

plak bakteri, yang dapat memulai penghancuran jaringan gingiva dan

perlekatan periodontal. Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang tidak

mengakibatkan kehilangan perlekatan klinis. Periodontitis adalah peradangan

gusi yang ditandai dengan hilangnya perlekatan jaringan ikat dan tulang

alveolar. Masing-masing penyakit dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi.2

Penyakit periodontal banyak diderita oleh manusia hampir di seluruh

dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Menurut hasil survai

kesehatan gigi dan di Jatim tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459

orang diantara 1000 penduduk dan lebih banyak di pedesaan dari pada perkotaan.

Di Asia dan Afrika 12 prevalensi dan intensitas penyakit periodontal terlihat lebih
2

tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia. Di Indonesia penyakit

periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih merupakan masalah di

masyarakat.3

Penyakit periodontal juga merupakan salah satu penyakit yang sangat

meluas dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka menganggap penyakit

ini sebagai sesuatu yang tidak terhindari. Seperti karies gigi, penyakit

periodontal juga lambat perkembangannya dan apabila tidak dirawat dapat

menyebabkan kehilangan gigi. Namun studi epidemiologi menunjukkan bahwa

penyakit ini dapat dicegah dengan pembersihan plak dengan sikat gigi dengan

teratur serta menyinkirkan karang gigi apabila ada. Gingivitis dan periodontitis

merupakan penyebab terjadinya penyakit periodontal. Gingivitis adalah

peradangan pada gusi dengan tanda-tanda klinis perubahan warna lebih merah

dari normal, gusi membengkak, dan berdarah pada tekanan ringan. Biasanya

tidak menimbulkan rasa sakit hanya keluhan gusi berdarah bila sikat gigi.

Periodontitis biasanya dijumpai pada usia antara 30-40 tahun, perkembangan

penyakit ini lambat. Pada periodontitis proses peradangan sudah sampai

kejaringan yang lebih dalam dan apabila tidak dirawat maka pada waktu yang

lama kemudian dapat menyebabkan kehilangan gigi. Penyakit periodontal

merupakan penyebab terbesar dari kehilngan gigi pada orang dewasa di usia 30

tahun ke atas. Epidemiologi penyakit periodontal menunjukkan bahwa

prevalensi dan keparahan penyakit periodontal dipengaruhi oleh umur, jenis

kelamin, faktor lokal rongga mulut, dan faktor sistemik.4


3

Untuk itu perlu dilkukan perawatan dan pencegahan sedini mungkin. Salah

satu program Puskesmas untuk tingkat sekolah adalah UKGS. UKGS adalah suatu

komponen dari usaha kesehatan sekolah (UKS) dan merupakan strategi teknis

pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi anak sekolah yang pelakanaannya

disesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Sesuai dengan indikator

dan target nasional UKGS tahun 2000, untuk tingkat SD dengan indeks umur 12

tahun dapat digunakan survei DMF-T (Decay Missing Filled-Teeth) ataupun

CPITN (Community Periodontal Index Treatment Needs).5

CPITN (Community Periodontal Index Treatment Needs) diperkenalkan

pada tahun 1983 selain untuk mengetahui jenis kelainan periodontal yang

terjadi di masyarakat, sekaligus menetapkan macam perawatan yang

diperlukan. Macam perawatan yang diperlukan disesuaikan dengan derajat

skornya yang mencakup promosi, pembersihan karang gigi yang merupakan

tindakan preventif, tindakan kuratif sederhana dan kompleks serta tindakan

rehabilitatif untuk mengembalikan fungsi kunyah.6 Penelitian mengenai survei

CPITN di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan belum pernah dilakukan. Maka

dari itu penulis tertarik untuk melakukan survei CPITN pada siswa kelas VI

sekolah dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah,

yaitu bagaimana kebutuhan perawatan periodontal pada siswa kelas VI sekolah

dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan?


4

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui status kesehatan periodontal siswa kelas VI SD Negeri di tiga

kelurahan, wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan .

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mendapatkan data tentang status periodontal pada siswa kelas VI sekolah

dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan tahun 2015.


2. Mengetahui kebutuhan perawatan periodontal pada siswa kelas VI

sekolah dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan tahun

2015.
3. Mengetahui prioritas masalah status kesehatan periodontal pada siswa

kelas VI sekolah dasar negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan

tahun 2015 .
4. Mendapatkan alternatif pemecahan masalah terhadap status kesehatan

periodontal pada siswa kelas VI sekolah dasar negeri di wilayah kerja

Puskesmas Taman Bacaan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan dan sumber informasi.


2. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi ilmiah mengenai

kebutuhan perawatan periodontal pada siswa kelas VI sekolah dasar

negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan 2015.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
5

Periodonsium mempunyai empat komponen; gingiva, ligamentum

periodontal, sementum dan tulang alveolar. Fungsi utama periodonsium

adalah untuk me1ekatkan gigi pada jaringan tulang rahang dan untuk

mempertahankan integritas permukaan mukosa mastikatori dalam rongga mulut.

Periodonsium yang disebut juga alat perlekatan atau jaringan pendukung gigi

mengalami perubahan morfologik dan fungsi tertentu sejalan dengan

bertambahnya usia. Jadi, periodonsium berada dalam suatu proses perubahan

yang terjadi terus-menerus yang berhubungan dengan pertambahan usia,

mastikasi dan keadaan lingkungan mulut.7

2.1 Struktur Dasar Jaringan Periodontal

2.1.1 Gingiva

Gingiva adalah bagian dari mukosa oral yang mengelilingi bawah gigi

dan prosesus alveolaris, dan yang meluas dari margin gingiva ke muco-gingiva

junction dimana ini menyambung mukosa alveolar yang lebih bebas. Dalam

keadaan sehat gingiva berwarna merah mudah, kokoh, bertepi tajam dan berlekuk

– lekuk untuk mengikuti bentuk kontur gigi .6


6

Gambar 1. Jaringan periodontal

Gingiva merupakan bagian dari jaringan pendukung gigi dan

membentuk hubungan dengan gigi yang meliputi marginal gingiva, attached

gingiva dan interdental gingiva. Gingiva berfungsi melindungi jaringan dibawah

perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut. Gingiva tergantung

pada, gigi geligi: bila ada gigi geligi, maka gingiva juga akan hilang.8

A. Gambaran Makroskopik

Secara anatomis gingiva terbagi menjadi marginal gingiva, attached

gingiva dan interdental gingiva.

1) Marginal gingiva (unattached gingiva)

Marginal gingiva merupakan batas tepi akhir atau bagian paling koronal

dari gingiva yang mengelilingi leher gigi dan mempunyai bentuk seperti

kera baju. Marginal gingiva dipisahkan dari attached gingiva oleh suatu

lekukan dangkal berupa garis yang biasa disebut free gingiva groove. Bagian

marginal gingiva membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva

selebar 0-2 mm.8


7

Gambar 2. Gambaran gingiva

Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang di sekeliling gigi

yang dibatasi oleh permukaan gigi pada satu sisi dan oleh epitel yang

melapisi freegingival margin pada sisi lainnya. Sulkus gingiva berbentuk

huruf ”V” dan hanya sedikit bagian dari sulkus gingiva yang dapat dimasuki oleh

probe periodontal. Penentuan klinik kedalaman sulkus gingiva merupakan

parameter diagnostik yang penting. Pada kondisi normal kedalaman sulkus

gingiva adalah 0 atau kira-kira 0.8

2) Attached gingiva

Attached gingiva merupakan lanjutan dari marginal gingiva.

Perlekatan gingiva atau Attached gingiva atau mukosa fungsional meluas dari

groove gingiva bebas ke pertautan mukogingival dimana akan bertemu dengan

mukosa alveolar.9 Mukosa alveolar adalah suatu mukoperiosteum yang melekat

erat pada tulang alveolar dibawahnya. Pada pertautan mukogingiva,

mukoperiosteum terpisah sehingga mukosa alveolar terpisah dari

mukoperiosteum melalui perantara jaringan-jaringan ikat longgar yang sangat

vaskular. Jadi, mukosa alveolar umumnya berwarna merah tua, berbeda dengan
8

daerah perlekatan gingiva yang berwama merah muda. Permukaan perlekatan

gingiva mempunyai stippling yang mirip kulit jeruk. Stippling ini umumnya

sangat bervariasi. Stippling terlihat jelas pada permukaan fasial dan sering

tidak terlihat pada usia lanjut. Penyebab stippling dewasa ini belum diketahui

tetapi kelihatannya berhubungan dengan retepeg epithelial.8

Gambar 3. Gambaran mikroskopik gingiva

Lebar perlekatan gingiva bervariasi dari 0-9 mm. Lebar attached

gingiva rnerupakan parameter klinik yang sangat penting. Yang dimaksud

dengan lebar attached gingiva adalah jarak mucogingingal junction dengan

proyeksi dasar dari sulkus gingiva atau poket periodontal pada permukaan luar

gingiva. Lebar attached gingiva pada aspek fasial bervariasi pada daerah yang

berbeda dalam rongga mulut. Umumnya lebar pada regio gigi incisivus (3,5-4,5

mm pada RA dan 3,3-3,9 mm pada RB) dan paling sempit pada regio gigi

posterior dengan daerah yang paling sempit terletak pada regio premolar pertama

(1,9 mm pada RA dan 1,8 mm pada RB).8


9

Gambar 4. Epitelial attachment

Mucogingival junction tidak mengalami perubahan sepanjang hidup

sehingga terjadinya perubahan posisi pada ujung koronalnya. Lebar attached

gingiva meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan pada gigi yang

supraerupsi. Pada aspek lingual RB, attached gingiva berakhir pada

hubungannya dengan mukosa alveolar sebelah lingual dimana mukosa alveolar

ini bersambung dengan membran mukosa yang melapisi dasar mulut.8

3) Interdental gingiva

Gingiva yang mengisi ruang interdental dari daerah koronal sampai

crest alveolar adalah interdental gingiva. Biasanya terdiri dari dua papilla, satu di

sebelah fasial dan satu di daerah lingual dan col. Col adalah cekungan yang

menyerupai lembah yang menghubungkan papilla dan sesuai dengan bentuk

daerah kontak interproksimal. Bila gigi geligi berkontak, col akan menyesuaikan

terhadap bentuk gigi geligi di apikal daerah kontak. Bila gigi gigi yang

berdekatan tidak saling berkontak, tidak ada col dan interdentalgingiva

kelihatan berbentuk datar atau konveks.8


10

Epitelium col biasanya sangat tipis, tidak berkeratinisasi dan terbentuk

hanya dari beberapa lapis sel. Strukturya mungkin merefleksikan posisinya yang

terlindung. Pertukaran sel-sel epithelial sama seperti pada daerah gingiva

lainnya.6 Setiap papilla interdental berbentuk pyramida. Papilla ini

menyerupai lembah dan bentuknya sesuai dengan daerah kontak

interproksimal, sedang permukaan mesial dan distal berbentuk sedikit konkaf.

Ujung dan tepi lateral dari papilla interdental dibentuk oleh kontinuitas marginal

gingiva dari permukaan gigi dari permukaan gigi yang berdekatan. Bila tidak

ada kontak antara gigi, maka gingiva akan melekat pada tulang alveolar dan

membentuk permukaan licin tanpa adanya papilla interdental.8

2.1.2 Ligamentum Periodontal

Ligamen Periodontal merupakan jaringan ikat serabut kolagen yang

mengelilingi akar gigi dan melekat pada prosesus alveolar. Ligamen

periodontal melekat pada dan bahkan mengatasi secara adekuat dengan

kekuatan. Bagian terpenting dari ligamen periodontal yang berfungsi untuk

menahan gaya kunya.9 Ketebalan ligamentum bervariasi dari 0,1-0,3 mm. Yang

terlebar pada mulut soket dan apeks gigi, dan tersempit pada aksis rotasi gigi,

yang terletak sedikit ke apikal dari pertengahan akar.6 Ligamen periodontal

terdiri dan serabut kolagen dengan diameter sekitar 5 um yang tersusun secara

teratur pada matriks substansi dasar yang dilewati pembuluh darah dan saraf.

Bundel serabut yang berinsersi pada salah satu ujungnya di sementum dan

ujung lainnya pada dinding soket sebagai serabut sharpey .6

A. Fungsi ligamentum periodontal


11

1. Berfungsi memberikan dorongan (supportive function) dengan cara

melekatkan gigi ke alveolarbone proper disekelilingnya. Fungsi ini

deberikan terutama oleh serat-serat utama ligamentum periodontal yang

membentuk gabungan serat yang kuat antara sementum akar gigi dan

tulang. Ligamentum periodontal juga bertindak sebagai peredam

tekanan dengan cara memberikan daya tahan terhadap tekanan ringan

maupun tekanan berat. Tekanan ringan diatasi oleh bantalan 22 cairan

gingiva yang memancar keluar dari pembuluh darah. Tekanan sedang juga

diredam oleh jaringan ekstravaskuler yang memancar keluar dari ruang

ligamentum periodontal menuju ruang sumsum didekatnya. Sedangkan

tekanan berat diatasi oleh serat-serat utama.6


2. Ligamentum periodontal berfungsi sebagai periosteum pada sementum

dan tulang. Sel dalam ligamentum periodontal berperan untuk

pembentukan dan resorpsi kedua jaringan ini dimana proses ini terjadi

pada pergerakan gigi secara fisiologis, adaptasi periodontium terhadap

tekanan oklusal dan penyembuhan lesi.8


3. Memberikan fungsi nutrisi yang mempertahankan vitalitas beragam sel

– sel. Ligamen periodontal tervaskularisasi dengan baik dimana suplai

utama darah berasal dari arteri gigi yang masuk ke dalam Ligamentum

periodontal melalui fundus alveoli .6


4. Innervasi pada ligamentum periodontal memberikan sensitivitas

proprioseptif dan taktil yang dapat mendeteksi lokasi tekanan ekstemal

yang terjadi pada gigi individual dan mempunyai peranan penting dalam

mekanisme neuromuscular yang mengontrol otot-otot mastikasi.8

2.1.3 Sementum
12

Sementum adalah jaringan mesenkim yang terkalsifikasi dan

menutupi seluruh permukaan akar anatomis. Ada dua bentuk utama

sementum akar yaitu aselluler (primer) dan selluler (sekunder). Keduanya terdiri

dari matriks interfibriliar yang terkalsifikasi dan serat-serat kolagen.Sementum

primer yang pertama di bentuk dan kira-kira menutupi 2/3 servikal dari akar,

tidak mengandung sel-sel dan karenanya disebut aselluler. Sementum ini di

bentuk sebelum gigi mencapai dataran oklusal. Sementum yang dibentuk setelah

gigi mencapai dataran oklusal lebih teratur dan biasanya mengandung sel-sel

dalam ruang tersendiri (lakuna) yang berhubungan dan saling sambung-

menyambung sistem anatomosis kanalikulus. Sementum ini disebut sementum

selular atau sementum sekunder.8

2.1.3.1 Gambaran mikroskopik

1) Klasifikasi sementum

Terdapat 2 bentuk utama sementum yaitu sementum aseluler (primer) dan

sementum seluler (sekunder). Kedua bentuk sementum ini mengandung matriks

interfibrillar yang mengalami kalsifikasi dan fibril kolagen. Kedua bentuk

sementum ini juga tersusun berupa lamela yang dipisahkan satu sama lain oleh

garis incremental yang sejajar terhadap sumbu panjang gigi.8


13

Gambar 5. Dua bentuk utama sementum yaitu sementum seluler dan

sementum aseluler

Serabut Sharpey menyusun sebagian besar struktur sementum aseluler

yang mempunyai peranan utama dalam mendukung gigi.Sementum seluler

kurang mengalami kalsifikasi dibandingkan dengan sementum aseluler. Serat

sharpey menyusun sebagian kecil sementum seluler dan dipisahkan dengan serat

lainnya yang tersusun sejajarterhadap permukaan akar atau tersusun secara

acak .8

Gambar 6. Serabut Sharpey yang menyusun sebagian besar sementum

aseluler.

Intermediate cementum adalah suatu daerah yang tidak berbatas jelas di

dekat cemento-enamel junction yang tampaknya mengandung sisa seluler dari

Hetwig's sheath dan tertanam dalam substansi dasar yang terkalsifikasi.8

2) Cemento-enamel junction

Terdapat 3 jenis hubungan antara sementum dan email pada cemento

enamel junction yaitu 8 :

1. Sementum bertumpang tindih dengan email terjadi kira-kira 60-65%

dari kasus yang ada 25


14

2. Tepi sementum bertemu dengan tepi email pada kira-kira 30% dari kasus

yang ada.
3. 5-10% kasus dimana sementum tidak bertemu dengan email

2.1.2 Tulang Alveolar

Tulang alveolar merupakan bagian dari tulang rahang yang

membentuk dan mendukung gigi dalam soketnya.10

Gambar 7. Tulang alveolar

Tulang alveolar terdiri dari:

1. Dinding soket sebelah dalam yang merupakan bagian dari tulang kompak

yang tipis dan mengelilingi serta memberikan perlekatan pada ligamentum

periodontal yang disebut alveolar bone proper. Tulang ini juga

disebutlamina dura atau plate cribriform.8


2. Supporting alveolar bone. Bagian dari tulang alveolar yang

mengelilingi 26 bone proper dan memberikan dukungan untuk soket.8

Terdiri dari :
a. Tulang padat atau kortikal ditemukan diatas vestibular dan aspek mulut

processus alveolar.8
15

b. Tulang cancellous (spongy bone) yang terletak diantara alveolar bone

proper dan tulang kortikal. Tu1ang cancellous mengandung sum-sum

terdapat pada anak-anak, kebanyakan berwarna kuning atau jenis

lunak. Foci atau sumsum merah kadang-kadang dapat ditemukan pada

daerah maksilla dan mandibula.8

Gambar 8. Tulang alveolar, ligamen periodontal, dan sementum

2. 2. Penyakit Periodontal

2.2.1 Pengertian Penyakit Periodontal

Penyakit periodontal adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung

gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme spesifik, menyebabkan destruksi

yang progresif dari ligamen periodontal dan tulang alveolar sehingga terbentuk

poket, resesi atau keduanya.11

Penyakit periodontal yaitu peradangan dan juga perubahan resesif

pada gingiva dan periodontium. Gingivitis adalah suatu proses peradangan yang

terbatas pada gingiva ( tidak ada kehilangan perlekatan ). Disamping hampir ada
16

dimana- mana kondisi gingivitis ditimbulkan oleh plak, perubahan gingiva

juga dideteksi selama periode ketidakseimbangan hormonal dan penyakit

sistemik, atau sebagai efek samping obat. Jika jaringan pendukung tulang

alveolar juga dipengaruhi oleh proses inflamasi di periodontium, maka itu

disebut periodontitis. Istilah resesi atau resesi gingiva mengacu pada

menurunnya gingiva atau tulang alveolar ke arah apikal, yang biasanya terjadi

pada aspek labial di gigi yang secara klinis bebas dari peradangan.12

Periodontitis adalah suatu penyakit peradangan jaringan pendukung gigi

yang disebabkan oleh kelompok mikroorganisme tertentu, yang

mengakibatkan penghancuran progresif ligamentum periodontal dan tulang

alveolar, dengan pembentukan poket, resesi, atau keduanya.Periodontitis

menunjukkan lesi inflamasi gingiva serta rusaknya ligamentum periodontal

dan tulang alveolar. Hal ini menyebabkan kehilangan tulang dan migrasi

apikal dari epitelium junctional, mengakibatkan pembentukan poket

periodontal. Infeksi periodontal dimulai oleh invasi oral patogen spesifik

( bakteri aerob dan bakteri anaerob ) yang berkolonisasi pada biofilm plak gigi

pada permukaan akar gigi.13

2.2.2 Mekanisme Terjadinya Penyakit Periodontal

Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan

oleh bakteri, inflamasi periodontal dapat berkembang menjadi penyakit yang

destruktif 28 yang menyebabkan kerusakan jaringan periodontal. Untuk dapat

menimbulkan kerusakan, bakteri harus;

a. berkolonisasi pada sulkus gingiva dengan menyerang pertahanan hospes,


b. merusak barier krevikular epithelial, atau,
17

c. memproduksi substansi yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan baik

secara langsung maupun tidak langsung.14

Beberapa patogen periodontal diperkirakan mempunyai mekanisme

potenuntuk menyerang atau merusak pertahanan hospes termasuk : kerusakan

langsung dari PMN dan makrofag. Mekanisme poten tersebut berupa

leukotoksin yang diproduksi oleh beberapa strain Actinobacillus

actinomycetencomitans yang dapat merusak PMN dan makrofag; Mengurangi

kemotaksis PMN. Sejumlah spesies bakteri dari genus Bacteroides dan

Capnocytophaga serta Actinobacillus actinomycetemcomitans dapat

mengurangi kemotaksis PMN dan mengurangi fagositosis serta penghancuran

intrasel; Degradasi imunoglobulin.Spesies Bacteroides dan Capnocytophaga

yang mempunyai pigmentasi hitam dapat memproduksi protease yang dapat

mendegradasi IgA dan IgG; Degradasi fibrin.14

Beberapa spesies Bacteroides berpigmen hitam mempunyai aktivitas

fibrinolitik yang dapat mengurangi terjebaknya bakteri oleh fibrin untuk

fagositosis permukaan; Selain menyerang mekanisme pertahanan tubuh non-

spesifik, sejumlah bakteri patogen gram-negatif dan Spirochaeta yang

terdapat pada subgingiva juga menyerang mekanisme pertahanan tubuh yang

spesifik, seperti limfosit bakteri menyerang dengan jalan merubah fungsi

limfosit dan memproduksi imunosupresi.14

Merusak daerah krevikular adalah cara bakteri selanjutnya untuk menginfeksi

hospes. Hal ini dapat dilakukan oleh beberapa bakteri pada flora subgingiva

baik secara langsung maupun tidak langsung.Faktor-faktor langsung yang


18

toksik bagi epitelium disekresi oleh Bacteroides gingivalis, B.intermedius,

spesies Capnocytophaga dan Actinobacillus actinomycetencomitans.Keadaan

yang ditimbulkan akibat toksik ini akan meningkatkan permeabilitas krevikular

epitelium terhadap produk bakteri dan kemungkinan juga terhadap bakteri itu

sendiri.14

Kerusakan jaringan oleh bakteri dapat dilakukan dengan cara menghasilkan

enzim yang dapat merusak jaringan periodontal. Enzim proteolitik yang

dihasilkan oleh bakteri yang berhubungan dengan penyakit periodontal antara

lain adalah kolagenase yang dihasilkan oleh spesies Bacteroides,

Actinobacillus actinomycetencomitans dan spirochaeta. Enzim elastase

dihasilkan oleh Spirochaeta, tripsin oleh Bacteroides gingivalis, aminopeptida

oleh Bacteroides dan spesies Capnocytophaga.14

Ada berbagai metabolit bakteri dan produk toksik yang dapat merusak

jaringan dan merangsang terjadinya inflamasi.Mereka termasuk ammonia,

amin toksin, indole, asam organik, hidrogen sulfida, metimerkaptan, dan

dimetil disulfida.Salah satunya adalah lipopolisakarida endotoksin (LPS) yang

dikandung dinding sel bakteri gram-negatif dan dikeluarkan ketika bakteri mati.

Ekstrak dari bakteri gram-negatif yang diisolasi dari poket periodontal dapat

menyebabkan aktivasi sel B-poliklonal, yang ikut berperan pada patologi

periodontal dengan cara 30 merangsang limfosit untuk membentuk antibodi

yang tidak berhubungan dengan agen pengaktif.14

Pada semua tahap periodontitis bakteri dapat ditemukan pada permukaan akar

dan terdapat bebas di dalam poket. Dari daerah ini bakteri akan masuk ke jaringan
19

melalui epitelium poket yang mengalami ulserasi. Spesies Actinomyces dapat

sedikit berpenetrasi ke sementum dan produk-produk bakteri seperti LPS

dapat mengkontaminasi sementum.Meskipun demikian, derajat penetrasi dari

produk- produk ini ke dalam sementum umumnya superfisial.Banyak bakteri

gram-negatif yang mempunyai kemampuan untuk melekat pada bakteri gram-

positif dan sel apitel. Kemampuan ini merupakan faktor penting pada

pembentukan kolonisasi subgingiva dan juga memungkinkan bakteri berkoloni

pada sel permukaan epitelium poket.14

2.3. Indeks Kebutuhan Perawatan Periodontal Komunitas (Community

Periodontal Index Treatment Needs-CPITN)

CPITN diperkenalkan pada tahun 1983 selain untuk mengetahui jenis

kelainan periodontal yang terjadi di masyarakat, sekaligus menetapkan

macam perawatan yang diperlukan.Macam perawatan yang diperlukan

disesuaikan dengan derajat skornya yang mencakup promosi, pembersihan karang

gigi yang merupakan tindakan preventif, tindakan kuratif sederhana dan

kompleks serta tindakan rehabilitatif untuk mengembalikan fungsi kunyah.6

Terdapat indikator status periodontal yang digunakan dalam penilaian

ini, yaitu 15:

• Skor 0 berarti kondisi jaringan periodontal sehat

• Skor 1 berarti terjadi perdarahan gingiva ketika atau setelah probing


20

• Skor 2 berarti terdapat Kalkulus supra dan subgingiva

• Skor 3 terdapat poket periodontal dengan kedalaman 4-5 mm

• Skor 4 terdapat poket periodontal dengan kedalaman 6 mm

Prinsip kerja CPITN ada beberapa hal yaitu 15 :

1. Menggunakan sonde khusus yang di sebut WHO Periodontal Examining Probe

2. Terdapat sektan yang meliputi 6 sektan

3. Terdapat gigi indeks

4. Terdapat nilai (skor) untuk berbagai tingkatan kondisi jaringan periodontal

5. Menentukan relasi skor tertinggi dengan KKP (Kategori Kebutuhan

Perawatan), tenaga dan tipe pelayanan

1. Sonde khusus

Untuk mengetahui kondisi jaringan periodontal, dipergunakan sonde

khusus yang ujung sondenya merupakan sebuah bola kecil berdiameter 0,5 mm.

Area yang berwarna (sebagai skala) berada pada daerah 3,5 sampai 5,5 mm.

Gambar 9. Periodontal Probe


21

 Sonde dimasukkan ke dalam saku gusi untuk melihat adanya perdarahan

atau kedalaman poket


 Alat ini dipakai juga sebagai alat peraba adanya karang gigi
 Bilamana dalamnya poket antara 4-5 mm, sebagian warna hitam masih

terlihat
 Adapun kedalaman poket 6 mm atau lebih, maka seluruh bagian sonde

yang berwarna hitam sudah tidak terlihat15.

Gambar 10. Probing yang menunjukkan kedalaman poket 8 mm.

Gigi indeks di raba dengan sonde untuk mengetahui adanya 16 :

• Perdarahan

• Karang gigi

• Kedalaman poket antara 4-5 mm dan 6 mm atau lebih

• Penilaian (skor) untuk tingkat kondisi jaringan periodontal

• Menentukan relasi skor tertinggi untuk kategori

Tekanan yang diberikan pada daerah proksimal saku gigi besarnya tidak

melebihi 25 gram. Cara untuk mengetahuinya yaitu: Bila ujung sonde yang

bentuk bola ditekankan ke daerah kulit atau dibawah kuku ibu jari tangan,
22

tidak menimbulkan rasa sakit atau rasa tidak enak atau rasa tidak menyenangkan.

Perabaan dengan ujung sonde/probing mengikuti konfigurasi anatomi akar gigi

dari distal ke arah medial baik permukaan bukal ataupun lingual.16

Ujung probe harus dimasukkan secara lembut ke dalam poket gingival dan

kedalaman insersi dibaca berdasarkan kode warna. Jumlah daerah permukaan

poket yang harus dieksplorasi paling kurang 6 daerah pada tiap gigi harus

diperiksa :mesio-bukal, mid-bukal, dan bagian yang menghubungkan permukaan

lingual.16

2) Sektan

Untuk memperoleh penilaian CPITN dipergunakan sektan yang meliputi

enam region,15 yaitu:

• Sektan 1 : gigi 4, 5, 6, 7 ka RA

• Sektan 2 : gigi 1, 2, 3 ki/ka RA

• Sektan 3 : gigi 4, 5, 6, 7 ki RA

• Sektan 4 : gigi 4, 5, 6, 7 ka RB

• Sektan 5 : gigi 1, 2, 3 ka/ki RB

• Sektan 6 : gigi 4, 5, 6, 7 ki RB

Suatu sektan dapat diperiksa bila sektan tersebut terdapat paling sedikit 2

gigi dan tidak merupakan indikasi untuk pencabutan. Jika disektan hanya ada satu

gigi saja, gigi tersebut dimasukkan ke sektan disebelahnya. Dengan demikian

sektan dengan 1 gigi tidak diberi skor/nilai. Penilaian untuk satu sektan adalah

keadana yang terparah/skor nilai paling tinggi.15

3) Gigi indeks
23

Untuk mendapatkan penilaian keadaan jaringan periodontal, tidak semua

gigi yang diperiksa.Melainkan hanya beberapa gigi saja yang disebut gigi indeks.

Gigi indeks yang harus diperiksa adalah 17

• Untuk orang dewasa muda 20 tahun dan ke atas

17, 16 11 26, 27
47, 46 31 36, 37
• Untuk anak usia muda 19 tahun ke bawah

16 11 26
46 31 36

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan17 :

1. Jika salah satu gigi Molar dari gigi indeks tidak ada, tidak perlu dilakukan

penggantian gigi tersebut


2. Jika dalam sektan tidak terdapat gigi indeks, semua gigi yang ada dalam

sektan tersebut diperiksa dan dinilai. Diambil yang mempunyai keadaan

yang terparah yang mempunyai skor tertinggi yang terdapat di sektan

tersebut.
3. Untuk anak muda usia 19 tahun dan ke bawah, tidak perlu dilakukan

pemeriksaan gigi molar kedua. Hal ini dilakukan untuk menghindari

terjadinya false pocket


4. Untuk anak muda usia 15 tahun dan ke bawah, pencatat hanya dilakukan

bila ada perdarahan dan karang gigi saja, tidak poket.


5. Bila tidak ada tidak gigi indeks/gigi pengganti diberi tanda X.

4) Penilaian tingkat kondisi jaringan periodontal

Untuk penilaian dapat digunakan tabel sebagai berikut ini

Tabel 1. Penilaian untuk kondisi jaringan periodontal

Nilai Kondisi Jaringan Periodontal


0 Tidak terdapat perdarahan
24

Tidak terdapat kalkulus


Tidak terdapat poket patologis
1 Perdarahan pada probing margin gingiva
Tidak terdapat kalkulus
Tidak terdapat poket patologis
2 Terdapat kalkulus (sub atau supragingiva) dengan
atau tanpa perdarahan
Tidak terdapat poket patologis
3 Poket patologis sedalam 4-5 mm dengan atau tanpa
kalkulus dan perdarahan
4 Poket patologis sedalam 6 mm atau lebih dengan
atau tanpa kalkulus dan perdarahan

Dibuat suatu kuisoner untuk mengetahui umur, jenis kelamin, latar

belakang sosioekonomi, metode oral hygiene, dan sikap terhadap perlunya

kesehatan rongga mulut dari siswa yang dicatat sebelum pemeriksaan

periodontal secara klinis. Skor CPITN tertinggi di setiap sektan setelah

pemeriksaan dari empat sisi (labial, lingual/palatal, mesial dan distal) dipakai

sebagai nilai dari tiap sektan. Nilai rata-rata tiap subjek dikalkulasikan.17
25

Gambar 11. Skor kondisi periodontal saat probing

5) Penetuan relasi skor tertinggi dengan KKP (kategori kebutuhan

perawatan), tenaga dan tipe pelayanan

Tabel 2. Menentukan Relasi Skor Tertinggi dengan Kategori Kebutuhan

Perawatan,

Tenaga dan Tipe Pelayanan Skor Kondisi Jaringan

Skor Kondisi Jaringan KKP Tipe Tenaga


Periodontal Pelayanan
0 Sehat - 0 -
1 Perdarahan EIKM I Guru/Prg
2 Karang gigi EIKM + SK II Prg/Drg
3 Pocket dangkal EIKM + SRP II Prg/Drg
4 Pocket dalam EIKM + SK + III Drg
RP
26

Keterangan:

1. Kriteria umumnya subyektif dan terdapat variasi yang cukup besar pada

penilaian oleh pemeriksa dalam derajat inflamasi dan kedalaman poket

atau kerusakan perlekatan.6


2. Sistem skore pada dasarnya ditentukan secara acak dan masih belum

adanya standar atau rekomendai internasional dari data CPITN.6


3. Penggunaan gigi indeks dan adanya kalkulus tiap sektan pada setiap

individu dapat menimbulkan estimasi yang berlebihan untuk kebutuhan

perawatan.6
27

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian yan

\g digunakan adalah penelitian survey deskriptif

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Wilayah Kerja Puskesmas Taman Bacaan

Kelurahan Tangga Takat : SD Negeri 100, SD Negeri 101, SD Negeri 105

Kelurahan 16 ULU : SD Negeri 102, SD Negeri 103, SD Negeri 104, SD

Negeri 106, SD Negeri107

Kelurhan Sentosa : SD Negeri 108, SD Negeri 109, SD Negeri 110

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 23 Febuari 2015 – 7 Maret 2015

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas VI sekolah dasar negeri di

Kota Palembang.
28

3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VI sekolah dasar negeri

wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang.

3.4 Definisi Operasional

1. Survei adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif.

2. CPITN adalah suatu pengukuran yang mengklasifikasikan status periodontal

suatu individu atau populasi dalam suatu gambaran yang diambil berdasarkan

prevalensi tingkat keparahan. Indeks ini dicatat berdasarkan pengukuran probe

pada poket periodontal dan status jaringan gingiva.

3. Probe periodontal adalah alat yang digunakan untuk melokalisir, mengukur, dan

menandai saku, serta untuk memperkirakan konfigurasi saku pada setiap sisi gigi.

4. UKGS adalah suatu komponen dari usaha kesehatan sekolah (UKS) dan

merupakan strategi teknis pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi anak sekolah

yang pelakanaannya disesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

3.5 Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang didapat dari

pemeriksaan secara langsung kepada siswa kelas VI sekolah dasar negeri wilayah

kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang pada tanggal 23 Febuari 2015 - 7

Maret 2015 yang dikelompokan berdasarkan lokasi, jenis kelamin dan sektan.

Data kemudian dikalkulsikan.

3.5.1 Alat dan Bahan


29

Alat

• Probe periodontal untuk mengukur nilai CPITN

• Pinset untuk menjepit tampon/kapas

• Neirbecken untuk tempat alat dan kapas

• Handuk putih untuk pengalas meja

• Handscoon

• Masker

• Gelas untuk kumur

• Alat tulis untuk mencatatat

Bahan

• Alkohol 70%

• Betadine/povidone iodine 10 L

• Kapas dan tissue

3.5.2 Cara Kerja


 Sampel diperiksa berdasarkan 6 segmen yaitu Molar kanan atas (16), incisivus

kanan atas (11), molar kiri atas (26), molar kiri bawah (36), incisivus kiri

bawah (31), dan molar kanan bawah (46)


 Untuk keadaan periodontal sehat, diberikan skor CPITN yaitu skor 0, bila

terjadi perdarahan setelah probing diberi skor 1, bila terlihat kalkulus

supragingiva/subgingiva di beri skor 2, untuk kedalaman poket 4- 5 mm diberi

skor 3, dan untuk kedalaman poket lebih dari 6 mm diberi skor 4.


 Dari keseluruhan skor yang didapatkan dari tiap segmen, ditentukan skor

tertinggi untuk menentukan nilai kemaknaan CPITN.

3.5.3 Kriteria Penilaian

Nilai Kondisi Jaringan Periodontal


30

Tidak terdapat perdarahan

Tidak terdapat kalkulus

Tidak terdapat poket patologis

Perdarahan pada probing margin gingival

Tidak terdapat kalkulus

Tidak terdapat poket patologis

Terdapat kalkulus (sub atau supragingiva) dengan atau tanpa perdarahan

Tidak terdapat poket patologis

Poket patologis sedalam 4-5 mm dengan atau tanpa kalkulus atau perdarahan

Poket patologis sedalam 6 mm atau lebih dengan atau tanpa kalkulus dan

perdarahan
31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Jumlah total siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri yang diperiksa di

wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan berjumlah 618 siswa dengan 297 siswa

laki-laki dan 321 siswa perempuan yang terdiri dari 3 kelurahan, yaitu Tangga

Takat, 16 Ulu, dan Sentosa. Kelurahan Tangga Takat dengan jumlah siswa 192

siswa yang terdiri dari 87 siswa laki-laki dan 105 siswa perempuan, sedangkan

pada kelurahan 16 ULU dengan jumlah siswa 297 siswa yang terdiri dari 152

siswa laki-laki dan 145 siswa perempuan , serta Kelurahan Sentosa dengan

jumlah siswa129 siswa yang terdiri dari 58 siswa laki-laki dan 71 siswa

perempuan.

Gambaran lebih jelas mengenai total skor pasien di setiap Sekolah Dasar

Negeri di Kelurahan Tangga Takat, 16 ULU, dan Sentosa dapat dilihat pada tabel

yang telah disajikan berikut.


32

4.1.1 Skor CPITN Siswa Kelas VI SD Negeri Kelurahan Tangga Takat

Tabel. 3 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 100 Kelurahan Tangga Takat

pada tanggal 23 Febuari 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 2 0 2 2 0 2 1 2 2 2 2 2 2
2 1 0 1 0 0 0 2 1 0 1 1 1 1
3 0 2 0 2 0 2 3 1 1 1 1 1 1
4 2 0 2 1 0 1 4 2 0 2 1 1 1
5 1 0 1 1 0 1 5 0 2 0 1 0 1
6 1 1 1 2 1 2 6 2 0 2 1 1 1
7 2 0 2 1 0 1 7 0 0 0 0 1 0
8 0 1 0 0 1 0 8 1 0 1 0 1 0
9 2 1 2 1 2 1 9 2 0 1 1 0 1
10 1 0 1 0 0 0 10 2 2 2 2 2 2
11 2 1 2 0 2 0 11 1 1 1 2 1 2
12 2 0 2 1 1 1 12 2 1 2 1 2 1
13 1 1 1 1 1 1 13 0 0 0 0 1 0
14 1 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0
15 1 0 1 0 0 0 15 0 0 1 0 0 0
16 0 0 0 0 0 1 16 2 0 1 0 0 1
17 1 0 2 0 1 0 17 2 0 1 0 2 0
18 2 1 2 1 1 1 18 2 0 2 0 0 0
19 1 1 1 1 1 1 19 2 0 2 0 0 0
20 2 0 2 2 2 2 20 1 0 1 0 0 0
21 1 1 1 1 2 1 21 2 1 2 1 0 0
22 0 0 0 1 1 1 22 2 0 2 0 0 1
23 1 1 1 1 1 1 23 1 0 0 0 1 0
24 1 0 1 1 1 1 24 2 1 2 1 0 0
25 1 0 1 0 0 0 25 2 1 2 1 1 1
L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
26 2 0 1 0 1 0
27 1 0 1 0 1 0
28 2 0 2 0 0 0
29 1 0 1 0 2 0
30 1 0 1 0 1 0
31 1 0 0 0 0 0
32 1 0 1 1 0 1
33 1 0 1 0 1 1
34 1 0 0 1 0 1
33

35 2 0 2 1 0 0
36 0 0 0 0 0 0
37 0 0 0 0 0 0
38 1 0 0 0 1 2
39 1 0 0 0 0 0
Jum 29 11 26 20 18 21 Jum 49 12 41 19 25 21
lah 66 59 102 65
lah
Total 125 167

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 125 / 292 ) x 100% = 42,808%


P = ( 167 / 292 ) x 100% = 57,192%
2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 168 / 292 ) x 100% = 57,534%

RB = ( 124/ 292 ) x 100% = 42,466%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 78 / 292 ) x 100% = 26,712%


Sektan 2= ( 13 / 292 ) x 100% = 7,87%

Sektan 3= ( 67 / 292 ) x 100% =22,945 %

Sektan 4= ( 39 / 292 ) x 100% = 13,356%

Sektan 5= ( 43 / 292 ) x 100% = 14,726%

Sektan 6= ( 42 / 292 ) x 100% = 14,383%

Pada tabel 3 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 100 di Kelurahan Tangga Takat, Plaju yang pemeriksaannya

dilaksanakan pada tanggal 23 Febuari 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas

VI Sekolah Dasar Negeri 100 di Kelurahan Tangga Takat adalah 292. Jumlah skor

terbesar berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin perempuan dengan

skor sebesar 167 yaitu 57,192% sedangkan skor pada laki-laki sebesar 125

yaitu 42,808%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 292, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan
34

skor sebesar 168 yaitu 57,534% sedangkan skor pada rahang bawah sebesar 124

yaitu 42,66%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 292, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan total skor 78 yaitu 26,712%, disusul dengan sektan 3

yaitu kiri atas dengan total skor 67 yaitu 22,945%, disusul dengan sektan 5 yaitu

depan bawah dengan total skor 43 yaitu 14,726%, disusul dengan sektan 6 yaitu

kanan bawah dengan total skor 42 yaitu 14,383%, disusul dengan sektan 4 yaitu

kiri bawah dengan total skor 39 yaitu 13,356%, dan skor terkecil terdapat pada

sektan 2 yaitu depan atas dengan total skor 13 yaitu 7,87%.

Tabel. 4 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 101 Kelurahan Tangga Takat

pada tanggal 24 Febuari 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 0 0 0 0 0 1 2 2 2 2 2 2
2 1 1 1 1 1 1 2 2 0 2 1 0 1
3 1 0 1 1 0 1 3 2 2 2 2 0 2
4 0 0 0 0 0 0 4 1 1 0 0 0 0
5 1 0 1 2 1 0 5 1 1 1 1 0 1
6 2 0 2 2 0 1 6 0 0 0 0 0 0
7 1 0 1 1 0 1 7 0 2 0 2 0 2
8 1 1 1 1 0 1 8 0 0 2 2 0 2
9 1 2 1 2 0 2 9 1 1 1 2 0 2
10 0 2 0 0 1 0 10 1 1 1 1 0 1
11 0 1 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0
12 2 2 2 2 0 2 12 0 0 0 1 0 2
13 0 1 0 2 2 2 13 1 1 1 0 1 0
14 2 0 2 1 0 1 14 2 1 2 1 0 1
15 2 2 2 2 2 2 15 1 1 1 1 1 1
16 1 0 1 1 0 1 16 1 1 0 0 0 0
17 2 1 2 2 0 2 17 0 0 0 0 0 0
35

18 1 1 1 1 1 1 18 1 1 1 2 0 2
19 2 0 2 1 0 1 19 2 0 2 1 0 1
20 1 1 1 2 0 2 20 2 0 2 0 0 0
21 0 0 0 0 0 0 21 0 0 0 0 0 0
22 0 1 0 1 1 1 22 1 2 1 2 1 2
23 0 1 0 2 0 2 23 2 2 2 2 2 2
24 1 0 1 0 0 0 24 1 1 1 1 0 1
25 2 2 2 2 1 2 25 1 2 1 2 1 2
26 2 1 2 1 1 1 26 2 0 2 0 0 0
L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
27 2 2 2 2 2 2 27 0 0 0 1 0 1
28 0 1 0 0 0 0 28 0 0 0 0 0 0
29 0 0 0 0 0 0 29 2 0 2 0 0 0
30 1 0 0 0 0 1 30 0 0 0 0 0 0
31 2 0 0 0 0 0 31 2 0 2 0 0 0
32 2 1 2 1 1 0 32 0 0 0 0 0 0
33 2 1 2 0 1 2 33 2 0 2 0 0 0
34 0 0 0 0 2 0 34 2 0 2 0 0 0
35 2 1 2 1 0 2 35 2 0 0 0 1 0
36 2 1 2 0 0 0 36 2 0 0 0 0 0
37 0 0 0 0 2 0 37 2 0 0 0 1 0
38 2 0 2 0 1 0 38 2 0 0 0 0 0
39 0 0 2 0 0 2 39 0 0 2 0 0 0
40 0 0 1 0 0 0 40 1 1 1 1 1 1
41 0 1 0 0 2 0 41 2 1 2 0 1 0
42 2 0 1 1 2 0 42 2 1 2 0 1 0
43 0 1 1 1 1 0 43 2 1 0 0 2 0
44 0 0 2 2 0 0 44 1 0 0 0 0 1
45 2 0 2 2 1 0 45 0 0 2 1 1 0
46 2 1 2 0 0 1 46 0 0 0 0 0 0
47 2 0 0 0 1 0 47 1 0 2 0 1 0
48 0 0 0 0 0 0
49 0 0 0 0 0 0
50 2 2 2 0 1 0
51 2 1 2 0 1 2
52 2 0 2 0 1 0
53 1 0 1 1 0 1
54 1 0 1 1 0 1
Jumlah 48 31 49 40 27 37 Jum 60 29 54 31 20 34
lah
128 104 143 85
Total 232 228

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 232/ 460 ) x 100% = 50,435%


36

P = ( 228 / 460 ) x 100% = 49,565%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 271 / 460 ) x 100% = 58,913%

RB = ( 189 / 460 ) x 100% = 41,087%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 108 / 460 ) x 100% = 23,478%

Sektan 2= ( 60 / 460 ) x 100% = 13,043%

Sektan 3= ( 103 / 460 ) x 100% = 22,391%

Sektan 4= ( 71 / 460 ) x 100% = 15,435%

Sektan 5= ( 47 / 460 ) x 100% = 10,217%

Sektan 6= ( 71 / 460 ) x 100% = 15,435%

Pada tabel 4 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 101 di Kelurahan Tangga Takat, Plaju yang pemeriksaannya

dilaksanakan pada tanggal 24 Febuari 2015. Total Skor CPITN pada siswa kelas

VI Sekolah Dasar Negeri 101 di Kelurahan Tangga Takat adalah 460. Jumlah skor

terbesar berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan

skor sebesar 232 yaitu 50,435% sedangkan skor pada perempuan sebesar 228

yaitu 49,565%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 460, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 271 yaitu 58,913% sedangkan pada rahang bawah dengan skor

rahang bawah sebesar 189 yaitu 41,087%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 460, didapatkan skor terbesar pada sektan 1
37

yaitu kanan atas dengan skor 108 yaitu 23,478%, disusul dengan sektan 3 yaitu

kiri atas dengan skor 103 yaitu 22,391%, disusul dengan sektan 4 dan 6 yaitu kiri

bawah dan kanan bawah dengan skor 71 yaitu 15,435%, disusul dengan sektan 2

yaitu depan atas dengan skor 60 yaitu 13,043%, dan skor terkecil terdapat pada

sektan 5 yaitu depan bawah dengan skor 47 yaitu 10,21%.

Tabel. 5 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 105 Kelurahan Tangga Takat

pada tanggal 25 Febuari 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 2 2 2 2 2 2 1 0 1 0 1 1 1
2 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0 0 0 0
3 1 1 1 0 1 0 3 0 0 0 1 1 1
4 1 1 1 1 1 1 4 0 0 0 0 0 0
5 2 1 2 0 1 0 5 0 0 2 0 0 0
6 0 0 0 0 0 0 6 2 0 0 0 0 2
7 2 1 2 0 1 1 7 0 0 0 0 0 0
8 1 0 1 0 0 0 8 0 0 0 2 0 2
9 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 1 1
10 2 0 2 0 1 0 10 1 1 1 1 0 1
11 0 0 0 0 0 0 11 1 1 1 1 1 1
12 0 0 1 0 1 0 12 2 1 1 1 1 1
L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
13 0 0 0 0 0 0
14 2 1 0 0 1 0
15 1 1 1 0 1 0
Jum 15 9 14 4 11 5 Jum 7 5 6 8 5 10
38 20 18 23
lah Lah
Total 58 41

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 58 / 99 ) x 100% = 58,586%

P = ( 41 / 99 ) x 100% = 41,414%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 56 / 99 ) x 100% = 56,566%


38

RB = ( 43 / 99 ) x 100% = 43,434%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 22 / 99 ) x 100% = 22,222 %

Sektan 2= ( 14 / 99 ) x 100% = 14,141 %

Sektan 3= ( 20 / 99 ) x 100% = 20,202%

Sektan 4= ( 12 / 99 ) x 100% = 12,121%

Sektan 5= ( 16 / 99 ) x 100% = 16,161%

Sektan 6= ( 15 / 99 ) x 100% = 15,152%

Pada tabel 5 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 105 di Kelurahan Tangga Takat, Plaju yang pemeriksaannya

dilaksanakan pada tanggal 25 Febuari 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas

VI Sekolah Dasar Negeri 105 di Kelurahan Tangga Takat adalah 99. Jumlah skor

terbesar berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan

skor sebesar 58 yaitu 58,586% sedangkan skor pada perempuan sebesar 41 yaitu

41,414%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 460, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 56 yaitu 56,566% sedangkan pada rahang bawah dengan skor rahang

bawah sebesar 43 yaitu 43,434%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 99, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan skor 22 yaitu 22,222%, disusul dengan sektan 3 yaitu kiri

atas dengan skor 20 yaitu 20,202%, disusul dengan sektan 5 yaitu kdepan bawah
39

dengan skor 16 yaitu 16,161%, disusul dengan sektan 6 yaitu kanan bawah

dengan skor 15 yaitu 15,151%, disusul dengan sektan 2 yaitu depan atas dengan

skor 14 yaitu 14,141% dan skor terkecil terdapat pada sektan 4 yaitu kiri bawah

dengan skor 12 yaitu 12,121%.

4.1.2 Skor CPITN Siswa Kelas VI SD Negeri Kelurahan 16 ULU

Tabel. 6 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 102 Kelurahan 16 ULU, Plaju pada

tanggal 28 Febuari 2015

L P
NO SEKTAN NO SEKTAN
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 1 2 1 0 1 1 2 0 0 0 0 0
2 2 0 1 0 1 0 2 2 0 2 0 1 0
L P
NO SEKTAN NO SEKTAN
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
3 0 1 0 0 0 0 3 1 0 1 0 0 0
4 2 0 2 2 2 2 4 1 0 1 1 0 1
5 2 0 2 1 0 1 5 2 1 1 1 1 1
6 1 1 1 1 2 1 6 2 0 1 1 1 1
7 1 1 1 1 2 1 7 2 0 1 1 1 1
8 0 0 0 0 1 0 8 1 1 1 1 1 1
9 1 0 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1
10 1 1 1 1 0 1 10 1 0 0 1 0 0
11 0 0 0 0 0 0 11 1 0 1 0 0 0
12 2 1 2 1 1 1 12 0 0 0 0 0 0
13 2 1 2 0 2 0 13 2 0 2 0 0 0
14 2 0 2 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0
15 2 1 2 0 1 0 15 2 0 0 0 0 0
16 2 1 2 0 2 0 16 0 0 0 0 0 0
17 2 1 2 0 2 0 17 2 1 0 0 1 1
18 2 0 2 0 2 0 18 1 1 1 1 2 1
19 0 0 0 0 0 0
Jumlah 24 10 25 9 19 9 Jumlah 23 5 13 8 9 8
59 37 41 25
Total 96 66
40

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 96/ 162 ) x 100% = 59,26%

P = ( 66 / 162 ) x 100% = 40,74%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 100 / 162 ) x 100% = 61,729%

RB = ( 62 / 162 ) x 100% = 38,271%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 47 / 162 ) x 100% = 29,012%

Sektan 2= ( 15 / 162 ) x 100% = 9,259%

Sektan 3= ( 38 / 162 ) x 100% = 23,457%

Sektan 4= ( 17 / 162 ) x 100% = 10,494%

Sektan 5= ( 28 / 162 ) x 100% = 17.284%

Sektan 6= ( 17 / 162 ) x 100% = 10,494%

Pada tabel 6 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 102 di Kelurahan 16 ULU, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 28 Febuari 2015. Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 102 di Kelurahan 16 ULU adalah 162. Jumlah skor terbesar

berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor

sebesar 96 yaitu 59,26% sedangkan skor pada perempuan sebesar 66 yaitu

40,74%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 460, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 100 yaitu 61,729% sedangkan pada rahang bawah dengan skor

rahang bawah sebesar 62 yaitu 38,271%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan
41

sektan kanan bawah dengan total skor 99, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan skor 47 yaitu 29,012%, disusul dengan sektan 3 yaitu kiri

atas dengan skor 38 yaitu 23,457%, disusul dengan sektan 5 yaitu kdepan bawah

dengan skor 28 yaitu 17,284%, disusul dengan sektan 4 dan6 yaitu kiri bawah dan

kanan bawah dengan skor 17 yaitu 10,494%, dan skor terkecil terdapat pada

sektan 2 yaitu depan atas dengan skor 15 yaitu 9,259%.

Tabel. 7 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 103 Kelurahan 16 ULU pada

tanggal 2 Maret 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 1 0 0 0 0 1 2 1 2 1 2 1
2 2 0 2 0 1 0 2 2 2 2 2 1 2
3 0 0 0 0 0 0 3 1 0 1 0 0 0
4 0 0 0 0 0 0 4 2 0 2 1 2 1
5 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 1 0
6 0 0 0 1 0 1 6 0 1 0 0 0 0
7 2 0 2 1 0 1 7 2 0 1 1 1 1
8 2 0 0 0 1 0 8 2 0 2 1 1 1
9 2 0 2 0 1 0 9 0 0 0 1 1 1
10 0 0 0 0 0 0 10 2 0 2 1 1 1
11 2 0 2 0 1 0 11 0 0 0 2 0 0
12 1 0 1 1 0 1 12 2 0 2 1 1 1
13 2 0 0 0 1 0 13 2 0 2 0 2 0
14 1 0 1 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0
15 0 2 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0
16 0 0 2 0 1 2 16 0 0 0 0 0 0
17 1 1 2 1 1 2 17 2 0 2 1 2 1
18 1 0 1 1 2 1 18 0 0 0 0 2 0
19 0 0 2 0 0 0 19 2 0 2 1 1 1
20 0 0 2 1 1 1 20 0 0 2 0 0 2
21 2 0 2 2 1 2 21 0 0 0 0 1 0
22 2 0 0 0 1 2 22 2 2 2 2 2 2
23 0 0 0 0 0 0 23 0 0 0 0 0 0
24 2 1 2 2 2 2 24 0 0 0 0 1 0
25 2 1 2 0 1 0 25 2 0 0 0 1 0
26 0 0 0 0 2 0 26 0 1 0 0 0 0
L P
SEKTAN SEKTAN
42

NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH


6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
27 0 0 0 0 0 0 27 0 0 2 0 1 0
28 0 0 0 0 1 0 28 2 0 2 2 0 0
29 2 0 0 0 0 0 29 2 0 2 0 1 0
30 2 1 2 0 2 0 30 2 0 0 2 0 0
31 2 1 2 1 2 1 31 2 1 2 0 1 0
32 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 0 2 0
33 2 0 2 0 2 0 33 1 0 0 0 0 0
34 0 0 0 0 0 0 34 2 1 2 0 1 0
35 0 0 0 0 0 0 35 0 0 0 0 1 0
36 2 0 2 2 0 0 36 0 0 0 0 0 0
37 1 0 0 0 1 0
Jum 35 8 33 13 25 16 Jum 36 9 34 19 30 15
76 54 79 64
lah Lah
Total 130 143

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 130 / 273 ) x 100% = 47,62%

P = ( 143 / 273 ) x 100% = 52,38 %

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 155 / 273 ) x 100% = 56,777%

RB = ( 118/ 273 ) x 100% = 43,223%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 71 / 273 ) x 100% = 26,007%

Sektan 2= ( 17 / 273 ) x 100% = 6,227%

Sektan 3= ( 67 / 273 ) x 100% = 24,542%

Sektan 4= ( 32 / 273 ) x 100% = 11,722%

Sektan 5= ( 55 / 273 ) x 100% = 20,146%

Sektan 6= ( 31 / 273 ) x 100% = 11,355%

Pada tabel 7 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 103 di Kelurahan 16 ULU, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 2 Maret 2015. Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah Dasar

Negeri 103 di Kelurahan 16 Ulu adalah 273. Jumlah skor terbesar berdasarkan
43

jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin perempuan dengan skor sebesar 143

yaitu 52,38% sedangkan skor pada laki-laki sebesar 130 yaitu 47,62% .

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 273, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 155 yaitu 56,77% sedangkan skor pada rahang bawah sebesar 118

yaitu 43,22%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 273, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan total skor 71 yaitu 26,007%, disusul dengan sektan 3

yaitu kiri atas dengan total skor 67 yaitu 24,542%, disusul dengan sektan 5 yaitu

depan bawah dengan total skor 55 yaitu 20,146%, disusul dengan sektan 4 yaitu

kiri bawah dengan total skor 32 yaitu 11,722%, disusul dengan sektan 6 yaitu

kanan bawah dengan total skor 31 yaitu 11,355%, dan skor terkecil terdapat pada

sektan 2 yaitu depan atas dengan total skor 17 yaitu 6,27%.

Tabel. 8 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 104 Kelurahan 16 ULU pada

tanggal 26 Febuari 2015

L P
NO SEKTAN NO SEKTAN
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 2 1 1 0 2 0 1 0 0 0 0 0 0
2 2 1 2 0 0 0 2 0 1 0 0 1 0
3 2 0 0 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0
4 1 0 0 0 0 0 4 0 1 0 0 1 0
5 0 1 0 0 1 0 5 1 1 1 0 1 0
44

6 0 0 2 0 2 2 6 2 1 2 0 1 0
7 0 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0
8 0 0 0 0 0 0 8 0 0 1 0 1 0
9 0 0 0 0 0 0 9 1 0 1 0 1 0
10 2 0 1 0 1 0 10 0 1 0 0 1 0
11 0 0 2 0 2 0 11 0 0 0 0 0 0
12 0 0 1 0 2 0 12 0 0 0 0 0 0
13 0 1 0 1 0 1 13 0 0 0 2 0 0
14 0 0 2 0 0 0 14 2 0 0 2 1 0
15 0 0 0 0 2 0 15 0 0 0 0 0 0
16 1 1 0 0 2 0
Jumlah 10 5 13 3 14 3 Jumlah 5 5 5 6 8 0
28 20 15 14
Total 48 29

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 48 / 77 ) x 100% = 62,338%

P = ( 29 / 77 ) x 100% = 37,662%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 43 / 77 ) x 100% = 55,844%

RB = ( 34 / 77 ) x 100% =44,156%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 15 / 77 ) x 100% = 19,481%

Sektan 2= ( 10 / 77 ) x 100% = 12,99%

Sektan 3= ( 18 / 77 ) x 100% = 23,377%

Sektan 4= ( 9 / 77 ) x 100% = 11,688%

Sektan 5= ( 22 / 77 ) x 100% = 28,571%

Sektan 6= ( 3 / 77 ) x 100% = 3,897%

Pada tabel 8 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 104 di Kelurahan 16 Ulu, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 26 Febuari 2015. Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 104 di Kelurahan 16 Ulu adalah 77. Jumlah skor terbesar

berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor
45

sebesar 48 yaitu 62,338% sedangkan skor pada perempuan sebesar 29 yaitu

37,662%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 77, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 43 yaitu 55,844% sedangkan skor pada rahang bawah sebesar 34

yaitu 44,156%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 77, didapatkan skor terbesar pada sektan 5

yaitu depan bawah dengan total skor 22 yaitu 28,571%, disusul dengan sektan 3

yaitu kiri atas dengan total skor 18 yaitu 23,377%, disusul dengan sektan 1 yaitu

atas kanan dengan total skor 15 yaitu 19,481%, disusul dengan sektan 2 yaitu

depan atas dengan total skor 10 yaitu 12,99%, disusul dengan sektan 4 yaitu kiri

bawah dengan total skor 9 yaitu 11,688%, dan skor terkecil terdapat pada sektan 6

yaitu kanan bawah dengan total skor 3 yaitu 3,89%.

Tabel. 9 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 106 Kelurahan 16 ULU pada

tanggal 4 Maret 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 1 1 1 1
2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0
3 2 0 2 0 0 0 3 1 0 2 0 0 0
4 1 0 1 0 2 0 4 0 0 0 0 0 0
5 2 0 2 0 1 0 5 2 0 2 0 0 0
6 2 1 2 0 1 0 6 2 0 2 0 1 0
7 1 1 1 1 2 1 7 1 0 1 0 0 0
46

8 0 0 2 0 0 0 8 0 0 0 1 0 1
9 2 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 1 0
10 0 0 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0
11 0 0 0 0 1 2 11 2 0 0 0 0 0
12 0 0 0 0 1 0 12 2 1 0 2 1 0
13 2 0 2 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0
14 2 0 0 0 0 1 14 0 0 0 0 1 0
15 2 0 0 0 0 0 15 0 1 2 0 0 2
16 2 1 2 0 1 0 16 0 0 0 0 0 0
17 2 1 2 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0
18 0 0 0 0 0 0 18 2 0 0 0 0 0
19 0 0 2 0 0 0 19 0 0 0 0 0 0
20 2 1 2 1 2 0 20 0 0 0 0 0 0
L P
SEKTAN SEKTAN
NO ATAS BAWAH NO ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
21 0 0 2 0 0 0 21 0 0 2 0 2 2
22 2 1 2 0 2 1 22 2 0 2 1 1 1
23 2 1 2 1 0 1 23 1 0 2 2 2 1
24 0 0 0 0 1 0 24 2 0 0 0 1 0
25 0 0 0 0 0 0 25 0 0 0 0 0 0
26 0 1 2 0 1 0 26 2 1 2 0 1 0
27 0 1 0 0 1 0 27 0 0 0 0 0 0
28 0 0 0 0 0 0 28 0 0 0 0 0 0
29 0 1 0 0 0 0 29 0 0 0 0 1 1
30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0
31 2 1 0 0 1 2 31 0 1 2 0 1 0
32 0 0 0 0 1 0 32 2 1 0 0 2 2
33 0 0 2 2 2 1 33 0 1 0 0 1 1
34 2 1 2 1 1 1 34 0 0 0 0 0 0
35 2 1 2 0 2 0 35 2 0 2 0 1 0
36 2 1 2 1 2 1 36 0 1 0 0 1 0
37 0 0 0 0 1 2 37 0 0 0 0 1 0
38 2 1 2 2 2 2 38 0 0 0 0 0 0
39 0 1 0 0 1 0 39 0 0 1 0 0 1
40 2 0 0 0 2 1 40 2 0 2 0 1 0
41 2 2 2 1 2 2 41 2 1 2 0 1 1
42 2 0 2 0 0 0 42 0 1 0 0 1 0
43 2 1 0 0 1 0 43 0 0 0 0 1 1
44 1 1 1 0 0 0 44 0 0 0 0 2 0
45 0 1 2 0 2 0 45 0 0 0 0 0 0
46 2 1 2 1 2 0 46 0 0 2 1 1 1
47 0 0 2 0 0 0 47 2 0 0 1 0 1
48 2 1 2 0 2 1 48 2 0 0 0 1 0
49 2 1 2 1 0 1 49 2 1 2 0 1 0
50 2 0 2 0 0 0
Jumlah 51 25 53 12 40 20 Jumlah 37 10 33 10 29 16
47

129 72 80 55
Total 201 135

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 201 / 336 ) x 100% = 59,82%


P = ( 135 / 336 ) x 100% = 40,18%
2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 209 / 336 ) x 100% = 62,202%

RB = ( 127 / 336 ) x 100% = 37,798%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 88 / 336 ) x 100% = 26,19%

Sektan 2= ( 35 / 336 ) x 100% = 10,417%

Sektan 3= ( 86 / 336 ) x 100% = 25,596%

Sektan 4= ( 22 / 336 ) x 100% = 6,548%

Sektan 5= ( 69 / 336 ) x 100% =20,534%

Sektan 6= ( 36 / 336 ) x 100% = 10,714%

Pada tabel 9 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 106 di Kelurahan 16 ULU, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 4 Maret 2015. Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah Dasar

Negeri 106 di Kelurahan 16 Ulu adalah 336. Jumlah skor terbesar berdasarkan

jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor sebesar 201 yaitu

59,82% sedangkan skor pada perempuan sebesar 145 yaitu 40,18% .

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 336, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 209 yaitu 62,202% sedangkan skor pada rahang bawah sebesar 127

yaitu 37,798%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan
48

sektan kanan bawah dengan total skor 336, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan total skor 88 yaitu 26,19%, disusul dengan sektan 3 yaitu

kiri atas dengan total skor 86 yaitu 25,596%, disusul dengan sektan 5 yaitu depan

bawah dengan total skor 69 yaitu 20,534%, disusul dengan sektan 6 yaitu kanan

bawah dengan total skor 36 yaitu 10,741%, disusul dengan sektan 2 yaitu depan

atas dengan total skor 35 yaitu 10,417%, dan skor terkecil terdapat pada sektan 4

yaitu kiri bawah dengan total skor 22 yaitu 6,548%.

Tabel. 10 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 107 Kelurahan 16 ULU

pada tanggal 26 Febuari 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0
3 2 0 0 0 0 0 3 2 0 0 0 1 0
4 0 1 0 0 1 0 4 2 1 2 0 1 0
5 2 0 2 0 1 0 5 2 0 2 0 1 0
6 0 1 0 0 0 0 6 0 1 2 2 0 0
7 2 0 2 0 1 0 7 0 0 0 0 0 0
8 2 1 2 0 2 0 8 0 0 2 0 0 0
9 2 0 2 0 2 0 9 2 1 0 0 1 1
10 0 1 0 0 1 0 10 0 1 0 0 1 0
11 1 0 0 2 0 0 11 2 0 0 2 0 0
12 0 1 0 0 1 0 12 2 0 2 0 0 0
L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
13 0 1 0 0 2 0 13 2 1 2 2 2 2
14 2 1 2 1 1 2 14 2 1 2 0 2 0
15 2 0 2 0 1 0 15 1 1 0 0 1 1
16 1 0 1 0 1 0 16 0 0 0 0 0 0
17 2 0 1 0 1 0 17 2 0 2 1 0 2
18 1 0 1 1 1 1 18 0 0 0 0 0 0
49

19 1 2 1 1 2 1 19 1 0 1 1 0 1
20 0 0 0 0 0 0 20 1 2 1 1 1 1
21 1 2 1 1 1 1 21 0 1 0 1 1 1
22 1 0 1 1 2 1 22 0 0 0 1 1 1
23 2 2 2 2 2 2 23 0 0 0 1 1 1
24 2 1 0 2 1 0 24 1 1 1 0 1 0
25 0 0 0 0 0 0 25 0 1 0 1 1 1
26 0 1 0 0 0 0
27 0 0 2 0 0 2
28 0 0 0 0 2 0
29 2 1 2 0 0 0
30 1 1 1 0 0 0
31 2 1 2 0 0 2
32 2 1 2 0 1 2
Jum 33 18 29 11 27 14 Jum 24 12 19 13 16 12
80 52 55 41
lah Lah
Total 132 96

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 132 / 228 ) x 100% = 57,895%

P = ( 96 / 228 ) x 100% = 42,105%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 135 / 228 ) x 100% = 59,211%

RB = ( 93 / 228 ) x 100% = 40,789%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 57 / 228 ) x 100% = 25%

Sektan 2= ( 30 / 228 ) x 100% = 13,158%

Sektan 3= ( 48 / 228 ) x 100% = 21,053%

Sektan 4= ( 24 / 228 ) x 100% = 10,526%

Sektan 5= ( 43 / 228 ) x 100% = 18,860%

Sektan 6= ( 26 / 228 ) x 100% = 11,403%

Pada tabel 10 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 107 di Kelurahan 16 ULU, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 26 Febuari 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 107 di Kelurahan 16 Ulu adalah 228. Jumlah skor terbesar
50

berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor

sebesar 132 yaitu 57,895% sedangkan skor pada permpuan sebesar 96 yaitu

42,105% .

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 228, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 135 yaitu 59,211% sedangkan skor pada rahang bawah sebesar 93

yaitu 40,789%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 228, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan total skor 57 yaitu 25%, disusul dengan sektan 3 yaitu

kiri atas dengan total skor 48 yaitu 21,053%, disusul dengan sektan 5 yaitu depan

bawah dengan total skor 43 yaitu 18,86%, disusul dengan sektan 2 yaitu depan

atas dengan total skor 30 yaitu 13,158%, disusul dengan sektan 6 yaitu kanan

bawah dengan total skor 26 yaitu 11,403%, dan skor terkecil terdapat pada sektan

4 yaitu kiri bawah dengan total skor 24 yaitu 10,526%.

4.1.3 Skor CPITN Siswa Kelas VI SD Negeri Kelurahan Sentosa

Tabel. 11 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 108 Kelurahan Sentosa pada

tanggal 7 Maret 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
2 2 0 2 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0
51

3 2 0 2 0 0 0 3 1 0 1 0 1 0
4 0 0 2 0 2 0 4 2 0 2 0 0 0
5 2 0 2 0 0 0 5 2 0 2 1 0 0
6 2 0 2 2 2 2 6 0 0 0 0 0 0
7 2 0 2 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0
8 0 0 0 0 0 0 8 1 0 2 1 0 1
9 0 1 1 1 1 1 9 0 1 0 1 1 0
10 0 1 0 1 1 1 10 2 0 0 0 0 0
11 2 1 0 1 1 1 11 1 1 0 0 1 0
12 2 1 2 1 1 1 12 0 0 0 0 0 0
13 0 0 0 0 0 0 13 0 1 0 0 0 0
14 2 1 2 1 1 1 14 2 0 2 1 0 1
15 0 0 0 0 1 0 15 2 0 2 0 1 0
16 2 1 0 0 1 1

Jum 20 6 17 9 11 7 Jum 13 3 11 4 3 2
43 27 27 9
lah Lah
Total 70 36

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 70 / 106 ) x 100% = 66,03 %

P = (36/106) x 100% = 33,97%

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 70/106 ) x 100% = 66,03%

RB = (36/106) x 100% = 33,97%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 33 /106 ) x 100% = 31,132 %

Sektan 2= ( 9 /106 ) x 100% = 8,49%%

Sektan 3= ( 28 /106 ) x 100% = 26,415%

Sektan 4= ( 13 /106 ) x 100% = 12,265%

Sektan 5= ( 14 /106 ) x 100% =13,20%

Sektan 6= ( 9 /106 ) x 100% = 8,49%

Pada tabel 11 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 108 di Kelurahan Sentosa, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 7 Maret 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah Dasar
52

Negeri 108 di Sentosa adalah 106. Jumlah skor terbesar berdasarkan jenis kelamin

tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor sebesar 70 yaitu 66,03%

sedangkan skor pada perempuan sebesar 36 yaitu 33,97%.

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 460, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 70 yaitu 66,03% sedangkan pada rahang bawah dengan skor rahang

bawah sebesar 36 yaitu 33,97%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 99, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan skor 33 yaitu 31,132%, disusul dengan sektan 3 yaitu kiri

atas dengan skor 28 yaitu 26,415%, disusul dengan sektan 5 yaitu kdepan bawah

dengan skor 13 yaitu 12,265%, disusul dengan sektan 4 yaitu kiri bawah dengan

skor 28 yaitu 26,415% dan skor terkecil sektan 2 dan 6 yaitu depan atas dan kanan

bawah dengan skor 9 yaitu 8,49%.

Tabel. 12 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 109 Kelurahan Sentosa

pada tanggal 5 Mareti 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 0 0 0 0 0 1 2 1 2 1 1 1
2 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0
3 2 0 2 0 0 2 3 2 0 1 2 1 1
4 2 0 0 0 0 0 4 1 1 1 1 1 1
5 2 0 2 0 0 0 5 2 0 2 1 0 2
6 2 0 1 1 0 1 6 0 0 0 0 0 0
53

7 2 0 0 0 1 0 7 0 1 0 0 1 0
8 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0
9 0 0 0 0 0 0 9 0 0 2 0 0 2
10 0 2 2 0 2 1 10 0 0 0 0 0 0
11 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0
12 1 2 2 1 2 2 12 2 0 0 0 1 0
13 0 0 2 1 2 2 13 0 0 0 0 0 0
L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
14 1 1 0 0 1 1 14 0 0 0 0 0 0
15 2 0 0 0 1 0 15 0 1 0 1 0 0
16 2 1 2 0 1 2 16 0 0 0 0 0 0
17 2 1 2 1 2 1 17 2 0 2 0 1 0
18 0 0 0 0 1 0 18 0 0 0 0 1 0
19 2 1 2 0 2 0 19 1 0 0 0 1 0
20 0 0 0 0 0 0 20 2 0 0 0 1 0
21 1 0 1 0 0 0 21 0 0 0 0 0 0
22 0 1 0 0 1 0 22 2 1 2 1 2 1
23 2 1 2 1 2 1 23 2 1 2 0 1 0
24 0 0 0 0 0 0 24 2 0 0 0 0 2
25 0 0 1 0 1 1
26 0 0 0 0 0 0
27 0 0 0 1 1 1
28 2 0 2 0 1 0
29 0 0 0 0 1 0
30 0 0 0 0 0 0
Jum 23 10 20 5 18 13 Jum 22 6 17 8 16 12
53 36 45 36
lah Lah
Total 89 81

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 89 / 170 ) x 100% =52,352 %

P = ( 81 / 170 ) x 100% = 47,648 %

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 98 / 170 ) x 100% = 57,647%

RB = ( 72 / 170 ) x 100% = 42,353%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 45 / 170 ) x 100% = 26,47%

Sektan 2= ( 16 / 170 ) x 100% = 9,411%

Sektan 3= ( 37/ 170 ) x 100% = 21,765%


54

Sektan 4= ( 13 / 170 ) x 100% = 7,647&

Sektan 5= ( 34 / 170 ) x 100% = 20%

Sektan 6= ( 25 / 170 ) x 100% = 14.70%

Pada tabel 12 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 109 di Kelurahan Sentosa, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 5 Maret 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah Dasar

Negeri 109 di Kelurahan Sentosa adalah 170. Jumlah skor terbesar berdasarkan

jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin laki-laki dengan skor sebesar 89 yaitu

52,352% sedangkan skor pada perempuan sebesar 81 yaitu 47,648%

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 460, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 98 yaitu 57,647% sedangkan pada rahang bawah dengan skor rahang

bawah sebesar 72 yaitu 42,353%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 99, didapatkan skor terbesar pada sektan 1

yaitu kanan atas dengan skor 45 yaitu 26,47 %, disusul dengan sektan 3 yaitu kiri

atas dengan skor 37 yaitu 21,765%, disusul dengan sektan 5 yaitu depan bawah

dengan skor 34 yaitu 20%, disusul dengan sektan 6 yaitu kanan bawah dengan

skor 25 yaitu 14,70%, disusul dengan sektan 2 yaitu depan atas dengan skor 16

yaitu 9,411% dan skor terkecil terdapat pada sektan 4 yaitu kiri bawah dengan

skor 13 yaitu 7,647%.


55

Tabel. 13 Hasil pemeriksaan CPITN di SD Negeri 110 Kelurahan Sentosa pada

tanggal 3 Maret 2015

L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2 1 2
2 0 0 0 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1
3 0 0 0 0 0 0 3 2 0 2 0 1 0
4 0 0 0 0 1 0 4 0 0 0 1 0 1
5 0 0 0 0 0 0 5 1 0 1 1 1 1
6 2 1 2 2 1 2 6 2 0 2 0 0 0
7 0 1 2 0 1 2 7 2 0 2 0 0 0
8 0 0 2 0 1 0 8 2 0 2 1 2 1
9 2 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 1 0
10 2 1 0 2 1 0 10 2 1 2 1 1 1
11 2 0 2 2 1 2 11 2 1 1 0 0 0
12 0 1 0 0 1 0 12 0 0 0 1 1 1
13 2 0 2 0 0 0 13 2 2 0 1 2 1
14 2 0 2 0 1 0 14 0 0 0 0 0 0
15 2 0 2 0 2 1 15 1 1 1 1 1 1
16 0 0 0 0 2 2 16 0 0 2 0 1 0
17 0 1 0 0 2 2 17 0 0 2 0 0 2
18 0 0 0 0 1 0 18 0 0 0 0 0 0
19 2 0 2 0 0 2
20 0 0 2 0 0 0
21 0 0 0 0 1 0
22 2 0 0 2 0 1
L P
SEKTAN SEKTAN
NO NO
ATAS BAWAH ATAS BAWAH
6 1 6 6 1 6 6 1 6 6 1 6
23 0 0 2 2 0 0
24 0 0 0 0 0 0
25 0 0 0 0 0 0
26 0 0 0 2 2 0
Jum 14 5 14 7 17 10 Jum 22 7 23 15 17 15
33 34 52 47
lah Lah
Total 67 99

1. Berdasarkan Jenis Kelamin : L = ( 67 / 166 ) x 100% = 40,361%

P = ( 99 / 166 ) x 100% = 59,639%


56

2. Berdasarkan Lokasi : RA = ( 85 / 166 ) x 100% = 51,205%

RB = ( 81 / 166 ) x 100% = 48,795%

3. Berdasarkan Per Sektan : Sektan 1 = ( 36 / 166 ) x 100% = 21,687%

Sektan 2= ( 12 / 166 ) x 100% = 7,229%

Sektan 3= ( 37 / 166 ) x 100% = 22,289%

Sektan 4= ( 22 / 166 ) x 100% = 13,253%

Sektan 5= ( 34 / 166 ) x 100% = 20,482%

Sektan 6= ( 25 / 166 ) x 100% = 15,061%

Pada tabel 13 menjelaskan mengenai skor CPITN siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 110 di Kelurahan Sentosa, Plaju yang pemeriksaannya dilaksanakan

pada tanggal 3 Maret 2015 . Total Skor CPITN pada siswa kelas VI Sekolah

Dasar Negeri 110 di Kelurahan Sentosa adalah 166. Jumlah skor terbesar

berdasarkan jenis kelamin tercatat pada jenis kelamin perempuan dengan skor

sebesar 99 yaitu 59,639% sedangkan skor pada laki-laki sebesar 67 yaitu

40,361%

Berdasarkan lokasi yang terbagi menjadi rahang atas dan rahang bawah

dengan total skor CPITN 166, didapatkan data terbesar pada rahang atas dengan

skor sebesar 85 yaitu 51,205% sedangkan pada rahang bawah dengan skor rahang

bawah sebesar 81 yaitu 48,795%.

Berdasarkan sektan yang terbagi menjadi 6 sektan yaitu sektan kanan atas,

sektan depan atas, sektan kiri atas, sektan kiri bawah, sektan depan bawah dan

sektan kanan bawah dengan total skor 166, didapatkan skor terbesar pada sektan 3

yaitu kiri atas dengan skor 37 yaitu 22,289%, disusul dengan sektan 1 yaitu kanan
57

atas dengan skor 36 yaitu 21,687%, disusul dengan sektan 5 yaitu depan bawah

dengan skor 34 yaitu 20,482%, disusul dengan sektan 6 yaitu kanan bawah

dengan skor 25 yaitu 15,061%, disusul dengan sektan 4 yaitu kiri bawah dengan

skor 22 yaitu 13,253% dan skor terkecil terdapat pada sektan 2 yaitu kiri bawah

dengan skor 12 yaitu 7,229%.

4.2 Pembahasan

Pemeriksaan dilakukan dengan metode survey menggunakan indeks CPITN

(Community Periodontal Index of Treatment Needs) yang m e r u p a k a n indeks

resmi yang digunakan oleh WHO untuk mengukur kondisi jaringan periodontal

serta perkiraan akan kebutuhan perawatannya dengan menggunakan sonde khusus

yaitu WHO Periodontal Examining Probe.

Penelitian ini dilakukan di 11 Sekolah Dasar Negeri wilayah Kerja

Puskesmas Taman Bacaan Palembang pada siswa kelas VI masing-masing

sekolah yang dilakukan pada tanggal 23 Februari – 7 Maret 2015. Penelitian

dilakukan bertujuan untuk memeriksa keadaan periodontal siswa kelas VI dengan

cara memeriksa kedalaman saku gusi menggunakan probe periodontal. Para siswa

diinstruksikan untuk menggosok gigi terlebih dahulu sebelum dilakukan

pemeriksaan.

Tabel 3 s/d 13 menjelaskan jumlah skor CPITN (Community Periodontal

Index Treatment Needs) masing-masing siwa kelas VI Sekolah Dasar Negeri

wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang. Dari tabel-tabel tersebut


58

dapat dijelaskan skor masing-masing siswa berdasarkan jenis kelamin, lokasi, dan

sektan yang terlibat.

Dari tabel 3 s/d 13 didapatkan bahwa skor CPITN tertinggi pada siswa kelas

VI Sekolah dasar Negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang

terdapat pada siswa laki-laki dengan perbandingan skor pada siwa laki-laki

terhadap perempuan sebesar 8 : 3. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian

yang dilakukan di Udaipur, India (2012) yang menunjukkan bahwa subjek

penelitian perempuan memiliki status jaringan periodontal sehat lebih banyak

daripada subjek penelitian laki-laki. Alasan mengapa jenis kelamin bisa

mempengaruhi status jaringan periodontal bisa dikaitkan dengan kebiasaan dan

kecenderungan perempuan yang dapat menjaga kebersihan rongga mulutnya lebih

baik daripada laki-laki. Namun jika dilihat dari hasil penelitian ini, jenis kelamin

tidak terlalu berpengaruh dalam menentukan status jaringan periodontal. Sehat

atau tidaknya jaringan periodontal seseorang lebih dipengaruhi oleh keadaan oral

hygiene atau kebersihan rongga mulut dan cara memeliharanya.

Hasil penelitian menujukkan banyak siswa kelas VI Sekolah dasar Negeri di

wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang yang memperoleh skor 2

yang menggambarkan status periodontal adanya kalkulus baik supragingiva

maupun subgingiva. Kalkulus ialah plak terkalsifikasi yang terbentuk dan

melekat erat pada permukaan gigi dan objek solid lainnya di dalam mulut,

misalnya restorasi dan gigi tiruan.

Pada penelitian ini kalkulus yang ditemukan pada subjek penelitian

merupakan kalkulus supragingiva. Kalkulus supragingiva ialah kalkulus yang


59

melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan

dapat dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuningan, konsistensinya keras, dan

mudah dilepaskan dari permukaan gigi dengan menggunakan skeler. Kalkulus

yang banyak ditemukan dapat disebabkan oleh perilaku yang kurang tepat dalam

menjaga kebersihan gigi dan mulut yang kemudian mengakibatkan penumpukan

plak sehingga terkalsifikasi menjadi kalkulus supragingiva oleh peran serta saliva.

Dari tabel 3 s/d 13 didapatkan bahwa skor CPITN tertinggi pada siswa kelas

VI Sekolah dasar Negeri di wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang

terdapat pada rahang atas. Hal ini ditunjukkan dengan perbandingan rahang atas

terhadap rahang bawah sebesar 11:0. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yaitu

sektan yang memiliki skor tertinggi adalah sektan 1 yang merupakan regio

posterior kanan maksila. Skor rata-rata CPITN pada setiap sektan dapat

memberikan gambaran mengenai besarnya masalah periodontal yang ditemukan

pada setiap sektan. Semakin tinggi skor pada suatu sektan, semakin banyak

permasalahan yang ditemukan pada sektan tersebut. Masalah yang paling banyak

ditemukan pada daerah 1 tersebut adalah kalkulus. Kalkulus dapat terjadi akibat

gigi geligi yang tidak dibersihkan dengan baik. Skor CPITN terendah terdapat

pada sektan 2 yang merupakan regio anterior maksila. Hal ini menunjukkan

bahwa regio tersebut memiliki kondisi periodontal yang paling jarang bermasalah.

Regio anterior maksila merupakan regio yang mudah dibersihkan karena letaknya

yang mudah dijangkau dalam penyikatan gigi dehingga regio ini kebersihannya

lebih terjaga. Berdasarkan tabel 3 s/d 13 juga menunjukkan skor CPITN pada

sektan 5 yang merupakan regio anterior mandibula lebih tinggi daripada skor
60

CPITN sektan 2 yaitu regio anterior maksila. Hal ini menunjukkan bahwa regio

anterior mandibula memiliki kondisi periodontal yang lebih banyak bermasalah

dibandingkan dengan regio anterior maksila. Hal ini serupa dengan teori yang

mengatakan bahwa daerah lingual gigi anterior mandibula pada umumnya

merupakan lokasi yang banyak ditemukan kalkulus supragingiva dikarenakan

pada daerah tersebut terpapar saliva langsung dari glandula submandibularis dan

sublingualis.

Hasil penelitian juga menunjukkan kebutuhan perawatan untuk siswa kelas

VI Sekolah Dasar Negeri wilayah kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang.

Siswa yang mendapatkan skor rata-rata 2 yang termasuk dalam kategori

kebutuhan perawatan Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut dan Skeling

(EIKM+SK). Siswa yang mendapatkan skor rata-rata 1 yang termasuk dalam

kategori kebutuhan perawatan Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut (EIKM). Siswa

yang mendapatkan skor rata-rata 0 tidak membutuhkan perawatan.


61

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
 Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat diambil kesimpulan bahwa

skor yang paling sering ditemui yaitu skor 1 yang bearti terjadi perdarahan

saat diperiksa dan belum ditemui kalkulus pada gigi yang diperiksa
 Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan bahwa status

kesehatan periodontal terendah yang dilihat berdasarkan skor CPITN

tertinggi pada siswa kelas VI Sekolah dasar Negeri di wilayah kerja

Puskesmas Taman Bacaan Palembang ditemukan pada jenis kelamin laki-

laki dan ditemukan bahwa regio maksila memiliki skor lebih tinggi

daripada regio mandibula. Sektan yang memiliki skor tertinggi yaitu

sektan 1 yang merupakan regio posterior kanan maksila dan skor terendah

yaitu sektan 2 yang merupakan regio anterior maksila.


 Kebutuhan perawatan bagi siswa sesuai dengan skor setiap siswa. Siswa

yang memiliki skor 2 termasuk dalam kategori kebutuhan perawatan

Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut dan Skeling (EIKM+SK). Siswa yang

mendapatkan skor rata-rata 1 yang termasuk dalam kategori kebutuhan

perawatan Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut (EIKM). Siswa yang

mendapatkan skor rata-rata 0 tidak membutuhkan perawatan.

5.2 Saran

Bagi Siswa
62

 Perlunya diadakan penyuluhan kepada siswa-siswi sekolah mengenai cara

menyikat gigi yang benar


 Perlunya diberikan edukasi mengenai kesadaran diri untuk menjaga

kebersihan gigi dan mulut


 Perlunya diberikan edukasi mengenai maanfaat dan dampak dalam menjaga

dan merawat kesehatan gigi dan mulut

Bagi Tenaga Kerja Sekolah

 Perlunya sosialisasi untuk tenaga pengajar berupa penyuluhan lebih lanjut

mengenai cara memelihara kesehatan rongga mulut yang meliputi

kesehatan gigi dan jaringan periodontal, termasuk cara menyikat gigi yang

benar.
 Perlunya diberikan edukasi dan motivasi bagi tenaga kerja sekolah tentang

pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut yang kemudian kesadaran

itu dapat diajarkan langsung kepada siswa-siswi sekolah secara mandiri.

Bagi Sekolah

 Perlunya mensosialisasikan pihak sekolah untuk mengadakan kantong

sikat gigi di setiap kelas


 Perluya diadakan kegiatan intensive berupa sikat gigi massal di sekolah

Bagi Tenaga Puskesmas

 Perlunya menggiatkan prograam UKGS


 Perlunya diadakan penyuluhan rutin kemudian merujuk pasien yang

membutuhkan perawatan maupun tindakan ke Puskesmas


 Perlunya dilakukan evaluasi secara rutin setelah diadakannya beberapa

program UKGS
 Institusi kesehatan dalam hal ini puskesmas mengadakan kerja sama

dengan pihak sekolah di bidang Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)


63

agar dapat meningkatkan promosi kesehatan gigi dan mulut pada pelaja

sekolah dasar berupa penyuluhan mengenai peningkatan dan perbaikan

kesehatan gigi dan mulut secara teliti seperti mencegah terjadinya kalkulus

serta membersihkan kalkulus atau karang gigi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Klaus H. & Rateeitschak Edith M, Wolf Herbert F, Hassell Thomas M.


Color atlas of periodontology. Georg Thieme Verlag Stuttgart· New York:
Thieme Inc.New York. 1985: Hal. 33
2. Newman MG, Takei NH, Carranza AF. Clinical periodontology. 9th
ed. Philapelphia: .B. Sauders Company, 2000.
3. Wahyukundari MA. Perbedaan kadar matrix metalloproteinase-8
setelah scaling dan pemberian tetrasiklin pada penderita periodontitis
kronis. J PDGI,Vol 58 No. 1, Januari-April 2009 : 1-6.
4. Samuel S. Bender IB. The dental pulp biologic considerations in
dental procedures. 3rd ed. Philadelphia. J.B. Lippincott. 1984: 173-177.
5. Femala Dian, Shaluhiyah Zahroh, Cahyo Kusyogo. Perilaku Perawat
Gigi dalam Pelakasanaan Program UKGS di Kota Pontianak.
Volume:7, No 2, Agustus 2012.
6. Manson, J.D., Eley, B.M. Buku Ajar Periodonti . Alih bahasa:
Anastasia. EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 1993; pp 1-16, 97-9.
7. Lindhe, J., Karing, T., Lang., N.P. Clinical Periodontology and Implant
Dentistry. Ed. 4 Blackwell, Munksgaard, 2003; pp 3-49.
8. Carranza, F.A, Newman, M.G, Takei, H.H., Clinical Periodontology,
Ed. 10, WB Saunders, Indiana University, Indianapolis, 2006; pp 46-64.
9. Haake, Susan Kinder, Newman MG. Carranza’s Clinical
th
Periodontology. 9 ed.Philapelphia: W.B. Sauders Company, 2000.
10. Fedi, P.F., Vernino, A.R., Gray, J.L. Silabus Periodonti. Alih bahasa:
Amaliya Ed.4. EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 2000; pp 9-10.
64

11. Carranza et al. Glickman’s Clinical Periodontology. 10th ed.


Philadelphia : WB.Saunders co. 2008.p. 495-9
12. Klaus H. & Rateeitschak Edith M, Wolf Herbert F, Hassell Thomas M.
Color Atlas of Periodontology. Georg Thieme Verlag Stuttgart· New York:
Thieme Inc. New York. 2005. Hal. 33.
13. Li X, Kolltveit KM, Tronstad L, Olsen I. Systemic disease caused by oral
infection. Clinical Microbiology Reviews. Oktober 2000 ; Vol. 13 No.
4; 547-558. Available from: http:// www.cmr.asm.org/ cgi/content/full/
13/4/547 Accessed Maret 13, 2010.
14. Manson J.D., Eley B.M., Periodontics, Fifth Edition, Edinburgh London
New York etc: Wright. An imprint of Elsevier Ltd . 2004 : 55 – 81
15. Katz J, Peretz B, Sgan-Cohen HD, Horev T, Eldad A. Periodontal
status by CPITN, and associated variables in an Israeli permanent
force military populatioan. J Clin Periodontal 2000; 27 (5):1.
16. WHO Oral health country. Community Periodontal Index (CPI ). Edisi
4. Oral Health Survey-Basic methods. Geneva. htpp://www. whocolab.
od.mah.se/index.html. 1997. Di akses tanggal 3 September 2013
17. Prayitno,S. Wuryan. Strategi pencegahan penyakit periodontal
berdasarkan Data-data CPITN.Jurnal Kedokteran Gigi nomor 3, tahun
ke-41, Desember 1992. Hal.19-24
18. Maduakor, S., Lauverjat, Y., Cadot, S., Da Costa Nobel, R., Laporte, C.,
Miquel, J.L. Application Of Community Periodontal Index Treatment
Need (CPITN) In Enugu (Nigeria) : Study Of Secondary School
Students Aged Between 12-18 Years, 2000, Odonto-Stomatologie
Tropicale :29.

Note yaya :
65

1. Buat halaman
2. Copy Tabel yang udah diedit
3. Tambahin definisi operasional
4. Daftar Pustaka nomor 5 ada di laptop yaya, sama bener gak

suusnannya gitu haha ..


5. Kata pengantar tinggal kepada-kepadanya soalnya yg di bbm gak

kebaca bener.
6. Kesimpulan masih kurang pointnya .. inget dak yaya omongan pak

daud ? soalny buku toed di mobil, mobilnya dibawa pegi .___.


7. Daftar Isi, Daftar Tabel